Transcription
Asi, hari ini membentuk [Tepuk tangan] [Musik] hari 30 tahun Apari. Nah, harapannya Apari selalu dapat menjaga amanah untuk menjalankan visi dan misi yang dijalankan kepada [Musik] kami.
Pada saat ini, jumlah kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU terus meningkat [Musik]. Kendaraan listrik itu harus dimulai oleh kementerian dan lembaga. Itu harus bisa memberikan contoh kepada masyarakat. Saat ini itu memang era mobil listrik sesuai dengan tren otomotif global. Pengguna EV itu khawatir eh terkait dengan ketidaktersediaan charging station di beberapa tempat [Musik] [Tepuk tangan].
Untuk masalah transportasi itu merupakan masalah yang besar. Tentunya kalau kita bicara elektrifikasi kan harus combine stakeholders ya. Pertama, penggunaan kendaraan listrik ini baru dilakukan ee belum heavy gitu ya penggunaannya [Tepuk tangan] [Musik].
Ke Jakarta teater di pagi hari cakepah berangkatnya naik LRT, turunnya di stasiun. Selamat datang Sobat Apari di acara wisuda dan tasyakuran Apari 30 tahun. Luar biasa. Boleh bantu tepuk tangannya [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan].
Bahwa wisudawan Apari saat ini semakin memiliki value. Artinya, setelah Anda lulus dari pendidikan Apari, maka kualifikasi keahlian Anda diharapkan memang telah meningkat [Tepuk tangan] [Musik]. Dan tugas BSAKP yaitu bertugas untuk merumuskan, memelihara, dan membina pelaksanaan profesionalitas [Tepuk tangan] [Musik] anggota.
Selamat ulang tahun ABARI yang ke-30. Semoga semakin jaya dan terus berkontribusi dalam memajukan industri pialang asuransi dan reasuransi dengan mencetak ahli-ahli pialang asuransi yang mumpuni [Musik]. Tig dua satu satu. Boleh ditiup lilinnya [Musik]. He [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]. Oh so maafkan aku mencinta, aku tak bermaksud membuat sungguhku tak [Tepuk tangan] berarti ini membutuh [Musik].
Jakarta, 29 Februari 2024. Asosiasi Ahli Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APARI) telah sukses menyelenggarakan seminar hybrid yang bertajuk Sharing Session Harmonisasi Produk dan Layanan Asuransi Kredit Terkini berdasarkan POJK nomor 20/2023 dari perspektif praktisi. Acara ini diadakan di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, dan disiarkan langsung di kanal YouTube Apari Podcast dengan partisipasi 500 peserta dari seluruh Indonesia, baik secara daring maupun luring. Apari terus berinovasi dalam memberikan edukasi dan literasi asuransi kepada masyarakat di era digital ini. Format hybrid memungkinkan peserta dari dalam dan luar negeri untuk mengikuti seminar APARI secara langsung maupun daring melalui kanal YouTube Apari Podcast. Kegiatan ini menjadi langkah awal APARI di tahun 2024 untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang asuransi di Indonesia sebagai komitmen APARI dalam mendukung program merdeka belajar [Musik].
Yang terhormat Bapak, Ibu, hadirin, Sobat Apari semuanya. Saya Natya Laksita, untuk memperkenalkan diri sebagai MC pada pagi hari ini dalam acara sharing session harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan POJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Indonesia, tanah airku, tanahku. Selamat datang kami sampaikan di acara sharing session mengenai harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan BOJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Harapannya pada forum ini nanti bisa ditemukan suatu kesamaan pandangan, kesamaan persepsi, dengan tujuan adalah saling menguatkan agar regulasi ini bisa diimplementasikan dengan baik dan sifatnya win-win. Lahirnya POJK 20 tahun ini diharapkan pelaksanaan operasional daripada asuransi kredit surat ship bisa semakin lebih baik [Musik].
Ketika kita ini bekerja sama dengan cukup banyak asuransi langsung ya, Pak, itu juga tidak akan lebih efisien dibanding seandainya kita bekerja sama dengan broker. Karena broker akan menyajikan, menyampaikan, memberikan informasi berbagai macam pilihan asuransi yang boleh dimiliki dan ini lebih cenderung melindungi, khususnya adalah BPR terkait dengan perlindungan konsumen dalam hal pilihan. Ada perbedaan sebnya antara asuransi jiwa yang diatkan kredit dan asuransi [Musik] kredit.
Bicara bisnis asuransi itu ada berapa faktor, ada klaim, ada premik, ada biaya. Karena bicara bisnis itu adalah bicara pendapatan, klaim, biaya, dan biaya lainnya mulai membuka lebar kapasity untuk asuransi kredit saat ini. Mari kita petakan masalah ini. Lalu kita sepakati aturan main baru, kemudian kita mulai kembali merride bisnis ini. Ada tujuannya hanya satu, untuk tidak kembali jatuh ke lubang yang [Musik] sama. Saya percaya bahwa kita butuh kerja sama yang bersama. Jangan sampai akhirnya preminya enggak kumpul cukup karena biasa ngumpul 10 tahun jadi cuman ngumpul lima. Padahal loss paling besar ada di tahun kedua. Akhirnya enggak cukup [Musik] juga. Kalau NPL-nya 2%, kemudian memberikan rate 0 kom sekian, bagaimana perusahaan asuransi ini bisa hidup bahwa OJK dapat mengevaluasi kembali di kemudian hari apakah angka 10% itu masih relevan atau tidak. Harapannya adalah memang melakukan evaluasi terms and condition [Musik] [Musik].
Yang terhormat Bapak, Ibu, hadirin, Sobat Apari semuanya. Saya Natya Laksita, untuk memperkenalkan diri sebagai MC pada pagi hari ini dalam acara sharing session harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan POJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Indonesia, tanah airku, tanahku padah. Selamat datang kami sampaikan di acara sharing session mengenai harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan POJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Harapannya pada forum ini nanti bisa ditemukan suatu kesamaan pandangan, kesamaan persepsi, dengan tujuan adalah saling menguatkan agar regulasi ini bisa diimplementasikan dengan baik dan sifatnya win-win. Lahirnya POJK 20 tahun 2003 ini diharapkan pelaksanaan operasional daripada asuransi kredit surisip bisa semakin lebih baik [Musik].
Ketika kita ini bekerja sama dengan cukup banyak asuransi langsung ya, Pak, itu juga tidak akan lebih efisien dibanding seandainya kita bekerja sama dengan broker. Karena broker akan menyajikan, menyampaikan, memberikan informasi berbagai macam pilihan asuransi yang boleh dimiliki dan ini lebih cenderung melindungi, khususnya adalah BPR terkait dengan perlindungan konsumen dalam hal pilihan. Ada perbedaannya antara asuransi jiwa yang dikaitkan kredit dan asuransi kredit [Musik].
Bicara bisnis asuransi itu ada berapa faktor, ada klaim, ada premik, ada biaya. Karena bicara bisnis itu adalah bicara pendapatan, klaim, biaya, dan biaya lainnya mulai membuka lebar capacity untuk asuransi kredit saat ini. Mari kita petakan masalah ini. Lalu kita sepakati aturan main baru, kemudian kita mulai kembali merride bisnis ini. Ada tujuannya hanya satu, untuk tidak kembali jatuh ke lubang yang [Musik] sama. Saya percaya bahwa kita butuh kerja sama yang bersama. Jangan sampai akhirnya preminya enggak kumpul cukup karena biasa ngumpul 10 tahun jadi cuman ngumpul lima. Padahal loss paling besar ada di tahun kedua. Akhirnya enggak cukup [Musik] juga. Kalau NPL-nya 2%, kemudian memberikan rate 0 kom sekian, bagaimana perusahaan asuransi ini bisa hidup bahwa OJK dapat mengevaluasi kembali di kemudian hari apakah angka 10% itu masih relevan atau tidak. Harapannya adalah memang melakukan evaluasi terms and condition [Musik] [Musik].
Yang terhormat Bapak, Ibu, hadirin, Sobat Apari semuanya. Saya Natya Laksita, untuk memperkenalkan diri sebagai MC pada pagi hari ini dalam acara sharing session harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan POJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Indonesia, tanah air. Selamat datang kami sampaikan di acara sharing session mengenai harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan BOJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Harapannya pada forum ini nanti bisa ditemukan suatu kesamaan pandangan, kesamaan persepsi, dengan tujuan adalah saling menguatkan agar regulasi ini bisa diimplementasikan dengan baik dan sifatnya win-win. Lahirnya POJK 20 tahun 2003 ini diharapkan pelaksanaan operasional daripada asuransi kredit suretip bisa semakin lebih baik [Musik].
Ketika kita ini bekerja sama dengan cukup banyak asuransi langsung ya, Pak, itu juga tidak akan lebih efisien dibanding seandainya kita bekerja sama dengan broker. Karena broker akan menyajikan, menyampaikan, memberikan informasi berbagai macam pilihan asuransi yang boleh dimiliki dan ini lebih cenderung melindungi, khususnya adalah BPR terkait dengan perlindungan konsumen dalam hal pilihan. Ada perbedaan sebulnya antara asuransi jiwa yang dikaitkan kredit dan asuransi [Musik] kredit.
Bicara bisnis asuransi itu ada beapa faktor. Ada klaim, ada premi, ada biaya. Karena bicara bisnis itu adalah bicara pendapatan, klaim, biaya, dan biaya lainnya mulai membuka lebar capacity untuk asuransi kredit saat ini. Mari kita petakan masalah ini. Lalu kita sepakati aturan main baru, kemudian kita mulai kembali merde bisnis ini. Ada tujuannya hanya satu, untuk tidak kembali jatuh ke lubang yang [Musik] sama. Saya percaya bahwa kita butuh kerja sama yang bersama. Jangan sampai akhirnya preminya enggak kumpul cukup karena biasa ngumpul 10 tahun jadi cuman ngumpul lima. Padahal loss paling besar ada di tahun kedua. Akhirnya enggak cukup [Musik] juga. Kalau NPL-nya 2%, kemudian memberikan rate 0 kom, bagaimana perusahaan asuransi ini bisa hidup bahwa OJK dapat mengevaluasi kembali di kemudian hari apakah angka 10% itu masih relevan atau tidak. Harapannya adalah memang melakukan evaluasi terms and condition [Musik] [Musik] [Musik].
Yang terhormat Bapak, Ibu, hadirin, Sobat Apari semuanya. Saya Natya Laksita, untuk memperkenalkan diri sebagai MC pada pagi hari ini dalam acara sharing session harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan POJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Indonesia, tanah airku, tanahku. Selamat datang kami sampaikan di acara sharing session mengenai harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan BOJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Harapannya pada forum ini nanti bisa ditemukan suatu kesamaan pandangan, kesamaan persepsi, dengan tujuan adalah saling menguatkan agar regulasi ini bisa diimplementasikan dengan baik dan sifatnya win-win. Lahirnya POJK 20 tahun 2003 ini diharapkan pelaksanaan operasional daripada asuransi kredit suret ship bisa semakin lebih baik [Musik].
Ketika kita ini bekerja sama dengan cukup banyak asuransi langsung ya, Pak, itu juga tidak akan lebih efisien dibanding seandainya kita bekerja sama dengan broker. Karena broker akan menyajikan, menyampaikan, memberikan informasi berbagai macam pilihan asuransi yang boleh dimiliki dan ini lebih cenderung melindungi, khususnya adalah BPR terkait dengan perlindungan konsumen dalam hal pilihan. Ada perbedaan sebnya antara asuransi jiwa yang diatkan kredit dan asuransi [Musik] kredit.
Bicara bisnis asuransi itu ada berapa faktor, ada klaim, ada premi, ada biaya. Karena bicara bisnis itu adalah bicara pendapatan, klaim, biaya, dan biaya lainnya mulai membuka lebar capacity untuk asuransi kredit saat ini. Mari kita petakan masalah ini. Lalu kita sepakati aturan main baru, kemudian kita mulai kembali merride bisnis ini. Ada tujuannya hanya satu, untuk tidak kembali jatuh ke lubang yang [Musik] sama. Saya percaya bahwa kita butuh kerja sama yang bersama. Jangan sampai akhirnya preminya enggak kumpul cukup karena biasa ngumpul 10 tahun cuma ngumpul lima. Padahal loss paling besar ada di tahun kedua. Akhirnya enggak cukup [Musik] juga. Kalau NPL-nya 2%, kemudian memberikan rate 0 kom, bagaimana perusahaan asuransi ini bisa hidup bahwa OJK dapat mengevaluasi kembali di kemudian hari apakah angka 10% itu masih relevan atau tidak. Harapannya adalah memang melakukan evaluasi terms and condition [Musik] [Musik].
Saya Natya sedang berjalan menuju hidup yang lebih baik, tidak hanya untuk saya tetapi untuk orang lain. Tidak hanya belajar untuk diri sendiri tetapi untuk menginspirasi, tidak hanya untuk bekerja tetapi untuk [Musik] berkontribusi. Karena setiap detik bagi saya adalah nilai yang tak terhingga [Musik]. Komitmen untuk menjadi lebih baik menghadirkan kesejahteraan bagi diri sendiri dan orang di [Musik] sekitar. Keputusan saya hari ini mempengaruhi masa depan yang lebih baik [Musik]. Kebanggaan terbesar saya dalam hidup. Pencapaian saya hari ini untuk mewujudkan masa depan yang lebih cerah. Terima kasih ya Pari [Musik] bagian iya tiga tiga dua satu. Oh so maafkan aku mencintaimya menginspirasi. Hari ini membentuk [Tepuk tangan] [Musik] hari 30 tahun Apari. Nah, harapannya Apari selalu dapat menjaga amanah untuk menjalankan visi dan misi yang dijalankan kepada [Musik] kami. Pada saat ini jumlah kendaraan listrik dan infrastruktur pendukungnya seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU terus meningkat [Musik]. Kendaraan listrik itu harus dimulai oleh kementerian dan lembaga. Itu harus bisa memberikan contoh kepada masyarakat. Saat ini itu memang era mobil listrik sesuai dengan tren otomotif global. Pengguna EV itu khawatir eh terkait dengan ketidaktersediaan charging station di beberapa tempat [Musik] [Tepuk tangan]. Untuk masalah transportasi itu merupakan masalah yang besar. Tentunya kalau kita bicara elektrifikasi kan harus combine stakeholders ya. Pertama penggunaan kendaraan listrik ini baru dilakukan ee belum heavy gitu ya penggunaannya [Tepuk tangan] [Musik]. Ke Jakarta teater di pagi hari cakepah. Berangkatnya naik LRT, turunnya di stasiun. Selamat datang sobat Apari di acara wisuda dan tasyakuran Apari 30 tahun. Luar biasa. Boleh bantu tepuk tangannya [Musik] [Tepuk tangan]. Bahwa wisudawan apari saat ini semakin memiliki value. Artinya, setelah Anda lulus dari pendidikan apari, maka kualifikasi keahlian Anda diharapkan memang telah meningkat [Tepuk tangan] [Musik]. Dan tugas BSAKP yaitu bertugas untuk merumuskan, memelihara, dan membina pelaksanaan profesionalitas [Tepuk tangan] [Musik] anggota. Selamat ulang tahun ABARI yang ke-30. Semoga semakin jaya dan terus berkontribusi dalam memajukan industri pialang asuransi dan reasuransi dengan mencetak ahli-ahli pialang asuransi yang mumpuni [Musik]. Tig tig dua satu satu. Boleh ditiup lilinnya [Musik]. He [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]. Oh no. Maafkan aku mencinta, aku tak bermaksud membuat untukku tak berarti membutuh besok [Musik].
Yang terhormat Bapak, Ibu, hadirin, Sobat Apari semuanya. Saya Natya Laksita, untuk memperkenalkan diri sebagai MC pada pagi hari ini dalam acara sharing session harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan POJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Indonesia, tanah airku, tanahku padah. Selamat datang kami sampaikan di acara sharing session mengenai harmonisasi produk dan layanan asuransi kredit terkini berdasarkan BOJK nomor 20 tahun 2023 dari perspektif praktisi. Harapannya pada forum ini nanti bisa ditemukan suatu kesamaan pandangan, kesamaan persepsi, dengan tujuan adalah saling menguatkan agar regulasi ini bisa diimplementasikan dengan baik dan sifatnya win-win. Lahirnya POJK 20 tahun 2003 ini diharapkan pelaksanaan operasional daripada asuransi kredit surat ship bisa semakin lima [Musik] [Musik] Yeah [Musik].
Baik. Baik. Ee, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Oke, salam sejahtera bagi kita semua. Shalom. Om swastiastu. Namo buddhaya dan salam kebajikan. Perkenalkan nama saya Ditan Sudiro yang akan menjadi MC pada acara pagi hari ini dalam acara seminar nasional kuovadis asuransi kesehatan, antisipasi dan strategi para praktisi dalam menghadapi SEOJK baru tentang asuransi kesehatan. Terima kasih dan selamat datang kami ucapkan kepada Otoritas Jasa Keuangan. Yang kami hormati Bapak Iwan Pasila selaku Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun, selaku keynote speaker kita pada pagi hari ini. Dan tidak ketinggalan kami ucapkan selamat datang juga kepada Bapak Muhammad Anshori selaku analis eksekutif pengaturan perasuransian, penjaminan dan dana pensiun. Kami juga mengucapkan selamat datang dan selamat pagi kepada Bapak Adrian IRadi Siregar selaku analis senior pengembangan perasuransian, penjaminan dan dana pensiun. Terima kasih atas kesediaannya ee sudah berkenan hadir untuk berbagi pengetahuannya kepada kami semua dalam seminar pada hari ini. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih dan selamat datang kepada para pembicara pastinya yang telah berkenan hadir. Yang pertama ada Bapak Ahmad Irsan Muiz selaku Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia atau Kemenkes RI. Dan pastinya selamat datang juga kepada Bapak Diwe Novara selaku Wakil Ketua Bidang Teknik 5 Asuransi Surity dan Kredit. Aa, selamat datang juga kami ucapkan kepada Ibu Fransiska Ruswita selaku Kepala Departemen Pertanggungan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia atau AAI. Dan selamat datang kami ucapkan kepada Bapak Andi Afdal selaku Direktur Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPJS Kesehatan. Kami ucapkan juga selamat datang kepada Ibu Emira EUat ee selaku Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Pembiayaan Jaminan Sosial dan Perasuransian Indonesia atau Perdokjasi. Dan tidak ketinggalan kami ucapkan selamat datang kepada Bapak Fajaruddin Zihombik selaku Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia atau ARSSI. Kami juga ingin mengucapkan selamat pagi dan selamat datang kepada pengurus Apari dan para tamu undangan yang kami hormati. Selamat pagi kepada Bapak Bambang Suso selaku Ketua Umum APARI serta perangkat Dewan Pelaksana APARI. Dan tidak ketinggalan kami juga ingin mengucapkan selamat datang eh kepada Bapak Kapler Arifin Marung, belum hadir mungkin ya, selaku Dewan Kehormatan APARI. Dan tidak ketinggalan kami ingin mengucapkan selamat datang juga kepada Bapak M. D. Kurniadi selaku Dewan Kehormatan Apari sekaligus Direktur PT LSP Perasuransian Indonesia. Selamat pagi dan selamat datang juga kepada Bapak Andres Fredy Pielor dan juga Ibu Kristia Tuti Lucy selaku Dewan Penegak kode etik APARI yang sedang mengikuti acara ini secara daring atau secara online melalui kanal YouTube kita. Dan selamat datang kami ucapkan kepada Ibu Dini Irawati dan juga Bapak Haryanto selaku dewan penegak kode etik APARI yang hadir secara langsung di lokasi pada pagi hari ini. Dan tidak ketinggalan kami juga ingin mengucapkan selamat datang kepada tamu dari Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Kemenkes RI, tamu dari Aparindo, AAUI, AAJ, BPJS Kesehatan, Perdokjasi dan tentunya Pamjaki. Dan tidak ketinggalan kami ingin mengucapkan juga selamat datang dan terima kasih kepada perwakilan sponsor yang sudah hadir langsung di tengah-tengah kita pada pagi hari ini. Dan acara akan saya buka. Selamat datang di seminar nasionalis asuransi kesehatan, Antisipasi dan strategi para praktisi dalam menghadapi SEOJK baru tentang asuransi kesehatan. Sekali lagi kami ucapkan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah menghadiri acara ini secara langsung di The Sultan Hotel and Residence Jakarta. Dan tidak ketinggalan kami juga ingin mengucapkan selamat bergabung kepada Sobat Apari yang mengikuti acara ini ee secara daring ya, melalui kanal YouTube Apari Podcast. E, terima kasih atas antusiasme dan partisipasinya dalam seminar hybrid kita pada pagi hari ini. Dan acara APARI pada pagi hari ini juga didukung oleh Pamzaki, Perkumpulan Ahli Manajemen Jaminan dan Asuransi Kesehatan Indonesia, pastinya sebagai wadah bagi para anggota APAI, pamjaki serta para pelaku industri asuransi dan juga regulator untuk saling bertukar pandangan, memperkaya wawasan dan membangun solusi kolaboratif dalam menghadapi perubahan kebijakan. Dan izinkan kami juga untuk menyampaikan rasa terima kasih sekali lagi dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para sponsor yang telah mendukung terselenggaranya acara ini. Dukungan dan kontribusi yang diberikan tidak hanya membantu kelancaran acara saja, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari kontribusi dalam memajukan industri perasuransian di Indonesia. Kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak sponsor. Yang pertama ada Annaser Tour and Travel dan tidak ketinggalan ada juga PT Astrinda Artasangga. Terima kasih kami ucapkan kepada PT Astakanti Insurance Broker, PT Asuka Bahari Nusantara, PT Asuransi Sentral Asia, PT Asuransi Sinarmas, PT Bhineka Cipta [Musik] Lestari, PT Bina Gridatama Nusantara. Banyak terima kasih juga kami sampaikan kepada PT Bumi Insurance Brokers, PT Beringin Sejahtera Makmur, PT Kali Besar Raya [Musik] Utama, PT Malaka Tras Wubungan Insurance, PT Mitra Harmony Insurance Broker dan banyak terima kasih juga kami sampaikan kepada PT Sena Orientasi. Ee, baik Bapak, Ibu, Sobat Aparis, sebagaimana telah diketahui bersama bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini tengah mempersiapkan terbitnya surat edaran OJK atau SEOJK tentang asuransi kesehatan yang rencananya akan diberlakukan pada tahun 2025 ini. Nah, surat edaran ini merupakan responsangan serius yang tengah dihadapi oleh industri dan pastinya akan menjadi tonggak penting dalam pembenahan tata kelola serta penguatan ekosistem asuransi kesehatan di Indonesia. Dan seminar pada hari ini bukan hanya sekedar membahas regulasi baru dari OJK saja, tapi kita juga akan membahas lebih dalam apa arti SEO OJK 2025 ini bagi masa depan industri asuransi kesehatan dan bagaimana nih caranya industri harus bisa beradaptasi. Sebelum acara dimulai ee Bapak, Ibu, dan hadirin semuanya, alangkah baiknya kita akan memulai membuka acara dengan doa bersama. Dan doa akan dipimpin oleh Bapak Muhammad Dede Gurniadi. Kami persilakan kepada Pak Dede untuk memimpin jalannya doa [Musik] [Musik] [Musik].
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua, Bapak, Ibu, para hadirin dan undangan sekalian. Pada hari yang berbahagia ini marilah kita berdoa dengan khusyuk dan ikhlas menurut agama dan kepercayaannya masing-masing. Perkenankan saya untuk memimpin pembacaan doa dalam agama Islam. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin, hamd naimin, hamdakirin, ham yaakal, hamdulillah. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ali sayyidina Muhammad. Ya Allah, ya Tuhan kami, tiada kata dan rasa yang pantas kami haturkan kepada-Mu selain rasa syukur kami pada-Mu atas segala nikmat dan hidayah yang Kau anugerahkan kepada kami sehingga kami dapat hadir bersama untuk mengikuti acara seminar asuransi kesehatan ini ya Allah. Untuk itu ya Allah, ya Rahman ya Karim, jadikanlah acara kami ini sebagai acara yang Kau ridai, yang membawa barokah, rahmat, taufik dan hidayah-Mu untuk kami semua. Ya Allah Tuhan yang maha mengetahui, Ilmu-Mu begitu luas dan tidak terbatas. Limpahkanlah kepada kami semua kekuatan dan kesabaran, kemudahan dan keikhlasan, serta kecerdasan dan kearifan. Berilah kami ilmu yang bermanfaat, kepahaman yang luas dan amalan yang Kau terima selama kami mengikuti serangkaian acara pada hari ini. Ya Allah. Ya Allah Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, Kami membacakan puji dan syukur ke hadirat-Mu. Jadikanlah kami orang-orang yang pandai mensyukuri atas nikmat-Mu. Ya Allah Tuhan yang maha pemelihara dan maha mulia, Satukanlah kami dalam persaudaraan yang ikhlas dan tulus. Perilah jiwa kami dalam kesucian serta hiasilah Allah kami dengan keteladanan. Ya Allah Tuhan yang maha pembuka, bukakanlah kepada kami pintu kemudahan untuk meraih hikmah, kesabaran dan keikhlasan yang telah Engkau anugerahkan kepada kami untuk turut serta dalam meningkatkan kualitas pengabdian kami. Dan jadikanlah acara pada hari ini sebagai simbol kebersamaan, kekuatan dan persatuan kami untuk bersama-sama membangun industri ini. Ya Allah. Ya Allah zat yang maha kuasa, berilah kami keselamatan dan kesehatan. Tambahkanlah kepada kami ilmu yang ilmu pengetahuan dan berkahilah rezeki yang Kau berikan. Berikanlah kami rahmat dan ampunan serta akhirilah kehidupan kami dengan kebajikan dan keselamatan. Ya Allah zat yang maha pengampun, ampunilah dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa para pemimpin kami, dosa para pendahulu kami. Jadikanlah semua kegiatan dan aktivitas kami menjadi amal saleh dan ibadah sebagai bentuk penjelmaan pengabdian kepada-Mu dan sebagai bekal di akhir nanti. Rabbana zulamna anfusana wamfilana watarhamna lana kunana minal khasirin. Rabbana taqobbal minna innaka antasul alim wb alaina innaka ant tawabur rahim. Rbana hablana azwajina imama. Rbana atina fid dunya hasanah wafil aktiqabanar. Walhamdulillahi rabbil alamin. Assalamualaikum warahmatullah. Pak Iwan, kita duduknya di tengah. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Bapak atas waktunya untuk memimpin bersama. Dan selanjutnya sebelum acara secara official kita mulai masuk ke acara inti, marilah kita bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Jadi kami mohon kesediaannya untuk Bapak, Ibu berdiri bersama untuk kita menyanyikan lagu Indonesia Raya yang akan dipimpin oleh Ibu Nurlaela. Saya persilakan kepada Ibu Nurlaela [Musik] [Musik] tanah air [Musik] dariu Indonesia kebangsaan kebangsa dan tanah air marilah kita berseru [Musik] hiduplah tanahku hiduplah negeriku bangsaku rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Haleluya [Musik] Tuhan [Musik].
Baik, terima kasih para hadirin. Boleh kembali ke kursi yang telah disediakan. Baik, dan selanjutnya acara akan kita lanjutkan dengan kata sambutan yang akan disampaikan langsung oleh Ketua Umum APARI yang terhormat, Bapak Bambang Suseno. Kami persilakan [Musik].
