📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

NGAKAK ‼️ KOKI PRESIDEN MASUK KE TUBUH RATU KERAJAAN JOSEON

Reza Hendrawan2:47:45

Transcription

Film diawali dengan memperlihatkan seorang pria bernama Jang. Dia adalah seorang koki berbakat yang dipercaya menjadi juru masak khusus di istana resmi Perdana Menteri Korea Selatan. Saat itu ia mendapatkan tugas penting untuk memasak bagi duta besar Cina yang akan berkunjung ke negaranya. Karena adanya permintaan khusus dari pengawal duta besar Cina agar hidangannya bebas tulang, Jang yang dikenal sangat teliti pun mengerjakannya dengan penuh kehati-hatian.

Setelah menerima instruksi, ia segera mulai menyiapkan makanan. Dan saat makanan tiba, seluruh hidangan pun telah siap disajikan. Namun ketika para pejabat mencicipi ikan tersebut, mereka malah menemukan kail pancing di dalamnya. Hal itu membuat Jang langsung dicari oleh para penjaga untuk dilakukan interogasi.

Di sisi lain, Jang terlihat sedang merayu seorang wanita bernama Yejung. Tapi ia ditolak saat mencoba menciumnya. Beberapa hari kemudian terlihat polisi sedang mencari keberadaan Jang karena ia dituduh terlibat dalam kasus korupsi bahan makanan. Ternyata semua tuduhan tersebut merupakan bagian dari rencana jahat yang telah disusun oleh sekretaris presiden.

Saat mencoba melarikan diri, Jang malah terjatuh dari apartemennya ke dalam kolam renang hingga kepalanya terbentur di dasar air. Di saat itu pula tiba-tiba seorang wanita muncul dan mencium bibirnya. Namun ketika tersadar, Jang menyadari bahwa dirinya berada di sebuah ruangan yang asing. Karena merasa ada yang janggal, ia segera mencari cermin di sekitarnya. Lalu saat melihat ke arah cermin, ia pun sangat terkejut karena melihat dirinya yang telah berubah menjadi seorang perempuan seperti pada zaman kerajaan Joson.

Ternyata jiwanya masuk ke dalam tubuh calon ratu bernama Kim Soyong. Pada awalnya ia mengira sedang bermimpi. Namun perlahan ia menyadari bahwa ia benar-benar telah melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, Cang pun keluar dari ruangan. Di luar ia malah melihat sekelompok wanita yang sedang berlutut kepadanya sambil menyebutnya yang mulia. Sehingga hal itu membuat Jang merasa sangat terkejut dan segera berlari dari sana.

Saat sudah di luar, dia merasa terkejut karena menyadari bahwa alat kelaminnya sudah menghilang. Jelas saja hal itu membuatnya sangat panik dan menduga bahwa dia sudah menjadi korban perdagangan manusia yang telah menjalani operasi ganti kelamin. Tak lama kemudian, Perdana Menteri sekaligus seorang tabib yang bernama Kim datang untuk memeriksa kondisi Ratu Soyong dan menanyakan identitasnya. Namun karena jiwa Jang yang kini berada di tubuh Soyong, ia tidak bisa menjawab semua pertanyaan dari si Tabib. Tabib Kim pun menyimpulkan bahwa Ratu Soyong mengalami amnesia akibat jatuh ke danau kemarin malam.

Setelah itu, seorang pelayan memberitahu Jang bahwa ia kini berada di era dinasti Joseon tepatnya tahun 1851. Ia juga baru menyadari bahwa tubuh yang ia huni adalah milik bangsawan kerajaan yang bernama Soyong yang akan dinikahkan dengan seorang raja bernama Joljong. Pelayan tersebut menjelaskan bahwa semalam Soyong jatuh ke danau dan pingsan di sana. Mendengar cerita itu, Jang berasumsi bahwa tubuhnya dan Soyong telah tertukar. Halasil, ia pun segera menuju ke danau dengan harapan bisa kembali ke tubuh aslinya. Namun ternyata danau tersebut sudah dikuras atas perintah Ibu Suri Agung untuk mencegah kejadian itu terulang lagi.

Di sisi lain, Raja Choljong terlihat sedang membaca sebuah buku yang ternyata buku tersebut adalah buku dewasa. Sementara itu, Soyong memerintahkan para pelayannya untuk mengisi air danau kembali. Namun saat itu dia tanpa sengaja melihat Raja Colcong aja di sana sehingga ia pun langsung mendatanginya dan meminta agar air danau segera diisi kembali. Namun penampilan Soyong yang sangat kotor membuat sang raja terkejut. Apalagi Soyong terus saja mengoceh dan memaksa raja untuk menuruti permintaannya. Namun Raja Colcong menolak karena hal itu adalah perintah dari Ibu Suria Agung. Soy pun menyindirnya kemudian mempertanyakan mengapa seorang raja bisa takut kepada ibunya sendiri. Namun raja Colcong tetap tidak mau melanggar perintah tersebut. Dan saat yang mencoba membaca buku yang sedang dibaca raja, ia menolak memberikannya karena isinya tidak pantas. Alhasil, karena kejadian itu membuat mereka pun saling berebut buku hingga buku tersebut terjatuh ke dalam air. Jelas saja hal itu membuat raja kesal dan pergi begitu saja.

Di sisi lain, Ibu Suri Agung sedang berbicara dengan Tabib Kim mengenai kondisi Soyong yang saat ini kehilangan ingatan. Tabib Kim mencoba menenangkan dengan meyakinkan bahwa mereka akan berusaha mengembalikan ingatan Soyong. Ibu Suri yang bernama Sunwon ternyata merupakan seorang janda yang memegang kekuasaan sejati di kerajaan dan dia berniat menjadikan Raja Culcong sebagai boneka politiknya. Di sisi lain, ibu suri yang lainnya bernama Ibu Jo terlihat sangat senang setelah mendengar kabar bahwa Soyong yang mengalami amnesia.

Di sisi lain, di dalam istana para anggota dewan terpecah menjadi dua kubu, yaitu kelompok Andong Kim dan Pungyang Jo. Mereka mulai memperdebatkan insiden jatuhnya Soyong ke dalam danau. Saat itu, kelompok Andong Kim menuduh kelompok Pongyang yang telah mendorong Soyong ke dalam danau. Sementara pihak Pongyang membantah tuduhan tersebut karena Soyong berasal dari keluarga mereka.

Sementara itu, Soyong merasa putus asa karena yakin bahwa hanya air danau lah yang bisa membawanya kembali ke dunia asalnya. Alhasil, ia pun mencoba menenggelamkan diri di berbagai sumber air yang ada di sana. Bahkan ia sampai mencelupkan kepalanya sendiri ke ember yang berisi air pel lantai. Namun semua usahanya itu sia-sia. Setelah itu, Tabib Kim melakukan berbagai pengobatan alternatif. Tapi tetap saja tidak ada satuun usahanya yang berhasil. Saat akan ditusuk jarum, Soyong yang ketakutan pun kemudian mengancam akan membalas perbuatan Kim di saat dia sudah resmi menjadi seorang ratu nanti.

Sikat cerita, hari pernikahan pun tiba. So yang tidak tahu ada di istana tersebut pun sempat kebingungan. Namun, berkat bantuan para pelayan, akhirnya ia berhasil menyelesaikan upacara pernikahan dengan lancar. Lalu pada malam harinya ia diajak Raja Julcong untuk masuk ke kamar. Nah, karena jiwa Soyong hakikatnya adalah seorang laki-laki, alhasil Soyong pun merasa jiji akan hal itu sehingga dia mulai mencari cara untuk menghindari malam pertamanya. Ia mencoba membuat raja mabuk, namun usahanya malah gagal. Lalu ketika raja mulai membuka pakaiannya, jelas saja hal itu membuat Soyong merasa sangat panik. Dan ketika raja akan memadamkan lilin, Soyong segera menghentikannya. Namun hal itu membuatnya ditarik kepelukan sang raja hingga mereka berdua saling bertatapan. Soyong awalnya mengira bahwa Raja Chuljong akan mulai malam pertamanya. Namun ternyata sang raja hanya mengajaknya minum kemudian dia tidur duluan. Untuk berjaga-jaga, Soyong sempat mengikat bajunya secara erat-erat.

Sementara itu, Raja Joljong yang sudah tertidur terlihat bermimpi sedang ditebas oleh seseorang. Keesokan paginya, Soyang merasa terkejut ketika melihat simpul bajunya sudah terbuka. Padahal ia sangat yakin sudah mengikatnya kuat kuat. Para pelayan pun datang dan tersenyum. Mereka mengira malam pertama sang raja dan ratu telah terjadi.

Setelah itu, para pelayan menyiapkan Soyong untuk menyapa para ibu Suri, yaitu Ibu Sunwon dan Ibu Jo. Dalam perjalanan, Soyong terus berpikir apakah Raja benar-benar menyentuhnya semalam. Namun tiba-tiba ia meminta tandunya untuk berhenti karena dia terpaku setelah melihat seorang gadis cantik di bawah pohon. Gadis itu bernama Hua Jin. Dan saat Soyong mengajaknya berkenalan, Huacin terlihat menolak tawaran perkenalannya tersebut. Bahkan Huain yang merupakan kelompok Pongyang merasa bahwa Soyong sudah merubah strateginya untuk menghancurkan kelompoknya.

Singkat cerita sesamanya di tempat tujuan, Soyong melihat ketegangan antara Ibu Joongyang dan Ibu Sunwon dari kelompok Andong Kim alias kelompok yang sama dengan Soyong. Ibu Sunwon menyuruh Soyong segera memiliki keturunan. Bahkan Ibu Jo memperagakan cara agar Soyong cepat hamil. Namun hal itu membuat Soyong merasa risih dan meminta gerakan tersebut dihentikan. Meski kedua pemimpin kelompok tersebut saling tersenyum, ternyata mereka berdua saling menyindir secara halus.

Nah, kegiatan Soyong selanjutnya adalah mengunjungi istana utama untuk menemui para pejabat. Di sana Tabib Kim menyarankan agar Raja Joljong mengangkat ayah mertua Soyong sebagai pengawal pribadinya. Meski tidak paham maksudnya, Soyong tiba-tiba menyetujui hal tersebut karena ia sadar bahwa ia harus berpihak pada kelompok yang berkuasa demi keselamatannya. Keputusan ini membuat raja mengira bahwa Soyang mulai menunjukkan sifat aslinya. Namun, raja tidak bisa menolak karena Ibu Sunwon diam-diam memberikan isyarat agar sang raja sepakat dengan Soyong.

Setelah urusan itu selesai, Soyong kembali menemui Hua Jin yang merupakan selir raja dan kembali mencoba mengajaknya berteman. Namun sayangnya, Hua Jin yang berasal dari kelompok Pongyang menolak tawaran itu dan memilih pergi dari sana. Di tempat itu, Ibu Sunwon bersama Tabib Kim sedang menyusun rencana untuk menjatuhkan selir Huain dengan tuduhan palsu karena dia berasal dari kelompok Pongyang. Sehingga mereka mengira bahwa Huain akan mudah dimanfaatkan.

Di sisi lain, Raja Joljong yang sedang membaca tiba-tiba mengingat kembali saat ia dan temannya pernah masuk diam-diam ke gudang harta milik pejabat istana. Saat itu mereka berhasil mengambil beberapa emas, tapi mereka tidak menemukan buku rahasia yang mereka cari. Setelah itu mereka sempat dikejar oleh para penjaga. Namun untungnya mereka berhasil melarikan diri.

Tak lama kemudian, So datang karena masih penasaran dengan kejadian semalam. Oleh karena itu, ia langsung menanyakan kepada Jol Jong tentang apa yang sebenarnya terjadi. Jol Jong pun mengakui bahwa mereka memang sempat berhubungan saat Soyong sedang mabuk. Setelah mendengar pengakuan itu, Soyong langsung merasa marah dan memilih pergi meninggalkan sang raja.

Sesampainya di kamarnya, Soyong didatangi oleh pelayan Choy yang berniat mengajarinya cara bersikap sopan di hadapan sang raja. Akan tetapi, Soyong malah menunjukkan sikap konyol selama proses belajar yang diberikan oleh pelayan Choy. Ia bersikap lucu saat diajari cara berjalan. Bahkan dia bersikap tidak sopan saat sedang belajar makan sesuai dengan etika kerajaan. Saat sedang makan, tiba-tiba Soyong mengalami sakit di dadanya dan sempat teringat kembali tentang kejadian sebelum dirinya tenggelam di danau. Ia mulai menyadari bahwa alasan ia mencoba bunuh diri adalah karena merasa Raja Jol Jong tidak mencintainya. Karena hal itu, pelayan Choy serta yang lainnya merasa panik dan mengira bahwa Soyong keracunan makanan. Akan tetapi, Soyong tiba-tiba tertawa dan menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja.

Ketika malam tiba, Soyong memutuskan untuk menemui Ibu Sunwon dan memohon agar air danau diisi kembali. Namun, Ibu Sunwon menolak permintaan tersebut karena ia khawatir kejadian tenggelamnya Soyong akan terulang kembali. Oleh sebab itu, So menyusun strategi untuk membucuk Ibu Sunwon, yaitu dia berniat tidur bersama raja selama 7 hari supaya bisa mendapatkan seorang anak yang akan menjadi ahli waris. Namun dengan syarat danau tersebut harus diisi kembali seperti semula. Setelah mendengar penawaran itu, akhirnya Ibu Sunwon pun setuju.

Di sisi lain, Ibu Jo memanggil Huain ke ruangannya. Ternyata ia memberikan jimat agar Hua Jin bisa segera memiliki keturunan. Akan tetapi, Hua Jin merasa risi dan tidak nyaman menerima jimat itu. Ia kemudian memberitahu bahwa Raja dan Ratu Soyong akan tidur bersama selama 7 hari penuh sehingga ia sebagai selir tidak bisa menemui raja dalam waktu tersebut.

Ketika malam tiba, Soyong mengajak Raja Col Jong untuk melakukan hubungan suami istri lagi. Namun sebelum itu terjadi, So meminta Chulcong agar menunggunya di ruangan sebelah karena ia akan menyusulnya nanti. Setelah Raja pergi, Soyong meminta pelayannya menyiapkan pakaian seperti pria karena ia berencana menyamar agar bisa keluar dari istana demi bisa jalan-jalan. Si pelayan pun mengingatkan bahwa setelah lonceng berbunyi, Soyong harus segera kembali karena gerbang istana akan ditutup.

Sementara itu, Tabib Kim menyambut anak angkatnya yang baru saja pulang. Dia bernama Bong In. Tabib Kim kemudian menceritakan bahwa sebelum upacara pernikahan dimulai, Ratu Soyong sempat terjatuh ke danau. Mendengar hal itu, Bong terlihat cemas.

Di sisi lain, So yang sedang mencari jalan keluar, alhasil dia malah tersesat. Namun, tanpa sengaja dia bertemu dengan Kim Huan alias anak dari salah satu pejabat. Agar bisa melewati gerbang tanpa dicurigai, Soyang berpura-pura berteman dengan Kim Huan. Setelah berhasil keluar, ia langsung memukul Kim Huan hingga pingsan lalu pergi ke tempat hiburan. Di tempat hiburan, Soyong minum-minum sampai mabuk sambil ditemani para wanita penghibur.

Sementara itu di ruangan lain terlihat seorang pria tua sedang meminta bantuan Bong In agar anaknya bisa bekerja di pemerintahan. Dia meminta hal itu karena ayah angkat Bong In alias Tabib Kim adalah pejabat tinggi. Ia bahkan berjanji bahwa keluarganya akan setia membantu Bong In. Sementara itu, di tempat yang sama terlihat dua orang yang merupakan kakak dan sahabat dari Raja Coljong sedang saling menyarankan agar tetap waspada rencana reformasi raja tidak gagal dikarenakan mereka juga sedang mengincar dokumen korupsi milik para pejabat.

Di sisi lain, So yang sudah sangat mabuk tanpa sadar dia malah masuk ke toilet pria. Ia lupa bahwa dirinya sekarang adalah seorang wanita. Saat itu Bong In melihatnya dan seketika terkejut melihat Soyong yang ada di sana. Karena masih mabuk, Soh masuk ruangan sehingga membuat dua pria tadi merasa terkejut saat melihat kedatangannya. So pun hanya bisa berdiri dalam keadaan bingung. Lalu tiba-tiba lonceng pun berbunyi. Hal itu menandakan bahwa Soyong harus segera kembali ke istana. Namun kedua pria tadi mulai curiga dan mengira bahwa Soyong sengaja menyamar sebagai pria untuk menguping percakapan mereka. Mendengar kabar itu, Raja Colcong menenangkan mereka dan berkata bahwa ia sendirilah yang akan mengurusnya.

Tak lama kemudian, saat Soyong sedang berlari menuju gerbang, Raja Joljong muncul dengan wajah yang tertutup. Ia langsung mengadang sambil mengarahkan pedang kepadanya. Soy awalnya mengira bahwa dirinya sedang dirampok sehingga ia langsung mengeluarkan semua barang yang di bawahnya. Namun aksinya tersebut justru membuat Chol Jong bingung. Karena tidak ingin tertipu, Chol Jong kembali mengancamnya. Akan tetapi, Soyong masih mabuk kemudian mengaku bahwa dia adalah anggota pasukan khusus. Ia mulai mengarang dan mengatakan bahwa meskipun hanya seorang koki militer di pasukan khusus, ia mampu membunuh hantu dengan pisau dapur saja. Ia bahkan bergaya seolah siap bertarung dan balik mengancam Jul Jong dengan cara yang konyol. Namun tiba-tiba sebuah pedang terbang melayang dan mengenai masker yang dikenakan Culong hingga terlepas. Hal tersebut membuat wajahnya hampir terlihat. Jul Jong pun buru-buru menutupi wajahnya karena tidak ingin identitasnya diketahui. Ternyata pedang itu adalah milik Bong Insung menyerang Chul Jong. Dalam keadaan terdesak, Chul Jong berusaha kabur sambil menutupi wajahnya. Untungnya teman-teman Chul Jong datang membantu hingga ia berhasil melarikan diri.

Setelah itu, Bong In membawa Soyong kembali ke istana. Ketika mereka tiba, pelayan Hong sangat terkejut melihat Ratu Soyong datang dalam kondisi seperti itu. Dan pelayan Hong langsung disuruh Pong In untuk merawat sang ratu. Setelah kejadian itu, Pyong In teringat kenangan masa lalu saat Soyong kabur dari istana tepat sebelum hari pernikahannya. Saat itu Soyong bersembunyi dan menangis sendirian. Bong Inemukannya langsung menghampiri dan menenangkannya. Saat sedang mengobrol, So mengungkapkan bahwa menjadi ratu sebenarnya adalah impiannya sejak kecil. Namun karena ia akan menikah dengan Raja Coljong besok, hal tersebut malah membuat Soyong merasa ketakutan dan tidak ingin lagi menjadi seorang ratu. Mendengar hal itu, Piong In berusaha menguatkannya dan secara jujur menyatakan perasaannya bahwa sejak kecil ia sudah menyukai Soyong. Ia pun berjanji akan selalu melindungi Soyong apapun yang terjadi. Dan di momen itu ia sempat menciumnya.

Keesokan harinya, Soy bangun dalam keadaan sedikit sempoyongan. Ketika pelayan Hong menawarkan makanan, So mencicipinya namun langsung mengeluh karena tidak menyukai rasa dari makanan tersebut. Oleh sebab itu, ia meminta koki kerajaan untuk menyajikan semangkok ramen. Permintaan ini jelas saja membuat para koki bingung karena mereka tidak tahu apa itu ramen. Meski begitu, mereka tetap berusaha memasak makanan sesuai dengan permintaan sang ratu. Sang koki telah mencoba memasak berkali-kali. Namun So tetap merasa tidak puas. Makanan pertama dianggap terlalu sehat, yang kedua terlalu hambar, dan yang ketiga malah terlalu pedas. Karena frustasi, koki itu akhirnya menyerah dan menyuruh Soyong untuk memasak makanannya sendiri. Soyong yang sebenarnya adalah kokijang dan memang sangat ahli memasak. Alhasil ia pun langsung menyiapkan bahan-bahan dan masuk ke dapur. Ketika ia mengambil pisau, para pelayan panik karena sejak kecil Ratu Soyong tidak pernah menyentuh peralatan dapur. Namun saat Soyong mulai memotong bahan-bahan dengan cepat dan sangat presisi, mereka langsung terkejut dan kaku melihatnya. So memotong dengan rapi dengan ukuran yang sempurna lalu memasak sebuah hidangan ramen mewah yang hasilnya sangat menggugah selera. Ketika Koki mencicipi piramen itu, ia langsung terkesan dengan rasanya. Setelah itu, Soyong membawa makanan tersebut ke kamarnya dan menikmatinya bersama Playan Hong. Playan Hong pun juga ikut kagum dan mengakui kalau Ratu ternyata sangat pandai memasak.

Namun tiba-tiba Raja Colcong datang untuk memastikan apakah Soyong mengingat kejadian semalam saat Soyong menguping pembicaraan. Namun, So justru curiga apakah Raja tahu bahwa ia semalam kabur dari istana. Ketika ditanya apakah semalam ia minum, Soyong berbohong dan menjawab tidak. Joljong pun mendekat. Seolah ingin memastikan kebenarannya. Tapi Soyong malah mengira bahwa Jol Jong ingin mengajaknya lomba saling menatap. Namun, Soy malah bersendawa dan menghembuskan aroma tidak sedap yang membuat Jol Jong terkejut. Sehingga pelayan Hong segera menyuruh sang ratu untuk bersikap sopan.

Tak lama kemudian, Pyong In datang menemui Soyong. Dalam hati, So heran dan bertanya-tanya kenapa pria itu begitu percaya diri dan bersikap soak akrab. Bong mengingatkan Soyong bahwa semalam ada yang mencoba membunuhnya. Mendengar hal itu, Soyong terkejut karena ia tidak ingat apapun karena saat itu ia sedang mabuk. Bahkan dia mengaku mengalami amnesia dan lupa semua kenangan di masa lalunya. Bong pun menasihatinya untuk tetap waspada di istana karena tak ada yang bisa dipercaya. Namun, ia berjanji akan selalu melindunginya.

Setelah itu terlihat Soyong mulai khawatir jika tinggal terlalu lama di istana maka itu bisa membahayakan nyawanya. Alhasil ia pun merencanakan untuk membucuk Ibu Suri Agung Sunwon agar mengisi kembali air danau dengan memanfaatkan keahlian memasaknya. Karena Ibu Sunwon dikenal sulit makan, Soyong yakin jika berhasil membuatkan masakan yang enak, maka permintaannya untuk mengisi air danau akan dikabulkan. Namun saat kembali ke dapur, ia dihalangi oleh koki kerajaan yang iri dengan masakan ramen sebelumnya. dan tidak mengizinkan Soyong untuk memasak lagi di dapur. Soy yang kesal pun langsung menentangnya duel memasak. Namun dengan syarat jika ia menang, ia akan menjadi pimpinan dapur. Tantangan itu pun diterima dan lonceng pun dibunyikan sebagai tanda dimulainya duel memasak. Koki mulai memotong wortel tapi tangan Soyong jauh lebih cepat dan lincah. Sehingga tidak butuh waktu lama ia sudah selesai memasak dan membunyikan lonceng lebih dahulu. Namun sang koki mengatakan pucepatan memasak bukanlah yang utama, melainkan rasa masakan yang paling penting. Lalu kepala pengurus makanan mencoba mencicipi kedua masakan tersebut dan menyatakan bahwa Soyong sebagai pemenangnya. Koki kerajaan pun harus mengakui kekalahannya dan merasa malu saat itu.

Saat Soyong sedang merayakan kemenangannya, tiba-tiba pelayan Hong datang memberitahu bahwa Raja Joljong mengunjungi kamar Soyong. Di sana sang raja mencoba menggali ingatan Soyong tentang kejadian semalam. Namun Colcong tidak mendapat pengakuan apapun dari Soyong karena saat kejadian Soyong benar-benar mabuk. Karena kesal dan curiga, Colcong pun memutuskan untuk menginap di sana. Saat itu mereka berdua tidak bisa tidur karena saling mencurigai. Tapi akhirnya mereka tetap tertidur juga. Saat itu Cholcong kembali bermimpi. Ternyata mimpinya waktu itu bukan dia yang ditebas, melainkan orang lain yang ditebas. Sedangkan dirinya yang saat itu masih bocah sedang menyaksikan kejadian tersebut secara langsung.

Keesokan harinya, Soyong mendekati Huain yang sedang berlatih memanah. Saat itu, So kembali merayunya. Akan tetapi Hua Jin tetap bersikap dingin. Ia mengatakan kepada Soyong bahwa dirinya merasa difitnah soal insiden di danau. Padahal menurutnya Soyong sendirilah yang menjeburkan diri ke danau. Alhasil, Jang pun terkejut dan bertanya-tanya apakah benar bahwa tubuh yang dia huni saat ini melakukan bunuh diri.

