📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

[Kajian Musawarah] Definisi Nafsu dan Cara Mengendalikannya - Ustadz Adi Hidayat

Adi Hidayat Official1:01:41

Transcription

[Musik] Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. [Musik] Alhamdulillahi wakafa washolatu wassalamu ala rasulillahi Mustofa. Keluargaku, teman-teman dimusyawarah yang saya senantiasa berdoa semoga seluruhnya tanpa kecuali dirahmati, dimuliakan, dan diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Dan tentunya doa ini tidak akan menjadi maksimal dapat dirasakan kecuali diiringi dengan ikhtiar juga dari teman-teman untuk mewujudkan itu.

Ketika seorang ibu memohon kepada Allah, "Ya Allah, jadikan anakku anak yang sholeh," tapi anaknya tidak merespon itu untuk menunjukkan dan berikhtiar mendapat kesholehan, tentu tidak mudah doa-doa itu sampai meresap ke dalam jiwa. Karena itu, sekali lagi, mudah-mudahan apa yang sering kali kami mohonkan kepada Allah subhanahu wa ta'ala ada kekuatan dan keyakinan dari teman-teman juga untuk menjemputnya, sehingga menjadikan kehidupan dan ranah yang kita pijak dalam pekerjaan, profesi apapun, menjadi bernilai dan membahagiakan, baik di dunia ataupun di akhirat.

Baiklah, hari ini kita belajar sesuatu yang sangat penting sekali. Dan ini bila mampu kita olah dengan baik akan menghadirkan puncak kebahagiaan tertinggi. Dan seringkali masalah yang dirasakan oleh setiap orang sumbernya atau puncaknya dari titik ini. Kita akan belajar tentang nafsu. Nafsu sering dengar ya nafsu, tapi barangkali kita akan olah itu dari pendekatan Alquran. Bagaimana nafsu itu diterangkan, seperti apa mengelolanya, dan bagaimana cara mengimplementasikan dalam kehidupannya. Kita bagi dalam dua sesi barangkali. Nanti kita akan ada pemaparan dan kita diskusi untuk mendalami apa yang mungkin kita bisa diskusikan.

Bismillahirrahmanirrahim. Kita mulai, teman-teman sekalian, dari Quran surah ke-91. Nanti silakan dicek, Quran surah 91 itu ayat 7 sampai 10. [Musik] Pelan-pelan. Taqwa ini butuh fokus agak dalam karena memang pembahasannya cukup detil, tapi saya berusaha menyederhanakan yang mampu bisa kita pahami. "Wa nafsin" diterjemahkan dengan "jiwa yang telah dengan keagunganku aku sempurnakan penciptaan dan fungsinya." [Musik] Maka demi menyempurnakan fungsi nafas ini, ditanamkanlah dua potensi. Dan ini yang akan mengendalikan semua perilaku kita dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kuncinya ada di sini. Apakah pandangan ini akan baik atau mengarah kepada yang kurang elok? Perintahnya ada di sini. Demikian seterusnya. Setiap orang yang mampu menjadikan kendali hidupnya bersumber dari potensi taqwanya, maka seluruh perilaku hidupnya dari ujung kepala sampai ujung kaki akan mengantarkan ia pada kesuksesan dan kebahagiaan dari semua aspek kegiatan yang ia lakukan dalam hidup ini. Jaminan dari Allah. Jadi apapun yang Anda lakukan, Anda kerjakan, pekerjaan apapun yang sekarang sedang diikhtiarkan, itu akan cenderung terdorong mendekat kepada kebahagiaan dan kesuksesan jika patokan dalam mengendalikan itu semua bermuara dari sini. Tapi bila yang digunakan sebagai acuannya adalah yang fujur, maka ini akan cenderung mengantarkan pada nestapa kehidupan tingkat yang paling rendah. Ka'bah itu tingkat yang paling rendah, mendapatkan celaan, hinaan, cacian, macam-macam. Bahkan sebelum berpulang, yang tidak paling menyenangkan itu hidupnya dicela, wafat dicaci, pulang ke akhirat disiksa. Dan itu yang tidak paling mengenakkan dalam kehidupan.

Nah, sekarang dari satu surah ini, dari ayat 7 sampai 10, kita ingin dalami lebih kuat. Dan pendalaman ini menuntut kita untuk lebih fokus karena ini kaitan dengan diri kita sendiri. Apa itu nafas itu dulu? Nafas itu apa? Jiwa itu apa? Tempatnya di mana? Seperti apa yang kita rasakan pengaruhnya dalam hidup kita? Pindah dulu Quran surah 15, Al-Hijr, ayat 28 sampai dengan ayat 30. Quran surah 15, ayat 28 sampai 30. Dan ingat, kalau ada "izin" itu maknanya tiga: ingat, pahami, renungkan. Jadi kalau kita membaca Quran dibuka dengan "izin," diingatkan kita oleh Allah, "Ingat ya, pahami apa yang akan kau baca ini, lalu renungkan itu pada dirimu yang paling dalam." Pahami, ingat, renungkan. Ketika Allah berfirman, "Pada masa Aku akan mencipta makhluk baru yang bukan malaikat, yang bukan jin." Jadi sebelum Allah mencipta kita manusia, disebut dengan "basyar" di sini, maka sudah ada malaikat dan jin terlebih dahulu. Urutannya malaikat dulu diciptakan dari cahaya (nur), lalu jin diciptakan dari api, baru kemudian kita manusia (basyar). Karena itu, ayat manusia 28, ayat tentang jinnya 27-nya. Jadi kalau Anda lihat ayat 27 di Quran surah 15. [Musik] Sebelum manusia ada jin dulu urutan yang diciptakan. Nanti jin ini sebagiannya ada yang tinggal nanti dengan malaikat di alam langit, tapi di alam tersendiri dari 7 lapis itu. Dia tidak sampai ke bagian atas. Nanti ada yang tinggal berkehidupan di dunia yang kelak fungsinya akan digantikan oleh manusia menjadi khalifah di bumi. Nah, yang tinggal di alam langit ini, itu yang dulu disebut dengan Azazil namanya. Jin yang sangat taat, rajin ibadah, sampai diagungkan, diagungkan itu aja oleh malaikat. Disebut, "Nih, hebat nih ibadahnya banyak." Maka disebut dengan Azazil. Cuma nanti kisahnya ketika manusia diciptakan dan akan menempati posisi sebagai khalifah di bumi, jin yang terlihat taat ibadah ini ternyata memiliki kecemburuan yang tinggi sampai membangkang perintah Allah. Maka membangkang perintah disebut dengan fasik. Perbuatannya fasakh. Maka berubahlah ia dari jin menjadi makhluk fasakh, fasik. Ya, tertutup kebaikannya dengan keburukannya. Yang menutup keburukan dengan kebaikan, ada yang buruk yang tak ingin terlihat ditutup dengan yang baik, itu namanya libas dari kata labasa. Tapi kalau yang baik sudah bagus, ibadah, jujur, baik, ditutup dengan keburukan karena sombong misalnya, maka itu namanya dari kata balasa. Makhluk yang tertutupnya disebut iblis. Maka dari situ dia menjadi iblis. Di situ ada di Quran surah ke-18, ayat ke-50. Surah 18, ayat 50. Malaikat jadi iblis ini asalnya dari kalangan jin yang tadinya taat, tapi tertutup oleh kesombongannya untuk memenuhi perintah Allah. Dia tolak karena sombong. Ada di mana? Al-Baqarah, ayat 34, dengan kalimat yang sama tapi inti yang beda. Dia nggak mau sujud pas Adam karena sombong. Ya. Nah, Allah memurkai jin ini menjadi iblis bukan karena nggak sujudnya pada Adam, tapi nggak patuhnya sama Allah. Urusan jin sama Adam itu terkait jin dan Adamnya. Tapi ketika tidak mematuhi Allah, maka hilang sifat ubudiyahnya. Maka marahnya Allah kepada jin jadi iblis ini bukan karena adanya Adam, tapi karena nggak patuhnya pada Allah. Itu ada di Quran surah ke-7, ayat 11 sampai 12. Allah katakan, "Hei iblis, dirubah langsung jadi iblis. Kenapa kamu tidak mau sujud ketika Aku perintahkan?" Jadi yang penting itu perintahnya, bukan karena sujudnya. Kita diminta salat itu salat bukan karena salatnya, bukan karena sujud rukuknya, karena Allah yang perintahkan. Karena kita mengaku beriman, buktikan kita patuh pada Allah. Maka kepatuhan itu wujudnya lewat salat. Makanya ketika seseorang yang mengaku beriman tidak salat, itu sama dengan tidak mematuhi Allah. Itu prinsip dasarnya.

