Transcription
Salamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalikumsalam. Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nasta'ghfiruhu.
[Musik]
Ahdihillah, fala mudillalah. Waman yudlil fala hadiyaalah.
Wa ashadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah. Wa ashadu anna Muhammadun abduhu wa rasuluh.
Amma ba'd, fainna khairal hadisi kitabullah. Wakhairul hadi, hadi Muhammad Sallallahu Alaihi wa alihi Wasallam.
Bid'ah wa bid'atin dolalah, walatin finnar.
Ikhwan dan akhwat yang saya muliakan, kita akan membahas mengenai manhaj dan akidah dari kitab [Musik] yang saya tulis dengan judul Kitabul Manhaj wal Akidah.
Kitab ini terdiri dari 140 bab dan 321 hadis, secara khusus berbicara mengenai manhaj, sikap, dan cara beragama Islam yang benar.
Agar tertanam di hati kita keyakinan-keyakinan yang benar dari keyakinan yang diajarkan di dalam Islam.
Karena pembicaraan mengenai manhaj tidak akan pernah lepas dari syariat ini. Oleh sebab itu, Rabbuna Jalla zikruhu berfirman dalam Surah Al-Maidah ayat 48:
"Wa anzalna ilaikal kitaba bilhaqqi musaddiqan lima baina yadahi minal kitab wa muhaiminan alaih. Fahkum bainahum bima anzalallah wal tabi ahwaahum amma jaka minal haq."
Likullin ja'alna minkum siratan wa minhaja. Walau ya Allahu laja'alakum ummatan wahidatan, wa kin liyabluakum fima atakum.
Fastabiqu ilal khairat, ilallahi marji'ukum jamian. Funabbi'ukum bima kuntum fihi takhtalifun.
Dan kami turunkan kepadamu Alkitab Al-Qur'an ini bilhaqqi dengan benar, dengan membawa kebenaran.
Al-Qur'an adalah hak, dan yang hak pasti datang dari Allah.
Al-haqqu min rabbika fala takunanna minal mumtarin.
Yang hak itu dari Rabbmu, maka janganlah sekali-kali kamu ragu tentang kebenaran yang datang dari Rabbmu.
Dan Alkitab Al-Qur'an ini musaddiqan lima baina yadahi minal kitab wa muhaiminan alaih, membenarkan kitab-kitab yang ada di hadapannya yang turun sebelum Al-Qur'an, yaitu kitab Taurat, Zabur, serta Injil.
Al-Qur'an membenarkannya karena semua kitab itu turun dari Rabb yang sama, Rabb yang satu, Allah Jalla zikruhu.
Fahkum bainahum bima anzalallah, adililah mereka. Hukumlah mereka, berilah keputusan hukum di antara mereka dengan Al-Qur'an yang Allah turunkan kepadamu.
Wa ahwaahum, dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu mereka dari kebenaran yang telah datang kepadamu.
Kebenaran telah datang kepadamu. Ini pembicaraan Allah tujukan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Jangan kau mengikuti hawa nafsu mereka, kemauan-kemauan mereka yang menyelisihi kitabullah.
Likullin ja'alna minkum siratan wa minhaja. Bagi masing-masing kamu, di sini adalah para nabi dan rasul.
Kami berikan syiratan, syiratan syariat, hukum Allah, keputusan-keputusan Allah, perintah dan larangan Allah.
Setiap nabi diberikan siratan oleh Allah, atau dia mengikuti syariat nabi yang sebelumnya.
Seperti kepada Musa Alaihissalam, Allah memberikan syariat dan Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan kitab Taurat kepadanya.
Maka para nabi yang setelah Musa mengikuti syariat Musa di dalam Taurat sampai datang Isa bnu Maryam Alaihissalam.
Dan Allah turunkan kepadanya Injil. Begitulah sebelumnya atau sesudahnya sampai diakhiri dan ditutup dengan kenabian nabi yang mulia, Muhammad Sallallahu Alaihi wa alihi Wasallam.
Selain syariat, Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kepada setiap nabi minhajan.
Manhaj kadang-kadang disebut minhaj, kadang-kadang disebut manhaj.
Secara lughah, bahasa artinya manhaj itu atau minhaj itu atariqul wadiih albayin, jalan yang terang, yang nyata, yang tampak jelas, asahl serta mudah.
Menurut istilah syariah, manhaj itu sunnah.
Setiap nabi memiliki sunnah yang wajib diikuti oleh umatnya, yang diakhiri dan ditutup dengan kenabian Rasul yang mulia Alaihissalam.
Berarti manhaj itu sunnah. Musa mempunyai sunnah, sunnahnya Musa Alaihissalam.
Demikian juga Isa Alaihissalam mempunyai sunnah, dan nabi kita Muhammad Alaihissalam pun mempunyai sunnah itu.
Manhaj yang kita kenal dengan manhajur Rasul.
Oleh karena itu, kalau kita mengikuti sunnah yang bukan sunnahnya nabi Muhammad Alaihi wa alihi Wasallam, maka pasti kita tersesat.
Dipastikan kita akan tersesat di dalam beragama.
Nah, ini ada di hadis ke-12, di mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Walladzi nafsu Muhammadin Wafi riwayatin walladzi Nafsi biadih, demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangannya.
Lau asbaha fikum Musa, kalau Musa berada di tengah-tengah kamu, tabumuhu, kemudian kamu mengikutinya, wataktumuni, dan kamu meninggalkan aku, laltum pasti kamu akan tersesat."
Mengapa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menjelaskannya?
[Musik]
"Innakum minal umam, sesungguhnya kamu bagianku dari umat-umat yang sebelummu.
Kewajiban kamu mengikutiku sebagai nabi kamu. Wa ana hadzukum minan nabiin, dan aku adalah bagian kamu dari para nabi yang sebelumku.
Yakni akulah nabi kamu, bukan yang selainnya.
Maka kalau kamu mengikuti Musa yang bukan nabi kamu dan meninggalkan aku, pasti kamu akan tersesat, menyimpang, dan menyelisihi sunnahku."
Musa sama umatnya, dan kewajiban kamu mengimani kenabian dan kerasulan Musa Alaihissalam, tetapi tidak diwajibkan mengikutinya kecuali ada perintah dari Allah dan rasulnya.
Ah, lihat berarti Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam memiliki sunnah tersendiri, itu manhaj.
Likullin ja'alna minkum siratan wa minhaja, tegas sekali ayat yang mulia itu.
Bagi masing-masing dari kamu, para nabi dan rasul, kami berikan syariat bersama umat mereka dan menjalani syariat itu.
Ada kesamaan di antara seluruh para nabi dan rasul, sama apa?
Dakwah tauhid, la ilaha illallah.
Semuanya sama, tidak ada perbedaan.
Walaqad ba'atna fi kulli ummatin rasulan an'udullaha.
Wa Allah subhanahu wa ta'ala [Musik] berfirman di dalam Surah An-Nahl, silakan dicari ayatnya.
"Dan sesungguhnya kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, dan kami perintahkan mereka, para nabi dan rasul itu untuk berdakwah, menyeru kepada manusia, 'Udu'ullaha, sembahlah Allah saja."
Berarti menegakkan dakwah tauhid, menjelaskan siratal mustaqim, menerangkan manhajnya, sunnahnya yang wajib diikuti oleh umatnya.
Yang kedua, menjauhi segala sesembahan selain Allah.
Itu asas dakwah.
Setiap nabi dan rasul yang diutus, 'Udu'ullaha, bagiannya tauhid, bagiannya manhaj sunnah, wa bu'th thagut, menjauhi kesyirikan, penyimpangan, dan kesesatan di dalam beragama.
Menjelaskan jalan-jalan setan.
Begitu juga setiap dai, orang-orang alim mendakwahkan manusia sama, semuanya asasnya 'Udu'ullaha.