Tes. Tes. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Salam sehat bagi kita semua. Selamat pagi. Pagi. Semangat pagi. Baik. Yang kami hormati Bapak Yan Pasila selaku Deputi Komisioner Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan dana pensiun dari OJK yang hari ini hadir juga dengan jajarannya, Pak Muhammad Ansori selaku analis eksekutif pengaturan PPDP OJK dan juga Pak Adrian Iradi Seregar selaku analis senior pengembangan PPDP. Kemudian kami juga sapa kepada para narasumber yang pada hari ini akan sharing knowledge pada kita semua. Yang terhormat Pak Ahmad Irsan Muiz, Selamat pagi Pak. Dari beliau adalah Kepala Pusat Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan dari Kemenkes RI. Kemudian Pak Yulis Wayangkara eh Ketua Muaindo belum hadir ya. Kemudian Pak Diw Novara selaku Wakil Ketua Bidang Teknik 5 mewakili AUI. Kemudian Ibu Fransiska Ruswita selaku Kepala Departemen Pertanggungan AAJ. Kemudian Pak Andi Afdal selaku Direktur Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPJS Kesehatan dan Pak Fajaruddin Sihombing selaku Wakil Sekretaris Jenderal dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia juga Ibu Emira Upangat selaku Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Jaminan Sosial dan Perasuransian Indonesia atau Perdokjasi sekaligus juga kami sapa moderator pada hari ini Pak Ibu Tugusmadi Wijaya selaku Kepala Ketua 3 APARI dan Ibu Jeni Wiharini selaku Sekjen dari Pamjaki. Kami juga menyampaikan salam hormat kepada Dewan Kehormatan APARI, Dewan Penegak Kodetik APARI, Dewan Pelaksana dan Perangkat Dewan Pelaksana Apari, pengurus Aparindo, pengurus PT LSPPI, pengurus ee Pamjaki, para sponsor dan tentunya para anggota APARI dan ee publik yang mengikuti kegiatan pada hari ini secara offline maupun online. Pertama tentunya mengucapkan alhamdulillah ya kepada Allah Subhanahu wa taala yang pada hari ini sekali lagi melimpahkan nikmatnya pada kita semua berupa kesehatan. Jadi kita semua bisa hadir dalam keadaan sehat dan juga nikmat kesempatan kita diberikan waktu yang luang untuk bisa hadir dalam pertemuan pada hari ini. Pak Iwan masih dalam suasana Idul Fitri. Izinkan juga mengucapkan selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Minal aidin wal faizin. Bapak, Ibu sekalian, selamat datang kepada Bapak, Ibu sekalian untuk menghadiri kegiatan pada hari ini, Seminar nasional dengan topik ee mengenai asuransi kesehatan yaitu Kovadis asuransi kesehatan, antisipasi dan strategi dari para praktisi dalam menyongsong atau menghadapi SE OJK yang baru mengenai asuransi kesehatan. Selamat datang. Baik Bapak, Ibu sekalian, acara ini adalah kolaborasi antara APARI dan Pamjaki di mana keduanya adalah sesama asosiasi profesi yang satu di bidang kepialaan asuransi, ahli kepialaan asuransi, yang satu adalah di ahli manajemen dan asuransi kesehatan. Jadi sebetulnya memang dilatar belakangi dengan keresahan bersama ya. Kita menghadapi bahwa industri asuransi kesehatan kita tampaknya masih belum sehat nih, industri asuransi kesehatan tapi belum sehat. Jadi teman-teman yang yang berkecimpung di dalam ee bisnis asuransi kesehatan merasakan ya begitu rinyol waduh luar biasa lonjakan preminya bisa dua kali lipat dan seterusnya. Nah, memang dilatar belakangi dengan beberapa fakta krisis gitu ya bahwa ternyata memang klaim ee untuk asuransi kesehatan ini sudah lewat dari Rp31 triliun atau naik sekitar hampir 14% ee dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Nanti kalau beliau sudah turun juga mengenai inflasi medis mencapai 20% yang jauh di atas inflasi nasional. Artinya itu semua akan menggerus ya, menggerus ee margin dari industri asuransi kesehatan ini. Nah, oleh karenanya kemudian OJK dalam hal ini memandang perlu dibuatnya langkah-langkah penyehatan. Salah satunya adalah dengan rencana untuk menerbitkan SE OJK yang baru mengenai asuransi kesehatan. Nah, tadi diskusi kalau kita lihat dari perjalanan penyiapan SOJK-nya ini tampaknya memang akan menyentuh e berbagai aspek secara komprehensif, digitalisasi supaya ya sudah apa sih istilah mengenai manajemen risiko dan dan lain-lain. Jadi artinya ini perlu menjadi penajan bersama karena tampaknya akan banyak merubah tata kelola asuransi kesehatan nih di tempat kita masing-masing ya. Bisa enggak ya waktunya enggak banyak Bapak, Ibu, karena rencananya S Ojk ini diterbitkan di bulan Maret kemarin. Tapi karena ada masukan-masukan jadi terima kasih pada OJK yang kemudian memundurkan gitu ya menjadi Mei. Rencananya enggak enggak lama juga internasional. Dan alhamdulillah tadi juga disampaikan oleh Pak Ansori ya bahwa ternyata minggu depan itu proses penerbitan SOJK-nya ini sudah sampai ke departemen hukum. Jadi waktunya memang hari ini nih kita sampaikan konsen-konsern karena masih memungkinkan untuk diadakan ee penyesuaian karena itu ajun ahli pemilik kepada SEOJK-nya. Demikian kira-kira harapannya ya Pak Iwan, Pak Anori, Pak ee Pak Skar. Jadi mudah-mudahan pada hari ini kita bisa memberikan masukan-masukan yang tentunya nanti bisa diakomodasi SEOJK-nya menjadi lebih sesuai dengan ee apa yang kita harapkan. Nah, hal mengenai asuransi kesehatan ini kan memang cukup kompleks, cukup komprehensif. Jadi artinya kalau kita ingin mendiskusikan itu sebaiknya memang melibatkan seluruh stakeholders di dalam industri asusi kesehatan. Oleh karenanya kami mengundang Pak Iwan dan tim selaku perwakilan dari OJK, kemudian dari Kementerian Kesehatan juga dari perasuransian adaindo ada UI ada AJI juga perwakilan dari perspektif layanan kesehatan ada BPJS kesehatan ada ARSI dan juga dari produk Jasi. Jadi silakan nanti kita sama-sama mendengarkan pencerahan dari OJK dan bisa memberikan tanggapan atau masukan-masukan yang ee diperlukan. Artinya memang di dalam forum ini tidak ada kesimpulan, tidak ada keputusan gitu ya Pak Iwan ya. Belum ada keputusan karena memang masih dalam proses untuk ee penerbitannya. Jadi mudah-mudahan memang masih ee ada ruang buat kita semua untuk memberikan ee masukan. Saya kira itu ee sambutan yang bisa kami berikan dalam kesempatan ini. Jadi izinkan
Juga, untuk menutup dengan pantun, ya. Biasanya ada cakepnya, tuh. Baik.
Berobat ke dokter hari ini, cakep. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Cakep. Selamat datang, wahai para praktisi. Mari kita pada hari ini berdiskusi dengan penuh dedikasi. [Tepuk tangan] Satu lagi, ya. Ke rumah sakit naik kendaraan, bertemu dokter spesialis andalan. Seminar ini menjadi sarana pembelajaran supaya kita semua menghadapi SOJK dengan penuh persiapan. Baik, demikian yang disampaikan. Terima kasih. Wabillahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]
Waalaikumsalam. Baik. Ee, terima kasih Bapak Bambang Suseno selaku Ketua Umum Apari untuk kata sambutannya. Dan kata sambutan selanjutnya akan disampaikan oleh Dewan Kehormatan Apari, Bapak Kapler Marpaung, yang baru saja hadir di tengah-tengah kita. Dipersilakan kepada Bapak Kapler. [Musik]
Asalamualaikum warahmatullahi [Musik] wabarakatuh. Salam sejahtera. Selamat pagi. Om swastiastu. Namo buddhaya. Salam kebajikan. Horas. Horas. Ya, sekali-sekali harus ada kata horas. Ee, ini tidak direncanakan. Saya di tengah jalan ditelepon sama panitia, katanya ketua Dewan Kehormatan Apari tiba-tiba berhalangan ee datang, sehingga salah satu yang mau hadir ditodong diminta untuk memberikan sambutan. Jadi, sayalah korbannya, karena saya kebetulan ee selalu berusaha setia hadir di dalam acara-acara yang dilakukan oleh ee Apari.
Yang saya hormati, Bapak Iwan Pasilah, Deputi Dewan Komisioner ee OJK. Saya lihat di sini ada beberapa hadir juga Pak Ansori. Selamat pagi, Pak. Pak Adrian Sregar ada dari AUI. Pak Diwe, Ibu Fransiska dari AAJI, saya lihat hadir dari BPJS salah satu direksi, Pak Andi. Selamat pagi, Pak. Ibu Emira ya dari Perdok Jasi. Selamat pagi. Dan Bapak Sihombing dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta ya Indonesia, Pak Fajaruddin Sihombing. Ee, saya kira Dewan Kehormatan Apari sangat mengapresiasi seminar yang dilakukan oleh Apari hari ini dengan ee tema kuovadis asuransi kesehatan, antisipasi dan strategi para praktisi dalam menghadapi SE OJK yang akan ee terbit atau segera terbit. Ee, seminar hari ini dengan topik ini menurut saya sangat ee strategis, ee mengingat ee asuransi kesehatan ee di Indonesia saat ini sangat begitu ee dinamis, ee pasca COVID-19. Ee, ada pertumbuhan terhadap pendapatan premi asuransi kesehatan nasional, sebagai tentu dampak dari ee timbulnya ee apa namanya ee minat ya ee para masyarakat untuk memiliki ee ee asuransi kesehatan. Begitu penting, ee karena memang pada era COVID itu ee masyarakat sangat memahami, mengetahui, dan menyadari bahwa asuransi kesehatan juga penting. Tapi di sisi lain ee pun kita ee menghadapi ee masalah yang tidak juga ringan, karena ee timbul inflasi ee medik, ya. Satu sisi terdapat pertumbuhan premi asuransi kesehatan. Di sisi lain ee ada biaya kesehatan yang meningkat. Tentu ini akan menjadi suatu tantangan bagi ee teman-teman kita yang ada di industri asuransi, khususnya ee perusahaan-perusahaan yang ee menjual produk asuransi kesehatan. Itu tidak dapat di kita kita apa namanya kita ee apa namanya kita abaikan, mengingat memang ee kita sangat banyak tergantung kepada ee impor, impor ee obat, impor peralatan kesehatan, dan impor bahan baku ee farmasi. Ee, dan kelihatannya juga tarif Trump juga ini akan menjadi satu ee hal yang menjadi tantangan bagi kita, ya, dengan tarif Trump ya ee rupiah terdepresiasi. Itu pun sudah membuat ee biaya ya akan menjadi naik, biaya impor kita. Dan tentu juga nanti ee saya kira ee hal-hal yang lain pun akibat daripada tarif Trump ini bagi industri perasuransian secara umum pun akan juga ee menjadi suatu tantangan tersendiri, ya.
Ee, di sisi lain ee satu hal yang menjadi masih pending matters dan menjadi terus masih pekerjaan rumah bagi kita bersama ee yaitu coordination of benefit yang sampai sekarang ini masih ee PR terus, ya. Ee, ada pembicaraan-pembicaraan sebelumnya, ada FGD, ee seminar, saya kira sudah juga beberapa berapa kali kita lakukan, tetapi sampai sekarang ini kelihatannya belum final-final. Oleh karena itu, ee kita berharap bahwa nanti ee SE e OJK yang akan ee diterbitkan oleh OJK yang menyangkut tentang asuransi kesehatan, kita harapkan ini akan memberikan satu ee arah, akan memberikan satu apa namanya ee suatu ee pedoman ya bagi industri asuransi nasional, yang mungkin juga itu ada nanti bisa ada kerja samanya dengan DAP, Departemen Kesehatan, ee PPJS Kesehatan, dan tentu ee instansi terkait lainnya bisa betul-betul ee terkoordinasi dengan baik. Tentu saya berharap ee apa namanya melalui ee seminar nasional ini ee akan banyak ee apa namanya masukan-masukan, pandangan-pandangan, catatan ee bagi kita bersama. Secara khusus mungkin bagi Bapak Ibu yang dari Otoritas Jasa Keuangan, ee mudah-mudahan melalui ee seminar hari ini bisa kita mendapatkan banyak ee masukan yang sangat berharga, sehingga nanti POJK-nya itu bisa lebih ee sempurna, dan tentu kita harapkan ee minim, minim apa namanya interpretasi-interpretasi yang tidak perlu, dan minim apa namanya ee suatu pasal-pasal atau ayat-ayat yang memang ee diperlukan, perlu lagi perbaikan-perbaikan. Mudah-mudahan kita harapkan SE OJK nanti ini betul-betul bisa sempurna ya, Pak Iwan, Pak Ansori, sama Pak Adrian, sehingga betul-betul nanti bisa berjalan dengan baik. Ee, demikian saya kira ee sambutan saya ee tidak banyak ee terima kasih sekali lagi dan selamat berseminar. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]
Baik, terima kasih ee terima kasih banyak untuk kata sambutannya dari Bapak Kapler Marpaung selaku Dewan Kehormatan APARI. Dan kalau begitu seminar, acara seminar akan kita mulai, dan sebelumnya saya ingin mengundang kedua moderator kita untuk naik ke atas panggung. Yang pertama saya ingin mengundang ee yang terhormat Bapak Iu Kusuma Hadiwijaya selaku ketua 3 APAI, dengan pendidikan S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, S2 School of Business Eastern Michigan University, dan berpengalaman di industri perasuransian selama 25 tahun, memegang berbagai sertifikasi nasional dan juga internasional di area asuransi seperti AAIJ, QIP dari Aamai, ahli asuransi kesehatan AAK dari Pamjaki, CB dari Apari, ANZI Senior Associate, CP dari ANZIF, serta eh CRMO dan juga QRGP untuk manajemen risiko. Dan tidak ketinggalan kami juga turut mengundang naik ke atas panggung moderator kedua kita, Ibu Jeni Wiharini, selaku sekretaris Jenderal Pamjaki, ahli asuransi kesehatan dengan 28 tahun pengalaman di BPJS kesehatan selaku deputi direksi dan kini selaku Direktur Operation in Health Indonesia. Lulusan FKG UI dan juga mm eh memiliki sertifikasi CHIA dari PAMJAKI, AAJ dari Aa hingga CGP dari BNPB dan sertifikasi internasional HIA dan AHIP. Kami persilakan untuk bergabung. Oh, sudah bergabung di atas panggung ternyata. Kalau begitu kami serahkan acara langsung kepada kedua moderator kami. Boleh minta tepuk tangannya. Terima kasih.
Oke. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam. Selamat pagi, Bapak Ibu dan Teman-teman sekalian. Senang sudah banyak yang hadir di sini. Ee, selamat datang semuanya, juga teman-teman yang ada di kanal YouTube ya, Bu Jeni. Ee, saya Ibu Iu Kusuma Hadiwijaya dan rekan saya Ibu Jeni Hartini. Insyaallah kita berdua akan menjadi host dan ee moderator ya, Bu Jeni, ya.
Iya. Mungkin kita sambut juga eh para narasumber kita hari ini yang kita hormati bersama, Bapak Iwan Fasila, Deputi Komisioner OJK. Pak Eh, kemudian juga eh dari Kemenkes, Pak Irsan, kemudian Pak Afdal dari BPJS Kesehatan, Pak Di Ai, Bu Ita dari AAJI, dan kita masih menunggu dari eh AR dari AR ya.
Iya, mungkin sambil menunggu, sudah adaah dari AR, sudah. Oh, sudah ada, sudah hadir Pak ya. Oke, selamat datang Pak.
Oke. Ee, Bapak Ibu dan ee semua hadirin. Ee, kita saat ini di tengah ee situasi ee yang memang kita masuk di era turbulensi, di situasi yang cukup kritikal, momen krusial bagi industri kita, industri asuransi kesehatan. Em, kita ngerti bahwa industri asuransi kesehatan di tahun 2023, 2024 sampai 2025 ini memang masih ada dalam situasi yang turbulansi, ee di mana kita tahu di tahun lalu misalnya klaim rasio di industri kita itu bisa triple digit ya, walaupun sekarang katanya ada perbaikan. Medical inflations juga begitu eh bisa tiga kali lipat daripada inflasi umum, bahkan proyeksi di 2025 dari beberapa lembaga ee konsultan itu bisa mencapai angka 18 sampai 20%, pers katanya begitu. Nah, situasi ini sebetulnya yang memang kemudian ee harus diantisipasi oleh semuanya, oleh para elemen dalam ekosistem di layanan kesehatan maupun jaminan kesehatan, di industri proteksi atau jaminan kesehatan sendiri. Kita ngerti bahwa ee karena situasi tersebut kemudian mengakibatkan banyak teman-teman dari perusahaan asuransi mereka pull out for the time being dari bisnis di asuransi kesehatan. Are asuransi juga kita dengar begitu ya, beberapa reinsurance itu masih punya keanan untuk bisa men-support atau me-backup ee portofolio asuransi kesehatan customer yang kita rasain juga gitu ya, Bu Jeni ya.
Kita ngerasain banget gitu bahwa ee ada banyak perusahaan atau klien atau ksuk ee nasabah yang kemudian ee enggak ada budget karena renewal preminyanya sangat tinggi ya, di atas 40, 50% begitu ya. Kemudian mereka pull out juga dari skema asuransi mereka, menanggung sendiri dengan skema ASO atau ada beberapa ya, atau lebih mengutamakan BPJS atau kemudian juga ee mereka merubah skema benefit begitu ya. Ee, ada banyak ya hal-hal yang terjadi di dalam ee ekosistem kita. Em, makanya kemudian menjadi penting acara ini karena ada kita dengar seperti yang tadi disampaikan rencana dari OJK untuk menerbitkan SOJK yang kemudian kita ee ketahui bahwa ini akan menjadi sebuah revolusi. Ini bukan sekedar perubahan regulasi, tapi revolusi tata laksana. Tapi pertanyaannya kemudian adalah kuovadis asuransi kesehatan kita, ke mana kemudian kita dalam ekosistem ini ee akan melangkah, dan bagaimana kemudian kita setiap elemen dalam ekosistem ini mengantisipasi adanya ee revolusi tata kelola ee tersebut. Begitu, Bu Jeni, ya.
Iya. Ee, betul sekali Pak Putu. Jadi, ee kita tentu saja berterima kasih OJK ikut apa memberikan perhatian dan mengawal ee ee industri asuransi kesehatan ini yang bisa dikelola oleh baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. Ee, dan tentu saja nantinya Bapak dan Ibu yang hadir dalam seminar ini nantinya bisa, walaupun belum tetapkan, tapi di dalam rancangan ini luar biasa, nanti akan di-share juga oleh ee Pak Iwan dan Bapak Ibu Bapak-bapak dari OJK. Ada hal-hal yang tentu saja penting untuk diketahui, sehingga nanti ee tujuan dari pertemuan ini adalah kita ee membedah apa saja inisiatif kunci dari SE OJK ini ee yang nanti Pak Iwan akan sampaikan. Ada yang menjadi syarat yang ee apa namanya ee harus dipenuhi, ada syarat yang merupakan ee cukup dan juga ada syarat tambahan. Nanti perlu di ee catat betul oleh Bapak Ibu sekalian ee apakah yang syarat-syarat perlu ini yang it's emas itu bisa dipenuhi oleh Bapak Ibu sekalian. Tentu saja ee seminar ini menjadi menarik karena Bapak dan Ibu nanti bisa berdiskusi di sini. Ee, kemudian juga bagaimana nanti perlu kita ee diskusi mengenai strategi kolaboratif. Tadi juga Pak Keputu sudah sampaikan, karena ekosistem asuransi kesehatan ini cukup kompleks. Ada regulator. Regulatornya selain ee industri asuransi oleh OJK, ada Kementerian Kesehatan, dan narasumber hari ini juga sudah hadir dari Kementerian Kesehatan, kemudian dari asosiasi, tentu saja ee, kemudian juga ee yang terpenting adalah penyedia layanan kesehatan, yaitu fasilitas kesehatan. Hadir dari sini perwakilan dari ARSI ee berharap dalam pertemuan ini kita bisa menjembatani kepentingan semua pihak ee sehingga bisa bersinergi. Kita menyikapi SE OJK ini dengan positif untuk kita bisa bersinergi dan ee yang menjadi permasalahan utama tadi, inflasi biaya pelayanan kesehatan, mungkin juga ee keluhan peserta gitu ya, ini bisa kita ee sikapi bersama dalam seminar. Mungkin itu ya, Pak.
Betul sekali, Bu Jeni. Ee, Bapak Ibu, ee Saudara-saudara dan teman-teman sekalian, tanpa menunggu lama ee kita mulai acara ini dengan kita memanggil ya, mendengarkan yang terhormat Bapak Iwan Pasila untuk bisa memberikan keynote speech. Kami persilakan Pak Iwan.
Oke, mungkin sebelum Pak Iwan ee menyampaikan menyampaikan 2 menit kita akan coba tayangkan dulu Pak Iwan.
Oh, gitu. Ee, film nih ya. Industri asuransi kesehatan di Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pasca pandemi, inflasi medis terus meroket mencapai 13 hingga 15% per tahun, jauh melampaui inflasi nasional dan diproyeksikan akan mencapai 18 hingga 20% pada tahun 2025. Di sisi lain, rasio klaim asuransi kesehatan mencapai 139,5% pada kuartal ketiga tahun 2024, yang menunjukkan ketidakseimbangan antara premi yang dibayarkan dan klaim yang diajukan. Pada tahun 2024, klaim asuransi kesehatan diperkirakan akan mencapai Rp31,1 triliun, dengan kenaikan 13,9% dibanding tahun sebelumnya. Lebih parah lagi, fraud claim yang mencapai 20 hingga 30%, serta overtilisasi layanan kesehatan yang mencapai 70% dari seluruh kasus semakin memperburuk kondisi ini. Menambah beban industri yang tidak seimbang antara pendapatan dan biaya. Untuk menanggapi tantangan-tantangan ini, Otoritas Jasa Keuangan atau OJK berencana untuk menerbitkan surat edaran OJK atau SOJK terkait asuransi kesehatan pada tahun 2025. SOJK ini akan mencakup sejumlah inisiatif strategis yang bertujuan untuk memperbaiki tata kelola dan ekosistem asuransi kesehatan. Beberapa inisiatif tersebut antara lain adalah integrasi sistem digital yang lebih efisien, peninjauan penggunaan layanan medis secara berkala untuk memastikan layanan yang diberikan sesuai kebutuhan, pembentukan medical advisory board untuk memberikan layanan medis yang lebih terstandarisasi, penerapan skema cost sharing atau copayment yang lebih terstruktur, serta koordinasi manfaat dengan BPJS kesehatan melalui skema coordination of benefit atau COB. Diharapkan penerapan SOJK ini akan mengarah pada terciptanya tata kelola yang lebih baik di sektor asuransi kesehatan dan mampu memperbaiki ekosistem asuransi kesehatan di Indonesia secara menyeluruh. Dalam rangka menyambut dan menyikapi peraturan ini, Apari dan Pamzaki, dua organisasi profesi terkemuka di bidang perasuransian dan jaminan kesehatan, menyelenggarakan seminar nasional dengan tema Qualfedis Asuransi Kesehatan, Antisipasi dan Strategi Praktisi Hadapi SOJK baru tentang asuransi kesehatan. Seminar ini bertujuan untuk membahas lebih dalam mengenai implikasi dari SOJK 2025 terhadap industri asuransi kesehatan. Seminar ini juga akan menganalisis tantangan yang dihadapi oleh masing-masing pemangku kepentingan dalam sektor asuransi kesehatan, mulai dari regulator, perusahaan asuransi hingga penyedia layanan kesehatan. Lebih lanjut, seminar ini akan merumuskan rekomendasi kebijakan dan strategi implementasi yang diperlukan agar SOJK ini dapat diimplementasikan dengan efektif dan memberikan dampak positif bagi seluruh sektor yang terlibat. Selain itu, seminar ini juga bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara regulator, industri asuransi dan penyedia layanan kesehatan guna memastikan agar kebijakan yang dihasilkan dapat berjalan dengan baik dan efektif dalam meningkatkan kualitas layanan dan mengurangi beban klaim yang tidak terkendali. Dengan diselenggarakannya seminar ini diharapkan para peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang langkah-langkah yang perlu diambil untuk menghadapi peraturan baru ini, serta bagaimana setiap pihak dapat berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama dan menciptakan industri asuransi kesehatan yang lebih sehat dan berkelanjutan di masa depan.
Baik, Bapak Ibu dan sekalian, mari kita undang kembali Bapak Iwan Pasila, Deputi Komisioner eh OJK, di mana beliau merupakan fellow di ee persatuan aktuaris atau PAI dan juga e sertifikasi tata kelola, pendidikannya adalah ee ITB eh Matematika dan juga eh aktuaria di City University London, Inggris, dengan pengalaman yang luar biasa di industri asuransi ee terakhir sebagai CFO di beberapa perusahaan asuransi termasuk Mandirin Health dan juga BRI Live dan juga eh Pamzaki sebagai pengurus. Luar biasa Pak Iwan, budaya salam kebajikan. Eh, yang terhormat Pak Mama Suseno, Ketum eh Apari, eh ada Pak Kapler Marpam, suhu kita gitu ya. Eh, Pak Afdal ini ketua Pamjaki, teman-teman e hadir tempat tingap, ada Pak Irsan Muis. Terima kasih Pak ee berkenan hadir. Ada suhu kita juga, ada Bu Rosa ini senior kita yang terus punya ee semangat untuk membangun asuransi kesehatan di Indonesia ini. Teman-teman asosiasi ee baik asosiasi-asosiasi umum, jiwa, ee syariah, ee mungkin juga ada asosiasi rumah sakit yang hadir ya, dan teman-teman dari eok Jasi, kita punya Produk Jasi, teman-teman ini ee perkumpulan dokter yang berkecimpung di asuransi dan penjaminan kesehatan itu ya, ee sudah mulai ikut terlibat.
Ee, Bapak Ibu, pertama-tama kita mengucap syukur kepada Tuhan, hari ini boleh hidup dan sehat gitu ya. Ini ee berkat yang luar biasa ee kita bisa dapat kesempatan teman-teman seperti ini untuk bisa berdiskusi dan ee mencoba memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk memberikan kontribusi positif bagi industri kita. Nah, mungkin ee bisa tolong ditayangkan slide saya. Saya ee apa namanya tergelitik teman-teman dengan tujuan apa judul ini. Jadi, saya juga ingin mengambil judul dari sisi yang lain ini ekosistem kita dan bagaimana perusahaan asuransi itu bisa berkontribusi positif gitu ya di dalam ekosistem ini. Karena kalau kita tidak memikirkan ekosistem kita, Teman-teman, maka ee ee kita tidak akan bisa ee apa menyelesaikan isu-isu yang ada ini dengan lebih baik. Lanjut.
