Transcription
Bismillahirohmanirohim. [Musik] [Musik] Alhamdulillah pada sore hari ini kita kembali menyaksikan live streaming channel dakwah kesayangan kita, channel Wahda TV. Insya Allah pada sore hari ini kita akan berkonsultasi tentang permasalahan aqidah dan pemikiran. Dan alhamdulillah pada sore hari ini telah berada di studio bersama kita narasumber kita dari dewan Syariah Wahdah Islamiyah, yaitu Ustaz Rahmat Badani, LC, MA, hafizahullahu ta'ala.
Assalamualaikum kepada para pemirsa Wahda TV dimanapun Anda berada. Silakan Anda mengajukan pertanyaan melalui pesan WA atau bisa melalui kolom komentar di live streaming YouTube dan Facebook kita saat ini. Dan sebelum kita mendengarkan atau membacakan pertanyaan-pertanyaan yang masuk, kami persilakan kepada Ustadz kita untuk memberikan materi pengantar. Kepada Ustadz Rahmat Badani, kami persilakan.
Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillahirobbil alamin. Dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Insya Allah dalam waktu yang singkat ini, sebagai kajian pengantar, kita kembali kita akan melanjutkan pembahasan kitab yang dikarang oleh fadilatus Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullahu ta'ala, yaitu kitab Al Qawaid Al Mutlaqah. Pembahasan tentang asma dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta'ala.
Dan pertemuan yang paling terakhir tentang kajian kita ini, kita baru membahas tentang mukadimah dan kaidah yang pertama secara khusus berkenaan tentang kaidah-kaidah fi asmaillah, tentang nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun poin yang kedua atau kaidah yang kedua, kata beliau adalah Al Qoidatus Tsaniyah, kaidah yang kedua berkenaan tentang nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yang tentu saja, sebagaimana kita jelaskan pernah, bahwa buku beliau ini dibagi ke dalam tiga, apa namanya, tiga pokok-pokok kaidah utama. Kaidah-kaidah berkenaan tentang nama-nama Allah secara khusus, kemudian kaidah-kaidah berkenaan tentang sifat-sifat Allah secara khusus, dan kaidah-kaidah berkaitan dengan dalalatul asma wa sifat, ya, petunjuk-petunjuk atau dalalah yang dijelaskan oleh nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Nah, sekarang kita berada pada kaidah yang kedua, di mana beliau mengatakan nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu, serta dia mengandung juga ausaf atau sifat-sifat. Kemudian kata beliau, mengandung nama. Jadi nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu menjelaskan tentang namanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena nama itu menjelaskan dan menunjukkan kepada dzatnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan setiap asma Allah, setiap nama-nama Allah juga itu mengandung sifat di dalamnya, ada kandungan sifat, penjelasan tentang sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala berdasarkan apa? Berdasarkan makna-makna yang ditunjukkan oleh nama-nama tersebut.
Kalau kita lihat dari sisi yang pertama, ya, bahwa nama-nama Allah itu mengandung nama-nama itu sendiri, ya, karena dilihat dari sisi apa, dari sisi apa namanya makna itu, ya, atau nama-nama itu, ya, mengandung makna nama itu sendiri, ya. Jadi, kalau seperti contoh misalnya, Allah di antara nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah Ar-Rahman, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala salah satu nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah bahwa Dia adalah Tuhan yang Maha Pengasih. Atau di antara nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah Al Malik, yaitu berarti bahwa karena kandungan nama itu sendiri yang menjelaskan tentang makna nama itu sendiri.
Kemudian wabilnya tiba di sana, sedangkan kalau dilihat dari sudut pandang yang kedua tadi, bahwa nama-nama Allah itu menunjukkan kepada sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka itu berbeda antara nama dengan sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu artinya apa? Itu artinya bahwa setiap nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu menjelaskan, menjelaskan tentang eee makna daripada nama itu sendiri. Kalau Allah dikatakan sebagai sebagai Ar-Rahman, Ar-Rahim, sebagai zat yang Maha Kasih lagi Maha Penyayang, itu berarti Allah Subhanahu Wa Ta'ala memang dinamai sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kenapa? Karena maknanya sama.
Dilihat dari sisi yang kedua, pemirsa sekalian, bahwa setiap nama itu mengandung penjelasan tentang sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Nah, itu berarti antara nama dan sifat adalah dua hal yang dua hal yang berbeda. Kemudian di sini beliau datangkan contohnya untuk penjelasan tentang kaidah ini. Beliau mengatakan, falhayyul, Alim, Al Qadir, As Sami, Al Bashir, Ar-Rahmanur Rahim, Al Aziz, Al Hakim. Nah, ini semua pemirsa sekalian, ini di antara nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yang Maha Hidup, Al Alim yang Maha Mengetahui, Al Qadir yang Maha Kuasa, As Sami Maha Mendengar, Al Bashir Maha Melihat, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Al Aziz Maha Mulia, Al Hakim yang Maha Bijaksana. Ini semua adalah nama-nama Allah, ya, nama-nama Allah. Qul. Jadi semua nama-nama Allah ini menunjukkan kepada satu zat yang sama, ya. Meskipun nama ini berbeda-beda, tentu saja, ya, berbeda dengan As Sami', Al Bashir, berbeda dengan Al Alim, berbeda dengan Al Aziz. Nah, setiap nama ini, pemirsa sekalian, berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Tapi apakah itu berarti bahwa nama-nama ini menunjukkan kepada zat yang berbeda-beda? Jawabannya tidak. Jawabannya nama-nama yang banyak ini, nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala menunjukkan kepada satu musammah wahid, yaitu satu zat yang yang sama, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kemudian kata beliau lagi, lakin maknal hayyi ghairumah Al Alim. Itu berbeda dengan makna As Samia, atau makna Al Hayyi itu berbeda dengan makna Al Alim. Sebagaimana makna Al Alim itu berbeda dengan makna Al Qadir. Jadi maknanya bahwa Allah memiliki nama yang Maha Hidup, Allah memiliki nama yang Maha Pengasih. Kenapa kita meyakini bahwasanya asma atau nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu mengandung nama dan sifat-sifat dari nama-nama tersebut? Karena ini diambil dari Alquran itu sendiri, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala sendiri, di mana Allah mengatakan dalam Alquran, "Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih." Dalam ayat yang lain mengatakan, "Wa robbukal ghoffu," dan Tuhan Engkau, Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Pengampun, dan Dia memiliki kasih sayang. Fain layatania. Jadi kita meyakini bahwasanya ayat yang kedua ini, "Wa huwa rabbuka," itu berarti maknanya bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu memiliki sifat, memiliki sifat pengasih, penyayang kepada hamba-hambanya, kepada ciptaan-ciptaan ciptaannya.
