Transcription
[Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] Bismillahirohmanirohim. [Musik] Kata benar. [Musik] [Musik] [Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Para pemirsa Wahdah TV yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Alhamdulillah, kembali lagi pada program kesayangan kita, program konsultasi dewan Syariah. Alhamdulillah, pada kesempatan yang malam, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita masuk pada pembahasan usrah dan ukhuwah dengan judul mengenali karakter istri.
Mengenali karakter istri dalam keluarga merupakan satu langkah yang penting untuk membangun ikatan yang lebih erat. Setiap istri memiliki keunikan dan kelebihan yang khas. Dengan memahami ini, kita dapat memperkuat hubungan dan komunikasi dalam keluarga. Dengan pemahaman yang mendalam tentang kepekaan emosional, keberanian, intuisi, empati, dan semangat istri, kita dapat menciptakan lingkungan yang saling menghargai dan saling memperkaya.
Alhamdulillah, membersamai kita Ustadz Dr. Rustam Koli, Lc, MA, dari komisi usroh dan ukhuwah. Kita menyapa Ustadz terlebih dahulu. Semoga senantiasa diberikan kesehatan. Amin. Dan kepada pemirsa semuanya, kita akan berbagi secara sekitar sejam ke depan bersama para pemirsa. Berkenan tentang para pemirsa, sebelum kita masuk pada materi tanya jawab bersama Ustadz, ya, silakan persiapkan pertanyaan-pertanyaannya dan dapat dikirimkan melalui YouTube ataupun WhatsApp ataupun melalui Facebook. Untuk melalui WhatsApp dapat melalui 0823 444 5116. Baik, tanpa memperpanjang waktu, Ustadz, kita persilakan materi pembuka untuk Ustadz tentang materi kita yang cukup menarik ini, mengenali karakter istri.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Semoga kita semuanya diberi kesehatan, diberi karunia sehat walafiat dari Allah subhanahu wa ta'ala. Amin. Kita akan membahas tentang mengenal karakter istri atau mengenal karakter pasangan kita. Dan judul ini terambil dari kita [Musik] yang ditulis oleh Abu Abdillah Syekh Mustofa An Nabawi. Dan insya Allah saya akan menjelaskan apa yang beliau tulis dari kitab beliau tersebut. Ya, pemirsa yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala, mengenal karakter pasangan, mengenal hal-hal yang ia sukai, mengetahui hal-hal yang tidak ia sukai, tahu tentang kondisi [Musik] di saat dia tidak rileks [Musik] atau juga tahu tentang waktu-waktu serta suasana-suasana yang dia sukai dan tidak dia sukai, merupakan satu keniscayaan bagi setiap pasangan.
Hal ini dikarenakan menikah pada dasarnya adalah bagaimana kita sebagai pasangan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasangkan pada kehidupan dunia kita ini, menempuh jalan-jalan, menempuh cara-cara yang bisa dan selalu mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mengenal karakter pasangan mengharuskan kita untuk banyak membaca, baik itu membaca kitab-kitab, catatan-catatan, coretan-coretan, karya-karya yang ditulis oleh para ulama atau yang ditulis oleh para praktisi-praktisi parenting. Yang ini sangat membantu kita untuk bagaimana mengarungi kehidupan rumah tangga tanpa atau dengan resiko atau dengan penuh kebahagiaan, penuh keceriaan, dan sangat sedikit terjadi perselisihan di dalamnya.
Dan Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyebutkan suatu hadis yang merupakan kunci ya, atau merupakan kaidah besar bagi seorang suami dalam berinteraksi, bermuamalah dengan istrinya atau dengan pasangannya, atau kaidah umum yang perlu diketahui oleh setiap laki-laki dalam berinteraksi dengan lawan jenisnya. Yaitu, di mana suatu ketika ya, pada salat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersama Bilal pergi menuju jamaah Annisa, jamaah wanita. Di situ Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam semacam berpidato, berkhotbah, dan memberi nasihat kepada mereka. Di antaranya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, "Wahai jamaah wanita, banyak-banyaklah bersedekah, karena sesungguhnya aku melihat kebanyakan penduduk neraka itu adalah kalian, kaum wanita."
Ada seorang wanita yang cerdik pandai kemudian bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Apa sebab kami menjadi penghuni neraka terbanyak?" Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, "Tuk sirna, la'an kaum wanita suka atau banyak melaknat dan mengingkari kebaikan pasangan kalian, kebaikan suami kalian. Wa ma ra'aytu," dan aku tidak pernah melihat seorang yang kurang akalnya bisa mengalahkan seorang lelaki yang sempurna akalnya atau lengkap akalnya yang teguh pendirian daripada seorang wanita." Jadi, seorang wanita menurut Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bisa menaklukkan seorang lelaki yang hazim, yang cerdik pandai, yang sempurna akalnya, yang teguh pendiriannya, itu bisa terkalahkan oleh kecerdikan dan kepandaian seorang wanita, padahal wanita tersebut kurang akalnya.