Baik. Ee, mungkin yang pertama teman-teman saya juga ee kemarin baru diinfokan bahwa ternyata terminologi SE OJK itu teman-teman itu akan berubah menjadi PAD. Betul ya, peraturan anggota Dewan Komisioner OJK, teman-teman. Kenapa berubah dari SE karena ternyata SE itu kalau dibahasa Inggriskan jadi circular letter gitu ya. Oh, sirkular letter itu Bu Bu Yeni dipertanyakan, sirkular kok ngatur gitu ya. Nah, jadi dalam tata hukum kita, teman-teman ini akan dirubah jadi mungkin ini yang jadi pertama PADK gitu ya, Pak Ansori ya. Jadi ini akan menjadi PAD, teman-teman. Jadi kira-kira itu ee ini kita Bapak Ibu ee izinkan saya meminjam datanya Pak Irsan nih. Ini data eh national health account kita yang terakhir tahun 2023, dan kalau Bapak Ibu lihat di tahun 2023 itu ee total biaya kesehatan kita itu mencapai sekitar Rp614,5 triliun. Nah, ini sebenarnya cukup besar, Teman-teman. Meskipun secara ee persentase terhadap PDB kita itu baru sekitar 2,9. Nah, sebagai perbandingan, teman-teman di Singapura itu sekitar 8% dari PDB. Di US e pernah 13 kalau tidak salah, sekarang sudah mendekati 20%. Nah, jadi pertanyaannya, teman-teman, kalau kita mau naik dari 2,9 ini, ini sebenarnya ee kalau ee kita lihat prosentasenya saja memang kita ada pada level yang rendah, tetapi jumlahnya teman-teman ini sangat besar, dan kami berpikir bahwa tidak mungkin kita kemudian akan menaikkan ini hanya untuk kemudian kita ee membiayai ee apa namanya kebutuhan ini tanpa kita melakukan sesuatu untuk memperbaiki ekosistem kita ini supaya pembiayaan ini bisa menjadi lebih ee efektif dan efisien. Nah, Teman-teman, kalau kita lihat yang merah, yang merah itu adalah porsinya BPJS kesehatan itu tahun lalu itu sekitar 27,1%. Asuransi komersial itu hanya 5%. Nah, jadi ee saya ingin menyampaikan data ini ke teman-teman asuransi komersial bahwa meskipun asuransi komersial itu cukup besar, tapi kita itu cuma 5%. Jadi kalau 5% kita harusnya tahu diri bagaimana kita men-drive behavior dalam ekosistem kita yang sebelah kanan. Teman-teman itu adalah eh slide kecil itu. Itu adalah eh data survei dari eh beberapa apa namanya medical trend eh report. Yang ini adalah dari EON. Di tahun 2023, Teman-teman, inflasi medis kita itu Indonesia sekitar 10,3%. Ini net, ini net dari inflasi ee umum yang ada sekitar 3 kom ee ee 3%. Ini naik dari tahun lalu 2022 itu, Teman-teman, sekitar 9,4. 2025 proyeksinya itu adalah 13,6%. Jadi akan suram, Teman-teman, tahun ini. Dan ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Kalau Teman-teman lihat di bawah itu ee tren yang sama terjadi di seluruh dunia. Nah, jadi ee ini adalah masalah yang sangat besar yang memang harus dipikirkan teman-teman, bagaimana caranya kita kemudian melakukan sesuatu untuk ee memastikan bahwa setiap uang kita keluarkan itu benar-benar ada fungsinya, ee efektif dan efisien untuk bisa membantu kita menyehatkan bangsa kita. Nah, ini adalah ee beberapa survei teman-teman dan kami kumpulkan memang eh dua eh cost driver terbesar itu ada pada cara memberikan layanan medis dan layanan obat. Jadi, ada kecenderungan overutilisasi ketika ee ee layanan medis diberikan dan layanan obat diberikan. Dan ini sudah 20 tahun terakhir survei menyatakan bahwa ini menjadi top eh driver dari ee biaya kesehatan. Ada laten exposure, Teman-teman, dan ini tidak bisa dipungkiri. Ini adalah ee yang memberikan ee dampak sehingga inflasi medis itu yang saya sampaikan tadi naik ee signifikan. Yang pertama, kebiasaan hidup ee orang gitu ya. Dan di Indonesia ini memang kebiasaan hidup kita untuk bergerak itu ee masih perlu terus didorong gitu ya. Itu sebabnya kalau kebiasaan hidupnya tidak sehat maka dia akan mengkontribusi bukan hanya biaya kesehatan saat ini, tapi biaya kesehatan masa depan yang nanti akan ee incur ketika dia sudah semakin tua. Yang kedua, Teman-teman, dan ini ee dari diskusi kami dengan beberapa regulator di kawasan Asia kita kemudian mendapati, Teman-teman, bahwa ee ada concern di gap ee mengenai pembiayaan pensiun kita. Dan berdasarkan data yang ada dan kalau kita diskusi dengan teman-teman regulator di seluruh Asia ini ternyata tidak ada satupun negara yang kemudian menyatakan bahwa akumulasi dana pensiun yang sudah disiapkan sekarang ini itu ada unsur ee ee apa namanya alokasi untuk biaya kesehatan. Jadi, tidak ada satu pun di negara di ASN ini yang mengakumulasikan untuk dana pensiun itu ada porsi biaya kesehatan. Padahal kita ee tahu ketika kita usia makin tua, under deal-nya makin perlu diservis gitu ya. Dan itu hanya bisa dilakukan di ee fasilitas kesehatan. Jadi, teman-teman ini ada ee ee hal-hal yang seperti ini yang memang akan ee secara laten osurnya makin gede dan ini yang membutuhkan ee ee pertimbangan-pertimbangan dan effort yang perlu kita lakukan. COVID-19, Teman-teman. Ini juga merubah landscape, karena ada beberapa ee diagnosa yang mungkin muncul karena memang ada beberapa kebiasaan kita pada saat COVID itu yang kemudian ee men-trigger beberapa diagnosa baru yang muncul yang memang ee membutuhkan layanan kesehatan yang ee lebih besar. Dua di antaranya, teman-teman, itu adalah terdampak pada diagnosa untuk jantung dan juga untuk kanker. Dan memang ini yang sekarang muncul yang yang mungkin menjadi salah satu penyebab kenapa tadi inflasi medis itu meningkat tahun 2024 dan diproyeksikan tahun 2025 meningkat signifikan. Apa yang kita lakukan, teman-teman di OJK, kami melihat bahwa memang ini ee sesuatu hal yang perlu kita lakukan bersama dan memang kita perlu membenahi sekali lagi dengan tujuan, teman-teman, bagaimana caranya kita memastikan bahwa inflasi medis itu bisa terkendali dan kalau mau mengendalikan itu tidak bisa hanya sekedar kita kontrol di claim, kita perlu melihat, mengidentifikasi hal-hal yang perlu kita lakukan supaya kita bisa memastikan bahwa kebiasaan ini ee pemberian layanan medis dan layanan obat ini bisa mengkontribusi kepada efisiensi biaya medis yang ada di Indonesia. Ada tiga hal, Teman-teman, yang kami ee ee muat dalam PADK ini. Yang pertama adalah tadi sudah disampaikan ee yang kami sebut dengan kemampuan, kapabilitas digital. Jadi, kita sangat berharap bahwa ee perusahaan asuransi nanti yang akan menjual ee ee produk asuransi kesehatan itu harus memiliki kapabilitas digital dan itu dibuktikan dengan kemampuan dia untuk terkoneksi dengan ee apa namanya rumah sakit untuk mendapatkan data secara digital secara berkala. Kita belum berbicara mengenai host to host, teman-teman, tetapi memang end state-nya kita berharap ada host to host yang bisa membantu kita. Tetapi kondisi sekarang ini yang kita minta adalah kapabilitas digital supaya bisa ada transfer data secara digital supaya eh database itu bisa kita collect dengan baik secara berkala dan tidak perlu menunggu lama karena digital itu memampukan kita dengan cepat dan itu yang kita sangat berharap data-data ini bisa kita kumpulkan dari eh provider yaitu Paskes dan eh Paskes yang memberikan layanan medis. Teman-teman, kita juga meminta perusahaan asuransi untuk punya eh center, contact center gitu ya, ini untuk membantu ee query dari rumah sakit maupun query dari ee ee pemegang polis atau nasabah ketika mereka menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan ee ee layanan medis mereka. Yang kedua, kita ee mensyaratkan ee perlunya kapabilitas secara medis. Nah, Teman-teman, kita di dalam diskusi kita kemudian melihat bahwa memang ee kapabilitas medis ini perlu kita ee terjemahkan gitu ya. Nah, Teman-teman, di dalam ee struktur peraturan di OJK memang ee yang dimaksud dengan ee tenaga ahli ini tentu harus ada sertifikasinya gitu ya. Dan kita memang melihat bahwa sertifikasi ini yang kita atur sekarang ini itu harus di-endorse oleh asosiasi gitu ya. Nah, memang di dalam e perjalanannya kita melihat bahwa khusus untuk kapabilitas medis ini ee kita belum punya ee yang secara meyakinkan itu bisa memenuhi yang kita lihat gitu ya. Nah, itu sebabnya kemarin dalam diskusi teman-teman yang sudah kita ee lakukan selama setahun terakhir ini kita kemudian up dengan beberapa asosiasi yang mungkin bisa membantu kita untuk apa namanya menyediakan kapabilitas ini meskipun mungkin sampai sekarang prosesnya sedang menuju untuk di-endorse oleh asosiasi. Jadi, ee kemarin dalam diskusi kita, teman-teman, kemarin kita baru meeting dengan beberapa asosiasi itu dan ee pelaku ee Pamzaki salah satu yang kita lihat memang ee punya kompetensi untuk bisa membantu kita menyediakan para expert, bagaimana mengelola ee ee jaminan dan asuransi kesehatan ini. Kemarin kita bicara juga loma misalnya gitu ya. Ee, tapi kita pengin pastikan bahwa ee ada hal-hal yang memang kita inginkan itu memang diajarkan di sana. Jadi, kami mendorong teman-teman asosiasi ini untuk ee ee menyampaikan kepada kami kira-kira hal-hal apa yang sudah dibangun di dalam expertise ini untuk nanti kita lihat karena memang di dalam PADK ini, teman-teman, kita memang mensyaratkan bahwa ee nanti ee kami bisa kemudian endorse beberapa ee apa namanya asosiasi ini untuk menyediakan kepada kita expertise yang kita butuhkan. Nah, tujuannya apa, teman-teman? Expertise ini kita berharap bahwa expert eh ada di asuransi kesehatan ini yang punya medical capabilities ini untuk bisa melakukan review terhadap database yang dikumpulkan tadi. Jadi, terminologi utilization review, Teman-teman, ini akan kita dorong supaya Teman-teman di perusahaan asuransi ini punya kapabilitas itu. Mengolah data yang ada dari ee data digital tadi. Kemudian mengkomunikasikan kepada rumah sakit secara berkala, ini loh diagnosa ini. Ternyata Bapak ee rumah sakit A itu butuh 10 penunjang, rumah sakit B ternyata cuma 5 penunjang. Kenapa? Nah, Teman-teman, proses ini yang kita berharap banyak nanti ke depan akan membantu reshaping cara rumah sakit, cara faskes itu memberikan layanan medis dan layanan obat. Karena sekali lagi di situ letak bagaimana caranya kita kemudian bisa ee memastikan ada efisiensi. Kita mensyaratkan ada MAB, Teman-teman, medical advisory board ini. Tujuannya supaya mereka nanti membantu eh expert medis yang ada di perusahaan asuransi ini untuk bisa ee memperkaya data-data yang ada di dalam ee apa namanya perusahaan asuransi ini untuk dalam memberikan eh masukan melalui proses utilization review tadi. Fitur produk, Teman-teman, kita berharap ee nanti dan kita mensyaratkan perusahaan asuransi itu harus punya fitur produk yang ee eh imbet risk management yang baik dan salah satu yang kita dorong, Teman-teman, adalah copayment tadi. Jadi, eh copayment ini nanti harus ada untuk out-patient maupun in-patient di rumah sakit. Jadi, dengan terminologi ini memang kita mau exclude eh yang ada di klinik pratama gitu ya, di FKTP. Kenapa? Karena kita memang pengin mendorong teman-teman supaya proses alur layanan ini kalau bisa kita mendorong ee masyarakat Indonesia itu mulai memanfaatkan klinik pratama, FKTP ini supaya mereka bisa menyelesaikan ee apa namanya ee hal-hal yang simpel, diagnosa-diagnosa yang ringan tuh di klinik, tidak perlu ke rumah sakit sebenarnya. Nah, ini hal-hal yang mau kita dorong, Teman-teman, dengan adanya ee ee produk ini. Satu lagi, kita ingin memastikan bahwa produk yang dijual oleh perusahaan asuransi ini itu memiliki fitur yang eh kompatibel nanti dengan KAPJ. Eh, kalau sekarang istilahnya cornional benefit, coordination of benefit, Teman-teman, itu adalah salah satu unsur dari KAPJ ee ee kerja sama antar penyedia jaminan. Jadi, kita pengin mendorong bahwa produk perusahaan asuransi ini harus kompatibel dengan itu supaya kita bisa mendorong bersama-sama. Kenapa, Teman-teman? Karena tadi yang saya sampaikan, kapal asuransi komersial itu kan cuma 5%. Kapal induknya itu sebenarnya men-drive ini itu ada di BPJS kesehatan. Jadi, kita pengin supaya kita bisa bersama-sama bekerja itu mendorong perilaku yang baik yang ada di fasilitas kesehatan itu untuk bisa menjadi lebih lebih efisien dan salah satunya adalah KPJ ini. Di samping itu, Teman-teman, kita ee lagi mendorong dan ini perbincangan Pak hangat dengan asosiasi, bagaimana kita bisa membentuk database. Jadi, gunanya database ini adalah untuk kita bisa collect data eh apakah tahap pertama asuransi kumpulan saja dulu atau nanti kita bisa expand ke individu untuk membantu perusahaan asuransi melakukan rescoring. Jadi, ee sekarang ini, Teman-teman, di pasar kita itu cukup banyak.
Perusahaan-perusahaan yang jajan asuransi kesehatan itu ya. Tahun ini dia ke tempatnya Bu Jeni di Mandiri Inhealth, itu loss rationya misalnya 150% gitu ya. 6 bulan berjalan, dia sudah tahu 150%, preminya akan naik. Dia lari ke tempatnya Pak Diway gitu ya, Jasindo, tolong dong cover berapa loss ratio 80% gitu ya. Pak Duyu mau cek, enggak ada datanya. Teman-teman minta ee kepada ee apa namanya ee ee perusahaannya, pasti enggak dikasih oleh Bu Jenny. Woh, ini mau ambil nasabah saya gitu ya. Jadi kita mau bangun, teman-teman, database ini supaya database ini bisa terkolek, supaya ada rescoring. Jadi sebenarnya perusahaan asuransi ini juga ee harus mementengi diri. Nah, caranya bagaimana adalah dengan database ini. Nanti database ini kalau ada teman-teman, maka OJK akan endorse setiap perusahaan asuransi yang menjual perusahaan asuransi kesehatan itu untuk melaporkan loss ratio. Jadi kita mungkin bicara ada ID perusahaan, kemudian berapa preminya, berapa klaim, dan berapa loss ratio. Cukup sampai di situ. Nanti perusahaan yang mau nutup itu harus melihat database itu. Jadi ini mirip-mirip SLIK, e Bapak Ibu, yang mau kita fungsikan. Tetapi memang ini kita berharap bahwa asosiasi menginisiasi database ini.
Kita mendorong ee healthy lifestyle ini didorong oleh perusahaan asuransi, teman-teman. Perusahaan asuransi kan punya mobile apps gitu ya. Bagaimana teman-teman ee memfokuskan untuk bisa mendorong mobile apps ini bisa ee kemudian di dibaca oleh nasabah-nasabahnya. Tahun lalu itu, setahu saya dari database-nya AAJI sendiri, ada 85 juta ee pemegang ee insur itu ya, tertanggung untuk asuransi kesehatan. Jadi kalau kita bisa, teman-teman, setiap hari bombardir mereka dengan cara hidup yang sehat, harusnya ada dampaknya. Dan kalau kita bisa mendorong gaya hidup yang sehat ini, ini artinya kita memitigasi timbulnya ee biaya klaim yang besar di masa yang akan datang.
Dan yang terakhir, teman-teman, kita memang mendorong untuk ee ada ee pemikiran-pemikiran baru, terutama dalam mengembangkan FKTP gitu ya, eh digital consultation, teman-teman. Camon COVID itu sebenarnya kita sudah pakai, dan tempatnya Paksan ini sedang mencari cara bagaimana cara mengaktivasi kembali peraturan-peraturan ini supaya teman-teman, kalau mungkin kita punya digital consultation baik kepada GP eh kita menyebutnya telekonsultasi maupun kepada spesialis di telemedicine di rumah sakit, kalau kita bisa fungsikan ini, itu kita bisa memfilter cukup banyak ee apa namanya ee mendorong efisiensi karena ada biaya-biaya yang tidak perlu perlu dan juga ee keribetan yang tidak perlu kalau orang harus datang ke fasilitas kesehatan. Jadi ini tujuannya adalah supaya kita bisa kemudian memastikan teman-teman bahwa ee biedis ini bisa kita kontrol dengan baik. Dan ini kami ee terus berdiskusi dengan teman-teman di Kementerian Kesehatan di depan Pakistan ini supaya ee kita bisa mendorong ee ini bisa kemudian masuk dalam skema JKI. Nanti kita bicara dengan Pak Afdal bagaimana cara memasukkan, mungkin bukan sekarang, teman-teman, tetapi ee di beberapa waktu yang akan datang.
Yang terakhir, teman-teman, ini kami sedang mengupayakan juga ini dengan para KAPJ yang ee memberikan layanan medis untuk asuransi ee ketika terjadi kecelakaan di kita. Teman-teman itu ada ee BPJS ee tenaga kerja ini memberikan jaminan untuk asuransi ee ketika terjadi kecelakaan orang berangkat kerja atau peluang kerja kepada asuransi ee pegawai swasta. Kita punya jasa kerja yang menjamin ee ee pemberian layanan medis pada saat kecelakaan untuk seluruh masyarakat. Tetapi syaratnya harus kecelakaan ganda. Harus ada dua ee kendaraan yang tabrakan gitu ya. Jadi kalau tunggal enggak dicover. Taspen itu meng-cover ASN, eh para tentara kita itu dicover oleh Asabri, dan masing-masing punya. Jadi sekarang ini, teman-teman, masing-masing jalan sendiri. Ee BPJSTK kontrak dengan rumah sakit sendiri, BPJS ee Jasaraharja kontrak dengan rumah sakit sendiri. Padahal kalau kita bisa mengkonsolidasikan ini, teman-teman, dengan digital ini menjadi sangat baik. Jaringan rumah sakit yang paling besar itu adanya di BPJS kesehatan. Jadi kami sudah bertemu dua kali, ee kita sedang mendorong untuk memfinalisasi draf pertama, teman-teman, untuk kita bisa mengkonsolidasikan eh KAPJ ini khusus untuk ee layanan asuransi ee ketika terjadi kecelakaan, dan kita menyebutnya ini adalah model 1.0 kira-kira gitu ya, di mana kita punya ee digital hub, kemudian datang ke rumah sakit terdekat gitu ya. Dan rumah sakit terdekat itu sudah punya digital hub itu. Jadi dia pasti tahu siapa yang akan membayar pertama kali.
Selama ini, teman-teman, ketika terjadi kecelakaan ee masyarakat itu akan ditanya dulu itu kecelakaannya tunggal apa ganda, dan untuk itu harus ke polisi. Nah kita ee bisa mengkoneksi, teman-teman, dengan digital apps ini. Ee kita sudah diskusi yang dimiliki oleh ee Jasa Raharja ee bekerja sama dengan BPJS Kesehatan ini sepertinya sudah memadai. Tinggal kita connect dari kepolisian. Jadi begitu ee dapat ee kecelakaan, teman-teman, rumah sakit itu tentu akan bisa melayani dengan cepat. Kenapa? Karena dia tahu siapa yang akan membayar. Apakah itu Jasa Raharja pertama kali di depan atau ee bisa Taspen, bisa Asabri, bisa BPJSTK tergantung dari ID-nya dan ee ee kita kenali dia itu apakah pegawai swasta, apakah dia pegawai pemerintah atau tentara gitu ya. Dan ini kalau memang bukan ketiganya, tentu BPJS kesehatan yang di depan. Jadi, teman-teman, kita ee dengan inisiatif ini bukan kemudian mau coba mengkota-kotakan klaim, tetapi kita ingin bahwa layanan ee ini menjadi lebih baik kepada masyarakat, sekaligus kita membenahi ee layanan kita. Dan kita sangat berharap Bapak Ibu, dengan adanya koneksi ini, maka layanan medis khusus untuk kecelakaan ini di rumah sakit itu dan layanan ee ee alkesnya, obatnya itu bisa lebih baik. Dan ini kami berpikir cara, salah satu cara untuk kita mendorong perilaku yang baik untuk e rumah sakit atau fasilitas kesehatan itu memberikan layanan medis yang berdasarkan clinical pathway dan layanan obatnya itu didukung oleh medikali efikasi yang baik. Jadi ee di dalam kondisi konteks ini, teman-teman ee juga ada MAB-nya, dan MAB ini ee kita punya ee sekarang ini di ee Jasaraharja sudah punya MAB, nanti kita tinggal imbet dari BPJS e tenaga kerja, Taspen dana Asabri dan BPJS kesehatan untuk punya MAB yang membantu melihat me-review gitu ya.
Nah, teman-teman, inisiatif ini kita sangat berharap ee bisa kita dorong terus, dan kami akan terus dorong ini ee supaya bisa terealisasi, supaya kita ee bisa dapat banyak hal. Pertama, layanan kepada masyarakat akan lebih baik karena seamless. Yang kedua, ee rumah sakit perilakunya bisa kita dorong dengan baik karena ada ee patokan-patokan yang baik yang bisa kita paksakan. Dan ketiga, sebenarnya, teman-teman, kita bisa mengefisienkan biaya karena di dalam skema ini, teman-teman, kalau sendiri-sendiri ada beberapa kasus di mana rumah sakit itu mencharge eh double gitu ya. Charge ke BPJS kesehatan, charge ke eh BPJS TK, charge ke Taspen gitu ya. Dan yang kedua, sebenarnya kami juga ingin ee mengajak teman-teman dari Asosiasi Asuransi Komersial, teman-teman bisa memanfaatkan ini, terutama mungkin yang berkaitan dengan BPJS Tenaga Kerja karena teman-teman juga mengasuransikan karyawan swasta gitu ya. Jadi sebenarnya bisa masuk di sini. Jadi, teman-teman, ini effort yang kita berharap kita bisa lakukan bersama dan ee kami sangat berharap bahwa effort ini bisa mulai men-drive kita, mendorong ee perilaku-perilaku yang baik untuk pemberian layanan medis di rumah sakit dan pemberian obat yang ee didukung ditopang oleh medikalifikasi yang memadai. Saya stop sampai di sini dan eh terima kasih banyak untuk e kesempatan kita bisa berdiskusi. Ee terima kasih Pak Wombang untuk waktu ini. Nanti katanya Pak Afdal akan segera menyusul juga untuk membuat mempertemukan kita gitu ya, atas tadi perintah Pak Irsan gitu ya. Kita akan ee mengumpulkan ee asosiasi baik asuransi rumah sakit nanti akan difasilitasi oleh Kemenkes, BPJS Kesehatan dan OJK gitu ya untuk kita mencari cara, teman-teman, bagaimana mendorong KAPJ ini.
Mungkin demikian ee ee ee presentasi saya dan ee jika ada lain kurang berkenan Bapak Ibu mohon dimaafkan. Ee selamat ee berdiskusi dan ee saya tutup. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih banyak Pak Iwan atas… Oke, terima kasih banyak Pak Iwan. Iya. Ee Bapak Ibu sekalian, tadi kita sudah mendengarkan ee kira-kira PADK Bapak Ibu sekarang bukan lagi RSOJK tapi rancangan PADK yang akan ee segera diluncurkan oleh OJK. Namun demikian, ee Bapak dan Ibu ee kita belum ada ee sesi diskusi karena masih ada narasumber-narasumber lain yang akan kita undang. Silakan Pak Putu. Iya. Nah, setelah keynote speech disampaikan oleh Pak Iwan Pasila, saatnya sekarang kita ee Bapak Ibu dan teman-teman sekalian mengundang ya panelis atau narasumber yang akan ee memberi insight dan kemudian kita undang mereka nantinya untuk berdiskusi gitu ya, memberi ee respon terhadap perencanaan PADK ini. Yang pertama ee kita undang ee Bapak Ahmad Irsan Amuis sebagai Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kita kasih tepuk tangan. Silakan Pak Irsan. Nah, Pak Irsan ini punya pengalaman panjang di bidang pembiayaan publik, perlindungan sosial dan kebijakan fiskal. Jadi ee sebelumnya beliau juga menjabat sebagai Direktur Pusat Kebijakan Desentralisasi dan Pembiayaan Kesehatan di Kementerian Keuangan ya, bergelar PhD ya dari ee Universitas Indonesia di bidang ekonomi dan magister perencanaan dan kebijakan publik, juga mengikuti executive education ya, Pak. Pernah di Herford. Jadi terima kasih Pak Irsan sudah hadir.
Yang kedua, narasumber berikutnya iya Pak Di Novara. Beliau mewakili dari AAUI. Eh silakan Pak, applause untuk Pak. Bapak Ibu sekalian untuk Pak Diw. Beliau saat ini ee adalah direksi di Jasindo, kemudian juga ee pendidikan di Sarjana Teknik Universitas Sriwijaya dengan gelar ee magister Manajemen di Universitas Cubuana dan juga ee sertifikasi di ahli asuransi kerugian, kemudian QIP, kemudian juga ANZF, kemudian CIP, kemudian juga dari Australian and New Zealand Institute Insurance eh Finance. Eh selain sertifikasi di bidang risiko, rajin belajar Pak DW. Banyak gelarnya. Oke, berikutnya kita undang ee narasumber dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, Ibu Ita Fransiska Mardiana Rusita. Kita kasih applause untuk Ibu Ita. Bu Ita ini actually senior, pengalaman lebih dari 30 tahun di industri asuransi jiwa. Eh actually-nya dari MIPA UI. Wah, kita banyak UI nih di depan sini ya. Oke, sekalian reuni ya. Sekalian reuni kita. Karirnya dimulai dari Winterthur, pernah juga di Zurich, ee di Hanwha, sekarang di mana Pak Ita? Di Hanwha sekarang ya. Oke. Ee jadi pengalamannya panjang ya. Ee saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Pertanggungan di Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, yang Mbak Ita ya. Terima kasih sudah hadir. Sekali lagi tepuk tangan untuk Ibu Ita. Bapak Ibu, Teman-teman. Baik, yang berikut narasumber kita yang luar biasa adalah Bapak Dr. dr. Andi Afdal Abdullah, Mbaak dan gelar panjang lainnya. Beliau ada direksi dari BPJS Kesehatan sekaligus Ketua Umum PAMJAKI. Jadi saya perkenalkan beliau adalah ketua umum PAMJAKI, ee pendidikannya dokter tentu saja, dengan juga terakhir gelar doktornya dari Universitas Indonesia dan beberapa gelar ee dari ee sertifikasi khususnya di asuransi kesehatan dan juga di risk ee manajemen. Oke, Bapak Ibu, teman-teman sekalian.
