Transcription
Prajurit ini dengan cepat mengubur temannya ke dalam tanah dan menarik mayat untuk menutupi dirinya agar tak terlihat. Pasukan musuh pun lewat. Salah satunya melangkah sangat dekat dengan wajah temannya. Tiba-tiba seorang musuh berbalik dan menusuk mayat yang menutupinya. Begitu mereka pergi, ia mendorong tubuh itu dan menarik temannya keluar dari tanah.
Di kejauhan ia melihat seorang prajurit lain masih hidup dan segera berlari untuk menolong. Tapi musuh melihatnya. Ia meloncat masuk ke sebuah terowongan. Namun, sebuah granat dilemparkan ke arahnya. Untungnya Sam melihatnya tepat waktu dan berhasil kabur ke dalam lorong yang gelap, sempit dan menakutkan. Di sana Sam bersembunyi di antara musuh. Ia menemukan seorang prajurit musuh yang terluka. Namun alih-alih membunuhnya, Sam malah mengobati lukanya. Musuh menatapnya dengan tatapan tak percaya.
Saat malam tiba, Sam keluar dari terowongan dan terus mencari prajurit yang masih hidup. Meski tubuhnya lemah, ia tetap menarik para korban yang sekarat. Bahkan termasuk musuh. Kakinya mulai gemetar. Tangannya juga tremor. Tapi ia tak berhenti. Temannya masih menunggu bantuan. Ia berdoa, "Satu lagi saja. Tolong biarkan aku selamatkan satu lagi." Setelah menyelamatkan satu orang lagi, ia berdoa lagi. Satu lagi. Gesekan tali telah melukai tangannya hingga berdarah. Tapi tubuh-tubuh yang terluka terus turun dari tebing satu persatu. Tak ada yang tahu dari mana mereka datang. Mereka hanya tahu ada seorang pria gila yang menyelamatkan nyawa dari atas sana.
Sang kapten melihatnya dan bertanya dengan kaget, "Siapa pria gila itu?" Jawabannya, "Itu Sam, prajurit baru yang dulu sering diejek karena dianggap tak berpengalaman."
Saat pagi tiba, Sam menemukan Sersan pelatihnya yang terluka. Musuh sedang menyisir daerah itu. Sam mengambil senapan sang Sersan. Sersannya mengira bahwa Sam akhirnya siap untuk membunuh musuh. Tapi Sam justru membungkus senapan itu dengan kain dan memberi isyarat pada Sersan agar naik ke punggungnya. Sang Sersan memberi tembakan perlindungan hingga mereka sampai ke tepi tebing. Sam menurunkannya lebih dulu. Begitu sangsan menyentuh tanah, ia langsung berteriak ke arah kapten. Sam masih di atas. Sesaat kemudian, Sam muncul lagi dengan membawa satu prajurit lain di punggungnya. Musuh mencoba mengejarnya, tapi pasukan rekannya memberi tembakan perlindungan. Sam selamat.
Saat akhirnya diselamatkan, pikirannya masih terperangkap di medan perang. Ia bahkan tak bisa berdiri dengan benar. Sang kapten bertanya dengan lembut, "Apa kau terluka?" Air mata memenuhi mata Sam. Ia tak bisa berkata apa-apa. Semua prajurit berdiri dalam diam memberi penghormatan pada pahlawan yang kembali dari neraka. Sam mungkin tak menyadarinya sendiri, tapi malam itu ia telah menyelamatkan 76 nyawa sendirian.