Transcription
Anak laki-laki itu menangis sambil mengejar mobil di depannya. Ibunya ingin menghentikan mobil, tapi sang ayah tak peduli. Ia terus menekan pedal gas.
Si anak tak sanggup lagi mengejar. Ibu makin panik saat sosok sang anak perlahan menghilang di kaca spion. Sang ayah buru-buru memutar balik mobil. Namun, di tengah jalan mereka terhalang kerumunan orang. Ternyata ada kecelakaan di depan dan anak mereka tergeletak di jalan. Kedua orang tua menangis pilu penuh penyesalan.
Beberapa saat sebelumnya, si anak bermain mobil-mobilan di kursi belakang. Karena suaranya terlalu bising, ibunya mengambil mainannya. Anak itu menolak diam dan mencoba merebut mainannya kembali. Saat mereka berebut, tangannya tanpa sengaja menyentuh kemudi. Sang ayah marah menghentikan mobil. Ia membuka pintu dan menurunkan anaknya. Anak itu tetap menolak meminta maaf. Ia berjalan menjauh sambil membawa mainan itu. Dan dari situlah tragedi bermula.
10 tahun berlalu. Setiap hari mereka merindukan anak itu. Demi bisa melihat sang anak lagi, sang ibu membeli obat tetes mata ajaib yang konon bisa menampakkan arwah orang yang telah tiada. Detik berikutnya, ia benar-benar melihat anaknya lagi. Sang anak langsung memeluk ibunya. Wanita itu begitu tersentuh hingga meneteskan air mata. Namun, sebenarnya semua itu hanyalah ilusi.
Keesokan harinya, ia meneteskan obat itu lagi. Saat membuka pintu kamar sang anak, ia melihat versi dewasa dari putranya. Ia sangat bahagia mengeluarkan ponsel dan mencoba mengabadikan momen itu. Ia ingin selamanya berada di momen itu.
Saat itu, sang suami mendengar suara dan melihat istrinya sedang berbicara sendirian. Ia hanya bisa pasrah. Ketika istrinya menceritakan rahasia tetes mata itu, ia tidak percaya dan pergi. Namun keesokan harinya, ia pun mencoba obat itu. Begitu membuka mata, ia benar-benar melihat putranya. Meski tahu itu ilusi, ia memilih untuk percaya. Rupanya arwah sang anak tak pernah benar-benar pergi. Kali ini ia datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada ayahnya. Sang ayah langsung memeluknya erat dan terus meminta maaf. Saat mendengarnya, sang anak perlahan menghilang meninggalkan ayahnya yang menangis sendirian.
Jika tetes mata ajaib itu benar-benar ada, siapa yang ingin kamu lihat kembali?