Kemudian narasumber yang berikutnya ini wanita juga, enggak kalah cantik dan manis dari ee Mbak Ita, Mbak Mira. Nama lengkapnya Emira E. Upangat sebagai wakil ketua Perhimpunan Dokter Pembiayaan Jaminan Sosial dan Perasuransian Indonesia atau PERDOKJASI. Applause untuk Mbak Mira. Beliau punya pengalaman profesional yang panjang, lebih dari 28 tahun di asuransi jiwa dan kesehatan. Ee pastinya dokter ya, Dok Emira dari… Oh ini arek Suraboyo, dari Airlangga. Oke. Em, banyak gelarnya juga. Eh thank you Mbak Mira sudah hadir. Banyak yang belum kenal PERDOKJASI ya. Nanti nanti ee dr. Emira akan sampaikan ya, bagian dari ide ee apa yang bisa kita sharingkan nanti dari PERDOKJASI. Dan terakhir, last but not least, tentu saja dari Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia, Bapak Fajaruddin Siombing. Kami persilakan Pak Fajar. Pak Siombing, tepuk tangan untuk Pak Siombing ya. Eh beliau ee di beberapa perusahaan ee sebagai komisaris di PT ISM PERSI, kemudian direktur di PT Karya Unggul. Ee dan tentu saja nanti beliau akan sharing tentang kita bagaimana kesiapan rumah sakit khususnya rumah sakit swasta atas ee implementasi dari PADK asuransi kesehatan ini. Oke, thank you semuanya narasumber. Sebelum kita kasih ee floor ini kita serahkan kepada mereka ee kita karena juga jangan lupa Pak, mengundang juga dari OJK walaupun Pak Iwan tadi sudah keynote speech, mohon perkenan Bapak Muhammad Amsori untuk hadir bersama-sama kita karena nanti diskusinya izin ya Pak Iwan, kami mengajak Pak Ansori untuk diskusi di depan karena pastinya ee nantinya juga akan ee ada arahan dari ee regulator dari OJK dalam… Kami persilakan Pak Ansori. Oke, silakan Pak Ani. Oke, sebelum kita mulai karena Pak Iwan ada akan stay ya… Iya, ada hal jadi hal lain jadi harus meninggalkan tempat. Jadi kita akan sesi foto bersama ee sekaligus pemberian plakat ya dari APRI kepada Pak Iwan. Begitu? Betul panitia ya? Ya, kepada Pak Iwan, silakan Pak. Iya, sekalian kita foto bareng aja, sekalian sekalian foto bareng kita Pak. Kita maju dulu Pak. Iya, di tengah Pak. Tengah Pak. Pak Kapler. Pak Kapler. Silakan Pak Kapler, silakan di tengah Pak. Pak Iwan. Pak Bambang. Sama-sama teman-temannya kita berapa… Iya, Pak Kapler. Saya di pinggir aja. Oke. Oke, semuanya lihat 1 2 3. Lagi 1 2. Semangat. Oke, semangat. Oke. Oke. Thank you. Thank you Pak Iwan Pasila. Sehat selalu Pak. Makasih banyak. Oh, ada lagi. Oh iya, ada ada plakat ya. Oke, ada plakat. Siap. Kita kita saksikan. Waduh Pak. Oke. Thank you. Thank you Pak Iwan ya. Makasih banyak. Thank you Pak. Thank you Pak. Oke. Oke. Bapak Ibu, Saudara dan Teman-teman sekalian, kita lanjutkan. Kalau tadi kita sudah dengarkan keynote speech ya dari Pak Iwan, sekarang kesempatan kita berikan kepada narasumber ya ee Bu Jeni untuk masing-masing bisa memberikan ee paparan terkait dengan situasi di masing-masing sektor yang Bapak Ibu sekarang wakili gitu. Ekspektasinya apa, kemudian challenge terhadap rencana POJK seperti apa, antisipasi maupun responnya. Kita akan mulai dulu dari PADK, Pak. Saya koreksi, PAD… Oh PK. I siap ya. I ya ya. Siap siap siap. PAD baru soalnya. Oke, kita undang pertama adalah yang memberikan tanggapan dari Pak Irsan dulu dari Kemenkes, Kementerian Kesehatan. Silakan Pak Irsan, sebagai regulator juga nih. Regulator dulu. Iya. Siap. Baik, terima kasih Bapak Ibu semua. Salam hormat, salam kenal. Minal aidzin wal faizin ya, masih lebaran. Ee terima kasih kami di apa ya, diajak masuk dalam ekosistem ini ya. Karena ee jujur saja ee dunia insurance juga selama ini ee sangat support karena tadi yang disampaikan Pak Iwan, ee National Health Account itu adalah produk dari kami dari Kementerian Kesehatan, khususnya Pusjak Pembiayaan Kesehatan. Ee sekalian, saya ini kesempatan mengkoreksi nomenklaturnya sudah berubah, Bapak Ibu. Tidak lagi, tidak lagi Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Desentralisasi Kesehatan, tapi Pusat Pembiayaan Kesehatan saja. Kita dikonsernkan oleh Pak Menteri untuk mengases segala hal terkait pembiayaan kesehatan di Indonesia. Nah, kami sangat merespon positif SO PAD ini yang akan dirilis oleh teman-teman di OJK, dan kita memang sebelum ini sudah intens berdiskusi dengan Pak Iwan, Pak Ogi gitu ya, Kemenkes dan OJK. Seingat saya sejak pertemuan KKSK di Labuhan Bajo dulu gitu ya. Nah, yang kami harapkan dari PADK ini adalah nanti PADK ini bersifat komplemen gitu ya, dengan Keputusan Menteri Kesehatan nomor 1366/2024 yang sudah kami rilis terkait peluang koordinasi antar penyelenggara jaminan. Kalau bahasa industrinya mungkin COB, Pak. Cuman kami karena birokrat tentu mengikuti nomenklatur ee tata kelola regulasi yang ada di regulasi yang ada. Karena kita kan tidak bisa masuk industri swasta, kami hanya bisa di JKN-nya, regulator JKN. Cuman kalau kita mau jujur, seperti yang disampaikan tadi, JKN itu bisa dibilang porsinya sangat besar dalam ee kesehatan. Tadi 27,8% dari National Health Account 2023 dan asuransi swasta kan sekitar 5%. Artinya memang ee peran dominannya kalau kita saya pakai perspektif industri swasta, ee leading sektor marketnya ya memang JKN gitu. Sehingga saya sering diskusi sama teman-teman di BPJS, Pak Abdal tadi juga, apa yang akan dilakukan pemerintah dalam program JKN ini tentu akan direspon oleh industri gitu. Tadi Pak Iwan juga menyampaikan hal yang sama. Nah, tentunya memang ee KMK 1366 ini ee setelah kita diskusi panjang dengan berbagai stakeholder membutuhkan ee penyesuaian mungkin ya, dengan dinamika terkini. Oleh karena itu, ee mumpung ini PAD yang akan keluar ini apa belum dirilis gitu ya, nanti kita berharap ada dukungan dari situ sehingga sifatnya nanti saling mengisi, tidak saling cancel out. Itu yang pertama.
Kemudian kembali ke tujuan seminar ini, kalau saya baca judulnya kan sangat provokatif ya, Pak ya, Quo vadis asuransi kesehatan di Indonesia gitu. Nah, tentunya kalau kita bertanya kita mau ke mana, yang paling penting yang kita ketahui adalah saat ini kita ada di mana kan gitu. Nah, ini yang harapan kami ee bisa berkontribusi, memposisikan ee sebagai regulator, memberi gambaran besar kepada Bapak Ibu yang pelaku asuransi kesehatan, sebenarnya Bapak Ibu ada di mana. Ee sebenarnya saya punya paparan, tapi karena saya tadi kemarin dihubungin panitia tidak perlu paparan jadi saya enggak sajikan. Tapi sebagian besar ee ee ini bisa saya sampaikan seperti ini bahwa dari 614 triliun belanja kesehatan nasional itu 27,8%-nya dari JKN, 5%-nya asuransi swasta. Tapi kita masih punya 28,6% OOP, Bapak Ibu. Oke. Nah, ini menurut saya opportunity. Kalau asuransi kesehatan mau ke mana ya, kejar 28,6% ini OOP ini. Di sini kami berharap, nah, mengejar OOP ini ya tadi bareng-bareng dengan program JKN dengan BPJS gitu. Kenapa? Bukan karena kami dari ee pemerintah sehingga pengin dorong itu tidak supaya market ini bisa disinergikan antar ee pelaku swasta dan pelaku pemerintah. Secara cakupan populasi kita yang saat ini 280-an juta itu 98%-nya adalah peserta BPJS kesehatan. Jadi hanya tinggal 2%, Bapak Ibu. Jadi kalau Bapak Ibu tidak bergandengan dengan BPJS ini sangat sempit marketnya, 2%. Kemudian Bapak Ibu akan sangat kompetitif juga bersaingnya karena tadi saya diskusi juga, kemudian banyak banget ya ternyata perusahaannya pelakunya gitu. Nah, daripada Bapak Ibu berebut remeh-temeh gitu ya, akhirnya ujung-ujungnya cost lebih besar pada sales atau income yang bisa diperoleh, kenapa tidak bersinergi? Itu satu. Kedua, yang 2% ini pun kalau kita petakan ini dia di titik ekstrem, biasanya yang belum jadi peserta BPJS pertama dia either dia sangat low income atau sangat di remote area atau dia sudah highest one gitu ya. Mungkin kayak Cipung gitu ya, Gisel gitu ya kan itu ya, yang bisa kita kejar gitu. Tapi atau siapa, cucu Pak Jokowi, Jan Ethes gitu kan, seperti itu atau sekalian yang sudah siapapun tetangganya sudah enggak kenal juga gitu, yang sangat remote area ini kan semakin sulit buat Bapak Ibu marketnya. Oleh karena itu, 2% ini bareng-bareng saja dan mending fokus di… biar itu jadi tugas Pak Afdal ya, sebagai e direktur BPJS Pak ya, bukan sebagai ketum, bukan pamjakinya gitu. Nah, 28%-nya ini bisa bareng-bareng. Bahkan 28%-nya tadi atau setara 175,5 triliun tadi. Bahkan menurut saya yang 27,1% dari pengeluaran spending JKN itu juga part yang bisa dikolaborasikan menurut kami. Iya kan, jadi marketnya malah lebih besar kalau mau bareng-bareng.
Berikutnya kami menyampaikan kondisinya juga biar Bapak Ibu tahu kan, kalau kita mau ke mana itu kan banyak pilihan, tidak hanya tujuannya tapi kita vehicle mau kita pakai apa kan gitu. Oleh karena itu, vehicle ini kan tergantung cost atau kapasitas ee finance yang ee keuangan kita punya. Nah, kalau kita lihat tadi sudah singgung Pak ee Iwan juga, inflasi kita tuh tinggi banget. Data kami itu 2023 13,6%. Padahal kalau kita lihat PDB Indonesia growth kita itu more less 5%-an. Iya kan, artinya kita selalu lebih besar pasak daripada tiang gitu. Iya, Bapak Ibu, tiap tahun gajinya naik 5% tapi biaya kesehatan Bapak Ibu naik 13,6%. Tapi ini kan data agregat ya. Makanya kami akan sajikan data-datanya nanti ini. Ee cuman secara agregat makronya seperti itu. Nah, ini yang harus kita kendalikan. Nah, kendalikan ini kan bisa dari sisi biaya, bisa dari sisi mutu kalau menurut saya. Karena kalau mutunya tinggi ini lebih bisa ditekan, dia lebih efisien. Kemudian mungkin yang kita lihat OOP itu ke mana aja. Nah, ini kan yang penting ya. Iya. Yang 28,6% tadi itu ke mana aja sih keluarnya? Kalau kita lihat itu masih di dominan ee 79,5 triliunnya di 2023 atau 45,3%-nya itu OP itu tadi di rumah sakit. Jadi kalau Bapak Ibu mau main ya di situ tuh, di rumah sakit itu opportunity. Kemudian 63,7 ee triliun atau 36%-annya itu di FKTP, 26,4% itu obat, toko obat, apotek segala macam. Sementara kalau yang itu kecil, 3,4% itu toko Alkes dan Alkes biasanya CC supply site itu pemerintah eh playernya. Nah, Bapak Ibu bisa main di situ, memfokuskan diri gitu, mau di mana? Mau di obat-obatannya, apakah penjaminannya, mau di layanan rumah sakitkah atau layanan di tingkat pertama gitu. Harapan kami kalau industri asuransi kesehatan mau main gitu ya, di level layanan tingkat pertama ini sangat membantu mengendalikan biaya, Bapak, inflasi. Karena apa? Secara umum kan keluhan yang kami hadapi di ee implementasi KMK 66 itu adalah rujukan berjenjang kan, masyarakat tuh ah malaslah kalau pakai JS ya, ngapain langsung karena harus ke FKTP dulu ini. Tapi kalau kenapa? Karena FKTP-nya belum beri solusi kan. Once FKTP-nya bisa memberi solusi, layanannya juga sophisticated, saya pikir masyarakat akan ya ngapain saya harus ke rumah sakit, ke FKTP saja kan gitu. Itu yang pertama untuk penyakit-penyakit yang mungkin tidak ee yang kompleksitasnya tinggi ya, tapi kompleksitas pas di rumah sakit. Kedua, kalau kita lihat OOP masyarakat itu spendingnya ke mana saja, Bapak Ibu, itu kuratif rawat jalan sebenarnya paling banyak itu 53,7% eh 53,7 triliun di 2023. Jadi kalau Bapak Ibu mau sedang mendesain polis underwriting-nya, monggo dirawat jalan, rawat inap di bawahnya sedikit yaitu 52,3 triliun. Kemudian di preventif sama obat preventif itu 37,1 triliun atau 21%-an dan diobat itu 32,4 triliun atau 18,4%. Jadi underwriting Bapak Ibu bisa di sana gitu. Nah, beberapa kali saya diskusi sama Aji, AUI dan ini kendalanya kan di situ. Karena Bapak Ibu biasa main di indemnity katanya. Sementara JKN itu manage care. Gimana Pak, underwriting kami buat polisnya? Saya sudah sangat terbuka main ke Pusat Pembiayaan Kesehatan. Kami kasih Bapak Ibu datanya. Tinggal habis itu ya, Bapak Ibu yang lebih ahli kan sudah dikeluarin Pak Ketum, sertifikasi apanya asuransinya Pak ya. Dengan data yang tadi itu, opportunity tersebut Bapak Ibu bisa main di mana atau bahkan Bapak Ibu bisa berdiskusi di asosiasi. Oke, kami mainnya di obat. Kami yang di sini mainnya di ee preventif. Kami rawat jalan, rawat inap kan gitu ya. Habis itu Bapak Ibu sudah clear, ketemuin Pak Afdal. Pak Abdal, kalau ini bisa biar berjodoh dengan JKN-nya gimana ya, Pak Abdal kan gitu. Jadi gitu itu peluang dari OP. Nah, berikutnya kita enggak bisa tutup mata yang ngeluarin OP ini kelompok masyarakat mana kan gitu. Nah, kami bagi per kuintil, 5 kuintil ya. Ee ternyata OOP paling tinggi itu memang di masyarakat Q5, artinya 20% penduduk kelas atas kita. Tapi bukan berarti yang di bawah itu enggak enggak enggak punya OP. Q5 itu 98,3 triliun, 56%-nya, tapi 32,1%-nya itu ada di Q4. Berarti ee masyarakat 20 ee desil 7 dan 8 itu OP-nya tinggi. Termasuk yang Q3, 20,9 triliun atau sekitar 12%. Artinya kalau kita bicara 60% masyarakat Indonesia itu OOP gitu, masih banyak mengeluarkan OOP, masih berkenan dia keluar duit gitu untuk biaya kesehatannya. Artinya itu sudah level desil 6 ke 10, 14 itulah PBI gitu ya, Bapak Ibu, ngapain masuk kan di situ ya, biar negara saja sesuai mandat konstitusi hadir buat fakir miskin dan orang tidak mampu. Kemudian rata-rata OOP mereka ini dihabiskan untuk apa? Kalau dia Q5 itu banyak habis untuk rawat inap. Jadi semakin tinggi tingkat kesejahteraannya, rawat inapnya lebih banyak. Oke, siap. Nah, kemudian ee di berikutnya asuransi sosial. Saya mau nyatakan itu karena sudah ditegur waktunya. Tapi ini penting buat Bapak Ibu. Kemudian obat dan kesehat ee dan alkes ini mereka mau keluar duit sendiri gitu. Kemudian preventif. Preventif itu tinggi loh, Bapak Ibu, e OOP-nya baik dari ee Q1 sampai Q5 itu sekitar 20-an%, mereka OOP-nya itu untuk kegiatan preventif. Jadi Bapak Ibu bisa pakai itu. Nah, terakhir mungkin ke PADK, Pak ee eh Pak Mas Ansori, Pak Ansori. Karena seringnya Pak Pak Andrian kita diskusi. Ee kami titip ini Pak. Saya nanti enggak tahu juga minta pandangan Pak Afdal. Pemerintah kan sudah mengeluarkan pemeriksaan kesehatan gratis ya. Datanya itu ada loh. Iya kan, nah di PADK itu saya lihat ya masih ada masyarakat MCU untuk menekan cost, pakai aja data itu J. Nanti saya coba cek juga di internal kami apakah memungkinkan data itu kan karena ada kerasaan apa ee masyarakat, tapi mungkin Bapak Ibu kasih nama-namanya kami tinggal informasikan layak tidak layak gitu, sehat atau tidak sehat kan gitu ya. Sehingga ada K, jadi enggak perlu harus MCU dulu kan gitu ya. Nah, cuman atau kedua data BPJS, BPJS juga kan program JKN itu ada screening. Screening-nya bertingkat lagi yang self self service ya, self assesment dia berisiko atau tidak berisiko. Dan kalau dia berisiko baru dia menjalankan skrining lanjutan terhadap ee penyakit tertentu. Nah, kalau kita kolaborasi tadi saya bilang tadi dengan JKN ini, Bapak Ibu sebenarnya punya efisien bisa menekan cost Bapak Ibu itu sangat besar kos ya menurut saya dari sisi kacamata pemerintah. Mungkin itu. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak Pak Irsan atas paparannya. Tapi mungkin pasti ada diskusi nanti mengenai COB, KAPJ, mungkin Kris juga ya, Bapak Ibu sekalian. Nanti silakan dirais. Ee namun demikian mungkin kita minta dulu masukan dari regulator, walaupun tadi Pak Iwan sudah menyampaikan kira-kira konsepnya, tetapi juga tadi ada gayung bersambut, KMK 1366 tentang COB, KAPJ. Kemudian terakhir tentang ini atau ada hal-hal yang perlu distressing dari OJK, kami persilakan kepada Pak Ansori ya. Silakan Pak Sori kalau ada hal-hal yang memang mau diamb tambahan lainnya. Ee baik baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semuanya. Terima kasih Pak moderator, Pak Putu panggilannya Pak Putu Pak ya atau Pakul Pak. Bu Jeni. Ee baik, tadi ee para narasumber yang ada mungkin saya sebagai narasumber pengganti berarti ya atau meneruskan tadi Pak Iwan. Jadi sebenarnya secara umum apa yang disampaikan oleh Pak Iwan itu sudah meng-cover Pak ya. Jadi secara ee mungkin nanti saya coba akan sampaikan beberapa ee rencana pengaturannya seperti apa. Termasuk tadi Pak Ihsan juga sudah menyampaikan untuk ee terkait dengan masukan MCU ee mungkin langsung ee sebelum biar langsung ini ee ee tertata gitu ya, terstruktur. Saya coba yang pertama tadi ya, menerjemahkan tiga yang disampaikan oleh Pak Iwan terkait dengan tiga kapasitas: medikal, kapasitas ee digital maupun ee MAB, nanti ini ee yang pertama adalah persyaratan untuk asuransi baik asuransi umum maupun asuransi jiwa untuk melakukan bisa menyelenggarakan atau bisa menjual produk asuransi kesehatan memang harus memiliki ketiga itu Pak. Syarat mutlak pertama, syarat mutlak gitu ya. Jadi ee awalnya kita sudah sangat diskusi banyak masukan dari asosiasi ee akhirnya memang yang awalnya kapasitas digital itu host to host awalnya gitu ya, tetapi dengan masukan dari ee pelaku dan juga rencana ee tadi disampaikan oleh Pak ee Pak Putu ya bahwa memang atau Pak Bambang tadi ya bahwa rencana memang PADK ini posisinya masih dihub Pak, masih di departemen hukum kami. Artinya hasil di sini apabila tadi kayak Pak Ihsan tadi memberikan masukan kami masih bisa bawa. Jadi masih bisa masih bisa kita bawa untuk pembahasan dengan ee Departemen Hukum. Tapi memang ya waktunya enggak enggak enggak enggak lama nih karena minggu depan sudah dijadwalkan. Artinya ee hari ini kalau memang ada masukan-masukan kami akan coba sampaikan ke pimpinan dan nanti kami akan coba adjust pada saat diskusi dengan ee Departemen Hukum. Termasuk mungkin sedikit ee jumping sedikit dengan tadi…
Tanggap apa tanggapan dari Pak Iksan? Akhirnya, untuk MCU, Pak ee kita kembalikan sesuai dengan kebijakan underwriting masing-masing perusahaan. Jadi kewajibannya tidak ada, tidak, tidak dimunculkan gitu ya. Jadi akhirnya, ee masukan dari masing-masing perusahaan ini untuk asuransi individu ya, Pak. Untuk asuransi individu, MCU menjadi wajib itu menjadi agak lebih lengkap. Jadi tidak ee tidak secara eksplisit diwajibkan. Oke. Tetapi memang perusahaan wajib menerapkan prinsip kehati-hatian dalam rangka untuk manajemen risiko di ee pada saat penutupan asuransi kesehatan. Termasuk salah satunya tadi ya, menarik tadi Pak Hasan sampaikan informasi dari program wajibnya pemeta itu bisa di apa bisa dikolaborasikan juga dengan perusahaan asuransi. Artinya memang awalnya memang seluruhnya wajib untuk MCU ee karena memang ini kenapa di awal triggernya itu karena memang kita melihat memang banyaknya apa tingkat klaim rasio sampai di atas 100%. Artinya itu salah satu ee wacana dari OJK untuk mewajibkan MJO, tetapi kita sudah diskusi, banyak masukan dari asosiasi ee di draf terakhir gitu ya, ee itu sudah tidak diwajibkan, tetapi memang perusahaan wajib ee menggunakan MC itu berdasarkan ee analisa underwriting perusahaan. Kalau memang dirasakan memang harus ya, silakan dilanjutkan dengan MC. Kalau memang tidak ya, monggo. Apakah cukup dengan tadi ya, informasi dari Pak Iksan tadi ee dengan pemeriksaan yang gratis itu cukup untuk menganalisa di awal, silakan. Tiga yang ee yang kembali ke tiga apa tiga? Saya ada waktu berapa, Pak? 10 menit ya, Pak? 10 menit, 10 menit ya. Ee pertama dari tiga ya, tiga kapasitas ya. Pertama adalah ee kapasitas untuk digital. Akhirnya yang penting saat ini ada namanya pertukaran data, Pak. Jadi sistem itu bisa men-support pertukaran data yang dibutuhkan antara perusahaan asuransi yang menutup asuransinya dengan ee faskesnya. Itu jadi kebutuhan host to host. Akhirnya Pak Iwan juga memberikan arahan karena memang ini juga masukan, mungkin butuh waktu untuk melakukan itu. Kemarin dari satu perusahaan ee menyampaikan, "Pak, kalau sampai kami mapping dan kami membuat host to host, perlu 2 tahun gitu." He. Dan ini malah SP pad, ini malah jadi enggak jalan-jalan nanti. Akhirnya memang polanya adalah wajib memperoleh pertukaran data. Pertukaran data dipersilakan, tetapi harus dengan sistem, tidak manual gitu ya. Selama ini beberapa pakai portal ya yang sudah berlaku sehingga memang ini nanti harusnya tidak ada masalah pada saat implementasinya.
Yang kedua, kapasitas medis. Ini kami terjemahkan dua, Pak. Yang pertama adalah perusahaan wajib memiliki tenaga medis, karena memang wallam ya, saya enggak tahu ya, apakah memang ada perusahaan asuransi yang jualan tapi enggak punya dokter ya, itu kan aneh juga, tapi ya saya enggak tahu seperti apa ini apa praktik di lapangannya gitu ya, mungkin karena mungkin ee ee selama ini mungkin sebagian besar yang jualan asuransi kesehatan itu sudah ada dokternya. Dan yang kedua ini ada hal baru ee kebetulan Kang Jati juga sebagai ini ya, ee Pak Ahmad ee memang kita tidak menyebut Pamjaki ya, Pak ya, tetapi menyebut LSP, tapi nanti ee kita mengacu ke ketentuan yang ada, Pak. Jadi semua sertifikasi di OJK itu selalu diturun apa diterbitkan oleh LSP yang terdaftar di OJK. Tapi kita ada way out-nya, karena kita tahu memang saat ini memang belum ada LSP untuk asuransi kesehatan, maka dalam hal belum ada dapat disediakan oleh lembaga atau institusi yang selama ini sudah ee sudah jalan, yaitu PAMJAKI. J harapannya nanti dari OJK once ee sudah ee saya enggak tahu deh ee di Bnspki itu kami yang memberikan sertifikasi itu OJKI, Pak. Apakah memang harus nunggu KKNI dulu, SKKNI dulu kayak di kalau kita bicara sertifikasi ee asuransi itu kan SKKNI-nya sudah keluar nih tahun lalu, keluar di KKNI-nya e awal tahun 2000 ee ee pertengahan 2024, sehingga teman-teman LSP yang LSP yang kayak APARI kan namanya LSP LSPPI Pak ya, KPI itu juga sudah mengacu ke sana ya, ee enggak tahu sudah mengacu apa sedang proses proses ini ya, proses proses ini ya, ee proses penyesuaian ya. Nah itu apakah memang kalau tidak ada SKKN itu bisa menggunakan ee skema khusus apa tidak? Rasanya sih bisa, pernah seperti yang sa, karena kan di SKK ini tidak ada kekhususan asuransi kesehatan gitu ya, sehingga mungkin bisa nanti bisa menggunakan itu. Tapi kalau memang ternyata by peraturan memang enggak mungkin ada LSP ya, sudah ada Wout-nya, Pak. Selama itu belum ada ya, nanti akan di apa di disediakan oleh Big Bank PAMJAKI atau mungkin lembaga yang lain ya. Kami tidak ingin ada apa ada ini ya, ada dominasi ee servis gitu ya untuk sertifikasi.
Yang ketiga terkait MA lah. MAB kemarin kami juga. Oh. Yang ketiga adalah. Oh, I beda banget, langsung kaget. Iya, iya. Yang ketiga adalah terkait dengan MAB ee ee yang di kami kata kami namakan Dewan Penasihat Medis ya. Karena memang tadi Pak Ihsan juga sampaikan, karena kita regulator enggak boleh kalau bisa bahasa Indonesia, bahasa Indonesia itu ya. Tapi memang ini nanti ee kemarin juga kita sudah undang beberapa asosiasi juga memang MA ini wajib, tetapi sifatnya nanti ee mungkin dan nanti dari Ibu ya bisa sampaikan juga bagaimana nanti solusinya gitu ya. Karena memang wajib tetapi bisa bekerja sama bareng-bareng, Pak. Jadi MAB 1 MAB bisa di apa bisa memberikan servis untuk beberapa perusahaan asuransi atau memang dibuka juga. Tiga kapasitas ini dimiliki oleh TPE. TPE kerja sama dengan asuransi TPA, itulah yang melakukan. Tetapi kemarin dari sisi REAS juga kepenginnya mewajibkan ya, Bu ya. Tidak hanya sekedar di TPE semua gitu ya. Tapi akhirnya nanti ya baguslah gitu ya, perusahaan tetap punya tiga, mungkin dua kapasitas lah, digitalnya sama sama apa sama medisnya tetap ada. Karena kalau enggak salah RIA kemarin juga menyampaikan, kami tidak PD kalau ada perusahaan asuransi jualan asuransi kesehatan tidak ada medisnya gitu ya, maka mau meskipun nanti dia kerja sama dengan VPA, tapi tetap kami serahkan ke market, tapi dari kami diperbolehkan sebenarnya dari kami oke bahwa kalau memang tidak mampu tiga kapasitas itu disediakan, di-provide oleh TPA, tetapi memang harus ada kerja samanya di situ. Harus kerja sama bagaimana apa ee tata caranya ee aliran datanya yang diberikan kepada TBE untuk mengevaluasi, memberikan masukan terkait dengan medisnya.
