Transcription
Ini bisa sama-sama kohesif, tetapi memang di sektor jasa, sektor keuangan, deregulasi itu bisa jadi seperti pedang bermata dua. Kesalahan kita memilih teknologi dan industri yang dikembangkan saat itu mencerminkan bahwa negara bisa memilih, tapi keliru. Kita itu jadi produser terbesar di dunia, enggak bisa ngatur harga. Nah, cilakannya, kita sebagai pembeli terbesar, importer terbesar pun, seperti gula, enggak bisa ngatur harga juga. Makanya, sejarah kapitalisme itu awalnya adalah dari domba. By nature kan kita archipelago, harus terbuka. Kita enggak bisa jadi negara tertutup dengan proteksionisme, temboknya di mana-mana. Enggak bisa. Jadi, kalau mau menghilangkan penyelundupan karena kita negara kepulauan, itu bea masuknya zero, yang rawan penyelundupan. Saya nanti tugas dari Bea Cukai hanya larta saja untuk narkotika.
[Musik]
Nah, oke. Lu dulu ya. Gua mau ke toilet dulu. Ya, ya, ya, ya. Oke, kita buka dulu. Kita mulai dari inilah, ee di sini sebelum kita buka floor, ada dua orang senior kita, ada BHM dan Bang Poltak. Mungkin Bang Poltak dulu lah, Bang. Berikan ee satu dua perspektif, pertanyaan dan sampai enggak kabelnya? Ee agak maju, Bang. Agak maju, Bang. Di sini memang ee mikrofon itu direbut, Bang. Enggak bisa diberikan. I-finya Ari a direbut, Pak. Iya, duduk aja. Oke, boleh, boleh. Nah, kalau Bang Poltak kedudukan dia enggak berani. Tadi menarik sih penjelasannya Mas Dede sama Mas Jeli juga. Cuman memang em, kalau bicara mengenai memelihara konsistensi deregulasi itu kan banyak aktor dalam pemerintahan, dan kita lihat bahwa apa yang terjadi pada waktu, dan kita lihat pada waktu 80-an ketika semangat ee deregulasi dan debirokratisasi muncul, justru ada kesempatan yang hilang ketika terjadi insiden Fairchild.
Jadi insiden Fairchild itu tahun 1970-an, semikonduktor Amerika beroperasi di Indonesia dan ekspor Indonesia atas semikonduktor waktu itu naik dengan sangat cepat, sangat signifikan. Tapi kan yang namanya semikonduktor kan urusan dengan urusan yang sangat kecil dan makin makin kecil. Sehingga pada waktu itu National Semiconductor dan Fairchild mengajukan, boleh enggak pakai robot? Diajukannya ke siapa? Menteri Tenaga Kerja.
[Musik]
Dibilang enggak boleh. Dan kemudian yang terjadi adalah enggak boleh robot, dan waktu itu memang cyclenya lagi turun, keluar dari Indonesia, pindah ke Malaysia, dan kemudian Malaysia jadi raksasa cukup besar, walaupun kemudian ee turun lagi, tapi sekarang bisa balik lagi, kembali lagi sekarang kan. Nah, sekarang, nah jadi mungkin yang perlu kita juga ikut pelihara di sini adalah bagaimana debirokratisasi dan juga deregulasi itu bisa harmoni pada banyak komponen. Karena seperti tadi kan, bahkan ketika di deregulasi pun ada satu yang eh enggak ini, kepentingannya enggak ada, enggak sampai ke sana gitu. Padahal ekspor Indonesia itu, Bu Mari Pangestu tuh nulis mengenai itu, Pak Tikian juga nulis mengenai itu. Bagaimana Indonesia setback, benar-benar itu kasih kayak kayak ngasih peluru ke apa ke ke ya, Malaysia, dan Indonesia mengalami masuk blacklist selama 15, hampir 20 tahun. Jadi sangat fatal ee efeknya, padahal itu tengah-tengah keriuhan debirokratisasi dan ee deregulasi.
Kemudian yang mungkin juga perlu diperhatikan adalah capacity. Karena salah satu yang deregulasi yang paling yang dia yang yang signifikan dan berdampak paling dalam adalah regulasi keuangan. Kita tahu waktu Pakto dibangun, wah kemudian langsung bank buka banyak sekali, banyak orang buka. Yang kedodoran adalah ternyata sumber daya manusianya enggak cukup. Terjadi banyak membajak bank, kualitas orang yang ada di perbankan turun, enggak ada kedisiplinan. Dan yang terjadi adalah ee kualitas kredit itu menjadi turun juga. Dan itu yang menyeret kita kemudian pada ee keadaan di mana berujung dengan krisis moneter. Bagaimana bisa kok bisa 80% utang tuh jatuh tempo dalam waktu 1 tahun? Ini gimana ceritanya? Bebas sih bebas ya, tapi ini diterjang benar-benar gitu. Jadi saya saya kira ini yang perlu kita sama-sama lihat, spiritnya yang perlu yang kita melihat ke depan ya, bahwa bagaimana ini bisa sama-sama kohesif, tetapi memang di sektor jasa, sektor keuangan, diregulasi itu bisa jadi seperti pedang bermata dua. Memang saat ini, kalau boleh dikatakan, deregulasi di sektor keuangan sudah jauh lebih baik. Kita punya bank yang semakin saat ini ya, boleh kata kuat dan lainnya. Beberapa pihak mungkin mengatakan, enggak jarang ada yang mengatakan sekarang terlalu terlalu ketat, enggak ya. Tetapi ee mungkin juga kita punya contoh-contoh yang mungkin di sisi lain, regulasi di sektor jasa yang juga perlu diregulasikan, misalnya terkait dengan terkait dengan jasa kesehatan, misalnya kita punya masalah dengan jumlah dokter, jumlah perawat, sementara di sisi lain kita juga punya peluang. Kenapa? Dunia ini semakin tua. Dan ternyata di berbagai tempat di dunia, ketika populasi dunia makin tua, orang cari tempat yang mana ada air, ada mataharinya. Di Eropa orang ke Italia, ke Spanyol dan lainnya, di Amerika orang ke Florida, orang ke Hawaii, terlalu mahal ya. Nah, sekarang kita bayangkan Asia Tenggara, Asia Timur, orang-orang tuanya, orang kayanya ada di mana? Di tempat yang dingin-dingin. Jepang,
[Musik]
ee Taiwan, ee Korea dan lainnya. Sekarang mataharinya di mana? Di ASEAN. Surplus matahari kita. Surplus matahari. Orang orang tua tuh kalau enggak bisa kalau enggak bisa dikasih darah dingin sebenarnya. Jadi sebenarnya kita punya peluang besar di sini ya, bagaimana kita bisa meng-cater ini. Saya yakin misalnya dana pensiun atau misalnya dana asuransi Jepang, kalau misalnya orang Jepangnya itu mau misalnya tinggal di somewhere lah di Bintan misalnya, pagi main golf, mungkin yang ibu-ibunya ngerangkai bunga, itu biaya hidupnya jauh lebih murah dibandingkan di tempat asli. Mungkin ini hipotesis ya, enggak gampang juga mindahin orang kan. Tetapi jelas bahwa ini ada peluang. Tetapi kembali lagi yang seperti tadi, bisa enggak kita melakukan deregulasi ini pada sektor yang sangat kompleks dan ini terkait dengan kesehatan yang juga semangat nasionalismenya juga bisa sangat berbeda.