Wabith thagut, menjauhi kesyirikan.
Penyimpangan dan kesesatan di dalam beragama, menjelaskan jalan-jalan setan.
Begitu juga setiap dai, orang-orang alim mendakwahkan manusia sama, semuanya asasnya 'Udu'ullaha.
Wabith thagut, menjauhi kesyirikan.
Penyimpangan dan kesesatan di dalam beragama, menjelaskan jalan-jalan setan.
Adapun syariat bertahap, Allah turunkan dari satu nabi kepada nabi yang lain, dari satu zaman kepada zaman yang lain.
Sampailah umur manusia telah dewasa, yaitu ketika diutusnya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Dan manusia telah tersebar luas, dan saat diutusnya beliau, manusia berada di dalam kesesatan dan kegelapan kesyirikan.
Ada Ahlul Kitab yang telah mengubah agama mereka, mengubah Taurat dan Injil, mengubah ajaran nabi mereka, sunnah nabi mereka, dan mereka membuat berbagai macam bid'ah.
Bahkan mereka mengangkat sebagian manusia sebagai tuhan-tuhan selain Allah.
Sebagian manusia lagi, kaum musyrikin, membuat agama berdasarkan ryu dan istihsan, keinginan-keinginan mereka.
Mereka menganggap, "Oh ini baik, oh ini baik, oh menyembah batu ini baik, oh menyembah matahari ini baik."
Maka saat itulah Allah subhanahu wa ta'ala mengutus nabi yang mulia, ya Alaihi wa sallam.
Semuanya berada di dalam kesesatan, kecuali segolongan kecil manusia dari sisa-sisa peninggalan Ahlul Kitab yang tetap berjalan lurus mengikuti nabi mereka, Alaihim wa sallam.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala mengutus Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membawa agama yang sama yang dibawa oleh para nabi, yaitu Islam.
Tetapi perbedaannya, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam diberikan syariat yang sempurna, demikian juga sunnah, manhaj, dan membawa mukjizat yang terbesar dari seluruh mukjizat para nabi dan rasul, Alaihim wa sallam, yaitu Al-Qur'anul Karim.
Nah, kembali ke manhaj.
Setelah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam wafat, maka dilanjutkan oleh para sahabat.
Para sahabat ini, radhiallahu anhum, orang-orang pilihan Allah.
Allah yang memilihnya untuk menemani dan menyertai hamba-Nya dan rasul-Nya yang mulia, Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Antum baca akhir Surah Al-Fath:
"Muḥammadu rāsūlullāh, walladhīna maʿahu asiddā'u ʿalā al-kuffār, ruham bainahum."
Tegas Muhammad Rasulullah, utusan Allah.
Walaupun manusia mengingkarinya, tetaplah Muhammad itu Rasulullah, karena Allah yang mengangkatnya, Allah yang mengutusnya.
Walladhīna maʿahu, dan orang-orang yang menyertainya, bersamanya siapa?
Asahabah, para sahabat radhiallahu anhum.
Karena kita tidak menyertai nabi yang mulia, Alaihi wa sallam.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabat:
"Bighu Anni Walau Ayah, sampaikan dariku walau satu ayat."
Ini hadis sahih riwayat Al-Imam Al-Bukhari.
Maka bertebaranlah para sahabat di permukaan bumi ini, di muka bumi ini, menyampaikan risalah nabi yang mulia, Alaihi wa sallam, sunnah beliau.
Ah, terkenallah dengan manhajus sahabah.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam di kesempatan lain juga dalam hadis sahih Bukhari dan Muslim bersabda kepada para sahabat:
"Liyuballigh syāhidu minkumul ghā'ib, hendaklah orang yang hadir di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir."
Dan hadis-hadis lainnya.
Berarti Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memercayai para sahabat untuk menyampaikan risalahnya.
Sebab kalau beliau tidak percaya, tentu beliau tidak akan memerintahkan para sahabat.
Menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Maka dari itu, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam memerintahkan para sahabat:
"Bighu Anni, liyubigh syāhidu minkumul ghā'ib."
Dan hadis-hadis lainnya menunjukkan bahwa para sahabat adalah orang-orang kepercayaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa ala alihi Wasallam.
Mereka menyampaikan, dan mereka tidak keluar sama sekali dari sunnah Nabi selama mereka mengetahuinya.
Oleh karena itu, di dalam hadis-hadis di kitab ini ada tentang iftiraqul ummah, perpecahan atau perselisihan umat ini menjadi 73 firkah, golongan.
72 terancam masuk ke dalam neraka, dan satu dijanjikan surga.
Para sahabat bertanya, "Siapa mereka?"
Beliau menjawab, "Al-jama'ah."
Jemaah satu, tidak jemaah-jamaah, tidak satu.
Siapa ya para sahabat?
Satu jemaah, jemaah ilmiah dan amaliah, ilmu dan amal yang wajib diikuti oleh setiap muslim dan muslimah.
Dalam hadis yang lain, beliau mengatakan:
"Ma'ana alaihil yaum wa ashabiy."
Dalam hadis yang lain, beliau Sallallahu Alaihi Wasallam juga ada di kitab ini:
"Fa'ikumti khulidin alahdiin alaiha bin naw."
Hendaklah kamu berpegang dengan sunnahku, perjalanan kehidupanku di dalam mendakwahkan dan mengamalkan Islam dan sunnahnya.
Al-khulafa ar-rasyidin al-mahdiin, yakni ya, itulah apa yang kita kenal sebagai manhaj.
Berarti ia metode, cara untuk beragama yang benar.
Kalau dikatakan manhajul haq, karena manahij, manhaj-manhaj itu banyak.
Kita ingin mengikuti manhaj Rasul yang kemudian dilanjutkan oleh para sahabat.
Para sahabatlah du'atnya, para da'i mereka yang tabligh kepada kita, mereka yang menyampaikan agama kepada kita, mereka yang menyampaikan Al-Qur'an kepada kita, menyampaikan hadis kepada kita.
Hadis siapa yang menyampaikannya kalau bukan sahabat?
Kalau hadis itu dari tabi'in, dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, tidak diterima oleh ulama, dikatakan hadis ini mursal.
Apalagi kalau dari tabi'ut tabi'in, kemudian disampaikan langsung kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Q tidak diterima hadis itu, harus datang dari sahabat.
Kenapa? Karena sahabat yang bertemu Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, melihat beliau, mendengar dari beliau, melihat perbuatan beliau.
Tabi'in dan orang-orang sebelumnya tidak ketahui.
Jadi kalau ada hadis dari penulis hadis, kemudian dari gurunya, dan terus sampai kepada tabi'in, tabi'in mengatakan:
"Qala Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam," itu hadisnya daif.
Kenapa? Karena mursal, melongkap nama sahabat mana?
Kok sahabat tidak disebut?
Atau tabi'ut tabi'in langsung mengatakan:
"Qala Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam," karena itu tidak boleh seenaknya kita mengatakan:
"Q Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam."
Lalu ditanya sama orang, "Siapa yang meriwayatkannya?"
Ini antum menyandarkan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Oh, ini hadis yang saya bawakan riwayat Bukhari, benar tidak?
Lihat gitu, begitu.
Berarti harus ada sahabatnya.
Setiap hadis yang diatkan harus ada sahabat yang menyampaikannya.
Karena Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam meriwayatkan, membacakan hadis, bersabda, atau melakukan sesuatu, didengar dan dilihat oleh sahabat.
Dan sahabat menyampaikannya kepada sesama mereka, terlebih dahulu sesama para sahabat, kemudian kepada tabi'in, tabi'in kepada sesama mereka, kemudian kepada tabi'ut tabi'in, tabi'ut tabi'in kepada sesama mereka, kemudian kepada orang yang di bawahnya, orang yang di bawahnya kepada orang yang di bawahnya, sampai hadis itu ditulis, dicatat oleh para imam ahli hadis.
