Transcription
Ya, coba kita lihat kembali ke tasawuf. Maka apa kata Ibnu Arabi? Ee puasa ini bukan amalan manusia, gitu ya. Puasa ini bukan amalan manusia. Ini amalan Allah. Karena Allah yang sanggup tak makan, tak minum. Kalau kita ambil satu hal yang lain di Al-Qur'an tuh la takuzuhu sinatu al naum. Dia enggak ngambil ngantuk, enggak tidur, kita mana tahan.
Nah, tapi apa kata Ibnu Arabi? Ketika manusia mampu mengamalkan amalan Allah, berarti dia meng Nah, gitu. Artinya apa? Tubuh rohaniah dia itu yang lebih menonjol. Maksudnya diri sejati itu yang menonjol yang enggak ada lagi kita enggak ada. Nah, isi suasana batin kita berpuasa ini dengan yang hal-hal yang begini. Iya kan? Bukan dengan bicara fadilah, suruh c makan kurma muda, duit awak tak ada mau ke mana pula? Jangankan kurma muda, bini muda pun kepingin awak. Iya kan? Cuma kan masalahnya kan palang pintu. Nah itu masalahnya kalau bercanda.
Nah diri itu tengok. Hmm lepas. Jangan ada aku lagi. Khurija angka. Kalau dia di dalam praktik itu keep ya Muhammad an rabbuka yusoli. Diam engkau ya umat. Ah kita nol kita enggak ada. Yang ada ini siapa? Maka kita tetap memandang kepada diri itu tadi bang puasa ini tengok. Nah, ini termasuk zikir yang tanpa huruf, tanpa suara dan dia adalah zikir tertinggi. Nah, rasakan ini ya. Jangan kita keluar ya. Jangan kita keluar dalam rasa yang begini, Bang. Enggak boleh. Batal. Apanya batal? Perjalanan spiritual kita batal. Jangan keluar. Ya.
Nah, kalau Nabi ada guanya kan gitu. Nah, ini itulah gua kita bermain kita di situ. Tak keluar aku memandang sifat ini diriku yang ini. Nah, apa nanti gejola yang ditarik Tuhan itu akan muncul sendiri. Ya Allah, gitulah kira-kira. Oh, gini rupanya. Nah, kalau sudah kita ee puasa, zakat fitrah, iya kan ada lailatul qadar dulu ya. Lailatul qadar di situ juga letak kajinya. Jadi enggak usah cari Lailatul Qadar lagi. Iya kan? Lailatul Qadar itu kita terjemahkan di malam ganjil 10 terakhir. Pertanyaannya yang ganjil siapa yang tak ada taranya? Tak ada persamaannya gajil itu tadi juga. Hah? Iya kan? Nah di 10 terakhir malam ganjil yang ganjil sudah dapat, ya terjadi di malam sejak terbit ee apa namanya? Terbit ee apa? Magrib sampai terbit fajar. Maksud malam tu apa? Orang yang enggak makrifat kepada Allah. Itulah yang gelap itu. Kalau gelap itu naik sepeda kayak mana? Nyesat enggak itu? Ah, itu maksud surah Al-Isra ayat 72 itu manana jiama wah akhiratu a'maila. Siapa yang enggak mengenal aku ya di dunia maka di akhirat. Dan itu ada orang yang tersesat. Jadi malam itu adalah orang yang tak mengaji, yang tidak mengenal diri, tak mengenal Allah. Fajar itu apa? Arti fajar itu terang. Itulah orang makrifat.
Kalau dikaitkan dengan kisah, kata orang-orang tua dulu malam Lailatul Qadar itu angin yang kencang tiba-tiba diam air membeku. Kan gitu-gitu ceritanya kan. Emas jadi emas. Jadi emas lagi segala macam seperti itu. Apa maknanya itu? Orang yang makrifat insyaallah berpegang dia kepada kaji itu banyak persoalan hidup. Karena memang setiap detik hidup ini adalah masalah. Tapi kalau kita setiap detik berada di situ ya bimakrifat itu ya hal yang tak bisa kita tinggalkan tapi harus betul-betul watasimu kita pegang arat itu. Iya kan? Insyaallah angin kencang jadi tenang. itu maksudnya ba'riah itu jadi baku apa beku itu maksudnya dia tetap memandang kepada itu tadi.
