Transcription
Hai bunga. Ok, saya lanjutkan terkait bahasan selanjutnya yaitu konsep perencanaan pondasi bor. Konsep dasarnya sama dengan kemarin kita mendesain tiang pancang itu ya. Ya itu yang pertama, daya dukung dari tiang bor dan tiang pancang pondasi tiang, terutama gitu ya, boleh kita sebutnya itu dipengaruhi oleh daya dukung ujung atau *end bearing capacity*. Nah, ini apabila nanti kapasitas daya dukungnya berasal dari tekanan di ujung tiangnya. Iya, ilustrasinya seperti ini. Kalau kita punya tiang hujan di sini tanah keras, yang tanah lunak. Ketika nanti si ujung tiang mencapai tanah keras, dia sehingga semua gaya-gaya nanti disupport oleh ujung dari si tiang ini. Dia sehingga, nah ini tidak makan *ending capacity*, ya, daya dukung ujung. Nah, tanah di sini mungkin karena tanah lunak dan tidak memberikan kontribusi lekatan, boleh diabaikan. Lihat, teman-teman.
Yang kedua, daya dukung selimut atau *friction bearing capacity*. Ini kapasitas daya dukung yang berasal dari daya dukung gesekan atau adhesi, lekatan ya, antara *bore pile* dengan tanah di sekelilingnya. Konsepnya seperti ini. Nah, ini misalkan kita tidak temukan tanah keras sampai kedalaman tertentu, kita bisa gunakan tadi sistemnya adalah lekatan atau gesekan antara tanah dan material pondasi kita. Nah, ini gitu ya, yang menahan adalah gesekan atau adhesi dari material dan material tanah dan material dari pondasi kita. Nah, ini kalau digunakan tidak ditemukan tanah keras yang cukup di lokasi kita atau sangat dalam karena kerasnya.
Yang ketiga adalah kombinasi dari *end bearing* dan *friction*. Nah, ini kalau kita menghitung, misalkan ditemukan di lapangan kita mencapai tanah keras dan juga *friction*-nya bisa memberikan kontribusi, kita boleh menggunakan yang kombinasi ini. Jadi, ini umumnya atau lazimnya di lapangan digunakannya sistem kombinasi ini. Dia, teman-teman. Boleh kita merencanakan yang ujung saja kalau kita yakin memang tanah kerasnya tercapai atau gesekan selimut kalau memang tanah di ujungnya tidak tercapai karena saking dalamnya, atau kombinasi jika memang di sini ada memberikan kontribusi ujung dan juga kontribusi dari lekatan. Dia.
Ok, saya lanjutkan.
Nah, kita akan mencoba menghitung. Kemarin kita sudah jelaskan di pondasi pancang ada beberapa metode perhitungan daya dukung tiang itu dengan data berdasarkan sondir dan SPT. Nah, sebenarnya di persamaan yang data sondir kemarin dengan Mayerhoff itu ya, *qp* = *qu* dikalikan luasan ujungnya, *Ap*, gitu ya, dibagi suatu faktor aman *SF*, atau daya dukung limitnya *qu* dikalikan dengan *as*-nya, luasan selimut, setidaknya dibagi dengan suatu faktor aman *SF*. SPT itu bisa digunakan juga di dalam pondasi bor ini, teman-teman. Hanya yang dipendekkan SPT karena itu khusus untuk tiang pancang. Nanti kita akan jelaskan di sini dengan metode pendekatan lain selain rumus. Lebih banyak disampaikan oleh beberapa ahli, termasuk di sini saya sampaikan yang belum kita sampaikan di tiang pancang, kita sampaikan di tiang bor ini.