Yang kita kenal ada Al-Imam Al-Bukhari, ada Al-Imam Muslim, ada Imam Abu Daud, ada Imam Tirmidzi, ada Imam An-Nasai, ada Imam Ibn Majah, ada Imam Ad-Darimi, ada Imam Ahmad, dan sebelum Imam Ahmad ada Imam Malik.
Kemudian ada para imam lainnya, banyak sekali dicatat, ditulis.
Tidak cukup sampai di situ, diperiksa dengan sangat cermat dan ketat dalam satu pemeriksaan sejarah yang belum pernah ada pada umat manusia.
Karena Allah subhanahu wa ta'ala [Musik] mengkhususkan sanad, itu jalannya orang-orang yang meriwayatkan hadis kepada umat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Nah, di antara bab-bab ilmiah di kitab ini adalah lanjutan dari bab-bab sebelumnya, tiga bab sebelumnya, yaitu bab keempat dengan judul larangan itra kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, halaman 57.
Itra artinya berlebihan dan melampaui batas dalam memuji atau meninggikan seseorang.
Kita dilarang itra kepada manusia, khususnya kepada para nabi dan rasul, lebih khusus lagi kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Pada halaman 60, saya menjelaskan bahwa arti itra, itra dengan th, yaitu melampaui batas dari apa yang telah ditetapkan oleh agama di dalam memuji Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
Maka itra itu pada hakikatnya adalah pujian dengan cara yang batil, seperti sujud kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, atau mengatakan bahwa Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengetahui perkara yang gaib.
Atau setelah beliau wafat, manusia meminta kepada Allah dengan perantara Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, atau memohon langsung kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam ketika beliau telah wafat.
"Ya Rasulullah, tolonglah kami," dan seterusnya.
Ini melampaui batas, al-ghulu, dan itu yang pernah terjadi pada Ahlul Kitab.
Perhatikan dua ayat yang saya bawakan.
Ayat pertama, firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 171:
"Ya ahlal kitabi, hai ahli kitab, ahli kitab pada dua Yahudi dan Nasrani. Nasara yang dimaksud di sini adalah Nasara.
Hai ahlil kitab, hai ahli kitab, la taglu fi dinikum, janganlah kamu melampaui batas, berlebihan dalam agamamu."
Lihat di catatan kakinya, saya mengatakan, yakni dengan mengatakan dan mengangkat Isa sebagai Allah atau Anak Allah.
Padahal Isa adalah seorang nabi dari nabi-nabi Allah, bukan Allah dan bukan anak Allah, seperti perkataan dan keyakinan orang-orang Nasrani itu.
Melampaui batas, Allah melarang:
"Ya ahlal kitabi, la taglu fi dinikum, jangan kamu bersikap al-ghulu, berlebihan dan melampaui batas di dalam agamamu."
Agama sudah mengatur:
"Wala takulu 'ala Allahi illa al-haq," dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.
Mengatakan terhadap Allah dengan tidak benar, tanpa ilmu, tanpa ilmu, mengatakan bahwa Isa Tuhan atau Isa anak Tuhan atau Isa salah satu dari tiga Tuhan.
Ini al-ghulu, melampaui batas, dan mengatakan terhadap Allah tanpa hak, Allah larang:
"Wala takulu 'ala Allahi illa al-haq," jangan kamu mengatakan terhadap Allah atas nama Allah kecuali yang benar.
Apa yang Allah katakan?
"Innamal masihu 'isa bnu Maryam rasulullah," sesungguhnya Al-Masih, Isa anak Maryam adalah Rasulullah.
Ini dia, bukan Tuhan, bukan anak Tuhan.
"Wa kalimatuhu al-qaha ila Maryam," dan kalimatnya, kalimat Allah, yaitu "Kun fayakun," jadi jadilah.
Karena Isa lahir tanpa Ayah, tanpa Bapak, kalimat Allah, "Kun fayakun," jadilah.
Itu makna walimatu [Musik] dan kalimatnya yang diberikan kepada Maryam dan ruh dari ciptaannya.
"Ciptaan Allah, minu billahi," maka berimanlah kamu kepada sekalian rasulnya.
Jangan sebagian kamu kufuri, sebagian kamu nyatakan sebagai manusia, sebagian lagi kamu katakan sebagai Allah.
"Wala takulu salasah," kata Allah, jangan kamu mengatakan Tuhan itu tiga.
"Intahuirakum," berhentilah, itu baik bagi kamu.
"Innamallahuahu wid," sesungguhnya Allah tidak lain melainkan Tuhan yang satu, yang Esa.
Subhanahu ayyakuna lahu walad, maha suci Allah dari mempunyai anak.
Subhana lahu ma fis samawati wa fil ardhi, wa kafa billahi wakila.
Kepunyaan Allah segala yang di langit dan di bumi, cukuplah Allah sebagai pemelihara.
Ini ayat pertama yang melarang manusia, khususnya Ahlul Kitab, dan termasuk larangan kepada kita bersikap itra, bersikap al-ghulu kepada para nabi, khususnya kepada nabi yang mulia, Alaihi wa sallam, dan kepada orang-orang saleh, kepada orang-orang besar, Al-ulama.
Tidak boleh bersikap al-ghulu.
Ayat yang kedua, yaitu dalam Surah Al-Maidah ayat 77:
"Qul, katakanlah hai Muhammad, ya ahlal kitab, hai ahli kitab, la taglu fi dinikum ghairal haqqi, janganlah kamu berlebih-lebihan, yakni melampaui batas dengan cara yang tidak benar dalam agamamu."
Dalam beragama, saya memberikan penjelasan di catatan kakinya nomor 19, yakni janganlah kamu berlebihan dan melampaui batas dalam mengikuti kebenaran.
Berlebih dalam mengikuti kebenaran pun dilarang, sehingga kamu mengeluarkan Isa dari kenabiannya.
Mereka mengikuti Isa, mengikuti kebenaran, tapi melampaui batas, sehingga mengeluarkan Isa dari manusia kepada derajat ketuhanan.
Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa orang-orang Kristen, Nasara, telah melampaui batas dalam membesarkan dan memuliakan Nabi Isa.
Mereka berlebihan dari apa yang diperintah Allah kepada mereka.
Itu makna la taglu fi dinikum ghairal haqqi.
Dalam mengikuti kebenaran pun kita dilarang melampaui batas.
Salat zuhur empat rakaat, lalu kita tambah menjadi lima rakaat.
Kita mengikuti kebenaran salat, tetapi melampaui batas.
Dalam melempar jamrah, saja ketiga jamrah, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan batu kerikil kecil.
Janganlah kamu gulu, kata nabi, dengan melempar jamrah itu dengan batu yang besar.
Itu gulu, berlebihan di dalam agama kamu, di dalam mengikuti kebenaran, melampaui batas.
Melempar jamrah adalah hak, kebenaran, tapi kamu berlebihan, sehingga kamu melemparnya, melontarnya dengan batu-batu yang besar.
Nabi contohkan ini kecil, ini dia, yang seperti ini.
Nabi katakan, gulu, berlebihan.
Kalau lebih dari ini, dari batu kerikil yang kecil itu, batu-batu kerikil yang kecil.
Padahal dalam rangka mengikuti kebenaran, dalam menjalankan kebenaran, dilarang berlebihan.
Ahlul Kitab seperti itu, melampaui batas, berlebihan di dalam mengikuti kebenaran dan mengeluarkan Isa bin Maryam dari sifat manusia kepada derajat ketuhanan.
Terus selanjutnya, wa ah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya, dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.
Saya menjelaskan catatan kaki nomor 20, ya makna dari wa ahin Q minq wa kir wwail, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah tersesat dahulu sebelum kamu, dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia.
Yakni janganlah kamu mengikuti guru-guru kamu, yaitu guru-guru sesat yang lebih dahulu telah tersesat dari kamu, dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia.
Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa agama orang-orang, yakni Ahlul Kitab, dibina atas dasar taklid buta kepada guru-guru mereka.
Suyuhyudal, berarti kita dilarang mengikuti orang-orang yang telah tersesat, orang-orang yang jalannya tidak lurus.
Nah, Ahlul Kitab mengikuti syyukh masyaikh mereka yang telah tersesat terlebih dahulu, yang telah mengubah agama Isa bin Maryam Alaihissalam.
Kemudian hadisnya, hadis ke-13, an Ibni Abbasin, Sami Umar radhiallahu Anhu, yaakul, yaakulu 'alal mimbar.
Dari Ibnu Abbas, dia mendengar Umar, yakni Umar bin Khattab radhiallahu Anhu berkata di atas mimbar:
"Samitun Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yaakul."
Aku pernah mendengar Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Launi, ah ini yang tadi saya katakan di awal dan judul dalam bab ini, itra.
Alitra maknanya, janganlah kamu memujiku berlebihan sehingga melampaui batas.
Launi itu dia, janganlah kamu memujiku, menyanjungku berlebihan sehingga melampaui batas dari apa yang telah ditentukan di dalam agama.
Bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam diimani, diikuti, dicintai, dimuliakan, dibesarkan, tetapi tidak disembah.
Tidak boleh disamakan dengan Allah, yang menjadi hak dan kekhususan bagi Allah.
Tidak boleh itu, itra.
Seorang berteriak, "Ya Rasulullah, Ya Rasulullah, tolonglah kami dari bahaya, hindarkan kami dari musibah ini."
Itra, menyamakan nabi yang mulia dengan Allah.
Kalau Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam masih hidup, ada di hadapan manusia, yaitu waktu itu para sahabat.
Para sahabat meminta kepada nabi agar berdoa kepada Allah agar Allah supaya Allah menurunkan hujan.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam berdoa.
Ketika Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sedang berkhutbah Jumat, datanglah seseorang:
"Ya Rasulullah, sawah telah kering," dan seterusnya, terjadi musim kemarau panjang.
"Berdoalah."
Maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengangkat tangan.
Doa istisqa, "Allahumma, Agna, tinggi angannya."
Khatib mengangkat kedua tangan.
Kalau bukan doa istisqa, tidak boleh gini, beri syarat dengan jari Allahi ketika doa meminta hujan.
Apabila terjadi musim kemarau panjang, maka sunnah dia mengangkat kedua tangannya tinggi, dan jemaah mengangkat kedua tangan mereka, jemaah mengucapkan amin, amin.
Adapun doa biasa, Khatib berdoa, diam semuanya, dan khatib berisyarat dengan jarinya.
Ini hadis Muslim.
Begini, hadis Bukhari istisqa.
Maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengangkat tangan.
Tidak berapa lama, datanglah awan tebal, lalu hujan.
Terus hujan sampai Jumat yang akan datang.
Jumat kemudian datang lagi orang itu:
"Sekarang banjir, kita doa lagi, doa lagi."
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam:
"Ya Allah, hujannya disekeliling saja, hujannyakeling saja, sehingga tidak menjadikan banjir."
Minta juga sama Allah, bukan minta sama pawang hujan.
Minta sama Allah.
Ya, itu.
Ketika Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah wafat, tidak ada seorang pun sahabat yang mendatangi kubur beliau, meminta-minta kepada beliau, bersimpuh di situ, atau meminta kepada Allah dengan perantara beliau yang telah wafat.
Tidak.
Pada sepanjang perjalanan para sahabat selama satu abad setelah beliau wafat, bahkan Umar bin Khattab meminta Abbas bin Abdul Muthalib berdoa, minta hujan.
"Ya Allah, dahulu kami bertawasul kepada nabi untuk meminta agar Engkau turunkan hujan.
Sekarang kami bertawasul dengan paman nabimu, Abbas.
Perintah Abbas doa, ya Allah, turunkan hujan."
Padahal kubur beliau, kubur termulia, dan dekat dengan para sahabat, hanya beberapa meter atau beberapa puluh meter atau beberapa ratus meter saja.
Tidak ada yang bersimpuh di situ, meminta-minta kepada beliau.
Tidak.
Kalau ziarah kubur, sunnah kepada siapa saja, lebih utama kepada nabi yang mulia, Alaihi wa sallam.
Ah, itu.
Itu tauhid.
Para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan:
"La tutruni, jangan kamu itra berlebihan, melampaui batas dalam memujiku, kama atratin Nas, kama atratin Nasara B Maryam."
Sebagaimana kaum Nasara telah itra berlebihan kepada Ibnu Maryam, Isa.
Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam memperingatkan umatnya:
"Jangan kamu seperti Nasara yang telah melampaui batas terhadap Nabi mereka, Isa bin Maryam Alaihissalam, sehingga mereka mengeluarkannya dari manusia kepada derajat ketuhanan."
Jangan kemudian:
"Fa innama Ana abduhu," karena sesungguhnya aku adalah hamba-Nya.
"Faquulu," maka katakan oleh kamu:
"Abdullahi wa rasuluhu," hamba Allah dan rasul-Nya.
Aku ini adalah hamba Allah dan rasul-Nya.
Hadis sahih dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari.
Nah, di antara itra berlebihan adalah menjadikan kubur-kubur para nabi sebagai masjid-masjid.
Ini bab selanjutnya, bab kelima dengan judul kuburiyun, para pengagum dan penyembah kubur yang menjadikan kubur sebagai masjid-masjid.
Apa yang dimaksud? Nanti kita bahas.
Sekarang kita baca sebagian atau kita baca hadis-hadisnya.
Ada beberapa hadis, enam hadis dibawakan di bab keenam ini dengan judul kuburiud atau para penyembah kubur.
Hadis yang pertama, anjundab atau anjundub, boleh dalnya damah atau fathah.
Qala, dia berkata:
"Samitun Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam qobla ayyamuta bikhamsin, wahua yaakul."
Dari sahabat yang bernama Jundub atau Jundab, dia berkata:
"Aku pernah mendengar Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, lima hari sebelum beliau wafat, menunjukkan beliau sangat bersungguh-sungguh dan bersemangat dan sangat perhatian terhadap bab ini.
Beliau mengingatkan umatnya, hati-hati, jangan sampai kamu menjadikan kuburku sebagai tempat pemujaan, sebagai tempat penyembahan."
Itu kubur beliau, tidak boleh, apalagi kubur yang selain dari beliau.
Beliau bersabda:
"Inni abr ilallahi ayyakuna li minkum kholilun."
Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil di antara kamu sebagai khalilku.
Khalil di sini, saya berikan catatan kaki nomor 22, Khalil adalah kekasih dan teman atau sahabat yang khusus.
Nabi tidak mau mengambil seorang pun sahabat sebagai khalilnya.
Kenapa?
"Fainnallaha ta'ala qad itakhani khalilan kama ittakza ibrahima khalilan."
Karena sesungguhnya Allah telah mengambilku, menjadikan aku sebagai khalilnya, sebagaimana Allah telah mengambil, menjadikan Ibrahim sebagai khalilnya.
Berarti nabi kita yang mulia, Sallallahu Alaihi Wasallam, adalah khalilur Rahman, khalilnya Arrahman, khalilullah, sama dengan Ibrahim.
Karena itu, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak mengambil dari manusia, dari sahabat-sahabat beliau sebagai Khalil, karena Allah telah mengambil beliau, menjadikan beliau sebagai kekasihnya, kec.
Allah tabaraka wa ta'ala, sama seperti Ibrahim.
Ini adalah martabat atau derajat yang tinggi sekali bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam diangkat oleh Allah sebagai khalilnya, sehingga dikatakan khalilur Rahman, sama atau sebagaimana Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Walau kunt mutan min umati khilan, Abu Bakrin khilan.