Nah, coba lihat puasa terlewati, Lailatul Qadar terlewati, apalagi tadi ee zakat fitrah. Iya kan? Nah, kalau sudah kita memulangkan diri yang seperti itu barulah kita disebut Aidil Fitri. Apa? Aidil Fitri itu kembali kepada fitrah. Iya kan? Fitrah kita mana? Kullu mauludin yuladu alal fitrah. Tiap-tiap anak yang dilahirkan itu dalam keadaan suci. Suci. Ah, fitrahlah kita. Nah, fitrah itu bukan diri yang ini juga, tapi diri yang itu tadilah yang fitrah itu. Nah, inilah laallakum tattaquun itu. Jadi di diri kita semuanya ya. Jadi, makanya berhenti kita bukan artinya kita mau meninggalkan syariat memaknai siam ini puasa ini hanya terhenti pada tidak makan, tidak minum, tidak bersetubuh ya di siang hari. Tapi berhentilah pada memahami yang puasa itu siapa di diriku ini. Iya kan?
Nah, di situ kita Pak ini baru hari keempat nih ya. Iya. Nah, ayo kita isi dengan itu, Pak. Makanya kita ya banyak uzlah ya, banyak menyendiri gitu. Kenapa kita coba Pak ini Ramadan ini kan yang 30 hari ini kan itu latihan. Nah, tapi bagaimana kita mengaplikasikan Ramadan itu tanpa batas ya kan. Habis nanti Ramadan ini ya, kita tetap merasa jiwa kita itu beramadan. Jadi ini mencontoh rumusnya dari mana? Mencontoh rumusnya dari asalatu daimun. Salat yang berkepanjangan. Bawalah sifat salat itu dalam kehidupan sehari-hari. Itulah salat yang berkepanjangan. Puasa ini pun gitu. Ada namanya ya asoim daimun ya puasa yang berkepanjangan ya.
Nah, kita kadang-kadang lucu bilang kita memahami puasa itu kan ini yang sekarang ini dari subuh tadi sampailah nanti magrib. Magrib buka. Iya kan? Nah, habis magrib ke sebelum sahur itu belum kita enggak terjemahkan puasa itu kan tetap kita bedain semestinya enggak begitu, Pak. Puasa itu bukan 13 jam kalau hitungan hari, tapi puasa itu tetap 24 jam. Kayak gini kita puasa karena sahur tadi. Nah, ginilah kita rasakan puasa. Enggak makan, enggak minum, kita jaga ee organ tubuh kita, perpandangan, penglihatan, kita jaga. Kan begitu tidak melakukan yang diharamkan hati kita jaga. Tidak ada ingatan kepada yang lain terkecuali kepada Allah Taala. Itu kita jaga gitu dia. N seperti itu kita apa namanya menunaikan ibadah puasa itu. Nah, jadi bukan 13 jam. Makanya Nabi itu ada puasa wisal itu habis dia berbuka dengan tiga buah kurma ya kan. Cuma kurma yang dimakan Rasulullah bukan kayak kurma yang kita beli itu ya kan? Nah. Karena ternyata di Arab pun sekarang, Pak. Cuma agak mahal katanya kurma tuh sebesar-sebesar gini loh. Kayak jambu gede gitu ya. Lebih besar dari buah pinang itu kalau dimakan tiga biji kenyang juga itu. Iya kan? Minum air air jam-jam gitu ya.
