📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Hal Hal Yang Harus Dijauhi, Terutama Saat Berlibur - K.H. Ahmad Zainuddin Al Banjary Hafizhahullah

Pesantren Intan Ilmu1:24:35

Transcription

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkannya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. [Musik] Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. [Musik] Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Musik]

Dan sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru (bid'ah), dan setiap bid'ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala pada hari ini, hari Kamis, bakda subuh, hari yang ke-13 dari Ramadan Mubarak, bulan yang penuh dengan berkah 1446 Hijriah. Kita dimudahkan oleh Allah subhanahu wa taala untuk duduk bersama kembali di dalam kajian tentang nasihat sebelum ijazah Ramadaniah 1446 Hijriah, nasihat sebelum liburan Ramadan.

Selawat dan salam semoga selalu Allah berikan kepada nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam, pada keluarga beliau, para sahabat, serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai hari kiamat kelak. Dengan nama-nama Allah yang husna dan sifat-sifat yang mulia, kita berdoa: "Allahumma inna nasaluka ilman nafi'an wa rizqan thayyiban wa amalan mutaqabbalan." (Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima). Allahumma amin.

Ahibbati thalabah wa thalibatan fillah, akum para santri putra putri yang saya cintai karena Allah. Semoga Allah subhanahu wa taala selalu memberikan afiat kepada kita di dunia dan di akhirat. Siapa yang bisa menyebutkan apa yang sudah kita pelajari selama dua hari ini? Hari pertama, naam, as-sabiqun. Hari pertama apa yang sudah kita pelajari? Siapa yang bisa menyebutkan?

"Yusuf, Taf'arruf ismak." (Yusuf, perkenalkan namamu.)

"Arif, ismak." (Arif, namamu.)

"Wa thalib al-tib." (Dan thalib al-tib.)

"Ismi Dafa Thariq al-mughni." (Namaku Dafa Thariq al-mughni.)

"Dafa Thariq al-mughni."

"Al-mughni."

"Ma undaak bim?" (Siapa yang memanggilmu?)

"Undaak Zafa au Thariq." (Memanggilku Zafa atau Thariq.)

"Al-mughni Zafa." (Al-mughni Zafa.)

"Zafa."

"Ayyuha min Banjarmasin." (Wahai engkau dari Banjarmasin.)

"Banjarmasin."

"Anta sabiqun." (Engkau adalah sabiqun.)

"Sabiqun."

"Ad-darnail." (Ad-darnail.)

"Al-hal-hal al-makruh wa mubatil as-shalat." (Hal-hal yang makruh dan membatalkan salat.)

"Hal-hal yang makruh dan membatalkan salat."

"Sahih."

"Uran makruhanah wahidan fakatan." (Sebutkan satu hal yang dimakruhkan.)

"Apa yang membak... apa yang dimakruhkan di dalam salat?"

"An-nadzar ilas sama'." (Melihat ke langit.)

"Melihat ke langit."

"Ke langit."

"As-shalatuhu kadhalik, hukmuhu ma?" (Salatnya begini, hukumnya apa?)

"Makruh."

"Raihan."

"Raihan."

"Abdur Ridha."

"Raihan."

"Ismuk Raihan." (Namamu Raihan.)

"Sahih."

"Naam."

"An-na'am." (Ya.)

"Wa huwa thalib." (Dan dia adalah thalib.)

"Ya Raihan, ma darasta fil yaumain?" (Wahai Raihan, apa yang telah engkau pelajari dalam dua hari ini?)

"Al-hal-hal allati tu'malu inda al-ijazah." (Hal-hal yang harus dilakukan saat liburan.)

"Hal-hal yang harus dilakukan saat liburan."

"Sebutkan apa pertama kali yang harus dilakukan saat liburan."

"Selalu menjaga salat lima waktu di masjid."

"Lalu menjaga salat lima waktu di masjid."

"Sebelum itu, seorang penuntut ilmu harus berpikir dewasa atau berpikir ke depan."

"Bab as-sabiqun." (Bab orang-orang yang mendahului.)

"Seorang penuntut ilmu harus berpikir dewasa dan berpikir ke depan."

"Setelah berpikir dewasa dan berpikir ke depan, apa yang harus dikerjakan?"

"An-tazil gurfah." (Mengatur kamar.)

"Gurfah arba'atasar." (Kamar empat belas.)

"Urf arba'atasar." (Kamar empat belas.)

"Mus'ab Luqman."

"Mikrofon lilf ak." (Mikrofon untuk akhi.)

"Luqman."

"Al-iduka ya Luqman." (Al-iduka ya Luqman.)

"Allahumma amin."

"Bab maza qabla ba'da an nufakkir ilal amam?" (Bab apa sebelum setelah kita berpikir ke depan?)

"Na'am, al-muhafadha al-shalawat al-khams." (Ya, menjaga salat lima waktu.)

"Na'am, hadha amr nafaluhu, lakin qabla fi'l amr tafaddal." (Ya, ini adalah perkara yang kita lakukan, tetapi sebelum melakukan perkara itu, silakan.)

"Qabla ahsantatu alat khutbah." (Sebelum khutbah.)

"Ahsantinaatu al-khutbah." (Ahsantinaatu al-khutbah.)

"Fahimanaatul khutbah." (Fahimanaatul khutbah.)

"Pembuatan rencana selama... selama apa?"

"Nabil, selama ijazah." (Nabil, selama liburan.)

"Selama utlah." (Selama liburan.)

"Ahsantuma ijlisa." (Ahsantuma ijlisa.)

"Bab, sekarang perhatikan di hari yang ketiga ini kita akan belajar tentang hal-hal yang wajib dijauhi, terutama saat berlibur."

"Hal-hal yang wajib dijauhi, terutama saat berlibur."

"Perhatikan, saya akan tulis."

"Intabihu jayyidan." (Perhatikan baik-baik.)

"Perhatikan semuanya. Saya akan menulis agar kalian paham yang saya maksud, baru nanti kita jelaskan."

"As-su'ud wadih." (As-su'ud wadih.)

"Baik, bagi seorang muslim yang terlarang ada dua macam."

"Bagi seorang muslim yang terlarang ada dua macam."

