📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tarikh Islam-1: Mukadimmah - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A

Firanda Andirja39:09

Transcription

Segera download Quran Tadabur Tafsir dalam genggaman Anda.

[Musik]

Bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Musik]

Alhamdulillah.

[Musik]

[Musik]

Pertemuan pertama kita tentang sejarah Islam, ya tarif Islam. Insya Allah kita akan menyampaikan dari buku utama, yaitu Al-Musuah Al-Muyasaroh Fitarikal Islami, ya yang mudah tentang tarik Al-Islamiyah.

Terdiri atas dua jilid, yang saya bawa adalah jilid pertama. Tujuan dari pembahasan tarif ini bukanlah secara detail, bukan bagi mutah OSIS, ini bukan bagi spesialis, tapi hanya sekedar menyampaikan sejarah secara global sehingga ada gambaran bagi kita tentang sejarah Islam.

Ya, yang dimulai dari Sirah Nabawiyah, kemudian Al-Khulafaur Rasyidun, kemudian setelah itu Al-Abbasiyah. Ya, kemudian bagaimana kisahnya Tatar dan bagaimana hancurnya Khilafah, kemudian muncullah Daulah Al-Fatimiyah, itu Syiah.

Kemudian Daulah Al-Ayyubiyah, kemudian Perang Salib, Al-Huruf Salibiyah, kemudian Daulah Al-Mamalik, kemudian kaum Muslimin dan Andalus, dan seterusnya sampai kita membahas tentang Daulah Ahlusmaniyah.

Kemudian juga tentang kerajaan di Jazirah Arab, termasuk kerajaan Arab Saudi. Insya Allah ta'ala kita akan sampaikan secara ringkas tentunya.

Ya, tapi pada pembahasan kali ini kita akan bahas tentang mukadimah tentang ilmu tarik, ya ilmu tarif. Perhatikan definisinya secara bahasa diambil dari yaitu Al-Im Bilwaqi.

Seorang mengatakan, "Saya menunjukkan waktu saya menulis," atau Al-Kitabbah. Ketika saya arahtul kitab, yaitu aku menunjukkan waktu saya menulis. Jadi, tarik artinya menunjukkan waktu yang dimaksud adalah menunjukkan waktu kejadian-kejadian, yaitu penjelasan tentang waktu.

Adapun syarat istilah, ya sejarah tarif artinya sejarah tentang orang-orang terdahulu. Sejarah tentang orang-orang terdahulu.

Dan kalau kita membaca buku-buku tadi, kita dapati pembahasannya luas. Ya, yang penting tentang orang-orang terdahulu. Ya, ada tentang para nabi, sebagian buku-buku bahas tentang sejarah para nabi, kemudian juga Al-Muluk, para raja, kemudian juga para Al-Hukamah, ya orang-orang bijak, orang-orang yang punya pengaruh.

Demikian juga orang-orang buruk juga disampaikan, yang punya pengaruh baik, yang baik pengaruh baik, maupun pengaruh yang buruk juga disebutkan dalam sejarah. Demikian juga negara-negara dan kerajaan-kerajaan. Ini semua merupakan topik dari sejarah.

Intinya, sejarah tentang orang-orang terdahulu ini secara definisi. Kemudian macam-macam ilmu tarif, ya macam-macam secara umum.

Tentunya setiap bangsa dan negara punya tarif tersendiri. Ya, kita bangsa Indonesia punya sejarah Indonesia, sejarah Nusantara ada. Ya, demikian juga tarif Yunani, ya tarif Romawi, tarif Persia ada. Semua masing-masing bangsa punya tarif tersendiri.

Dan zaman dahulu mereka terkadang menulis sejarah mereka di prasasti. Ya, ini prasasti ada sebagian nulis di candi-candi, di batu-batu.

Ya, intinya penulisan sejarah bukan cuma orang Islam tentunya, tapi juga bangsa-bangsa terdahulu juga mereka memiliki sejarah-sejarah yang mereka abadikan dalam prasasti atau tulisan-tulisan dalam bentuk yang lainnya.

Yang kedua adalah tarif Islam.

[Musik]

[Musik]

Ini adalah saya sederhana tentang ilmu tarik. Kemudian kitab-kitab tentang tarif Islam. Kita bilang tentang Islam, ya ada beberapa model.

Ya, yang pertama kitab-kitab umum tentang sejarah Islam, seperti banyak kitab-kitab sejarah Islam, banyak sekali. Ya, banyak sekali buku-buku Islam, banyak sekali.

