📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

SEMUA UNTUK KEMULIAAN ALLAH | Diskusi Pelajaran Sekolah Sabat

Kornelius Media59:19

Transcription

[musik] [musik] Shalom, salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus. Kita bertemu kembali dalam program pendalaman Alkitab melalui pelajaran sekolah Sabat bersama dengan kami Cornelius Media. Kita sudah tiba di pelajaran yang kelima dengan tema Semua untuk kemuliaan Allah. Kami tetap mengingatkan mari mempelajari pelajaran sekolah Sabat di tempat kita masing-masing. Saya Pendeta Edward Taliwongso bersama dengan Pendeta Felix Gosal dan Pendeta Widodo Purwanto akan sama-sama menolong dalam pendalaman Alkitab pada kesempatan ini. Sebelum kita masuk lebih dalam, mari kita tunduk kepala dan kita berdoa. Bapa Tuhan kami, Allah yang maha baik, kami rindu untuk belajar dari firman-Mu. Tolonglah kami dan bantulah kami oleh pertolongan kuasa Roh Kudus-Mu untuk membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Di dalam nama Yesus kami sudah berdoa. Amin.

Seperti biasa, ada empat bagian dalam program ini. Yang pertama kita melihat dasar alkitabiah. Yang kedua, kita mencoba menggali makna dari ayat hafalan. Yang ketiga, pokok pikiran yang muncul dari pelajaran hari per hari. Dan di bagian akhir kita masuk kepada aplikasi.

Mari kita lihat dasar Alkitabiah pelajaran sepanjang pekan ini. 1 Korintus pasal 8. Paulus membahas makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Berhala tidak memiliki kuasa karena hanya ada satu Allah yang benar. Orang percaya memiliki kebebasan, tetapi kebebasan itu harus dibatasi oleh kasih agar tidak menjadi batu sandungan bagi saudara yang imannya masih lemah. Kisah Para Rasul 15 ayat 20. Konsili Yerusalem memutuskan bahwa orang percaya dari bangsa-bangsa lain harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, percabulan, daging binatang yang mati tercekik, dan juga darah. Ini demi menjaga kekudusan serta kesatuan jemaat. 1 Korintus 9 ayat 1 sampai 6. Paulus menegaskan haknya sebagai rasul termasuk hak menerima dukungan materi untuk pelayanannya. Namun ia rela melepaskan hak-hak tersebut agar tidak menghalangi pemberitaan Injil. 1 Korintus 10 ayat 5 sampai 22. Paulus mengingatkan bahwa Israel jatuh karena penyembahan berhala dan juga dosa-dosa lainnya. Pengalaman mereka menjadi peringatan bagi orang percaya agar menjauhi penyembahan berhala. Ulangan 6 ayat 4 sampai 5. Pengakuan iman Israel atau shema. Tuhan adalah satu-satunya Allah. Umat dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Markus 12 ayat 28 sampai 31. Yesus menyatakan bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, dan juga kekuatan. Sesudah itu mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Sekarang mari kita lihat pengertian judul semua untuk kemuliaan Allah. Apa yang dimaksud kemuliaan Allah? Nah, dalam konteks pelajaran kita pekan ini, kemuliaan Allah bukanlah sekedar konsep teologis yang abstrak, melainkan adalah tujuan utama dan pusat dari setiap aspek kehidupan orang percaya. Kemuliaan Allah itu dimaknai secara praktis sebagai sikap hidup yang mengakui kedaulatan dan pemerintahan Allah atas segala sesuatu. Di mana setiap tindakan kecil sekecil apapun makan minum kalau dilakukan dengan niat, keputusan dan pola pikir yang harus berpusat pada membawa kemuliaan bagi nama Allah.

Dalam cara apa kemuliaan Allah itu dinyatakan? Kemuliaan Allah itu dinyatakan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya dalam setiap keputusan setiap hari. Yang kedua, ketika kita mencerminkan Kristus, bertindak dengan cara yang mencerminkan karakter Kristus, itu cara kita membawa kemuliaan bagi nama Tuhan. Yang ketiga, kalau kita mengutamakan kasih di atas kebebasan pribadi. Artinya apa? tidak menggunakan hak atau kebebasan sendiri kalau hal tersebut dapat merugikan atau menjadi batu sandungan bagi orang lain. Dan yang keempat, kalau kita memelihara kesetiaan yang eksklusif hanya kepada Allah, artinya menjauhkan diri dari segala bentuk penyembahan berhala dan menjaga kemurnian moral serta rohani.

Mengapa kemuliaan Allah itu perlu dinyatakan kepada dunia ini? Ada beberapa alasan mengapa kemuliaan Allah itu diperlukan di dunia ini. Yang pertama untuk alasan misi keselamatan. Misi hidup orang percaya adalah mengejar keselamatan orang lain. Dengan memuliakan Allah maka kehidupan orang percaya menjadi sarana yang menunjuk orang lain kepada Kristus. Alasan yang kedua, memuliakan Allah itu adalah bentuk penyembahan yang benar. Menyatakan kemuliaan Allah itu adalah cara untuk menolak penyembahan berhala dan mengakui bahwa hanya ada satu Allah yang benar yang layak disembah. Yang ketiga, membawa kemuliaan Allah itu artinya membangun sesama manusia. Tujuannya adalah untuk mendorong dan membangun orang lain, bukan mengecewakan atau menjatuhkan mereka. Sehubungan dengan hal ini, Ellen White dalam Testimonies for the Church volume 6 halaman 439 mengatakan, "Pekerjaan terbesar yang dapat dilakukan di dunia kita adalah memuliakan Allah dengan menghidupkan karakter Kristus."

Hal-hal apa saja yang dapat menghalangi kemuliaan Allah dinyatakan kepada dunia ini, Saudaraku, ada beberapa hal yang dapat menjadi penghalang. Yang pertama adalah penyembahan berhala atau idolatri dalam bentuk apapun. Karena ini adalah bentuk ketidaksetiaan kita kepada Allah, penolakan kepada pemerintahannya dan secara tidak langsung menciptakan persekutuan dengan kuasa kegelapan atau roh jahat. Yang kedua yang dapat menghalangi kemuliaan Allah adalah egoisme dan berpegang pada hak-hak pribadi, bersih keras pada kebebasan, perspektif atau hak pribadi tanpa mempedulikan dampaknya bagi orang lain. Dengan kata lain, tidak mengasihi. Yang ketiga, apabila kita menjadi batu sandungan, tindakan kita yang membuat orang percaya yang lain itu menjadi lemah, imannya tersandung dan jatuh. Lalu yang keempat, apabila loyalitas kita atau kesetiaan kita terbagi, mencoba melayani Tuhan dan mamon atau nilai-nilai dunia secara bersamaan seperti minum dari cawan Tuhan dan cawan roh jahat, kata Rasul Paulus di 1 Korintus 10 ayat 21. Lalu yang kelima, penyimpangan moral dan rohani. Percabulan dan penyembahan berhala seringkali terkait dan membuka pintu bagi penyimpangan moral lainnya. Ellen White dalam buku Maranata halaman 109 mengomentari tentang dosa mementingkan diri. Dia katakan dosa yang paling banyak dilakukan yang memisahkan kita dari Tuhan dan menimbulkan begitu banyak gangguan rohani yang menular adalah sikap mementingkan diri sendiri. Tidak ada jalan untuk kembali kepada Tuhan kecuali melalui penyangkalan diri. Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Namun melalui kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita, kita dapat hidup untuk berbuat baik kepada sesama dan dengan cara ini menjauhi kejahatan sikap mementingkan diri sendiri.