Nah, artinya apa? Nah, begitulah yang ini tadi bukan 13 jam Nabi terus buka minum dia. Cuma ketika ditanya apa yang dilakukan Rasulullah itu, itu memang disembunyikan dia. Nah, kenapa? Karena dia takut diwajibkan sama umatnya. Ya kan? Iya. Nah, mungkin pengalaman itu dari peristiwa Isra Mikraj kali ya. Karena ada pengalaman dari 50 waktu menjadi lima waktu ya kan. Karena itu mungkin fatwa Nabi Musa ya. Ya enggak mampatmu ya Rasulullah. Nah gitu dia. Nah, maka diberilah lima waktu. Jadi termasuk dalam kasus ini ya visal ya puasa yang maksud dia lanjutkan puasanya. Puasa daimun itu rohani itu ya. Hah? Puasa daimun itu rohani itu gimana puasa daimun? Heeh. Ya, yang rohani itu kan. Iya. Artinya gini, puasa daim itu ya pelakunya kan kita sudah tahulah kan secara tauhid dan tasawuf memang dia gitu. Cuma membawa kaji itu bukan nanti berbuka enggak dipakai lagi. Hmm. Iya kan? Kita jangankan tewa nanti ee kalau dalam satu hari saja kita kan puasa, maaf-maaf begini dia kita memaknai puasa itu ya menurut saya itu orang memahaminya puasa itu habis sahur sampai buka nanti. Iya betul. Inilah Ramadan buat dia kan keliru ini. Ramadan itu 24 jam puasa nya. Nah, bentuknya bagaimana? Kalau Nabi tetap tak makan tak minum, sudah buka dia dia lanjut puasa. Ah, cuma kan itu untuk aku, kata Rasul, itu bukan untuk umatku, itu untuk aku. Nah, tapi ada isyarat kita melihat bahwa hal yang seperti itu dilakukan Rasul itulah dikatakan kalau dalam salat asalatu daim berkepanjangan jiwanya itu. I kan kesadaran itu tetap dia jaga, dia rasakan. Puasa pun begitu bukan dia yang berpuasa. Tapi diri itu jadi sehingga ketika dia berpuasa akhlaknya baik, ketika di luar puasa pun itu baik gitu dia, Bang. Nah, seperti itu ya.
Jadi ee itulah ya kembali tadi puasa apa ini? Zakat ya puasa aja zakat lailatul qadar kemudian apa lagi? baru apa eil fitri yaitri ini empat mata rantai kan berhubungan berhubungan saya saya ulangi lagi puasa atau kemudian hah lailatul qadar dulu ya nah biar dekat dia baru ke zakat baru ke aidil fitri fitri nah gabungan ini ada dalam kajian ini gitu dia. Nah, ditinjau dari syariat ee tasawuf dan tauhid. Nah, rupanya itu yang harus kita kembangkan. Saya punya keyakinan walaupun masih persennya sedikit dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama Bang ketika mau beribadah sadar itu kan kita bangun. Iya kan? Alhamdulillah. Nah, jadi coba mari kita lihat lagi lebih dalam ya. Seperti itulah menyikapi puasa ala sufi dan ala ahlias tauhid. Iya kan? Nah, sampai situ kira-kira ada yang kita diskusikan enggak apa-apa ya.
Jadi ahli sufi itu Pak Sukir puasa itu bukan tak makan tak minum. Yang tak makan tuh ini mulut ini. Tapi mulut batin makan dia. Puasa inilah waktu dia makan. Dan perlu kita pahami antara mulut ini atau diri ini sama diri di dalam itu 11 bulan terjadi tarik-menarik ya. Ruh kita ditarik oleh jasad. Dia ngikut apapun kita dia ngikut mau ke sana di ikutnya ya kan di Ramadan ini diciptakan Allah ya untuk balance minimal ruh kita itu yang menarik itu. Nah, maka isi rohaniah tadi dengan amalan-amalan Ramadan mungkin puasa, berzikir lain sebagainya tadarus. Nah, supaya itu jadi kita melihat dalam kehidupan nyata betapa sedihnya kita melihat orang ya kurus tinggal tulang karena enggak makan. Enggak ada yang dimakan negara-negara kompleks misalnya kan kita prihatin kan. Sampai-sampai waktu peristiwa di Gaza anak-anak Palestina itu bilang, "Ya Muhammad, di mana engkau ya Muhammad? Apa kau tidak melihat kami?" Kan sampai begitu. Ternyata rupanya kita ini pun batin kita ya. Betapa mereka itu unjuk rasa batin ini itu bisa terlihat, Bang. Di mana terlihatnya kalau dia kurang asupan makanan? I kan seperti yang saya bilang tadi. Iya kan? Pemerintah menjaga MBG. Iya kan? Makanan bergizi gratis. Iya. Ah, itu ya karena dikhawatirkan fisik tadi kosong ini kan. Tapi dengan Ramadan diisi dengan zikir ini artinya menghidupkan diri yang itu.