"Macam yang pertama syubhat, macam yang kedua syahawat."

"Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata."

"Bab, ala naktub bismillah." (Bab, mari kita tulis bismillah.)

"Thariq, yaum al-khamis." (Thariq, hari Kamis.)

"Bab al-mahdurat hilal al-ijazah." (Bab hal-hal yang terlarang selama liburan.)

"Hal yang terlarang terkhusus saat liburan."

"Baik, perhatikan yang terlarang secara umum, bukan hanya saat liburan."

"Secara umum bagi kalian ketika hidup di dunia sebagai seorang muslim ada dua, sebagaimana dikatakan oleh para ulama, di antaranya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah."

"Beliau berkata, al-fitnatu nau'an." (Fitnah itu ada dua macam.)

"Penyebab dosa dua, atau bukan penyebab dosa."

"Al-fitnah itu godaan, godaan ada dua macam."

"Yang pertama adalah fitnatu as-syubhat." (Fitnah syubhat.)

"Godaan syubhat."

"Apa itu godaan syubhat?"

"Godaan hal yang samar-samar di dalam perkara agama, baik berkaitan dengan akidah, ibadah, muamalah, atau adab dan akhlak."

"Catat itu baik-baik."

"Syubhat, godaan yang samar-samar dalam perkara agama, baik yang berkaitan dengan akidah, ibadah, dan adab, akhlak, muamalah."

"Kemudian sudah saya sebutkan tadi takrif, takrifnya."

"Kemudian sebabnya, sebab dari fitnatus syubhat: taqdimul 'aqli 'alal syariat." (Mendahulukan akal daripada syariat.)

"Mendahulukan akal daripada syariat."

"Ini adalah sebab dari godaan syubhat."

"Wa maaluha." (Dan akibatnya.)

"Maal, maal itu akibat, akibat godaan syubhat: al-kufr, kekufuran; as-syirk, kesyirikan; al-bid'ah, perbuatan bid'ah; wa jami'ul ma'asi, dan seluruh perbuatan maksiat."

"Orang kalau terkena fitnatus syubhat bisa kafir, bisa musyrik, bisa berbuat bid'ah, bisa melakukan maksiat."

"Misal, contoh dari perbuatan atau godaan syubhat."

"Siapa yang tahu?"

"Yarfa' yadahu." (Mengangkat tangannya.)

"Hani, as-syubhat." (Hani, syubhat.)

"Min fitnat syubhat." (Dari fitnah syubhat.)

"Hadith asyar qul." (Hadith asyar qul.)

"Yusra." (Yusra.)

"Yusra."

"Yasjaajak." (Yasjaajak.)

"Asir fitnatus syubhat." (Asir fitnatus syubhat.)

"Tidak ada yang tahu."

"Apa sebab fitnatus syubhat?"

"Mengedepankan akal daripada syariat."

"Apa bahayanya?"

"Maal, akibatnya fitnat syubhat: kekufuran, perbuatan bid'ah."

"Contohnya dalam perkara akidah."

"Naam, akuna Syafiq Rizbalamah." (Ya, akuna Syafiq Rizbalamah.)

"Li khams Syafiq Abi Banyu." (Li khams Syafiq Abi Banyu.)

"Naam."

"Asal al-ta'kyif fi asmaillah wa shifatillah." (Asal ta'kyif dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah.)

"Contohnya membagaimanakan nama-nama atau lebih tepatnya sifat-sifat Allah."

"Bagaimana ya Allah turun?"

"Oh, kalau Allah turun dari langit dunia berarti turunnya seperti makhluk."

"Berarti Allah tidak mungkin turun karena Allah tidak mungkin seperti makhluk."

"Ada misal."

"Ini bisa menyebabkan orang kekufuran, kesyirikan, meniadakan sifat Allah subhanahu wa taala."

"Ahsan."

"Hah."

"Siapa yang lain contoh?"

"Naam, fa'al." (Ya, fa'al.)

"Sebabnya adalah apa tadi?"

"Mendahulukan akal daripada syariat."

"Naam, taqdimul 'aqli wal bashar lillah subhanahu wa taala." (Ya, mendahulukan akal dan pandangan untuk Allah subhanahu wa taala.)

"Tib, nafsul makna al-kalam." (Baik, makna perkataan itu sendiri.)

"Nafs al-makna." (Makna itu sendiri.)

"Membagaimanakan sifat mendengar dan sifat melihat Allah subhanahu wa taala."

"Allah melihat, Allah mendengar, tapi bagaimana Allah mendengar, Allah melihat?"

"Ini tidak boleh membagaimanakan bagi seorang muslim."

"Sifat Allah tidak boleh, dan itu syubhat."

"Tib, ahsan."

"Saya beri contoh yang mudah."

"Orang belum percaya bahwa alam semesta ini ada pencipta."

"Itu orang apa namanya? Ateis."

"Dia tidak percaya atau masih bingung."

"Atau yang disebut dengan orang agnostik."

"Bingung, saya sih enggak, saya sih bingung."

"Benar enggak Allah itu ada?"

"Ya, ini namanya syubhat."

"Meragukan keberadaan Allah."

"Maka saya pesan, nanti pulang atau selama kalian menjadi muslim, hati-hati fitnatus syubhat."

"Terutama yang nonton-nonton di YouTube, sering kalian dapati itu."

"Nanti hati-hati jangan sampai masuk ke dalam pikiran kalian."

"Sebabnya mendahulukan apa tadi?"

"Akal daripada syariat."

"Contohnya meragukan keberadaan Allah."

"Contoh yang lain, meragukan kitab-kitab suci."

"Ah, jangan-jangan Al-Qur'an buatan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, bukan firman Allah."

"Itu karena buatan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saja."

"Nah, ini dalam perkara akidah."

"Meragukan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam."

"Ada orang berkata, nanti begini, saya beriman kepada Allah, bertauhid, tapi Nabi saya Nabi Isa."

"Saya masih bertauhid dong, apa salah saya?"

"Silakan kalian, orang Islam Tuhannya Allah, nabinya Nabi Muhammad."

"Saya tapi Tuhannya Allah, nabinya Nabi Isa."