Lalu kemudian kaum wanita, jamaah wanita ini bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Ya Rasulullah, apa bukti kalau kami komunitas kurang akalnya?" Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam [Musik] bersabda, "Mereka bertanya, apa yang menjadi alasan kalau agama kami, akal kami itu kurang?" Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa persaksian dua orang wanita itu setara dengan persaksian satu orang lelaki. Ini menunjukkan kekurangan akal kalian, komunitas. Dan jika kalian kedatangan bulan haid, maka kalian pun meninggalkan salat dan puasa. Maka ini menunjukkan kekurangan agama kalian.
Pemirsa yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala, dan juga para ulama tafsir ya, ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam surat An-Nisa, yang dimaksud dengan orang yang kurang akalnya di sini adalah kaum wanita dan anak-anak kecil. Kaum wanita dan anak-anak. Dan Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda bahwa wanita itu seperti tulang rusuk. Jika kita ingin meluruskannya dengan kasar, maka dia akan patah. Dan jika kita biarkan, kita hanya bersenang-senang dengannya, maka kita bersenang-senang dengan dia sementara dia bengkok. Dan Nabi juga Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa tulang rusuk yang paling bengkok itu adalah yang paling atas.
Dan kaum wanita ini juga ya, dalam yang menunjukkan kekurangan akal mereka itu dalam berdebat, dalam mengutarakan hujjah, burhan, bukti, itu mereka selalu ya kalah. Makanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang mereka, "Allah, apakah sama perumpamaan laki-laki dengan mereka, yaitu dalam artian perempuan itu mereka yang tumbuh dengan perhiasan dan dalam berdebat, dalam bersengketa, ghairu mubin, tidak pandai mengutarakan, mengedepankan bukti-bukti." Dan Allah juga Subhanahu Wa Ta'ala berfirman tentang kelebihan laki-laki, bahwa laki-laki memiliki derajat beberapa derajat lebih tinggi daripada wanita. Ini semua menunjukkan bahwasanya kekurangan itu ada pada wanita dari sisi akal dan agamanya.
Maka sangat nyata bisa kita saksikan ya, ketika terjadi perselisihan antara kita dengan pasangan kita, lalu kita ingin membalas setiap atau mengungkit setiap kekurangan dia, atau kita menceritakan bahkan menghitung-hitung segala kekurangan dia, maka sebagai seorang laki-laki atau sebagai kaum laki-laki, kita mengatakan bahwasanya lelaki yang sedang berbicara dengan saya ini adalah seorang yang belum dewasa atau masih kekanak-kanakan, dikarenakan dia ketika berinteraksi dengan pasangannya, dengan istrinya, itu selalu menghitung, mengungkit-ungkit segala kesalahan istrinya. Padahal hal yang demikian itu sepantasnya dilakukan oleh sang istri dan bukan seorang suami.
Sama halnya juga ketika seorang laki-laki dewasa bermain-main dengan anak kecil, kemudian bertingkah seperti mereka, maka setiap orang yang melihatnya pasti mengatakan, "Ini sudah besar, sudah dewasa, tapi masih bersifat kekanak-kanakan." Hal itu dikarenakan kesempurnaan akalnya yang dimiliki oleh laki-laki mengharuskan bagi dia untuk bersikap, berinteraksi, berpola, dan bahkan dalam menyampaikan sesuatu kepada orang lain itu harus sesuai dengan kadar ukuran akal mereka. Ketika dengan anak kecil, maka sangat beda perilaku kita. Ketika dengan orang yang dewasa, begitu juga ketika berinteraksi dengan laki-laki, sangat berbeda ketika kita berinteraksi dengan perempuan.
Dan sifat yang paling mendasar bagi seorang laki-laki itu seperti yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ketika melewati atau melalui suatu hal yang bisa merendahkan dirinya, jika dia ikut serta ke dalamnya, maka maru kirarama, mereka pun melaluinya dengan penuh ya kehormatan diri atau dengan penuh penjagaan terhadap kehormatan dirinya. Satu contoh dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ketika beliau menafsirkan firman Allah, beliau mengatakan bahwasanya, "Aku tidak ingin menghitung-hitung segala hak-hak saya terhadap istri saya, karena Allah telah mengatakan laki-laki itu lebih unggul, lebih utama, lebih atau memiliki beberapa derajat di antara dari kaum wanita." Maka segala kesalahannya, jika istri memiliki 100 atau 10 kesalahan, maka kita sebagai suaminya tidak boleh mengungkit semua kesalahan itu, bahkan kita harus menutup mata dari sebagian besarnya atau berpura-pura tidak mengerti atau berpura-pura tidak tahu, padahal semuanya kita tahu, kita kuasai. Tapi seperti itulah dalam bermuamalah kita dengan pasangan kita yang telah Nabi sebutkan kurang akalnya dan kurang agamanya.