Yang pertama adalah metode Awko dan The User. Nah, kalau metode ini, dia daya dukung kapasitas tiang bor ini ini berdasarkan data sondir ya. Dia tidak memperhitungkan kuat dukung selimutnya, alias dia hanya *end bearing*. Asumsinya apa pendekatan ini? Karena dianggapnya perlawanan bisa tanah yang terjadi pada pondasi bor, gesekannya dianggapnya sangat kecil, sehingga boleh dikatakan tidak ada. Mungkin ini kasusnya penurunan rumus ini karena si ujungnya tiang bor ini menyentuh pada tanah keras atau batuan, sehingga untuk alasan konservatif atau keamanan, yang selimutnya sudah diabaikan saja, gitu ya, teman-teman. Sehingga dia ke *ultimate* itu hanya akibat daya dukung ujung. *Qbe* dikalikan *Ab*. *Qbe* adalah tahanan ujung sondir-nya dikalikan *Ab*, luas penampang bawah dari si tiang bor-nya. Nah, untuk menghitung dari *qbe* atau tahanan ujung sondir tadi per satuan luas, gitu ya, ini adalah nilai *qc*, *qc* adalah nilai sondir hasil kita menguji di lapangan, dibagi suatu *fb*. *Fb* di sini adalah faktor empirik yang diturunkan oleh Siau Ko ini dan The Lancer, tergantung tipe tanah. Nah, untuk *bore pile* biasanya diambil adalah tiga setengah, dia, teman-teman. Jadi, ini hampir sama kalau kita kemarin di pancang itu dibagi, kalau kondisi bebannya adalah beban permanen, ia adalah bagi tiga. Kalau ini dibaginya tiga setengah ini karena pendekatan bikinnya ada faktor-faktor lain yang dipertimbangkan, sehingga nilainya bisa tiga setengah. Sehingga kita kalau menghitung kapasitas izin, ingat ya, dia *allowable* berarti nanti harus dibagi antara *qu* ini dengan suatu faktor *SF*. Di sini dibagi menurut dia, kalau dasar tiangnya nanti dibesarkan dengan diameternya kurang dari dua meter, gitu ya, dia dipakainya *SF*-nya dua setengah. Tapi kalau dasar tiangnya dia tidak dibesarkan, dia dibaginya dengan dua. Ini memang agak sedikit berbeda dengan teori Meyerhoff kemarin, hanya dibagi oleh *SF* yang ada di sini. Kalau di Awko ini, dia selain tadi ada faktor koreksi empiris ini tiga setengah, nanti dia ada dibagi lagi dengan *SF* di sini dua. Ntar jadinya nih hampir mendekati tujuh ya kita begini.
Ini yang pertama, metode Awko dan The Lancer.
Selanjutnya ada metode Smits, Manda, Nottingham.
Nah, ini juga ahli ini memberikan rumusan empiris untuk menghitung daya dukung ultimit suatu pondasi tiang bor. Itu sama ya prinsipnya, *qu* adalah tahanan ujung ditambah tahanan selimut, di mana tahanan ujung ini nilainya adalah *fb* kali luasan ujung ditambah selimut itu *fs* kalikan luasan dari selimutnya. Nah, ini *fb* ini apa? Oleh Smits, Manda, dan Nottingham, dia adalah Omega dikalikan *qc*. *qc* adalah hasil kita melakukan sondir. *Omega* ini adalah koefisien korelasi, nanti kita jelaskan di belakang. *Fs* adalah *kw* ini adalah koefisien tak berdimensi yang diajukan oleh sih Smits, Manda, dan Nottingham ini. Nah, ini kita pelajari secara detail di slide berikutnya. Sama, ini untuk menghitung daya dukung nantinya perlu kita bagi kalau kita ditanyakan daya dukung izinnya, berarti *qu* *allowable* adalah *qu* dibagi suatu faktor aman. Nah, ini bisa diambil dua setengah sampai empat.
Kita lihat tahanan ujung satuan atau *fb* tadi atau *fb* ini, maaf ya, ini *fb* harusnya itu adalah nilai dari Omega dikalikan *qc*, dan dibatasi dia tidak boleh lebih dari 150 kg per sentimeter persegi. Ini adalah nilai sondir yang sudah cukup kuat, gitu ya, sekitar 150-200. Ini adalah daya dukung tanah sondir yang dianggapnya sudah sangat kuat. Oke, gimana ini koefisien korelasi tadi Omega ini bergantung pada nilai-nilai pada tabel di bawah ini. Jadi, nanti kalau kalian dapatkan nilainya tanahnya pasir yang terkonsolidasi normal, gitu ya, berarti nilai *fcr*-nya adalah satu, itu maka faktor uniknya adalah satu. Nanti kalau pasir yang banyak kering, halo, atau pasir dengan nilai konsolidasinya tadi 2-4, itu 0,67. Kalau kerikil halus atau pasir dengan konsolidasi OCR-nya tadi 6-10, itu dipakainya Omega-nya setengah. Kemudian nanti *qc* ini adalah rata-rata, sama-sama kemarin rata-rata tahanan ujung dari data sondir. *qc* ini dibagi tadi ada *qc1* dan *qc2*. Ini dirata-ratakan ya dibagi dua. *qc1* adalah rata-rata pada zona 0,7 *D* atau 4*D* di bawah dasar tiang. Jadi, ini tuh 0,7 *D* sampai sekitar 4*D* di bawah dasar tiangnya. Hampir mirip sama yang kemarin. Dan *qc2* adalah *qc* rata-rata pada zona 8*D* di atas dari dasar tiangnya. Ini juga hampir sama dengan kemarin, prinsip yang berpengaruh terhadap tahanan ujung.