Nah, makanya saya katakan ada isyarat kalau dia kurang giji diri batin itu apa isyaratnya? malas beribadah itu kibat laat kita kurang giji tuh malas itu salah satu tandanya yang kemudian apa sering datang kegelisahan itu tandanya ee MBG ke dalam enggak masuk diisi diisi. Dan yang spektakuler itu ternyata kalau diri rohaniah itu kita isi dengan zikir tadi seperti apa yang dikatakan Allah ya pemahaman sufi tadi apa yang kamu masukkan ke diri kamu itu adalah bagian dirimu. Ya, kalau diperuncing lagi sufi mengatakan apa yang kau masukkan dalam dalam perut jasmanimu atau rohanimu itulah diri kau. Jadi kalau kita membanyak zikir, nah itulah diri kita ya. Spektakulernya apa ini? Mampu menyehatkan diri kita. Sumutasiu. Puasalah kamu untuk sehat. Kalau kita gelisah karena kurang giji, asupan rohaniah kurang, itulah gelisah tadi. Maka obatnya ala bizikrillahulub ya. dengan ketenangan hati itu ya bisa membawa kesehatan. Nah, jadi bisa pengobatan rohaniah mampu menyembuhkan penyakit jasmaniah. Kencangin. Nah, kalaupun memang sudah azal, kita berada di jalan yang benar ketimbang mengeluh, menangis, ketakutan, segala macam. Nah, tapi kalau kita yakin ya itu tadi karena logikanya kan itu tadi ternyata puasa menyutup makanan untuk fisik ya sekian jam tapi juga sekian jam untuk memberi makan rohaniah. Hmm. Jadi ini harus hal yang penting kita pahami. Ini penting ini, Pak. Karena ternyata betul kan rukun Islam yang lima itu punya terkaitan semua kan. Itu kan itu keterkaitannya. Rukun Islam yang lima itu keterikannya syahadat. Nyaksikan dulu. Salat apa intinya? Mengingat Allah. Kalau enggak kenal macam mana dia mengingat? Ya kan? Syahadat, salat, puasa. Yang puasa itu siapa? Kan? Diri batin tadi juga. Habis puasa zakat. Bagaimana zakat itu? mengeluarkan sifat Allah. Jangan diakui itu sifat kita karena itu sifat Allah. Mengeluarkan ya diserahkan kepada yang mustaha. Siapa yang mustahak di situ? Allah itu senend sendiri. Habis itu apa? Haji. Haji itu apa puncanya? Wukuf di a di Arafah. Jadi ee ee ee siapa bilang gaji itu tidak punya dasar? Nah, maka inti gaji ini dalamilah syaha syahadat. Salami syahadat itu. Nah, kalau sudah sempurna syahadat, sempurna salat, sempurna ee puasa, zakat, haji, ya insyaallah. Nah, gitu dia.
Hmm. Cuma kan secara moral saya sering itu ngingatkan diri saya, Pak Yopis. Tibanya kita di Ramadan ini, saya bilang dalam bahasa dakwah saya, ini bukan kebetulan. Jangan sikapi kebetulan. Kalau disikapi dengan kebetulan itu kurang menggigit dia gitu kira-kira. Tapi hargai pemberian Allah ini. Tibanya kita, umur kita di Ramadan ini, ini pandang itu rahmat karunia Allah. Ya, kalau ini tidak kita syukuri, maka kita akan apa yang kata Allah? Siapa yang bersyukur kut tambah tak bersyukur tunggu azabku amatlah pedih. Jadi sadari gitu kalau puasa ini rahmat Allah ya. Hmm. Pahami lagi lebih dalam rahmat Allah itu itulah kenyataan Allah. Nah, itu tadi. Makanya saya katakan juga itu adalah amalan Allah.
Nah, kemudian apa? Mari kita nasihati diri kita dengan pernyataan jangan-jangan ya Allah ini Ramadan terakhir buat aku. Iya kan? Kita kan enggak tahu ya. Jangan bilang orang sakit meninggal, orang sehat aman. Enggak. Ya kan kayak pohon kelapanya itu yang muda jatuh, yang tua kadang enggak jatuh-jatuh. jatuh saja sampai tumbuh lagi dia mau jatuh harus dijatuhkan iya kan? Nah, kalau dalam politik itu kan kena kasus Soe Harto itu dulu kan tua di atas saja. Iya kan? Kalau untuk tingkat kampung tamsilnya woh diasih mau jadi najirrah aja payah diganti kan gitu. Ah itu namanya adalah pelepah pisang. lepas pisang itu kan lengket aja dia mau dilepas ditarik dulu kan seperti itu tu pelepak pisang. Nah, jadi ee apa namanya itu nasihat motivasi. Jangan-jangan ini Ramadan terakhir buatku ya Allah. Tapi nasihat bukan doa ya kan. K untuk mati enggak boleh. Mana boleh minta minta ma kalau orang yang mau puasa dia meninggal itu termasuk hitungannya merugi gitu. Hm. Merugi ya. Kalau dari sisi dia bisa ee menggunakan Ramadan itu sebagai cita-cita dan wujud nyata dia ingin meningkatkan ketakwaan tidak dikasih kesempatan kira-kira begitu cara hukum logika ya rugi dong enggak lulus masuk TNI?