Jadi berdasarkan kaidah juga, ya, dan kesepakatan Ahlul Lughah, ya, semua ahli bahasa menyepakati bahwasanya tidak dikatakan seseorang itu termasuk off, juga termasuk kebiasaan dan adat, tidak dikatakan sesuatu itu adalah Alim, orang yang memiliki pengetahuan, kalau dia kalau dia tidak memiliki ilmu pengetahuan. Tidak dikatakan juga kepada seseorang, dia ini bisa mendengar atau dia ini adalah orang yang mendengar, kalau dia tidak bisa mendengar. Ya, wala basirun illa liman. Dan tidak dikatakan juga kepada seseorang bahwa dia itu, apa namanya, bisa melihat, kalau dia tidak memiliki penglihatan. Ya. Jadi seseorang itu dikatakan dia bisa melihat kalau dia memiliki penglihatan. Seseorang itu dikatakan dia berilmu kalau dia memiliki ilmu pengetahuan. Seseorang dikatakan dia bisa mendengar kalau dia memang punya punya pendengaran. Dan begitu seterusnya. Dan ini disepakati oleh ahli bahasa dan disepakati oleh, apa namanya, oleh huruf kebiasaan dan adat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat sejak dahulu sampai dengan saat ini.
Oleh karena itu, pemirsa sekalian, ini kaidah yang mesti kita pahami. Bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala ketika Dia menamai dirinya dengan nama-nama tertentu, Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Menguasai, Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, maka kita menetapkan untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala nama-nama tersebut dan kita menetapkan sifat untuk yang bersumber berasal dari nama-nama tersebut. Kenapa? Karena kalau kita tidak menetapkannya untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itu berarti kita telah menyelisihi kaidah yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, termasuk kaidah bahasa Arab. Karena tidak mungkin kita mengatakan orang ini memiliki pendengaran atau orang ini bisa mendengar, padahal dia sendiri tidak punya pendengaran. Orang ini bisa melihat, padahal dia sendiri tidak punya tidak punya mata. Dan bagi Allah, permisanan yang lebih tinggi, tentu saja.
Makanya, ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala menamai dirinya sebagai As Sami', yaitu Tuhan yang Maha Mendengar, itu berarti kita tetapkan bahwa Allah memiliki nama dan Allah juga memiliki pendengaran. Cuman ini yang mesti kita garis bawahi, pemirsa sekalian. Apakah pendengaran Allah itu sama dengan pendengaran makhluk? Jawabannya tentu saja tidak. Berdasarkan kaidah, berdasarkan ayat yang lain. Kemudian muncul pertanyaan yang lain, apakah pendengaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu bagaimana bentuknya? Ya, bagaimana sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Ah, ini nanti dulu. Kalau memang dijelaskan bagaimana sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka kita yakini ya, berdasarkan dalil-dalil yang ada. Tapi kalau tidak dijelaskan bagaimana sifatnya, bagaimana sifat pendengaran Allah, bagaimana sifat penglihatan Allah, ya, bagaimana sifat-sifat Allah yang lainnya, kalau tidak dijelaskan dalam dalil-dalil syar'i, baik itu dari Alquran ataupun hadis yang sahih, maka kita tidak perlu menyulitkan diri kita sendiri untuk mencari-cari tahu tentang bagaimana itu sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kenapa? Karena memang tidak ada informasi dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentang hal tersebut.
Nah, oleh karena itu, dari sini kita memahami, kata beliau, dan ini masalah yang lebih jelas, ya, dibandingkan kita harus mencari dalil, dibandingkan kita harus mencari mana ayat-ayatnya, mana dalilnya, dan seterusnya. Kenapa? Karena seseorang tidak dikatakan dia itu bisa mendengar kalau dia tidak memiliki pendengaran, dan seterusnya. Dari sini, pemirsa sekalian, kata beliau, kita memahami kesesatan orang-orang yang menafikan, ya, menafikan makna-makna dari nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ya, yaitu dari kalangan Ahlul Ta'wil, yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan takwil. Takwil itu apa, pemirsa sekalian? Itu artinya maknanya adalah menafikan sebagian atau keseluruhan makna dari nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ya, sehingga mereka mengatakan, Allah itu adalah zat yang Maha Mendengar tanpa pendengaran, Allah itu adalah zat yang Maha Melihat tanpa penglihatan. Itu adalah zat Tuhan yang Maha Mulia tanpa kemuliaan.