Nah, baik. Oke, langsung jawab. Langsung jawab ya. Komentar ya Poltak mengenai satu hal yang ini ini pengalaman ya, karena gua hidup di dua dunia. Satu adalah dunia akademis yang kita bicara mengenai first best world, yang ideal ya. Hidup satu lagi di dunia kebijakan yang kemudian membuat saya humble. I'm humble by the political reality. We are not living in the first best world. We are living in the third best world, run by the fourth best birokrasi. Dan itu adalah fakta. Kita enggak bisa komplain mengenai itu. Nah, di dalam konteks ini, ini saya mau cerita kembali lagi ke Pak Wijoyo ya. Salah satu keunggulan Pak Wijoyo itu adalah pragmatismenya. Dan ini berkali-kali dia bilang sama saya, kadang-kadang melakukan reform enggak bisa seideal yang kita bayangkan. Tadi yang ceritanya Poltak tuh, kalau di dalam buku teks itu adalah Kydland and Prescott, namanya time consistency. Jadi kalau kita lakukan itu, semuanya harus konsisten sampai ujung. Tetapi kemewahan politik seperti itu di dalam praktik enggak ada. Jadi saya tanya tadi karena Poltak ngomong mengenai ini, saya tanya sama Pak Wijoyo, "Pak, kalau kita bicara mengenai sequence dari teori, maka yang harus dilakukan pertama deregulasi itu adalah sektor barang, Pak. Baru setelah itu sektor keuangan." Karena apa? Karena sektor keuangan itu kalau dibuka dia langsung punya dampak. Tapi kalau sektor barang misalnya gini, kalau kita nanam bibit kan enggak besok enggak bisa berproduksi, jadi butuh waktu. Karena itu deregulasinya harus dimulai dari sektor barang baru sektor keuangan yang immediate. Itu logikanya itu apa namanya? Ronald McKinnon, the sequence of liberalization. Ya, Pak Wijoyo jawabnya begini. Saya tuh enggak punya kemewahan seperti McKinnon. Saya harus lihat di mana deregulasi yang mungkin. Terus dia bilang, "Saudara Kwik Kian Gie, pada tahun pertengahan-an, seluruh sektor riil itu dimiliki oleh anak-anak Pak Harto, enggak mungkin bisa disentuh. Sektor mana yang bisa dibuka itu adalah sektor perbankan karena belum ada bisnis mereka di sana." Nah, jadi nah ini ini saya bilang, kadang-kadang realitas politiknya itu membuat kita untuk bicara tentang sesuatu mana yang mungkin. Ini yang saya sebut sebagai the political economy of the possible. Kita enggak bicara mengenai first best world. Apa yang kita bisa lakukan, lakukan. Jadi, jadi memang enggak ideal. Ada kasus Fairchild, ada banyak kasus. Tapi yang paling penting adalah setiap opportunity yang bisa dilakukan untuk dibuka itu dilakukan.
Nah, tadi juga pertanyaan misalnya tadi pertanyaan mengenai Pak Prabowo. Apa yang kira-kira bisa dilakukan? Ini pernyataan Pak Prabowo sendiri. Presiden itu bicara bahwa di dalam masa puasa kemarin itu relatif harga daging itu stabil. Benar ya? Iya. Nah, dia bilang bahwa penyebabnya adalah kuota importnya itu diemove. Jadi, itu hal-hal yang langsung buat orang itu terasa dampaknya ketika harga dagingnya bisa stabil. Sehingga kita harus berpikirnya jangan kita bilang sama leaders, politician ini harus lakukan, tapi gimana? How to incentivize leaders to support our idea. Problemnya dengan teknokrat adalah kalau kita punya ide, politisinya enggak mau, kita bilang ini sama sekali politisi ini enggak perform. Kita harus berpikir bagaimana kita ngerubah mindset kita, bagaimana reform kita itu beneficial secara politik. Makanya saya kasih contoh selalu misalnya BLT, BLT itu kalau dilakukan itu ngubah dari struktur subsidinya dari BBM kepada direct subsidy, itu politically sound. Jadi kita harus cari area-area yang memungkinkan itu. Misalnya green, bikin yang namanya program cash for training eh cash for work, kerja dibayar. Itu kan secara populis menyenangkan, tapi projectnya mangrove. Jadi itu harus berpikir inovasi model-model kayak gitu gitu. Kalau hambatannya saya nanya tuh kan waktu kepada kaum teknokrat, terutama Pak Sadli dan Pak Radius Prawiro eh waktu saya lagi riset disertasi kan di Telkom kan, privatisasi kan langkah-langkah awal dia tuh British Airways lah, inilah itu, dia dia sampai muncul istilah eh apa eh kapitalisme rakyat, people's capitalism, artinya jadi pemegang saham semua karena dijual, rakyat boleh beli, jadi bukan nyewa apartemen, misalnya apartemen pemerintah dijual sehingga saham dibeli oleh penyewanya gitu. Saya tanya, kenapa BUMN kan, BUMN kan yang diprivatisasi kok kita enggak privatisasi langkah-langkah Pakto 8 tahun ini, Pak Harto enggak sekalipun nyentuh adanya BUMN, sebagian kayak Telkom kayak ini dimasukin Tbk, jadi Tbk, jadi partial privatization gitu ya, enggak pernah full scale kayak Telkom. Kalau Rezim kan memang enggak ada privatisasi karena enggak ada BUMN kecuali Pos, kecuali Pos, kecuali Pos sama ini apa ee ee
[Musik]
ee Bendungan Gede. Oh, yang apa di dekat ee Arizona. Nah, ee Pak Sadli jawabnya gampang. "Lho, kita juga sadar kok kita enggak sentuh BUMN, cuman paling-paling parsial karena pasar modal." Loh, saya bilang kenapa, Pak? Bukannya sekalian gitu, mumpung Pak Harto kuat kan ada Benny Murdani yang mendukung gitu, ada Sudarmono di Sekretariat Negara yang mendukung. Ee gini, kita realitasnya begini. Pengusaha kita itu kan masih kecil lapisannya. Kalau kita jual BUMN, emang yang bisa beli siapa? Maksudnya perimbangan pengusaha pribumi dan non-pribumi. Ya, majority itu kan pengusaha non-pribumi. Bukan Pak Sadli rasis, bukan. Dia orangnya sangat moderat, kosmopolitan. Dia sadar dengan kenyataan politik bahwa kalau kita jual tahun-an ee Telkom, Pertamina, ee Bank Mandiri, bank segala bank pemerintah, emang yang bisa beli kan cuman itu-itu aja dan mereka kan pasti pengusaha non-pribumi sebagian besar, sehingga mungkin secara ekonomi lebih efisien, tetapi secara sosial politik lebih runcing hubungan kita. Nah, ini ini penting karena pasar kan tidak bicara soal rational balance. Apa racial balance itu sebagai orang yang melihat pasar yang kagum dengan interaksi voluntari. Kata Amartya Sen, bagaimana harga muncul dengan voluntary apa interaction tanpa dikomandani siapapun gitu. Itu kita kagum. Tapi memang dalam soal ini ya, kita harus sadari bahwa ada kenyataan yang di luar operasi pasar yang penting banget. Tanpa itu stability in general for the long term akan terganggu. Jadi, jadi hal-hal kayak gitu. Untungnya dalam banyak operation ekonomi yang perlu dia deregulasi dan debirokratisasi sekarang, dia tidak menyentuh faktor fundamental yang berbahaya. Itu kan apa yang Dede