Kalau seandainya boleh, aku mengambil dari umatku sebagai khalilku, teman khususku, sahabat khususku yang menjadi kekhususanku, pasti aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalilku.
Hadis ini menjelaskan keutamaan dan kemuliaan serta ketinggian dan kebesaran Abu Bakar As-Siddiq, As-Siddiqul Akbar.
Karena kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam:
"Kalau boleh, sekiranya boleh, aku mengambil dari umatku seseorang sebagai Khalil, pasti akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku, teman kecintaan dan kekhususanku."
Tapi tidak, beliau tidak mengambil, walaupun Abu Bakar lebih dicintai dari yang selainnya oleh beliau.
Yatika, beliau ditanya, ada di kitab ini juga, ya, apa di kitab ini atau di kitab Syar akidah Salaf.
Siapa orang yang paling kau cintai?
"Aisyah."
Aisyah, kalau dari laki-laki, bapaknya Abu Bakar.
Kemudian siapa?
Umar.
Kemudian Utsman.
Itu dia menyebut.
Berarti Abu Bakar di antara sahabat laki-laki paling dicintai oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.
Kemudian Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mengingatkan, memperingati umatnya:
"Ala, ingatlah, ketahuilah, wa inna manā qakumuiduna qubur anbiyaiim wasihihim masihihim masajid."
Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu, mereka telah menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka dan orang-orang yang saleh di antara mereka sebagai masjid-masjid.
Ala, ketahuilah, ingat terus oleh kamu:
"Falaidul kuburo masajida inni anhakumalik."
Maka jangan, janganlah kamu menjadikan kubur-kubur itu sebagai masjid-masjid.
Sesungguhnya aku melarang kamu dari mengerjakan yang demikian itu.
Ini hadis sahih riwayat Al-Imam Muslim.
Kemudian kita lihat hadis yang kedua, an Aisyah, Ummul Mukminin.
Dari Aisyah, Ummul Mukminin, yakni ibunya orang-orang yang beriman, istri-istri nabi, itu ibu kita.
Oleh karena itu, jandanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak boleh dinikahi oleh manusia, karena mereka adalah ibu orang-orang yang beriman.
Ini ibunda kita, Ummul Mukminin.
Makanya dikatakan Ummul Mukminin, ibunya orang-orang yang beriman.
Ya, Anna Ummu Habib wa Umam, bahwa Ummu Habibah ini juga Ummul Mukminin dan Ummu Salamah juga Ummul Mukminin.
Ini tiga orang istri Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, Ummu Habibah dan Ummu Salamah, hijrah dari Makkah ke Habasyah, ke Etiopia waktu itu, sebelum hijrah ke Madinah.
Zakarisan hab, keduanya menerangkan, menyebut megah yang keduanya lihat, roinaha di Ethiopia, di Habasyah, namanya gereja Maria.
Di dalam hadis lain, indah sekali megah fiha tasawir, di dalamnya penuh dengan patung-patung.
Akar Lin Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, faqala, lalu keduanya menyebut, menerangkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam apa yang mereka lihat dari gereja tersebut.
Fa qala, maka Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
"Inna ulaika, sesungguhnya mereka itu, ana fimul."
Apabila ada di antara mereka orang saleh, lalu mati, BRI masjidan mereka bangun di kuburnya masjid, dan mereka membuat di dalamnya gambar atau patung-patung.
Faul khqi, mereka itulah sejelek-jelek makhluk Allah di sisi Allah pada hari kiamat.
Ini hadis yang kedua, dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, serta An-Nasai dan selain mereka, yakni banyak hadis.
Yang ketiga, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:
"Lahiahudi, laknat Allah atas Yahudi dan Nasara yang telah menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid."
Yakni Allah melaknat mereka karena mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.
Ini hadis dikeluarkan juga oleh Bukhari dan Muslim.
Ya, hadis ke-16 dari kitab urutan nomor sini, hadis yang keempat, an Abi Hurairah.
Anna Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam qala:
"Qatalallahul yahuda, itakhadu quburo anbiyaiim masajid."
Dari Abu Hurairah, dia berkata:
"Sesungguhnya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda: Semoga Allah membinasakan Yahudi yang telah menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid."
Ya, dalam riwayat yang lain:
"Wa la'allahu yahuda."
Hadis riwayat Bukhari, dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, dan Abu Daud, dan An-Nasai, serta yang selain mereka.
Hadis-hadis sahih, dan berulang kali Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyatakan:
"Laknatullah Alal yahud wa nasara."
Allah melaknat atau beliau mendoakan semoga laknat Allah.
Mengapa?
Karena yang demikian akan menjadikan mereka melakukan kesyirikan atau membawa mereka menjadi melakukan mengerjakan kesyirikan kepada Allahu subhanahu wa ta'ala.
Nah, dari tadi kita membaca menjadikan kubur sebagai masjid.
Apa maksudnya?
Pada halaman 66, saya menjelaskan sebagian, ya, tidak secara keseluruhan, sebagian yang dimaksud dengan menjadikan kubur sebagai masjid ialah:
Pertama, membangun masjid di kubur atau di sekitar kubur itu.
Pertama, ya.
Yang kedua, mengubur mayit di masjid atau di sekitar masjid, yakni di halaman masjid.
Nah, salah satunya harus dipisahkan, karena masjid dan kubur tidak boleh berkumpul bersama.
Harus terpisah, ada jalan yang memisahkannya.
Misalnya, ini masjid, itu jalanan di depannya, kuburan itu tidak apa-apa, karena sudah dipisah kan dengan jalan.
Tapi kalau ini masjid, ini halaman, maka di sekitar halaman ditanamlah orang-orang tertentu yang dimuliakan.
Ini menjadikan kubur sebagai masjid.
Kalau masjid yang pertama dibangun, kemudian dikubur di situ, maka kuburnya yang dipindahkan.
Kalau kubur terlebih dahulu, kemudian masjid, maka masjid yang dipindahkan.
Siapa yang lebih dahulu di situ, masjidkah yang dibangun atau orang yang dikubur di situ?
Kuburan terlebih dahulu, maka yang belakangan itu yang harus dipindahkan.
Tidak boleh bersatu antara kubur dengan masjid.
Barangkali di benak atau di pikiran sebagian antum terbayang, terpikir, bagaimana dengan Masjid Madinah?
Masjid Nabawi, di situ ada kubur nabi yang mulia, Alaihi wa sallam.
Jawabnya adalah, pertama, para sahabat tidak ngubur Nabi di masjid, sepakat.
Tapi Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dikubur di rumah Aisyah.
Di rumah Aisyah.
Mengapa dikubur di rumah Aisyah?
Kok tidak dibaki yang ja dari masjid?
Jawabnya adalah, ini kekhususan para nabi.
Para nabi itu dikubur di mana dia wafat, tidak boleh dipindahkan.
Nabi Musa Alaihissalam wafat di satu tempat, di tempat itulah Nabi Musa dikubur.
Nabi Harun pun demikian, dikubur di situ.
Nabi-nabi yang lain, di mana dia wafat, dikubur di situ, tidak boleh dipindahkan.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam wafat di rumah Aisyah, maka dikuburlah di situ.
Dan sengaja kuburnya ditutup, karena beliau memperingati umatnya akan perbuatan Ahlul Kitab.
Paham sampai di situ, ya?
Jadi sahabat menunaikan amanah beliau sesuai dengan perintah beliau.
Jauhlah sahabat mengubur Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam di masjid.
Padahal Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda demikian, dan mereka yang meriwayatkannya, mustahil sahabat melanggar sabda beliau.
Begitu banyak sahabat, lalu ramai-ramai kubur nabi di masjid, tidak.
Mereka tahu, mereka paham, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dikubur di situ, itu karena memang itu kekhususan para nabi, di mana mereka wafat, maka dikuburlah di tempat tersebut.