Yang kedua ee tadi yang disampaikan oleh Pak Iwan, yang kedua terkait dengan future ee future produk ya, fitur produk itu sudah ee sudah disampaikan oleh Pak Iwan. Kita ada dua sebenarnya, ada fitur terkait dengan ee produknya. Salah satunya adalah kita kenalkan ee selalu memang dari OJK Bapak Ibu, ketika terjadi permasalahan di ee produk asuransi memang salah satu yang diusulkan selalu kosing gitu ya. Kalau kita lihat mungkin di asuransi kredit ee ee kita juga kita mensyaratkan di POJK 20 2023 yang sudah berlaku ee 2024 kemarin kita juga ada 2575 gitu ya. Nah ini salah satu yang kita usulkan, rasanya kita juga benchmark ke beberapa negara, bahkan kemarin Brunei itu 20%, Pak, Brunei gitu ya. Mungkin nanti Bapak Ibu yang ada di industri mungkin lebih paham ya. Kalau Malaysia dari literatur kami memang 5% gitu ya. Nah tapi kalau memang kita lihat trendnya kemarin juga Pak Iwan sebagai pembicara di ASEAN ee regulator itu juga rencananya memang ee beberapa negara juga akan mempertimbangkan untuk menggunakan copayment yang lebih tinggi, tidak hanya 5%. Jadi kita di fitur produk utamanya adalah kita adanya kopayment 10% untuk rawat jalan maksimal Rp300.000, untuk rawat inap Rp3 juta, tetapi perusahaan masih bisa diberikan kesempatan untuk menaikkan maksimal kopayment-nya itu sesuai dengan kesepakatan dengan nasabah sepanjang tercantum di dalam ee polisnya. Jadi memang nanti ada beberapa pertanyaan terkait bagaimana produk yang luar negeri yang custom apa customernya memang high level, biasanya lebih dari Rp1 juta itu mahal. Mungkin itu ya, Bapak Ibu ya. Ee mungkin sedikit ee mungkin tambahan 3 menit, Pak ya, atau 2 menit lah. Ee terkait dengan ee peralihan nanti. Nah ini penting ya, ee karena memang direncanakan PS PAD ini akan mulai berlaku 1 Januari 2026, Pak. Jadi 1 Januari 2026. Jadi WAS nanti sudah terbit di Mei, masih ada waktu sekitar 7 bulan untuk persiapan, termasuk kemarin masukan-masukan untuk yang produk-produk WRT yang sudah existing mungkin diberikan lagi tambahan waktu untuk ee untuk ee apa penyesuaiannya. Dan yang terakhir untuk produk asuransi kumpulan. Asuransi kumpulan tadi juga Pak Iwan sudah sampaikan terkait dengan database. Memang kami nanti di dalam PADK ingin mendorong, kemarin juga ada masukan saat ini database enggak jalan gitu ya, Pak ee dari AWI maupun AAJ. Kami ingin AI AJI ASI bersama-sama khusus untuk yang kumpulan. Jadi yang awalnya memang konsepnya adalah perusahaan pada saat menutup ee yang mau menutup dia boleh minta perusahaan asuransi lainnya dan perusahaan asuransi wajib memberikan ini. Khawatirnya enggak jalan karena itu pasti ada bajak membajak nasabah atau gimana ya. Jadi nanti kami akan coba akan masukkan juga masukan dari pimpinan dan juga industri juga terkait dengan kewajiban adanya database di ee asosiasi dan ada kewajiban perusahaan untuk men-support ke sana. Tetapi kita mempertimbangkan untuk tidak sampai ranah PDP. Karena kalau PDP ee perlindungan data pribadi hanya yang bisa melakukan adalah OJK. Enggak boleh dikelola oleh selain OJK. Once datanya bukan data PDP, masih bisa dilakukan oleh asosiasi. Mungkin itu Pak Putu. Terima kasih. Ee mungkin gambaran singkat saja, nanti barangkali ada pertanyaan, silakan. Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih banyak Pak Ani. Thank you. Thank you.
Oke, Bapak Ibu, teman-teman sekalian, ee setelah dari dua regulator tadi kasih sedikit ee paparan dan penekanan terkait dengan hal-hal yang penting. Sekarang saatnya kita coba dengarkan respon dari industri perasuransian ya. Walaupun tadi kita dengar memang kelihatannya sudah ada perubahan atau respon dari dinamika diskusi antara ee regulator OJK dengan ee industri. Tapi saya sangat meyakini masih banyak konscern yang bisa disampaikan oleh industri perasuransian. Nanti kita kasih kesempatan secara bergantian dari Wakil AUI dan AIJ, mungkin ke Pak Diwe dulu. Silakan, Pak, sampaikan Pak apa yang menjadi konser Pak. Ita nanti juga ya. Thank you. Terima kasih Pak moderator. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Minal aidin walaizin. Mohon maaf lahir batin. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami dari Aa untuk ee berpendapat ya dan juga menyampaikan keinginan kami dari asosiasi. Jadi sebelumnya izinkan kami menyampaikan bahwa tadi Pak Irsan sudah menyampaikan untuk asuransi komersial ini kan kita porsinya 2%, tapi 2% ini perang tarifnya, sikut-sikutannya itu mungkin kalah kali perang dagang saat ini. Jadi sebelumnya ingin saya sampaikan bahwa ekosistem yang main di asuransi komersil ini di AUI saja itu ada 31 perusahaan asuransi. Nah mungkin di AAJI mungkin sekitar 50-an yang jualan yang buit ya. Nah ditambah kan hari ini kita diinisiasi oleh Apari. Apari sendiri. Mohon maaf nih Pak Bambang, Pak Gabler, sepanjang sepengetahuan saya untuk pialang asuransi itu ada 161 ya, Pak ya? 161 perusahaan untuk pialang reasuransi itu ada sekitar 40. Jadi kalau bicara ini opportunity bisnis yang ngerebutinnya itu bisa jadi sampai 200 perusahaan, Pak. Ya inilah yang membuat akhirnya perang tarif, inefisiensi di ekosistem ini terjadi. Nah bicara dengan data, dapat kami sampaikan bahwa data AUI ya per tahun 2023, loss rasio dari asuransi kesehatan ini sudah mencapai 95%. Di tahun 2022 itu 90%, angka 2024 itu masih belum final ya. Ya karena loss rasio yang saya sampaikan ini perhitungannya hanya sebatas klaim settle dibagi premi, belum memperhitungkan cadangan IBNR dan sebagainya. Jadi kalau bicara berapa sebenarnya loss rasio asuransi kesehatan ini yang disampaikan oleh moderator tadi sudah tiga digit. Nah terus kalau ekosistem ini dibiarkan saja kondisinya seperti ini, ini ujung-ujungnya akan start berhenti semua, kehilangan periuk nasinya. Nah ini yang saya sampaikan. Jadi dari 15 LOB ya, line bisnis yang ada di asuransi umum, asuransi kesehatan ini termasuk yang mengkhawatirkan yang harus diperbaiki. Nah belajar dari case-kes sebelumnya. Jadi AUI sama AAJI ini kan hubungannya simpang siur, Pak. Jadi AWI tidak mau mengulangin lagi kesalahan di asuransi jiwa kredit. Ketika AAJI sudah menganggap bahwa bisnis ini resikonya tinggi, L rasionya tinggi, AUI malah nampung. Ini mumpung AEJI lagi moratorium, kita hajar preminya. Nah per tahun 2024 untuk pertama kalinya industri asuransi umum mengalami kerugian, Pak. Jadi kita minus 9 triliun buku kita di tahun 2024 karena kurangnya cadangan di asuransi jiwa kredit. Kalau kita tarik lagi adalah karena rindu premi ketika AAJI berhenti main asuransi jiwa kredit, AUI menampung, membosting preminya ya. Nah ini kita tidak mau terjadi lagi di asuransi kesehatan. Nah oleh karena itu kami menyambut baik ya PAD, mohon maaf Pak kalau masih kurang familiar, Pak Ansori. Ada SOJA, POJK sekarang PADK lagi kan, PADA mengenai asuransi kesehatan. Nah yang kami sorotin dari asosiasi untuk PADK ini memang ee pada prinsipnya perlu kita lebih perdalam lagi, Pak. Karena kan kalau yang saya sorotin, AW sorotin di sini ada beberapa hal. Yang pertama adalah kewajiban perusahaan asuransi untuk menjual. Yang menjual asuransi kesehatan ini harus wajib. Bicara ini kan wajib kan, Pak ya? Satu punya digital capability yang mumpuni ya. Karena kita sadarin bahwa sampai dengan saat ini jangankan bicara host to host, tapi kita juga sudah sangat mengetahui bahwa seharusnya dengan digitalisasi mungkin kita bisa atur lah. Karena kami dari perusahaan seharusnya kalau kita punya integrasi digital yang baik, at least kita bisa naruh di situ. Kalau biaya obat seharusnya jangan sampai 1000% dari HT. Kira-kira begitu ya, Pak Eng ya. Jadi jangan sampai ketika rumah sakit biasanya ya bisa 70% dari HIT. Nah kemudian juga dengan adanya transfer digital ini harapannya kita saling mengkontrol, ekosistem ini akan jalan dengan baik. Yang kedua juga bicara rasio asuransi kesehatan, memang kesalahan kita di AUI maupun AAJI ya, kita nerima aja tertanggung kita yang lompat-lompat, lompat-lompat gitu kan. Karena SDM-nya tertanggung kita mungkin mikirnya seperti ini ya kan. Perusahaan asuransi di AUI ada 31, di AJI ada 54. Ya kita sudah pensiun kita masih bisa tuh lompat-lompat tiap tahun. Tahun ini perusahaan A rugi, tahun depan kita pindah ke asuransi yang lain. Nah harapannya ini tidak akan terjadi lagi ketika ada digitalisasi dan database yang dibangun oleh industri. Nah kemudian terkait persyaratan tadi, Pak, bicara mengenai digitalisasi berarti kan ini ada cost untuk biaya kita mbuild up system. Nah tadi kami mohon ada koridor masa transisi ini mungkin dibuat lebih equate, Pak, karena aktualnya lebih posibel juga karena untuk biaya, terutama biaya belanja ee aplikasi ataupun apapun berarti kan biaya itu harus kami masukkan di rencana bisnis, harus merubah RKP ya, karena hal ini juga harus ee harapannya waktunya juga menjadi lebih baik. Nah selain itu juga yang kami sorotin terkait medical board, karena draf yang kami terima bahwa Dewan Penasehat Teknis ini harus terdiri atas kumpulan-kumpulan dokter spesialis yang tentunya cost-nya pun juga menjadi spesialis kan. Nah oleh karena itu kami mendorong usulan kami gimana kalau MAB ini bisa ditarik di di level asosiasi ya. Jadi tidak perlu setiap perusahaan yang menjual harus punya MAB sendiri atau kalaupun ini masih berat mungkin diturunkan menjadi kumpulan, apakah 10 perusahaan satu Mab-nya. Karena kalau bicara satu perusahaan satu MAP yang terdiri atas dokter spesialis, khawatir kami jadi keos juga akhirnya jadi biaya tinggi lagi, Pak. Mohon maaf karena di saat ee industri sekarang juga sedang tidak baik-baik saja. Oke. Nah kemudian ee terkait dengan kapabilitas ee digital kemudian medikal. Nah juga kami menyoroti terkait keharusan dari feature polis, Pak. Nah feature polis di mana di sini mengatur bahwa harus ada copayment, sebenarnya harus kalau istilah kami itu harus ada deductible lah ya. Nah copayment yang pada akhirnya ini sangat bagus untuk membentuk ee budaya kesehatan dari peserta itu sendiri. Nah ini kan walaupun nantinya ya, nantinya ini bisa jadi yang membayarkan adalah perusahaan ataupun terjadi efisiensi dari klien kami untuk memberi perusahaan membeli polis asuransi menjadi lebih ee ekonomis lah. Namun yang kami khawatirkan adalah ini kan akan menjadi beban dari peserta. Menjadi beban dari peserta, diskusi awal kami dengan beberapa asosiasi maupun serikat pekerja kan, hubungan antara perusahaan dengan karyawannya itu diatur di perjanjian kerja bersama. Nah perjanjian kerja bersama ini mengatur perusahaan wajib untuk membelikan polis asuransi kepada pegawainya. Nah ketika dibelikan polis tetapi ada copayment yang harus dibayarkan oleh pegawai, diskusi awal kami ini juga mensyaratkan mereka harus merubah PKB karena ini menjadi tambahan beban dari karyawan. Nah oleh karena itu ini kita harus diskusikan lagi. Nah kami juga pasti ee Pak Ansori pasti pihak Pak Ansori kan sudah berkoordinasi dengan OJK bagian perlindungan konsumen. Karena khawatirnya ini juga akhirnya dilihat dari sisi konsumen ini kan konsumen jadi berkurang lah kenyamanannya karena hal ini juga menjadi ee beban biaya mereka sendiri. Dan juga kami mensorotin Pak terkait copayment ini adalah karena ini akan berlaku untuk manage care maupun indemnity. Kita pahamin biaya cost untuk manage care ke klinik pratama, klinik pertama itu bahkan besarannya itu cost-nya itu mungkin Pak Abdal yang tahu ya, Pak ya? Mungkin sekali berkunjung kita di kisaran Rp60.000, Rp70.000 ataukah Rp100.000. Nah bicara copayment 10%, berarti hanya Rp6.000 yang harus dibayar oleh peserta, Rp6.000 atau Rp7.000. Nah kita harus mempertimbangkan efektivitas dari transaksi tersebut. Ketika ada transaksi pribadi yang dibayar sebesar Rp6.000, Rp7.000 atau bahkan lebih kecil lagi di setiap transaksi, apakah ini menjadi tidak efisien? Jadi ini yang dapat saya sampaikan kira-kira koridornya. Tapi intinya ee kami yakin kita akan diberikan waktu yang cukup ya, Pak Ansori untuk lebih memperdalam dan lebih mengusulkan lagi terkait PADK ini. Karena jangan sampai PADK ini yang kita khawatirkan ada tapi tidak implementatif, Pak. Nah jadi ini yang kita harus diskusikan. Ditambah mengenai hubungan industrial, Pak. Hubungan industrial tadi antara perusahaan dengan karyawan kemudian kita di industri itu juga harus kita diskusikan lagi. Dan yang kedua juga ini nih antara UI sama AJI ini nih memang harus lebih solid lagi nih. Jangan bicara di forum solid tapi ujungnya saling cakar juga itu enggak benar juga. Itu dari saya, terima kasih. Sekali lagi apresiasi buat OJK yang sudah mengatur dan tidak berhenti, jangan capek dengan industri ini, Pak. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Teman-teman, itu tadi satu dari ee asosiasi asuransi umum. Nah sebelum ke jiwa ya, saya mau sampaikan dulu sedikit ee ke teman-teman semua bahwa teman-teman semua baik yang ada di ruang ini maupun yang mengikuti dari channel YouTube kita bisa mengajukan pertanyaan melalui slide. Jadi ee nanti bisa dilihat linknya gitu ya, caranya tapi bisa mengajukan pertanyaan ee melalui slide. Silakan Bu Jeni. Iya. Baik, kita lanjut ke aja Bu Ita. Terima kasih sudah hadir. Ee mungkin bisa ditanggapi, walaupun kita sudah Pak Ansor ini luar biasa di OJK, forum-forum RDP-nya, diskusinya ee sudah cukup padat juga, tetapi mungkin masih ada hal-hal yang menjadi konsern dari AAJI ee selain yang tiga wajib itu tadi disampaikan Pak Dewo, mungkin ee kedua yang menjadi apa namanya ee syarat ee tambahan lah atau bukan syarat yang eh nice to have itu yang termasuk yang eh desain eh mer-review produk kemudian review pricing dan lain-lain. Monggo Ibu Ita, kami persilakan. Baik. Ya sudah, Pak. Baik, terima kasih. Ee sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada ee Pak Bambang eh sudah mengundang itu. Terima kasih. Em ee menyambung dari pembicaraan yang sudah disampaikan sebelumnya. Jadi memang ee kami di AAJI ee itu sudah em ee mengidentifikasi ee ketika ee masalah klaim kesehatan ini ee tiba-tiba terutama pasca pasca COVID ini ee menjulang tinggi ee dan tampaknya tak terkendali gitu. Em ini sudah em meresahkan kalau di boleh dibilang seperti itu dan ee kami di AAJI kebetulan ee saya juga di bidang operasional ee bersama-sama dengan ee ketua departemen ee baik itu di klaim maupun di em eh relasi eh apa network eh provider eh relation itu em mengantisipasi ee emm beberapa klaim ee biaya klaim yang kami identifikasi itu ee awalnya kita mengidentifikasi ada 40 penyakit yang em kita harus ee tata em protokol ee tindakan medisnya. Karena ee kami di sini melihat pathway ya, Bu ya? Clinical pathway-nya. Betul, Ibu. Kebetulan Bu Jeni juga ee ikut serta di dalam task force tersebut. Jadi task force ee untuk ee menyusun menyusun clinical pathway. Jadi kenapa kami perlu melakukan ini karena memang ee di ee tidak seperti manage care yang sudah mempunyai ee apa clinical pathway gitu, Pak ya. Eh kemudian yang disebut inas bijis berikut dengan formulariumnya. Kalau di ee asuransi komersial swasta ini memang ee lebih bebas merdeka. Jadi kami tidak secara spesifik dan mendetail membuat satu aturan ketika ee pasien itu datang ke rumah sakit, maka tindakan apa yang bisa dilakukan, boleh dilakukan dan patokannya seperti apa. Jadi ini lebih ee ee bebaslah gitu sehingga ini ee terutama ee 10 5 10 tahun belakangan rumah sakit ini memang sudah ee mungkin merasakan ee indahnya berkolaborasi dengan asuransi komersial swasta gitu sehingga mereka em juga lebih apa ya, lebih bebas untuk ee memberikan tindakan, melakukan peresepan dan ee untuk memberikan satu advice ee penerapan ee protokol atau apapun dalam menangani pasien karena ee tadi kita tidak menerapkan satu aturan tertentu gitu. Nah jadi kami mengidentifikasi ee 40 awalnya kemudian ini ee bertambah dan kami juga mengundang ARSI ee untuk berdiskusi bahwa ini yang akan kami terapkan. Jadi secara industri kami berharap inilah yang bisa diadopsi oleh perusahaan asuransi jiwa anggota AJI ketika pasien dirawat dengan penyakit-penyakit yang ini gitu. Emm tidak mudah karena ee dari ARSI pun juga sudah mempunyai ee apa ya, guideline sendiri. Setiap rumah sakit punya dan itu memang ee variasinya beragam. Namun ee kami tetap ee mendorong ke arah situ dan setiap ee dari AAJI ee mendukung, tapi setiap perusahaan itu juga dapat berdiskusi langsung dengan rumah sakit. Ee yang kedua kami juga membuka percakapan dengan ee Asosiasi Perusahaan Farmasi ee untuk ee berdiskusi tentang bagaimana ee harga obat-obatan itu ee ditentukan, kemudian bagaimana pengendaliannya. Kemudian ee kami juga mengetahui bahwa sebetulnya pemerintah itu mempunyai ee patokan mengenai harga obat. Nah tetapi mungkin di ee apotek harga eceran tertinggi itu HET itu ee bisa diterapkan dan masih diterapkan. Tetapi ketika masuk ke rumah sakit, nah ini yang sudah mungkin tidak lagi mengikuti harga eceran tertinggi tersebut. Nah ini yang ee kami juga tidak tahu ee kami harus diskusi ke mana gitu ketika ee kami mau me apa ya, istilahnya lebih ee mengetahuilah atau ee bernegosiasi soal ini. Nah itu ee yang sudah kami lakukan ee dari asosiasi. Kemudian jauh sebelum terjadinya ledakan ee klaim kesehatan kami juga ee membangun diskusi ee dengan Kementerian Kesehatan. Jadi ee waktu itu mungkin masih ee Ibu Beck ee jadi kami beberapa anggota itu juga sudah me menyediakan ee produk asuransi kesehatan yang bercob dengan BPJS kesehatan ee di dalam pelaksanaannya itu memang ada kendala-kendala administrasi yang kami sudah kemukakan dalam diskusi kami dengan Kementerian Kesehatan waktu itu. Dan akhirnya sampailah kepada ee keputusan eh apa ya namanya, keputusan Menteri Kesehatan ya? KMK 136. Iya. Heeh. Nah itu di antaranya itu adalah dulu itu kita tidak mempunyai bill yang sama, jadi split bill gitu ya. Nah sekarang di dalam ee peraturan yang baru itu 1366 itu one bill di mana em BPJS dan asuransi kesehatan itu akan masing-masing mengetahui, jadi yang ditanggung oleh BPJS berapa, yang ditanggung oleh asuransi itu berapa. Jadi itu sudah em apa direalisasikan dan itu juga berdasarkan hasil yang ee diskusi kami sebelumnya. Kemudian dari ee permintaan data juga kami sudah berikan ee seperti apa sih disparitas antara harga PPJS kesehatan dengan ee biaya yang dikeluarkan oleh asuransi komersial untuk ee penyakit tertentu. Jadi di kalau enggak salah waktu itu juga diambil top 40 atau top 50 gitu ya. Dan di sinilah ee Kementerian Kesehatan menetapkan yang batas 200% itu. Tetapi dalam implementasinya memang asuransi swasta itu ketika ee KMK ini keluar 1366 itu ee tidak bisa langsung kami adopsi karena produk ee untuk COB dengan em peraturan yang ini itu harus kita buat suatu produk yang baru. Dan ketika kami ee ketika ada batasan 200% ini maka di asuransi itu harus sebetulnya menilai berapa sih sebetulnya ee premi ini dan ketentuannya nanti akan seperti apa. Nah ee salah satu kendala yang kami ee hadapi adalah untuk membuat produk ini itu memang tidak mudah sehingga mungkin ee waktu itu pertanyaan dari Kemenkes ini kok asuransi belum ada atau ee mungkin sedikit gitu ya yang ee mengadopsi ee COB ini gitu, padahal ini sudah didukung oleh pemerintah gitu. Nah yang lain lagi itu adalah faktor ee dari ee market kami yang emm ee sebetulnya animonya itu saat ini mungkin masih belum terlalu besar, Pak, untuk ee memilih. Jadi ketika mereka dihadapkan ee pilihan mau COB ee produk dengan COB ataupun produk pure indemnity, biasanya mereka milihnya pure indemnity gitu. Di benak mereka itu kalau yang ee dengan BPJS mungkin karena tadi ee apa ee masih terbatas ya, Pak ya, pilihan yang FKTP-nya itu, Pak ya. Jadi ee dan biasanya itu ee di benak mereka itu antri lama. Nah seperti itu, Pak. Jadi emm biasanya mereka itu tidak meskipun di sekarang di fitur kami itu ada ee COB itu ada tetapi memang ee kami tidak mewajibkan bahwa itu harus ee melalui COB. Nah ee jadi ee COB yang kami punya sekarang itu adalah ketika ada ekses dari biaya ee kesehatan yang sebelumnya dijamin oleh BPJS, maka itu bisa diklaimkan ke kami. Jadi seperti itu mekanismenya ee COB yang kami lakukan. Ee tetapi beberapa perusahaan memang betul-betul mempunyai produk yang ada fitur COB-nya dan itu melalui prosedur dari BPJS kesehatan. Nah jadi yang ee kami perlukan itu sebetulnya adalah juga ee mengedukasi masyarakat bahwa biaya kesehatan ini juga perlu di ee kendalikan dan salah satu faktornya adalah dengan COB ini sebetulnya seperti itu. Edukasi itu diperlukan dan memang itu tidak mudah. Em kemudian terkait dengan ee PAD ini. Jadi kemarin kami sudah ee bertemu juga dengan ee OJK untuk membahas tentang R, kemarin Mas nyebutnya RSE. OJK. Iya, betul. Nah ee ini sebetulnya sejalan semangat dari RSE ini sejalan dengan apa yang sudah dilakukan oleh AAJI yaitu mengendalikan klaim. Jadi emm tadi seperti ee saya sebutkan bahwa kita sudah di AAJ sudah melakukan identifikasi dari ee penyakit-penyakit yang teratas dan bagaimana cara mengendalikannya dengan melakukan satu studi dan membuat satu clinical pathway. Dan ini sebetulnya semangatnya sama dan beberapa perusahaan saya yakin juga sudah melakukan hal ini yang disebut oleh Pak Iwan itu berkali-kali yang namanya utilization review. Jadi ini bukan hal baru buat kami karena kami sebetulnya sudah melakukan dan em ee untuk yang em host to host ini sebetulnya kami juga em apa ee apresiasi bahwa host to host itu sekarang ee sudah tidak lagi diwajibkan di situ. Jadi diganti dengan digital ya, Pak ya? Digitalisasi dari em data, integrasi data, integrasi dan ee beberapa perusahaan bahkan sekarang ini sudah menerapkan AI, Pak. Ee ini untuk em mempercepat ee identifikasi ee apa ee klaim di awal. Kemudian juga si teknologi ini membantu kami untuk mengidentifikasi fraud, waste dan abuse. Jadi ini beberapa perusahaan memang sudah ee apa melakukan itu. Namun memang AI ini sekali lagi meskipun ee di awalnya seolah-olah ini pasti bisa gitu tetapi. EAI ini juga membutuhkan satu usaha. Iya, betul. Untuk dia itu bisa cerdas gitu. Jadi membutuhkan data dan ini memang tidak gampang, membutuhkan waktu juga, tapi ee kami ee beberapa perusahaan utamanya itu sudah bergerak ke arah situ. Nah terkait dengan em apa tadi itu MAB. Jadi tadi ee Pak Diwa juga bilang ini MAB ee seperti apa gitu ya. Nah kami di AAJ juga sudah berkomunikasi, tadi juga kami pikir ini spesialisasi ee eh ee dokter spesialis gitu. Tetapi menurut kami bukan hanya sekedar dokter spesialis tetapi
Dokter spesialis yang mempunyai kapasitas untuk tidak hanya membantu kami melakukan ee claim management secara lebih proper lagi, tetapi juga berkomunikasi dengan dokter-dokter di rumah sakit. Jadi kami ee kebetulan mendengar tentang Perdokjasi. Jadi AAJI mengundang Perdokjasi. Ee dr. Imirah juga waktu itu hadir, ada ee dokter siapa itu ketuanya? Iya. Ee nah iya jadi dan dr.ter Wawan, betul. Prof. Herku juga datang. Kami juga akan ketemu lagi sama Prof. Jasi ee minggu depan. Jadi kami membahas tentang ee ini MA ini seperti apa dan Perdok Jasi bisa membantu AAJ ini seperti apa. Mungkin nanti kalau AAWI juga mau elaborasi Pak ee itu bisa juga. Nah ee itu yang sudah kami lakukan ee setelah beberapa kali diskusi, ketemu dengan ee OJK. Em, terkait dengan terkait dengan mungkin ee satu isu yang kemarin kami ee ee race di akhir diskusi kami dengan OJK yaitu mengenai peralihan masa peralihan di mana ee peraturan ini jika diterapkan maka diberikan waktu sampai dengan Januari. Itu termasuk eh untuk produk-produk existing YRT tadi di mana peraturan ini harus diterapkan kan ee ketika polis ini jatuh tempo. Nah ini yang kami minta ee pertimbangan konsideran dari OJK ee untuk diberikan tambahan waktu karena ee khususnya untuk yang polis-polis individu. Mungkin kalau AUI tidak menjual asuransi kesehatan individu, tapi kalau yang di jiwa itu banyak yang menjual individu. Ini kami membutuhkan waktu untuk eh pertama repricing, karena otomatis kalau kita menerapkan copayment itu pasti ada dampak kepada price gitu. Nah kemudian ee kami juga harus mengomunikasikan ee perubahan ini kepada nasabah. Nah ini ee nah sebelum itu tentu saja kami juga harus ee melakukan pelaporan kalau itu di memang ee prosedurnya pelaporan atau ee persetujuan dari OJK. Nah kemudian ee kami mengomunikasikan ini kepada nasabah kami dan ee ini yang terpenting karena nasabah kami juga harus ee merasa tidak diperlakukan sewenang-wenang. Karena ketika kita menerapkan ee copayment maka mereka ee kalau seandainya mereka menerima hal tersebut, mereka secara ee manusiawi berharap kalau gitu karena saya menanggung resiko sendiri harusnya ada dong penurunan premi. Nah ketika ini hal ini tidak terjadi maka kami juga harus melakukan sosialisasi, karena mungkin saja ee penurunan tersebut di ee bandingkan dengan adjustment ketika ee kita memfaktorkan inflasi mungkin ini menjadi nol atau mungkin bahkan lebih tinggi karena inflasinya lebih tinggi gitu seperti itu. Jadi kami harus betul-betul berhati-hati menerapkan hal tersebut dan juga dari sisi ee perubahan ee sistem itu kami juga ee perlu waktu. Maka mungkin yang paling ee kami ee harapkan untuk dipertimbangkan, diberikan tambahan waktu adalah mengenai penerapan ee ee COP ini, terutama untuk existing produk. Mungkin dari kami itu aja Pak. Terima kasih.
