📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Kitab Manhaj dan Aqidah 3 | USTADZ ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT حفظه الله تعالى

MAKTABAH MU'AWIYAH BIN ABI SUFYAN1:29:32

Transcription

Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nastain'uhu wa nastagfiruh, wa naudubillahi min syururi anfusina wa min sayiati amalina. May yahdihillah fala mudillalah, wa mayudlil fala hadialah. Wa ashadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, wa ashadu anna Muhammadun abduhu wa rasuluh.

Amma ba'd, itabah wa iral haji haji Muhammadin Sallallahu Alaihi Wasallam, wa umuri muhdata, wa muhdasatin bid'ah, wa bid'atin dolalah, wa tin finar.

Ikhwan dan akhwat yang saya muliakan, mari kita melanjutkan kajian ilmiah kita, insya Allah ta'ala, mengenai manhaj sikap seorang muslim dan muslimah di dalam beragama Islam. Yaitu sikap dan cara beragama yang benar sesuai syariat Rabbul Alamin, yang dijelaskan di dalam kitabullah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Demikian juga dengan akidah keyakinan yang wajib diyakini oleh setiap muslim dan muslimah dari keyakinan-keyakinan yang benar yang diajarkan oleh Nabi yang mulia Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, yang termaktub dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih.

Untuk apa? Pertama, agar kita memperoleh ilmu yang bermanfaat, karena ilmu yang bermanfaat dari Alkitab Al-Qur'an dan Sunnah bersama perjalanan Salaful Ummah itu ilmu nafi'.

Yang kedua, agar kita beramal saleh yang makbul diterima, karena amal saleh tidak akan diterima oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala kecuali setelah memenuhi dua persyaratan yang sangat besar. Pertama, ikhlas karena Allah semata. Setiap amal yang tidak ditegakkan dengan keikhlasan maka tertolak.

Syarat yang kedua, ittiba' Rasul, mengikuti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam di dalam beramal. Apabila hilang salah satu dari dua syarat yang besar ini, apalagi kedua-duanya, maka amal kita atau amal manusia mardud, tertolak.

Ahlul Kitab mendakwahkan, mengaku bahwa mereka Ahlul Jannah. Yahudi mengatakan, "Kamila Ahlul Jannah, hanya kami yang lain tidak." Sebaliknya, Nasara mengatakan, "Kamila Ahlul Jannah, hanya yang lain tidak." Allah abadikan perkataan dan keyakinan serta perbuatan mereka dalam Al-Qur'an, surat Al-Baqarah ayat 111.

Wa qad qul al-jannata illa man kana Hudan Nas. Mereka mengatakan, yaitu masing-masing dari Yahudi dan Nasara, mengatakan, "Jannah illa man kana Hudan, tidak akan masuk surga selamanya kecuali orang yang beragama Yahudi." Ini kata Yahudi. Kemudian Nasara mengatakan, "Tidak akan masuk surga kecuali yang beragama Nasara."

Padahal keyakinan, perkataan, perbuatan mereka tidak ditegakkan atas dasar dua syarat yang besar tadi, ikhlas. Maknanya, mentauhidkan Allah. Kalau tidak ikhlas, maka lawan dari ikhlas adalah syirik.

Sehingga orang yang beramal untuk pamer, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam katakan, "Apa syirkul asghar?" Syirik kecil. Dia beramal, tapi untuk pamer, yakni mencari kemegahan di hati manusia agar manusia memegahkannya, memujinya, dan sebagainya.

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan itu orang yang dalam bahasa syariat dikatakan riya. Apa syirkul asghar, apalagi sampai syirkul akbar, syirik besar. Maka Rabbuna mencelak mereka, "Tilka Amani, itu hanya angan-angan mereka tanpa amal yang diterima Allah, semua amalnya mardud."

Oleh karena itu, Allah berfirman kepada hamba-Nya dan rasul-Nya Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, "Katakan kepada mereka, Muhammad, burum berikan burhan, itu bukti, alasan mana buktinya bahwa kamu Ahlul Jannah?"

Karena setiap orang yang menyatakan sesuatu, iya atau tidak, akan dituntut pembuktian. Bukti itu harus ada. "Mana kamu bahwa kamu Ahlul Jannah? Intumudin, jika memang pengakuan kamu itu benar, berikan bukti."

Ini hujah menunjukkan bahwa Dinul Islam hujahnya kuat sekali. Oleh karena itu, setiap orang yang meyakini sesuatu, keyakinan, mengatakan sesuatu, perkataan, mengerjakan suatu perbuatan, dituntut pembuktiannya. Jika tidak ada pembuktian, maka mardud.

Antum atau kita meyakini satu keyakinan, dituntut mana pembuktian. Keyakinan itu dari siapa? Dari Rabbul Alamin yang disampaikan melalui lisan nabinya yang mulia, Alaihi Wasallam.

Am lihat ini dua agama, dua kaum yang besar dari Ahlul Kitab yang telah mengubah agama nabi mereka yang mulia, Alaihimatu Wasallam, Musa dan Isa Alaihimatu Wasallam. Allah tuntut pembuktian.

Karena itu, meyakini sesuatu, keyakinan, mengatakan suatu perkataan, mengerjakan suatu perbuatan yang berkaitan dengan Din, apalagi Dinul Islam yang meliputi mengajarkan segala sesuatunya baik dunia maupun akhirat, dituntut pembuktiannya.

Sering ahli ilmu sebagian dari mereka bertanya, "Antum mengerjakan demikian, dalilnya mana?" Bingung. Ini dituntut oleh Allah pembuktian dari Ahlul Kitab. Intumudin, jika memang kamu benar, mana buktinya? Burhan kamu mana? Enggak ada.

Allah katakan, "Tilka Amani, itu omong kosong mereka, hanya angan-angan tanpa amal yang sesuai yang disyariatkan, tertolak, tidak ada artinya, omong kosong."

Kemudian Allah menjelaskan siapa yang diterima agamanya oleh Allah. Bala, bahkan yang Ahlul Jannah dan diterima oleh Allah, illah, lihat orang yang menyerahkan dirinya, wajahnya kepada Allah. Ini ikhlas, syarat yang pertama.