Pertanyaan lain, mengapa bisa masuk ke dalam masjid?
Ya, pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan dari Bani Umayyah, kalau saya tidak salah, ya, memerintahkan kepada gubernur atau walikota atau Amir di Madinah, yaitu Umar bin Abdul Aziz.
Umar bin Abdul Aziz untuk memperluas Masjid Nabawi.
Di sekitar masjid itu adalah rumah-rumah istri beliau.
Kalau setiap istri ada satu rumah, istri yang mendampingi beliau sampai beliau wafat.
Orang itu juga istri-istri beliau, nanti di akhirat itu, karena itu tidak boleh dinikahi oleh siapapun juga, jandanya Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.
Karena mereka adalah ibu orang-orang yang beriman di dunia dan di akhirat.
Yang hidup bersama beliau sampai beliau wafat, itu sebil.
Orang sembilan orang, ada Khadijah, ada Aisyah, Ummu Habibah, Ummu Salamah, dan lain-lain, banyak se orang.
Nah, itu di sekitar masjid, maka terjadi perluasan, termasuk rumahnya Aisyah itu jadi bukan di masjid asalnya.
Meskipun demikian, sebagian tabi'in mengingkari, tapi karena ini perbuatan dari Amir, gubernur Madinah saat itu, yaitu Umar bin Abdul Aziz, radhiallahu anhum jamian.
Ya, itu.
Lalu bagaimana Masjid Nabawi?
Kan kita tidak boleh salat di masjid yang ada kuburannya.
Berbeda sama tidak masjid sini dengan Masjid Nabawi?
Jawabnya tidak, tidak sama.
Masjid Nabawi memiliki keutamaan dari masjid lainnya, selain Masjidil Haram.
Ada tiga buah masjid yang memiliki keutamaan besar: Masjidil Haram, salat di dalamnya berlipat 100.000 kali.
Salat Masjid Nabawi, 1000 kali lipat.
Kemudian Masjidil Aqsa, yang sekarang dikuasai Yahudi dan menjadi kewajiban kaum muslimin, ya, negeri-negeri kaum muslimin.
Ada di pundak para pemimpin kaum muslimin, hukumnya fardu Ain merebut kembali Masjidil Aqsa dari Yahudi, merebut tanah Palestina.
Kalau ada satu negeri yang tidak memiliki keutamaan, hanya negeri saja, dikuasai oleh orang kufar, orang-orang kafir, wajib fardu Ain bagi kaum muslimin lainnya untuk merebut dan membebaskan mereka dan mengusir musuh dari negeri itu.
Bagaimana dengan negeri yang memiliki keutamaan?
Di situ ada Masjidil Aqsa, tentu lebih utama lagi, lebih wajib lagi memerdekakan, membebaskan mereka dari Yahudi.
Ini yang memang sangat keras permusuhannya kepada orang-orang yang beriman.
Antum bisa baca dalam Surah Al-Maidah ayat 82:
"Latajidanna asaddanasi adawatan lilladhina amanu alyahuda walladhina asrqu."
Sungguh pasti kamu akan dapati sekeras-keras manusia permusuhannya kepada orang-orang yang beriman adalah Al-Yahuda, orang-orang Yahudi.
Walladhina asrqu, dan orang-orang musyrikin.
Itu sangat keras permusuhannya kepada orang-orang yang beriman.
Kenapa?
Karena kufurnya Yahudi adalah kufur kesombongan, kufur membangkang, kufur mengadakan perlawanan, dan kufur merendahkan dan menghinakan manusia.
Itu kufur Yahudi lebih kufur dari yang Ahlul Kitab, yang Nasara.
Asaddunas, latajidanna asaddanasi watilladina amanu alyahuda walladhina asrqu.
Catat ayat ini, biar kita mengetahui agar kaum muslimin mengetahui keras permusuhannya.
Asaddanas, kata Allah, se-bengis-bengis manusia permusuhannya kepada orang-orang yang beriman adalah orang-orang Yahudi.
Antum bisa menyaksikan dengan mata kepala kita bagaimana kekejaman, kebengisan Yahudi, sampai anak-anak, bayi, anak-anak kecil, balita, setiap hari mati ratusan, bukan satu dua orang.
Asaddanas, ya.
Nah, yang kedua, mengubur mayit di masjid atau di sekitar masjid, yakni di halaman masjid.
Yang ketiga, menjadikan kubur sebagai tempat untuk ibadah, seperti berdoa.
Kecuali mendoakan mayit boleh dan lain-lain yang didatangi pada waktu-waktu tertentu, sehingga dijadikan hari raya.
Ada kubur-kubur tertentu yang dikeramatkan, yang dipuja, didatangi.
Itu yang ketiga.
Yang keempat, ya, kalau saya tambahkan, ya, sujud kepada kubur.
Berapa banyak orang sujud kepada kubur?
Berapa banyak kubur disujudi dan kubur ditawaf?
Dan yang terakhir, yang kelima, salat menghadap kubur, yakni kiblatnya kubur.
Ah, itu semua dan lainnya, sebagaimana diterangkan oleh para ulama.
Ini yang menerangkan para ulama, itu makna dari menjadikan kubur sebagai masjid.
Di antaranya, dijadikan tempat berkumpul, tempat hari raya, tempat merayakan pada waktu atau musim tertentu.
Mereka berkumpul di situ, bersimpuh di situ, dan ini yang dilarang Nabi dalam hadis yang kelima.
Abi Rasulullahahu wasalam.
Dari Abu Hurairah, dia berkata:
"Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, Allahumma, la taj'al qobri wasanan."
Dari Abu Hurairah, dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, yakni beliau berdoa:
"Ya Allah, janganlah engkau jadikan kuburku sebagai berhala yang disembah."
Allah mengijabahkannya.
Kubur nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sampai hari ini terjaga sebagai berhala, karena Allah melaknat kaum yang menjadikan kubur-kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid-masjid.
Ini hadis pun, hadisnya pun Hasan.
Demikian ikhwan, bab ini, yaitu bab kuburiyun, dari hadis ke-14, hadis pertama sampai hadis keenam, itu hadis ke-19 menurut nomor urut di kitab ini.
Barangkali ini ikhwan yang bisa saya sampaikan, dan sejenak kita istirahat.
Saya akan lanjutkan dengan bersoal jawab sampai mendekati salat zuhur, kira-kira beberapa menit kita istirahat.
Walhamdulillahi rabbil alamin.
Alhamdulillah, hamdan kattiran thayiban mubarakan fi kama yuhibbu rabbuna wa yardha.
Allahumma salli wa sallim 'ala Muhammad wa 'ala alihi wa ashabihi wa man tabi'ahum bi ihsan yaumiddin.
Wab ikhwan dan akhwat, ada beberapa pertanyaan yang saya kira ini cukup banyak.
Saya tidak mungkin tidak bisa zuhur jam berapa?
Hah, 24, 20 menit.
Di antaranya adalah, apa hubungan syariat dan manhaj dengan ijma dan kias dalam beragama?
Syariat dan manhaj, dasar hukumnya dari Alkitab dan sunnah, atau dengan kata lain, al-adillatus syariah, dalil-dalil syariah itu yang pertama adalah Alkitab, Al-Qur'an, aslun dasar.
Kemudian diikuti oleh asunah, yang merupakan tafsir dari Al-Qur'an, yang menafsirkannya, yang menjelaskannya, yang menunjuki Al-Qur'an adalah asunah.
Dalilnya firman Allah dalam Surah An-Nahl, silakan cari ayatnya:
"Wa anzalna ilaik zikra litubayina linnas ma nuzila ilaihim wala'allahum yatafakarun."
Perhatikan ayat yang agung ini, dan semua ayat Allah agung dan besar adanya dan benar adanya.
