Transcription
Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah.
[Musik]
Wasalamu ala asiya wa mursalin, wa alihi wa sohbihi, wa man ala nahjihi biihsanin ila yaumiddin.
Wad Allahumma shli wasallim wabarik waim ala Nabina Muhammadin wa ala alihi wa sohbihi ajmain.
Allahumma inna nasaluka Ilman Nafi wa naudubika min ilm la yanfa.
Allahumma alimna ma yanfafana bima alamtana.
Allahumma as Lana Um Allahum min inaka wikqir alai.
Allahumma wal muslimin lumestin makan.
Amin ya rabbal alamin.
Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah tabaraka wa taala atas nikmat yang Allah berikan kepada kita sehingga kita bisa berkumpul pada kesempatan kali ini.
Sebagaimana selawat berdiring salam, semoga tercurah kepada rasul kita alaihialatu wasalam beserta para keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istikamah berjalan di baahangun sunah beliau sampai hari kiamat.
Eh hadirin Allah muliakan, semoga Allah memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Semoga Allah tolong kita dan saudara-saudara kita, khususnya yang terzalimi di Palestina dan berbagai macam tempat.
Semoga Allah perbaiki urusan kita dan urusan pemimpin-pemimpin kita, serta menjaga kita dan masa kita dari segala keburukan.
Amin ya rabbal alamin.
Ee hadirin Allah [Musik] muliakan, kembali kita melanjutkan kesimpulan dari bab ini.
Semoga Allah memberikan Taufik kepada kita dan memberikan rahmatnya yang luas kepada Imam Nawawi rahimahullahu taala, keluarga [Musik] beliau, orang tua beliau, guru-guru beliau, dan para ulama kita serta guru-guru kita.
Semoga Allah memberkahi mereka semua.
Amin ya rabbal alamin.
Pada kesempatan kali ini, sebagian menjelaskan bahwa bab ini mengajarkan kita bahwa mahabbatul muslim akil muslim [Musik] nabii was [Musik].
Bahwa di saat seseorang mencintai saudaranya, mencintai pihak lain, maka cintanya itu lahir dari cintanya kepada Allah, kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, dan kepada agamanya.
Jadi kesimpulan dari bab ini, dari dalil pertama sampai dalil yang terakhir adalah [Musik] bahwa akan dari atau ee dasar pondasi kita mencintai seseorang.
Kita mencintai istri kita, kita mencintai suami kita, kita mencintai kakak kita, adik kita, orang tua kita, anak kita, keluarga besar kita.
Kita mencintai sahabat kita atau teman [Musik] kita, itu dasarnya adalah cinta kita kepada Allah, cinta kita kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, dan cinta kita kepada agama kita.
Itu dasar, jadi kita, dan itu inti agama, inti dari bab mencintai karena Allah subhanahu wa taala.
Jadi dasarnya tuh bukan karena fisik, misalnya karena dia cantik, jadi kita mencintai dia, atau karena dia tampan, maka kita mencintai dia.
Apalagi karena harta, karena dia kaya, kita suka sama dia, dekat sama sahabat kita, atau mau menikahi suami kita yang suami kita saat ini, atau istri kita saat ini.
Kenapa? Karena harta, itu bukan karena Allah subhanahu wa taala.
Atau bukan karena dia baik kepada kita secara pribadi semata, tapi dia melakukan kesyirikan, dia meremehkan Allah tabaraka wa taala, dia durhaka sama Allah dan rasulnya alaihiatu wasalam, dia remehkan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, tapi baik sama kita.
Tapi sama rasul enggak baik, maka itu bukan inti dari bab ini.
Atau mungkin hanya karena hubungan darah, mungkin karena hubungan darah atau keluarga, ya di kakak kita, adik kita, atau dia anak kita, jadi kita cinta sama dia.
Makanya ini salah satu rahasia kenapa salah satu ujian terbesar para nabi dan rasul itu berasal dari orang-orang terdekatnya.
Nabi Adam dengan salah satu anaknya alaih salam, Nabi Yakub dengan beliau harus menghadapi kenyataan mayoritas anaknya hasad dengan Yusuf, anak beliau juga.
Conflict of siblings alaihi wasalam, Nabi Nuh dengan istri dan anaknya, Nabi Luth dengan istrinya.
Ada banyak contoh, Nabi Musa dengan ayah angkatnya yang kasih fasilitas kepada beliau di saat beliau kecil.
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan pamannya, dengan Abu Lahab.
Abu Lahab sangat sayang sama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sebelum Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam berdakwah sebagai nabi dan rasul, atau dengan Abu Thalib yang sangat menyangi beliau, dan lain seterusnya.
Kenapa Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih Ismail? Semua intinya ini, dan itu ujian yang sangat berat, sangat rumit, sangat menguras energi.
Masalah yang paling rumit dalam kehidupan sosial kita adalah ketika kita bermasalah dengan orang yang kita cintai atau orang-orang yang terdekat kita.
