Transcription
Kalau sesuatu itu telah terang dan jelas, Bapak, Ibu, diterangkan juga, maka kabur makna yang sebenarnya.
Kita sudah duduk di Kuala Tungkal nih, H. Desa apa namanya tadi? Benai. Desa apa pak? Tebing Tinggi. Tebing Tinggi. Kalau kita sudah berada di Desa Tebing Tinggi ini, lalu Ustaz bertanya sama Bapak Ibu, mana Bapak Ibu yang dikatakan Desa Tebing Tinggi itu yang mana? Ah, itulah yang membuat panning aku tuh. Ah, cobalah. Setiap nama ada orangnya. Kalaulah desa ini disbut namanya Tebing Tinggi, mana yang tebing tinggi itu? Coba sebutkan sama ustaz. Lain yang disebut, lain yang ditunjuk atau tunjuk rumah orang nanti ni ustaz tertunjuk bumi. Ah, gini-gini aja lagi tu. Ah, itulah tuh paning aku tuh. Itulah maksudnya man arafallah lisanahu. Siapa yang telah mengenal Allah, sulit bagi dirinya untuk menjelaskan Allah itu kepada umat ini. Payah menjelaskannya. Jadi orang makrifat, Bapak, Ibu. Sulit bagi dirinya menjelaskan tentang Tuhan. Apalagi orang tidak makrifat hanya sekedar mengenal Allah, mengenal nama. Padahal Allah itu bukan nama. Siapa yang mengatakan Allah itu nama? Alif lam lam ini, Bapak, Ibu. Nih. Ini yang kita hadirkan dalam hati kita. Ini yang kita hidupkan dalam pikiran kita. Lalu ini yang kita katakan Tuhan. Maka kita sebenarnya telah menjadikan tulisan Allah sebagai berhala di dalam pikiran dan hati kita. Apa kata Allah? Waminanasi ma ya'budullaha ala harfin. Ada sebagian daripada hambaku, sebagian daripada manusia. Dia mengaku, menyembah dan mengingat aku. Tapi sayang kata Allah, yang diingatnya bukan diriku. Yang diingatnya itu huruf alif lam lam ha. Ini mumpung tak ada lampunya. Ya, kalau ada lampunya udahlah bahaya tuh, Bapak, Ibu. Hah? Ini enggak ada lampunya nih. Kalau dikasih lampu ada bisa disco nanti di situ. Nah, gini-gini dengan Tuhan tuh. Maka jangan bertuhan kepada huruf Allah. Jangan kita bertuhan kepada lafaz Allah. Siapa yang menyembah lafaz Allah, maka itu adalah suatu kekafiran. Ah, supaya kita tidak jatuh kepada kekafiran, maka wajiblah kita ini tiadakan diri kita ini, tiadakan wujud kita, tiadakan sifat kita. Kalaulah wujud dan diri kita telah tiada, maka nyatalah Allah itu rupanya Allah itu bukan kata-kata. Allah bukan suara, Allah bukan huruf. Allah itu betul-betul wujud dan nyata. Sempurna wujud nyatanya yang disebut namanya insan. Tapi jangan mengaku Tuhan. Belajar ini bukan mengaku. Belajar ini bukan ingin jadi-jadi, tapi belajar ini untuk memahami diri kita. La haula wala quwwata illa billah. Itu barulah kita bisa ingat Allah. Makanya Allah katakan, "Sesungguhnya orang beriman itulah orang yang bisa khusyuk di dalam salatnya." Khusuk itu bukan tahu arti. Khuk itu bukan tahu terjemah. Khusyuk itu ukurannya adalah ingat. Ingat Allah. Apanya Allah yang diingat? Bagaimana cara mengingatnya? Yang diingat itu adalah dirinya. Yang diingat itu dirinya. Bagaimana cara mengingat dirinya? Tiadakan diri. Bagaimana tiadakan diri? Keluar kita dari kesadaran kita. Jangan kita mengaku kita itu ada. Keluar kita dari diri kita. Yang ada hanya diri Allah itu barulah nyata Allah itu senyata-nyatanya pada alam dan sempurna pada diri. Makanya Allah bilang, "Inna rbaka ahat binas." Sesungguhnya rohmu itu, sesungguhnya rohmu, Tuhanmu itu aku ini akhat binas. Aku sudah meliputi akan dirimu, kata Allah. Allah tuh sudah meliputi diri kita. Kalau Allah sudah meliputi diri kita, karena dia cuma yang ada, maka