Transcription
[Musik] [Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirobbilalamin. Alhamdulillah. [Musik] [Musik] Alhamdulillah, pada pagi ini saya bisa bersama-sama untuk mengkaji sesuatu yang saya kira sangat penting untuk diketahui oleh kita bersama. Dan saya bersyukur bisa berada di tengah-tengah komunitas insisi, yang merupakan harapan saya sebetulnya untuk konteks Indonesia ini, sebagai generasi yang muncul di era kekinian tapi sangat konsen dengan studi keislaman dan studi di luar tradisi keislaman; baik itu dalam bahasa-bahasa Eropa ataupun dalam bahasa yang lebih konkrit. Seingat saya dulu ada majalah Islamiyah di kalangan kampus, sebenarnya, dan mudah-mudahan ada lanjutan. Kali ini saya akan mencoba untuk bersama-sama dengan saudara-saudara mencermati keislaman dari dokumen-dokumen sebelum era abad ke-7. Dan saya kira itu penting, karena keislaman yang kita yakini tidak hanya dalam konteks iman saja, tetapi bisa dibuktikan dari aspek kesejarahan, aspek historisnya. Manuskrip-manuskrip itu bicara secara lantang mengenai identitas kita sebagai Muslim.
Nah, karena kita tidak banyak waktu, saya tidak akan berpanjang lebar untuk pengantar. Saya masuk langsung pada materi. Bicara mengenai Islam, tentu saja basisnya yang paling fundamental itu adalah Alquranul Karim. Basisnya. Selain kita yakini sebagai kitab suci, tapi bagi saya itu bukan sekedar kitab suci, tapi dokumen historis. Meskipun jangan dibayangkan itu merupakan dokumen historis dalam makna detailnya, tapi secara global itu merupakan dokumen historis yang bisa divalidasi dengan dokumen-dokumen lain. Saya ambil contoh sederhana: dalam Alquran itu ada nama-nama kunci, baik itu nama suku ataupun nama kawasan. Yang dalam bahasa sederhana itu adalah istilah yang kita kenal dengan sebutan toponim. Itu mengacu pada istilah-istilah yang memang itu terekam dalam Quran, tetapi bisa divalidasi bahwa itu merujuk pada kawasan apa. Ada satu tokoh yang sebetulnya bisa dikatakan seorang orientalis pada masa lama, ya, tetapi ini menjadi acuan untuk generasi orientalis sekarang. Dia menulis karya berkaitan dengan studi mengenai Quran, tetapi dia punya pemahaman begini: Quran itu diturunkan di kawasan yang tidak jelas. Gimana itu sebetulnya Quran itu turun? Tapi sebenarnya dia mengacu pada kawasan besar, yakni kawasan Arabia. Tapi Arabia sebelah mana? Dia meragukan itu. Ini cukup menarik untuk didiskusikan sebenarnya, tapi kenapa sampai ada statement seperti itu? Padahal dalam Quran toponim itu sangat begitu jelas. Misal nama lokasi, ya, nama lokasi yang disebut Makkah itu secara harfiah tertulis dalam Quran. Kemudian nama satunya lagi misalnya Yatsrib. Dalam Quran itu ada nama itu, Yatsrib, yang kemudian tatkala Nabi hijrah, nama kawasan itu disebut dengan sebutan Al-Madinah. Tapi nama awalnya itu adalah Yatsrib, dan itu terekam dalam Quran. Nama Makkah juga terekam dalam Quran, nama Bakkah juga terekam dalam Quran. Itu sangat spesifik sebenarnya. Memang tidak ada satupun dalam Quran disebutkan istilah Hijaz, tidak ada. Karena tidak ada penyebutan istilah Hijaz dalam Quran, sehingga para orientalis itu punya kesimpulan yang sangat terlalu gegabah. Kalau istilah Hijaz tidak disebutkan, berarti memang Alquran itu secara substantif tidak merujuk pada kawasan tertentu. Ini kan terjadi lompatan kesimpulan yang terlalu gagal. Padahal toponim kawasan Hijaz, istilah-istilah yang merujuk pada wilayah besar Hijaz, itu terdapat dalam Quran. Salah satu contoh yang tadi saya katakan, yakni Makkah dan Yatsrib, itu literal.
Masalahnya begini: apakah istilah Yatsrib dalam Quran atau istilah Makkah dalam Quran, eksistensinya itu baru muncul pada abad ke-7 Masehi? Kalau kita patokannya pada Alquranul Karim, memang itu diturunkan dalam konteks Islam, ya, tradisi Islam itu abad ke-7. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam itu lahir, disepakati oleh para sarjana tahun 571 Masehi. Kalau 571 Masehi masuk kategori abad ke-6. Tapi itu masih blank, blank dalam arti pewahyuan belum turun. Baru pada tahun 611, saat Nabi berusia 40 tahun, di situlah awal pewahyuan. Kalau 611 Masehi itu hitungannya abad ke-7 Masehi. Ini dari hitungan matematika, ya, 571 + 40 berarti 611, atau tahun 611 Masehi baru awal pewahyuan Quran sampai selesai. Ketika Nabi meninggal, wafat tahun 632 Masehi, itu kategori abad ke-7 Masehi. Dari konteks ini berarti memang pewahyuan Quran itu memang turun pada abad ke-7 Masehi. Nah, kalau terekam dalam Quran ada nama Makkah, apakah itu nama yang baru muncul, dipopulerkan pada abad ke-7 Masehi? Ini pertanyaan-pertanyaan kita semua. Kalau baru abad ke-7 Masehi, berarti ini kawasan yang tidak dikenal. Tapi jangan terburu-buru dulu, ya. Ini, ini, ini baru sok terapi dulu, ya. Baru. Kalau hanya tercantum dalam Quran kata nama kota Yatsrib, kemudian nama kota Makkah, eksisnya itu baru abad ke-7. Berarti sebelum abad itu, kalau hanya sendiri tidak dikenal, karena Quran diturunkan pada abad ke-7. Oke. Jangan terburu-buru. Ini saya masuk dalam pemikiran mereka, ya, pemikiran orang-orang orientalis. Bagaimana jawab kita? Bagaimana cara menjawabnya? Tentu dalam konteks ini kita tidak mungkin hanya mengandalkan Quran. Itu salah satu bukti, manusia diakui. Tetapi kalau tidak ada pembandingnya, maka kesulitan kita akan menjawab bahwa memang itu sudah eksis sebelum abad ke-7. Ya, bagaimana cara membuktikannya? Sekali lagi harus ada pembanding, dan saya kira ini mukjizat, kalau bahasa kita sebagai Muslim. Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak pernah menghilangkan barang bukti, nggak pernah. Makanya kalau dilihat di slide, itu, itu adalah peta. Sudah tahu semua, peta lembing itu adalah peta kuno yang dapat kita akses sampai hari ini. Peta Ptolemaeus. Nama lengkapnya adalah Claudius Ptolemaeus. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Ptolemy, atau lebih sederhana itu. Dia lahir tahun 100 Masehi, meninggal tahun 170 Masehi. Berarti ini diproduksi, peta ini dibuat dalam karyanya yang dalam bahasa Latin disebut Geographia, ya, itu tahun 150 Masehi. Tahun 150 Masehi itu masuk kategori abad ke-2 Masehi. Abad ke-2, sementara Islam tadi dalam konteks Quran itu abad ke-7 Masehi. Berarti ada jeda waktu berapa abad? 5 abad, 500 tahun. Jadi kalau kita jujur bicara, dan mereka pun harus tahu bahwa ini dokumen lebih tua daripada Islam secara historis, ya. Islam yang saya maksud di sini bukan dalam konteks teologisnya, tapi dalam konteks historis. Kalau dalam konteks teologis kita tahu Nabi Adam, Nabi Nuh, Ibrahim, dan semua itu Muslim, semua itu dalam makna teologis. Sementara kalau kita bicara dalam konteks historis, itu hadirnya Islam melalui risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam itu pada abad ke-7. Nah, saya bicara sejak awal tadi itu dalam konteks historis. Kembali pada penjabaran yang sudah saya sampaikan. Jadi ini dokumen abad ke-2, tepatnya dibuat tahun 150 Masehi. Ini adalah peta panduan yang dipakai oleh para ilmuwan Romawi. Kita harus tahu, Romawi zaman itu adalah Imperium besar, kekuasaannya itu bukan hanya kawasan Eropa, tapi sampai ke kawasan Arabia. Dan kawasan Arabia itu disapa dengan istilah Arabia Petraea. Yang ini istilah-istilah kunci sebetulnya, dan sudah terdokumentasi dalam tradisi Romawi abad ke-2, bahkan abad sebelumnya sebetulnya. Bukan hanya tradisi Ptolemaeus abad ke-2 Masehi, ada Strabo itu abad pertama sebelum Masehi. Ada lagi seorang sejarawan Yunani yang namanya Herodotus, abad ke-5 sebelum Masehi. Dokumennya itu sampai sekarang dapat kita akses. Tapi tentu saja bukan dalam bahasa Indonesia, tapi dalam bahasa Yunani. Berarti kita harus akrab dengan tulisan Yunani, kalau tidak mungkin kita bisa baca. Nah, sekali lagi ini peta abad ke-2 Masehi. Coba perhatikan di situ ada beberapa istilah yang dapat kita identifikasi, itu sebetulnya nama suku dan nama lokasi yang sering kita akrabkan. Nama-nama itu. Tetapi ketika kita crosscheck di sini, itu tervalidasi. Kita mungkin akrab, ya, dengan Sirah Nabawiyah, sudah diterbitkan oleh penerbit Al-Kautsar. Dengan buku itu, semua baru tersadar ternyata Sayyidah Hajar radhiyallahu anha itu bukan orang sembarangan, ya, bukan seperti yang dijelaskan oleh karangan awam. Bahkan bukan seperti yang dijelaskan oleh kalangan non-Muslim. Dia seorang budak dan sebagainya dan sebagainya. Ternyata dia adalah anak kandung atau putri Firaun itu sendiri, dan itu baru kita sadar dari buku Ar-Rahim, tulisan Al-Mubarakpuri. Itu risetnya membuka cakrawala kita. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bukan seperti yang kita bayangkan, sebagai keturunan, tapi orang terhormat. Di dalam buku itu juga ada identifikasi nama-nama tempat dan nama-nama suku dari kalangan keturunan Ismail, dan itu kalau kita konfirmasi dengan database. Kalau bicara mengenai nama tempat, itu ada kata yang saya beri tanda apa, lingkaran warna merah. Oke, itu tertulis nama Latipha. Dalam versi lain tertulis Ia-Tripa, dan itu merupakan bentuk Arab dari Yatsrib. Jadi lokasi yang mirip dalam bahasa Semitik mengalami proses hellenisasi, diadopsi untuk menggambarkan kawasan Timur melalui bahasa Barat. Dalam konteks ini, bahasa Latin dan bahasa Yunani. Kita harus mengakui bahwa potret Timur, dalam hal ini termasuk kawasan Arabia, itu selalu dapat kita konsumsi. Dokumennya itu dalam bahasa-bahasa Barat, karena yang memotret adalah orang Barat untuk bicara Timur, tapi ditulis dalam bahasa Barat. Sementara yang mengkonsumsi orang-orang Timur. Timur di sini kita harus paham dari teori yang digagas oleh Edward Said. Kita tahu Edward Said itu bukan Muslim, dia seorang Kristen Palestina, tapi pembelaan terhadap identitas Semitik begitu kuat. Bahkan dia menantang Barat, yang Eropa itu, yang Kristen itu, ternyata tidak dipahami sama seperti mewakili tradisi Timur Tengah. Meskipun dia Kristen, tetapi dalam semangat yang akademik, dan itu membuat Barat tidak bisa menjawab teori-teori itu. Yang judul bukunya adalah Orientalism. Saya kira sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Nah, kembali pada persoalan ini. Jadi nama-nama yang khas Semitik, yang contohnya yang bahasa Arab itu mengalami proses hellenisasi. Dan salah satunya adalah nama kawasan, itu adalah bentuk Arabnya adalah... kalau kita lihat ke bagian selatan sedikit, itu ada... ini nggak ada kursor. Nah, ini ada Macoraba. Oke, ini sebetulnya kalau kita identifikasi dalam tradisi Islam, ini tidak jauh beda. Dalam Quran memang tidak tertulis Makoraba, tapi tertulis Makkah. Tapi tradisi Eropa, tradisi Yunani menyebutnya adalah ekspresi bahasa Semitik yang mengalami proses hellenisasi. Saya karena istilah Makoraba apa? Itu sebanding dengan istilah India Raba dalam teks Targum Onkelos yang ditulis abad ke-1 Masehi, namanya Onkelos. Dan itu menjadi bagian dari tradisi Yahudi sendiri untuk menyebut kawasan India Raya. Itu menyebutnya dengan sebutan India Raba. Sementara untuk menyebut Makkah disebutnya dengan Makoraba. Karena istilah Makoraba itu adalah ekspresi bahasa Semitik, Makkah mengalami pergeseran dalam bahasa. Kalau India Raba itu adalah India Raya, sementara Makoraba adalah Makkah Raya. Kita tidak mengenal istilah itu. Tradisi Islam sangat tidak pernah akrab dengan istilah Makoraba. Yang akrab ya istilah keagamaan Makkah dan Bakkah, itu bahasa kita. Tapi kita harus cermati, dalam bahasa di luar tradisi kita menyebut eksistensi kawasan yang sama, ada, yakni Makkah apa, dan kawasannya secara apa. Itu ilmu geografi, jelas letaknya di sebelah selatan kawasan Yatsrib.
Ini baru satu atau dua contohnya nama kawasan. Yakni pertama, contoh yang kedua adalah kawasan yang disebut Koparfikus. Di sini, yang bagian Barat itu, kalau secara sederhana arti harfiahnya itu kawasan kota, dan di situ menunjukkan kawasan yang disebut sebagai kawasan Teluk sekarang. Benarkah di kawasan ini ada teluk? Jawabannya iya, tapi namanya bukan Koparfikus, tapi Teluk yang dalam bahasa keren sekarang jadi Teluk Aqaba. Gimana itu kawasan administratifnya? Tapi itu agak ke arah utara dikit, dan memang di situ ada Teluk-Teluk Aqaba, sebetulnya. Bukan Teluk Aqaba itu karena bahasa Inggris, ya, disebutkan. Ternyata dalam bahasa Latin, tanpa kita melihat bahasa tidak mungkin kita bisa mengidentifikasi secara tepat. Dan kita tahu ini baru kawasan-kawasan yang kita bisa identifikasi. Kemudian selain kawasan ada satu lagi misalnya ini, yang disebut sebagai Maraba Metropolis. Ini di kawasan agak Selatan, dan ini masuk kategori kawasan Yaman. Benarkah kalau Senin sampai sekarang dapat kita identifikasi? Iya, kita kenal namanya Ma'rib sekarang, dan dulu ditulis dengan istilah Maraba. Dan faktanya ya ada nama suku di sini, semua ada. Yang lupa satu kawasan lagi yang baru saja kemarin kita bincang-bincang di sini, ke arah timur, paling timur sekali, ya. Nah, ini yang saya tunjuk ini ada nama Katarah. Sekarang ini adalah negeri Qatar. Jadi kalau orang Qatar melihat peta ini, itu semakin merasa nyaman bahwa nama Qatar itu bukan nama yang asing dalam tradisi terdahulu sebelum era abad ke-7. Minimal dengan peta ini mereka sudah tahu, minimal abad ke-2 kawasan Katarah itu sudah dipotret dalam Imperium Romawi. Memang kalau kita lihat petanya di sini, ini tidak sempurna seperti zaman sekarang. Kalau peta sekarang itu apa, bukti-bukti secara garis bujur dan garis lintangnya sangat tepat. Kalau zaman abad ke-2 tidak secanggih zaman sekarang, jadi bentuknya ya tidak sempurna. Tapi minimal