Tapi di antara yang terkenal, yang insya Allah kita akan jadikan patokan, seperti tarif Rosul wal-Muluk dari At-Tabari. Al-Imam Thabari wafat tahun 310 Hijriyah.

Kemudian ada kitab Al-Mumtazam fitarihil Muluk karya Ibnu Jauzi, yang wafat pada abad ke-6, 597 Hijriyah. Kemudian kitab Kamil 630, ini semua kita 10 jilid lebih.

Ya, buku-buku ini wafat 630 Hijriyah. Kemudian ada kitab, ini hanya Alhamdulillah.

[Musik]

Saya baru beli kemarin pas umroh, karya Ibnu Katsir, wafat pada tahun 774 Hijriyah.

Ya, kemudian juga ada kitab tarik yang menarik dari Ibnu Khaldun. Kalau tidak salah, kemarin saya lihat ada 8 jilid.

Kalau tidak salah, Al-Ibar Wadiwan Al-Mubtada Khobar.

[Musik]

Karya Ibnu Khaldun, ya yang wafat pada tahun 808 Hijriyah. Ini Islam secara umum, ya.

Kemudian ada tadi Islam yang model kedua dari Islam, tapi disertai dengan umat-umat sebelumnya. Ya, umat-umat seperti kitab Akbar Zaman karya Al-Mas'udy, yang wafat pada tahun abad 4 Hijriyah, yaitu 46 Hijriyah.

Kalau kita buka kitab Akbar Zaman, kita dapati dia menulis tentang tarif tentang bangsa Yunani, kemudian tarik Romawi, kemudian tarif Persia. Ya, disebutkan bangsa-bangsa lain, bahkan peradaban-peradaban sebelum Islam.

Baru kemudian yang masuk dalam sejarah Islam. Ya, ini ada sebagian ahli sejarah yang menulis seperti itu. Dia buka dengan bangsa-bangsa sebelum Islam, seperti Romawi, Persia, Yunani, baru kemudian masuk dalam sejarah Islam.

Yang mereka sudah memiliki, apa namanya, sudah memiliki peradaban sebelum Masehi. Sebelum apa Masehi.

Adapun Islam dimulai dari sejarah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan Rasul.

[Musik]

Keenam Masehi. Baru kemudian ada sejarah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Kemudian ada model ketiga, model buku yang ketiga, yaitu khusus wilayah tertentu. Ini sejarah tarif Islam, tapi terkait dengan wilayah tertentu, seperti tarif Baghdad karya Al-Khatib Al-Baghdadi.

Itu tentang sejarah kota Baghdad, ulama-ulama yang di kota Baghdad, yang semua berputar sekitar kota Baghdad. Ini juga panjang bukunya, bukunya banyak, ya nomor 463.

Kemudian juga ada misalnya tarif Dimas, itu tarif Damaskus, tarif kota Damaskus, ya di Syria, ya karya Ibnu Asakir.

Ya, ini juga berjilid-jilid banyak, yang wafat pada tahun 571 Hijriyah.

Ya, 571 Hijriyah. Kitab-kitab ini rata-rata belasan jilid, ya berjilid-jilid.

Ya, seorang mungkin berat untuk membaca buku-buku seperti ini. Saja berat, ya baca kapan habisnya.

Ya, kita pingin kita baca kapan habisnya, kita bingung, mereka kapan nulisnya luar biasa.

Ya, bagaimana kuat mereka.

[Musik]

Punya buku, bukan cuma ada tafsir, ada buku-buku yang lainnya. Luar biasa, ya.

Tapi At-Tabari punya tarif, punya tafsir, ya punya buku yang lain. Artinya umur mereka penuh dengan keberkahan.

Inilah kitab-kitab tarik tentang Islam. Tentunya saya katakan tadi masih banyak.

Dan para ulama sekarang memudahkan, seperti buku ini, 2 jilid Al-Musuh Ilmu, dimulai dengan Sirah Nabawiyah, baru kemudian masuk Khulafaur Rasyidin dan seterusnya.

Cuma tentang siapa Nabi mungkin tidak bahas, ya. Surah Nabi mungkin tidak bahas karena sudah saya selesaikan dalam kajian yang ada di YouTube.

Sekitar berapa, saya lupa, mungkin 70 atau 80 halaqah, mungkin bisa dilihat di YouTube.

Ya, jadi kita akan mulai nanti dari sejarah atau tarif Al-Khulafah Rasyidin.