hilang diri kita di situ, Bapak, Ibu. Contoh ini besi, ya. Kalau Bapak Ibu pernah melihat orang pandai besi buat parang, ketika besi itu sudah dibakar, dan dibakar besi itu sepanas-panasnya, maka nampaklah wujud api meliputi wujud besi. Ketika wujud api sudah meliputi wujud besi, maka wujud besi pun hilang. Wujud apilah yang nampak. Kenapa wujud api yang nampak? Karena wujud api yang meliputi wujud besi itu hilang besinya nyata apinya. Cara memandangnya bagaimana? Ah, lihat latih. Latih pandangan zahir lalu tanggapi dengan pandangan basyirah. Pandangan zahir nampak hambanya. Pandangan hati tampak Allahnya. Pandangan zahir nampak sesuatunya. Pandangan hati tanpa Allahnya. Oleh karena itu, pandang Allahnya apa yang dilihat oleh mata dan jangan kita melihat apa yang dipandang oleh mata. Ustaz ulang lagi. Nah, pandang Allahnya apa yang dilihat oleh mata dan jangan kita melihat apa yang dipandang oleh mata. Maksudnya kalau kita melihat apa yang dipandang oleh mata, yang nampak adalah diri. Yang nampak ayah, ibu, suami, anak, cucu, menantu. Yang nampak adalah sesuatu tapi pandang allahnya apa yang dilihat oleh mata. Itu maksudnya apa yang dilihat oleh apa yang dilihat oleh mata itulah sebenarnya nyatanya akan rupa wujud Allah itu. Allah kan laisa, Ustaz. Allah kan lam yakun lahu kufuwan ahad. Allah tidak boleh disamakan. Gak boleh diserupakan. Ingat Bapak Ibu, kalau Allah itu cuma satu-satunya, itu artinya jangan Bapak Ibu sandingkan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada. Bagaimana mungkin Bapak Ibu menyerupakan Allah dengan sesuatu padahal sesuatu enggak pernah ada? Kalau Allah yang ada, lalu siapa sesuatu itu? Kalau Allah yang ada yang wujud, maka sesuatu itu itulah yang dikatakan bentuk lain daripada rupa nyatanya wujud diri Allah itu. Yang kedua, kalau ada orang mengatakan Allah tak boleh disamakan dengan makhluk, makhluk tak pernah jadi Allah, Allah enggak pernah jadi makhluk. Ketika dia mengutarakan itu sebenarnya nih iktikad ke dalam sebenarnya mereka telah memandang ada wujud yang lain selain Allah. Saya ulang lagi agak tinggil sedikit Bapak Ibu ya. Aku pun dah capek aku. Hah. Nah, kalau ada orang mengatakan Allah tak boleh diserupakan dengan sesuatu, berarti di dalam pandangan hati dan pikirannya dia telah memandang, telah ada wujud yang lain selain Allah. Makanya dibuatnya ada Allah dan ada sesuatu. Padahal Allah dan sesuatu itu wujudnya hanya satu saja. Allah saja yang ada. Kalau Allah yang ada, maka jangan disandingkan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada. Kalau tidak ada sesuatu, lalu siapa sesuatu? Siapa alam? Siapa diri kita? Inilah yang disebut namanya makhluk Allah, ciptaan Allah, cermin Allah, nyatanya Allah, tiada lain Allah itu. Jadi turunkan dia ke dalam bahasa syariat. Kita ini selalu tertipu memandang bentuk dan rupa. Ketika kita beli kain, lalu kain kita upahkan ke tukang jahit, oleh tukang jahit dibuatnya sarung. Ketika itu tak terlihat lagi sama kita kain itu. Kenapa? Karena dia sudah berbentuk sarung. Siapa yang tidak mampu memenang kain yang sudah wujud dan nyata pada sarung. Apa namanya itu, Ibu-ibu? Siapa yang tidak mampu melihat kain pada sarung, apa orang tu namanya? Artinya butuh sangek tu. Baik. Tahu butuh sangek? Kopia sudah ditonggokkan di kepala dicari juga kopia tu lagi. Manalah kopia ni. Ah tu sang itu. Nah, dicarinya juga aku lagi kata Allah. Aku sudah nyata nyatanya aku