Dan juga satu contoh dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, yaitu ketika beliau Shallallahu Alaihi Wasallam ini menceritakan beberapa rahasia kepada sebagian istri-istrinya, lalu sebagian istri-istri ini kemudian menceritakan hal itu kepada istri-istri yang lain, sementara Nabi menceritakan itu dalam bentuk rahasia. Lalu ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala membongkar rahasia tersebut, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pun tidak mengungkit semuanya, semua kesalahan itu. Coba Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam merahasiakan sebagian rahasia kepada beberapa hasil, kepada sebagian istri-istrinya. Ketika para istri ini menceritakan atau membongkar rahasia tersebut, dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberitahukan hal itu kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Nabi telah tahu siapa-siapa yang melakukannya, kepada siapa dia ceritakan. Tapi apa yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan di sini, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hanya menceritakan atau ingin menyampaikan beberapa saja, beberapa hal saja, tidak semuanya, tidak semuanya.
Karena tabiat pasangan kita itu memang ketika kita menceritakan atau kita menghitung segala kesalahan-kesalahannya, maka ini semakin menjadikan dia keras kepala, menjadikan dia keras kepala, semakin bengkok, karena cara kita dalam meluruskannya itu kasar atau keras. Ya, Nabi bilang yang paling bengkok itu bagian atasnya, sehingga dalam meluruskannya itu butuh kelembutan. Dan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadis-hadis beliau yang ma'ruf menyebutkan bahwasanya kelembutan itu jika ada pada sesuatu, maka dia akan menghiasinya. Dan jika kelembutan itu dicabut dari sesuatu, maka akan menjadi malapetaka bagi sesuatu tersebut.
Nah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menunjukkan kepada kita betapa tinggi dan betapa agungnya akhlak beliau. Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabarkan segala sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh para istri-istri beliau, tapi Nabi hanya mencukupkan, Nabi hanya mengingat-ingatkan para istrinya itu dengan sebagiannya saja, dan menutup mata dari sebagian yang lain. Sudah Nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, sehingga kita sebagai laki-laki harus melihat hal-hal yang atau mengedepankan hal-hal yang lebih maslahat daripada hal-hal yang tidak mendatangkan maslahat. Begitu juga ketika kita berinteraksi dengan pasangan kita, kita melihat hal-hal yang lebih maslahat, mempertimbangkannya daripada mengikuti segala kemauannya yang kurang ada masalah di sana.
Dan bagi seorang laki-laki, dia harus selalu mengingat firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, memiliki banyak kelebihan, dan kita dipasangkan dengan pasangan yang memiliki banyak kekurangan. Maka hendaklah kita menghiasi diri kita dengan memaafkan, melupakan, bahkan menghapus dari catatan kita segala kekurangan dan kesalahan dia. Setiap hari bagi kita adalah suatu hari yang baru. Yang lalu atau yang kemarin telah berlalu dan telah terhapus dalam catatan kehidupan kita. Sebagai seorang laki-laki, seperti itulah yang disebutkan oleh Al Imam An-Nawawi dalam kitab beliau Fiqhul Muamalah, dalam bermuamalah, berinteraksi dengan pasangan kita, yaitu mengenal karakter-karakter yang kurang darinya, dan juga mengenal hal-hal yang tidak dia sukai, mengenal hal-hal yang dia murkai, lalu kemudian kita menghindarinya, dan menghiasi diri dengan hal-hal yang dia sukai dari kita, dan bermuamalah dengannya pun dengan penuh kelembutan.
Meskipun dalam hal ini laki-laki berbeda ya, dari sisi kelembutan, mungkin terpengaruh oleh latar belakangnya atau kondisi masyarakatnya, sehingga terkadang ya kelembutan dalam satu komunitas masyarakat itu pada komunitas yang lain dianggap bukanlah satu kelembutan, tapi satu tindakan yang kasar. Ketika kita mengenal karakter istri dengan sejati, maka kita akan menemukan permata yang tidak ternilai dalam hidup kita. Mengenal karakter istri adalah sebuah perjalanan yang indah, di mana setiap langkah mengungkapkan keunikannya dan kelebihannya. Untuk materi pembuka tadi, berkenan tentang materi yang telah disampaikan, ada hal yang menarik tentang keunikan seorang wanita. Jadi, antaranya ini menjadi sifat yang kebanyakan atau jadi umum di kalangan keluarga. Ustadz, itu ada sebagian istri suka memata-matai suami, suka lihat hati suami, ada apa saja ya? Bagaimana sikap seorang suami dan apa nasihatnya untuk seorang istri yang seperti ini?
