📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

BI & The Fed Bisa Pangkas Suku Bunga 2-3 Kali, Rupiah Bisa Cepat Menguat?

CNBC Indonesia7:15

Transcription

Mungkin ada cutrate yang akan kita lihat di semester 2 2025 ini, gitu. Tapi untuk besarannya sendiri, menurut Bapak, akan berapa banyak hingga akhir 2025, baik itu dari The FED ataupun Bank Indonesia? Iya, kalau kita melihat saat ini, ekspektasi market untuk FED masih dua kali cut, masing-masing 25 basis poin. Kemungkinan pertama memang di bulan Juni, tetapi kita tetap memperhatikan kebijakannya Trump untuk tarif ini seperti apa, karena ini akan berpengaruh kepada inflasi di Amerika juga. Yang kedua, kalau untuk Bank Indonesia sendiri, kita masih melihat potensi untuk Bank Indonesia melakukan cut rate sebanyak 2 sampai 3 kali tahun ini. Kemungkinan besar itu baru mulai di bulan Mei, kemudian tiap quarter 25 basis juga. At the end, kita akan melihat di sekitar 5%. Jadi untuk BI dan Fed, kita melihat dua sampai tiga kali masih ee terbuka untuk tahun ini.

Baik, bicara cut rate The Fed di bulan Juni yang tadi Anda sampaikan, sebenarnya kalau mengacu pada data inflasi Amerika Serikat, ini kan sudah ada perlambatan, begitu data terakhir di 2,4%. Lalu, sebenarnya alasan apalagi yang mungkin bisa menahan The FED untuk tidak memangkas suku bunga? Apalagi kita lihat ini kondisinya juga mendesak, di mana inflasi mungkin juga akan tinggi dengan seiring perkembangan tarif dengan China. Ya, yang kalau kita melihat memang Fed tetap mempertimbangkan adalah kebijakan untuk tarif ini. Jadi, melihat data apakah impact dari kebijakan tarif ini akan impact ke inflasi, itu yang menjadi kunci. Atau kemudian yang kedua juga, perlambatan ekonomi di Amerika dengan adanya kebijakan tarif ini, itu yang menjadi ee pertimbangan dari Fed untuk menurunkan suku bunga. Baik.

Tapi untuk Bank Indonesia sendiri, sebenarnya adakah ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan pemangkasan lebih dulu sebelum The FED? Kalau kita lihat dari kondisi dolar rupiah saat ini, sebetulnya memang cukup riskan, karena dengan rupiah levelnya masih mendekati 17.000, mungkin room-nya sedikit berkurang. Tetapi kalau kita melihat data ekonomi, sebetulnya room-nya cukup besar. Artinya, kalau kita lihat di first quarter kemarin, memang Bank Indonesia fokus ke pertumbuhan ekonomi atau ekonomi growth dibandingkan dengan stabilitas nilai tukar. Mungkin kita akan melihat kalau di second quarter ini pertimbangannya adalah nilai tukar terlebih dahulu. Artinya, untuk kalau rupiah menguat, seandainya rupiah menguat di bawah 16.700, kemungkinan masih ada peluang untuk BI cut rate itu.

Baik. Apabila ternyata FED ini tidak jadi melakukan pemangkasan di bulan Juni sesuai dengan harapan pasar, lalu seperti apa ini akan berdampak terhadap perekonomian? Apalagi kita juga mendengar ramalan dari banyak institusi internasional bahwa peluang resesi yang terjadi di Amerika Serikat ini relatif lebih tinggi daripada emm peluang resesi yang pernah terjadi di COVID-19. Iya, kalau kita lihat memang seperti itu. Jadi, untuk peluang resesi akan cukup besar bagi Amerika. Tetapi kita mengingat tadi, jadi ada kebijakan Trump, itu ada fleksibilitas juga. Jadi fleksibilitasnya adalah Trump bisa mempertimbangkan kembali untuk apabila sektor manufaktur terimpact. Artinya, untuk kebijakan tarif akan menyesuaikan. Jadi menurut saya, kalau sampai terjadi resesi atau kemudian juga terjadi perlambatan ekonomi di Amerika, artinya ini akan, Trump pasti akan melakukan adjustment untuk di kebijakan ee ee tarifnya seperti itu. Baik.

