Transcription
Ketika Nabi itu dihunus sama Suraqah, ya. Ya kan, ya Muhammad, siapa bisa menolongmu? Kan ditaruhnya pedang itu, ya. Nah, ketika Rasulullah menjawab, "Allah," yang terjadi, qah itu, ee, apa namanya? Pucat pasi dia, berkeringat dingin, jatuh pedangnya. Nah. Nah, sampai begitu. Karena apa? Sempurna. Rasulullah mengatakan, "Allah itu ya tidak terhenti pada bacaan." Enggak terhenti pada bacaan, tidak terhenti pada sebutan, tapi serta dia begitu. Nah, maka Allah itu esa zat, esa sifat, asma, dan af'al. Artinya, kalau boleh diinikan, Allah itu punya unsur yang empat itu, tapi dia sudah menyatu pada kal, pada lafaz Allah Taala.
Bismillahirrahmanirrahim. Saat sekalian, jemaah yang berhadir pada malam yang berbahagia ini. Mari dengan rasa berbahagia kita mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Taala kepada kita, dan mudah-mudahan dengan senantiasa kita mensyukuri nikmat Allah, Allah akan memenuhi janjinya, dan janji Allah itu pasti. "Kamu bersyukur atas nikmat yang kuberikan, dan maka nikmat itu akan kutambah."
Berselawat kita kepada Rasulullah Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Allahumma alaika ya Rasulullah, alaika ya Rasulullah.
Jemaah yang dimuliakan Allah subhanahu wa taala, sebagai mukadimah. Diskusi kita pada malam hari ini, semua kita sudah mengetahui kalau rukun Islam itu ada lima, rukun iman ada enam. Kalau kita baca-baca di dalam kitab, ada kalimat, ee, yang tertulis di kitab-kitab itu, apalagi kitab Melayu, ee, mengatakan rukun Islam itu lima perkara. Nah, gitu. Pakai kata perkara. Ternyata itu ada maknanya, ada maksudnya. Memang kalau tidak kita pelajari, yang lima-lima perkara itu memang jadi perkara, gitu ya, jadi masalah. Iya kan? Nah, maka dari yang lima itu, syahadat itulah pintu gerbang, ya, untuk kita bisa salat, untuk bisa kita puasa, lalu untuk bisa kita zakat dan haji. Jadi, pintu gerbangnya di situ.
Jadi, kalau seorang muslim atau seorang kafir ketika dia langsung salat, langsung puasa, zakat, haji, itu enggak bisa. Yang harus kita pahami, dia harus bersyahadat dulu. Maka ternyata syahadat itu di urutan nomor satu. Hal yang sangat pokok, hal yang sangat penting. Kalau bagi seorang mualaf, dia menjadi Islam itu, ya, cukup mengucapkan lafaz, "Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah." Sah keislamannya. Yaitu pada tataran syariat. Jadi, ternyata kalau ada syariat, mesti ada hakikat, gitu dia.
Nah, jadi bagi kita yang sudah muslim ini, tidak boleh terhenti pada lafaz, ya. Jadi, kalau bahasa agak-agak enaknya, kalau terhenti pada lafaz, burung beo pun diajari diucapkan, "Asyhadu alla ilaha illallah," bisa, gitu ya kan. Nah, kita ikuti dulu, ya, mukadimah ini.
Jadi, syahadat secara hakikat itu betul-betul kita mengenal yang kita saksikan, ya. Pada lafaz, "Lailahaillallah," mengenal kita Tuhan yang kita saksikan. Maka mengenal itu syaratnya mesti ketemu, itu jumpa, bersua, gitu dia. Jadi, kalau kita mengatakan, "Asyhadu alla ilaha illallah," nah, ke mana kita alamatkan penyaksian itu? Ya, ini pengantar ini kaitannya nanti dengan yang lima itu. Jadi, yang kita saksikan sifat Allah Taala, diri kita itu. Bahkan kalau kita naik satu kerat, dia yang menyaksikan, dia yang disaksikan. Kita enggak ada.