Baik, kembalikan ke sini. Secara singkat, simpan saja dulu malaikat, simpan jinnya dulu, abaikan iblisnya. Kita fokus ke sini dulu. Maka diciptakan setelah itu manusia, disebut dengan "basyar." Tolong fokus ke sini. Basyar adalah satu dari lima nama manusia yang disebutkan dalam Alquran. Kadang dia disebut dengan dipasangkan dengan jin, dan pasangan ini tersebut 18 kali dalam Alquran. Kadang dia disebut dengan "insan," 65 kali disebut dalam Alquran, bahkan ada surah ke-78, surah Al-Insan. Kadang disebut dengan "Bani Adam," 7 kali disebut dalam Alquran. Kadang disebut dengan "An-Nas," 241 kali disebutkan dalam Alquran, dan ada surah ke-114, surah bagi semua umat Islam paling favorit di muka bumi. Nya. Setiap nama dalam Alquran menunjukkan fungsi tersendiri bagi kegiatan manusia. Contoh, kalau ingin menunjukkan kelembutan dan karakter keramahan pada manusia dan penampakannya, maka yang disebutkan kata "nas." Lalu disebut lawannya "jin." Tak "jin" disebut "jin" karena tersembunyi, nggak nampak. Lawannya "ins." Nampak. Karena itu "jin" fitrahnya nggak nampak, nggak bisa ada yang lihat "jin." Ingat ini ya. Kalau ada yang mengatakan, "Saya bisa melihat jin," hanya jin yang mampu melihat jin. Maka orang itu sedang kemasukan jin. Ingat itu ya. Maka sifat jin itu nggak bisa dilihat oleh manusia, tersembunyi. Makanya kalau ada jin melakukan penampakan, itu jin sedang punya masalah karena keluar dari fitrah. Apalagi manusia-manusia yang sedang cari-cari penampakan jin, hati-hati ya. Oke. Sebaliknya, "jin" tersembunyi, manusia nampak. Fitrahnya tampak, ketemu, nampak, salaman, senyum. Jadi kalau ada manusia yang suka sembunyi-sembunyi, suami pulang ke rumah sembunyi-sembunyi, dia naik lewat jendela, dia buka wa istri, ambil handphone suami sembunyi-sembunyi, cek dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa suami itu sedang bukan menjadi jin, sedang ada masalah. Gampangnya begitu. Biasanya papasan enak, sekarang cari jalan lain. Itu pasti sedang punya masalah. Itu fitrah yang kedua. "Jin" kasar, karena itu disebut "jin." Manusia lembut, karena itu tampilan karakternya. Saya lahir, sifat, nggak ada orang misalnya, maaf, kemasukan jin jadi lembut. Nggak ada. Mas Dude, izin pengen ikut kajian, sedang kemasukan jin. Itu mustahil. Biasanya dia meracau. Nah, manusia itu karakternya lembut. Makanya saking lembutnya, Allah tanamkan kecintaan kepada anak yang baru dilahirkan. Anak siapapun itu, orang pasti senang, pengen gendong, pengen cium, dan sebagainya. Pertanyaannya, kenapa kok tiba-tiba kata-katanya bisa menjadi kasar? Perilakunya kok jadi keras? Padahal ketika lahir di dalam keadaan baik. Maka nanti babnya tersendiri ada bab tentang lingkungan, tentang orang tua, perhatian dari saudara-saudarinya. Kullu barudin, lingkungan bisa, orang tua bisa, teman bisa, sekolah dan sebagainya. Oke. "Insan" tidak disebutkan kecuali menunjuk pada manusia yang terkait dengan totalitas aktivitasnya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jadi kalau Anda menginginkan belajar tentang manusia dari sudut pandang akhlak, pelajari kata "insan." Kalau Anda ingin belajar tentang manusia yang menata kurikulum hidupnya, apa yang harus dilakukan saat bangun, bagaimana menata hidup dengan panduan-panduannya, Anda mau jadi apapun, silakan. Nanti di Quran ada panduannya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Keluarkan semua kata "insan" dalam Alquran. Tiga. Kalau kita ingin melihat genealogi kita dan perjalanan sejarah kehidupan bapakmu yang kita dari Nabi Adam sampai ke Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang jadi petunjuk untuk kita, maka temukan di kalimat "Bani Adam." Jika Anda ingin belajar tentang bagaimana membangun hubungan yang baik secara sosial dengan teman, dengan lingkungan, dengan tetangga, dan sebagainya, maka keluarkan semua kata "nas" dalam Alquran. Tapi kalau Anda ingin belajar tentang menata nafsu yang ada dalam jiwa setiap manusia, maka keluarkan kata "basyar" dalam Alquran. Disebutkan sebanyak 35 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk jamak. Nah, ketika Allah menyampaikan pertama kali penciptaan manusia, yang disebutkan kalimatnya "basyar," bukan "insan," bukan "Bani Adam," bukan "an-nas." Apa tahapan penciptaannya ini intinya? Mana membentuk manusia, mencipta manusia. Ada dua tahapan kata Allah. Pertama, fisiknya dulu. Maaf, ini secara teori dulu ya. Fisiknya dulu. Jadi yang dibentuk, berproses. Fisik nanti berlangsung selama 4 bulan dalam kandungan. Ini detailnya ditemukan misal di Quran surah ke-22, Al-Hajj, di ayat yang kelima, atau di Quran surah ke-23, Al-Mu'minun, dari ayat ke misalnya 11 sampai dengan 15. Hadisnya di Al-Arba'in An-Nawawiyah, nomor hadis yang ke-4. Contoh, saya cepat bacakan. "Setiap anak cucu Adam sebelum terlahir dari rahim ibundanya akan mengalami proses selama 40 hari pertama pertemuan spermatozoa dengan ovum, proses yang kedua membentuk zigot yang mulai menempel di dinding rahim, boleh berproses 40 hari ketiga berbentuk mulai ada daging." Keraton, sekarang di kurikulum kedokteran di fase modul awal namanya modul tumbuh kembang, itu sama diksinya sama menggunakan kata "mudzghah" karena ada anak dari UIN kedokteran datang ke saya, "Ustaz, saya minta belajar." Saya bilang, "Anda dari mana? Kedokteran, berikan dulu semua modul Anda ke saya untuk saya pelajari, dan saya belajar dari Anda, baru kemudian Anda boleh belajar dari saya." Maka saya temukan di antara modulnya ada kata "mudzghah" di dalamnya. Baik, itu usia 4 bulan. 