Baik, terima kasih pendeta. Kita tiba pada ayat hafalan 1 Korintus 10 ayat 31. "Karena itu jika engkau makan atau jika engkau minum atau apapun juga yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah."

Mari kita lihat apa konteks dan latar belakang ayat ini. Nah, ayat ini adalah puncak dari pembahasan Paulus tentang makanan yang dipersembahkan kepada berhala. Di Korintus, sebagian besar daging yang dijual di pasar sudah lebih dahulu dipersembahkan di kuil berhala. Muncullah pertanyaan yang membingungkan jemaat, bolehkah orang Kristen memakan daging ini? Nah, kemudian ada dua kelompok yang ada di dalam jemaat. Kelompok yang dilabel Paulus sebagai kelompok yang kuat dan kelompok yang lemah. Nah, kelompok yang kuat ini adalah kelompok yang tahu bahwa berhala itu bukan apa-apa. 1 Korintus 8 ayat 4 sampai 8. Jadi, mereka merasa bebas untuk makan. Sementara kelompok yang kedua yaitu kelompok yang lemah adalah mereka yang bekas penyembah berhala yang hati nuraninya masih terkait. Sehingga bagi mereka kalau makan daging itu, itu terasa seperti kembali kepada penyembahan berhala. Nah, di dalam konteks ini Paulus setuju secara prinsip bahwa berhala itu tidak berkuasa. Tetapi di sini Paulus juga memperingatkan bahwa pengetahuan mereka yang kuat tidak boleh merusak saudara-saudara yang lemah. Nah, oleh karena itu ada inti masalah yang sementara diungkapkan Paulus ini yaitu soal prinsip. Prinsip Paulus bahwa segala sesuatu diperbolehkan tetapi semuanya tidak berguna. Semuanya bukan semuanya juga membangun. 1 Korintus 10 ayat 23. Oleh karena itu, pertanyaan di sini yang benar bukan apa saja yang bisa saya buat, melainkan apa yang bisa saya buat yang dapat membangun orang lain dan memuliakan Allah. Dan ayat 31 ini adalah jawaban penutup atas seluruh perdebatan itu. Apapun pilihan Anda, makan atau tidak makan, minum atau tidak minum, ujilah dengan satu pertanyaan. Apakah ini memuliakan Allah dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain?

Nah, mari kita lihat apa pengertian jika makan, jika minum dalam ayat ini dan apa pengertian lakukan semua untuk kemuliaan Allah. Nah, mari kita lihat jika makan atau jika minum ini dapat dipahami dalam tiga hal. Yang pertama ini secara langsung merujuk pada perdebatan nyata yang ada di Korintus yaitu tentang daging berhala dan juga minum yang sudah dipersembahkan. Lalu [mendengus] kemudian yang kedua, di sini Paulus sengaja memilih contoh yang paling sederhana dan rutin dengan menyebut makan dan minum. Di sini Paulus menegaskan bahwa tidak ada bagian hidup yang terlalu kecil atau netral untuk memuliakan Allah. Setiap tindakan kita, setiap tindakan jasmani sekalipun memiliki dimensi rohani. Kemudian yang ketiga ini justru menyangkut penguasaan diri atau selera. Bukan hanya apa yang kita makan, tetapi juga bagaimana dan mengapa kita makan dan minum itu harus tunduk kepada Allah, bukan tunduk kepada keinginan sendiri.

Nah, kemudian frase yang kedua adalah lakukan semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Nah, ada tiga hal di sini yang perlu kita ee perhatikan. Yang pertama, memuliakan Allah itu berarti menjadikan Allah bukan diri sendiri sebagai pusat dan tujuan setiap tindakan kita. Hidup kita ini harus memancarkan karakter dan kebaikan Tuhan, bukan mengejar kesenangan atau pujian orang lain. Kemudian yang kedua, prinsip ini juga mencakup keseluruhan hidup kita. Frasa "atau apapun juga yang kamu lakukan" ini menunjukkan bahwa memuliakan Allah bukan hanya untuk bukan hanya untuk di dalam gereja, di dalam ibadah, tetapi juga meliputi semua aspek kehidupan kita itu meliputi pekerjaan kita, makanan kita, istirahat kita, dan segala sesuatu. Kemudian yang ketiga, di dalam konteks ini memuliakan Allah itu berjalan seiring dengan mengasihi sesama. Ayat berikutnya mengatakan, "Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang." Ayat 32. Jadi kita memuliakan Allah justru ketika kita rela menahan hak kita demi tidak menjadi batu sandungan bagi saudara yang lemah. Di dalam Testimonies for the Church volume 3 halaman 84. Di sana Ellen White mengatakan di sini terletak sebuah prinsip yang menjadi dasar dari setiap perbuatan, pikiran, dan motif yaitu penyerahan seluruh keberadaan kita, baik jasmani maupun mental kepada kendali Roh Allah.

Sekarang kita masuk pada pokok pembahasan pengetahuan versus kasih. Sesuai dengan konteks pelajaran hari Minggu yaitu 1 Korintus pasal 8. Apa latar belakang dari topik pengetahuan versus kasih ini? Apa itu pengetahuan dan apa itu kasih? Serta apa yang dimaksud dengan pengetahuan versus kasih? Pada zaman Paulus, hampir semua kota Yunani Romawi dipenuhi dengan kuil-kuil berhala di mana hewan-hewan dipersembahkan di dalam praktik keagamaan mereka kepada dewa-dewa. Dan menurut Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 719, hewan-hewan yang dipersembahkan kepada dewa-dewa itu biasanya dibagi menjadi tiga bagian. Sebagian dibakar di atas mezbah sebagai persembahan. Sebagian lagi diberikan kepada imam-imam yang melayani di kuil-kuil tersebut. Dan sebagian lagi dijual di pasar untuk disajikan dalam pesta-pesta yang diadakan di kompleks kuil-kuil. Itulah sebabnya hampir mustahil membeli daging tanpa kemungkinan bahwa daging itu pernah dipersembahkan kepada berhala.

Akhirnya di sana di Korintus muncul dua kelompok. Kelompok pertama mereka merasa memiliki pengetahuan bahwa berhala bukanlah apa-apa sehingga mereka bebas memakan makanan tersebut. Menurut 1 Korintus 8 ayat 4, mereka inilah yang kemudian disebut sebagai orang-orang kuat. Kelompok kedua adalah orang-orang yang baru bertobat dari penyembahan berhala. Hati nurani mereka masih lemah. Sehingga mereka ketika melihat saudara seiman memakan makanan persembahan berhala, mereka menganggap penyembahan berhala masih dapat dipadukan dengan kekristenan. Menurut 1 Korintus 8 ayat 7 sampai 12. Nah, dari latar belakang inilah topik pengetahuan versus kasih diangkat.

