📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Dauroh Kitab: Al-Ajwibah Al-Mufidah an As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah (Sesi 1)

Abdurrahman Thoyyib1:04:13

Transcription

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Innalhamdalillah nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastagfiruh wa nazubillahi min syururi anfusina wamin sayiati a'malina. Man yahdihillahu fala mudhillaalah. Waman yudlil fala hadiyaalah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah. Wa ashadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh.

Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun. Ya ayyuhannasuttaqubakumulladzi khalaqakum min nafsi wahida waqo minha zaujaha. Wab minhuma rijalan katsir waisa wattaqulahalladzi tasaaluna bihi wal arham. Innallaha kaana alikum raqibah.

Ya ayyuhalladzina amanutaqulaha waqulan sadida yuslih lakumakumagfirakumunubakum wahasulahu faq faza fauzanima amma ba asqal had kitabullahiral had muhammadin shallallahu alaihi wasallam umdatu bidah bidatinalah waalitatin finar.

Maasal muslimin, ikhwani fillah wa akhwati, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudariku rahimani warahimakumullah. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa taala yang mempertemukan kita dalam majelis yang mulia ini di dalam salah satu taman surga Allah yang ada di dunia ini. Semoga Allah Subhanahu wa taala senantiasa memberikan kepada kita keistikamahan dalam berpegang teguh dengan manhaj ahlusunah wal jamaah sampai akhir hayat kita nanti.

Langsung saja, insyaallah pada hari ini kita ada empat pertemuan mengkaji atau meringkas mencuplik sebagian dari kitab al-Ajwibatul Mufidah an asilatin manahid aljadidah. Soal jawab seputar manhaj oleh Fadilatus Syekh ad Dr. Shin Fauzan Alfauzan. hafidahullahu taala. Kitab ini di awal-awal dakwah salafiyah di Indonesia tahun 90-an kurang lebih. Ini sangat viral ya pembahasan seputar manhaj. Sekali lagi ini yang kita isratkan pada waktu tadi malam. Kalau awal-awal dakwah salafiah di negeri kita ini, para asatizah mereka luar biasa masih kental dalam mendakwahkan ciri khas dakwah salafiyah. Tabligh akbar daurah itu tidak banyak keluar dari akidah wal manhaj. Akidah wal manhaj ya. Cuma sekarang sudah mulai luntur ya. Sekarang ini kalau tidak sakinah, mawaddah, warahmah ya masalah muamalah, jarang, langkah, kajian, tablig akbar atau daurah membahas kitab ya akidah wal manhaj illa man rahimahullah. Maka ini sekedar wakir fainikal mukminin. Dan ini sekali lagi pentingnya untuk kita mengulang kembali kajian ini. Kalau di Surabaya, alhamdulillah kita sudah mengkhatamkan kitab ini beberapa tahun yang lalu dan itu butuh waktu setahun lebih ya. Insyaallah masih ada di YouTube rekamannya 40 sesi kajian kita di Surabaya ya. Mengkaji kitab ini secara tuntas. Namun sekarang cuma sehari saja ya. Maka ini sekedar ya ma yudrak julluh kata orang Arab ketika tidak bisa mengambil semuanya tidak mesti ditinggalkan keseluruhannya.

Ikhwani fillah akhwati rahmani warahimakumullah. Dan pembahasan ini sangat penting sekali di zaman ini ketika banyak muncul syubuhat baik dari luar maupun dari dari dalam ya. Ini sangat penting agar kita bisa selamat diizinillahi taala dari pemikiran-pemikiran sesat ataupun dari syubhat-syubhat yang terus bergentayangan di tengah-tengah kita entah di dunia nyata maupun di dunia maya.

Kemudian sekedar tak kenal maka tak sayang tentang penulis kitab ini sebagai insyaallah sudah paham beliau adalah Fadilatus Syekh Adr. Salh bin Fauzan Alfauzan hafidahullahu taala. Meskipun asal kitab ini adalah kajian muhadarah kemudian ditanskrip oleh murid beliau yang bernama Abu Abdillah Jamal Ibnu Furah al-Hari rahimahullahu taala. Syekh Salh bin Fauzan salah satu ulama besar di abad ini. Merupakan ulama besar juga di Saudi Arabia. Beliau lahir tahun 1354 Hijriah. selisih 3 tahun dengan As Syekh Rabi' bin Hadi Almadakhali rahimahullahu taala yang 2 hari lalu beliau meninggal dunia rahimahullah rahmatan Wasiah. Ya, kalau Syekh Rabi lahir tahun 1351 Hijriah. Ya, kurang lebih tahun 1933 Masehi sebelum kemerdekaan. Ya, jadi sekali lagi selisih 3 tahun dengan Syekh Rabi bin Hadi dan selisih setahun dengan Syekh Abdul Muhsin Alabbad Albadr hafidahullahu taala. Ini dua yang ulama ahlusunah, ulama dakwah salafiyah yang masih hidup ya. Semoga Allah memanjangkan usia mereka di atas ketaatan kepada Allah. Syekh Salh bin Fauzan lahir tahun 1354 Hijriah. Syekh Abdul Muhsin Abbad lahir tahun 1353 Hijriah. Sedangkan Syekh Rabi yang baru meninggal 1351 Hijriah ya. Beliau meninggal usia kurang lebih 96 tahun hampir seabad. Syekh Rabi' ya rahimahullah taala rahmatan wasiah. Adapun Syekh Salh bin Fauzan ya sekarang masih hidup semoga Allah memanjangkan usia beliau di atas ketaatan kepada Allah subhanahu wa taala ya. Dan alhamdulillah kita waktu kuliah di Madinah beberapa kali ikut kajian beliau entah di aulah kampus ataupun di Masjid An-Nabawi hafidahullahu taala. Beliau punya banyak karya ilmiah entah dalam masalah akidah. Kemarin sempat kita bacakan satu kitab beliau. Ada yang ingat gak judul kitab beliau? Tadi malam kita sempat nukil ucapan beliau tentang skala prioritas dalam menuntut ilmu agama. Judul kitabnya saja. Apa itu? Ada yang ingat gak? Namam. Ahsan. Jazakumullah khair. Alirsyad ila sahihilil ittiqad. ya. Kita ingin dalam kajian-kajian kita mengikat para tulabul ilmi dengan referensi para ulama ya. Karena kita melihat gejala di zaman ini banyak para ya istilahnya pahlawan medsos lah. Enggak tahu pahlawan kesiangan atau gimana yang posting yang penting ada di otaknya ditulis. Enggak tahu referensinya dari mana. Asbun. Pospus tahu pospus? Hah? Seperti yang kita sampaikan kemarin, posting kemudian hapus, posting hapus. Kenapa? Karena postingnya tanpa in tanpa maraji. Ketika dibantah hapus, bantah dihapus, bantah hapus. Demikian kelakuannya. Ini menunjukkan apa? Kejahilan dan tadi kemiskinan referensi. Ya. Adapun ahlusunah secara umum dikenal dengan kekuatan ilmiahnya, kekuatan dalilnya. Tidak asbun. Tidak yang terlintas di otaknya ditulis ya, namun ditimbang kembali dengan qalallah waqala rasul waqala asahabah. Ya, di antara referensi kemarin malam al-Irsyad ilasil iktiqad oleh Syekh Salh bin Fauzan Alfauzan. Itu di antara kitab beliau tentang akidah. Demikian pula kitab beliau ini masalah manhaj. Beliau punya kitab juga masalah fikih almulakhas alfiqih yang sangat bagus sekali ya. dan masih banyak yang lainnya.