katakan tadi kan tidak mengganggu perimbangan pribumi dan non-pribumi gitu loh, tapi memberi keuntungan bagi semua orang kan. Itu kira-kira. Jadi kemudian yang satu lagi soal Fairchild itu penting banget tuh. Ee makanya kan industri substitusi impor yang kita tempuh selama hampir 10 tahun setelah Malari itu dengan bonansa minyak itu ada yang berhasil, pupuk kan swasembada kan. Tapi sebagian besar kan enggak, industri besi kita mana pernah terbang kayak industri besi di Jepang dan Korea Selatan. Demikian pula industri yang diproteksi lainnya gitu. Eh, salah satu itu kan cara berpikir, cara melihat bagaimana kita ini kan yang dikoreksi oleh tadi Wardhana, proteksionisme masa lalu, keterbukaan ekonomi masa depan. Nah, ada faktor ee insinyur kita ini, Habibie kan simbolnya salah pilih. Pak Habibie kan ahli mekanika. Ini kan yang dipakai Pak Harto sebagai penasihat utama melihat industri kan. Pak Habibie kan hebat sekali teknologinya, pengetahuan dan karirnya. Tapi kan dia dia lahir di Jerman sebagai teknolog pesawat kan. Begitu dia jadi model pengembangan industri substitusi impor, dia kan enggak bisa direplikasi apapun dalam supply chain yang berkembang saat itu. Yang berkembang kan bukan mekanika. Dia kan ahli mekanika. Yang berkembang elektronika dan yang berhubungan dengan elektronika tadi kan elektronika itu kan jantungnya. Kalau kita kalau kita bisa adopsi Fairchild kemudian jadikan Batam itu kan di Batam. Jadi kayak Taiwan, SMTC itu di SMC, 80% high tech eh mikroprosesor itu kan disuplai Taiwan dan itu pendirinya itu ceritanya sama dengan cerita Habibie, si siapa namanya yang e Chang ee Chan ya, pendirinya itu kira-kira sama, bedanya Habibie sekolah di Jerman, pendiri di SMC ini sekolahnya di Stanford sama Harvard, belajarnya elektronika bukan mekanika. Dua-duanya sepintar sama pintarnya. Yang satu memilih jalan teknologi yang berbeda. Yang satu memilih elektronika dan turunannya. Makanya kita menolak Fairchild waktu itu. Karena cara berpikir kita itu industri substitusi impornya itu yang industri berat. Pesawat terbang. Pesawat terbang, besi, pupuk, yang kalau berhasil alhamdulillah pupuk kan berhasil untuk swasembada pangan. Tapi yang lain-lainnya kan enggak ada yang punya akibat jangka panjang. Yang penting pabrik pesawatnya Nurtanio yang pernah terbang sebentar kan enggak ada hasilnya sampai sekarang. Betapa mahalnya percobaan kita 50 tahun gitu loh. Sementara di Taiwan, di Malaysia, di Thailand, nih Malaysia yang Fairchild kan pindah ke Malaysia. Nah, ini berhubungan dengan ide dan cara berpikir menurut saya. Dan kebetulan yang hadir di hadapan Pak Harto adalah Pak Habibie. Pak Habibie mengagumkan sebagai presiden, tetapi tidak mengagumkan sebagai teknokrat. Karena dia memilih mekanika pada saat industri yang terbang itu elektronika. 50 tahun terakhir yang berubah tiga ujungnya adalah ini adalah elektronika bukan mekanika. Kecepatan jet 50 tahun terakhir kan enggak berubah. Betul ya? Teknologi penerbangan itu kan enggak ada inovasi apapun yang baru selama 50 tahun terakhir. Tapi elektronika setiap tahun ada perubahan yang baru. Nah, kesalahan kita memilih teknologi dan industri yang dikembangkan saat itu mencerminkan bahwa negara bisa memilih, tapi keliru. Betul ya? Proteksionisme kan kalau sudah berhasil wah hebat. Dari yang berhasil satu, yang gagal 1000 gitu ya. Ini kan. Nah, karena itu apa yang dikatakan Ali Wardhana adalah sebuah kerendahan hati untuk menyadari kan itu kutipannya kan bagus banget. Proteksionisme masa lalu, keterbukaan ekonomi masa depan. Karena kita dengan keterbukaan dengan swasta swasta yang berkembang maka gravitasi itu bisa bertemu. Tidak harus terkunci pada satu pilihan. Kalau keliru 50 tahun kita keliru. Kita memilih industri penerbangan. Industri besi, 50 tahun kita terjebak berputar-putar tidak ada pengembangan. Betapa ruginya Taiwan yang dari negara semiskin kita tahun 60-an sekarang jadi negara maju luar biasa. Dan itu mahal sekali, Bang, ya. Industri berat itu, Bang, ya. Mahal bukan cuma ongkosnya, tapi waktu setengah abad, Bos. Setengah abad kita dalam kesalahan yang sama. Dan satu mungkin saya tambahkan ke Bang Celi tadi karena salah satu yang juga industri mikro elektronik pada waktu itu di Bandung, Metrako, ketika eh National Semiconductor dan Fairchild keluar kan enggak ada supplier lagi. Jadi orang-orang yang bekerja sana ya enggak tahu mesti ngapain. Akhirnya mereka downgrade, sama dengan industri penerbangan kita. Kebetulan waktu saya sekolah, saya di Bristol ketemu dengan banyak orang Indonesia. Ada ada 10 12 keluarga. Dulu mereka kerja di IPTN, tapi mereka sampaikan, "Gaji saya di Airbus bikin sayapnya A380 itu 10 12 kali di IPTN, dan saya bangga yang saya kerjakan." Jadi jadi kan kita sebenarnya kalau kesalahan seperti tadi itu ongkosnya mahal bukan cuman bukan cuman di sisi waktu dan tetapi juga human resource yang sudah dibentuk enggak bisa ke mana-mana jadinya. Jadi intinya adalah kalau kita berpikir alternatif, what if in history, seandainya Fairchild kita terima di Batam dan kita dorong industri elektronika, GDP kita sekarang yang 23.000 barangkali bisa 5 kali lipat, 100.000, barangkali kita sudah bagian dari negara maju di tingkat awal. Nah, Morris Chang. Ma itu kalau kita pelajari hidupnya sama dengan Pak Habibie. Cuma yang satu sekolah di Jerman, satu sekolah di Stanford, dan saya ingat waktu itu kan I di MIT dan Stanford, dia doktornya Stanford, satunya di Harvard, dan dia pulang karena di Intel karirnya enggak naik karena yang dipilih orang-orang bule, dan dia dipanggil oleh presiden Taiwan ya sebagaimana Pak Habibie dipanggil oleh Pak Harto lewat ee Ibnu Sutowo. Ibnu Sutowo. Sama ini orang sukses Indonesia di Eropa, orang sukses Taiwan di Amerika, dia di Texas Instruments kan si. Nah, intinya buat Pak Prabowo sekarang ya ini kan kita masuk ke sekarang kan ya, banyak potensi baru yang kita kembangkan. Jangan ulangi kesalahan lama yang membuat kita 50 tahun terjebak di jalan yang tidak jelas. Kata-kata Pak Sumitro saya kutip di buku ini bagus banget untuk pendamping zaman ini. Deregulasi, dia bilang soal ekonomi perizinan dan waktu itu dia contohnya Ikor, ekonomi perizinan membuat kita, dia bilang, berjalan dalam kesulitan yang satu ke kesulitan yang lain. Kita tinggalkan deh sekarang ekor kita dan lima waktu itu dia bilang waktu itu, sekarang sudah en tantangannya lebih besar lagi. Jadi tujuan untuk mengefisienkan ekonomi dengan mengurangi birokrasi yang berlebihan, ekonomi perizinan yang berlebihan. Kata Pak Sumitro waktu itu bukannya tidak bertentangan dengan keadilan, justru merupakan instrumen keadilan yang utama. Itu penting tuh kepada Sumitro dan penerusnya sekarang. Iya kan kita harus ingatkan itu. Jangan ulangi kesalahan lama. Ikuti yang bagus di masa lalu, tahun 70-an deregulasi, kesempatan ke depan terbuka. Kalau situasi internasional sementara seperti ini, that's ok. Justru jadikan momentum untuk melangkah lebih cepat. Kira-kira itu yang bisa dikatakan sekarang. 