Orang-orang Ahlul ini, pemirsa sekalian, mereka menafikan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu dan makna-makna yang terkandung di dalam nama-nama Allah. Dan mengatakan bahwa Allah itu adalah Tuhan yang Maha Melihat. Kenapa dikatakan sebagai Tuhan yang Maha Melihat? Karena Allah sendiri yang menamakan dirinya sebagai Al Basir, sebagai zat yang Maha Melihat. Namun mereka punya keyakinan yang berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama'ah. Mereka mengatakan bahwa Allah itu basyirun bila bashar, Allah itu Maha Melihat tanpa menggunakan penglihatan. Allah itu Maha apa namanya, Maha Mendengar tanpa pendengaran. Allah Maha Mengetahui tanpa pengetahuan. Allah Maha Mulia tanpa tanpa kemuliaan. Allah Maha Bijaksana tanpa kebijaksanaan. Dan begitu seterusnya. Jadi semua nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala dinafikan maknanya dan kandungan-kandungannya dengan alasan bahwa kalau seandainya kita menetapkan sifat-sifat tersebut untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Allah itu Maha Mendengar, Allah itu Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Mulia, kalau kita tetapkan semua sifat-sifat ini, maka itu berarti Allah Subhanahu Wa Ta'ala adalah zat yang tidak Esa. Kenapa? Karena sifat yang berbeda-beda ini mengandung makna yang berbeda-beda juga. Itu berarti dia menunjukkan bahwa setiap sifat ini menunjukkan kepada zat yang berbeda-beda. Padahal, kata beliau, bukan hal yang bukan hal yang mutalazim di situ. Itu bukan hal yang menjadi konsekuensi di situ bahwa kalau sesuatu itu memiliki sifat yang berbeda-beda, kalau sesuatu itu memiliki 10 sifat, maka itu berarti benda itu juga memiliki 10 bentuk. Tidak seperti itu juga. Kenapa? Karena dalam penjelasan ini, saya singkat tentu saja, karena waktu yang membatasi kita. Kenapa? Karena hampir bisa kita sepakati bahwa tidak ada sesuatupun dari benda di alam semesta ini dari ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, melainkan memiliki sifat yang lebih dari satu. Ya. Silakan kita cari dan kita menyebutkan, ya, apapun benda, apapun itu, botol misalnya. Botol ini dia memiliki lebih dari satu sifat. Tubuh kita sebagai manusia, ya, kita memiliki banyak sifat, lebih dari satu sifat. Ya, dan begitu juga termasuk benda-benda mati. Benda-benda mati pun juga memiliki lebih dari satu sifat. Paling minimal, paling minimal dari semua alam semesta ini, dia memiliki satu sifat yang sama, yaitu sifat Al Wujud, bahwa setiap benda alam semesta yang ada ini, yang memiliki apa, wujud, memiliki bentuk. Ya. Kita manusia dengan botol ini, dengan meja ini, dan semua benda-benda yang dengan kursi dan handphone ini, semuanya memiliki sifat yang sama, yaitu memiliki sifat wujud. Kita memiliki wujud, kita memiliki bentuk, kita memiliki zat. Tapi apakah itu berarti bahwasanya setiap benda-benda yang tadi saya sebutkan ini hanya memiliki satu sifat? Jawabannya tentu tidak. Ya, setiap benda-benda yang saya sebutkan ini memiliki lebih dari satu, lebih dari satu sifat. Begitu juga dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan alam semesta ini. Ya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, jika makhluk saja memiliki lebih dari satu sifat, maka apalagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan alam semesta ini. Allah memiliki sekian banyak sifat yang telah Dia tetapkan untuk dirinya sendiri, dan sekian banyak juga sifat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala belum ceritakan kepada kita, yang tidak disebutkan dalam Alquran, itu lebih banyak tentu saja. Yang tidak disebutkan oleh Nabi dalam hadis-hadis yang sahih, beliau itu juga tidak disebutkan, karena memang tidak ada ilmu yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada Nabi untuk dijelaskan kepada kepada kita semua tentang sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang lainnya yang mungkin belum kita ketahui sampai dengan sampai dengan saat ini.
Nah, oleh karena itu, di sini nampak kebatilan keyakinan orang-orang Ahlul Ta'wil yang menafikan makna-makna dari nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebenarnya beliau menjelaskan di sini dari sisi dalil, itu ada bantahannya, dan dari sisi akal juga, seperti yang tadi yang tadi kita sebutkan, bahwasanya sifat-sifat Allah yang berbeda-beda, Allah memiliki sifat yang Maha Mengetahui, Yang Maha Melihat, Maha Mendengar, bukan berarti menunjukkan kepada zat yang berbeda-beda, akan tetapi Allah memiliki sifat-sifat yang banyak ini, padahal zatnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tetaplah Esa, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan sebagaimana firman Allah dalam ayat yang lainnya, "Wa laisa kamitslihi syai'un," dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.
Nah, ini kajian kita secara khusus untuk, apa namanya, kaidah Al Qawaid Al Mutlaqah ini secara khusus, setelah kita jelaskan kaidah yang kedua berkaitan dengan nama-nama Allah. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Adanallah. Silakan mengajukan pertanyaan berkaitan dengan pembahasan kita pada sore hari ini tentang aqidah dan pemikiran, atau bisa juga berkaitan dengan materi pengantar yang disampaikan oleh Ustadz kita. Bisa melalui pesan WA di nomor 0823 4444 5117, atau melalui live streaming channel Wahda TV di YouTube dan di Facebook saat ini.
Kita bacakan Ustadz pertanyaan yang masuk di Facebook. Ada sahabat kita yang bertanya, bagaimana menyikapi teman kita sendiri yang menikah dengan non-muslim?
Pertama, menikah dengan non-muslim tentu saja adalah sesuatu yang dilarang dalam agama kita. Juga di dalam hukum positif di negeri kita ini juga dilarang. Sebenarnya dalam kompilasi hukum Islam itu ditetapkan bahwa setiap warga negara Indonesia itu diperkenankan dan diizinkan untuk menikah dengan sesama agama masing-masing, khususnya umat Islam. Ya, khususnya umat Islam yang memang telah menjelaskan apa yang memang syariat Islam telah menjelaskan itu. Dan dari hukum Islam itulah negara kita mengambil kompilasi hukum-hukum Islam berdasarkan mazhab Imam Syafi'i sebagai mazhab yang diamalkan mayoritas umat Islam di Indonesia. Jadi ini hal yang tidak dibenarkan sebenarnya secara hukum syar'i-nya dan secara hukum positifnya di negara kita. Dia adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan.
