Transcription
Allahu Akbar. Alhamdulillah. Alhamdulillahi rabbil alamin. Asalatu wassalamu ala asrofilyaai wal mursalin sayidina wa maulana Muhammadin sallallahu sallallahu alaihi wasallam. Lailahaillallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad Muhammadun musyabbihil wal ikram. Ya wal jalila wal ikram. Subhanal malikul qudus subhanatil izzati wazzamati wa habibat wal qudrat wal sultan wal kamal jamal wal kibriai wal ijabaru wala ya'du wala ya'budu abda Subukum kudusuna malaikatihi subhanallahu [musik] akbarah waqulah.
Berucap syukur kita ke hadirat Allah dengan mengkalamkan alhamdulillahi rabbil alamin atas segala limpahan karunia rahmah dan hidayah-Nya serta dengan izin dan ridanya kita dapat bertemu, beramal dan beribadah dalam tausiah. Malam yang mulia ini yaitu malam sunatun Nabi Allah Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Untuk itu untuknya kalimahnya marilah kita sama-sama menyampaikan dengan mengkalamkan Allahummaid Muhammad waid Muhammad Alhamdulillah para jemaah pada live dan jemaah yang ada pada studio. Yang dimuliakan Allah rahimakumullah.
Alhamdulillah para jemaah, pada waktu dan kesempatan ini saya akan menyampaikan amanah Allah tentang hakikat bertuhan, hakikat Tuhan dan hakikat bertuhan. Di sini perlu kita pahami menyamakan persepsi Tuhan kepada ketuhanannya dengan perjalanannya yang diwujudkan berupa ihdinasiratal mustaqim. yaitu dengan mewujudkan perjalanan pada sifatnya yaitu manusia. Ilahinas. Sebuah peristiwa yang menjadi sejarah besar di bumi ini, di dunia ini, di akhirat yaitu manusia. Memahami hakikat ketuhanan yaitu dengan mengetahui peristiwa ketuhanan itu terhadap diri kita. Nah, itu yang yang penting diketahui bukan artinya kita mengenal mendengar sejarah tetapi tidak mengetahui peristiwanya. Makrifatullah itu mengajarkan kita mengenal keberadaan ketuhanannya. Coba memahami keberadaan makrifatullah itu dengan segala sisi. Ya, memahami makrifatullah itu segala sisi. Mengenal Allah pada riwayat diri ini harus melihat perbuatan-perbuatan ketuhanannya pada diri dan perbuatan Tuhannya pada diri dan perbuatan keumatannya pada diri. Nah, makanya di sini nilai mengenal diri itu sangat penting ya. Mengenal diri itu bukan mengenal dirinya siapa di sini, tetapi sudah mengenal kepribadian Allah yang disebut dengan Tuhan dan ketuhanannya. Nah, ini disimak nih benar-benar jemaah. Apalagi kita mengkaji ketuhanan itu membayangkan sesuatu di luar tubuh, di luar diri. Ah, ini sudah salah sekali pemahamannya. Tolak ukur daripada Tuhan adalah diri. Makanya mengenal diri ini memang sangat utama dari segala pemahaman. Kalau kita menilai bahasa Tuhan, tidaklah kita ini mengimbangi polanya dengan mengartikan secara manusiawi. Kalau Allah katakan, "Man araofa nafsahu, barang siapa yang mengenal diriku." Nah, jangan kita melihat kepada kemanusiaan. Kita harus mengetahui mana yang dikatakan diriku itu diriku di atas wujud kita, di atas keberadaan kita ada kata diriku. Berarti tidak ada kepemilikan diri kecuali dirinya sendiri. Karena semua kajian ini diarahkan kepada satu kodrat yaitu manusia. Maka di sinilah kesulitan besar bagi pencari-pencari Tuhan, para pelaku-pelaku makrifatullah menterjemahkan ketunggalan Tuhan. Ini ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Bahasa Tuhan jangan masuk analisa ke dalam pemikiran. Ya, contoh ada bahasanya afala tubsirun. Kenapa engkau tidak berpikir? Nah, ini kita tidak boleh melihat pikiran kita. Cuma kita harus belajar memahami makna dari kata tersebut. Apalagi dalam bahasa bersifatnya aku pada diriku, maka terjadilah ketuhanan diriku. Tuhan berketuhanan dengan menjadikan wujud. Nah, itu ya Tuhan berketuhanan dengan menjadikan sebuah wujud. Wujudnya itu pun tidak ada namanya. Ya, namanya saja wujud. Nah, kalau dia berketuhanan dengan wujud, maka aku dalam ketuhanannya itu sudah masuk kepada taraf pengenalan yang kedua. Tuhan itu harus dikenal dengan tiga pengenalan. Pertama dikenal dengan kekuatan. Yang kedua dengan kekuasaan. Yang ketiga dengan kebesaran. Nah, kebesaran ini ini sudah dikatakan melalui iman. Kekuasaan itu melalui ilmu. Sementara kekuatan itu himpunan dari kekuasaan dan ilmu tadi, yaitu dengan kata ada. Nah, itu kekuatan dasar dari kekuatan. Contoh kita menterjemahkan yaitu diam. Nah, dalam sifat ahadnya Allah kita mengalami tiga kepribadian Tuhan pada diri. Apa tiga kepribadian Tuhan dalam diri kita? Pertama, berkehendak. Nah, itu jatuhnya kepada umat berdoa. Nah, ini adalah kepribadian keumatan Tuhan. Yang kedua, kepribadian ketuhanannya yaitu yang diperlihatkan siapa yang bertingkah itu. Nah, berarti terlihat zahirnya. Nah, zahir ini zahirnya dari mana? zahir terlihat. Karena asal usul zahir Allah ini tidak ada ya zahir terlihat. Kenapa tidak ada asal usulnya? Nur ini tenggelam dalam zat itu. Riwayat tubuh hilang ya kan gitu. Nah, zat ini tenggelam dalam batin. Berarti sifat daripada gaib itu hilang. Nah, batin tenggelam dalam sir. Jadi, tidak ada lagi yang ada melainkan kerahasiaan. Itu namanya hakikat ya. Hakikat itu yaitu seumpama yang di yang dibolehkan. Yang kedua kita lihat dari ketuhanannya ada zahir rabbi. Ah, yang terlihat ini adalah yang bertingkah tadi. Tapi tingkat zahirnya adalah zahir zahir Tuhan. tingkah itu tidak terlihat namanya batinul abdi. Nah, ya batinul abdi. Sementara yang menyaksikan tingkah itu, yang melihat zahir itu adalah dia. Dia ini disebut dengan ada. Nah, ini perilaku Tuhan. pada diri. Nah, gitu ya. Nah, itu dari sisi kodratnya. Kalau dari sisi kekuasaan perilaku Tuhan itu adalah pandangan. Nah, pandangan dan penglihatan. Nah, ini sudah ada pembahasan ya. dikatakan penglihatan