50 tahun dalam kesalahan itu berat. Iya, 50 tahun dalam kesalahan itu berat. Apalagi kita 50 tahun sekarang dan selamanya. C ya. Ya, itulah tadi kan ada yang bilang pindah lah, inilah. Loh, sebenarnya itu semua kalau kita benar tahun 70-an melangkahnya itu kita sudah advance economy. Iya. Terus terang aja. Dan enggak boleh di Batam karena Batam itu teritorinya Pak Habibie juga itu, Bang ya. Iya, kan itu Pak Habibie. Iya. Oke. Kan Batam cuma berjarak setiap sekian kilo dari Singapura kan. Cita-citanya supaya Batam itu menjadi another Singapura, kalau bisa lebih, karena kan Singapura tidak punya hinterland. Ya, Batam kalau berhasil dia punya kita-kita interline-nya. Batam kalau sekarang Singapura itu 150.000 eh US dollar GDP per kapita. Batam kalau dia berhasil bisa lebih dari itu. Karena dia punya kita, dia punya hinterland. Tapi sayang tidak. Nah, jangan ulangi kesalahan itu. Gitu. Oke, tepuk tangan dong Bang Poltak. Thank you, Bang Poltak. Kembali lagi Ari masuk lagi. Coming from behind. BMG, BHM, BHM, BHM, gantian gua yang mau kencing. RBM dulu. 50 tahun dalam kesalahannya seperti 100 tahun dalam kesunyian ini. Oh, 1000, 100 tahun. Iya iya, Gabriel Garcia Marquez ini. Iya, silakan BHM. Saya menemani aja di sini, ajudan BHM. Ya, kalau saya agak kaget juga Mbak, Bang apa? Cherie ini ee Rizal ini begitu takut dengan 50 tahun kesalahan ya. Karena kalau dulu kan kesalahan 100 tahun. Nah, karena karena begini, dulu waktu dia aktivis mahasiswa, berjuang untuk demokrasi, demokrasi itu kan semacam memberi kesempatan buat anak muda menemukan kesalahan supaya dia bisa belajar dari kesalahan itu. Ada unsur trial and error. Demokrasi itu kan ada unsur trial and error. Karena kita selalu bisa membenahi. Kita buat kesalahan, kita tahu kalau perlu kita ganti pimpinan, kita buat lagi sesuatu yang baru, gitu. Jadi kesalahan itu tidak ee berlangsung lama. E ya, kesalahan 50 tahun ini adalah contoh tidak ada demokrasi kan, sehingga trial and error itu tidak berjalan. Salah, salah terus. Itu yang terjadi di Uni Soviet, 70 tahun kesalahan kan sampai muncul Glasnost. Coba zaman Mao Zedong, Cina tuh berapa puluh tahun kesalahan tahun ya? Iya kan? Jadi lompatan sampai Deng Xiaoping 78 ya kan? Dan ternyata Cina sekarang bisa nomor dua di dunia. Jepang berapa ratus tahun kesalahan ya kan sampai hancur lebur di perang dunia kedua, bisa jadi negara nomor satu setelah sehingga saking kuatnya dikeroyok Amerika dan Eropa dengan Plaza Accord. Habis gitu stuck dia sampai sekarang kan. Jadi eh that is eh itu kesalahan lama itu karena kita enggak demokratis justru ya. Kita lihat Jerman, coba sampai hancur lebur kan gara-gara kesalahan ketika perang dunia itu ya. Dan dia belajar dari situ, dia enggak mau lagi enggak demokratis. Makin berat kesalahan. Dan ternyata bayangin ya, kita lihat dua negara yang bikin kesalahan sampai dihancurkan. Jepang tuh sampai dibom nuklir. Enggak ada loh negara di dunia yang dua kali dibom nuklir. Satu kali aja enggak ada kecuali Jepang. Iya kan? Iya, satu-satunya, Mas. Satu-satunya. Tapi dia kemudian bangkit menjadi negara demokrasi. Sempat loh GDP per kapitanya tertinggi di dunia kan tahun 70-an sampai Eropa dan Amerika repot bikin Plaza Accord. Sekarang yang terjadi pada Cina, saking majunya, Eropa, Trump terutama Amerika, wah ini mesti direm. Dia bikin perang tarif ya. Ee karena apa? Sekarang kok tumben Cina ini negara yang tidak demokratis tapi tidak bikin kesalahan sampai sekarang ya, God lucky lah seperti Singapura kalau menurut saya ya, walaupun kalau lihat dari statistik biasanya kalau negara otoriter itu biasanya bikin kesalahan karena power tends to corrupt, tapi dulu kita bilang Singapura kekecualian karena negara kecil, tapi Cina setelah yang shopping sekarang kan pertanyaan tinggal apakah si Jinping yang semakin otoriter ini nanti akan membuat kesalahan dan tanda-tandanya sudah ada loh Bung, kita jangan terlalu kagum sama Cina ya sekarang kalau Bung Poltak juga tahu sekarang tuh ada sekitar 50 juta unit rumah yang kosong di Cina, bayangin 50 juta itu artinya apa, seluruh keluarga Indonesia dipindahin ke sana punya rumah, Bang. Bang Arap juta. Enggak perlu bisa dipecat ya, Rp 3 juta ya, cuma Rp 3 juta aja sudah pusing, di sana kelebihan Rp 50 juta. Dan kita jangan kagum juga dengan apa bahwa dia punya 3 triliun devisa bulan Januari, pasti turun Rp 3 triliun karena di sana warga itu hanya boleh beli dolar 50.000 dolar setahun. Begitu Januari buru-buru dia beli, turunlah itu devisa ya. Jadi artinya there is still something fishy going on yang harus kita hati-hati. Apalagi utangnya juga sudah apa berbahaya ya, banyak masalah. Jadi saya kira kalau kita lihat Cina, dia masih punya PR gitu loh bahwa ee apa soft landing-nya gimana nanti gitu loh. Karena ini Cina ini beginian besar. Kita semua berdoa dan berusaha supaya dia kalau landing soft gitu, karena kalau enggak kita semua kena dampaknya ya. Nah, tapi kembali ke Indonesia ya. Saya terus terang lihat kalau kita lihat Presiden Prabowo mau enggak mau ya kita harus baca paradoks Indonesianya ya, dan dia cukup konsisten di situ. Dan tadi Anda bicara keluarga intelektual, kalau kita lihat kakeknya Pak Margono kan dulu sekolahnya ke Belanda tentang kredit buat koperasi, buat koperasi kecil ya kan. Kemudian Pak
Sumitro menerapkan benteng itu, karena waktu itu dianggap kelompok pribumi, ya sebagian besarlah penduduk itu, tidak punya akses ke pasar. Dia sebetulnya enggak rasis, kan waktu itu. Tapi kebetulan, karena di zaman Belanda itu, kalau diambil orang ketika perang dengan Belanda setelah KMB bubar, maka yang tersisa adalah tinggal kelompok keturunan Tionghoa dan ee Arab lah ya. E dan akhirnya ee diterapkan kebijakan benteng, tapi disiasati dengan apa? Alibaba ya kan? Enggak jalan juga. Dan kita belajarlah dari situ.