Tapi Al-Khulafah Ar-Rasyidin, Bismillahi Ta'ala pada pertemuan berikut.

Insya Allah pembahasan kita yang penting sekarang ini adalah tentang urgensinya belajar tarik.

Kenapa kita belajar tarik? Saya sebutkan beberapa yang disitu, ya.

Kenapa kita mesti belajar tarik, ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala?

Tarif penting, ya di antaranya yang pertama karena Al-Quran perhatian terhadap sejarah.

Al-Quran perhatian terhadap sejarah, oleh karena Al-Quran menceritakan kisah-kisah umat-umat terdahulu.

Umat Nabi Nuh, umat Nabi, Nabi sebelumnya, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Syu'aib, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan nabi-nabi sebelumnya, Nabi Yusuf Alaihissalam.

Bahkan dalam Al-Quran banyak sekali qasas. Maka itu saya dengan istilah kuasa Sul Anbiya, ya kisah-kisah para nabi.

Bahkan kadang Allah menyebutkan suatu negeri. Ya, Allah bikin perumpamaan, entah siapa mereka memberikan tentang apa perumpamaan, cerita-cerita terdahulu.

Tidak lain agar kita mengambil Ibrah dari kisah-kisah tersebut.

Dan Allah berfirman, apa namanya, [Musik] kisah-kisah mereka ada Ibrah pelajaran bagi orang-orang yang cerdas.

Makanan hadisnya, kisah-kisah yang Allah sebutkan bukanlah fiktif, tapi dia benar-benar kisah nyata.

Kemudian juga Allah mengatakan lagi, kisah-kisah dan ayat ini bisa umumnya, sampaikanlah kisah-kisah agar mereka berpikir.

Artinya kisah-kisah dibawakan oleh Allah dalam Al-Quran adalah untuk diambil Ibrah, diambil pelajaran untuk direnungkan.

Bukan hanya sekedar kisah dibacakan, demikian begitu saja, kisah pengantar tidur.

Tapi harus diambil ibrahnya, apa pelajaran diambil dari kisah-kisah tersebut.

Kemudian kedua, contoh pentingnya sejarah Al-Quran dalam sebagian ayat berdalil dengan sejarah.

Beliau dengan sejarah dalam surat Al-Imran, kata Allah, "Ya ahli kitab, kenapa kalian berdebat tentang Ibrahim?"

Kalian mengatakan Ibrahim adalah Yahudi dan mengatakan Ibrahim adalah Nasrani.

Allah bantah, makanan Ibrahim Yahudiyan. Ibrahim bukan Yahudi, bukan Nasrani.

Mereka ngaku Yahudi, mengatakan Ibrahim adalah Yahudi, mengatakan Ibrahim.

Maka Allah mengatakan, "Ya ahli kitab, Ibrahim itu sudah ada sebelum ada Taurat."

Itu kan belakangan, tidak ada turun Taurat dan Injil kecuali setelah Ibrahim.

Masa yang belakangan dinisbahkan kepada yang dahulu, dinisbahkan kepada yang belakangan.

Seperti contoh orang mengatakan Ibnu Taimiyah Wahabi, ini kan tidak pas.

Ibnu Taimiyah, Ibnu Taimiyah abad ke-8 atau abad ke-7, abad ke-1, abad ke-12.

Memang Ibnu Taimiyah yang belakangan dinisbahkan kepada yang pendahulu.

Nah, kalian wahai Ahlul Kitab, logis kalian mengatakan kalian belakangan.

Taurat Injil belakangan, Kak. Setelah turun Taurat ada istilah apa? Yahudi.

Setelah turun Injil, Barokah. Bagaimana kalian mengatakan Ibrahim Yahudi atau Ibrahim dahulu?

Makanya Allah mengatakan Ibrahim, maka tidak logis kalau yang dahulu dinisbahkan kepada yang belakangan.

Hafalan, tidakkah kalian berpikir? Ini menunjukkan Allah sejarah menunjukkan bahwasanya Taurat datang belakangan, Ibrahim lebih dahulu.

Maka tidak logis jika yang dahulu dinisbahkan kepada yang belakangan.

Paham ini berarti bosnya Al-Quran, padahal dengan apa sejarah.

Kemudian juga urgensi kita belajar tarif, seperti sebagian sejarah Islam kita pelajari karena perintah agama.

Ya, jadi kita yang belajar sejarah karena ada nilai agama di balik belajar tersebut.

Contoh sejarah Nabi, sejarah Nabi kita belajar karena memang Allah memerintahkan kita belajar sejarah Nabi.

Kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, apa namanya, kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Uswatun Hasanah."

Sungguh pada diri Rasulullah SAW ada teladan yang baik.

Nah, untuk bisa meneladani Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, kita harus belajar sejarahnya.

Harus belajar apa sejarahnya, bagaimana kehidupannya.

Ya, jadi belajar sirah itu perintah-perintah agama.

Karena tidak sempurna kita bisa, tidak akan sempurna kita meneladani Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, kecuali kalau kita mempelajari sirah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Ini contoh sejarah Islam harus kita pelajari karena bagian dari agama.

Contoh lagi sejarah Khulafaur Rasyidin, sejarah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Kenapa? Karena Rasulullah SAW menyuruh kita untuk berpegang teguh dengan sunnah Khulafah Rasyidin.

Kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Siapa yang hidup setelahku, maka dia akan melihat banyak perselisihan dalam agama."

Makanannya, kalian berpegang teguh dengan apa? Sunnahku dan berpegang teguhlah kalian juga dengan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat puji.

Telah gigitlah sunnah-sunah tersebut dengan geraham kalian.

Waiyyakum dan waspadalah kalian dari dalam agama adalah sesat.

Dalam hadis, ketika ada seorang bertanya kepada Nabi, kemudian Rasulullah nanti datang kembali.

Kata dia, "Ya Rasulullah, kalau saya tidak menemui Anda, saya ketemu siapa?"

Kata Nabi, "Ketemu ya Abu Bakar."

Radhiyallahu ta'ala.

Kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Dua orang setelahku itu Abu Bakar dan Umar."

Jadi kita belajar sejarah Khulafaur Rasyidin karena bagian dari agama, karena bagian daripada agama.

Sehingga ini menunjukkan urgensinya kita belajar.

[Musik]

Islami.

Kemudian yang keempat di antaranya, apa? Organisasi kita belajar tarif untuk mengambil Ibrah.

Untuk mengambil Ibrah di antara Ibrah yang bisa kita ambil, seperti dunia hanya sebentar.

Subhanallah, dunia hanya sebentar. Kita tidak terpeda dengan dunia.

Kita baca sejarah raja-raja, baik yang baik maupun raja-raja yang buruk, orang-orang yang baik maupun orang yang biadab, mereka telah sirna.

Ya, telah sirna.

[Musik]

Mereka yang kuat, gagah, hilang, selesai.

Kaum Tsamud yang bisa memahat gunung menjadi tempat tinggal, ke mana mereka sirna?

Firaun yang begitu sombongnya dan angkuhnya mengaku sebagai Tuhan, kemana mereka?

Telah tiada.

Ya, yang tadinya mewah kehidupannya, kemudian sirna begitu saja.

Ya, kalau kita baca sejarah kilat, Subhanallah, ya kita bisa mengambil Ibrah, dunia cuma sebentar.

Ya, mana tokoh-tokoh yang hebat tersebut hanya tinggal nama.

Terkadang meninggalkan nama baik, terkadang meninggalkan nama buruk.

Ya, kita lihat sejarah.

Demikian juga orang yang susah, orang-orang yang mungkin para ulama yang hidupnya cuma sebentar, toh mereka meninggal dengan membawa nama yang harum.

Ya, meninggalkan nama yang harum.

Ya, jadi kita membaca sejarah ini, kita mengambil Ibrah, bahwasanya dunia cuma sementara.

Mereka telah berlalu dan mereka telah menjadi sejarah.

Suatu saat kita juga akan menjadi apa? Sejarah.

Minimal anak kita yang cerita, "Dulu bapak saya," kalau tidak cucu kita, "Makan dulu kakek-kakek saya."

Kalau kita ada ceritanya, mudah-mudahan cerita kita baik.

Ya, mungkin tidak kayaknya.

[Tertawa]

Tapi maksudnya demikianlah, orang-orang hebat pun akan tiada.

Apalagi kita yang orang biasa-biasa seperti ini, di dunia hanya sebentar.

Jangan terperdaya, kita akan meninggalkan itu semua.

Kemudian juga kita mungkin tambahkan juga dengan belajar sejarah, ya kita akan hilang namanya ujub dan kita akan termotivasi.

Kalau kita baca sejarah para sahabat, sejarah para ulama, ya kita lihat ternyata ini kita ini bukan siapa-siapa.

Mereka luar biasa perjuangan mereka, bagaimana kesabaran mereka, bagaimana cobaan yang mereka hadapi, dan bagaimana hasil perjuangan mereka.