Sekarang kata Yunani yang dipakai untuk pengetahuan adalah gnosis yang berarti pengetahuan, pengertian atau pemahaman terhadap suatu fakta. Dalam konteks 1 Korintus 8, pengetahuan yang dimaksud merujuk pada pengetahuan teologis, yaitu bahwa mereka mengetahui bahwa Allah itu hanya satu dan segala berhala pada hakikatnya tidak memiliki keberadaan yang nyata. Dan oleh karena itu makanan tersebut sebenarnya hanyalah makanan biasa. Jadi secara doktrin mereka benar dan Paulus mengakui akan hal itu. Paulus tidak pernah mengatakan bahwa pengetahuan itu salah. Namun yang ditekankannya adalah cara menggunakan pengetahuan tersebut.

Sementara kasih, kata Yunani yang digunakan di sana adalah agape. Agape menurut Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 719 adalah kasih yang tidak berdasar pada ketertarikan sensual atau biologis, melainkan didasarkan pada prinsip kasih Allah terhadap manusia, di mana Kristus rela mati untuk menebus orang yang berdosa. Kasih ini dimanifestasikan melalui sikap rela berkorban, mencari kebaikan orang lain, dan mendahulukan keselamatan sesama di atas kepentingan pribadi. Kasih seperti ini bukan sekedar perasaan, namun prinsip hidup mengikuti teladan Kristus.

Nah, dalam konteks adanya dua kelompok yang kuat, berpengetahuan dan kelompok yang lemah di jemaat Korintus, Paulus katakan dalam 1 Korintus 8 ayat 1 bagian B, "Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong tetapi kasih membangun." Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 719 kembali katakan pengetahuan saja tidak cukup sebagai landasan bagi tindakan Kristen. Jika hati tidak memiliki hubungan yang benar dengan Allah, ilmu dan pengetahuan saja akan mengisi hati seseorang dengan kesombongan dan membesarkan dirinya dengan keyakinan yang sia-sia akan kemampuannya sendiri. Hal itu sering menjauhkannya dari agama yang sejati dan membingungkan pikirannya. Jadi Paulus bukan sedang membahas pengetahuan dan kasih sebagai dua konsep yang bertentangan, melainkan menunjukkan bahwa pengetahuan harus dikendalikan dan dilandasi oleh kasih.

Nah, apa masalah yang terjadi di Korintus sehubungan dengan hal ini dan apa solusi yang ditawarkan? Masalah sebenarnya bukanlah makanan yang dipersembahkan kepada berhala, tetapi sikap hati dari orang-orang Kristen yang ada di jemaat Korintus. Pengetahuan yang dimiliki kelompok pertama yang merasa kuat dan berpengetahuan telah melahirkan rasa superior. Mereka merasa benar sehingga mengabaikan dampak tindakannya terhadap saudara yang lebih lemah. Ironisnya lagi menurut Paulus, mereka yang merasa tahu segalanya justru sebenarnya belum memahami inti dari Injil. Paulus katakan dalam 1 Korintus 8 ayat yang kedua, "Jika ada seorang menyangka bahwa ia mempunyai suatu pengetahuan, maka ia belum juga mencapai pengetahuan sebagaimana yang harus dicapainya." Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 719 sampai 720. Paulus mengecam kesombongan atas pencapaian intelektual seseorang yang berujung pada penghinaan dan pengabaian terhadap kepentingan orang lain yang kurang berpengetahuan. Orang yang benar-benar berpengetahuan itu rendah hati, sederhana, dan penuh perhatian terhadap orang lain. Ia tidak sombong dan tidak mengabaikan kebahagiaan orang lain. Jika seseorang tidak menggunakan pengetahuannya untuk berkontribusi pada kebahagiaan atau kesejahteraan orang lain, hal itu membuktikan bahwa ia tidak menyadari salah satu tujuan mendasar dari pengetahuan yaitu menjadi manfaat bagi umat manusia secara umum.

Nah, solusi dari problema yang dimaksud adalah kasih. Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 719 kembali mengatakan, "Penyelesaian masalah mengenai daging yang dipersembahkan kepada berhala tidak boleh didasarkan pada pengetahuan abstrak semata, melainkan pada tuntutan kasih sejati terhadap sesama." Fokus utamanya adalah mempertimbangkan apa yang paling berkontribusi bagi kedamaian, kesucian, kebahagiaan, dan keselamatan sesama manusia. Kasih inilah yang menjadi solusi atau jalan keluar bagi setiap masalah doktrinal, moral, dan juga sosial. Kemudian Acts of the Apostles halaman 551 menyimpulkan bahwa pengetahuan akan kebenaran tidak akan pernah menghasilkan buah yang benar kecuali disertai roh kasih yang berasal dari Kristus.

Nah, apa prinsip dan nasihat praktis Paulus serta apa pelajarannya bagi kita? Paulus katakan dalam 1 Korintus 8 ayat 9, "Jagalah supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah." Kata batu sandungan berasal dari kata Yunani proskomma, yaitu sesuatu yang menyebabkan seseorang tersandung lalu terjatuh. Artinya, seseorang mungkin benar secara doktrin tetapi salah dalam cara menggunakan kebebasannya. Menjadi batu sandungan sehingga orang lain binasa. Menurut ayat yang ke-11 dan 12 sama dengan berdosa terhadap saudara-saudara seiman, dan pada hakikatnya berdosa terhadap Kristus. Paulus [mendengus] mencontohkan penekanan untuk tidak menjadi batu sandungan dengan berkata di ayat yang ke-13, "Sebab itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan makan daging lagi." Andrews Bible Commentary halaman 1631 sampai 1633 menyimpulkan bahwa kasih kepada saudara lebih penting daripada mempertahankan hak pribadi. Kebebasan Kristen tidak pernah boleh dipakai dengan mengorbankan pertumbuhan rohani orang lain. Kemudian Acts of the Apostles halaman 550. Kasih Kristus di dalam hati adalah kekuatan yang menggerakkan yang menuntun manusia untuk memperlihatkannya dalam percakapan, dalam roh yang lembut dan penuh belas kasihan serta dalam upaya mengangkat kehidupan orang-orang yang bergaul dengan mereka.

Nah, ukuran kedewasaan rohani bukanlah seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki, melainkan seberapa besar kasih yang kita tunjukkan. Kita bisa memenangkan perdebatan Alkitab, tetapi kehilangan jiwa yang begitu berharga bagi Kristus. Desire of Ages halaman 550. Kristus memanggil manusia untuk melayani. Orang-orang yang kuat dipanggil untuk menanggung kekurangan orang-orang yang lemah.

Baik, terima kasih pendeta. Berikutnya kita melihat tema kasih yang tidak mementingkan diri. Hak-hak apa saja yang sebenarnya dimiliki Paulus sebagai seorang rasul, tetapi rela ia lepaskan demi kemajuan Injil. Lalu mengapa dia melakukan hal itu? Nah, Paulus menjelaskan bahwa sebagai rasul, ia memiliki beberapa hak yang sah menurut firman Tuhan. Yang pertama, hak menerima dukungan materi dari jemaat yang dilayaninya. 1 Korintus 9 ayat 4 dan 7 sampai 14. Tuhan menetapkan bahwa mereka yang memberitakan Injil berhak hidup dari Injil. Yang kedua adalah hak membawa seorang istri yang beriman dalam perjalanan pelayanan dengan dukungan jemaat. Tentu saja 1 Korintus 9 ayat 5. Tetapi Paulus memilih tetap hidup tidak menikah agar lebih leluasa untuk melayani. 1 Korintus 7 ayatnya yang ke-8. Dan yang ketiga adalah hak untuk tidak bekerja mencari nafkah karena pelayanan yang penuh waktu. 1 Korintus 9 ayat 6. Tetapi Paulus memilih bekerja sebagai pembuat kemah menurut Kisah 18 ayat 3. Walaupun hak-hak tersebut itu sah secara Alkitab, Paulus tidak menggunakannya karena ia tidak ingin menimbulkan batu sandungan atau memberi kesan bahwa ia memberitakan Injil demi keuntungan pribadi.

