Transcription
Seorang pria mencabut pin granat tangan. Instruktur berteriak keras memerintahkannya untuk segera melemparkannya. Namun, karena panik, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Granat itu justru terlepas dan jatuh di dekat kakinya sendiri, membuat temannya yang lain langsung melompat menutupi granat tersebut dengan tubuhnya tanpa ragu. Ledakan pun terjadi dengan keras. Meskipun dia harus mengorbankan nyawanya, pengorbanan itu berhasil menyelamatkan semua orang di sekitarnya.
Pihak akademi kemudian menganugerahkan medali keberanian untuk menghormati jasanya. Namun, sang instruktur justru menghina dengan mengatakan bahwa itu hanyalah pengorbanan yang bodoh. Mendengar hal itu, sahabat dekat pria tersebut marah dan langsung maju memukul perut instruktur hingga tersungkur kesakitan.
Karena marah, instruktur kemudian menghukum semua orang dengan memerintahkan mereka melepas pakaian dan melompat ke dalam kolam air es dengan suhu mencapai -30 derajat. Dan mereka harus menyelam ke dalam air yang sangat dingin lalu berenang hingga muncul di lubang di sisi lain.
Instruktur kemudian menunjuk pria yang menjatuhkan granat tadi untuk menjadi yang pertama. Dengan menahan napas, dia menyelam ke dalam air es mengikuti tali penuntun di bawah air dan berhasil muncul di sisi lain dengan selamat. Begitu dia keluar dari air, temannya langsung melompat menyusul.
Namun, dalam sekejap semua orang mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Pria itu segera berlari ke tepi lubang, mengaisong dengan panik. Ternyata temannya terlepas dari tali penuntun di bawah air. Dia mengambil palu dan menghantam permukaan es sekuat tenaga, berharap bisa memecahkannya. Namun, es itu terlalu tebal untuk dihancurkan. Di tengah keputusasaan, dia hanya bisa menyaksikan tubuh temannya perlahan tenggelam semakin dalam ke dalam air.