Berlanjut ketahanan gesek atau *fs*. Ini nilainya adalah *kf* kali *qf* dengan batasannya dia tidak boleh lebih dari 1,2 kg per sentimeter persegi. *qf* adalah tahanan gesek sisi konus yang kita dapatkan kalau kita uji sondir yang pakai *biconus*, yang ada dua. *kf* adalah koefisien tak berdimensi. Nah, ini nanti tergantung *kf*-nya adalah rasio kedalaman dibagi diameter si tiangnya. Untuk kedalaman 8*D* pertama dari permukaan tanah itu ya, dari permukaan kita ngebor, *kf* interpolasi nilainya dari nol itu di permukaan tanah sampai dua setengah di kedalaman 8*D*. Kemudian setelah dari kedalaman 8*D*, nilai koefisien nanti berkurang dari dua setengah sampai 0,891 pada kedalaman 20*D*. Gitu ya, jadi nilainya ini nanti berkurang lagi. Atau boleh kalau untuk konservatif secara keseluruhan kita memakainya adalah 0,9. Ibu tadi ada yang 0,25, dua setengah, dua setengah sampai 0,891, tapi secara keseluruhan boleh kalau kita tidak mau ribet pakainya adalah 0,9.
Oke, kita lanjutkan metode berikutnya dengan masih dari data sondir atau CPT. Ini Meyerhoff juga mengajukan rumusan ini, hampir sama kayak kemarin ya, cuma nanti di sini ada sedikit perbedaan. Kita lihat, sama daya dukung ultimit adalah daya dukung dari ujung ditambah dengan daya dukung selimut. Ini adalah untuk ujungnya, *fb* dikalikan luasan ujung tiang. Kemudian untuk daya dukung selimut adalah *fs* dikalikan luasan selimutnya. Nah, di sini *fb* adalah tahanan ujung satuan dan *fs* adalah tahanan gesek satuan. Nanti kita lihat besarnya seperti apa. Untuk menghitung daya dukung izin tiang *qu* *allowable* ini sama ya, *qu* dibagi suatu faktor aman. Nilainya dua setengah sampai empat. Oke, juga kita lihat tahanan ujung satuan dan gesek satuan yang diajukan oleh Meyerhoff.
Jadi, yang dimaksud tahanan ujung satuan *fb* adalah nilainya Omega 1 dikalikan Omega 2 dikalikan nilai *qc*. *qc* adalah hasil rata-rata sondir pada zona 1*D* di bawah ujung tiang dan 4*D* di atas dari ujung tiang. Ini lebih kecil ya, 1*D* dan 4*D*. *fb* ini adalah tadi tahanan ujung satuan. Nah, gimana untuk tiang bor ini nantinya nilainya dikalikan sekitar 70% saja, 60% kekuatannya, jadi hanya 0,7 sampai 0,5-nya. Kemudian Omega 1 ini adalah koefisien modifikasi pengaruh skala. Nah, ini rumusannya adalah *D* + 0,5 dibagi 2*D* dipangkatkan *n*. Nah, ini kalau nilai *D*-nya ini lebih besar dari setengah meter diameternya, maka Omega 1-nya adalah satu. Omega 2 adalah koefisien modifikasi untuk penetrasi tiang dalam lapisan pasir padat saat *L* kurang dari 10*D*. Nah, ini rumusannya adalah *L* dikalikan 10*D*. Kalau *L*-nya lebih dari 10*D*, nanti Omega 2 ini adalah satu nilainya. Nah, ini tinggal kita gunakan. Kemudian tadi ada nilai *n*. *n* ini adalah nilai eksponensial, di mana nilainya adalah 1 untuk pasir longgar, nilai *qc*-nya kurang dari 5. Kemudian dua untuk pasir padat yang sedang, isinya lebih dari 5 kurang dari 12 MPa. Dan tiga untuk pasir padat jika nilainya *qc* lebih dari 12 MPa. Dua untuk tahanan ujung satuan.