"Ini perkara akidah."

"Jawabannya adalah semenjak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus, maka semua umat manusia wajib beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam."

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Nasiadi ahadukum Yahudiyyun wa Nasraniyyun...'" (Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran, tidaklah seorang dari umat ini baik dia Yahudi ataupun Nasrani mendengar dakwahku...)

"Mendengar dakwah Rasul shallallahu alaihi wa sallam, lalu dia tidak beriman kepadaku, baik itu dari Yahudi atau Nasrani, lalu dia tidak beriman, maka dia termasuk penghuni neraka."

"Nabi Musa, kalau sekarang turun Nabi Musa, harus beriman kepada siapa?"

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam."

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Lau kana Musa hayyan ma wasi'ahu illa an yattabi'ani.'" (Kalau seandainya Nabi Musa hidup, tidak ada keluasan baginya kecuali harus mengikuti aku.)

"Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam."

"Nah, ini contoh-contoh dari fitnah syubhat."

"Contoh yang lain lagi dalam perkara bid'ah."

"Ini kan baik, kenapa tidak boleh dikerjakan?"

"Itu contoh mengedepankan akal daripada apa?"

"Syariat."

"Maka jawabannya mudah, carikan bid'ah yang baik."

"Atau kalian jawabnya mudah, oke, kita azan sebelum tarawih."

"Azan sebelum tarawih."

"Azan kan baik."

"Tapi boleh enggak dikerjakan?"

"Hah?"

"Saya tanya, azan baik enggak?"

"Baik."

"Boleh enggak dikerjakan sebelum tarawih?"

"Kenapa enggak boleh dikerjakan padahal baik?"

"Karena tidak ada apa contohnya dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam."

"Nanti kalian akan dapat itu di luar sana."

"Ini kan baik, kenapa enggak boleh dikerjakan?"

"Jawabannya apa?"

"Mana contohnya, mana dalilnya dari Al-Qur'an dan Sunnah?"

"Itu dalam perkara akidah, sudah ada contohnya."

"Kemudian ibadah, sudah ada contoh."

"Muamalah, hubungan kalian punya teman."

"Teman kalian berpacaran, dia punya syubhat kan?"

"Senang sama senang, boleh aja."

"Yang enggak boleh kalau dia tidak suka kemudian kita paksa."

"Laki-laki perempuan sudah berumur 18 tahun, 19 tahun, sekarang sudah banyak satu rumah tidak menikah."

"Dan itu haram."

"Apa dalilnya haram?"

"Wa la taqrabu az-zina." (Dan janganlah kamu mendekati zina.)

"Hati-hati, oka, nanti pulang ya Allah yasamak zina."

"Jangan tebar persona alumni Intan Ilmu."

"Siapa yang mau dengan saya?"

"Hah?"

"Syubhatnya apa?"

"Dia katakan syubhatnya, rida sama rida, boleh."

"Hah?"

"Bagaimana kalian jawabnya?"

"Ini contoh fitnatus syubhat."

"Rida sama rida."

"Apa salahnya berzina?"

"Apa salahnya rida sama rida?"

"Hah?"

"Bagaimana jawabnya?"

"Kabir syai'an azr." (Kabir syai'an azr.)

"Bagaimana jawabnya, Azra?"

"Rida sama rida."

"Wah, an mikrofon." (Wah, an mikrofon.)

"Takrif." (Takrif.)

"Jawab ya, Azra."

"Idza tarif, ajib." (Jika engkau tahu, jawablah.)

"Idza lam ta'rif, qul Allahu a'lam." (Jika engkau tidak tahu, katakanlah Allah Maha Mengetahui.)

"Wallahu a'lam, nisful jawab." (Wallahu a'lam, setengah jawaban.)

"Hm, qulu Allahu a'lam, nisful jawab." (Katakanlah Allah Maha Mengetahui, setengah jawaban.)

"Jawabannya mudah, ayat tadi: 'La taqrabu az-zina'." (Jangan mendekati perbuatan zina.)

"Meskipun rida sama rida, Allah tidak peduli rida atau tidak rida."

"Jangan dekati perbuatan zina."

"Serumah ya, tidak mungkin tidak melakukan apa-apa."

"Nah, ini syubuhat."

"Ini syubuhat."

"Sekarang bagaimana menghadapinya?"

"Ad-dafa'." (Menghadapinya.)

"Tayyib." (Baik.)

"Siapa yang tahu ayat yang berkaitan dengan syubhat?"

"Ainal hudud, ayyuhal huffaz." (Di mana batasannya, wahai para penghafal.)

"Hah?"

"Al-huffaz al-mutqin." (Para penghafal yang tekun.)

"Kita di pesantren ini ada, ada tahapan menyelesaikan 15 atau 30."

"Kemudian setelahnya program itqan."

"Itqan bagi yang 15, 5 juz, 5 juz, 5 juz."

"Bagi yang 30, 6 juz, 6 juz, 6 juz, 6 juz."

"Lima kali."

"Ada program terakhir tasmi'." (Tasmi'.)

"Maka di pesantren ini tasmi' kubra lajnah tasmi' kubra."

"Sudah tiga orang."

"Dua orang dari angkatan pertama, akh Khairul Ulum dan akh Mulki Najib."

"Kemudian satu orang dari angkatan kedua, akh Razan."

"Dan saya berharap yang paling tinggi nanti kita ingin juga yang lain."

"Hah."

"Mal ayyuhum al-ayyah." (Mal ayyuhum al-ayyah.)

"Tahaaddas syubhat." (Tahaaddas syubhat.)

"Razali, mikrofon." (Razali, mikrofon.)

"As-syubhat." (As-syubhat.)

"Nah."

"Mengikuti syubhat."

"Orang yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan."

"Mengikuti apa?"

"Syubhat."

"Obatnya, ad-dafa' warun 'am bi." (Obatnya, ad-dafa' warun 'am bi.)

"Maka setiap ada syubhat, catat baik-baik."

"Setiap ada syubhat, kembalikan kepada dalil."

"Jazakallah khair." (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.)

"Setiap ada syubhat, kembalikan kepada dalil."

"Contoh yang lain nih, contoh yang lain."