[Musik] Artinya, selalu meluruskan, selalu mengembalikan segala yang atau selalu mengembalikan seorang suami atau seorang istri kepada hal-hal yang lurus, hal-hal yang diridhai. Dia bilang dikarenakan dua hal, apa yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan anugerahkan kepada laki-laki yang telah kita sebutkan berupa akal yang sempurna dan seterusnya, dan apa yang mereka infakkan kepada istri-istri mereka, sehingga kaumnya juga itu nampak pada bagaimana dia mengatur atau membuat aturan antara dia dengan istrinya. Sehingga, misalkan seperti HP yang tadi ditanyakan, ini dilihat dari satu hal yang merupakan tanggung jawab. Artinya, bahwa HP istri diperiksa oleh suami itu suatu hal yang dibolehkan, bahkan terkadang wajib. Tidak kebalikannya, istri ke suami, tidak kebalikannya. Dikarenakan ya, istri itu berada dalam tanggungan suami, dan istri merupakan salah satu dari pertanyaan Allah kepada suami. Istri adalah amanah, bukan sebaliknya. Bukan sebaliknya. Ya, bagi seorang istri itu dalam hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan adalah penanggung jawab, di antaranya disebut oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, istri itu adalah penanggung jawab mengurus urusan rumah suaminya, menjaga hartanya, menjaga anak-anaknya, dan menjaga harga dirinya. Ketika suami tidak berada di rumah, tidak bersama dia, istri pemimpin dalam rumah. Ustadz, dalam rumah, tapi suami memiliki kepemimpinan yang lebih luas. Artinya, dia juga memimpin rumahnya, istana istrinya itu, dan juga memimpin anak-anaknya. Itulah sifat qawwamah, sehingga kaum ini tidak diberikan kepada istri, diberikan kepada suami. Istri yang selalu melihat pesan-pesan atau memeriksa HP suami ini bisa menjadi pemicu ya, terjadinya perpecahan atau pecahan, atau bahkan juga bisa menjadikan keluarga itu bubar. Sehingga harus selalu hadir dalam pribadi seorang laki-laki, membuat aturan agar HP itu tidak selalu diperiksa, atau bila perlu jangan sekali-kali memeriksa HP suami. HP suami, tapi suami boleh untuk memeriksa HP istrinya. Jadi, seperti itu. Apalagi kalau istilahnya sebagian istri-istri yang suka periksa suami itu didasari karena curiga. Terus datangnya dari setan. Seharusnya dia membentengi diri dengan mempelajari surat An-Nas atau selalu membaca dari Hanas itu ya, setan yang kalau kita berlindung kepada Allah, dia mengecil dan menghilang. Ini satu hal yang rutin dilakukan oleh pasangan-pasangan kita, para istri kita, agar apa? Agar tidak terjatuh dalam was-was ya. Was-was itu artinya bisikan-bisikan setan yang mengajak kepada maksiat, yang mengajak kepada kedurhakaan, yang mengajak kepada menentang suami, dan seterusnya. Bawaannya tidak percaya terus sama suaminya. Ini tidak boleh, karena kalau kita tidak percaya kepada suami, kenapa kita rela untuk menjadi tawanan dia? Masyarakat seharusnya kita bersikap seperti seorang wanita yang merdeka, yang apa? Menganggap bahwa atau meyakini bahwa apa yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentukan bagi dia, itulah yang terbaik. Dan apa yang menjadi was-was itu hanyalah bisikan-bisikan yang ingin meletakkan ya rumah tangga dia. Masya Allah, Barakallah. Ini sangat menarik. Sebelum ini menghimbau kepada para pemirsa kita yang menyaksikan konsultasi syariah pada malam hari ini, silakan kirimkan pertanyaannya. Yang menyaksikan lewat YouTube, ya, boleh langsung kirim di kolom komentar pertanyaannya. Atau yang menyaksikan lewat Facebook, lewat komentar juga boleh. Atau melalui WhatsApp yang telah ya tersedia oleh di depan para pemirsa. Ada beberapa pertanyaan yang masuk, Ustadz. Semoga bisa kita jawab pada malam hari ini. Pertanyaan dari WhatsApp dari saudara Kalam. Bagaimana cara memilih wanita dalam hal pendamping hidup? Mungkin memilih wanita yang ideal. Dia mau jadiin memilih wanita yang ideal. Pertama, berawal dari diri kita memperbaiki diri kita, maka Allah akan memperbaiki wanita yang Allah siapkan untuk kita. Kemudian memperbanyak doa. Tidak usah doa yang macam-macam yang terlalu detail, tapi