Kalau tahanan gesek satuan ini diambil nilainya nanti bisa pakai rumus atas atau bawah. Rumus atas ini bila nanti kita memakainya adalah *qf* atau kita pakai *software*-nya adalah *biconus*, sehingga kita punya nilai *qc*, kita punya nilai *f*, dan nanti nilainya adalah *fs* = *kf* dikalikan *f*. Perkaliannya nanti *kf*-nya bisa diambilnya satu. Kalau teman-teman melakukan sondir yang hanya *single cone*, bukan *biconus*, nanti bisa ada korelasi ini untuk mengetahui sisi gesek atau lekatan sisi ekonomisnya. Kita pakai rumus ini, *fs* = *k* dikalikan *qc*. Jadinya diketahui adalah *qc*-nya dengan nilai *k*-nya adalah 0,005. *k*-nya adalah koefisien modifikasi tahanan kondisi ini menurut Meyerhoff juga sama. Nanti kasusnya untuk reduksinya kita kalikan 70 sampai 50%. Ini dalam menghitung gaya gesek tiangnya.
Oke, saya lanjutkan didata berikutnya. Kalau kita mempunyai data SPT.
Nah, kalau di pancang kemarin kan juga diberikan rumusan ya, eh untuk data SPT dibagi untuk tiang yang punya deformasi besar dan deformasi kecil. Nah, ini karena *bore pile* ini tidak dipancangkan, sehingga dia tidak ada deformasi. Hanya ada beberapa rumus pendekatan yang disajikan oleh beberapa ahli. Yang pertama oleh O'Neill dan Richards. Ini sama sebenarnya rumus *qu* adalah *qp* ditambah *qs*, di tahanan ujung ditambah tanah selimut. Di mana juga *qp* ini adalah ada faktor tahanan ujung dikalikan luasan ujung ditambah *qs*-nya, faktor tahanan gesek satuan dikalikan luas selimutnya. Nah, *fb* nilainya berapa? Sio'Neill dan Richards ini merekomendasikan bahwasanya tahanan ujung tiang bor pada penurunan lima persen dari diameter dasar tiang pasir itu bisa digunakan rumusan ini, yaitu *fb* = 0,6 dikalikan Sigma *er* dikalikan *N60*. Nanti dibatasi nilainya tidak boleh lebih dari 4500 KPA. *N60* adalah nilai SPT rata-rata di ujung bawah tiang bor sampai 2*B* di bawahnya. Jadi, dari ujung sampai di bawah tiang bor-nya, di atasnya tidak diperhitungkan oleh dia. Kemudian dia juga tidak dikoreksi terhadap *overburden*. Jadi, nilai SPT ini nanti kalau kalian dapatkan yang seperti di contoh soal kemarin, itu sudah dikoreksi terhadap alat, tapi tidak dikoreksi terhadap *overburden*, yaitu berat tanah yang ada di atasnya. Jadinya digunakan memang tidak diperlukan koreksi terhadap *overburden*-nya.
Nah, kemudian ada Sigma *er*, ini adalah tegangan referensi. Ini dipakainya adalah 100 kPa atau 100 kN/m². Ini teman-teman harus hati-hati ya, ini bermain dengan satuan. Semua ada yang ton, ada yang kg, ada yang KN. Ini harus diperhatikan. Jika nantinya tiang bor dasarnya lebih dari 1,2 meter, maka *fb* dapat mengakibatkan penurunan yaitu lebih dari satu. Ini maka disarankan nanti nilai *fb* ini direduksi menjadi nilai *fbr*. Caranya adalah dikalikan faktor 4,7 belas dikalikan *Dr* dibagi *Db* dikali *k*. *fb*-nya. *Dr* adalah lebar referensi digunakan 300 mm. Kemudian *Db* adalah lebar ujung bawah tiang bor-nya. Nanti bisa digunakan ini, sehingga nilainya tereduksi.
Nah, untuk tahanan gesek satuannya rumusnya apa? Ini kita pakai-nya adalah *fs* = faktor beta dikalikan *k* Sigma *er* aksen. Beta sendiri adalah *k* dikalikan tangen dari sudut gesek antara tanah dan tiangnya, ya. Nah, nilai-nilai *k* sudut gesek tadi itu kita bisa ambil dari nilai-nilai pada tabel di bawah ini. Nyanyi sudah disediakan dia, tergantung dari kalau *k*-nya pelaksanaannya apakah kering, apakah tadi basah, gitu ya, dengan *wet* atau sehari tadi cara kerjanya apakah baik ataukah tidak terkontrol atau buruk, atau dengan selubung di bawah air dengan *casing*. Ini mengarungi *k*. Kemudian nilai sudut gesekan tadi, ini pengaruhnya terhadap sudut gesek dalam tanahnya. Nanti apakah bila lubangnya terbuka dengan pipa selubung *faradia* satu, dengan selari, atau dengan metode basah tadi dia satu. Kalau nanti dengan pipa selubung permanen dia menjadi 0,7. Lia sih *casing*-nya tadi tidak dicabut, tapi memang dipersiapkan untuk dicor di bawah lebih.