Harusnya kita belajar bahwa kebijakan yang dasarnya apa? Intervensi pemerintah terlalu besar di negara kepulauan seperti Indonesia, yang dikatakan teman-teman saya yang bergerak di bidang perdagangan sebagai surganya kaum penyelundup itu, janganlah berpikir bahwa kita bisa ngatur ya ini semuanya ya, walaupun kepala Bea Cukainya seorang Jenderal Kopasus, saya kira enggak gampanglah lah jaga apa ee Indonesia yang negara kepulauan terbesar di dunia untuk bisa diamankan dari kegiatan itu. Saya setuju dengan Menteri Keuangan kita, yang mudah-mudahan karirnya nanti ee next step ya. Amin. Saya kira benar, lebih baik mungkin dengan tarif ya. Itu saya kira e Pak apa Presiden Trump ada benarnya daripada dengan larangan ya. Karena saya kasih contoh, kita kasih contoh juga yang sukses dong ya.
Kalau menurut saya, BPD kelapa sawit itu contoh kebijakan yang sukses. Kenapa? Karena pertama begini, pertama kita mengatur produksi kita yang juara satu di dunia ya kan CPO kan kita juara satu di dunia. Dan yang produknya itu di kelasnya itu sangat kompetitif dari minyak nabati, ongkos produksinya enggak ada yang seefisien kelapa sawit, sehingga kita bisa atur, oke kalau Anda ee ekspor CPO ketika harganya di atas harga yang sudah di atas keuntungan normal, kamu setor dong sedikit dalam pungutan ekspor, bukan untuk APBN, dimasukin daerah untuk mengembangkan industri ini supaya lebih efisien dan lebih bernilai tambah. Ini danantara ini Mas ya. Sehingga enggak, kalau saya pikir, daripada mikirin danantara, lebih baik menerapkan apa yang sudah sukses dilakukan di BPDKS pada ekspor-ekspor kita yang juara dunia seperti batubara, nikel ya. Jadi kalau harganya pasti untung, super untung, di-share sebagian bukan untuk pendapatan negara, tapi untuk mengembangkan hilirisasinya. Sehingga kalau kita lihat di sektor CPO tiap tahun itu hilirisasinya terus berkembang. Bahkan Unilever pindahin pabriknya dari Filipina, dari mana-mana ke Indonesia karena bahan bakunya itu. Dan bayangkan kita itu juara produksi biodiesel di dunia, juara satu loh. Dan uniknya apa? Yang membiayai subsidi biodiesel kita itu bukan APBN. Ujung-ujungnya adalah pembeli minyak goreng kita di India, di Cina, di Pakistan. Semualah yang yang impor CPO dan minyak goreng kita. Jadi bayangin pemerintah bisa mensubsidi biosolar, tidak keluar APBN tapi dibayar oleh konsumen di Cina, di India, di apa, Pakistan, di apa kan enak tuh ya. Dan itu harusnya bisa dilakukan pada batubara.
Bayangkan batubara itu sekarang harganya berapa? 130 dolar per ton. Acuan saya berapa? 60 kali. Pernah 400 kan? Pernah 400 ya? Padahal saya lihat, ngertilah ya. Padahal ya harga saya teman-teman kita di batubara itu pokoknya asal harga acuan di atas 40 dolar dia tenang tidurnya. Bayangin harganya pernah 400 ya kan. Bayangkan harga nikel. Nah, Anda juga akan tahu nikel. Kalau kalau kalau kalau yang efisien kayak Vale itu asal di atas 10.000 dolar dia tidur nyenyak. Tapi harganya pernah 30.000 dolar loh ya. 3 tahun apa 3 tahun lalu lah mungkin. Tapi yang kita dapat enggak ada tuh yang kayak pungutan ekspornya seperti kelapa sawit. Yang kita dapat cuman polusinya aja ya kan? Nah, itulah ini yang bisa jawab nanti kita tanya sama beliau ya. Kenapa ini tidak bisa diberlakukan pada batubara, pada nikel? Itu kan kita juara-juara dunia. Batubara tuh seringkali kita eksportir terbesar di dunia loh. Beberapa kali ya. Nikel sekarang sudah ee juara. Nah, ini ini yang saya juga tanya sama Pak Bung Dede ya. Kita itu jadi produsen terbesar di dunia enggak bisa ngatur harga ya. Termasuk karet misalnya, karet itu kalau kita berdua Thailand aja sudah mendominasi, tapi yang ngatur harga Cina ya. Kalau logam timah dan sebagainya, London yang ngatur ya, padahal kita produsen terbesar. Nah, cirinya kita sebagai pembeli terbesar, importir terbesar pun seperti gula enggak bisa ngatur harga juga. Nah, ini kan cuma kalau katanya Rocky ini karena kita dungu aja ya. Karena harusnya kalau kita produsen terbesar atau importir terbesar mestinya kita punya pengaruh dalam pricing gitu. Oke.