Lalu bagaimana fundamental ekonomi kita di dalam negeri sendiri? Apakah Bapak lihat? Kita sebenarnya cukup resilient, ya. Kalau kita lihat Indonesia cukup resilient. Artinya, seperti saya sampaikan juga, sebetulnya domestik investor kita cukup naik tinggi. Kalau kita lihat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya sebelum pandemi, offshore holding di SBN itu sekitar 39%, saat ini hanya 14%. Sedangkan pertumbuhan dari individu atau retail investor kita itu naik signifikan dari Rp 0 triliun saat ini Rp 70 triliun. Di mana ini salah satu kekuatan dari domestik investor kita. Artinya, ketika offshore juga melakukan penjualan, investor lokal kita atau domestik ini juga cukup kuat untuk mereka melakukan pembelian di SBN seperti itu. Baik.

Bicara SBN, kita tahu yield SBN kita kemarin sempat em berada di atas 7%. Begitu Anda lihat, seperti apa peluangnya untuk bisa turun dalam waktu dekat? Ya, kalau kita lihat memang peluang di waktu dekat itu mungkin akan sedikit bergejolak sesuai dengan ee Trump tarif yang dilakukan Trump. Tapi kita melihat masih ada peluang penguatan di akhir tahun. Artinya, kita masih melihat di ee 10 tahun itu sekitar 6,5 sampai 6,75 itu possible eh possibility untuk yield menuju ke level tersebut. Baik. Bagaimana dengan rupiah? Untuk rupiah di akhir tahun, kita masih melihat di level 16.000 Rp. Itu merupakan level yang cukup stabil. Artinya, ada peluang untuk rupiah menguat lebih lanjut. Tetapi memang kemungkinan besar adalah setelah bulan Juli Juni, kita melihat apakah Fed melakukan cut rate kemudian juga atau kita lihat DXY, kita melihat potensinya akan kalau tembus 100 itu akan potensi ke 94 itu.

Baik. Dengan proyeksi-proyeksi seperti itu, apakah ini juga mempengaruhi kebijakan pengelolaan aset valas di CMB Niaga? Ya, jadi kalau kita di CMB Niaga, kita juga melakukan edukasi, kemudian sosialisasi kepada nasabah. Seperti contoh, kita kebijakan DISTA, kita melakukan sosialisasi, termasuk dalam menyediakan produk-produk untuk melakukan hedging atau lindung nilai, kebutuhan sesuai dengan kebutuhan nasabah. Jadi ini cukup aktif kita melakukan transaksi forward, transaksi swap, kemudian juga transaksi option. Demikian. Baik. Lalu seperti apa psikologis dari nasabah saat ini, apalagi yang terbiasa berbisnis treasury? Ya, kalau psikologis nasabah dengan level saat ini sebetulnya memang ketika nasabah itu melihat level cukup menarik, atau artinya di bawah 800, nasabah masih melakukan pembelian. Tetapi kita berangsur melihat juga ketika rupiah semakin stabil di level rentang 16.700 sampai ee 17.000. Sebetulnya ini juga nasabah eksportir mulai melakukan ee penjualan seperti itu. Baik.

Lalu seperti apa daya tarik aset-aset keuangan kita untuk investor global hingga mungkin pertengahan tahun 2025 ini? Ya, kalau kita lihat memang tadi seperti saya sampaikan, kita lihat dari SRBI itu cukup menarik, di mana yield saat ini juga 6,7% cut off-nya. Kemudian dari 10 years bond ini juga di sekitar 7,05. Artinya ini cukup tinggi, menarik untuk investor lokal, investor global masuk ke Indonesia, di mana nilai tukar juga relatif tinggi kan di level sekitar 16.800.