Nah, koefisien beta itu juga dapat dihitung dengan persamaan yang lebih simpel ini, teman-teman. Bisa digunakan ini juga, yaitu satu setengah dikurangi 0,135 akar Z dibagi *Dr*. *Z* adalah kedalaman di tengah-tengah lapisan tanah itu, ya. Kemudian *Dr* adalah lebar dari referensinya, jadi ini dipakainya 300 mm. Nah, kedalaman direkatkan lapisan tengah ini berarti ditinjau mana yang sedang kita eh tinjau si kuat geseknya tadi. Nanti kedalaman ini diambil tengah-tengahnya. Nah, ini juga ada catatan, jika *N60* nyata di kurang dari 15, maka beta dapat dihitung dengan taman ini. Silakan nanti kalau nilai SPT-nya memang kurang dari 60-nya kurang dari 15, digunakan rumus ini. Gitu ya. Ingat, *N60* atau adalah nilai SPT yang tidak dikoreksi terhadap *overburden*. Jadi, berat datangan di atasnya memang diabaikan dan hanya dikoreksi terhadap faktor prosedur atau alat di lapangan, kalibrasi alatnya, gitu ya. Oke, selanjutnya.
Juga nilai beta ini nanti bisa digunakan untuk tanah non-kohesif. Ini disarankan oleh Kris dan kawan-kawan. Bisa kita pakai ini kalau tanahnya pasir, dia bedanya 0,25 jika kedalamannya lebih dari 2614. Kalau pasir yang ada kerikilnya, nanti bisa dengan rumusan ini. Kita sama, dua dikurangi 0,5 Z pangkat 0,75. Nanti renangnya ada di nilai ini. Untuk pasir berkerikil atau cenderungnya kerikilnya banyak, bisa dipakainya adalah 0,25 jika Z berdosa 2651. Gitu ya, teman-teman. Beberapa rumusan untuk menghitung daya dukung tanah untuk pondasi bor pile.
Ada lagi satu metode apabila kita menggunakan data SPT, yaitu metode Luciano. Dia juga memberikan persamaan. Jadi, ini semua adalah persamaan empiris ya, teman-teman. Yaitu *qu* = daya dukung ujung ditambah daya dukung selimut. Nah, saja nanti diaduk ujung ini dengan rumusan alfa dikalikan *N* dikalikan luasan ujung. Nah, selimut ini adalah nilai beta dikalikan *NS* dibagi 3 + 1 dikalikan luas selimut. *NS* adalah nilai SPT rata-rata sepanjang tiang. Nilainya disyaratkan lebih besar dari tiga dan kurang dari 50, dia, teman-teman. Alfa dan beta adalah koefisien dasar tiang untuk alfa, beta adalah pengujian selimut yang nilainya ini nanti tergantung dari tabel di samping ini. Nah, ini tadi ada koefisien dari jenis tanah di sini ada kalau lempung dia 12, lanau berlempung 20, tanah berpasir 25, pasir dan kerikil 40. Nah, kalau koefisien dasar tiang atau alfa, dia bisa dilihat pada ini. Misalkan profile nih, di sini untuk tanah lempung 0,85. Kalau pasiran sekitar 0,5. Persen selimut yang ditata di juga bisa dilihat di sini. Untuk *full file* tergantung jenis tanah, clean 0,8, kemudian *intermediate soil* itu 0,65, kalau dia pasiran 0,5. Gitu ya. Adith24plp di tengah.
Sama dengan pondasi pancang kemarin, setelah kita mendapatkan daya dukung tiang tunggal, kita sesuaikan terhadap beban yang ada. Misalkan di sini ada gaya aksial yang bekerja sesuai sentris, maka untuk menghitung kebutuhan jumlah tiangnya dalam satu kelompok adalah rumusannya adalah *P* dibagi *Qallowable*. *P* adalah gaya aksial yang terjadi atau dari bangunan atasnya dibagi dengan daya dukung izin tiangnya. Nah, ini *Qallowable* yang ini ada baiknya teman-teman nanti dikurangkan dulu dengan berat tiangnya ya, supaya memang benar-benar efektif *Qallowable* itu bisa menahan beban yang terjadi. Jadi, nanti kalau kita dapat daya dukung ujung tiang ini, ada baiknya teman-teman nanti dikurangi dulu dengan berat tiangnya ya, karena berat tiang ini akan mengurangi si kekuatan daya dukung sebenarnya. Seperti jadi nanti teman-teman kalau melakukan perhitungan, tolong dikoreksi ya. Yang kemarin hanya berdasarkan *allowable* tiangnya, ada baiknya kita benar-benar kurangi dengan berat tiang sendiri, sehingga memang ini murni yang ditahannya adalah beban luarnya. Beban *cyber*-nya, artinya sudah kita kurangkan di sini. Jadi, ini nanti *Qallowable* dikurangi dari si berat tiang, jadi *allowable* netonya benar-benar yang diterima atau yang mau ditahan oleh si tiang. Oke, selanjutnya.
