📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Kitab Manhaj dan Aqidah 1 | USTADZ ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT حفظه الله تعالى

MAKTABAH MU'AWIYAH BIN ABI SUFYAN1:31:49

Transcription

Baiklah, kajian kita dari sebuah kitab yang sangat sederhana. Saya tulis dengan judul kitab "Manhaj dan Akidah: Kumpulan Hadis-Hadis Sahih," yakni umumnya sahih lizzatihi. Insya Allah, di dalamnya ada hadis sahih lihairihi, hadis Hasan lizatihi, dan hadis Hasan lihairihi.

Antum bisa membacanya karena saya sedikit berbicara tentangnya dari sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dalam bab-bab mengenai manhaj dan akidah. Ada 140 bab dan 321 hadis. Barang siapa yang memilikinya kitabnya, dia bisa membacanya.

Apa yang dimaksud dengan Manhaj? Manhaj, kalau secara arti bahasa, artinya at-thariqul wadiih al-bayyin, yaitu satu jalan yang terang, yang nyata, yang jelas, dan mudah. Yakni metode, cara, dan sikap secara syariah. Menurut istilah syariah, Manhaj adalah sunah, yakni sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang kemudian diterapkan, dipraktikkan, diamalkan, dan didakwahkan oleh para sahabat.

Karena setiap Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam yang Allah utus pasti membawa Manhaj. Sunah tidak dapat tidak. Musa ada manhajnya, ada sunahnya. Demikian juga Isa dan nabi-nabi yang sebelumnya. Jadi, Manhaj itu sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang didakwahkan dan diamalkan oleh Rasul, yang kemudian diamalkan dan didakwahkan oleh para sahabat.

Barangkali Antum ingat hadis, "Faalaikum bisunnati wasunnati al-khulafa Rasyidin al-mahdiin adu alaiha." Hendaklah kamu berpegang dengan sunahku dan sunahnya al-khulafa ar-Rasyidin. Peganglah. Ini menunjukkan tidak ada dua sunah, satu sunah. Karena Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak bersabda adu alaihima. Tidak pegang, tidak ada satu.

Karena yang diamalkan, dipraktikkan, dan didakwahkan oleh al-khulafa ar-Rasyidin serta para sahabat secara keseluruhan adalah sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Adapun dalil tentang Manhaj itu, kewajiban bermanhaj itu dari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Saya akan bawa dari ayat Al-Qur'an dalam surah Al-Maidah ayat 48: "Wa anzalna ilaikal kitaba bilhaqqi." Dan kami turunkan kepadamu Alkitab, yakni Al-Qur'an, dengan benar dan membawa kebenaran. Musaddiqan lima baina yadahi minal kitabi, yang Al-Qur'an itu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya yang ada di hadapannya, dari kitab Taurat dan Injil.

Kitab Taurat diturunkan kepada Musa, dan Kitab Zabur diturunkan kepada Daud. Kitab Injil diturunkan kepada Isa alaihimatu wasalam. "W muhaiminan alaihi," dan sebagai penjaganya. "Fahkum bainahum bima anzalallah," hukumlah mereka, yakni adilah mereka di antara mereka dengan Al-Qur'an yang Allah turunkan.

"W ahwaum amma jaak minal haq," jangan kau mengikuti hawa-hawa mereka. Ini faedah yang besar bahwa kita beragama berjalan bersama hidayah dan cahaya Al-Qur'an, bukan dengan hawa, bukan dengan hawa nafsu, mengikuti kebanyakan manusia, tradisi, dan lain sebagainya yang masuk dalam ahwaahum.

Jangan dilarang Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam mengikuti hawa nafsu kemauan mereka, baik ahli kitab dari Yahudi maupun kaum musyrikin. "Amma jaak minal haq," atas apa yang telah datang kepadamu dari kebenaran. Kebenaran telah datang kepadamu.

Dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Alhaqbika fala takun minal marj." Yang hak itu dari Rabbmu, maka jangan sekali-kali engkau menjadi orang-orang yang ragu. Baru kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Likinn ja'alna minkum wa minhaj." Bagi masing-masing dari kamu, para nabi dan rasul, kami berikan syariat dan minhaj.

Manhaj, yaitu sunah. Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma menafsirkan syiratan wa minhajan. Ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Jarir at-Thabari di tafsirnya, tafsir dengan sanad. Karena setiap riwayat itu harus ada sanadnya. Kalau tidak ada sanadnya, dikatakan la aslahu, tidak ada asal usulnya.

Ini kekhususan umat ini, syiratan wa minhajan. Jadi, pembicaraan mengenai manhaj itu berdasarkan nas Al-Qur'an dan kesatuan di dalam agama. Karena nabi dan rasul yang Allah utus itu mempunyai manhaj. "Likullin ja'alna minkum syiratan." Bagi masing-masing kamu, kami berikan syiratan wa minhajan.

Musa bersama umatnya ada syariatnya dalam Kitab Taurat dan ada sunahnya. Manhajnya Musa yang wajib diikuti oleh umatnya. Sampai nabi yang terakhir, Nabi Muhammad alaihiatu wasalam, syariat yang Allah berikan, Allah turunkan lengkap. "Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kucukupkan nikmatku kepadamu dan aku R Islam sebagai agama bagimu."

Jadi, diutus Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dengan membawa syariat yang lengkap dan sempurna merupakan sebesar-besar nikmat Allah Tabaraka wa Ta'ala. Yang kemudian setelah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam wafat, maka manhaj Rasul ini didakwahkan dan diamalkan oleh para sahabat radhiallahu anhum.

Terkenallah dengan manhajus sahabah. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam telah menetapkannya. "Itu irunas qniina." Manhaj sahabah itu, itu manhajur Rasul ini, dan pasti hak benar adanya. Karena itu, di kitab ini, Antum bisa buka pada halaman 769, bab 121. Saya memberikan judul bab "Kebenaran Manhaj Salaf."