Buku-buku mereka, murid-murid mereka, kita ini tidak ada apa-apanya.

Sehingga ketika kita membaca sejarah mereka, kita merasa kita ini kerdil.

Ya, kita nikah, apa yang mau disombongkan?

Ya, apa yang mau disombongkan?

Bahasa Arab saja tidak bisa, di Madinah anak kecil saja sudah bisa bahasa Arab.

[Tertawa]

Tapi yang mau disombongkan, Subhanallah.

Ya, dengan baca sejarah tersebut, kita menjadi merasa kerdil.

Kita tahu diri, sekitar motivasi untuk semangat yang telah ada dulu manusia yang seperti kita, yang semangatnya luar biasa.

Ya, di alam yang sama, dunia yang sama, ya mereka semangatnya luar biasa.

Kemudian di antara faedah kita belajar sejarah itu tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Ya, sebabnya dikatakan dalam hadisnya, Al-Mukmin Wahidin.

Tidaklah seorang disengat dari lubang atau binatang berbisa dari lubang yang satu lubang yang sama dua kali.

Ya, sejarah ketika kita belajar, kita banyak misalnya pengkhianatan-pengkhianatan Yahudi yang berulang-ulang, pengkhianatan Rofida yang berulang-ulang.

Ya, selalu ada pengkhianatan.

Oke, jangan terpedaya.

Ya, pengkhianatan yang berulang-ulang.

Ya, artinya kita belajar sejarah mengajarkan kita agar kita tahu, "Oh ini kesalahan di sini, oh ini kesalahan di sini," agar tidak terjerumus dalam lubang yang sangat berulang-ulang.

Sementara kita di zaman sekarang, kaum Muslimin terjerumus dalam lubang yang sama berulang-ulang.

Kita bisa, jangan sampai seperti itu.

Jangan sampai seperti itu.

Ya, tidak usah sejarah jauh-jauh, kita bersejarah, sejarah sekarang, sejarah sekitar kita.

Ketika terjadi pemberontakan di zaman sekarang di berbagai negeri-negeri Islam, apa yang terjadi?

Terjadi kehancuran, tidak mengambil pelajaran dari pemberontakan di Suriah.

Terjadi sekarang, mungkin satu juta orang mati, entah berapa wanita yang diperkosa, entah berapa banyak anak-anak yang terbunuh, hanya karena emosi sebentar.

Kemudian tersulut pemberontakan, kemudian terjadi apa yang terjadi.

Semoga Allah merahmati yang wafat di antara mereka dan masukkan mereka surga.

Tapi intinya, sejarah di depan mata kita, tidak usah sejarah jauh.

Lihatlah bagaimana meletakkan di Yaman dengan semangat, kemudian akhirnya sekarang kacau.

Ternyata di Libya, pemberontakan luar biasa di Libya.

Yang teman-teman saya juga berpartisipasi, sebagian mereka ikut berpartisipasi yang berisi.

Akhirnya sekarang kacau.

[Musik]

Dualisme kepemimpinan, ekonomi jatuh.

[Musik]

Kadang-kadang saya ngajak teman saya, itu hasilmu dulu ketika terjadi pemberontakan.

Lihat Aljazair, tidak terjadi kekacauan karena mereka sudah mendahului pemberontakan sebelumnya.

Di zaman negara-negara Islam masih tenang, aja cair sudah terjadi pemberontakan.

Dan banyak yang meninggal, ratusan ribu yang meninggal ketika itu.

Sehingga ketika lagi rame-rame pemberontakan, mereka tenang karena mereka sudah merasakan pahitnya apa? Pemberontakan.

Mereka sudah rasakan.

Kita pun sudah merasakan gimana pahitnya tahun 98.

Ya, jadi pelajaran, jangan sampai kita terulang apa? Dua kali.

Ya, tidak usah kita bicara sejarah jauh, sejarah depan mata kita pun ada sejarahnya yang mungkin nanti dilupakan oleh orang-orang setelah kita.

Jadi di antara fungsi kita belajar sejarah agar kita tidak terjatuh dalam kesalahan dua kali.

Kemudian di antara fungsi sejarah, yaitu cara menghadapi kehidupan.

Ya, karena sejarah itu ternyata berulang-ulang, ceritanya sama.

Kadang-kadang cuma tokohnya berbeda, waktunya berbeda.

Maka ada istilah orang Arab mengatakan, "Kemarin sama kejadian ini dengan kejadian masa lalu."