Oke. Thank you. Applaus untuk Ibu Ita. Thank you. Thank you Bu Ita. Wah. Jadi Bapak Ibu Teman-teman sekalian, itu sudah dengar ya sangat ee challenging konsern yang disampaikan oleh teman-teman dari AUI maupun AIJ. Kalau itu dari dua sektor ee asuransi komersial. Sekarang coba kita dengarin gimana sih ya Bu Jeni ya respon dari penyelenggara ya dari asuransi sosialnya nih. Ini gimana nih apa kolaborasi juga atau sinergi Pak yang bisa dilakukan antara sosial sama komersial nih terkait dengan Pak KDK yang nanti akan muncul. Silakan Pak.
Baik. Eh makasih eh makasih Pak Putu. Ee bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Eh Bapak Ibu sekalian, saya sebenarnya agak ini juga ya karena saya mewakili BPJS undangannya, tapi sekaligus harus bicara juga sebagai ketumpaki gitu ya Pak. Iya. Dan main di dua kaki Bapak dan dr.ter Emira protes karena saya juga anggota perdok Jasi gitu. Perdokasi juga salah satu pendiri juga. Jadi ya baiklah kita bicara dalam konteks ee secara keseluruhan saja. Pertama sekali kalau kita bicara pasar asuransi ya. Jadi maksud saya tadi bicara national he account itu menjadi dasar kita sesungguhnya untuk melihat ada gak masih ada gak. Jadi kalau bahasa Kuovadis kan agak khawatir juga saya bacanya waktu dikirimin pertama kali. Maksudnya apa ini gitu ya. Sesungguhnya gak seperti itu. Begitu kita lihat ee konteks pembiayaan kesehatan di Indonesia dan pasar kita untuk asuransi komersial katakanlah seperti itu. Ee sesungguhnya kalau kita lihat di National Health Account masih ada sekitar spasi 28% gitu ya yang kemudian kita bisa bergerak masuk di situ. Tinggal menemukan slot-slot tepatnya aja sesungguhnya. Eh katakanlah eh di national account by the time itu kan dia naik terus-menerus karena kita eh eh ikut apa namanya mendampingi termasuk data-data yang diambil dari BPJS cukup banyak ee di tempatnya Pak Irsan itu kan by the time sebenarnya naik terus porsi dari pembiayaan publik cq asuransi kesehatan sosial sekarang di posisi 27,8. Di tahun sebelumnya itu jauh lebih kecil daripada itu. Ee yang challenging memang karena kita di asuransi komersial di swasta itu masih sekitar 5% ya, padahal spasinya masih 28% sesungguhnya. Dan e bagaimana kita masuk ke situ saya sering mengibaratkan ee asuransi sosial itu seperti kapal induk Pak. Kapal induk itu kalau kapal induk besar sekali dia dia dikelola dengan highly regulated, dia agak susah disuruh untuk belok kiri belok kanan Pak. Kalau di kapal itu ada lampu belakang ada lampu depan. Jadi kalau dia lewat di Selat Malakap kalian yang menyesuaikan tempatnya. Jangan ini yang disuruh belok-belok gitu loh. Karena kalau BPJS kesehatan nanti disuruh Anda harus ikut ini Anda harus itu dia akan kesulitan membuat nakodanya bingung Pak. Karena regulasi sebelah sini regulasi sebelah sini di samping tentu saja dengan risiko yang terlalu banyak karena dia kapal besar. Oleh karena itu sesungguhnya yang harus disiapkan oleh BPJS Kesehatan dalam konteks ini adalah slot-slot di mana bisa masuk apa namanya kayak USB gitu di masa di mana sih tempat di mana teman-teman asuransi komersial itu bisa berkolaborasi dengan baik sehingga yang kita bilang tadi out of pocket yang masih cukup besar yang seyogianya juga bisa ee masuk ke pendanaan yang dijamin apakah eder publik atau apa namanya asuransi kesehatan tambahan itu bisa menjadi ee apa namanya wilayah kita yang bisa kita kelola. Nah slot-slot itu di mana nah kan di situ kita bermainnya. Katakanlah misalnya kalau Pak Irsan tadi bilang kalau dari sudut pandang orangnya either dia di bawah sekali atau di atas sekali. Tapi kan tidak mungkin yang di bawah sekali tujanak pasti yang di atas sekali yang kelihatan memang ya ee dengan model manage care belum terlalu suka katakanlah seperti itu ya. Managing care mau tidak mau memang dia harus dari bawah kan seperti itu. Gaklah saya gak gak perlu dengan itu. Saya sangat banyak punya resources sehingga saya gak perlu lewat itu ya kita kasih itu. Tetapi tentu saja harus ada juga yang mau menggunakan dua-duanya karena double costing double itu tidak menyenangkan bagi orang kan gitu ya. Untuk di BPJS kesehatan konteksnya ada namanya e PPU BU ya kan pekerja penerima upah badan usaha yang cukup banyak. Let's say itu BUMN dan seterusnya. Itu kan mereka mau tidak mau ikut BPJS. Tetapi apa yang mereka bisa lakukan supaya mereka gak double cost double biling gitu ya. Saya mau ikut juga ee ee asuransi komersial apakah manage care atau indemnity untuk memberikan ee apa namanya manfaat lebihlah bagi orang-orang tertentu di dalam. Tetapi bagaimana caranya supaya saya gak double costing. Dia gak perlu membayar BPJS juga asuransi wajib tapi dia bisa mendapatkan lebih. Beberapa kali kita berdiskusi dengan ee ada perusahaan misalnya sebagai contoh ya sederhana bisa gak kita main untuk rupanya dia sudah manage care juga Pak Diw. Dia bilang saya sudah bayar dokter juga sebenarnya dan hampir sama dengan BPJS. Saya bayar kapitasi juga lah. Berapa kapitasi Bapak saya bayar Rp25.000, R000 dia. Saya bilang kami 12.000. Kenapa gak potong aja gitu karena orangnya sama. Nah maksud saya yang sesungguhnya kita bisa ee ee lakukan sama-sama sebagai potensi besar adalah irisan-irisan itu kita lihat kemudian kita bilang ini porsinya jangan diganggu. Ini WPJS kesehatan sudah anu lebihnya saja. Jadi saya setuju sekali Pak kalau misalnya ini yang kita bilang digital kemudian bikin data. Kenapa karena kalau bisa dapat data yang di sudah dibayarkan oleh WPJS kesehatan jauh lebih ringan buat teman-teman asuransi komersial. Dan kalau misalnya mau host to host atau apapun sebenarnya yang penting ada transfer data Pak. I keinginan kita sesungguhnya adalah teman-teman asuransi komersial mendapatkan berapa sih yang sudah dibayar di first layer ini. Kan ini sudah ada first layer nih. Apakah dia first payer atau apa kan udahlah kalau kalau kami begitu ada di situ first layer harus ditanggung. Lebihnya very welcome sebenarnya untuk kita berikan. Ah ini ini datanya ee gak usah bayar lagi yang bawahnya atasnya aja. Sebagai contoh sederhana tadi kapitasi itu ah bagaimana yang tidak mau lewat FKTP itu lain lagi. Itu mungkin di wilayahnya apa ya yang jualan satu persatu. Tetapi di begitu juga dengan ee aspek yang lain. Jadi misalnya saya catat ee apa yang bisa kita lakukan di ee FKRTL apakah spasinya sudah tidak ada kan itu pertanyaannya sudah ditanggung BPJ semua. Jangan khawatir Bapak ada di pasal 25 Perpres itu ada sampai I A sampai I yang tidak ditanggung oleh WPJS kesehatan itu bisa masuk semua kita tinggal kita mencari bagaimana membuat produk untuk mengisi itu. Karena sebenarnya needs itu ada juga dibutuhkan juga oleh orang-orang tertentu gitu. Ee ini yang menurut pendapat kami ee perlu di dipelajari dan BPJS kesehatan ini bukan tidak apa wajib rasanya kalau pendapat saya sih ya karena saya jadi BPJS kolaborasi dengan e asuransi kesehatan tambahan ini bicara juga dengan e sudut pandang pamjakinya ini kan ya. Oke itu yang pertama. Nah kemudian yang kedua yang saya mau ee ee anu karena ada tiga tadi ee syarat utama ya ee kalau data saya kira ini sangat pentinglah untuk kita di samping melihat perilaku berobat. Saya khawatir juga Pak Sari kalau misalnya perilaku berobat yang diamati lewat data klaim BPJS kesehatan begitu ditambah dengan perilaku berobat yang ada di asuran ternyata kelihatan beda ternyata. Ternyata begitu di digabungkan Bu wah kok jadi lain kelihatannya nih. Ah ini yang yang ketika ini bisa bergabung akan jauh lebih lihat jauh lebih apa namanya untuk kebijakan kita mengatur bagaimana perilaku-kebijakan perilaku berobat atau eh behavioral seeking behavior di Indonesia gitu. Kemudian yang kedua ee kaitannya dengan tadi kewajiban eh UR ya ee medical review yang harus ada dokter. Ee kalau kami pengalaman memang dari dulu kan eh manage care. Kalau manage care mau tidak mau harus ada gitu ya harus ada dokter tidak mungkin tidak ada karena kita me-manage bagaimana dia caring terhadap pasien. Tetapi yang kami mau ingatkan mungkin sama dr.ter Mira karena kami juga diperdokjasi bukan sekedar medikalnya sesungguhnya karena medikal dengan sains sens pembiayaan itu tidak selalu beririsan gitu loh. Jadi ada dokternya tetapi dokter yang kemudian ee punya pemahaman khusus tentang ah nanti di tempatnya perdok jasi ini banyak cerita kami di perdok jasi juga kemarin diskusi ini. Apakah ID ini begitu dokter sudah pasti bisa belum tentu. Dia harus punya ee apa namanya kompetensi yang ee memadai. Oleh karena itu ah ini saya sedikit promosi sering gak apa-apa ya. Pamzaki ini sesungguhnya tempat wadah untuk belajar itu bahwa dia sudah punya insting medis. Dia tahu bagaimana treatment terbaik. Tetapi bagaimana treatmen terbaik itu dalam konteks efisiensi ini tidak perlu. Ini overutilize ini dan seterusnya ee treatment paling bagus untuk menciptakan outcome terbaik dengan cost paling efisien Kan gitu. Itu kita belajar ee itu yang kita pelajari lewat medical review biasanya. Tapi ada dua ini saya mau sampaikan dua hal penting ini. Era sekarang ini kan mau tidak mau karena 98% orang tercover BPJS. Sistem pembayaran provider itu menggunakan sistem yang disebut sebagai sistem diagnostic related group. Iya. Iya. Diagnostic relative group ini sedikit spesifik dibanding dengan pembiayaan biasa. Kalau pembiayaan biasa f service kita membayar sesuatu berapa harganya kita kasih. Tetapi diagnostik relative grutin bukan hanya mengadop eh aturan-aturan medis clinical pathway tapi ada juga di situ skema eh ee ee apa namanya pembiayaan yang paling efisien berapa resources yang digunakan should be untuk setiap kegiatan dan itu digabungkan jadi satu namanya diagnostic related group. Oleh karena itu kalau kita mau bicara bisa utilization review dia tahu tentang apa yang seharusnya secara medis dilakukan dia juga harus tahu tentang dasar-dasar DRG tentang si Bijis itu seperti apa. Jadi saya kira pamjaki nanti bisa bantu untuk itu. Oke siap Pak untuk aa aak-nya ya atau certified health insurance eh associate maupun profesional. Terakhir eh saya kira kalau MAB mungkin nanti biar paradok jasi tetapi secara prinsip MAB dibutuhkan kadang-kadang dia menjadi last resort di BPJS kita kenal ada banyak dispute kadang-kadang di asuransi pasti kita antara ini eh tempatnya Dokter In dengan kita itu ee dinamis gitu ya. Beliau bilang harus begini Pak Afdal kami bilang "Oh ini bagusnya begini saja." Kadang-kadang kita butuhkan orang-orang secara profesional memang memberikan pandangan-pandangan dari sudut pandang dua itu. Dari sudut pembiayaan dari sudut pandang ee medis. Saya kira itu nanti panjang sekali karena izin karena saya dua kan Pamaji sama BPJS. Silakan Pak. Banyak sekali mau dibilang. Ya sudah makinya perdasi juga mau sekalian ya Pak. Tapi iya ada dr. Iya. Iya makasih. Baik baik. Makasih banyak Pak. Kita berikan applause untuk Pak Afdal dan kita langsung masuk nih ke dr. Emira. Tadi sudah sudah dibuka oleh Pak Afdal. Sebenarnya Perdok Jasi ini ee organisasi apa nih Dok ee ada yang bilang dari IDI ada yang bilang perkumpulan atau sebenarnya seperti apa silakan Dok Emira.
Terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam war bismillahirrahmanirrahim. Perdokjasi Perhimpunan Dokter Pembiayaan Jaminan Sosial dan Perasuransian Indonesia. Jadi bukan hanya asuransi kesehatan saja. Kalau misalnya terjadi penyakit akibat kerja nah itu yang bayar siapa? Kalau misalnya terjadi kecelakaan seperti yang Pak Iwan sampaikan tadi itu yang bayar siapa? Nah ada organisasi-organisasi keprofesian yang ee ahli tentang itu. Nah para ahli-ahli ini kita kumpulkan. Jadi Perdokjasi ini anggotanya harus dokter dan di bawah naungan IDI. Kita berdiri tanggal 20 Oktober tahun yang lalu ee dikukuhkan menjadi anggota keseminatan IDI di tanggal 20 Februari di Muktamar Idi di Lombok dan insyaallah akan diresmikan dalam bulan depan. Nah tujuan utama kita itu tadi menjembatani semua kepentingan. Karena secara asuransi atau penjaminan kita melihatnya insurance medicine. Ada batasan ada yang diterima ada yang enggak diterima ada yang preexisting. Tapi kalau dokter secara klinis conventional medicine enggak begitu. Begitu ada orang sakit ya harus diobati. Tapi secara eh insurance medicine dibayar apa enggak gitu. Jadi itulah yang kita jembatani Pak. Mudah-mudahan ee kami akan banyak bicara dengan rekan-rekan di rumah sakit karena anggota kami ada 245 orang saat ini dan bukan hanya ee apa bukan hanya dari asuransi ketua kami pun itu dr. Wawan Mulaman seorang ee ahli bedah syaraf. Beliau sekarang praktik di rumah sakit. Maaf beliau tidak dapat hadir karena sedang ke Korea dan beliau juga punya gelar A2K. Heeh. Dan di sini kami punya dewan pakar diwakili oleh Bu Rosa sama Pak Afdal. Terus kami juga ada dewan pengawas yang juga semua ee para dokter ahli. Nah dokter-dokter di rumah sakit pun sangat konsern dengan keadaan saat ini. Maka kita sama-sama akan memperbaiki keadaan yang ada dengan membuat clinical pathway yang sebenar-benarnya dengan memperhatikan evidence based medicine dan patient safety. Jadi kita kembali ke dasar back to basic. Karena tidak semua kalau teman-teman lihat nanti di slide itu selalu bicara fraud fra. Padahal fraud itu ada di mana tidak selalu fraud itu ada di misalnya di medis di rumah sakit. Banyak fraud yang bisa kita kendalikan. Mau enggak emm tolong slide selanjutnya Lia mungkin Lia slide selanjutnya satu lagi. Nah kalau kita bicara fraud itu banyak sekali fraud mau mainan di fraud yang mana gitu. Tujuan utama adalah mengendalikan klaim. Dan klaim itu terdiri dari berbagai ee faktor klaim medis. Oke banyak utilization eh 81% because of overutilization. Tapi mana dari industri yang bisa kita kendalikan nah dengan adanya ee apa PADK yang baru ini kita industri diharapkan sama-sama melihat dari polisi sudah ada. Harus mungkin Pak permintaannya tergantung maturity model perusahaan. Ada yang bisa langsung ada yang enggak bisa langsung menerapkan. Misalnya MAB yang tidak punya MA sendiri seperti yang ee disampaikan AAJI kita buat dulu kumpulan dari beberapa perusahaan asuransi untuk membuat MAB bersama-sama kami bisa membantu itu. Itu mungkin ee awalnya Pak. Lalu juga untuk analisa dan research. Kalau kita lihat slide selanjutnya tolong lihat yang biru. Nah inilah yang jadi root cost. Sebetulnya dari semua hal itu data di mana-mana data terpisah-pisah. Nah bagaimana semua data itu bisa terkumpul sehingga semua pihak bisa memakai data itu membentuk efisiensi. Itu tadi yang disampaikan oleh Pak Iwan juga. Apakah itu ada di AAI AAUI ataukah data itu ada di satu sehat? Bukan begitu ee Pak Ihsan. Kalau data ada di satu sehat itu akan bagus banget. Akan ada data privacy-nya kita juga dapat dari pasien dan perusahaan asuransi atau TPA ngambilnya dari sana gitu. Tidak ada isu data ee privacy lagi. Untuk rumah sakit sendiri yang kami mohonkan Pak itu digitalisasinya jalan. Jadi eical recordnya jalan ee fire-nya jalan snow city-nya jalan loing-nya jalan. Itu apa sih semua itu itu istilah teknis agar semua pihak bisa baca data yang sama. Nah itulah yang akan kami dari Perdokjasi usahakan mengkomunikasikan antara di rumah sakit maupun ee di asuransi sehingga bisa mendukung ee PADK yang baru ini untuk ee itu policy kalau people-nya end of mind dari perdogjasi adalah kita akan punya lembaga pendidikan insurance medicine. Seperti yang tadi Pak Afal sampaikan dokter di asuransi oke tapi bisa enggak dia menglikasikan ilmu kedokterannya itu untuk insurance jadi mengutamakan kepentingan nasabah. Bukan hanya semua orang oke harus di USG karena USG ini yang paling tepat gitu ya. Jadi efisiensi yang tadi yang kita belajar juga ee di Pamzaki itu akan dipertajam bagi dokter. Untuk dokter-dokter klinik itu banyak sekali dokter klinik yang ternyata juga tertarik dengan asuransi. Jadi kami akan mengusahakan sertifikasi asuransi bagi dokter-dokter klinik. Jadi komunikasinya juga lebih baik. Dan saat ini anggota kami juga banyak di daerah-daerah sehingga kalau harus ee minta pendapat untuk MAB enggak semuanya harus ke Jakarta atau ke Prof.-Prof ahli-ahli itu gitu ya Dok ya. Kita bisa misalnya ke rumah sakit terdekat dan nanti pembicaraan diskusinya juga lebih enak dengan rumah sakit di daerah itu gitu. Jadi ee itulah tujuan utamanya ada ee Perdokjasi. Mudah-mudahan ini dapat memperkaya industri dan ee memberikan ee kontribusi positif untuk Kavadis. Keren. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Oke applause buat Mbak Mira. Thank you. Pak Mira sudah kasih banyak masukan yang mungkin juga dicatat ya oleh Pak Alori. Nah sekarang Bapak Ibu teman-teman sekalian saatnya kita dengar ya pendapat dan respon dari narasumber terakhir yang mewakili industri rumah sakit yang mana dibilang rumah sakit ini menjadi wah menjadi driver utama kenapa medical investion tinggi. Ada banyak inisiatif yang juga nanti kita mau dengar responnya gimana Pak. Ada data integrasi ada MAB belum lagi kemudian ee inisiatifnya Kemenkes untuk Keris. Nah itu kan pengaruh banget ini. Bisa enggak kemudian dari industri nya Pak Fahrudin ini mengakomodasi gitu ya Bu Jeni ya. Ya silakan Pak Pak Fajar silakan Pak.
Eh sor Pak I Pak Fahrudin yaudin ya. Baik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pak Sutu dan Bu Yeni sebagai moderator. Bapak Ibu narasumber yang lain. Eh karena terakhir bukan berarti sebagai kambing hitam ya Pak. Atau hanya salamnya aja dari kami kan terakhir gitu. Baik. Ee penyelesaian masalah sumber masalah dan masalah-masalah gitu ya. Ee baik Bapak Ibu yang pertama yang perlu kami sampaikan buat kami rumah sakit sebenarnya sudah bosan diskusi ini. Terus terang aja kapan eksekusinya itu yang penting. Sudah bolak-balik kita diskusi bolak-balik seminar mungkin biaya seminar bi diskusi biasanya workshop-nya juga sudah lumayan juga kali ya nyewa hotel ini misalnya gitu. Tetapi ee yang kami tunggu adalah eksekusinya karena kami di hilirnya gitu ya di ee user terakhir gitu. Jadi kami sebenarnya ee seperti apa aturan mainnya pada dasarnya ee rumah sakit mengikuti ya. Yang penting ada buat kami itu rumah sakit kalau kami istilahkan ee 4 KP gitu ya buat rumah sakit sebenarnya penting yang pertama itu apapun itu aturan mainnya mulai dari Kemenkes kah dari OJK kah nanti dulu ada juga dari Kementerian Keuangan ya Pakdal pernah keluar ee aturan main tentang COB itu dari Kementerian Keuangan ee waktu itu apa sebelum ada OJK atau gimana ya sudah ada ee dari Kementerian Keuangan itu aturan mainnya ee ee yang penting buat kami 4 KP yang pertama itu sebenarnya yang pertama itu adalah kecukupan pembiayaan. Tapi ini sektastian peraturan itu yang paling penting. Karena kami usernya di belakang di ujung yang melaksanakan harus jelas aturannya. Tadi Pak Iwan sampaikan kasih contoh misalnya kecelakaan lalu lintas. Oke. Aturan mainnya di Jasarja jelas aturan mainnya ee dari ee apa namanya dari kalau dia ada ee penjamin yang lain jelas. Tapi ketika mengurus surat dari kepolisian kapan bisa selesainya pasien sudah di rumah sakit sudah digawat darurat mau dioperasi. Nah hal-hal begini yang menurut saya akhirnya ya jadi rumah sakit yang kambing hitam tadi. Karena kita sektor-sektor kita masing-masing kita urus beres oke tapi ada sektor lain yang terlibat dan itu penting. Dispute klaim rumah sakit termasuk dengan BPJS terkait kecelakaan kerja ini eh kecelakaan lintas ini lumayan juga dan lama sekali baru selesai. Jadi saya tadi harusnya kecukupan pembiayaan di depan KP pertama saya rubah sekarang KP pertama adalah kepastian peraturan. Ini salah satu contoh Bapak Ibu tadi ee apa namanya Ibu menyampaikan pasien di rumah sakit prinya pasien datang ditolong itu. Betul. Setelah itu nah ibu yang jawab siapa yang bayar gitu. Siapa yang jamin ya. Jadi sebenarnya ee kalau rumah sakit tidak begitu harus effort yang besar mengurus administratif yang seperti itu ya kami bisa Pak. Pelayanan itu baik cepat ee apa namanya kita bisa bersaing dengan Penang atau dengan Malaysia gitu ya. Karena ke sana pasiennya sudah pasti datang sudah pasti pasti ada jaminannya pasti dibayar pasti macam-macamnya kalau hanya khusus pelayanannya yang kami urus gitu. Tapi ini rumah sakit juga harus tadi harus berurusan. Kadang-kadang itu kita menganjurkan keluarga ke ngurus surat ke polisi itu kalau bukan yang keluarga inti kadang-kadang enggak bisa juga banyak sekali hal-hal yang akhirnya rumah sakit juga terhambat pelayanannya Bapak Ibu. Itu KP yang pertama kepastian peraturan. Yang kedua KP kedua itu adalah kecepatan pembayaran. Jadi salah satu tiga poin tadi yang sampaikan e tiga poin inti sampaikan Pak Ansori tadi adalah MA gitu ya. Kami berharap jangan sampai ini menambah proses jadinya memperlambat pembayaran itu loh. E adakah PNPK kan kita tadi Pak E Afdal sudah singgung ada dispute ada apa namanya pending claim. Nah itu buat kami problem besar karena pembayaran jadi lambat dengan berbagai sebablah itu dispute dan pending ya. Nah kalau nanti dengan adanya PAD ini ada MAB suatu kewajiban gitu ya nah ini jangan sampai akhirnya memperlambat proses menambah proses. Nah ini yang gimana caranya Pak Abdali kami yang penting itu kecepatan pembayaran. Nah kalau tadi nanti Pak Ihsan mantan orang keuangan pasti kan ada ee apa namanya time value of money gitu. Kalau kami time value of claim gitu. Jadi jangan sampai klaim itu jadi lambat karena ada proses tambahan yang sebenarnya itu bukan urusan rumah sakit untuk melayani gitu kan melayani kami ya gimana standar pelayanannya gimana keselamatan pasiennya itu yang penting buat kami. Tapi kalau harus ada proses di luar pelayanan rumah sakit sehingga memperlambat nah ini akhirnya ya tadi jadi kambing hitam lagi. Nanti timbulnya overut utilisasilah timbulnya apa ee overclaim lah yang melebihi 100% gitu ya seolah-olah tertimpa semua ke rumah sakit. Jadinya. Kemudian kemudian yang KP ketiga adalah kecukupan pembayaran. Jadi bukan berarti harus berlebih ya. Jadi kalau over utilisasi tadi oke kita cek apa sebabnya. Tadi saya sempat diskusi dengan Pak Ansori. Kami berhadapan dengan pasien Bapak Ibu. Kami tidak tahu apa yang disampaikan oleh agen asuransi marketing asuransi kepada nasabahnya. Sampai saya tanya ke Pak Ansor tadi apakah enggak ada limitasi Pak apa tadi ya limitasi ya seingnya untuk premi itu. Tadi kan infonya bebas ya masih lepas gitu terserah masing-masing perusahaan asuransinya. Nah apa yang disampaikan marketing ke nasabah ketika nasabah butuh pan ke rumah sakit kami enggak tahu lagi. Kami ada hanya kontrak dengan asuransi perusahaannya. Enggak mungkin kontrak itu kami tunjukkan ke pasien oh ini loh kontraknya gitu. Nah apakah pasien ini ketika berhadapan dengan dokter di klinik men-drive dokter atau seperti apa ini yang harus sama-sama kita jagalah. Jangan sampai pasien men-drive dokter. Tapi kalau pasien misalnya di depan dokter "Dok saya haknya A B C D FG." Dokter enggak hafal semua itu aturan main perusahaan asuransi A asuransi B asuransi C BPJ saja yang 98% enggak bisa hafal dokter itu semua aturan mainnya. Apalagi tadi ini 5% perusahaan asuransi gitu ya ee apa namanya coverannya kepesertaannya dari populasi ya. Baik Pak. Yang keempat adalah keberlangsungan program ini. Itu sangat penting buat kami. Jangan sampai nanti kita hanya uji coba sebentar ee tidak jalan. Gu termasuk aturan-aturan main yang di depan mata ini. Rumah sakit ee kami kemarin banyak diskusi dengan Pak Ihsan Kris gitu ya ee sistem rujukan berbasis kompetensi ee dan macam-macamnya. Ini buat kami yang penting ini kita memikirkan aturan main ini long time gitu ya jangan sampai ee apalagi itu ada unsur investasi yang harus diberikan oleh rumah sakit oleh owner rumah sakit tapi keberlangsungannya tidak ee long time. Jadi Bapak Ibu bagaimana tadi mengendalikan supaya tidak operisasi bagaimana supaya klaim itu tidak melebihi 100% ayo sama-sama kami juga rumah sakit ketika pembayaran itu cukup artinya tadi ada ada dasarnya BPJS datang COB apapun atau apapun namanya gitu ya asuransi tambahan ini untuk menambahi ayo kita batasi juga enggak masalah buat kami rumah sakit kami juga enggak mau dilepas seperti iuran tadi apa premi tadi kami juga sebenarnya rumah sakit enggak pengin juga dilepas sehingga rumah sakit masing-masing berimprovisasi gitu sehingga induce untuk ee ee operisasi tadi. Ayo sama-sama kita atur yang penting kecukupan pembiayaannya. Contoh misalnya Bapak Ibu ya terakhir ini Pak ketika agen asuransi ke nasabahnya Bapak kalau membutuhkan peran rumah sakit apakah ada bahasanya misalnya ini coverannya bisa di rumah sakit kelas C bisa di kelas A. Ada enggak supaya jadi hemat tanda petik ya supaya efisien ke kelas C dulu gitu ada enggak bahasa itu terus kita berharap rumah sakitnya tarif dari kelas A jadi hemat gitu dibandingin tarif kelas C ya enggak mungkin resource-nya kelas A pasti lebih di sana ada riset di sana lengkap peralatannya di sana macam-macam investasinya gitu. Nah mungkin hal-hal ini Pak yang selama ini belum tersentuh ayo dari berbagai ee sudut pandang mindset apa namanya ee sisi kita diskusikan bersama-sama. Oke mungkin itu Pak. Terima kasih. Asalamualaikum.