Tentu saja berbeda halnya kalau kita berbicara tentang menikahi Ahlul Kitab. Seorang laki-laki muslim menikahi Ahlul Kitab, seorang wanita dari misalnya dia beragama Yahudi atau beragama Nasrani, namun dia menjaga apa namanya, menjaga kehormatan, kemuliaan, kesucian dirinya, dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan kemaksiatan, sebagaimana banyaknya dilakukan oleh, apa namanya, terjadi di tengah-tengah masyarakat. Namun tentu saja masalah ini tentu saja juga masih diperdebatkan oleh para ulama kita. Apakah Ahlul Kitab di masa ini memang masih betul-betul berpegang dengan kitab mereka? Artinya, orang-orang Yahudi, apakah memang mereka benar-benar berpegang dengan kitab mereka atau tidak? Makanya sebagian ulama melihat sebenarnya ayat itu, ayat dalam Alquran itu yang memuliakan kita menikah dengan Ahlul Kitab, eee sebagian ulama memahami ee ini secara mutlak, boleh ya, dengan syarat-syarat yang tadi kita sebutkan, kalau dia afifah, menjaga dirinya dan seterusnya, dan dia juga mengamalkan, dan dia juga adalah Ahlul Kitab, atau dia adalah umat Yahudi ataupun Nasrani.
Namun sebagian ulama yang lainnya melihat bahwa oh tidak bisa, ya, tidak bisa. Kenapa? Karena orang-orang di zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berbeda dengan orang-orang yang ada di zaman kita, dari sisi pengamalan mereka, misalnya, kemudian apakah mereka tetap berpegang dengan apa, pokok-pokok agama mereka dan seterusnya. Terlepas dari khilaf ini, pemirsa sekalian, saya ingin mengatakan bahwa banyaklah muslimah yang lain, ya kan? Banyak muslimah kita yang belum menikah. Seandainya kita memilih saudari-saudari kita dari kalangan muslimah yang lebih jelas, ya, dan kita lebih aman, dan sebenarnya karena salah satu kaidah, mustahab, ya kan, keluar dari khilaf di antara ulama, yaitu jauh lebih aman, jauh lebih disenangi oleh para ulama kita. Sehingga kalau kita menikahi wanita-wanita muslimah, itu lebih aman dan lebih selamat dibanding kita apa namanya, menjerumuskan diri kita ke dalam masalah ini.
Dan tanggapan kita bahwasanya kalau ada di antara saudara-saudara kita yang menikah dengan non-muslim, apalagi dia adalah orang-orang kafir, maka pernikahannya tentu saja tidak tidak sah. Ya, kenapa? Karena tidak boleh, apa namanya, ini istilah fuddin, itu tidak diperbolehkan untuk, apa namanya, di menikah seseorang yang muslim dan menikah dengan orang yang kafiroh, ataukah sebaliknya. Seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki kafir, itu tidak di tidak diperbolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan ayat dan seterusnya. Sangat jelas tidak bolehnya seorang laki-laki muslim menikah dengan orang kafir, wanita kafira. Begitu juga dengan dengan sebaliknya. Dan seperti yang tadi kita sebutkan, yang lebih selamat tentu saja dan sesuai dengan syariat juga, sesuai dengan hukum positif adalah menikah yang menikah dengan wanita muslimah, dan seorang wanita muslimah menikah dengan menerima lamaran seorang pria muslim. Terima kasih untuk jawabannya.
Kita beralih ke pertanyaan selanjutnya. Apakah perbedaan antara bisikan setan dan kata hati? Dan apakah setiap bentuk kekufuran, contohnya menghina Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah maupun keraguan, merupakan bagian dari bisikan setan?
Jadi bisikan setan dan bisikan hati. Jadi memang itu betul, disebutkan bisikan setan itu memang disebutkan dalam Alquran, begitu juga dengan, apa namanya, di dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk berlindung dari setan, dari bisikannya, dari godaannya, dan seterusnya. Juga dalam surah An-Nas, kan kita hafal bersama. Jadi memang bisikan setan itu yang betul-betul ada, yang masuk ke dalam hati kita, membisiki kita untuk melakukan, membujuk rayu kita untuk melakukan perbuatan kemaksiatan. Nah, apa bedanya antara bisikan setan itu dengan, apa tadi, kata hati?