Nanti itu kita harus kroscek kalau nanti dia sudah jadi suatu kelompok tiang, kita harus dihitung efisiensinya. Kemarin sudah kita jelaskan di pertemuan sebelumnya, kenapa harus dihitung efisiensi? Karena nanti ada *overlapping* tegangan dari si tanahnya, sehingga nanti akan mengurangi efektivitas dari daya dukung yang diterima dari tiang tunggal. Dan kalau dia bentuknya dalam bentuk kelompok seperti ini, rumusannya sama pakai Converse Labari formula. Nah, ini silakan ya, teman-teman. *G* adalah 1 dikurangi teta dibagi 90. Teta ini adalah *arctangent* D dibagi S, diameter dibagi spasi. Kemarin spasi disyaratkan dia ideal adalah lebih dari dua setengah, kurang dari tiga, gitu ya. Dikalikan nanti nilai *n*-1 dikalikan *m* ditambah *m*-1 dikalikan *m* dibagi *mn*. *m* adalah jumlah baris dalam yang, kemudian *n* jumlah tiang dalam satu barisnya. Nanti bisa dihitung efektivitasnya, sehingga nanti ketika kita sudah dapatkan efisiensi kelompok tiang, nanti kita tinggal kalikan efisiensi, kita kalikan jumlah tiang, kita kalikan daya dukung tiang tunggalnya. Itu nanti kita muda dukung kelompok tiang. Nanti itu kita bandingkan dengan beban atau gaya yang ada, apakah lebih kecil atau lebih besar. Kalau dia lebih kecil, berarti tiang itu tidak kuat, harus dikonfigurasi ulang, harus diatur, entah spasinya yang diukur atau jumlah tiangnya ditambah. Hati-hati kalau spasi ditambah, takutnya nanti *bore pile* ini juga harus semakin tebal, karena ini prinsipnya adalah seperti balok nantinya. Kalau semakin jaraknya jauh berjauhan, bisa ditambah dengan jumlah tiang, sehingga nanti nilainya akan bisa terpenuhi.
Oke, kita lanjutkan.
Nah, ini mungkin contoh perhitungan ya, teman-teman, untuk kita pelajari bersama. Penggambaran tadi perhitungan dari rumus yang sudah saya jelaskan di sini. Diketahui data sondir untuk perencanaan pondasi bor tersaji pada gambar di samping ini. Ada data *qc* dan juga ini adalah jumlah hambatan lekatnya. Ini bukan *qf* dengan *kf* nilai *fs*-nya. Mungkin teman-teman kemarin sudah belajar mekanika tanah di sana ada cara menghitung tahanan lekatan. Silakan untuk dipelajari kembali. Kalau ini adalah jumlah hambatan perekatnya, satuannya juga lain, kg per cm. Nah, ini ada data sampai kedalaman 19 meter. Dia mencapai 175 MPa ini sudah sangat keras, teman-teman, di atas 150 tadi dianggapnya dia sudah keras. Pondasi tiang bor direncanakan menggunakan diameternya 60 cm, tapi kedalaman nanti disesuaikan dengan data sondir yang ada. Jadi, kita diminta merencanakan nih kedalamannya sampai berapa. Diketahui mutu material betonnya K350. Hitung daya dukung ultimit pada rencana pondasi tiang bor tersebut ya. Coba kita lihat dengan metode-metode di depan tadi.
Oke, yang pertama, karena ini datanya adalah data sondir, kita pakai metode yang Smits dan Nottingham. Mungkin yang The Lancer sama Awko tadi kita skip karena di sini sih lekatan juga memberikan kontribusi, gitu ya, teman-teman. Jadi, kita pakai yang memang kombinasi antara daya dukung ujung dan lekatan. Nah, rumusnya tadi ini, *qu* = *Ab* * fb* + *As* * fs*. Ancol, kalau tadi rumusnya adalah *Ab* dikalikan Omega dikalikan *qc*-nya untuk yang *fb*-nya. Kalau *fs*-nya adalah *kf* dikalikan *qf*.
