📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Inisiatif Suami Tidak Selamanya Disenangi Istri - Ust. Muhammad Nirwan Idris, Lc., M.H.I.

WahdahTV1:00:46

Transcription

Audzubillahiminasyaitonirrojim. Bismillahirohmanirohim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Para pemirsa Wahda TV yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dimanapun Anda berada. Kembali lagi dalam program kesayangan kita, Konsultasi Bersama Dewan Syariah Wahdah Islamiyah.

Alhamdulillah, pada sesi ya malam yang penuh bahagia ini, kita berada pada sesi keluarga dan ukhuwah dengan tema yang cukup menarik, yang mewaspadai virus ganas kepemimpinan keluarga. Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita ditemani bersama kita Al Ustadz Muhammad Tirwan Idris LC MHI. Tapi sebelum itu, kita menyapa Ustadz terlebih dahulu. Bagaimana kabarnya? Sangat baik. Semoga Ustadz sehat-sehat sehingga bisa memberikan faedah yang banyak kepada para pemirsa. Amin.

Dan untuk semua juga kepada pemirsa yang dimuliakan oleh Allah, sebelum kita masuk pada konsultasi syariah, silahkan persiapkan pertanyaannya. Nanti boleh ditanyakan melalui kolom komentar YouTube atau dapat mengirimkan pertanyaannya melalui chat WhatsApp admin. Insya Allah kita akan berdiskusi bersama Ustadz sebentar. Tapi sebelum itu, sesuai dengan tema kita, mewaspadai virus ganas kepemimpinan keluarga, ya, kita ada materi pembuka, pemancing, dan setelah itu kita masuk ya diskusi bersama Ustadz. Tanpa memperpanjang waktu, kami persilahkan kepada Ustadz untuk materi pembuka kita.

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillah, para pemirsa dan sahabat setia Wahda TV yang semoga saja senantiasa dalam penjagaan, perlindungan, berkah, dan rahmat dari Allah subhanahu wa ta'ala. Kembali kita bersua dalam Konsultasi Syariah Komisi Usroh dan Ukhuwah. Sebagaimana yang tadi telah disampaikan, tema yang akan kita ke tengahkan pada kesempatan kali ini berkenaan tentang waspadai virus ganas kepemimpinan keluarga. Yang kita angkat dari telaah dan kajian kitab "Zain Seni Interaksi Antara Pasutri", yang mengambil inspirasi dari kehidupan Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersama dengan keluarga-keluarga beliau, yang dijadikan sebagai acuan di dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan membina biduk rumah tangga.

Dan kalau kita berbicara tentang persoalan kepemimpinan, maka tidak berarti kepemimpinan itu sesuatu yang menggambarkan kebebasan, penebar menebarkan ketakutan. Tetapi kepemimpinan di dalam Islam itu berbeda. Ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mendaulat mengangkat seorang laki-laki sebagai pemimpin, karena konsekuensi kehidupan ketika ada perkumpulan, maka diharuskan ada yang memimpin, ada yang mengendalikan, ada mengatur agar kehidupan akan terasa lebih baik.

Maka sejatinya, ketika seorang wanita menikah, yang dahulunya ia tinggal dengan nyaman, damai, mendapatkan sentuhan kasih sayang bersama dengan kedua orang tuanya, dicintai oleh saudara-saudaranya, maka perempuan kemudian menikah. Nah, ketika dia menikah, karena dia mendambakan ada kehidupan yang lebih indah. Jadi sejatinya, ketika seorang itu menikah, dalam pandangan syariat, ketika seorang itu dinikahi oleh seorang laki-laki, maka kehidupannya akan terasa lebih nyaman. Dalam arti, kehidupannya bisa lebih berkah, imannya semakin bertambah, ilmunya semakin mendalam, akhlaknya semakin baik, dan hari-harinya terasa semakin indah dan bermakna.

Itulah kenapa sampai Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengangkat seorang laki-laki menjadi pemimpin. Ketika dia mampu melakoni kepemimpinannya secara baik, maka insya Allah akan menghadirkan berbagai macam hal yang positif. Karena dalam kepemimpinan keluarga, ada tiga hal yang menjadi muara dari tindak-tanduk dari seorang pemimpin. Kalau mengatakan ar-rijalu qawwamuna 'alan-nisa, tidak dikatakan ar-rijalu qawwamul mulki 'alan-nisa, tapi dikatakan laki-laki itu adalah qawwam yang dia bermuarapada tiga hal: yang pertama, ri'ayah, mengendalikan, mengatur. Yang kedua, himayah, menjaga, melindungi. Yang ketiga adalah islah, memberikan perbaikan, mendidik, mengarahkan kepada yang lebih baik.

Dia sebenarnya perempuan kalau sudah menikah, maka kehidupannya harusnya lebih lebih baik. Nah, tetapi pada fakta kehidupan rumah tangga, kita mendapatkan ada laki-laki yang tidak mengerti dan tidak paham tentang konsep kepemimpinan dalam sebuah keluarga. Ada menyalahartikan kalau dia memimpin, maka dia bisa bersikap semena-mena, dia bisa berlaku sewenang-wenang dengan istrinya. Maka ini adalah hal yang yang keliru yang perlu untuk kita luruskan. Dan itulah kenapa sampai penulis dalam begitu banyak babnya membahas tentang pentingnya sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan dalam keluarga itu penting, dan yang angkat langsung Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita sesuaikan. Ini sudah menjadi amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang perlu untuk dijalankan secara baik.

Karena laki-laki memiliki kelebihan dalam banyak hal, dari kekuatan rasio, kekuatan fisik, kekuatan mental, yang seharusnya dia tidak cemen, ya, seharusnya dia tidak menjadi laki-laki yang yang lemah. Nah, dengan kelebihan itu, kalau mampu dimanfaatkan secara baik, maka insya Allah dia akan sukses untuk bagaimana menjalankan kepemimpinan secara baik. Nah, hal yang disorot oleh penulis di sini tentang ada sejumlah virus yang menyerang para abah, yang menyerang kepala keluarga, yang itu bisa membahayakan dari keutuhan sebuah rumah tangga. Yang virus ini menyerang para laki-laki yang menganggap dirinya, "Saya adalah kepala keluarga, saya adalah pemimpin." Dan ternyata virus itu, kalau sudah menyerang dan seorang pemimpin terjangkiti dengan virus tersebut, itulah yang akan bisa mendatangkan badai yang besar di dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Kita masuk ya pada pasal yang baru. Silakan kita baca. Kami bacakan yang sangat menarik, bagaimana efek buruk atau dampak negatif dari sikap otoriter, sikap keras, sikap kasar, dan juga jadi di surat dua, sebenarnya dua hal, ada dua virus yang biasanya menyerang dan bahkan melekat dan mengakar pada diri seorang laki-laki. Yang pertama, kasar. Yang kedua adalah kikir. Nah, ini yang akan beliau sebutkan, bagaimana seorang laki-laki bisa membersihkan dirinya, mensterilkan dirinya dari dua sifat buruk ya tersebut.