Singkat cerita, Soyong kembali memasak demi menyenangkan hati Ibu Suri Agung Sunwon. Setelah makanannya selesai, kepala dapur membawakannya ke Ibu Sunwon dan mengatakan bahwa hidangan itu dibuat oleh Ratu Soyong. Di sisi lain, So terlihat gelisah karena sedang menunggu penilaian dari Ibu Sunwon tentang makanannya. Dan singkat cerita, Ibu Sunwon memuji masakan Soyong. Dan saking senangnya dengan masakan Soyong, Ibu Sunon menyuruh para pelayannya untuk mengisi danau kembali. Di sisi lain, Soyong sangat senang ketika para pelayan mulai mengisi danau secara bersama-sama. Tapi ketika melihat mereka hanya membawa air seember demi seember, ia pun mengajarkan sistem estafet agar lebih cepat dan dia langsung bertindak sebagai mandornya saat itu juga.

Di sisi lain, Bong Inas dengan siapa yang telah menyerang Soyong akhirnya menyelidiki kain yang dia temukan pada malam itu. Di sisi lain, Selir Huain terlihat sangat kesal karena mendengar pelayan lainnya sedang menggosip tentang dirinya yang mendorong Soyong ke danau sehingga dia pun menyiram air ke pelayan tersebut.

Pada malam harinya, Joljo mengajak Soyong untuk minum teh melatih kesukaannya. Namun aroma itu justru membuat Soyong teringat pada malam saat ada yang hendak membunuhnya dan orang itu juga beraroma melati. Halhasil, ia pun menyadari bahwa pelakunya adalah Chol Jong. Sehingga Soyong pun menatapnya sementara Chol Jong perlahan mengeluarkan pisau pelatinya. Namun tiba-tiba Chol Jong mengurungkan niatnya untuk membunuh Soyong. Kemudian Chol Jong memberikan secangkir teh pada Soyong. Namun Soyong malah mengembalikannya karena curiga teh itu mengandung racun. Karena merasa tidak dipercaya, Cholcong pun meminum teh tersebut di hadapannya. Tak lama setelah itu, Cholcong tiba-tiba mencium Soyong. So yang panik berusaha memutahkan air teh tersebut agar dia tidak mati keracunan. Namun, Colcong menenangkan dan mengatakan bahwa teh itu tidak beracun. Bahkan jika Soyong masih ragu, ia dipersilakan menggunakan tusuk kondenya untuk membunuh sang raja. Ketika tubuh Soyong mulai lemas dan pikirannya menjadi kacau, Cholcong segera menutup pintu dan bertanya apa yang sebenarnya diketahui Soyong. So pun menjawab bahwa ia tidak mengerti mengapa Jol Jong ingin membunuhnya. Apakah karena perempuan lain atau ada alasan tersembunyi lainnya. Bahkan Soyong mengira alasan Cholcong ingin membunuhnya adalah karena dirinya dianggap lemah. Mendengar hal itu, Cholong menjadi semakin marah karena selama ini ia justru berjuang melindungi orang-orang lemah. Akhirnya ia memilih pergi dan meninggalkan Soyong yang saat itu terlihat marah.

Setelah itu, Jogjong mencurahkan perasaannya pada Pangeran Yong Pong. Ia mengakui bahwa meskipun Soyong mungkin pernah mendengar rencana atau bahkan ikut membantu menaikkan klan And Kim yang sering korupsi bukan berarti Soyong pantas dibunuh hanya karena dianggap sebagai wanita yang lemah. Namun Yong Pong tetap menyarankan agar Colcong segera menyingkirkan Soyong. Setelah itu Yong Pong mencoba menghilangkan bukti dengan membakar pakaian Chulcong yang sebelumnya digunakan saat sedang menyamar untuk menyerang Soyong. Namun tanpa sepengetahuannya, aksi tersebut ternyata diam-diam disaksikan oleh kepala Kasim yang sedang mengintip.

Di sisi lain, seorang pedagang memberitahu Biongin bahwa kain yang dibawanya merupakan kain khusus yang hanya berasal dari lingkungan istana. Sementara itu, Ibu Surijo terlihat mulai menyusun rencana untuk mencari kambing hitam dalam kasus terjeburnya Soyong ke danau. Ia ingin menuduh orang lemah yang tidak punya pelindung agar mudah disingkirkan. Pada saat yang sama, pelayan Wall yang berasal dari kelompok Pongyang tiba-tiba diculik oleh seorang pria misterius dan dibawa ke suatu tempat. Di sana penculik tersebut memaksanya untuk mengungkap siapa yang sebenarnya telah mendorong Ratu Soyong ke dalam danau.

Keesokan paginya, Ibu Suri Sunwon dan Tabib Kim terlihat membicarakan hal serius mengenai rencana mereka untuk menjatuhkan selir Huaajin. Mereka berusaha membuktikan bahwa Huajin lah yang telah mendorong Soyong ke dalam danau. Mereka berharap dengan rencana tersebut dapat mengurangi kekuasaan kelompok Pion yang di dalam istana. Di sisi lain di ruangan raja, Yong Pong bertanya kepada Joljong tentang apa yang sebenarnya terjadi. Joljong pun mengakui bahwa ia telah salah menilai Ratu Soyong hanya karena asal-usulnya dari kelompok Andong Kim. Tak lama kemudian, kepala Kasim datang mencarinya. Joljong dan Yongpong berpura-pura sedang membaca buku dewasa agar tidak dicurigai.

Di sisi lain, Playan Hong datang menemui Ratu Soyong untuk menyampaikan pesan bahwa Ibu Suri Sunwon memanggilnya. Dalam pertemuan tersebut, Ibu Sunwon meminta Soyong untuk memilih tiga calon selir baru. So pun menerimanya dengan senang hati karena sebagai jiwa laki-laki, ia merasa sangat senang akan bertemu dengan banyak wanita. Setelah itu, Ibu Sunwon memberikan permintaan lain, yaitu menyuruh Soyong memasakkan makanan untuknya. Meskipun agak terpaksa, Soy pun menuruti permintaan tersebut karena ingin air danau segera terisi penuh.

Di tempat lain, tepatnya di kuil divisi pengawalan istana, terlihat Pak Kim alias Ayah Soyong memulai tugasnya sebagai komandan untuk pertama kalinya. Namun, ia langsung ditantang oleh Yong Pyong dan Hong untuk menunjukkan kemampuannya dalam menunggangi kuda. Karena tidak ingin diremehkan, Pak Kim pun menerima tantangan itu. Tapi pada akhirnya ia malah terjatuh dan mengalami cedera. Sementara itu di dapur istana, Soyong kembali menunjukkan kemampuannya dalam memasak untuk menyiapkan makanan bagi Ibu Sunwon. Dan singkat cerita, Ibu Sunwon pun menyantapnya dengan sangat lahap. Tapi ia mengeluhkan makanannya yang cepat dingin karena jarak dapur yang terlalu jauh dengan ruangannya. Mendengar hal itu, So langsung mencari solusi dan menemukan ide yang cemerlang. Ia pun segera pergi ke tempat tukang kayu dan memesan tandu yang dirancang khusus untuk membawa makanan agar tetap hangat.

Setelah urusan itu selesai, Songpong pergi ke danau dan terkejut karena air di sana masih sangat sedikit. Sehingga hal itu membuat dia memari kepala pelayan yang bertanggung jawab atas urusan danau. Bahkan dia menuduh para pelayannya sering bermalas-malasan karena selama ini tidak diawasi olehnya langsung. Kemudian saat Zoyong sedang bersantai, dia melihat para pelayan yang memandanginya dengan rasa iri karena ratu terlihat sangat santai, sedangkan para pelayan lainnya sibuk bekerja. Alhasil, Soang pun memikirkan cara agar mereka tetap semangat bekerja. Ia segera menyuruh pelayan Choy untuk membuatkan minuman dingin yang menyegarkan untuk dibagikan kepada para pekerja. Berkat tindakan tersebut membuat para pelayan menjadi bersemangat kembali. Bahkan mereka pun merasa senang dan berterima kasih kepada Soyong atas perhatiannya.

Di sisi lain, Wajin merasa cemas karena pelayannya yaitu Ohwall tiba-tiba menghilang. Tak lama kemudian, Ibu Surijo datang menemuinya dan membujuknya untuk bergabung demi keselamatan mereka bertiga, termasuk Oh. Di tempat lain, Raja Coljong menemui Huain dan mengatakan bahwa Ratu Soyong sedang merekayasa situasi agar Huain mendapatkan hukuman. Namun, raja berniat mengaku kepada Soyong bahwa dirinyalah yang telah mendorong Soyong ke danau. Hal itu raja lakukan agar bisa menyelamatkan selir Huacin agar tidak difitnah oleh Soyong. Namun Yong Pong terlihat menentang keinginan Raja Chol Jong karena misi mereka belum selesai. Saat itulah Chol Jong mengatakan bahwa ia tidak pernah menginginkan takahta sebagai seorang raja karena keluarganya telah dibunuh dan diasingkan. Bahkan ia juga dijadikan raja boneka oleh ibu Suriun Won. Setelah itu, Yong Pyong bertekad mencari Ohwall yang diduga diculik untuk dipaksa memberikan kesaksian palsu. Alhasil, ia pun segera mengerahkan pasukan elitnya untuk menemukan dan menyelamatkan Ofall.

Di sisi lain di danau, pelayan coi menyarankan Soyong untuk mengisi waktu dengan menjahit sambil menunggu air danau terisi penuh. Saat membuka kotak jahitnya, So tanpa sengaja menemukan kain bertuliskan tinggalkan dirimu yang palsu. Pelayan Hong kemudian menjelaskan bahwa sebelum insiden Soyong terjatuh ke dalam danau, Soyong sering menjahit tulisan semacam itu. Dari situlah Koki Jang alias jiwa yang ada di dalam tubuh Soyong mulai mencurigai bahwa semua jahitan yang dibuat oleh Soyong selama ini mungkin adalah pesan atau surat wasiat. Setelah menghubungkan berbagai keanehan yang terjadi sebelum kejadian di danau, Chang pun menyimpulkan bahwa Soyong sebenarnya berniat mengakhiri hidupnya sendiri dengan terjun ke danau.

Tak lama kemudian, pelayan Choy mendapatkan kabar bahwa Hua Jin sedang disidang di aula istana. Di sisi lain, Huain memberikan pengakuan palsu kepada Ibu Suriun Won bahwa dialah yang telah mendorong Soyong ke danau. Sebenarnya ia melakukan itu demi melindungi pelayannya yaitu Ohwall. Shin lalu akan kembali ke malam kejadian. Entah apa yang mereka ributkan, namun Soyong sempat berkata bahwa suatu saat nanti Huajin akan kehilangan orang yang paling ia sayangi. Setelah itu, tiba-tiba saja Soyong langsung menyeburkan diri ke dalam danau. Bahkan saat itu, Huain sempat mengelurkan tangannya demi mencegah hal tersebut. Setelah Hajin memberikan pengakuannya, Ibu Sunwon lalu mengeluarkan surat dari Ibu Jo yang diduga sebagai bukti kerja sama antara Ibu Johuajin. Meskipun Hua Jin merasa tidak pernah menerima surat itu, namun tuduhan tetap diarahkan kepadanya. Tak lama kemudian, Raja Colc Jong datang untuk membela Hua Jin. Namun, Ibu Sunwon justru memarahinya karena ia sudah mendengar pengakuan dari Hua Jin tentang niatnya yang mencelakakan Soyong. Meskipun Hua Jin bukan pelakunya, namun dia tetap mengaku sebagai pelaku atas insiden tersebut. Hal itu ia lakukan demi melindungi pelayannya yaitu Ohwall.

Di sisi lain, sekelompok orang bertopeng melompati pagar istana dan menyelinap ke suatu tempat. Rupanya mereka sedang menjalankan misi untuk menyelamatkan pelayan Ohwall yang sempat diculik. Di sisi lain, karena pengakuan Huain sudah disampaikan, hal itu membuat pengawal istana pun bersiap untuk menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Namun tiba-tiba Raja Colcong menghentikan pedang tersebut dan mengatakan bahwa dirinyalah yang sebenarnya mendorong Soyong ke dalam danau.

Di waktu yang sama, para pelayan yang bertugas mengisi danau merasa terkejut karena air dari sumur terlihat sudah habis. Di sisi lain, So yang baru saja datang tiba-tiba menyuruh Raja Colcong untuk berhenti berbicara. Ia lalu berlutut dan mengaku bahwa sebenarnya tak ada yang ingin membunuhnya pada malam itu. Karena ia sendirilah yang memang berniat untuk mengakhiri hidupnya. Pengakuan tersebut jelas saja membuat semua orang merasa terkejut, terutama Ibu Suri Sunwon. Karena artinya semua rencana yang telah mereka susun akan berantakan. Setelah itu, Soyong menunjukkan kain merah hasil jahitannya yang ternyata berisi pesan seperti sebuah wasiat. Melihat hal itu, Ibu Suri Sunwon marah besar dan menanyakan alasan Soyong ingin bunuh diri. Namun, tiba-tiba Wajin pingsan. Karena Kukijang tidak tahu apa alasannya, Soyong melakukan bunuh diri. Alhasil, dia pun berpura-pura pingsan juga.

Saat Chul Jong tahu bahwa So berpura-pura pingsan, ia pun akhirnya hanya membantu Hua Jin saja. Sementara itu, Bong In juga ada di sana segera menolong Soyong sehingga kedua pria tersebut saling melempar tatapan tajam satu sama lain. Soyong kemudian dibawa ke kamarnya dan di sana sang ayah menangis sambil menceritakan bahwa Ibu Soyong meninggal saat melahirkannya. Ucapan tersebut membuat kedua pelayan pun ikut menangis. Di luar kamar, Byong In teringat masa lalu saat Soyong masih ceria dan selalu semangat karena mimpi Soyong yang ingin menjadi ratu akan segera terwujud. Tapi setelah masuk istana, wanita yang ia cintai itu malah terlihat menjadi sedih. Bahkan ayahnya pun merasa bersalah karena tidak mampu melindungi anak semata wayangnya.

Di sisi lain, di kediaman Ibu Suri Sunwon, dia terlihat sangat murka karena semua rencananya berantakan akibat tindakan dari Soyong. Ia mengingat bahwa sebelum insiden di danau, So sempat menemuinya dan mengatakan bahwa dirinya tidak pantas menjadi ratu dan ingin pergi dari istana. Namun, Ibu Sonwon melarangnya pergi apapun alasannya.

Di sisi lain, Soyong kembali ke danau dengan harapan airnya sudah penuh. Tapi ia merasa kecewa karena para pekerja belum menyelesaikan tugasnya. Kasih mengatakan bahwa sumur sudah mengering, jadi mereka harus mengambil air dari tempat yang lebih jauh. Karena takut dimarahi, para pelayan memohon ampun karena mereka sebelumnya sudah berjanji air akan terisi penuh pada malam ini. Melihat Soyong terus mendekat ke danau membuat palayan Hong langsung mencegahnya karena khawatir ia akan melompat lagi. Bahkan pelayan Choy juga ikut menahan kakinya. Alhasil Soyong pun menyerah. Lalu dia berdiri dan meminta seorang Kasim untuk mengecek seberapa dalam isi danau. Ternyata airnya memang masih sangat dangkal. Kemudian Sogil oleh Ibu Suri Sunwon untuk dimintai penjelasan. Ibu Sunwon pun berniat mencopot status Soyong sebagai seorang ratu dan mengusirnya dari istana. Mendengar hal itu jelas saja membuat Soyong merasa panik karena jika dia keluar dari istana maka dia tidak akan bisa melompat ke danau demi bisa kembali ke masa modern. Namun untung saja berkat bantuan Tabib Kim dia berhasil meyakinkan Ibu Sunwon agar memberi Soyong kesempatan kedua untuk tetap tinggal di istana.

Di sisi lain, Joljong yang berada di kamar Hua Jin terlihat merenung tentang pengakuan Soyong. Ia mulai menyadari bahwa dugaannya selama ini memanglah salah. Ternyata Soyong tidak berniat memfitnah Hua Jin. Justru Soyong malah membelanya. Ia pun teringat momen sebelum Soyong melompat ke danau. Saat itu Soyong menyatakan perasaannya dan meminta Choljong untuk mencintainya. Tapi karena Joljong menanggapinya dengan dingin, alhasil dia mengira penolakan itulah yang membuat Soyong Negat bunuh diri dengan melompat ke danau. Karena merasa bersalah, Joljong memutuskan untuk menemui Soyong dan meminta maaf. Tapi Soyong justru marah-marah. Dia mengatakan bahwa karena kejadian tadi siang, ia hampir dicopot dari status ratunya dan diancam akan dikeluarkan dari istana. Alhasil, ia pun mengusir Colcong dari kamarnya. Saking kesalnya, ia melempar tusuk konde hingga menancap ke dinding. Jelas saja, hal itu membuat semua orang terkejut, termasuk Jol Jong.

Setelah itu, Joljong berjalan ke tepi danau dan dia bertanya kenapa Danau kembali diisi air. Kasih menjelaskan bahwa Ratu So sendirilah yang memohon pada Ibu Sunwon agar Danau diisi kembali. Hal itu membuat Cholcong merasa ada yang jangkal. Jangan-jangan Soyong berniat ingin mengakhiri hidupnya lagi. Lalu Joljong menceritakan pada kelompoknya bahwa Soyong terancam dilengserkan karena membela dirinya dan Jin. Kini mereka pun bingung sebenarnya Soyong berpihak kepada siapa. Semua tindakan Soyong justru membuat Choljong semakin penasaran kepadanya.

Di tempat lain, Pyong In menemui Tabib Kim yang merupakan ayah angkatnya. Ia meminta jabatan sebagai Menteri Kehakiman karena diam-diam ingin menyelidiki siapa pelaku yang menyerang Soyong malam itu. Di sisi lain, Wajin menjenguk Ohwall yang sedang dirawat. Pelayan memberitahu bahwa aturan istana tidak mengizinkan orang yang terluka tinggal di dalam istana sehingga Ohwall harus dibawa keluar. Karena itu, Wajin menyuruh untuk dirawat di rumah Wajin sampai Ohwall benar-benar sembuh.

Keesokan harinya, saat rapat istana berlangsung, klan Andi mendesak Raja Colcong untuk membucuk Piong In sebagai Menteri Kehakiman. Alhasil, klan Piong yang tahu maksud terselubung mereka hanya bisa tersenyum sinis. Setelah rapat selesai, Ibu Suriun kembali mengingatkan sang raja agar tetap bersikap rendah hati. Di sisi lain, So yang sedang dihukum, dia diminta membantu di dapur kerajaan. Ia mengisi waktu luangnya dengan menjahit kain penutup makanan agar tetap hangat saat dibawa ke dalam tandu. Lalu dia kembali memasak untuk Ibu Suri Sunwon seperti biasa.

Di sisi lain, Ibu Sunwon sebenarnya menahan lapar karena malu meminta makanan dari Soyong. Tapi saat tahu makanan buatan ratu akan segera dihantar seketika Ibu Sonwon langsung ceria. Kepala pelayan memberitahu bahwa tema makanan hari itu adalah renyah di luar, lembut di dalam. Terlihat ibu Sunwon yang sangat menikmati makanan dari sang ratu. Setelah itu, kepala pelayan kembali melapor bahwa semua makanan yang disajikan telah habis dimakan oleh Ibu Sunwon. Mendengar hal tersebut membuat Soyong kembali merasa senang.

Di sisi lain, Ibu Surijo memperingatkan Huain agar lebih waspada. Ia mengatakan bahwa saat ini mungkin hanya pelayan Owol saja yang disakiti, tapi bisa saja nanti Huajin sendiri yang menjadi targetnya. Di ruangan pribadinya, Ibu Surijo bercerita bahwa suaminya yang merupakan raja sebelum Jol Jong sudah tewas karena diracun saat mencoba melawan kelompok Andong Kim yang suka korupsi dan ingin menguasa istana. Kali ini kelompok Pionyang akan mengajukan petisi untuk melengserkan Ratu Soyong yang berpihak kepada kelompok Andong Kim. Karena itu, ia meminta ayah yang punya pengaruh besar di istana agar mendukung rencana mereka. Shin lalu akan flashback di hari kejadian. Saat itu Hajin tampak menunggu Raja Joljong di tepi danau. Namun tiba-tiba Soyong datang dan mengatakan bahwa Hajin tidak akan bisa bertemu dengan sang raja. So rupanya tahu bahwa Huain telah menyembunyikan suatu rahasia. Dan jika rahasia itu terbongkar, bisa saja hal tersebut membuat Colcong membenci Wajin. Namun Wajin tidak tinggal diam. Ia balik mengancam akan memberitahu Cholcong bahwa Soyong pernah berniat membunuhnya. Soyong pun kembali membalas dengan mengatakan bahwa Huajin juga bisa kehilangan orang yang ia cintai. Namun tiba-tiba Soyong melompat ke danau. Lalu Wajin langsung mencegahnya dengan mengulurkan tangan. Namun usahanya itu malah gagal. Wajin yang panik dan tidak mau disalahkan pun akhirnya buru-buru meninggalkan tempat itu.

Kembali ke masa sekarang, di saat hujan turun, Soang meminta Koki istana untuk membuatkan minuman sambil menunggu hujan reda. Namun, Koki berkata bahwa hujan tidak akan segera reda. Hal tersebut membuat Soyong justru merasa senang. Karena itu berarti danau akan segera penuh. Di sisi lain, raja yang sedang membaca buku bela diri kemudian tiba-tiba teringat dengan kemarahan Soyong sebelumnya sehingga melemparkan tusuk konde ke arah dinding. Sementara itu, Soyong terlihat bahagia dengan bermain hujan. Kelakuannya tersebut membuat para pelayan panik lalu berusaha melindunginya. Raja Col Jong yang kebetulan lewat pun terpesona melihat Soyong yang terlihat bahagia itu. Saat melihat sang raja yang hanya berdiri memandanginya, Soyong kemudian mengajaknya ikut hujan-hujanan. Lalu Colcong pun mendekat dan meminta maaf serta menyuruhnya untuk berteduh. Namun Soyong menolak dan ingin tetap merayakan danau yang saat ini pasti akan segera terisi penuh.

Di sisi lain, kelompok Ibu Surijo mulai menyusun rencana untuk membuat petisi pelengseran Ratu Soyong dengan alasan kondisi mental Soyong yang dianggap tidak layak menjadi seorang ratu. Sementara itu, So yang mengetahui bahwa danau sudah penuh, alhasil dia segera pergi ke sana dengan harapan bisa kembali ke dunia asalnya. Akhirnya ia pun melompat ke dalam danau. Lalu tak lama setelah itu muncul seseorang yang berenang mendekatinya. Dan ternyata orang tersebut adalah Raja Coljo. Dia sudah menduga bahwa Soyong pasti akan melompat lagi ketika danau sudah terisi penuh. Ia pun langsung membawa sang ratu yang sudah pingsan itu ke permukaan. Setelah berhasil Dewa naik ke permukaan, Soyong malah marah karena merasa misinya telah gagal. Lalu dia tetap ingin masuk ke danau lagi. Namun raja berhasil mencegahnya. Awalnya Soyong ingin mencoba menjelaskan alasannya melompat ke danau. Namun dia mengurungkan niat tersebut karena dia merasa pasti sang raja tidak akan percaya dengan hal itu. Tak lama kemudian, pelayan Choy dan Hong datang dan merasa panik karena melihat Ratu dan Raja sudah bersah kuyub. Raja pun langsung meminta mereka untuk membawa Soyong kembali ke kamarnya.

Setibanya di kamar, So bingung kenapa jiwanya belum juga kembali ke tubuh Kokijang. Padahal ia sudah kembali ke danau seperti pertama kali jiwa mereka tertukar. Sementara itu, Byong In sedang bersiap untuk menjalani tugas pertama sebagai kepala menteri Kehakiman. Dengan kekuasaan barunya, ia berniat menyelidiki siapa sebenarnya yang menyerang Soyong malam itu. Di sisi lain, pelayan Okwall yang belum sepenuhnya sembuh terlihat keluar dari istana secara diam-diam sambil membawa gantungan pemberian Hua Jin. Namun saat sedang berjalan keluar, ia malah bertemu dengan anak buah Tabib Kim yang langsung membunuhnya saat itu juga. Di sisi lain, ternyata ada seorang mata-mata di istana yang diam-diam mengamati gerak-gerik Soyong atas perintah Tabib Kim. Bahkan Tabib Kim memberikannya sebuah tugas untuk mencari tahu kejadian ketika Ratu dan Raja masuk ke dalam danau. Dan sebagai imbalannya, pelayan mata-mata tersebut akan dinaikkan jabatannya.