40 hari ketiga, 40 kali 3, 120 hari, 4 bulan. Di usia 4 bulan ini barulah diperintahkan oleh Allah ditiupkan. Karena itu, kalau ada yang tengah mengandung usia 4 bulan, itu rohnya sudah masuk. Dan di situ nanti ada tuntunan bagaimana mendidik anak sejak dalam masa kandungan. Kami pernah share ini di Hari Quran dan dipraktekkan. Alhamdulillah, begitu anaknya mulai bicara, yang keluar Quran. Dan setelah itu dicek kemudian oleh Ustaz yang mengecek, ternyata telah hafal Quran 30 juz dalam baru bicaranya itu. Lalu diurutkan 3 tahun usia hafalan, 3 tahun usianya hafal Quran 30 juz. Di antara amalannya Quran surah ke-7, ayat 189. Jadi kalau ada yang sedang mengandung, di antara sunnah membacakan untuk anak itu suami istri, bukan hanya istri, suami saja. Suami istri berdoa. Itu doanya ada di Quran surah 7, ayat 189. Satu ayat ini saja. Secara singkat, saya agak cepat. Roh ditiupkan. Nah, ini sumber kehidupan. Saya mau tanya begini, maaf ya, ini saya sederhanakan sekali. Kalau roh, sumbernya dari mana? Sumbernya dari mana? Allah. Baik. Sumbernya dari Allah. Tahu dari mana? Quran surah ke-17, ayat 85. Kehidupan langsung yang ditiupkan pada fisik. Jadi generator kehidupannya di sini. Kalau nggak ada roh, nggak akan bergerak. Ini makanya orang meninggal dicabut rohnya, sudah nggak bisa bergerak lagi. Nah, sumber roh itu sumber kehidupan dari Allah. Baik, sekarang saya tanya. Kalau Allah Maha Baik, tidak ada aibnya, tidak ada cacatnya, tidak lihat kumpulan semua kebaikan. Jika dikumpulkan, jujur, sabar, misalnya kan. Kalau kita kumpulkan sifat-sifat baik itu, semuanya itu akumulasinya disebut dengan taqwa namanya. Karena Allah itu Maha Baik, nggak ada cacatnya, maka semua yang bersumber dari Allah pasti semuanya baik dan membawa sifat-sifat kebaikan. Perhatikan fokus ini. Ketika ditiupkan masuk ke dalam fisik manusia usia 4 bulan, dia membawa sumber-sumber kebaikan karena datangnya langsung dari Allah. Diperintahkan masuk, maka membawa akumulasi kebaikan. Maka selain roh ini masuk ke dalam fisik, dia juga membawa potensi-potensi kebaikan yang disebut dengan taqwa. Pelan-pelan. Kalau fisik ini langsung dari Allah atau ada proses dulu? Pernah nggak maksudnya? Kalau roh itu kan langsung kan? Allah firmankan, "masuk, masukkan." Kalau fisik langsung tercipta? Ada ada proses dulu. Proses tadi kan sampai 4 bulan. Demikian sebelumnya ada proses dan sebagainya. Proses kan karena proses didahului dengan ikhtiar. Maka tidak sama sifatnya dengan taqwa. Dia membawa sifat bawaan disebut dengan "fujur." Sekarang perhatikan. Saya ilustrasikan ini ada gelas. Oke, kosong. Ini kalau kalau saya isi air bening. Kalau ini saya isi air bening, nih, bening. Oke. Saya campur dengan kopi, jadi apa warnanya? Pakai berubah warna kan? Intinya hitam. Misalnya saya kasih susu, berubah warna kan? Baik kan? Maka perhatikan baik-baik. Kalau kita ilustrasikan ini ada tempat dimasukkan, kemudian air bening. Gambarkan yang bening itu taqwa. Ini jelas taqwa itu tadi sifat yang melekat kepada apa. Kemudian dia bercampur dengan ini, sifat bawaan dari fisik. Kenapa saya sebut tidak langsung dari Allah tapi melalui proses ikhtiar yang Allah tetapkan? Karena maaf, maaf sekali, maaf sekali. Kenapa namanya disebut fujur? Karena ini berkumpul segala macam bentuk di sini. Apakah teman-teman mencari semua yang halal yang dimasak oleh istri masuk kemudian ke dalam mulut dan perutnya dan terkonsumsi oleh janinnya? Apakah dipastikan semua halal? Kalau dia menjadi halal akan jadi baik. Kalau dia menjadi syubhat, ya akan menjadi bercampur. Kalau dia dari yang haram akan menjadi kotor. Karena itu yang bersumber di fisik disebut dengan fujur. Yang ini pasti baik. Tadi saya katakan, kalau campurannya susu bening, bagus, nyaman. Tapi kalau campurannya kotor, lumpur, dan sebagainya, maka jadi bermasalah. Maka jangan pernah membawa sesuatu yang haram dibawa ke rumah, apalagi dikonsumsi anggota keluarga. Karena itu pasti akan merusak dan berpengaruh kepada karakter karena masuknya ke sini. Itu pasti. Pernah ada riset begini, ini saya langsung lakukan. Saya baru pulang dari Tripoli mengajar di suatu tempat di Bekasi. Kemudian tiba ada anak yang tidak biasa. Ini menarik ini. Anaknya unik sekali. Tapi ibunya solehah, rajin, bapaknya solehah, bapaknya soleh, ibunya salihah. Jadi rajin ke majelis ilmu. Alhamdulillah bertahan dengan kami itu sampai selesai belajar. Ibunya atau ibadah datang. Alhamdulillah, Ustaz, anak saya bisa bertahan. Emang kenapa, Bu? Tidak pernah dia bisa bertahan di satu tempat, baik di pengajian apalagi di sekolah, kecuali setelah 5 menit gurunya akan datang mengantarkan ia kepada saya, "Mohon dibawa pulang karena kami tak sanggup mengajarinya lagi." Nah, tanpa saya tanya, ibunya cerita, "Ustadz, izin konsultasi. Sebetulnya ini saya adopsi karena dulu kami mencoba menyelamatkan." Saya bekerjasama dengan kawan saya yang public figure juga perempuan, menyelamatkan dua anak kembar dari perilaku orang tua yang ayahnya pencuri, ibunya suka mabuk. Jadi begitu sedang mengandung, ibunya masih minum minuman yang diharamkan itu. Maka itu berpengaruh kepada janinnya lahir. Iya. Nah, mengeluarkan itu nggak mudah tuh karena sudah menjadi daging. Maka harus di-support lagi dengan yang halal, ditanamkan lagi yang baik-baik supaya keluar. Itu nanti ada tahap yang ringan, tahap yang menengah, tahap yang paling susah. Tapi itu semua ada caranya untuk mengembalikan. Yang ingin saya gambarkan adalah hati-hati. Kita ilmiah sekali hari ini. Ini bawaan dari gabungan fisik, sifatnya fujur. Yang ini roh membawa sifat taqwa. Karena taqwa yang bening bercampur dengan fujur, maka merubah keadaan roh yang tadinya murni seperti biasa. Karena roh membawa sifat taqwa, nyampur. Jadi ini bercampur dengan fujur, maka merubah nama roh. Saat masuk ke dalam tubuh, berubah