Jadi, ketika ada seorang suami, karakternya itu kasar, keras, maka ini akan memberikan dampak buruk. Di antaranya, bisa berpotensi mendorong istri untuk banyak berdusta, ya, karena dia merasa tertekan, dia merasa khawatir. Maka, ketika perempuan dia tertekan, apalagi makhluk yang lemah, dia tidak mau menanggung risiko ketika dia jujur. Ya, ketika dia jujur, suaminya khawatirkan sangat reaktif, dan itu akan bisa menimbulkan bahaya pada dirinya. Maka, sikap suami yang kasar, ya, suka suami yang semena-mena, sikap suami yang keras, maka dia bisa mendorong istri itu, yang sejatinya menjadi teman hidup, berbagi kisah dan cerita, ternyata banyak berbohong, ya, karena menghindari dari efek buruk dari kemarahan seorang suami.

Itu karakternya atau sifatnya kikir, artinya memang asli kikir, karena sebagian wanita itu ada yang mengeluhkan suami mereka yang bakhil, yang kikir. Tetapi terkadang itu tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan, dan tidak sesuatu yang tidak sesuai dengan tempatnya. Tapi karena mereka telah membebani suami dengan sesuatu di luar kesungguhan mereka. Tapi ini yang kita bahas, ini asli. Jadi suami ini ya begitu perhitungan, begitu kikir, atau bahasa lainnya pelit terhadap istrinya. Dia begitu pelit, maka ini juga bisa mengarahkan istri atau mendorong istri untuk melakukan sesuatu yang melanggar agama. Terutama ya, terdorong untuk karena kerasnya kehidupan, ada kebutuhan yang dia ingin beli, ingin dia penuhi, terganggu imannya, ya, dia dirongrong keimanannya, dia daun akhirnya lebih gampang untuk terjatuh pada yang disebut dengan tindakan pencurian. Itu jadi bisa terjadi.

Belum menggambarkan di sini. Jadi, ketika istri mengetahui karakter suami yang keras, ya, kasar, semena-mena, maka dia akan terpaksa ya melakukan tindakan yang negatif juga. Apa tuh? Dia nanti menjadi orang yang suka dia tertutup, dan dia berbohong. Jadi seperti itu. Masya Allah. Dia akan menyembunyikan hakikat, dia akan menyembunyikan banyak hal yang sebenarnya bisa disampaikan, tapi ternyata dia menutupi daripada ada kesalahan-kesalahan mungkin kecil saja, kesalahan-kesalahan yang sebenarnya itu kecil yang bisa dimaafkan oleh suaminya jika saleh. Tapi karena dia khawatir, maka banyak hal yang dia akhirnya menutup-nutupinya, dan juga dia terjatuh pada kebiasaan untuk ia berbohong. Ini bahaya ya, para abah sekalian, kalau menjadi laki-laki yang sebagian orang katakan ada laki-laki itu laki-laki pisang yang ada jantungnya tapi tak ada hatinya. Ini berbahaya.

Nah, kalau sudah yang seperti ini, yakinnya istri yang tidak menjadi lagi teman hidup kita, ya, tidak nyaman ketika istri bersama dengan ya suaminya, tidak bersahabat lagi, yang tidak ada ikatan hati persahabatan antara dua roh yang lebih kuat, melainkan ikatan suami istri. Tapi di sini justru ya hubungan tidak baik, ya, karena istri merasa ketakutan, dihantui dengan rasa takut, sehingga akhirnya melakukan beberapa pelanggaran, ya, pelanggaran. Masya Allah.

Belum menceritakan dia belum menceritakan berkenaan tentang hal ini, di mana perempuan itu terkadang dia terpaksa karena takut, dia terpaksa untuk untuk berbohong. Jadi kisahkan ada seorang wanita yang dia bertanya kepada Syekh tentang pengalamannya belasan tahun lamanya. Jadi ada kejadian yang terjadi. Kalau dia ingat kejadian tersebut, maka dia merasa sangat bersalah, dia merasa sangat menderita dengan kesalahan yang telah ia lakukan. Bahkan dia berpikir, apakah Allah akan menerima tobatnya terhadap kesalahan yang telah dilakukan? Dia pernah melakukan sebuah dosa. Apa itu? Jadi wanitanya ketika menikah seorang laki-laki, ternyata dia tinggal bersama dengan mertuanya, mertua perempuan. Dia tinggal bersama. Tentu tahu tinggal sama mertua kalau tidak punya kecerdasan, kepandaian, saling mengerti, memahami, maka justru bisa menjadi huru-hara dalam sebuah kehidupan rumah tangga.

Jadi intinya di situ, suaminya dia tahu orangnya kasar, orangnya emosional, dan begitu membackup orang tuanya. Asalnya bagus, akhirnya tentu memberikan sama-sama karakter. Adapun mertuanya ini suka memarahinya dan suka menyalahkannya dalam berbagai macam persoalan, kecil, besar, pokoknya yang salah istri kan. Perempuan sebagai perempuan, semuanya benar. Tapi kalau sudah ketemu mertua sama menantu, maka yang salah itu adalah ini karakter mertua yang buruk, kemudian akhirnya ya perempuan tersebut ya sering disalah-salahkan dalam berbagai macam keadaan dan persoalan. Baik masalah kecil maupun masalah besar, masalah remeh, masalah sederhana, ecek-ecek, tapi ternyata semua disalahkan oleh mertuanya.