Itu lebih pelik, lebih ribet, lebih jelimet daripada misalnya masalah bisnis.
Sepelik apapun masalah bisnis, atau ketika enggak punya uang, kita enggak punya uang, tapi orang-orang terdekat kita solid berdiri bersama kita.
Oh, itu luar biasa.
Tapi kita punya semuanya, tapi kita ditikam sama orang yang terdekat kita.
Itu sangat menyakitkan, kita dikhianati sama orang-orang terdekat kita.
Oh, itu luar biasa.
Nah, kenapa itu semua terjadi? Karena ujiannya adalah apakah seorang hamba itu mencintai istrinya, atau anaknya, atau suaminya, atau orang tuanya, pamannya, keluarganya, sahabatnya, karena Allah, atau lahir karena cintanya kepada Allah, lahir karena cintanya kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, lahir karena cintanya terhadap agama yang Allah turunkan.
Atau ini hanya masalah personal, ini hanya masalah pribadi, ini cinta pribadi, cinta syahwat, dan itu enggak cukup dengan klaim.
Kalau klaim, maka sebagaimana dikatakan ahli hikmah, "Kun wasila."
Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila, sebuah istilah yang bermakna setiap orang bisa mengklaim punya hubungan.
Baik, setiap orang mudah mengklaim cinta karena Allah, dan itu terjadi kan gampang mengatakan "uhibbuka fillah" atau di WA dari yang mencintaimu karena Allah.
Gampang, kita butuh pembuktian, dan jangan pernah berpikir pembuktiannya mudah.
Ini ujiannya para nabi dan rasul, asyaddunasi balaan al Anbiya.
Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, dan ini uji ini salah satu ujiannya para nabi alaihialatu [Musik] wasalam.
Dan orang-orang yang makan asam garam kehidupan ngerti tentang beratnya ujian.
Kalau sudah diuji dari sisi ini, enggak mudah.
Dan ini inti bab ini, bahwa mencintai seseorang itu lahir dari cinta kita kepada Allah, cinta kita kepada Rasulullah, cinta kita kepada agama kita.
Jadi kalau dari awal seseorang itu enggak mencintai Allah, sudah enggak akan bisa berada di poin di bab ini.
Kalau seseorang dari awalnya atau pada dasarnya, atau saat ini, dia enggak cinta sama Allah, enggak cinta kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, dan itu terlihat dengan sikapnya, ya enggak usah bicara bab ini.
Enggak akan mungkin bisa, karena bab ini lahir dari rahim itu.
Kalau dia enggak punya rahim, gimana dia mau melahirkan? Rahimnya aja enggak ada, terus gimana dia mau melahirkan?
Jadi bab ini hanya untuk orang-orang yang punya tauhid yang baik.
Kalau tauhid yang bermasalah, kalau dari awal dia memang enggak mencintai Allah dan Rasul, hidup hanya untuk diri sendiri, hidup untuk kesenangan, hidup untuk syahwat, ambisi-ambisi pribadi, enggak usah bicara bab ini.
Karena rahimnya enggak ada, gimana dia mau melahirkan sesuatu?
Jadi sebelum itu semua ini yang harus ditanamkan.
Jadi ini bukan seb atas punya hutang budi semata.
Enggak.
Berapa waktu yang lalu kita mengatakan bahwa seorang baik itu hidup dengan hutang budi atau hidup dengan hutang jasa.
Dia merasa orang itu berjasa.
Nah, bab ini itu jauh lebih dalam dari itu, atau jauh lebih luas dan dalam.
Dia bukan hanya merasa orang itu punya jasa kepada dia, tapi lebih dalam lagi, dia melihat orang itu punya pencapaian dalam menunaikan hak Allah.
Gitu, baru setelah itu bicara tentang hutang kita.
Dia punya hutang budi secara pribadi, tapi yang pertama dulu, apa andil orang itu untuk agama Allah?
Apa upaya orang itu dalam menunaikan hak-hak Allah sub wa taala?
Apa peran orang itu dalam menunaikan hak Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam?
Begitu kita lihat, ini orang ini sosok hidupnya, atau dalam kehidupannya, punya peran dalam menunaikan hak Allah.
Lalu hak Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Lalu bagaimana? Punya peran dalam agama yang saya peluk dan saya yakini.
Itu poin dari bab kita, itu yang akan dinaungi pada hari kiamat di saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah tabaraka wa taala.
Jadi porosnya itu bukan diri kita, tapi apa yang sudah dilakukan seorang hamba kepada Rabnya subhanahu wa taala.
Itu poin dari ini semua.
Lalu bagaimana kita mencintai mereka?
Bagaimana kita mencintai mereka? Itu poin, dan itu ujiannya.
Makanya mahabbatul muslim akhir muslim nabigh nabiah nabiatun ill.
Jadi hadirin Allah muliakan, itu yang harus kita buktikan di dalam hidup.