itu menjadi bukti bahwa nama Qatar sudah tersebut di sini. Qatar, jelas abad ke-2. Nama komunitas atau nama suku di sini ada suku, namanya suku Malik di kawasan... karena memang bahasa Eropa tidak begitu apa, kental dengan bahasa Semit, maka pemahaman dan sekaligus penulisannya ditulis dengan Islam. Bani Malik ini adalah suku keturunan Ismail, dan kita tahu Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam nasabnya sambung sampai ke Malik. Muhammad bin Abdullah. Kemudian kita lihat lagi misalnya di sini ada tertulis agak ke arah utara. Ternyata kita mengenal diri kita disebut Bani Sulaim, dan memang di kawasan dekat Madinah sampai sekarang Bani Sulaim. Tapi pelafalannya bukan Sulaim, tapi Salma. Dan ini bukan bahasa Yunani sebenarnya, dan juga bukan bahasa Latin, dan ini bahasa Semitik, khususnya Arab yang mengalami proses hellenisasi. Sama seperti bahasa kita. Bahasa Indonesia kan banyak menyerap istilah-istilah bahasa Arab, tapi mengalami penyesuaian dengan bahasa kita. Kemudian agak ke arah timur ada tertulis Ioli-sity. Ini jangan dibaca Ioli-fity, karena bahasa Latin itu menulis huruf S itu seperti huruf F, F, F. Tapi tidak boleh dibaca huruf F, tapi dibaca huruf S. Karena kalau kita lihat sampai dokumen abad ke-16, cara menulis huruf U itu seperti huruf V. Jadi huruf U itu bentuknya huruf V, huruf S itu bentuknya seperti huruf F. Jadi jangan sampai keliru cara baca. Nah ini kaitannya dengan nama ini ada Bani Ilyas, Yolis. Kemudian kita lihat di arah ke Utara dikit ada tertulis Asaten. Ini, ini yang dalam bahasa kita menyebut adalah Bani Asad. Jadi Bani Asad, Bani Ilyas, Bani Malik, ya. Ini semua adalah keturunan dari Ismail, semua masih terdokumentasi abad ke-2 Masehi. Bahkan penguasa, Raja Qatar sekarang itu dari Bani Tamim, betul. Bani Tamim itu keturunan Ismail juga. Coba lihat di sini, lihat setelah Qatar, Katarah Utara, di situ tertulis apa, Bani... teridentifikasi semua. Jadi ada Bani Tamim disebut Temi, kemudian Bani Ilyashite, Bani... ini semua adalah suku-suku keturunan Ismail. Kemudian Bani Malik ditulis Maliki, Bani Sulaim, Salma. Di sini tertulis ada lagi yang agak ke arah selatan dikit dari kota Makoraba tertulis Cassanity. Cassanity dalam bahasa Yunani disebut Kais, dalam bahasa Latin disebut Cassanity. Ini ternyata Bani Qais. Jadi semua terdokumentasi di sini. Bahkan kita kenal ada satu tokoh, nama belakangnya itu Al-Qastani, Qastani. Di mana itu? Coba lihat di sini ada tertulis kata Niti. Kata Niti itu adalah Bani Qahthan. Karena begini ya, dalam linguistik, huruf Kaf dalam bahasa Latin itu selalu diekspresikan, diganti dengan huruf C, tapi dibacakan jadi K. Kais, Cassanity, Qatar, Katarah, bergeser menjadi huruf C tapi dibaca K, ya. Ini baru tiga hal, belum lagi kajian yang lain. Ini kalau kita menggunakan teori Swadesh, kita akan tahu dari kaitannya dengan linguistik untuk mengidentifikasi istilah-istilah yang bergeser dari tradisi lain, bagaimana bentuknya itu bisa dikaji. Dan saya kira ini satu-satunya bukti abad ke-2 Masehi yang mengkonfirmasi kebenaran Quran, kalau kita merujuk pada nama Latipha dan nama Makoraba dalam kawasan yang disebut Hijaz. Sekali lagi nama Hijaz memang tidak disebutkan di peta ini, nggak ada. Di Quran pun juga nggak ada. Tetapi toponim kawasan dari wilayah besarnya Hijaz terdokumentasi dalam Quran dan dokumentasi di kawasan ini. Oke, kita lanjut ke sini. Nah, itulah sebabnya William Smith yang hidup pada abad ke-18 Masehi mengkonfirmasi bahwa nama Makoraba itu sebenarnya kawasan yang berada di wilayah yang disebut Arabia Felix. Yang menurut Ptolemaeus, dia sebutkan, menurut Ptolemaeus itu diletakkan di garis bujur atau garis lintang angkanya itu ya ada 73, 22. Dan memang ini mengacu pada kawasan modern sekarang yang dikenal dengan nama Makkah atau Mekkah. Jelas bahwa abad ke-18 Masehi, abad ke-17 Masehi, abad ke-16 Masehi, abad ke-15 Masehi sampai ke abad ke-2 Masehi, semua sepakat, tidak ada satupun pakar ahli yang menyebut Makkah bukan Makoraba. Kalau bahasa anak muda sekarang apa istilahnya? Taruhannya jadi jangan di mana yang negatif ya, maknanya positif, bertaruh. Tolong tunjukkan satu orang yang hidup pada abad ke-2 sampai abad ke-18 Masehi yang menyebutkan Makkah bukan Makoraba. Kalau bisa tunjukkan satu orang saja, hadiahnya Mercy misalnya, begitu. Ini tantangan, challenge, bahwa sejak abad ke-2 dari dokumen ini ada gangguan. Jadi sejak abad ke-2 sampai abad ke-18 tidak ada satupun ahli, tidak ada