Maasal muslimin ikhwani fillah wa akhwati rahimani warahimakumullah. Karena tadi keterbatasan waktu maka sekedar kita akan mencuplik meringkas apa yang ada dalam kitab al-Ajwibah almufidah an asratin manahid aljadidah. Ya, ringkasnya judulnya bertemakan soal jawab seputar manhaj. ya, terutama manhaj kontemporer. Kemudian sebelum kita masuk ke dalam inti pembahasan, perlu kita sampaikan apa arti manhaj. Almanhaj secara bahasa Arab artinya atariqatul wadihah, jalan yang terang benerang. Kalau secara bahasa ini mencakup berbagai macam bidang keilmuan bahkan mencakup bidang apa saja. Manhaj dalam menulis, manhaj dalam mengajar. Banyak istilah manhaj digunakan untuk berbagai bidang aktivitas kehidupan manusia. Tapi yang dimaksud di sini manhaj dalam arti yang khusus, yaitu manhaj dalam berdakwah. Seperti yang ditegaskan oleh As Syekh Ahmad bin Yahya an-Najami rahimahullah taala. Beliau punya kitab juga mirip soal jawab tentang manhaj. Judulnya Alfatawa Aljaliah anil Manahij Addawiyah. fatwa-fatwa yang terang benderang tentang manhaj dakwah. Ketika beritanya mal maksud bil manhaj, apa yang dimaksud dengan manhaj? Beliau mengatakan, "Almanhaj hua atariqoh allati yaslukuha tholibul ilmi fidwati ilallah." Ini manhaj bermakna khusus kata beliau. Manhaj adalah jalan yang ditempuh oleh penuntut ilmu agama dalam berdakwah ke jalan Allah Subhanahu wa taala. Ini yang ditekankan oleh beliau. Makanya judul buku beliau tadi Fatawah Aljaliah anil Manahij Adwiyah. fatwa-fatwa yang terang beneran tentang manhaj dakwah sama dengan yang akan kita kaji ini. Ajwibatul mufidah an aslatin manahid aljadidah. Kalau redaksi bahasa Arabnya tadi jawaban-jawaban yang bermanfaat tentang pertanyaan seputar manhaj-manhaj kontemporer. Yang dimaksud manhaj di situ adalah manhaj dakwah kontemporer seperti kelompok Ikhwan Muslimin atau kelompok dakwah, Jemaah Tabligh dan yang semisalnya. Ini yang dimaksud oleh beliau. Jadi sekali lagi yang kita bahas sekarang manhaj dalam arti khusus yaitu manhaj apa? Manhaj apa? Addakwah. Paham ya? Meskipun di sana ada manhaj bermakna umum. Manhaj firqatin najiah yaitu jalan yang ditelusuri oleh ahlusunah dalam seluruh aktivitas kehidupannya berkaitan dengan akidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan seterusnya. Namun dalam kajian ini kita lebih khususkan dalam manhaj masalah apa? addwah ini kita sampaikan karena ada orang yang jahil ya namun sok ya paham masalah ini. Mereka mengatakan gak ada mengkhususkan ya manhaj dalam masalah ya dakwah ya. Kita katakan ini orang jahil murakab. Ada makna manhaj secara umum, ada manhaj secara apa? Khusus sebagaimana tauhid. Ada tauhid yang bermakna umum, bermakna khusus. Tauhid bermakna umum yaitu ifradullah bima yaktasu bihi. Mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah. Itu berkaitan dengan rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat. Ini tauhid bermakna apa? Umum. Ada pula tauhid bermakna khusus yaitu ifradullahi bil ibadah. Mengesakan Allah dalam apa? Al-ibadah. ini tidak saling bertentangan ya, ini saling menguatkan. Demikian pula manhaj secara umum yaitu jalan yang ditempuh oleh seorang muslim dalam aktivitas kehidupannya, dalam beragama khususnya. Namun ya ada makna manhaj secara khusus yaitu manhaj dakwah jalan yang ditempuh oleh penuntut ilmu dalam berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa taala. Ini kenapa kok dikhususkan? Karena bermunculan di zaman ini metode-metode dakwah yang baru, kelompok-kelompok dakwah yang baru yang memang harus dipisahkan dari dakwah ahlusunah, dakwah asalafiyah. Ini pentingnya juga kita belajar kitab ini agar kita bisa membedakan diri dengan mereka atau agar kita bisa menilai mana dakwah salafiah yang murni, yang sejati, dengan yang imitasi ataupun yang menyimpang dari ajaran ahlusunnati wal jamaah.