Nah, ini pertanyaan saya mau tanya sama ee dua inilah gitu, sambil saya menyerahkan kembali kursi pada Budi karena saya tidak suka berebut kursi. Mantap. Tadi B menyinggung hilirisasi CPO, kan kita ini belum ada hilirisasi PCO nih. Iya belum ada PCO, Presidential Communication Office. Hilirisasi PCO belum ada nih ya. Kalau kata Hasan Rasmi, kalau CPO itu cash in, kalau PCO itu cash out. Gimana? Silakan Bang Jeli dan Bang Red dulu ya kali ya. Dan BHM ini juga bagian dari kelompok epistemic community liberal dulu, bagian Tempo kan, yang untuk mendorong deregulasi. Gua jawab yang teknis dulu ya, mengenai apa namanya mengenai yang soal ee ekspor, sebetulnya itu yang dibilang sama BHM itu itu sepenuhnya benar. Karena apa? Misalnya ini berangkat dari dari nikel ya. Nikel itu awalnya sebetulnya kebetulan kebetulan saya Menteri Keuangannya waktu itu. Jadi ketika pertama kali dilakukan di mana ee ekspor mentahnya itu di enggak dibolehkan, yang kita gunakan itu instrumennya adalah ekspor tax. Jadi kalau company-nya itu belum bikin smelter dikasih ekspor tax-nya tuh sekitar 40 atau 60%, artinya dia enggak bisa ekspor, itu prohibit tax. Tapi kalau dia bangun smelternya 30%, dia bangun maka tax-nya itu turun. Jadi turun ke lupa itu 25% atau berapa. Nanti kalau dia udah sepenuhnya dia lakukan di domestik maka kemudian ekspornya jadi zero. Sehingga mau enggak mau produk kita tuh akan kompetitif. Nah, tujuannya adalah tadi kalau itu government itu akan dapat revenue dari sana ya. Government akan dapat revenue dari sana dia dan dia akan jamin kompetitif. Tetapi setelah itu kelihatannya ini dugaan dugaan saya ya DM mungkin pemerintah menganggap bahwa yang jauh lebih efektif itu kalau diekspor band. Saya enggak tahu alasannya. Mungkin kalau udah dilarang aja itu lebih apa namanya lebih lebih memaksa gitu. Jadi setelah itu 2018 mungkin diberlakukanlah ekspor band. Hal yang sama sebetulnya itu saya propose juga untuk batubara. Nah, jadi ini kasus batubara. Kenapa batubara itu enggak boleh di kita menerapkan yang namanya DMO, Domestic Market Obligation. Jadi kalau perusahaan batubara, Sally familiar dengan nih, dia produksi ya. Kemudian 25% itu harus disuplly kepada domestik, kepada PLN. Karena nanti kalau dia 25%, kalau itu dia dijual ke ekspor batubarannya enggak ada di sini, maka kemudian PLN harus beli dengan harga internasional. Jadi sebetulnya waktu itu dipropose ya enggak disepakati itu begini, enggak usah pakai begitu dikasih aja tax ya. Dikasih ekspor tax. Jadi dia mau jual, dia terserah mau jual berapa di international price. Governmentnya dapat revenue, uangnya itu dipakai untuk subsidize PLN. Jadi PLN tidak ada dua harga di situ. Kayak solar ya.
Ah, hal yang sama juga pada waktu itu, tapi enggak mau dilakuin sama pemerintah ketika minyak goreng, minyak goreng itu enggak bisa diset harganya. Biarin aja harganya, harga pasar. Kalau orang kemudian mengeluh karena hanya minyak goreng mahal, kasih dia BLT. H. Jadi, itu selalu semua kalau dual harga itu enggak bisalah. Iya. Ya, harga itu dua tuh enggak mungkin. Jadi, satu harga tapi kelompok yang kemudian terpukul itu dikasih bantalan. Makanya konsepnya itu selalu cuman kan gini ya, ini kembali lagi kadang-kadang hal seperti ini itu enggak menarik dari segi politik. Kenapa? Karena harganya itu kelihatan mahal gitu loh. Yang orang tuh mau lihat tuh adalah kalau harga di toko tuh kelihatan kita bisa kontrol, itu ada ada ini semua. Padahal yang mesti itu enggak mungkin dilakukan. Yang mesti dilakukan adalah biarin aja harganya harga market tapi kemudian orangnya disubsidize. Jadi itu kembali ke pertanyaan BAM itu, makanya itu hanya terjadi pada pamoil tapi enggak dilakukan pada batubara, enggak dilakukan pada nikel. Saya terus terang aja itu revenue-nya mestinya besar sekali kalau dilakukan ekspor tax ke batubara. Kepada batubara. Dan enggak mesti nanya Cli. Menurut menurut gue dunia usaha pengusaha batubara itu lebih happy kalau dikenakan ekspor tax ketimbang DMO. Oke. Karena dia dapat revenue, revenue-nya bisa dia jual. Kemudian kenain aja berapa yang tinggi kita mau, government bisa dapat revenue kemudian kasih PLN. Nah, PLN-nya rubah sistem subsidinya. PLN itu kan punya data by name by address. Kalau enggak dia enggak bisa lakuin billing dong. Dan listrik itu bukan barang yang transferable. Bisa ditransfer tapi resiko keum-nya gede. Iya kan? Kalau barang itu tidak bisa ditransfer, kita punya data by name by address itu bisa diterapkan price discrimination. Rumah tangga yang miskin tuh enggak bayar, yang ini bayar. Jadi subsidinya sebagian bisa dirilis. Hasil teks. Seb hasil teks itu gitu atau konsumsi yang basic enggak bayar. Betul. Jadi itu bisa dilakukan kayak misalnya di universitas tuh kan bisa tahu ini yang mahasiswa miskin scholarship gitu. Kalau listrik itu bisa karena setiap rumah tangga kita tahu itu by name by address kalau enggak enggak bisa ada billing. Jadi hal-hal seperti itu mestinya bisa dilakukan gitu. Oke. Bang Jelli langsung Bang menangapi BH. Iya tapi dimulai dengan udang vaname dulu juga boleh enggak?
Kalau perbedaan sawit, batubara, nikel kan kalau yang sawit itu kan karena dia kan sifat sifat usahanya kan sawit kan tumbuh, harus diemajakan, butuh pupuk kan. Jadi kalau pemerintah narik sebagian untuk pupuk peremajaan bagi yang terlantar atau rakyat kecilnya atau apa itu kan ada ininya ada ee sensnya. Kalau setahu saya kalau nikel dan batubara kan dia membuka hutan, mengambil tanah kan, membuat kalau tidak ada dana yang disimpan untuk nanam kembali menjadikan hutan kembali kan enggak enggak logis kan, sehingga kalau toh ada pungutan yang bersifat memperbaiki alam ee itu justifiable, tentu saja yang lain adalah pajak pemerataan pengembangan kawasan itu it goes without saying. Tapi intinya kalau soal yang tadi Dedek benar. Cuman saya enggak tahu kenapa Mas Bambang mau set harga, kalau kita saya enggak tahu apakah mungkin set harga kalau kita harga sawit atau atau perlu atau bisa saya enggak tahu. Itu biar ekonomi yang saya kok tidak melihat urgensi kita bukan set harga, tarif aja. Tarif. Oke. Kalau tarif selalu lebih baik ketimbang non tarif overall. Karena kalau tarif kan tidak ada semua orang tahu dan tercatat dan open. Kalau kuota kan selalu ada pemenangnya dan karena itu ada hubungan kekuasaan di situ gitu. Itu kan textbooknya. Sehingga akan lebih bagus kalau semua kalau toh harus ada perlindungan ya perlindungannya lewat tarif. Tapi kan tarif overtime selama 80 tahun kan di dunia ini berkurang dari smooth holy tarif itu tahun 30 yang menggemparkan itu itu kira-kira efektifnya 20% overtime. Di Amerika itu sebelum Trump itu, Trump pertama sebelum Trump pertama 1,5%, dia naikin jadi 3%. Ya kan kalau di NAFTA itu kan 0% in practice. Indonesia kan juga begitu. Pada saat Amerika Eropa turun tarifnya kita juga turun. Efektif sekarang kurang lebih kita plus minus 5% kan sekarang kalau Amerika dengan Trump sebelum Trump yang gila 2 2 April ya kalau sekarang kan naik lagi tuh kayak semut holy tarif kan 20% 25% oh lebih tinggi dari semut ya lebih tinggi dek smut kan efektif 20% ya, correct me if I’m wrong, yang berakibat pada perang dunia kedua ya, yang berakibat pada perang dunia kedua salah satu faktor penyebab penyumbang perang dunia kedua karena depresi besar kan smooth holy memperburuk buruk situasi yang sudah buruk karena ekonomi buruk, Amerika buruk, Jepang buruk, Jerman buruk, Inggris buruk. Jadi orang yang sudah kan muncul Hitler, muncul Mussolini yang sudah lampu merah dikasih dikasih minyak bakar gitu loh, terbakar sekalian. Ee di Jepang invasi Mancuria, invasi Mancuria ee membuat Amerika bilang, "Gua boikot lu Jepang. Stop. Lu enggak boleh dapat ee suplai bahan bakar." Jepang bilang, "Lu boikot gua, gua serang lu. Gua serang, dia serang per harbor. Karena dia serang per harbor, dia harus ke Sumatera." Kenapa Jepang menjajah Indonesia? Karena dia berkepentingan dengan minyak kita di Sumatera. H dan Kalimantan. Ya, waktu itu ya Balikpapan. Tapi kan Mas yang paling gede kan chefon segala macam kan di Aceh dan di Riau. Oh, Dumai. Dumai. Dumai itu ya. Dumai. Dumai. Jadi kita dijajah Jepang dan Jepang kontributor pada perang dunia pertama eh kedua dan membuat dia dibom dua kali membuat dia menyer harus menyerang per Harbor karena dia invasi Mancuria dan dia butuh ke Sumatera untuk minyak kita. Itu penyebab strukturalnya perang dunia. Bang, Bang, bang, Bang, entar dulu Bang. Minyak kita itu beda lagi itu, Bang. Minyak kita minyak goreng. Minyak goreng subsidi namanya minyak kita, Bang. Jadi, jadi e Iya. Bambador. Jadi, beda, beda minyak kalau dulu kan.