Apa yang diajarkan 1 Korintus 9 tentang hubungan antara kasih Kristen, kebebasan, dan pengorbanan diri. Nah, pelajaran ini menunjukkan bahwa kasih Kristen tidak berpusat pada hak pribadi, melainkan pada kepentingan kerajaan Allah dan keselamatan orang lain. Ada beberapa prinsip teologis penting. Yang pertama, kasih itu membatasi penggunaan hak pribadi. Paulus tidak mengatakan bahwa hak itu salah. Sebaliknya, kasih membuat seseorang rela tidak menggunakan hak yang sah. Jika menggunakan hak tersebut dapat menghalangi orang itu menerima Injil, "kami tidak menggunakan hak ini supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi Injil Kristus," kata Paulus di 1 Korintus 9 ayat 12. Yang kedua, kebebasan Kristen dipakai untuk melayani, bukan untuk memuaskan diri. Di dalam Kristus kita ini sudah bebas, tetapi kebebasan itu dipakai untuk menjadi hamba bagi orang lain. 1 Korintus 9 ayat 19 dan Galatia 5 ayat 13. Jadi kebebasan yang sejati menghasilkan pelayanan, bukan egoisme. Yang ketiga, Paulus sedang meneladani Kristus. Pola hidup Paulus ini sebenarnya mengikuti teladan Yesus. Oleh karena Kristus memiliki segala hak sebagai Allah, tetapi dia rela mengosongkan dirinya demi keselamatan manusia. Jadi kasih bukan terutama mempertanyakan apa hak saya, tetapi apa yang paling memuliakan Kristus dan menyelamatkan orang lain.

Hak atau kebebasan apa yang mungkin perlu kita lepaskan pada zaman sekarang ini supaya kita memiliki kesaksian bagi Kristus dan kesaksian kita lebih efektif. Tentu saja jawaban dapat bervariasi, tetapi prinsip Alkitab tetap sama. Mungkin ada beberapa contoh penerapan prinsip ini. Yang pertama, kalau kita mengorbankan waktu pribadi kita untuk melayani orang lain. Yang kedua, kalau kita tidak memaksakan pendapat kita meskipun kita merasa benar demi supaya kita menjaga kesatuan di gereja. Yang ketiga, kita menghindari kebiasaan yang secara Alkitab mungkin tidak secara eksplisit dilarang, tetapi dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ini menurut Roma 14 ayat 13 sampai 21. Yang keempat, kita bersedia melepaskan kenyamanan hidup, reputasi atau keuntungan finansial demi mempertahankan integritas sebagai murid Kristus. Dan yang terakhir, kita menggunakan hak dengan penuh hikmat sehingga Injil itu tidak dipermalukan. Penerapan ini bukanlah usaha untuk memperoleh keselamatan, tetapi ini adalah respons kasih kita kepada Kristus yang sudah lebih dahulu mengasihi kita. Ellen White dalam Testimonies for the Church jilid 2 halaman 132 dan 133 mengatakan tentang prinsip penyangkalan diri sendiri. Dia katakan, "Di surga tak seorang pun akan memikirkan hak dirinya sendiri atau menggejar kesenangan pribadi, melainkan semua orang atas dasar kasih yang murni dan tulus akan mengupayakan kebahagiaan makhluk-makhluk surgawi di sekitar mereka." Jika kita ingin menikmati persekutuan surgawi di bumi yang telah diperbaharui, kita harus hidup sesuai dengan prinsip-prinsip surgawi di sini sekarang ini.

Baik, terima kasih pendeta. Kita lanjut pada pokok diskusi mengenai belajar dari masa lalu. Nah, kita melihat bahwa Israel telah menyaksikan mukjizat secara langsung. Baik itu tiang awan, laut merah yang terbelah, mana yang turun dari langit, dan juga air yang keluar dari batu. Bahkan mereka juga mendengar suara Tuhan di Gunung Sinai. Nah, muncul pertanyaan, mengapa pengalaman-pengalaman ini di mana mereka dapat menyaksikan Tuhan secara langsung tidak membuat mereka menjadi orang-orang yang baik? Justru kadang-kadang membuat mereka menjadi orang yang berdosa dan bersungut-sungut. Mengapa pengalaman langsung dengan Tuhan ini tidak membuat Israel untuk tidak berbuat berdosa? Nah, hal ini dapat kita mengerti dalam empat hal. Yang pertama, alasan yang pertama, karena iman sejati bukan sekedar melihat bukti, melainkan sikap hati yang mempercayai Allah. Israel melihat mukjizat dengan mata mereka, tetapi hati mereka tetap merupakan hati yang jahat dan tidak percaya. Ibrani 3 ayat 12. Melihat tidak sama dengan percaya. Seseorang bisa menyaksikan kuasa Allah, namun tetap tidak menyerahkan hatinya kepada Allah. Kemudian yang kedua, karena mukjizat bisa hanya menyentuh perasaan sesaat, tetapi tidak mengubah karakter. [mendengus] Kesan dari mukjizat itu cepat memudar. Setiap kali kesulitan baru datang, Israel lupa mukjizat kemarin. Mukjizat yang baru terjadi bahkan kembali bersungut-sungut. Dan itu bisa terlihat pada peristiwa di laut merah, di air pahit Mara dan juga soal mana. Pengalaman lahiriah yang hebat tidak dapat menggantikan hati yang benar-benar diserahkan kepada Allah. Yang ketiga, karena Allah memberi cukup bukti untuk percaya, tetapi tidak memaksa kehendak manusia. Manusia [mendengus] diciptakan dengan kebebasan memilih. Bukti tidak dapat memaksa hati untuk taat. Mukjizat tidak dapat memaksa hati untuk taat. Israel memilih menuruti keinginan daging dan ketidakpuasan bukan tunduk kepada Allah. Dan yang keempat, karena akar masalahnya adalah ketidakpuasan dan ketidakpercayaan hati. Israel bersungut-sungut rindu kembali ke Mesir dan juga menginginkan Allah yang mereka lihat yang kelihatan lembu emas. Inilah pelajaran yang penting bagi kita. Sekalipun kita pernah mengalami hal-hal rohani yang luar biasa, yang spektakuler, itu tidak menjamin kesetiaan bila hati kita tidak terus-menerus diperbaharui oleh Roh Kudus. Ellen White di dalam Patriarchs and Prophets halaman 293 mengatakan, "Banyak orang menengok kepada bangsa Israel dan heran akan ketidakpercayaan serta persungutan mereka dengan merasa bahwa mereka sendiri tidak mungkin sedemikian tidak tahu berterima kasih. Tetapi ketika iman mereka diuji, bahkan oleh pencobaan-pencobaan kecil, mereka tidak menunjukkan iman atau kesabaran yang lebih daripada Israel purba."