Kalau orang-orang barat mengatakan, "Sejarah mengulangi kembali apa dirinya."

Sejarah berulang persis, jadi begini, maka begini, begini.

Jadi begini, jadi begini.

Ya, seakan-akan hukum sebab akibat, hanya saja lakonnya berbeda.

Ya, pelakunya berbeda di zaman yang berbeda.

Ketika kita belajar bagaimana, kalau kita misalnya kita yang belajar agama ini, bagaimana para ulama bersahabat dalam menghadapi suatu bangsa.

Bagaimana para ulama berjuang, kita belajar akan berulang, akan berulang.

Apa ya yang terjadi?

Ya, dan pelajaran banyak sekali dalam banyak sisi kehidupan.

Dalam sisi kehidupan keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, dalam masalah dakwah, banyak hal.

Ketika kita mempelajari sejarah, kita akan mengambil pelajaran bagaimana sikap yang benar dalam menghadapi suatu problematika kehidupan.

Karena sejarah telah berlalu dan biasanya sejarah mengulangi lagi sendiri ceritanya.

Hanya saja pelakunya berbeda dan tempatnya berbeda dan waktunya berbeda, tapi ceritanya sama.

Ceritanya sama.

Tarif sejarah mengulangi lagi kembali ceritanya.

Di antara urgensinya belajar tarif, di antaranya untuk membantah orientalis dengan sebagian firkosa saat yang beliau dengan sejarah yang salah.

Dengan beliau dengan sejarah yang salah, perlu kita ketahui bahwasanya sejarah, ya ternyata tidak semua diriwayatkan dengan riwayat yang shahih.

Sebagian sejarah yang lemah, bahkan palsu.

Bahkan apa? Palsu.

Seperti At-Tabari sendiri,

[Musik]

Dia, beliau rahimahullah Ta'ala, menyerahkan pemeriksaan terhadap riwayat-riwayat kepada para pembaca.

Dia baca dalam Mukadimah kitabnya.

Dia berkata, "Sama sama yakunfik kita karena hunthu qoritas."

[Musik]

Di mukadimahnya, beliau berkata, "Apa yang ada dalam bukuku ini tentang cerita-cerita yang kami sebutkan dari sebagian orang-orang terdahulu yang mungkin orang membacanya seperti ini, dia mengingkari."

Atau orang yang mendengar cerita ini merasa aneh, kok tidak suka dengan cerita seperti ini.

Karena ceritanya aneh, karena dia tidak tahu bahwasanya cerita ini tidak sahih.

Kok ada di dalam Syarifah dan tidak ada hakikat makna cerita seperti ini.

Maka hendaknya diketahui kesalahan tersebut bukan dari sisi kami, karena kami tidak mengecek sahih apa untuk ya.

Tetapi itu semua terjadi dari orang yang menukilnya kepada kami.

Kami hanya menyampaikan sebagaimana cerita tersebut sampai kepada kami.

Jadi tobat di sini mengakui dalam bukunya banyak riwayat-riwayat yang lemah, yang aneh, yang mungkar, yang orang bacaannya.

Namun dia seakan-akan, dia berkata, "Ini kalian kembali kepada kalian pembaca. Saya hanya sekeraba mengumpul."

Mengumpulkan.

Oleh karenanya, dalam buku tarif, tarif tobat sendiri banyak riwayat-riwayat yang palsu.

Di antaranya dalam kitabnya tarikal Islam, membawakan riwayat dari seorang bernama Abu Mifnafs.

Kalau tidak salah namanya Nuh Luth bin Yahya, Luth bin Yahya, sekitar 300 riwayat dibawakan oleh Imam Thabari terkait dengan kisah para sahabat yang diriwayatkan.

Selalu dia memilih riwayat-riwayat yang mencela para sahabat.

Sehingga riwayat-riwayat yang buruk seperti ini oleh orang-orang untuk mencela para sahabat, untuk mengkafirkan para sahabat.

Kata mereka ada riwayat dalam buku kalian, kitab Ahlussunnah, tarif Tobari adalah buku Ahlussunnah.

Dan dalam buku tersebut ada riwayat menyembuhkan tentang kefasikan-kefasikan pada sahabat.

Ternyata riwayat tersebut telah diteliti melalui jalur [Musik] supaya juga diketahui sanadnya.

Artinya datang peneliti, peneliti setelahnya akan meneliti riwayat ini palsu.

Kenapa? Dalam perawinya ada seorang bernama Syiah.