"Ada orang yang menghalalkan musik."

"Menghalalkan ingat ya, bukan mengerjakan."

"Bedakan ini, perhatikan saya bedakan antara orang yang menghalalkan maksiat dengan mengerjakan maksiat."

"Tidak semua yang mengerjakan maksiat menghalalkan."

"Menghalalkan perzinahan, menghalalkan pacaran."

"Kata dia, harus dong, sebelum menikah harus kenalan dulu supaya kita tidak seperti beli karung, beli kucing dalam karung."

"Harus kenalan dulu, bagaimana sifatnya, bagaimana rasanya."

"Hah?"

"Kenapa kalian tertawa?"

"Rendah, Allahu tubu ilallah." (Rendah, Allahu tubu ilallah.)

"Natuub ilallah." (Natuub ilallah.)

"Insya Allah."

"Jazakallah khairan." (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.)

"Bab."

"Hah."

"Perhatikan baik-baik."

"Ada orang yang menghalalkan zina."

"Ini akibat syubhat."

"Meskipun dia tidak mengerjakan, meskipun dia tidak mengerjakan, tapi dia menghalalkan maksiat."

"Ini akibat syubhat."

"Dan yang menghalalkan maksiat seperti menghalalkan zina, menghalalkan riba, menghalalkan khamar, menghalalkan judi, semuanya haram."

"Maka ini jika dihalalkan menyebabkan kepada kekufuran."

"Dan itu hibat dari, dari apa?"

"Fitnatu as-syubhat." (Fitnah syubhat.)

"Paham?"

"Nanti ada yang menghalalkan riba, ada yang menghalalkan judi seperti di zaman sekarang."

"Judol." (Judol.)

"Apa pengertian judol?"

"Judi online."

"Pinjol untuk judol."

"Pinjol apa?"

"Pinjaman online untuk judol."

"Jadi pinjol itu riba, kemudian dia meminjam untuk bermaksiat."

"Kata dia, apa salahnya?"

"Nah, ini kena syubhat."

"Pinjol halal, saya perlu makan."

"Judol halal."

"Hati-hati menghalalkan riba, menghalalkan judi."

"Berbeda dengan mengerjakan riba."

"Mengerjakan, menghalalkan maksiat bagian dari fitnatu syubhat."

"Yang ingin saya sampaikan tadi, bagaimana cara melawannya?"

"Kembalikan kepada dalil syariat."

"Kembalikan kepada dalil syariat."

"Hati-hati para ikhwah, ini berbahaya."

"Lebih berbahaya daripada maksiat biasa."

"Siapa yang tahu fitnatus syubhat?"

"Lihat perkataan Imam Ibnu Qayyim."

"Siapa yang bisa menterjemahkan fitnatus syubhatul fitnah?"

"Saya ulangi, fitnatus syubhat."

"Yang kedua, fitnah as-syahawat." (Fitnah syahwat.)

"Fitnah syubhat."

"Min fitnat syahawat." (Dari fitnah syahwat.)

"Siapa yang bisa menterjemahkan?"

"Fit, fadol." (Fit, fadol.)

"Fitnah syubhat lebih besar bahayanya daripada fitnah syahwat."

"Dan syubhat lebih besar bahayanya daripada fitnah syahwat."

"Baik, kita ambil yang sama."

"Pertama, takrif, pengertian."

"Apa itu fitnah?"

"Istadi, jazakallahu khair." (Istadi, jazakallahu khair.)

"Apa itu pengertian fitnatu as-syahawat?"

"Fitnatus syahawat, pengertiannya adalah godaan yang menyebabkan seseorang bermaksiat, baik dengan lisannya, perbuatannya, disebabkan karena syahwat, hawa nafsu."

"Godaan yang menyebabkan seseorang bermaksiat, baik dengan lisannya atau anggota tubuhnya, disebabkan karena syahwat, hawa nafsu."

"Itu pengertiannya."

"Sebabnya."

"Sebabnya, taqdimul hawa 'alal 'aqli was syariat." (Mendahulukan hawa nafsu dibandingkan akal sehat dan syariat.)

"Mendahulukan hawa nafsu dibandingkan akal sehat dan syariat."

"Hawa nafsu seperti hawa nafsu perut, hawa nafsu kemaluan."

"Ya, dua hawa nafsu."

"Hawa nafsu perut, hawa nafsu kemaluan."

"Dia lebih dahulukan daripada akal sehat atau daripada syariat Islam."

"Apalagi maal, akibatnya?"

"Akibatnya maksiat, melakukan dosa besar dan dosa kecil."

"Fi'lu al-kabirah was sagirah." (Melakukan dosa besar dan dosa kecil.)

"Dosa besar, al-kabirah, was sagirah, dosa kecil."

"Misal."

"Hah."

"Siapa yang tahu contoh dari godaan syahwat?"

"Ya, naam."

"Okti, mikrofon." (Okti, mikrofon.)

"Aina mikrofon?" (Di mana mikrofon?)

"Ya Abdul Khaliq, il tafakkir." (Ya Abdul Khaliq, silakan berpikir.)

"Tafakkir al-maal." (Tafakkir al-maal.)

"Tafaddal." (Silakan.)

"Zina."

"Az-zina liman yakun syahwat." (Zina bagi siapa yang syahwat.)

"Lebih mengedepankan hawa nafsu dan syariat."

"Orang berzina, para ikhwah."

"Perhatikan, dan kenapa saya angkat ini?"

"Ini salah satu kenakalan remaja paling banyak di zaman sekarang."

"Terdapat di media sosial."

"Ketika seorang pemuda atau pemudi ditanya, apa yang terjadi pada dirimu?"

"Umur 13 tahun, umur 14 tahun, 15 tahun, masih kelas 7, kelas 8, kelas 9."

"Perempuan sudah tidak perawan."

"Ini bahaya sekali."

"Ini kenakalan remaja paling banyak."

"Kenapa?"

"Karena menonton sekarang mudah menonton yang diharamkan."

"Padahal orang berzina, kesenangannya mungkin 5 menit tidak lebih."

"Tapi dia takut setelahnya."

"Apalagi kalau perempuan, bisa hamil setelahnya."