Yang kedua, wahua muhsinun, dan dia muhsin, beramal saleh. Kalau yang pertama lillahi, yakni ikhlas, yang kedua dari mana dia mengetahui cara beramal saleh yang benar kalau bukan dari Nabi yang mulia, Sallallahu Alaihi Wasallam?

Bala asl wahu lillahi, wahuuh dua syarat itu. Maka baginya, baginya tersedia pahala di sisi Rabbnya. Allah sediakan, Allah simpan untuknya, "La khaufun alaihim, wa hum yahzan." Tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih berduka cita.

Ayat yang lain, akhir surah Al-Kahfi ayat 110, "Qul, katakan Hai Muhammad kepada manusia, innama Ana basarum lukum." Sesungguhnya aku ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, tidak beda.

Tetapi Yuha ilaiya, aku mendapat wahyu, diwahyukan kepadaku, yakni ditetapkan oleh Allah bahwa aku adalah Rasul Allah. Itu yang membedakan. Selebihnya, sama sifat-sifat kemanusiaan ada pada seluruh para nabi dan rasul, karena para nabi dan rasul bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.

Manusia saya ini, kata Nabi, diperintah oleh Allah, katakan kepada manusia, "Lukup, katakan, sesungguhnya aku ini tidak lain melainkan manusia seperti kamu."

Tetapi Yuha ilaiya, diwahyukan kepadaku, "Annama ilahukum ilahu wahid." Sesungguhnya ilah kamu, Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang satu, tidak berbilang.

"Faman kaana yarju liqoabihi," maka barang siapa yang berharap, yakin ia akan perjumpaan liqa dengan Rabbnya, dengan Allah, "falmal amalan shhha," maka hendaklah ia beramal saleh. Ini ittiba' Rasul, karena tidak ada amal saleh tanpa ittiba' Rasul.

Yang ada adalah amal bid'ah. Amal saleh yang hakiki adalah ittiba' Rasul. Syarat, "W yusrik bi ibadatihi ahada," dan ia tidak menyekutukan di dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apun. Ini syarat ikhlas, jauh dari kesyirikan.

Ah, berarti syarat pertama dan syarat yang kedua. Ah, untuk kedua itulah dalam mempelajari manhaj dan akidah, kita akan membahasnya sepanjang yang kita ketahui, karena Allah tidak memberikan ilmu kepada manusia kecuali sedikit sekali.

Kita akan memasuki bab keenam, insya Allah ta'ala. Silakan buka halaman 71 untuk cetakan kedua dengan judul bab, "Orang yang sampai mati tidak beriman kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, padahal dakwah yang sahih telah sampai kepadanya, maka dia termasuk penghuni neraka dan kekal di dalamnya selama-lamanya."

Judul ini berdasarkan hadis yang dibawakan oleh penulis, itu hadis ke-20, an Abi Hurairah, an Rasulillahi Sallallahu Alaihi Wasallam, annahu qala. Dari Abu Hurairah dari Nabi, dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Walladzi nafsu biyadihi, walladzi nafsu Muhammadin biyadihi."

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangannya, ya di tangan Allah. "Ahunti yahudiun wa nasrun." Tidak seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang telah mendengar kedatanganku, kemudian sampai mati ia tidak beriman dengan kerasulanku, melainkan dia termasuk dari penghuni neraka.

Berarti keimanan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam mengiringi keimanan kepada Allah, mengimani adanya Tuhan, mengimani adanya Allah, dan mengimani bahwa Allah itu Maha Esa.

Tetapi tidak beriman kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, maka keimanannya itu mardud, tertolak, dan dikatakan ia bukan orang yang beriman secara hakiki. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakansu, "Muhammadin biadi." Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangannya.

Ini sering Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersumpah dengan mengatakan, "Walladzi Nafsi biyadi." Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya. Kadang-kadang beliau mengatakan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangannya," menunjukkan bahwa Allah mempunyai tangan, sifat bagi Allah, sifat zatnya.

Karena Allah mempunyai dua sifat, sifat zat, sifat diri yang tetap ada pada Allah, dan sifat yang kedua, sifat fi'liah, perbuatan Allah yang selalu terkait dengan ikhtiariah, pilihan atau kehendak atau kemauan Allah. Itu sifat perbedaannya.

Sifat zat, sifat yang tetap ada pada diri Allah, seperti ilmu Allah, dinamakan Al-Alim, Aliman, Yang Maha Berilmu, Maha Mengetahui. Sifatnya ilmu tetap ada pada Allah, tidak mungkin hilang.

Tidak mungkin sewaktu-waktu ada, sewaktu-waktu tidak, sesuai dengan kehendak Allah. Tidak, itu sifat yang tetap ada bagi Allah. "Yunaluqum," itu sifat zat yang tetap ada bagi Allah. Allah hidup terus, tidak akan mati dan tidak akan pernah tidur, tidak akan pernah ngantuk.

Demikian juga Al-Qadir, kekuasaan Allah, Maha Kuasa, tidak mungkin hilang, itu tetap ada pada Allah. Di antaranya, sifat wajah Allah mempunyai wajah. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan Allah mempunyai tangan, tetapi sifat-sifat Allah itu tidak sama dan tidak serupa sedikit pun juga dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Tidak sama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dengan tegas, "Walam yakun lahu kufu an ahad." Tidak ada yang sebanding dan serupa dengannya. Itu ayat setiap hari kita baca.

Tidak sama. Allah mempunyai tangan, tidak sama dengan tangan makhluk-Nya. Kalau kita mengatakan tangan Allah sama dengan tangan makhluk-Nya, sesat. Kalau kita menolak tangan itu, bukan tangan Allah, tapi kekuasaan Allah, juga sesat.

Kita tetapkan Allah mempunyai tangan, titik, sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan serta ketinggian Allah.

Wahuulir, perhatikan ayat yang termaktub dalam surah Asy-Syura. Allah tidak sama, tidak serupa dengan sesuatu apun. Bagian pertama ayat, bagian kedua menetapkan sifat zat Allah, "Wahu Sami'ul Alim," dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

"W Sami'ul Bir," Maha Melihat, Maha Mendengar. Maha Melihat. Ya, nah sifat kalam Allah disifatkan dengan kalam, berkata-kata, berbicara. Ini sifat zat yang tetap ada pada Allah, tidak mungkin Allah disifatkan dengan bisu.