Sehingga diketahui dustanya riwayat tersebut.

Demikian juga riwayat-riwayat dusta dalam sejarah juga dijadikan dalil oleh orang-orang orientalis.

Ya, nanti mungkin kita akan ukir dan pertemuan berikutnya bagaimana mereka menukil riwayat-riwayat untuk mencela Islam, mencela para sahabat oleh pemerintah seorang barat.

Mereka nukar, kemudian mereka komentar, "Lihatlah bagaimana sahabat-sahabat Muhammad yang rakus dunia," dan macam-macam.

Mereka komentari dan mereka bersalah kepada riwayat-riwayat yang lemah, riwayat-riwayat yang lemah.

Karena itu urgensi kita belajar sirah, eh belajar tarif, di antaranya untuk mengetahui atau membantah mereka yang beril dengan riwayat-riwayat yang lemah.

Sehingga sebagaimana hadis-hadis harus diperiksa, ya untuk dibedakan mana hadis yang shahih dan mana hadis yang dhaif.

Demikian juga riwayat-riwayat sejarah.

Kenapa? Karena riwayat-riwayat tersebut dijadikan dalil untuk mencela para sahabat, yang keadilannya para sahabat, amanahnya para sahabat merupakan bagian dari agama.

Kalau para sahabat tidak amanah, maka hadis-hadis yang sampai kepada kita dipertanyakan.

Sehingga mau tidak mau, akhirnya para ulama memeriksa riwayat-riwayat tersebut.

Dalam misalnya kitab tarik, di antaranya yang dilakukan oleh Muhammad bin Thohir Al-Barzanji.

Ya, ini buku namanya Shahih Tarik, kalau tidak salah 11 jilid.

Ya, jadi ini tarif Strawberry yang dia kumpulkan riwayat-riwayat yang shahih saja, kumpulkan lagi di buku tersendiri.

Yang saya beli cuma yang Shahih, yang baik.

[Musik]

Jadi, dan ini di antara usaha mereka untuk membersihkan.

Apa? Terutama para ulama menulis tentang, apa namanya, seperti buku-buku terkait dengan para sahabat.

Seperti fitnah Maqtal Utsman, sisalah ilmiah, kalau misalnya dua jilid.

Ya, itu juga menurut ini riwayat yang lemah, riwayat yang shahih.

Ya, karena digunakan dijadikan sarana oleh orang-orang Rofidoh untuk mencela Utsman bin Affan radhiyallahu ta'ala.

Seperti juga teman saya punya buku tentang akidah Ahlussunnah Muawiyah bin Abi Sufyan.

Risalah S2, dulu kawan saya tentang Abu Sofyan Abi Sufyan.

Dan di situ radhiyallahu Anhu merupakan pesat kerajaan dan kaum.

Maka diteliti sejarahnya, riwayat yang shahih, riwayat yang lemah.

Tidak lain dalam rangka untuk, eee asalnya ini tidak ada kaitannya.

Saya tidak, tidak.

Namun tatkala riwayat-riwayat yang terkait dengan akidah seseorang untuk meyakini mencela sahabat atau memuliakan sahabat, maka terpaksa harus diperiksa, dijelaskan mana yang lemah dan mana yang shahih.

Ini di antara organisasi kita belajar tarif.

Kemudian di antara urgensi kita tarik yang berikutnya untuk mengenang zaman keemasan para pendahulu.

Bahwasanya Islam pernah jaya.

Islam pernah jaya.

Kita sejarah Nabi SAW, sejarah bagaimana para sahabat, ya bagaimana mereka percaya sampai luasnya kerajaan Islam.

Dan betapa orang makmur hidup dalam di bawah naungan hukum-hukum Islam.

Ya, sehingga kalau kita mempelajari sejarah orang-orang terdahulu, orang hebat, maka kita termotivasi.

Termotivasi untuk bisa kembali seperti mereka.

Dan demikianlah seluruh bangsa-bangsa, mereka selalu menampilkan kejayaan sejarah nenek moyang.

Indonesia kita punya sejarah bagaimana pejuang-pejuang dahulu, bagaimana mereka tegar pakai bambu runcing berperang melawan para penjajah.

Bagaimana mereka membuka serangan mereka dengan Takbir Allahu Akbar.

Semua sejarah jangan dilupakan.

Ya, kita ini adalah hasil dari perjuangan para pahlawan terdahulu.

Ya, untuk bisa sampai merdeka, untuk bisa berdiri bendera Indonesia yang merah putih.

