Transcription
Silakan, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin, wabihi nastain.
Ummu din, wasalatu wasalamu ala Asrofi anbiya wal mursalin, wa alihi wasohbihi wa man ala nahjihi biihsanin ila yaumiddin.
W Allahumma shalli wa sallim wa barik ala Nabina Muhammadin wa alihi wa sbihi ajmain.
Allahumma inna laka allahumimna, Allahumma mil.
Alhamdulillah, kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah subhanahu wa taala atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita.
Sebagaimana selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulillah Alaihi salatu Wasalam, beserta para keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang istiqamah berjalan di bawah naungan sunnah beliau sampai hari kiamat.
Kal kita meminta kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Semoga Allah subhanahu wa taala menolong kita dan saudara-saudara kita, khususnya yang terzalimi di Palestina dan di berbagai macam tempat.
Semoga Allah perbaiki urusan-urusan kita dan urusan pemimpin-pemimpin kita.
Semoga Allah subhanahu wa taala menjaga kita dan massa kita dari segala keburukan.
Inna ka innahu walialik walqadiru alaih.
Hadirin Allah muliakan, kembali I bersama penutupan dari bab mencintai karena Allah subhanahu wa taala.
Kita akan lanjutkan sedikit dari Abul Hasan bin Quraisy.
Beliau menyampaikan hadu Ibrahim Al Harbi, wahu Yusuf alqadi, wa maahu Ibnu Umar.
Lalu faqala lahu, ya Ab Ishaq, la Jaka Al miqdari wajibi.
Haqikaqatuna kunaak.
Lalu disampaikan, wahai Abu Ishaq, jika mengunjungimu, atau jika frekuensi mengunjungimu itu sesuai dengan hakmu, hakmu yang harus kita tunaikan.
Ini kalau kita mengunjungi kamu, engkau frekuensinya, seringnya itu sesuai dengan besarnya hak engkau terhadap kami atau terhadap kita.
Maka semua waktu kita itu habis bersama kamu, saking besarnya hak kamu, saking besarnya jasa-jasamu kepada kita.
Jadi kalau lihat jasa-jasa kamu itu, enggak cukup sebulan sekali ke sini, enggak cukup.
Sebulan dua kali enggak cukup, seminggu sekali enggak cukup, seminggu dua kali enggak cukup, seminggu tiga kali, setiap hari bahkan mungkin enggak.
Pulang-pulang waktu kita, kita curahkan buat engkau.
Hak semua waktu kita tuh untuk kamu, dan kita tahu bahwa waktu adalah hal duniawi yang paling mahal.
Waktu bagi orang-orang yang berakal sehat, orang-orang sukses, apalagi ulama, itu lebih mahal daripada uang.
Jadi kalau orang-orang berkelas mengatakan waktu kita untuk kamu, ya apalagi uang kita.
Jelas waktu lebih mulia daripada harta kita.
Kehilangan harta 100 juta hari ini, banyak orang bisa mendapatkannya lagi di pekan depan, bulan depan, atau 6 bulan lagi.
Bahkan ada orang kehilangan 1 miliar hari ini, sebagian pihak bisa mendapatkannya bulan depan.
Bahkan sebagian kan pihak lihat, berapa gaji pemain-pemain bola top gitu per pekan, mereka dapat miliaran.
Hari ini kecopetan, besok dapat lagi.
Hari ini kemalingan, besok bisa dapat lagi nominal yang sama.
Tapi kalau waktu, tidak.
Anda kehilangan waktu hari ini sampai mati, Anda enggak bisa dapatkan lagi.
Waktu yang paling berharga.
Makanya, karena kedudukan yang sangat tinggi dari Ibrahim al-Harbi, dikatakan itu, kalau kita mengunjungimu atau kalau kita datang kepadamu, itu harus sesuai dengan jasamu kepada kita, hutang budi kita kepadamu.
Kita akan berikan semua waktu kita kepadamu.
Dari sini kita lihat bagaimana contoh cinta karena Allah, sehingga membuat orang-orang beriman itu hidup dengan hutang budi.
Itulah yang membedakan orang baik dan orang buruk.
Akrtaal karima malakahu wa anta akrtimar.
Kalau Anda berbuat baik kepada orang mulia, dia akan abdikan dirinya untuk Anda.
Dia akan abdikan hidupnya untuk Anda.
Anda memiliki dia.
Tapi kalau Anda berbuat baik sama orang yang buruk, dia akan menuntut, dia akan demanding, dia akan minta terus dan lupa hutang budinya.
Dia enggak mikirin, saya harus bersyukur, tapi dia mikir, kok gua enggak dapat ini ya, gua pengin ini, aku pengin ini.
Berikutnya, aku pengin ini, minta terus.
Dia orang mulia enggak.
Orang mulia itu berpikir, kemarin saya dikasih ini atau saya dapat ini, gimana saya mensyukurinya.
Sedangkan Allah berfirman, kalau kalian bersyukur, aku akan tambah, dan kalau kalian kufur nikmat, aku akan azab.
Lalu ia berpikir, surat sabar sedikit, hamba yang pandai bersyukur.