Nah, kita hitung dulu yang tahanan ujungnya. Tadi disyaratkan kalau metode Smits dan Nottingham adalah di bawah ini harus 4*D* dan di atasnya adalah 8*D* pengaruhnya. Sehingga ini coba kita plotkan. Kalau ini ada 4*D*, kita batasi di 19 meter. Kebetulan bisa kita pasangkan di sini di 16,6. Nanti 8*D* menyesuaikan, delapan kali enam dan 4,8. Sehingga di sini kita ketahui kedalamannya, gitu ya. Nah, nilai *qc1* adalah nilai rata-rata sondir pada 8*D* di atas ujung tiang. Ini kita lihat saja hasil selanjutnya berapa, kita jumlahkan, kita bagi dengan atau kita cari rata-ratanya. Ini sekitar kita temukan nilainya 17,63. Garis hijau ini menandakan nilai rata-ratanya, teman-teman, ya, setelah kita jumlahkan dan kita bagi tadi. Ini rata-rata itu ternyata disekitar nilai ini yang saya berikan garis itu, ini, yaitu 17,6 yang kg per sentimeter persegi.
Untuk *qc2* di area bawah 4*D*, ini coba kita tambahkan, kita bagi, kita rata-ratakan, didapatkan 144. Nilainya sekitar di sini nih. Jadi, nilai ini kalau dijumlahkan, dirata-ratakan, kira-kira nilainya adalah di sini. Sehingga nilai ini dan ini kita ratakan kembali, kita dapatkan nilai *qc* ini, yaitu setengah kali tadi 17,63 + 144,42 dibagi dua, ketemu 81,03 kg per sentimeter persegi. Kita buat dalam KN menjadi 8103 KN per meter persegi. Sehingga kita bisa hitung bahwasanya dengan rumusan tadi, *fb* adalah Omega dikalikan *qc*, dengan batasan maksimalnya adalah 150 kg per sentimeter persegi. Asumsinya di sini tanahnya adalah pasir terkonsolidasi normal, sehingga kita pakai faktor Omega-nya adalah satu. Kita masukkan satu dikalikan 8103, ketemunya adalah 8103 KN per meter persegi. Nah, ini kurang dari 15.000 N per meter persegi atau kalau dalam kg tadi ini 150 kg per sentimeter persegi. Jadi, dia masih di bawahnya, sehingga rumus ini bisa dipergunakan.
Oke, kita lanjutkan untuk tahanan ujungnya. Kita tinggal kalikan yaitu luasan ujung dikalikan faktor tahanan ujung satuan tadi ya, yang sudah kita hitung. Kita dapatkan nilainya 22.899 KN.
Untuk perlindungan berikutnya adalah tahanan gesek. Nah, rumusnya adalah *qs* = luasan selimut dikalikan tahanan dari selimut. Nah, ini kita hitung selimutnya adalah luas lingkaran ya, dikalikan panjangnya, di mana panjang tadi 16,6. Kita dapatkan 31,27 m². *fs* ini adalah *kf* dikalikan *qf*. *Af*-nya kita ambil tadi pengaruh LPD, tapi untuk simplifikasi kita pakai 0,9. *fs*-nya kita hitung nih, teman-teman, dengan menggunakan rumusan yang mungkin teman-teman buka dulu praktikum mekanika tanahnya, ketika menghitung *qu*, ada rumusan bisa dibuat dalam tabel Excel untuk memudahkan. Ini kita dapatkan nilainya adalah 0,37. Sehingga *fs* = 0,9 dikalikan 0,37 kg per sentimeter persegi, didapatkan 33,3 KN per meter persegi. Nah, ini tinggal kita kalikan luasannya, maka didapatkan 1429 KN. Daya dukung ultimit tinggal kita jumlahkan, *qu* = *qb* didapatkan 3330,1 KN atau kalau dalam ton 333 ton. Ini belum kita bagi dengan *SF* untuk mendapatkan *allowable*-nya atau izinnya.