Tetapi sifat kalam ini juga masuk dalam sifat perbuatan. Kapan Allah mau berbicara, Allah akan berbicara. Kapan Allah tidak berbicara, Allah tidak bicara, diserahkan kepada kehendak Allah.

Itu semua sifat perbuatan terkait dengan masyiah. Jadi, salah satu sifat ada yang berkaitan dengan zat saja, ada yang berkaitan dengan zat dan perbuatan, ada yang berkaitan dengan perbuatan saja. Allah memilih sesuai dengan kehendaknya.

Setiap sepertiga malam yang akhir, Dia turun ke langit dunia sesuai dengan kebesaran dan kemuliaan serta ketinggiannya. Tidak boleh kita bertanya bagaimana turunnya, bagaimana tangan Allah. Tidak boleh.

Karena kenapa? Tidak boleh. Allah tidak menerangkannya. Allah hanya menerangkan sifat-sifatnya, nama-nama dan sifat-sifatnya yang wajib kita imani apa adanya.

Tidak boleh kita tolak, tidak boleh kita hilangkan, tidak boleh kita tafsirkan dengan yang lain, tidak boleh kita serupakan dengan makhluk-Nya, dan tidak boleh kita bertanya bagaimana.

Sama juga kalau kita ditanya, "Allah mempunyai zat?" Tidak, kita jawab iya. Lalu boleh, lalu kita ditanya lagi, "Bolehkah kita bertanya bagaimana zat Allah?" Jawab kita, "Tentu tidak boleh."

Allah terangkan tentang dirinya, tidak boleh kita bertanya bagaimana zat Allah. Nah, pembicaraan mengenai zat, pembicaraan mengenai sifat, cabang dari pembicaraan mengenai zat.

Ketika tidak boleh kita bertanya bagaimana zat Allah, maka tidak boleh kita bertanya tentang sifat Allah. Mana sih wajah Allah? Itu tidak boleh.

Kalau mau mengetahui bagaimana wajah Allah, beriman kepada Allah dan rasulnya dan hari akhir. Jadi orang yang beriman nanti pada hari kiamat dan masuk surga, jika Allah menghendaki dengan rahmat dan karunia Allah, maka Allah akan memperlihatkan wajahnya kepada orang-orang yang beriman.

Karena itu sering dikatakan, "Amal ini untuk mencari wajah Allah." Mencari wajah Allah. Untuk apa? Untuk dilihat nanti. Kenikmatan yang tidak ada tar bandingannya, melihat wajah Allah.

"W wajhu Rabbika Dul Jalali Wal Ikram." Akan kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Dalam surah Ar-Rahman, kalau kita membaca Al-Qur'an dari awal sampai akhir, kita akan dapati nama-nama dan sifat-sifat Allah yang merupakan salah satu tauhid yang ada dalam Islam, yaitu tauhidul asma was sifat.

Maka semua jiwa berada di tangan Allah. Ya, kemudian Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengat tidak mendengar akan aku, yakni akan kedatanganku, ahadun, seseorang pun, seorang pun dari hadil ummah, dari umat ini.

Ah, di sini ada dua pembicaraan. Pertama, mendengar kedatangan Rasul sampai dakwah kepadanya. Tentu sampainya dakwah rasul itu kepada manusia dengan jalan yang benar, kan dari nabi-nabi palsu.

Sahih, sampainya ajaran Islam itu, yaitu diperlukan dakwah sehingga orang mengenal Islam yang hakiki, yang sebenarnya. Ini Islam yang dibawa oleh para nabi dan rasul dan diakhiri dengan kenabian Nabi Muhammad Alaihi Wasallam.

Berarti la asm bi samanya mendengarnya adalah mendengar ajaran Islam, tahu tentang Islam, dan disampaikan Islam, Islam yang sahih kepada umat. Umat di sini dalam hadis ini umat.

Wah, setiap manusia yang terkena, yang sampai dakwah kepada dakwah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam kepadanya, maka dikatakan itu ummatud dakwah. Umat ada dua.

Yang pertama, umatud dakwah, seluruh manusia yang sampai dakwah kepadanya, yakni dakwah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Yang kedua, ul ijabah, umat yang mengijabahkan, yang mengabulkan dakwah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, yakni mereka mengimaninya, seperti kita ini, kaum muslimin dan muslimat, menerima dakwah nabi yang mulia Alaihi Wasallam.

Dikatakan ummatul ijabah. Nah, umat di hadis ini umatud dakwah. Karena disebut Yahudi dan Nasrani, siapa saja di antara umatud dakwah yang telah sampai dakwah Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan penyampaian yang benar kepada mereka, kemudian sampai mati, mereka tidak beriman dengan kerasulan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, maka pasti dia termasuk dari penghuni neraka jahanam.

Dipastikan, illa man kaana min ashabin nar. Kara sudah sampai dan mereka tidak beriman, mereka tolak. Nah, ini hadis ini merupakan hadis yang sangat besar dan menjelaskan akidah yang besar tentang keimanan kepada nabi yang mulia Sallallahu Alaihi Wasallam.

Bagaimana dengan orang yang beriman? Tentu akan bertambah keimanannya. Pertama, yang kedua, ia akan lebih ingin mendengar lagi apa yang datang dan dibawa oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Untuk apa? Agar ia samanya pendengarannya yang sampai dari nabi itu lurus, benar, bersih, tidak dicampuri dengan kesyirikan, dengan bid'ah, dengan khurafat, tahayul, dan lain sebagainya. Tapi sahih.

Itu dua akan bertambah keimanan orang-orang yang beriman kepada beliau untuk lebih beriman lagi. Yang kedua, lebih ingin lagi sama mendengar segala sesuatu yang datang dari beliau.

Untuk apa? Agar kita beragama dengan benar, dengan lurus dan bersih dari segala kekeruhan, kekotoran yang dimasukkan oleh sebagian manusia ke dalam Dinul Islam, ke dalam agamanya Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Nah, itu dengan jalan apa kita memperolehnya? Dengan cara menuntut ilmu, duduk di majelis seperti ini. Sedikit demi sedikit, terus lama-lama menjadi bukit. Ini dia, ini faedah besar sekali hadis yang mulia ini.