Di sisi lain, Soang mulai menyadari bahwa jiwanya mungkin belum bisa kembali karena ia belum benar-benar berada di ambang kematian. Namun karena ia takut jika benar-benar mati, alhasil ia pun mempertimbangkannya dengan cara lain. Ia mulai mencari cara agar bisa bertukar kembali dengan Kokiang tanpa harus melakukan tindakan yang ekstrem. Akhirnya Soyong bertanya kepada pelayan Choy apakah ada orang di istana yang ahli dalam jimat atau ritual semacam itu. Choy kemudian teringat dengan seseorang yaitu Ibu Surijo. Alhasil, Soyong pun memutuskan untuk menemuinya dan menyampaikan maksud kedatangannya secara langsung. Ibu Surijo mengaku tidak percaya pada perdukunan atau tentang pemanggilan roh-roh jahat. Namun, So merasa heran karena ruangan Ibu Surijo dipenuhi dengan kertas-kertas jimat. Alhasil, Ibu Surijo langsung memberikan kode ke pelayannya agar mencabut semua jimat yang menempel. Akhirnya usaha soyong untuk menggunakan perdukunan pun gagal karena Ibu Surijo menolak untuk membantu.

Di sisi lain, Kokijang terus memikirkan alasan mengapa dia belum kembali ke tubuh aslinya. Karena usahanya selama ini sia-sia membuat ia berteriak dan mengomel ke arah danau. Ia juga mengancam akan melukai tubuh Soyong dengan tusuk konde jika Ratu Soyong tidak segera mengembalikan jiwanya.

Di sisi lain, Bong In resmi dilantik sebagai kepala departemen kehakiman. Raja Colcong sempat bertanya kenapa baru sekarang ia mau menerima jabatan tersebut. Padahal dulu Bong In sempat menolak tawanan itu. Bong In kemudian menjawab bahwa ia ingin membantu kerajaan yang saat ini mengalami kondisi krisis. Dan menurutnya ancaman dari dalam kerajaan lebih berbahaya daripada ancaman di luar kerajaan. Tak lama kemudian raja menerima petisi untuk melengserkan Ratu Soyong. Melihat itu sang raja sangat terkejut dan untuk pertama kalinya ia bersikap tegas dengan menolak petisi tersebut karena dianggap tidak sah. Sikap tegas Jolong ini jelas saja membuat semua orang di sana terlihat terkejut. Ia bahkan marah kepada Manhong dari kelompok Pongyang karena sudah berani mengusik istrinya. Melihat situasi yang semakin memanas, Tabib Kim menyarankan agar pertuan ini segera diakhiri agar konflik tidak semakin besar.

Di tempat lain, So yang masih kecewa terlihat tidak selera untuk makan. Lalu tiba-tiba In datang dan disusul oleh Raja Choljong. Dalam suasana tegang itu, Bongg menyalahkan Chol Jong karena membuat Soyong ingin bunuh diri. Jelas saja, perkataan tersebut dibantah langsung oleh Chol Jong sehingga mereka berdua pun saling adu mulut. Karena mereka berdua terlalu berisik, akhirnya Soyong melerai mereka. Setelah Pong Ini, Raja berlutut dan menyerahkan tusuk konde milik Soyong yang ia temukan di atas batu. Ia meminta kesempatan untuk bisa mengenal Soyong lebih jauh lagi. Namun sikap tersebut jelas saja membuat Soyong merasa geli dan segera pergi meninggalkannya. Setelah itu, Raja kembali bertemu dengan Piong In dan memperingatkannya agar tidak bertindak lancang lagi kepada istrinya. Namun, Bong In malah menantang balik karena merasa Raja Coljong tidak punya kuasa. Apalagi semua keputusan sang raja selama ini sering dikendalikan oleh ayah angkat Pong In yaitu Tabib Kim.

Di sisi lain, Soyong mendatangi Ibu Sunwon yang sedang berdiskusi soal pelengserannya bersama Tabib Kim. So mengatakan bahwa ia tidak terima jika kelompok Pongyang ingin menyingkirkannya. Ia pun meminta izin untuk memulihkan nama baiknya sebagai seorang ratu. Permintaan tersebut pun disetujui langsung oleh Ibu Suri Sunwon dan Tabik Gim. Mereka menyetujui permintaan itu karena mereka melihat sendiri bagaimana Raja Cholcong membela Soyong di depan kelompok Pyongang.

Setelah mendapatkan izin, Soyong mulai menjalankan rencananya. Ia mengumpulkan para pria muda dan tampan di sekitar istana untuk mengantar makanan menggunakan tandu. Namun bukan hanya membagikan makanan, mereka juga menyebarkan kebaikan Ratu Soyong. Bahkan mereka juga menyebarkan sebuah fitnah tentang kejahatan yang telah dilakukan oleh Wajin. Seiring berjalannya waktu, suasana di istana pun mulai berubah. Orang-orang mulai percaya bahwa Hajin yang merupakan kelompok Pongyang adalah orang yang mendorong Soyong ke dalam danau. Alhasil, gosip tersebut pun membuat Hoajin mulai dipandang buruk. Sedangkan Soyong justru dianggap wanita yang baik dan disukai oleh banyak orang. Artinya rencana Soyong untuk mengembalikan nama baiknya pun berhasil.

Tak lama kemudian, Ibu Jo menemui Huain dan memberitahunya soal gosip yang sedang beredar. Ibu Jo mengatakan bahwa Soyong berhasil membentuk opini di istana lewat rumor yang tersebar. Wajin pun langsung berniat menemui Raja Colcong agar raja tidak percaya begitu saja dengan rumor itu. Saat bertemu dengan Raja, Wajin ingin menjelaskan tentang rumor tersebut. Akan tetapi, Raja Jolcong malah memintanya menyampaikan pesan kepada ayah Wajin agar tidak ikut campur dalam urusan pelengseran Soyong. Perkataan itu membuat Wajin takut dan merasa kalau Raja tidak lagi menyayanginya. Ia lalu mengingatkan bahwa raja sudah lama tidak menyentuhnya karena terlalu sibuk. Mendengar hal tersebut, Raja Coljong pun meminta maaf dan berjanji akan datang ke kamar Huacin malam ini. Setelah bertemu dengan Raja, Huacin

Langsung menemui Soyong. Dengan gaya yang sok-sokan, Soang menyambutnya dengan ramah karena mengira aksinya yang dulu sempat membela Huain bisa mencairkan suasana di antara mereka. Tapi ternyata Huajin masih bersikap dingin.

Wajar saja Huain masih bersikap dingin karena Soyarkan gosip tentang dirinya. Waj mengatakan bahwa sejak Soyong membelanya, ia merasa berhutang budi. Karena hal itu, ia memutuskan untuk meminta bantuan ayahnya agar tidak mendukung pelengseran Ratu Soyong. Sehingga menurutnya hutang budi tersebut bisa dianggap lunas.

Malam harinya, Bong In mengundang Biukha dari kelompok Andong Kim dan Manghong dari kelompok Piongyang untuk makan bersama. Tujuannya adalah membicarakan masalah pelengseran Ratu Soyong. Namun, suasana pertemuan menjadi tegang karena keduanya mulai beradu mulut. Saat Manhong berniat akan pergi dari sana, Bongin tiba-tiba melempar sumpit ke arah bajunya dan memintanya untuk segera duduk kembali. Sikap Yong Inem, namun mengintimidasi itu membuat mereka berdua mulai merasa takut dengan kekuatan dari Bong In.

Setelah itu, ia memperlihatkan sebuah surat yang menjadi bukti bahwa Hua Jin bekerja sama dengan Ibu Surijo untuk menyingkirkan Ratu Soyong. Lewat surat itu, Biong Inin mengancam akan membongkar semuanya jika petisi pelengseran tidak segera dibatalkan. Ia mengatakan bahwa jika surat itu tersebar maka nama baik kelompok Piongang akan segera hancur. Karena tidak ingin hal itu terjadi, akhirnya Manhong setuju untuk membatalkan petisi tersebut.

Di sisi lain, di kediaman Selir Huaajin terlihat dia sedang mandi untuk bersiap menyambut kedatangan Raja Col Jong. Di tempat lain juga terlihat Ibu Surijo sedang memanggil seorang dukun untuk melakukan ritual santet terhadap Ratu Soyong. Setelah menerawang, si dukun mengatakan bahwa tubuh Ratu Soyong sedang dihuni oleh roh jahat. Mendengar hal tersebut, jelas saja membuat Ibu Suricu langsung merasa ketakutan.

Di sisi lain, Ratu Soyong yang sedang menyulam di dapur tiba-tiba ia jatuh pingsan. Jelas saja kejadian itu membuat semua orang panik. Apalagi koki istana mengatakan bahwa Soyong tidak bernafas. Hal itu membuat pelayan Hong pun terlihat sangat ketakutan.

Di masa modern, ternyata selama ini Kokijang terbaring di rumah sakit karena mengalami koma. Saat itu sekretaris Han diam-diam mencoba untuk membunuhnya hingga detak jantungnya sempat berhenti. Ternyata kejadian ini saling berhubungan dengan masa yang ada di Joseon. Karena di saat yang sama Soyong tiba-tiba pingsan dan membuat semua orang yang ada di sana seketika panik.

Sementara itu terlihat sang raja yang sedang dalam perjalanan menuju ke kamar Huain. Namun langkahnya terhenti saat melihat pelayan Hong menangis. Karena merasa ada yang tidak beres, Alah Siraja segera berbalik arah dan langsung menuju ke tempat Soyong berada.

Di masa modern, dokter berhasil membuat jantung Kokijang beretak kembali. Namun, ia belum sepenuhnya sadar. Dalam hatinya, Kokijang merasa bingung dan bertanya-tanya apakah ia benar-benar sudah kembali ke jiwanya sendiri. Dokter pun menjelaskan kepada perawat bahwa Kokijang mengalami koma selama 1 minggu. Meski tubuhnya tidak bisa bergerak dan mulutnya tidak bisa berbicara, Kokijang masih bisa mendengar semua percakapan yang ada di sekitarnya. Saat polisi membicarakan soal kasus korupsi yang dilakukan oleh Kokijang, ia mulai menyadari bahwa dirinya telah dijepak oleh sekretaris Han.

Kembali ke masa Joseon, Koki istana kemudian melapor kepada raja bahwa Ratu Soyong tiba-tiba terjatuh pingsan. Pelayan Cai menambahkan bahwa kemungkinan besar Ratu Soyong diracuni lewat sebuah makanan. Tak lama setelah itu, Tabib Kim datang dan memeriksa kondisi sang ratu. Ia mengatakan bahwa Ratu mengalami mati suri dan jika tidak segera ditangani, maka nyawanya bisa terancam. Mendengar hal itu, Raja pun langsung memerintahkan Tabib untuk melakukan segala cara agar Ratu bisa kembali sadar.

Di sisi lain, Ibu Surijo kembali meminta sang dukun untuk melakukan sesuatu. Dungun tersebut menyarankan agar Jimat diletakkan di dekat tubuh Ratu Soyong supaya Raja bisa diusir. Di sisi lain, saat Tabibki mencoba melakukan pengobatan dengan metode akupuntur, Soyong tiba-tiba terbangun dari pingsannya. Namun tak lama kemudian dia pingsan lagi. Tapi menjelaskan bahwa Ratu sudah melewati masa kritisnya. Namun kondisinya belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, di kediaman Huain, pelayannya memberitahu bahwa raja sedang menjaga ratu yang masih pingsan. sehingga sang raja tidak bisa datang ke kamarnya. Kabar itu jelas saja membuat Huain semakin kecewa dan takut kalau perasaan raja kepadanya mulai berubah. Di sisi lain, pelayan Ibu Surijo secara diam-diam mengubur Jimat di sekitar Balai yang dihuni oleh Soyong. Di waktu yang sama, seorang pelayan mata-mata mendapat perintah untuk mencuri barang milik So agar bisa digunakan dalam ritual. Akhirnya ia berhasil mengambil selembar kain milik Soy dan menyerahkannya kepada pelayan Han yang merupakan pelayan setia dari Ibu Surijo.

Sementara itu, karena merasa kecewa gagal bermalam dengan Raja Colcong, Wajin kemudian mendatangi Ibu Surijo yang sedang bersiap melakukan ritual. Di sana Wajin meminta bantuan agar bisa menyingkirkan Soyong. Di sisi lain, Raja Coljong tetap berada di sisi Soyong sepanjang malam. Ia merawatnya dengan sabar sambil mengingat berbagai kenangan di antara mereka.

Di sisi lain, Bong Incari tahu pemilik kain yang pernah digunakan untuk menutupi wajah pelaku saat menyerang Ratu Soyong. Kemudian seorang kasih mengatakan bahwa ia pernah melihat Yong Pyong membakar baju milik Raja Coljong. Dan baju tersebut ternyata sama persis dengan kain yang dibawa oleh Bongg. Dari situlah Bong Inai curiga Raja Colcong sebagai pelakunya.

Pada saat yang sama, Tabibki menyampaikan laporan kepada Ibu Suri Sunwon bahwa Ibu Surijo dan Huain sedang melakukan sebuah ritual terhadap Soyong. Tapibki mengetahui kabar itu dari pelayan mata-mata yang juga bekerja sama dengannya. Tak lama setelah itu, Kepala Kasih melaporkan bahwa Soyong kini tidak sadarkan diri dan kemungkinan itu terjadi karena Soyong keracunan. Mendengar kabar itu, Ibu Suri Sunwon dan Tabib Kim segera meminta bantuan Bong In dari Departemen Kehakiman untuk menggerebek kediaman Ibu Surijo.

Di waktu yang bersamaan, ritual tersebut ternyata masih berlangsung. Sang dukun telah menyiapkan boneka dan menuliskan nama Soyong di atas kain sebagai bagian dari pengusiran roh jahat. Namun, belum sempat ritual selesai, Bong In datang dan langsung menghentikannya. Kejadian tersebut membuat Ibu Surijo marah karena merasa Biong In masuk ke ruangannya tanpa izin. Tak lama kemudian, Ibu Suri Sunwon juga datang ke tempat tersebut dan kedatangannya membuat Ibu Surijo serta sang dukun mulai panik dan merasa ketakutan.

Ibu Suri Sunwon menyampaikan bahwa sang dukun akan dihukum mati hari itu juga. Mendengar hal tersebut, dukun itu ketakutan dan langsung mengaku bahwa semua ritual yang dilakukannya atas perintah dari Ibu Surijo. Lalu Ibu Suri Sunwon menjelaskan bahwa Ratu Soyong memang koma, tapi bukan karena disantet, melainkan karena menelan racun arsenik alias racun yang sama seperti yang pernah membunuh suami Ibu Jo. Untungnya saat penggerebekan terjadi, Hua Jin sudah terlebih dahulu pergi dari sana. Namun karena adanya bukti berupa jimat yang ditanam di dekat kamar soyong, Ibu Sunwon akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan hukuman mati kepada sang dukun dan juga pelayan mata-mata tersebut.

Setelah itu, Bong In datang menemui Raja Colcong yang sedang menjaga Soyong. Ia mengatakan bahwa dirinya akan membawa ratu ke tempat yang lebih aman. Namun, Raja seketika marah karena tidak diberitahu ke mana Ratu akan dibawa. Bong In pun menjelaskan bahwa Ibu Johuajin telah melakukan ritual untuk mencelakai Soyong. Bahkan dia mencurigai raja yang ikut terlibat dalam ritual tersebut. Lalu raja membela Huaajin dan yakin bahwa Huajin tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Namun sang raja sempat terdiam ketika Bong In menyebutkan bahwa terdapat arsenik yang ditemukan di dapur.

Saat Raja Joljong berteriak untuk mengetikan aksi Bong In, tiba-tiba pengawal Bong In mengarahkan pedang ke raja. Merasa terancam, Raja Coljong pun langsung mengambil pedang dari salah satu pengawal dan menodongkan pedang tersebut ke arah Bong In. Lalu dengan tatapan tajam, Bong In kemudian mengancam bahwa jika raja membuat ratu menderita lagi, maka Bong In sendiri yang akan menebasnya.

Kemudian raja menemui Hua Jin dan menanyakan keterlibatannya dalam ritual yang dibuat oleh Ibu Jo. Huaajin menjelaskan bahwa ia memang sempat datang ke tempat itu, namun dia tidak ikut dalam ritualnya. Sebelum Raja pergi, Huain hanya berpesan agar Raja tetap berhati-hati.

Di sisi lain, Bong Injaka ratu terlihat termenung. Ia kemudian teringat semua momen yang pernah ia lalui bersama Soyong dan mengungkapkan bahwa meskipun Soyong bukan miliknya, namun dirinya adalah milik So. Tak lama kemudian, Tabib Kim menebur Piong In atas perlakuannya semalam antara dirinya dengan sang raja. Tabib Kim mengingatkan bahwa meskipun raja tidak terlalu berkuasa, namun jika dia terus ditekan, maka Raja Coljong pasti akan melawan. Lagi pula Tapi Kim sendiri tidak pernah menyuruh Bong In untuk bertindak sejauh itu. Namun Bong Ini keras bahwa semua itu ia lakukan hanya karena tidak ingin Ibu Suri Sunwon merasa khawatir.

Di sisi lain, Ibu Suri Sunwon membicarakan kondisi Ratu Soyong yang belum pulih kepada Tabib Kim. Ia khawatir jika keadaan Soyong tidak kunjung membaik, maka Huain bisa saja melahirkan seorang pangeran terlebih dahulu. Namun, Tabib Kim sudah menyiapkan seorang calon pengganti ratu dari keluarga Andong Kim jika Soyong tidak bisa sembuh. Dalam pembicaraan itu terungkap bahwa Choljong diangkat menjadi raja oleh Tabib Kim dengan tujuan agar jika Joljong tidak lagi berpihak pada keluarga Andong Kim, maka Ibu Sunwon dapat menyingkirkannya dengan mudah.

Di sisi lain, Ratu Soyong akhirnya sadar dan merasa terkejut ketika melihat dirinya sudah berada di sebuah ruangan yang terang dan penuh dengan hiasan emas. Beberapa saat kemudian, pelayan Hong datang dan terlihat senang karena sang ratu sudah kembali siuman dan dia memberitahukan bahwa Soyong kini sudah berada di rumah keluarga Pak Kim. So pun terkejut karena ini berarti ia akan bertemu dengan ayah kandungnya alias Pak Kim. Kehadiran Soyong disambut dengan sukacita oleh Pak Kim yang langsung memanggil beberapa tabib terbaik untuk memeriksa ke putrinya. Pak Kim juga menyiapkan makanan yang lezat dan mengundang Perias untuk merias wajah sang ratu. Setelah semua itu selesai, Kokijang menemukan sebuah buku yang mengingatkannya pada kenangan masa kecil Soyong. Di mana ulang tahunnya selalu jatuh pada hari yang sama dengan hari kematian ibunya.

Sin kemudian memperlihatkan bahwa setiap orang di istana menyimpan rahasia mereka sendiri-sendiri. Rahasia yang ditutupi dengan kebohongan, disembunyikan dalam kesunyian, dan dijaga di balik topeng agar tidak ada yang mengetahuinya.

Sementara itu, ternyata Rakol Jong diam-diam memiliki kebiasaan berlatih bela diri bersama rekan-rekannya di tengah hutan. Setelah selesai latihan, ia dan Yongpyong kembali ke istana sambil membawa seekor kelinci agar tampak seperti baru pulang berburu. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan Tabib Kim yang langsung memberi kabar baik bahwa Ratu Soyong sudah siuman. Mendengar itu, raja segera bergegas pergi untuk menjenguknya. Namun, saat di perjalanan terlihat seorang pria yang sedang menembak kekasihnya dengan membawa buket bunga. Buket bunga itu tak sengaja terpental dan jatuh tepat di depan Raja Joljong.

Di sisi lain, Kokijang mulai merasa aneh karena tubuh Ratu Soyong seperti bergerak tanpa kendalinya. Ia bahkan bisa memainkan alat musik. Padahal sebelumnya Kokijang tidak bisa sama sekali memainkan alat musik itu. Selain itu, Kokijang perlahan mulai bisa melihat ingatan milik Soyong. Di sisi lain, Tabibki menemui Bong In dan memintanya untuk menghentikan penyelidikan terhadap Ibu Surijo. Namun, Byong In menolak karena menurutnya Ibu Surijo masih berbahaya dan bisa menyakiti Soyong kembali.

Pada saat yang sama, Wajin terlihat sedang membawa sebuah buku dongeng anak yang sebenarnya milik Soyong, tapi sudah ia ganti dengan namanya sendiri. Tak lama kemudian, Yong Pyong datang dan memberitahu bahwa Raja Colcong sedang menjenguk Ratu Soyong. Mendengar kabar itu membuat Wajin merasa cemburu dan memutuskan untuk menyusulnya ke sana.

Setibanya raja di rumah Soyong, pelayan Hong berusaha membujuk sang ratu agar mau menyambut kedatangan raja. Saat bertemu, raja memberikan buket bunga yang ia dapatkan di jalan tadi. Namun, Soyong tiba-tiba teringat pada momen saat ia diangkat menjadi seorang ratu. Koki Chang yang panik pun langsung memukul tubuh Soyong untuk menghentikan ingatannya itu. Kejadian itu membuat Raja ikut panik karena tidak paham apa yang sedang terjadi. Kemudian Pak Kim datang dan mengajak Raja untuk masuk ke dalam rumah. Saat mereka minum teh bersama, Pakim menarik Soyong yang berusaha menjauh dari raja agar tetap duduk di dekatnya.

Setelah itu, Joljong berpura-pura ingin mengenal Soyong lebih dekat dengan mengajaknya berkeliling rumah. Padahal sebenarnya Cholcong ingin menyelidiki sebuah rahasia milik Pak Kim. Sepanjang perjalanan, raja mengamati setiap sudut termasuk barang dan orang-orang dengan teliti. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah ruangan yang penuh dengan barang-barang mewah. Di sanalah ia melihat sebuah tempat penyimpanan rahasia yang akan ia periksa nanti malam secara diam-diam.

Saat berjalan di luar, tatapan Raja Colcong tiba-tiba terpaku pada sebuah sumur tua. Seketika ia mengalami sesak napas disertai kilatan ingatan masa lalu saat ia melihat seorang pria ditikam oleh seseorang. Melihat kondisi raja yang tiba-tiba sesak nafas, Soyong pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Lalu saat Soyong juga menatap ke arah sumur tua, ia juga seketika mencium bau lembab dari sumur tersebut dan dia mengingat dirinya serta joljong kecil yang saling mencekik. Lalu Soyong Kecil meninggalkan Colcong di dalam sumur tersebut. Ia pun terlihat menangis dan menyalahkan dirinya atas kematian seseorang kepada Piong In kecil. Tak lama kemudian, Hajin datang menghampiri mereka. Saat Hajin melihat sumur tua itu, ia juga langsung teringat masa kecilnya bersama Soyong dan Jol Jong. Kemudian pagi muncul dan mengajak Raja Coljong masuk ke dalam rumah untuk beristirahat.

Di sisi lain, So dan Huain saling mengobrol di sebuah ruangan. So mengaku bahwa ingatannya sudah kembali dan ia tahu rahasia yang selama ini disembunyikan oleh Huajin. Ia meminta Huain untuk mengaku jujur kepada Raja Colcong. Namun Huain malah tersinggung dan langsung pergi dari sana. Saat berada di luar, ia bertemu Chol Jong dan mengajaknya untuk pulang ke istana. Akan tetapi, Chol Jong menolak karena masih ada urusan yang harus diselesaikan di sini. Alhasil, penolakan itu membuat Wajin merasa kecewa dan cemas karena sikap Joljong yang mulai berubah.

Di sisi lain, Kokijang memperhatikan Raja Colcong dengan tatapan iba. Dari pelajaran sejarah yang pernah ia pelajari, Kokijang tahu bahwa masa lalu Raja Colcong sangat tragis. Yaitu sebelum naik takahta, keluarga Colcong dibantai oleh Ibu Suri Sunwon karena dianggap sebagai pengkhianat. Namun setelah itu Jol Jon dipilih menjadi raja karena dianggap bisa dijadikan boneka oleh pihak Ibu Suri Sunwon.

Tak lama kemudian Pong In datang bersama beberapa pengawal dengan alasan ingin menjaga Soyong. Namun suasana yang tenang tiba-tiba terganggu oleh kehadiran seorang penyusup yang melompat ke sana kemari dan berhasil menebus pertahanan penjaga. Ia tampak akan menyerang Soyong. Namun Coljong langsung bergerak cepat dan melumpuhkan penyusup itu dengan aksi bela dirinya. Soyong pun terlihat terpesona dengan keterampilan bela diri Corjong tersebut. Setelah diselidiki, ternyata penyusup tersebut adalah Pangeran Kim Huan yang nekad menyelinap demi mengejar cintanya yaitu Pelayan Hong.