pandangan ini mencapai kajian terhadap keakuan Tuhan disebut A U. Nah, gitu ya. Nah, ini juga akan menjadi ee Gema empat ini akan menjadi pelajaran yang akan dimulai hari Senin insyaallah ya. ini sudah disampaikan yang akan menjadi pertanyaan, yang akan menjadi jawaban. Sekarang dari kodrat kita lihat penampakan sifat Tuhan pada diri. Dikatakan Tuhan itu pada satu tempat. dikatakan ada ketuhanannya pada satu tempat dan dilihat keumatan bersifat dia pada keumatan daripada satu tempat. Nah, ini mencerminkan tingkah laku dan kepribadian Tuhan yaitu manusia. Tingkah laku kepribadian Tuhan itu dinebut manusia yaitu ilahinas. Ya, ilahinas adalah ketuhanannya. Tuhan itu adalah manusia. Nah, itu ketuhanan ya. Nah, di situ adalah keakuannya. Keakuan Tuhan. Akunya Tuhan adalah dia dan keakuannya Tuhan adalah aku. Keakuannya adalah Tuhan. Inilah aku. Jadi kalau kita lakukan dalam keseharian, tiba-tiba ada lagi munculnya pihak ketiga dari aku dan keakuannya, yaitu datangnya keakuan keumatan tadi. Nah, inilah yang faktor penghalangnya. Munculnya keakuan keatan yang menghalangi akunya ketuhanan kepada Tuhan atau disebut penghalang Allah itu kepada umatnya. Ya, Allah itu kepada umatnya adalah keakuan. Nah, mana semua yang dikatakan keakuan? Nah, seperti yang pernah saya sampaikan, salat rajin, zikir rajin, bertakwa rajin, berilmu benar-benar rajin, malah bermakrifat lagi kepada Allah. Tetapi semua keadaan itu tidak nyata adanya. Apa tidak nyata adanya? Kalau ingin berzik mengingat Allah, zikir dulu. Kalau ingin menyembah Allah, salat dulu. Kalau ingin bertakwa, ngaji dulu. Ingin bermakrifat cari guru dulu. Berarti yang terdengar indah, terdengar suci itu tidak nyata ada. Orang yang tidak nyata ada yang dia kerjakan itu dia mengalami kegelisahan hidup. Ya, kegelisahannya, kecemasannya tetap aktif dalam diri dia. Apa penyebab kegelisahan, kecemasan itu masih ada. Sementara yang dikerjakannya, yang terdengar suci, yang terdengar indah, itu tidak ada kalau dia tidak kerjakan. Apa penyebabnya? Penyebabnya adalah tenggelamnya keakuan Tuhan di dalam keakuan umat. Ya. Jadi tenggelamnya keakuan Tuhan di dalam keakuan umat. Sehingga yang empat itu menjadi fasilitas untuk dia, fasilitas dari keakuan umat tadi. Makanya tidak pernah ada. Kalau memang ada orang salat, kenapa kehilangan Tuhan? Kalau memang ada orang zikir, kenapa tak melihat Tuhan? Kalau memang ada orang bertakwa, kenapa dia ragu-ragu? Kalau memang ada orang makrifat, kenapa dia berselisih paham? Itu semua menandakan tidak ada. Ternyata salat, zikir semuanya itu menyembah dirinya, bertuan kepada dirinya, yaitu keakuannya. Apa keakuannya? merasa bisa, merasa pintar, merasa hebat, merasa-rasa, mengaku-asa, mengaku-ngaku, itu namanya keakuan. Yang kedua membuktikan tidak ada jiwa meminta itu lebih tinggi daripada jiwa memberi. Kalau memang dia ada, wallahi bikulli siin alim. Allah itu tahu apa yang akan kamu minta. Apa yang akan terjadi? Tinggal baca alhamdulillah. Ternyata jiwa memintanya itu masih tinggi. Salat disuruh nyembah dia, zikir disuruh nyembah dia, ilmu disuruh nyembah dia, tapi dia masih meminta. keatannya itu masih banyak keperluan yang difasilitasi oleh zikir, salat, takwa, makrifat. Masih ada kebutuhan keinsanan di situ. Itu namanya keakuan. Yang ketiga, apabila dia ditimpa oleh suatu keadaan, dia pasti menganggap itu musibah. Karena kedudukannya itu penuh dengan keumatannya. Tetapi bagi orang yang telah sampai kepada keakuan ketuhanan, apabila dia didatangi suatu keadaan, dia tidak merasa cobaan, dia merasa bertambah ilmunya. Itu orang yang sudah dalam keakuan ketuhanan. Jadi, bertambah ilmunya. Ilmu apa lagi nih? Pelajaran apa lagi yang Engkau datangkan ya Tuhan? Ya Allah. Bukan cobaan apa lagi. Nah, bukan begitu. Nah, inilah salah mengartikan tadi. Buya saya mau tanya. Tadi malam sudah saya kerjakan, saya merasakan ini. Nah, itu keakuan ya. Tapi kalau dia katakan dia mengalami, nah itu beda ya. Kalau mengalami itu beda. Nah, itu jadi sekarang menterjemahkan kepribadian Tuhan dalam hidup adalah ilahinas, yaitu manusia. Manusia itu adalah peristiwa kepribadian Tuhan yang menjadi sejarah besar bagi sekalian alam. Ini selalu saya sampaikan. Sama artinya kita memaknai yang ketiga yaitu kata diam. Dari mana kita bisa mendapatkan kata diam? Dari mana asal usulnya diam itu? Apa diam itu enggak tidak mau banyak bicara atau tidak bisa bicara atau bagaimana? Kalau bertingkah sudah pasti dari ketuhanan. Ketuhanan sudah pasti dari Tuhan. Tuhan itu adalah dari Dia. Nah, dia itu di mana? Ya, siapa yang kita katakan dia itu? Nyatanya yang sampai kepribadian Tuhan tentang dia itu adalah diam. Apa yang dikatakan diam? Kenapa diam? Apa sejarah diam? apa diam ini tidak bisa bicara atau memang ada keheningan. Nah, itu juga harus kita paham jemaah. Diam yang dikatakan itu beda dengan kalau Tuhan berbicara diam atau nzuk atau diam itu beda kita mengartikan makna diam itu. Sekarang saya tanya jemaah, kenapa ayam diam, binatang di darat diam? Ya. Dan kenapa binatang di laut juga diam? Apa kita melihatnya karena dia binatang terus dia enggak bisa bicara gitu? Itu anak-anak juga bisa. Tapi dari ketuhanan tidak seperti itu. Kita melihat kejadian seperti itu. Apa yang dimaksud diam itu? Siapa? Penghulu diam yang diikuti oleh makhluk yang diam, tidak bisa bicara. Kalau dia tidak bisa bicara membuktikan dia diam. Kalau kita bicara dia ngerti. Ada satu ekor ayam. Ayam ni di Jakarta dibawa ke Arab, dipelihara orang Arab. Dia ngerti juga dijual lagi ke Amerika dipelihara orang Amerika. Dia ngerti juga bahasa Inggris. Kita nyekolahin anak bertahun-tahun enggak ngerti bahasa Inggris. Tapi