doakan, "Ya Allah, karunia indah saya, anugerahkanlah saya seorang wanita sholehah." Tidak usah banyak-banyak, itu saja doanya, wanita sholehah. Jadi, memperbaiki diri, tentu memperbaiki diri ini banyak aspeknya ya, memperbaiki akhlak kita, memperbaiki keilmuan kita, memperbaiki kedekatan kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kemudian banyak berdoa, banyak berdoa untuk diberikan atau dikaruniai dan dianugerahi seorang wanita yang sholehah. Dan wanita yang sholehah itu atau yang baik itu, dalam hadis disebutkan, jika dilihat oleh suaminya, tenang. Kalau diperintahkan, patuh. Kalau kita perintah, dia patuh. Dan dia selalu mengedepankan keinginan suaminya atas keinginan dirinya, meskipun berkecamuk dalam hatinya itu sesuatu, tapi dia tetap tunduk dan patuh. Dan untuk di zaman sekarang, wanita sholehah itu dilihat dari sifat malunya. Jika dia adalah seorang wanita yang pemalu, maka dia alhamdulillah, atau kita bisa berbaik sangka kalau dia adalah wanita yang sholehah, karena sifat malunya itu akan mencegah dia dari perbuatan-perbuatan yang tidak layak. Tapi ingat, bahwa pasangan kita itu adalah setengah dari kita, atau dia adalah tulang rusuk kita, sehingga tidak begitu atau tidak terlampau jauh antara kita dengan pasangan kita tersebut. Jadi, memperbanyak perbaikan diri kita, kemudian memperbanyak doa, dan carilah wanita-wanita yang pemalu. Semoga saudara Kalam bisa ini, bisa mendapati jawaban yang diinginkan. Kemudian kita lanjut, Ustadz. Masih dalam pertanyaan melalui WhatsApp dari saudara Fadil. Akhir-akhir ini saya tertarik dengan wanita yang jarang berbicara. Wanita ini dulu teman sekolah saya dan baru ketemu lagi di suatu komunitas. Saya sering mengajaknya ngobrol, tapi dia hanya menjawab seadanya saja. Bahkan saya sudah memperlihatkan ketertarikan saya kepadanya, tapi mungkin karakternya seperti itu. Jadi saya sangat bingung, Ustadz. Bagaimana cara-cara saya bisa tahu kalau dia tertarik juga kepada saya? Mungkin pertanyaannya tentang dia lagi PDKT, tapi kita katanya mau menikah ini kan teman lama ya. Jadi, ya dibilang cinta lama bersemi kembali. Insya Allah, mungkin dahulu hanya cinta-cinta monyet. Kalau sekarang cinta monyet ada yang lebih cantik. Azamnya untuk menikah, untuk mulai dari khitbah dan seterusnya. Lalu bagaimana kalau kita perhatikan wanita itu, dia tidak pernah memperhatikan kita? Memang seperti itulah wanita. Kalau suka dengan seseorang, dia tidak akan menatap orang tersebut kecuali hanya dengan menjeling matanya saja. Artinya, ketika kita dalam keadaan lalai, barulah dia menatap kita. Berbeda dengan laki-laki. Ketika suka terhadap seorang wanita, maka dia akan selalu menatap wanita tersebut. Beda satu ya, sangat beda. Jadi, kalau misalkan bagaimana saya tahu wanita ini suka dengan saya? Perhatikan dia ketika berbicara dengan dia dalam khitbah dan seterusnya, lalu dia tidak menatap kita kecuali sesekali saja, itupun saat kita mungkin membandingkan wajah kita dari dia, maka itu ada tanda-tanda kalau wanita tersebut mau dan suka sama kita. Berarti kalau mau, pastikan Ustadz, banyak karena perempuan tidak suka banyak bicara. Masya Allah, tapi harus banyak aksinya langsung ya. Jadi, saudara Fadil, silakan di khitbah. Pujaannya di situ nanti bisa terjawab ya, apakah dia tertarik atau tidak. Dari Mas, dari WA lagi. Saya seorang yang ingin menikah yang tinggal di Makassar, namun belum memiliki calon. Lalu sering sekali saya diberi nama-nama perempuan dari teman-teman yang menjodohkan, menjodohkannya kepada saya. Namun, saya sangat takut telah mengeluarkan panai yang tinggi, tapi ternyata salah pilih, takut tidak cocok dengan saya dan lain-lain. Apa jalan keluarnya? Jalan keluarnya banyak yang jodoh-jodohin ini, tapi takut salah pilih, apalagi panai besar. Ini sekarang kan kita hidup di zaman jumlah wanita itu sangat banyak. Dari ada laki-laki, apalagi di Makassar sini. Baru kata dia belum menemukan atau mencari-cari tidak ketemu ya, belum memiliki calon. Masya Allah. Kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan beristikharah. Kembali kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semua itu ya, jalannya atau bersumber dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sehingga jangan kita bertumpu kepada diri kita, tapi kembalikan segala perkara kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jujur dan benar-benar teguh pendiriannya, pendirian kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, barulah kita bertawakal dan berusaha untuk mencarinya. Maka insya Allah, Allah akan bukakan jalan-jalan itu, sehingga kita menjumpai wanita yang memang benar-benar telah Allah siapkan untuk kita. Dan segala kekhawatiran kita akan pupus sirna ketika kita berjumpa dengan seorang wanita yang telah Allah Subhanahu Wa Ta'ala tentukan untuk kita. Jadikan menempuh jalan-jalan yang tidak dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang bertentangan dengan syariat. Misalkan ingin berkenalan dengan atau dalam mencari calon pasangan hidupnya, kemudian berkenalan dengan banyak wanita, istilahnya pacaran sehari dua hari, sepekan dua pekan, kemudian putus lagi, cari yang lain lagi. Tidak boleh. Ini bisa apa? Menjadikan kita tidak punya pendirian. Di samping kita terjebak dalam kubangan maksiat yang bisa berujung kepada perzinahan. Kita akan menjadi seorang lelaki yang tidak punya pendirian, sehingga kita terombang-ambing oleh khayalan kita atau kita dihantui oleh keinginan keras kita untuk mendapatkan wanita yang terbaik. Menghadaplah kepada Allah, serahkan semua urusan kepada Allah, dan carilah dengan niat yang tulus apa yang kita inginkan itu. Apalagi kalau yang menjadi calon yang ditawarkan ke dia sudah sholeh, sholehah. Harus sudah sholehah gitu ya. Sholehah itu kan relatif, tapi yang seperti saya bilang itu ya, itulah sholehahnya. Kalau ditatap menarik atau bisa menghilangkan segala apa kepenatan, karena laki-laki itu kan di luar, begitu pulang disambut dengan senyum ya oleh istri. Masya Allah, itu menghilangkan segala kebenaran. Kemudian ketika diperintahkan, dia patuh. Dan ketika suaminya meninggalkan dia, dia menjaga harga dirinya. Malu. Wanita yang baik. Ini pertanyaan-pertanyaan kita pada malam hari ini. Penonton kita kayaknya banyak yang mau menikah ini. Perhatikan pertanyaannya seputar ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala mudahkan urusannya. Ada pertanyaan lagi, Ustadz? Masih dalam pertanyaan melalui WhatsApp. Dari saudara asuhan Sawiy Aff. Bertanya, bagaimana metode kita untuk mengetahui kesukaan istri atau karakter istri? Apakah dengan bertanya kepada istri atau bagaimana? Jangan bertanya kepada istri, karena kalau bertanya kepada istri, ya terkadang begini. Manusia itu memiliki empat sisi. Semua kita, kita semua punya empat sisi. Dan ini saya dengar dulu dari ceramahnya Ustadz Mansur rahimahullah. Manusia itu memiliki empat sisi. Ada sisi yang hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala saja tahu, hanya Allah saja yang tahu. Saya dan Anda tidak tahu sama sekali. Yang kedua, hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Anda yang tahu. Sisi itu ya, mungkin rahasia-rahasia pribadi. Dan yang ketiga, saya tidak tahu sisi itu, tapi orang lain tahu sisi itu. Dan yang keempat, saya dan Anda sama-sama mengetahui sisi saya tersebut. Nah, wanita jika kita bertanya, mungkin karena sifat malunya mendominasi dia, dia tidak bisa menjelaskan hal-hal yang tidak dia sukai, karena seperti itulah tabiat yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala ciptakan. Namun bisa diketahui lewat wajahnya, lewat diamnya, karena wanita itu untuk menyembunyikan hal yang tidak dia sukai dengan diam atau dengan memalingkan wajahnya. Misalkan ya, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tahu bahwasanya istri beliau Aisyah radhiyallahu anha itu lagi dalam kondisi ya marah atau tidak suka, itu hanya pada nama ketika dia mengatakan, "La bu Muhammad." Itu artinya dalam keadaan ridha. Tapi kalau dia ibunda kita itu mengatakan, kita sebagai laki-laki harus pandai melihat hal