Tib. Langsung saja kita baca sekarang ini. Kalau cetakan saya tahun 1997 ya cetakannya mungkin sudah ada tambahan-tambahan yang baru coba yang saya pegang. Cetakan kedua tahun 1997 ya. Hampir berapa tahun yang lalu? Hah? 30 tahun. Nah. Jadi seperti yang kita sampaikan ya tadi kurang lebih 30 tahun yang lalu kitab ini sempat viral namun sekarang sudah agak tenggelam ya maka perlu untuk kita munculkan lagi ya untuk wakir fainzikratan fal mukminin. Kita baca poin yang keempat. Pertanyaan yang keempat. Nasmau katsiron amma yusamma bil jamaatil islamiah fi hadal asr fi mukhtalifi anhail alam. Fama aslu had tasmiyati. Ada pertanyaan. Kami mendengar banyak tentang kelompok-kelompok yang dinamakan dengan aljamaatil islamiah, yaitu kelompok-kelompok dakwah tadi di zaman ini di berbagai penjuru pelosok negeri. Dari mana asal penamaan ini? Ini pertanyaannya. Wahal yajuzahab maahum wa musyarakatuhum id lam yakun ladaihim bidatun. Pertanyaan yang berikutnya kata penanya, "Apakah boleh kita bergabung bersama mereka selama tidak ada kebidahan ya di tengah mereka?" Maka dijawab oleh Syekh Salh bin Fauzan hafidahullahu taala, "Ar Rasul sallallahu alaihi wasallam akhbarana bayyana lana kaifa naal." Rasul sallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita, telah menjelaskan kepada kita bagaimana kita menyikapi semua hal ini. Seorang muslim apalagi salafi wajib meyakini semua yang dibutuhkan oleh manusia, oleh kaum muslimin. Apalagi yang berkaitan dengan urusan agama ini sudah ada penjelasannya komplit di dalam Al-Qur'an dan sunah Rasul sallallahu alaihi wasallam. Sebagaimana kata Abu Dzar alghifari radhiallahu anhu, tarokana Rasul sallallahu alaihi wasallam wirun yuqbu jar fil hawa illa waq bayana lana anhu ilman. Tidaklah Rasul meninggalkan kita kecuali Rasul menjelaskan kepada kita semua yang dibutuhkan sampai masalah burung yang terbang di udara sudah dijelaskan ilmunya oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam. Makanya seperti kemarin kita bahas, skala prioritas dalam menimba ilmu, dalam menuntut ilmu agama sudah dijelaskan oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam yang wajib diprioritaskan adalah attauhid. Maka tidak boleh menyimpang dari manhaj dakwah, manhaj taklim yang telah diajarkan oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam. Kata beliau, yuqorallah wahu wahu alaihiatu wasalam. Kata beliau, "Tidak ada sesuatu yang bisa mendekatkan umat kepada Allah kecuali Rasul telah jelaskan." Tidak ada ya, yang bisa menjauhkan manusia dari Allah kecuali sudah diperingatkan oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam. Rasul juga bersabda dalam lanjutan hadis tadi Abu Dzar radhiallahu taala anhu beliau mengatakan Rasul sallallahu alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada sesuatu yang bisa mendekatkan kepada Allah kata Rasul kecuali sudah dijelaskan semuanya." Tinggal setiap muslim muslimah mempelajari apa yang diajarkan Rasul dan mengamalkannya serta mendakwahkannya. Wamzalika hadil masalah. Di antaranya yang Rasul telah jelaskan dalam menyikapi kelompok-kelompok dakwah kontemporer sekarang sudah dijelaskan oleh Rasul sallallahu alaihi wasallam. Rasul bersabda, "Faahu man yais minkum fasar ikhtilafan." Sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang hidup setelahku nanti, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Terutama dalam metode berdakwah. Ada kelompok dakwah yang lebih memprioritaskan masalah politik seperti kelompok Ikhwan Muslimin atau yang lebih mementingkan masalah jihad juga sama seperti kelompok Ikhwan Muslimin. Karena kelompok Ikhwan Muslimin yang didirikan oleh Hasan Albanah itu ada dua sayapnya. Sayap politik, sayap militer. Ini kelompok dakwah. kontemporer. Kemudian yang kedua ada lagi kelompok dakwah Hizbut Tahrir lebih memfokuskan masalah mendirikan khilafah. Ya, ada pula yang jamak tabligh fadilul ammal. Ada pula sebagian dai yang lebih memprioritaskan masalah fikih ahlusunah wal jamaah. Sudah kita sampaikan prioritas dakwahnya kepada Attauhid. Maka bagaimana menyikapi kelompok-kelompok dakwah yang buahnya ini. Maka ini yang Rasul telah kabarkan memang akan terjadi hal seperti ini. Perbedaan bukan masalah fikih saja, masalah metode dakwah, manhaj dakwah, bermacam-macam. Kata Syekh, lakin mahal ilad in hudutialik. Rasul mengabarkan umat akan terjangkiti penyakit perpecahan tadi. Sekali lagi, terutama dalam masalah manhaj dakwah, metode berdakwah. Lalu apa solusinya? Kata beliau, "Faikum bisunnati wasunnatil khulafair rasyidin Mahdi." Solusi dari perpecahan, perbedaan, perselisihan tadi pegang erat sunahku kata Rasul dan sunah para khulafa arrasyidin. Maka kalau antum ditanya mana metode yang benar antara metode Ikhwan Muslimin jemah tabligh atau Hizbut Tahrir mana yang benar? Ah dari kajian kemarin tadi malam dari tiga ini mana yang lebih benar? Hah? Hah? Biar enggak ngantuk antum. Ah ragu jawabnya. Jawab yang tegah ya. Masalah manhaj jangan melempem. Hah? Tidak ada yang benar sama sekali. Kenapa demikian? Karena semua ini enggak sesuai dengan alikum bisati khulafaidin. Rasul mengatakan kepada Muad in ahl kitabakunhaillallah. Wahai Muad, engkau akan mendatangi ahli kitab di negeri Yaman. Jadikan dakwahmu pertama kali