si ayam ini ngerti juga dia. Ah, dipindahkan lagi ke Sumatera, ke orang Batak. ngerti lagi dia berarti dia bukan bisu. Kalau orang bisu sudah pasti tuli. Tapi kenapa ayam dia bisa mengerti? Eh sini sini sini. Kucing-kucing kucing juga begitu. Semua binatang mengerti kata manusia. Berarti dia tidak bisu. Bahkan tidak isa ada syarat tangan. Tanpa isyarat tangan dia juga bisa ngerti. Nah, banyak yang mengasih nama kucingnya, nama orang. Ya, dipanggil aja datang dia. Nah, berarti dia tidak bisu, tidak bagian dari sumum bukmum umyumfahum la yarjiun. Ya. Ah, itu maknanya apa? Maknanya summum umyum fahum larjiun itu yang buta tuli bisu itu layarjiun tetapi batinnya tidak tuli, tidak buta, tidak bisu. Makanya dia mengerti. Nah, ini keturunan dari siapa? itu bukan jalur dari hewan ya, tetapi itu adalah turunan dari pemahaman yang paling tinggi. Siapa pemahaman yang paling tinggi? Adalah jiwa yang diam. Jiwa jiwa yang diam. Ada jiwa yang diam. Kalau ada jiwa yang memberontak, ada jiwa yang tenang, ada jiwa bahagia, itu namanya ada jiwa yang diam. Siapa jiwa itu yang paling diam? Siapa jiwa yang diam itu? Jiwa yang diam itu tidak bisa diberi nama ya. Karena diam yang dimaksud diam di jalan Tuhan, di kodrat ketuhanan bukan karena takut dia diam. Ya, diamnya di ketuhanan itu adalah sebuah kekuatan besar. Ya, diam itu sebuah kekuatan besar. Kalau di kita manusia ini kalau sudah marah, marah paling tinggi itu diam. Kalau dia memberontak dia tidak kenal lagi siapa-siapa. Nah, itu kalau orang diam ya. Nah, itu marahnya orang diam. Jadi, orang diam itu adalah orang yang telah melebur gema-gema Tuhan dalam dirinya. Maksudnya apa? Tidak ada lagi pertimbangan Tuhan dan ketuhanan apalagi keumatan kalau yang diam ini telah bangkit dari diamnya. Kenapa diam ini memiliki kekuatan yang sangat besar? Di mana asal usul diam yang dikuasai oleh jiwa yang diam, jiwa yang paling tua, jiwa yang paling dahulu dari segala yang terdahulu adalah jiwa yang tumbuh dari alam keheningan. Alam hening, alam kosong, alam hening. Di situ timbullah muncul jiwa yang pertama disebut dengan jiwa diam. Dan dia mengikuti perjalanan dia yang ada pada keheningan tersebut sampai nyata menjadi aku dalam keakuan. Karena dia sudah tahu semuanya, jiwa itu sudah paham semuanya. Riwayat kejadian dia sampai menjadi Tuhan dan muncul sebagai umat. Maka kekuatan pengetahuan itu disimpan rapi oleh jiwa yang diam. Makanya jiwa memutuskan untuk diam. Karena yang diam inilah yang menyaksikan kebenaran Tuhan. Mulai dari dia kepada aku. Aku kepada keakuanku. Keakuan aku muncul sebagai umat. Itu telah disaksikan oleh jiwa pertama. Maka jiwa pertama inilah yang menyatakan sikap untuk diam. Berarti apapun kekuatan dari semua kekuatan tajali Tuhan disimpan oleh jiwa yang diam. Makanya kalau orang diam itu kalau diam marah memang harus diam marah. Jiwa diam itu tidak mengenal hakikat apapun. Dia tidak mengenal, dia runtuhkan segala gema-gema ketuhanan, dihancurkan segalanya, muncullah dia seutuhnya. Ini adalah kendaraan dari Dia, yaitu kendaraan jiwa pertama disebut dengan jiwa diam. Jiwa diam inilah yang diamanahkan kepada ruh yang dia percaya mewakili seluruh di zahir pada alam. Yang kedua, yang zahir pada air dan zahir pada api dan zahir pada angin untuk diam dan tidak bisa bicara. Maka semua alam akan berbuat diam. Alam inilah saksi nyata perjalanan Tuhan. Jadi kalau ada orang berbohong tentang Tuhan, alam itu sangat tahu kalau orang itu sedang berbohong. Baik itu angin, baik api, baik tanah semuanya. Dan dia menyampaikan kebohongan itu kepada malaikat. Dan malaikat itu mentertawakan dengan mencerta dan menghina. Nah, ini ya. Makanya alam semesta ini dijadikan tidak bisa berbicara karena mereka sudah tahu diwasiatkan oleh jiwa pertama. Eh, yaitu jiwaku yang diam, jiwaku yang tenang, jiwaku yang bahagia, jiwaku yang sunyi, dan jiwaku yang hidup. Nah, ini diambil pada jiwaku yang pertama. Jadi kalau makanya Islam, kenapa diajarkan tafakur? Kenapa diajarkan tazzakur, zikir? Karena diam itu adalah makam tertinggi dari segala sifat. Maka dikatakan orang yang diam sesaat lebih mulia daripada beribadah 1000 hari. diam sesaat itu dia artinya dia kembali kepada yang diam. Dia mendirikan jiwa yang diam maka jiwa yang diam inilah yang bisa menikmati semua tingkah laku jiwa. Nah, begitu jemaah. Mudah-mudahan bisa dipahami. Baik, kita adakan muzakarah. Salu muzakaratun fil jamiati rahimakumullah. Allah saya judul. Masyaallah. Ayah. Baik. Ayah. [tertawa] Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ayah. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga para khalifah, ustazah, dan para imam semuanya. Semoga ayah dan semuanya selalu sehat sekeluarga dan bahagia insyaallah. Insyaallah. Baik. Ee di dalam mengenal Tuhan itu saya berkalam bahwa ada tiga yaitu kekuatan, kekuasaan, dan kebesaran. Itulah himpunan dari kita mengenal Tuhan. Baik untuk kita lebih ee memahami kembali Tuhan dan sifat ketuhanannya. Kita bermuzakarah dengan ayah. Insyaallah ee mungkin sebelum kepada jemaah sebaiknya kita mendengar dari khalifah Imam Guswari untuk mengulas sedikit dari yang ayah sampaikan kepada khalifah Imam Khatib yaitu Khalifah Kuswari Mari dipersilakan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Bismillah. Eh tadi disampaikan oleh guru musid kita bahwa ada tiga hal tentang mengenal Tuhan, yaitu dengan kekuasaannya, kekuatannya, dan kebesarannya. Namun tadi disampaikan oleh beliau bahwa tentang aku dan keakuanku ada aku pada aku, akra aku dan keakuanku. Tapi tadi disampaikan oleh beliau ada satu lagi yang muncul yaitu aku pada keumatanku. ini yang tidak boleh bagi kita semua. Sebab