Oke, kita lanjutkan dengan metode kedua, Meyerhoff. Nanti kita coba bandingkan nilainya seperti apa. Sama, kalau Meyerhoff membedakan adalah ketentuan dari nilainya ini. Nah, tadi disampaikan 1*D* dan 4*D*, gitu ya. Jadi, ini tiang ini bisa kita perpanjang kalau tadi hanya 16,6 karena syaratnya si Meyerhoff adalah hanya 1*D*, bisa kita perpanjang sampai 18,4 gitu ya. Jadi, letaknya di sini. Coba kita hitung, teman-teman. Rumusannya tadi tahanan ujung per satuan luas *fb* adalah Omega 1 dikalikan Omega 2 dikalikan *qc*. *qc* ini kita dapatkan di sini nilainya sekitar kita rata-ratakan ya, tadi dari nilai ini sekitar di 126,87 kg per sentimeter persegi. Jadi, pengaruh nilai *qc* dari 4*D* di atas dan 1*D* di bawah ini kita rata-ratakan, kita dapatkan nilainya ini. Nah, karena *D* = 6 meter lebih dari setengah meter, maka Omega 1 tadi harus kita hitung pakai rumus ini. Kita masukkan saja, kita dapatkan Omega 1 0,92. Dan Omega 2, karena *L*-nya lebih dari 10*D* gitu ya, sehingga kita gunakan nilai Omega 2 adalah satu. Maka kita tinggal masukkan ke rumus Omega 1 dikalikan Omega 2 dikalikan *qc*, ini didapatkan nilainya 11.670,204 N per meter persegi. Nah, karena tiang bor tadi nilai *fb* ini disarankan untuk diambilnya nilainya adalah sekitar 70%-nya saja atau 50%-nya, sehingga didapatkannya 8170 N per meter persegi. Nah, untuk menghitung tahanan ujung ini tinggal kita kalikan luasan, sehingga kita dapatkan nilainya 23.896 KN.
Kita lanjutkan tahanan geseknya seperti apa. Nah, tahanan gesek ini tadi selain dihitung dari hambatan perekatnya, juga bisa dari hubungan empiris *qc*-nya. Nah, ini coba kita pakai yang hubungan empiris *qc*, jadi *fs* = *k* dikalikan *qc*, di mana *k*-nya tadi kita sampaikan di depan adalah 0,005. Sehingga kita cari dulu nilai *fs1* ini ya, hubungannya karena di sini kita bagi tiang ini berdasarkan si kedalamannya, gitu ya. Nah, di sini kita coba bagi tiang itu menjadi tiga buah kedalaman. Yang pertama tadi sekitar lima meter, yang kedua sekitar sembilan meter, yang ketiga adalah sampai di ujungnya, gitu ya, teman-teman. Nah, pembagian ini biasanya kita lihat dari berdasarkan nilai tahanan geseknya atau hambatan lekatnya, mana yang mendekati. Gitu ya. Ini kira-kira di sini dia hampir seragam, kemudian di sini bisa kita kelompokkan, dan ini bisa kita kelompokkan. Itu ya, atau memang ini tidak harus seperti ini kita mendefinisikan berapa harus kita baginya, tapi biasanya adalah dilihat dari harga ujinya. Bisa saja ini kita teruskan sampai sini, yang ini kita sendiri kan juga bisa, ya. Ini dalam hal ini kita bagi menjadi tiga segmentasi, sehingga nilai *qc* rata-rata dari 0-5 ini ya, di khusus yang *fs1* ini adalah sekitar tadi rata-ratanya 14,9. Sehingga kita kalikan di sini 14,9 dikali 0,005 ketemu adalah 0,075 MPa. *fs2* dari kedalaman 5 sampai di 9, biar teman-teman, kita masukkan, kita dapatkan nilainya 10,2. *fs3* dari 9 sampai di ujung tiangnya, gitu ya. Ini kita dapatkan nilainya sekitar 0,7535 kg per sentimeter persegi atau 73,5 KPA. Nah, selanjutnya untuk menghitung *qs*, ya tinggal kita sigma atau kita jumlahkan ada di *fs1*, *fs2*, *fs3*. Ini semakin banyak sebenarnya semakin detail ya, kita bagi, misalkan per 5, 5 meter, 5 meter lagi, itu juga akan lebih baik lagi, sehingga nanti kita tinggal kalikan luasan dan nilai tadi kita dapatkan nilai 1400 26,27 KN. Sehingga kuat dukung ultimitnya kita jumlahkan nilainya 37.858 KN.
Kesimpulannya apa? Kita coba resume dari Smits Nottingham tadi 333,1 ton ya. Kemudian Meyerhoff-nya 378,5 ton. Nah, ini metode kedua ini today ini masih memberikan hasil yang cukup bagus, korelasinya masih tidak ekstrim, tidak terjadi selisih yang cukup besar. Oke, mungkin sampai di sini penjelasan saya terkait dengan pondasi bor pada bagian pertama, yaitu teori sampai dengan rancangannya dengan menggunakan data sondir dan SPT. Silakan atau teman-teman bila ada pertanyaan untuk ditanyakan dalam sesi diskusi. Terima kasih. Silakan teman-teman kalau ada pertanyaan.