Jangan enggak bersyukur kepada Allah, orang enggak bersyukur sama manusia.
Makanya disampaikan, ini kan Ibrahim alaihi didatangi dan mendatangi itu kebaikan.
Kalau orang buruk atau orang normal-normal, atau orang enggak baik, dia bilang, sekarang gua datang ke lo, besok lu datang ke gua.
Gitu kan biasa.
Aku kan datang nih, udah dong, cukup.
Aku kan udah datang nih.
Nah, besok-besok Anda yang datang ke tempat kita.
Tapi orang-orang mulia enggak.
Datang terus merasa, walaupun datang belum bisa menunaikan hak saudaranya.
Sampai mengatakan, iya saya sudah datang hari ini, tapi mohon maaf banget, kalau diukur dengan jasa-jasamu kepadaku, harusnya saya datang lebih sering lagi.
Tapi ini yang saya bisa.
Bahkan harusnya setiap waktu saya kasih sama kamu, bukan hanya datang.
Makanya, kalau kedatangan kita diukur dengan jasa-jasamu kepada kita, harusnya semua waktu kita buat kamu.
Lihat, ini kita perlu ngihat contoh-contoh seperti ini, karena seringkali hubungan itu transaksional dan orang lupa hutang budi dan lupa cinta karena Allah.
Salah satu hubungan yang dibangun cinta karena Allah, sebagaimana kita bahas, adalah kita tuh mikir kewajiban kita.
Sebaliknya, hubungan yang transaksional itu selalu berpikir kepentingan kita.
Apa yang gua dapatin? Apa yang aku dapat?
Apa dari segi duniawi untungin aku?
Enggak secara duniawi kan begitu.
Hubungan yang enggak didasari cinta karena Allah.
Tapi kalau hubungan yang dibangun di atas cinta karena Allah, pola pikirnya adalah, apakah aku sudah menjalankan kewajibanku?
Apakah aku sudah menunaikan hak-hak Allah dan hak orang tersebut?
Itu fine.
Makanya kita bawakan riwayat ini, ini contoh real para ulama.
Itu walaupun udah berbuat baik, masih merasa, jujur aja ya, ini enggak cukup.
Karena hutang budi saya tuh terlalu banyak kebaikan kamu kepada aku.
Ini jauh lebih besar lagi, harusnya semua waktu aku buat kamu.
Semua waktu, loh.
Itu luar biasa, dan waktunya ulama sangat produktif.
Sekali lagi, waktu lebih mahal daripada uang.
Jadi kalau waktu aja harusnya waktuku buat kamu, ya apalagi uang.
Uang, kalau bisa semua uang saya buat kamu, semua harta saya buat kamu.
Lalu apa jawab Ibrahim Al Harbi?
Lais ku gbatin jafwa walu liq Mawadah.
Para ulama sangat bijak.
Beliau, bukan tidak semua perpisahan atau tidak semua ketidakbersamaan itu sebuah renggangnya hubungan.
Enggak.
Sebagaimana tidak semua kebersamaan fisik dan pertemuan itu menunjukkan rasa cinta.
Karena yang jadi parameter adalah kedekatan hati, kata beliau.
Jadi enggak semua berjauhan, misalnya, enggak semua berjauhan dan lama enggak ketemu itu menunjukkan ada masalah di antara kita.
Iya, ini udah 1 tahun, aku enggak main ke tempat dia, atau sudah 1 tahun dia enggak ke tempat aku.
Itu berarti ada masalah, apa ya?
Enggak, saya orang sibuk, jadi orang ada urusan, enggak harus demikian.
Sebagaimana enggak semua pertemuan itu menunjukkan rasa cinta.
Ada banyak orang ketemu, sebenarnya dingin.
Ada banyak orang ketemu, sebenarnya sebel, kesal, dan nyesal, kenapa gua datang ke konangan ini.
Akhirnya ketemu dia deh, gitu.
Padahal ketemu dia pas-pas ketemu, apa kabar?
Baik, d.
Kenapa gua ketemu ni orangnya belin banget?
Ada banyak kasus demikian.
Menariknya adalah konteks dari Ibrahim ketika dan ini bukti rasa.
Makanya, kenapa para ulama memasukkan ini sebagai contoh rasa cinta karena Allah.
Artinya, ketika teman kita, atau sahabat kita, atau mungkin istri kita, atau suami kita mengakui jasa-jasa kita, mengakui mereka punya hutang budi yang sangat besar sama kita selama ini, itu kita tuh enggak demanding.
Kita enggak nuntut, atau kita enggak nuntut mereka kasih semuanya.
Tapi kita berusaha kasih uzur dan merasa itu tuh bukan apa-apa.
Berusaha menetralisir, kita enggak ingat jasa-jasa kita.
Kita enggak ingat kita udah berapa banyak ngutangin budi ke dia.
Dan berusaha menetralisir dan kasih uzur.
Enggak, mak kata enggak.
Bu, apa enggak semua pertemuan itu menunjukkan rasa cinta?
Dan enggak semua berjauhan itu artinya ada masalah.
Karena yang penting hati kita dekat.
Bukan mengatakan, akhirnya lu ngerti juga masalah ini, makanya datang dong setiap hari.