Karena dikatakan Salaf itu sahabat dan dua generasi yang mengikutinya. Generasi pertama orang-orang yang pertama kali mengikuti sahabat adalah tabi'in, kemudian diikuti oleh tabi'ut tabi'in. Ketuanya kaum Salaf itu adalah sahabat.

Orang-orang yang pertama kali mengikuti para sahabat adalah tabi'in. Antum bisa melihat di dalam surah At-Taubah ayat 100: "Wasabiquunal awwaluna minal muhajirina wal ansar." Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama.

Yaitu huruf "Min" di sini li bayanil jins, bukan "Min" dalam arti sebagian, sebagaimana dipahami oleh sebagian manusia. Salah, tapi huruf "Min" di sini minal muhajirina wal ansar li bayanil jins sebagai penjelasan siapa asabiquunal awwalun, yaitu almuhajirin wal ansar.

Sama seperti ayat, "Innal-ladzina kafaru min ahlil kitab wal musyrikina fi nari jahannam khalidina fiha." Ulaika hum sarrul bariyah. Innal-ladzina kafaru min. Tidak bisa terjemahannya di antaranya li bayanil jinsi. Siapa orang-orang yang kafir itu, yaitu Ahlul kitab wal musyrikin, dan seterusnya.

Begitu juga huruf "Min" di sini, karena ayat ini menjelaskan keutamaan, kebesaran, ketinggian para sahabat, seluruh para sahabat almuhajirin. Jadi, huruf "Min"nya bukan huruf artinya sebagian.

Kalau kita terjemahkan bahasa Indonesia, mungkin ya, itu penjelasan untuk penjelasan dari jenis siapa ini asabiqu aalun, yaitu almuhajirin, orang-orang yang pertama yang mengikuti mereka. Dan orang-orang yang mengikuti mereka, mereka di sini tentu almuhajirin wal ansar. Radhiallahum Allah meredai mereka dan mereka pun r kepada Allah.

Jha Allah sediakan untuk mereka surga-surga, menunjukkan bahwa Jannah telah ada sekarang, telah diciptakan jauh sebelum Allah menciptakan manusia. Demikian juga anar jahannam yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan mereka kekal di dalamnya abadan, selama-lamanya. "Zikal fauzul azim," itu kemenangan yang besar.

Ya, berarti nama asalaf merupakan kemuliaan dan menyandarkan diri kepada kaum Salaf itu merupakan kemuliaan. Karena itu, kita harus menjaganya. Benar, orang-orang yang mengikuti mereka, kaum Salaf, dinamakan Salafi. Itu bukan nama yang aib, yang cacat, bukan nama yang buruk, tapi nama yang mulia.

Maka hendaklah kita menjaga dan memeliharanya, karena kita menyandarkan sesuatu kepada generasi yang Allah sebut di sini, generasi yang besar. Jadi, tidak salah, bahkan utama, menyandarkan kepada kaum Salaf.

Ini ayatnya. Kita bukan kaum Salaf, tapi kita menyandarkan, menisbahkan, mengikuti mereka. Karena, "Dan orang-orang yang mengikuti mereka dari zaman ke zaman, di timur dan di barat bumi, dari orang-orang awam sampai orang-orang alim hingga hari kiamat."

Semoga rahmat Allah tercurah kepada mereka. Nah, berarti manhaj salaf, manhaj yang hak, wajib hukumnya. Itu manhajur Rasul. Tadi ayatnya, Antum sudah tahu, dan ayat yang lain lagi panjang.

Kalau saya bicarakan ini, kita magribnya di sini kan.30 ya. Ah, lihat ini ayat. Hadis saya bawakan di hadis nomor 284.

An Abi Hurairah radhiallahu Anhu, dari Abu Hurairah radhiallahu Anhu, an rasulillahi Sallallahu Alaihi Wasallam. Dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Tidak akan tegak, yakni tidak akan terjadi hari kiamat, hattaqtulul yahuda." Sampai kamu memerangi Yahudi.

"Yahudiu ya muslim, hza yahudiun war faqtulhu." Sahih, rawahul Bukhari wa Muslim. Sehingga batu berkata, "Di mana Yahudi bersembunyi di belakangnya, Hai muslim, ini Yahudi bersembunyi di belakangku, bunuhlah ia." Ini akan terjadi nanti pada akhir zaman.

Hadis sahih. Siapa yang memeranginya? Kamu. Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam berfirman, "Tuqatilu kamu pada zaman sahabat." Pada zaman Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam terjadi perang dengan Yahudi. Yahudi dikepung ketika berkhianat di perang Ahzab dan sebelumnya Bani Nadir dan Bani Qayunqa diusir oleh Rasulullah.

Sekarang berkhianat juga. Begitulah selalu Yahudi. Selesai perang Ahzab, beliau memerintahkan dan beliau diperintah oleh Jibril, dan tentu Jibril diperintah oleh Allah Tabarak wa Ta'ala untuk ke Bani Quraidah dan mengepung mereka.

Kemudian pada tahun ketujuh Hijriah, beliau berangkat ke Khaibar, perang Khaibar, perang besar dengan Yahudi dan kalah. Yahudi runtuh. Tetapi apakah batu dan pohon-pohon berbicara? Tidak, belum terjadi. Batu-batu dan pohon-pohon dan segala sesuatu berbicara, yakni Yahudi tidak punya tempat bersembunyi lagi. Itu maksudnya, "Hai muslim, ini Yahudi di belakangku."

Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan kepada sahabat. Kamu sahabat tidak mengalaminya. Ini pada akhir zaman nanti. Lalu siapa yang Nabi katakan kamu ini? Ah, nanti saya jelaskan di faedah atau di antara fikih hadis ini.

Maka kita baca itu riwayat Bukhari dan Muslim. Di dalam lafaz Muslim dengan sanad yang lain, "Abi rasulullahahu Alaihi wasallam, muslimah muslim, fayquulul hajaru aajar ya muslim. Ya Abdullah, hadza yahudiun khalfi fataala faqtulhu."

Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwasanya Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda, "Tidak akan terjadi hari kiamat sampai kaum muslimin memerangi Yahudi. Maka kaum muslimin pun membunuhi mereka hingga Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon. Maka berkata batu dan pohon, 'Hai muslim, Hai hamba Allah, inilah Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah bunuhlah dia,' kecuali pohon garqad, karena sesungguhnya ia adalah dari pohonnya Yahudi."

Ya, hadis yang sama dari jalan sahabat yang lain. Sekarang kalau tadi dari jalan Abu Hurairah, sekarang dari jalan Abdullah bin Umar.

An Abdillah in Umar radhiallahu anhuma, Anna rasulullahi Sallallahu Alaihi Wasallam berkata, "Tuqatilunal yahudata, ya bi ahaduhum war al hajari." Fquul, "Ya Abdullah, h yahudiun waruihun." Rawahul Bukhari wa Muslim.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, dia berkata bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda, "Kamu, lagi-lagi kamu, kamu akan memerangi Yahudi sehingga salah seorang dari mereka bersembunyi di belakang batu. Lalu batu itu berkata, 'Hai hamba Allah, ini Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.'"

Hadis sahih riwayat Bukhari. Ini adalah lafaz yang saya tulis, ini yang saya bawakan lafaz Bukhari. Diriwayatkan juga oleh Al-Imam Muslim dalam salah satu riwayat Muslim dengan lafaz ini. Jalannya sama.

An Ibni Umar, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam berkata, "Qatuqatilunal yahuda, falaqtulunahum hatta yaakal hajaru ya muslim." Dari Ibnu Umar, dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, beliau bersabda, "Sungguh pasti kamu akan memerangi Yahudi, pasti kamu akan membunuhi mereka sampai batu berkata, 'Hai muslim, ini Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah bunuhlah.'"

Ini akan terjadi nanti. Di antara fikih hadis ini, sesuatu yang sudah pasti kita ketahui dan kita yakini bahwa peperangan di antara para sahabat radhiallahu anhum dengan orang-orang Yahudi, seperti perang Khaibar, tidak sampai menjadikan batu dan pohon berbicara.

"Hai muslim, Hai hamba Allah, ini Yahudi bersembunyi di belakangku, kemarilah bunuhlah ia." Maka tahulah kita dengan ilmu yakin, bahkan haqqul yakin bahwa yang dimaksud oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dengan kamu di sini, kamu akan memerangi, kamu akan memerangi Yahudi, adalah umat beliau yang akan datang, yang semanhaj dan seakidah dengan para sahabat radhiallahu anhum.

Karena itu, Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam mengatakan kamu ditujukan kepada para sahabat. Sedangkan para sahabat tidak mengalaminya, berarti umat Islam yang akan datang agamanya sama dengan sahabat, yakni manhajnya, akidahnya, perjalanannya mengikuti manhaj para sahabat radhiallahu anhum.

Jamian ini menunjukkan kebenaran manhaj. Dengan demikian, menunjukkan keagungan dan kebenaran manhaj salaf, yaitu manhaj para sahabat radhiallahu anhum. Tetapi hadis ini tidak membuat kita berpangku tangan, bermalas-malasan, berputus asa menunggu nanti saja.

Orang Islam akan memerangi Yahudi. Tidak, karena Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam tidak mengatakan bahwa kamu hanya nanti saja akan memerangi Yahudi. Tidak. Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam sendiri memerangi Yahudi. Kaum muslimin harus mempersiapkan, tidak menunggu, tidak bermalas menunggu kejadian yang seperti itu nanti pada akhir zaman.

Sekarang disiapkan manhajnya. Dan tidak berarti bahwa kaum muslimin tidak memerangi Yahudi. Peperangan akan berlangsung terus dengan Yahudi. Di sini saya bawakan untuk menjelaskan keagungan dan kebenaran manhaj para sahabat ridhwanullah alaihim jamian.

Ini terjadi pada masa turunnya Dajjal, karena salah satu pengikut Dajjal adalah orang-orang Yahudi. Pada pertemuan besok, insya Allah ta'ala, Taklim besok akan saya bahas secara khusus tentang Dajjal dan turunnya Nabi Isa membunuh Dajjal.

Kemudian ada Imam Mahdi, bukan Imam minya Syiah, bukan Imam Mahdinya Ahlusunah. Orangnya belum ada. Imam Mahdinya Syiah sudah ada. Kemudian pada tahun 200-an, masuk ke gua, tidak pernah keluar lagi 1000 tahun lamanya lebih. Dan memang orangnya tidak pernah ada, fiktif.

Imam Mahdi yang disabdakan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang nanti akan turun, akan ada, akan datang Nabi Isa yang akan turun alaihi alatu wasalam di Syam, di Masq, ketika akan salat.

Kalau tidak salah, salat subuh, dia mempersilakan Nabi Isa untuk jadi imam. Tapi Nabi Isa bilang, "Tidak, Antum menjadi imam umat ini, sebagiannya jadi imam bagi sebagian yang lainnya untuk kemuliaan umatnya."

Di sini saya bawakan di kitab ini. Maka Imam Mahdi yang menjadi imam setelah itu, Nabi Isa mengejar Dajjal dan membunuhnya di pintu yang namanya pintu Lud. Kata ulama hadis tentang turunnya Isa, kejayaan kaum muslimin, turunnya, apa, datangnya Mahdi, dan kaum muslimin memerangi Dajjal bersama Isa, memerangi pengikutnya Dajjal, di antaranya orang-orang Yahudi.

Ini jangan sampai membuat kita putus asa, menunggu-nunggu dan berangan-angan. Tidak boleh, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah mengatakan bahwa kamu tidak akan menang dari Yahudi kecuali bersama Isa dan Mahdi.