Baik bagi orang di luar Islam yang ia ingin mengetahui siapa nabi yang mulia ini, siapa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Silakan dia mempelajari Islam, silakan dia bertanya kepada ahli ilmu untuk mengetahui tentang Islam.

Kemudian dari hadis ini keluar permasalahan, addakwah, perlunya dakwah itu bahkan sangat dan dalam sebagian keadaan wajib. Adakwah ilallah untuk menyampaikan apa Risalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam agar didengar oleh manusia, tetapi dengan jalan yang benar.

Ah, ini tugasnya para Dai yang menyeru ke jalan Allah. Tidak mungkin menyeru ke jalan Allah tanpa keimanan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Perhatikan rukun Islam yang pertama, bersyahadat. Bersyahadat Lailahaillallah, meniadakan, menafikan segala sesembahan yang disembah oleh manusia kecuali hanya kepada Allah. Dia menyembah tauhid dan syahadat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam selalu diiringi.

Karena Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam nabi dan rasul terakhir, tidak akan ada nabi lagi, apalagi Rasul sesudah beliau. Maka pengakuan dari siapa saja yang mengaku bahwa ia mendapat wahyu atau ia seorang nabi atau ia diakui oleh manusia seorang nabi, maka seluruh pengakuan itu sesat dan kufur.

Karena Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis-hadis mutawatir ada di kitab ini mengatakan, "La nabiya ba'di." Tidak akan ada nabi lagi, apalagi Rasul sesudahku. Enggak akan ada lagi.

Hadis ini dari hadis ini keluar banyak faedah dan manfaat dan ahkam hukum. Barangkali kalau ditulis bisa satu jilid pembicaraan mengenai dakwah, pembicaraan mengenai keimanan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam untuk orang yang di luar Islam dan orang yang telah Islam, telah beriman kepada beliau.

Dan juga dibicarakan orang-orang, bagaimana kalau dia belum sampai dakwah. Itulah perlunya dakwah, menyampaikan. Dan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Au ayah dan kepadaur para sahabat, hendaklah orang yang hadir di antara kamu menyampaikan kepada yang tidak hadir."

Kemudian terakhir hadis ini sahih, akhrajahu Muslim, sahih dikeluarkan oleh Imam Muslim. Itu nomor hadisnya dari kitab sahih Muslim dalam bahasa Arab, bukan terjemahan.

Kemudian kita lanjutkan bab 7. Semua agama para nabi dan rasul adalah satu, sama, yaitu Islam. Dalilnya adalah firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat 92, "Inna hadhi ummatukum umatan wahidatan."

Diterjemahkan oleh saya, sebutkan di sini ada Abdullah bin Abbas, ada Mujahid. Abdullah bin Abbas, sahabat, Mujahid, muridnya, Tabi'in, Said bin Jubair, Qatadah, dan lain-lain dari para ulama sahabat dan Tabi'in telah menafsirkan firman Allah Ta'ala ini bahwa semua agama para nabi dan rasul dari Adam sampai Muhammad Alaihi Wasallam adalah satu, yaitu Dinul Islam.

Berarti terjemahannya, sesungguhnya agama kamu ini adalah agama yang satu. Itu terjemahan dari "Ummatukum Ummat wahidatan." Inna hadhi ummatukum, sesungguhnya agama kamu ini.

Jadi, umatukum itu dinukum, umatan wahidatan, umat yang satu, maknanya agama yang satu yang sama. Dan ini bersesuaian sama dengan sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, an Abi Hurairah radhiallahu Anhu, qala, "Qala Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam."

Dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu, dia berkata, yakni menceritakan kepada kita dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda, "Ana aulasi Maryama fid dunya wal akhir." Aku adalah orang yang paling dekat kepada Isa bin Maryam di dunia dan di akhirat.

"Wal anbiyau ikhwatun liatin ummahatuhum satta." Dan para nabi itu saudara sebapak, lain ibu, sedangkan agama mereka wahid, satu. Dari Adam sampai Nabi Muhammad Alaihi Wasallam, agamanya satu.

Agama apa? Tauhid. Agama tauhid itu apa? Al-Islam. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman secara umum, "Innad dina indallahi al-Islam." Secara umum untuk orang yang terdahulu dan terkemudian sampai hari ini dan seterusnya sampai hari kiamat, sesungguhnya agama yang sah di sisi Allah hanyalah agama Islam.

Ini ayat bersifat umum. Oleh karena itu, para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan lain-lain mengatakan ayat ini umum untuk orang-orang yang terdahulu dan terkemudian, agamanya satu, Al-Islam.

Agama itulah, yakni agama Islamlah yang dibawa oleh seluruh para nabi dan rasul itu. Kemudian hadis yang mulia ini juga menjelaskan kedekatan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam dengan Nabi Isa Alaihi Wasallam di dunia, baik di dunia maupun di akhirat.

Pertama, karena agamanya satu. Sama. Kedua, dakwahnya sama, Lailahaillallah. Ketiga, jarak antara Nabi Muhammad dan Nabi Isa dan Nabi Muhammad Alaihi Wasallam tidak ada nabi, dan jaraknya 600 tahun.

Antara keduanya tidak ada, yakni Allah tidak mengutus seorang pun nabi antara Isa dan Muhammad Alaihi Wasallam. Jarak 600 tahun. Saya berbicara mengambil dari hadis, 600 tahun.

600 tahun tidak ada seorang pun nabi. Yang keempat, satu nasab, senasab bapaknya satu, Ibrahim, lain ibu. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Wal anbiya'u ikhwatun bersaudara, li al-latin saudara sebapak, ummahatuhum satu, lain ibu."

Dari Ibrahim lahirlah seluruh para nabi dan rasul. Ya, hadis ini sahih, akhrajahu Bukhari wa Muslim. Dan ini merupakan keyakinan yang sangat agung lagi besar dan mulia bagi seorang muslim dan muslimah, sebagaimana dahulu para sahabat ridwanullah alaihim jamian meyakini, sebagaimana yang disabdakan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dan difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an.