tentang lailahaillallah. Para nabi, para rasul intisari prioritas dakwah mereka tentang tauhid. Namun tiga kelompok dakwah ini mereka apa? tidak mengikuti para nabi, tidak mengikuti Nabi Muhammad, tidak mengikuti metode dakwah yang disampaikan oleh Rasul kepada Muad bin Jabar radhiallahu taala anhu. Maka yakini ini ketiga-tiganya sesat menyesatkan. Ini sekali lagi, fadza baal haqqiadal. Kata Allah, "Tidaklah setelah kebenaran kecuali kesesatan." Tidak boleh ada keraguan. Sesat katakan sesat. Karena sekali lagi kalau tidak demikian umat akan terus diombang-ambingkan oleh kelompok-kelompok sesat tersebut. Kemudian Rasul mengatakan juga dalam lanjutan hadis tadi, tamasaku biha wau alaiha nawajid waakumtil umur. Jauhkanlah diri kalian dari hal-hal yang baru dalam urusan agama. Itu tadi di antaranya urusan metode dakwah ini adalah ibadah. Maka kalau ada yang mengarang hal yang baru dalam metode dakwah ini yang Rasul larang iaku wa muhdati al umur fainna kulla muhdtin bidah. Karena setiap yang baru dalam urusan agama itu bidah. Wa bidatin dolalah. Dan setiap bidah itu sesat. Bidah bukan hanya urusan ritual ibadah, namun juga masalah metode apa? Dakwah. Meskipun itu juga bagian daripada ibadah. Namun sekali lagi lebih ditekankan lagi metode dalam berdakwah itu sudah Rasul ajarkan. Yang ngarang metode baru itu metode dakwah yang bidah. Rasul mengatakan wa bidatin dolalah. Setiap bidah itu sesat. Kemudian kata Syekh Salh bin Fauzan, jamaatu minas washabah jamaah maaha. di tengah-tengah kelompok-kelompok dakwah tadi. Kalau seandainya ada dakwah yang sesuai dengan ajaran Rasul, ajaran para sahabat Rasul, terutama ajaran para khulafa arrasyidin atau yang sesuai dengan manhaj salaf, maka kelompok jemaah tersebut kita apa? wajib ikut bersama mereka menisbatkan kepadanya dan beramal bersama bersamanya. Dan tidak ada jemaah dakwah di zaman ini yang sesuai dengan makna alaihi wa ashabi kecuali dakwah asalafiyah. Dari sisi tadi prioritas dakwahnya kita membahas tentang manhaj dakwahnya bukan oknum yang menisbatkan. Karena sudah kita sampaikan tadi oknum dari yang menisbatkan kepada dakwah salafiyah ada yang sudah menyimpang tidak mau lagi dakwah tauhid atau malah menggembosi dakwah at-tauhid. Yang kita bahas manhaj dakwah ya. Manhaj dakwah yang hak cuma satu. Manhaj dakwah salafiyah. Karena apa tadi? Prioritas dakwahnya kepada At-tauhid mengikuti manhaj dakwah para nabi, para rasul, terutama Nabi kita Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Manhaj dakwah inilah yang wajib kita apa? Menisbatkan diri kepadanya. Sebagaimana kata Syikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, laiba liman azar mazhab salafas ilai waaz ilai. Tidak tercela orang yang mengikuti mazhab salaf, menisbatkan diri kepada mazhab salaf dan berbangga dengan mazhab salaf. Bal yajib qoblalika bil ittifaq. Bahkan wajib menerima akan hal itu dengan kesepakatan. in mahabalafakun haqqo karena mazhab manhaj salaf itu pasti benar ya ini sekali lagi di tengah-tengah kelompok-kelompok dakwah tadi kalau ada yang mengikuti ma ana alaihi wa ashabi ajaran rasul ajaran para sahabat rasul maka kita ikut bersama ya mereka w khfaahad ya rasul sallallahu alaihi wasallam Islamiah. Adapun kalau ada kelompok dakwah atau oknum yang berdakwah, namun menyelisihi manhaj dakwah Rasul, apalagi menyelisihi akidahnya Rasul, maka kita wajib menjauhinya. Inilah tolak ukur timbangan. Kapan kita berwalak, berloyalitas, dan kapan kita berbar. Kata Rasul, a iman alhubbu fillah waldu fillah. Sekuat-kuat tali keimanan, cinta dan benci karena Allah. Di antaranya kalau orang itu menyelisihi ajaran Rasul, maka wajib ada albara. Apalagi dalam akidah dan almanhaj. Meskipun orang yang paling dekat dengan kita. Kata para ulama, kita ketika mencintai seseorang karena Allah, karena dia bertauhid, karena dia ittiba kepada sunah Rasul, karena dia di atas manhaj ya asalafi yang sejati, kita cinta. Tapi ketika orang itu sudah berubah, wajib kita juga apa? Berubah sikap kita. Wala kita karena Allah, kita cintai dia karena Allah karena dia mengikuti akidah manhaj para salafus saleh kita mencintainya. Maka ketika dia berubah, kita wajib apa? Berlepas diri. Membenci juga karena Allah. Jangan cinta sampai mati padahal orangnya sudah berubah. Berubah akidahnya, berubah apa? Manhajnya. Makanya seorang ulama salaf yang bernama Abu Bakar al-Ayyasy rahimahullah ketika ditanya man sunni siapa ahlusunah itu? Siapa salafi yang sejati itu? Kata beliau, "Alladzi idza zukiratil ahwa lam yagdob lisyaaiin minha." Seorang salafi, seorang sunni adalah orang yang ketika disebutkan hawa nafsu alias kebidahan, penyimpangan, dia tidak membela sedikit pun dari kebidahan tersebut. Jangan gara-gara dia ustaz, antum ketika dia sesat, postingannya menyimpang jelas-jelas dari akidah salaf. Kemudian ketika dibantah dengan bukti yang nyata dengan ilmiah, antum membelanya membabi buta. Nauzubillah minzalik. Ini namanya hisbiah. Ini namanya alwala. Bukan karena Allah subhanahu wa taala. Apalagi Rasul mengatakan, "Laanallah man awa muhdatan." Allah melaknat orang yang membela kebidahan. Nauzubillahi minzalik. Makanya Syekh Salh bin Fauzan di pembahasan ini mengatakan tolak ukur kapan kita berwalak, kapan kita bergabung dengan kelompok