"Berbahaya."

"Dia lebih mengedepankan hawa nafsu dibandingkan akal sehat dan dibandingkan syariat."

"Ini contoh."

"Contoh yang lain selain zina."

"Hadith, fitnatus syahawat." (Hadith, fitnah syahwat.)

"Zaki, di sakat." (Zaki, di sakat.)

"Halah, jawab." (Halah, jawab.)

"Ma'al, min fitnati syahawat." (Ma'al, dari fitnah syahwat.)

"Al-istimna'." (Al-istimna'.)

"Al-istimna', al-mithal." (Al-istimna', contohnya.)

"Al-istimna', mengeluarkan air mani dengan sengaja."

"Ini syahwat."

"Limana yakun al-hawal." (Limana yakun al-hawal.)

"Yakun al-hawal." (Yakun al-hawal.)

"Min ahwal." (Min ahwal.)

"Orang yang sehat akalnya tidak melakukan ini."

"Ini di dalam bahasa para ulama, al-'adah as-sirriyah." (Kebiasaan rahasia.)

"Dan ini lebih membuat orang kecanduan dibandingkan narkotika."

"[Musik]"

"Hati-hati."

"Lezatnya nya tidak seberapa, tetapi perasaan tidak enak, tidak nyaman karena lebih mengedepankan hawa nafsu dibandingkan akal sehat dan syariat."

"Hah."

"Contoh yang lain."

"Asf al-asyir." (Asf al-asyir.)

"Naam, Abdur Razzaq." (Ya, Abdur Razzaq.)

"Adrianur, al-mithal min fitnati syahawat." (Adrianur, contoh dari fitnah syahwat.)

"Al-aklu nahar Ramadan." (Makan di siang hari Ramadan.)

"Al-aklu nahar Ramadan."

"Ini adalah godaan syahwat, kan?"

"Di siang hari bulan Ramadan, malas berpuasa atau batal puasa di siang hari Ramadan atau tidak puasa sama sekali di siang hari bulan Ramadan."

"Dan bisa masuk ke dalam fitnatus syubuhat."

"Kata dia, saya capek kerja dan saya ingin dapat duit."

"Lihat, lebih mengedepankan akal dibandingkan syariat."

"Kalau ini lebih depankan hawa nafsu dibandingkan akal sehat dan syariat."

"Bentar ya."

"Nah, para ikhwah yang dirahmati oleh Allah."

"Kaifa ad-dafa' 'ala fitnati as-syahawat." (Bagaimana melawan godaan syahwat.)

"As-syahawat." (As-syahawat.)

"Maka jawabannya adalah harus mengetahui bahwa godaan syahwat tidak selezat taat kepada Allah subhanahu wa taala."

"Harus mengetahui bahwa godaan syahwat tidak selezat Allah taat kepada Allah subhanahu wa taala."

"Jadi orang berzina, orang minum khamar, orang berjudi, orang masturbasi, orang merokok."

"Ya, merokok tidak selezat dengan orang yang tidak merokok."

"Apalagi ngepef." (Apalagi ngepef.)

"Hati-hati para santri."

"Saya tidak ingin mendengar."

"Makanya setelah ini saya akan menyebutkan hal-hal yang sangat terlarang, baik secara syubhat atau syahawat di pesantren."

"Yang kalau dikerjakan menyebabkan dua: satu, dikeluarkan dari pesantren; dua, tidak naik kelas di pesantren."

"Dan lebih daripada itu, pertanggungjawaban kelak di hari kiamat kepada Allah subhanahu wa taala."

"Sekarang saya ingin tanya, contoh lelaki suka sama laki-laki, aki perempuan suka sama perempuan."

"Masuk mana? Fitnatus syubhat atau syahwat?"

"Man yujibah." (Siapa yang menjawab.)

"Yang sudah menjawab tidak."

"Yujib." (Yujib.)

"Ak." (Ak.)

"Nah."

"Laki-laki suka kepada laki-laki, perempuan suka kepada perempuan."

"Masuk mana? Syubhat atau syahwat?"

"Hanif, akhir Hanif." (Hanif, akhir Hanif.)

"Qif ya Hanif." (Berhentilah wahai Hanif.)

"An'am Hanifan li'ammar." (An'am Hanifan li'ammar.)

"Naam, ya Hanif." (Ya, wahai Hanif.)

"Syahwat." (Syahwat.)

"Kenapa menjadi godaan syahwat?"

"Dosa besar."

"Hah?"

"Ajib jayyidan." (Jawab dengan baik.)

"Hah?"

"Taqdimul hawa 'ala syariat." (Mendahulukan hawa nafsu daripada syariat.)

"Akal-akal." (Akal-akal.)

"Taqdimul hawa 'alal 'aqli was syariat." (Mendahulukan hawa nafsu daripada akal dan syariat.)

"Wa mumkin al-fitnat as-syubhat." (Dan mungkin fitnah syubhat.)

"Qad yakun." (Qad yakun.)

"Qad yakun." (Qad yakun.)

"Ahsanta." (Ahsanta.)

"Qul, masya Allah." (Katakan, masya Allah.)

"Mungkin saja."

"Coba ceritakan, bagaimana mungkin saja bisa masuk kepada syubhat?"

"Nah, siapa yang tahu?"

"Laki-laki suka sama laki-laki, perempuan suka sama perempuan."

"Kata dia, ini wajar."

"Mungkin saja."

"Hm."

"Bisa jadi syubhat."

"Contoh istri." (Contoh istri.)

"Jazakallah khairan." (Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.)

"Kata dia, Allah keliru meletakkan saya di tubuh ini."

"Saya ini sebenarnya perempuan, cuma Allah salah meletakkan saya di tubuh laki-laki."

"Saya ini lemah gemulai, melambai-lambai."

"Hah?"

"Lihat tangan saya tidak seperti laki-laki."

"Nah, ini salah."

"Ini namanya syahawat atau syubuhat?"

"Syahawat atau syubuhat?"

"Syubhat."

"Karena dia mengedepankan akal dibandingkan hawa nafsu dibandingkan syariat."

"Mengedepankan akal bandingkan apa?"

"Salah saya."