Allah mengulang-ulang kisah para nabi dan rasul puluhan, ratusan ayat dari mulai Adam, dari mulai Nabi Adam sampai Nabi Muhammad Alaihi Wasallam, diulang, dan dakwah mereka sama, agama mereka sama, dakwah mereka semuanya apa? Lailahaillallah dan meyakini mereka sebagai utusan Allah.

Itu agama yang sah di sisi Allah, Islam. "Innad dina indallahi al-Islam." Kita lanjutkan. Ini hadis sahih Bukhari dan Muslim. Ada nomor di Sahih Bukhari dan nomor di Sahih Muslim, dapat dilihat.

Kemudian susunan lafaz hadis dari salah satu riwayat Bukhari, yakni teksnya ini saya ambil dari salah satu riwayat Bukhari. Kemudian di bab yang keedelapan, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah mengajarkan segala sesuatunya tentang agama ini kepada umatnya, sebagaimana firman Allah, "Alyawma akmaltu lakum dinakum."

Pada hari ini aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan aku telah cukupkan nikmatku kepadamu dan aku reda Islam sebagai agama bagimu. Selesai.

Diutusnya seluruh para nabi dengan ditutupnya dengan kenabian Nabi Muhammad Alaihi Wasallam, tertutuplah pintu kenabian dan kerasulan. Sudah berakhir kenabian dan kerasulan, tidak ada lagi nabi. Kita Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah nabi yang terakhir dan syariat selesai, lengkap.

Hal ini merupakan sebesar-besar nikmat Allah. Karena itu Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan, "Wamamtu alaikum nikmati." Aku sempurnakan untukmu nikmatku, nikmat yang terbesar, bahkan bagi umat manusia, khususnya umat ini, diutusnya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam membawa mukjizat yang terbesar dari seluruh mukjizat para nabi dan rasul.

Kita menyaksikan. Apakah kita menyaksikan ketika Musa membelah lautan dengan tongkatnya sehingga terbelah menjadi 12 belahan? Karena Bani Israil ada 12 kaum, maka terbelahlah lautan itu menjadi 12.

Barangkali terbayang antum karena melihat film terbelah lautan, hanya satu. Itu versi yang lain, bukan versi Islam. Versi Islam terbelahnya laut menjadi 12. Laut merah itu yang ada sekarang di Mesir, 12 belahan.

Satu belahan, dua, sampai dua, masing-masing kaum dari Bani Israil lewat di belahan-belahan lautan yang terbelah itu. Bukan satu. Ah, ini keyakinan yang salah.

Ya, selama ini barangkali antum meyakini satu. Tidak ada yang memberitahukannya. Al-Qur'an berbicara, "Lahan 12." Baru dengar.

Saya sering bicarakan ini di majelis. Kadang-kadang saya bicarakan sudah berapa kali berulang dari puluhan tahun bahwa belahan itu 12 belahan. Laut merah itu terbelah 12. Ini mukjizat Musa dan kita tidak menyaksikannya.

Kita mengetahui dari firman Allah dan kita mengimaninya, meyakininya akan kebenarannya secara mutlak, tapi kita tidak melihat turun Manna wa Salwa, makanan yang nikmat. Allah turunkan Manna wa Salwa sehingga mudah makanan yang lezat dan enak.

Tetapi mereka tidak puas dengan rezeki yang Allah berikan, lalu minta sayur-mayur, bawang merah, bawang putih, kacang adas. Itu mudah bisa dicari di pasar-pasar.

Tetapi Manna wa Salwa tidak ada kecuali Allah yang menurunkannya kepada Musa. Itu mukjizat Musa. Musa memukulkan tongkatnya ke batu dan memancar air 12 mata air. Itu tadi, makanya itu ada 12 belahan, 12 mata air.

Karena Bani Israil ada 12 suku kabilah. Dia harus diluruskan untuk keyakinan terbelah lautan jadi satu besar gitu. Ah, itu versi umat yang lain.

Versi umat Islam terambil dari Alkitab Al-Qur'an, 12 belahan. Ah, sekarang baca Al-Qur'an dari awal sampai akhir, insya Allah ketemu ayat itu.

Ya, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi di sini. Barangkali, "Ya Ustaz, saya sudah ketemu ayatnya." Gitu. Teori praktik itu ilmu. Saya sampaikan 12 bulan di mana dalam Al-Qur'an cari, membutuhkan membaca dan meneliti.

Saya enggak tahu artinya. Ya sudah, ada terjemahan. Mudah ketika melewati ayat tentang Nabi Musa. Ah, ini dia. Barangkali ada di sini. Ni yang kata Ustaz.

Oh, enggak ada. Terus begitu. Berjihad kalau membaca Al-Qur'an, satu huruf diberi pahala 10 kebaikan. Apalagi disertai untuk mencari ayat. Berarti ada perjuangan.

Ya, tetapi mukjizat Al-Qur'an kita menyaksikan tidak sekarang. Kok enggak menyaksikan? Antum menyaksikan? Enggak. Ini menyaksikan sepanjang zaman.

Sudah 15 abad manusia menyaksikan kemukjizatan ini, bahkan tidak lewat satu zaman, melainkan Al-Qur'an menampakkan kemukjizatannya dalam berbagai macam hal.

Kemukjizatan Al-Qur'an ini Min jawamil kalim, perkataan yang singkat tapi maknanya dalam dan luas. Al-Qur'anul Karim, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Diberikan kepadaku jawami'ul kalim." Mukjizat beliau pertama Al-Qur'an, jawami'ul kalim.

Lihat saja ayatnya singkat-singkat, hanya 6.000 ayat lebih. Nah, selebihnya berselisih para ulama. Ada yang bilang 6.200 sekian, ada yang bilang, tapi 6.000 sepakat.

Selebihnya berapa ratus? Ah, itu baru terjadi perselisihan. Singkat, maknanya luas dan dalam. Berapa banyak dari umat Islam yang hafal Al-Qur'an? Jutaan.

Banyak hafal karena Al-Qur'an mudah. "Walaqad yasarnal Qur'ana lidzikri, fahal min muddakir." Sungguh kami telah mudahkan Al-Qur'an itu untuk orang mengingat, bagi orang yang mau mengingat.