Jadi kata hati itu sebenarnya dia lebih kepada, apa ya, dia lebih kepada kalau pembahasannya kepada pembahasan masalah tazkiyatun nafs, ya. Jadi hati itu kan sebenarnya terbagi ke dalam tiga bentuk, ya, meskipun sebagian ulama ada yang membedakan antara an-nafs dan al-qalb. Kalau al-qalb itu pembahasannya menurut Ibnu Qayyim kan terbagi tiga, ya, yaitu ada namanya al-qalb, hati yang hidup, kemudian ada yang namanya al-qalb al-murid, hati yang sakit, kemudian ada yang namanya al-qalb al-mayyit, nah, hati yang mati, hati yang mati. Tapi kalau kita berbicara tentang jiwa atau nafs, maka di sana ada pembagian juga, ya, berdasarkan ayat-ayat Alquran, terbagi juga ke dalam tiga. Disebut sebagai an-nafsul mutmainnah, ini tentu saja dia satu frekuensi dengan al-qolbul hayy, ya kan? Kemudian an-nafsul ammarah bis-su', yang senantiasa nafs atau jiwa yang senantiasa menyerukan kepada perbuatan kesalahan-kesalahan kemaksiatan, perbuatan keburukan. Dan ini tentu saja korelasinya dengan hati yang hati yang telah mati, ya. Kemudian ada juga an-nafsul lauwamah, yang disebutkan dalam Alquran juga. Dan ini tentu saja dengan hati yang sakit. Kenapa? Karena apa makna ini artinya jiwa itu, itu artinya jiwa yang suka mencela diri sendiri, yang suka mencela diri sendiri. Maksudnya bagaimana? Pengurusan sekali. Maksudnya bahwa dilihat, jiwa itu dilihat kepada kondisi, apa namanya, kondisi dominannya jiwa itu. Kalau dominannya jiwa itu diisi dengan kebaikan, maka ini akan mencela jiwa kita sendiri atau mencela diri kita sendiri ketika ada kesempatan berbuat kebaikan lalu kita tidak mengambil kesempatan itu, maka muncul jiwa itu, ya, muncul jiwa Anda sudah lama itu, kenapa saya tidak berbuat ini? Kenapa saya tidak mengambil kesempatan? Karena saya tidak mengerjakannya. Ah, kenapa? Karena yang dominan adalah apa? Adalah an-nafsul mutmainnah itu, ya, yang dominan adalah kebaikan. Tapi kalau yang dominan pada dirinya, pada jiwanya, pada hatinya itu adalah an-nafsul ammarah bis-su', maka muncul itu yang suka you aktif, yang suka mencela, yang mungkin, dan kalau ada kesempatan berbuat kemaksiatan, ya, dia akan mencela. Kenapa? Kenapa tadi tidak, ee, dilakukan? Kenapa tadi tidak, padahal ada kesempatan berbuat, ada kesempatan mengambil barang ini, ada kesempatan dan seterusnya. Nah, itu nafsul lauwamah. Jadi nafsul lauwamah itu kembali kepada apa? Kembali kepada, ee, kondisi yang dominan. Kalau yang dominan adalah kebaikan, maka nafsul lauwamah akan ikut ke sana. Tapi kalau yang kondisinya yang dominan adalah ammarah bis-su', maka akan ikut akan ikut ke sana.
Nah, tergantung kita melihat ini kata hati itu, itu bagaimana kondisinya. Ya, kalau kondisi orang itu adalah mayoritasnya kebaikan, dia sering melakukan kebaikan, hatinya hidup, dan seterusnya, maka kata hati itu bisa dipegangi. Makanya Nabi mengatakan dalam hadisnya, "Istafti qalbaka." Kalau kita punya masalah, ada syubhat, misalnya, kemudian masalah itu pelik, kita belum tumbuh ulama, misalnya, untuk bertanya kepada mereka, belum bertemu dengan ustadz, dan seterusnya, kemudian kita tidak ada jalan keluar, misalnya, kita mesti mengambil keputusan yang secepatnya, misalnya, maka di situ Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berikan jalan keluar, "Istafti qalbaka." Tanyalah kepada hatimu. Namun ulama kita mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hati di sini adalah hati yang masih, yang masih di kombinasi oleh kebaikan, tentu saja hati yang sesuai dengan fitrah. Kalau hatinya sudah busuk, kan tidak mungkin. Kalau hatinya sudah busuk, otomatis jawaban yang akan keluar dari hatinya adalah mengiyakan kemaksiatan itu. Kalau dia adalah bentuk kebaikan, maka hati akan mengatakan, "Jangan dilakukan." Kenapa? Karena hatinya sudah terlanjur busuk, hatinya sudah terlanjur buruk, dan sudah terdominasi oleh keburukan-keburukan yang sangat, yang sangat banyak. Makanya kita melihat kata hati itu, dia didominasi oleh apa, ya, keadaannya, kondisinya hatinya itu didominasi oleh apa. Kalau didominasi oleh kebaikan, maka silakan kata hati itu bisa di, bisa dijadikan pegangan, bisa dijadikan, apa namanya, bisa diikuti. Apalagi kalau seseorang sudah mendapatkan ilham dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, itu beda lagi ceritanya. Karena Nabi mengatakan dalam hadis yang sahih, "Setiap umat itu ada mulhamun," ada orang-orang yang diberikan ilham. Nah, orang-orang yang ilham itu sebenarnya lebih lebih dekat juga kepada kata-kata hati sebenarnya, ya, petikan-petikan hati. Namun karena ketulusan hatinya, karena keikhlasan hatinya, dan karena dominannya perbuatan kebaikan yang selama hidupnya dia lakukan, maka ilham itu Allah turunkan, ya, masuk ke dalam hatinya dan memberikan petunjuk kepada, kepada dia.
Perbedaan yang paling mencolok sih sebenarnya, bagi orang-orang yang baik, maka bisikan setan itu adalah keburukan, tentu saja. Sedangkan kata-kata hati itu lebih condong, lebih cenderung kepada menyuruh kita untuk melakukan ketaatan dan amal saleh, ibadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Allah, terima kasih untuk jawabannya. Kita beralih ke pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan melalui WA dari sahabat kita yang meminta nasihat, bagaimana cara mengatasi jiwa yang ingin bunuh diri?
Bunuh diri ini, apa ya, dia perkara yang sangat besar, tentu saja, dosanya di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, juga ancamannya sangat besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang yang orang yang bunuh diri, ya, di dalam Alquran ada berapa dalil, tentu saja, walau banyak sekali, ayat-ayat yang menjelaskan tentang masalah itu, juga larangan-larangan Nabi SAW dari perbuatan bunuh diri sendiri. Dia adalah dosa besar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan diancam dengan ancaman yang sangat keras, dengan azab, dengan azab neraka Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Makanya kita mesti berusaha, ya, menjauhi keinginan-keinginan bunuh diri itu, ya, dengan cara apa? Dengan cara tentu saja membangun komunikasi dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang baik, ya. Dan tidak ada komunikasi yang paling baik dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kecuali ibadah salat. Banyaknya pemirsa sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, banyaknya kejadian dan peristiwa serta keinginan orang-orang yang mau membunuh diri mereka itu karena memang ada hal, ada namanya, ada masalah memang dengan salat mereka itu, ya. Ada ada masalah memang saya, ada koslet di dalam hubungan mereka dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, secara khusus dengan hubungan ibadah salat mereka, ya. Mereka memang ada yang tidak pernah menjalankan ibadah salat, ada yang bermalas-malasan. Ketika dirundung dengan sekian banyak masalah, maka terkadang seakan-akan mereka, ya, karena memang mereka sudah lost contact dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kan? Secara otomatis terkadang mereka akan berpikir singkat, ya, untuk mengakhiri hidup saja, menyelesaikan dengan anggapan bahwa mengakhiri hidup itu akan menyelesaikan masalah-masalah mereka. Memang di dunia kan menyelesaikan masalah Anda, tapi kita tidak tahu kan, masalah-masalah yang akan muncul di akhirat kelak yang lebih besar, yang lebih dahsyat, tentu saja akan menunggu seseorang yang berani membunuh diri mereka sendiri.