Thanudin. Applause untuk Pak Fahrudin sebagai wakil dari ee Asosiasi Rumah Sakit Swasta di Indonesia. Sekarang saatnya kita masuk ke sesi diskusi ya Bu Jeni ya. Iya. Baik. Ee mungkin dari tes tes ya bisa didengar suara sayaangcang ya. Tes ya. Mungkin saya pakai e mic aja ee dari Slido sudah ada pertanyaan terbanyak. Tolong dibantu ya sekretariat. Ee Bapak dan Ibu sekalian tadi kita sudah dengarkan dari seluruh narasumber ee Pak Ansori tadi kalau saya simpulkan supaya gampang ada tiga syarat wajib gitu ya. Ee yaitu kompetensi digital, dua kompetensi medis ya termasuk SDM dan review dan MAB yang menjadi syarat mutlak. Kemudian ada dua eh syarat cukup yaitu eh review terhadap fitur-fitur produk dan premi yang berdasarkan risas pricing dan juga adanya copayment. Betul ya Pak kemudian
Nanti ada syarat tambahan tadi, pertukaran data ee, dan juga sosialisasi hidup sehat. Ini menarik juga nih, sosial hidup sehat. Ni tanggung jawab siapa nih? Karena ee asuransi itu YRT ya, yearly renewable term, cuman tahunan. Kalau kita bikin wellness ee besok, tahun depan pindah lagi ke asuransi lain ya. Tapi ini bagian yang menjadi perhatian Pak Iwan dari OJK juga. Ini yang memang harus di apa ya, di ee canangkan bersama. Nanti mungkin Kemenkes, BPJS bisa bantu, karena 98% ya, bersama-sama asosiasi pastinya, asuransi jiwa dan asuransi umum ya.
Kemudian juga ada, sudah bisa tayang pertanyaan terbanyak atau saya harus buka slidonya? Oh, ada di situ. Baik. Iya, pasti yang menarik lagi tadi mengenai ee COB atau KAPJ. Mungkin ada yang enggak ng ya, KAPJ ini koordinasi antar penyelenggara jaminan. Ee sekarang yang baru kita bicarakan di dalam ee PADK itu adalah ee ee KPJ dengan JKN ya, COB dengan JKN. Tapi Pak Iwan tadi sempat memaparkan ada banyak KAPJ ya, ee yang bisa artinya penyelenggara jaminannya ada Jasa Raharja. Satu kasus kecelakaan lalu lintas yang jamin bisa banyak, pastinya Jasa Raharja sebagai penjamin pertama, BPJS penjamin kedua. Mungkin juga kalau dia ee apa namanya ASN bisa dengan Taspen, bisa juga dengan BPJS Ketenagakerjaan kalau dia badan usaha atau ee ASABRI kalau dia TNI di Polri. Jadi sangat banyak. Nah, ini curhatnya Pak Fajaruddin Siombing tadi juga. Ini siapa yang jamin sudah tahu yang jamin tiga, tapi LP-nya, laporan polisinya enggak keluar-keluar gitu ya. Ini kecelakaan tunggal apa ganda gitu ya. Jadi ini yang mesti kita benari bersama. Rasanya tadi sudah janji mau ada seminar lagi ya, Pak Irsan ya. Kita mesti ada seminar lagi tentang KAPJ, ee OJK, Kemenkes dan BPJS kesehatan mungkin dengan badan penyelenggara lainnya. Baik.
Ee ini resume sementara Bapak Ibu atas diskusi kita hari ini. Ada pertanyaan dari Flor dan juga dari ini. Kita langsung bacakan aja ya, Pak Putu ya. Pertanyaan: jika BPJS penjamin pertama, artinya dia peserta JKN ya. Apakah BPJS siap dalam pelayanan dan penyederhanaan prosedur? Tadi Pak Afdal sudah sampaikan sih, kalau saya bantu jawab ini kapal besar yang gerakannya, movement-nya itu terbatas, fully regulated. Tapi silakan Pak Afdal, mungkin yang tentang BPJS ada beberapa ee kaitan dengan COB juga atau ini sudah yang terbanyak ya, silakan Pak Afdal. Kok bunyi ya, baik ini ya. Ee sudah ditegaskan Bu Yeni tadi ya. Jadi memang kita memang di samping memang regulasinya seperti itu dan ini kapal besar. Memang cita-cita sistem pembiayaan kesehatan kita itu sebenarnya penguatan primer, malah jangan ditinggal primer ini. Ee bahkan kami sungguh ee memberikan apa ya, supaya teman-teman juga yang bergaduk ke wilayah primer. Tidak semua harus ke rumah sakit. Dan yang memicu inflasi biaya medis tinggi itu sebenarnya karena salah satunya itu kalau kita mau ikut ikut apa masyarakat kemudian tidak perlu lewat FKTP. Saya kira yang perlu dikuatkan malah sebaliknya. Bagaimana orang percaya dengan dokter FKTP sesungguhnya itu jadi kampanye kita ke situ sehingga tidak perlu orang harus langsung ke rumah sakit. Hampir semua teori itu memberikan seperti itu. Tapi kan sebenarnya opini yang berkembang di luar, FKTP tidak nyaman, saya tidak sesuai, saya maunya spesialis. Udah berbeda Pak, kita sudahud udah kita sudah sering juga keluar dan kita lihat skema apapun terbaik di luar juga seperti itu. Te ee sekarang yang penting bagaimana kita membuat FKTP kita nyaman, memberikan manfaat, memberikan treatment yang ee appropriate gitu ya, dan akhirnya memuaskan untuk ini. Tapi kalau misalnya BPJSI minta tidak perlu pakai ini bisa kalau UGD, kalau gawat darurat itu bisa langsung. Tetapi once dia elektif, kita selalu percaya salah satu untuk membuat lebih efisien dan bisa itu lewat FKTP. Jadi seperti itu kira-kira Bu Yeni ya. Baik. Iya. Oh, Oke.
Ini yang menarik nih. Tadi sempat disampaikan sama Bu Emira, Dr. Emira. Sebenarnya pengembangan selanjutnya yang buat lebih nyaman itu adalah apakah orang-orang itu bisa diobati dia tidak perlu datang ya kan, pengobatan dengan telemedicine. Saya kira malah pengembangannya ke situ, dia mau ke rumah sakit hanya untuk perobat yang sebenarnya masih bisa, bahkan telemedicine pun bisa kalau kenyamanan itu bisa dicari di situ ya, saya kira itu tempat kita untuk apa selanjutnya gitu ya. Saya kira itu betul sekali. Pak Afdal tadi di slide Pak Iwan juga ada telemedisin mungkin di di bawah ya, Pak Ansori ya, tapi memang menjadi perhatian untuk ee ee berobat yang tidak harus ke rumah sakit. Mohon maaf ya, Pak Fajarudin, bukan berarti tapi memang rumah sakit untuk spesialistik. Kalau kita belajar dari NHS England, mereka itu bahkan memang apa namanya mempromosikan promotif preventifnya yang luar biasa ya, perokok kemudian ibu hamil itu bukan begitu ya. Kemudian kita punya seperti tadi dokter Mira bilang bahwa ada satu sehat. Apakah itu yang nantinya mau dipakai atau sebetulnya arahnya sebetulnya gimana sih, kemudian industri sendiri sebetulnya gimana oke apa enggak dan mungkin punya konsentr terhadap ide besar ini ya, yang on paper sebetulnya bagus. Mungkin dari para panalis ada pandangan sendiri, silakan terkait data integrasi. Ee ya gak apa-apa karena kita yang paling besar ya, ee 98% gitu ya orang-orang. Jadi sebenarnya kita kalau bicara integrasi ini kita sudah biasa ya, karena kita integrasi dengan e-duk, capil, imigrasi, yang lain-lain gitu ya. Jadi sebenarnya rumahnya sudah ada gitu loh. Ee ee tinggal membuat bagaimana ada hubungannya ee antar ee seluruh yang saya bilang tadi, katakanlah misalnya data yang tercatat di BPJS kesehatan itu ba by individu ada gitu ya. Ketika kemudian dia mencari ee ee tempat lain untuk berobat yang tidak menggunakan BPJS kesehatan sangat bagus sesungguhnya untuk melihat secara individual bagaimana sih berobat orang Indonesia itu sebenarnya. Ee kalau misalnya ditanya possibilities-nya sangat posibel sesungguhnya ya, tinggal bagaimana ee teman-teman bisa cukup karena ini kan ibarat rumah besar disiapin nih, mau nyolok enggak gitu ya. Ee tapi nyoloknya juga nanti mungkin harus kita perhatikan betul supaya tidak apa perlindungan data peri macam-macamlah. Bagaimana mekanisme itu dibangun supaya ee konsensusnya sama ini ini bisa melindungi pasien karena ee hati-hati betul saya kira di ini kita sering diskusikan itu ya, ee ada hati ada hal yang harus kita supaya tidak semua orang bisa mengakses itu. Tetapi pada saat yang bersamaan angka-angka yang dipenti diperlukan untuk pengambilan kebijakan itu bisa kita provide gitu ya. Tidak masuk ke individu, ke orangnya. Tapi angka-angkanya sebagai bukti bahwa ini ternyata kecenderungan perilaku berobat orang Indonesia seperti ini dan seterusnya.
Tasi insik yang lain masih banyak itu bisa kita dapat tanpa masuk ke PDP tadi. Dari Mbak Ita atau dari Pak Dewo ada komen mengenai ini atau dari ee rumah sakit, silakan Mbak Ita. Baik, ee tentang integrasi data, ee sekarang kan sudah jalan Pak kita dengan ee satu sehat ya, kami dengan BPJS. Artinya ee sekarang kan tinggal ditambah nih, berarti dengan AKT gitu ya. Ya, sepanjang itu sesuai aturan dan ee undang-undang berlaku ya, kami rumah sakit ikut saja dan sudah jalan bahkan tinggal dikembangkan aja apa yang dibutuhkan gitu. Yang penting sesuai aturan ya, jangan sampai kita melanggar apa namanya undang-undang PDP gitu. Mungkin itu Pak. Oke. Thank you Mbak Ita. Boleh nambahkan sedikit. Kalau kami memang untuk di asosiasi asuransi umum ini kan ee terkait integrasi data ini kan selama ini kami masih sangat bergantung dengan TPE kami. Jadi TPE kami yang punya integrasi data dengan rumah sakit. Jadi sebenarnya inisiasi OJK ini memang membuat mendorong bahwa kami di industri ini ya harus mandiri juga. Jangan terlalu bergantung dengan TPE. Kita harus mulai set up dengan ini. Nah, memang terkait setup integrasi data ini ya balik lagi juga ke cost and benefit di masing-masing perusahaan. Tapi kami sangat sadar bahwa ini harus dimulai dan memang banyak sekali ee problem saat ini ketika kita mau terintegrasi bahwa kan sering juga mitra kami itu begitu mau mengintegrasikan datanya sekarang security system di kamu kali seperti apa nah kan sering lagi itu yang menjadi permasalahan adalah kenyamanan untuk mengintegrasikan data itu sendiri yang appetite-nya beda-beda. Jadi kan kalau misalnya dengan BPJS dengan rumah sakit ada yang rumah sakit plong aja oke silakan kita integrasi. Tapi ada rumah sakit yang secara grup besar itu dia lebih nyaman berintegrasi data dengan TPE-nya misalnya dengan Air Medica dengan perusahaan asuransi akhirnya ada syarat-syarat. Nah yang ini yang memang harus kita juga mengharapkan bahwa biaya digital ini makin lama makin murah. Jangan sampai gara-gara isu security system juga malah jadi problem lagi. Pada prinsipnya kami mendukung, kami sangat menghargai dan juga sangat ingin integrasi data, data sharing itu terjadi. Karena aktualnya sekarang ya yang dipermainkan memangnya kami ini saja antara AAJI dengan AUI, kutu loncat, klien kita pindah-pindah, kita terima aja. Sementara basicnya bisnis ini sebenarnya sudah enggak boleh diteruskan ketika lusterasi sudah 95%. Oke. Jadi menarik. Makanya sekarang kan sudah ada beberapa anggota kami yang pull out. Sudah pull out karena berdasarkan POJK juga kan ketika LOB sudah minus ya kami harus berhenti. Oke. Nah jadi intinya sih integrasi data ini memang jadi pertimbangan kami juga dari asosiasi dan juga harapannya memang inisiatif yang sudah disampaikan OJK ini ya memang harus ditindak lanjuti biar jalan. Oke, good. Thank you dari Pak Ita.
Nanti sebelum ke Pak Ansori mungkin ada tambahan atau dari Pak Irsan, silakan. Baik, terima kasih. Kalau saya sih ee setuju dan mendukung dan tidak anti integrasi data. Cuman saya berharap kita tidak latah gitu, karena integrated data itu mahal. Satu. Kedua, masing-masing kita itu biasanya sudah punya sistem sendiri-sendiri sehingga akan sulit untuk plug and play. Nah saya pengin lebih pada gini, tujuan integrasi data itu apa sih iya kan, kita mendapatkan informasi kan dari pihak mitra kita atau apapun itulah di di ekosistem ini kita saling berbagi informasi lah. Kalau memang ada cara lain untuk bisa kita lakukan misalnya interoperabilitas data tanpa harus kita berintegrasi kan enggak ada masalah juga, yang penting informasinya apa. Jadi di ekosistem ini misal Bapak Ibu di asuransi butuh informasi apa sih dari regulator ya kan, dari operator ya sudah kita bisa profitnya seperti apa, kita profite regularly kah atau seperti apa tadi seperti Pak Abdal bilang ada isu kita kami dari sisi regulator ya apalagi BPJS menjaga kerahasiaan ee data pribadi kan gitu, kalau terintegrasi ini kita panjang lagi ceritanya, sekriticis sistemnya, regulasi apa. Nah Bapak Ibu butuh data apa dari klien Bapak Ibu gitu kan, sehatkah dia ya kita bisa keluarkan si A sehat gitu misalnya kan gitu. Tidak harus Bapak Ibu tahu sedetail mungkin. Nah itu mungkin itu satu hal. Nah ee kalau kami di sendiri dari satu sehat sudah ya tadi sudah disampaikan juga oleh Pak Siombing ee juga dengan BPJS kita target ya Pak Afdal ya Oktober ini ya kita sudah bisa melakukan interoperabilitas data hampir semua informasi kita tuh jadi kita bergeraknya dari ini dulu requirement-nya gitu, informasi requirement-nya apa sih yang kita butuhkan baru di situ kita oh ini mungkin perlu integrasi data kalau ini interoperability, interoperabilitas saja. Yang ini kita bisa pakai API, yang ini mungkin mungkin secara langsung gitu apa istilahnya host to host atau apa gitu. Nah supaya kita juga lebih apa ya lebih efisien dan efektif gitu. Kalau kita integrasi kami kasih semua data satu set ke Bapak Ibu buat buat Bapak Ibu untuk apa gitu. Bapak Ibu punya enggak embungnya kan atau apa waduknya untuk nampung itu semua kan mahal. Apalagi kalau seperti kata Pak Diru tadi tidak semua asuransi punya kapital besar untuk invest di IT. Kedua terakhir saya mau sampaikan terkait KAPJ kami di ee melalui Pusdatin Kementerian Kesehatan sebenarnya sudah pernah mengundang ee industri asuransi untuk melakukan apa OT dan ini kalau enggak salah sudah ada dua atau tiga kali saya lupa. Ee nanti mungkin kalau memang masih dibutuhkan lagi kita bisa usulkan untuk kita lakukan lagi gitu, mungkin itu Pak. Oke, thank you Pak. Silakan ya.
Em idealnya memang kalau ee rumah sakit itu sudah menggunakan satu sehat untuk ee memberikan atau menyimpan atau me ee men-supplai e-medical record dari pasien sebetulnya itu ee kalau kita bisa mendapatkan asuransi itu bisa mempunyai akses ke situ itu sudah kita gak perlu lagi ee apa ee berhubungan dengan rumah sakit meminta ee akses gitu ya Pak ya untuk ee eh host to host karena ini juga menjadi tidak efisien karena rumah sakit mempunyai sistem sendiri, ee perusahaan asuransi punya sistem sendiri. Kalau satu rumah sakit berhubungan dengan 20 ee asuransi, 20 asuransi punya sistem sendiri, rumah sakit harus menyediakan 20 itu. Dan demikian juga ee apa e vice versanya, asuransi berhubungan dengan katakanlah ribuan. Nah seperti itu. Jadi memang idealnya jika memang sudah ada dan itu dimungkinkan untuk memberikan akses maka ee sebaiknya kita bergeraknya ke arah itu gitu. Kalau yang ini konteksnya asuransi kesehatan dulu ya Pak ya gitu. Nah tapi yang sekarang yang terjadi itu adalah ee memang beberapa asuransi itu bekerja sama dengan TPA. Nah TPA itulah yang berhubungan dengan ee rumah sakit dan rumah sakit memberikan data ke TPE. Mungkin yang sering ee terjadi itu adalah keterlambatan ee pemberian data itu ke asuransi. Nah ini bagaimana ini ee TPA juga berubah gitu. Ee sepemahaman saya ee OJK juga mendorong TPA itu ee bergerak ke arah tadi ee digitalisasi itu kalau tidak menyebutkan host to host karena sudah tidak ada lagi host to host. Nah jika ini kita semua searah harusnya itu ee menjadi tidak masalah sih Pak. Menurut saya gitu. Oke, good. Thank you dari Mbak Mira atau ada atau Pak Ansori ada yang mau ditanggapi Pak mengenai konsel data integrasi. Ee baik, terima kasih. Ee sebenarnya kalau dari PAD-nya Pak memang ee kita tidak secara eksplisit menyebut integrasi ya, tapi itu kan ee tujuan besarnya. Tadi juga Pak Eksan juga menyampaikan ee harus ee dilihat dari cost benefit ee analisisnya juga ya. Ee tapi pada dasarnya memang dari OJK itu ingin melihat ingin meminta asuransi itu memiliki pertukaran data dengan faskesnya gitu ya. Bahkan kemarin ee ee Pak Iwan juga menyampaikan nanti sejauh mana data yang diminta itu seperti apa. Ee salah satu yang disampaikan adalah sudah ikuti aja BPJS gitu ya, data BPJS sudah terintegrasi dan sudah punya eh terkoneksi dengan semua faskes yang ada sehingga at least data itu bisa ditiru minimal dari sisi ee karakter datanya, karakter informasi yang diminta Pak. Sehingga itu tidak juga menyusahkan fascana, fascikan data kerjasama dengan BPJS. Itu salah satu yang ee yang mungkin kami apa tegaskan ya, kami luruskan ya. Jadi integrasi memang tidak ada di dalam PADK secara terksplisit. Tapi memang tadi ya kalau seandainya nanti dari BPJS dengan Faskesnya sudah ter hasilnya nanti tersimpan di kartu sehat eh satu sehat, kalau seandainya nanti ditambah dengan data yang sama dari asuransi tambahan kan menjadi lebih lengkap. Tetapi itu kan tentunya tidak melibatkan OJK saja, tentunya harus melibatkan satu kodus yang lain. Yang kedua terkait dengan ee pertukaran data ini memang ee sifatnya kami buka Pak. Memang awalnya memang kita tidak kita berharap semua perusahaan punya kemampuan. Tetapi ketika memang kita tidak bisa memaksa maka kemampuan itu bisa di apa dilayani dengan kerja sama dengan perusahaan asuransi lainnya. Itu juga bisa atau kerja sama dengan TPE tadi yang disampaikan oleh Pak Diwe tadi. Jadi TPE itu selama ya makanya kemarin juga ee Pak Iwan pimpinan ee bersama tim juga mengundang TPE juga untuk memahami bahwa you kalau masuk di dalam ee ekosistem ini ya juga harus punya kapasitas tiga tadi, digitalisasinya juga harus ada bahkan medicalnya juga ada gitu. Kemudian tadi ya menanggapi tadi ee konsen Pak Fajar terkait dengan mungkin sedikit ee ini Pak ya, tadi beberapa kan Pak Diw menyampaikan beberapa ini ya, ee ada beberapa yang mungkin yang bisa saya sampaikan adalah ada yang sudah kami akomodir gitu ya, yang belum nanti saya coba akan sampaikan ke pimpinan. Yang pertama tadi MAB kekhawatiran Pak Fajar tadi kan akan menambah jangan menambah proses klaim di dalam aturan kami. MAB bukan dalam rangka bertugas untuk ee terkait dengan handling claim Pak Dok. Jadi lebih memberikan masukan sifatnya ya mungkin tadi sudah disampaikan oleh para dokter ya, ee dia memberikan masukan terkait dengan layanan medis yang sudah dilakukan seperti apa. Kemudian ee ketika terjadi case tertentu menurut yang best practice-nya seperti apa. Jadi bukan dalam rangka untuk tiap klaim MAB masuk. Enggak, klaim masuk masuknya ya di di tenaga medisnya yang ada di OJK apa yang ada di perusahaan bukan lewat MAB-nya. Harusnya sih persyaratan MAB ini tidak ee tidak menambah ee panjangnya tadi ya, kecepatan pembayaran dari ee perusahaan. Kemudian masalah tadi ya yang disampaikan oleh Pak DW, MAB dalam ketahuan kita memang boleh dilakukan bersama-sama Pak. Jadi harusnya tadi perdosaksi nanti bisa men-support ee MAB-nya yang dibutuhkan. Memang masing-masing perusahaan OJK kan perlu tahu perusahaan ini MAB-nya yang mana sih. Ini ada MAB ada 10 perusahaan masing-masing memiliki dokumen penunjukan MAB ini. Sehingga ketika kita katah OJK datang ya katakanlah ada sesuatu yang memang perlu dikonfirmasi ya, MAB mana yang munya perusahaan ini. Jadi sudah sudah firm Pak ee kita tidak bisa memaksa gitu ya karena itu pasti biaya gitu ya sehingga memang nanti bisa ee dilakukan secara bersama-sama. Oke. Tadi terkait dengan database Pak. Lah ini memang database ini sangat memang tadi ya Pak Iksan Pak ee mungkin yang regulator ya pasti ada kaitannya dengan PDP. Makanya kemarin terakhir salah satu memang nanti di dalam ee penutupan asuransi kesehatan itu kan kita kan kita bicara ada dua ya, ada yang kumpulan ada yang individu. Yang kumpulan kemarin itu kan sempat ya Pak ya ada permintaan di dalam draf kami itu laporan performa klaim dari PA PA yang sekarang dengan kepada PA sebelumnya. Dan ini rasanya memang tidak akan jalan menurut Pak Iwan juga gitu ya. Karena dan dimungkin apa dan dikhawatirkan ada pembajakan nasabah nih. Jadi nasabah datang dia mau ya inilah apa belan apa shopping ya shopping ini ya shopping harga datang dia sudah jelek di sana nanti kalau ada aturan kita PTB akan meminta ke PTA informasinya jangan-jangan PTA enggak akan mau kasih. Makanya memang nanti kita akan coba ubah kemarin dari AAUI dan AAJI moga-moga bisa support juga ada database khususnya untuk yang ee yang bermain di ee kumpulan yang sifatnya mungkin tidak tidak melanggar PDP gitu ya. Jadi ada nama ee NPWP-nya perusahaan kemudian tadi yang sampaikan Pakwan tadi ya sekilas tadi ya ada preminya ada klaimnya berapa risikonya gitu ya lah. Kalau yang untuk yang individu ee kemarin Pak Iwan juga sampaikan karena katanya AAJI juga ada rencana ya untuk membuat database tersendiri. Tetapi tentunya kami mengharapkan itu harus diperhatikan masalah PDB-nya karena Undang-Undang PDB itu clear Pak Bu hanya regulator. Itu pun artinya sudah dipastikan asuran industri enggak bisa enggak bisa minta data sampai sifatnya individu. Makanya kalau enggak salah kemarin itu ee Pak Iwan menyampaikan enggak tahu nanti AJI apakah akan ke sana namanya cuman NIK sama ini ee status status risikonya substandar atau ya. Cuman kalau cuman begitu rasanya tidak ada pelanggaran ke PDB. Oke, sudah Pak, masih rasanya itu ee mungkin sedikit Pak tadi ada ee terkait ya ini terkait masalah co-payment tadi Pak Diwe juga menyampaikan masalah layanan pertama. Layanan pertama sudah kita kecualikan Pak di dalam ee apa di dalam PHDK-nya. Jadi layanan pertama kita paham memang ee enggak enggak dimungkinkan ada komen tadi ya 60.000 6.000 gitu ya. I itu memang tidak jadi payment yang untuk yang di ee ee yang di manage Care itu nanti di layanan lanjutannya. Nah itu sudah kemarin sudah apa diskusi dengan Pak Iwan juga mungkin itu rasanya ee beberapa sudah ini ya. Terima kasih Pak. Thank you Pak ya. Tadi sudah dapat F belum Pak kita buka satu di floor. Ada dua Ibu Rosa dan Bapak ada dua. Nanti kita e minta tang dari Bapak singkat padat ya Pak karena waktu Bapak ini ke Bu Rosa. I tes tes. Nama Pak dan dari mana silakan.