sudah nyata pada dirinya. Siapa yang tidak mampu mengenal dan mencari setan menemui aku yang sudah wujud dan nyata menjadi rahasia dirinya itulah yang buta. Itu yang sebenar-benarnya. Makanya Allah ajak kita ini berpikir. Awal fiusikumirun. Kenapa tidak kamu kenali dirimu? Siapa di ilmu yang sebenar-benar kata Tuhan? Apakah ada aku dan ada kamu? Yang ada tu hanya aku. Kalau ada dua wujud berarti ada dua Tuhan. Kalau ada dua Tuhan maka syiriklah hukumnya. Di situ Allah wujud, kita merasa pula wujud. Kalau Allah wujud dan kita wujud, siapa yang sebenar wujud? Apakah Allah atau kita? Yang wujud sebenar wujud hanya Allah, Bapak, Ibu. Kita gak pernah ada. Ah, di situlah rahasianya ingat Allah itu. Jadi, jangan dibayang-bayangkan Allah, Bapak, Ibu. Bagaimana cara pelaksanaannya? Hmm. Lihat cara pelaksanaannya. Kalau kita sudah paham bahwa yang Allah itu inilah nyata dirinya, dialah yang berdiri tegak betul. Ini berdiri namanya. Yang tegak betul itu hakikatnya hanya dia yang berdiri dengan sendirinya. Pada saat kita dah paham yang berdiri tegak betul hanya dia. Hadap wajah ke tempat sujud. Enggak ada hadap wajah ke situ. Silenkan ap jangan tempat sujud. Hadap dada ke kiblat jangan ke Israel. Mulut membaca surat. Telinga mendengarkan bacaan surat. Akal pikir mengawasi dan mengontrol apa yang dibaca oleh mulut, apa yang didengar oleh telinga, dan apa pula yang diperbuat oleh anggota tubuh mulai dari takbir sampai salam. Sedangkan hati sudah hadir menyaksikan Allah wujud nyata sempurna pada diri. dan perasaan sudah menikmatinya. Di situlah salat itu tidak lagi namanya mengingat-ngingat. Kalau diingat makin jauh Tuhan itu. Kalau dicari-cari makin jauh Allah tuh. Kalau tidak diingat tidak dicari. Bagaimana caranya? Sadari sesadar-sadarnya bahwa yang wujud itu dia, yang melihat itu dia, yang bergerak itu dia, yang itu hanya dia. Dialah. segala-galanya. Ah, itu nikmat. Allahu Akbar. Kalau kita turunkan ke dalam ilmu tarekat, itu yang disebut namanya makam mikraj. Nah, nih kalau di tikot duduknya Bapak, Ibu nih makam salat tuh yang pertama namanya makam kalamullah. Kalamullah. Yang kedua namanya makam mikraj. Yang ketiga namanya makam tawajuh. Yang keempat namanya makam tahmid. Yang kelima namanya makam munajat. Ini mesti paham kita mesti putus kajinya kalau di tarekat nih. Kalau di tarekat masih pakai makam-makam kalamullah. Ah kalamullah itu di mana duduk makamnya? Mulai daripada niat ya, takbiratul ihram sampai salam itu disebut namanya makam kalamullah. Yang berkata itu dia Allahu Akbar. Siapa yang mengatakan Allahu Akbar tuh? Tuh si kalam. Siapa si kalam? Si kalam itu Allah. Allahlah yang mengatakan Akbar. Dialah yang besar itu. Tuh kalamullah tuh. Yang kedua, mikraj. Mikraj itu artinya naik. Apa maksudnya mikraj itu naik? Sebelum kita takbir terpandang diri. Sebelum takbir terpandang imam. Sebelum takbir terpandang kawan kiri kanan. Sebelum takbir terpandang sejadah sebelum takbir. Tapi ketika kita sudah takbir, hilang diri, hilang imam, hilang kawan, hilang sejadah, maka yang nyata hanyalah Allah. Makanya mikraj itu artinya lenyapkan ya sekalian alam dalam pandang hatimu. Maka nyatakanlah Allah yang wujud semata-mata. Itulah artinya naiknya pandangan hati dari memandang alam kepada Allah. itu mikraj itu. Di sinilah ustaz katakan selalu dalam proses tarekiat sebelum Bapak Ibu takbir saksikan Tuhan dahulu. Sebelum Bapak Ibu angkat tangan, lihat