berbicara tentang Tuhan itu adalah tolak ukurnya adalah diri atau manusia. bersifatnya sifat diri, maka kita harus hatihati menanggapi hal itu. Sebab kalau tidak akan tergelincir kepada kesalahan. Kepribadian Tuhan itu ada yang pertama kekuatan, yang kedua ketuhanannya, dan yang ketiga bertingkah. dan yang zahir atau yang ada ini tadi juga disampaikan oleh beliau bahwa keakuan Tuhan itu disebut dengan AU sesuai dengan pada tema yang empat ini yaitu diri pandang yang membicarakan tentang kekuasaan. Kemudian yang terakhir bahwa di dalam kalam beliau tadi tentang pemahaman yaitu berkaitan dengan diam. ini adalah khadrat ketuhanan yakni sebuah kekuatan yang besar apabila dapat membangkitkan diam itu. Jiwa yang paling dahulu itu adalah jiwa yang tumbuh dari diam. Diam itu bukan berarti bisu atau tuli. Tadi disampaikan dengan contoh ayam, tetapi summun umyum fahum la yarjiun, tetapi batin. Oleh karena itu, pengetahuan yang disimpan oleh yang diam. Karena yang diam itu adalah yang pertama atau yang paling tua. Oleh karena itu, diam adalah makam tertinggi dari sifat. Demikian ee sedikit barangkali bukan ulasan tetapi mengulang dari ee kalam-kalam Buya tadi. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih warahmatullah. Terima kasih kepada ee Khalifah Imam Khatib ee Khalifah Kuswari yang sudah mengulang kembali ee apa yang sudah ayah sampaikan ee tentang diamnya Tuhan sebuah kekuatan besar atau telah melebur sifat kemanusiaan dalam dirinya. Baik ee jemaah semuanya silakan bagi yang ingin bermuzakarah sama ayah. Alhamdulillah kepada Khalifah Rid dipersilakan bermuzakarah dengan air. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu. Ya. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Buya senantiasa sehat selalu dan selalu sehat dalam lindungan Allah Subhanahu wa taala. Dan juga para saudaraku baik yang di makam pusat atau yang di live senantiasa. Demikian pula sehat walafiat. Amin. Insyaallah. Insyaallah. Terima kasih kepada juru tablig Ustazah Airo yang telah memberikan kesempatan. Baik, Buya. Tadi kami mendengarkan apa yang Buya paparkan tentang jiwa yang diam ya. Di mana jiwa yang diam ini adalah jiwa yang hening di dalam kekosongan. Ini sangat menarik bagi kami Bu ya. Karena selama ini kami belum bisa secara apa ya untuk mendirikan itu. Nah, bagaimana untuk menghidupkan ini Bu ya agar jiwa yang diam ini bangkit Bu? Ya. Terima kasih, Bu. Iya. Dia bisa dilihat dari beberapa sudut pandang. Iya, Bu. Pertama dari sisi syariat. Kenapa kok saya bisa bergerak? Nah, ini sisi syariat. Iya. Dan kenapa akhir ajal saya itu tidak bergerak alias mayat? Iya. Nah, ini pertanyaan secara syariatnya. Yang kedua secara hakikat kenapa sama semua makhluk? Ada diam, ada bergerak, ada bunyi-bunyian. Ada yang bergerak, ada yang terlihat dan ada yang diam. Kenapa ini sama dengan semua makhluk? Nah, ini pertanyaan hakikat. Dan pertanyaan secara tarekatnya ada perbedaan yang mengalami dengan yang tidak mengalami itu perbedaan perjalanannya, tarekahnya. I perbedaan makrifat dia tidak melihat dan tidak mengakui kalau ini perbuatan dirinya. Iya. Nah, gitu. Dari sudut pandang seperti itu. Kenapa tiba-tiba saya punya Tuhan enggak makan, enggak minum, tapi saya makan dan minum? Padahal harusnya kodrat Tuhan itu tidak makan, tidak minum. Seperti juga layaknya Tuhan. Tapi kenapa kok kita mengalami makan minum? Berarti ada tingkah keumatan. Iya, insyaallah. Nah, yang kedua penampakan kok beda dengan penangkapan hewan. Ular itu sama aja mukanya. Kucing itu sudah sama aja modelnya sama induknya. Giliran kita enggak ada yang bisa sama. semua anaknya gitu beda semua mulai dari fisiknya sampai tingkah lakunya juga beda. Nah ini afala tubsirun ya kan? Kenapa tidak berpikir batinmu sirun terhadap rahasiak? Ya gitu. Bukan k kamu tidak berpikir dengan logika tapi afala tub sirun atau sirun. Nah gitu. Kenapa tidak kamu menjadi tanda tanya terhadap batinku? Nah gitu. tidak bertanya melalui batinku. Ah, banyak kemungkinannya itu ya. Nah, diam ini adalah pemilik penyaksian kebenaran. Apa iya aku punya sifat begitu? Apa iya zahir itu jadi zahir aku? Ya, apa iya? Aku ini dia baginya. Jiwa pertama yang tumbuh adalah jiwa yang mengalami semua perbuatan dia mulai dia di alam keheningan masa kosongnya. Alam kosong tapi hening. Tumbuhlah jiwa pertama. Alam kosong tapi hening. Nah gitu. Tapi tumbuhlah jiwa pertama. Nah jiwa pertama adalah penyaksian. Jiwa kedua adalah kasih sayang. Jiwa ketiga adalah wujud. Jiwa keempat adalah wujud. Jiwa kelima adalah maujud. Jiwa keenam adalah batin. Jiwa ketujuh adalah zahir. Nah, tujuh jiwa ini di bawah penyaksian jiwa yang diam. Ah, jadi kalau ada hewan, ada makhluk diam, jangan dipikir dia bodoh, jangan dipikir dia takut. Ya. Nah, itu jangan dipikir dia tidak mengerti. Diam yang dijadikan oleh Allah adalah diam tetapi tidak mendiamkan batin. Summum bukmum hum umyumfahum la yarjiun. Ya boleh semuanya buta tuli, bisu tapi tidak batinku. Nah gitu ya. Tidak batinku. Semua yang dijadikan adalah batinku. Yang terlihat berawal dari yang tidak terlihat. Namanya batin. Batin itu siapa? Batin itu umat. Nah, ya. Tetapi yang zahir yang tidak berasal dari batin adalah manusia. Yaitu berasal dari tu Tuhan. Nah, dikatakan zahir rab zahir rabbi. Nah, di dalam perbuatan itu dihimpun menjadi jiwa dan raga awal dari semua yang terjadi. Arti jiwa dan raga itu menyatu aku dengan jiwaku. Maka dikatakan jiwa dan raga carilah di antara itu. Dikatakan jiwa terlihat sebagai raga. Dilihat raga itu adalah jiwa. Cuma di mana tumbuhnya dia? Di dalam jiwa dan raga tadi. Karena jiwa raga itu adalah penampakan daripada yang tidak