Saat itu Raja Cholong merasa curiga dengan kedatangan Bong In. Lalu ia bertanya apa alasan sebenarnya Bong In datang ke rumah Soyong. Bongg pun menjelaskan bahwa akhir-akhir ini banyak gudang di ibu kota yang dirampok sehingga ia datang untuk menjaga keamanan di area sekitar. Di saat yang sama, Kim Huan yang sedang dirawat oleh pelayan Hong tiba-tiba berusaha menciumnya. Akan tetapi, ia malah mencium pengawal dari Bong. Pengawal itu kemudian meminta maaf karena sempat mencurigainya. Pengawal tersebut tidak tahu bahwa Kim Huan adalah seorang pangeran dari keluarga Dong Kim.

Pada malam harinya, Joljong dan Bongg duduk bersama dan mengadakan lomba minum-minum untuk mengukur siapa yang paling kuat. Hingga akhirnya mereka berdua pun tumbang karena saling mabuk. Sementara itu di istana, Wajin yang sedang termenung di pinggir danau tiba-tiba didatangi oleh Ibu Surijo. Ibu Surijo memberikan tusukonde sebagai bentuk dukungan dan mengatakan bahwa hanya Wajin lah yang pantas menjadi seorang ratu dalam segala hal. Mendengar itu, Wajin pun merasa tersentuh dan akhirnya menceritakan rahasianya dengan Ratu Soyong kepada Ibu Surijo.

Di sisi lain, pelayan mata-mata istana yang sedang berpatroli tanpa sengaja menemukan gantungan milik pelayan Ohwall yang tergeletak di tanah. Sementara itu, di Rumah Soyong, seorang Kasim berhasil menyusup dengan menyamar memakai seragam departemen kehakiman dan masuk ke lingkungan rumah Soyong. Ternyata ia berniat mencuri buku besar yang disimpan di perangkas Pak Gim. Pada saat yang sama, Coljong yang mulai sadar dari mabuknya juga diam-diam keluar untuk mencari buku besar tersebut. Namun secara tidak terduga Joljong malah bertemu langsung dengan Kasim itu. Sehingga pertarungan di antara mereka pun terjadi di depan kamar Soyong.

Di dalam kamar, Soyong melihat bayangan mereka berdua dan dia menyangka kedua orang tersebut sedang menari tenggo. Dengan kocaknya, ia malah ikut-ikutan menirukan tarian tenggo tersebut. Tapi saat sebuah pisau menancap ke dinding, seketika Soyong baru sadar bahwa itu bukanlah sebuah tarian, melainkan pertarungan. Lalu Soyong mengambil Gujici dan berniat untuk memukul Kasim tersebut. Tapi sayangnya Kasim itu menarik Colcong yang membuat Gucci tersebut mengenai kepalanya. Sehingga Kasim yang memakai topeng pun berhasil melarikan diri dari tempat itu. Mengetahui ada hal yang mencurigakan tentu saja membuat Biong Injaka langsung bergegas menghampiri Soyong.

Di sisi lain, Joljong yang merasa pusing akibat terkena guci membuat Soyong panik dan meminta maaf. Namun secara tiba-tiba Joljong menarik Soyong dan menciumnya. Tak lama kemudian, Bong In masuk dan merasa terkejut ketika melihat adegan itu di depan matanya. Setelah perciuman, pikiran Kokijang dalam debu Soyong mulai memberontak. Hal itu membuat Soyong terlihat seperti bicara sendiri sehingga Colong yang melihatnya merasa kebingungan dengan tingkahnya itu. Karena mengira Soyong masih mabuk, Colong menepuknya secara pelan hingga ia tertidur. Lalu Choljong kembali melanjutkan rencananya untuk mencari buku besar di dalam perangkas. Namun saat itu Bong In tiba-tiba masuk karena mendengar suara gaduh. Untungnya Joljong tidak ketahuan karena So tiba-tiba tertawa di dalam tidurnya. Hal itu membuat Pion mengira bahwa Raja dan Ratu sedang bercinta. Piongin yang merasa cemburu pun memilih untuk pergi.

Di sisi lain, Joljong pun berhasil membuka perangkas tersebut. Namun, buku yang ia cari tidak ditemukan di sana. Ia lalu teringat pada sumur tua dan segera memeriksanya ke sana. Dan benar saja, buku yang dia cari-cari ada di sela-sela batu sumur. Namun, saatakan mengambilnya, ia malah melihat pelayan Pak Kim yang sedang menyapu. Sehingga ia mengurungkan niat dan kembali ke kamar agar tak menimbulkan kecurigaan.

Di dalam kamar, Chol Jong masih penasaran siapa Kasim yang menyerangnya tadi malam. Ia lalu teringat bahwa pria bertopeng itu memakai jubah dari Departemen Kehakiman. sehingga dia curiga kalau orang itu mungkin adalah suruhan dari Bong In. Di sisi lain, Bong Inah hati karena melihat adegan semalam, dia pun melampiaskan perasaannya dengan minum-minum hingga mabuk.

Keesokan paginya, Soyong terbangun dan seketika terkejut melihat Chol Jong yang sudah ada di sampingnya. Ia semakin bingung saat melihat kamarnya yang sudah berantakan sehingga dia penasaran apa yang terjadi semalam. Di sisi lain di istana, Ibu Sunwon berkata bahwa ia merindukan Soyong yang masih tinggal di rumah ayahnya. Namun, Tabib Kim mengatakan bahwa yang dirindukan Ibu Senuan sebenarnya adalah masakan dari Soyong, bukan orangnya. Akhirnya Tabib Kim pun berencana meminta koki istana untuk mempelajari resep makanan yang sering dibuat oleh Soyong. Ketika Ibu Sunwon memerintahkan agar Bong In dipanggil menemuinya, wajah Tabib Kim seketika langsung berubah.

Sementara di tempat latihan Yong Pong, Bong In tiba-tiba datang bersama para pengawalnya. Ia meminta izin untuk memeriksa dokumen para prajurit Yong Pyong yang sedang dilatih di sana. Namun, Yongpong menjelaskan bahwa semua prajuritnya telah melewati pemeriksaan dokumen secara ketat sebelum bergabung sebagai pengawal istana. Meskipun begitu, Pyong In tetap memaksa karena ia curiga ada pengkhianat yang menyusup ke dalam istana. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika Yong Pyong menolak, maka ia bisa dianggap terlibat dalam komplotan tersebut. Karena tak punya pilihan lain, alhasil Yong Pyong pun terpaksa membiarkan mereka untuk memeriksa dokumen para prajurit satu persatu.

Di sisi lain, Ibu Surijo terlihat semakin percaya diri setelah mendengar cerita rahasia dari Huain semalam. Dalam cerita itu, Huain menyampaikan kejadian yang terjadi 8 tahun lalu yang berhubungan dengan Ratu Soyong. Mendengar hal tersebut, Ibu Suri mulai menyusun rencana besar dan berniat mencari sesuatu yang bisa memperkuat rencana besarnya.

Sementara itu, Yong Pong menemui Raja Choljong untuk membicarakan soal Kasim bertopeng yang menyerangnya semalam. Setelah Chol Jong menyebutkan ciri-ciri pelaku, Yong Pong langsung menyadari bahwa Kasim itu adalah orang yang sama yang pernah menculik play of world. Dari situ Joljo menyimpulkan bahwa Tabib Kim mungkin sudah bergerak secara diam-diam untuk mencari buku besar yang Col Jong cari juga. Dan kemungkinan besar Tabib Kim bekerja sama dengan Bong In.

Beberapa saat kemudian, Pyong In datang membawa surat dari Tabib Kim. Surat itu berisi perintah agar Raja dan Ratu segera kembali ke istana. Namun, Colcong menolak permintaan tersebut dengan alasan Soyong belum sepenuhnya sehat. Padahal sebenarnya Col Jong masih ingin tetap tinggal di sana karena belum mendapatkan buku besar yang tersembunyi di dalam sumur tua itu.

Di dapur istana, kepala koki terlihat senang karena Ratu Soyong tidak muncul di dapur seperti biasanya. Namun berbeda halnya dengan pelayan Choy yang terlihat murung. Ia mengaku rindu dengan tingkah Ratu Soyong yang aneh tapi menyenangkan itu. Di sisi lain, Chol Jong mengatakan bahwa ia ingin menginap semalam lagi. Lalu, So pun mengajaknya untuk makan kukbab di luar. Saat mereka sedang menikmati makanannya, mereka mendengar dua orang warga yang sedang membicarakan betapa beratnya pajak kerajaan. Mereka juga mengeluhkan bahwa raja yang baru hanyalah boneka yang dikendalikan oleh keluarga Andong Kim. Raja Colcong yang mendengar percakapan dua orang tersebut kemudian mendekati mereka dan menuangkan minuman. Ternyata warga di sana kebanyakan belum mengetahui bahwa Raja Colcong adalah raja baru mereka. Raja pun memancing obrolan dan mendengar salah satu dari mereka menghina raja yang baru adalah boneka dari kelompok Andong Kim. Mendengar hinaan tersebut membuat Soyong terlihat emosi dan menegur mereka. Lalu Joljong segera membuanya pergi. Namun di perjalanan mereka malah diadang sekelompok perampok. Saat Chol Jong hendak melindungi Soyong, dia malah sudah kabur terlebih dahulu. Meskipun begitu, Chol Jong berhasil menumbangkan salah satu penjahat hingga membuat penjahat yang lainnya lari ketakutan. Saat Soyong kembali karena khawatir pada Cholcong, ia malah melihat Colcong yang sudah memakai pakaian penjahat agar bisa menyamar sebagai warga biasa.

Di sisi lain, Kasim Bertopeng yang pernah bertarung dengan Choljong ternyata adalah orang Suruhan Tabib Kim. Ia melaporkan bahwa dirinya gagal mencuri buku besar karena ada orang asing yang menghadangnya saat itu. Namun, Kasim mengakui bahwa dia sempat teringat seperti apa wajah orang asing itu. Kasim itu memohon diberi obat terlarang karena ia sudah kecanduan. Dan Tabib Kim pun memberikannya sebagai imbalan sambil memperingatkan agar si Kasim tidak gagal lagi.

Di sisi lain, Yong Pong menyuruh Hong untuk menyelidiki pria bertopeng tersebut. Lalu Hong pun menyamar dan mendatangi toko pembuat topeng terbaik demi mencari sebuah petunjuk. Lalu pada malam harinya Ibu Suri Sunmon tiba-tiba ingin makan camilan favorit buatan Ratu Soyong. Namun koki istana tidak berhasil menirunya meski dia sudah mencobanya berkali-kali. Bahkan dia sempat frustrasi karena jika dapur tanpa soyong akan terasa sangat sulit. Di tempat lain saat sedang berdoa, Ibu Surijo dipanggil ke istana untuk menemui Ibu Suri Sunwon. Ibu Sunwon menegurnya karena selalu menyalahkan keluarga Andim atas kematian raja sebelumnya. Dalam obrolan tersebut ternyata Ibu Surijo juga terlibat dalam kematian raja sebelumnya. Bahkan saat Ibu Sunuan menyuruh Ibu Jo untuk melepas kaus kakinya, kejadian tersebut menandakan bahwa pemimpin sejati di istana saat itu adalah Ibu Sunwon.

Di tempat lain, Bong Inu saja pulang langsung ditanya oleh Tabib Kim mengapa ia terus mencampuri urusan Raja Colcong. Bong In menjelaskan bahwa ia hanya ingin menangkap pengkhianat yang diduga bersembunyi di dalam istana. Namun, Tabibki menjawab bahwa dirinya sudah mengetahui semua gerak-gerik Raja Colcong dan para pendukungnya. Sebenarnya selama ini Tabibki mengetahui semuanya. Namun dia memilih untuk sengaja diam demi menunggu saat yang tepat agar bisa menyingkirkan mereka semua tanpa menyisakan satuun. Mendengar hal itu, Byong In seketika meminta maaf dan berjanji bahwa ia akan selalu melapor terlebih dahulu sebelum bertindak.

Di sisi lain, Joljong yang masih penasaran kemudian memutuskan untuk kembali ke sumur tua. Namun saat berada di sana, tiba-tiba ingatan masa lalunya kembali muncul. Ternyata orang yang selama ini sering dia mimpikan adalah sang ayah. Saat ayahnya dibunuh, kemudian sang ibu berusaha menyelamatkan Chol Jong dengan menyembunyikannya di dalam sumur tua itu. Kembali ke masa sekarang, terlihat Choljong saat ini memperanikan diri untuk turun. Meskipun masih dihantui rasa traumanya, namun sesamanya di dalam sumur, buku besar yang ia cari malah tidak ada di sana. Dan tiba-tiba sumur itu ditutup oleh seseorang dari atas. Kejadian ini membuatnya kembali teringat saat dia terkurung di dalam sumur itu. Bahkan bayangan tentang keluarganya yang sudah tiada pun menghantuinya dan membuatnya benar-benar ketakutan.

Sh kemudian flashback kembali di saat Hua Jin dan Soyong masih kecil. Ternyata Wajin sering diejek teman-temannya karena selalu kalah dari Soyong yang lebih pintar. Soyong kecil sangat suka membaca buku dongeng dan sering membagikan cerita itu kepada Huain meskipun dari balik tembok. Buku itu adalah peninggalan dari ibunya dan ketika Soyong merasa rindu dengan sosok ibunya, ia selalu membaca buku dongeng tersebut. Namun karena sama-sama kehilangan sosok ibu, Wajin kemudian berkata bahwa jika ia mati, mungkin saja ia bisa bertemu lagi dengan ibunya. Kata-kata itu terus diingat oleh Soyong kecil. Hingga pada suatu malam dia pun turun ke sumur dengan niat ingin mati agar bisa menyusul ibunya. Namun bukannya mati, ia justru bertemu dengan Col Jong yang terjebak di dalam sana. Col Jong saat itu sangat putus asa karena keluarganya sudah tiada dan akhirnya mereka berdua sama-sama berada dalam titik keputusasaan. Bahkan mereka saling mencekik karena tak tahu harus bagaimana lagi untuk menghadapi hidup mereka. Lalu tangisan Soyong di dalam sumur ternyata terdengar oleh Piong Inan segera datang untuk menjemput Soyong. So kemudian meminta Pong In untuk membawakan tangga agar ia bisa keluar. Sebelum naik, So buku dongeng kesayangannya kepada Joljong. Dan hal itu membuat Choljong berjanji akan terus bertahan hidup demi mengembalikan buku tersebut suatu hari nanti.

Setelah keluar dari sumur, Socil menangis sambil memohon kepada ayahnya agar menyelamatkan Joljong. Namun sang ayah tidak mampu berbuat apa-apa karena dirinya terikat perintah dari Tabib Kim di dalam sumur, Jojong mulai panik ketika air mulai mengisi ruang sempit itu. Melihat keadaan semakin genting, Soyong kecil pun meminta Piong In untuk membuka penutup sumur. Lalu ketika sumur terbuka, mereka berdua pun langsung kabur karena takut ketahuan. Saat berhasil keluar dari sumur, Jol Jong melihat seorang gadis yang berpakaian seperti Soyong. Dan ternyata gadis kecil itu adalah Hua Jin. Karena itulah Chol Chong mengira bahwa gadis yang tadi bersamanya di dalam sumur dan menyelamatkannya saat ini adalah Hua Jin. Sejak kejadian itu, ia sangat mencintai Huain tanpa tahu bahwa sebenarnya Soyonglah yang menyelamatkannya. Bahkan Jol Jong sempat mengembalikan buku dongeng tersebut kepada Huain yang jelas saja membuat Huain terkejut karena ia tahu betul bahwa buku itu adalah milik Soyong.

Kembali ke masa sekarang, entah bagaimana caranya Hua Jin ternyata berhasil membawa buku besar yang selama ini dicari oleh Joljong dan Tabib Kim. Sementara itu, di dasar sumur, Joljong yang hampir kehilangan kesadaran melihat secara samar-samar seseorang dari atas sumur. Ia mengira bahwa itu adalah Hua Jin yang akan kembali menyelamatkannya. Padahal sebenarnya yang berdiri di sana adalah Soyong. Saat itu Soyong sempat ingin memanggil bantuan. Tapi Cholcong melarangnya agar tak memberitahu kepada siapapun. Akhirnya Zoyong mengarahkan seluruh tenaganya untuk menggendong Cholcong keluar dari sumur.

Setelah itu di kamar Soyong, Cholcong yang baru saja terbangun dari pingsannya tiba-tiba memeluk Soyong dan memintanya untuk tetap berada di sisinya. Karena kehadirannya membuat Colcong merasa tenang dari trauma masa kecil saat ia terjebak di dalam sumur. Di sisi lain, saat Rumah Kosong dan ayah Soyong tidak ada, hal itu membuat Huain kembali ke sumur dan tanpa sengaja dia menemukan sebuah buku besar rahasia. Ia pun membawanya pulang dan berniat memberikannya kepada Chol Jong yang selama ini selalu mencari buku tersebut. Ia melakukan itu berharap bisa mendapatkan kembali perhatian sang raja.

Keesokan paginya, pelayan Hong masuk ke kamar Soyong untuk membawa air. Namun, ia langsung keluar ketika melihat Soljong dan Soyong saling berpelukan. Tak lama setelah itu, So terbangun dan berguling menjauh karena merasa risih berpelukan dengan seorang pria. Lalu Colcong mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkannya. Soy heran bagaimana Chol Jong bisa masuk ke sumur malam-malam. Tapi Chol Jong berbohong dengan mengatakan bahwa ia terjatuh karena kondisi jalan yang gelap. Tak lama kemudian, Pak Kim datang menyampaikan pesan bahwa Ibu Sunwon meminta mereka untuk kembali ke istana. Di saat yang bersamaan, Kokijang mendapatkan ingatan Soyong bahwa Pak Kim pernah mengurung seseorang di dalam sumur. Dari situlah Kokijang menyimpulkan bahwa Pak Kim memang memanfaatkan anaknya sendiri demi ambisinya. Bahkan Pak Kim tega menikahkan putrinya dengan Chol Jong yang sejak dulu ia incar untuk disingkirkan.

Sesampainya di istana, Chol Jong mengatakan kepada pengawalnya bahwa buku yang ia cari sudah diambil oleh seseorang. Di sisi lain, Soyong langsung menemui Ibu Sunwon dan meminta maaf karena telah membuatnya khawatir. Ibu Sunwon yang lapar kemudian meminta Soyong untuk memasakkan sesuatu. Saat tiba di dapur, koki istana kembali tunduk dan ingin belajar memasak dari Soyong. Soyong lalu mulai memasak gukbab alias makanan yang pernah ia nikmati bersama Joljong. Setelah masakan selesai, So kemudian meminta para pelayan untuk mengantarkannya kepada Ibu Sunwon. Ketika mencicijipi gukbab buatan Soyong, Ibu Sunwon sangat menyukainya karena mengingatkannya pada masakan ibunya dulu. Ibu Sunwon bertanya mengapa Soyong tidak mau membagikan resepnya kepada Koki istana. So menjawab bahwa kehadiran Koki itu justru membuatnya gugup. Mendengar hal itu, Ibu Sunon berniat menyingkirkan koki istana dengan alasan pernah ditemukan racun arsenik di dapur saat Soyong pingsan waktu itu. So pun terkejut karena ia merasa pingsannya bukan disebabkan oleh racun.

Saat berjalan-jalan, Soyong melihat Colc Jong di tepi danau. Ia lalu menghampirinya untuk membahas rencana pemilihan selir baru untuk dirinya. Namun, Colcong merasa aneh dengan sikap Soyong yang tiba-tiba terlalu sopan sehingga ia memintanya untuk bersikap seperti biasa. Ketika Soyong bertanya apakah Chol Jong menyukai tipe selir yang seksi dan imut, Chol Jong tiba-tiba menggenggam tangan Soyong dengan erat.

Sementara itu, kabar kepulahan Coljong ke istana membuat Hua Jin merasa sangat senang. Ia kemudian berniat memberikan buku besar rahasia itu agar bisa kembali menarik perhatian Joljong. Namun niat itu seketika sirna setelah ia melihat Joljong dan Soyong saling berpegangan tangan. Wajin yang cemburu pun mengurungkan niatnya dan memilih kembali ke vila kerajaan.

Di sisi lain, Yong Pong mendatangi toko Luak untuk membeli gantungan Noriga yang dulu pernah diberikan Huacin kepada pelayan Ofwall. Pemilik Luak mengatakan bahwa Noriga itu sempat dijual oleh seorang pelayan wanita. Tapi ia tidak tahu namanya. Namun dia masih ingat dengan wajah pelayan wanita itu. Yong pun berencana akan datang lagi bersama seorang pelukis untuk menggambarkan wajah pelayan wanita itu. Tak lama kemudian, Pyong In juga datang ke Loak tersebut untuk memintanya memeriksa keaslian dokumen pengawal kerajaan. Pemilik Loak mengatakan bahwa dokumen itu palsu. Namun dokumen dibuat sangat rapi agar tidak mudah dikenali.

Di tempat lain, Wajin menulis surat untuk Chol Jong agar datang ke tempat biasa mereka bertemu. Ternyata ia ingin memberikan sesuatu secara diam-diam. Karena Yong sedang tidak ada, surat itu akhirnya dititipkan kepada seorang pelayan agar diserahkan kepada Jol Jong. Namun, pelayan tersebut malah menyerahkannya kepada Ibu Surijo. Alhasil, dia pun penasaran apa yang ingin diberikan Huacin kepada Joljong. Kemudian pelayan tersebut akhirnya menyerahkan surat itu kepada Joljong. Namun karena sibuk mempersiapkan pertemuan dengan para menteri, Chol Jong pun belum sempat membacanya.

Di sisi lain, ternyata Huain sudah tiba di lokasi pertemuan sambil menunggu Chol Jong dan membawa buku besar rahasia tersebut. Sementara itu, di dalam rapat, Chol Jong menyampaikan rencananya mengadakan jamuan untuk merayakan kesembuhan Soyong saat bertepatan dengan hari surit nal. Namun, para menteri dari klan Andim menolak dengan berbagai alasan. Bahkan menteri perang menyarankan agar Jol Jong mencari pelaku yang menyebabkan Soyong jatuh sakit. Colcong pun seketika marah dan berteriak agar mereka tidak menyeret Soyong ke dalam urusan politik. Teriakan itu membuat Ibu Sunwon merasa tidak nyaman lalu keluar dari rapat.

Di dapur istana, Soang merasa kasihan jika koki istana benar-benar akan disingkirkan. So pun menanyakan soal keluarganya. Koki tersebut menjawab bahwa ia hidup sendiri karena keluarganya telah tiada akibat sebuah peristiwa. Mendengar kabar itu membuat Soyong berjanji akan mengajarinya memasak. Bahkan Soyong juga meminta tabib istana untuk menyiapkan ramuan kecantikan yang ternyata akan dijadikan masker untuk diberikan kepada Ibu Sunwon.

Sementara itu, di perpustakaan Kasim bertopeng yang sedang menggunakan obat terlarang terlihat bergegas bersembunyi saat melihat Jul Jong masuk. Ternyata Joljong datang untuk mencari buku panduan tentang perjamuan Suritnal. Tak lama kemudian, Ibu Jong muncul dan menyatakan ingin mendukung Joljong untuk melawan Klan Andong Kim. Namun Joljong menolak dan berkata bahwa ia bukan seperti mendiang suami Ibu Jo yang pintar dan tegas. Di sisi lain, Wajin yang sudah terlalu lama menunggu akhirnya membatalkan niatnya untuk bertemu dengan Jol Jong.

Di sisi lain, saat Jol Jong dan Ibu Joe sedang mengobrol, seketika Jol Jong baru teringat bahwa dia mendapatkan sebuah surat dari Hua Jin dan segera membacanya. Setelah membaca surat itu, kemudian Joljong segera pergi ke tempat tersebut. Namun saat tiba di sana ternyata Huaajin sudah tidak ada. Hal tersebut membuat ia langsung mendatangi Huaajin di sebuah balai. Namun karena Huain masih merasa cemburu ketika dirinya melihat Colcong menggegam tangan Soyong membuat Huain berubah pikiran dan tidak jadi memberikan buku besar rahasia tersebut.