"Saya tidak salah."

"Suara saya saja tidak besar."

"Jalan saya saja ini."

"Pokoknya salah Allah meletakkan saya di tubuh seperti ini."

"Ya, karena ada sebagian laki-laki yang gemulai."

"Tulang lunak laki-laki tidak boleh gemulai."

"Apalagi santri-santri dan ilmu."

"Dia pemimpin, bertanggung jawab, tegas, disiplin."

"Laki."

"Kalau bahasa Arabnya, rijal."

"Nahnu rijal." (Kami adalah laki-laki.)

"Nahnu rijal." (Kami adalah laki-laki.)

"Baik, ini contoh."

"Baik, sekarang saya akan duduk dan perhatikan."

"Waktu saya akan sebutkan beberapa yang sangat terlarang, baik syubhat atau syahawat."

"Dan ini bisa kalian dapati di dalam buku petunjuk santri."

"Perhatikan baik-baik di dalam buku petunjuk santri itu adalah petunjuk kalian."

"Maka saya berharap nanti kalau sudah sampai rumah, cari buku petunjuk itu di HP orang tua kalian."

"Lebih bagus dicetak, kalian bisa membacanya di situ."

"Ada penjelasan program tahfiz ini bagaimana sih?"

"Saya sering mengatakan kepada kalian, jangan seperti saya saat jadi santri yang tidak tahu program pesantren."

"Program tahfiz di pesantren Intan Ilmu itu bagaimana sih?"

"Program pendidikan di pesantren Intan Ilmu itu bagaimana sih?"

"Program pengasuhan di pesantren Intan Ilmu itu bagaimana sih?"

"Ya, ini para ikhwah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala."

"Saya akan sebutkan pelanggaran-pelanggaran yang sangat berat, sangat berat."

"Contoh tindakan asusila, di antaranya berpacaran, baik langsung atau tidak langsung."

"Tidak langsung maksudnya bagaimana?"

"Online."

"Kata Rendra, via WA."

"Pengalaman kah?"

"Yang kedua, contohnya tindakan asusila homoseksual atau lesbian bagi santri putri dan putra."

"Ketiga, melihat konten atau materi pornografi."

"Melihat perempuan yang tidak menutup auratnya."

"Perempuan melihat laki-laki yang tidak menutup auratnya."

"Kemudian yang keempat, berzina."

"Hati-hati para ikhwah, syahawat."

"Ingat ya, fitnatus syahawat."

"Di sana besar."

"Apalagi kalau syahwatnya ditambah dengan syubhat."

"Tambah besar."

"Enggak apa-apa, apa ya?"

"Ini kan nanti misalkan seperti ini."

"Ini saya tanya nih, syubhat atau syahwat?"

"Nanti seorang santri putra, ikhwan, direct message DM santri putri."

"Assalamualaikum, Ukhti."

"Hah?"

"Kemudian ukhtinya tidak mau jawab karena takut."

"Takut kepada Allah, takut kepada peraturan."

"Jangan takut, saya hanya mengingatkan untuk salat duha."

"Syubhat atau syahwat?"

"Hah?"

"Nabil, ka huma." (Nabil, ka huma.)

"Ahsanta." (Ah santa.)

"Allah yasma' kalamaka ya Nabi." (Allah mendengar perkataanmu wahai Nabi.)

"Tib." (Baik.)

"Kemudian jenis yang kedua, mencuri."

"Jenis yang ketiga, mencontek."

"Jenis yang keempat, berhubungan dengan zat adiktif."

"Nah, ini hati-hati para santri ya."

"Tidak ada manfaatnya merokok."

"Kalau saya katakan, siapa yang bilang rokok haram?"

"Enggak ada dalil bahwa rokok haram."

"Bahkan saya tidak bisa menghafal Quran kalau tidak merokok."

"Ini syubhat atau syahwat?"

"Hah?"

"Syubhat."

"Saya tidak bisa belajar kalau tidak ngerokok."

"Syubhat."

"Dan para ikhwah yang dirahmati oleh Allah, rokok hukumnya haram karena Allah berfirman: 'Wa la taqtulu anfusakum innallaha kana bikum rahiman'." (Dan janganlah kamu membunuh diri-diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.)

"Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri."

"Sedangkan di kotak rokok ada apa?"

"Rokok membunuhmu."

"Pembuat rokoknya ngaku rokok membunuhmu."

"Nanti ada orang berkata, oh, saya sudah 60 tahun ngerokok, enggak mati-mati."

"Ini syubhat atau syahwat?"

"Hah?"

"Syubhat."

"Bagaimana cara menjawabnya?"

"Tunggu saja, mati juga kamu nanti."

"Jangan bingung."

"Syubhat itu jawabannya cuma dalil dari Quran atau hadis."

"Kembalikan kepada dalil dari Al-Qur'an hadis."

"Allah berfirman, Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'La darara wa la dirar'." (Tidak ada bahaya apapun dan tidak boleh membahayakan orang lain.)

"Perokok pasif yang tidak merokok tapi dia menghirup baunya, seperti anak kecil."

"Berapa banyak bapaknya merokok, anak kecilnya kena penyakit paru-paru."

"Lebih berbahaya dibanding dengan perokok aktif."

"Ya, jadi para perokok ini adalah makhluk spesies tersendiri."

"Saya ingin bertanya, makhluk pemakan tumbuhan apa namanya?"

"Herbivora."

"Makhluk pemakan makhluk pemakan daging apa namanya?"

"Karnivora."

"Makhluk pemakan apa saja?"

"Omnivora."

"Ada spesies makhluk yang keempat, makhluk pemakan api."

"Itu manusia perokok."

"Kalau seandainya ada orang bakar rokok dengan bakar duit, mana yang lebih berbahaya dan lebih berdosa?"

"Bakar duit mubazir."

"Innal mubadhirina kanu ikhwana syayatin." (Sesungguhnya orang-orang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.)

"Mubazir."

"Bakar rokok adalah mubazir dan membahayakan orang lain."

"Makanya perhatikan makanan atau minuman sesuai dengan tempatnya."

"Makan nasi di atas meja makan di ruang makan."