Jadi, inilah kunci masuk pintu gerbang itu. Sudah pahamlah kita syahadat itu penyaksian mesti pada satu tempat, ya. Tidak boleh saksi itu masyarakat akad nikah diberlawan orang kawin di sini, jadi saksinya enggak boleh. Itu mesti dalam satu tempat. Jadi, kalau dalam rangka kita menyaksikan Allah, Allah itu enggak di luar diri, di dalam diri. Saksikanlah itu. Bahkan yang menyaksikan itu pun diri dia juga. Kita enggak ada di situ, ya. Kita tidak ada di situ. Yang menyaksikan dan yang disaksikan itu esa, maksudnya satu.
Nah, kalau dia tidak mengenal yang dia saksikan, maka bisa saja dia itu hanya Islam indanas. Keislamannya di sisi manusia saja. Belum tentu dia Islam indallah. Menyaksikan yang menyaksikan dan dia saksikan itu dia. Kita mana fana, kita enggak ada. Karena perlu kita ingat lagi, wujudi kazambun haram. Kalau kita ini merasa ada, syirik. Jadi, malam hari ini pahamkan betul, kalau kita ini enggak ada, yang ada ini ya kita ini la haula wala quwwata illa billah. Jadi, kalimat "La haula wala quwwata illa billah" itu mampu mematikan sifat ego. La haula wala quwwata illa. Karena memang kita lemah, yang ada ini Dia.
Jadi, yang menyaksikan Dia, yang disaksikan Dia, dan mesti dalam satu tempat. Nah, begitu syarat kalau kita mau bersaksi. Nah, jadi jangan saksi kita termasuk saksi palsu. Artinya, kita mengucap, ya, tapi tak tahu dia yang disaksikannya apa. Tak dialamatkannya saksinya itu ke mana. Tapi kalau menurut saya, ini penyakit yang terbesar, ya, yang tertinggal di tengah-tengah umat ini. Nah, seperti itu.
Jemaah dimuliakan oleh Allah. Sudah paham kita ilmunya. Ketika kita bawa ke dalam salat, itu jualah yang salat, yang menyembah, yang disembah itu Dia juga sifat itu. Nah, ya, yang disaksikan di salat itu kita berhenti dalam pemahaman tentang makrifat, pengenalan itu. Yang salat itu Dia. Mulai berdiri, rukun, sujud, baik rukun fi'li maupun rukun quuli. Nah, ucapan, perbuatan bersumber dari situ. Jadi, itu juga, ya kan, yang disaksikan ketika kita berpuasa, rukun Islam yang ketiga. Nah, itu jugalah yang berpuasa itu, ya. Maknanya begini, kalau selamanya ini kan kita berpuasa, yang kita rasa yang berpuasa itu kita, ya. Kalau bisa puasa tahun ini, insyaallah, ya, kita berpuasa itu berpuasa dengan menyaksikan itu. Nah, nah, di sinilah satu bulan latihan itu. Nah, kita tengok Dia saja di situ. Nah, karena yang berpuasa itu Dia. Ingat lagi balik katanya tadi, penjelasannya sama. Maknanya apa? Yang sama yang dimaksud itu di syahadat, begitu, di salat, gitu, di puasa pun begitu. Jadi, kita melihat itulah amalannya diri itu yang berpuasa. Nah, seperti itu dia, ya. Supaya jangan kita masuk dari golongan kambin saim. Berapa banyak orang yang berpuasa, ya, hanya mendapat haus dan lapar.