menjadi "nafas." Pelan-pelan, pelan-pelan. Kalau roh saja yang dibawa sifat taqwa, udah pasti baik tuh. Tapi karena dia bercampur dengan ini yang bahannya banyak tuh ya, dan sifat fujur, maka berubah nanti dari sifat yang taqwa ini bercampur dengan fujur, merubah nama roh. Saat masuk ke dalam tubuh, berubah menjadi "nafas." Dari sini diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi "nafas." Ya. Maka dikatakan seseorang bisa bernafas ketika rohnya masuk. Tapi dalam keterangan Alquran, bukan cuman bisa nafas di situ. Akan tergabung taqwa, potensi yang dibawa oleh roh sebagai sumber kebaikan. Di sini ada fujur, potensi yang dibawa oleh fisik ya, yang kadang-kadang menjadi lawan daripada sifat kebaikan. Sampai di sini bisa dipahami artinya? Apa artinya? Maaf, di dalam diri kita ini, siapapun manusianya, pasti ada potensi kebaikan. Itu sifat dasar manusia itu baik. Itu makanya, maaf, pencuri-pencurinya pencuri. Sebetulnya hatinya menolak ketika akan mencuri. Pasti hatinya menolak itu. Itu salah. Karena itu pencuri nggak mau dicuri. Coba kalau tiga orang mencuri, yang satu misalnya menyembunyikan hasil curiannya, maka bosnya akan berkata, "Maling kamu!" Padahal mereka baru maling. Gitu kan ya. Oke, pelan-pelan ya. Jadi singkatnya, di dalam diri kita terkumpul semua potensi kebaikan yang dibawa oleh roh. Dan saat yang bersamaan ada potensi yang dibawa oleh fujur dari fisik. Ada di sini. Ini lawannya. Nah, yang menarik begini. Yang menarik ini potensi taqwa ini akumulasi semua kebaikan. Kita sebut dengan sumber positif. Yang ini didesain oleh Allah sebagai lawannya. Kita sebut kutub negatif. Begini. Fujur. Pelan-pelan. Dan ini sudah menjadi hikmah kehidupan. Apapun yang bisa bergerak akan selalu ditemukan positif dan negatif. Anda beli robot-robotan pakai baterai, pasti ada kutub positif dan negatif. Ada partikel, ada atom, dan sebagainya. Jelas ya. Ini semua hukumnya sudah begitu. Ini hukum kehidupan. Tapi kaitan dengan diri kita ini yang harus kita sadari. Saya turunkan ke sini untuk lebih mudah. Nafas di sini. Ada taqwa, semua kumpulan sifat baik, jujur, rendah hati, kemudian sabar, dan seterusnya. Saat yang bersamaan di sini ada lawannya, sifat fujur. Jadi kalau teman-teman di sini menemukan jujur, di sifat jujur itu ada dusta. Kalau di sini ada rendah hati, di sini ada sombong. Kalau di sini ada sabar, di sini ada sifat amarah yang berlebihan, pemarah. Kita mesti menyadari setiap manusia itu punya potensi jujur, tapi saat yang bersamaan punya potensi dusta. Dia punya potensi rendah hati, tapi saat yang bersamaan dia bisa sombong. Nah, yang paling menarik adalah bagaimana kita bisa mengendalikan ini sehingga yang keluarnya selalu yang baik dan yang ini bisa kita tutup, bisa kita tekan, sehingga tidak muncul ke permukaan. Nah, inilah inti pembahasan kita yang akan kita turunkan. Saya ingin fokuskan betul pada apa yang akan saya terangkan saat ini. Jadi yang barusan mukadimah ya. Sekarang kita mulai ke intinya. Saya ingin berikan penjelasan dari akar ini supaya kita paham tentang diri kita. Jelas sampai di sini? Halo, jelas ya? Oke. Yuk, kita lihat kembali ke Quran surah As-Syams, ayat 7-10. "Dan demi jiwa (nafas) yang telah Aku sempurnakan penciptaannya, maka diilhamkan pada nafas ini ada dua yang seakan berlawanan, yaitu fujur dengan bawaan ini, dan taqwa, sifat baik." Sekarang lihat rumusnya. Saya berikan gramatikal bahasa Arabnya dulu. Huruf "tahtik" yang menjamin sesuatu. "Tauhid" yang menegaskan satu hukum. Cara menerjemahkannya: "Aku jamin," kata Allah, "dan Aku tegaskan, orang yang mampu menata zakat, menata nafasnya dengan baik, maka hidupnya akan cenderung sukses dan bahagia, apapun pekerjaannya." Baik. Kalau Anda buka terjemahan, "zakat" itu diterjemahkan dengan "menyucikannya." Ini kuncinya. Jadi kalau kita ingin menata kalbu, menata nafas, maka caranya dengan zakat. Zakat, menyuci. Saya tanya ke akhwat ya, teman-teman. Kalau menyuci itu membuang bajunya atau kotorannya? Oke. Saya tanya ke teman-temannya ikhwan yang pria. Sekali lagi saya pastikan, menyuci itu membuang bendanya atau menghilangkan kotorannya? Kotorannya. Baik. Sekarang saya tanya pada semuanya. Kalau tidak kotor, mungkin tidak dicuci? Halo? Kalau tidak kotor, mungkin tidak dicuci? Baik, baik. Sekali lagi, yang ketiga, yang terakhir. Jadi adanya kotor itu untuk menunjukkan yang bersih atau untuk mengotori pakaiannya? Bingung sekalian, nggak papa. Manfaat kotoran itu kotor untuk menunjukkan yang bersih atau untuk mengotori pakaiannya? Bukan. Yang motor itu adanya gitu kan? Kotor itu diciptakan untuk mendapatkan bersihnya. Sebab kalau nggak ada kotor, nggak akan ketahuan bersihnya. Anda nggak mungkin nyuci kalau nggak ada kotoran. Nggak ada kerjaan. Tapi supaya ketahuan itu bersih, ditampakkan yang kotornya kan? Harus ada pembanding. Dari mana tahunya orang itu baik kalau ada yang buruknya bisa dibandingkan? Tahu dari mana dia jujur kalau ada bohongnya? Tahu dari mana bersih kalau ada kotornya? Maksud saya, kotoran itu diciptakan bukan ingin mengotori pakaiannya, tapi ingin menghasilkan kebersihan di balik kotoran itu. Karena itu menyuci itu membersihkan kotoran, bukan membuang bendanya. Tarik logika itu ke sini. Allah menciptakan sifat jujur bukan ingin menjadikan manusia itu terjebak dalam keburukan. Jadi jangan bertanya begini, "Kenapa Allah ciptakan sifat dusta?" Kan saya nggak akan berdusta kalau begitu. "Kenapa Allah ciptakan sifat sombong?" Kan saya nggak akan sombong kalau begitu. Bukan. Kata Allah, "Pada asalnya diciptakannya fujur dengan semua sifat ini adalah untuk menjadi katalis." Dalam bahasa kimia itu supaya dia bisa menstimulus supaya baiknya