Ini semua ada sejarahnya.

Ya, dengan mengenang sejarah kita bisa tetap semangat untuk menjaga kejayaan negeri-negeri kita.

Dan itu bukan cuma dilakukan oleh orang-orang non-Muslim juga.

Ya, suatu kejadian menarik, perdebatan di medsos.

Ya, ketika wafatnya Ratu Elizabeth, wafatnya Elizabeth.

Kemudian sebagian ulama, kemudian memberi apa namanya penghargaan kepada suatu Elizabeth.

Ya, ulama di Mesir, ya mengatakan bagaimana perjuangan jasanya membangun negara Inggris Raya dan seterusnya.

Ada sebagian dayung karena Inggris pernah dijajah, pernah dihabisi oleh, apa, karena Mesir pernah dihabisi oleh Inggris.

Kemudian di antara Banten tersebut, dia tampilkan tentang perayaan wafatnya Ratu Elizabeth.

Dalam perayaan tersebut ditampilkanlah bendera-bendera yang tertulis tentang bagaimana kejayaan mereka, kesuksesan mereka dalam perang.

Di antaranya ketika mereka menghabisi Mesir.

Akhirnya ini protes dari [Musik] Elizabeth yang pernah menghabisi ribuan saudara-saudara kita di Mesir.

Dan mereka membanggakan hal tersebut karena itu sejarah yang mereka banggakan.

Masing-masing punya sejarah.

Di antara sejarah Inggris yang mereka banggakan, mereka pernah menghabisi, apa, Mesir.

Paham artinya?

Sehingga bagaimana kita mau menyampaikan penghormatan kepada seorang yang pernah menghabisi negara kita di zaman pemerintahannya?

Saya ingin menyampaikan bagaimana sejarah itu dibanggakan oleh masing-masing negara.

Kita bangga dengan sejarah kita.

Ya, kemudian negara-negara juga bangga dengan sejarahnya.

Mungkin Belanda bangga pernah menjajah kita.

Kita tidak tahu.

Saya pernah ke Madinah, terus ketemu dengan seorang kawan.

Tidak tahu, ya, saya satu kelas, dia kuliah.

Saya ngobrol, mahasiswa di Madinah, orang Muslim.

Saya tanya, "Dari mana?"

Ah, kata dia, "Dari Belanda."

[Musik]

[Tertawa]

Kita 350 tahun demi tidak mengingkari.

Dia bilang, "Iya, tapi nenek saya orang Jawa," katanya.

Kawan-kawan terkadang, ya.

Tapi Alhamdulillah sekarang sudah damai semuanya.

Ya, tapi terkadang masa lalu, ya, itu sejarah perlu diingat untuk apa? Untuk membangkitkan semangat.

Nah, di antara keburukan orang-orang Rafiqah, mereka ingin memutuskan hubungan antara kaum Muslimin dengan sejarah yang indah para sahabat.

Jadi digambarkanlah para sahabat adalah sejarah hitam, rakus dunia, kemudian murtad.

Ya, sehingga ketika kaum Muslimin mendapati gambaran tentang sahabat Nabi seperti itu, maka hilang generasi emas yang pernah ada di zaman dalam sejarah Islam.

Terus siapa yang mau dibanggakan setelah itu?

Kalau ternyata para sahabat semua buruk, murtad, rakusnya.

Itu semua adalah kedustaan.

Dan belajar sirah, belajar tarif, kita tahu bagaimana hebatnya kaum Muslimin dahulu agar kita bisa kembali sebagaimana kejayaan mereka di masa lampau.

Ya, ini ikhwan dan akhwat yang hadir, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Mukadimah tentang tarif Islami, ya insya Allah kita akan bahas pada pertemuan berikutnya, mulai dari Khulafaur Rasyidin.

Kita akan membahas tentang sejarah Abu Bakar As-Siddiq.

Adapun sejarah tentang Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka silahkan nonton di YouTube, ya, karena sudah saya sampaikan.

Saya tidak akan mengulang lagi di sini.

Kita langsung masuk pada sejarah Abu Bakar As-Siddiq tentang bagaimana perjuangan beliau mengemban amanah untuk memimpin kaum Muslimin.

Saja kajian kita namanya mukadimah, jangan panjang-panjang.

Ya, ini mukadimah sebentar.

Saya demikian saja kajian kita.

Insya Allah kita lanjutkan pada pertemuan berikut tentang sejarah Abu Bakar As-Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu.

Demikian, wabillah.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Musik]