Intinya, mertuanya dianggap ya, bukan menurut saya yang yang baik, menurut saya yang galak terhadap menantu. Maka suatu hari, ya, suatu hari kan karakternya gitu. Maka suatu hari, bahkan dikatakan itu beliau mengatakan, bahkan mamanya ini pelit juga. Ini mertuanya ini, semua dihitung, berapa pemasukan, berapa pengeluaran. Ada karisma, berapa yang masuk, berapa keluar. Itu tidak lepas dari pantauan daripada ya ibunya. Nah, suatu hari ia diminta untuk belanja di pasar. Belanja di pasar sampai akhirnya perempuan tersebut, karena dia demen banget dengan, suka sekali makan ayam. Suka makan ayam. Tetapi itu tidak masuk dalam perhitungan itu. Maka akhirnya, karena dia takut juga punya keinginan, tidak mampu dia ungkapkan karena khatimah. Tapi karena saking lihat ayam, pengen sekali makan, kakinya dibeli ayam dulu. Lama sekali dibeli ayam yang memang hidup. Ayam kan disembunyikan di pakaiannya. Ternyata disembunyikan pada tempat, mungkin tidak berpengalaman menyembunyikan ayam. Akhirnya ayamnya mati. Ditaruh di balik kerudungnya, jalan dan kelihatan kakinya. Di tengah jalan mati ayamnya. Maka dia kekar-ketir, ketakutan. Sampai akhirnya dia segera masuk ke dapur, kemudian menyembelih ayam yang sebenarnya sudah jadi bangkai, sudah mati. Kemudian di ya ditaruh katanya, ditaruh bumbu macam-macam, diberikan bumbu rempah-rempah supaya mengurangi seandainya potensi bau. Maka kemudian lalu dia masak. Dia setelah masak, dia mengatakan kepada ibu mertuanya, bahwa hari ini makanan spesial buat ibu. Jadi tidak ada yang makan kuahnya, tidak ada makan ayamnya kecuali ibu. Akhirnya ibunya itu, nanti jadi ibunya makan dari bangkai ini, makan ini, makanya itu bangkai. Hanya dia makan anaknya tidak khusus spesial katanya untuk ibunya. Nah, ketika kejadian tersebut, kemudian dia sangat apa, dia sangat menyesal. Tapi tidak berani untuk menyampaikan, mengungkapkan, karena bahaya juga yang menyampaikan. Dia bertanya, apakah ada tobatnya? Tentu ada tobat. Selamat hari belum terbit dari sebelah barat, kata beliau. Maka kata beliau, ada selalu tobat yang Allah berikan kepada ya hamba-hambanya. Sebagaimana firman Allah dan juga hadis-hadis Rasulullah, ya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tapi intinya apa? Ini bisa menjadi marabahaya juga, karena asal rumah tangga itu ada keterbukaan, keterusteran, dan keterbukaan. Yang kita hanya tertutup hanya masalah perasaan saja, kan gitu kan? Masalah perasaan saja. Kalau cinta belum tumbuh, sebagaimana kita sampaikan, terkadang lebih baik pembagian dusta daripada menyakiti fakta. Tapi secara asal, bahwasanya ada hal-hal itu berkata hak, harus terbuka, mesti disampaikan. Karena kebanyakan dari interaksi adalah komunikasi, ada keterbukaan, dan keterserahan, agar bisa lebih memahami karakter dari pasangan kita.

Jadi bahaya yang pertama ini, bahaya kalau efek buruk yang ditimbulkan ketika suami itu suka marah sama istri. Juga sama sebaliknya. Banyak suami itu dia di mana lagi, di mana sekarang? Di warkop. Tapi karena dia pasti tahu, pasti mereka tinggal tidak pulang. Kita mendapatkan seringnya lagi duduk di mana posisi, ya, sekitar masalah di mana posisi, lagi di toko, sementara dia lagi sementara di warkop. Pada perkara-perkara yang mubah sebenarnya, terkadang istri itu marah pada perkara-perkara yang yang mubah. Dia punya kucing, umpamanya. Dia minta suaminya mengerti untuk pelihara kucing, umpamanya. Kan? Tetapi ada hobi-hobi suami, asalnya halal, mubah, kemudian dia bersikap keras dan komplain dengan hal-hal yang seperti. Nah, ketika istri atau suami suka marah, padahal yang kecil saja dia gampang marah, maka yang terjadi apa? Istri akan terlatih dan terbiasa untuk untuk berbohong. Terutama ya, banyak sekali hubungan kebohongan laki-laki ketika mendapatkan istrinya suka marah-marah. Ketika dia tergabung, walaupun pada ikatan suami, takut istri, ya, atau suami, semua milik istri. Nah, ini tentu akan terjatuh pada perkara-perkara yang yang berbahaya.

Kemudian beliau menjelaskan tentang al-buqur, itu ya, tentang bahaya dari kikir.

[Musik]

Yah, uzau. Sekarang tentang bahaya kalau suaminya pelit, suami kikir. Nah, ketika ada seorang suami, dia kikir, dia pelit kepada istrinya, dan itu betul-betul menjadi karakter seorang suami, maka berarti dia telah mengantarkan keluarganya pada badai yang besar. Wanita itu dia cenderung dengan harta, dia cenderung untuk bagaimana ya, suami bisa mencukupi kebutuhannya. Nah, ketika dia tidak tercukupi, di situlah berbahaya. Sebagaimana yang sering kita dapatkan, ya, ada perempuan akhirnya pinjol. Kan? Kenapa pinjaman online? Ada perempuan akhirnya dia bahkan menggadaikan kehormatannya. Kenapa? Ketika dia tidak mendapatkan harta, dia lihat anak-anak yang kelaparan, ya, kan? Maka timbul rasa ibanya. Akhirnya dia mencuri di supermarket, dia mengambil, dia melakukan tindakan-tindakan kriminal, pencurian, dan lain sebagainya, karena tidak terpenuhi dari kebutuhannya.