Tidak, harus mempersiapkan. Tapi persiapan pertama dalam manhaj, cara beragama yang benar. Dan itu sesungguhnya yang ditakuti Yahudi, karena Yahudi terkapar, tidak bisa berdaya sama sekali ketika berhadapan dengan para sahabat ridhwanullah alaihim jamian.

Hadis ini memberikan pelajaran dan mendorong kita untuk bermanhaj. Sikap dan cara beragama kita mengikuti sikap dan cara beragama para sahabat ridhwanullah alaihim jamian.

Ya, itu yang dinasihati oleh para. Jangan putus asa, kemudian tinggal menunggu sajalah. Tidak, sementara Yahudi membantai. Enggak, harus ada usaha dari kaum muslimin. Kan tidak menutup kemungkinan peperangan-peperangan akan terjadi terus.

Nah, kita harus mempersiapkan secara din agama, kekuatan, manhaj, mendidik, mengajarkan, mendakwahkan, mempraktikkannya, mengikuti para sahabat. Yang Yahudi tidak berdaya menghadapi para sahabat di bawah pimpinan Nabi yang mulia alaihi alatu wassalam.

Kemudian, ikhwan yang saya muliakan, itu mengenai manhaj dan akidah, iktikadat, keyakinan-keyakinan yang diterangkan di dalam Al-Qur'an dan hadis-hadis, dan dijabarkan, dijelaskan oleh para imam dan para ulama kita. Akidah yang sahihah, akidahnya kaum Salaf yang mereka belajar dari Nabi yang mulia alaihi alatu wassalam.

Saya mengawalinya dengan bab 1, halaman 35, dosa orang yang berdusta atas nama Nabi yang mulia Sallallahu Alaihi Wasallam. Ini saya mengambil judul dari judul yang diberikan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu taala di kitab sahihnya, di bagian kitabul ilm.

Ini merupakan manhaj dan sikap seorang muslim serta akidah yang besar. Mengapa? Karena dasar hukum Islam adalah Al-Qur'an dan sunah. Sunah terambil dari hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Maka berbohong atas nama Nabi yang mulia alaihi alatu wassalam dampaknya besar sekali, karena ia akan menjadikan kebohongan itu menjadi sebuah syariat yang diikuti, padahal ia bukan dari Nabi.

Oleh sebab itu, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam jauh-jauh hari telah bersabda, "Barang siapa yang berbohong, berdusta atasku, atas namaku dengan sengaja, maka silakan mengambil tempat tinggalnya di neraka."

Oleh karena itu, umat ini mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh umat-umat yang sebelum umat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Yaitu apa? Al-isnad, jalan yang menghubungkan kepada matan, isi dari ucapan Fulan dari Fulan, Fulan dari Fulan, Fulan dari Fulan.

Umat yang dahulu tidak punya, umat ini punya. Dari Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, nabi bersabda, diriwayatkan oleh sahabat, kemudian dia sahabat meriwayatkan kepada tabi'in, dan seterusnya sampai dicatat atau dari pencatat kitab-kitab hadis seperti Bukhari. Dari siapa? Dari gurunya, gurunya, dan seterusnya. Itu diperiksa benar atau tidak jalannya riwayat itu, orangnya bagaimana.

Ah, ini manhaj dan akidah yang besar sekali. Karena kalau tidak, akan bercampur di dalam agama ini sesuatu yang tidak datang dari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Ini berbahaya.

Di hadis ke del, "Ya Rasulullah, Sallallahu Alaihi Wasallam menegaskan, 'Inna kadiban alaiya laaisa kadibin ala ahadin.'" "Berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta kepada orang lain."

Karena berdusta kepada orang lain tidak menimbulkan bahaya yang sangat besar. Ada bahaya kalau itu fitnah dan lain sebagainya. Berdusta kepada orang lain tidak menjadikan sebagai sebuah syariat yang diikuti sepanjang zaman.

Tidak, kalau bahaya, ya, kalau itu berkaitan dengan tuduhan dan lain sebagainya. Nah, itu bisa berbahaya, bisa terjadi kekacauan antara satu dengan yang lainnya. Tapi tidak menjadikan sebagai sebuah syariat yang diikuti sepanjang zaman.

Oleh karena itu, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Inna kadiban alaiya laaisaibin ala ahadin." Berbohong atas namaku tidak sama dengan berbohong kepada orang lain. Maka para ulama dari zaman ke zaman telah memeriksa hadis-hadis yang palsu.

Dan ini yang merusak agama, timbulnya berbagai macam ajaran, salah satunya lewat hadis-hadis palsu ini, yang bukan sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Berarti yang jadi sunah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dari hadis-hadis yang telah sah, yang dinyatakan kesahannya pertama oleh orang yang ahlinya, para imam dan para ulama, para muhadis yang memang ahlinya di dalam hadis.

Tidak boleh orang yang bukan ahlinya masuk ke dalam pembicaraan hadis sama sekali. Tidak boleh. Yang kedua, berjalan sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan di dalam ilmu hadis yang telah disepakati oleh para ulama.

Apabila hilang salah satu dari dua syarat itu, maka tertolak, tidak bisa diterima. Kalau datang bukan dari ahlinya, maka tidak bisa diterima. Kalau datang dari ahlinya tetapi menyelisihi, menyalahi qawaid, kaidah-kaidah yang telah dibuat, maka pun tertolak, walaupun dari ahlinya.

Maka ia harus beriringan, berjalan bersama dua-duanya. Kalau orang mengatakan bahwa saya tidak berbohong atas nama Rasulullah, saya tidak membuat hadis palsu, maka terkena hadis yang lain.

Bab kedua dengan judul hadis masur tentang ancaman membawakan hadis-hadis maudu. Itu sabda yang masyhur sahih. Ya, saya singkat ini. Antum bisa lihat takrijnya, riwayat Bukhari Muslim. Sudah saya terangkan yang memiliki kitabnya.