dakwah kalau ukurannya ma ana alaihi wa ashabi. Adapun kalau sudah menyimpang natajannabuhu kita wajib menjauhinya. meskipun tadi ya seandainya dulu dia apa luar biasa akidahnya, manhajnya di atas akidah man salaf tapi kalau sudah berubah wajib kita apa menjauh. Ada enggak orang yang seperti itu dulunya Salafi kemudian menjadi mantan Salafi? Ada enggak? Hah? Peanya. Naubillahik Allah Taalaam yaqalubana al ya. Maka sekali lagi ini tolak ukurnya. Kata beliau, kalau ada kelompok dakwah yang menyimpang dari ajaran Rasul, terutama tadi metode dakwah Rasul, kita wajib menjauhinya. Meskipun dia menamakan dirinya dengan jemah islamiah. Albratu laisat bil asma. ukurannya itu bukan sekedar nama ya kata beliau al ibratu bil haqqa tolak ukurnya itu hakikat jati diri orang atau kelompok tersebut jangan kita tertipu dengan slogan propaganda oh ini doktor salafih oh ini ustaz salaf dai salaf lihat dulu akidahnya ya namanya dai salafi tapi suka mencaci maki pemimpin kaum muslimin mesas Ini sekali lagi bukan dai salafi yang sejati. Ini yang imitasi. Enggak ada dawi salafi yang sejati yang mencaci maki pemimpin kaum muslimin. Harus betul-betul apa? Kita sadar. Harus betul-betul kita ya kemarin ya selektif. Namanya dai salafi itu ukurannya akidah wal manhaj. Bukan ukurannya sekedar berjenggot. Iya. berjenggot wajib bagi setiap muslim. Tapi ini bukan ukuran apa orang itu dikatakan di atas akidah asalaf. Ya, makanya Syekh Muhammad bin SH Utsimin rahimahullah ketika ditanya kapan orang itu keluar dari firqatin najiah? Kata beliau, kalau menyelisihi dalam masalah akidah tauhid dan dia jatuh ke dalam kebidahan. Adapun maksiat, kesalahan dalam akhlak tidak mengeluarkan dari alfirqati annadiah. Bahkan insyaallah akan ada pembahasan selanjutnya. Lebih baik orang itu berbuat maksiat daripada berbuat apa? Ke bidat. Orang itu dikatakan ahli sunah meskipun dia ahli maksiat tadi ya. tidak berjenggot alas mencukur jenggotnya atau mungkin berbuat maksiat yang lain. Dia masih bisa dikategorikan ahlusunah kalau akidahnya manhajnya sesuai akidah manhaj salaf. Tapi kalau misalnya jenggotnya luar biasa panjang jubah luar biasa pakai siwak ya. Namun dia ikut dakwah ikhwan muslimin jemaah tabligh tadi maka dia apa? bukan ahlusunah wal jamaah atau akidahnya menyimpang dari akidah asalaf seperti masalah tadi mencaci maki pemimpin kaum muslimin. Ukurannya bukan casingnya ukurannya akidah wal manhaj. Maka seorang harus paham betul kapan orang itu keluar dari ahlusunah. Ya, sebagaimana kata Imam Ahmad dalam akidah ya beliau usulus sunah beliau mengatakan winas sunnatil lazimah allati khlatan minha lam ymin biha walam yaqbalha lam yakun min ahliha di antara sunah yaitu di antara akidah yang wajib dipegang erat yang barang siapa meninggalkan salah satu perangainya tidak mau mengimaninya, tidak mau menerimanya, dia bukan ahlusunah. Kemudian beliau sebutkan masalah akidah ahlusunah. Ini tolak ukur. Kapan orang itu dikatakan keluar dari ahlusunah? Kalau menyimpang dalam salah satu usulus sunah, prinsip akidah ahli sunah. Bukan dalam masalah apa? Akhlak ataupun maksiat. Iya. Itu salah, itu dosa. Iya. itu mengurangi iman namun tidak mengeluarkan dari ahl sunah. Maka wala bar kita juga harus apa? Sesuai dengan kadarnya. Jangan sampai orang yang naudubillah minzalik kita lihat postingannya sesat menyesatkan dalam urusan ya ushul sunah menyimpang bahkan sampai kepada ya kufur akbar postingannya tapi tetap ditokohkan di e cintai dihormati dan seterusnya. Adapun yang mungkin dikatakan salah dalam masalah akhlak luar biasa kayak ahli bidah. Justru sebaliknya yang postingannya sesat dalam ushul sunah, prinsip akidah ahli sunah ini yang wajib dihajr, diboikot, ditahdir dibandingkan yang apa? Jatuh ke dalam ya penyimpangan masalah akhlak ataupun kemaksiatan. Meskipun dua-duanya salah salah ya, namun ada level-levelnya. Fahimtum nam. Kemudian kata beliau, "Amal asma faq takunuatan." Kata beliau, nama atau gelar terkadang luar biasa besarnya ya. Kayak gajah besarnya. Namun apa? Kosong dari ittiba kepada manhaj salaf. Maka sekali lagi jangan tertipu dengan gelar ya segede sebesar apapun profesor doktor mbahnya profesor lihat dulu bagaimana akidahnya lihat dulu bagaimana keilmuannya. Syekh Abdul Aziz bin Bas ya dan sebagian masayeh pernah mengingatkan berapa banyak para dakatira doktor-doktor laifunal aqid shahihah mereka enggak paham akidah sahihah laqodqu sungguh benar ucapan mereka dan kita menyaksikan sendiri ya seperti yang kita isratkan tadi malam bagaimana doktor menggembosi dakwah tauhid bagaimana dia mencaci maki pemimpin kaum muslimin di dunia maya Ya, sekali lagi jangan kita tertipu dengan gelar nama yang yang besar. Lihat pada hakikat sesuai gak dengan akidah sahihah. Apakah manhaj dakwahnya sesuai dengan manhaj dakwah tadi? Ya, Rasul dan para sahabat Rasul sallallahu alaihi wasallam yang memprioritaskan dakwah kepada atauhid wal akidah. Rasul wasam bersabda, Yahudi terpecah menjadi 71 kelompok orang Nasra terpecah menjadi 72 kelompok umat Islam akan terpecah menjadi tujuh tiga kelompok finar wahidah semuanya masuk neraka kecuali satu. man ya ya Rasulullah siapa yang selama itu wahai Rasulullah kata Rasulana alum yaitu orang-orang yang mengikuti aku pada hari ini dan