keluar. Sebab kalau nggak ada ini, ini nggak akan muncul. Contoh, bisa nggak ada sabar kalau nggak ada marah? Antum pulang ke rumah, ketemu istri tiba-tiba nyampe rumah, istri bilang, "Pah, sabar ya, Pak, sabar." Padahal nggak ada hujan, nggak ada apa-apa. Kira-kira responnya gimana? "Sayang, kamu sehat?" Nggak mungkin kan? Ada amarah nih, "Sabar aja, sabar, nggak usah dibalas." Nah, kapan ada sabar kalau ada pemicunya? Kapan ditemukan jujur ketika ada dusta? Jadi dusta itu diciptakan bukan ingin menjadikan Anda sebagai pendusta, tapi sebagai katalis supaya jujurnya muncul. Sabar diciptakan dan marah diciptakan untuk supaya yang baiknya muncul. Sebab kalau nggak ada marah, sabarnya nggak akan naik. Paham cara kita mengolah? Dibalik kata Quran, kalau satu waktu terjadi muncul dorongan yang mendorong dari sini (fujur). Kenapa cara kerjanya begini supaya lebih paham? Nggak papa, saya menghapus saja. Bismillah. Jam 3. Saya dari Bandung ya. Presiden musyawarah masih banyak. Jazakallah. Semoga dapat tambahan rahmat. [Musik] Gini teman-teman, saya mulai dari sini dulu. Ini agak mahal tapi butuh fokus. Ini nafas. Nafas itu kelihatan ya. Intinya di sini. Di dalam inti ini ada lagi turunan. Tadi saya ke bawah kan dulu. Di taqwa, semua sifat baik. Yang ini fujur, ini lawannya. Nafas itu adanya di dalam kalbu, yang sering kita terjemahkan dengan hati. Adanya di sini. Masih ingat teman-teman, kalau salat kan Allahu Akbar. Di dalam shalat ada kalbu. Ini adalah semua apa yang kita lakukan, sumbernya dari sini. Misal kita mau bicara nih. Kalau yang keluar baik, ini yang perintahkan dari sini ke sini ke kalbu, keluar ditembuskan langsung ke akal kita, keluarkan sekian detik. Kalau yang keluar yang buruk, sumbernya dari sini. Jelas. Nah, saya ingin katakan dulu sebentar. Setan sudah meminta kepada Allah sejak Adam diturunkan supaya diberi kewenangan untuk menggoda yang ini. Itu nanti ada di surah An-Nisa di ayat yang ke-118, dari ayat 116-118. Ketika dia dilaknat oleh Allah, berkata, "Ya Allah, izinkan aku menggoda satu bagian dari manusia." Maksudnya yang ini. Di sini sumber keburukan. Dalam bahasa Arab buruk itu disebut dengan "su." Namanya "su." Gini. Nah, setan menggoda, memprovokasi dengan halus. Memprovokasi dengan halus itu bahasa Arabnya "was-was." Was-was, wisu. Halus sekali. Dia masuk lewat sini, "shodrun," jamaknya "shudur." Jamak dari "shodrun" sudur. Karena manusianya banyak. Di Quran surah ke-114, "alladzi yuwaswisu." Dia menggoda ke sini. Alih-alih bicara yang baik, dia katakan, "Keluarkan yang kasar." Tak sadar keluar. Begitu keluar bentuknya dalam bentuk perbuatan, maka keluar namanya "su." Kata-kata yang kotor. Kata-kata "su." Karena ini melewati nafas nih, kan dari nafas nih. Tidak dilihat fujurnya, yang dilihat nafasnya. Oh, ternyata nafasnya itu memerintahkan kepada "su." Nafas ketemu "su," disebutlah "nafsu." [Musik] Ini asal kalimat "nafsu" dari mana? Ini ditemukan Quran surah ke-12, Yusuf, ayat 53. Paling kiri sebelah atas di mushaf. Quran surah 12, Yusuf, ayat 53. "Nafsu." Jelas asalnya. Asalnya nafas ini netral. Di dalamnya ada taqwa, ada fujur. Yang ini yang kelihatan jelek, sebetulnya asalnya katalis untuk yang ini. Bukan ingin menjadikan kita berbuat buruk, tapi lebih menjadikan yang fujur ini mendorong supaya yang sifat baik itu muncul ke permukaan. Pertanyaannya, caranya bagaimana? Kata Quran, "Zaka." Sifatnya disebut "tazkiyah." Cara paling gampang memahaminya adalah ketika muncul dorongan yang kurang bagus, cari cepat lawannya yang baik. Yang ini, karena ini diciptakan untuk memunculkan yang taqwa. Jadi ketika Anda menemukan ada yang dusta, bukan mengajak Anda berdusta, tapi supaya Anda memunculkan kejujuran dalam diri Anda. Ketika ada seseorang misalnya datang dengan kesombongan, maka itu adalah pelajaran bagi kita supaya jangan ikut sombong, yang dimunculkan sifat rendah hatinya. Dicari lawan terbaliknya. Prakteknya bagaimana? Contoh, apa lawan cemberut? Harusnya antum cemberut dititipkan kepada istri. Bukan membuat antum supaya marah atau mengintegrasi, tapi supaya antum senyum. 6 pulang ke rumah, lihat istri dan cemberut. Oh, cemberut lawannya apa? Senyum. Kok cemberut? Kayaknya kenal. Sling ada hadiah iPhone 14 Pro Max. Misal. Dalam hidup itu simpel sebetulnya. Carilah hewannya. Sedih lawannya apa? Ketika ada seseorang sedih, cari apa yang bisa membuat dia senang. Ya. Ketika seseorang misalnya sedang gelisah, cari ketenangan. Ketika ada seorang berbuat sombong, antum datang dengan kerendahan supaya mengajarkan dia kembali kepada sifat rendah hati. Ya. Kalau semua orang bisa melakukan semua ini, walaupun tidak mudah mengerjakannya, maka kata Allah, "Hidupnya akan cenderung bahagia." Itu asalnya. Tapi problemnya adalah di sini ada setan yang memberikan was-was supaya ini muncul dominan. Apa yang bisa mencegah dan menghambat setan supaya tidak menjadikan manusia dominan dengan sifat fujurnya dibanding taqwanya? Sebelum sampai ke sana, saya ingin jeda dulu. Saya ingin simpulkan dulu konsep dasarnya. Jika kita ingin menata nafas dengan baik sehingga tidak didominasi oleh nafsu, sifat-sifat yang kurang bagus, maka setiap mendapati kekurangan-kekurangan atau hal yang kurang positif dari siapapun lawan kehidupan kita, maka cepat munculkan lawan baiknya. Kadang-kadang yang diuji bukan kita, yang diuji orang lain, tapi yang disasar hikmahnya kita. Itu namanya fitnah. Jadi fitnah itu tidak harus selalu tuduhan. Bisa jadi ujian. Misal, "Allah anak-anak itu jadi fitnah." Maksudnya apa? Kadang-kadang di anak-anak ada aktivitas-aktivitas yang mungkin tidak ideal, yang orang sebut dengan nakal. Padahal tidak ada anak yang nakal. Boleh