"Makan minum di atas meja makan di ruang makan."

"Minum air putih, minum air berasa dan seterusnya."

"Tempat rokok."

"Ngerokok yang paling enak di mana?"

"Sayid, di mana?"

"Di mana?"

"Di luar."

"Di luar mana?"

"Di mana?"

"Al-Farizki, di mana tempat ngerokok yang paling enak?"

"Di angkringan."

"Pengalaman?"

"Enggak."

"Bukan di angkringan."

"Tempat ngerokok yang paling enak di mana?"

"Abdul Latif, di mana?"

"Ya Abdul Latif, ajib." (Ya Abdul Latif, jawablah.)

"Kif anta kabir sinan, ajib." (Kif anta kabir sinan, jawablah.)

"Tahu atau tidak?"

"Amam, qul Allahu a'lam." (Amam, katakanlah Allah Maha Mengetahui.)

"Allahu a'lam." (Allah Maha Mengetahui.)

"Allahu a'lam." (Allah Maha Mengetahui.)

"Berarti tidak merokok."

"Nam, ahsan." (Ya, baik.)

"Kelas 10 Abian."

"Saya hanya nebak-nebak."

"Nah, di mana tempat merokok yang paling enak?"

"Ahsan, bagi orang yang merokok, tempat merokok yang paling enak katanya di WC."

"Sesuai tempatnya."

"Hal yang buruk sesuai dengan tempatnya."

"Jangan heran nanti kalau keluar kalian lihat di media sosial ada orang, bahkan pendakwah yang menghalalkan rokok."

"Ini masuk syubhat atau syahwat?"

"Syubhat."

"Hati-hati."

"Bagaimana caranya menghalaunya?"

"Kembalikan kepada dalil."

"Dan perhatikan baik-baik, al-wasail laha hukmul maqasid." (Semua sarana mempunyai hukum seperti hukum tujuan.)

"Kebanyakan orang yang narkoba pasti perokok atau sebagiannya pasti perokok."

"Karena perokok adalah sarana untuk narkoba."

"Hati-hati nih, sangat terlarang."

"Kemudian para ikhwah yang dirahmati oleh Allah, termasuk di dalamnya yang terlarang adalah menentang peraturan pesantren dan pengurus pesantren."

"Termasuk di dalamnya adalah perundungan."

"Ini saya masih masih mendapatkan laporan dari bagian atau divisi pengasuhan."

"Perhatikan baik-baik, para ikhwah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala."

"Di antara sebagian santri, dan ini masih bisa diobati."

"Berkata kotor."

"Jauhi apa?"

"Berkata kotor."

"Jangan jadi habit."

"Akhlak."

"Sedikit-sedikit."

"[Musik]"

"Anjing."

"Jing."

"Nah, jauhi."

"Beriman bukan orang yang berkata melaknat."

"Ya, enggak boleh."

"Jauhi lisan."

"Penuntut ilmu harus jauh dari itu."

"Berkata kasar, terutama bulan Ramadan."

"Ya, hati-hati."

"Kata-kata kasar."

"Baik, ini pesantren ini kan saya bangun untuk orang Banua agar tidak ke Jawa."

"Ke Jawa mahal, belum tentu dit, lima."

"Maka alhamdulillah pesantren ini kebanyakan dari Kalimantan."

"Dan sesuai dengan tujuan saya."

"Memang saya tidak terlalu excited seperti pesantren-pesantren Jawa."

"Kalau pesantren yang sukses adalah yang bisa menampung orang-orang dari luar Kalimantan."

"Itu menanya menandakan sukses, enggak?"

"Pesantren saya, saya buat untuk orang-orang yang dari Kalimantan."

"Kalau ada dari Sulawesi atau ada dari Jawa, itu hanya bonus bagi kita."

"Yang paling utama dari Kalsel, Kaltim, Kalteng, bisa juga Kaltara, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat maksud saya."

"Kenapa saya menyung itu?"

"Jauhi perkataan-perkataan kasar yang berkaitan dengan bahasa Banjar."

"Misalkan ya, jauhi."

"Terutama Ramadan."

"Ambruk benar nih."

"Hah?"

"Jauhi itu ya, jauhi."

"Lisan seorang beriman tidak boleh berkata kasar."

"Kalian bukan orang awam."

"Kalian penuntut ilmu yang setiap hari baca Quran, setiap hari baca hadis."

"Kalian bukan orang awam."

"Apalagi apalagi sampai kepada menghina ustaz kalian."

"Wallahi, tidak akan berkah hidup kalian."

"Tidak akan berkah hidup kalian."

"Ya, kami dulu ketika jadi nyantri, bagaimanapun anehnya ustaz ini kalau ngajar."

"Ada yang ustaz sebagian begini, sebagian begini."

"Dia tidak seperti di zaman sekarang, apa-apa dikomentari."

"Lihat ustaz jalannya tuh begini."

"Lihat ustaz ni aneh."

"Lihat orang yang memberikan kepada kalian jalan menuju surga kalian, kalian hina, kalian gibah."

"Ini aneh."

"Tidak boleh ada di pesantren tentang ilmu."

"Fahimtum jamian?" (Apakah kalian paham semuanya?)

"Hati-hati perkataan kasar, kotor, keji."

"Jangan sampai, para ikhwah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa taala."

"Ini yang bisa disampaikan."

"Semoga jujur para ikhwah."

"Saya setiap tahun melakukan ini kepada para santri saya."

"Apa sebabnya?"

"Takut banget."

"Takut santri saya liburan selama sebulan."

"Siapa yang jaga?"

"Bagaimana keadaannya di luar?"

"Terutama santri-santri kelas 12 yang bersama saya 6 tahun yang lalu."

"Dari mulai seperti ini wajahnya sampai sekarang jenggotan, kumisan, ganteng-ganteng."

"Banyak yang sudah mau melirik."

"Mungkin habis ini ada yang mau nikah langsung."

"Hah?"

"Faris Zaidan."

"Ya, jaga diri kalian."

"Jauhi syubhat atau syahawat."

"Hati-hati berteman."

"Teman nongkrong dapat di kafe, dapat di depan Indo atau Alfa."