Kadang-kadang saya tidak bawakan siapa periwayatnya, tidak saya sebutkan. Kalau di sini sudah ditulis panjang lebar. Seperti hadis ini, "Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadis yang disangka atau dia telah mengetahuinya, sesungguhnya hadis itu palsu, lalu dia tetap membawakannya, maka dia termasuk salah seorang dari para pendusta."

Dalam lafaz yang lain, maka dia termasuk salah seorang dari dua pendusta hadis. Riwayat Muslim dan lain-lain terkena berbohong atas nama Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, membuat perkataan yang tidak diucapkan oleh Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam, kemudian disampaikan atas nama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Terkena hadis-hadis yang bab pertama. Dan kalau kita tidak berbohong, tapi kita membawakan hadis-hadis yang tidak jelas, belum diketahui sah dan tidaknya, kemudian kita membawakan, dan apalagi tidak diketahui riwayat siapa, ini maka kita akan terkena hadis yang kedua.

Dan juga kata ulama terkena hadis yang pertama. Tidak boleh serampangan di dalam membawakan riwayat hadis. Harus jelas hadisnya, riwayat siapa, siapa yang menyatakan sah, ahlinya atau bukan.

Kalau kita tidak tahu, jangan bawakan. Apalagi kita membawakan hadis-hadis palsu, bukan untuk dijelaskan kepalsuannya agar manusia mengetahuinya. Kita akan terkena hadis tadi.

"Barang siapa yang menceritakan dariku sebuah hadis yang telah diketahui kepalsuannya, baik oleh dia maupun orang lain." Kenapa dia terkena? Karena dia tidak bertanya.

Obat kebodohan adalah bertanya. Ulama membuat kaidah, "Al-ilmu qoblal qawl wal amal." Ilmu sebelum berbicara dan berbuat. Nah, atas dasar inilah memelihara sunah Nabi dan berpegang dengan sunah yang sahihah.

Hadis yang telah sah tegak manhaj salaf dari para sahabat, tabi'in, dan seterusnya. Berapa banyak para perawi, para pendusta, karena telah berbohong atas nama Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Sehingga apa faedahnya sunah itu benar-benar sah. Umumnya, jika ada yang bertanya, kan ulama hadis juga berselisih. Dinisbahkan kesepakatan mereka lebih banyak yang mereka sepakati daripada yang mereka perselisihkan.

Dan perselisihan itu beragam. Ada yang mengatakan hadis ini sahih, yang lain mengatakan tidak, hanya Hasan. Sahih dan Hasan beda tipis. Ada yang mengatakan hadis ini sahih, ini hadis dif, tapi difnya ringan.

Ya, mungkin dikuatkan dari jalan yang lain, gitu, atau sampai kepada dia jalur yang dif. Begitu, tapi yang mereka sepakati jauh lebih banyak. Dan yang mereka nyatakan ini hadis-hadis palsu.

Ah, ini manhaj yang besar sekali pelajaran bagi kita. Apabila kita tegak ingin mengikuti kaum Salaf, maka tidak boleh kita serampangan dalam riwayat hadis. Apalagi ngambil di media-media sosial yang tidak diketahui keahliannya.

Seseorang harus dirujuk kepada ahlinya. Tidak boleh kita bawakan kecuali setelah kita ketahui hadis itu sah. Ini selain riwayat Bukhari dan Muslim. Riwayat Bukhari dan Muslim disepakati oleh ulama Ahlul hadis, bahkan seluruh ulama tentang kesahihannya, kecuali beberapa riwayat yang dikritik.

Karena memang tidak ada manusia yang selamat dari kesalahan. Tidak ada satu kitab yang selamat dari kesalahan, kecuali kitabullah saja.

Manhaj yang lain di bab yang ketiga, dan ini merupakan manhaj yang besar dan akidah yang agung. Apa? Ittiba' Rasul, mengikuti Rasul di dalam beragama. Ini ittiba' Rasul.

Ayat pertama yang saya bawakan menjelaskan bahwa mahabbah kita, kecintaan kita yang demikian besar kepada Allah Tabarak wa Ta'ala terkait dengan kecintaan, terkait dengan Rasul. Berapa besar ittiba' kita kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Maksud ittiba' Rasul adalah mengikuti sunah beliau. Perhatikan ayatnya, "Qul in kuntum tuhibbunallah, fattabiuni, yuhbibkumullahu waagfir lakum dzunubakum, wallahu gofurur rahim." Katakanlah, yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan hamba-Nya dan rasul-Nya yang mulia Sallallahu Alaihi Wasallam untuk mengatakan kepada manusia.

Ayat ini menunjukkan ayat imtihan, ayat ujian. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian dari kaum Salaf bahwa ayat ini merupakan ayat ujian bagi setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah tetapi tidak beriman kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam atau tidak ittiba' Rasul, maka pengakuannya adalah dusta.

Oh, sebentar, saya selesaikan. Jika kamu memang benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintai dan mengampuni dosa-dosa kamu, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Keutamaan ittiba' Rasul dua yang sangat besar, yaitu kecintaan Allah dan ampunan Allah jika kita benar dalam ittiba' Rasul. Semoga kita diberikan hidayah dan kekuatan untuk ittiba' Rasul.

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita untuk ittiba' Rasul demi meraih kecintaan dan magfirah dari Rabbul Alamin. Barangkali ini, Ikhwan, sampai di sini.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam, ikhwan dan akhwat yang saya muliakan. Kita lanjutkan, masih bab yang ketiga tadi mengenai ittiba' Rasul. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengulang-ulang di dalam kitab-Nya yang mulia tentang ittiba' Rasul dan mentaatinya kira-kira 40 tempat.