Enggak bilang gitu.
Orang yang cintakan suka kasih uzur.
Mungkin dia sibuk, mungkin dia ini, yang penting hubungan kita baik, enggak nuntut gitu loh.
Jadi dari dua sisi kita melihat bagaimana hubungan mereka itu bukan dibangun di atas menuntut hak, sebagaimana yang sering kita lakukan.
Tetapi hubungan itu dibangun di atas bagaimana menunaikan kewajiban dan bagaimana menunaikan hak orang lain.
Lalu yang ketiga, bagaimana memberikan uzur kepada orang lain.
Mungkin dia enggak tahu, mungkin sibuk, dan biasa.
Yang penting tuh hati.
Dan ini yang membedakan sekali lagi antara hubungan yang bukan karena Allah, tapi karena kepentingan atau transaksional.
Itu hubungan akan dipenuhi saling nuntut-menuntut dan lupa menunaikan kewajiban masing-masing.
Ya hobinya nuntut aja.
Suami nuntut istri, istri nuntut suami, suami lupa kewajibannya, istri lupa kewajibannya.
Kita bo, kita lupa, kita nuntut sahabat kita, sahabat kita nuntut kita.
Kita lupa kok hak sahabat kita, dan kita dan sat kita lupa hak kita.
Itu yang terjadi kan, zaluman jahulah manusia itu.
Tapi orang-orang beriman enggak demikian.
Membangun hubungan, Alhamdulillah.
Orang beriman tuh enggak mikirkan haknya, kecuali kalau kita dalam posisi pendidik.
Kita orang tua, kita guru, kita lagi ngedidik orang.
Artinya, kalau orang tua senantiasa memberikan uzur kepada anaknya, kapan anaknya ngerti bagaimana berbakti?
Enggak akan ngerti anaknya.
Maka dalam konteks mendidik, dan dalam konteks mendidik, ya orang tua bisa jadi ketat dan diedukasi.
Kalau orang tua ini, kamu harus begini.
Kalau orang tua ini, kamu harus begini.
Kalau ayah ibu begini, kamu harus begini.
Tapi dalam rangka bukan ingin diangkat-angkat sama anaknya, bukan karena ingin diservis sama anaknya atau dirajakan oleh anaknya.
Enggak.
Tapi dia hanya ingin anaknya jadi anak yang berbakti, anak yang mengerti konsep yang benar dan memang harus diajarin.
Atau guru ke murid.
Kalau gurunya atau orang tuanya diam aja, murid dan anak enggak akan ngerti konsep begini.
Itu harus dididik, apalagi kalau anaknya atau muridnya, khususnya sudah terbiasa dengan hubungan transaksional, hubungan yang kepentingan duniawi.
Enggak ngerti, karena apalagi pola sudah terbangun.
Tapi kalau secara umum, itu poin.
Jadi hubungan tuh enak gitu loh.
Masing-masing tuh mikirin kewajibannya dan dia mikir, apakah saya diberikan hak orang?
Apakah saya sudah tunaikan kewajiban saya?
Dan bayangkan sampai pada tik, kalau ini berkaitan dengan hak, hak engkau, semua waktu saya buat engkau.
Hal yang paling mewah dalam hidup, waktu.
Hal yang paling mewah dalam hidup adalah waktu.
Artinya, kalau waktu saja mereka siap berikan, tapi mereka enggak mampu.
Siapa yang mampu selalu di situ?
Ya apalagi uang, apalagi harta, apalagi yang lain.
Dan itulah cinta karena Allah dan niat.
Sekali lagi, bagaimana respon?
Enggak, bukan begitu.
Yang penting kebersamaan kita tuh hati.
Arya, selama hati kita selalu bersama dan saling sayang, engkau sudah berusaha menunaikan hak dan enggak usah dipikirkan apa yang lebih dari itu.
Wallahu taala alam.
Ini yang bisa disampaikan, semoga bisa jadi bahan renungan kita.
Subhanak, asaduwa ilaha illa Anta, astagfirukubu ilaik.
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Ketika Ayahku mengajariku membaca Al-Qur'an, di antara kita ada kalanya air mata mengalir begitu saja saat membaca kalamullah.
Teringat bagaimana Allah mampukan kita mempelajari huruf demi huruf Al-Qur'an melalui perantara Ayah maupun guru yang Ayah pilihkan untuk mengajar kita.
Ayah menyemangati kita mengenal huruf Al-Qur'an, membacanya hingga menghafal surat demi surat dari kitab terbaik ini.
Entah sudah berapa kebaikan yang beliau berikan kepada kita, namun rasanya belum cukup kita membalas kebaikannya.
Kini sosok itu telah tiada, namun kebaikan ilmu yang beliau ajarkan melekat pada kita.
Sudahkah kita memberikan terik untuknya?
Doakan keikhlasan beliau dan hadiahkan pahala yang tidak terputus.
Muegiatanajarquranitabik yang Allahunkan berin dan menjadi bagian dari perjuangan memberantas buta huruf Al-Qur'an.
Dan ke lain, bersama Muhajir projek tilawah.
Salurkan infak terbaik kita melalui.