Nah, intinya adalah kalau kalau kalau kalau kita mau ee kembali ke saya kok kalau yang ini ginian kita ke depan kan enggak mungkin hanya bersandar pada sawit, pada nikel, pada betapa pun bagusnya lah batubara. Karena komoditas kan naik dan turun dan ada kita bukan seperti Kanada dan Australia, lebih besar daratannya dan sumber daya alamnya untuk menghidupi 20 30 juta orang. Kita kan kepulauan dengan jumlah penduduk yang makin tinggi makin tinggi tanpa industrialisasi, tanpa service ekonomi, tanpa creative eh ekonomi kan agak susah untuk membayangkan ke depan kita menjadi advance ekonomi kan itu kira-kira. Nah, karena itu pertanyaan tadi dari Polta kan bagus banget tentang Fairchild itu itu salah satu kuncinya lah menurut saya setelah saya saya lihat sejarah kita di mana kita yang bagus di mana kita salah langkah, Fairchild itu kan setelah Fairchild kan pecahannya Intel, Fairchild kan dibuat oleh Robert Noyce dan Gordon Moore. Dengan Moore slow dalam perkembangan ee semikonductor itu, transistor ya, penemu transistor itu Shockley, Shockley bikin perusahaan di Palo Alto, mempekerjakan delapan anak muda, salah satunya adalah Robert Noyce dan eh Gordon Moore. Merekalah yang menemukan gabungan transistor tonda menjadikannya satu kesatuan integrated yang disebut sebagai semiconductor. Chip, Cip inte integrated eh Shockley yang menemukan transistornya, tapi anak-anak muda ini yang membuat integrated sirkuitnya, menggabungkan ee transistor itu menambah fungsi memori dan fungsi komputasi. Nah, itu kan kreatif itu teknologi kalau dan itu waktu itu Fairchild sebelum pecah jadi Intel itu sudah ke Batam. Benar, sudah minta izin ke Pak Domo. Pak Domo, kita mau kembangkan nih ke robotiknya. Waktu itu rezim Orde Baru yang diwakili oleh Pak Domo berkata, "No, enggak boleh pindah ke Malaysia karena kita percaya mekanika." Mekanika. Karena kan ditanya ini gimana industri industri yang ke depan, industri berat, industri pesawat, industri ini besi bukan elektronika dan turunannya gitu loh. Nah, ini kan ini a juncture in history. Seandainya pilihan kita waktu itu adalah ke elektronika 50 tahun terakhir kan agak beda cerita, Bang. Tapi pertanyaannya kenapa harus ngadapi Pak Domo, Menko Polkam, Menteri? Ak waktu itu. Ini kan mumpung koptip eh enggak ya, Menaker. Jadi kan secara otorita itu Pak Habibie Batam, tetapi sektornya itu Benaker kan sektoral. Jadi dua dua dua itu. Nah, jadi ke depannya ini kan yang tadi bagus bahwa ada batubara, ada nikel, ada hilirisasi. Bagus banget nikel. E ini nikel itu kan ada dua jenis. Nikel kadar tinggi 1,5% ke atas. Nikel kadar rendah. Kadar tinggi itu untuk besi stainless steel dan turunannya. Kita eksportir terbesar di dunia untuk itu. Pemain banget. Kalau untuk baterai yang lebih murah itu baru berkembang industrinya. Ee kita baru merintis ke arah sana hilirisasinya. Kan ada beberapa yang sudah mulai buka kayak kayak Dek ya kalau enggak salah Hyundai mau bikin ya. Ada beberapa ya itu kan bagus ke depan ee dan ini yang menghidupkan ekonomi untuk sementara Indonesia Timur kan enggak bisa cuma nangkap ikan aja, ikan semakin ditangkap kan semakin kurang jumlahnya, semakin bagus teknologinya ik semakin pendapatannya ke depan kurang kan, ibarat laut jadi kalau Indonesia Timur yang banyak kepulauan dan banyak laut tidak diberikan kesempatan berkembang dengan hilirisasi sumber daya alam yang kebetulan ada di Kalimantan Batubara, di Maluku dan Sulawesi Nikel kan kita enggak punya sumber pertumbuhan di daerah luas ini. Tetapi kan kalau di Jawa dan Sumatera andalannya enggak boleh gini-ginian, Mas Bambang. Harus yang apalagi Jawa, Dek. Kita enggak bisa bikin perkebunan besar di Jawa. Kita enggak bisa bikin daerah pertanian besar di Jawa. Kita cuma bisa bikin sesuatu yang dasarnya adalah kreativitas teknologi maupun juga jangan lupa pariwisata, kreativitas kultural. Jogja sebagai pusat, Borobudur sebagai pusat, Banyuwangi jangan lupa pariwisata itu menghasilkan duit yang banyak banget loh ke depan. Semakin masyarakatnya maju, semakin pengeluarannya untuk sektor-sektor seperti pariwisata maupun kesehatan besar itu makin besar. Sektor tenaga kerja paling banyak sekarang di Amerika. Tahu enggak apa, Bang? Sektor kesehatan. Profesi terbanyak sekarang itu nurses. Terus kemudian ee pelayan kesehatan orang tua, pendudukan semakin care caregiver ya. Dokter ee itu yang sekarang sektor paling dibayar dengan mahal, paling berkembang, dan paling jumlahnya banyak. Yang kerja pabrik cuma tinggal 8% orang. Pertanian sekarang saya lihat angka terakhir, Dek, cuma 0,3% di Amerika. Di Amerika sekarang 0,3%. Lebih banyak pegawai departemen pertanian daripada petaninya. Karena 606.000 1000 hektar itu bisa satu keluarga aja dengan pesawat pakai mekanisasi. Mekanisasi Indonesia kan harus ke sana. Betul enggak, Mas Bambang? Kita ini negara kepulauan, orangnya ini 300 juta orang. 20 tahun lagi 400 juta orang. 