Demikian besarnya ketaatan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Salah satunya, ia menjadi bukti cintanya seorang hamba kepada Rabbnya dengan seberapa besar dia mengikuti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

"Qul in kuntum tuhibbunallah," katakan, "Jika kamu memang benar-benar mencintai Allah." Jadi syaratkan huruf "in." "Fattabiuni," maka ikutilah aku. Yang ikutilah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Siapa yang mengaku cinta kepada Allah, apalagi telah beriman kepada Allah, maka dia wajib beriman kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Tidak akan diterima keimanan kepada Allah kalau dia tidak beriman kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam sebagai utusan Allah.

Dan kalau dia telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka dia wajib mengikuti seluruh tata cara upacara keagamaannya, mengikuti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Kalau tidak, maka ulama sepakat mengatakan bahwa pengakuannya dusta.

Kalau dia belum tahu, maka kewajibannya belajar dan diberitahukan. Kalau dia dalam beragama tidak ittiba' Rasul, maka amalnya ditolak. Amalnya tidak diterima. Karena dia belum mengetahui, maka dia tidak berdosa.

Tetapi amalnya tetap ditolak, karena dia telah mengetahui, maka dia berdosa dan amalnya ditolak. Ini sepakat para ulama. Tidak ada perselisihan di antara mereka bahwa setiap manusia yang mengaku cinta kepada Allah, mengakui adanya Tuhan yang Esa, tetapi tidak beriman kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka pengakuannya dusta.

Karena keimanan kepada Allah yang Esa, yang satu, diiringi dengan keimanan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Sebagaimana hadis sahih yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam bagian kitabul Iman dari kitab sahihnya.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bertanya kepada kaum, "Tahukah kamu apakah keimanan kepada Allah Yang Esa?" Beliau menjelaskan bahwa keimanan kepada Allah Yang Esa beriman kepada Allah dan beriman kepada bersaksi, bersyahadat kepada Allah dan bersyahadat kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

Maka ayat yang mulia ini besar sekali, meliputi seluruh manusia dan jin yang tidak ittiba' Rasul. Kalau dia telah beriman kepada Allah dan rasul-Nya tetapi tidak ittiba' sepenuhnya kepada beliau, maka amal yang dia tidak itiba' itu tertolak.

Karena amal di dalam Islam harus berjalan dengan keikhlasan kepada Allah dan ittiba' Rasul. Ada di mukadimah kitab ini, saya membawakan sebuah hadis yang sangat besar sekali, yaitu hadis, "Innamal A'malu Bin niyah wa innama likulimriin ma nawaan."

"Kanat hijratuhu ilallahi aniwaytin wanat hijratuhu Dunya yusibaa, fahijratuhu ha." "Ya ayyuhanas, Hai manusia, sesungguhnya segala amal itu dengan niat. Niat itu tempatnya di hati."

Karena maksudnya artinya adalah al-qasdu, menyengaja mengerjakan sesuatu perbuatan dengan ilmu, dengan tahu. Kalau saudara dari rumah ke masjid sini untuk hadir di majelis taklim ini, tentukan saudara.

Tentukan saudara tidak mengucapkan ketika melangkahkan, "Kami melingkahkan kaki dari rumah, puda saya niat karena Allah untuk menuntut ilmu di masjid." Apa namanya? Assalam. Begitu tidak, begitu tidak dilafazkan.

Tidak, tidak. Tapi di hati, dengan tergerak saudara berangkat dari rumah untuk salat Isya, sudah niat buat apa? Itu niat.

"Wa innama," setiap orang akan memperoleh hasil dari apa yang dia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan kepada rasul-Nya, yakni lillahi, karena Allah dan dalam rangka ittiba' Rasul, mengikuti Rasul, disebut duaanat hijratuhu ilallahi wa rasulihi.

Tentu dengan keikhlasan karena Allah wa rasulihi, karena mengikuti Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maka hijrahnya diterima oleh Allah. Barang siapa yang hijrah karena dunia atau wanita yang akan dia nikahi, maka hijrahnya tergantung karena apa dia hijrah.

Kemudian ada sebuah hadis panjang di mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda, "Walladzi nafsu Muhammadin Wafi riwayatin walladzi Nafsi biyadihi, Lau asbaha fikum Musa tumabumuhu wattumuni ladolaltum."

"Innakum hadzi Minal Umami wa an hadukum Minan nabiyin." Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangannya, kalau seandainya sekiranya Musa berada di tengah-tengah kamu, Musa, nabi yang besar, rasul yang besar, Ulul Azmi, yang dijuluki kalimullah, orang yang Allah ajak berbicara.

Orang yang Allah berbicara kepadanya. Kalau kita berbicara kepada Allah setiap hari, bermunajah, "Kullukum munajin," kata Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Masing-masing kamu berbisik, berbicara kepada Rabbnya. Ya, ini Musa mendengar suara Allah. Suara Allah didengar langsung oleh Musa. Dan ini hanya beberapa orang di antaranya.

Musa, Allah berfirman, diulang-ulang dalam Al-Qur'an tentang kisah Musa. "Ya Musa, innani anallah." Hai Musa, sesungguhnya aku ini Allah. Maka dijuluki Musa kalimullah, orang yang Allah berbicara kepadanya.

Kalau Musa yang demikian besarnya dan umatnya terbanyak dari para nabi yang lain, selain umat ini, selain umat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, berada di tengah-tengah kita, kemudian kita mengikuti Musa, sunahnya Musa, kita ikuti manhajnya Musa.

Ikuti Musa, ini nabian adimah, nabi yang agung, nabi yang besar alaihi alatu wassalam. Kita ikuti, "Watarktumuni," dan kamu meninggalkan aku. Meninggalkan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam.

"Lau alaltum," pasti kamu akan tersesat. Mengapa? Beliau mengatakan, "Inum, sesungguhnya kamu bagianku dari umat-umat, yakni yang sebelum kamu. Kamu adalah umatku, maka wajib bagi kamu mengikutiku, bukan mengikuti Musa."

Adalah bagian kamu dari para nabi yang sebelumnya, yakni aku, nabi kamu, maka ikutilah aku. Itu Musa. Bagaimana? Yang kalau yang kita ikuti manhajnya, sikap dan cara beragama, selain Musa, tentu lebih tersesat.