Adakah orang yang mau mengingatnya? Mudah. Mudah cara membacanya. Jangan berlebihan, takaluf namanya, di orang-orang pengajar Qur'an.

Karena dia tidak atau kurang alim, diajarkanlah umat. Pelajari satu huruf bisa berbulan. Al-Qur'an mudah baca.

Kalau kita memberatkan manusia, kaum muslimin, baca Al-Qur'an, ini salah, salah, salah. Enggak ada orang baca. Nanti orang takut baca.

Baca kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, "Apa dalam hadis sahih, orang yang mahir dalam Al-Qur'an bersama para malaikat."

Orang yang membaca terbata-bata, susah baca Al-Qur'annya, dia apa? Kata Nabi, "Ajron, dapat dua pahala." Pahala membaca dan pahala susah membacanya.

Dia tetap baca, dia berusaha sehingga suara Al-Qur'an terdengar setiap hari di rumah kaum muslimin. Al-Qur'an, baca Qur'an, baca Qur'an, baca Qur'an. Kan itu kenikmatan luar biasa.

Karena Al-Qur'an Syifa, obat bagi hati agar dibersihkan kesyirikan dan lain sebagainya. Ini mukjizat disaksikan setiap saat, per detik oleh manusia, tidak berubah.

Ini namanya kemukjizatan ilmiah dan amaliah sepanjang zaman. Perkataan Rabb kita ini, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam membawa ini mukjizat terbesar dari seluruh mukjizat para nabi dan rasul.

Tidak ada yang lebih besar dari Al-Qur'anul Karim, mukjizat ilmiah dan amaliah, ilmu dan amal. Kemudian saya bawakan salah satu perkataan dari ahli tafsir, yaitu Al-Hafiz Ibnu Katsir, dalam menafsirkan ayat ini, surah Al-Maidah ayat 3.

"Inilah sebesar-besar nikmat Allah Ta'ala kepada umat ini, umat Islam, di mana Allah telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka. Maka mereka tidak berhajat kepada sesuatuun agama yang selainnya, selain agama Islam dan kepada seorang pun nabi yang selain nabi mereka, shawatullahi wasalamuhu alaih."

Oleh karena itu, Allah telah menjadikannya sebagai penutup sekalian para nabi dan telah mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka tidak ada yang halal kecuali apa yang Allah halalkan dan tidak ada yang haram kecuali apa yang Allah haramkan.

Dan tidak ada agama kecuali apa yang Allah syariatkan. Dan segala yang Allah kabarkan, maka ia adalah kebenaran dan benar adanya, tidak dusta, dan seterusnya dari perkataan yang patut dicatat dengan tinta emas.

Kemudian dalam bab ini saya membawakan sebanyak 10 buah hadis untuk menjelaskan bahwa nabi sesuai dengan judul bab telah mengajarkan segala sesuatunya tentang Islam.

Di antaranya hadis pertama, Abu Dzar mengatakan, yni Rawi hadis sahabat Abu Dzar radhiallahu ta'ala, rasulullahahu Alaihi wa Sallam telah wafat meninggalkan kita, kami para sahabat, tetapi tidak seekor pun burung yang terbang di udara, yang iknya ilmunya, yni melainkan beliau telah menerangkan kepada kami.

Wuau, melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya tentang burung itu. Maksudnya apa? Segala sesuatunya sampai burung di udara dan semut yang kecil dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, ahkamnya, hukum-hukumnya.

Contoh tentang burung, para sahabat pernah safar bersama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, lalu para sahabat mengambil ada burung kecil. Burung kecil diambil, ibunya memutar-mutar di sini.

Kata Nabi, "Kenapa ini? Ya, kami mengambil burungnya, jangan lepasin, dipisahkan dengan orang tuanya, dengan ibunya."

At ibunya muter-muter gitu, lihat Nabi yang mulia Sallallahu Alaihi Wasallam, penyayangnya, "Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin." Tidak kami utus Engkau melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam.

Burung pun mendapat rahmatnya itu tentang burung. Sahabat tahulah hukum-hukumnya itu. Ya, dan lain-lain, lain-lain banyak sekali.

Sehingga benar yang dikatakan Abu Dzar radhiallahu ta'ala Anhu, tidak seekor pun burung yang terbang di udara, membalik-balikkan sayapnya, melainkan beliau telah menerangkan kepada kami ilmunya, hak-haknya, hukum-hukumnya, menunjukkan segala sesuatunya.

Kemudian Abu Dzar meriwayatkan sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, "Tidak ada sisa lagi, sudah habis, sudah selesai, tidak tinggal sesuatu yang mendekatkan kamu ke surga, y segala yang mendekatkan kamu ke surga dan menjauhkan kamu dari api neraka, melainkan telah dijelas kepada kamu."

Maka barang siapa yang mau mendekat ke Jannah dan jauh dari api neraka, hendaklah ia melihat penjelasan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam membawa ini Al-Qur'an dan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam sunnah, dalam hadis-hadisnya, "Waqakum, semuanya telah jelas."

Oleh karena itu, barang siapa yang mencari surga selain dari apa yang telah di Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan menjauhkan dirinya dari api neraka selain dari apa yang telah dijelaskan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka ia telah menempuh jalan yang salah.

Kalau ia ingin dekat ke Jannah dan jauh dari neraka, maka hendaklah ia mencari penjelasannya dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, Al-Qur'an dan hadis-hadis lengkap menjelaskan bagaimana cara manusia mendekatkan dirinya ke surga dan bagaimana manusia menjauhkan dirinya dari api neraka. Lengkap ada semuanya.

Kemudian hadis yang kedua, ini hadis yang pertama ini saya jelaskan hadis sahih. Dapat dibaca ya. Kemudian hadis yang kedua dari Salman, yni semua sahabat banyak sekali sahabat menjelaskan bahwa nabi mereka, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, telah menjelaskan segala sesuatunya kepada mereka.