Selanjutnya, apa makna "Siapa yang menyangka ia teguh berdiri? Hati-hatilah supaya ia jangan jatuh." Nah, bukankah Alkitab mengajarkan kita harus teguh berdiri? Nah, Saudara-saudara, sekilas kelihatannya dua ide ini bertentangan, tetapi sebenarnya kedua pernyataan ini sejalan. Ada beberapa hal yang perlu kita mengerti. Yang pertama, kedua ajaran ini berbicara tentang hal yang berbeda bukan bertentangan. Berdiri teguh dalam Efesus pasal 6 dan 1 Korintus pasal 16 ini adalah perintah tentang di mana kita meletakkan keyakinan kita yaitu di dalam Kristus dan kekuatannya. Sedangkan perkataan "Siapa yang menyangka ia teguh berdiri? Hati-hatilah supaya jangan jatuh." Ini adalah peringatan terhadap keyakinan yang salah yaitu bersandar pada diri sendiri. Kemudian yang kedua, kunci ayat ini adalah pada kata "yang menyangka ia teguh berdiri." Jadi yang berbahaya di sini bukanlah berdiri teguh, melainkan merasa kalau sudah teguh dengan kekuatan sendiri. Dan inilah kesombongan rohani dan juga sikap merasa aman. Israel jatuh justru karena percaya diri sendiri dan artinya mereka lengah. Kemudian yang ketiga, kedua pernyataan ini adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama. Kita berdiri teguh dengan cara bergantung penuh kepada Kristus dan kita harus berhati-hati dengan cara kita tidak pernah mempercayai diri kita sendiri. Berdiri teguh dengan kerendahan hati dan bergantung kepada Allah ditambah dengan kewaspadaan yang terus untuk berjaga. Maka kita akan dipelihara oleh kuasa Allah karena iman. 1 Petrus 1 ayat 5. [mendengus] Dan ini akan menjadikan kita orang yang berkuasa bukan oleh kekuatan kita sendiri. Kemudian yang keempat saat kita merasa paling aman dan bangga di situlah bahaya terbesar. Dalam Matius pasal 26 ayat 41, Yesus berkata, "Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Kerendahan hati dan doa yang tekun adalah kekuatan kita." The Acts of the Apostles halaman 315 sampai 316 mengatakan, "Seandainya mereka menjadi sombong dan percaya diri serta lalai untuk berjaga-jaga dan berdoa, mereka akan jatuh ke dalam dosa yang besar." Namun demikian, Paulus tidak menghendaki mereka menyerah kepada keputusasaan atau kekecewaan.

Terima kasih, Pendeta. Sekarang kita tiba pada pokok pembahasan peringatan terhadap penyembahan berhala. Dalam konteks pelajaran sekolah Sabat, apa yang dimaksud dengan penyembahan berhala dan mengapa Paulus memberikan peringatan keras terhadapnya? Kata Yunani yang dipakai untuk penyembahan berhala di sini adalah eidōlatreía. Berasal dari dua kata, yaitu eidōlon yang artinya berhala, gambaran atau sesuatu yang dijadikan ilah, serta latreía yang artinya ibadah atau penyembahan. Keduanya adalah bahasa Yunani. Menurut Zondervan Dictionary of Bible Themes, penyembahan berhala adalah segala bentuk penyembahan atau pemujaan terhadap siapapun atau apapun selain Tuhan Allah. Penyembahan berhala mencakup penyembahan terhadap dewa-dewa lain seperti dewa-dewa bangsa-bangsa di sekitar Israel, patung-patung, gambar atau berhala lainnya, serta ciptaan itu sendiri.

Paulus memberikan peringatan keras karena di balik penyembahan berhala terdapat kuasa rohani yang menentang Allah. Dalam 1 Korintus 10 ayat yang ke-20 ia berkata, "Apa yang mereka persembahkan, mereka persembahkan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah." Jadi persoalannya bukan lagi soal patung atau makanan, tetapi tentang kepada siapa seseorang sedang memberikan kesetiaan dan pengabdiannya. Keluaran 20 ayat 3 sampai 5 kita diingatkan, "Jangan ada padamu Allah lain di hadapanku." Allah saudaraku menuntut penyembahan yang eksklusif karena dialah satu-satunya Allah yang hidup, Allah yang benar.

Sekarang mengapa Paulus melarang orang percaya ikut dalam perayaan di kuil berhala? Padahal ia sendiri mengizinkan memakan daging yang sudah pernah dipersembahkan kepada berhala. Paulus membedakan antara makanan makan daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala yang dibeli dari pasar dengan ibadah atau terlibat dalam penyembahan berhala. Dalam 1 Korintus 8 ayat 4, Paulus menjelaskan bahwa berhala sebenarnya tidak mempunyai kuasa apapun karena hanya ada satu Allah yang benar. Oleh sebab itu, daging yang dijual di pasar tidak menjadikan najis dengan sendirinya. Namun ketika seseorang menghadiri pesta korban di kuil berhala, ia bukan sekedar makan, tetapi ikut mengambil bagian dalam sebuah tindakan penyembahan. Di situlah letak persoalannya. Paulus memakai ilustrasi perjamuan kudus sebagaimana orang yang makan roti dan minum anggur perjamuan kudus sedang menyatakan persekutuannya dengan Kristus. Menurut 1 Korintus 10 ayat 16, demikian juga orang yang ikut dalam perjamuan berhala sedang menyatakan persekutuannya dengan kuasa yang berada di balik penyembahan itu, yaitu kuasa kegelapan. 1 Korintus 10 ayat 20 sampai 21.

Nah, peringatan apa yang diberikan Paulus sehubungan dengan hal ini? Serta mengapa? Paulus berkata dalam 1 Korintus 10 ayat 14, "Karena itu jauhilah penyembahan berhala." Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 744 katakan perintah ini menekankan urgensi perlunya bertindak cepat serta perhatian yang segera dan berkelanjutan untuk menjauh sejauh mungkin dari segala bentuk keterlibatan dengan penyembahan berhala. Tidak boleh ada kompromi terhadap apapun yang berkaitan dengan berhala. Kata jauhilah berarti juga melarikan diri. Dan ini disamakan dengan Yusuf yang lari dari istri Potifar yang menggodanya.

Sekarang mengapa harus menjauhi penyembahan berhala? Paulus menjelaskan dalam 1 Korintus 10 ayat 20 sampai 22. "Apa yang maksudkan ialah bahwa persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat minum dari cawan Tuhan dan juga dari cawan roh-roh jahat. Kamu tidak dapat bagian dalam perjamuan Tuhan dan juga dalam perjamuan roh-roh jahat. Atau maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat daripada dia?" Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 746 sampai 747. Hakikat sesungguhnya dari penyembahan berhala yaitu berhubungan dengan setan dan malaikat-malaikat jahatnya. Orang-orang Kristen telah secara sungguh-sungguh dikhususkan bagi Kristus. Mereka adalah miliknya baik melalui penciptaan maupun melalui penebusan. Dan mereka tidak boleh sedikit pun mengizinkan bentuk penyembahan apapun yang akan memuliakan makhluk lain selain kepadanya. Satu-satunya Allah yang benar.