Itu yang harus kita buktikan di dalam dinamika kehidupan kita.
Dan ujian-ujian tersebut, apakah sayang kita, cinta kita kepada seseorang nabiah lahir dari cinta kepada Allah atau bukan?
Atau cinta pada diri sendiri?
Makanya Allah subhanahu wa taala ituan [Musik] mengatakan atau berfirman tentang masalah ini dalam surat at-taubah ayat 24.
Allah berfirman, "Qul, tolong sampaikan kepada mereka, Qul, Ina abaukum, jika orang tua kalian, wa abnaukum, anak-anak kalian, wa ikhwanukum, saudara-saudara kalian, wa azwajukum, pasangan-pasangan kalian, wa keluarga kalian, dan harta yang kalian kumpulkan, dan bisnis yang kalian khawatir kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kalian r kalian puasnya, wa asul lebih kalian cintai dibanding Allah dan rasulnya, W jihadin fisabili, dan Jihad atau perjuangan di dalam agamanya."
[Musik]
Fatarabbasu, maka tunggu tanggal mainnya, tunggu tanggal mainnya.
Hal itu terjadi, tunggu tanggal main, hatta yati Allahu biamrih, sampai Allah datangkan keputusannya, sampai Allah datangkan azabnya, sebuah ancaman.
Jadi arti fatarabbasu, tunggula, itu perintah ee yang bermakna ini tinggal nunggu waktu kapan kalian diadab sama Allah.
Tinggal nunggu waktu kapan kalian dihukum sama Allah, tunggu aja sampai Allah datangkan hukuman dan azab yang tidak bisa kalian tolak.
Wallahuahasikin, dan Allah tidak memberikan Hidayah kepada orang-orang fasik.
Pengin bahasa sangat-sangat mengerikan dan menakutkan.
J kalau kondisi kan seperti itu, tinggal nunggu tanggal main kapan Allah akan azab kalian.
Bisa besok, bisa lusa, bisa 3 hari lagi, bisa pekan depan, bisa bulan depan, bisa tahun depan, tunggu aja.
Nti akan datang.
Itu poin yang perlu kita renung.
J Allah gak bicara, Allah gak berfirman macam-macam.
Dan Allah enggak ancaman yang sangat tinggi, tunggu tanggalain, disuruh menunggu gitu.
Dan mengu ituah satu yang semukan dan tidak mengenakkan.
Apa itu? Kalau nunggu orang yang kita senangi, apalagi disuruh nunggu azab.
Orang tua jemput anaknya di airport karena udah kangen banget.
Kangennya luar biasa, begitu sampai airport dapat kabar delay 2 jam.
Ituyayebelin, hadirin.
Pal itu nunggu anak yang sangat ditunggu, itu yang dinantikan dan sangat dicintai.
Menunggu tuh enggak enaknya.
Minta apa anda? Modu Deal Project besar atau lumayanlah, misalnya Project R miliar, janji jam untuk sign, ternyata last minute ditunduk, ditunda.
Jadi jam 00 kita sudah sampai di lokasi, tunggu ya, ininya ada urusan.
Itu nunggu 3 jam menyebalkan.
Kalau kita depan mata kita 100 m, itu enggak enak.
Nunggu Allah mengatakan, "Bukan fatarabbasu hatta yatiya, hatta yati Allahu biamri."
Tunggu sampai Allah datangkan azabnya, tunggu aja.
Oh, itu takutkan.
Kapan itu terjadi?
Kalau orang tua kita, anak kita, saudara kita, pasangan kita, keluarga kita, harta kita, bisnis kita, rumah tempat tinggal kita lebih kita cintai dibanding Allah dan rasulnya.
Ini yang bisa disampaikan, semoga bermanfaat.
Subhanallah.
Walaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Ketika Ayahku mengajariku membaca Alquran, di antara kita kalanya air mata mengalir begitu saja saat membaca kalamullah.
Teringat bagaimana Allah mampukan kita mempelajari huruf demi huruf Alquran melalui perantara Ayah maupun guru yang ayah pilihkan untuk mengajar kita.
Ayah menyemangati kita mengenal huruf Alquran, hingga menghafal surat demi surat dari kitab terbaik ini.
Entah sudah berapa kebaikan yang beliau berikan kepada kita, namun rasanya belum cukup kita membalas kebaikannya.
Kini sosok itu telah tiada, namun kebaikan ilmu yang beliau ajarkan melekat dalam kita.
Sudahkah kita memberikan balasan terik untuknya?
Doakan kebaikan untuk beliau dan hadiahkan aliran pahala yang tidak terputus melalui kegiatan belajar Alquran, kitab terbaik yang Allah turunkan.
Mari berinfak dan menjadi bagian dari perjuangan memberantas buta huruf Alquran dan program keilmuan lainnya bersama Muhajir projek tilawah.
Salurkan infak terbaik kita melalui foreign.