"Dan kami turunkan kepadamu az-zikra," az-zikra adalah salah satu dari empat nama Al-Qur'an.
Yang pertama namanya Al-Qur'an, yang kedua namanya Al-Kitab, yang ketiga namanya Az-Zikra, yang keempat namanya Al-Furqan.
Ini empat nama Al-Qur'an, selebihnya merupakan sifat bagi Al-Qur'an.
"Dan kami turunkan kepadamu az-zikra," Al-Qur'an, agar engkau menjelaskan kepada manusia.
Siapa engkau di sini?
Siapa engkau di sini?
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
"Wa anzalnaika," kami turunkan kepadamu, siapamu di sini?
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.
"Agar engkau menjelaskan kepada manusia," ma ilaihim, apa yang diturunkan kepada mereka oleh Rabb mereka.
Menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai mubayyin, yang memberikan penjelasan, yang menafsirkan Al-Qur'an atas perintah Allah.
"Wala'allahum yatafakarun," supaya mereka memikirkan.
Paham menunjukkan bahwa tanpa sunnah, tanpa keterangan dan penjelasan dari Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, akan Al-Qur'anul Karim.
Maka manusia tidak dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Alangkah besarnya kedudukan sunnah itu.
Di kitab ini pun saya bawakan hadis sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam:
"Inni utitul kitab wlahu maahu."
Sesungguhnya telah diberikan Al-Kitab kepadaku dan yang seperti yang semisal Al-Kitab, apa yang semisal Al-Kitab?
Sunnah, turunnya bersama Al-Qur'an.
Berarti dalil yang kedua, dalil-dalil syariah, asunah.
Dari keduanya ini keluarlah hukum ijma, kesepakatan.
Kesepakatan siapa?
Tentunya yang lebih utama dan yang lebih mudah diketahui, Al-Muhajirin wal Ansar, yaitu para sahabat.
Dan pembicaraan ijma ulama lainnya keluar juga dari dalil-dalil Al-Kitab dan Sunnah, kias.
Kias yang sahih.
Ah, ini pembicaraan tentu mengenai usul.
Ah, itu hubungannya dengan syariat dan manhaj.
Pertanyaan yang lain, bismillah.
Waalaikumsalam.
Apakah Nabi Musa dan Nabi Khidir itu sezaman?
Sezaman tidak, zaman peranya itu pernah membaca Surah Al-Kahfi.
Ya, di situ ada perjalanan Musa bersama Nabi Khidir.
Sezaman, dan apakah masing-masing mempunyai syariat sendiri?
Jawabnya iya, berbeda syariatnya.
Karena itu, coba dilihat dalam Surat Kahfi ketika Musa berjalan bersama pemudanya, muridnya, yang di kemudian hari diangkat oleh Allah menjadi nabi, yaitu Nabi Yusya bin Nun.
"Waidqala Musa lifatahu, la abrahu hatta ablug majmaal bahraini, amdi hukuba," dan seterusnya, sampai Musa bertemu dengan Nabi Khidir Alaihimalatu Wassalam.
Maka dengan amat sopan dan adab yang tinggi, dan Musa tidak membebani orang, yakni dalam hal ini Khidir.
Dia berkata kepada Khidir:
"Qahu Musa," berkata Musa kepadanya, yakni kepada Abdan Min Ibad, salah seorang hamba dari hamba-hamba kami, kata Allah Rahman, yang kami telah memberikan kepadanya rahmat dari sisi kami dan kami mengajarkannya dari sisi kami ilmu.
Kami mengajarkan ilmu.
Ah, ini beda ilmu yang dimiliki Musa dengan ilmu yang dimiliki Khidir, berbeda syariatnya, berbeda.
Nah, berdasarkan ayat ini, sebagian manusia menafsirkan ayat ini dengan ryu-nya bahwa ada ilmu yang namanya ilmu ladunni, dari kata [Musik] milladunna.
Apa ilmu ladunni?
Ilmu yang didapat tanpa belajar.
Ah, ini tidak ada di dalam Islam.
Nabi Khidir diberi ilmu oleh Allah.
Musa berkata:
"Q lahu Musa, hal attabiuka animani," [Musik] mimmaimus.
Sopan sekali, adabnya tinggi.
"Bolehkah itu, dia, hal attabiuka? Bolehkah aku mengikutimu, yakni seizinmu?
Kalau engkau bolehkan, aku akan mengikuti."
Dia tidak mengatakan, "Saya akan mengikutimu," tapi dia katakan, "Terserah pilihan."
Khidir:
"Hal attabiuka ya ala antualimani," Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku Mus dari ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu?
Ini salah satu pelajaran dari adab-adab pelajar kepada guru.
Kata Khidir:
"Inesnyaau, tidak akan sabar berjalan bersamaku."
"Wa ifabiru amit bihi khubro," bagaimana engkau akan bisa sabar terhadap sesuatu yang kau tidak menguasainya, tidak memiliki ilmu?
Q, maka Musa berkata:
"Satajiduni insya Allahu shobiro," insya Allah, kata Musa, engkau akan dapati aku sabar.
"Sabar ya sabar wala ailaka Amro," aku tidak akan mendurhakaimu, menyanggahmu, kata Khidir.
Dan selanjutnya, ya, terus ada cerita.
Itu menunjukkan bahwa pada akhir kisah, Nabi Khidir mengatakan:
"W fa'alu Amri," aku tidak mengerjakan [Musik] ini atas dasar dari dariku, bukan ini, bukan dariku, tapi dari Allah.
"Dari Allah iklai," itulah arti yangau tidak sanggup sabar jalan bersamaku.
Bimana bisa Sanggup sabar Khidir melakukan sesuatu sampai ia membunuh anak-anak yang tidak berdosa itu di luar pengetahuan Musa.
Musa menghukumi secara lahiriah:
"Mengapa engkau membunuh jiwa yang tidak berdosa?"
Yaqtaqulamanqahu.
Lalu keduanya berjalan, sehingga ketika keduanya bertemu dengan gulam, anak-anak kecil, anak kecil, qu, maka Nabi Khidir membunuhnya.
Musa yang melihat secara lahiriah ini, pembunuhan terhadap anak ini, satu anak.
Bagaimana dengan Yahudi sekarang?
Setiap hari ratusan anak, ribuan, 4.000-an, itu menurut perhitungan barangkali lebih 4.000-an anak-anak, termasuk bayi dan wanita, mati.
Ini satu anak kecil, diingkari oleh Musa.
Musa mengatakan:
"QQ nafsan zakiatan bir nafs," engkau membunuh jiwa yang suci tanpa sebab, tanpa dia membunuh orang.
"Sungguh engkau telah mengerjakan sesuatu perbuatan munkar."
Bagaimana kalau Musa menyaksikan ribuan anak dibunuh setiap hari oleh Yahudi?
Ratusan anak dibunuh setiap hari oleh Yahudi, jumlahnya sekarang 4.000-an anak-anak dan wanita.
Ini satu di luar pengetahuan Musa, karena Khidir membunuh juga atas perintah dan wahyu dari Allah tabaraka wa ta'ala.
Musa tidak tahu perkara yang gaib yang Allah tidak wahyukan kepadanya.
Nabi Khidir diwahyukan oleh Allah, karena itu.
Tapi secara lahiriah, dia mengingkari, menunjukkan alangkah dosa besar membunuh anak.
Tentu lebih besar dosanya daripada membunuh orang dewasa, walaupun dosa pembunuhan itu besar.
Demikian.
Apakah berdoa di kuburan, mendoakan mayit, boleh mengangkat tangan dan menghadap ke mana?
Sunnah mengangkat tangan, kedua tangan gini, ya, angkat tangan, tuh, gini.
Yang gini, hadisnya dif.
Hadisnya ini dif.
Ini Allah ada di atas.
Sin dalilnya hadis di Sahih Muslim.