Nah, apa bentuk penyembahan berhala saat ini dan bagaimana kita harus mewaspadainya? Serta apa pelajaran bagi kita saat ini? Patriarchs and Prophets halaman 305 menjelaskan apa itu penyembahan berhala saat ini. Apapun yang kita sayangi atau manjakan yang cenderung mengurangi kasih kita kepada Allah atau mengganggu pelayanan kita yang seharusnya kita berikan kepadanya, kita menjadikan itu berhala. Dengan kata lain, penyembahan berhala adalah memberikan penghormatan, kasih, kepercayaan, dan pengabdian yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah, kepada sesuatu atau seseorang yang lain selain Allah. Jadi penyembahan berhala tidak hanya berbentuk patung, tetapi juga apapun yang lebih kita cintai, utamakan atau andalkan daripada Allah. Acts of the Apostles halaman 317 mengingatkan kita untuk waspada bahwasanya kata-kata peringatan Rasul Paulus kepada jemaat Korintus berlaku juga untuk segala zaman dan sangat relevan bagi zaman kita saat ini. Yang dimaksud dengan penyembahan berhala bukan hanya penyembahan patung-patung, tetapi juga sikap mementingkan diri sendiri. Kecintaan pada kemudahan serta penguasaan nafsu dan juga hasrat seksual. Sekedar mengaku percaya kepada Kristus atau pengetahuan yang hanya untuk pamer tentang kebenaran tidak menjadikan seseorang sebagai orang Kristen yang sejati. Agama yang hanya bertujuan memuaskan mata, telinga, dan lidah atau yang membenarkan penguasaan diri bukanlah agama Kristus.

Nah, apa pelajaran yang boleh kita ambil? Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 1 halaman 602 merangkumkan bahwa jika kita lebih mengandalkan uang, pengetahuan, jabatan atau manusia daripada Allah, kita sedang berada dalam bahaya penyembahan berhala. Di zaman yang serba materialistis ini sangat mudah menjadikan kenyamanan dan harta sebagai sandaran hidup sehingga kita melupakan Tuhan sang pemberi segala berkat. Kita diingatkan tentang bahaya penyembahan berhala dan diperintahkan untuk menjauhinya. Sebab menurut Seventh-day Adventist Bible Commentary volume 6 halaman 745, tidak seorang pun yang dengan sengaja dan tanpa alasan yang mendesak membiarkan diri berhubungan dengan penyembahan berhala dalam bentuk apapun juga yang cukup kuat untuk terhindar dari segala dampak buruknya. Itulah sebabnya Allah memanggil kita untuk mengutamakannya di atas segala yang lain. Untuk menempatkannya di urutan yang pertama dalam kasih sayang dan kehidupan kita. Percaya kepada Allah saja tidak cukup jika tidak disertai dengan kesetiaan, kasih dan penyerahan hidup kepadanya. Allah ingin kita mengenal, mengasihi, mempercayai, dan hidup dalam persekutuan dengannya.

Selanjutnya kita melihat tema mengatasi penyembahan berhala menurut Markus 10 ayat 17 sampai 22, Markus 12 ayat 28 sampai 31 dan 1 Korintus 10. Bagaimana Yesus dan Paulus menghubungkan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama dalam menghadapi penyembahan berhala. Nah, kalau kita perhatikan ayat-ayat tadi, baik Yesus maupun Paulus menegaskan bahwa penyembahan yang benar kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Ada beberapa poin penting. Yang pertama, Yesus merangkum seluruh hukum dalam dua perintah utama. Markus 12 ayat 29 sampai 31. Mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dalam kisah orang muda yang kaya di Markus 10 ayat 17 sampai 22, Yesus menunjukkan bahwa masalah utama bukanlah kekayaan, tetapi hati yang lebih mencintai harta daripada Allah. Artinya, hartanya telah menjadi berhala. Karena itu ia gagal mengasihi Allah sepenuhnya dan gagal mengasihi orang miskin. Prinsip yang ketiga, Paulus menerapkan prinsip yang sama yang dia pinjam dari dua kisah terdahulu dalam 1 Korintus 10. Orang percaya tidak hanya mempertanyakan apakah sesuatu itu boleh dilakukan, tetapi mereka juga harus mempertimbangkan apakah tindakan itu membangun orang lain dan memuliakan Allah. Mengapa Paulus mengatakan bahwa melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah di 1 Korintus 10 ayat 31 dan ini merupakan penawar terhadap penyembahan berhala. Secara teologis, penyembahan berhala bukan hanya menyembah patung, tetapi memberikan tempat tertinggi dalam hati kepada sesuatu selain Allah. Pelajaran ini mengajarkan beberapa prinsip penting. Berhala adalah apapun yang mengambil tempat Allah. Yesaya 42 ayat 8 menegaskan bahwa kemuliaan hanya layak diberikan kepada Allah. Jadi ketika uang, pekerjaan, hiburan, relasi, bahkan diri sendiri menjadi pusat hidup, maka semuanya dapat menjadi berhala. Yang kedua, kemuliaan Allah menjadi standar semua keputusan. Paulus berkata, "Jika engkau makan atau jika engkau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." 1 Korintus 10 ayat 31. Yang ketiga, kasih kepada sesama adalah bukti kasih kita kepada Allah. Paulus menghubungkan dua hukum kasih, mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Karena itu kebebasan Kristen harus digunakan untuk membangun iman orang lain, bukan untuk memuaskan diri kita sendiri. Jadi seseorang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah akan rela membatasi kebebasannya bila hal itu dapat menolong keselamatan orang lain.

Sekarang mari kita tarik pelajaran ini bagi kehidupan modern. Dalam kehidupan modern, berhala apa saja yang dapat menggeser kasih kita kepada Allah dan bagaimana kita dapat belajar bagaimana sesama, bagaimana mengasihi sesama seperti yang diajarkan oleh Paulus. Nah, saudaraku, berhala masa kini seringkali tidak berbentuk patung, melainkan sesuatu yang menguasai hati dan prioritas hidup kita. Ada beberapa contoh mungkin uang dan kekayaan, karir dan ambisi, popularitas dan pengakuan, media sosial, teknologi, hiburan atau hubungan yang ditempatkan di atas Allah. Keinginan untuk selalu mempertahankan hak dan kenyamanan pribadi. Untuk belajar mengasihi sama seperti Paulus, maka kita harus yang pertama mempertimbangkan dampak dari tindakan kita terhadap iman orang lain. Yang kedua, kita rela membatasi kebebasan pribadi kalau itu jadi batu sandungan. Yang ketiga, mencari keuntungan rohani orang lain, bukan hanya keuntungan diri sendiri. 1 Korintus 10 ayat 24. Lalu menggunakan seluruh aspek hidup kita untuk kemuliaan Allah. Kasih yang sejati tidak hanya bertanya apakah saya bebas melakukannya, tetapi kasih yang sejati bertanya, "Apakah tindakan ini memuliakan Allah dan menolong orang lain semakin dekat kepada Kristus?" Ellen White dalam buku Maranata halaman 109 mengungkapkan tentang hidup yang tidak mementingkan diri. Dia mengatakan, "Kita tidak perlu pergi ke negeri-negeri kafir untuk menunjukkan keinginan kita untuk mengabdikan segalanya kepada Tuhan dalam kehidupan yang bermanfaat dan tidak mementingkan diri sendiri. Kita harus melakukannya di lingkaran keluarga, di gereja, di antara orang-orang yang bergaul dengan kita dan rekan-rekan bisnis kita. Justru dalam perjalanan hidup sehari-hari inilah ego harus disangkal dan dijaga agar tetap berada di bawah kendali."