Maka kita ingatkan kepada suami, ketika kita menikah, maka di situ terbuka ladang kebaikan yang begitu besar. Di antaranya dan kebaikan ketika memberikan nafkah kepada pasangan hidup kita. Kalau jomblo, dia berikan infak, ya, tentu ada pahalanya. Tetapi ternyata kalau sudah menikah, ladang-ladang pahala dari sisi harta itu begitu besar. Karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 95, memberikan perbandingan dari pengeluaran suami. Jadi, ketika seorang laki-laki mengeluarkan hartanya untuk jalan Allah, mengeluarkan hartanya untuk membebaskan budak, membebaskan, mengeluarkan hartanya untuk membantu orang miskin, mengeluarkan hartanya sedinar untuk memenuhi kebutuhan wajib keluarganya, ternyata Nabi mengatakan, "Alladzi a'la halik." Ternyata yang paling besar pahalanya adalah satu dinar yang engkau belanjakan untuk kebutuhan anggota keluargamu. Bahkan dalam Bukhari nomor 56 dikatakan, "Hatta... hatam matador fi ibratik." Hitungan nilai sedekah itu dari harta yang kita belanjakan, sampai dihitung nilai sedekah. Apa yang kamu masukkan ke dalam mulut istrimu? Jadi sesuatu makanan masuk di perut istri kita, dan anak-anak kita, ternyata mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sayangnya, banyak laki-laki yang royal dengan perempuan yang tidak halal. Teman kantornya, menampakkan dirinya, apa keren, orangnya bukan kering, dermawan. Tapi ternyata sangat kikir terhadap istrinya. Kata yang menikahi, di antara karakter dan Nabi kan iwas itu suka. Beliau suruh puasa nafaqah beliau terhadap istri beliau. Ketika memiliki kemampuan, maka beliau kadang melapangkan dari dari keluarga mereka. Jadi ini kita katakan kepada seorang suami, bekerja keraslah, kemudian menyenangkan istri, enggak mengapa, selama itu masih dalam batas-batas kewajaran. Dan jangan sampai dia menjadi seorang laki-laki yang EE yang kikir. Makanya kan kita mendapatkan ya, mendapatkan kisah tentang Abu Sufyan. Ketika itu istrinya mengadu kepadanya karena alasan apa? Dia itu kasih duit, kasih harta, tapi layak ini ada uang diberikan, tetapi secara standar memang tidak cukup. Ada kan sebenarnya banyak Anda cukup juga bagi perempuan tertentu, ya, tapi secara urut masyarakat, secara kebutuhan hitungannya tidak sampai. Diberikan belanja yang tidak cukup untuk diri dan anak-anaknya. Maka kemudian bisa mencukupi kebutuhanmu dan juga kepada anak-anakmu.

Nah, sekarang kita mendapatkan ada kasus, masuk ya, suami memberikan harta 100.000 kepada istrinya untuk satu pekan. Itu kalau dikasih satu bulan itu tidak habis. Ada bahkan kasus, diberikan 100.000 untuk sepekan, dan bahkan diminta kembali. Kalau tidak cukup, usahakan sendiri. Kalau tidak, kalau ditanya, ada enggak kembalinya? Terkadang ada juga orang-orang yang tipenya ya seperti itu, yang yang saya karakternya dia malas, kemudian tidak bertanggung jawab terhadap anggota keluarganya. Dan ada juga orang yang secara ekonomi dia mampu, akan tetapi dia sangat kikir dan perih kepada istrinya. Berbahaya. Istri bisa tergoda sama laki-laki lain karena kebutuhan terhadap terhadap harta. Karena kan iman itu kan kita katakan itu dia keterangan nenek turun, dan terkadang kita berupa untuk menjaga orang-orang agar imannya terjaga, kan gitu kan? Makanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ketika orang-orang yang berbuat Islam, diberikan macam-macam, diberikan kambing kepada mereka karena mereka baru masuk Islam, yang perlu dijaga mereka. Kalau mereka karena goncang keimanan, kayak sekarang ada orang baru hijrah, maka perlu di-backup juga kadang-kadang kalau tidak apa, menghadapi pekerjaan mereka, akhirnya kembali lagi. Yang mau tidak mau, karena mereka adalah berada pada ya proses. Begitu pula terhadap keluarga, keluarga kita. Maka cara untuk mencegahnya, di antaranya sebagai laki-laki yang bertanggung jawab untuk memenuhi dari kebutuhan keluarga kita secara baik, dan jangan sampai menjadi laki-laki yang kikir.

Kesimpulannya itu disampaikan oleh Syekh di sini. Jadi, ada dua virus yang disebutkan oleh penulis yang perlu diwaspadai dan dihindari oleh seorang pemimpin keluarga. Yang pertama, jangan menjadi orang yang kasar. Dan yang kedua, jangan menjadi orang. Beliau mengatakan bahwa kebahagiaan atau keharmonisan rumah tangga tidak bakal terwujud dengan cara kekerasan dan sikap otoriter. Mengatakan bahwasanya seperti laki-laki menganggap bahwa dia seorang raja, sementara istri itu seperti prajurit kecil, hah, yang bisa diperlakukan ya seenaknya. Maka ini hal yang wajib untuk dihindari. Yang kedua adalah sikap bakhil, pelit, atau kikir, karena ini akan bisa membuka dari beragam pintu-pintu eh keburukan.

Jadi yang perlu kita hindari sebagai pemimpin, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan kekuatan untuk bisa bertanggung jawab menjalankan amanah secara baik sebagai seorang pemimpin di dalam bahtera rumah tangga. Barakallah fiikum. Wassalamualaikum. Amin, amin. Syukron, Ustadz. Dua virus yang sangat berbahaya yang para pemimpin, para juga yang apa, perlu diwaspadai. Syukron, para pemirsa yang dimuliakan oleh Allah. Kita masuk pada sesi diskusi tanya jawab ya bersama Ustadz. Bagi para pemirsa yang menyaksikan melalui YouTube, silahkan mengirimkan pertanyaannya melalui kolom komentar. Insya Allah admin akan meneruskannya untuk kita jawab bersama dengan Ustadz. Atau dapat mengirimkan pertanyaannya melalui ya WhatsApp juga. Beberapa sudah ada yang masuk, Masya Allah.

Di YouTube ini ada dari kolom komentar Supardi Toyibah dari Gorontalo. Izin bertanya, Ustadz. Nasehatnya tentang fase-fase pernikahan. Alhamdulillah, pernikahan kami sudah tahun kelima. Nasehatnya agar rumah tangga rasanya seperti dahulu di saat bulan-bulan pertama menikah.