jadi anak itu dibuat aktif supaya kreativitas orang tuanya makin muncul. Jadi ketika Anda melihat anak-anak punya ekspresi tersendiri, lihat dulu dari yang kurang bagus itu apa yang dimunculkan yang baik supaya keluar. Itu caranya sama dengan begini. Itu ada kejadian di Cianjur. Bagi warga Cianjur yang terkena itu bala namanya, ibtilaf, ujian langsung yang dialami. Bagi kita itu fitnah, ujian yang diberikan ke sana. Tapi hikmahnya menyentuh diri kita. Ada nggak yang terpanggil untuk datang? Betul nggak orang beriman saling merasakan? Betul nggak titipan harta itu benar-benar untuk berbagi dan sebagainya? Maka diberikan ujiannya di sana. Mungkin yang wafat di sana masuk kategori syahid akhirat. Karena di antara syahid itu kan tertimpa beban bangunan, meninggal, dia syahid. Kita wafat bagaimana? Apakah disentuh untuk datang? Kami ke sana, bangun posko, lihat teman-teman, maaf ya, ini pelajaran besar ya. Mohon kalau kurang berkenan, mohon saya dimaafkan dengan kalimat ini. Demi Allah saya katakan, rumah yang mewah sampai yang biasa hancur. Dan yang paling menarik bukan itu. Yang paling menarik hati kita untuk merenungkan, bahkan rumah yang masih bertahan pun dan masuk kategori mewah, tidak ada yang berani penghuninya untuk datang ke tempat itu. Dia lebih memilih mengungsi atau tinggal di tenda-tenda yang bahkan jauh dari kata layak. Pertanyaan saya, jadi yang selama ini dikumpulkan, kerja keras siang dan malam, jadilah sesuatu yang mewah, itu kendaraan yang hebat, itu, lalu untuk apa kalau tidak digunakan dan dinikmati? Ketika Allah memudah membalik itu dalam sepersekian. Katakan pada teman-teman, jangan sampai terjadi dalam satu masa, dalam satu waktu, sudah kerja lelah capek dan sebagainya, tapi karena hubungan yang jauh dari Allah, apa karena sebab tertentu, itu berbalik nikmat itu menjadi sesuatu yang bahkan tidak bisa dinikmati secara langsung. Itu pesan pertama. Tapi jangan disimpulkan bahwa di sana ada maksiat dan sebagainya, tidak ke situ arahnya. Boleh jadi mereka ditetapkan oleh Allah untuk mendapatkan kemuliaan karena datang keluarga-keluarga besar membawa sesuatu yang bahkan belum pernah mereka lihat sebelumnya, yang nggak pernah makan, menemukan makanan-makanan yang mungkin menurut kita enak dan layak. Yang merasakan perhatian, merasakan bantuan-bantuan. Kenal saudaranya yang nggak ada. Masjid dibangunkan masjid lagi. Yang wafatnya wafatnya syahid. Kita siapa dan bagaimana cara kita kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu fitnah. Ujiannya di sana. Yang merespon kita di sini terkadang adanya pada tetangga kita. Tetangga yang sakit, dibuat sakit bukan karena ingin menjadikan dia sakit. Boleh jadi Allah ingin menguji Anda sebagai tetangganya. Sikapnya bagaimana kita melihatnya? Tetangga Anda kekurangan, mudah bagi Allah menjadikan dia kaya, tapi Allah titipkan kepada Anda tetangganya supaya Anda merespon harta yang Allah titipkan untuk berbagi. Contoh lain, Anda sudah ke masjid, Anda punya tetangga belum mau ke masjid. Dijadikan ia menjadi tetangga Anda, bukan untuk Anda caci atau Anda katakan, "Itu saya punya tetangga nggak pernah ke masjid." Bukan. Boleh jadi Anda ditempatkan di situ sehingga mendapat bagian dari dakwah untuk mendoakan dia supaya ke masjid. Ada orang bertanya, saya tanya begini, satu jamaah, "Apa hukumnya ada tetangga masjid tinggal di samping masjid, 5 meter jaraknya dari masjid, bahkan toa masjid menghadap ke rumahnya begini, tapi dia belum mau ke masjid?" Oh, jawabannya beragam. "Dosa, Ustaz." "Haram, Ustaz." Yang bilang, "Bakar rumahnya." Hukumnya ajak dia ke masjid. Hukumnya ajak dia ke masjid. Ini sederhana, tipis bahasannya. Tapi kalau kita praktekkan dalam kehidupan di rumah tangga, suami dengan istri, dengan anak-anak, dengan ayah, dengan ibu. Ini di bawah kita. Datang ke ibu sedang cemberut, buat beliau tersenyum. Lihat pasangan sedang gelisah, buat dia lebih tenang. Lihat anak sedang menangis, buat dia tertawa. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam kedatangan seseorang menyampaikan, "Ya Rasulullah, si fulan berjuang fisabilillah, ikut ke medan perang, tapi ibunya menangis." Dipanggil oleh Nabi. Anak itu katakan, "Irja', pulang. Kamu bikin ibumu tertawa seperti engkau membuatnya telah menangis." Ini konsepnya sederhana, tapi kalau kita bisa mengendalikan ke dalam kehidupan, maka kebahagiaan akan nampak di depan mata. Setidaknya itu kata Alquran. Oke, saya berhenti sejenak. Kita dialog dulu. Nanti setelah itu saya akan sempurnakan tentang provokasi setan dan bagaimana mencegahnya. Ada yang mau ditanyakan? Saya perkenankan. Halo. Kenapa menjadi diam begini? Ada yang mau bertanya atau saya teruskan dulu, setelah itu baru kita bebas berdiskusi. Tidak mudah untuk dilakukan sikap seperti itu. Mudah disampaikan, tapi tidak mudah dikatakan. Sama Ustaz juga begitu, sama saja. Godaannya sama. Mau Ustaz, mau bukan, sama. Makanya jarang ada Ustaz ceramah bahwa istrinya. [Tertawa] Kenapa? Karena sama ada setannya. Ini poinnya. Ada setannya ini yang sudah berjanji kepada Allah, berkomitmen. Maksudnya, pokoknya selama manusia hidup, siapapun itu dan apapun statusnya, dia pasti memberikan wasit, menggoda lewat sini supaya ini ditekan ya, supaya taqwanya ditekan. Yang lain yang ini. Yang maka bagaimana cara mencegah godaan-godaan setan sehingga kita manusia tidak terbawa dalam nuansa provokasi setan sehingga bertransformasi dari pribadi yang lembut, berubah menjadi pribadi yang kasar, yang kotor tindakannya, dan sebagainya. Maka yang pertama kata Alquran, teruskan ayatnya. Kalau sifat fujur itu diperturutkan, diikuti dusta, diikuti sombong, diikuti jadi perilaku. Jadi sombong, belum apa-apa