satupun tulisan yang menyebutkan bahwa Makkah bukan Makoraba. Semua sepakat. Kalau bahasa sekarang menyebutnya konsensus akademik, kesepakatan. Semua baru muncul pada abad ke-20 Masehi yang menyatakan Makkah bukan Makoraba. Itupun bukan akademisi, tapi apology itu apa? Dari kalangan mana? Misionaris. Jadi misionaris abad ke-20 baru punya wacana menggusur wacana lama bahwa Makkah bukan Makoraba. Bahkan ingat pernah baca dokumen itu, pernah ya kayaknya baru satu yang baca, yang lain belum pernah bacakan. Ini, ini fakta riil. Jadi sebetulnya kalau merujuk pada dokumen para akademisi, tidak ada satupun yang mengatakan Makkah bukan Makoraba atau Latipha bukan Yatsrib. Tidak ada satupun. Baru era kekinian saja yang menyebut, hanya hitungan jari saja, itupun bukan akademisi, tapi misionaris yang mengatakan Makkah bukan Makoraba. Kenapa kalau itu mereka antusias dan sekaligus memperkenalkan bahwa Makkah itu bukan Makoraba? Kalau dikatakan Makkah itu adalah Islam itu, maka mereka berjuang untuk mematahkan argumentasi Makkah. Tapi mereka lupa, meskipun dikatakan Makkah bukan Makoraba, ternyata Makoraba letaknya di sebelah selatan dari Makkah. Jadi ini contoh sedikit dari aspek nama kawasan, ya. Kemudian kita beralih ke sini. Ini poin yang kedua. Ini dokumen tradisi Islam, ya, mengatakan haditsnya ada di Kitab Shahih Muslim. Sesungguhnya Allah telah memilih orang yang bernama Kinanah dari antara keturunan Ismail, dan memilih Quraisy dari antara keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari antara keturunan Quraisy, dan memilih aku, kata Nabi, dan Allah memilih aku dari antara keturunan Bani Hasyim. Ini adalah dokumen Islam. Kalau ini dibaca dari perspektif eksternal, di luar Islam, mereka pasti berkata itu kan klaim sepihak, ya. Memang betul, ini dokumen Islam, boleh dikatakan claim, tapi masalahnya ini bukan sekedar klaim sepihak, ada validasinya. Validasi ini tentu saja di luar dokumen Islam, dan kita harus akrab dengan itu. Masalahnya anak muda sekarang, anak muda sekarang cukup dengan Quran dan hadis selesai. Kalau dari sisi keagamaan, Quran hadis itu memang harus kita pelajari, tapi kalau saya melihat anak-anak muda sekarang, kalau hanya sekedar puas dengan itu, kita nggak bisa bicara kepada orang luar. Orang luar itu kalau hanya suguhannya Quran hadis itu, maka perlu ada ketajaman analisa, dan itu harus dokumen-dokumen yang seperti saya suguhkan tadi, ya. Oke, kalaupun ini dianggap sepihak, pada akhirnya ini bukan menjadi klaim sepihak lagi, tapi menjadi kesepakatan bersama, tentu dengan menghadirkan dokumen di luar tradisi Islam. Ringkasnya di sini nama Quraisy muncul, ya, nama Quraisy muncul, dan ada kaitan bahwa suku Quraisy itu dikenal bukan hanya pada abad ke-7. Di Quran muncul surah itu, ya, dan seterusnya dan seterusnya. Nama suku itu, tapi masalahnya ini kan baru tercatat di dokumen abad ke-7. Bisa nggak hadirkan dokumen selain abad ke-7? Ini bukan perkara mudah, dan kita harus akrab itu. Dan ada nggak di luar dokumen Islam menyebutkan itu? Potong kompas saja sebetulnya nama Quraisy sudah tercatat pada dokumen abad pertama sebelum Masehi. Bukan satu Masehi, sebelum Masehi. Cuma kalau saya bicara panjang lebar nanti nggak selesai, karena saya harus... Oke, ini saya tunjukkan dokumen di luar tradisi Islam, dan ini tertulis dalam bahasa Arab. Yang bagian atas awal ini tertulis Kali Sahmar Marcus Elitia al-ur. Jelas di sini ini merupakan gereja Marc, Markus dari Kekristenan. Bukan oleh orang sembarangan, gereja tertinggi di Mesir, namanya adalah selevel dengan Syekh Al-Azhar, selevel ya, karena pemimpin detik ini menarik bukan transparan. Coba perhatikan di sini, ini kajiannya adalah tafsir. Jadi tafsir Kitab Kejadian. Kalau saya sebut Kitab Kejadian di sini, paham? Paham? Kalau ada yang geleng-geleng kepala berarti nggak paham. Sepertinya di sini nggak ada yang namanya kajian bukan kristologi, kajian atau studi agama-agama. Betul? Di sini ada nggak studi agama-agama? Belum. Nah, itu masalah kita. Lebih merasa zona aman dengan kajian Quran, kajian Hadis. Sebelumnya nggak salah, itu tidak salah, cuma kurang lengkap. Karena keislaman itu bukan sekedar memantapkan iman, tapi keislaman itu bagaimana keislaman itu ditampilkan dalam konteks peradaban. Kalau peradaban berarti bisa dikonfirmasi dong dengan dokumen-dokumen ini, berkaitan dengan tafsir Sihir Kawin, tafsir Kitab Kejadian. Kitab Kejadian itu akrab dalam tradisi Kristen, ya. Kita kejadian, kita keluaran, Kitab