Perhatikan sabda yang agung ini. Ini manhaj, alangkah besarnya ittiba' Rasul itu. Maka kita harus berusaha. Ini perjuangan jihad sepanjang hayat kita, ittiba' Rasul.

Ini sama dengan kita jihad, mengikhlaskan diri dalam beribadah kepada Allah. Ini syarat diterimanya amal. Apabila hilang salah satu dari dua syarat yang besar ini, maka sia-sia amal kita.

Oleh karena itu, kita harus benar-benar mengetahui dan memahami, karena memang hakikat ilmu itu paham. Oleh karena itu, sampainya hujah kepada seseorang tidak hanya sekedar sampai ilmu, tapi dia pun paham.

Barangkali ini, Ikhwan, barangkali Antum ada beberapa pertanyaan yang harus saya jawab. Pertama, begitu pentingnya pembahasan masalah manhaj. Namun, kenapa sedikit sekali para Dai mengajarkan manhaj?

Tentu sebelum mengajarkan manhaj, maka seseorang harus paham dulu manhaj. Dia memahami dengan baik. Dan manhaj sahabat itu secara keseluruhan, mengetahui manhaj para sahabat itu secara keseluruhan, yakni Islam.

Itu yang didakwahkan oleh para sahabat. Apa Islam? Dinul Islam. Dan kita diperintah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala masuk ke dalam Islam secara menyeluruh.

"Ya ayuhadinaah," Hai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam. Padahal kita telah Islam. Maknanya apa? Masuk ke dalam ajaran Islam secara luruh.

"W tattabiu khutuatiitan," jangan kamu mengikuti perintah-perintah setan. Yang di antara perintah-perintah setan mencampurkan antara yang hak dengan yang batil, memasukkan ajaran-ajaran, keyakinan-keyakinan, perkataan-perkataan, perbuatan-perbuatan atas nama Dinul Islam, agama Islam yang bukan dari Islam.

Maka sebenar-benar manusia yang menjadi wakil Islam yang dapat memperlihatkan kepada manusia, ini Islam yang dibawa oleh Nabi Islam Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam.

Dan Islam yang dibawa oleh seluruh para nabi dan rasul adalah para sahabat. Para sahabat mampu menjelaskan kepada manusia dengan gamblang ini Islam, karena Islam yang mereka dakwahkan bersih, tidak ada noda, tidak ada kesyirikan, tidak ada bid'ah, bersih putih.

Tidak berarti bahwa mereka orang perorangnya tidak berdosa. Tidak, mereka adalah manusia seperti umumnya manusia yang lain, dapat berbuat dosa dan kesalahan, besar apalagi kecil.

Tetapi ijma' mereka, almuhajirin wal ansar, ini hak kebenaran. Maka manhaj sahabat tidak hanya dilihat dari akidah. Salah satunya, iya, manhaj para sahabat luas.

Dan itulah Islam. Kita belajar manhaj para sahabat dalam bab ilmu. Bagaimana dalam bab ilmu itu, bagaimana para sahabat menyikapi tentang ilmu dan ahli ilmu.

Pernahkah para sahabat berbicara tanpa ilmu? Oh, itu sungguh dimarahi oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam. Para sahabat itu dibling, dididik dari Alif sampai Ya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, ditarbiah, dibersihkan.

Saya bawakan salah satu contohnya ketika para sahabat sebagian mereka safar. Lalu salah seorang dari mereka terluka kepalanya dan dia terkena janabah. Maka dia bertanya kepada kawan-kawannya, "Adakah ruksah, keringanan bagiku untuk bertayamum, tidak perlu mandi janabah karena aku terluka kepalaku?"

Jawab mereka, "Tidak." Padahal engkau masih sanggup mandi. "Mandilah." Orang itu mati. Sampai ke Madinah, dikabarkan marah Nabi.

Ini berbicara tanpa ilmu. "Qotaluhu," mereka telah membunuh orang itu, yakni menyebabkan orang itu mati karena fatwanya. "Otahumullah," marah besar Nabi.

Tidakkah kamu mau bertanya? Karena obat kebodohan itu dengan bertanya. Ini manhaj ilmiah yang diajarkan Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.

Allah berulang kali dalam masalah ini, karena Islam tegak dengan ilmu. "W takfu maaisaka bihi Il," jangan kau katakan sesuatu yang kau tidak memiliki ilmu. Disuruh rujuk kepada ahli ilmu.

"Fasalu ahlaz zikri," kuntum amun. Tahulah para sahabat tidak boleh serampangan. Ada salah satu contoh yang menarik. Ini hadis riwayat Abu Daud, sahih.

Fatwa tanpa ilmu. Sekarang berapa banyak orang-orang berfatwa yang menyebabkan kematian manusia? Ada kematian hati, ada kematian fisik disebabkan fatwa tanpa ilmu.

Munculnya Ruai bid. Celakanya, mereka mengatasnamakan dakwah salafiyah yang amat agung ini, yang manhaj para sahabat. Dalam bab ilmu, besar sekali.

Muncullah para Dai ini yang tidak ketahuan dari mana. Siapa yang mentazkiah mereka? Siapa yang menyatakan mereka berilmu? Tampil di medsos.

Di mana? Ah, ini musibah, ikhwan akhwat. Dan dihadiri banyak ikhwan, menasabkan kepada manhaj yang agung ini. Ini baru satu manhaj para sahabat.

Ini asas di berbicara tentang manhaj para sahabat. Di sini kita berbicara kewajiban mengikuti manhaj para sahabat. Itu kewajibannya.

Kita belum lagi belajar bagaimana manhaj ilmiah para sahabat. Bagaimana manhaj para sahabat dalam bab akidah. Bagaimana manhaj para sahabat dalam bab ibadah dan seterusnya, adab, akhlak, siasah, politik, dan secara keseluruhan.