Artinya, ini tips yang pertama, tentu saja kita mesti perbaiki hubungan kita dengan Allah, jaga ibadah salat kita dengan sebaik-baiknya. Terus juga kita selalu berupaya untuk, apa namanya, menambalnya kekurangan-kekurangan ibadah salat wajib kita dengan menjaga salat-salat sunnah kita, khususnya tentu saja salat sunnah rawatib, termasuk juga salat sunnah yang lainnya yang melalui salat-salat sunnah tersebut, insya Allah akan memberikan ketenangan dan akan memberikan jalan keluar, ya, sebagaimana hadis-hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Ya, di antara contohnya misalnya seperti salat Dhuha, ya kan? Mungkin kalau kita lihat, kenapa salat Dhuha itu disyariatkan? Ya, karena memang Dhuha itu memang waktu di mana kita umumnya mayoritasnya manusia itu bekerja, kan? Bekerja itu adalah mobilna, ya kan? Bekerja itu memang dia adalah tempatnya kita bertemu dengan masalah, ketika kita bekerja, bertemu dengan orang, bertemu dengan sekian banyak manusia, maka ketika kita menyempatkan diri, mulai memulai pagi kita dengan mengerjakan ibadah salat dua rakaat, itu seakan-akan ada isyarat kita, kita ingin memulai hari kita, memulai kerja kita dengan, apa, dengan kebaikan, ya, dengan menjalankan ibadah salat terlebih dahulu, dan seterusnya, ya. Meskipun memang kita telah melaksanakan salat Subuh, ya kan? Tapi jarak antara salat Subuh dengan waktu kita bekerja di pagi hari itu kan sudah ada sekian banyak waktu, dan itu sudah bisa dimanfaatkan oleh setan untuk menggoda kita, melakukan kemaksiatan, memikirkan kira-kira apa yang bisa kita lakukan ini untuk melancarkan keburukan kita, kemaksiatan kita. Makanya kita mulai dengan mengerjakan ibadah salat, mudah-mudahan kita ingat kembali, terhubung lagi dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Termasuk juga di antara tipsnya supaya kita, apa namanya, bisa menjaga diri dari perbuatan bunuh diri adalah mengetahui dan memahami sekian banyak ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengancam dengan ancaman yang sangat keras akan bahaya bunuh diri itu sendiri. Selain itu, tentu saja juga adalah, apa namanya, dengan menjaga, menjaga rutinitas mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala atau dzikrullah, yang mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala di waktu pagi, di waktu petang, dan di waktu-waktu yang lainnya. Bahkan para ulama kita menganjurkan bahwa setiap muslim itu seharusnya punya wirid khusus. Artinya ada wirid, ada bacaan-bacaan, baik itu dari Alquran kah, atau dari hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang sahih, ada wirid-wirid. Apa bedanya antara dzikir dan wirid? Dzikir itu artinya dia adalah bacaan-bacaan yang telah datang ketetapan pelaksanaannya dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, seperti misalnya dzikir pagi petang, ya kan? Dia disebut sebagai zikir. Zikir ada salat, zikir-zikir setelah salat. Ada punggung wirid. Wirid itu bacaan-bacaan yang, ee, tidak datang penetapan waktunya, namun kita, ee, menggunakannya dan kita mengambilnya dan kita memperbanyaknya, membaca di, apa namanya, di waktu-waktu dalam kehidupan kita. Jadi kita sementara duduk misalnya di rumah, maka kita perbanyak bacaan, "Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah," benar. Atau kita lagi istirahat misalnya, lagi berbaring, lagi duduk, dan seterusnya, sampai lagi beraktivitas, kita baca bacaan-bacaan tersebut. Itu masuk dalam kategori wirid. Nah, itu itu sangat membantu kita, kan? Dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, "Siapa yang mengingat Aku, niscaya Allah juga akan mengingatnya." Dalam Alquran kan, "Al qurbukum," dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dijelaskan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa kalau seseorang itu mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam keadaan lapang, maka Allah akan mengingat dia dalam keadaan dalam keadaan dia sempit. Artinya, kalau kita dalam keadaan lapang, dalam keadaan tidak ada masalah, tidak ada musibah, maka banyaklah ingat Allah. Di saat kita berhadapan dengan musibah, di saat kita berhadapan dengan polemik masalah di kantor, di rumah, dan seterusnya, maka Allah akan ingat kita. Inilah hamba saya yang semasa dia lapang dia selalu ingat saya, maka dalam keadaan dia sempit saya juga harus mengingat mengingat dia. Nah, dalam keadaan seperti itu, dalam keadaan kita dirundung banyak masalah, maka ada ada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang ingat kita, maka Allah akan memberikan, apa, memberikan ketenangan, Allah akan memberikan jalan keluar, Allah mempermudah masalah-masalah tersebut, dan seterusnya, dan seterusnya. Syukron.
Itu jawabannya Ustadz. Kita beralih ke pertanyaan selanjutnya. Pertanyaan dari sahabat kita melalui akun YouTube, "Alat Timur." Bagaimana hukumnya orang beriman tapi tidak bisa berdalil tentang sifat-sifat Allah, misalnya sifat wujud, qidam, dan seterusnya?