Imamat, Kitab Bilangan, Kitab Ulangan, Kitab Yosua, Kitab Hakim-hakim, sampai nanti kita Malaysia itu Kitab Perjanjian Lama. Kita Perjanjian Baru, Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas, Injil Yohanes, Kisah Para Rasul, Surat Paulus Jemaat di Roma, Surat Paulus kepada Jemaat Efesus, Surat Paulus kepada Jemaat Korintus 1, Surat Paulus kepada Jemaat Korintus 2, Surat Paulus kepada Tito, Surat Paulus kepada Jemaat di apa, Filipi, sampai pada Surat Paulus kepada orang-orang Ibrani. Kemudian diikuti dengan Surat Petrus 1, Surat Petrus 2, sampai Surat Yakobus, sampai yang terakhir nanti Surat Yohanes kepada eh, Wahyu kepada Yohanes, yang terakhir itu semua masuk kategori Alkitab, Al-Muqaddas, atau sementara dibagi dua, Perjanjian Lama, Perjanjian Baru. Yang paling awal itu disebut Kitab Kejadian. Nah, ini kebetulan Arabnya disebut Kitab Takwin. Nah, ketika menjelaskan nama-nama keturunan Ismail disebutkan ayatnya Mawali di Ismail, ini anak-anak keturunan Ismail. Siapakah anak-anak keturunan Ismail itu? Disebutkan Ismail dan seterusnya. Ada 12 anak Ismail yang paling tua disebut Nebayo. Kalau kita baca tulisan dari Ibnu... bukan judulnya Sirah Nabawiyah, itu hanya pelafalan, tapi maksudnya adalah Ismail, anak tertua dari Ismail. Coba perhatikan di sini, ketika menyebut Nabi Ismail kemudian disebutkan Kedar. Nah, coba perhatikan yang ada tanda kuning itu, disebutkan nama Kedar. Di sini ada sesuatu yang menarik, ternyata Kedar keturunan Ismail dari Kedar itu disebutkan apa, dari keturunan Kedar itu muncul suku Quraisy. Artinya Quraisy itu keturunan Kedar, Kedar keturunan Ismail, Ismail keturunan... dan anehnya kita sendiri nggak akrab, sebetulnya nggak akrab dengan ini. Yang kita tahu pokoknya Quraisy is my, padahal itu salah satu dari keturunan. Bahkan yang lebih aneh lagi, kalau saya tanya mana yang betul nama Abahnya Ismail itu Ibrahim atau Abraham? Jadi nama yang betul, nama beliau itu Ibrahim atau Abraham? Saya kan berhak untuk bertanya karena bidang saya adalah kebahasaan, bidang linguistik. Kalau saya bertanya kepada siapapun, termasuk kepada yang Muslim atau kepada yang Nasrani, nama yang betul, nama dia yang betul itu namanya siapa? Nasrani pasti berkata yang betul adalah namanya Abraham. Kalau saya tanya kepada yang Muslim, kira-kira yang betul namanya siapa? Ibrahim. Hanya dua alternatif itu, ya, Abraham atau Ibrahim. Padahal tradisi kita itu kuat sekali, kita akrab, cuma tidak... kalau bahasa sini apa yang bukan... bukan tidak sadar, ya. Tolong terjemahkan sendiri, mudah-mudahan yang pemirsa paham maksud saya. Jadi nggak... kita kenal yang namanya qiroah. Qiroah itu adalah satu ilmu yang penting dalam mempelajari Alquran, terutama dalam masalah pembacaan Alquran. Yang bukan satu bacaan, tapi banyak bacaan, varian bacaan, tapi semuanya benar dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, karena sifatnya Mutawatir. Misalnya yang kita akrab, waktu saya di Maroko itu orang jarang, itu bahkan tidak pernah membaca ayat Quran begini: Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirobbilalamin, Ar-Rahmanirrahim, Maliki yaumiddin. Ndak ada baca Maliki yaumiddin, itu bacaan riwayat, sementara mereka membaca dengan bacaan riwayat Wars. Jadi emaknya pendek, bukan panjang. Dibaca di dalam salat boleh, di luar salat boleh. Nah, bicara mengenai Ibrahim tadi, ya, kita pasti bacanya begini: surah Al-Baqarah ayat 127, kita membacanya yang ngomong Ibrahim. Tapi bacaan yang lain boleh dibaca: Ibrahim. Pertanyaannya, saya, yang betul itu bacaannya Ibrahim atau Ibrahim? Dua-duanya betul. Padahal sama-sama bahasa Arab, tapi dialeknya boleh pakai Ibrahim, boleh pakai Ibrahim. Di sinilah kalau dikaji secara linguistik ketemu bahwa bahasa Ibrani itu Abraham. Ini dialek Bani Temoni, ya, menjadi Abraham. Sementara bahasa Ibrani Abraham, sementara bahasa Arab Ibrahim, Ibrahim. Jadi yang betul nama beliau itu Ibrahim atau Abraham. Ini penting. Kenapa? Karena kita tahu bahwa ini bukan sesederhana yang kita pikirkan. Ini melintas batas tradisi agama, ini melintas batas zaman, ini melintas batas bahasa. Maka tidak salah bilang di sini yang versi bahasa Arab Alkitab, Al-Muqaddas, yang muncul nama Ibrahim, Ismail, ya kan? Ini Ibrahim ini adalah anak-anak keturunan Ismail, putra dari... tapi yang penting dokumen gereja Koptik mengakui bahwa Quraisy keturunan Ismail. Dan kita menyebutkan bahwa Nabi kita Shallallahu Alaihi Wasallam keturunan Quraisy, keturunan