Jadi, tugas kita makanya itu di bulan Ramadan ini, sebenar di Ramadan itu sebenarnya kita bukan untuk dituntut, ee, las ke sana kemari. Nah, kita menyaksikan itu saja. Maka coba kita coba, mungkin kita untuk masuk suluk, mungkin banyak masalah waktu dan lain sebagainya. Tolonglah ditawajuhkan, ya, di Ramadan tadi itu yang berpuasa. Makanya dalam hadis sahih itu, hadis qudsi maksud saya, apa kata Rasulullah itu? Rasulullah mengatakan, "As-shoumu li wa ana ajzabi." Puasa itu untuk menuju Aku. Itu kalau terjemahnya dalam versi kita. Kalau umumnya itu, puasa itu untuk Aku, Akulah yang membalasnya. Ya kan? Jadi, kalau kira-kira kalau dibikin pertanyaan, Allah butuh enggak dengan amal kita? Enggak, sebenarnya enggak, enggak ada, enggak butuh. Jadi, maka terjemahnya itu secara tauhid, berapa apa puasa itu untuk menuju Aku? Nanti sampai situ, tengoklah Dia itu, diri itu, ini yang kita puasakan itu. Iya kan? Kalau sudah kau sampai kepadaku, wa ana ajzabi, Aku jadi balasannya, gitu. Nah, jadi puasa itu untuk menuju Allah. Kalau kita sampai betul-betul, ya, 30 hari itu kita berpuasa seperti itu, bersunyi-sunyi. Iya kan? Ya, akal itu jangan jangan menjawab dulu. Dibilang kita puasa, tengok itu aja, ya kan. Akal bercakap, "Mana enggak kerja, bahaya loh, Ustaz," gitu ya kan. Kalaupun bekerja, itu yang bekerja itu yang bekerja, ya, diri batin itu. H. Makanya dengan itulah kita baru bisa, kan, apa namanya, puasa itu kan, ee, menuju, ya, menuju apa? Untuk Idul Fitri kembali. Suci. Berarti sekarang ini kita dalam kondisi apa? Kotor. Kotor. Kalau kita tidak melihat diri kita yang itu, diri kita yang itulah yang bisa menjadi insan kamil itu. Jadi, ketika kita nanti berpuasa, ya, untuk jauh lebih lama beserta Allah. Kalau salat kan berapa rakaat, tarawih aja orang cari 11. Kalau ada tujuh misalnya, ee, tujuh aja, tujuh. Iya kan? Kenapa salat di situ itu kayak sekedar laporan? Nah. Iya kan? Itulah yang kita sediakan hari ini. Kita tidak bisa salat secara kelompok, ya kan. Misalnya kita salat tarawih itu mulai nanti jam 10 sampai mau sahur baru pulang masing-masing sahur, ya. Dan kemudian di salah-salah itu kita terus merasakan itu.
Jadi, yang dipraktikkan di syahadat, di salat, di puasa, itu juga ketika kita zakat fitrah. Nah, ya, diri yang bisa fitrah itu diri yang itu, ya. Ketika kita haji, itu juga makrifat itu juga yang kita pakai. Bahkan di luar kalau ada rukun Islam itu, mungkin sampai 200, 200 sampai tak terbatas, memang itu yang kita saksikan, ya. Jadi, untuk sampai kepada tingkat itu, maka diawali dengan mematikan diri dahulu. Bagaimana inti mematikan diri itu? Ya, kembali kepada rumus, "La qodirun, wala muridun, wala alimun, wala hayyun, la sami'un, wala basirun, wala mutakallimun." Kita lemah, tak berkehendak, bodoh, mati, pekak, buta, bisu. Kita enggak ada. Yang ada ini Dia, zahir dan batin. Nah, itu dia, ini keberadaan Dia zahir dan batin. Makanya jangan lagi mencari Tuhan jauh-jauh. Makanya sangat bertentangan teori ini, ya, ketika kita sundingkan dengan cerita Isra Mikraj yang punya pakai visualisasi. Masa mau jumpa Allah? Rasulullah dari Masjidil Haram naik ke Masjidil, terus ke Masjidil Aqsa, naik katanya ke Sidratul Muntaha, berarti Allah jauh dong, ya kan? Ternyata keseluruhannya, mana Masjidil Haram di diri, Qubul Mukminin Baitullah, mana Sidratul Muntaha juga di dalam diri. Nah, kesadaran kita kepada Allah itu tadi, tidak merasa kita enggak ada. Latihlah ini, kawan, di Ramadan nanti. "Kalau aku tak ada, yang ada Kau, ya Allah." Nah, seperti itu. Kalau kita belum sempurna memahami mematikan diri, sebelum mati 0,1% aja kita merasa ada, maka apa? Seperti dikatakan Allah, "Kalau kau ada, Aku tiada." Nah, jadi jangan lagi memang itu tadi. Maka teori-teori kajian kita yang lalu-lalu itu memang kita tidak, apa namanya, tidak bisa melihat Allah karena terjebak bentuk dan lupa, ya. Karena kita merasa inilah diri kita, kan begitu.