Baik, jadi yang pertama, pemirsa sekalian, orang yang beriman akan tetapi, apa namanya, tidak bisa berdalil tentang sifat-sifat Allah, baik. Jadi yang pertama, kita mesti memahami bahwasanya di sana ada akidah, ada keyakinan. Dan akidah untuk orang-orang awam itu artinya sampai kalau kita tanya kepada mereka, apa dalilnya untuk ibadah ini, kadang mereka tidak tahu, kan? Nah, jadi pengamalan, termasuk akidah, termasuk pengamalan ibadah untuk orang-orang awam, ya, itu memang adalah dengan jalan taklid, memang. Jadi makanya kalau ada orang yang melarang, tidak boleh kita berbuat taklid, nah, itu salah juga, ya. Kenapa? Karena pengambilan dalilnya orang-orang yang awam itu dari sisi apa? Taklik kepada para ulama yang diyakini ke dalam menunya, keluasan ilmunya, dan seterusnya, ketawa Tuhan, dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu mereka harusnya taklid. Kenapa? Kalau disuruh belajar juga mereka tidak bisa, ya kan? Mereka tidak mampu untuk itu. Makanya untuk orang-orang awam, dalam kondisi seperti itu, untuk orang-orang awam, maka seandainya dia, apa namanya, meyakini, punya keyakinan, dan seterusnya, kemudian dia tidak bisa menekankan dalil, ya, jadi bisa mendatangkan dalil, ya, hanya karena memang mereka mengikuti para ulama atau bertaklid kepada kepada para ulama.
Kemudian, ya, beda lagi kalau dia misalnya sudah belajar ilmu syar'i, misalnya, yang sudah tahu dalil-dalil Quran, hadis, ijma', qiyas, dan sebagainya. Itu beda lagi masalahnya, tentu saja. Namun persoalan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang 20 itu, kan, wujud, qidam, baqa, dan kedalamannya, dan sebagainya. Ini pembahasan yang panjang tentu saja, yang diyakini oleh saudara-saudara kita dari Ahlussunnah Wal Jama'ah, atau bahwasanya sifat-sifat Allah semata itu hanya terbatas kepada kepada 20 poin saja. Yang saya bisa jawab untuk waktu yang sangat singkat ini, tentu saja, bahwasanya ke-20, bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak dibatasi sifat-sifatnya, ya, tidak dibatasi sifat-sifat. Dan bahwa sifat-sifat Allah itu tidak hanya 20 saja, ya, sebagaimana keyakinan sebagian saudara-saudara kita. Bahkan sebagaimana kaidah yang akan kita sebutkan, salah satu kaidah yang dijelaskan oleh, apa namanya, kaidah yang kedua ini tadi, yang tadi kita jelaskan, bahwa semua nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu mengandung sifat-sifat untuk, untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu berarti kalau Allah punya sekian banyak nama di dalam Alquran dan hadis Nabi, maka sekian banyak juga sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan bukan hanya terbatas pada bilangan tertentu saja. Bahkan dalam kaidah sifat nanti akan dijelaskan oleh Beliau, bahwasanya semua nama-nama Allah itu mengandung nama dan sifat, mengandung sifat, tapi tidak semua sifat Allah itu memiliki nama. Ya, seperti contoh misalnya, di antara sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala ada yang disebut sebagai sifat taqabuliyah. Seperti misalnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu berbuat makar. Tapi apakah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dinamai sebagai Al Makir, sebagai Tuhan yang membuat makar? Kan tidak seperti itu, ya. Jadi ada sifat-sifat yang dilakukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam batas-batas yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Seperti ketika ada hamba-hambanya orang kafir yang berbuat makar kepada orang-orang beriman, maka Allah juga akan membalas makar mereka terhadap orang-orang kafir tersebut. Ya, jadi Allah disifati dalam konteks itu, Allah disifati sebagai Tuhan bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu berbuat makar kepada kepada orang-orang kafir. Namun apakah, apakah sifat Allah yang berbuat makar pada saat itu, itu di akhirnya Allah dinamakan sebagai Al Makir? Ya, kan tidak seperti itu. Tidak seperti tidak seperti itu. Kenapa? Karena kalau dinamakan sebagai Al Makir, maka itu mengandung makna yang makna yang negatif sebenarnya, dan bukan makna ijabi atau makna positif. Nah, oleh karena ini pembahasan yang panjang tentu saja masalah sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang 20 itu atau yang lebih dari itu. Mudah-mudahan di lain kesempatan insya Allah kita bisa bahas lebih panjang lebar lagi. Dinilai tanah. Terima kasih jawabannya Ustadz. Kita beralih ke pertanyaan terakhir mungkin untuk sore hari ini. Pertanyaan dari sahabat kita melalui akun YouTube, "Alat Timur." Bagaimana hukumnya orang beriman tapi tidak bisa berdalil tentang sifat-sifat Allah, misalnya sifat wujud, qidam, dan seterusnya?
Baik, jadi yang pertama, pemirsa sekalian, orang yang beriman akan tetapi, apa namanya, tidak bisa berdalil tentang sifat-sifat Allah. Baik. Jadi yang pertama, kita mesti memahami bahwasanya di sana ada akidah, ada keyakinan. Dan akidah untuk orang-orang awam itu artinya sampai kalau kita tanya kepada mereka, apa dalilnya untuk ibadah ini, kadang mereka tidak tahu, kan? Nah, jadi pengamalan, termasuk akidah, termasuk pengamalan ibadah untuk orang-orang awam, ya, itu memang adalah dengan jalan taklid, memang. Jadi makanya kalau ada orang yang melarang, tidak boleh kita berbuat taklid, nah, itu salah juga, ya. Kenapa? Karena pengambilan dalilnya orang-orang yang awam itu dari sisi apa? Taklik kepada para ulama yang diyakini ke dalam menunya, keluasan ilmunya, dan seterusnya, ketawa Tuhan, dan ketakwaannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu mereka harusnya taklid. Kenapa? Kalau disuruh belajar juga mereka tidak bisa, ya kan? Mereka tidak mampu untuk itu. Makanya untuk orang-orang awam, dalam kondisi seperti itu, untuk orang-orang awam, maka seandainya dia, apa namanya, meyakini, punya keyakinan, dan seterusnya, kemudian dia tidak bisa menekankan dalil, ya, jadi bisa mendatangkan dalil, ya, hanya karena memang mereka mengikuti para ulama atau bertaklid kepada kepada para ulama.