Baik, terima kasih. Nama saya Mahyudin dari ee Toyota Suso Broker. Ya pertama terima kasih atas penyelenggaraan seminar ini. Ee tadi terkait dengan ee beberapa ee narasumber sudah menyampaikan beberapa kali ee kolaborasi kemudian integrasi ini sangat ee menarik buat kami sebagai broker di mana ee untuk mengantisipasi ee meredus klaim ee kami biasanya selalu apa menyarankan mengedukasi ke pihak klien untuk melakukan ee mendorong benefit alternatif salah satunya adalah HCP, COB, kemudian tadi mungkin telemedicine ya itu kami dorong. Nah cuman ee problem di kami ee ketika ee jaminan itu kita berusaha dorong dulu untuk asuransi ee swasta ya. Tapi ketika ada beberapa coveran tidak mencukupi itu biasanya dialihkan ke PPJS. Nah sayangnya ee pengalihan itu atau switching itu dilakukan di rumah sakit yang sama itu tidak bisa dilakukan tapi dia harus pindah dulu ke rumah ee ke pindah lagi ke rumah sakit lain. Sementara pasien kan kondisinya juga kita harus lihat dulu ee artinya kalau memungkinkan kita move ke rumah sakit yang berbeda. Tetapi ee kalau tidak memungkinkan biasanya itu memang mau enggak mau ee pasien menggunakan asuransi dan menimbulkan ses pastinya. Terus kemudian saya mau mau mengomentari juga mengenai ee tadi ya telemedicine. Telemedicine ee setelah kita beberapa kali berdiskusi dengan pihak asuransi dan ee ee TPA ternyata telemedicine itu juga ee bisa menimbulkan fraud ya, kita tidak tahu apakah betul dia yang melakukan atau tidak. Nah mungkin juga bisa dipikirkan ee bagaimana untuk mengatur itu tidak menimbulkan fraud. Ee tadi e sekali lagi balik lagi pertanyaan utamanya adalah ee tadi integrasi data ketika integrasi data itu sudah berjalan mungkin tadi hal yang tadi ee keluhan ee pasien harus move ke rumah sakit tidak ee apa bisa dilakukan di rumah sakit yang sama pertama. Yang kedua mungkin juga COB yang selama ini ee dilakukan secara rembes pada umumnya ee memang sudah beberapa asuransi sudah melakukan cashless tapi tidak menyeluruh gitu. Mungkin dari ee apa ee ee regulator dalam hal ini ee mungkin Kemenkes ee bisa mengeluarkan regulasi-regulasi ke pihak rumah sakit untuk memperlancar dua masalah ini. Mungkin itu aja. Terima kasih. Oke. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih. Mungkin kita catat dulu supaya nanti langsung. Silakan Bu Rosa.
Terima kasih. Ee saya di sini memang di hadir atas nama Pamzaki ya, Pak Afdal ya. Tapi saya juga diperdaksi juga pelaku baik di rumah sakit maupun di asuransi. Eh, judul seminar ini adalah bagai bagaimana antisipasi dan strategi para praktisi. Jadi apa hari ini ngumpulkan gitu, apa sih bagaimana sih antisipasi kita praktisi dan strategi apa yang akan dilakukan dalam menghadapi SEOJK. Itu sebenarnya kan yang ingin dijawab. Tapi tadi kita sudah membahas dari ee cukup menyeluruh. Mudah-mudahan nanti Pak Bambang sudah bisa menyimpulkan gitu, masukan apa yang bisa diberikan atas S OJK itu. Kalau saya baca S O S E Ojk atau diganti tadi ya PADK KP AK itu kan ada delan poin tadi 8 poin RI yang di situ disebutkan produk asuransi itu adalah ini ini ini gitu. Mudah-mudahan kita sudah baca syaratnya perusahaan asuransi yang menjual ee asuransi kesehatan apa SDM-nya apa, sistem IT-nya apa yang barangkali selama ini belum diatur. Yang kedua harus ada MA gitu. Nah ini yang sebenarnya OJK ingin masukan. Setuju enggak praktisi seperti ini, kalau enggak setuju menjadi bagaimana, kalau setuju ya setuju ingin melengkapi itu gitu ya. Eh cuma kita berdiskusinya sudah lebih luas daripada itu. Nah saya beberapa eh kita masalah kita apa sih saat ini kita punya JKN, BPJS kesehatan yang coverage-nya sudah begitu besar sudah 98% ya Pak. Dan dengan JKN itu sudah ditata sistem layanan kesehatan itu sangat terasalah di rumah sakit. Pak Siompeng pasti tahu betul yang tadinya bebas merdeka sekarang tatanan itu sudah bagus sudah mendorong rumah sakit apalagi para dokter untuk bekerja ee sesuai standar. Itu jelas sekali kelihatan. Kemudian tadi disebut ee dari biaya kesehatan JKN itu 28% ya 30 hampir 30 lah mencakup 908% rakyat Indonesia tapi dia total biaya 30 sekian persen ya eh hampir 30 lah ya karena memang di undang-undang kan menyebutkan bahwa JKN itu adalah kebutuhan kesehatan dasar, KDK. Artinya apapun kebutuhan meraih Indonesia kalau untuk dasar saja sudah cukup dengan PPJS. Tapi nyatanya kan banyak masyarakat kita yang enggak puas hanya dengan dasar sehingga ada on top itu, on top mestinya kalau mereka ingin lebih lebih nyaman lebih cepat lebih apalagi kenyamanan ya tapi kesembuhan sudah selesai dengan JKN sebenarnya. Misalnya naik kelas obatnya mungkin. Nah itu belum di itu yang memang belum diformulasikan. Kita beberapa kali rapat dengan Kemen CAS juga define it first. Yang mana sih yang disebut KDK yang dijamin dengan premis sekian rupiah itu itu belum di didefinisikan dengan jelas. Semua sesuai kebutuhan medis. Saya tanya operasi robotik kebutuhan medis enggak. Nah ini kalau ini belum jelas memang on top-nya itu yang mana nah ini ee saya enggak tahu ya Pak Ihsan ya sudah sudah terkonklusi enggak, paling enggak ee bertahap ya ini dulu gitu baru pasar asuransi kesehatan ya komersial itu yang on top yang orang ingin beli nyaman. Kan ada orang image-nya "Ah saya enggak obat generik." Padahal obat generik itu sama. Saya selalu obat generik tapi kan ada orang image-nya yang ingin lebih. Boleh dong dia punya duit walaupun dituntun mestinya ya dokter-dokter itu harus menuntun. Jangan dia karena ketidaktahuan jadi boros gitu kan. Nah tadi kan Pak Iwan bilang kita saat ini biaya kesehatan kita 2,9% dari GDB. Walaupun WHO kan bilang 5% dong baru cukup, Singapura 8%, Amerika hampir 20. Ya kita enggak ke sana lah. Tapi Pak Iwan bilang enggak bisa enggak bisa naik lagi. Kalau enggak bisa naik lagi terus kita gimana tentu kita punya batasan ya. Enggak semua ya cukuplah dengan mobil sederhana atau tapi sembuh tapi mungkin kurang nyaman. Nah inilah yang pasar-pasar mestinya di-cover oleh asuransi komersial di jangan bergerak di benefit yang sama dengan JKN kan masih banyak kan produk di situ disebut juga misalnya disability income insurance, longterm care itu belum pernah dijamah oleh asuransi kesehatan komersial karena mungkin belum belum punya ilmunya nanti di Pak ee Afdal di Pak Mjaki bisa memberikan itu. Jadi masih banyak sebenarnya kalau kita baca SEOK itu produknya sudah di dijelaskan yang sekarang belum kita di industri ee asuransi komersial belum dijual. Nah kemudian kalau bicara struktur tadi Pak saya juga menangkap tadi Pak Iksan bilang RJTP kita itu berfungsi enggak sih? JKN yang membayar Rp10.000 Rp10.000 per jiwa per bulan minimum ya Pak Afdal. Ada yang 15. Hasilnya apa? Sudahkah mereka bisa menurunkan insidens penyakit-penyakit yang preventable, diabet, TBC? Saya bilang saya ke eh eh apa namanya eh faskes saya yang dia di mana saya terdaftar. Saya bilang "Saya Anda enggak pernah menyapa saya aja enggak." boro-boro kunjungan rumah, nanya aja ibu sehat apa enggak. Mesti kan dia tahu ini kok saya diabet kok dia enggak pernah nanya ibu menyukan obat apa enggak. Jadi saya tanda tanya besar itu RJTP kita yang kita bayar Rp10.000 rata-rata lah ya per kali Rp10 juta per bulan itu hasilnya apa? Kalau memang uang kita tercatat sesuai dengan prinsip asuransi kan yang di-cover dulu adalah yang mahal tapi frekuensinya jarang. Orang senang sekali, orang bersyukur sekali JKN. Saya pasang ring gratis, saya cuci darah gratis, saya operasi stroke gratis. Memang untuk itu sebenarnya JKN. Kalau RJTP kan masih bisa bayar sendirilah, ngutang kiri kanan. Bahkan PBI yang merokok itu pun bayar ke Puskesmas kan masih bisa. Bahkan Puskesmas banyak yang gratis. Jadi barangkali saya titip pesan.
Ini kepada Kemenkes, mungkin direstructure lagi benefit kita yang bisa di-cover oleh negara. Karena tadi Pak Iwan bilang uangnya segitu, enggak mungkin naik. Premi juga naik, tapi efektifkah? Tadi juga Awi kan nanya, kan efektif enggak itu RJTP kita itu. Oke, saya rasa itu ee menjadi concern saya. Jadi, ee tolong kita baca kembali praktisi, terutama S OJK itu ada enggak masukan kita untuk sebelum di ee diberlakukan 1 Januari ya Pak ya, 2026 untuk bisa diadop oleh ee OJK. I terima kasih. Thank you Bu Rosa.
Terima kasih Bu Rosa. Satu lagi, singkat padat ya Mbak, karena nanti langsung akan langsung saja ini penanyaan terakhir sebelum nanti akan ditanggapi oleh narasumber. Ya, baik terima kasih. Nama saya Prita dari PT Toyota Sio Insurance Broker Indonesia. Eh, saya hanya ingin menanyakan eh masalah COB cashless yang saat ini setahu kami hanya bisa dilakukan oleh satu asuransi, yaitu Mandiri in Health. Namun sepengetahuan kami juga bahwa TPA juga sebetulnya sudah bisa melakukan ini. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana teknisnya apabila ada asuransi yang sudah bekerja sama oh ya, iya. Bagaimana teknisnya jika asuransi yang sudah bekerja sama dengan TPE, TPE yang bisa mem-provide eh COB cashless ini juga bisa melakukan hal yang sama dengan asuransi yang saat ini sudah ada? Karena terus terang saja, hal ini ee memang menjadi concern utama terutama di klien-klien kami di mana ee mereka, mereka akan lebih banyak memilih untuk melakukan COB cashless dibandingkan melakukan perawatan secara bertahap melalui fase 1 BPJS. Demikian pertanyaan. Thank you.
Bu Vita. Oke. Oke. Ee tiga pertanyaan tadi mengenai apa namanya integrasi data, ee Pak siapa tadi ya, ee apa namanya, apakah bisa otomatis, tidak harus pindah rumah sakit kalau limitnya habis gitu ya. Iya, saya rasa ee nyambung kalau ini saya jawabnya sebagai moderator atau praktisi ini, karena nyambungnya sama peran Bu Vita yang terakhir ya. Ee apakah bisa COB cashless? Eh, mungkin Pak Afdal yang jawab ya. Boleh ya, sebagai praktisi. Izin, izin Pak Afdal. Izin dulu sama Pak Direktur BPJS. COB cashless bisa berjalan kalau JKN-nya sudah juga ee di sesuai prosedur, kemudian terbit SJP, kemudian asuransi kesehatan tambahan pun menerbitkan guarantee letter begitu. Nah, itu artinya rumah sakit nanti dalam one billing-nya yang ada di Pak Irsan bisa menerbitkan satu, maka beban biayanya langsung cashless atau ditagihkan oleh ee BPJS ke BPJS dan langsung ke asuransi. Jadi, saya rasa ini kepada AJUI, saya mewakili praktisi juga, itulah yang dilakukan oleh Mandiri INalth agar COB cashless ini berjalan. Bagaimana ee bisa berjalan? Tentu saja nanti kesepakatan dengan rumah sakit, ee dengan BPJS kita juga ada, tidak ada ee apa prosedur yang dilanggar dulu. Kalau memang harus ada rujukan dulu dari BPJS, bisa. Kalau yang rawat inapnya harus ee bisa hanya melalui UGD, bisa jalan. Tapi intinya dua penjamin atau nanti KAPJ yang tadi Pak Homing sampaikan, harus laporan polisinya harus ada. Kalau dia lintas penjaminnya nih bisa beberapa nih, Inalth juga menjamin, BPJS menjamin, tapi ee Jasaraharja yang sebagai penjamin pertama itu sebagai penjamin-penjamin ini terbit guarantee letter masing-masing. Nanti tinggal ee total biaya yang keluar dari si satu pasien ini ke beberapa ee penyelenggara jaminan. Mungkin itu ya, sekaligus menjawab pertanyaan Bapak. Integrasi data atau tidak, ee nanti kita diskusi di luar ya Pak, karena keterbatasan waktu. Mohon maaf, tapi penjelasan saya sementara itu. Ada yang mau menambahkan? Pak Afdal dan Pak Ombing, dari saya sudah terjawab ya. Baik.
Nah, yang terakhir nih, ee mungkin dijawab narasumber banyak sekali nih. Bu Rosa sebagai perdok jasi dulu, mantan ketua pamjaki dua ee dua periode juga dewan pengawas rumah sakit dan juga di salah satu asuransi juga. Jadi sudah banyak juga. Kira-kira Pak Iksan, Pak Irsan mohon maaf, ini definisi on top bagus sekali tadi masukan Bu Rosa ini seperti apa? Apakah naik kelas rawat dari hak JKN-nya gitu ya, dari kelas 1 menjadi VIP gitu ya, kamar? Apalagi nanti kalau ada Kris. Apakah on top-nya yang tadinya prosedurnya berjenjang di rumah sakit, kemudian tanpa berjenjang itu adalah bagian dari on top atau teknologi kedokteran dulu? HTA ada di Bapak sekarang sudah bukan lagi ya, karena ini berkembang terus, ada robotik, ada teknologi macam-macam lah ya. Kemudian termasuk obat, karena kalau di JKN pakainya Formularium Nasional, Inalth punya formularium sendiri, mungkin asuransi lain punya formularium sendiri gitu ya. Di IHC punya juga Fopi gitu. Nah ini on top-nya definisinya seperti apa? Ee apakah ada di Kemenkes atau masing-masing ee industri gitu ya, asuransinya yang mengembangkan on top? Saya sampai sebatas ini, maka pricing-nya segini itu nanti eh bagian dari eh apa namanya review produk gitu. Mungkin Pak Irsan dulu, silakan.
Baik, makasih Bu Jeni, Bu Rosah, salam. Eh, kalau by definisi ya Bu ya, KDK itu dia kebutuhan esensial gitu. Jadi memang esensial dan memang ada apa, ee definisinya itu, men kriterianya tuh untuk memelihara kesehatan ya kan. Memang ini sangat komprehensif sih Bu ya. Memang harus kita akui, ee JKN itu sangat komprehensif dari promotif, preventif sampai paliatif bahkan penghilangan gangguan kesehatan dan ini ada penyelamatan jiwa. Nah, kalau kita berhenti di sini memang sepertinya enggak ada batasan ya Pak Afdal ya, sampai sehat itu peserta pasien. Cuman memang di sini sebenarnya ada kata-kata dengung ya, sesuai dengan pola epidemiologi dan siklus hidup. Nah, nah tapi ini memang sedang ini sih Bu, ee prosesnya kan sekarang Perpres 59 ini sedang akan di di diganti karena sudah ini revisi kesekian kan. Nah, kita di Pokja delete oleh ee DJSN ya Pak Abdal ya. Tiap minggu nih kami Kemenkes, KemenQ, DJSN sama BPJS itu terus membahas ini gitu. Eh, karena generosity tadi itu tadi sepertinya gitu, sepertinya tidak ada lagi ruang gitu ya buat teman-teman industri ee asuransi komersial. Tapi seperti disampaikan Pak Abdal tadi masih ada yang itu Bu, ruang tadi. Makanya saya sepakat tadi sebenarnya analogi yang disampaikan Pak Abdal itu cukup menarik, JKN-nya kapal induk gitu ya. Nah, karena kapal induk ini ee mandatori negara, tentu regulasinya memang lebih jelimet seperti Bapak Ibu tadi di pertanyaan ya, bisa enggak langsung misalnya gitu kan ya, modelnya enggak seperti itu, modelnya. Makanya memang upaya kita justru memang akan memperkuat, kalau di sisi Kemenkes akan pengin memperkuat FKTP-nya gitu. Tapi kita sadar juga kondisi objektifnya, infrastruktur kesehatan kita sekarang kan memang masih sangat disparitasnya masih tinggilah kita bisa bilang. Nah, oleh karena itu pemerintah konsen sekarang di sisi supply set-nya itu. Jadi mungkin memang butuh waktu untuk kita menguatkan FKTP sehingga ada trust dari masyarakat, "Saya enggak perlu deh ke rumah sakit misalnya atau untuk penyakit-penyakit yang bisa di-handle di FKTP atau saya enggak apa tadi Pak, saya enggak harus ke profesor kalau cuman batuk-batuk gitu kan gitu." Karena kan ada apetis dari kitanya sendiri sih, sisi publik. Nah ini edukasi itu yang perlu kita sama-sama gitu. Nah, terkait tadi on top dan top itu tadi kami ada diskusi informal tadi kan Bu ya gitu. Sekarang kan kita di rumah sakit itu mekanismenya ada dua, sebijis dan nonbijis kan gitu ya. Nanti kita akan bertransformasi ke IDRG dan mungkin non IDRG-nya ini seperti apa, nanti kita mungkin minta secara ini, kita akan diskusi minta bant, apa insight dan masukan dari para praktisi juga seperti apa. Mungkin itu dari sisi kami. Terima kasih. Kembali ke Bu.
Oke. Baik. Terima kasih. Oke, Bapak Ibu dan Saudara-saudara sekalian, akhirnya kita sampai juga di penghujung acara hari ini, tapi ini ee bukan akhir tapi justru awal dari kolaborasi nyata ya untuk membangun ee ekosistem asuransi kesehatan yang lebih sehat, lebih adil dan justru lebih berkelanjutan. Ee dari diskusi hari ini ada tiga pesan kunci yang memang kita bisa pegang teguh bahwa setelah kita meninggalkan ruangan ini, kita sebagai elemen di ekosistem ini tidak lagi saling menyalahkan, tapi saling menguatkan. Yang kedua adalah tidak lagi bekerja sendiri-sendiri, tapi bergandingan tangan. Dan yang terakhir, tidak takut akan perubahan, tapi melihatnya sebagai peluang. Saya, Ibu Tus Wijaya dan Ibu Jen eh atas nama Apari dan Paki mengucapkan terima kasih. Semoga acara ini membawa manfaat dan berkah bagi kita semua. Wabillahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih untuk para narasumber dan moderator. Dan jangan ke mana-mana dulu, tetap di atas panggung karena dari Apari akan memberikan token of appreciation, sebuah apresiasi yaitu ee plakat yang sudah disiapkan kepada para narasumber dan moderator kita. Kalau begitu saya ingin mengundang ke atas panggung Bapak Bambang Suseno selaku Ketua Umum APARI untuk menyerahkan plakat. Silakan Pak. Mungkin Pak Kapler juga, iya satu-satu. Oke, Pak. Satu aja. Oh baik, benar. Baik. Ee sekaligus saya ingin mengundang Bapak Kap Marpaung selaku Dewan Kehormatan Apari untuk naik ke atas panggung. Dan tidak ketinggalan saya ingin mengundang Bapak Ro Sasih untuk naik ke atas panggung selaku Wakil Sekretaris Jenderal Apari. Baik, untuk yang pertama ee ya ya, untuk yang pertama dipersilakan kepada Bapak Muhammad Ansori perwakilan dari OJK. Oke. Iya. Baik. Dan selanjutnya untuk Bapak Ahmad Irsan Amuis selaku Kepala Pusat Pembiayaan Kesehatan Kemenkes Republik Indonesia. Baik, dan selanjutnya ee plakat diberikan kepada Bapak Diwe Novara dari AA UI. Dipersilakan. Silakan. Baik, terima kasih. Dan plakat selanjutnya ini ditujukan kepada Ibu Emira E Eupanget dari Perdok Jasi. Baik, dan selanjutnya plakat ditujukan kepada Ibu Fransiska Ruswita dari AAJ. Baik, terima kasih. Dan selanjutnya untuk Bapak Andi Afdal dari BPJS Kesehatan dipersilakan. Baik. Dan selanjutnya kepada Bapak Fajaruddin Sihombing dari Arssi. Oke. Dan selanjutnya untuk dynamic duo kita nih untuk moderator, ee plakat diberikan kepada Bapak ITUKusuma Hadiwijaya. Ini satu-satu atau satu-satu ya? Eh, thank you. Thank you. Baik, dan untuk moderator dua yaitu Ibu Jeni Wiharini. Baik, kalau begitu sekarang kita foto bersama dulu dengan plakat ya. Dipersilakan. Saya mengafit. Saya saya mengikup cukup. Oke, Bapak semuanya. 1 2 3 kepol dulu. Oke, satu dua T S du T. Oke. Oke. Thank you. Baik, ini karena masing-masing sudah berdiri dan sebelum saya tutup acara boleh kita berfoto bersama dengan penonton eh dengan penonton, dengan tamu undangan maksud saya. Oke. Oke. Masih foto lagi Pak. Di bawah berarti ya. Thank you Pak. Baik, para peserta dimohon untuk berdiri, kita foto bersama ya, gitulah ada. Baik. Thank you. Bro. Keren-keren Bro. Oke, kita foto bersama ya. Ee izin Bapak-bapak agak geser sebelah sini sedikit, terus sedikit up boleh, cukup agak dekat lagi. Sip. Cukup cukup Pak. Boleh agak dekat lagi aja, lebih lebih mendekat. Nah. Oke. Boleh agak lebih mendekat lagi sedikit. Yang belakang juga rapat. Oke, semuanya lihat ke arah sini, senyum. Oke, hitungan tiga. 1 2 3. Sekali lagi. 1 2 3. Masih tahan. 1 2 3. Tahan dulu. Tahan dulu. Masih. Oke. Thank you. Oke, terima kasih. Tepuk tangan untuk kita semua. Oh, masih. Sor sori salah. Masih ya, video video. Oke, sori sori masih masih. Bapak Ibu kita video dulu ya, sor Miss K. Bu Rosa sehat terus, thank you banget Bu. Oh ya, silakan Bu Rosa. Oke, videonya gimana nih? Ada slogannya Pak ini K saya ee kita ada yel-yel enggak di hari ini? Terima kasih banyak. Oke, siap siap siap. Makan dulu ya ya kita makan makan makan dulu. Oke Pak. Sudah kelihatan sama saya Pak. Oh siap. Oke kita lanjut makan aja kalau gitu. Sudah disediakan makan siang di luar. Dan saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada para sponsor kita yaitu Annaser Tour and Travel, PT Asrinda Artasangga, PT Astai Insurance Broker dan tidak ketinggalan kepada PT Asuka Bahari Nusantara, PT Asuransi Sentral Asia, PT Asuransi Sinarmas, PT Bhineka Cipta Lestari, PT Bina Kdatama Nusantara, PT Bumi Insurance Brokers, PT Beringin Sejahtera Makmur, PT P Raya siap, PT Malaka Trustungan Insurance, PT Mitra Harmony Insurance Broker dan banyak terima kasih juga pastinya kepada PT Sena Orientasi. Jangan lupa untuk absen pulangnya untuk para peserta. Dan tidak ketinggalan saya mengucapkan sekali lagi terima kasih atas kehadirannya. Tidak terasa kita sudah di penghujung acara. Semoga acara seminar nasional kuovadis asuransi kesehatan, antisipasi dan strategi para praktisi dalam menghadapi SEOJK baru tentang asuransi kesehatan pada hari ini dapat menambah wawasan Bapak dan Ibu semua. Jangan lupa kami sudah menyiapkan makan siang di areal ruang di area luar ruangan ini. Dan sekali lagi terima kasih atas partisipasinya. Sed Ditan Sudiro pamit undur diri. Sedikit pantun aja, ngucap cucian sampai bersih. Cukup sekian terima kasih sampai jumpa di acara selanjutnya. Wabillahi taufik wal hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
[Musik] 19 September 2022. 19 September 2022. Apari berusia 29 tahun. Betul sekali. Iya. Dalam perjalanannya Apari banyak sekali pasang surut, naik turun. Tapi di usia yang ke-29 Apari tetap berkomitmen mencerdaskan insan perasuransian khususnya di alang asuransi dan reasuransi Indonesia.
[Musik] Acara seperti hari ini merupakan kegiatan rutin yang kami laksanakan setiap tahunnya dengan selalu memperhatikan situasi dan kondisi terkait pandemi Covid-19 serta pihak persyaratan prokes. Maka pada tahun ini kami berkesempatan merayakan, menghelat acara ini secara offline. Fasilitas online juga diberikan. Jadi kita sapa dulu teman-teman di Zoom ya. Nah, sebagai informasi aja, pendaftar kegiatan offline ini kurang lebih ada 160 peserta ditambah nanti akan ada 300 wisudawan wisudawati yang akan proses setelah siang ini.
[Musik] Ee kami ucapkan kembali sekali lagi selamat datang di acara prosesi wisuda Asosiasi Ahli Palang Asolasi dan Asosiasi Indonesia. Jadi ini adalah acara wisuda yang pertama kali kembali diadakan secara luring setelah 2 tahun kita melaksanakannya secara daring. Alhamdulillah kondisi membaik sehingga kita bisa berkesempatan untuk langsung tatap muka melaksanakan kegiatan wisuda pada hari ini. Kami melihat Bapak Ibu sekalian bahwa di masa saat ini dinamika di industri pialangan asuransi sungguh sangat dinamis karena banyak hal-hal baru yang barangkali tidak pernah ditemui di waktu-waktu sebelumnya. Tapi kami ingin menyampaikan bahwa setidaknya Anda semua para wisudawan adalah wisudawan yang mempunyai value lebih di saat ini. Halo, selamat sore. Saya Hendra dari PT Kalinsusa Raya Utama KBRU. Ee senang sekali hari ini kita baru saja menyelesaikan prosesi wisuda, ee khususnya saya untuk si IIB jadi certified insurance dan reinsurance broker. Nah, kesan-kesan acara ini sangat seru ya. Dari pagi kita ada seminar asuransi kredit menambah wawasan. Ee semoga di acara-acara ulang tahun Apari selanjutnya bisa makin meriah lagi, makin seru lagi dan makin bermanfaat lagi untuk kita anggota dan yang akan menjadi anggota Apari. Thank you.
Selamat sore. Halo, nama saya Rendy ee dari PT Ekperta Piala Asuransi Nusantara. Di kali ini saya dapat dua penghargaan, satu dari peringkat dua.