Nah, jadi jemaah dimuliakan oleh Allah. Kudrat itu adalah di kaki, iradat adalah di hati, ilmu di kepala, ayat turun naik napas, alamatnya ada di diri, kan. Mendengar, melihat, berkata-kata. Maka zahir dan batin, nah, yang ada di diri ini adalah Allah Taala. Nah, jadi dengan memahami rukun Islam itu tadi, ya, kawan-kawan saya sampaikan malam hari ini, mau menjelaskan apapun, ya, maka jangan tinggalkan teorinya itu. Gitu dia, Pak Khyar. Bagaimana Pak Khyar menjazamkan melihat sifat itu, kalau bisa itu menjadi diri kita? Ya, apapun yang mau kita bahas, insyaallah berangkat dari situ, menjelaskan apa kita kira-kira. Nah, seperti itu dia, ya. Karena itulah dasar yang pokok yang harus kita iniin. Tapi kalau dapat tidak terhenti dari pemahaman, tapi sudah sampai kepada rasa, bisa kita rasakan. Nah, seperti itu dia, ya. Merasakan kudrat, iradat, karena memang itu dinampakkan Allah. Itulah cara Allah, "Kuntu kanzan makhfiyan," Aku ini adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal. Bisa kita mengenal Allah? Bisa, gak? Bisa. Kenapa enggak bisa? Orang kita enggak ada. Yang ada ini siapa? Coba harus berani dong. Berani dalam pengertian ditinjau dari pemahaman ilmu ini, gitu dia. Yang ada ini Dia, itu harus dijazamkan, itu putuskan iktikad keyakinan yang bulat, ya kan. Yang ada ini Kau, ya Allah. Ingat itu, "Wujudi kazambun." Kalau kau merasa kau berwujud, kau ada, zambun. Dosa, dosa besar, dos syirik. Allahuakbar, astagfirullah. Allah tak mengampuni dosa syirik itu. Hati-hati, kawan, kaji sudah sampai. Jadi, kita enggak ada, yang ada. Tapi jangan dipahami dari sisi lain, menurut kehendak kaji itu. Iya kan? "La maujudu illallah." Yang ada itu hanya Allah.
Nah, supaya jelas keberadaan Allah Taala itu, ya, muncul pertanyaan, sifat-sifat itu sudah bergabung atau dengan empat unsur ini sudah bergabung? Zat Allah enggak bisa kita bahas, kalam. Sifat, sifat ini inilah nama, sifat inilah perbuatan, misalnya kudrat, kuasa, ya kan, dia berbuat, kan bisa jadi perbuatan, kuasa, kan perbuatan itu bisa jadi lama, kan sedang rukuk, sedang sujud. Nah, di sinilah kita lebih meyakinkan kalau empat Allah yang mau diakan, zat, sifat, asma, dan af'al. Ya. Nah, seperti itu. Kalau sudah paham ini berempat ini, zat, sifat, asma, tak terpisah, maka simpul dari sini inilah menjadi lafaz Al. Maksudnya begini, kalau kita mengatakan Allah, serta ini, ini mendapatkan paham saja, ya. Kalau kita mengatakan Allah, Allah zikir, misalnya seperti itu, itu sudah serta yang empat itu. Nah, zat, sifat, asma, dan af'al.