Ini sejatinya, ketika pasangan suami istri mampu menjalankan pernikahan secara baik, maka rasa cinta itu dan cinta kasih akan semakin bertambah. Kenapa? Karena dia bersama dengan orang-orang yang paling berjasa dalam kehidupannya. Ada orang punya sahabat banyak, ada sahabat bahkan sampai SD, sampai kuliah, bahkan sampai mati. Kenapa Anda akur dan senantiasa bersahabat? Karena dia merasa dia telah banyak berjasa dalam kehidupannya. Begitu banyak momen-momen kenangan yang tak bisa terlupakan. Maka kenapa bisa begitu setia terhadap temannya, terhadap sahabatnya? Nah, begitulah seharusnya dengan pasangan hidup kita. Maka yang paling penting tentunya, yang sering kita jelaskan, agar bisa menjaga bunga keharmonisan senantiasa merekah dan menyebarkan wanginya dalam taman hati pasangan suami istri. Dua kekuatan yang perlu dijaga. Yang pertama, energi spiritualnya. Banyak beribadah kepada Allah. Jadikan pasangan sebagai sarana fasilitas untuk semakin dekat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ini ngaji bareng, untuk semakin paham tentang hak-hak pasangan kita. Kemudian yang kedua, tentu dari sisi energi cinta yang diterjemahkan dalam untuk memperlakukan pasangan secara baik. Hadirkan pada diri kita, kalau kita baik-baik sama pasangan kita, itu ada pahalanya. Itu menjalankan perintah Allah, "Wa 'ashiruhunna bil ma'ruf." (An-Nisa: 19). Perlakukanlah pasangan kalian dengan cara-cara yang baik. Ini sebagai bentuk mencontoh Baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berbuat baik kepada istri kita. Ada kekurangannya, ada bongkahan-bongkahan kelemahannya, tetapi kita bisa tepis itu semuanya. Karena mengatakan dia adalah teman hidup saya. Wanita ini adalah wanita yang telah mengorbankan begitu banyak hal. Dia tinggalkan keluarganya, saya datang dalam kondisi ekonomi yang begitu sempit, tapi dialah yang menerima. Ketika begitu banyak ya perempuan menolak aku, ternyata dia yang yang menerima. Dan begitu pula sebaliknya. Maka di situlah pentingnya yang namanya memperlakukan pasangan yang baik. Yang semua dimulai dengan menambah ilmu. Jadi semakin lama kita perlu belajarnya. Karena namanya orang itu akan teringat kalau sering didengar. Ada orang tahu akhlak Islam, mengatakan akhlak. Tetapi kalau tidak mendengarkan kajian tentang akhlak, dia kadang lupa. Begitu pula berkenaan tentang hal ini. Jadi intinya, membangun rumah tangga agar bisa tetap ya awet, langgeng. Kata ulama kita, dibangun di atas tiga perkara. Yang pertama adalah attaqrim, menghargai, menghormati pasangan kita. Yang kedua adalah al-mahabbah, ya, cinta kasih. Yang ketiga adalah hukm, memenuhi hak. Ada cinta, ada kasih, dihargai, dihormati, tapi hak tidak terpenuhi. Baik hak dari sisi hak amaliah, hukum maliyah, harta, atau lain sebagainya. Karena perempuan kan ada haknya. Di hak untuk dicintai, disayangi. Saya ini tentang apa, psikisnya, kan? Ada hak dari sisi materi. Maka suami berjuang ya dan bergumul dan kerasnya kehidupan untuk menafkahi ya pasangan. Dan bagi istri berupaya untuk menjadi sosok yang terbaik untuk pasangan. Itu butuhkan yang namanya ilmu, butuh yang namanya ilmu, dan kemudian dipraktekkan secara secara baik. Karena banyak orang itu kan, dia bisa kuat karena memang di-training terus. Ada orang berdakwah, dicaci maki, dicela, nggak ada masalah. Pas ditanya, ternyata memang trainingnya itu. Kalau berdakwah, nanti Anda akan dikatakan, Anda akan dihina. Maka tetap tersenyum dia, tetap bersabar. Dan ternyata mereka mampu melakukannya. Kenapa? Karena itu yang memang diajarkan, itu yang memang dibiasakan. Begitu pula seorang istri agar awet rumah tangganya, maka hormati suami. Karena namanya suami itu, bagaimanapun juga, meskipun perempuan lebih banyak hartamu, ya, lebih tinggi nasabmu, lebih tinggi tingkat pendidikanmu, tapi saya ini bagaimanapun juga, saya suami, minta saya kepala keluarga, saya pemimpin, saya ingin dihormati dan dihargai. Jadi untuk istri, eh, menghargai suaminya. Kesimpulannya, muliakan istri, hormati suami.

Sedikit kami tangkap, seakan-akan pasangan itu seperti cermin. Dari YouTube, ya. Mas YouTube dari saudari ini. Afwan, bertanya, kalau menikah lebih aman dan lebih nyaman, maka bagaimana jika sebaliknya? Begitu menikah terasa tidak nyaman dari sikap suaminya dan juga membuat kondisi istri berantakan dan karakternya berubah.

Pertama, hadirkan pada diri kita. Seharusnya setelah kita menikah, inilah kesempatan untuk kita mengejar surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena suami kita adalah surga dan neraka kita. Karena sebesar apapun tingkat pendidikan seorang wanita, sebanyak apapun aset hartanya, maka prestasi tertinggi adalah ketika sukses menjadi istri yang sholehah dan menjadi seorang ibu yang hebat. Makanya harus diprogreskan dengan progres. Bagaimana cara saya untuk menjadi istri yang baik? Dan ingat, al-hubbus, kata para ulama kita sebutkan, bahwa cinta itu perlu diusahakan. Karena cinta adalah perasaan timbal balik, nilai perasaan yang saling berbalas. Karena suamimu itu tidak akan bisa mencintaimu sampai dia juga bisa merasakan getaran cintamu, merasakan ketulusan cinta.

Jadi, untuk mendapatkan suami, oh, kodong, suami saya lagi sementara seperti ini. Jadikan proyek ini. Karena perempuan kalau sudah nikah, tentang suami saya galak, suami saya begini, jadikan dia sebagai proyek. Mudah-mudahan di tangan, mudah-mudahan dengan dakwah saya, dengan sikap saya, maka suami saya akan berubah. Jangan tanpa menjadi kisruh. Ke suami tidak tersenyum, dia juga akhirnya juga tidak ya, tidak tersenyum ya, karena bagi, karena yang namanya itu dingin, bahaya juga. Karena dingin tak selamanya tentang suhu atau cuaca, tapi juga tentang sikapmu terhadapku, kan gitu kan? Panas juga berbahaya, karena makanya perempuan itu harus cerdas. Ketika dia menikah, ternyata suaminya masih jauh dari apa yang diharapkan, maka belajar berjuang. Bagaimana kira-kira saya bisa mendapatkan ridho, mendapatkan suami saya? Bagaimana saya berubah? Nah, kalau agamanya bermasalah, kita doakan. Kita doakan suami agar mendapat hidayah. Kita pikirkan, bagaimana suami saya tersentuh dengan dakwah? Bagaimana agar dia bisa berjalan dengan orang-orang yang yang saleh? Adapun tugas saya, bagaimana saya menyambut suami dengan cara yang baik, kan gitu kan? Semakin mengurangi konflik. Tapi ketika suami datang, dia juga menambah. Ini bermasalah. Jadi, ketika suami datang, diberikan sambutan yang baik, dia tersenyum dengan suaminya, kemudian dia berhias dengan suaminya, bertutur kata dengan yang baik. Ini kan ikhtiar, bukan kepastian, tapi dia bagian dari ikhtiar mengusahakan agar kondisi lebih lebih baik. Maka ibu tadi ya, kadang harus seperti itu.