Di sisi lain, setelah selesai memasak, Piong In menemui Soyong dan mengatakan bahwa orang yang mencoba membunuhnya kemungkinan adalah orang suruh hancul Jong. Soyong mengatakan bahwa ia sudah tahu soal ancaman itu dan meminta Pong untuk tidak mempermasalahkannya lagi. Setelah itu, So pergi melihat proses pemilihan Selir. Namun, ia seketika kecewa karena calon para selir hanya memberikan surat lamaran saja. Di sisi lain, di kediaman Ibu Sunuon, pelayan mengantarkan masker wajah yang sebelumnya diminta oleh Soyong. Setelah memakainya, Ibu Sunon merasa awet muda dan semakin menyukai Soyong. Tak lama kemudian, Pong Incul dan Ibu Sunwon langsung menegurnya karena ia terlalu lama datang. Padahal Ibu Sunwon sudah menyuruh Tabib Kim untuk membawa Pong In ke hadapannya.

Di sisi lain, Pak Kim seketika merasa panik saat menyadari bahwa buku besar rahasia yang berisi kejahatan kliennya hilang dari sumur. Ia pun berpura-pura menemui Tabib Kim sambil membawa Ginseng sebagai hadiah. Tabib Kim lalu memperingatkan Ayah Soyong agar tidak gegapa jika masih ingin hidup. Di sisi lain terlihat pelayan mata-mata sedang menyeret sebuah karung yang berisi sebuah mayat dan dia membuang mayat tersebut ke dalam sumur.

Di kediaman Ibu Surijo, Manhong melaporkan bahwa mayat yang mirip dengan pelayan Ohwall sudah dibuang ke dalam sumur. Sementara itu, di sisi lain terlihat seorang pelayan yang sedang menimba air seketika merasa terkejut karena menemukan seorang mayat. Wajin lalu datang dan langsung terkejut karena mayat tersebut adalah pelayan setianya yaitu Ohwall. Ia kemudian melampiaskan kesedihannya dengan memanah hingga carinya terluka.

Di sisi lain, Joljong bermimpi menjadi raja boneka yang dikendalikan penuh oleh Ibu Sunwon. Bahkan para bawahan Ibu Sunwon menertawakan kejadian tersebut. Mimpi yang mengerikan itu jelas saja membuat JC terbangun dan merasa sulit untuk tidur lagi. Alhasil, ia pun menulis kamus ratu yang berisi kumpulan kata-kata aneh yang sering diucapkan oleh Soyong.

Di tempat lain, So tertidur dan bermimpi sedang mandi bersama para selir yang cantik. Namun mimpinya seketika terganggu saat Cholc Jong muncul memanggil namanya dan mencoba menciumnya. Saat Wajin sedang berlatih memanah, Ibu Joang menghampirinya sambil memberikan anak panah. Lalu Hua Jin juga menyerahkan buku besar rahasia yang selama ini dicari banyak orang. Ia pun meminta Ibu Jo untuk membuat sebuah rencana agar Soyong menderita seperti dirinya. mendapatkan buku penting tersebut membuat Ibu Jo tampak senang dan merasa di atas angin.

Keesokan paginya, Soyong berkonsultasi dengan Tabib karena tubuhnya sulit dikendalikan oleh Kokijang. Namun, sang tabib menyarankan agar Soyong mulai menerima dirinya apa adanya agar tubuh dan pikirannya bisa saling sinkron. Tak lama kemudian, Ayah Soyong datang dan bertanya apakah Soyong merasakan keanehan saat menginap di rumah mereka. Namun So menjawab bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak terjadi hal yang mencurigakan. Sebenarnya sang ayah ingin menanyakan soal buku rahasia yang hilang. Namun ia ragu untuk mengungkapkannya secara langsung.

Di sisi lain, Jol Jong seketika terkejut ketika mendengar bahwa mayat yang ditemukan semalam adalah pelayan Ohwall. Tak lama setelah itu, Hua Jin datang sambil membawa sketsa wajah Ohwall dan meminta bantuan Yong Pyong untuk menyelidiki siapa yang telah menjual gantungan norai pemberiannya ke pemilik Loak. Ia curiga bahwa jika barang itu dijual oleh orang lain, maka kematian Ohwall pasti direncanakan oleh seseorang. Yong Pong pun segera menyelidiki dan berhasil menemukan bahwa penjual Nori tersebut ternyata bukanlah wall, melainkan pelayan yang menjadi mata-mata.

Di tempat lain, Joljong memanggil Koki istana untuk berdiskusi tentang menu perjamuan yang akan dilaksanakan. Namun karena gugup, sang koki malah menjatuhkan gulungan yang berisi resep makanan. Akan tetapi, Choljong justru menenangkannya dan mengajaknya mengobrol dengan santai. Ia menyampaikan bahwa jamuan surit nal kali ini akan dibuka untuk semua orang tanpa memandang status jabatan apapun. Mendengar keputusan itu, koki tersebut tiba-tiba menangis karena merasa tersentuh melihat betapa adil dan bijaksananya sang raja.

Di sisi lain, ternyata isi buku besar rahasia yang banyak dicari orang itu adalah catatan kejahatan berupa kasus suap dari klen Andong Kim. Dan buku itu ditulis oleh Pak Kim alias Ayah Soyong. Dengan permodalkan buku tersebut, Ibu Surijo dapat memenuhi permintaan Wajin untuk menjatuhkan Soyong. Sementara itu, di rumah Tabib Kim, ia dan menteri perang mulai merasa curiga kalau Jol Jong lah yang sudah mendapatkan buku besar tersebut. Mereka juga menyalahkan Pak Kim karena telah menulis catatan tentang kejahatan Ken Andong Kim. Di sisi lain, Jol Jong merasa dirinya bisa saja dituduh sebagai pencuri buku tersebut dari rumah Pak Kim. Karena mereka belum punya bukunya, Culcung pun mulai menyiapkan rencana cadangan.

Di tempat lain, Soy terlihat sedang memilih para selir yang akan menemaninya. Singkat cerita, Juljong pun melantik tiga wanita untuk selir tingkat dua. Ia berkata bahwa keluarga dari ketiga selir itu sekarang sudah menjadi bagian dari keluarganya. Alhasil, Joljong mengundang para tetua mereka ke jamuan makan saat acara surit nal. Saat Soyong sedang bermain bersama para selir barunya, Ibu Jo tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa di acara Suritnal nanti akan diadakan lomba memanah antara Soyong dan para selir. Tanpa disadari Soyong, ternyata lomba itu sebenarnya adalah bagian dari rencana jahat Ibu Johan dan wajin untuk menjatuhkannya.

Lalu pada malam harinya karena tidak bisa tidur, So kemudian menulis surat berisi rayuan gombal dan berniat mengirimkannya ke para selir. Namun napesnya kurir yang ia suruh malah salah mengirimnya dan memberikan surat tersebut kepada Joljong. Joljong yang mengira surat tersebut murni dari Soyong untuknya, akhirnya Jol Jong pun membalasnya dengan tulisan yang rapi dan penuh kata romantis. Sementara itu, Soyong yang mengira bahwa balasan tersebut dari para selir, tiba-tiba dia tersenyum-senyum sendiri dan terus mengirim surat itu lagi. Hingga pada akhirnya malam itu pun menjadi ajang saling mengirim surat.

Keesokan paginya, Choljong sedang berdiskusi dengan koki istana tentang menu untuk jamuan suritnal. Tiba-tiba Soyong datang, tapi dia langsung pergi lagi setelah melihat Joljong ada di sana. Joljong pun merasa heran karena semalam mereka terlihat akrab mengirim surat. Namun entah mengapa Soyong saat ini malah terlihat dingin kepadanya. Joljong berpikir mungkin saja Soyong bersikap seperti itu karena ia malu.

Singkat cerita, Hari Suritnal pun tiba. Semua orang di istana menyambut acara tersebut dengan gembira dan berdandan secantik mungkin. Tapi berbeda halnya dengan Hajin, ia tampak serius dan fokus pada keahlian memanahnya. Diam-diam ia ternyata mempersiapkan anak panah bermata besi yang bisa sangat membahayakan saat lomba nanti. Sementara itu, kurir yang sedang membawa bahan makanan untuk jamuan Suritnal tiba-tiba dihentikan oleh Kasim Bertopeng alias orang suruhan dari Tabib Kim. Bahkan saat itu semua kurir dibunuh olehnya.

Di tempat lain, Ibu Jo sedang meramal nasibnya dengan stik keberuntungan. Akan tetapi, hasilnya selalu buruk. Namun saat ia mencoba meramal ulang untuk Ratu Soyong, hasilnya malah bagus. Setelah itu, Ibu Jo mendatangi Soyong dan berkata bahwa ia ingin mencicipi masakannya. Saat Soyong mulai memasak, Ibu Jo diam-diam memeriksa ruangan untuk mencari sesuatu yang mungkin disembunyikan oleh Soyong. Tapi karena sedang malas, So pun hanya membuat popcorn. Di waktu yang sama, para koki dapur terlihat panik karena bahan makanan belum juga sampai. Setelah popcorn-nya matang, Soyong berniat kembali ke balai. Tapi saat itu ia melihat seseorang yang sedang memasukkan serbuk beracun ke dalam tong air. Lalu ia curiga bahwa orang tersebut adalah leluhur dari sekretaris Han. Saat akan mengejarnya, Soyong malah tersandung roknya sehingga ia dan popcorn-nya pun terjatuh. So yang kesal pun bergegas kembali ke balai sambil membawa sisa popcorn yang masih menempel di kepalanya. Melihat kejadian itu, Ibu Jo seketika langsung marah karena menganggap Soyong tidak sopan.

Di sisi lain, Joljong terlihat sedang duduk di singgahsananya. Lalu di tempat lain terlihat juga Ibu Sunwon, Ibu Jo, Sog, dan para selir juga duduk di singgahsananya mereka. Kemudian acara dimulai dengan tarian kipas, lalu pertunjukan bela diri oleh pasukan Yong Pong dan dilanjutkan aksi memanah dari Hong. Setelah itu permainan berburu pun dimulai. Para Kasim dan Dayang dijadikan sebagai target lalu berlari ke arah hutan. Sedangkan Soyong dan para selir akan memburu mereka dengan panah yang sudah dilumpuri cat warna. Saat mereka sudah berangkat ke hutan, terlihat Ibu Jowon kembali berselisih. Tapi kali ini Ibu Jo tiba-tiba berani membentak Ibu Sunwon. Ia bahkan mengatakan bahwa ia tidak takut lagi karena merasa sudah punya kekuatan, yaitu buku besar berisi kejahatan Ken Andong Kim.

Di tempat raja, Jol Jong sedang membagikan kipas sebagai cendramata untuk para pejabat. Saat itu tabib Kim berkata bahwa ia menantikan jamuan makan nanti. Padahal ternyata diam-diam ia berencana membuat acara itu gagal. Tak lama kemudian, Ibu Surijo muncul dan mengaku bahwa ia bosan di singgahsananya. Ia lalu menantang Colcong untuk bertarung melawan Bong In, tapi menggunakan kipas sebagai senjatanya. Karena tidak bisa menolak, Colcong pun menerima tantangan tersebut dan mulai bertarung. Gerakan Col Jong yang lincah membuat semua orang terkejut termasuk Ibu Sunwon. Namun secara tidak sengaja Jolong melakukan gerakan yang mirip saat ia dan Bong In bertarung di malam itu. Dari situlah Bong Inadari bahwa orang yang menyerang Soyong pada malam itu adalah Jol Jong.

Di sisi lain, para selir terlihat antusias untuk mengikuti permainan berburu. Tapi beda halnya dengan Huain yang diam-diam membawa anak panah bermata besi. Di sisi lain juga terlihat Soyong yang malah tersesat di dalam hutan. Saat duduk, ia tanpa sengaja bertemu dengan kepala pelayan yang sedang bersembunyi. Kepala pelayan mengatakan bahwa ia takut terkena panah. Lalu dia meminta tanda dari Soyong seolah-olah kepala pelayan sudah tertembak agar bisa keluar dari permainan ini. Lalu tak lama setelah itu, Wajin tiba-tiba muncul dan langsung mengarahkan anak panah permata besinya ke arah Ratu Soyong. Di sisi lain, setelah menyadari bahwa Jol Jong adalah orang yang ia lawan

Pada malam itu, Bong In pun menyerang dengan sekuat tenaga tanpa peduli siapa lawannya. Namun, karena Coljong adalah seorang raja sekaligus petarung yang tangguh, ia pun berhasil mengalahkan Bong In. Setelah Chuljong pergi, Tabibki menghampiri Bong In dan memintanya untuk melakukan sesuatu.

Di sisi lain, anak panah Huajin untung saja tidak mengenai Soyong dan hanya menancap di pohon. Melihat kejadian itu membuat Soyong sangat terkejut karena Huain menggunakan anak panah sungguhan. Hajin beralasan bahwa ia mengira Soyong adalah target buruan. Bahkan ia menuduh Soyong yang sudah membunuh Owall. Saat itu Soyong membantah bahwa bukan dia pelakunya. Lalu, tak lama kemudian, seorang Dayang lewat dan langsung dipanah oleh Hua Jin dengan sangat mudah. Ketika selir yang datang pun seketika merasa kagum karena melihat Wajin yang ahli dalam memanah. Bahkan Wajin sempat memanah Soyong menggunakan panah palsunya, sehingga hal tersebut membuat Soyong merasa kesal. Tapi lagi-lagi Wajin beralasan bahwa dia tidak sengaja. Saat So mencoba membalas, usahanya gagal karena ia memang tidak bisa memanah.

Di sisi lain, keberhasilan Joljong yang mampu mengalahkan Bong In membuat Tabib Kim dan Ibu Sunwon merasa khawatir. Kemudian, hasil lomba pun diumumkan. Para selir baru mendapatkan dua dan empat poin. Huain memperoleh dua poin. Sedangkan Zoyong mengejutkan semua orang karena dia mendapatkan 10 poin, sehingga dia pun mendapatkan hadiah dari lomba tersebut. Kemudian, pelayan Choy dan Hong mengajak Soyong untuk berganti pakaian karena pesta jamuan makan akan segera dimulai.

Saat di tengah jalan, Soyong melihat leluhur sekretaris Han yang sedang mengobrol dengan kepala inspektur makanan. Soyong yang curiga kemudian menyuruh pelayan Choy untuk mencari tahu nama asli dari pria tersebut. Lalu, Soyong seketika teringat tentang pria itu yang pernah memasukkan sesuatu ke dalam tong air. Alhasil, ia membatalkan niatnya untuk berganti pakaian dan segera menuju ke dapur untuk melihat tong airnya.

Tak lama kemudian, Jol Jong dan koki istana pun datang. Jol Jong lalu memerintahkan Koki untuk bersiap memasak makanan karena Yong Pyong sedang berusaha membeli bahan makanan. Di sisi lain, ternyata rombongan Yong Pyong yang sedang membawa bahan makanan malah dicekat oleh beberapa bandit suruhan Tabib Kim. Alhasil, semua bahan makanan dirusak dan mereka gagal mengantarkannya.

Di dapur, Soyong melihat para koki mengalami keracunan dan dia menyadari bahwa mereka pasti sudah meminum air dari tong yang sudah diracuni. Karena koki istana juga tidak ada di dapur, membuat Soang mengira bahwa acara jamuan Coljong pasti bisa gagal. Ia pun segera menyuruh pelayan Hong kembali ke balai untuk mempersiapkan sesuatu.

Di sisi lain, pelayan Choy ternyata berhasil membuntuti pria tersebut. Namun, dia sempat kehilangan jejaknya. Lalu, tiba-tiba pria itu muncul dan menodongkan pisau ke arah Choy. Ternyata ia mengira bahwa Choy adalah penggemarnya karena dari tadi Choy menguntitnya. Pria tersebut pun kemudian mengukir namanya di teropong dan mengaku bahwa dia bernama Hansim dari klan Han.

Di tempat lain, Kim Huan yang melihat pelayan Hong berjalan melewati dirinya. Kemudian dia meminta bantuan kepada seorang bocah untuk mengantarkan surat kencan. Tapi saat Kim Huan akan menunjuk Hong, si bocah malah menyangka bahwa orang yang dimaksud adalah menteri Manhong yang kebetulan sedang lewat juga, sehingga surat tersebut diterima oleh Menteri Manhong. Alhasil, di tempat pertemuan Kim Huan seketika langsung dimarahi oleh Manhong yang dianggap sudah mempermainkannya. Bahkan surat tersebut disobek dan dilemparkan ke arah Kim Huan.

Di sisi lain, koki istana yang baru saja mencari bahan makanan seketika merasa terkejut karena melihat ada tabib di sana. Tabib tersebut mengatakan bahwa air di tong sudah diracuni oleh seseorang sehingga para koki yang meminumnya langsung keracunan. Ketika kok istana hampir menyerah karena tidak ada lagi yang membantunya memasak, tiba-tiba Soyong datang dengan menyamar sebagai koki utusan Raja Joljong. Meskipun dia sudah menyamar, namun koki istana tetap bisa mengenalinya sebagai Ratu Soyong.

Di sisi lain, di lokasi jamuan, Ibu Suri Sunwon dan para menteri sudah mulai menyindir Joljong karena hingga saat ini belum ada makanan yang disajikan. Tak lama kemudian, Yong Pong datang membawa kabar buruk bahwa bahan makanan gagal dibawa karena perjalanan mereka sempat diganggu oleh para bandit. Namun, tiba-tiba para pelayan berdatangan sambil membawa sebuah hidangan. Kejadian tersebut jelas saja membuat Ibu Sunwon, Tabib Kim, Joljong, dan Yongpong terkejut. Joljong lalu membuka tutup makanannya dan ternyata menu yang disajikan adalah kentang goreng spiral. Awalnya para pejabat mengejek karena menganggap bahwa makanan itu terlalu sederhana dan tidak pantas disajikan dalam jamuan istana. Bahkan Ibu Sunmon mengejek bahwa ini bukanlah makanan yang layak disukuhkan kepada para bangsawan. Ken Andong Kim juga ikut menjelekkan menu jamuan itu dan berharap dengan hal tersebut bisa menjatuhkan nama Raja Coljong. Namun, saat mereka mencicipi kentang tersebut, seketika mereka langsung memuji rasanya yang begitu enak. Chol Jong bahkan menemukan sebuah gambar tentang makanan tersebut sehingga dia kemudian menjelaskan tentang makanan itu yang meskipun terbuat dari bahan sederhana namun bisa menghasilkan makanan yang lezat. Melihat mereka menikmati makanan dengan lahap, Jol Jong pun seketika tersenyum lega. Kemudian menu kedua yaitu hamburger. Kali ini tidak ada satu pun dari mereka yang mengkritik. Bahkan mereka langsung memakan makanan itu dan kembali memuji kelezatannya. Tapi Kim yang tidak senang dengan suasana tersebut seketika langsung menyuruh Buong In untuk menjalankan rencana cadangan.

Di sisi lain, Soyong terlihat menyajikan makanan penutup yaitu sebuah jelly dan memberi nama jelly keberuntungan. Joljong lalu menjelaskan bahwa di setiap stik jelly terdapat pesan yang menggambarkan nasib orang yang memakannya. Ibu Sunwan mendapatkan tulisan "satu lagi". Alhasil dia langsung meminta jelly lagi dengan penuh semangat. Para menteri yang penasaran pun ikut membaca stik mereka. Menteri Manhong mendapatkan tulisan "coba lain kali". Sedangkan Tabib Kim mendapatkan tulisan "tidak berguna".

Di dapur istana, pelayan Choy yang baru saja datang terlihat kelelahan dan kehausan. Ia pun diberi minum oleh koki istana, padahal air itu berasal dari tong yang sudah diracuni. Setelah itu, Choy melaporkan bahwa pria yang dicurigai Ratu Soyong bernama Hansim. Tak lama kemudian, Pelayan Hong mengingatkan Soyong untuk segera kembali ke acara agar tidak menimbulkan kecurigaan. Alhasil, So pun segera pergi. Namun tak lama kemudian, Choy mulai merasa sakit perut.

Sementara itu, tabib yang sedang beristirahat merasa terkejut ketika melihat koki istana datang membawa Choy yang sedang pingsan. Ketika diperiksa, Choy mendadak terbangun dari pingsannya dan langsung berlari untuk menyusul soyong.

Di tempat lain, Pangeran Hong yang sedang menyiapkan meja jamuan tanpa sengaja bertabrakan dengan seseorang yang dicurigainya sebagai Kasim pertopeng. Alhasil, ia pun mengejar pria itu. Namun pada akhirnya ia malah kehilangan jejak Kasim bertopeng itu.

Di sisi lain, So yang datang terlambat langsung ditegur oleh Ibu Surijo. Bahkan Huain juga mulai curiga saat melihat Soyong secara tiba-tiba mengeluarkan celemek dari dalam bajunya.

Pada penutupan acara, Cholcong mengumumkan bahwa ia akan mengurangi jatah makanan para pejabat agar mereka bisa merasakan kondisi rakyat yang tidak seberuntung mereka. Ia juga menegaskan bahwa siapapun yang melanggar keputusan ini akan dihukum olehnya. Pernyataan itu jelas saja membuat para pejabat merasa panik. Tabib Kim tiba-tiba maju dan mengatakan bahwa Bong In telah menemukan mata-mata di pasukan pengawal Jol Jong. Dan tak lama kemudian, Bong In bersama anak buahnya terlihat masuk sambil menyeret pasukan pengawal yang dibina oleh Yong. Ternyata Bong In menemukan bukti bahwa pasukan tersebut memakai identitas palsu agar bisa tinggal di dalam istana. Bahkan Tabib Kim menyampaikan bahwa mereka berasal dari keluarga pengkhianat dan kelompok bandit yang selama ini sering menyerang para pejabat. Tabib Kim juga menunjukkan rasa kecewanya karena Raja Coljong selama ini dijaga oleh orang-orang berbahaya seperti mereka. Tabib Kim bahkan meminta agar Raja Colong menghukum pasukan pengawalnya sendiri. Joong pun seketika marah karena sebagai seorang raja dia malah diatur-atur oleh Tabib Kim. Namun, karena tekanan dari para menteri yang mendukung Tabib Kim, alhasil Chol Jong pun tak punya pilihan selain menuruti permintaannya itu. Chol Jong bahkan teringat kembali pada mimpinya saat dia menjadi boneka politik klan Andim. Lalu, tiba-tiba Chol Jong menangis di hadapan semua orang.

Meski keadaan sedang kacau, namun Colcong tetap melanjutkan ritual surit nal. Namun, saat ia sedang duduk di altar dan akan memulai ritualnya, tiba-tiba altar tersebut meledak. Ledakan besar itu jelas saja membuat tubuh Colcong terlempar jauh sehingga dia mengalami luka-luka.

Setelah insiden ledakan tersebut, lalu Bong In segera memerintahkan pasukannya untuk memburu pelaku yang mencoba membunuh Raja Joljong. Sementara itu, Ibu Suri Sunwon terlihat marah kepada Tabib Kim karena mengira insiden itu adalah perbuatannya. Namun, Tabib Kim membela diri dan berkata bahwa ia dijebak oleh seseorang agar terlihat seolah-olah dialah yang bersalah. Tapi Kim pun berjanji akan mencari siapa dalang atas insiden tersebut.

Di sisi lain, Ibu Surijo dan Hua Jin terlihat sedang berdoa memohon kesembuhan untuk Joljong. Sementara itu, terlihat raja sedang dirawat oleh Soyong dan Tabib. Bongin dan pasukannya juga terlihat sedang menyiksa para pengawal raja untuk mencari tahu siapa dalang atas insiden tadi siang. Salah satu prajurit melaporkan bahwa dugaan Pong In memanglah benar karena tempat pembakaran dupa bukan diisi pasir melainkan bubuk Mesio. Sehingga hal itulah yang menyebabkan ledakan terjadi.

Di sisi lain, Soyong pun bertanya-tanya siapa pelaku yang sudah tega menyakiti raja. Tak lama kemudian, pelayan Hong datang memberitahu bahwa Joljong sudah sadar. Namun, setibanya di sana, Tabib menjelaskan bahwa Raja Colcong baru saja tidur. Tabib juga mengatakan bahwa ledakan itu membuat pendengarannya rusak. Tak lama kemudian, Huain datang dan meminta semua orang untuk keluar. Saat hanya berdua, Hajin meminta Soyong untuk menghentikan Klan Andong Kim. Ia bahkan menyalahkan Soyong karena masih terikat dengan klien tersebut. Namun, So memilih diam dan pergi dari sana.

Ketika menemani Joljong, Huacin tanpa sengaja melihat buku berisi tulisan tentang Soyong yang pernah dibuat oleh Joljong. Sementara itu, Soyong dihampiri oleh Tabib Kim yang bertanya tentang barang penting milik ayah Soyong yang sudah hilang. Bahkan Tabibki mencurigai bahwa Choljong sebagai pencurinya. Soyong menjelaskan bahwa ia pernah menyelamatkan Jol Jong saat pingsan di dalam sumur. Tabib Kim kemudian mengingatkan bahwa dirinya dan Soyong berasal dari klan yang sama. Alhasil, Tabib Kim meminta kesetiaan Soyong terhadap Ken agar mau mengawasi gerak-gerik Raja Culcong. So pun menyetujuinya, namun dengan syarat bahwa Tabib Kim harus menjamin keselamatan Soyong.