Kalau antum punya kitab almasail, saya jilid satu, dalam masalah peringatan terhadap para penyembah kubur, ini hadis-hadis ini saya bawakan di situ, lebih banyak lagi, puluhan hadisnya.
Salah satu itu, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mendatangi kubur para sahabat di Baki.
Beliau berdoa, mengangkat tangan sampai tiga kali.
Boleh, sunnah menghadap ke mana?
Ke mana?
Kalau berdoa, sunnah menghadap ke kiblat, bukan ke kubur.
Ke kiblat, kan di sana, di kiblat.
Ya, sana kiblat.
Maka mayit dikuburkan, begini, ini kubur, gitu ya.
Ni kepalanya, misalnya ini kiblat, sana kita berdoa.
Di mana?
Di sini atau di sini?
Di sini, ngadap ke kiblat.
Saya ni kuburan, nih, burat, ngadap ke kiblat, kan palak di sini, ya?
Doa kita ke mana?
Dari sini, tidak menghadap ke kubur, begini, sini, menghadap ke kiblat.
Gitu, menghadap ke kiblat.
Itu sunnah doa, tidak boleh menghadap ke kubur.
Jadi boleh mengangkat kedua tangan, mendoakan kubur tertentu, seperti orang tua, hukumnya tidak wajib, mustahab.
Ustaz mau bertanya, apa hukum membaca Surah Al-Kahfi di malam Jumat dan di hari Jumat?
Soalnya ada ustaz sunnah yang mengatakan bahwa hadisnya dif.
Mohon pencerahannya, Ustaz, karena saya bingung mana yang sahih.
Ikhwan atau akhwat, jika ada orang berbicara hadis ini sahih, hadis ini dif, dilihat dia ahlinya atau tidak.
Makruf tidak sebagai ahli hadis.
Adapun semata-mata ustaz sunnah, tidak jadi hujah, tidak jadi dalil, harus ahlinya.
Makruf tidak.
Bagaimana seseorang bisa menyatakan dif atau sahih kalau dia bukan ahlinya?
Ini kaidah.
Sama juga orang berbicara tentang lghah.
Oh, ini yang benar, ini ah, dia ahli bahasa atau tidak?
Dia mau mengajar bahasa, ahlinya atau bukan?
Makruf tidak?
Atau orang berbicara tentang faraid, ilmu waris, dia ahlinya atau tidak?
Ah, begitu.
Itu kaidah.
Ini jangan mentang-mentang kata orang Jakarta, ustaz sunnah, belum tentu juga.
Ustaznya ustaz sunnah, kan itu perlu diteliti lagi.
Sehubungan sekarang banyak yang menyandarkan menjadi ustaz sunnah.
Tapi itu kan dijuluki oleh masyarakat umum, bukan ahlinya.
Bukan ahlinya, itu kan antum yang mengatakan ustaz sunnah.
Kalau saya, belum tentu saya mengatakan ustaz sunnah.
Kalau saya tahu, bahkan mungkin mengajarkan bid'ah yang besar, bisa jadi.
Tidak menutup kemungkinan, diteliti oleh ahlinya.
Itu kaidahnya pertama, ingat.
Maka kalau dia tidak makruf, tidak terkenal sebagai ahlinya, dari siapa dia dapat?
Siapa yang mengatakan?
Adakah ulama?
Maka harus disandarkan kepada ulama yang ahlinya.
Ulama, siapa yang mengatakan?
Ahli hadis, siapa yang mengatakan?
Begitu, tanya ustaz dari mana?
Ah, dari ini pulana, dicek lagi, benar enggak ulama itu?
Sampai ditelitih, benar.
Begitu, oh sekarang sudah mudah mengecek orang, dilihat dari siapa ulama, siapa.
Bisa dicek, dilihat di internet, di mana ada, tidak benar, tidak mengatakan seperti itu.
Ada ustaz, ada ulama, mengatakan dengan bahasa Arab, tanya kepada ikhwan yang bisa bahasa Arab, benar enggak?
Dia mendaifkan ini, dia ulama makruf, ahli hadis, iya, ah, baru nyata.
Berarti bukan ustaz ini, bukan dari ustaz ini.
Ah, dia, dia, dia mencuri.
Ini harus disandarkan kepada orang yang mengatakannya, enggak boleh orang yang bukan ahlinya mengatakan dif.
Siapa yang mendaifkan?
Yang mendhaifkan, siapa?
Ini kaidah, enggak boleh main-main.
Antum gitu, ustaz sendiri yang mendaifkan, ini kalau dijawab, iya, ah, bohong, bohong, ah, udah hancur kesikohannya.
Besok jangan ngaji lagi di situ, hancur, sudah bohong, sudah dusta.
Ustaz, karena tidak makruf sebagai ahlinya.
Kalau disandarkan, oh iya, ada.
Harusnya ustaz mengatakan ini ulama anu mendhaifkan, gitu.
Bisa dicek, ah, lihat ini videonya, ada, kasih lihat ini, dia, gitu.
Jujur, asidqu.
Kalau enggak tahu, enggak tahu.
Itu kaidah lagi, ya.
Jadi ikhwan akhwat harus hati-hati duduk di majelis.
Ah, baru yang kedua, saya sudah menjelaskan ini di sebagian kitab saya, tapi belum saya terbitkan, ya, Masail ke-14.
Saya sudah membicarakannya, dan barangkali penanya bisa melihat di YouTube di channel saya, Maktabah Muawiyah bin Abi Sufyan.
Ada khusus berbicara tentang takrij hadis Surah Al-Kahfi, panjang lebar.
Waktu itu ditanya di pertemuan seperti ini, dan saya menjawab apa yang saya hafal waktu itu.
Lebih luasnya di dalam tulisan saya, yang kesimpulannya hadisnya sahih.
Mengapa sahih?
Penanya bisa mendengarkan, mengapa saya mensahihkannya di YouTube, sudah beredar, sudah lama.
Silakan buka Maktabah Muawiyah, ya.
Ee, saya tidak tahu gimana cari, cari aja di situ.
Ah, nanti ketika terbit Masail ke-14, insya Allah ta'ala ada pembahasan panjang lebar tentang kesahihan membaca Surah Al-Kahfi pada malam dan hari Jumat.
Ya, saya kira itu, saya tidak perlu menguraikan lagi, karena makan waktu.
Silakan mendengarkan dengan baik, khususnya penanya.
Ee, pertanyaan lain mengenai hadis mursal.
Ada sebagian ulama yang membolehkan mengamalkannya.
Boleh memakai hadis mursal.
Hadis mursal diterima dengan berbagai syarat.
Di antara syaratnya, yang meiwayatkan hadis itu tabi'in senior.
Maksudnya tabi'in Kibar, eh, dan pendapat ini dikuatkan juga oleh Imam mazhab.
Eh, yang lebih tepat, hadis mursal mau datang dari tabi'in besar, Kibar, atau tabi'in sedang, atau tabi'in kecil, tidak bisa diterima.
Mengapa?
Karena ada yang hilang di situ, ada orang yang tidak disebut, siapa sahabat.
Selama sahabat tidak disebut, tidak bisa diterima.
Hanya hadis mursal dapat dijadikan penguat apabila hadis mursalnya itu sahih.
Bagaimana dengan gambar-gambar, foto-foto, patung-patung dari orang-orang yang mulia, orang besar, yang ini, apalagi di masjid?
Itu tidak dibenarkan, tidak boleh.
Apalagi terhadap orang-orang tertentu yang dapat mengakibatkan terjadinya pemujaan, itu dilarang di dalam agama.
Dalam hadis-hadis tentang gambar, foto-foto boleh, tapi jangan dipajang.
Foto boleh, sebagian ulama membolehkannya.
Sudah masuk waktunya, sampai di sini.
Subhanakallahumma wabihamdika, ashadu alla ilaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaihi.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.