sudah mulai pamer, sudah macam-macam dan sebagainya. Perhatikan dulu kata Allah. Kalau mau sombong, pikirkan. Kalau ingin dusta, pikirkan. Kalau ingin berbuat hal-hal yang buruknya, pasti kehinaan. Jadi sebelum berbuat sesuatu yang menyimpang, kalau Anda ingin berkata kotor, pikirkan. Karena ketika itu keluar, Anda akan terhina. Kalau bukan ada yang dihadapan orang lain yang akan tergerak untuk menghilangkan itu. Karena itu tidak sedikit orang yang mengeluarkan kata-kata kotor dalam kehidupan, terekspos kemudian. Bukankah dirinya menjadi rendah? Mau sombong bagi dirinya, mungkin hanya ingin menampilkan kerja keras saja. Tapi ketika ditampilkan dalam bentuk sombong, diikuti provokasi ini, maka apa yang terjadi? Kata Allah, ujung-ujungnya pasti ini terhina hidupnya. Entah itu mendapatkan celaan, entah itu mendapatkan cacian. Jadi semua bentuk keburukan yang dialami oleh manusia itu kembali kepada perilakunya dan pada akhirnya adalah mengikuti bisikan-bisikan yang disampaikan oleh setan. Jadi yang pertama kali kalau terpikir sesuatu yang buruk, langsung kata Allah, "Pikirkan." Maaf ya, hei, jangan kerjakan kalau tidak, kamu akan terhina di ujung. Maaf, maaf sekali lagi, maaf. Seseorang ketika berbuat korupsi misalnya, dia merasakan akan mendapatkan sesuatu yang besar. Tapi Quran menasehati, "Jangan lakukan, karena kamu akan terhina." Betapa itu terbukti ketika dia diketahui, entah itu KPK, Kejaksaan, atau polisi menangkap dan seterusnya. Perhatikan apa hukuman yang didapatkan dalam kehidupan sosialnya? Cacian, makian, celaan. Dan yang paling dahsyat bukan hanya orang yang melakukan, sampai anaknya dapat bagiannya, padahal tidak pernah mengerjakannya. Keluarganya mendapatkan bagiannya, padahal tidak pernah melakukannya. Karena itu masuk kepada yang kedua. "Nahlunar" kaidah-kaidah perilaku dan rezeki. Ada yang terwariskan. Yang kedua kata Allah, "Kalau kamu merasa bisa menanggung kehinaan pada dirimu, pikirkan keluargamu." Contoh, Anda mengatakan, "Saya belum menikah, Ustaz." Tapi anakan punya ayah, punya ibu. Jadi kalau Anda berbuat sesuatu yang buruk, orang tua Anda akan kena. Anda berbuat maksiat, terjebak dengan perbuatan buruk, menggunakan benda-benda yang haram misalnya, atau mencuri, atau macam-macam itu diketahui, diekspos di publik. Bukan punya Anda, bukan hanya Anda. Ibu Anda akan kena, ayah Anda akan kena. Karena itu kata Quran, "Sebelum Anda berbuat yang kurang baik sebagai anak, pikirkan dulu orang tua." Jadi kalau merasa sebagai anak, "Saya akan menanggung itu, nggak apa-apa." Pikirkan orang tua Anda. Apa tega ibu yang telah mengandung, melahirkan, merawat, mendidik? Ayah yang penuh dengan penuh perawatan Anda, menyayangi Anda, menemani Anda saat tidur, tiba-tiba hanya mendapati keburukan yang dari Anda kerjakan, mendapati limpahan keburukan dari hasil kreasi anaknya. Tapi kalau Anda orang tua, maka ingat anak dan keluarga. Beberapa informasi yang kadang-kadang dari instansi pemerintahan jika konsultasi, salah satunya yaitu, "Kok masih ada yang nekat berbuat seperti ini?" Anda bisa bayangkan seorang bapak korupsi, anaknya dibully di sekolah sampai dia putus sekolah. Ibunya berbuat maksiat, ketahuan keluarganya yang kena. Suaminya yang hancur karirnya karena yang istrinya berbuat yang tidak bagus, berselingkuh, bergaul dengan pasangan yang lainnya. Suaminya yang kena, suami yang kemudian diputus pekerjaannya. Anak-anak yang kena bulinya. Jadi masuk yang kedua. Ketika ada seseorang yang berpikir mengikuti provokasi setan, kata Allah, "Pikirkan keluargamu." Yang ketiga, yang terakhir. Yang terakhir, pikirkan kematian. Jadi kalau sedang terdorong oleh nafsu yang diarahkan oleh setan untuk berbuat yang buruk, misal, maaf ya, maaf, ingin mencela orang hanya sekedar bikin status. Coba bayangkan saat berbuat seperti itu, Anda diwafatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apakah mau wafat dalam keadaan sedang berbuat maksiat? Sementara selama ini Anda salat, Anda puasa, Anda zakat, dan sebagainya. Tiba-tiba kemudian berbuat maksiat dan wafat dalam keadaan demikian. Itu puncak terakhirnya yang paling cepat bisa mengendalikan nafsu kita sehingga tercegah dari perbuatan yang buruk. Selebihnya di situ doa-doa untuk menguatkan itu semua. Ada ayat kursi, ada surah 3 surah paling favorit, semoga bumi terakhir, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas. Ada istighfar dan lain sebagainya. Nah, itu jalan-jalan yang bisa kita lakukan. Dan sebagai penutup, kalau sudah pernah terjebak berbuat seperti itu, bagaimana cara kembalinya? Ini ada jalan rel. Salah belok ke sini, ingin balik lagi supaya ke jalan yang benar. Balik kembali ke jalan yang lurus, yang benar, untuk menempuh jalan yang lebih baik. Dalam bahasa Arab disebut dengan "taubah." Sifatnya disebut dengan "taubat." Maka muncullah ayat taubat, Quran surah ke-4, ayat 17. [Musik] Quran surah ke-4, ayat 17. Saya berhenti dan berakhir di sini. Masih ingat teman-teman, kalau perbuatan dari nafsu, jadi wujud perbuatan, maka disebut apa namanya perbuatannya? Disebut apa? Kalau lupa, suka nggak ingat tuh kan. Oke, sekarang di ayat itu kata Allah, kalau ada yang pernah terjebak berbuat buruk dalam hidup, kata-katanya keluar kotor, tindakannya nggak bagus, hartanya didapatkan dari jalan yang tidak baik misalnya, terus dia ingin merubah itu, dia merasa, "Saya diprovokasi oleh setan, terjebak oleh nafsu, pengen berubah, pengen menghilangkan itu semua." Maka apa yang harus dilakukan? Bab ini yang paling penting. Mohon fokus baik-baik. Ini yang paling penting dan ini yang paling dahsyat yang bisa kita dapati saat ini. Kalimatnya nih. "Kemudian saat dia sadar itu salah, dia