50 tahun lagi kita itu 1,25 miliar orang. Ngasih makannya gimana dengan kepulauan kita? Pulau itu kan daratannya sepertiga dari wilayah. Kalau Amerika kan semua wilayahnya ya daratan. Di Amerika Tengah yang Midway itu semua daratannya flat dan subur. Jadi dengan mekanisasi tinggal 0,3% manusia memberi makan 320 sekian juta rakyat Amerika plus plus. Artinya diekspor ke Cina, diekspor ke Indonesia masih makan orang Amerika. Indonesia kan harus menemukan cara modern dalam bertani yang enggak mungkin di Jawa untuk memberi bahkan 500 juta orang 20 tahun ke depan, 40 tahun ke depan. Ini kan cara berpikir strategis ke depan kalau kita berbicara soal pangan ya, kalau kita mau sekian persen dari pangan kita harus diproduksi sendiri kan itu strategis, enggak perlu 100%. Nah, how to get there without technology is impossible. Tapi produktivitas per hektarnya masih sangat rendah. Oh, rendah. Benar sekali. Kita 4 sampai 5 ton per hektar. Kalau di Florida aja saya baca berita terakhir mereka bikin beras coba-coba udah kalau enggak salah sampai 10 ton per hektar. Florida tuh. Florida loh ini Mississippi dan Florida di Banks of Mississippi Riverak. Mereka enggak pernah nanam beras tapi mereka coba. Mereka bisa 9 sampai 10. Kenapa? Karena di kita itu konsentrasi lahannya kecil hanya setengah hektar, orang produktivitasnya kan enggak ekonomis, soft skill-nya enggak bisa dapat. Sementara yang dibilang sama Celi, kalau mau lakukan ekonomis skill-nya besar maka lahannya itu harus luas. Makanya nih ini sedikit ya. Makanya sejarah kapitalisme itu awalnya adalah dari domba. Kenapa dari domba? Domba itu membutuhkan lahan yang sangat luas. Iya. Itu sebabnya harus ada akumulasi kapital di dalam lahan. Sementara di Jawa itu dimulainya dari apa? Ee hewan peliharaannya ayam yang tidak membutuhkan konsentrasi tanah pohon. Ya, itu itu makanya dibilang bahwa kapitalisme itu awalnya dari domba karena dia membutuhkan economy of scale yang sangat luas gitu. Makanya nabi-nabi ini pernah ngurusin domba-domba itu semuanya gembala gembala gembala. Makanya sampai sekarang yang tersesat itu kan domba ya, Bang ya, bukan ayam ya, Bang? Iya. Kan kembali lagi ke the moral of the story adalah bahwa negara seperti kita ini, sekalian penutup, Bang. Sekalian penutup. Oh, iya. Hikmah dan kebijaksanaan penutup. Jadi ee by nature kan kita archipelago, harus terbuka. Kita enggak bisa jadi negara tertutup dengan proteksionisme, temboknya di mana-mana. Enggak bisa. By nature sejak zaman ya, makanan favorit kita gado-gado, campur-campur karena kita berada secara sejarah dalam saling pengaruh beberapa peradaban besar kan Cina, India, Islamik dilanjutin lagi. Ingat soalnya karena Pak Sadli itu pernah bilang, "We born, we are born as a free trader gara-gara kepulauan itu." Jadi enggak mungkin itu dibikin tingkat tarif yang tinggi. Makanya Pak Sadli itu bilang cara terbaik untuk menghindari penyelundupan adalah bea masuknya nol. Kalau enggak ada bea masuk, enggak ada perbedaan harga antara Jakarta dengan Singapura, ngapain orang nyelundup? Jadi kalau mau menghilangkan penyelundupan karena kita negara kepulauan itu bea masuknya zero yang rawan penyelundupan. Sehingga nanti tugas dari bea cukai hanya lartas saja untuk narkotika. Tapi karena enggak ada perbedaan harga orang enggak bakal nyelundup. Orang harganya sama. Penyelundupan terjadi karena disparitas harga kan. Lanjut lagi. Oke. Jadi itu salah satu aspek teknis dari apa yang kita sebut dengan the spirit of openness kan. Artinya ada manfaatnya karena memang lu kalau tertutup enggak bisa gitu loh. Jadi itu satu ya. Yang kedua pilihan kebijakan ke depan sudah bagus diregulasi tapi enggak cukup. Enggak cukup artinya harus ada pilihan-pilihan lain. Teknologi apa yang kita kembangkan. Kan kalau kita terbuka tapi terbuka untuk memilih yang kebijakan yang salah kan sayang. Sama dengan salahnya kita memilih yang kemarin kan menolak Fairchild membangun industri besi yang ternyata gagal betul ya? Membangun industri pesawat yang ternyata gagal kan. Jangan diulangi dong karena itu kita andalkan kreativitas anak-anak muda Indonesia. Mumpung kan ada ekonomi digital sekarang yang membantu pilihan-pilihan dengan gampang. Orang bisa belajar dengan gampang. Jadi, jadi ee prasyarat untuk lebih maju lagi ada tinggal kepemimpinan yang tepat dengan dukungan yang cukup. Saya kira dengan orang-orang seperti Menteri Keuangan. Iya kan? Itu penting tuh Menteri Keuangan, Bos. Bang, gua agak ngilu dengar terakhir. Tapi enggak apa-apa. Aku setuju. Iya, kan lu apa namanya? Kebuka lowong dikit umbang kan. Umbang. Iya. Space masuk. Space masuk. Oke, udah, Bang. Bang Dede boleh tertambah dikit timbang dari kebijaksanaan enggak ada tadi gua kira di akhir ya, teruk kepemimpinan. If there is a will, there is a way. Harusnya itu hidup adalah perbuatan. Iya kan? Oke. Di Indonesia terbalik R. Kalau Celi kan selalu bilang, "If there is a will, there is a way." Dalam kasus Indonesia tuh kadang-kadang terbalik. If there is a way, there is a will. Oke, tepuk tangan. Terima kasih. Kita sudah berhasil membahas pikiran Sumitro Jodi Kusumo juga tadi ya. Iya. Dan rasanya Pak Prabowo agak ee agak agak tidak mungkin tidak terpengaruh dan tidak mungkin tidak mengikuti. Oke. Dan forum ini kita harapkan akan reguler nih, Din, untuk membahas ekonomi ini ya. Iya. Ayo, Bang, ya. Dan hari ini Sumitro Jori Kusumo. Siapa tahu e selanjutnya kita bisa move on ke Sumitro Celeng, Bang. Sumitro Celeng itu Sumitro Jenderal. Malari itu kita tahu istilah itu dari Opong Panda. Kau tahu Jenderal Sumitro Celeng? Sumitro Celeng siapa? Opong ternyata Sumitro Malari, Pangkop Kamtip ini kan. Yi. Oke. Iya. Sampai jumpa lagi dah. Sampai jumpa. Oke, thank you. [Musik]