Jadi, baru kita seperti siapa, ya, ketika Nabi itu dihunus sama Suraqah, ya. Ya kan, ya Muhammad, siapa bisa menolongmu? Kan ditaruhnya pedang itu, ya. Nah, ketika Rasulullah menjawab, "Allah," yang terjadi, qah itu, ee, apa namanya? Pucat pasi dia, berkeringat dingin, jatuh pedangnya. Nah. Nah, sampai begitu. Karena apa? Sempurna. Rasulullah mengatakan, "Allah itu ya tidak terhenti pada bacaan." Enggak terhenti pada bacaan, tidak terhenti pada sebutan, tapi serta dia begitu. Nah, maka Allah itu esa zat, esa sifat, asma, dan af'al. Artinya, kalau boleh diinikan, Allah itu punya unsur yang empat itu, tapi dia sudah menyatu pada kal, pada lafaz Allah Taala.
Nah, jadi kawan-kawan sekalian, ya, dalam rangka kita menuju Ramadan ini, ya, dihidupkanlah itu, ya, insyaallah, diuruslah itu, di Ramadan, diurus itu. Itulah syariat Allah itu. Jangan keluar dari syariat Allah itu. Iya kan? Nah, lihat itu. Itu itu itu yang dipuasakan tahunnya. Bukan berarti harus juga kita semua di gua kerja-kerja, tapi tetap memakai itu. Dan saya ingin mengatakan, berhenti kita mengatakan diri kita yang ini. Kalau sudah kita merasa tak ada, yang ada Allah, tarik kudrat. C makrifatkan main. Kita sudah tahu tempatnya, kan, alamatnya ditubuhkan. Nah, kalaupun misalnya kita mau memberikan energi, ya kan, kita tengok kawan kita semangatnya lemah, gitu ya kan. Nah, tapi tu tak usah palah dibilang sama dia, "Sini kau, biar ku transfer dulu kudrat itu," gitu. Jangan. Iya kan? Terakhir katanya apa? "Ayo lagakah kudrat kita, yuk," kata dia kan. Tapi paham kan menarik kudrat itu. Nah, ini kubongkar aja, Pak B ini kan pedagang. Tarik kudrat, iradat, semua makhluk Allah itu sesuai dengan porsi kita, gitu. Nah, kenapa sudah diri kita yang itu? Kalau itu diri kita, kan saya pernah bilang, pantaslah orang kafir itu menyuruh Nabi jangan berdakwah terang-terangan. Kau boleh hanya berdoa sem-sembunyi-sembunyi. Apa yang ditakutkan orang itu sama Nabi? Yang kita tahu Nabi itu pengasih, kan, sayang. Bukan ditakutkan atau sosok Nabi, isi dakwah Nabi itu yang tauhid itulah ditakutkan orang itu. Nah, seperti itu. Ditambah memang mereka banyak yang pintar. Ditambah juga mereka itu memang, apa namanya, sudah punya Tuhan terlebih dahulu. Makanya kalau kita mengajarkan ini di mukadimah di awal pengajian kita, kan, enggak mengislamkan orang. Iya, enggak? Iya. Ya, seperti itu. Makanya besar pahalanya mengajikan kita ini nanti, siapapun yang kita ajari. Ya, coba bayangkan tawaran orang kafir Quraisy, emas, jabatan, perempuan, enggak laku, enggak mau Nabi. Jadi artinya apa? Itu bukan has murah. Nah, jadi sudah dapatlah amalan, ya. Cuma jangan pula besok dibilang, "Pakar, tarung kita dulu yuk, coba," gitu. Pakar bangun jam 12.00, aku jam 12.00 di dunia sajadah, tarik kudrat, terasa enggak gitu. Nah, ilmu yang seperti ini itulah yang ditakutkan. Karena ilmu tauhid ini adalah ilmu semula jadi. Iya kan? Nah, cuma jangan kita mencari ilmu hikmahnya, ya kan. Tapi ilmu tarekat, ilmu tauhid yang menyampaikan kita kepada Al itu yang mau kita cari. Kalau untuk mencari karamahnya, tergantung makrifat keyakinan. Kalau Allah itu nyata pada diri, iya kan, kita enggak ada, yang nyata Dia, gitu.