bergegas ingin segera memperbaiki." Kalimat ini menjadi mahal karena ada informasi di dalamnya dan ini rahasia. Mohon dijadikan antara kita saja. Dari ini, perhatikan kalimatnya. Pernyataan maaf, maaf. Seburuk-buruknya perbuatan yang pernah dikerjakan oleh manusia, rahmat Allah menjadikan setiap manusia itu selalu mendapat kesempatan cahaya untuk kembali. Karena itu, seburuk apapun perbuatan yang pernah dilakukan, pasti akan ada kilatan di hati kita yang mengingatkan. "Apa masih mau begini terus? Bisa nggak saya berubah? Pernah nggak merasakan itu?" Ya. "Bisa nggak saya tahajud malam? Bisa nggak saya salat? Sampai kapan saya mau begini?" Nah, itu yang mahal. Kadang-kadang datangnya lewat renungan, kadang-kadang datangnya lewat pandangan. Misal, ada pulang dari pekerjaan, kok tiba-tiba Anda lewat ke depan masjid yang banyak orang sedang menunaikan salat. Tiba-tiba Anda lewat ke pesantren yang anak-anak kecil sudah bawa mushaf, pengen menghafal. Sudah melihat kan? Pertanyaan saya, kok bisa Anda lewat situ, padahal bisa melalui jalan yang lain? Itu kalau bukan sayang Allah, nggak mungkin diberikan demikian. Kadang-kadang lewat pendengaran. Kadang-kadang pendengaran dan penglihatan. Pendengaran, misal, taklim di masjid, Masjid Raya Pondok Indah, atau misalnya RBJ di sini. Suara keluar, Anda lewat situ. Begitu Anda lewat, terdengar kalimat, "Bertobatlah kepada Allah sebelum kita semua wafat." Padahal kalimat itu ditujukan pada jamaah yang di dalam, tapi suaranya keluar, Anda yang dengar. Kok bisa Anda dengar itu? Kadang-kadang pendengaran dan penglihatan. Anda pengen lihat YouTube, ngecek yang lain, tapi yang keluar pengajian. Yang paling dahsyat, jawaban dari pertanyaan Anda selama ini. Nah, itu yang dimaksudkan. Kalau Anda mengalami momentum seperti itu, kata Quran, "Cepat ambil." Karena Allah sedang memberikan kasihnya secara langsung tanpa campur tangan siapapun. Biasanya kalau dalam kondisi seperti itu disambut oleh seorang hamba, maka muncullah rahmat Allah pada saat itu yang akan langsung merubah hamba itu menjadi kekasih Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Makanya tidak sedikit orang menjadi kekasih Allah. Kekasih itu maksudnya sangat dekat dengan Allah, sampai doa pun baru minta, dijawab. Siapa di antara mereka Aulia Allah itu? Rata-rata ada di antara mereka yang tadinya pelaku maksiat, terus merasakan nikmatnya tobat, meningkat ibadahnya, dan sekatnya seakan-akan menjadi jauh terpisah, lepas dari dirinya, nyambung ke Allah. Begitu cepatnya doanya cepat terjawab, dzikirnya terasa dengan nikmat. Itulah Aulia Allah. Jadi yang ingin saya katakan adalah, kalau satu kali berbuat salah, terpikir, kemudian ada kilatan di hati kita, di pikiran kita, atau mendengar atau melihat sesuatu mengarahkan kita untuk bertobat, cepat ambil itu. Cepat ambil itu. Yang dimaksud Quran surah ke-29 di ayat yang terakhir. Setelah itu, sesali perbuatan yang pernah dikerjakan, minta ampun pada Allah. Kalau terkait dengan manusia, minta maaf. Datangi dan jangan merasa sungkan. Dengan rasa sungkan, kenapa berani berbuat salah tapi tidak berani meminta maaf? Datangi, minta maaf. Apapun yang ia lakukan, kata-kata dan sebagainya, tidak akan pernah mengambil hak Anda, tidak akan mengambil kesempatan Anda, waktu Anda, tapi membebaskan semua sekat yang ada dalam jiwa kita. Tapi kalau orang lain yang salah, maafkan dulu. Memaafkan orang itu akan menghilangkan sekat dalam diri kita sehingga tidak pernah memikirkan dia lagi. Tapi tidak menyelesaikan persoalan dia dengan Allah. Jadi tetap dia dihisab oleh Allah sebelum dia minta maaf pada kita. Tidak ada ruginya. Paham ya? Karena itu, kalau ada kilatan dipikiran kita mengajak untuk bertobat, cepat respon. Sesali perbuatan itu, berjanji tidak mengulangi, dan mengganti dengan perbuatan baik. Apa tandanya taubatnya diterima? Tandanya semua perbuatan yang jelek yang pernah keluar dari lisan, dari mata, dari telinga, sampai ujung kakinya, misal, maka berganti menjadi perbuatan baik. Itu tandanya hamba itu diterima tobatnya oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Saya tutup dengan hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Mencintai seorang hamba, maka mengujinya. Kadang-kadang di antara ujian itu, kalau manusia tidak bisa memiliki, ada yang mengantarkan pada sifat-sifat buruknya. Maka muncullah keterangan yang kedua langsung dari Alquran. "Innallaha yuhibbutawwabina wa yuhibbulmutathohirin." Allah sangat mencintai pelaku maksiat yang mau bertobat dibandingkan dengan orang saleh yang tidak pernah merasa salah. Ingat ya. Allah sangat mencintai pelaku maksiat yang mau bertobat dibandingkan orang saleh yang tidak pernah merasa salah. Silakan bikin status ya. Itu dari Alquran. Saya kira itu yang bisa saya sampaikan. Kita berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mudah-mudahan doa kita bisa dikabulkan dan mendapatkan nilai kebaikannya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allahumma innaka antasami'ur rohim. Allahummarhamna ya arhamarrohimin. Ya Allah, mohon rohmati siapapun yang ada di ruangan ini atau yang mungkin bersambung bersama kami dalam kebaikan. Rabbana, ya Allah, mohon jangan biarkan ada satupun di antara kami yang hadir saat ini kecuali Engkau ampuni segala dosa-dosanya. Wahaiman illa fardhu. Jika ada yang merasakan kegelisahan, jangan biarkan dia pulang kecuali Engkau telah tenangkan keadaan hatinya. Oleh jika ada yang mengalami kesulitan dalam hidupnya, maka mohon Ya Allah ringankan dan hilangkan semua kesulitannya. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. [Musik] Alhamdulillahirobbilalamin. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]