Di sisi lain, Yong Pyong berniat menjenguk raja. Namun, ia berpapasan dengan Hua Jin yang saat itu terlihat menangis setelah membaca buku tulisan Chulc Jong yang dibuat untuk Ratu Soyong. Di sisi lain, So yang ingin menenangkan diri dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di istana. Dia memutuskan kembali ke danau dan menceburkan diri untuk mencari sosok soyong yang asli. Di sanalah Kokijang akhirnya bertemu dengan Soyong asli dan seluruh ingatan Soyong pun mulai bermunculan. Kokijang mulai menyadari bahwa Ratu Soyong hanya dijadikan alat untuk memata-matai Raja Coljong. Ia juga baru sadar bahwa selama ini yang ingin dibunuh oleh klan Andim adalah dirinya, bukanlah Coljong.

Tak lama kemudian, ayah Soyong datang dan mengira putrinya ingin bunuh diri lagi. Sang ayah mengaku bahwa dirinya telah melakukan segala cara agar Soyong menjadi seorang ratu. Namun, sang ayah kecewa karena merasa usahanya selama ini sia-sia jika putrinya selalu ingin bunuh diri. So pun mengatakan bahwa sang ayah hanya mementingkan kekuasaan, bukan kebahagiaan anaknya sendiri. Mendengar hal itu, sang ayah hanya terdiam dan menyadari bahwa semua usahanya selama ini adalah tindakan yang salah.

Lalu Soyong kembali mengunjungi Raja Choljong dan tanpa sengaja menemukan buku tulisan Cholcong tentang dirinya. Saat membaca buku tersebut, perasaan Soyong semakin tidak karuan. Kemudian ia menatap Joljong dan berharap agar suaminya segera sembuh.

Di tempat lain, Tabib Kim melihat Piong In yang sedang menuju ke kediaman Ibu Suri Sunwon. Piong In menyampaikan laporannya bahwa bubuk Mesiu yang menyebabkan ledakan di altar berasal dari kerajaan. Ibu Sunwan menjelaskan bahwa pabrik Mesiu itu milik gudang senjata dan pengawasnya adalah menteri perang. Bongg pun menambahkan bahwa menteri perang adalah tangan kanan Tabib Kim.

Keesokan harinya, Hua Jin menemui Tabib Kim dan memberitahu bahwa Soyonglah yang telah menyelamatkan perjamuan dengan memasak agar acara tetap berlangsung. Lalu Tabib Kim berterima kasih atas laporan tersebut dan ia menanyakan hadiah apa yang diinginkan Hua Jin. Huajin berkata bahwa ia hanya ingin Tabib Kim melakukan sesuatu agar Soyong menjauh dari Joljong.

Di sisi lain, ayah Soyong menemui Ibu Surisun Won dan mengaku bahwa ia telah mencatat aset ilegal Ken Andong Kim. Akan tetapi, buku catatan tersebut malah sudah hilang. Ia bahkan menuduh bahwa buku itu ada di tangan Jol Jong dan dia memohon kepada Ibu Suri Sunuwon agar Soyong diampuni karena tidak terlibat dengan hilangnya buku tersebut.

Singkat cerita, para menteri pun menggelar rapat. Tabib Kim melaporkan bahwa pelaku pengeboman masih dalam penyelidikan. Sehingga perdebatan pun terjadi antara pejabat Ken Andong Kim dan Pyong. Namun tiba-tiba Chul Jong yang sudah sadar dari pingsannya datang ke rapat tersebut sehingga hal itu mengejutkan semua orang. Kali ini Joljong tampil lebih berani dan bahkan menantang Ibu Sunwon di hadapan para menteri. Ia langsung menuduh bahwa Tabib Kim adalah dalang pengeboman di altar waktu itu. Namun, Menteri Perang mencoba membela Tabib Kim, yang hal itu jelas saja membuat Jul Jong semakin marah dan memutuskan untuk memecat serta mengasingkan mereka berdua karena telah menjual Mesiu demi uang dan berusaha membunuh Chol Jong. Keputusan yang sembarangan tersebut membuat Ibu Sunwan tidak terima dan memarahi Jol Jong.

Saat kondisi memanas, Tabib Kim kemudian berlutut dan berjanji akan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Ia bahkan menerima semua tuduhan dari Raja Choljong. Namun dia meminta waktu untuk membersihkan namanya sebelum dirinya benar-benar dipecat.

Ternyata pengeboman itu adalah bagian dari rencana Colc Jong untuk menjebak Tabib Kim. Ia bahkan menyuruh para pengawalnya agar bersiap jika mereka tertangkap. Dan Cholcong juga menugaskan pengawalnya untuk menyamar demi bisa membeli pupuk Mesiu dari gudang senjata kerajaan. Singkat cerita, saat rapat selesai, Ibu Sunwan kembali memarahi Tabib Kim karena rencananya selalu gegabah. Namun, Tabib Kim berjanji akan memperbaiki semuanya.

Di sisi lain, Hua Jin yang tahu bahwa Cholcong sudah sadar, kemudian ia langsung menemunya dan memeluknya dengan erat. Sementara itu, Soyong juga mendapatkan kabar bahwa Chol Jong sudah sadar dan ikut rapat tadi pagi. Namun, bukannya menemui Choljong, ia malah pergi ke dapur dan minum-minum hingga ia mabuk. Soy mengatakan bahwa dia merasa canggung jika harus menemui Joljong.

Di sisi lain, Ibu Sunmon memeriksa kamar Soyong dan menemukan adanya buku kejahatan Ken Andong Kim. Dan ternyata buku tersebut sengaja diletakkan oleh Ibu Surijo untuk menjebak Soyong. Kemudian Ibu Sunwon dan Tabib Kim berencana membuat Joljong menderita dengan cara mengambil orang yang dicintainya, yaitu Soyong. Namun, tanpa mereka sadari ternyata pelayan yang sedang memijat Ibu Sunuon adalah mata-mata dari Jol Jong. Pelayan tersebut menuliskan pesan di sebuah atap bahwa Soyong dalam bahaya. Namun pesan tersebut seketika dihapus oleh seseorang yang kebetulan ada di sana.

Di sisi lain, Joljong mulai menyadari bahwa tulisan di surat dan gambar kentang yang menyelamatkan acara jamuan berasal dari orang yang sama, yaitu Soyong. Di sisi lain juga terlihat pelayan Hong membawa Soyong yang sedang mabuk menuju ke kamarnya. Dan dalam keadaan setengah sadar, ia berterima kasih kepada Hong karena selalu membantunya. Lalu, saat Soyong terbangun, ia merasa terkejut karena Col Jong sudah ada di sampingnya. Di malam sebelumnya, ternyata Pangeran Hong lah yang menghapus pesan di atap. Namun, karena Colc Jong sedang berada di kamar Soyong, alhasil Hong pun menunda menyampaikan informasi tersebut kepadanya.

Keesokan paginya, Soyong seketika terkejut melihat Colcong yang sudah tidur di sampingnya. Chocong pun menceritakan semua kejadian semalam saat mereka tidur bersama.

Di sisi lain, Ibu Surijo masih penasaran dengan masa depannya. Alhasil, ia pun memanggil seorang Bhante untuk meramal masa depan yang akan terjadi di istana. Kemudian Bhante memprediksi bahwa akan ada wanita yang meninggal pada malam ini. Mendengar hal itu, Ibu Serijo kemudian meminta jimat agar bukan dirinya yang akan meninggal nanti malam. Namun, sang Bhante menyarankan untuk memberi persembahan kepada Buddha karena ia bukanlah seorang dukun.

Di sisi lain, Pangeran Hong berusaha menggambar wajah Kasim bertopeng yang sempat bertabrakan dengan dirinya pada waktu itu. Namun, hasilnya malah terlihat seperti gambar anak-anak. Kim Huan yang melihatnya malah mengira bahwa itu adalah gambar gurita.

Sementara itu, Huajin menemui Ibu Surijo dan dalam obrolan tersebut diketahui bahwa Huajin lah yang menyuruh Ibu Surijo untuk menaruh buku kejahatan Andim di kamar Soyong. Dengan ratu aja yang sedih, Wajin juga mengatakan bahwa ia tahu jika Joljong dan Soyong sudah tidur bersama semalam. Dan karena itu ia merasa akan kehilangan Chol Jong. Ia bahkan berkata lebih baik mati daripada melihat Col Jong bahagia bersama Soyong. Mendengar hal tersebut membuat Ibu Surijo mulai curiga jika wanita yang diramalkan akan mati malam ini adalah Wajin.

Di dapur, So masih bertanya-tanya apakah dirinya melakukan hubungan intim dengan Chol Jong saat ia sedang mabuk. Namun tak lama kemudian Colcong datang dan mencarinya. Namun saat itu Soyong sudah menghilang. Bahkan semua orang di sana tidak tahu ke mana Soyong pergi. Hal tersebut jelas saja membuat Colcong merasa kesal karena Soyong kembali menghindar. Padahal semalam mereka sudah melakukan hubungan intim. Colcong lalu meminta pelayan Choy untuk membantunya mencari keberadaan Soyong. Saat mereka mencari ke area danau, mereka tidak menemukan keberadaannya.

Saat Soyong sedang bersembunyi, tiba-tiba bocil Damh menyapanya karena mengira Soyong sedang bermain petak umpet. Dan dari situlah Joljong akhirnya menemukan Soyong. Saat melarikan diri, Soyong melihat para selir dan berniat untuk mendekati mereka kembali. Alhasil, ia pun menulis surat cinta untuk para selir. Namun tak lama kemudian, Choljong muncul dan ia tahu bahwa Soyong sedang bersembunyi. Alhasil, Joljong memutuskan akan menunggu hingga Soyong siap untuk bertemu. Lalu, ia memilih untuk pergi karena ada rapat bersama para menteri.

Sementara itu, So kembali menulis surat dan menyuruh perlayan Choe untuk mengantarnya ke tempat biasa. Di sisi lain di ruang rapat, Ibu Sunwan mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri masa pemerintahannya dan tidak akan mencampuri urusan Chulcong lagi. Para menteri pun memberi hormat ketika Chol Jong menyatakan bahwa mulai saat ini ia akan memegang penuh kekuasaan.

Di kediaman Ibu Sunwon, Biong In berjanji akan merebut kembali kekuasaan Colcong agar Ibu Sunwon bisa berkuasa. Ibu Sunwon lalu mengatakan bahwa Tabib Kim sudah menyusun rencana untuk menyingkirkan Jul Jong. Di sisi lain, surat Soyong kembali salah alamat dan malah sampai ke Joljong lagi. Joljong pun membalas surat tersebut sehingga membuat Soyong merasa senang karena dia mengira surat balasan tersebut berasal dari para selir. Namun saat tiba di tempat pertemuan, Soyong seketika terkejut karena yang datang malah Colcong. Saat itu juga ia sadar bahwa selama ini yang membalas suratnya bukanlah para selir, melainkan Choljong.

Lalu Colcong bertanya kenapa Soyong membantunya saat acara perjamuan sulit nal. So menjawab bahwa ia merasa iba setelah tahu bahwa Cholcong dimusuhi klen Andong Kim. Tapi ia merasa kesal setelah tahu bahwa Cholcong adalah dalang dari ledakan itu demi menjatuhkan Ibu Sunwon dan Tabib Kim. Namun tiba-tiba Joljong langsung memeluk Soyong dan tersenyum karena merasa Soyong masih peduli padanya. Chol Jong lalu mengungkapkan bahwa ia sangat mencintai Soyong. Meskipun Soyong sombong, arogan, dan sering berubah-ubah sikap, namun Soyong mengingatkannya tentang malam saat ia akan melompat ke danau. Ia mengatakan bahwa saat itu ia memang meminta Joljong agar mencintainya, tapi kini ia merasa tidak pantas menerima cinta itu karena Soyong yang asli sudah mati tenggelam di danau dan dirinya sekarang bukanlah So yang diinginkan oleh Cholcong.

Di sisi lain, Ken Andongkim menggelar rapat tertutup yang dipimpin oleh Tabib Kim. Mereka berencana menggulingkan Raja Colcong dan Tabib Kim menyuruh menteri perang agar membuat es batu dari air yang telah dicampur racun arsenik. Rencana mereka adalah menggulingkan raja Colcong lewat orang yang dicintainya, yaitu Ratu Soyong.

Di tempat persembunyian, Joljong menemui pasukannya dan mengucapkan terima kasih karena mereka rela ditangkap dan disiksa demi keberhasilan rencananya. Bahkan Joljong menyuruh mereka untuk segera pergi dan hidup bebas karena situasi di istana terlalu berbahaya. Mendengar hal itu membuat para pasukan seketika menangis karena harus berpisah dari Raja Joljong. Tak lama kemudian, pelayan Pijat datang dan memberitahu bahwa Ibu Sunwon dan Tabib Kim berencana meracuni Soyong dengan racun arsenik. Mendengar kabar itu, Joljong seketika panik dan langsung berlari untuk menemui Soyong.

Di istana, Tabibki memerintahkan pelayan mata-mata untuk mencampur es batu beracun ke dalam minuman Soyong. Namun, karena pelayan mata-mata yang juga bekerja sama dengan Ibu Surijo, alhasil ia pun menyampaikan rencana jawata Bibkim kepadanya. Bahkan pelayan tersebut juga meminta perlindungan jika terjadi sesuatu padanya. Mendengar kabar itu jelas saja membuat Ibu Surijo merasa senang karena ia menjadi sangat yakin bahwa wanita yang diramalkan akan mati malam ini adalah Ratu Soyong. Lalu, saat pelayan mata-mata membawa es beracun, ia tanpa sengaja menjatuhkan satu es tersebut. Tak lama kemudian, Damang yang sedang lewat tidak sengaja melihat semut-semut seketika mati setelah memakan es tersebut. Lalu ia menyadari bahwa ada seseorang yang ingin mencelakai Soyong.

Di sisi lain, saat Soyong akan meminum minumannya, tiba-tiba Damyang melempar batu hingga membuat minuman tersebut tumpah. Bersamaan dengan itu, Joljong datang dan merasa lega karena Soyong tidak jadi meminum minuman yang di dalamnya ada es peracun tersebut. Melihat kejadian itu jelas saja membuat Habib Kim marah kepada Damyang. Bahkan Ibu Sunon mengatakan Damyang telah menghina kerajaan sehingga ia akan dihukum. Meskipun Soyong mengatakan bahwa dirinya tidak terluka dan meminta agar Damyang tidak dihukum, Ibu Sunuan malah mengancam akan memberinya hukuman lebih berat jika Soyong terus membela pecah itu.

Kemudian Joljong mengajak Soyong untuk bicara secara pribadi. Ia memperingatkan agar Soyong berhati-hati saat akan makan dan minum karena Ibu Sunwon dan Tabib Kim ingin meracuninya. Hal itu mereka lakukan karena buku kejahatan Ken Andong Kim ditemukan di kamar Soyong. Alhasil, Soyong pun sadar bahwa tindakan Damyang tadi sebenarnya ingin menyelamatkannya. Lalu ia meminta Joljong agar berjanji akan melindungi Damyang bagaimanapun caranya.

Malam harinya, pelayan mata-mata ketahuan saat akan kabur dari istana. Melihat wajah pelayan tersebut, seketika Yung Pong teringat dengan sketsa wanita yang pernah menjual Norigae di pemilik Loak. Lalu ia mengancam pelayan tersebut agar bicara soal Norigai itu.

Di sisi lain, So mengunjungi Damyang di penjara. Bahkan ia berjanji akan menyelamatkannya. Namun Bongg datang dan meminta Soyong untuk pulang agar hukuman Damyang tidak semakin berat. Tak lama kemudian para menteri pun mengadakan rapa dadakan untuk menentukan hukuman apa yang akan dijalani oleh Damyang. Namun karena terdesak Cojong pun akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada Damyang. Mendengar keputusan itu membuat Soyong langsung berlari ke tempat eksekusi. Di sana Dam Hyang terlihat sedang meminum racun di depan banyak orang. Dan saat Soyong tiba, Damang sudah tewas. Melihat hal itu, So seketika marah pada Chol Jong karena gagal menyelamatkan Damyang. Namun, Chol Jong hanya diam lalu pergi meninggalkannya. Tapi saat berjalan pergi, ia memberikan kode dengan jari menyilang. Saat melihat kode itu, So seketika teringat dengan perjanjian mereka dulu bahwa kode jari menyilang berarti sebuah kebohongan.

Setelah semua orang yakin bahwa Damyang sudah meninggal, Soyong kemudian memeriksa tubuh Damyang dan merasa tubuh gadis tersebut masih hangat. Sehingga Soyong memahami apa yang direncanakan oleh Joljong. Alhasil ia pun berpura-pura menangis.

Di sisi lain, Pangeran Hong mengambil tubuh Damh dari pelayan yang berniat akan membuangnya. Ternyata memang sudah merencanakan agar Damyang hanya pingsan dengan meminum minuman yang sudah dicampuri oleh obat khusus.

Sementara itu, Soyong menemui Joljong di tepi danau untuk menanyakan keadaan Damyang. Colcong menjawab bahwa Dam Hyang sudah diurus oleh Pangeran Hong dan ibunya pun sudah menunggu untuk membawa Dam Hang pergi dari istana. Setelah mendengar hal itu, Soyong akhirnya merasa lega dan memutuskan untuk bekerja sama dengan Chol Jong demi membalas dendam kepada Ibu Sunwon serta orang-orang istana yang selalu meremehkannya.

Di tempat lain, Bong In menemui Tabib Kim karena dirinya tahu bahwa ada seseorang yang berusaha meracuni Soyong. Ia bahkan mengatakan jika ada yang berani menyakiti Soyong maka dia sendirilah yang akan membunuh orang itu meskipun orang itu adalah ayahnya sendiri. Kemudian Bong In mengumpulkan dua klan besar yang selama ini saling bermusuhan, yaitu Klan Andong Kim dan Pyongang. Ia mengusulkan kesepakatan berupa dekrit amnesty, yaitu pengampunan bagi orang yang pernah melakukan kejahatan. Mendengar usulan tersebut, jelas saja mereka semua setuju karena aturan itu bisa melindungi mereka walaupun mereka pernah berbuat salah.

Di sisi lain, Damang yang sebelumnya pingsan akhirnya sadar dan melihat ibunya sudah ada di sampingnya. Di tempat lain terlihat ayah Soyong datang menemui putrinya. Awalnya mereka terlihat canggung karena pernah cekcok saat di danau waktu itu. Tapi kemudian mereka saling meminta maaf dan tertawa bersama. Lalu sang ayah bercerita bahwa buku kejahatan Ken Adongkim telah dicuri dan pencurinya adalah Hua Jin. Mendengar kabar tersebut, sepertinya Soyong ingin membuat rencana agar bisa menjatuhkan Hua Jin dan orang-orang yang ada di pihaknya.

Setelah itu, Soyong mendatangi kediaman Ibu Sunwon. Bahkan ia menyajikan kentang yang dicampur pasir sebagai bentuk ejekan terhadap Ibu Sunwon. Tak hanya itu, ia juga memberikan minuman dingin yang mirip dengan racun yang nyaris diminumnya kemarin. Saat melihat minuman itu, jelas saja Ibu Senuan langsung merasa curiga dan tidak berani meminumnya. Dalam pertemuan itu juga terlihat jelas bahwa Soyong tidak lagi sopan atau menunjukkan rasa hormat kepada Ibu Sunwon. Ia bahkan dengan tegas mengatakan bahwa mulai sekarang ia akan melakukan semua hal sesuai keinginannya sendiri.

Di sisi lain, Joljong berbicara kepada kepala Kasim. Jojo mengatakan bahwa selama ini ia tahu Kepala Kasim selalu melapor kepada Ibu Sunwon dan Tabib Kim. Mendengar itu, Kepala Kasim seketika merasa ketakutan dan langsung memohon ampun agar tidak dihukum. Namun Colcong berkata bahwa ia sedang ada urusan dan menyuruh Kepala Kasim untuk menunggu di balai istana.

Di sisi lain, Soyong menemu Ibu Surijo dan langsung menuduh bahwa dialah yang menaruh buku kejahatan Ken Andong Kim di kamarnya atas perintah Hua Jin. Tapi Ibu Surijo tidak mengaku sehingga Soyong marah dan mengacak-acak meja persembahan. Ia juga mengancam akan menyakiti anak Ibu Surijo jika berani mengganggunya lagi. Setelah itu, Soyong pergi ke Danau untuk menemui Huawajin. Ia mengatakan bahwa dirinya hampir mati karena buku kejahatan Ken Andong Kim yang dicuri olehnya. Soyong mengaku bahwa ia sudah lelah dengan sikap Huain yang berpura-pura baik selama ini. Padahal sebenarnya Huain telah membohongi Joljong dengan mengaku sebagai gadis yang menolong Joljong saat terjebak di dalam sumur. Perkataan itu membuat Hua Jin sangat terkejut hingga nyaris jatuh ke dalam danau. Tapi Soyong segera mengelurkan tangannya untuk menolongnya. Ia juga mengingatkan bahwa dulu Wajin bisa saja menyelamatkannya seperti yang sekarang ia lakukan padanya.

Tak lama kemudian, Soy dan Cholcong bertemu. Saat itu, Soy memberitahu bahwa ia sudah keluar dari klan Andim. Ia juga mengajak Cholcong untuk kembali bekerja sama karena mereka sekarang punya musuh yang sama. Ada beberapa kalimat Soyong yang membuat Chulcong tiba-tiba teringat dengan masa kecilnya saat ia bersembunyi di dalam sumur. Sehingga ia mulai bertanya-tanya apakah gadis kecil yang menolongnya waktu itu adalah Soyong, bukanlah Wajin.

Setelah itu Soyong memanggil Sim Ong dari klan Han dan Sim Ong meminta maaf karena telah merusak acara suritnal dengan memasukkan racun ke dalam tong air. So yang ingat betapa jahatnya sekretaris Han kepada Koki Jang di masa modern akhirnya memutuskan untuk memaafkan Sim Ong. Tapi dia harus menjadi Kasimnya. Mendengar itu, Sim Ong merasa tidak terima. Karena menjadi Kasim berarti dia tidak bisa memiliki keturunan.

Di sisi lain, Ayah Soyong sangat marah setelah tahu bahwa putrinya akan diracuni oleh Tabib Kim dengan minuman beracun. Namun saat ia berencana akan membalas dendam, tiba-tiba ia jatuh pingsan karena penyakit yang dideritanya.

Sementara itu, Bongg In menemui Ibu Sunwon dan memberitahu bahwa yang menyimpan buku kejahatan Klen Andongkim bukan Ratu Soyong, melainkan Selir Huain dan Ibu Surijo. Mereka berdua melakukan hal itu karena ingin mengadu domba antara Ratu Soyong dengan Ibu Sunwon.

Di sisi lain, Joljong menemui Huain untuk memberitahunya bahwa mayat yang ditemukan di sumur bukanlah Ohwall dan itu semua adalah rencana dari Ibu Surijo. Mendengar kabar itu membuat Wajin seketi terkejut karena selama ini ia sangat percaya pada Ibu Surijo. Tapi entah kenapa ia malah mengkhianati Hajin. Joljong kemudian menemui Yong Pong dan Hong di markas mereka. Joljong penasaran bagaimana Ibu Surijo bisa mendapatkan buku kejahatan Ken Andong Kim. Yong Pong kemudian teringat bahwa ia pernah melihat Huain memberikan buku itu kepada Ibu Surijo. Dari sanalah Yong Pyong akhirnya tahu bahwa Ibu Surijo mendapatkan buku tersebut dari Hajin. Namun Yong Pong tidak memberitahukan hal tersebut kepada Chuljong karena ternyata Yong Pong menyukai Hua Jin.

Di sisi lain Hajin terlihat sedang berlatih memanah demi bisa melampiaskan rasa kecewanya kepada Ibu Surijo yang sudah berkhianat. Tak lama kemudian, Yong Pyong datang menemui Huain dan menjelaskan bahwa kematian Ohwall adalah akibat rencana jahat dari Ibu Surijo. Yong juga mengatakan bahwa Huainlah yang memberikan buku kejahatan itu kepada Ibu Surijo. Dia juga mengingatkan Huain bahwa dia masih punya kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar.

