📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Sudahkah Anda Beragama? | M. Quraish Shihab Podcast

Quraish Shihab10:28

Transcription

Halo, Bismillahirohmanirohim. Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ala rosulillah wa ala alihi wa ashabihi wa taala. Bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudara sekalian, salamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hai, akhir-akhir ini masyarakat kita, bahkan masyarakat muslim di beberapa negara, itu banyak sekali berbicara tentang agama. Ayo kita di Indonesia bukan saja persoalan pemilu dan agama Islam non-Islam yang baru-baru ini. Ketika saya ke Abu Dhabi juga berbicara tentang agama dan peranannya. Apa peranan agama ini? Kelihatannya semua sadar bahwa peranan agama mengecil, berkurang.

Salah satu yang dibahas ketika beberapa kali kunjungan saya ke luar negeri oleh majelis UFO Kama itu persoalan agama. Dan eh, kita membicarakannya karena masuk agama. Kita membicarakannya bukan hanya dikalangan umat Islam. Ada pertemuan waktu di Jeneh, pertemuan itu dengan orang-orang Kristen Protestan di Italia, dengan orang Kristen Katolik. Kemarin di Abu Dhabi itu dengan Anglikan. Semua merasa bahwa ada kekurangan dalam peranan yang seharusnya dimainkan atau Didik dilakukan oleh agama.

Nah, saya dapat tugas membahas agama, peranan agama dalam memantapkan nilai-nilai akhlak dan eh kebangsaan. Apa itu ada peranan agama dalam memantapkan nilai-nilai akhlak? Dan adakah peranan agama dalam mengukuhkan rasa nasionalisme? Lebih itu istilahnya di sana. Muafa. Nah, oke. Saya ingin bicara soal agama dalam peranannya itu. Eh, begini.

Yang pertama dulu, kalau Anda ingin mendefinisikan agama, itu sangat sulit, kalau enggan berkata mustahil. Karena kalau kita mau mendefinisikan sesuatu, kita harus tahu segala sesuatu yang berkaitan dengan yang didefinisikan itu dan mengeluarkan yang bukan dia. Itu sebabnya juga orang berkata, eh, mendefinisikan manusia itu sangat sulit.

Semua definisi tentang manusia itu kurang. Makhluk sosial? Hanya makhluk sosial? Manusia tidak? Binatang cerdas yang menyusui? Apakah hanya itu? Terlalu banyak aspek kemanusiaan yang menjadikan dia tidak bisa didefinisikan dalam pengertian definisi yang benar atau yang menyeluruh. Agama juga begitu. Apa agama? Copy dabeda lah. Hehe.

Jadi, ketika disana saya katakan begini, tidak usahlah kita mencari definisi ilmiah tentang agama. Mari kita kembali ke bahasa. Boleh jadi bisa menggambarkan apa itu agama. Kalau kita dalam fase Indonesia, agama itu katanya terdiri dari dua kata. A berarti tidak, gama berarti kacau. Jadi setiap kekacauan tidak direstui. Ia agama. Kalau kita artikan agama seperti itu. Oke.

Ada yang berkata agama itu hebat pada mulanya terambil dari bahasa Indo Jerman. Ia dan dari sana nanti ngepet lahir katagen dan goyang jaran. Agama itu cara jalan yang mengantar Anda menuju kebahagiaan. Tuh, itu dari segi bahasa. Batik Ustadz Ali affected pernah baca salah satu bukunya. Dikatakan agama Il terambil dari bahasa Arab. Bahasa Arab dialek Hadramaut. Agama Fulan artinya dia menetap dan konsisten. Wallahualam bisa jadi. Suka kita di Indonesia Berkata agama di Malaysia Google ada lagi igawa di Bali. Tiga-tiganya dipakai, tetapi punya aspek yang berbeda-beda.

Sebahagian eh pakar-pakar muslim berbangsa Indonesia enggan menemui ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Enggan menamainya agama. Jamaah tidak juga ogah. Tidak juga dia mau menamainya jin-jin. Ini nol Islam yang akan di hitung lagi. Lihat katadin ini untuk kita lihat agama dalam bahasa Arab. Semua kata yang terdiri dari huruf Dal, ya, dan nun itu menggambarkan hubungan dua pihak. Ada hubungan antara dua pihak yang salah satunya lebih rendah kedudukannya dari yang lain.

Masih satu persatu kita lihat. Din berarti perhitungan. Malikiyaumiddin. Perhitungan Allah yang menghitung makhluk yang dihitung amalnya. Din berarti pembalasan. Yang membalas lebih tinggi kedudukannya daripada yang 15. Eh, jayne. Apa artinya adain? Bocah yang memberi hutang lebih tinggi kedudukannya daripada. Kesimpulannya agama itu atau bin itu adalah hubungan antara seseorang dengan pihak lain yang dihormati, yang dianggap punya punya fabel, punya jasa terhadap dia. Dihormati. Bisa jadi juga hubungan itu karena dia takuti, tapi dia membalas orang ini. Bisa jadi juga hubungan itu karena dia kagum kepadanya.

Kesimpulannya agama itu hubungan. Itu sebabnya ada ungkapan orang katakan hadis ad-dinul muamalah. Agama itu adalah interaksi. Semakin baik interaksi Anda, semakin baik keberagaman Anda. Semakin buruk, semakin buruk keberagaman Anda. Dan yang pasti, kalau Anda tidak punya hubungan, Anda tidak beragama. Dengan harus hubungan baik. Oke. Hehe.

Poin ini ditanggapi banyak orang waktu saya sampaikan daripada akhirnya kira-kira bisa diterima. Allah karena apa? Saya katakan ini tinjauan bahasa Arab. Ngomonge kita tidak tahu kalau tinjauannya religi. Tetapi yang pasti, yang pasti semua orang yang beragama, agama apapun namanya, pasti dia mempunyai hubungan dengan siapa yang dipercayai sebagai Tuhan. Itu juga sebabnya tidak ada agama yang tidak mengenal salat. Pasti salat karena hubungan dengan Tuhan. Pernah di depan dong.

Masa Nabi itu ada orang-orang musyrik berkata, oke, di kita mau masuk Islam tapi kita tawar deh. Enggak usah ada puasa. Nabi diam. Enggak usah ada zakat. Nabi diam. Enggak usah ada salat. Nabi berkata, tidak ada baiknya satu agama kalau tidak ada salatnya. Salat itu mutlak. Itu juga sebabnya kata seorang filosof ahli memuji Amerika itu filosof ahli ilmu jiwa William James. Dia bilang, kita tidak bisa membayangkan bahwa satu ketika itu tidak salat. Walaupun ilmu pengetahuan datang membawa berita bahwa tidak ada gunanya salat. Top salat. Kenapa? Waktu Anda butuh, tidak ada lagi tempat meminta. Manusia tidak bisa kemana Anda pergi. Ke atas Anda mengharap pada macam males. Jadinya salat itu mutlak. Agama adalah hubungan-hubungan antara manusia dengan Tuhan.