Allah lebih dahulu. Ini Allahnya t di mana-mana sudah diangkatnya tangannya. Contoh, Ustaz mau ke sini kemarin Bapak, Ibu mau ke sini masih di jalan baru. Lalu apa kata Bapak Ibu? Asalamualaikum Ustaz. Apa kabar Ustaz? Masuklah ustaz lesat ustaz. Ustaz masih di jalan. Yang kedua, Ustaz benar-benar sudah sampai di sini. Asalamualaikum ustaz. Apa kabar Ustaz? Sehat, Ustaz. Silakan masuk Ustaz. Pertanyaannya dari dua pernyataan ustaz ini, mana yang paling pas, yang paling benar? Bapak, Ibu menyilakan Ustaz masuk. Apa kabar? Sebelum ustaz sampai atau setelah Ustaz sampai terlihat sama Bapak Ibu? Setelah sampai sudah terlihat Ustaz sama Bapak Ibu baru bilang, "Assalamualaikum ustaz. Apa kabar Ustaz?" "Masuklah Ustaz. Sehat ustaz." Kalau ustaz belum sampai di sini masuklah ustaz. Apa kabar ustaz? Tu sewa itu tahu sewai takbir itu saksikan Allah yang sudah wujud sempurna pada diri baru angkat tangan. Allahu Akbar. Ini Tuhannya di langit. Langit ketujuh lagi. Ya Allah sudah ke mana-mana tuhannya. Allah. Wah alun putu le ulang sekali. Allahu Akbar. Al membaca pelo bal ini terjadi Bapak Ibu ketika ustaz ngasih tausiah Ramadan di salah satu masjid Pekanbaru. Jadi ketika takbir terakhir salat witir itu dia baca surah Al-Ikhlas tiga kali. Ketika imam ini baca surah ikhlas tiga kali pas baca Allahuad menangis dia tersedu-sedu nangis ulang lagi. Pas Allahu samad menangis lagi sampai tiga kali. Rupanya di sebelah ustaz nih ada orang tua. Apa kata orang tua? Mangalah pajak aku salat kau. Lah itu artinya mangalah pajak salat. Kenapalah orang ini salatnya seperti ini? Merusak salat semuanya. Jadi cukup aja sekali memahaminya. Begitu juga tangan ini sudah tiga kali angkat-angkatnya. Enggak juga. Akhirnya marah teman semelah. Ngapalah orang ini jadi imam nih gitunya. Ah, jadi mau mau angkat tangan tuh sekali aja putus. Itu mikraj itu nih. Mikraj namanya naiknya pandangan hati. Mikraj itu naik naiknya pandangan hati, pandang rohani dari memandang diri kepada Allah. Setelah makam baru disebut namanya maqam tawajuh. Ah, tawajuh di mana duduknya tuh? Inni wajjahtu wajjahiyah. Ah, ketika baca doa iftitah. Aku hadapkan wajahku kepada wajahnya. Bagaimana Bapak Ibu menghadapkan wajah kepada wajahnya Allah? Untuk menghadapkan wajah ini kepada wajahnya Allah, pandang tiliklah kepada wajah sendiri. Wajah sendiri inilah wujud nyatanya wajahnya Allah itu. Bukankah wajah sendiri? Bukan wajahnya kita. Akan tetapi wajah sendiri inilah wujud nyatanya wajahnya Allah. Melihat wajah Allah lihatlah kepada Muhammad. Muhammad itulah wajahnya Allah. Bukan Nabi Muhammad. Bapak Ibu dengan salah-salah. Melihat wajah Allah, lihat kepada Muhammad. Muhammad itu ini yang disebut insan. Insan itulah diri Bapak Ibu. Diri Bapak Ibu inilah yang disebut namanya wajah Allah. Mana wajah Allah? Dari ujung rambut sampai ujung kaki ini yang wajah Allah. Yang sebatang ini yang wajah Allah. Ah. Kalau ini yang wajah Allah, pada wajah Allah itu masih ada wajah Allah. Ini yang wajah Allah tuh. Tuh. Makanya Allah bilang, "Fa ainama tu fasama wajhullah." Ke mana pun kamu hadapkan wajahmu, ke depan, ke belakang, kiri, kanan, atas, bawah, barat, dan timur. Maka yang terpandang wajahku ni. Yang wajah Allah tuh. Ha, pandang tuh wajah Allah juga nih. Ha, wajah Allah juga nih. Ha, wajah Allah juga yang ni. Wajah Allah juga yang ini. Walaupun ini wajah Allah, ayah, ibu, anak, suami, istiri wajah Allah. Tapi kesempurnaan memandang wajah Allah pandang kepada wajah sendiri. Jangan kepada suami, jangan kepada istri. Walaupun istri dan suami wajah Allah, tapi dalam salat mandang kepada sini. Itu makam tawajuh. Jadi Allah yang memandang, Allah yang menyaksikan akan wujud dirinya sendiri pada dirinya sendiri yang disebut namanya insan. Ah, itu sempurnanya. Baru disebut namanya makam tahmid. Nah, tahmid itu makam memuji. Di mana letak duduknya? Ketika Bapak Ibu baca Al-Fatihah ya, alhamdulillahiabbil alamin. Apa jawaban Allah? Hamidani abdi arrahmanirrahim majani abdi. Terus ke bawah sampai kepada makam munajat. Ha tu tuh intai mengintai, intip-mengintip. Musyahadah namanya Allah dengan Muhammad. Muhammad dengan Allah. Diri yang zahir menyaksikan diri yang batin. Diri yang batin menyaksikan diri yang zahir. Muhammad menyaksikan Allahnya. Allah menyaksikan Muhammadnya pada diri sendiri. Itulah syahadat itu duduknya. Jadi sebelum salat didirikan benai syahadatnya. Syahadat apa artinya Bapak, Ibu? Syahadat artinya sahadat apa? Syahadat itu artinya penyaksian. Kalau menyaksi melihat atau tidak? Kalau menyaksikan melihat atau tidak? Tuh melihat. Kalau orang bersaksi namun dia tidak menyaksikan yang disaksikannya itu sahabat palsu namanya. Sadap palsu. Orang tabrakkan di jalan raya tuh lalu datang polisi pada kita minta jadi saksi. Padahal Bapak Ibu tidak lihat. Maukah Bapak Ibu jadi saksi? Mau atau tidak? Tidak. Tidak. Kalau mau juga maka saksi palsu itu kalau orang bersaksi katanya, "Aku bersaksi tidak ada ilah melainkan Allah." Tapi Allah yang disaksikan yang dia tidak lihat itu bohong itu. Wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Aku bersaksi Muhammad itu adalah utusan Allah. Tapi dia tidak melihat Muhammad itu juga bohong. Kalau dikatakan di situ Muhammad bin Abdullah, Bapak Ibu dengan Rasulullah jauh masanya. Muhammad yang mana yang mesti dilihat? Ah, inilah dudukan syahadat itu yang sebenar-benarnya. Setelah sadar baru salat. Salat tu nomor dua, bukan nomor satu. Salat tuh. Kalau orang azan jangan salat. Harum hukumnya. Salat itu nomor dua. Nomor satu itu syahadat. Jangan pula salah-salah nanti Bapak Ibu orang salat disuruh-suruh. Sudah jelas orang tu salat disuruh-suruh juga lagi. Ah, sama juga bahasa kiasnya orang merokok. Orang merokok tuh, Bapak-bapak, Ibu-ibu, orang merokok kalau mati, matinya dibakar. Tuh, orang merokok kalau mati tentu dibakar. Rokoknya kalau mati dibakar, bukan orangnya itu yang dibakar. Hah, makanya dikatakan oleh ulama, orang merokok itu qoribun minanar, dekat dengan api. Jadi kalau orang tak paham, eh orang merokok dekat dengan neraka. Salah memahaminya. Orang merokok dengan api itu maksudnya kalau enggak dekat dengan api enggak hidup rokoknya. Ustaz tidak menyuruh Bapak Ibu merokok gak pula melarang rokok aja lah sampai muntah darah. Ustaz kena tak merokok. Bapak, Ibu, banyak orang merokok gak ada apa-apa. Karena sesuatu selain Allah tidak akan pernah memberi bekas dia. Itulah kalau ada sesuatu memberi bekas maka itu telah ada dua wujud di situ. Maka ingatlah itu. Man khofa minallahi khoa kin. Barang siapa yang telah takut kepada Allah, diserahkannya dirinya kepada Allah, Allah yang ujud maka seluruh alam ini tunduk dan patuh kepada dirinya. Ah, ini orang yang duduk pada makam Tuhan itu. Ini duduk pada makam Tuhan katanya. Mau salat tahajud lari kucing di atap loteng kita mengejar tikus. Enggak jadi salat