Umar bin Khattab kedua seperti itu. Ketika saya mengatakan, bersumpah kamu cinta sama satu, tidak? Maka perempuan karena disuruh bersumpah, dia mengatakan, demi Allah, kami tidak menyukaimu. Umar bin Khattab datang dan mengatakan, kalau suami kalian meminta, kalian jangan terus terang. Ini kita katakan, ini yang boleh ditutupi. Kalau sebentar kita belum suka, sebenarnya ya, sama tetangga lah, kalau bapak pakai bahasa hati, ingin sekali saya jadikan ayam geprek, umpamanya, kan? Ingin sekali saya balas dia. Tapi karena ada masalah yang ingin lebih capai suami saya, ingin berubah, maka jangan susah kita hati. Yang dilakukan berdoa kepada Allah. Ini kadang kurang perempuan lakukan. Berdoa, berdoa kepada Allah untuk bagaimana bisa memberikan hidayah kepada suami, ya, bagaimana agar suami bisa mendapatkan ya banyak kebaikan, bisa dikirimin orang-orang yang yang saleh, disier tentang kebaikan-kebaikan. Tapi tapi harus juga di-share. Jangan langsung kena, langsung suaminya lagi marah. Ini saya kirim ini, karena cocok sekali sama kita. Jadi ada strategi bagaimana men-share kebaikan-kebaikan, dan kemudian juga melihat suami secara baik. Karena kalau suami itu sudah lebih lebih enteng ya, dia, maka dia, maka dia makanya terpenuhi, dia makan dengan lahap, kun istirahatnya tenang, kemudian kita cari waktu untuk berbicara, maka akan tentu lebih lebih enak, lebih nyaman. Komunikasi akan bisa lebih baik, meskipun mungkin perasaan kita lagi tidak nyaman. Begitu emang dakwahnya begitu. Ada nyaman, tidak nyaman. Ada kita bicara orang keras, kasar, ternyata dia kasar. Kita masih bicara lemah, lemah lembut, padahal sebenarnya ini ada perasaan tidak nyaman. Iya, sudah panas, sudah jengkel, tapi itulah adab. Yang namanya Adam Qorib, dikatakan itu ihsan. Kita berpikir, apa kebaikan yang kita berikan kepada pasangan kita? Kapol ada, dan bagaimana mencegah diri kita untuk tidak menyakiti pasangan. Jadi itu yang perlu dilakukan. Dan saya sarankan ya, saudari, untuk banyak belajar ya, tentang bagaimana kiat untuk merengkuh cinta pasangan kita dalam bingkai ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tentang hal ini, pernikahan adalah medan perjuangan. Jadi jangan cepat menyerah ya, dalam perjuangan. Masya Allah.

Kita lanjut, masih dari YouTube. Pusat dari Supardi Toyibah lagi, Gorontalo. Bagaimana caranya saya seorang suami meminta agar istrinya terbuka dengan suami, tapi si suami takut nanti akan marah ketika mendengar kejujuran seseorang istri, karena suaminya ini cepat tersinggung. Sang suami takut dengan kejujuran istri, khawatir jujurnya tapi malah menambah sakit.