Di tempat lain, Soyong datang membawa Ramyon untuk dimakan bersama Chuljong yang sedang membaca buku bela diri. Namun tanpa sengaja, Soyong meletakkan ramion tersebut di atas buku itu. Alhasil, ia segera meminta maaf dan menjelaskan bahwa buku itu sangat berharga. Mendengar bahwa buku tersebut berharga, Joljong seketika teringat sesuatu. Kemudian ia bertanya, "Apakah gadis kecil yang menyelamatkannya ketika bersembunyi di dalam sumur adalah Soyong." Soyong kemudian menjawab bahwa memang dirinyalah yang menyelamatkan Joljong. Joljong terkejut mendengar pengakuan itu. Tapi Soyong mengatakan bahwa ia sangat menderita saat menolongnya karena lengannya masih terasa sakit hingga sekarang setelah menggendong Choljong untuk keluar dari sumur. Melihat Soyong makan dengan lahap, Cholong pun tersenyum sendiri dan kembali melanjutkan membaca buku tentang taktik perang Dinasti Ming. So pun menyadari betapa kerasnya Coljong berusaha untuk menjadi raja yang lebih baik lagi. Soyong mengatakan bahwa dia akan membantu Chol Jong karena Soyong berasal dari masa depan. Meskipun Cholong tidak percaya dengan hal itu, namun ia tetap mendengarkan dan merasa tertarik dengan semua cerita yang diceritakan oleh Soyong.

Di sisi lain, Kasim bertopeng kembali melaporkan tentang gerak-gerik Soyong kepada Tabib Kim. Lalu, Tabib Kim menyuruhnya kembali untuk terus mengawasinya.

Keesokan harinya, pelayan Choy memberitahu Soyong bahwa ayahnya jatuh pingsan. Mendengar kabar itu membuat Soyong segera menemuinya. Ayahnya meminta agar Soyong melepas posisinya di kerajaan dan kembali ke rumah. Sang ayah meminta itu karena ia merasa khawatir jika Soyong akan terluka lagi. Namun, So menolak dan bersi keras akan menyelesaikan masalah yang ada di istana. Ia juga meminta ayahnya untuk menyerahkan semua harta hasil korupsinya kepada para rakyat. Meskipun permintaan itu berat bagi sang ayah, namun ia akhirnya menuruti permintaan putrinya tersebut.

Setelah itu, Soyong menemui Jol Jong dan memberikan buku salinan yang berisi informasi tentang kejahatan pejabat Ken Andong Kim yang di dalamnya tertulis siapa saja yang melakukan korupsi, bahan pangan, dan tambang. Namun, So meminta kepada Choljong agar ayahnya tidak dihukum karena sang ayah sudah berani membocorkan rahasia besar ini kepada Joljong. Joljong akhirnya menuruti permintaan Soyong dan memutuskan untuk melindungi ayah Soy yang merupakan saksi kunci dalam kasus tersebut. Tetapi dengan syarat bahwa Ayah Soyong harus membantu untuk mengumpulkan lebih banyak bukti lagi. Karena jika hanya mengandalkan buku tersebut maka tidak akan cukup untuk menghukum para pelaku.

Setelah itu Colcong menghadiri rapat bersama para menterinya. Di sana menyamar agar bisa mengamati para menteri yang selalu membantah Chol Jong. Namun Chol Jong seketika marah di saat para menteri ternyata akan mengirim pasukannya untuk menumpas pemberontak Dongh yang dianggap mengancam kerajaan Joseon. Amarah Chulcong semakin memuncak ketika Bong In mengusulkan untuk menekan pemberontak tersebut dengan kekuatan militer dan semua menteri setuju meskipun tanpa mendapatkan izin dari Raja Colcong.

Setelah rapat selesai, Pyong In menemui Ibu Sunwon. Dia mengatakan rencananya untuk mengirim lebih banyak pasukan agar bisa menangkap pemberontak Donghak. Namun saat akan pulang, Bong In dicekat oleh temannya yang tiba-tiba marah karena keluarganya difitnah sebagai pemberontak. Beyong In pun berkata bahwa dia akan membuktikan jika dirinya berbeda dari ayahnya, yaitu Tabib Kim, dan Bongg mengajak temannya tersebut untuk bergabung dengannya di istana.

Di sisi lain, Soyong mengumpulkan para pejabat dari klan Andong Kim dan mengancam mereka bahwa jika mereka terus menghalangi keputusan Cholcong, maka Soyong tidak akan segan-segan menyingkirkan mereka. Para pejabat yang mendengar ancaman tersebut merasa ketakutan. Di sisi lain ternyata Bong In juga sama dengan Ibu Surijo. Namun dengan syarat Ibu Surijo tidak boleh mencelakai Soyong. Dia hanya ingin bekerja sama untuk mengalahkan Raja Coljong. Namun setelah mendengar laporan bahwa Soyong mengumpulkan para pejabat dan mengancam Ken Andong Kim, alhasil Bong In segera menemui Soyong. Dia bertanya mengapa Soyong melakukan itu. Karena tindakan tersebut bisa saja membuat Soyong dijauhi oleh Klan. Soyong menjelaskan bahwa usahanya selama ini untuk mendekati Ibu Sunwon sebagai pemimpin Ken Andong Kim malah dikhianati. Karena Ibu Sunwon sempat akan membunuhnya dengan minuman es peracun. Karena itu Soang memutuskan untuk bertindak sendiri tanpa bantuan dari Ibu Sunwon lagi. Biong In merasa kecewa dengan keputusan Soyong yang pasti akan memperburuk situasinya. Bahkan In kembali mengungkapkan perasaannya yang mencintai Soyong. Namun saat itu Soyong menolak cintanya dan pergi meninggalkannya. Penolakan tersebut membuat Pong In semakin sakit hati dan merasa sangat sedih.

Setelah itu, Soyong menemui Tabib Kim yang sudah dipecat dari kerajaan. Lalu Soyong memberikan hadiah berupa pedang kepadanya. Namun saat menarik pedang tersebut ternyata pedangnya sudah patah. Tapi Kim hanya bisa tersenyum sinis dan menghargai keberanian Soyong yang akhirnya berani melawannya.

Pada malam hari, Soyong kembali menemui Jol Jong dan mereka melanjutkan percakapan tentang sistem pemerintahan di masa modern. Bahkan obrolan mereka berlanjut hingga mereka tertidur di sana. Di sisi lain, Piong In yang ditolak cintanya akhirnya menghabiskan waktu dengan minum-minum hingga mabuk berat.

Keesokan harinya, Huacin tiba-tiba datang ke kamar Coljong. Meskipun Kasim berusaha mencegahnya, namun Huain tetap memaksa untuk masuk dan melihat Chol Jong serta Soyong sedang tidur bersama. Hal itu jelas saja membuat Wajin semakin sakit hati dan memutuskan untuk pergi.

Setelah itu, Chol Jong mengajak Soyong yang menyamar sebagai pria untuk membahas taktik perang. Hong yang ahli dalam bidang militer sempat meremehkan Soyong. Namun setelah Soyong memberikan latihan militer, Hong malah tidak bisa mengikuti latihan militer tersebut. Sementara itu terlihat Yong Pyong menatap Soyong dengan ekspresi yang sinis.

Setelah itu Wajin menemui Choljong di ruangannya dan mengungkapkan bahwa dia bukan pemilik buku Dongmong Songsop. Ia juga memberitahu bahwa gadis yang menolong Joljong di sumur adalah Soyong bukan dirinya. Joljong yang sudah tahu tentang hal itu jelas saja tidak terkejut dan mengatakan bahwa meskipun Huain berbohong, namun ia tetap menyukai Huaajin. Kemudian Hua Jin mengaku bahwa dialah yang mencuri buku kejahatan Ken Andong Kim. Mendengar pengakuan tersebut membuat Joljong merasa terkejut dan kecewa dengannya. Tanpa mereka sadari, ternyata Yong Pong diam-diam mendengarkan percakapan itu.

Di sisi lain, Joljong bertemu dengan Soyong dan mengembalikan buku Dongmong Songsop yang Soyong berikan ketika mereka terjebak di sumur. Joljong meminta maaf karena baru mengetahui siapa pemilik asli buku tersebut. Dan So juga meminta maaf karena tidak jujur kepadanya selama ini.

Sementara itu di dapur Soyong melihat koki istana sedang meminum minuman keras dari buah pir. Bahkan Soyong meminta agar Koki istana membuatkan minuman tersebut. Koki mengatakan bahwa minuman itu harus menunggu beberapa hari agar rasanya sempurna.

Di sisi lain, Yong Pong berhasil mengumpulkan bukti dan menangkap Menteri Seogun karena melakukan eksploitasi terhadap petani dan diduga melakukan korupsi. Sementara itu, Bong In kembali mengunjungi Ibu Sunwon untuk melapor dan Ibu Sunwon memberitahunya bahwa Soyong sedang mengajarkan sesuatu kepada Raja Col Jong. Mendengar kabar tersebut membuat Piong In diam-diam menggelidah kamar Soyong dan menemukan buku cerita anak. Lalu saat Bong In membukanya, ia seketika terkejut karena menemukan tulisan yang aneh. Kemudian ia merobek satu lembar itu dan membawanya. Singkat cerita, akhirnya Beong In mengetahui bahwa tulisan itu adalah kode rahasia dari para pemberontak Dongk.

Di tempat lain, saat sedang membahas strategi perang, Soyong menyuruh Hong untuk membuat baju anti peluru. Lalu tak lama kemudian, Kim Huan yang sering mengunjungi Hong tiba-tiba datang dan melihat Soyong yang menyamar sebagai pria. Kim Huan sangat senang dan langsung memeluknya karena Kim Huan mengira bahwa Soyong adalah Saeng Mang alias sahabatnya yang sudah lama menghilang. Melihat kejadian itu jelas saja membuat Chol Jong marah dan langsung menarik Kim Huan agar menjauh dari Soyong. Bahkan mereka kemudian bermain kartu hingga malam yang membuat Soyong tertidur.

Keesokan harinya Biong In menyadari bahwa kliennya yaitu Andong Kim sedang dalam posisi terancam sehingga ia memutuskan untuk menyusun sebuah rencana pemutihan harta para menteri Andim. Dengan cara itu diharapkan para menteri yang korup tersebut tidak bisa ditangkap karena tidak ada bukti.

Sementara itu di dapur, Soyong merasa mual setelah mencoba minuman beralkohol dari buah pir tadi. Soyong mengira bahwa mualnya itu disebabkan karena dirinya belum sarapan. Setelah itu, Colong menemui Soyong untuk menunjukkan buku yang dibuatnya berdasarkan pengetahuan yang selama ini Soyong ceritakan. Namun ketika Colong akan menciumnya, Soyong malah kembali mual. Melihat kondisi istrinya tersebut, Colcong pun segera meminta tabib kerajaan agar memeriksa kondisi Soyong. Lalu setelah diperiksa, Tabib mengatakan bahwa Soyong sedang hamil. Semua orang yang menengari itu merasa sangat bahagia, terutama Joljong yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Namun, berbeda halnya dengan Soyong yang terlihat terkejut karena dirinya yang seorang laki-laki alias Koki Chang malah hamil.

Kabar kehamilan Soyong yang awalnya membawa kegembiraan bagi semua orang. Namun tiba-tiba suasana mendadak berubah ketika Soyong terlihat kesal. Bahkan So langsung mengusir semua orang dari kamarnya. Setelah itu ia mulai mengomel sendirian karena tidak terima dengan kenyataan bahwa dirinya sedang mengandung. Apalagi Soyong merasa bahwa dirinya sebenarnya bukan seorang wanita. Berita tentang kehamilan Soyong pun menyebar ke seluruh istana sehingga membuat banyak orang merasa terkejut. Namun tidak bagi Bong In. Karena wanita yang selama ini ia cintai ternyata mengandung anak dari Raja Col Jong.

Di tempat lain, Ayah Soyong yang sebelumnya merasa sedih karena hartanya tinggal sedikit. Dia tiba-tiba kembali merasa senang setelah mendengar kabar dari pelayannya bahwa putrinya sedang mengandung. Tak lama kemudian, kabar tersebut juga sampai ke telinga Ibu Sunuwon dan Ibu Jo. Keduanya langsung mendatangi kediaman Soyong. Ibu Jo mengucapkan selamat sambil memberikan sebuah jimat agar anak yang dikandung Soyong akan menjadi anak yang kuat. Namun So tidak menerima jimat tersebut karena ia tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Kemudian Ibu Sunwan mengatakan bahwa ia sudah memerintahkan tabib kerajaan untuk meracik obat agar Soyong tidak mengalami keguguran. Namun di dalam hati Soyong merasa curiga bahwa kunjungan kedua Ibu suri tersebut bukan untuk memberi dukungan, melainkan sedang mengancamnya. Karena merasa tertekan, Soyong sengaja berpura-pura mual lalu muntah di hadapan mereka agar mereka berdua segera pergi.

Di sisi lain, Yong Pyong yang khawatir setelah mendengar kabar kehamilan itu memutuskan untuk pergi menemui Hua Jin. Tapi Hajin meminta agar Yong tidak perlu mengkhawatirkannya. Ia mengakui bahwa dulu ia memang ingin selalu bersama Raja Coljong. Namun karena saat ini sudah ada Soyong, alhasil ia pun memilih untuk mundur dengan caranya sendiri.

Pada malam harinya, So terkejut karena mendapatkan banyak hadiah dari ayahnya. Di sisi lain, situasi politik semakin memanas karena para pemberontak mulai menyerang rumah-rumah pejabat kerajaan. Bahkan para pemberontak menyekap mereka semua.

Keesokan paginya, Soyong terlihat sedang menikmati pijatan dari pelayan Hong. Namun, tak lama kemudian, pelayan Choy datang membawakan materi pendidikan untuk ibu hamil. Kemudian, So merasa kesal karena saat ini banyak hal yang dilarang. Termasuk dirinya yang tidak boleh makan Ramion kesukaannya. Larangan itu membuat Soang teringat dengan minuman dari buah pir miliknya yang dulu ia simpan di dapur. Namun sayangnya minuman tersebut sudah habis. Bahkan Soyong seketika kecewa karena ternyata minuman tersebut sudah diminum habis oleh koki istana dan pelayan coy tanpa seizin darinya.

Setelah itu, Jojo mengajak Soyong untuk pergi berkuda ke vila kerajaan. Saat itu, pelayan Choy mencoba mencegahnya karena khawatir dengan kondisi kehamilan Soyong. Namun karena sedang kesal pada pelayan Choy, alhasil Soyong tidak mau mendengarkan perkataan Choy dan memilih untuk melanjutkan perjalanannya. Setelah mereka sampai di villa, Choljong membayangkan betapa indahnya jika suatu hari bisa tinggal di sana bersama istri dan anaknya. Sementara itu, Soyong mulai sadar bahwa sebagai ibu dari anak raja, ia akan mempunyai kekuasaan penuh. Karena itu juga ia tidak perlu lagi bersikap manis demi mencari dukungan. Ia pun jadi lebih semangat dan mengajak Joljong pulang supaya bisa mulai belajar tentang pendidikan kehamilannya.

Lalu pada malam harinya, So menulis pesan untuk anak yang dikandungnya. So menuliskan pesan berdasarkan sifat Joljong yang selama ini ia kenal. Isi pesan tersebut adalah kalau anaknya ingin bertahan hidup di istana, maka jangan pernah bolos latihan. Kalau sang anak dikelilingi musuh maka hadapilah. Dan yang paling penting adalah sang anak harus bisa tahu mana teman dan mana lawan agar tidak mudah dikhianati. Setelah selesai menulis, So tertidur karena kelelahan. Tak lama kemudian, Coljong pun datang. Bahkan ia seketika tersenyum setelah membaca pesan yang ditulis oleh Soyong untuk anak mereka.

Sementara itu di hutan Yong Pong memberikan beberapa buku kepada mantan pengawal kerajaan yang sebelumnya dihukum karena tidak memiliki identitas untuk tinggal di istana. Yong berharap buku itu bisa membantu mereka yang ingin menjadi tentara. Karena menurutnya menjadi tentara tidaklah mudah.

Keesokan paginya Ibu Surijo menyuruh pelayannya untuk menyebarkan gosip bahwa kehamilan Soyong hanyalah sebuah kebohongan karena Raja Joljong dan Ratu Soyong tidak pernah tidur bersama. Dan seingat cerita, gosip itu pun langsung menyebar cepat ke seluruh istana. Setelah mendengar gosip itu, Soyong kemudian menemui Joljong. So mengatakan bahwa ia ingin melawan gosip tersebut dengan cara menunjukkan kemesraan mereka di depan para pelayan. Akhirnya mereka pun sengaja bersikap mesra di hadapan semua orang yang membuat mereka iri dengan keromantisan pasutri tersebut.

Di tempat lain, Wajin menanyakan pada Ibu Surijo kenapa ia menyebarkan gosip tersebut. Ibu Suri menjawab bahwa ia hanya ingin mengulang ucapan Huain dulu yang mengatakan kalau So tidak pernah tidur bersama Jol Jong. Karena hal itu secara tidak langsung Huain ikut terseret dalam gosip tersebut. Merasa kembali kecewa dan tersudut, Huain pun memperingatkan agar Ibu Surijo tidak lagi membuat masalah pada Choljong.

Setelah itu, Huajin datang menemui Soyong dan memberinya satu set alat panah. Ia menyarankan Soyong untuk belajar memanah supaya bisa melindungi dirinya sendiri. Ternyata tindakannya tersebut adalah sebuah bentuk dukungan wajin terhadap Chulcong dan juga Soyong untuk menghadapi orang-orang yang ingin menjatuhkan mereka. Setelah bertemu Soyong, Wajin lalu menemui Colcong dan mengajukan permintaan untuk mundur dari posisinya sebagai selir dan kembali menjadi rakyat biasa. Colcong yang awalnya kaget tentu saja menolak. Tapi karena itu adalah keputusan Huain sendiri, akhirnya ia pun menyetujui permintaan tersebut dan mengumumkannya di depan para menteri. Keputusan Huain membuat Yong mencoba untuk mencegahnya. Ia meminta Joljong untuk membatalkan keputusan itu, tapi Wajin menolak karena semua itu adalah keinginannya sendiri. Ia juga sudah tahu tentang Yong Pong yang mencintai dirinya. Namun, ia meminta maaf kepada Yong Pong karena tidak bisa membalas cintanya. Perkataan tersebut jelas saja membuat

Yong Pong sangat sedih. Malam harinya, Coljong meluapkan kesedihannya dengan berlatih pedang sendirian di hutan karena Hua Jin yang mengundurkan diri menjadi selir. Namun tak lama setelah itu, Yong Pong datang dan mengajaknya bertarung karena merasa kecewa dengan keputusan Choljong yang tidak bisa mencegah Hua Jin.

Sementara itu, kepergian Huajin membuat Ibu Surijo merasa kesal. Ia pun menemui Ibu Suri Sunwon dan menyebarkan gosip bahwa anak yang dikandung Soyong bukanlah anak Joljong, melainkan anak dari Bong In. Alasannya adalah karena Joljong dan Soyong dikabarkan tidak pernah tidur bersama. Ibu Sunwon awalnya terkejut, tapi ia malah berencana akan memanfaatkan gosip tersebut untuk keuntungan pribadinya agar ia bisa kembali mendapatkan kekuasaan di kerajaan.

Setelah itu, Ibu Sunwan memanggil Bong In dan memaksanya untuk bekerja sama. Ia bahkan mengancam akan menjadikan Soyong sebagai tumbal jika Pong In tidak mau membantu merebut kembali kekuasaannya. Karena tidak punya pilihan, Pyong In pun akhirnya menyetujui rencana tersebut.

Di sisi lain, Joljong yang baru saja kembali ke istana dikejutkan dengan kedatangan Piong Inunya di sana. Ia mengatakan bahwa klan Andim sedang merencanakan Kudeta dengan menjadikan Soyong sebagai sasaran. Mereka menyebarkan gosip perselingkuhan Soyong dengan Bong In dan menggunakan buku milik Soyong yang disebut-sebut mengandung kode rahasia milik kelompok Donghak. Bong In meminta Chol Jong untuk melindungi Soyong dan ia mengusulkan pembagian tugas untuk mereka berdua. Ia akan menutup isu gosip tersebut sementara Col Jong diminta untuk menghabisi pemberontak Donghak secara diam-diam agar nama Soyong tidak terseret. Colcong pun hanya terdiam dan akhirnya menyetujui permintaan tersebut.

Setelah itu, ia menemui Soyong yang saat itu sedang tidur. Lalu ia berkata bahwa Soyong selalu menjadi penang saat ia merasa gelisah tentang masalah kerajaan. Tak lama kemudian, Colcong menemui Ibu Sunwon untuk menitipkan urusan politik di istana. Sekaligus ia meminta agar Soyong dan calon anak mereka dijaga oleh Ibu Sunwon. Mendengar hal itu, Ibu Sunwan terlihat sangat senang karena merasa langkahnya untuk merebut kembali kekuasaannya akan segera terwujud.

Di sisi lain, Yong Pong dan Hong mencoba mencegah Cholcong yang akan pergi sendirian untuk melawan pemberontak Dongha. Bahkan Yong Pong merasa curiga bahwa ini hanyalah jebakan dari Ibu Suri Sunwon. Namun Joljong tidak terima dengan tuduhan tersebut karena ia merasa bahwa Ibu Sunwan selama ini banyak membantunya.

Di sisi lain, So mendapatkan kabar dari Hong bahwa Chelcong akan pergi untuk melawan para pemberontak Dongha. Mendengar kabar tersebut, alasil ia pun segera menyusul suaminya dan memintanya untuk membatalkan rencana itu. Namun, Chol Jong tetap melanjutkan perjalanannya bersama para pengawal kerajaan. Namun saat berada di tengah hutan, para pengawal tersebut malah berkhianat dan mengarahkan pedang ke Coljong. Tak lama kemudian, Bongg muncul dan menantangnya untuk bertarung. Jolzong yang terluka dan digepung memilih lari ke tepi tebing. Namun karena tak ada jalan lain, Ayah akhirnya melompat ke dalam sungai.

Di sisi lain, Soyong merasa sedih karena ditinggal oleh Colcong. Ia bahkan melampiaskannya dengan makan yang banyak lalu berjalan-jalan keluar ke istana. Namun ke manapun ia pergi, ia selalu teringat kenangannya saat bersama Coljong. Tak lama kemudian, Bongin datang menemunya yang sudah berada di Gazibu. So langsung bertanya soal Joljong dan ia merasa curiga karena melihat darah di bahu Bong In. Bonggin pun berbohong dan mengatakan buat Colcong baik-baik saja dan darah itu hanya sebuah luka kecil saat ia sedang latihan. Ia juga bertanya apakah Soyong mau kembali ke Klan Andong Kim. Tapi Soyong dengan tegas menolak tawaran tersebut. Sayangnya pertemuan itu dilihat oleh Yong Pong yang salah paham dan kembali curiga bahwa Soyong dan Piong In punya niat jahat kepada Raja Joljong.

Di sisi lain, sekretariski menyampaikan pesan dari Choljong agar semua orang mengikuti perintah Ibu Sunwon selama Choljong pergi. Ibu Sunwon lalu mengangkat kembali orang-orang kelen Andong Kim yang sebelumnya dipecat karena kasus korupsi. Sementara itu di hutan pasukan Bongg terus mencari keberadaan Chol Jong. Akan tetapi mereka hanya menemukan pakaiannya saja.

Di sisi lain, Soyong yang gelisah pun mulai menenangkan dirinya dengan menjahit nama di sebuah kain dengan berinisial CJ alias Coljong. So juga mengajak para selir bermain tebak-tebakan untuk mengisi waktu. Tapi dirinya terus saja teringat dengan Joljong. Bahkan karena tertusuk jarum kecil pun ia kembali menis. Para selir dan pelayan pun ikut sedih melihat Soyong yang sepertinya sangat merindukan kehadiran rajanya.

Sementara itu, Ibu Sunuan menyuruh Piong In untuk segera menemukan mayat Colcong agar mereka bisa menjalankan rencana jahat mereka. Setelah pakaian Colcong ditemukan di sungai, pihak istana menyatakan bahwa sang raja telah meninggal. Kabar tersebut jelas saja membuat semua orang istana merasa terkejut, termasuk Soyong yang sedang bersama pelayan Hong. Bahkan Wajin yang sedang melukis di rumahnya pun ikut sedih mendengar kabar buruk itu.

Di tempat lain, Piong In memberitahu Ibu Sunmon bahwa ia akan menempatkan pasukannya di sekitar istana untuk berjaga-jaga jika Joljong ternyata masih hidup agar Joljong tidak bisa masuk lagi ke dalam istana. Bahkan Ibu Sunwan berencana akan mengangkat raja baru dalam 5 hari ke depan setelah pemakaman Colcong dilakukan.

Di sisi lain, Soyong semakin merasa sedih setelah membaca buku catatannya tentang anak mereka. Di buku tersebut, Colcong ternyata juga menulis agar anaknya tidak merepotkan ibunya yang sudah berjuang keras. Dan Cholcong juga berjanji akan menemani Soyong saat payinya lahir. Pesan itu membuat Soyong kembali menangis.