tahajud. Pipis-pipis pun gak mau jadinya. Ah, itu mesti dipahami orang yang bersama Allah tuh. Ah, ini Bapak Ibu duduknya. Jadi kalau kita sudah sempurna makrifat kita kepada Allah, insyaallah salat kita nyaman, nikmat salatnya. Maka kenali Allah lebih dahulu. Jangan Bapak Ibu takut mengenal Tuhan. Ilmu mengenal Tuhan tuh ilmu yang tinggi. Itu para wali. Bapak, Ibu sudah lama jadi wali. Wali murid. Kalau kita tidak mengenal Allah, enggak sah salat kita. Kalau kita tidak mengenal Allah, batal salat kita. Maka wajib kita mengenal Allah. Sebelum Allah memerintahkan salat, Allah lebih dahulu memperkenalkan dirinya. Innani anallah. Setelah kamu kenal aku kata Allah baru budni waakimikri. Ah itu sambungan ayatnya. Kalau kamu sudah kenal aku maka beribadahlah kamu untuk aku. Hakikat ibadah itu li'rifani mengenal aku. Nih penutup Bapak Ibu. penutup hakikat ibadah lirifani untuk mengenal aku. Mengenal makrifat. Hakikat makrifat itu adalah liqa berjumpa hakikat liqa itu musyahadah. Menyaksikan hakikat musyahadah itu muwajahah, bertatap wajah. Hakikat muwajahah itu adalah fana. Hakikat fana itu adalah baqa. Maka di situlah salat itu nyaman dan nikmat. Gak ada lagi membayang-bayangkan, gak ada menyembah-nyembah. Karena yang menyembah dengan yang disembah satu juga orangnya di situ. Hanya dia semata-mata. Dialah yang menjalankan akan takdir diri sendiri. Allahu Akbar. Jangan dibayangkan juga lagi. Makin dibayangkan, makin jauh. Makanya Nabi katakan, sayati zaman ala umatiusuna wun. Akan datang suatu zaman kepada umatku nanti di mana umatku banyak mendirikan ibadah salat. Tapi salat yang didirikan itu belumlah disebut namanya orang yang mendirikan salat. Tapi itu hanya sebatas mengerjakan perbuatan salat. Perbuatan salat itu berdiri, rukuk, iktidal, sujud, dan duduk. Tapi dia belum mengerjakan salat. Yang salat itu ingat akan Allah. Ingat yang berdiri itu siapa. Ingat yang ruku itu siapa. Ingat yang sujud itu siapa? Ingat yang duduk tu siapa? Ingat yang berkata itu siapa? Ingat yang melihat dan mendengar itu siapa? Itu aku. Kata Allah. Di situ nikmatnya salat itu. Jadi wajib belajar ilmu makrifat. Jangan Bapak Ibu takut belajar ilmu makrifat. Cari gurunya, cari pembimbingnya. Kalau guru dan pembimbingnya sudah melihat dan menyaksikan Allah, insyaallah jemaahnya pasti melihat dan menyaksikan Allah. Tapi kalau gurunya belum menyaksikan Tuhannya, gurunya belum berjumpa dengan Rabbnya, dipastikan jemaahnya juga haram noji bisa bertemu dan bersua dengan Allah. Tahu haram noji? Naji itu haram. Kalau gurunya tidak mengenal Allah, gurunya belum menyaksikan Allah, maka jemaahnya tidak akan pernah bisa mengenal Allah. Bagaimana jemaahnya bisa mengenal Allah? Gurunya saja belum kenal Allah. Bagaimana jemahnya bisa melihat Allah? Gurunya saja belum menyaksikan Allah. Tapi kalau gurunya sudah menyaksikan Allah, insyaallah jemaahnya akan mampu melihat dan menyaksikan Allah. Maka carilah guru yang mursyid. Guru yang mursyid itulah yang akan membimbing kita untuk bisa wusul kepada Allah. Karena dia adalah wa warisatul anbiya. Dia adalah pewaris nabi. Itu yang mesti dipahami ya. Ah, kalau kita sudah paham Bapak Ibu, insyaallah nyaman Bapak Ibu. Mungkin ini saja Bapak Ibu ya. Aku udah capek aku nih. Hah. Mudah-mudahan dengan capeknya Ustaz Bapak Ibu bisa paham. Insyaallah ustaz semangat lagi Bapak Ibu. Halo. Billahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amin.