ini. Dan ini sebenarnya bagi orang yang sudah berkeluarga sangat nampak sekali. Berbeda kalau kita laki-laki semua yang tidak kita inginkan itu langsung sampai nampak dari kita. Kita jujur menyampaikan, "Saya tidak mau seperti ini." Jadi, sebagai seorang suami harus pandai mengetahui suasana hati istri. Kadang kalau kita tanya langsung juga, Ustadz, istrinya juga maksudnya begini, maksudnya begini. Keberhasilan seorang suami juga bisa dilihat dari sifat tawafnya, menutup mata dari segala kekurangan istri, atau acuh tak acuh terhadap suasana hati istri. Itu maksudnya begini, terkadang kita sudah mengetahui istri saya ini lagi marah nih, lagi marah. Tapi jangan kita tanya, "Kau marah ya?" Itu semakin memicu kobaran api besar lagi. Tapi kita harus cari hal-hal yang lain yang mungkin membuat dia ketawa. Tidak mengapa kalau kita memperagakan hal-hal yang membuat dia ketawa. Kira-kira tahu suasana hatinya lagi seperti ini, lagi marah, lagi marah. Jangan kalau tapi perempuan itu uniknya di mana? Banyak hal-hal yang mungkin sudah dia tahu dari ilmu-ilmu yang disampaikan, baik itu di halaqah tarbawiyah atau lewat ceramah-ceramah, tapi ketika perasaan itu mendominasi dia, dia rela dengan segala konsekuensinya kalau berseteru. Tidak boleh tetap yang salah itu suami, dan suami harus meminta maaf. Dan juga tidak boleh saling membuang muka selama tiga hari. Tapi kalau sama istri itu yang mau lima hari, mau seminggu juga tidak masalah. Dia kalau didiamkan oleh suaminya. Jadi suami itu harus orang pertama yang meminta maaf, orang pertama yang membuat clear suasana, yang menjadikan suasana tetap harus adem dan seterusnya. Karena kalau kita menunggu dari istri, ya tidak akan seperti itu. Dia selalu merasa perasaannya besar, perasaannya selalu merasa kalau dia lah yang benar. Suaminya harus pintar-pintar. Jangan tanya langsung. Dia tidak akan sebutkan. Kalaupun dia sebutkan, itu hanya sebatas yang dia tahu dari dirinya, padahal masih banyak sekali yang kita tahu kekurangannya. Dari WhatsApp lagi, saudara Surahman. Bagaimana sikap seorang suami jika ternyata istrinya memiliki karakter yang buruk? Mungkin sebelum menikah dia sudah pilih, pas sudah menikah ternyata dapat istri yang karakternya buruk. Itu yang Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebutkan bahwasanya kita harus mencari cara menasehati, memperbaiki dengan cara-cara yang baik. Kalau Nabi sebutkan bahwasanya almar atau kadzilla, wanita itu seperti tulang rusuk, atau tulang rusuk itu bengkok yang selamanya kan bengkok. Kalau kita biarkan, dia tambah bengkok. Nah, kalau kita luruskan, harus pelan-pelan. Itulah berpasangan itu, Masya Allah. Ya, kita saling belajar. Tapi kalau misalkan kita sudah punya azam bersama bahwa pernikahan ini harus mengantarkan kita kepada surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala, pernikahan ini harus mendekatkan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka kita harus membuka diri untuk pasangan kita, memperbaiki kesalahan kita, kekurangan kita, dan kita memperbaiki kekurangan pasangan tersebut. Hanya saja, kalau kita sebagai laki-laki, seorang istri memperbaiki kesalahan kita harus memposisikan diri kita itu sebagai seorang raja. Maksudnya, istri harus memposisikan kita sebagai seorang raja, sehingga dia berbicara dengan kita itu dengan cara-caranya yang lembut, cara-caranya penuh hormat, menasehati dan memperbaiki kekurangan kita. Kita pun demikian, jangan apa merasa kalau kita ini raja ya, sehingga semena-mena. Harus justru kita harus menurunkan derajat kita setara dengan dia sebagai kawan, sebagai teman, sebagai apa ya, seperti itulah teman hidup kita. Jadikan sebagai ratu, gimana istri kita. Karena dia berbicara dengan kita sebagai raja, maka kita juga berbicara dengannya dalam memperbaiki kekurangannya. Dan jangan pernah kita harus cari waktu-waktu khusus. Waktu-waktu khusus, mungkin kalau sudah punya anak, ketika anak tertidur di tengah malam, kemudian saling berbicara. Maksudnya apa? Selama ini kekurangan apa? Selama ini