Cerita itu waktu Umar bermimpi itu he dia jumpa orang sangat kali patuh kali dengan agamanya mesti ke masjidnya pokoknya enggak pernah ditinggal seperti itu. Yang satu lagi biasa-biasa saja di kala itu meninggal dua-dua maksud dia tanya sama Nabi, "Rasul ini dua-dua meninggal yang satu taat satu biasa-biasa aja tapi yang meninggal duluan yang taat tadi sebelum Ramadan yang meninggal." Nah, mengata yang rugi yang meninggal sebelum Jumat Ramadan. Oh, iya. Kalau dibandingkan dengan itu, karena kisah itu menunjukkan intinya hebatnya bulan Ramadan itu. Iya, maksudnya gitu. kemuliaan Ramadan itu seperti itu. Makanya sih akhirnya kan banyak disuruh kita mengamalkan usai salat itu uh Allahumma sallim Ramadan wasallim ramadana lana. Kan ada doa itu. Ya Allah selamatkan kami ya Allah di Ramadan tahun ini dan pertemukan kami lagi dengan Ramadan akan datang. Tapi ada juga terjemah doa itu ee, ya Allah selamatkan kami dengan Ramadan dan jadikan Ramadan itu diri kami. Iya. Nah sampai begitu doanya itu. Itu kalau enggak enggak ini bahasa Arabnya, bahasa Indonesianya, "Ya Allah jadikan diriku jadi Ramadan." Nah, kan simpel itu. Ya Allah selamatkan kami di Ramadan tahun ini, Ya Allah. Pertemukan kami lagi dengan Ramadan yang akan datang dan jadikan ya Allah diri kami Ramadan ya Allah jadi munajat. Bagus bagus itu Nabi pun bilang kalau bisa kalau tahu bagusnya tiap hari Ramadan ya. Iya nabi kan itu itu di akhir di akhir ee Ramadan Rasulullah mengatakan itu laamu umati Ramadan. Jikalau umatku mengetahui apa yang terkandung dalam Ramadan itu, niscaya mereka tidak mau Ramadan itu 1 bulan. Ya. I kan kalau bisa Ramadan itu 1 tahun. Artinya apa? Sepanjang waktu ya, sepanjang masa terus beramadan itu. Nah, kira-kira begitu. Kalau luar biasa itu kan. Allahumma sholli. Mana Pak Air? Sini. Ini agak dingin nih karena kipas ada situ ada berkawan anakku. Kami ada pertanyaan juga. Ah puasa itu kan tidak makan tidak minum. Tapi bagaimana puasa tapi makan tapi minum katanya. Oh ada itu seperti apa kata ini Syekh Abdul Qadir Jailani dalam sebuah pernyataannya. Mungkin kalau aku membilang ini dia melihat ke dirinya dan keluar dirinya. Banyak orang puasa tapi enggak puasa kata dia. Nah, itu pernyataan Syekh Abdul Qadir Jailani. Nah, apa maksudnya? Banyak orang puasa tapi enggak puasa. Mereka menahan-nahan diri. Hanya tidak makan, tidak minum, mencuri, nokoh. Dan mereka lakukan gitu. Artinya dia puasa tapi enggak dapat pahala gitu. Iya. H seperti itu kan. Nah, itu dia. Tapi coba kita matangkan yang tadi itu, Bang. Ya, pertama kita coba melihat puasa alas sufi dan ahli tauhid itu menurut saya ini penting dalam perenungan saya. Ya Allah gitu termasuk kami masih jauh untuk tercapainya tujuan daripada ibadah Ramadan itu. Coba bayangkan ahli sufi saya katakan tadi mereka dalam setahun itu dua kali ulang tahun. Nah, ini ini coba sikapi kisah ini suasananya itu. Kenapa mereka mengartikan e mereka itu setahun dua kali ulang tahun? Yeah.