Kita tiba pada pendalaman. Apakah penyembahan berhala modern benar-benar sama seriusnya dengan penyembahan berhala patung kuno? Secara sederhana jawabannya adalah ya. Tetapi kita harus perhatikan beberapa hal ini. Yang pertama, [mendengus] inti penyembahan berhala bukanlah patung melainkan hati yang memberikan tempat tertinggi kepada sesuatu yang lain selain Allah. Berhala adalah apapun yang kita kasihi dan percayai untuk menggantikan Allah. Dan Paulus berkata dengan tegas di dalam Kolose 3 ayat 5, "keserakahan sama dengan penyembahan berhala." Jadi patung itu hanyalah bentuk lahiriah dari masalah hati yang sama. Kemudian yang kedua, dalam beberapa hal penyembahan berhala modern justru lebih berbahaya karena tersembunyi dan diterima oleh masyarakat. Tidak seorang pun yang merasa sedang menyembah ketika dia mengejar uang, mengejar karir, mengejar kesenangan atau fokus kepada kesenangan pribadi, keuntungan diri sendiri. Berhala patung itu mudah dikenali, tetapi berhala di dalam hati sulit dikenali. Dan ini yang lebih berbahaya. Yang tersembunyi ini sukar ditinggalkan. Yang ketiga, karena Allah menilai hati bukan bentuk lahiriah. Tuhan berkata tentang para tua-tua Israel dalam Yehezkiel 14 ayat 3, "Orang-orang ini menempatkan berhala-berhala mereka dalam hati mereka." Jadi yang Allah tuntut adalah hati. Bagaimana hati ini memberikan kasih kepada Allah yang tidak terbagi? Matius 22 ayat 37. "Kasihilah Tuhan Allah-mu dengan segenap hatimu." Jadi di sini adalah soal hati, bukan soal barang, bukan barang, bukan bukan berhala yang kelihatan dan lain sebagainya, tetapi adalah masalah hati. Masalah penyembahan berhala adalah masalah di dalam hati. Dan yang keempat, karena hukum pertama dilanggar juga dengan hal yang sama, baik berhala kuno dan juga berhala modern. "Jangan ada padamu Allah lain." Itu dilanggar entah berhalanya patung ataupun uang ataupun cinta diri. Semuanya itu sama merampas tempat tertinggi Allah di dalam hati kita. Ellen White di dalam Selected Messages volume 3 halaman 330 mengatakan, "Sebuah [mendengus] berhala adalah segala sesuatu yang dikasihi dan dipercayai manusia sebagai ganti mengasihi dan mempercayai Allah penciptanya." Apapun yang membagi kasih sayang kita atau merampas dari jiwa kasih yang tertinggi kepada Allah atau menghalangi kepercayaan dan keyakinan penuh kepada Allah mengambil sifat dan bentuk sebuah berhala di dalam bait jiwa.

Mari kita lanjut. Apa perbedaan antara orang yang lemah iman dan orang yang tidak percaya atau orang yang tidak ingin percaya? Dan bagaimana dengan orang yang selalu tersinggung di dalam jemaat? Nah, Saudara-saudara, ada beberapa hal yang perlu kita pahami. Yang pertama, lemah iman adalah orang yang percaya dengan tulus, tetapi hati nuraninya masih peka dan belum matang. Lemah iman adalah mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Allah tetapi belum sepenuhnya mengerti kebebasan dalam Kristus. Dan terhadap mereka inilah Paulus memerintahkan supaya diberikan kasih dan kesabaran. Paulus memerintahkan juga untuk jangan menjadi batu sandungan bagi mereka. Roma 14 dan 1 Korintus pasal 8. Dan di sini jelas bahwa tujuannya adalah untuk menolong mereka supaya mereka dapat bertumbuh menjadi kuat, bukan membiarkan mereka lemah selama-lamanya. Kemudian yang kedua, orang yang tidak percaya atau orang yang tidak ingin percaya adalah orang yang menolak kebenaran bukan karena kelemahan, melainkan karena hati yang keras dan suka mencari-cari kesalahan. Dan terhadap mereka ini Yesus tidak menyesuaikan kebenaran. Ketika orang Farisi tersinggung oleh perkataan Yesus, Yesus justru berkata dalam Matius pasal 15 ayat 12-14, "Biarkanlah mereka itu. Mereka adalah orang buta yang menuntun orang buta." Kemudian yang ketiga, perlu kita membedakan dua kelompok ini. Dan cara membedakannya adalah dari rasa ketersinggungan itu. Orang yang lemah iman itu tersinggung karena hati nuraninya itu benar-benar terluka dan dia rindu melakukan yang benar. Sementara orang yang tidak percaya adalah orang yang bersemangat mencari kesalahan orang, bersemangat menghakimi, tetapi kemudian tersinggung ketika dosanya ditegur. Yang pertama atau orang yang lemah iman ini adalah orang yang perlu dibimbing dengan lembut. Sedangkan kelompok yang kedua ini tidak boleh dibiarkan mengendalikan jemaat. Yang keempat, bagaimana orang yang selalu tersinggung dalam jemaat? Nah, jika saya sudah bertindak dengan baik sesuai dengan kebenaran yang saya tahu, tetapi itu melukai hati nurani sesama saudara seiman, maka tanggung jawab saya adalah mengalah dalam kasih. 1 Korintus 8 ayat 12. Bisa saja yang tersinggung itu adalah kelompok mereka yang lemah iman. Tetapi jika seorang terus-menerus tersinggung karena roh yang gemar mencari kesalahan dalam jemaat, maka masalahnya terletak pada orang itu sendiri. Dan jika jemaat terus menuruti sikap orang seperti itu, maka justru itu akan memecah belah jemaat. Nah, Saudara-saudara, dalam jemaat perlu ada keseimbangan, perlu ada kasih, tetapi perlu juga ada hikmat. Dan kasih bersama dengan hikmat ini perlu berjalan bersama-sama. Kasih membuat kita rela mengalah demi yang lemah supaya mereka dapat bertumbuh. Sementara hikmat itu mencegah kita diperbudak oleh roh tersinggung dan suka menghakimi dalam jemaat. Tujuan akhir dari semuanya ini adalah bagaimana kita saling memulihkan, saling memberikan support untuk dapat bertumbuh bukan sekedar menyenangkan setiap orang. Testimonies for the Church volume 1 halaman 145. "Kasih seorang terhadap yang lain telah hilang. Suatu roh yang suka mencari kesalahan dan menuduh telah meraja lela. Dianggap sebagai suatu kebajikan untuk mengorek segala sesuatu tentang sesama yang tampak salah dan membuatnya kelihatan seburuk mungkin." Mari kita melihat hal ini dalam kehidupan kita masing-masing. Kalau kita bisa dapat menunjukkan kasih dan itu berjalan bersama-sama dengan hikmat, maka kita akan hidup saling berdampingan di dalam pertumbuhan perkembangan rohani kita sesama jemaat.

