📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

BOS MAFIA BERHATI MALAIKAT #alurceritafilm

Kanvas Cerita Film2:00

Transcription

Meskipun dia seorang bos mafia, Paman Ma memiliki hati yang lembut.

Saat sedang merokok di pinggir jalan, dia melihat seorang gadis terbatuk karena asap rokoknya. Dia pun segera membuang rokok tersebut.

Melihat gadis itu kehujanan, Paman Ma memaksanya untuk mengambil payung miliknya. Tak lama kemudian, Detektif Jun datang dan memperingatkan gadis itu agar tidak sembarangan menerima barang dari orang asing. Karena pria besar itu adalah seorang mafia.

Namun, gadis itu justru membela Paman Ma.

Sesampainya di rumah, Paman Ma melihat berita di TV tentang pembunuhan seorang gadis dan payung yang ditemukan di TKP adalah miliknya. Ia pun meledak dalam amarah.

Paman Ma langsung mengerahkan seluruh anggota gengnya untuk memburu si pembunuh. Mereka menyisir setiap sudut kota, masuk ke gang-gang kecil dan bersumpah akan menghabisi pelakunya.

Saat pengepungan terjadi, salah satu anak buah kepercayaan Paman Ma, Jonny, justru ditikam berkali-kali oleh si pembunuh. Paman Ma yang mendengar teriakan segera datang. Namun Jonny yang sekarat hanya sempat menunjukkan arah pelarian pelaku.

Paman Ma mengikuti jejak darah hingga ke sebuah KTV. Di dalam salah satu ruangan, ia melihat dua gadis ketakutan. Setelah mereka memberi isyarat bahwa pelaku ada di toilet, Paman Ma menyuruh mereka menyingkir agar tidak terkena cipratan darah.

Si pembunuh mencoba menahan pintu toilet dengan pisau. Tapi Paman Ma menghantam pintu itu hingga hancur. Ia melayangkan pukulan demi pukulan ke arah wajah pelaku, meluapkan seluruh kemarahannya. Pelaku kemudian diseret keluar dan dihajar habis-habisan selama berjam-jam. Bahkan Paman Ma sempat mengambil parang besar untuk mengeksekusinya di tempat.

Namun, Detektif Jun datang tepat waktu untuk menghentikannya agar pelaku bisa diadili secara hukum.

Beberapa waktu berlalu, Paman Ma menjadi buronan dan anak buahnya ditangkap. Di sisi lain, si pembunuh berantai menolak mengaku karena ia telah menghapus sidik jarinya dengan cara membakarnya.

Di hari persidangan, karena kurangnya bukti, si pembunuh hampir dibebaskan. Keluarga korban menangis histeris karena keadilan seolah tidak berpihak pada mereka.

Tiba-tiba pintu pengadilan terbuka. Paman Ma muncul sebagai saksi kunci. Ia membuka bajunya, menunjukkan bekas luka tusukan di tubuhnya yang cocok dengan pola serangan pelaku serta luka yang ia berikan pada pelaku saat mereka bertarung.

Dengan bukti fisik ini, si pembunuh akhirnya dijatuhi hukuman mati.