yang mengikuti para sahabatku ini adalah apa minhaj alfirqatin najiah. Makanya bedanya dakwah salafiyah atau ahlusunah yang sejati dengan ahli bidah atau ahlusunah yang imitasi. Kalau ya ahlusunah yang imitasi alias ahlil bidah, mereka tidak menjadikan ma ana alaihi washabi sebagai talak ukur kebenaran. Apa kata tokoh mereka? Mereka apa? Samna wa atna. meskipun jelas-jelas menentang ajran Rasul dan para sahabat ar Rasul sallallahu alaihi wasallam. Contoh dalam masalah yang lain tauhid asma wa sifat. Rasul para sahabat sepakat semuanya mengatakan Allahu fisama. Namun ahlil bidah tetap ngeyel mengatakan Allah tidak di ruang, tidak di waktu. Bahkan sekarang ini luar biasa ahli bidah kepanasan ketika menghadapi dakwah salafiah ya terutama dalam bab asma was sifat mereka membabi buta dalam membantah ya ahlusunah atau salafiin ya membabi buta sudah babi apa iya sampai kita pernah dengar ucapan salah seorang dari dai mereka mengatakan barang siapa yang mengatakan Allah di atas langit dia kafir. Kemudian lebih parah lagi membawakan ucapan Imam As-Syafi'i. Berkata Imam Syafi'i, "Barang siapa yang mengatakan Allah di atas arasy maka dia kafir." Naudubillah minzalik. Ini Imam Syafi'i gang berapa? Enggak ada. Imam Syafi'i mengatakan demikian. Cuma ini dustanya Ali Albida tadi membabi buta untuk apa? menjatuhkan dakwah salafiah. Namun senantiasa thafah mansurah mansurin kata Rasul sallallahu alaihi wasallam. Imam As-Syafi'i dan semua ulama salaf meyakini Allah di atas langit. Imam Assabuni yang bermazhab Syafi'i dalam kitab beliau Akidah Salaf Ashabil Hadis, beliau mengatakan Imam As-Syafi'i dalam kitab beliau al-Um mencantumkan hadis jariah ya budak perempuan yang ditanya oleh Rasul di mana Allah? Kemudian dia menjawab fisama. Imam Syafi'i meriwayatkan hadis tersebut dalam kitabnya Alum dalam kitabnya Arrisalah. Kata Imam Assabuni itu karena Imam Syafi'i meyakini Allah di atas langit. Ini ucapan ulama yang sangat masyhur tentang Imam Syafi'i. Akidahnya Allah di atas langit. Cuma ini ahli bid luar biasa membabi buta mengatakan barang siapa mengatakan Allah di atas langit dia kafir. Kemudian menisbatkannya kepada Imam Assyafi'i rahimahullahu taala. Ini sekali lagi ciri ahlusunah maana alaihi wa asab. Adapun ahlil bidah ya mereka selalu menyimpang dari qallah waqala arasul wana alaihi asalaf. Kemudian kata beliau, atariq wadh jalan yang benar itu terang benerang. Kata Rasul, tarukum alal baid lailahariha. Dalam Sunan Abi Daud, Rasul mengatakan, "Aku tinggalkan kalian di atas Islam yang putih bersih. Malamnya seperti siangnya. Laiku anha tidaklah yang menyimpang dari yang terang benderang tersebut kecuali dia akan binasa." Seperti tadi prioritas dakwah Rasul, para sahabat tentang akidah, tentang attauhid. Terang beneran. Tapi kenapa kok masih banyak kelompok-kelompok dakwah bahkan oknum-oknum yang menisbatkan diri kepada dakwah salafiyah tidak mengikuti jalan yang apa terang benerangnya. Nauzubillahi minzalik. Ya. Maka harus betul-betul seorang muslim muslimah bijak dalam ya segala-galanya dengan menimbang segala-galanya dengan q Allah waqala rasul waqala sahabah. Atariq wadh jalan kebenaran itu terang-benerang aljama alati fil alamah naku maaha kelompok dakwah yang di atas maana alaihi wa asabi kita ikut bersama mereka yaitu tadi dakwah asalafiyah man kana ala misri makana al rasul sallallahu alaihi wasallam wa ashabuh fahumul jamaatul islamiah haqqah merekalah aljama agama Islamiah yang sebenarnya. Dan dari sini tidak dilarang. Jangan poobi. Kalau ada kata-kata ya bahwasanya dakwah salafi itu kelompok. Betul. Rasul yang mengatakan demikian ya. Rasul mengatakan umah yang selamat cuma apa? Satu kelompok namanya alfirqatu annaj. Alfirqah kelompok namun tidak boleh disamakan dengan kelompok-kelompok yang lain. Iya. Dakwah salafi itu kelompok iya. Alfirqatun najiah, at thaifah almansurah. Namun beda dengan kelompok-kelompok dakwah yang apa? yang lain ya. Sekali lagi kalau sekedar penamaan saja gak ada masalah. Dakwah salafiah itu kelompok. Iya kelompok. Namun kelompok apa? Ma ana alaihi wa ashabi. Jangan disamakan dengan kelompok ikhwan muslimin yang jelas-jelas ada pendirinya Hasan Albanna. Namun dakwah salafiah siapa pendirinya? Hah? Nah, kalaupun dikatakan pendirinya ya Rasul dan para apa? asalafus saleh ikhwan muslimin tadi metode dakwahnya ya hanya apa tadi yang paling utama politik jihad militer ya adapun dakwah salafiah attauhid dan masih banyak perbedaan-perbedaan yang lain kemudian kata beliau amma man khalafaal manhaj wasar ala manhajin ak fisa minna was minh adapun yang menyelisihi manhaj Ya, yang satu ini makna alaihi wasabih ya. Maka dia bukan dari kita dan kita bukan dari dari golongannya. Ini sikap tegas jelas ahlusunah dalam walao. Ya, jangan seperti yang kemarin kita ditanya ada ustaz ngaku salaf namun selfie-selfie dengan apa? ketemu dengan tokoh ahli bidah bahkan datang ke rumahnya ahli bidah self-selfie ya inubillah minzalik ya kita wajib ada albara apalagi terhadap dai-dai penyesat umat bukan malah bermesraat dengan dengan mereka naubillah minzalik ataupun duet ya kajian meskipun live ya di mesos misalnya dia di rumahnya kita di rumah kita namun apa duit di mesa nauzubillah minzalik. Ini bukan ajaran asalaf. Asalaf