Kemudian, ya, beda lagi kalau dia misalnya sudah belajar ilmu syar'i, misalnya, yang sudah tahu dalil-dalil Quran, hadis, ijma', qiyas, dan sebagainya. Itu beda lagi masalahnya, tentu saja. Namun persoalan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang 20 itu, kan, wujud, qidam, baqa, dan kedalamannya, dan sebagainya. Ini pembahasan yang panjang tentu saja, yang diyakini oleh saudara-saudara kita dari Ahlussunnah Wal Jama'ah, atau bahwasanya sifat-sifat Allah semata itu hanya terbatas kepada kepada 20 poin saja. Yang saya bisa jawab untuk waktu yang sangat singkat ini, tentu saja, bahwasanya ke-20, bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak dibatasi sifat-sifatnya, ya, tidak dibatasi sifat-sifat. Dan bahwa sifat-sifat Allah itu tidak hanya 20 saja, ya, sebagaimana keyakinan sebagian saudara-saudara kita. Bahkan sebagaimana kaidah yang akan kita sebutkan, salah satu kaidah yang dijelaskan oleh, apa namanya, kaidah yang kedua ini tadi, yang tadi kita jelaskan, bahwa semua nama-nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu mengandung sifat-sifat untuk, untuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Itu berarti kalau Allah punya sekian banyak nama di dalam Alquran dan hadis Nabi, maka sekian banyak juga sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dan bukan hanya terbatas pada bilangan tertentu saja. Bahkan dalam kaidah sifat nanti akan dijelaskan oleh Beliau, bahwasanya semua nama-nama Allah itu mengandung nama dan sifat, mengandung sifat, tapi tidak semua sifat Allah itu memiliki nama. Ya, seperti contoh misalnya, di antara sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala ada yang disebut sebagai sifat taqabuliyah. Seperti misalnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu berbuat makar. Tapi apakah Allah Subhanahu Wa Ta'ala dinamai sebagai Al Makir, sebagai Tuhan yang membuat makar? Kan tidak seperti itu, ya. Jadi ada sifat-sifat yang dilakukan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam batas-batas yang diinginkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Seperti ketika ada hamba-hambanya orang kafir yang berbuat makar kepada orang-orang beriman, maka Allah juga akan membalas makar mereka terhadap orang-orang kafir tersebut. Ya, jadi Allah disifati dalam konteks itu, Allah disifati sebagai Tuhan bahwasanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu berbuat makar kepada kepada orang-orang kafir. Namun apakah, apakah sifat Allah yang berbuat makar pada saat itu, itu di akhirnya Allah dinamakan sebagai Al Makir? Ya, kan tidak seperti itu. Tidak seperti tidak seperti itu. Kenapa? Karena kalau dinamakan sebagai Al Makir, maka itu mengandung makna yang makna yang negatif sebenarnya, dan bukan makna ijabi atau makna positif. Nah, oleh karena ini pembahasan yang panjang tentu saja masalah sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang 20 itu atau yang lebih dari itu. Mudah-mudahan di lain kesempatan insya Allah kita bisa bahas lebih panjang lebar lagi. Dinilai tanah. Terima kasih jawabannya Ustadz.
Bersama Wahda TV dimanapun Anda berada, sebenarnya masih ada beberapa pertanyaan yang masuk. Namun karena keterbatasan waktu, mungkin kita cukupkan program konsultasi syariah bersama dewan syariah Wahdah Islamiyah pada sore hari ini. Dan kita ucapkan syukron wa jazakumullah khairan kepada narasumber kita, Ustadz Rahmat Badani. Semoga di pertemuan selanjutnya beliau bisa membersamai kita kembali. Demikianlah kami cukupkan dengan doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] Bio Healthy dan positif ion juga antioksidan rusak. PH 8 plus itu gimana Ustadz? Maksudnya air kita ini memang memiliki PH 8 plus. Jadi itu ada di angka antara 8,1 sampai 8,5. Permenkes, Peraturan Menteri Kesehatan untuk menyatakan bahwa air yang layak dikonsumsi itu adalah air yang PH-nya maksimal 8,5, antara 6,5 sampai 8,5. Paling penting rasa juga nih. Karena bagaimanapun juga, sebagus apapun pelayanan kita, kemudian packaging kita juga semenarik apa, tentu semuanya pada rasa. Dan memang rasa itu relatif. Rasa itu proses, butuh waktu, butuh kemudian eksperimen dan lain sebagainya. Salam, beberapa kali kita promosikan. Alhamdulillah kemarin dan cukup besar karena memang pengambilannya berkompeten kontainer gitu, Ustadz. Iya, berarti ini bukan lagi bisnis ecek-ecek. Kita jual itu, Masya Allah. Belum cukup sebulan habis. Masya Allah. Dua kontainer. Satu kontainer masuk itu sebulan nggak cukup habis. Memang kalau ini, kalau satu penjual kurma beda ya rasa dari setiap kurma, meskipun suka, tapi sumbernya dari negara-negara tertentu itu beda-beda. Kalau dari mesin kan dia agak lebih besar. Hmm. Tapi, ee, orang Makassar nggak begitu suka karena berpasir dia. Kalau kurma Khalas dia lebih kecil tapi lebih manis.