Kira-kira kalau misalnya kita bercakap itu, kan, kalimat cakap kita itu duduk di makam itu, itu bukan balasannya amin, tapi balasannya adalah kunyakun. Maka hati-hati, pakar bercakap sama anak, sama cucu, sama keluarga. Awak duduk dikaji itu sudah merasa kudrat Dia, iradat Dia. Sudah diamalkan 30 hari selama Ramadan. Iya kan? Bercakap awak tengok anak kita ini kayak monyet sifatnya, gitu. Hati-hati, karena bercakap itu bukan kita lagi, ya. Maka di situlah kita bisa menjadi orang-orang mukasyafah itu. Tapi sempurna itu, ya, ditengoknya, bisa dia tembus pandangannya. Karena yang menengok ini bukan Dia lagi. Nah, macam mana kita sampai kepada peringkat makam yang seperti itu? Di balik tembok ni kita tahu. Nah, kalau sudah sempurna makrifat itu tadi. Nah, itu gambarannya. Bisa juga kita jadikan itu rute. Masa yang mulia di diri kita jadi terhina. Ini apa yang salah? Ini orang enggak ngaji kaya, yang ngaji malah melarat. Omset turun, kata Pak. Iya kan? Nah, di mana? Karena kegantungan kita memutuskan makrifat itu. Allah bukan tamu di diri, tapi Allah pemilik diri. Bahkan nyata ini, ini adalah nyata aku. Ya, Dia itulah yang dimaksud Allah, "Innani anallah," sesungguhnya Aku adalah Allah. Artinya, Allah itu berbicara kalau kita bawa ke kaji diri, Dialah mengatakan kudrat, iradat itu, ya, itulah di mengatakan af'al itu. Itu mengatakan sifat itu. Itulah mengatakan zat itu. Ya kan, Dia mengatakan dirinya sendiri. Nah, "Innani annallah lailahailla ana." Seperti itu. Nah.
Jadi, ee, selebih daripada itu, ternyata bukan Nabi saja Isra Mikraj, kan. Kita datang kemari ke masjid, misalnya, sama siapa kita datang ke masjid itu? Ada upaya kita melangkahkan kaki, ada berdiri di sejadah, itu siapa yang bisa bikin kita berdiri? Allah. Kalau takbir, itu siapa serta Dia, kan? Itulah makanya ayat Isra Mikraj itu, "Subhanalladzi asro bi'abdihi," ya, bi'abdihi, harp ujar apa, ee, "Subhanalladzi asro bi'abdihi," serta hamba, maiah, serta Dia, apa Allah serta Nabi Muhammad saja? Enggak, kita pun setiap hari Mikraj, cuma kita kesadaran kita itu tadi, tetap juga kita yang berperilaku, kita yang membuat itu. Kita belakangkan Tuhan, ni, ya kan. Wah, dosa besar yang kita lakukan itu. Maka kadang-kadang tak datang kebahagiaan, kemuliaan itu. Ya, gak mungkinlah kalau kita dekat Sang Mulia, gak ikut mulia. Harus begitu cara berpikirnya. Harus begitu. Iya kan? Nah, jadi seperti itulah kawan, untuk terus kita istiqamah. Jadi, bertauhid itu dalam segala hal, ya, dalam segala posisi, dalam segala keadaan. Peganglah tauhid itu. Iya kan? Nah, insyaallah dengan tauhid itulah kita bisa menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Ya, terus bermakrifat, ya. Tapi jangan makrifatnya makrifat, ee, apa namanya? Kalau ke Kia Kiai Saban dulu bilang, "Ah, makrifat kalian itu kan makrifat apa istilahnya itu? Ah, lupa, lupa, kok ada bahasa khusus dia itu. Pelintar-pelintut," kata dia. "Hari ini