berpasi daripada ahli bidah apa berduet dalam dakwah dengan ahli albida. Ya. Namun ini sekali lagi waki' yang terjadi di tengah-tengah ya oknum-oknum dai-dai yang mengaku ahli sunah wal jamaah. Ini kesalahan dalam manhaj. Nauzubillahi minzalik. Wala nantasib ilaihi wala yantasib ilaina. Kita tidak menisbatkan kepada mereka dan mereka tidak boleh menisbatkan diri kepada kepada kita. Harus ada apa? Curang pemisa antara salafiin dengan ahli bid ya tidak bisa dicampuradukkan. Wala yusamma jamaatan yang menyimpang dari manhaj dakwah para nabi para rasul tidak layak dinamakan dengan aljamaah ya. Karena aljamaah itu di antara tadi nama lain dari alfirqatun najiah. Ketika Rasul ditanya siapa yang selamat itu? Rasul mengatakan aljamaatu. Maka yang menyimpang dari makna al wasabi tidak layak dinamakan aljamaah. Namun kelompok-kelompok ahli bidah ada di antara mereka yang menamakannya dengan apa? Aljamaah. Bahkan mereka apa? membuduhi umat dengan menyebut hadis-hadis yang ada kata-kata aljamaah man farq jamron famata mata mitatan jahiliah. Barang siapa yang memisahkan diri daripada jemah lalu dia mati mati dalam keadaan jahiliah. Kemudian kata mereka jamak itu adalah jamaahnya mereka karena nama kelompoknya apa? Islam ja naudubillahi minzalik. yang kalau orang lain masuk ke masjidnya di ini ya mereka apa membodohi umat yang pertama dengan menamakan diri mereka dengan aljamaah kemudian pakai hadis-hadis tentang aljamaah padahal hadis-hadis tersebut yang dimaksud adalah ya jemaah pemimpin kaum muslimin yang harus dibaiat kata Rasul sallallahu alaihi wasallam barang siapa yang meninggalkan baiat yaitu kepada pemimpin kaum musliminal lalu Kalau dia mati, mati dalam keadaan jahiliah itu baiat kepada pemimpin kaum muslimin, bukan kepada apa? Ustaz mereka atau tokoh pengajian mereka. Namun inilah sekali lagi tipu daya ahli albida. Kemudian kata beliau, "Wa innama yusamma firq minal firqolah." Ya, orang-orang atau kelompok-kelompok dakwah yang menyimpang dari dakwah para rasul itu selayaknya dinamakan dengan kelompok-kelompok yang dolah, yang sesat. Liannal jamaah la takunu illa alal haq. Karena sebetulnya kata-kata aljamaah itu tidak lain kecuali kelompok yang hak, kelompok yang di atas ma ana alaihi wa ashabih. Mengikuti akidah rasul. metode dakwahnya ikut metode dakwah para rasul. Itu yang namanya aljamaah. Ya, makanya harus betul-betul kita sadar, harus kita punya ya pemahaman yang merupakan tolak ukurnya itu adalah hakikat jati diri mereka. Bukan slogan, bukan nama, bukan gelar. Nah, seperti sekarang ini ya banyak gelar-gelar yang nah tidak sesuai dengan isinya. Minuman kesegaran ternyata khamer misalnya ya, ada ya wisata apa syari padahal wisata syirik ya kan banyak ya. Apalah artinya nama kalau tidak sesuai dengan apa hakikat yang sebenarnya. Kemudian kata beliau fahualladzi yastami alaihi anas waal batil fa yufar w yajma. Kebenaran itu yang menjamakkan, menyatukan manusia. Sedangkan kebatilan dialah yang memecah belah manusia. Allah berfirman, "Wain tawallau fainnamahu fiq." Kalau mereka berpaling dari ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka mereka dalam perpecahan, perselisihan.

T pertanyaan yang kalau di kitab ana nomor 5 halaman 8 ditanya ya oleh penanya ayyuhuma asyadduan mana yang lebih keras azabnya al usatu ail mubtadiatu ahli maksiat atau ahli bidah ini yang kita sampaikan tadi kata asyekh salh binuzan almubtadiatu asyad Ahlil bidah itu yang lebih ya dahsyat azabnya, keras azabnya di hari kiamat. Lianal bidah asadu minal maksih. Karena bidah lebih berbahaya, lebih parah dari maksiat. Albidatu ahabbu ilitan minal maksiat. Kata beliau, bidah lebih dicintai oleh setan daripada maksiat. Ini beliau menukil sebetulnya dari ucapan salaf. Siapa yang tahu siapa salaf tersebut? Hah? Sufyan rahimahullah taala. Beliau mengatakan, "Albidatu ahabbu ila iblis minal maksiat. Almsiat yutabu minha wal bidatu yutabu minha." Kata Sufyan rahimahullah taala, bidah lebih dicintai oleh iblis daripada maksiat. Orang yang berbuat maksiat ada harapan untuk bertobat karena dia merasa bersalah dalam hati kecilnya dia berdosa. Adapun pelaku bidah, dia enggak akan bertobat karena dia merasa telah berbuat apa? Yang hak. Inilah bahayanya bidah dibandingkan apa? Maksiat. Makanya tadi yang mengeluarkan orang dari ahlusunah albidah, maksiat tidak mengeluarkan dari apa? Ahlusunah. Makanya dalam kitab syarusunah Imam Albarbahari ada seorang ulama salaf mewasiatkan kepada putranya, "Wahai putraku, lebih baik kami melihatmu keluar dari rumah pelaku maksiat daripada engkau keluar dari rumah ahlil bidah." Kenapa demikian tadi? Karena bidah lebih berbahaya daripada maksiat. Dua-duanya bahaya. Namun ada apa? Skala prioritas tadi. Bidah lebih wajib dijauhi daripada apa? Maksiat. Makanya kalau mau dibandingkan lebih baik orang itu bergelimangan dosa ketika jadi artis daripada tobat dari artis jadi ustaz. Namun ustaz ahli bidah. Paham ya? Lebih baik apa? Maksiat daripada dia menjadi ahli albida. Meskipun sekali lagi dua-duanya salah, keliru. Kita tidak naudubillah minzalik menghalalkan, meremehkan dosa. Namun inilah pandangan salaf. Bidah lebih berbahaya daripada maksiat. Ketika antum mendapati dua teman antum, satu ahli maksiat, satu ahli bidah, yang