terlihat. Nah, itu dikatakan jiwa yang terlihat. Nah, itu adalah ra raga. Nah, di sinilah jiwa pertama tadi mengalami perjalanan dia sampai pada masa aku, sampai pada keakuanku pada umat. Nah, gitu ya. Nah, cuma jangan lagi umat itu mendirikan keakuan lagi. Nah, ini yang celaka 12-nya. Nah, udah ada keakuan ditambah lagi keakuan umat. Nah, di sinilah dasar terjadinya suatu perasaan. Perasaan itulah yang membawa manusia tenggelam dari jalan Tuhan. Ya, rasa membawa kepada Tuhan, perasaan menjauhkan diri dari Tuhan. Apa? Kenapa perasaan itu timbul? Karena kekecewaan dari sebuah yang diinginkan. Ah, kalau kekecewa, kalau yang diinginkan itu tidak berhasil, kecewa enggak? Ah, kalau kecewa, yang kecewa siapa? Perasaan. Nah, perasaan itu tidak akan pernah berdusta karena perasaan itu dia menenggelamkan kita dari kebenaran Tuhan kalau perasaan itu didirikan dalam keakuan. Paham? Nah, nah kalau perasaan itu didirikan dalam keakuan kemanusiaan, akhirnya timbullah kemiskinan. Padahal tidak ada ayat mengatakan Allah menciptakan kemiskinan, tapi Allah menciptakan kekayaan dan kecukupan. Nah, tetapi kenapa kita miskin? Karena kita mengajukan keakuan dengan keduniaan. Keakuan membawa perasaan. Akhirnya keakuan itu mengalami benturan tidak berhasil. Makanya kita terbawa kesedihan. Kesedihan itu membawa perasaan. Perasaan itulah yang mendirikan kemiskinan, yaitu perasaan dalam keaguan. Paham? Alhamdulillah. Insyaallah, Bu. Ya. Jadi harus ada batasan. Jangan sampai masuk dalam keakuan keumatan. Iya, Bu. Nah, itu ya. Dan ini Bu tadi kan kalamkan juga bahwa jiwa raga ini adalah penampakan dari jiwa tersebut. Betul Bu ya? Jadi ketika diam sejenak ini itu adalah mungkin menyatakan atau itu menyatakan ya Bu ya. bahwasanya yang ee bergerak ini adalah sesuatu dari yang diam itu sendiri yang berlaku ya Bu ya. Iya. Diam itu adalah kodrat awal. Iya Bu ya. Semua berasal dari diam. Tapi asal diam dari mana? Asal diam karena berasal dari karena sudah tahu semuanya. Alhamdulillah. Jadi kalau ada murid diam itu murid sok tahu. Nah, ya. Nah, bukan murid yang sudah tahu. Itu namanya murid sok tahu. Dia diam. Nah, yang diam itu adalah orang yang sudah tahu gitu. Kalau belum tahu berta bertanya. Nah, gitu. Paham? Iya. Iya. Insyaallah, Bu. Ya. Nah, jadi kalau ada murid ikut-ikutan dia, nah itu keakuannya sudah menguasai dia itu. Jadi lebih bagus diam sejenak dulu ya, Bu ya. Dalam rangka melaksanakan aktivitas itu Bu ya, untuk lebih bagnya seperti itukah, Bu? Ya, boleh, boleh. Kenapa tidak? Iya, Bu. Kita ini berhenti berantem karena lawan sudah enggak ada. Diam atau kita diam supaya lawan tidak ada. [tertawa] Tetapi ada diam gitu. Iya. Mau marah juga diam sejenak ya, Bu. Ya. Itu bahaya itu orang begitu bahaya. Kalau diam-diam diam-diam ah sekali marah. Nah, [tertawa] dia akan meruntuhkan segala getaran gema-gema Tuhan dari seluruh penjuru. Dia itu lebih berkuasa dari segalanya. Intilah diam. Nah, contoh sekarang kenapa orang takut melewati ee tempat yang hing? Nah, karena nuansa diam ini memang menakutkan. Iya. Nah, kalau ramai-ramai dia enggak takut. Lewat di tempat yang sepi dia takut. Nah, ini diam ini sangat berbahaya ini. Nah, gitu ya. Begitu juga sebaliknya orang yang diam ini bukan orang takut. Diam ini adalah akhir dari takut, awal dari diam. Ya, akhir dari takut, awal dari diam. Jadi, takut ini tidak terlihat pada orang diam. Betul, Bu. Karena diam itu berasal dari kumpulan kekuatan yang sangat kuat. Terjadi Muhammad, terjadi Allah, terjadi nur, zat, batin, arasy, sir, wujud, semua terkumpul dalam diam. Nah, nah kalau orang-orang dahulu bilang jangan bangunkan gajah tidur. Nah, gitu kan. Nah, kalau dia bangun nanti dilabraknya semua. Nah, gitu. Jadi artinya jangan sakiti orang yang diam. Nah, gitu ya. Karena orang diam itu lebih banyak bicara daripada orang bicara itu sebetulnya enggak ada apa-apa banyak diam ya kan gitu. Nah, itulah kehebatan diam. Jadi, kalau ada diam ini kosongnya jatuh ke alam, heningnya jatuh ke jiwa. Nah, ini kontak dia. Kalau kosongnya jatuh ke alam, heningnya jatuh ke jiwa, ini seperti kenapa dia kosongkan ikan dari suara, ya. Kenapa dia kosongkan di darat hewan dari berbicara ya kan? Nah, karena dia memahami tingkat-tingkat rahasia yang tidak boleh dia ceritakan. Contoh, burung disuluh oleh Sulaiman. semua perbuatannya. Ikan disuruh oleh Nabi Yunus semuanya. Nah, sementara yang berbuat kesalahan dan suatu aib adalah keturunan dari Adam. Nah, gitu ya. Sementara di zaman Nabi hewan sudah duluan ada, manusia belum ada. Betul enggak? Betul Bu ya. Nah, itu manusia ini belum ada. Yang ada itu burung. Semua sudah ada. Karena semua kawinlah baru Adam berkehendak untuk kawin. Kan gitu. Nah, saya kawin sama siapa ya Allah? Nah, kan gitu. Waduh, kamu terlambat minta semua sudah ada pasangan. Nah, gimana? Nah, baiklah. Aku ambil hawa dirimu untuk kamu nikahi. Nah, kan gitu. Nah, jadi artinya mengalami pada jiwa awal membuat kode-kode etik pada syariat dan hakikat pada alam. Makanya banyak rahasia-rahasia Allah yang diketahui oleh alam. Makanya rahmat itu lebih dulu daripada rahim. Paham? Masyaallah, Bu ya. Alhamdulillah, ya. Dan pernah mendengar juga, Bu ya, diam itu emas. Tapi jangan diam-diam untuk mujakarah. Baik, Bu. Ya, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Khalifah Rida atas muzakarahnya. Ee setelah sekian panjang lebar ayah ee memberikan wawasan bahwa eh jangan diam-diam nanti dibilangnya sok tahu. Jadi silakan kepada jemaah semuanya untuk tidak diam. Baik ayah terima kasih atas Iyalah jangan diam. Kalau diam tuh sudah tahu semua [tertawa] enggak mujakarah ya kalau diam ternyata dia enggak tahu. Kalau