makrifat kau bagus sekali," kata besok entah kayak mana kau. Nah, ya. Jadi, supaya bisa sudah dapat ilmunya yang mau kita selusuri, coba tanya diri kita masing-masing. Bisa enggak kita merasakan Tuhan itu sama kita? Kalaupun mesti ada kita, ya, bisa enggak merasa Dia itu memang senantiasa sama kita? Ya, bukan dalam ucapan, tapi bisa kita rasa, gitu. Nah, kalau rasa itu datang, ini dia ini. Kira-kira begitu. Iya kan? Kalau mau buang air besar, kan ada rasanya, kan. Misalun, kita memisahkan mau buang air besar sama rasa mau buang air kecil. Kalau kira kita sudah paham kaji ini, ya kan, nyata Allah melalui sifatnya diriku, ya kan. Bisa enggak kita rasakan? Dan rasa sama Dia itu, kan, ya, kayak teka-teki itu. Dekat kipas angin dingin, dekat api panas. Kalau Allah dekat. Nah, ini yang harus kawan-kawan suruh-suruh dengan bagaimana itu bisa nanti, ee, menjadi kenyataan, bisa kita merasakan. Kalau dalam kondisi begitu, kita bisa terasa, ya kan? Satu contoh gini, cobalah lihat kita salat. Kalau takbir pakai akal, kan gini. Iya kan? Coba kawan-kawan praktikkan. Coba takbir pakai hati, kan beda lagi, agak halus dia. Coba takbir pakai ruh, gak usah kita bergerak, biar kayak Dia bergerak sendiri. Iya kan? Kita diam saja, Dia bisa bergerak sendiri. Inilah yang diperlukan latihan itu. Sudah. Bahkan kalau zaman saya dulu sama Pakis di ngaji, sudah misalnya kat gerak pakai akal, kasar itu kita bisa melihat salat orang, artinya gerakannya, ya. Kalau dia yang salat tu, enggak bisa kita perhatikan. Coba takbir pakai hati, beda kan? Coba takbir pakai ruh, diam kita, diam aja, biarkan Dia bergerak sendiri, enggak usah kita bantu-bantu, gitu ya. Iya kan? Nah, jadi kalau di ini dibawa ke dunia pakar. Nah, baru kita bergerak sendiri. Kita bilang aja, "Coba kau kasih aku gerakan, enggak usah gerakan salat, tapi gerakan kumpu, misalnya silat, gitu pun dikasihnya." H, ya kan. Sampai kepada kalau mengambil ilmu hikmahnya, kalau kita begitu, diam, gitu ya kan, biat bergerak sendiri. Niat kita apa? "Di manalah keretaku yang hilang itu, coba kau tunjukkan arahnya," ke mana dia bergerak sendiri dia, gitu. Ah, kan masuk ilmu dukunnya, kan. Seperti jadi banyak manfaatnya. Maka itu saya katakan tadi itu, itulah ilmu semula jadi, ya.
Jadi, kawan-kawan sekalian, ya, bagaimana kita memahami syahadat, begitu juga dengan rukun Islam yang lain. Ya, saya rasa itu saja, mudah-mudahan ada manfaatnya, karena panjang-panjang pun, ya, takut kita tak bisa dipahami. Tapi saya berharap, ya, lewat kita sudah berdoa, ee, munculkanlah pertanyaan-pertanyaan terkait dengan itu untuk lebih kita memahami dengan baik. Lebih kurang mohon maaf. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Na'udzubillahi alim minasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Wasallam as mursalin wa alihi ajma'in. Allahumma anzil 'alaina hikmah wa sam'a ya mujibilin, ya munjilal munjilin, ya akramal akramin. Allahumma ya.