sekali lagi harus dikerasi yang ahli bidah dibandingkan yang ahli apa? Maksiat. Jangan sampai yang tadi jatuh dalam kebidahan, disayang, di support, dibela. Sedangkan yang ahli maksiat kayaknya finari jahanam kholina fiha abada. Ini keliru dalam apa ya? alwala wal manhaj naubillah minzalik kemudian kata beliau liannal asiyatu pelaku maksiat dalam hati kecilnya ada apa perasaan bersalah beda dengan ahli bidah makanya sering kita contohkan ya antara maling ayam atau maling sepeda motor itu kalau ketangkap biasanya apa minta ampun-ampun Dia tahu dia salah, dia enggak mungkin gagak berani mengatakan, "Ya, apa salah saya? Enggak mungkin malah digebukin." Ya, namun beda dengan teroris ketika ditangkap. Teroris ketika ditangkap apa? Enggak ada kata ampun, maaf. Enggak ada. Malah apa ya? Ini jihad di jalan Allah Subhanahu wa taala. Ini bahayanya apa? Bidah dan alim albidah. Ya, makanya asalaf mereka lebih banyak mentahzir dari kebidahan dibandingkan apa? Almsih tadi ya. yang kita utarakan dari ucapan Sufyan Aur dan juga salah satu salaf yang diriwayatkan oleh Imam Albarbahai rahimahullahu taala. Kemudian kata beliau amal mubtadi faqolilan mayatub alil bidah. Sedikit yang bertobat bukan berarti tidak ada. Ada cuma sedikit karena mereka merasa apa? Merasa benar. Qul hal nunabiukum bil aksarina amala. Ya Allah mengatakan, "Apakah kami akan memberitahukan kepada kalian orang yang merugi amal ibadahnya? Alladina fil hayatid dunya wahum yahsabunaum yuhsinuna sunah." Yaitu orang-orang yang sesat dalam kehidupan di dunia. Namun dia merasa telah berbuat yang sebaik-baiknya. Itulah ahlul bidah. Liu an ahil bidah merasa dia di atas kebenaran. Bikilafil asi. Berbeda dengan ahli maksiat. Fainnahu yam annahu asin waqibiah. Pelaku maksiat dia sadar dalam hati kecilnya dia merasa bersalah berdosa. Amal mubtadi wa. Adapun alil bidah, dia merasa telah di atas ketaatan kepada Allah. Falidzalikail bidah waladzubillah syarron minal maksih. Kesimpulannya bidah nauzubillah minzalik lebih ya jahat, lebih jelek daripada maksiat. Walidzalika yuhazirus salaf min mujalasatil mubtadiah. Makanya ulama salaf banyak mentahdir kaum muslimin tholbul ilmi dari bermajelis ilmu dengan ahlil bidah. Ini manhaj salaf. ratusan bahkan mungkin ribuan ucapan salaf yang mentahdir kita dari bermajelis dengan alih bidah. Entah bermajelis kalau sekarang di dunia maya ataupun di dunia nyata. Jangan sampai di dunia nyata enggak mau duduk di majelisnya ahlil bidah. Namun suka melihat apa ya di dunia maya majelisnya mereka gak boleh haram ya. Kecuali bagi yang mau membantah syubhat-syubhat ahli bidah tersebut. Hati-hati. Asyubah khatfa wal qulubu daifah. Kita sudah diberikan tahdir oleh para ulama salaf. Hati-hati kalau kita menyimpang ya bisa saja apa? Masuk ke dalam golongan mereka. Hati-hati hati bukan kita yang memiliki yang mengaturnya ya. Inna bani Adam baina usirahman yuqbu kaifa yasya. Hati manusia ada di antara dua jemari Allah. Allah yang membolak-balikkannya. Kita sudah tahu al-Haq enggak boleh bermajelis dengan albida. Kalau kita mulai mencicipi majelis mereka karena syubuhat mereka. Waman yudlil fala hadialah. Kalau sudah Allah sesatkan, tidak akan ada yang bisa apa? Memberikan hidayah. Dan itu wallahualam ya sebab mengapa ada mantan-mantan salafi itu. Di antaranya apa? Mereka sudah tahu di tahzir ulama salaf jangan duduk di majelis ahli bidah. Namun mereka merasa weh kuat akidahnya, kuat manhajnya. Ya, masuk ke dalam majelis mereka. Akhirnya apa? Ya jadi mantan salafi. Nauzubillahi minzalik. Ya, sekali lagi hati-hati ya. Hati ini wajib dijaga dari asyubuhat ya. Jauhi ahli albida. Liannahum yuassirun alaman jalasahum. Karena mereka luar biasa lil bidah. Ini menularkan bidah mereka kepada yang dekat dengan mereka. Terutama tadi dalam thaabul ilmi hati-hati harus selektif jangan menimba ilmu dari ahli albida. Waharuhum syadid. Bahaya mereka sangat luar biasa. harus betul-betul menjauh. Sebagaimana kita sampaikan kemarin hadis Rasul, mani ahadukum bid daajjal falyanu. Barang siapa yang mendengar tentang keluarnya dajal wajib menjauh darinya. Kata Imam Ibnu Bat al-Ukbari, fitnahnya ahlil bidah lebih dahsyat dari fitnahnya Dajjal. Kalau mau diperinci kalau dajal sekali muncul seumur dunia ini di akhir zaman nanti. Adapun ahli bidah kapan munculnya? Hah? Sejak dahulu kalah. Setiap detik muncul mereka. Apalagi sekarang hidupnya maya. Nauzubillah minzalik. Kalau dajal enggak mungkin bisa masuk kota mana? Makkah Madinah. Sedangkan ahli bidah bisa bertelur di sana. Banyak di sana juga ahli albida. Maka jangan antum tertipu, oh ini Syekh dari Makkah, dari Madinah, pasti ahlusunah. Enggak mesti banyak juga ahli apa? Albida harus apa? Selektif lagi. Kalau dajal kata Rasul ada tandanya kafar di antara apa? Ya dua matanya. Namun ahli bidah. Apakah ada tulisannya saya ahli bidah? Enggak ada. Maka bahayanya ahli bidah lebih dari bahayanya apa? Adajjal. Maka harus apa ya? Menjauh sejauh-jauhnya. Kata beliau, "Wali qalaf iktisadun fi sunah khairun min ijtihad fi bidah." Bersedang-sedang dalam mengikuti sunah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam kebidahan. Wallahu taala alam. Ini yang bisa kita sampaikan. Wallahuam. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.