kelebihannya. Jika kelebihan disebutkan, pertahankan. Jika kekurangan, harus sama-sama kita cari solusinya. Harus seperti itu, karena kita sudah komitmen, pernikahan kita harus berujung di surganya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kami mohon maaf kepada para pemirsa, ada sebagian pertanyaan yang kami lihat sudah mencakupi sebenarnya dari pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, jadi kami tidak bacakan. Taif, ada pertanyaan dan mungkin ini jadi pertanyaan terakhir, Ustadz, untuk pertanyaan-pertanyaan yang lain, kami mohon maaf. Ya, saat dari saudara Cahyadi. Bagaimana sikap seorang suami yang memiliki istri yang lebih suka keluar dengan temannya daripada tinggal di rumah? Mungkin istrinya traveler, lebih suka keluar sama teman-temannya, tinggal di rumah tidak nyaman. Bagaimana ini sikap seorang suami? Masya Allah. Ini sikap seorang suami jika keluarnya itu adalah keluarga yang maksiat, dan sebaik-baik tempat bagi seorang wanita itu di rumah, apalagi dia seorang ibu untuk anak-anaknya atau istri untuk suaminya, maka tempat yang paling utama itu adalah di rumahnya. Ketika suaminya melarang dia untuk keluar, tetap keluar, maka dalam hal ini dia masuk kategori wanita yang nasyid, yaitu yang keras kepala, yang meninggikan atau mengeraskan suaranya, atau yang durhaka terhadap suaminya. Kalau sudah demikian, maka sikap seorang suami untuk bisa memberikan hal-hal yang mendatangkan efek jera bagi dia. Tapi sebelum itu, seorang suami harus menunjukkan sifat Allah kepada istrinya tersebut. Jangan lembek, harus tegas. Kenapa? Karena istri merupakan amanah yang dititipkan kepada kita, dan amanah itu akan ditanya, akan dipertanggungjawabkan. Sehingga seorang suami harus menunjukkan ketegasannya, ketidaksukaannya, kedisiplinannya, sehingga dia disegani oleh istrinya itu. Dan haruslah menasehati istri. Dilihat mungkin waktunya dibatasi, kemudian porsinya dikurangi dalam sehari. Misalkan keluarnya dua tiga kali, jadi kurangi menjadi dua, kemudian dikurangi menjadi satu, dan dihilangkan sama sekali. Begitu juga dengan durasi waktunya. Nasehat itu sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Kalau misalkan istri tidak mau mendengar nasehat dari suaminya, karena ada juga istri-istri yang tidak mau mendengar nasihat suaminya, meskipun apa yang dikatakan oleh suami itu benar, tapi dia tidak percaya, tidak mau menerima itu dari suaminya, demo dengar dari orang lain, maka tidak mengapa kalau sang suami tersebut mengantar istrinya kepada pembinaannya rumah tangga, konseling untuk dinasehati. Itu di antara cara-caranya. Dan sikap seorang suami haruslah mengambil langkah-langkah yang bisa memperbaiki istrinya tersebut yang menjadi amanah bagi dia. Demikian Allah Ta'ala pada malam hari ini kita dapat pelajaran yang sangat besar, para pemirsa, berkenaan tentang karakter istri. Mengenal karakter istri adalah pintu gerbang menuju cinta yang mendalam, pengertian yang tulus, dan kehidupan yang penuh makna. Setiap karakter seorang istri adalah sebuah cerminan kebaikan dan keindahan yang menginspirasi dan memberi warna dalam kehidupan sehari-hari. Kami ucapkan syukron jazakallah pada kesempatannya malam hari ini. Afwan bersama para pemirsa kita. Dan para pemirsa juga kami tunggu atau nantikan acara apa konsultasi dengan syariat kita pada pekan-pekan yang lainnya berkenan tentang usroh. Dan kita tutup, Ustadz, kalau ada kata terakhir yang perlu disampaikan. Bukan sih, sebenarnya konsultasi seperti ini, Masya Allah, ya, bisa sampai pagi pun tidak, apalagi cuma tanya jawab seperti ini. Jadi, kalau misalkan ada yang mendesak, harus dijawab, boleh dikirim ke saya secara pribadi ya, beberapa pertanyaan yang mungkin para pemirsa butuh jawaban yang mendesak, ya, boleh disampaikan kepada admin, semoga bisa kami teruskan kepada Ustadz. Insya Allah, kita pada program tercinta kita, konsultasi syariah, kita tutup pertemuan kita dengan doa kafaratul majelis. Subhanallah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik] [Musik] [Musik]