diam-diam menghanyutkan. Baik ayah masih ada ini ee Ustazah Dahlia. Kepada Ustazah Dalia silakan untuk bermuzakarah dengan ayah. Terima kasih Hifaah Air Hayati atas waktunya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ayah. Waalaikumsalamsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ee mohon maaf ayah kalau seandainya ee pertanyaan saya dan ke yang saya paham ini tidak berkenang di bagi ayah. Ee apakah diam di sini sama dengan hampa? Ayah. Hampirinya diri ketuhanan dan sirnanya diri keumatan kemanusiaan. Iya. Lebihnya lebihnya diam itu bukan hening. Jadi bukan hampa tapi hening. Hening. Nah, ya bukan hampa tapi hening. Kenapa hening? karena dia tahu. Nah, ya dalam satu contoh dipraktikkan dalam seseorang itu zikir di samping harimau, di kandang harimau. Lailahaillallah. Lailahaillallah. Lailahaillallah. Tiba-tiba dia salahkan. Ya, dia salahkan. Akhirnya di saat dia berkalam salah itu, harimau itu memarahi. Nah, itu bukan dia tidak tahu. Dia itu tahu, tapi dia disuruh diam atau hening. Jadi bukan hampa. Kalau dia hampa, binatang ini tidak bisa dipelihara oleh manusia. Kenapa Allah berikan binatang ini perhiasan buat manusia? Karena dia adalah mengetahui tentang riwayat ketuhanan sampai pada tingkat keumatan. Jadi bukan dia diam tidak tahu, bukan dia diam bodoh, tapi dia adalah hening. Jadi diam itu adalah suatu kekuatan bagi yang tahu. Paham? Iya. Iya. Insyaallah. Ayah. Berarti ee diam ini jiwa yang diam itu uluhiyah usul daripada batin kayak gitu, Kak. Ya, alam aku sebelum aku apa sama seperti ya? Ya, kalau jiwa itu dia lebih awal ya. Jiwa itu dia lebih awal dan dia muncul seperti raga, berwujud raga. Nah, gitu ya. Antara jiwaku dengan aku. Nah, ini ya si pemilik jiwa. Nah, gitu ya. Jadi, jiwa ini tidak bisa berdiri sendiri. Karena jiwa ini ada dikala jiwaku. Maka dikatakan, "Wahai jiwa-jiwaku yang tenang, wahai jiwa-jiwaku yang gelisah, wahai jiwa-jiwaku penyayang. Jiwa itu himpunan kekuatan dari segala kekuatan. Itu jiwa namanya. Insyaallah, Ayah. Terima kasih Ayah atas ee keterangannya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Ustazah Dalia atas pertanyaannya dan terima kasih Ayah atas ee wawasannya dan penjelasannya. Baik, masih ada yang bertanya yaitu selanjutnya Ustazah Nurbaya. Kepada Ustazah Nurbaya dipersilakan untuk bermuzakarah dengan ayah. Silakan. Insyaallah. Terima kasih banyak Khalifah Air Hayati atas waktunya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ayah. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mohon maaf, Ayah. Eh, Ananda beberapa hari ini mengemati setelah mendengarkan kalamnya ayah dari YouTube itu, timbullah dari dalam tentang pertanyaan yang Ananda akan ajukan tentang diam ini. Ee apakah makna dari kalam diam ini dalam sifat al-haqnya? Alhamdulillah malam ini ayahanda telah mengkaji tentang diam ini. Ananda harus menanyakan ini karena ini pertanyaan dari dalam. Terima kasih ayah. Wasalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam. Diam yang dimaksud diam adalah kekosongan yang berisi sebuah keheningan. Jadi keheningan itu diam itu sama dengan kita menutup telinga. Di situ kita mendapatkan yaitu sebuah bunyi aras. Ya, bunyi aras itu ee telinga tertutup tetapi dia melakukan bunyi di situ. Nah, ya. Nah, itu jadi ini yang dikatakan hening. Ah, jadi karamah dari hening tadi ini yang diberikan diwasiatkan kepada makhluk yang tidak akan menceritakan terhadap perjalanan dia sampai kepada aku dan berwujud dalam keakuanku. Nah, gitu ya. Maka kalau dia kita salah, alam ini lebih tahu ya. Alam ini lebih tahu ini orang benar enggak yang dia kaji salah enggak. Untuk apa kita berteriak-teriak kalau yang diam mendengarkan? Di sinilah kedustaan itu akan terbukti nyata karena ada yang diam mendengarkan kita bercerita. Wbikum tukaziban. Ingat percuma kamu berbohong, berdusta di atas nikmatku. Mana nikmatku? Ah inilah alam. Alam yang disuruh hening tidak berbicara. Biar bicaramu terdengar. Terdengar apa? Terdengar bohong. Terdengar bodoh, terdengar pintar. Gitu maksudnya. Paham? Insyaallah ayah atas segala Insyaallah ayah atas semua. Nah, maka diwajibkan secara ibadah memakai salam lima itu ya sebelum melontarkan kalam-kalam ilahi. Karena ada yang lebih tahu dari kita. Ilahi anta maksudi ya. Nah widok mengupi. Asalamualaikum ya rahman kan ya rahim. Asalamualaikum ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakatuh. Asalamualaikum ya malikatul habibillah wal muqinamu wihin. Kalau kita ingin berkalam tentang Tuhan, mohonlah salamun alaihim tadi. Salam ketuhanan ini disampaikan yang lima salam itu dari awal sudah saya ajarkan ya. Nah, jangan cepat-cepos tentang Tuhan. Beradablah kata-kata sebelum berkalam. Bersalam terlebih awal. Insyaallah. Insyaallah. Ayah. Baik. Terima kasih atas semuanya. Semoga ayah selalu dan bahagia selalu. Amin. Wasalamikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Ustazah ee Nurbaya atas muzakarahnya. Dan barusan ayah tadi juga ada bilang diam bukan berarti mendiamkan tetapi diam-diam mendengarkan. [tertawa] Iya, insyaallah diam-diam mendengarkan. Baik, selanjutnya sudah ada yang ingin bermujak yaitu Imam Nurlimin. Kepada Imam Nurlimin dipersilakan untuk bermuzakarah sama ayah. Silakan. I silakan. Bismillahirrahman. Terima kasih Ustazah Ahayati telah memberikan kesempatan kepada saya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Buya. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Buya dan keluarga sehat selalu amin ya Allah. Dan begitu jugalah jemaah yang live dan yang di makam yang ber yang ada pada yang hadir pada malam hari ini hendaknya diberikan semuanya bagi Allah keridaan dan rahmat-Nya. Amin ya rabbal alamin. Insyaallah. Insyaallah. Ingin saya tanyakan Bu ya. Diam. Diam di dalam paham, paham di dalam diam. Apakah itu hakiki daripada fana um billahi dan baka umillahi Bu? Ya, mohon pencera penceraannya Bu ya. Terima kasih. Iya. Boleh. Bisa dikatakan hakiki yang membuat hakikat tidak mengeluarkan suara. Boleh juga ya kita percontohkan alam dibuat dari nur. Nur tidak pernah mengalamkan. Ya. Wujud dibuat dari ilmu. Ilmu juga tidak bersuara. Ya. Alam sir nyata dibuat dari kodrat. Adam, alam juga tidak bicara. I. Nah, jadi hakikinya semua kalam yaitu Al-Qur'an diturunkan ke muka bumi. Bukan Alkitabnya berterbangan turun dari langit, tetapi turunnya kata. Ya, kun kata Allah. Nah, ya. Maka kata yang pertama turun adalah kun. Apa yang jadi? Orang semua bisa menyebut Allah. Nah, ya. Apa yang dikatakan? Faya sesak napasnya. Maka dia melihatlah Allah itu berwujud Muhammad dalam tarikan nafas faanya. Yaitu disebut dengan nafas dan nafas ampas nufus itu yang menjadi ya. Nah, jadi boleh hakikinya itu untuk muncul sebagai hakikat sehingga tidak ada yang bisa berkalam karena binatang tidak menerima Al-Qur'an. Karena makhluk tidak juga menerima Al-Qur'an ya, tetapi Al-Qur'an itu sendiri yang turun, yang bisa berhubungan dengan makhluk. Nah, itulah manusia ya. Itulah kalam. Kalam itu adalah Allah zahir zat yang terlihat. Itulah manusia kun pertamanya. barulah berwujud berbentuk fayak. Nah, seperti itu. Paham? Paham. Insyaallah, Bu. Ya. Nah, insyaallah hidup kitab itu, ya, Bu, ya. Iya. Dia bisa berbicara. Iya. Insyaallah. Terima kasih, Bu ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Imam Nurlimin atas muzakarahnya. Terima kasih Ayah atas ee penjelasannya. Ee sedikit ayah Ananda ingin bertanya kepada ayah. Ee diam bukan tidak berkata tetapi dia menyimpan kata. Bisa begitu ayah? Ya boleh. Boleh menyimpan kata. ya menyimpan kata karena kata itu kan tidak milik manusia. Yang milik manusia adalah gema dari kata. Makanya tidak ada orang berkata tanpa lebih awal dia telah menerima kata. Jadi manusia itu menggemakan kata. Contoh, saya mau beli motor itu adalah kata. Cuma kalau dia sampaikan enggak seperti yang dia dengar tadi ya, Pak. Motornya berapa belinya? Nah, itu itu gema dari saya mau beli motor. Nah, itu. Nah, itu makanya menyimpan kata. Nah, itu, Pak. Insyaallah, ya. Baik. Ayah, terima kasih penjelasannya. Selanjutnya ada Khalifah Ustazah Rati. Silakan Ustazah bermuzakarah sama ayat. Insyaallah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu Ya. Waalaikumsalam warahmatull Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Buya sehat selalu dan bahagia. Insyaallah. Amin. Begitu juga para khalifah dan ustazah. Para ustazah. Terima kasih. Ee ee Air Hayati berikan kesempatannya. Ee ay terkait dengan di mana jiwa ini nyata dalam sikap jiwa diam. Dan di satu sisi jiwa diam ini tajali keakuan Tuhan disimpan oleh jiwa diam. Tapi di jiwa diam ini tidak mengenal hakikatnya. Maksudnya apa, Bu? Ya, tapi kalau tadi diruntuhkan gemak-gema ketuhanan sudah dijelaskan dari pertanyaannya Khalifah Imam Rida. Tapi ee ananda tajali tadi ketuhan eh tajali keakuan Tuhan itu disimpan oleh jiwa diam. Nah tadi ee bagaimana itu tuh tidak mengenal hakikatnya tadi dijelaskan. Makasih. Iya. Hakikat ini sesuatu yang dihalalkan ya. Nah, hakikat ini dia bisa berubah ya. Makanya dia tidak mengenal hakikat karena dia mengenal hakiki gitu. Kalau dia kenal hakikat Allah itu Muhammad, dia enggak pernah dengar Muhammad bicara. Kalau dia katakan hakikat Allah itu adalah Tuhan, dia kan juga enggak pernah dengar suara Tuhan. Karena jiwa bukan lintas kalam. Jiwa bukan lintas kalam, tetapi jiwa lintas kata. Kalau kalam adalah kejadian. Kalau kata adalah getaran. Nah, getaran ya. Itu bedanya. Makanya jiwa itu tidak mengakui hakikat. Tidak ada seumpama-seumpama katanya. Ya, setahu saya menyaksikan itu semuanya enggak seperti yang dikaji Bapak itu. Katanya gitu. Makanya Bapak itu lagi berdusta. Mari kita aminkan dustanya biar cepat masuk neraka. Kan gitu. Ee itu kerjanya jiwa. Jadi jiwa tidak memiliki seumpama ya. Tapi jiwa bisa diimani oleh iman ketuhanan, iman. Orang yang tidak beriman kepada Allah, dia tidak mengerti tentang jiwa. Nah, gitu ya. Contoh ee dalam keseharian ustazah mengalami persoalan kejiwaan, pasti itu sangat hakiki sekali atau sangat pribadi sekali. H ah dia gila karena sering dimarahi bapaknya. Ternyata dia kena marah itu karena dia lagi memikirkan yang lain yang bapaknya enggak tahu kan gitu jiwa. Nah berarti ee suatu persoalan yang sangat hakiki yang dialami yang tidak dikenal orang banyak. Makanya seperti Anda psikolognya. Nah, ente psikolog mengerti nih orang nih sebetulnya lagi mabuk cinta tapi di luar dia mabuk arak. Nah, kan gitu. Ah, kata polisi pemabuk ditangkap rupanya lain lagu jatuh jatuh cinta dia. Makanya dia mabuk cintanya putus. Nah, itu umpamanya seperti itu. Hanya orang ahli kejiwaan yang bisa mengerti. Makanya jiwa itu pasti merusak raga. Jiwa juga akan mengindahkan neraka kalau jiwanya baik terlihat di wajahnya itu cahaya kebaikan. Nah, karena dia tidak mengenal hakikat. Hakikat itu kemunculan saja. Nah, kalau jiwanya rusak, lihat raganya ambadur. Ni orang gila umpamanya. Nah, gitu. Orang sakit jiwa tidak ada jiwa yang bisa dilihat-gila. Lihat aja tubuhnya dia pakai baju comppang-camping. Nah, itu menyandarkan jiwanya gila. Nah, jiwa itu zahirnya raga. Jadi untuk memahami hakikat jiwa tidak bisa. Jiwa itu dia mengalami ya kodratnya berbentuk raga. Raga dia, bukan hakikat siapapun. H. Nah, gitu. Paham. Insyaallah, Bu. Ya, terima kasih, Bu Ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Khalifa Ustaz