Perhatikan perkataan Salman, "Qanal musyrikun," orang-orang musyrik berkata kepada kami, kami di sini, tentunya para sahabat, karena hanya para sahabatlah saat itu yang beriman kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Orang-orang musyrik berkata kepada kami, ini mungkin dengan nada mengolok-olok, mengejek, "Nabi kamu, sungguh nabi kami, kamu itu telah mengajarkan segala sesuatunya kepada kamu sampai buang air besar pun diajarkan."

Ah, dengan gagah dan berani dan yakin seyakin-yakinnya, tegas menjawab, "Faqala, ajal, benar." Jadi benar, Nabi kami telah mengajarkan segala sesuatu.

Lalu dijelaskan, "Oh Salman, engkau katakan bahwa nabi kami telah mengajarkan segala sesuatunya sampai buang hajat." Beliau telah melarang kita buang hajat besar atau kecil menghadap kiblat, cebok dengan tangan kanan, atau beliau melarang kami beristinja yang kurang dari tiga batu kalau tidak ada air.

Kalau sekarang bisa dikiaskan dengan tisu, beliau melarang kami beristinja dengan kotoran hewan atau dengan tulang. Dijelaskan oleh Salman rinci, menunjukkan para sahabat tidak goyah, bahkan bertambah keimanannya.

Kalau diolok-olok oleh kaum musyrikin, yang di masa sekarang ini sebagian kaum musyrikin mengolok-olok Islam, mengolok-olok Nabi yang mulia Alaihi Wasallam, kaum muslimin tidak boleh kecil hati.

Harus besar dan menjelaskan kebesaran Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, karena mereka tidak punya bukti apa-apa untuk membatalkan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam, kecuali sumpah serapah, kecuali tuduhan-tuduhan keji, kebohongan-kebohongan yang semuanya omong kosong.

Kita katakan kepada mereka, "Hatu burhanakum, inkuntum shodiqin, berikan bukti kamu jika kamu benar." Paling-paling mereka membakar Al-Qur'an. Al-Qur'an dicetak jutaan, mereka bakar satu, dua, tuang tumbuh, dicetak lagi banyak, tidak akan sanggup mereka.

Paling-paling mereka injak-injak Al-Qur'an atau buat karikatur tentang Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam. Itu yang mereka lakukan dan itu penampakan mereka, menampakkan di hadapan manusia kebodohan mereka, kejahilan mereka, lemahnya hujah mereka.

Tidak lebih dari orang-orang gila yang tidak punya akal, yakni tanpa sadar mereka menampakkan diri mereka orang yang tidak berakal yang dapat dilihat oleh manusia, bukan orang yang berilmu.

Kalau orang yang berilmu membantah dengan ilmu, ini dengan tuduhan, caci maki, sumpah serapah, membakar Al-Qur'an, membuat karikatur Nabi yang mulia Sallallahu Alaihi Wasallam, itu menunjukkan kelemahan mereka.

Mereka tidak punya hujah membantah Nabi yang mulia Alaihi Wasallam. Hal tersebut menggembirakan dan itu kabar gembira bagi kaum muslimin bahwa agama mereka tidak terbantahkan.

Bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam tegak dengan kebenaran risalah dan nubuwahnya. Tidak ada satu pun manusia yang sanggup membatalkannya.

Sadaqallah ketika Allah berfirman, "Muhammadur Rasulullah." Muhammad itu rasulullah, walaupun miliaran manusia mengingkarinya. Antum lihat siapa yang mampu membantah Nabi.

Lihat Salman Rusdi, membuat tulisan ayat-ayat setan. Ayat-ayat syan, dia tidak ada hujah sama sekali, kecuali tuduhan dan caci maki dan merendahkan. Itu mampu dilakukan oleh setiap manusia.

Siapa saja manusia mampu melakukan itu kalau dia jadi orang durhaka dan orang yang paling kafir. Tapi ilmu beda, hujah beda.

Lihat Salman, berhujah, "Dia nabi kamu telah mengajarkan segala sesuatu kepadamu sampai buang hajat pun diajarkan." Iya, benar. Tidak kepang tanggung, dijelaskan semuanya.

Pertama, Nabi kami melarang ketika buang hajat besar atau kecil menghadap ke kiblat, dalam hadis yang lain, kecuali tempatnya tertutup. Yang kedua, Nabi kami melarang istinja cebok dengan tangan kanan dan seterusnya.

Lengkap dijelaskan oleh Salman ini, yakni para sahabat tidak koyah, tidak kecil hati. Antum saksikan sekarang orang-orang yang menyerang Islam, orang-orang menyerang Nabi Muhammad, terutama Sallallahu Alaihi Wasallam, tidak punya hujah.

Di barat, mereka injak-injak Al-Qur'an, bakar Al-Qur'an. Itu saja bisa mereka. Dan kita tidak melakukan hal yang sama, karena itu merupakan kebodohan dan hanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak berakal.

Pal buat gambar, mengejek-ngejek, buat kemarahan umat Islam. Ya, tentu kita marah, godban lillah.

Ya, kemudian hadis-hadisnya silakan antum e membacanya. Hadis ketiga, kedua, dan sampai akhir. Dan terakhir, bab ke-9, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam diutus untuk seluruh umat manusia.

Jadi membawa mukjizat terbesar Al-Qur'an, membawa Dinul Islam dengan syariat yang lengkap dan sempurna yang tidak memerlukan tambahan dan pengurangan dari siapapun.

Jangan perlu kita memberikan tambahan-tambahan, sudah lengkap, sudah diajarkan. Kita mau mengerjakan apa? Ada tinggal membaca ayat dan hadis.

Kalau tidak paham, minta bantuan ahli ilmu. Yang penting kaum muslimin baca ayat, baca hadis. Alhamdulillah, Al-Qur'an diterjemahkan, hadis-hadis diterjemahkan.

Tapi jangan ambil di media sosial. Ambil, pegang kitab kayak G nih. Media sosial, antum tidak tahu siapa yang nulis ini, siapa yang terjemahkan. Jauhi masalah Din, harus kritis di media sosial.

Hati-hati, banyak orang cari panggung di situ. Ya, sekarang gampang direkam, masuk besok jadi Ustaz, lalu bicara tentang agama begini, begitu, begini, begitu.

Sampai penziarahan mengenai hadis, dif hadis sahih. Subhanallah, yang itu bagiannya ahli ilmu besar, bukan para pelajar. Pelajar a tiap-tiap punya bagian.