Pada malam harinya, Yong Pong yang masih curiga kepada Soyong kemudian datang ke kamarnya dan mengancamnya. Ia menyalahkan Soyong karena telah membuat Julong pergi berperang melawan pemberontak Donghak. Tak lama kemudian, Pong In datang bersama pasukannya. Yong Pong saat itu segera menyandra Soyong. Lalu ia berkata bahwa Cholcong sebenarnya bukan mati di tangan pemberontak Dongghak, tapi dibunuh oleh pasukan Pong In sendiri. Namun karena tahu Soyong sedang hamil, Yong Pong pun membatalkan niat buruknya tersebut. Setelah itu, Pyong In langsung menangkap Yong Pong dan membawanya ke penjara. Tak hanya itu, Hong juga ikut dipenjara karena dituduh mencuri senjata di gudang senjata.

Setelah mengingat ada bekas darah di bahu Pong In, So mulai curiga bahwa Pong Inlah pelaku di balik kematian Colc Jong. Maka dari itu, dengan bantuan kepala Kasim, Soyong mencoba menyamar untuk bisa masuk ke ruang jenazah Colcong. Namun karena wajah mayat tersebut sudah rusak parah, alasil Soyong tidak berani melihatnya secara langsung. Ia hanya merapat tubuh mayat tersebut dan merasa bahwa mayat itu bukanlah Coljong. Sesamanya di kamar, So meminta pelayan Choy dan Hong untuk berhenti menangis. Ia lalu menyuruh mereka menyimpan rahasia bahwa Choljong kemungkinan masih hidup. Mendengar itu membuat mereka berdua kaget dan Choy mengingatkan bahwa mereka hanya punya waktu 5 hari sebelum raja baru diangkat.

Di tempat lain, Ibu Sunuhan yang sekarang memegang kekuasaan tertinggi mengumumkan bahwa ia akan memilih raja baru sehingga kabar ini langsung tersebar ke seluruh rakyat. Lalu terdapat seorang pria yang membaca pengumuman itu pun terlihat pergi dengan gerak-gerik yang mencurigakan.

Di sisi lain di pemagaman, Soyong ikut menangis setelah melihat Ibu Sunuan dan Ibu Jo menangis. Ia sengaja bersikap seperti itu agar orang-orang percaya bahwa ia benar-benar syok karena kematian Joljong.

Di sisi lain, Bong In mengumpulkan para pejabat dari kedua klen dan meminta mereka agar menandatangani surat persetujuan untuk menggulingkan Recul Cong dari kerajaan. Tapi karena takut terkena masalah, alhasil mereka pun menolak permintaan itu. Lalu saat mereka akan keluar, ternyata pasukan Bong In sudah berjaga di luar ruangan. Bahkan Bongg juga mengancam akan membunuh mereka jika tidak mau menandatangani surat tersebut.

Tak lama kemudian, pelayan Hong datang dan memberitahu Soyong bahwa ada beberapa prajurit yang sedang mencari Joljong di sekitar Tebing. Setelah mendengar itu, So menyuruh para pelayannya untuk segera pulang. Ia berpura-pura mengantuk dan akan tertidur. Tapi sebenarnya ia bersiap pergi sendiri untuk mencari keberadaan Chol Jong. Namun langkah Soyong dihentikan oleh Piong In yang ternyata sudah tahu tentang rencananya. Soyong lalu mengancam akan memanah Piong In jika ia terus menghalangi. Ia juga mengatakan bahwa dirinya bukanlah Soyong yang dikenal oleh Bong In. Hingga pada akhirnya Soyong benar-benar memanah Bong In. Jelas saja hal itu membuat Bong In sangat marah karena merasa dikhianati oleh orang yang selama ini ia lindungi.

Saat So melanjutkan perjalanan, tiba-tiba pelayan Choy dan Hong muncul. Mereka memohon agar diizinkan untuk ikut mencari keberadaan Chol Jong. Karena tidak tega, So pun akhirnya membiarkan mereka untuk ikut menemaninya.

Keesokan harinya, Tabib Kim kembali ke istana dan berkata bahwa ia akan membantu Ibu Sunwon untuk mengembalikan kekuasaannya meskipun dari balik layar. Tabib Kim kemudian menjebak sekelompok pengepul obat herbal dan membuat mereka terlihat seperti pemberontak Donghah yang sudah membunuh Raja Joljong.

Sementara itu di hutan ternyata Joljong masih hidup. Saat itu terlihat dia terbangun di sebuah gubuk milik ayah Damang. alias gadis kecil yang pernah ia selamatkan. Namun saat itu ayah Damang belum mengakui bahwa dirinya adalah ayah dari Damyang. Ia mengaku telah membuang pakaian Joljong karena melihat prajurit sedang mencarinya. Namun Choljong masih curiga dengan pria tersebut karena belum tahu identitasnya. Sehingga Choljong selalu berjaga-jaga jika pria tersebut tiba-tiba menyerangnya.

Di sisi lain, Bong In bersiap untuk menangkap Soyong. Sikapnya yang semakin kasar membuat Kim Huan merasa curiga. Ia pun segera memberitahu kepada Yong Pong dan Hong bahwa Soyong kabur semalam dan kini sedang diburu oleh Bong In.

Di hutan. So bersama para pelayannya terus mencari keberadaan Col Jong. Setelah makan dan beristirat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan dan bahkan tidur di tengah hutan.

Di sisi lain, Colcong memeriksa surat-surat yang disembunyikan pria misterius itu. Tapi tiba-tiba pria tersebut memergokinya dan tampak berniat membunuhnya.

Sementara itu, perjalanan Soyong dan para pelayan terus berlanjut. Namun setelah berjalan cukup lama, mereka mulai kelelahan. Saat beristirahat, pelayan Choy menyampaikan rasa bahagianya karena bisa melihat dunia luar bersama Ratu Soyong. Namun, tak lama kemudian, pasukan Pong In menemukan mereka. Pelayan Choy mencoba menahan prajurit yang akan menangkap Soyong hingga pada akhirnya ia pun ditebas prajurit tersebut. Melihat kejadian itu jelas saja membuat Soyong menjerit histeris. Namun Hong memaksanya untuk terus berlari demi menghargai pengorbanan Choy. Hong kemudian menyuruh Soyong untuk bersembunyi, sedangkan dirinya akan mengalihkan perhatian para prajurit. Namun tak lama kemudian, Soyong seketika terkejut saat melihat Bong In berhasil menemukannya. Alhasil, ia terus berlari sampai ke tepi-tebing. Di sana Bong ini yang dipenuhi amarah mencoba mencekik leher Soyong dan bertanya siapa dirinya sebenarnya dan apa yang telah ia lakukan kepada Soyong yang asli. Saat sedang dicekik, Soyong berkata bahwa ia tidak tahu apakah Soyong yang asli masih hidup atau sudah mati. Karena masih menyayanginya, alhasil Piong In pun melepaskan cekikannya dan bertanya sejak kapan jiwa lain menempati tubuh Ratu Soyong. Kokijang pun mulai menceritakan bagaimana ia bisa masuk ke tubuh sang ratu dan mengaku bahwa ia mengingat semua kenangannya.

Tak lama kemudian, pasukan kerajaan datang untuk menangkap Soyong. Tapi Bong In justru berdiri di depan dan melindunginya. Ia percaya meskipun jiwa yang ada di dalam tubuh Soyong berbeda, namun kenangannya bersama Soyong masih selalu diia ingat. Alhasil Pyong In pun tidak ingin jika Soyong dibunuh. Karena tidak terima, para pasukan pun langsung menyerangnya. Di saat mereka berusaha untuk kabur, tiba-tiba muncul Kasim Pertopeng yang ternyata disuruh Tabib Kim untuk membunuh Soyong. Lalu Beong In melawan pria tersebut sambil menjaga Soyong agar tidak terluka. Saat kasih melengah, Bong In sempat memberikan sebuah surat kepada Zoyong. Surat itu berisi rencana pengkhianatan dari Klan Andong Kim dan Pyongang terhadap Raja Joljong. Ia berharap surat itu bisa menyelamatkan sang ratu. Namun di tengah perkelahian, Pyong In tertusuk perutnya. Melihat hal tersebut, Soang pun berusaha membantu dengan melempar batu ke arah Kasim dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur lagi. Setelah menjauh, Biong ini yang tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanannya kemudian menyuruh Soyong untuk terus kabur. Di saat itu Kasim pun datang dan langsung melawan Bong Inga akhirnya ia ditusuk lagi dan terjatuh. So yang melihat kejadian itu seketika menangis dan terus berlari demi menghargai pengorbanan dari Bong In. Saat sedang sekarat, Bong Inin masih mengingat saat-saat ia bersama Soyong di masa lalunya.

Kemudian di malam harinya, Soyong terus berlari tanpa arah. Hingga akhirnya ia kelelahan dan merasa pasrah saat melihat ada seseorang yang datang mendekatinya. Tapi saat wajahnya terlihat, ternyata orang itu adalah Jol Jong. Alhasil, So pun menangis sambil memeluknya. Lalu Soyong memberitahu bahwa Choy, Hong, dan Bong In sudah tewas karena berusaha melindunginya. Mendengar hal itu membuat Cholcong merasa terkejut. Apalagi saat mendengar bahwa Bong Inkatinya sudah tewas. Tapi Joljong segera menenangkannya karena ternyata Choy dan Hong masih selamat. Chol Jong lalu membawanya ke markas Donghak. Di sana play Hong langsung memeluk Soyong. Lalu Choy yang sedang terluka berkata bahwa ia sebelumnya terpeleset saat akan ditebas. Sehingga dari hal itulah membuat dirinya masih hidup. Lalu Soyong kembali memeluk mereka. Setelah itu Jocong merawak luka di bau Soyong akibat serangan Kasim bertopeng sebelumnya. Di dalam tenda mereka berdua pun saling melepas rindu dan berpelukan lalu berciuman.

Di tempat lain, Kasim bertopeng melapor kepada Tabib Kim bahwa usahanya menangkap Ratu Soyong telah gagal karena pasukan Donghak tiba-tiba menyerangnya. Bahkan ia juga sempat melihat Raja Colcong bersama kelompok tersebut. Mendengar informasi itu membuat Habib Kim pun terkejut.

Di sisi lain, Huain ternyata diam-diam menyebar selebaran yang membukar kejahatan Ken Andong Kim serta menyebut bahwa Raja Colcong masih hidup.

Keesokan paginya, So memberikan sial pertuliskan Jej kepada Choljong yang sebelumnya ia buat. Col Jong pun tersenyum dan berterima kasih kepadanya. Lalu Chol Jong menjelaskan bahwa taktik militer yang dulu diajarkan oleh Soyong kini digunakan Chol Jong untuk melatih pasukan Donggha. Ternyata buku yang diberikan Lionpong kepada mantan prajurit kerajaan waktu itu adalah buku tentang cara berlatih bela diri yang ditulis oleh Joljong.

Tak lama kemudian, So mendengar suara koki istana yang berteriak karena ditangkap oleh pasukan Donggha. Lalu Koki istana pun seketika merasa senang saat melihat Soyong Joljong dan pelayan yang juga ada di tempat itu. Mereka pun berkumpul dan berdiskusi tentang cara agar Joljong bisa masuk kembali ke dalam istana sehingga ia bisa menggagalkan rencana Tabib Kim serta Ibu Sunwon yang akan melantik raja baru. Koki istana lalu menyarankan agar Joljong masuk lewat salah satu gerbang yang dijaga oleh kepala pelayan makanan. Setelah rencana disusun, mereka pun kemudian pergi ke lokasi terakhir di saat Bong In meninggal. So terlihat sangat sedih ketika melihat jasad Bong Inuduk. Ia pun lalu memutuskan untuk menguburkannya dengan layak di tempat itu.

Di sisi lain, Tabibki menemui Ibu Sunwon yang sedang dipijat oleh pelayan Tunanetra. Ia memberitahu bahwa Pong In sudah tewas saat berusaha melindungi Ratu Soyong dan ia menyampaikan bahwa Raja Coljong serta Ratu Soyong ternyata masih hidup. Mendengar hal itu jelas saja membuat Ibu Sunwan sangat marah. Lalu Tabib Kim pun mulai curiga kepada pelayan Tunanra yang diduga telah menggagalkan rencana mereka yang akan meracuni Ratu Soyong dengan minuman beracun. Akan tetapi, Tabib Kim tidak jadi menyerangnya ketika pelayan tersebut sama sekali tidak bereaksi saat ditodong sebuah pedang. Namun pada malam harinya, Tabib King membututi pelayan tersebut dan mengetahui bahwa ia adalah mata-mata dari Joljong. Lalu tanpa ragaku, Tabib Kim pun langsung membunuh pelayan tersebut.

Di sisi lain, di tengah hutan, Raja dan Ratu menyadari bahwa Koki istana dan pelayan Choy saling jatuh cinta. Lalu Joljong pun mendekati ayah Damang dan mengatakan bahwa Joljong ingin sekali membantu rakyat. Itulah sebabnya Cholcong selalu menantang Ken Andong Kim yang saat ini sedang berkuasa karena tidak ada raja Colcong di istana.

Di tempat lain, Ibu Jo bermimpi bahwa istana akan terbakar sehingga ia akan ikut terjebak di dalamnya.

Sementara itu, di istana, Ibu Sunwan bersiap melantik raja baru yang merupakan keturunan raja sebelumnya. Akan tetapi, calon raja tersebut hanyalah seorang bocah. Tabib Kim bahkan memerintahkan calon raja tersebut untuk selalu tunduk kepadanya. Di penjara, Yong Pong dijatuhi hukuman pengasingan. Sementara Hong harus menjalani kerja paksa sebagai budak pemerintah selama 600 hari. Namun hukuman itu baru akan dilakukan setelah penobatan raja yang baru selesai dilaksanakan.

Di sisi lain, Soyong dan Colcong menghentikan seorang kurir pembawa bahan makanan yang akan menuju ke istana. Mereka memaksa kurir tersebut untuk membawa mereka masuk ke dalam istana tanpa menimbulkan kecurigaan dari kepala pelayan makanan.

Di sisi lain, Tabib Kim memberikan sebuah senjata pada Kasim Pertopeng sebagai persiapan jika Raja Colcong muncul kembali di istana. Singkat cerita, Soyong dan Chuljong berhasil menyusup ke dalam istana tanpa dicurigai oleh kepala pelayan makanan. Namun di saat gerobak mereka melanjutkan perjalanan, tiba-tiba rombongan Tabib Kim muncul dan langsung memeriksa gerobak tersebut. Tabib Kim kemudian mencabut pedangnya dan menusuk-nusuk isi gerobak. Padahal Jol Jong dan Soyong sedang bersembunyi di dalamnya. Ternyata Jol Jong dan So tidak berada di gerobak yang diperiksa oleh Tabib Kim sehingga mereka berhasil selamat dan bisa masuk ke dalam istana. Bahkan mereka sempat berpapasan dengan kepala pelayan makanan yang sudah ditangkap. Joljong yang jengkel pun langsung memukulnya hingga pingsan karena pria tersebut diduka melakukan korupsi bahan makanan. Lalu sebelum melanjutkan rencana mereka, So tiba-tiba mencium Col Jong.

Di ruang kerja, kepala Kasim yang sedang merindukan Chol Jong seketika merasa terkejut saat sang raja tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia sempat mengira bahwa sosok di hadapannya itu adalah arwah Colcong. Tapi akhirnya ia menyadari bahwa sosok tersebut memanglah Col Jong yang masih hidup karena ia melihat Ratu Soyong yang juga datang ke sana.

Di sisi lain, pasukan Dongghak melakukan perlawanan terhadap prajurit kerajaan agar bisa membuka jalan untuk Joljong. Bahkan Colcong dan Soyong yang sudah memakai pakaian kerajaan terlihat bekerja sama untuk melawan para penjaga, termasuk anak buah Pongg yang berhasil dikalahkan oleh Joljong. Dalam masalah itu terdengar suara pemberitahuan bahwa upacara penobatan raja yang baru akan segera dimulai. Ternyata upacara tersebut dipercepat oleh Ibu Sunwon dan Tabib Kim karena mereka berdua sudah mencurigai bahwa Jolong akan segera datang. Jolong seketika panik karena dirinya akan terlambat dan mengira bahwa rencananya akan gagal. Lalu Soang mencoba menenangkannya karena ia sudah menyiapkan rencana cadangan.

Sementara itu di istana mereka pun melanjutkan acara tersebut. Namun kepala anggota dewan terkejut ketika melihat stempel kerajaan yang sudah hilang. Ternyata sebelumnya Soyong yang saat itu sedang menyamar sebagai sahabat Kim Huan alias Li Saeng meminta bantuan Kim Huan untuk mencuri stempel kerajaan dan membebaskan Yong Pong serta Hong di penjara dengan mengelabui penjaka yang sedang bertugas.

Di sisi lain, para pemberontak Donghak dibantu para pelayan dan koki istana sedang menyerang penjaga perbatasan dengan melempari bom asap. Hingga pada akhirnya mereka berhasil menerobos masuk ke dalam istana. Bahkan Joljong dan Soyong berhasil masuk ke dalam aula istana yang saat itu terlihat sangat sepi karena prajurit kerajaan sudah dilumpuhkan. Namun tanpa mereka sadari, Kasim Bertopeng ternyata sudah siap menembakkan senjatanya ke arah Coljong. Untung saja saat itu Soyong melihat keberadaan Kasim tersebut yang akan menembak. Alhasil Soyong pun segera berpindah tempat untuk melindungi Choljong. Hingga pada akhirnya Soh yang terkena tembakan itu.

Suara tembakan tersebut lalu mengejutkan semua orang yang sedang mengikuti upacara penobatan. Namun Kasim bertopeng kembali menembak dan kali ini pelurunya mengenai dada Colcong sehingga mereka berdua pun terjatuh. Beberapa saat kemudian Yong Pong dan Hong muncul lalu Hong berniat akan menembaknya. Namun pelurunya hanya menyerempet mengenai leher Kasim tersebut yang membuat ia segera kabur.

Di sisi lain ternyata roh Kokijang kembali ke tubuhnya sendiri. Begitu juga dengan roh Ratu Soyong yang kembali ke tubuh aslinya. Saat Kokijang terbangun di rumah sakit, ia merasa panik karena memikirkan kondisi Raja Col Jong yang saat itu sudah tertembak. Alhasil, ia pun segera pergi dan melarikan diri dari kejaran polisi. Kemudian ia pergi ke toko buku untuk mencari buku sejarah. tentang kerajaan-kerajaan di masa Joseon. Di sana ia akhirnya menemukan buku yang membahas tentang pemerintahan Raja Joljong.

Cerita kembali ke masa Joson. Saat itu Soyong yang baru saja siuman dari pingsannya kemudian mendekati Chol Jong yang ternyata masih hidup berkat rompi anti peluru yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Soyong. Namun tiba-tiba Tabib Kim muncul dan akan membunuh Joljong. Untung saja Soyong berhasil menusuk kaki Tabib Kim dengan tusuk kondeninya sehingga Choljong bisa menghindar dari serangan tersebut. Kemudian Choljong mencoba melawan Tabib tersebut. Meskipun Joljong sempat tersungkur, namun ia kembali bangkit dan berhasil mematahkan pedang Tabib Kim. Bahkan ia menggagalkan usaha Tabib Kim yang akan bunuh diri dengan pedang itu. Joljong mengatakan bahwa Tabib Kim harus tetap hidup untuk menanggung semua dosanya.

Di sisi lain, Yong Pong dan Hong akhirnya berhasil mengepung Kasim bertopeng lalu membunuhnya di sana. Setelah itu, mereka berdua memberikan stempel kerajaan kepada Cholcong untuk menghentikan pelantikan raja baru. Lalu Cholc Jong yang melihat istrinya sedang terluka parah berkata bahwa ia akan segera kembali. Meskipun sedang sempoyongan, akhirnya Col Jong berhasil masuk ke ruangan tersebut sehingga kedatangannya berhasil mengejutkan semua orang. Ia lalu meletakkan stempel kerajaan dan meminta raja kecil tersebut untuk turun dari tahtanya.

Di sisi lain, So sedang dirawat oleh seorang tabib karena mengalami pendarahan hebat. Tabib kemudian mengatakan bahwa kemungkinan Soyong akan mengalami keguguran dan jika kondisinya semakin memburuk maka Soyong akan meninggal bersama dengan bayinya. Perkataan tersebut jelas saja membuat semua orang di sana merasa sedih. Lalu saat kembali merasakan sakit, pelayan coy meminta agar Colcong menunggu di luar ruangan dan membiarkan para pelayan yang akan merawat Ratu Soyong.

Keesokan harinya setelah diperiksa ulang, akhirnya Tabib menyatakan bahwa kondisi Soinya sudah stabil. Kabar itu jelas saja membuat Joljong dan para pelayan menangis bahagia.

Setelah semua kejadian itu, Ibu Suru Sunwon akhirnya dihukum dan diasingkan ke istana barat karena kasusnya yang sudah berusaha menyingkirkan Raja Joljong. Lalu Ibu Sunwon seketika marah setelah mendengar keputusan tersebut. Namun So dengan tegas berkata bahwa mulai hari itu juga segalanya akan berubah.

Di tempat lain, Yong Pong dan Hong menangkap Ibu Surijo karena diduga menyebarkan fitnah bahwa Soyong berselingkuh dengan Bong In. Bahkan karena telah mencoreng nama keluarga kerajaan, akhirnya Ibu Surijo dijatuhi hukuman pengasingan ke Istana Barat juga. Namun ia membantah tuduhan tersebut. Lalu Yong Pong pun menghadirkan saksi utama yaitu pelayan mata-mata. Kedatangan pelayan tersebut membuat Ibu Surijo seketika terkejut karena merasa dirinya dihianati oleh pelayannya sendiri. Bahkan para menteri yang terlibat korupsi juga mendapatkan hukuman penjara 3 tahun dan seluruh harta mereka disita oleh kerajaan. Sementara itu, Tabib Kim yang akan dibawa ke penjara terlihat sedang dimaki-maki oleh masyarakat karena sudah bertindak jahat kepada Raja Joljong.

Di sisi lain, So mengunjungi makam Biong Inin di dalam hutan dan seketika ia menangis karena mengenang masa lalu mereka. Sekembalinya ke istana, ia pergi ke danau untuk mengucapkan terima kasih kepada Roh Kok Kijang yang selama ini sudah membantunya. Tak lama setelah itu, Ayah Soyong datang membawa banyak hadiah untuknya. Ia mengakui kesalahannya dan merasa malu karena dulu sering memperlakukan Soyong dengan buruk. Ia juga berterima kasih karena Soyong telah membawa perubahan besar bagi kerajaan. Tak lama kemudian, bayi di perut Soyong menendang-nendang. Kejadian itu membuat sang ayah terlihat sangat senang karena akan segera mempunyai cucu.

Di sisi lain, pelayan choy dan koki istana akhirnya bisa bersama kembali untuk melanjutkan kisah cinta mereka. Sementara itu, Yong Pong memberanikan diri untuk menemui Hua jin di desanya. Kemudian mereka pun saling menanyakan kabar.

Sementara di dunia modern, Kokijang merasa lega saat membaca bahwa Raja Colcong berhasil memimpin kerajaannya kembali. Alhasil, Kokijang pun menyadari bahwa Raja Colcong selamat dari tragedi penembakan yang sempat mengenai dadanya. Bahkan Kokijang tiba-tiba tertawa saat melihat wajah Raja Colcong di puku tersebut. Kemudian ia pun teringat saat Raja Colcong sedang dilukis, tapi malah memberikan ekspresi lucu demi bisa menghibur Soyong. Sehingga dari kejadian itulah yang membuat ekspresi wajah lucu Coljong dimasukkan ke dalam buku sejarah tersebut. Namun tak lama kemudian polisi datang dan mencari keberadaan Kokijang. Tapi kali ini polisi tersebut tidak berniat untuk menangkap Kokijang, melainkan ingin melindunginya. Ternyata polisi tersebut menganggap Kokijang sudah berjasa karena membantu mengungkap kejahatan sekretaris Han yang selama ini melakukan penggelapan bahan makanan.

Singkat cerita, Kokiji Cang pun menjalani kehidupan barunya di dunia modern dengan lebih baik. Sementara itu, Chol Jong yang sedang sibuk mengurus peralihan kekuasaan mulai merindukan Soyong. Begitu juga dengan Soyong yang merasa rindu karena belum bertemu dengan Cholcong sejak kejadian waktu itu. Hingga pada akhirnya mereka pun bertemu di danau dan saling berpelukan. Lalu mereka pun saling berjanji untuk selalu bersama hingga akhir hayat mereka. Dan film pun tamat.