Kan ada hal-hal yang perlu disampaikan, kan? Makanya, ketika ada seorang, ada seorang saraf kita yang dikatakan, dia hampir tidak pernah bertengkar dalam kehidupan rumah tangganya. Ternyata kuncinya di samping kekuatan ibadah yang besar, sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena takut itu akan membuat keberkahan akan hadir dan bisa menyelesaikan begitu banyak persoalan terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Nah, di samping ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, giatnya ibadah mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ternyata keterbukaan. Bahkan dikatakan, ketika dia menikah, ditanya, "Tolong sampaikan kepada saya, apa hal-hal yang tidak kamu sukai, agar saya bisa pelajari, bisa saya hindari? Dan apa hal-hal yang kamu kamu sukai?" Itu pun disampaikan. Nantikan tinggal suami tinggal melihat, mana yang akan ada perempuan suka, tapi terlalu agama. Saya maunya keluar jalan-jalan tanpa ditemani. Saya mau macam-macam lah, kan gitu. Jadi tinggal di-list. Oh, ternyata ini adalah hal yang disukai oleh istri saya. Ini yang tidak dia tidak dia sukai. Jadi kita akan melihat, ah, selama tidak terlarang, ini karakter istri saya, nggak suka dia begini kan. Ini ada hal yang paling dia tidak suka. Selama itu bukan melanggar agama, maka kita hindari. Tujuannya apa? Agar bisa mendapatkan ya kasih saya dan cinta dari pasangan kita. Ya, kita tahu, oh, ini yang disukai. Berpikir istri dia, jadi saya suka begini, untuk makanan, dia suka begini, untuk penampilan, dia suka seperti ini, untuk penyikapan, dia suka seperti ini, kan lebih bagus. Terbuka. Kadang-kadang ada itu kita inginkan niatnya baik, niatnya baik, tetapi karena tidak tahu bagaimana karakter ya pasangan kita, pasangan kita nggak terbuka, sehingga terkadang kita melakukan sesuatu yang kita kira bagus, tetapi ternyata tidak disukai oleh suami. Mengatakan bagusnya saya bikin surprise. Ternyata pas datang, atau bahkan makanan, tidak tanya-tanya, nggak tahu apa disukai. Ketika bukan makanan menurutnya itu enak, disenangi sama istrinya, ternyata istrinya tidak tidak makan dan tidak menyukai. Jadi penting seperti ini namanya keterbukaan dan keterserahan. Yang bisa tertutup cuma tentang masalah perasaan saja. Nah, ketika dia perasaan negatif belum tumbuh rasa cinta, ada perasaannya memang dia tidak suka pada hal-hal tertentu yang bisa yang dimaklumi, tapi dia tidak bisa, tapi dia tutupi sebagai bentuk kesabaran. Maka itu tidak perlu di sana. Lain kalau disampaikan baik semua. Ya, sampaikan, kamu begini, begini, begini, ya. Ya, itu ndak boleh sebenarnya. Mana hal-hal yang perlu kita terbuka, mana perkara-perkara yang perlu untuk kita ya, ada masalah-masalah. Suami datang, kita suami datang, ada masalah ini. Banyak-banyak banyak keranjang yang ingin saya adukan kepada suamiku berkenan tentang kepadatan di rumah dan juga anak-anak. Tapi dia nggak langsung menyampaikan. Jadi harus mengerti. Ada yang perlu disampaikan, pilih momen yang tepat. Ada bahkan tidak perlu untuk disampaikan. Termasuk suaminya ada kejadian di luar, tiba-tiba dia ketemu dengan apa namanya, bukan mantan, tapi temannya. Memang butuh temannya, teman sekolahnya, disapa biasa. Dia juga jaga pandangannya, juga bicara sekedarnya. Iya, kemudian tidak perlu juga disampaikan. Kalau dia tahu tabiat istrinya belum level yang bisa apa, husnuzannya baik, kan? Nanti pulang sampai ke rumah bilang, tadi saya ketemu dengan ya teman saya dari SMA. Teman mungkin ketika sekolah itu nggak pernah juga berbicara. Cuma akhirnya akhirnya kalau suami merasa di pojokan dan merasa ditiru macam-macam, terjadi pertengkaran. Jadi itu yang dimaksud. Tapi kalau sebuah belanja, artinya ya, bisa juga kalau dia tahu istrinya kikir, apa istrinya itu boros, kan? Maka ada tidak semua perempuan perlu disampaikan berkaitan tentang hal itu. Segera mengertilah yang perlu disampaikan, mana yang tidak perlu untuk disampaikan. Tapi secara asal, dia mesti terbuka dan terus terang. Kadang-kadang tidak bisa cinta pasangan kita kalau kita tidak terbuka. Ya, bagaimana kalau sang suami yang muda emosian? Intinya begini, suami emosi kan kadang dikasih senang suami. Karena namanya laki-laki itu mau dihargai, mau dihormati. Maka tunjukkanlah penghargaan dan penghormatannya. Layani suami secara secara baik. Walaupun modus, ini kan pahala, ini pikirkan, ini bagian dari agama saya. Baik-baik ya. Dia minta dipenuhi kebutuhan biologisnya, kita penuhi secara baik agar pikirannya bisa lebih tenang, ya, syahwatnya bisa lebih terkenal, ya, psikisnya bisa lebih lebih tenang. Kemudian cari waktu yang tepat untuk berbicara. Tapi coba kalau suami sudah dasarnya diam, yang suka marah-marah, kemudian disulut lagi. Musuh Anda mungkin semua laki-laki marah. Terus nggak mungkin kan? Jadi, silakan dipelajari ya, bagaimana caranya step by step untuk bisa mengurangi potensi kemarahan dari ya dari suami kita. Intinya kan agamanya rusak. Intinya kalau masuk rumah tangga, cuma dua intinya. Pertama, bermasalah agamanya, tidak taat beragama. Yang kedua, apa? Akhlaknya buruk. Nah, bagaimana cara memperbaiki agama, akhlaknya? Tentu harus belajar agama, dekat dengan orang-orang saleh. Kalau tidak, yang saya katakan, cuma teori. Semua cuma ya cuma teori, atau mengurangi dampak keburukan saja. Jadi akan masalahnya kembali kepada suami. Maka perlu dinasehati. Kalau tidak, bagaimana caranya agar suami itu bisa bergerak hatinya, terkena dengan dakwah, sehingga ada sedikit demi sedikit atau bahkan lompatannya cepat untuk meninggalkan hal tersebut. Tapi kalau boleh marah, bisa marah, bisa sampaikan ya, seperti itu.

Pertanyaan keenam, masih dalam WhatsApp. Jangan suka ya main game-game. Anda itu laki-laki. Di antara bentuk laki-laki itu adalah "rijalun latul himtijar walaby az zikrillah". Dikatakan laki-laki yang sesungguhnya itu ketika aktivitas jual beli, bisnis. Kalau bisnis ini bisnis saja, jual beli itu tidak boleh membuat orang lalai dari berzikir kepada Allah dan menegakkan salat. Para bisnis kan bisnis. Apalagi cuma game online. Saya mengerti kenapa zaman sekarang itu suami itu suka main, suka main sampai mengabaikan tanggung jawab. Tinggalkan ya.

Saya menjalani hubungan jarak jauh. Kami sering sekali mengirim foto agar mengobati kerinduan. Namun suatu ketika saya tidak mengirim ya mengirim foto untuk dia, lalu dia marah kepada saya dan kemudian mulai curiga. Kami pun yang mulai renggang. Apa solusi dari kasus ini?

Pertama, ada problem persoalan. Maka pertama, kita mengadukan persoalan kesakitan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Berdoa kepada Allah untuk diberikan jalan keluar. Kemudian membangun kembali komunikasi kita. Mulailah. Jadi kalau ada salah, ya kita minta maaf saja sama suami kita, kan? Ya, mohon maaf kepada, mohon maaf ya, kalau Umi atau Mami ya, sudah membuat ya, tapi tidak nyaman. Contohnya ya, mohon maaf, Daeng, saya sudah buat Deng tidak nyaman, merasa tidak enak, dan lain sebagainya. Maka itu perlu disampaikan. Keterangan minta maaf. Insya Allah kalau laki-laki saya baik, kalau istri minta maaf, karena cepat itu rendah. Karena kalau sudah tidak minta maaf, bersekuku juga tentu kan. Orang kalau ada sikap pasangan kita, nggak biasa kan aneh. Semua semua perbuatan pasangan yang tidak seperti biasa, maka tentu ada kejanggalan-kejanggalan. Maka kejanggalan itu, kalau memang karena kita abai, kita lupa, ya, maka perlu segera untuk di untuk diselesaikan supaya tidak terjadi pikiran-pikiran buruk. Gitu kan? Nggak boleh kita suudzon, tapi tidak boleh juga kita buka ruang untuk suudzon. Nabi, seorang nabi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Rasul Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang dihargai oleh para sahabatnya. Nabi lagi jalan sama Sofia. Eh, sahabat lihat, perempuan ini siapa nih? Istrinya kan. Tapi ketika Nabi kayak para sahabat agak kayak kurang-kurang apa, kurang-kurang nyaman, langsung dijelaskan, "Saya istrinya." Coba, Nabi juga ingin menipis ya, dugaan-dugaan yang buruk. Maka begitu pula kita juga. Kita pokoknya itu karena suaminya suudzon. Saya selalu dia sengaja bikin perbuatan yang selalu mau ditafsir. Yang sengaja menggiring persaingannya untuk memahami hal-hal yang buruk. Jadi dihindari itu.