Rati atas muzakarahnya. Terima kasih ayah atas penjelasannya. Selanjutnya ada Khalifah Imam Kuswari yang ingin bermuzakarah. Silakan kepada Khalifah Kuswari. Baik, silakan Khalifah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Bu Yahya. Waalaikumsalamikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Semoga Bu ya sehat selalu. Amin. Insyaallah. Begitu pula para khalifah dan ustazah. Dan terima kasih kepada Ustazah Arifi. Ini sangat menarik, Bu. Ya, mungkin termasuk ee baru bagi kami tentang jiwa. Yang pertama adalah penyaksian. Yang kedua adalah kasih sayang. Yang ketiga, wujud, wujud, mawujud, bahkan sampai batin dan zahir. Ini maksudnya gimana, Bu? Ya, mohon jabarianya, Bu, ya. ini menarik sekali karena termasuk baru bagi kami ini urutan-urutannya ini ibaratnya seperti kita memiliki hobi yang banyak bisa main voli, bisa main bola, bisa main catur. Orangnya satu juga gitu ya. Nah, jiwaku dengan aku jiwa itu perbedaannya sangat sedikit. Kalau aku adalah jiwa, maka terlihat seperti raga. Tapi jiwaku, nah ini adalah yang tidak terlihat. Nah, gitu ya. Jadi persoalan perjalanan jiwa yang mana jiwa itu tertinggi adalah dia yang disebut yang menyaksikan dan mengalami, maka hanya bisa didapati oleh rukun-rukun ketuhanan. ya. Nah, rukun ketuhanan yang mana dia telah menterjalankan bersifat dan bertingkahnya jiwa yang diam tersebut dalam menciptakan yang diam itu menuju tajali sifatnya gitu ya. Terjadi dari sifatnya sendiri. Jadi kalau dikatakan jiwa tumbuh dari alam dia, inilah yang dikatakan hening dalam kekosongan. Nah, itu sudah masuk kepada dia. Tapi kosongnya aku tidak ada yang ada melainkan dia. Itu kosong aku. Tapi kosongnya dia hening. Ya, kosong dan hening. Keheningan. Keheningan inilah yang turun menjadi diam. Nah, gitu. Jadi kalau para mursyid itu kalau melihat jemaah jarak jauh dia cukup diam. Ah kalau dia diam itu suara jemaahnya masuk ke dia karena sudah masuk ke alam heningnya dia. Ee gitu ya. Kemudian yang dikaitkan dengan kasih sayang wujudwujud maujud tadi Bu ya. Ya. Iya. Akhir dari sifat tingkah laku itu diam itulah yang membuat kekuatan yang sangat kuat. Umpamanya kita punya kesalahan ke istri ya umpamanya laki-laki ini. Nah, ya kan begitu kita mengalami suatu perdebatan, akhirnya datang kesadaran. Nah, inilah dari diam tadi. Setelah kita tenangkan diri, oh iya saya salah rupanya. Nah, inilah diam. Diam ini pembekalan ya. Maka dikatakan, "Berjalanlah engkau dari Arafah ke Madinah." Nah, ini kan dalam rangka diam. Artinya dari sifatmu yang banyak kepada sifatmu yang satu. Nah, sifatmu yang satu itu adalah diam. Diam itu adalah hening. Hening bukannya tidak tahu. Hening bukannya dia takut. Nah, sekarang kalau ada hening, gimana kita menuduh hening itu? Nah, hening dimunculkan menjadi tajali sifat namanya diam. Nah, tentu kita bertanya ini siapa uluhiyah diam itu dan berbentuk apa diam itu sekarang? Mungkin jemaah sudah berpikir barusan ke dalam banget ini. Hah? Diam itu yang paling dalam sekali. Gitu kira-kira begitulah isi kepalanya ini mendengarkan pengajian ini. Sudah terbayang ini. Aduh yang diam. Yang diam di dalam paling dalam diam. Tidak ya? Yang diam ini adalah yang bertingkah. yang menyaksikan tingkah lakunya keatan, tingkah laku ketuhanan dan dia ada di mana pun semua yang ada. Nah, yang diam ini hanya satu, ya kan? Nah, kalau yang diam ini bicara ni saya contohkan kepada akidah ya. Contoh kepada akidah kita kalau melarang orang bicara dengan kode, bagaimana caranya? Imam Kesuari isyarat ya. Isyaratnya seperti apa? Dilarang bicara, Bu Jar. Iya. Isyarat. Kalau isyarat tidak dibicarakan. Iya. Iya. Apa isyarat menyeru orang diam? mendirikan ketuhanan pada huruf sin di depan bibir kan begitu ya kan maka semua akan diam tapi kalau tidak didirikan ketuhanan atas nama Allah dengan angka satu di depan bibir ini kediaman memanggil ya dan ini memiliki daya yang sangat berpengaruh kuat ke dalam akal. Nah, coba kalau tidak tidak dipakaikan isyarat ketuhanan, tidak memunculkan jari tangan, apa resikonya? Salah tafsir. Nah, salah paham kan? Salah paham. Salah paham. Ini orang ada apa ini ya? Kokes gitu kan. Nah, gitu ya kan. Ini kalau sudah yang diam itu yang memanggil ya. Nah, ini digunakan positif. Umpamanya kita sudah paham itu, kita takut kepada sesuatu makhluk untuk biar dia bisa melihat yang diam itu, kita akan katakan gitu. Pasti ini jangan keem-mak ya. Kalau keem-mak lain ceritanya. ini diperlihatkan kepada kemakhlukan, maka dia akan berpikir dengan kode tadi. Itu perbuatan yang diam. Nah, kita contohkan lagi yang positifnya adalah salat. Ternyata itu kita pakai saat salat berhubungan yang diam dengan yang rening. Apapun ayat diwakili oleh tanda bunyi satu tadi. Apapun itu ayat diwakilinya, inilah membuktikan diam itu menguasai semuanya. Dengan sin yang dikirim tadi akan keluarlah makna semuanya. Berarti yang diam itu ada pada yang bertingkah, ada pada yang berwajah, ada pada yang bersifat, ada pada yang berkodrat, ada pada yang berwujud, ada pada yang ada. Inilah dia yang dikatakan hening. Karena dua lagi dikatakan diam. Maka yang diam yaitu sumut kalimun tadi adalah sesuatu yang bisa bicara isyarat. Karena yang diam dengan yang diamlah yang bisa berbicara. Itulah contohnya hewan, piaraan-piaraan ya. Dia sangat bisa mengerti bahasa diam kan gitu. Nah, atau yang diam itu yang berbahasa dia ngerti. Paham? Nah, itu makna makna dari diam tadi. Uluhiah dari segala sifat adalah diam. Paham? Insyaallah, Bu. Ya, terima kasih. Terima kasih, Bu. Ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Jemaah kita kembali 10 menit lagi. Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ah.