"Ngobrol akhirnya ngobrol, kemudian masukin syubhat kepada kita."

"Saya pernah dengar video, ada orang sekarang di luar sana lagi ini, enggak enak ceritakan keadaan di luar."

"Di luar sana anak-anak muda seperti kalian sekarang punya hashtag di media sosial, 'kabur aja dulu'."

"Apa arti kabur aja dulu?"

"Ah, di Indonesia susahnya di pekerjaan."

"Kabur aja dulu kita ke mana?"

"Negeri-negeri mayoritas kafir."

"Hati-hati."

"Mungkin ini masuknya nanti syubhat atau syahwat."

"Saya pernah ke Australia dua kali."

"Saya ke Australia, kemudian setiap kali panitia ngajak saya keluar, 'Ayo Ustaz keluar'."

"Enggak, saya di sini aja."

"Kapan mau kajian?"

"Saya siap."

"Dua pekan saya di sana."

"Hari terakhir panitia mengatakan, 'Ayo Ustaz keluar, kita beli hadiah lah buat keluarga'."

"Kasihan ditinggal karena sudah nyebutkan anak keluarga saya."

"Tidak sanggup kata panitia."

"Tapi Ustaz, waktu itu summer, eh, Saif, musim panas."

"Tapi Ustaz, kalau nanti keluar, Ustaz harus jaga pandangan."

"Saya tanya kepada panitia, 'Lah, kalian enggak jaga pandangan?'"

"'Ustaz kan banyak hafalan.'"

"'Kami enggak punya hafalan.'"

"Nah, itu benar."

"Melihat ke depan salah, samping kanan, samping kiri salah."

"Orang cuma pakai celana."

"'Kabur aja dulu'."

"Iya, itu pergi ke mall begitu."

"Hati-hati para ikhwah, ini masuk nanti kepada syubhat bahwa di sana ada dunia."

"Hati-hati."

"Dan yang lebih parah, dunia syahawat."

"Yang lebih parah, syubhat."

"Berapa banyak orang yang ke negeri mayoritas kafir, sebagiannya ada yang berpindah agama."

"Bahkan lebih parah lagi, tidak percaya Tuhan."

"Hati-hati."

"Nanti coba kalian, ada hashtag 'kabur aja dulu'."

"Susah nyari pekerjaan di Indonesia katanya."

"Padahal di dalamnya itu ada syubhat dan syahwat."

"Hati-hati."

"Kalian bukan orang awam."

"Ngobrol dengan orang ini."

"Jujur saya katakan, saya khawatir sekali."

"Makanya dari mulai perhatikan tanggal 11, 12, 13, 14, 15 ini 5 hari ini digembleng santri-santri saya agar nanti kalau berlibur benar-benar jaga diri, jaga akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan adab."

"Itu tujuannya agar benar-benar menjadi orang yang takwa kepada Allah."

"Dan itu usaha saya, taufik bi idhnillah." (Taufik dengan izin Allah.)

"Itu usaha saya sebagai seorang manusia."

"Tapi taufik di tangan Allah."

"Kemudian pilihan kalian."

"Saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi setelah 25 Mei."

"Haflul khitami, haflul injaz wat tafawwuq." (Pesta penutupan, pesta kelulusan dan keberhasilan.)

"26, para santri kelas 12 pulang."

"Sudah lepas dari peraturan pesantren."

"Umur kalian di dalam bulan Ramadan ini, Ramadan ini sekarang hari ke-13, 14, 15, 16."

"Kalian pulang cuma 4 hari terakhir di pesantren."

"Ya, begitulah."

"Kalian juga akan melakukan terus dan tidak akan terasa waktunya."

"Tahun depan kelas 10."

"Tahun depan sudah punya adik kelas."

"Tidak terasa."

"Takut sekali saya."

"Orang tua kalian batas tangannya, kakinya, telinganya terbatas."

"Maka ini usaha saya sebagai manusia untuk menjaga kalian."

"Mudah-mudahan masuk ke dalam kalbu."

"Selama beberapa hari ini digembleng agar nanti pulang ke rumah jadi hamba Allah yang bertakwa."

"Kebanggaan orang tua, kebanggaan para ustaznya."

"Saya ingin dengar, dengar kisah-kisah yang sampai ke dalam ke telinga saya."

"Kisah-kisah prestasi."

"'Oh, ini santri Intan Ilmu kalau ke masjid ini pasti santri ketahuan kenapa dari pakaiannya, dari sikapnya, dari adab akhlaknya'."

"Itu yang membanggakan."

"Kalian tidak pernah bayar sama saya."

"Kalian cukup ganti itu dengan amalkan ilmu kalian."

"Itu adalah sebuah kesyukuran yang bisa saya dapatkan."

"Ya, perhatikan para ikhwah yang dirahmati oleh Allah."

"Ini usaha saya sebagai manusia."

"Saya minta waktu kepada Kepala Divisi."

"Mohon maaf, saya mengganggu waktu kajian, waktu baca Quran."

"Tapi ini usaha petunjuk dari Allah."

"Kemudian kalian yang menentukan nanti di rumah jadi orang yang bertakwa kepada Allah."

"Dibanggakan oleh orang tua."

"Sampai kepada kami berita-berita yang indah-indah."

"Alhamdulillah, si fulan, Ustaz, sekarang lebih dewasa."

"Alhamdulillah, Ustaz, sekarang lebih bertakwa kepada Allah."

"Tahun yang lalu saya dengar ada santri, anak saya Ustaz, santri Ustaz saat Ramadan jarang keluar rumah Ustaz."

"Dia cuma bantu orang tua, tidak mau lagi untuk ngumpul-ngumpul dengan hal-hal yang tidak bermanfaat."

"Cerita-cerita itu yang ingin saya dapatkan."

"Bukan harta, cukup cerita itu saja."

"Kalian mengamalkan amalan-amalan yang sudah diajarkan."

"Fahimtum jamian?" (Apakah kalian paham semuanya?)

"Pahimtum?" (Paham?)

"Ini yang bisa disampaikan."

"Shallallahu ala nabiyina Muhammad." (Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada nabi kita Muhammad.)

"Amin."

"Wa assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."

"Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh."