Transcription
Hari ini yang siap untuk memulai Veritas Lecture pada hari ini, sama-sama katakan amin. Yang berkesuk cita untuk memuji Tuhan, mari kita sama-sama bangkit berdiri. Mari kita sama-sama bertepuk tangan. Betapa dalamnya kasih-Mu Tuhan dalam hidup kami. Amin. Sama-sama katakan.
[Musik]
Katakan, begitu besar kasih telah tercurah bagi dunia. Kasih-Mu yang termulia, tiada terselami. Besar dan ajaib perbuatan-Mu. Kau beri hidup-Mu bagi diriku. Katakan, "Tiada yang seperti-Mu. Kau berkuasa selamanya. Kupuji Kau selalu."
[Musik]
Angkat tanganmu, katakan. Oh, betapa dalamnya. Amin. Betapa lebarnya kasih setia-Mu. Tiada bandingannya, tiada kuatnya, tiada seperti sorak lagi Tuhan. W. Begitu besar kasih telah tercurah bagi dunia. Tiada-Mu, kasih-Mu yang termulia. Tiada terselami. Besar dan ajaib perbuatan-Mu. Kau beri hidup-Mu bagi diriku. Angkat hatimu, katakan tiada yang seperti-Mu. Kau berkuasa selamanya. Kupuji Kau selalu.
[Musik]
Come on. Oh, betapa dalamnya, betapa lebarnya kasih setia-Mu. Oh tiada, tiada tuanya, tiada seperti Yesus Tuhanku. Anugerah-Mu selalu baru. Anugerah-Mu tiada berkesudahan. Sekali lagi katakan anugerah-Mu, anugerah-Mu selalu baru. Anugerah-Mu tiada berkesudahan.
[Tepuk tangan]
Lebih tinggi lagi nyanyikan. Oh betapa dalamnya, betapa lebarnya kasih setia-Mu. Oh. Tiada bandingannya, tiada kuatnya, tiada seperti Kau. Katakan tiada seperti Kau. Tiada seperti Kau. Tiada seperti Kau. Panggil namanya Yesus Tuhanku. Berikan sorak-sorak yang terbaik buat Tuhan kita. Haleluya. Sebelum duduk katakan ke kanan kirinya. Yesus mengasihimu.
[Musik]
Bapak, Ibu di tempat ini serta mahasiswa dipersilakan untuk duduk kembali.
[Musik]
Ya, Bapak, Ibu, serta Saudara sekalian. Pada pagi menjelang siang hari ini kita akan mendengarkan suatu pembicaraan yang luar biasa dari seorang pembicara yang luar biasa. Beliau adalah lulusan Desain Komunikasi Visual. Beliau juga melanjutkan studi dan berhasil meraih gelar Magister Teologi, Magister Filsafat, serta Doktor dalam bidang Teologi. Saat ini beliau juga aktif sebagai dosen dan pengajar di Universitas Indonesia dan STT RI. Beliau merupakan Wakil Gembala Sidang DGI Pusat Jakarta sekaligus gembala sidang konsulen di GBI Kertajaya Surabaya, Gempol, dan Samarinda. Selain itu, beliau juga mengemban tanggung jawab sebagai koordinator Sekolah Kristen Calvin di Jakarta dan Malang serta Sekolah Kristen Logos di Surabaya.
Yang siap untuk belajar hari ini bisa sama-sama katakan yes.
[Suara] Yes.
Oke, tanpa berlama-lama lagi mari kita sambut dengan tepuk tangan yang meriah kepada Pendeta Dr. Ivan Kristiono, Sarjana Seni, Magister of Divinity, Magister of Humaniora. Mari kita berdoa.
Bapa di dalam surga, Engkau yang telah menciptakan kami untuk boleh merasakan kemuliaan keindahan-Mu. Dan biarlah hari ini kami boleh merenungkan segala kebaikan-Mu dan boleh mengembalikan segala kemuliaan hanya kepada-Mu. Biar kami diajar, dituntun melalui perenungan kami akan keindahan-Mu untuk boleh lebih mengenal siapakah Engkau dan menguatkan iman setiap kami. Terima kasih Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Hari ini kuliah mengenai keindahan ya, mengenai estetika. Kita akan mulai dengan slide yang sudah saya sediakan. Beauty as sign post. Nah, Saudara, kita lihat ayat yang tercantum di dalam Mazmur pasal 27 ayat 4. "Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, inilah yang kuingini, diam di rumah TUHAN sepanjang umurku, untuk melihat keindahan TUHAN dan merenungkan Bait-Nya." Jadi saya mau terus ada di dalam rumah Tuhan dan aku mau melihat, menatap, menikmati keindahan Tuhan. Jadi Tuhan itu bukan hanya baik, Tuhan itu bukan hanya benar, tetapi Tuhan juga indah. Dan biasanya para scholar, para sarjana, para pelajar mementingkan kebenaran, tetapi biasanya melupakan keindahan sebagai sifat Tuhan.
Saudara-saudara sekalian, nanti mungkin kalau kita sempat jalan-jalan ke berbagai kampus, yang saya paling terkesan adalah ketika datang ke Stanford. Kalau saudara datang ke Stanford di situ memang bukan hanya benar, tetapi saudara akan ketemu Augus Rodin punya kopi di situ. Itu kopinya bukan sekedar kopi ya, itu kopi yang disetujui oleh Rodin. Jadi saudara akan ketemu patung-patung mozaik, lalu kemudian ukir-ukiran desain arsitektur yang luar biasa sekali. Jadi kita melihat mereka bukan hanya mementingkan kebenaran, tetapi penting juga memikirkan keindahan. Nah, ini sesuatu hal yang sangat sayang ya. Mengajar itu tentu saja setiap dosen memikirkan mengenai kebenaran. Tetapi alangkah indahnya jikalau slide-nya itu indah. Alangkah indahnya jikalau pelajarannya itu memukau. Membuat orang itu bersuka, membuat pelajar itu senang. Saudara mengumpulkan paper itu biasanya pikir cuman pokoknya kumpul gitu ya. Presentasi sama teman pokoknya presentasi sehingga presentasi isinya tulisan semua gak ada indah-indahnya gak menarik untuk dilihat. Tetapi coba pikirkan bahwa dosen juga manusia yang dicipta untuk mempersepsi keindahan. Dan ketika di tengah-tengah dia sedang sibuk dia melihat ada paper yang bukan hanya benar tetapi juga indah.
Saudara-saudara sekalian, Tuhan itu adalah Tuhan yang indah. Lalu berikutnya kita melihat ayat berikutnya dikatakan dalam Yohanes 17 ayat 24, Yesus berkata, "Ya Bapa, inilah kehendak-Mu, bahwa barangsiapa yang Engkau berikan kepada-Ku, jangan sampai seorang pun hilang, tetapi semuanya akan Engkau bangkitkan pada akhir zaman. Ya Bapa, aku mau supaya di mana pun aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, agar mereka memandang kemuliaan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab Engkau telah mengasihi aku sebelum dunia dijadikan."
Nah, jadi Saudara perhatikan, kita dicipta untuk memandang kemuliaan Yesus. Kita dicipta untuk ada di mana Yesus berada dan kita untuk selama-lamanya memandang kemuliaan. Nah, Saudara, kata kemuliaan itu di dalam Alkitab bukan hanya sekedar kemegahan atau ketakjuban, tetapi kemuliaan itu berkait dengan keindahan. Jadi, Tuhan itu indah dan kita itu diminta nantinya kita ditetapkan untuk selama-lamanya melihat Kristus. Artinya apa, Saudara? Kita akan selama-lamanya melihat yang indah. Dan Saudara kalau melihat pemandangan yang indah, hati kita bersuka. Saudara melihat mobil yang indah, hati kita senang ingin memiliki. Kalau saudara melihat perempuan cantik, laki-laki yang ganteng, saudara bersuka, senang. Ada semacam perasaan yang berbeda. Demikian seumur hidup di dalam kekekalan yang kita lihat cuma yang indah. Yang paling indah yaitu Yesus. Ada lagu mengatakan, "Indahlah bukit, indah sawah ladang, kena embun cemerlang. Tapi Tuhanku Yesus lebih indah dari semuanya itu." Jadi Tuhan itu indah dan kita dicipta untuk menikmati keindahan Tuhan. Jadi ketika dibilang, "Oh, saya nanti cuma lihat Yesus bosanlah. Cuma lihat-lihat Yesus kan bosan." Iya, kalau Yesus biasa saja tetapi tidak ada keindahan melampaui Tuhan kita.
Nah, sehingga dengan demikian seorang bernama John Owen dalam satu buku yang sangat indah ya, Meditations and Discourse on the Glory of Christ. Buku ini ditulis 1684. Dia mengatakan dalam buku ini John Owen mengatakan kemuliaan Kristuslah yang akan memuaskan kita. Saudara kalau melihat keindahan Anda puas. Anda ingin memiliki yang indah, pengin punya pasangan yang indah, pengin punya rumah yang indah, pengin makan bukan hanya enak tapi juga indah. Itulah kelebihan sushi bukan? Ya. HP. Selesai hilang, tapi ada seninya, ada keindahannya. Enak tapi juga indah dilihat. Nah, keindahan itu memuaskan kita. Tetapi lebih dari itu, Owen mengatakan nanti kemuliaan Kristuslah yang akan memuaskan kita dan bukan yang lain. Kebutuhan terbesar bagi gereja Tuhan adalah makin melihat kemuliaan Kristus. Ini yang dibutuhkan gereja. Gereja sekarang melihat kemuliaan pendetanya. Gereja sekarang melihat keindahan bangunannya. Gereja sekarang melihat keindahan liturginya. Itu mungkin zaman reformasi ya. Gereja sekarang melihat kemuliaan tradisinya. Gereja sekarang melihat keindahan banyak hal. Tetapi Alkitab mengatakan kemuliaan yang diperlukan oleh gereja. Kemuliaan yang saudara butuhkan adalah saudara boleh melihat kemuliaan Yesus Kristus. Lebih dari dunia, lebih dari dosa, lebih dari apapun. Dan hak istimewa yang kita alami dalam dunia ini dan dunia yang akan datang adalah melihat kemuliaan Kristus. Melihat kemuliaan Kristus.
Kalimat Owen berikutnya. Maka ini mendatangkan beatific vision. Ini beatific vision itu adalah pandangan yang membahagiakan. Kelak surga kita akan memandang Yesus dengan pandangan yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita. Beatific vision atau memandang Yesus itu bukan hanya membahagiakan kata Owen, tapi juga partisipatif dan transformatif. Tuhan itu indah. Ketika kita melihat keindahan partisipatif, Tuhan membuat yang melihat juga jadi indah. Ah, ini menariknya keindahan Tuhan. kita yang kotor, kita yang jelek, yang tidak indah, ketika kita yang berdosa memandang kemuliaan dan keindahan Yesus, maka bersifat partisipatif. Saudara akan diubah jadi indah oleh Tuhan. Dan bukan itu saja, transformatif kita berubah dan kita mengubah yang lain jadi indah. Nah, nanti kita akan pelajari ini ya, ini menjadi fondasi dari estetika Kristen. Keindahan itu partisipatif. Keindahan itu transformatif. Keindahan itu mengubah.
Nah, Saudara-saudara sekalian, keindahan itu adalah sifat Allah. Keindahan itu sifat Allah. Itu sebabnya kalau saudara tanya apa definisi keindahan, saudara akan menemukan ratusan dan tidak akan puas. Itu sama. seperti saudara disuruh mendefinisikan cinta. Apa itu cinta? Sulit untuk didefinisikan. Saudara secara fenomenologi mengalami secara empiris dan saudara bisa menebak ini adalah cinta. Tetapi ketika disuruh mendefinisikan, sulitnya minta ampun. Ah, di sini belum ada fakultas hukum. Tetapi ketika saudara ada di Fakultas Hukum, saudara akan berurusan dengan yang namanya keadilan. Ya, saya mengajar kira-kira sudah empat tingkat mahasiswa Fakultas Hukum. Biasanya saya tanya dengan kalimat pembuka, Anda akan berurusan dengan keadilan. Apa itu keadilan? Gak ada satu bisa jawab. Maksudnya, Saudara-saudara sekalian, semua kan akan menjawab dari perspektif teorinya John Rawls lah, teorinya Plato lah, teorinya Immanuel Kant, teori siapapun. Tetapi setiap teori ada kelebihan, ada kelemahan. Jadi, Saudara bisa studi Fakultas Hukum sampai doktor lalu kemudian tetap bingung mendefinisikan apa itu keadilan. Apa itu keadilan, apa itu cinta? Apa itu keindahan? Nah, keindahan demikian juga bisa dialami. Saudara tahu kok mana yang indah, mana yang tidak. Ya, cari jodoh aja misalnya kan dikasih papa, mamanya nih nikah sama ini semua perempuan, semua laki sama aja gak yang ini lebih indah loh. Kok tahu lebih indah gitu. Iya. Jadi, Saudara-saudara sekalian, kita bisa merasakan dan kita bisa mengalami keindahan meskipun kita sulit mendefinisikan keindahan. Ada yang mendefinisikan misalnya ya, oh keindahan itu adalah pengalaman yang menyenangkan. Itu keindahan. Ada filsuf yang mendefinisikan seperti itu ya. Pengalaman yang menyenangkan. Jadi ketika kita berhadapan dengan keindahan ada semacam perasaan yang lain. Saudara tidak bisa jelaskan itu. Saudara menatap seorang gadis atau seorang pria dan jatuh cinta kepengin hidup dengan dia. Itu satu perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Anda melihat sebuah barang, handphone kah, mobil kah, apapun itu dan pulang enggak bisa tidur. Anda begitu ingin memiliki barang itu. Ya.
Nah, akhirnya nanti keindahan itu yang melahirkan cinta. Ini nanti teori klasik, ya. Keindahan muncul cinta. Maka dalam teori klasik, Plato dan sebagainya, Yunani klasik ya, kalau tidak ada keindahan, tidak ada cinta. Karena manusia itu mencintai yang baik dan yang indah. Kalos Kagathon. Kalos itu indah. Agathon itu baik. Kalos Kai Agathon atau disingkat Kalos Kagathon yang indah dan yang baik itu dari situ muncul cinta. Saudara lihat sesuatu yang indah baik. Oh, rumahnya indah sekali. Anda cinta. Aku pengin memiliki saudara. Lihat makanan yang begitu indah. Wah, saya senang sekali muncul cinta. Saya pengin memiliki dan sebagainya. Nah, Saudara-saudara sekalian, itu keindahan, sesuatu perasaan menyenangkan. Tetapi dalam kekristenan, ada satu definisi yang menarik. Kita melihat ini ya, Thomas Aquinas. Thomas Aquinas mengatakan bahwa keindahan itu adalah splendor, pancaran, pancaran keindahan ilahi dari form. Jadi ada form misalnya saudara lihat sebuah mobil yang baik itu form tetapi ada percikan mobil itu memancarkan bayangan dari kemuliaan Allah, keindahan Allah. Nah, splendornya itu ketika kita tangkap kita bisa merasakan, kita bisa mempersepsi adanya keindahan. Nah, ini adalah teori klasik ya, form and splendor. Apa itu keindahan? Keindahan adalah splendor. Splendor dari cahaya ilahi. Pancaran cahaya kemuliaan Allah. Jadi, kita bisa menangkap keindahan karena kita adalah ciptaan Allah yang dicipta untuk bisa mempersepsi keindahan dan kita bisa menemukan keindahan Allah karena kita ciptaannya.
Nah, lalu kemudian kita lihat ya sifat Allah. Allah itu adalah Allah yang benar, Allah yang adil, Allah yang bijak, kudus, rendah hati, Allah yang kasih, Allah yang indah. Nah, ini kan sifat Allah, Saudara, ya. Maka karena keindahan itu adalah hakikat dan sifat Allah. Jadi keindahan di dalam pribadi. Beauty in person itu adalah Allah. Jadi keindahan itu sifat Allah. Itu sebabnya maka keindahan sebagai sifat Allah tidak boleh dipisahkan dari keadilan atau kebenaran atau kekudusan sebagai sifat Allah. Nah, ini yang berusaha di lakukan oleh estetika modern. Keindahan modern itu mau menjadikan keindahan demi keindahan itu sendiri. Keindahan gak ada urusan sama kekudusan. Keindahan tidak ada urusan dengan kebenaran. Hitler itu pakai keindahan untuk propaganda, Saudara. Iya kan? Pakai iklan yang bagus. Ini makanan sangat lezat, sangat enak dimakan beracun. Jadi dia menggunakan keindahan, dia mempesona orang tetapi tidak ada kebenaran. Nah, dari sini kita juga melihat loh ini indah tapi tidak kudus. Ini seni yang sangat mempesona, sesuatu yang indah tapi ini bertentangan dengan kekudusan Allah. Maka ini adalah keindahan yang harus kita jauhi. Sehingga dengan demikian tugas orang Kristen karena kita menyadari bahwa keindahan adalah sifat Allah. Sifat Allah yang sejati yang tidak dikorupsi atau dihancurkan oleh dosa adalah keindahan yang berkaitan dengan sifat Allah yang lain.
Nah, Saudara nanti yang mengerjakan arsitektur ya, Anda kan tidak hanya mengerjakan fungsi, tetapi Anda berurusan dengan keindahan. Saudara yang melayani di masyarakat ekonomi itu bukan hanya sekedar masalah fungsi tetapi keindahan. Masyarakat yang tertata, masyarakat yang damai itu berkait dengan keindahan. Keadilan, pengorbanan itu keindahan. Itu bukan hanya sekedar kebenaran, tapi keindahan. Nah, jadi bagaimana kita menghadirkan keindahan bersama-sama dengan sifat Allah yang lain. Karena setelah berdosa, manusia tidak lagi bisa memahami keindahan yang benar. Manusia tetap mencintai kebaikan. Manusia tetap mencintai keindahan, tetapi dosa mendistorsi sehingga kita tidak tahu lagi mana yang baik dan yang indah menurut Tuhan. Saudara, kita kan bertindak dasarnya cuman dua kan. Saya bertindak berdasarkan yang baik dan yang indah yang saya cintai. Jadi ketika orang misalnya suka kecanduan sampai narkoba, karena bagi dia itu baik. Gak ada orang mengatakan ini sangat tidak baik saya mau melakukannya. Tidak. Dia melakukan itu karena nikmat dan dia anggap itu baik. Sadar apa tidak sadar. Jadi orang salah menikah kenapa? Karena dianggapnya itu yang paling indah dan yang paling baik. Jadi setiap orang bertindak dasarnya adalah baik dan indah. Masalahnya adalah tiap orang itu baik dan indahnya berbeda-beda. Ya. Nah, maka kita perlu belajar firman dan kita perlu hidup di dalam Tuhan supaya kita bisa membedakan keindahan palsu dengan keindahan yang sejati. Kebaikan yang asli dan kebaikan yang palsu. Saudara kalau membaca karya-karyanya Plato itu penuh dengan hal itu. Banyak orang mengatakan dirinya itu adil padahal gak tahu apa itu keadilan. Dia rasa dia melakukan keadilan. Padahal sebetulnya tidak, itu palsu. Kata Plato, orang Yunani kira dia sudah melakukan keadilan dengan membunuh Sokrates. Dia rasa itu adil. Jadi, ada orang melakukan ketidakadilan, tapi merasa dirinya adil. Ada orang melakukan ketidakbaikan tapi dia rasa dia baik. Seperti Paulus ketika menganiaya jemaat Tuhan dan dia mengatakan dia sedang melakukan bakti untuk Tuhan. Dia gak tahu apa itu baik, tapi dia pikir dia melakukan kebaikan. Nah, jadi kita melihat ini yang seringkali dipakai oleh iblis untuk menghancurkan kita. Keindahan itu menarik, Saudara. Keindahan menyelewengkan kita dari kebenaran. Bukan. Ada orang baik, tapi orangnya gak benar. Karena saudara dibaikin sama orang itu, Anda ikut orang itu, disesatkan sama orang itu. Ada sesuatu kelihatan indah, Anda tertarik ikut di situ, padahal sebetulnya gak benar. Nah, jadi kebenaran, kekudusan, bijaksana, keadilan itu berkait dengan keindahan. Ya, sudah indah, kasih, tapi enggak kudus ya. Jangan mau ya.
Nah, Saudara-saudara sekalian, keindahan itu membangkitkan cinta. Tadi saya katakan keindahan itu membangkitkan cinta. Nah, karena keindahan membangkitkan cinta, maka keindahan itu mengubah. Karena cinta itu mengubah. Jadi, Tuhan memberikan dua hal yang mengubah, ya. Jadi, film sore itu cuma separuh benar. Bukan hanya cinta yang mengubah, rasa takut juga mengubah. Takut itu orang bilang itu emosi negatif. Saudara kalau belajar psikologi ada namanya emosi positif, ada emosi negatif. Orang selalu kira emosi negatif itu dosa. Gak loh. Emosi positif dan negatif itu hanya dibedakan berdasarkan pleasure. Yang menyenangkan namanya positif, yang tidak menyenangkan itu negatif. Contoh, marah itu tidak menyenangkan maka disebut emosi negatif. Tapi marah tidak dosa karena Allah juga marah. Jadi mengatakan membuang semua emosi negatif itu gak benar. Takut itu tidak menyenangkan. Tapi takut akan Tuhan itu perintah dari Tuhan kepada kita. Khawatir itu tidak menyenangkan. Tapi Paulus mengkhawatirkan, mencemaskan karena dia mencintai. Jadi emosi negatif bukan harus dihindarkan, tapi harus dikuduskan. Dan takut itu mengubah selain cinta. Jadi cinta dan rasa takut itu mengubah manusia.
Nah, karena cinta itu mengubah dan keindahan itu membangkitkan cinta, maka keindahan itu mengubah. Ada seorang perempuan ada seorang laki-laki sekolahnya berantakan, gak pernah bikin tugas, malas-malasan. Suatu hari dia jatuh cinta sama seorang perempuan. Ini anak SMA betul-betul terjadi. Tetapi anak perempuan ini pintar dan dia mengatakan, "Saya mau cari pacar yang selevel dengan saya yang bisa nyambung diajak diskusi." Dan dia suka akademik. Wah, ini yang laki sengsara gitu ya. Dunianya itu malas-malasan, ya. Lalu kemudian pergi apa? Dolan ke mana-mana gitu ya. Lalu dia jatuh cinta sama perempuan seperti itu. Tapi dia mengatakan, "Apapun akan kulakukan untuk dapat dia dan cinta itu mengubah dia. Semenjak hari itu rajin belajar, prestasinya naik semua." Kenapa? Karena cinta. Nah, ini namanya cinta itu mengubah. Jadi, di mana itu sebabnya di ada teori klasik mengatakan di mana ada keindahan, di situ ada perubahan, di situ ada cinta. Di mana tidak ada keindahan, tidak ada cinta dan tidak ada perubahan. Ini teori klasik ya, karena memang keindahan membangkitkan cinta.
Tetapi kekristenan memberikan teori estetika yang berbeda. Memberikan teori estetika yang berbeda. Yaitu begini, Saudara. Kalau klasik ada yang indah, cinta baru muncul. Iya kan? Tetapi di dalam pemikiran Kristen, Alkitab mengajarkan apa? Justru karena Allah cinta. Bahkan pada objek yang tidak indah muncul keindahan dari cinta itu. Cinta Tuhan itu indah. Saudara mungkin sedang mencintai sesuatu yang tidak indah. Anda berkorban dan ketika Anda orang melihat cinta Anda itu, dia mengatakan so sweet gitu. So beautiful. Jadi orang Kristen mencipta keindahan. Ini hal yang penting nanti menjadi penutup nanti ya, bagaimana kita bersikap terhadap keindahan. Kita bukan hanya sekedar mempersepsi keindahan. Kita bukan hanya sekedar menikmati keindahan. Di dalam Kristus kita dipanggil untuk mencipta keindahan. Nah, jadi ini arah yang terbalik dari teori Yunani klasik. Cinta apa ini? Keindahan turun lalu kemudian muncul cinta. Tapi dari sini kita bisa melihat arah sebaliknya bahwa dari cinta menciptakan keindahan.
Nah, keindahan tidak boleh dipisahkan dari sifat Tuhan. Sehingga ketika ada pertanyaan, apakah keindahan itu subjektif atau objektif? Saudara mungkin pernah di berhadapan dengan teori ini ya. Keindahan itu subjektif atau objektif? Ya, indah kan menurut masing-masing orang toh gitu. Di kalangan teman-teman saya ada diskusi, siapa yang bilang musik klasik lebih indah dari misalnya heavy metal? Siapa yang bilang? Dangdut dan sebagainya itu mereka sama-sama mendalam. Saya lanjutkan. Pertanyaan berikutnya adalah coretan anak TK sama Rembrandt apakah itu kualitasnya sama? Kalau teori itu konsisten bahwa keindahan itu hanya di mata orang yang melihat dan hanya semata-mata subjektif, coretan adikmu dengan lukisan Rembrandt itu sama bernilainya harusnya. Iya kan? Teorinya kan begitu. Pap musik dangdut koplo sama Johann Sebastian Bach sama kualitasnya gak ada itu seni tinggi seni rendah gak ada high culture low culture gak ada itu teori namanya cultural studies gak tahu sini ada sosiologi enggak jurusan kalau ada saudara namanya itu teori namanya cultural studies Anda bisa searching di situ tidak ada budaya tinggi tidak ada budaya rendah semua sama ya lagu apapun semua sama lagu Abang Tarik Becak sama Simfoni Mozart semua sama gitu gitu ya. Tapi gimana ya kita menjawab pertanyaan ini kelihatan betul loh.
Mari kita lihat beberapa ayat ya. Yang pertama Kejadian 1 itu berulang kali mengatakan Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadi Tuhan itu dirinya keindahan. Mengatakan keindahan tidak ada itu absurd bagi orang Kristen. Karena Allah itu ada dan Allah yang ada adalah Allah yang indah. Jadi keindahan itu objektif. Yang kedua, Allah yang indah mencipta dunia dan dunia yang dicipta oleh Dia adalah dunia yang baik dan indah. Maka ada keindahan inheren yang melekat pada objek. Ini sedikit belajar teologi mendalam ya. Banyak muka yang tercengang gitu ya. diresapi dulu ya pelan-pelan ya saudara akan mendapatkan guidance karena karena temanya berat sih gitu ya memang temanya apakah keindahan itu objektif atau subjektif ini perlu penelusuran sejarah estetika dari zaman Plato sampai kontemporer kira-kira disingkat kayak begini ya. Ya. Jadi kejadian 1 menunjukkan ada yang objektif. Lalu Kejadian 2 ayat 9. "Tuhan Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan baik untuk dimakan." Yang menarik dalam bahasa aslinya ada kata ini untuk dilihat. Beauty kan? Menarik untuk dilihat dan yang baik untuk dimakan. Fungsi saudara kalau misalnya lihat ada sepatu yang indah luar biasa, Saudara jatuh cinta lalu pengin beli nabung beli. Begitu dipakai bikin kaki sakit. Saudara akan mungkin menyesal beli. Kenapa? Karena indah tapi tidak baik. Tapi saudara lihat sepatu yang nyaman luar biasa tapi jeleknya minta ampun gitu ya. Saudara juga gak mau pakai. Nah, ini kan tuntutan kita kan. Anda mau fungsional tapi Anda juga mau indah ya. Nah, Allah mencipta dengan ciptaan yang baik dan indah. Ini yang menarik dari ciptaan Allah.
Nah, jadi dengan demikian orang Kristen percaya ada keindahan di dalam objeknya ya. Jadi Allah itu memisahkan, menata. Jadi Allah sebagai arsitek ya, mendesain ciptaan seperti seorang desainer, arsitek. dia membatas, membuat pola, lalu keindahan muncul di situ. Maka alam yang indah ini hasil dari Allah yang menentukan harmoni, irama, proporsi pola tertentu. Ya, arsitek tahu itu golden ratio, Saudara. Ada ukuran-ukuran ini banding ini, ini, banding ini, matanya begini, hidungnya begini, mulutnya begini, pasti ganteng atau cantik. itu namanya golden ratio. Bangunan kira-kira begini kalau bikin jendela segini ukurannya begini, perbandingan ini pasti indah. Nah, jadi ada objektivitas ya kan. Jadi kita menyadari di dalam seni itu ada objektivitasnya.
Nah, Saudara-saudara sekalian kalau tidak ada objektivitas semua keindahan hanya subjektif, gak akan ada lomba namanya Miss Universe gak ada. Ya kan? Suka-suka jurinya kan gak ada kriterianya, gak ada objektivitasnya. Gak akan ada namanya perlombaan piano. Mana lebih indah? Wah, suka-suka saya gitu. Tapi fakta ada lomba piano, ada lomba balet, berarti ada objektivitas dalam keindahan. Dan karena ada objektivitas, universitas bisa buka fakultas seni. Kalau semua seni itu adalah subjektif, dosen fakultas seni bagaimana menilai? Yuk, eh serius yuk. Eh eh dari tadi saya ngajar loh. Eh saya kasih lecture jangan ngobrol terus. Iya. Oke. Serius ya? Saya saya sangat serius. Saudara juga harus serius ya. Lanjut ya. Jadi kalau misalnya ada fakultas seni di situ kan orang belajar harus dinilai. Nah, kalau kita belajar lalu dinilai kalau seni itu semuanya dan keindahan itu subjektif, Saudara kan akan bisa protes kalau dikasih nilai tujuh. Atas dasar apa dia memberi nilai tujuh? Atas dasar apa dia memberikan nilai sepuluh? Atas gambar atau lukisan. Saya dulu sekolah desain, Saudara. Saya gambar lalu dinilai sama dosen sembilan sepuluh. Kalau tidak ada objektivitas nilainya itu semua omong kosong. Jadi pasti seni ada objektifnya.
Nah, maka dengan demikian seni itu kompleks secara objektif. Musik misalnya punya kompleksitas yang berbeda. Ada matematika musik, ada komposisi musik. Dalam arsitektur ada golden ratio, dalam puisi ada struktur rima. Dalam komedi pun ada namanya alur. Misalnya, Saudara sering dengar tuh orang ngomong premis, set up, punchline dan sebagainya. Itu teori objektif. Dalam film ada alur, ada genre dan sebagainya. Dalam fotografi ada komposisi. Itu yang menyebalkan. Saudara harus ngitung lighting, teori matematika, lighting, fisika, lighting. Anda akan mempelajari hal itu ketika Anda belajar fotografi. Suka tidak suka, Anda akan belajar itu, teori komposisi dan sebagainya. Nah, maka kalau saudara mengatakan dangdut koplo dengan Johan Sebastian Bach sama-sama menyentuh itu oke menyentuh loh. Tetapi mengatakan komposisinya dangdut koplo dengan Bach sama-sama kompleks. Anda belum belajar musik. Profesor musik akan geleng-geleng kepala gitu ya. Tetapi kalau Anda mengatakan menyentuh itu kan urusan personal ya. Itu Anda bisa mengatakan wah itu sangat menyentuh saya ya. Iya, bisa aja. Tapi mengatakan sama-sama kompleks gak bisa. Artinya apa? Keindahan ada objektivitasnya. Saudara pergi operasi plastik di Korea kalau tidak ada ukuran cantik dan ganteng itu dokter-dokter operasi plastiknya gimana, Saudara? Operasi plastik mau bikin cantik dan ganteng kan? Enggak mau bikin lebih jelek kan pasti gitu. Berarti kecantikan dan kegantengan itu ada objektivitasnya. Sehingga saudara yakin karena dokter mengerti prinsip objektivitas itu ketika dioperasi enggak salah loh, Dok. Saya kan minta bibir saya ditipisin. Kenapa begitu lebar? Woh, ini Joker itu estetika baru gitu. Ini yang ganteng, ini yang cantik. Gak bisa begitu, Dok. Bibir harus tipis. Nah, itu berarti ada objektivitas ya.
Nah, tetapi kalau mengatakan bahwa keindahan itu objektivitas semata-mata itu juga tidak benar, itu juga salah. Karena keindahan itu adalah pengalaman objektif yang dihayati secara subjektif. Kebenaran kan juga gitu toh. Kebenaran itu objektif. Amin. Kita percaya kebenaran objektif. Kalau saudara mengatakan kebenaran tidak objektif, secara epistemologi kan bentur toh. Saya turun dari mimbar dari ITB ketika mengatakan Kristus adalah Tuhan, satu-satunya Tuhan juru selamat. Temanya adalah itu kepastian keselamatan dalam Kristus. Turun dari mimbar ada satu mahasiswa kalau enggak salah dari jurusan kimia atau apa ketemu saya lalu mengatakan, "Saya tidak setuju pendapat Anda." Oh. Ee bagian mana yang tidak setuju? Anda mengatakan Yesus Kristus satu-satunya jalan kebenaran dan hidup. Itu klaim Yesus. Yohanes 14 ayat 6 kamu buka. bukan kalimat saya. Pokoknya saya enggak setuju loh. Kamu enggak setuju sama Alkitab, bukan enggak setuju sama saya aja. Kamu enggak setuju sama Alkitab dan seluruh orang Kristen seluruh dunia yang pegang pengajaran Alkitab. Dan dia mengatakan kebenaran itu relatif. Kebenaran tidak ada yang objektif. Anda salah. Terus saya bilang, "Anda dagelan ya gitu. Kamu betul-betul percaya yang kamu percaya itu. Saya saya saya enggak tahan ketawa gitu. Kamu tuh percaya kamu serius? Kamu bercanda kali ya. Saya serius. Dia tersinggung. Saya serius. Saya betul-betul percaya. Kamu percaya kebenaran itu relatif. Percaya. Kamu bercanda kali. Saya serius. Kalau kamu percaya kebenaran itu relatif, kenapa kamu sekarang ngotot di depan saya? Kamu ngotot di depan saya menyatakan saya apa? Bapak salah. Nah, kan salah kan? Berarti kalau saya salah, kamu apa? Benar. Dia bilang tadi katamu semua sama-sama benar. Kalau saya benar, kamu benar, ngapain kamu kritik saya? Karena Bapak salah. Nah, kan ada salah. Jadi, ada benar, ada salah enggak? Ya, ada benar, ada salah. Ya, kalau begitu kebenaran enggak relatif. Apa salah saya? Saudara tahu ya, itu namanya kerumitan epistemologi. Kebenaran itu objektif. Cuma menghayati kebenaran kan subjektif. Proposisi bahwa Yesus mengasihi aku itu dihayati masing-masing orang berbeda. Ada orang menghayati Yesus Kristus mengasihi aku. Dia juga memberikan hidupnya seumur hidup berkorban bagi Tuhan. Ada yang Yesus Kristus mengasihi aku. Ya. Eh, thank you ya sudah cinta-cinta aku. Lain saudara. Jadi proposisi objektif dihayati subjektif. Demikian keindahan itu ada objektivitas tetapi dihayati dengan cara yang subjektif. Nah, karena itu kalau kita bertumbuh, kita juga bisa mempersepsi keindahan lebih baik. Orang yang belajar tentang misalnya, ketika lihat lukisan Van Gogh bisa melihat dia lebih baik.
Nah, sekarang kita lihat ya salah satu contoh ya. Jadi poin saya adalah subjek pengamat. Kalau kita bertumbuh, Saudara akan bisa lebih melihat keindahan ya. Misalnya nih ya, nanti Anda mau menikah ya, Anda kalau bertumbuh Anda akan makin cinta pada pasangan Anda karena Anda bisa melihat keindahan pasanganmu. Tapi kalau rohanimu rusak dan kamu gak bertumbuh, kamu gak bisa melihat keindahan pasanganmu. Cuman kritik terus, relasimu berantakan. Jadi, bukan hanya sekedar objeknya yang menarik, subjek juga harus bertumbuh. itu namanya growing in beauty. Melihat keindahan Kristus, melihat dunia juga lebih indah.
Nah, sekarang saya ambil contoh, Saudara ya. Lukisan Edward Munch. Jadi, ketika Pak Steventong lagi besuk ke rumah saya, dia nanya, "Ini kamu rumah kalau kamu pulang kerja capek, kamu mau gantung lukisan apa?" Saya bilang, "Saya nanti rencana di ruang tamu mau pasang ini, Pak Tong. The Scream Edward Munch dia bilang, "Hah?" Edward Munch itu. Iya, Scream. Pulang kerja capek lihat Edward Munch. Enggak pemandangan, enggak apa gitu. Edward Munch iya kok mau Edward Munch. Wah, dia bilang, "Wah, ini saya pel ini gitu ya, Saudara. Ini Edward Munch kan dalam diarynya menulis ya ini the scream. Dia mengatakan, saya berjalan bersama dua sahabat tuh yang lagi di seujung sana tuh dua sahabatnya. Matahari terbenam, langit tiba-tiba merah darah. Saya berhenti, merasa letih, bersandar pada pagar, memandang awan merah darah di atas fjord. Fiord itu semacam kayak palung laut yang ada dalamnya gitu ya. Biru hitam itu saudara lihat ya. Biru hitam atasnya ada awan merah darah. Teman-teman terus berjalan aku berdiri gemetar dengan rasa cemas dan aku mendengar jeritan besar yang menembus alam." Jadi dia mendengar jeritan kosmis. Ee ini memang gak indah, Saudara. Ini lukisan yang sifatnya tragedi yang dilihat itu pergumulan hidup, pergulatan. Ini adalah kecemasan, ketakutan. Tapi kalau saya mau pasang ini di ruang tamu pasti ada indahnya. Bukan? Indahnya di mana? Nah, ini indah juga berkait dengan subjek yang melihat. Apa yang saya lihat, Saudara? Yang saya lihat adalah begini, Saudara. di tengah-tengah tragedi, ketakutan, kegelisahan ini indah. Karena Edward Munch seorang yang jujur. Kejujuran itu indah. Saudara pernah enggak ketemu satu orang yang bicara dengan sangat jujur dan saudara sangat tersentuh? Ini keindahan karena Anda berbicara dengan sangat jujur. Yang kedua, Edward Munch itu bisa mewakili seluruh zaman modern mengutarakan dalam satu lukisan ini kondisi kecemasan zaman modern dengan sangat tepat. ini loh zaman modern kayak begini. Yang ketiga, Edward Munch sekaligus membuka kepada transendensi bahwa hidup sekuler itu di tengah-tengah kehebatannya isinya ini sehingga membuka ruang untuk Tuhan. Nah, setelah melihat lukisan itu saya berpikir apa yang Kristus lihat ketika melihat kita? Saya menemukan diri saya ada di dalam lukisan itu. Saya menemukan diri saya sedang berteriak berkata pada Kristus, "Tuhan ini aku. Aku berdosa. Aku tidak sanggup. Aku cemas, aku takut. Aku dibelenggu oleh dosa. Dan saya berteriak dan saya melihat diri saya juga berteriak." Dan ketika Yesus lihat apa yang akan Dia katakan? Yesus lihat kejujuran, Yesus melihat ketulusan, kebergantungan kita. Dan dia mengatakan betapa indahnya. N Saudara lihat ya. Jadi bagaimana kita melihat keindahan ada objektivitasnya. Kejujuran, keterwakilan, partisipasi, membuka pada transendensi. Itu semuanya adalah objektivitas. Tetapi di situ ada perspektif kita yang bertumbuh.
Nah, maka aplikasinya, Saudara, kalau saudara melatih diri untuk melihat kebaikan orang lain, saudara bertumbuh dalam Kristus, Anda juga akan melihat keindahan yang lain. Ada satu orang lewat bangunan, wih bagus, bagus. Karena dia belajar arsitektur. Yang lain lewat batu ditumpuk aja bagusnya apa gitu ya. Ada orang lewat itu mobil desainnya Bruno Sacco. Bruno Sacco gitu. Sacco-sacco apa? Sako mobil tua jelek kayak begitu. Apa siapa Bruno Sacco? Karena dia mempelajari sejarah, Saudara. Dia mempelajari yang objektif. Dia bisa melihat keindahan. Orang makan sushi. Wah, ini hebat ini chefnya. Kenapa gitu? Ini cara dia fermentasinya enggak gampang. Makan bebek panggang, Saudara. Waduh, lihat aja ini bisa potong 850. Berapa teknik potongnya? Ini bukan chef sembarangan. Dia belajar, Saudara. Bebek ya begini ya enak gitu gak amis pokoknya. Enak. Tahunya cuma gak amis, Saudara. Iya kan? Tetapi makin kita belajar makin saudara minum kopi itu loh. Saya mau minum kopi sama teman saya. Strong, fruity. Ya, acidity-nya sekian, body-nya kira-kira bold-nya segini, after taste-nya dia cerita macam-macam. Buat saya gimana, Pak? Enak. Selesai. Iya kan? Jadi ketika saudara bertumbuh, Anda bisa lebih mengapresiasi beauty. Nah, jadi kita lihat ya beauty itu ada objektifnya tetapi juga ada subjektifnya.
Nah, sekarang kita maju lebih dalam lagi. Bagaimana keindahan itu membuka ruang perenungan bagi Tuhan? Ee nanti saudara akan mempelajari sendiri khusus tentang musik. Tetapi saya kira yang paling mewakili adalah seorang namanya Sir Roger Scruton. Ini bahkan bukan orang Kristen, Saudara. Dia bukan orang Kristen, tapi dia juga bukan ateis. Dia adalah salah seorang ahli estetika. Nah, bukunya kalau Saudara suka self study, The Aesthetics of Music tahun '97 ditulis. Setelah itu dia tulis lagi tahun 2017 kalau enggak salah terakhir dia perbaiki lagi tapi ide dasarnya tidak berubah. Tujuh. Nah, jadi dia mengatakan menarik ya, musik itu kan bunyi secara saintifik musik itu bunyi frekuensi dan hewan itu kan berespon terhadap musik seperti kita bereaksi pada petasan. Jadi bagi kita kalau dengar petasan tar oh kita kaget. Bagi hewan musik itu kayak petasan aja saudara. Kalau dia berespon, ya berespon terhadap petasan itu bunyi gitu. Nah, dia mengatakan kok bisa ya bagi manusia itu bukan bunyi, bukan frekuensi. Bagaimana sains menjelaskan itu Beethoven, itu Mozart. Kita bukan hanya mendengarkan frekuensi, tapi kata Scruton kita tuh memaknai tersentuh, tergerak oleh musik. Joget-joget, sedih, menangis, terharu, diubah. Saudara, ada begitu banyak orang mencoba menjelaskan pakai teori neuroscience. Nanti Scruton menjelaskan gak bisa. Ada yang menjelaskan pakai psikologi kolektif. Jadi trauma nenek moyang yang diturunkan kepada kita itu juga tidak memuaskan. Pakai teori biologi, determinisme, evolusi juga tidak memuaskan. Ya.
Nah, sekarang kita lihat ya bagaimana argumen Scruton ya. Menurut Scruton secara saintifik musik itu hanya bunyi, hanya frekuensi. Namun manusia sejak lahir kok sudah memiliki kemampuan memahami musik, memahami keindahan. Sama seperti bayi tidak perlu diajar konsep ruang dan waktu, tidak perlu diajar mengenai kausalitas, tidak perlu diajar mengenai proporsi. kuantitas. Ah, ini memang dasarnya harus belajar filsafat ya, Saudara. Manusia itu sejak bayi lahir sampai dewasa melihat dunia dalam konsep namanya kausalitas kan. Kasih contoh begini. Saudara lagi ikut kelas, tiba-tiba dari belakang tuh ada perang kaca pecah lalu kemudian ada bola gledek blok blok blok blok blok ke depan. Kalau kucing dia langsung kejar bolanya. Kalau manusia dia balik ke belakang siapa yang lempar. Berarti saudara punya pikiran sebab akibat, kausalitas dan itu sudah menjadi struktur kesadaran kita. Jadi semenjak blek lahir kita tuh berkesadaran nangkap keadilan, kebenaran, dan juga keindahan, ruang waktu, proporsi, dan sebagainya. Nah, ini disebut ini istilahkan ya transendental. Transendental berarti struktur yang tidak diajarkan yang sudah dari sananya muncul. Misalnya saudara tidak pernah akan bisa membuktikan bahwa saudara itu ada. Tetapi tanpa asumsi bahwa saudara itu ada dan saudara selalu berpikir bahwa kita tuh ada dan menempati ruang. Tanpa itu kita enggak bisa berpikir. Ya, Saudara, identitas itu ada enggak sih? Atau hanya ilusi otak saudara? Saudara misalnya namanya Rudi, apakah Rudi ada? Atau Rudi itu hanya ilusi otak. Itu dipikirkan seorang namanya David Hume. Diri itu enggak ada, jati diri enggak ada. Itu ilusi. Tapi David Hume kalau misalnya dipinjam uang apa? Dipinjam uangnya dia mau tagih hutang misalnya sama Roger. Roger kata Hume. Bayar utangmu. Hah? Siapa Roger? Kamu Roger. Roger tidak ada. Jadi kemarin yang pinjam utangmu, uangmu itu tidak ada. Tidak ada yang berhutang. Tidak. Kamu yang pinjam. Roger sudah berubah. bukan Roger yang kemarin. Aku bukan jati diriku yang kemarin. Bukan aku yang pinjam. Kan enggak bisa begitu, Saudara. Iya, kan? Jadi secara tidak ilmiah saudara selalu mengatakan Anda selalu ada. Nah, ini disebut oleh Kan transcendental dan ini disebut oleh Scruton. Jadi menarik saudara ya. Struktur transendental dalam moral dan kesadaran itu membuka kepada the secret. Dia tidak percaya Tuhan, tapi dia percaya ada yang di sana. Kira-kira begitu. Orang Kristen tinggal melanjutkan saja. Dia mengatakan gak bisa dijelaskan pakai ilmiah. Itu kenapa kok manusia bisa mendengarkan Beethoven gitu? Ini Beethoven ini bukan frekuensi. Jadi, Saudara nangkap ya, ini kita tuh tidak hanya menerima mentah-mentah data dari luar, tetapi ada struktur kesadaran yang menambahkan ke situ tanpa kita belajar. Otomatis dicampurkan ke situ sehingga muncul namanya pengetahuan. Nah, ini namanya adalah transendental. Idea tentang Tuhan. Orang orang gak percaya Tuhan itu mengasumsikan adanya Tuhan. Saya ketemu satu orang pemuda, kamu ke gereja enggak? Enggak. Kenapa enggak ke gereja? Aku dibatasi. Dibatasi apa? Gak boleh ini, gak boleh itu. Sekarang kamu ke gereja enggak? Berarti sekarang kamu bebas. Saya bebas. Berarti kamu enggak ke gereja, kamu meninggalkan Tuhan karena kebebasan. Karena kebebasan. Berarti kebebasan bagimu penting. Penting. Saya mau nanya, di dunia ini ada kebebasan enggak? Ya, Saudara tahu kan kalau Anda belajar sosiologi singkat cerita gak ada kebebasan mutlak. Lalu saya pertanyaan saya adalah kalau kebebasan tidak ada dan Anda meninggalkan Tuhan karena alasan kebebasan, berarti Anda meninggalkan Tuhan karena ilusi. Dan Anda berani mengambil satu keputusan yang sangat serius dengan ilusi. Dia bilang, "Saya belum pernah pikir hal itu, Pak. Dan hari ini saya pikirkan. Sekarang dia sudah ke gereja. Saya gak pernah pikirkan itu. Bagaimana mungkin ada tidak ada kebebasan? Karena ketika kamu berpikir meninggalkan Tuhan, kamu berpikir dengan kebebasan. Kamu sedang mengasumsikan ada Tuhan. Karena ada Tuhan ada kebebasan. Kalau ada Tuhan kenapa saya menderita? Loh, emang kenapa? Kenapa saya sakit? Kalau ada Tuhan kenapa saya sakit? Emang kenapa kalau kamu sakit? Emang ada manusia enggak sakit? Manusia sakit mati kan? Berarti kamu lumrah dong. Kenapa kamu teriak? Ee ya kena ya berarti kamu mengasumsikan ada Tuhan. Maka ada kesehatan, ada kebaikan, ada apa harusnya kamu enggak begini. Jadi, kamu sedang mempertanyakan adanya Tuhan dengan asumsi Tuhan itu ada, tapi kamu nanya Tuhan enggak ada. Kan membingungkan, gitu. Jadi mesti gimana, Pak? Sekarang pertanyaannya diubah bukan mengapa gitu. Bagaimana Tuhan saya menghadapi, bukan mengapa sudah kejadian. Bagaimana saya menghadapi ini? Pertanyaannya harus diubah.
Nah, jadi Saudara, jadi kita punya unsur transendental ini bersifat universal. Ambil contoh manusia tuh lahir hasil purely evolusi tanpa Tuhan. Ck muncul kita. Kok kita bisa berpikir logika yang sama? Universalitas itu dari mana? Ini benar, itu salah. Itu dari mana kalau gak ada Tuhan? Kok manusia bisa menangkap musik bisa tersentuh? Kalau gini namanya tersentuh, kalau gini namanya semangat. Itu sama semua gak usah diajarkan. Ini adil, itu gak adil. Anak kecil pun tahu ada perasaan itu. Universalitas membuka kepada theb memang tidak membuktikan adanya Tuhan seperti matematika tetapi Scruton membuka ruang bagi the secret.
Saya lanjutkan. Saya tutup dengan konsep keindahan Kristen melawan keindahan Yunani. Saudara, ini lukisan Caravaggio Yesus yang bertemu dengan Thomas. "Cucukkanlah tanganmu." Alkitab tidak mencatat dicucukkan apa tidak. Dalam sejarah ada dua penafsiran. Ada yang cucukkan, ada yang tidak. Tapi itu tidak penting. Yang penting Thomas itu percaya kepada Yesus. Tapi kenapa lukisan ini jadi penting? Karena di zaman kira-kira gereja awal muncul bidat yang mengatakan Yesus tuh tubuhnya tidak betul-betul daging. Maka lukisan-lukisan seperti ini penting. Mereka mau menyatakan bahwa Yesus betul-betul punya tubuh seperti manusia pada umumnya, bukan hanya penampakan. Nah, Saudara menarik bukan? Ketika Yesus bangkit dan punya tubuh sempurna, indah sempurna, tubuh yang tidak bisa rusak, tubuh yang abadi, tubuh yang sempurna adalah tubuh yang ada lukanya. Kalau saudara ada codet, Anda ke Korea pasti akan minta, "Tolong hilangkan codet saya." Tangannya bolong, kakinya bolong, lambungnya bolong, pergi ke Korea minta dihilangkan. Lah Yesus punya tubuh kebangkitan. Harusnya codetnya hilang dong. Lah kok bolong begini? Saudara pernah kepikir enggak? Imperfection loh. Jadi apa itu keindahan? Nah kalau Yunani keindahan itu idealis lalu kemudian proporsional. Saudara kalau lihat patung-patungnya itu patung-patung tanpa cacat. di Singapura pernah ada menarik sekali ada satu pameran patung dia ambil dari Museum Louvre di Prancis. Dia bikin di Singapura. Saya pernah pernah datang ke situ lalu kemudian lihat dia aturnya menarik. Jadi semuanya itu lorong putar-putar. Kita lihat patung Yunani yang cantiknya, gantengnya, atletisnya luar biasa. Zaman sekarang tuh badan-badan atletis itu kan niru konsep tubuhnya orang Yunani kuno ya yang sixpack lah yang apa segala macam itu kan dari Yunani kuno lihat keliling semua serba indah sampai di tengah saudara jadi dibuka dengan patungnya Alexander Agung yang ganteng mancung bikin perempuan rasanya aku kalau nikah yang kayak begini ya gitu kan ya yang cantik-cantik yang ganteng-ganteng yang luar biasa tapi di tengah saudara di tengah itu ditaruh tiga patung orang jelek yang satu hidungnya gede. B kepalanya botak, yaitu itu Sokrates, Plato, sama Aristoteles. Menarik kuratornya. Justru itu jantungnya di tengah. Ada keindahan yang berbeda ya. Tapi itu pikiran zaman sekarang gitu ya. Nah, orang Yunani itu keindahannya tanpa bekas luka, ideal. Zaman sekarang forever young, ndak mau tua. Meskipun Alkitab mengajarkan maturity, dunia mengajarkan forever young, jangan tua dan sebagainya. Tetapi saudara-saudara sekalian, sebelum kita membahas kekristenan, kenapa menghadirkan Yesus yang tidak sempurna tubuhnya sebagai keindahan? Saudara bagaimana bisa memahami Luther? Misalnya Luther reformator ya mengatakan begini, "Keindahan Kristen paling puncak adalah inkarnasi, salib, dan kebangkitan. Dan most beautiful thing in this world adalah salib. Apa indahnya coba? Bagaimana kita memahami reformator kita ini? Jantungnya Protestan berdiri, Saudara. Dan ini yang menjadi estetika kita, estetika salib. Bagaimana memahami salib sebagai keindahan puncak? Pasti ada yang membedakan sehingga kita bisa memahaminya.
Nah, Saudara, jadi yang pertama saya mau membuka pemikiran Saudara. Keindahan itu bukan hanya fisik loh. Keindahan itu menyangkut nonfisik. Nah, ini seringkali kalau orang bilang keindahan asumsi dasarnya saya percaya 95% orang pikir keindahan itu visual. Orang yang tidak belajar seni dan keindahan selalu berpikir keindahan visual. Tapi keindahan lebih luas dari itu. Dan hari ini saudara mesti lepaskan pikiran bahwa keindahan pasti visual. Gak. Keindahan juga menyentuh nonfisik. Misalnya ada ide yang indah, dongeng yang indah, teori yang indah, ada puisi yang indah, sastra yang indah, novel yang indah, musik yang indah, itu semua enggak kelihatan, Saudara. Jadi, sekali lagi, keindahan bukan hanya fisik, karakter juga bisa indah. Nah, ini yang menarik. Cinta bisa indah. Damai itu indah. Tenang itu indah. Sukacita itu indah. Keadilan itu indah. Bermakna itu indah. Saudara pernah ketemu ada orang ngomong terus orang bilang dalam loh. Wah hidup gua jadi meaningful, beauty. Indah banget sih perkataanmu. Thank you. Ya. Saudara pulang dengan perasaan wah indah sekali tadi dia ngomong. Saudara pernah merasakan begitu? Mungkin ada pendeta khotbah, mungkin ada teman bicara dan Anda pulang tuh indah banget perkataan loh, perkataan manusia bisa indah. Anda pergi ke konselor, konselor ngomong satu konsep, kasih satu cerita, pulang indah. Saudara baca kitab suci indah sekali. Karakter, teori, cerita, ide, perjumpaan, sukacita, keadilan, dan sebagainya. Nah, dari situ kita bisa mulai memikirkan di mana keindahan kandang Betlehem, di mana keindahan salib, di mana keindahan bekas luka Yesus. Nah, seorang bernama Hans Urs von Balthasar ini dia tulis buku itu ya, Saudara. Judulnya The Glory of the Lord, Theological Aesthetics. Nah, tadi saya katakan kan kemuliaan itu juga keindahan. Ini buku tebal-tebal kayak begitu tujuh jilid, Saudara. Jadi kalau Saudara mau serius belajar estetik Kristen ini salah satu bacaan wajib. Ini orang Katolik, tetapi dia mengembangkan seorang namanya Thomas Aquinas. Ya, tradisi Agustinus Aquinas. Ini klasik ya. Biasanya mesti baca ini. Nah, dia mengatakan keindahan Kristen itu keindahan transformatif. Kenapa Yesus indah? Yesus mengubah yang tadinya adalah celaka menjadi mulia.
dan keselamatan. Yesus mengubah saya yang berdosa menjadi diterima. Jadi ada transformasi, keindahan transformatif, Saudara. Dan transformasi itu sesuatu yang indah.
Dari tidak bisa saudara mungkin menangis ya sama orang. Saya dulu bukan siapa-siapa. Bahkan roh bukan karena kamu. Saya enggak bisa jadi seperti ini. Ketika saudara mengatakan itu, saudara merasakan ada keindahan dalam hati saudara. Orang ini indah. Orang ini mentransformasi hidup saya. Terima kasih kalau kamu sudah menjadi inspirasi saya karena kamu entah itu ayah atau siapa, hidupku seperti ini. Dan saudara merasakan kehangatan dan ketenangan dan keindahan. Itu namanya keindahan transformatif. Dan di atas kayu salib Yesus menyatakan kuasa yang besar itu. Saudara kita yang kotor berdosa, tapi mendapat anugerah.
Saudara-saudara sekalian, bukan hanya itu, keindahan itu juga bersifat paradoks. Soren Kegard, keindahan paradoks. Kegard mengatakan, "Ketika nanti Yesus memanggil, siapa yang diselamatkan dan namaku dipanggil lalu aku muncul, aku akan ketawa ngakak setengah mati. Ini lelucon Tuhan yang luar biasa hebat. Manusia celaka seperti aku diselamatkan." bukan hanya indah, tetapi juga humor kelas tinggi. Itu pembahasan lain, Saudara, ya. Humor Kristen. Menarik itu. Jadi, dia ee satu-satunya pemikir Kristen, filsuf Kristen yang membahas mengenai humor Kristen secara serius. Jadi, satu humor tingkat tinggi. Jadi, humornya itu orang kadang-kadang bukan hanya ketawa, nangis, Saudara. Saking dalamnya rasa humornya Tuhan, siapa yang selamat? Kiat. Waduh, model saya selamat. Nah, itulah indahnya, Saudara.
Nah, maka bagaimana kita hidup dalam dunia menyatakan keindahan Tuhan, Saudara? Kita tidak perlu pakai filter ke mana-mana, Saudara. Ya, seperti yang diajarkan teknologi. Indah harus pakai filter. Kejujuran itu indah. Kalau Anda dagang dan Anda jujur, itu indah. Relasi itu indah. Cinta itu indah. Keteraturan itu indah, damai itu indah, keterbukaan itu indah. Saudara bukan hanya menikmati keindahan, Anda harus belajar menikmati keindahan yang benar. Itu tugas kita. Tapi selain belajar menikmati keindahan, kita harus menciptakan keindahan. Ketika saudara nanti menjadi seorang yang masuk ke dalam bidang masing-masing, Anda menjadi seorang desainer. Jadilah desainer yang mencipta keindahan. Anda berkorban dalam relasi, muncul keindahan. orang sekitar lain itu melihat keindahan, baik itu karya seni maupun tutur kata, maupun kisah hidup maupun pengorbanan, maupun pelayanan menjadi segala sesuatu yang indah. Kiranya pulang dari tempat ini ya paling enggak bikin paper, perhatikan ya. Ya, hurufnya ya apa tulisannya. Banyak orang tulisannya jeleknya minta ampun sekarang gitu ya. Itu menyiksa ini ya, menyiksa dosen ya. Kadang-kadang tulisan tangan. Saya kadang-kadang sering pakai tulisan tangan. Kenapa? Karena bisa baca karakter. Ya, kalau ketik kan susah ya. Tapi kalau tulisan tangan saya dari dunia desain. Jadi saya peka terhadap goresan. Keras, lembut, seperti apa, ada ilmu, itu sudo sains. Tapi namanya grafologi. Tetapi kita bisa melihat karakter orang dari tekanannya, dari tebal tipisnya, pilihan pennya, hurufnya besar, itu bisa kita sedikit membaca karakter manusia ya. Nah, maka kadang-kadang saudara-saudara sekalian, kita diminta menghadirkan keindahan, kumpul paper, ya kan? Lalu kemudian presentasi. Mari kita pikir bukan cuman benar, mari kita juga dalam kehidupan kita pikir indah. Sebagaimana rumah ya, rumah buatlah rumah bukan cuman rumah yang fungsional, tapi mulai dari kamarmu jadi kamar yang indah. Dan kiranya keindahan Tuhan juga menjadi pengejaran utama kita. Karena gereja seperti kata ee tadi murai sangat memerlukan keindahan Tuhan.
Mari kita berdoa. Bapa dalam surga, kami bersyukur untuk kuliah pada hari ini. Satu kuliah yang cukup berat mengenai estetika dan mengenai apakah keindahan itu objektif, sesuatu yang subjektif ataukah keindahan itu menunjuk kepada siapa. Biarlah kami bersama-sama lewat kuliah yang singkat ini, kami boleh melihat kemuliaan Tuhan. Kami boleh melihat jejak kaki Tuhan di tengah-tengah dunia ini. Sebagaimana tidak ada seorang pun yang bisa tuntas menjelaskan keindahan kecuali kembali kepada Tuhan, kecuali mengakui bahwa Engkau adalah sang indah dan yang menanamkan keindahan-Mu. Biarlah kami juga bertumbuh bukan hanya dalam rasio kami, tetapi kami juga bertumbuh dalam keindahan. Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. Selanjutnya saya serahkan kepada ee liturgis untuk memimpin acara.
Yap [Musik] Terima kasih kepada Bapak Ivan yang telah menyampaikan materi Vitas Lecture hari ini. Persembahan kebaktian hari ini akan diberikan untuk mendukung sebuah lembaga pelayanan yaitu lembaga Alkitab Indonesia atau biasa disingkat dengan LA. Persembahan dapat diberikan melalui QR code yang tertera di layar dan juga QR code yang telah tersebar di sekitar ruangan ini. Persembahan ini akan digunakan untuk mendukung salah satu program LAAI yaitu Satu Dalam Kasih yang memberikan Alkitab ke daerah-daerah terpencil dan juga menerbitkan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia.
Minggu depan meskipun sudah memasuki masa-masa ujian tengah semester, kebaktian universitas tetap diadakan loh dengan membawakan tema God over the Mondayin yang akan dibawakan oleh Bapak Sastra Budiharja Santoso, Sarjana Psikologi, Magister Teologi. Kadang hidup terasa biasa saja, penuh dengan rutinitas. Tapi Injil mengingatkan kita kalau Allah hadir bahkan di hal-hal sederhana. Tugas kecil dan aktivitas sehari-hari pun bisa menjadi bentuk penyembahan kita kepada Tuhan. Pernah enggak sih kepikiran hidupku yang sehari-hari ini kira-kira berharga enggak ya di mata Tuhan? Yuk, kita bersama-sama menemukan jawabannya di Kebaktian Universitas Minggu depan. Kita belajar melihat kehadirannya dalam setiap langkah kehidupan kita.
Di akhir pengumuman ini, mari kita mendengarkan pesan rektor. Kepada Bapak Juantoro Harjito. Kami persilakan. Oke, selamat siang >> ya. Shalom buat kita semua dan pertama-tama terima kasih Pak Pendeta Ivan Kristo. Ya, saya yakin Ibu, Bapak, dan teman-teman juga merasakan keindahan dari apa yang tadi sudah disampaikan oleh Pak Ivan kepada kita semua. Ya, saya mencoba membiasakan diri untuk mencatat ya. Karena selain menolong saya untuk konsentrasi juga eh kalau nanti balik ada sesuatu yang saya pikirkan dan saya lupa, saya bisa kembali melihat catatan saya. Mungkin kuno ya. Ya, tapi menurut saya, bagi saya ini berguna buat saya ya. Juga nolong saya untuk gak gampang ngantuk gitu loh kalau saya dengerin sesuatu yang menurut saya juga penting ya. Oke. Nah, Teman-teman ee rasanya tadi kuliah tadi berat sekali ya, tapi luar biasa indahnya ya. Saya belajar banyak dari paling tidak tadi selama ini saya juga berpikir keindahan itu relatif ya. Saya lupa bahwa keindahan juga ada standarnya ya. Biarlah ini setiap kali kita bisa melihat sesuatu yang indah itu menolong kita juga untuk boleh melihat sang pencipta keindahan itu ya. Nah, teman-teman kursinya teman-teman mahasiswa minggu depan sudah waktunya teman-teman jalanin UTS ya dan mungkin minggu ini juga banyak tugas yang masih harus di kumpulkan ya. Saya doakan, saya harapkan, saya pesan. Do your best. Lakukan yang terbaik. Mestinya bukan hanya minggu ini, bukan hanya minggu depan ya, tetapi dari awal. Nah, biarlah ini cuma mengingatkan kalau memang ada yang selama ini belum bertanggung jawab benar-benar setelah ini, ini jadi wakeup call. Mestinya kita terus coba melakukan yang terbaik setiap kali ya, ngatur waktu lebih baik dan seterusnya. Saya doakan yang terbaik buat teman-teman merayakan hasil kerja keras selama ini ya. Ujian itu merayakan hasil kerja keras teman-teman selama ini ya. Do your best ya. Terus enaknya apa sih jadi anak Tuhan? Kita boleh tuh terus minta kepada Tuhan untuk memberikan kita hikmat, menolong kita mempelajari sesuatu yang kita sudah coba melakukan sepenuh hati. tetap enggak masuk-masuk ya. Kita boleh kok minta. Nah, Tuhan menyingkapkan rahasia ya. Boleh ya. Yuk lakukan yang terbaik. Saya harapkan teman-teman juga mendapatkan yang terbaik dari apa? Hasil kerja keras teman-teman. Juga untuk teman-teman dosen dan tenaga kependidikan. Oke, minggu depan tolong walaupun suasana ujian ya di jam itu tidak ada ujian, ayo hadir dan undang teman-teman yang lain boleh merasakan keindahan firman Tuhan ya. Terima kasih untuk yang sudah melayani siang hari ini. Tuhan memberkati Ibu, Bapak, dan teman-teman semua.
Terima kasih kepada Pak Juantoro atas pesan rektornya. Terima kasih juga kepada setiap jemaat, setiap mahasiswa, Bapak Ibu dosen yang telah hadir di Veritas Lecture pada hari ini. Saya percaya setiap pesan yang sudah disampaikan bisa berguna buat setiap kita semua. Dan acara Veritas Lecture hari ini telah berakhir. Sampai jumpa di Kebaktian Universitas minggu depan. God bless you. [Tepuk tangan] >> Kau satu penuh kasih. Dua penuh hikmat tiga penuh kuasa kau mulia kau. Ada waktu suka ada waktu duka. kau setia dan selalu bersamaku. [Musik]