Ismail. Pertanyaannya kenapa nama Nabi kita nggak disebut di sini? Kenapa, ya? Karena memang dokumen ini belum eksis pada zaman Nabi Muhammad lahir, jelas. Tapi mereka tahu bahwa Quraisy keturunan Ismail. Nah, yang lebih aneh lagi, ini dokumen abad pertama Masehi nya, ketika menyebut Qadar. Kalau bahasa Ibraninya begini... nah, ini disebut anak-anak Ismail sesuai nama-nama mereka. Disebutkan apa, tertua dari Ismail itu... dan juga Kedar itu disebut dengan nama... kita menyebutnya Arab, khusus, spesial, keturunan kita disebut... dokumen abad pertama, Islam belum ada dalam arti Islam, risalah Nabi terakhir Shallallahu Alaihi Wasallam belum eksis pada abad ke-7. Tapi dokumen abad ke-1 disebutkan... Ain race bed RF. Kalau bahasa Arabnya Ayin tuh, Ain race itu rak... [Musik] apa bacaannya? [Musik] Nah, ini yang terakhir, ya. Di sini muncul istilah Moamet. Ini bahasa-bahasa Latin, ya. Maksudnya Nabi Muhammad, keturunan orang Saracen. Kalau menyebut Saracen ini... ini bahasa akademik sebenarnya, mungkin sudah tahu atau belum. Ini adalah istilah yang hanya dinisbatkan pada keturunan Ismail, tidak kepada yang lain. Karena Ismail itu punya dua ibu, yang pertama dia keturunan Hajar. Dalam tradisi Latin atau Yunani disebut Hagarene, keturunan Hajar. Tapi juga disebut Saracen, Sarakene, keturunan Sara. Kenapa disebut keturunan Sara? Karena begini, tradisi Yahudi itu bila istri pertama tidak punya keturunan, Sayyidah Sarah radhiyallahu anha itu kan tidak punya keturunan awalnya dalam kitab tradisi apa, Taurat. Orang Yahudi pun paham, bila tidak punya keturunan, dia bisa mendapatkan keturunan dari yang lain, tapi diakukan pada yang pertama, dilakukan tahu ya, maksudnya diakukan, dinisbatkan bukan secara biologis, tapi secara hukum, secara hukum. Jadi makanya di dalam Kitab saudara kita kaum Nasrani, dia bilang: ambil Sara, wahai Ibrahim, untuk menjadi istrimu, dari dia aku dapat keturunan. Itu ucapan Sara, dan Ibrahim melakukan itu, menikah dengan Hajar supaya nanti Sara bisa dapat keturunan dari ini, secara hukum. Jadi dari dia aku dapat keturunan. Yang ngomong Sara, begitu, di dalam Kitab tradisi. Jadi dia punya dua apa, ya, dua gelar, Hagarene dan Sarakene. Artinya keturunan Sara sekaligus keturunan Hajar. Tapi secara biologis keturunan Hajar. Oke. Nah, makanya di dalam tradisi Kekristenan sejak abad keberapa ini... ini abad keberapa kalau dia meninggal tahun 818, sezaman dengan zamannya... ini coba perhatikan Ibnu Hisyam wafat tahun 833 Masehi. Ini Theophanes 818 Masehi, lebih tua mana? Ini menyebut nama Muhammad, tapi di sini dia bilang keturunan Ismahelis melalui siapa? Nizarus, Nizar. Kemudian melalui siapa lagi? Mudhar, keturunan Qurasum. Siapa itu Qurasum? Padahal itu Ibnu Hisyam. Bahkan sebelum Ibnu Hisyam diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Al-Kautsar, luar biasa. Dokumen Islam itu... hanya masalahnya kita ini nggak... kalau bahasa kita tadi... Nah, itulah sebabnya. Jadi ini dokumen dari Ibnu Hisyam, yang dalam bahasa Arabnya muncul kata apa itu? Mudhar, ini ya, Mudhar, ini Nizar, bahkan Ilyas disebut tadi di peta, luar biasa. Saya punya pemahaman begini, Ibnu Hisyam itu bukan sekedar tokoh historis dalam kalangan Islam, tapi dia mewarisi keilmuan pada masa era pra-Islam, sebelum abad ke-7. Karena kita tahu Ibnu Hisyam ini... coba lakapnya kita lihat, Al-Hibyari di kawasan mana? [Musik] Inskripsi-inskripsi yang ditulis dengan bahasa Arab kuno sampai sekarang masih ada, dan orang-orang sana akrab dengan tradisi itu sebenarnya. Jadi tidak, tidak salah pilih bila muncul seorang tokoh sejarawan era abad keberapa tadi, ke-8, menyebutkan nama-nama yang sama seperti yang termaktub dalam inskripsi-inskripsi. Luar biasa. Cuma masalahnya siapa yang mau mempelajari kayak begini? Paling kita semua ini hanya puas dengan belajar kitab, setelah itu selesai. Yang lainnya coba... kalau ini kita bahas dari peta kuno, kemudian tulisan Bapak gereja era-era awal, semakin membuat kita ini bukan sekedar beriman, tapi beriman dengan benar. Jadi bukan sekedar beriman, tapi bernalar, mempertanggungjawabkan iman itu kepada komunitas di luar Islam, lebih bisa diterima. Saya kira itu dulu ya. Nah, ini perbandingannya supaya gampang. Jadi Santo Theophanes itu menyebut nama-nama ini: pertama, Abrahai, Abraham. Saya mau tanya, pernah nggak ada informasi dalam Alquran... [Musik] mengenai turunnya ayat bahwa Mekkah itu diserbu? Asbabun nuzulnya berkaitan dengan penyerbuan Mekkah, ada nggak? Cuma