Dari WhatsApp ya, saudari Irma. Apakah dalam syariat Islam wanita dibolehkan menjadi pemimpin? Tidak boleh. Dikatakan tegas dikatakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, An-Nisa ayat 34, bahwasanya laki-laki adalah qawwam. Dia di antara maknanya pemimpin bagi kaum perempuan. Karena kelebihan-kelebihan yang telah Allah berikan kepada mereka. Jadi memang secara person, ada perempuan lebih kuat daripada laki-laki. Tapi karena laki-laki tidak melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami dan tidak maksimalkan potensi yang Allah berikan kepadanya, akalnya harus lebih sempurna, fisiknya lebih lebih kuat, mentalnya harusnya dia lebih lebih baik. Harusnya kan dia lebih kuat. Yang salahnya apanya? Bukan laki-laki yang salah, yang salahnya adalah sifatnya. Saya makanya harus jadi langkah yang kuat lah, kaki amanah laki-laki bertanggung jawab. Karena rugi ketika Allah sudah berikan banyak kelebihan, kemudian tidak dimanfaatkan kelebihan-kelebihan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan ya kepada dirinya. Kalau pemimpinnya itu, makanya Nabi nggak ada di dalam perempuan. Para sahabat di Madinah, tapi tidak pernah dia berpikir mau jadi pemimpin. Kalau pemimpinnya imamahnya kubro, pemimpinnya besar seperti penguasa, itu nggak diperbolehkan. Karena bukan masalah mampu tidak mampu, bukan itu saja. Karena dia ada hamil, dia terkadang lagi lagi haid. Pemimpin itu harus apa pergerakannya itu luas, dia harus ketemu orang di mana-mana. Itu yang hal yang tidak agak berat dilakukan oleh para perempuan. Karena dalam Islam itu, suami istri, laki-laki, perempuan, bukan untuk menang-menangan, bukan untuk musuh-musuhan, tetapi untuk saling kolaborasi, saling membantu. Ada ada ruang tertentu, biarkan anak laki-laki melakukannya. Ada hal tertentu yang menjadi domain dengan perempuan. Jadi seperti itu. Yang ternyata monyet enaknya saja kalau tukang batu kadang mereka tidak mau ya, kalau nggak yang berat-berat mereka tidak tidak mau dan menunggu menuntut ya persamaan dalam berbagai hal. Yang tidak kajian itu sendiri yang berkenaan tentang masalah tidak boleh. Tidak boleh kalau jadi pemimpin negara atau hal-hal yang memiliki wilayah de facto, itu tidak diperbolehkan. Ya, tetapi kalau kayak pimpinan Madrasah, atau pimpinan Rumah Sakit, sebelum mengatakan, atau pimpinan lembaga kemuslimatan, itu tidak mau ngapain. Kalau pemimpin-pemimpin yang seperti itu. Tapi kalau pemimpin bentuk de facto, nah itu tidak diperbolehkan. Allah. Masya Allah. Jazakallah. Pertanyaan terakhir, Ustadz. Walaupun beberapa ini masih ada sebenarnya. Dari saudari Sakinah. Apakah terdapat hadis yang menjelaskan bahwa istri Umar radhiyallahu ta'ala anhu pernah berkata keras di hadapan Umar sehingga Umar terdiam karenanya dan bersabar atas kejadian tersebut?

Karena Umar bin Khattab itu lebih banyak besar dan mendingan tidak seperti kita di luar. Di bawah di rumah tidak. Yang para sahabat tidak seperti itu. Mereka punya wibawa baik di luar ataupun di rumahnya. Ada istri mereka itu punya penghargaan dan penghormatan. Tapi yang namanya pernah marah itu adalah laki-laki. Dia perempuan. Ada tidak nyaman karena diam karena mereka sampaikan. Dan sangat sedikit yang terakhir mereka kasus tentang perempuannya ngomel-ngomel ya. Jadi marah. Ada tapi bukan hanya pribadi yang ngomel-ngomel. Jadi marah. Memungkinkan keluarga itu pasti ada pertengkaran. Itu hal yang ada. Tapi kalau bicara tentang asar yang disebutkan dengan bahwasanya Umar dimarah juga sama ada seorang yang melapor karena apa? Karena istrinya suka marah-marah. Ketika sampai di situ, ternyata Umar juga lagi sementara mereka punya adab. Ketika marah, segala kata-kata yang berpotensi didengar sama tetangga, sama anaknya saja mereka. Ketika bertengkar, ketika ada mereka tidak boleh bertengkar ketika ada anak. Apalagi pertengkaran yang memungkinkan terdengar sama tetangga. Jadi bukan tipes seperti itu. Jadi tapi apalagi asalnya, asalnya ada tapi asalnya sangat lemah. Tidak bisa dijadikan sebagai pegangan. Jadi seperti itu. Tapi kalau dikatakan bersabar ya bersabar. Karena mendidik itu butuh proses. Kalau istri marah, jangan juga cemennya itu suami. Butuh mental yang kuat, ibadah kuat supaya mentalnya kuat dan punya trik cara untuk bagaimana meredam kemarahan istri dan mengubah kemarahannya menjadi senyum, tawa, dan kebahagiaan. Begitu kesempatannya pada malam hari ini membersamai para pemirsa. Dan para pemirsa untuk pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat dijawab, kami memohon maaf. Insya Allah ya, pertanyaannya bisa ditanyakan ulang di pertemuan-pertemuan berikutnya. Sebelum itu, Ustaz. Syukron jazakallah. Ya, para pemirsa lagi Ustaz. Masya Allah. Di akhir acara ya, kita menutup kegiatan konsultasi syariah kita dengan dua ke Fortune majelis. Subhanallah wabihamdika. Ashadu alla ilaha illa anta. Astaghfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

[Musik]