Karena Islam din yang berbicara mengenai hajat dan kebutuhan manusia, memenuhi seluruh hajat manusia untuk kemaslahatan umat manusia. Tidak akan berbahagia manusia bagi dunia dan akhirat mereka, kecuali dengan sebab Islam.

Tidak akan mulia kaum muslim kalau mereka tidak menjadikan kemuliaannya itu dengan sebab adanya Islam. Sebagaimana perkataan yang gagah sekali dari Umar bin Khattab dahulu, "Kita ini bangsa yang hina, penyembah berhala. Allah muliakan kita dengan sebab Islam, dan kita tidak akan mencari kemuliaan selain dari Islam."

Itu sikap seorang muslim. Nah, itu perkataan umum sahih. Jadi, manhaj para sahabat luas sekali.

Karena itu, ada sebagian Dai. Mungkin dia belum paham. Mungkin perhatiannya tidak terlalu serius terhadap manhaj. Ben manhati, asas beriringan.

"Siratan wa minhajan," ini juga ada pertanya. Apa manhaj? Apa minhaj? Sama. Manhaj dan minhaj beriringan. Ketika kita berbicara tentang ilmu, wajib menuntut ilmu yang fardu Ain.

Saya maksudkan kalau belajar ilmiah, maka secara keseluruhan, baik yang fardu Ain maupun fardu kifayah. Pelajari bagaimana manhaj para sahabat.

Ah, itu diterangkan dalam hadis-hadis, dalam riwayat, dalam al-atar. Kemudian akidah para sahabat. Pernah para sahabat t mengatakan, "Allah di mana-mana."

Ada Allah, ada di sini, enggak ada. Semua ya mengatakan seperti yang dikatakan Al-Qur'an. Hatta orang yang paling rendah di antara mereka, seorang budak perempuan, yang tentu saja jarang duduk di majelis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, penggembala kambing.

Ketika ditanya oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, "Ainallah?" Serentak dia menjawab, "Fisama." Berjalan sesuai dengan fitrah yang ada padanya.

Karena sifat al-ulu, ketinggian Allah tidak memerlukan dalil, karena Allah telah memfitrahkan P setiap manusia, bahkan hewan, mengetahui Rabbnya di atas.

Tetapi istiwanya Allah perlu kepada dalil, karena kita tidak tahu. Allahlah yang memberitahukan, "Ar-Rahmanu Alal arsi istawa." Ar-Rahman di atas Arsy, dia istiwa, perlu dalil.

Tapi sifat ketinggian Allah ada pada makhluk, kecuali Firaun dan orang-orang yang mengikuti sunahnya Firaun, rusak fitrahnya. Jadi, luas.

Maka seharusnya jadi perhatian para Dai. Sunah permasalahan manhaj dini, dia harus mempelajarinya dan dia terapkan pada dirinya. Dia mengetahui, kemudian dia dakwahkan.

Karena "Siratan wa minhajan" beriringan. Allah lagi nih, habis waktu.

Masih ada Ustaz, kenapa Rasulullah tidak dijuluki kalimullah? Kali ya, padahal beliau diajak berbicara oleh Allah pada peristiwa Mikraj.

Beliau dijuluki yang lebih tinggi dari itu, apa? Khalilurrahman. Ini ada hadisnya di sini, di bab kelima. Coba buka dengan judul bab kuburiyun. Salah satu hadisnya dari Jundab.

Qab nabiahu Alaihi Wasallam. Wua Jundab atau Jundub, boleh dalnya fathah atau domah. Dia berkata, "Aku pernah mendengar Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda, 5 hari sebelum beliau wafat."

"5 hari sebelum beliau wafat ini Abra ilallahi ayyakuna Li minkum Khalil." Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari mengambil di antara kamu sebagai khalilku.

Saya berikan catatan kaki sederhana. Khalil adalah kekasih atau teman atau sahabat yang khusus. Mengapa? "Fainnallaha taala qad itakadani khalilan." Ah, ini lebih tinggi tentunya martabatnya.

Karena sesungguhnya Allah Ta'ala telah mengangkatku, menjadikanku, mengambilku sebagai khalilnya, kekasihnya. Kekhususan Allah, orang yang menkhususan Allah.

Sebagaimana Allah mengambil Ibrahim sebagai Khalil. Jadi, martabat Khalil lebih tinggi dari Habib. Habibullah Khalil lebih tinggi.

Kalau manusia tahu, manusia Khalil, khalilurrahman, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala mengambil Ibrahim sebagai khalilnya.

Wal kuntu midan umtiilan. Kalau seandainya boleh aku mengambil dari umatku sebagai khalilku, Abu Bakar khilan, pasti akan aku ambil, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku.

Ini keutamaan yang besar bagi Abu Bakar as-Siddiq. Ketahuilah ini huruf tanbih, pemberitahuan, perhatian agar umat memperhatikan apa yang beliau sabdakan ini.

"Wa inna manaqblakumu yattiduna quburiyaimihihimihihim masajid." Sesungguhnya orang-orang yang sebelum kamu telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka dan orang-orang yang saleh di antara mereka sebagai masjid-masjid.

Apa maksudnya? Sujud kepada kubur itu. Sujud itu pertama. Yang kedua, salat ibadah menghadap ke kubur itu. Yang ketiga, menjadikan kubur sebagai masjid.

Dikuburlah mayit di masjid itu atau di sekitarnya. Ah, dan ada lagi beberapa yang dikatakan ulama. Saya tidak ingat sekarang.

Ya, itu menjadikan kubur sebagai masjid. Dan kita dilarang salat di situ. Sampai di sini, Ikhwan, waktu sudah habis. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita sekalian. Kita sambung, insya Allah besok pagi di tempat yang lain.

Subhanakallahumma wabihamdika, ashadu alla ilaha illa anta, astagfiruka wa atubu ilaih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.