Saudaraku, sebagai penutup dan juga aplikasi dari apa yang kita pelajari dan diskusikan bersama, mengapa melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah itu penting bagi kehidupan kita. Karena saudaraku, itulah tujuan utama manusia diciptakan. Allah tidak hanya menghendaki agar kita menyembahnya pada hari Sabat atau ketika berada di gereja, tetapi seluruh kehidupan kita, pekerjaan, keluarga, makanan, perkataan, keputusan, bahkan hal-hal yang kecil dalam kehidupan kita menjadi kemuliaan baginya. Itulah sebabnya Paulus katakan dalam 1 Korintus 10 ayat 31, "Jika engkau makan atau jika engkau minum atau apapun juga yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah." Kemuliaan Allah adalah standar tertinggi bagi setiap keputusan orang percaya. Dalam konteks 1 Korintus 8 sampai 10, Paulus tidak sekedar membahas makanan yang dipersembahkan kepada berhala, tetapi mengajarkan bahwa orang Kristen tidak boleh bertanya, "Apakah saya boleh melakukannya, melainkan apakah hal ini memuliakan Allah atau tidak." Desire of Ages halaman 74 dan 671 katakan bahwa Yesus hidup untuk menyenangkan, menghormati, dan memuliakan Bapa. Dalam setiap aspek kehidupan, Juru Selamat itu datang untuk memuliakan Bapa melalui perwujudan kasih-Nya. Demikian pula Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus dengan menyingkapkan kasih karunia-Nya kepada dunia. Citra Allah yang sesungguhnya harus tercermin dalam diri umat manusia. Kemuliaan Allah, kemuliaan Kristus terwujud dalam kesempurnaan karakter umat-umatnya. Dengan kata lain, seluruh kehidupan Kristus di dunia ini adalah untuk menyatakan kemuliaan Bapa-Nya. Melalui kehidupan yang dipenuhi kasih dan pengorbanan diri, Ia memuliakan Allah. Jadi jika Kristus hidup untuk kemuliaan Bapa, maka kita sebagai pengikutnya juga dipanggil hidup dengan tujuan yang sama yaitu memuliakan Allah dalam segala hal.

Sekarang bagaimana kita dapat hidup untuk kemuliaan Allah di tengah dunia yang penuh dengan berhala modern saat ini? Paulus [mendengus] menegaskan dalam 1 Korintus 10 ayat 14. "Karena itu, Saudara-saudara yang kekasih, jauhilah penyembahan berhala." Berhala pada zaman sekarang mungkin bukan lagi patung atau mezbah, tetapi apapun yang mengambil tempat Allah di hati kita. Uang, pekerjaan, karir, hiburan, media sosial, popularitas, bahkan diri kita sendiri bisa menjadi berhala yang merusak kehidupan kita. Hidup untuk kemuliaan Allah berarti menjadikan Kristus sebagai pusat, bukan diri sendiri. Ulangan 6 ayat 4 dan 5 dan juga Markus 12 ayat 29 sampai 31 mengajarkan bahwa kasih kepada Allah harus menjadi kasih yang terutama sehingga seluruh aspek kehidupan berada di bawah pemerintahannya. Kita harus berhati-hati dengan segala sesuatu yang kita sayangi dan manjakan yang pada akhirnya akan mengurangi kasih kita kepada Allah dan menghalangi kita untuk memberikan penghormatan, pengabdian, dan pelayanan kita yang seharusnya kita berikan hanya kepadanya. Sebab itu Patriarchs and Prophets halaman 305 katakan, "Kita dilarang menempatkan objek lain apapun pada posisi teratas dalam kasih atau pengabdian kita." Pertanyaan penting bagi masing-masing kita setiap hari bukanlah apa yang saya sukai, tetapi apakah Kristus tetap menjadi yang terutama dan pertama dalam kehidupan saya?

Nah, apa tantangan terbesar yang menghalangi kita untuk memuliakan Allah? Yang pertama, kebebasan yang dipakai untuk memuaskan diri sendiri. Paulus mengingatkan bahwa tidak semua yang diperbolehkan itu membangun. Orang Kristen dipanggil menggunakan kebebasan untuk membangun iman orang lain, bukan sekedar memuaskan hak pribadinya. Yang kedua, mementingkan pengetahuan di atas kasih. Dalam pasal yang ke-8 1 Korintus, Paulus menunjukkan bahwa pengetahuan tanpa kasih dapat melukai hati saudara yang lemah. Kemuliaan Allah justru dinyatakan ketika kasih mengalahkan keegoisan. Yang ketiga, kompromi dengan dunia. Dalam pasal yang ke-10, Paulus mengingatkan pengalaman bangsa Israel yang jatuh karena menginginkan hal-hal duniawi dan akhirnya terjerumus ke dalam penyembahan berhala. Kompromi kecil sering menjadi awal dari kejatuhan rohani kita. Yang keempat, ego yang ingin mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Yesus datang

bukan untuk mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, melainkan kemuliaan Bapa di syurga. Sebaliknya, manusia berdosa cenderung ingin dipuji, dihormati, dan diutamakan. Lead him up halaman 366. Allah telah menganugerahkan bakat kepada setiap orang agar namanya dimuliakan. Bukan agar manusia dipuji dan dipuja, dihormati dan dimuliakan. Sementara sang pemberi dilupakan. Semua orang telah diamanahkan dengan kurnia Tuhan. Mulai dari yang paling rendah dan paling miskin hingga yang paling tinggi dan juga paling kaya untuk memuliakannya. Mazmur 29 ayat 1 dan 2. Kepada Tuhan, hai penghuni syurga surgawi, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan. Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya. Sujudlah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan. Saudaraku, mari kita berdoa agar Roh Kudus menolong kita hidup bukan lagi untuk kemuliaan diri sendiri, melainkan untuk kemuliaan Allah. Biarlah setiap perkataan, setiap keputusan, setiap pekerjaan, setiap pelayanan, bahkan hal-hal yang paling sederhana dalam kehidupan kita menjadi persembahan. yang memuliakan nama Tuhan. Dengan demikian melalui hidup kita dunia dapat melihat Kristus dan bahkan dimenangkan bagi kerajaan-Nya. Mari kita tunduk kepala dan berdoa. Bapa kekal Allah kami yang bertahta di syurga, kami bersyukur Engkau beri kami kesempatan untuk kembali belajar dari kebenaran firman-Mu. Kami lemah dan terbatas Tuhan. Kami mohon ampun atas segala pelanggaran dan dosa kami. Dan kami minta tuntunan Roh Kudus-Mu menjadi bahagian kami supaya apa yang kami pelajari dan bincangkan ini dapat tertanam di dalam hati dan fikiran kami. Kami mengerti dengan cara yang terbaik dan biarlah Roh Kudus menyanggupkan kami mempraktikkannya di dalam kehidupan kami sehari-hari supaya dalam segala aspek kehidupan kami dapat memuliakan nama-Mu ya Tuhan Bapa. Berkatilah kami semua dan tuntun kami terus sampai hari Maranata tiba adalah doa dan harapan kami di dalam nama Yesus Juruselamat kami. Amin. [muzik] [muzik]