Itu bagaimana dengan yang lainnya? Ah, beli kitab terjemahan, pegang, ada di rumah, ada terjemahan kitab terbaik, Riyadus Shihin, kitab yang bagus sekali, hampir 2000 hadis.

Dan rata-rata hadisnya sahih, hanya yang dikritik oleh ulama ada kelemahan, mungkin saya pernah mencatat ada 60-an, kurang lebih itu lemah ringan, 1900-an, ya, 1800-an hadis.

Berarti ada perbendaharaan di rumah antum. Beli kitab hukum, Umdatul Ahkam, hukum-hukum tentang wudu dan seterusnya, ada 400 hadis.

Beli kitab Bulughul Maram tentang hadis-hadis hukum juga. Beli kitab Manhaj dan akidah yang berbicara seperti Kitab Tauhid karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab dan lain-lain.

Baca, mudah Dinul Islam untuk pribadi atau keluarga. Tapi kalau untuk orang lain, maka antum harus punya ilmu ekstra sesuai dengan tingkatannya.

Baca itu bas, jadi banyak tahu. Coba kayak tadi, seperti tadi. Kalau kaum muslimin sering baca Al-Qur'an, tahu dianya, lihat terjemahannya, dia tahu bahwa belahan itu ada 12.

Ah, ya, ah, ini kan segini banyak. Itu saya kira baru pada dengar, sampaikan di sini. Saya sampaikan juga di tempat lain. Kadang-kadang kalau melalui itu, bahasan saya sampaikan untuk menolak yang ini, bayangannya atau keyakinannya hanya satu laut itu terbelah.

Karena itu ada filmnya. Iya kan, filmnya sudah lama, dari tahun 0-an, filmnya. Itu film tentang Musa yang dibikin oleh Hollywood dan itu belahannya satu.

Ya, mungkin versi mereka. Tapi apa yang dikatakan Islam beda. Ya, karena Islam, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkisahkan para nabi dan rasul dengan sebenar-benarnya.

Kalau mau tahu kisah para nabi dan rasul yang sebenar-benarnya, baca Al-Qur'an. Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam diutus untuk seluruh umat manusia dan jin.

Dalilnya banyak ayat, di antaranya dalam surah Al-A'raf ayat 158, "Qul ya ayyuhanasu, inni rasulullahi ilaikum jamia." Katakan Hai Muhammad, hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semuanya.

Kemudian firman Allah dalam surah Saba ayat 28, "W arsalnaka illa kaataninasi basir wair wakinna akari yalam." Dan kami tidak mengutusmu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira, kabar gembira, yakni bagi orang-orang yang beriman dan sebagai pemberi peringatan bagi orang-orang yang ingkar, yang kafir.

Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Kemudian salah satu hadis, dan saya memenggalnya, memotongnya bagian hadis yang masuk dalam bab ini, itu saya kasih titik-titik.

Berarti sebelumnya ada sabda beliau, lihat di lafaz Arabnya, "An Jabir ib Abdillah, nabi was panjang." Kemudian saya meringkasnya, "W nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yubatsu ila kamihi khatan wu ilanasi ammatan."

Saya ringkas dan saya bawakan sesuai dengan judul bab. Dan adalah, yakni dahulu, wanan nabiyu, itu terjemahannya, dahulu para nabi diutus khusus kepada kaumnya saja.

Sedangkan aku diutus untuk seluruh umat manusia. Jadi bukan khusus bangsa Arab, tidak, seluruh umat manusia. Karena tidak ada nabi lagi sesudah beliau dan beliau membawa Islam yang lengkap.

Karena syariat para nabi yang sebelum beliau belum lengkap. Terakhir, beliau yang bawa Islam ini lengkap, sebagaimana firman Allah yang tadi kita baca.

Terakhir bab, terakhir yang kita bahas pada pertemuan sekarang, ya, dengan judul, "Islam itu tinggi," dari sabda Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang sangat terkenal, "Al-Islamu yaalu."

W ya, Adapun tambahan, W ya Alaihi, yang sering antum dengar atau sebagian dari antum, itu tidak sah, tidak ada asal-usulnya. Lafaz hadisnya atau teks hadisnya hanya sampai, "Al-Islam itu tinggi."

Dan tidak ada yang dapat mengatasi ketinggian Islam. Ini keyakinan yang besar, ikhwan akhwat, bahwa kita harus meyakini kita ini beragama Islam.

Harus kita yakini agama kita itu tinggi, mulia, di atas segalanya, dan tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan ketinggian Islam. Ah, ini luas.

Kalau dibahas ketinggian Islam dari jurusan apa? Bicara tauhid, ketinggian Islam dari jurusan ahkam, hukum-hukumnya. Satu saja yang tidak ada di mana pun juga, hukum waris, faraid.

Manusia masih berselisih tentang hukum waris. Kalau dia meninggal, siapa yang waris? Ini berantakan. Tapi Islam mengatur hukum waris dengan adil, seadil-adilnya dan lengkap.

Dan hukum itu tidak ada di mana pun juga, kecuali ada di Islam. Untuk anak sekian, anak laki sekian, anak perempuan sekian, Bapak, Ibu, suami, istri. Itu kan beredar dari situ.

Yang tetap akan mendapat waris, anak, orang tua, Bapak, Ibu, suami, dan istri. Kalau ada, itu tidak akan pernah lepas pas dari situ.

Ya, diatur demikian rapinya hanya dalam dua ayat dalam Al-Qur'an, ee, tiga ayat. Tiga ayat semuanya dalam surah An-Nisa.

Tidak ada yang seperti Islam. Mau bicara apa lagi? Islam tinggi dengan syarat orang itu tegak berdiri untuk mencari keadilan. Pasti dia akan tahu.

Dan mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepadanya dan dia akan mengatakan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam adalah seorang nabi dan bukan orang gila seperti dituduhkan kaum musyrikin.

Ya, sampai di sini, ikhwan, pembahasan kita. Nanti kita akan, ee, saya akan menjawab barangkali soal jawab, ee, beberapa pertanyaan, insya Allah ta'ala. Walhamdulillahi Rabbil Alamin.