masalahnya apakah itu bisa dibuktikan secara historis? Iya, ada nggak dokumen-dokumen? Dokumennya ada, inskripsinya tercantum di Yaman, namanya tetes Abrahah. Tapi Abrahah itu sebetulnya nama apa? Ternyata nama Abrahah itu adalah bahasa Koptik, eh sorry, bahasa Amharik, bahasa Sayyidina Bilal radhiyallahu anhu. Karena orang-orang Amharik, orang-orang Ethiopia itu nggak bisa ngomong Abraham. Jadi huruf M-nya itu hilang, jadi Abraham. Jadi kalau menyebut Abraham menjadi Abrahah. Dan nama ini kemudian diwariskan pada generasi berikutnya, ya tetap namanya apa? Padahal itu maksudnya ya sama dengan Abraham namanya, ya, bukan tokohnya, namanya dan deskripsinya ada, bahkan sebelum Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dilahirkan, deskripsinya itu sudah tertulis. Cuma sayang, inskripsi-inskripsi itu belum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Ada nggak keinginan untuk menerbitkan itu? Penting ya, terutama untuk kampus-kampus, itu penting. Nah, sekali lagi ini Abrahah itu maksudnya Abraham, Ismahelis itu maksudnya Ismail, Nizarum itu maksudnya Nizar, Mudharum itu maksudnya Mudhar, Quraisy, Kais itu maksudnya Qais, Muhammad itu maksudnya Muhammad. Dan nama-nama ini muncul dalam dokumen Bapak gereja yang bernama Santo Yohanes sebelum eranya Ibnu Hisyam. Jadi dokumen kita ini sebetulnya terlambat penyusunannya, tapi itu berkah terlambat itu. Kenapa? Karena tidak ada alibi bahwa dokumen gereja menjiplak dokumen Islam. Karena dokumen gereja sudah lebih awal, ya. Kalau seandainya dokumen Islam lebih awal, kemudian dokumen gereja bicara hal yang sama, mereka bisa beralibi: oh, Bapak gereja itu menjiplak dokumen Islam, hanya bicara meniru dokumen Islam. Tapi faktanya kebalik kan, dokumen gereja lebih awal, dokumen Islam datang belakangan, dokumentasi untuk mengkonfirmasi. Jadi nggak ada alibi lagi, ibarat orang itu bersuara sudah kita bungkam lisannya. Oke, saya kira demikian, ya. Mudah-mudahan bermanfaat. Sudah, saudara waktunya nggak bisa ditoleransi lagi. Baik, ada yang mau tanya? Terima kasih, Ustad. Manajemen ini luar biasa, ya. Kita bisa dari... kan bahwa apa, ya, pembelajaran kita terhadap Alquran dan Sunnah itu tidak cukup, memang perlu pembelajaran dan penelaahan kita terhadap dokumen-dokumen yang lain. Baik, kita buka sesi tanya jawab ya, untuk teman-teman sekalian yang offline dulu. Nanti mungkin akan kita bacakan dari sisi online-nya jika ada. Baik. [Musik] Terima kasih.
Saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Abdurrahman Addahil. Saya masih mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Arab UIN Jakarta. Saya tertarik dengan diskusi kali ini karena membahas di kajian filologi. Berhubung juga saya sedang mengkaji filologi untuk skripsi saya, jadi saya melihat tema pagi hari ini itu merasa seperti ada asupan baru. Karena di lingkungan kampus yang saya teliti saat ini di bawah bimbingan Profesor Oman Fathurrahman, beliau lebih sering membahas manuskrip tentang sufistik ataupun kebahasaan yang lain. Sedangkan studi agama-agama ini... ini baru pertama kali saya mengetahui apa, ternyata ada juga yang script yang konsen terhadap itu dan membandingkan dengan script dari agama lain. Yang ingin saya tanyakan, ketika misalnya Hijaz tidak disebutkan secara eksplisit dalam baik itu manuskrip ataupun peta dan Alquran, nah seperti halnya tentang sufistik yang tadi saya sebutkan di awal, karena saya lebih banyak diberikan asupan materi oleh Profesor Oman Fathurrahman tentang kajian-kajian sufistik atau tasawuf. Apakah ada istilah statistik sufistik dalam kajian manuskrip pra-Islam? Karena kan sufistik ini hadirnya pasca Islam, atau Islam itu datang. Nah, apakah ada dokumen manuskrip yang menjelaskan tentang itu? Karena saya melihat telah di sini itu hal-hal yang sesuai dengan pra-Islam. Jadi ada istilah yang belum diketahui sebelum Islam itu lahir. Itu yang mungkin menjadi kegelisahan saya. Baik, terima kasih.
Kajian linguistik itu sebetulnya basic. Jadi kajian linguistik itu, itu sebetulnya mau bahasa apapun, dengan teori linguistik itu hasilnya sama, hasil yang sama, tidak mungkin tidak. Dan kalau bicara linguistik itu ada perangkat keilmuan yang harus dipelajari sebagai disiplin ilmu. Apalagi kalau ini bicara mengenai linguistik diakronis. Kalau linguistik secara sinkronis, maksudnya mempelajari bahasa era sekarang itu kan cukup kita wawancara orang, ya. Misalnya begini: saya kepingin tahu bahasa orang Arab di Indonesia itu jah-nya