Transcription
Angka menakjubkan 340% membuat para analis Wall Street terdiam serentak. Ini adalah tingkat pertumbuhan investasi asing langsung Indonesia di tahun 2024. Sementara Vietnam terpukul oleh bom tarif 40% dan terjatuh, Indonesia menyedot perusahaan manufaktur Cina dengan tarif rendah 19%. BYD, Foxcon, Higher. Perusahaan-perusahaan raksasa Cina berlomba membangun pabrik senilai 50 miliar dolar di kawasan industri Subang, Jakarta. Inilah kenyataan yang terjadi persis seperti apa yang 6 tahun lalu saya tegas katakan benar-benar mustahil. Angka ini hanya bermakna satu hal. Semua teori ekonomi yang saya yakini selama 25 tahun ternyata keliru.
Nama saya Jason Michael Richardson. Usia 48 tahun, ekonom eksentrik yang telah mengalami tiga kali perceraian dan dua kali kebangkrutan. Orang-orang menyebut saya pemburu data. Keahlian saya adalah menemukan pola-pola dalam angka yang tidak bisa dilihat orang lain. Namun anehnya kehidupan pribadi saya selalu tak terduga. Istri pertama meninggalkan saya dengan berkata, "Kamu bisa membaca grafik, tapi kenapa tidak mengerti hati manusia?" Istri kedua bilang, "Kamu seperti robot yang hanya mencintai Angka." Istri ketiga Caroline bahkan pergi tanpa sepatah kata pun. "Jason, kamu tahu kan bahwa setiap kali kamu sukses, kamu malah semakin kesepian?" Itulah kata-kata terakhir, Carol. Waktu itu saya tidak mengerti maksudnya.
Sekarang saya paham ketika perang dagang AS-China meletus tahun 2018, saya mempertaruhkan segalanya pada Vietnam. Model analisis saya, Richardson Prediction Engine memprediksikan kesuksesan Vietnam dengan probabilitas 95,7%. Indonesia, Anda bercanda kan? Itulah yang saya katakan di rapat Dewan Direksi Global Tech waktu itu. Birokrasi yang rumit, sistem politik yang korup, infrastruktur yang tertinggal, semua data jelas menunjukkan keterbatasan Indonesia. Karena itu Global Tech menginvestasikan 50 miliar dolar di Vietnam. Seseorang menjadi pahlawan. Halaman pertama Wall Street Journal, undangan kuliah di Harvard. Gaji naik dua kali lipat. Tapi dalam hati saya gelisah. Intuisi saya terus mengatakan ada yang terlewat.
Lalu tahun 2024 mimpi buruk dimulai. Amerika mengenakan tarif 40% pada Vietnam. Perdagangan transit terungkap. Pabrik-pabrik Global Tech di Vietnam mulai tutup satu persatu. Saya kembali menghadapi krisis kehilangan segalanya. "Jason, kali ini jangan sampai salah lagi." Itulah peringatan terakhir CEO Michael Johnson. Praktis ini adalah kesempatan terakhir. Model analisis baru saya masih menunjuk ke India. Tapi anehnya setiap malam Indonesia muncul dalam mimpi saya. Negara yang 6 tahun lalu saya abaikan itu. Jangan-jangan ada yang lagi-lagi saya lewatkan. Pikiran itu tidak hilang dari kepala saya. Jadi saya memutuskan melakukan perjudian terakhir. Pergi langsung ke Indonesia. Bahkan ketika membeli tiket pesawat saya masih ragu ini bisa jadi pilihan gegabah yang sepenuhnya mengakhiri karier saya. Tapi saya tidak bisa mengabaikan perasaan tertarik pada sesuatu. Saya teringat surat yang ditinggalkan Caroline ketika pergi. "Jason, suatu hari saya berharap kamu bisa melihat dunia dengan hati, bukan dengan angka. Saat itulah kamu akan bisa merasakan kesuksesan yang sesungguhnya."
Dari jendela pesawat terlihat Samudera Pasifik. 12 jam lagi saya akan tiba di Jakarta. Ini adalah perjalanan yang mungkin menjadi kesempatan terakhir dalam hidup saya. Saat turun di bandara Jakarta ada yang berbeda. Bandara jauh lebih rapi dibanding 6 tahun lalu. Ekspresi orang-orang juga tampak lebih cerah. Tapi prasangka saya masih kuat. Pasti cuma tampak berkilau di luar. Dalamnya masih sama saja. Sopir taksi Pak Ari menyapa saya dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. "Pak, dari mana bisnismennya?" "Dari Amerika." "Saya analis ekonomi." "Oh, ekonomi. Sekarang ekonomi negara kita bagus banget. Kakak saya kerja di pabrik Cina, katanya gaji naik dua kali lipat." Saya setengah percaya mendengar cerita sopir taksi itu. Saya pikir ini cuma pengalaman pribadi saja.
Perjalanan ke kawasan industri Subang memakan waktu 2 jam. Pemandangan di sepanjang jalan sangat berbeda dari ingatan saya. 6 tahun lalu kebanyakan bangunan tua dan jalan yang belum diaspal. Sekarang di mana-mana terlihat jalan tol baru dan bangunan modern. "Pak, lihat gedung-gedung besar itu. Itu selesai dibangun tahun lalu. Katanya dibangun perusahaan Cina." Pak Ari menunjuk ke arah pabrik-pabrik raksasa yang berjajar. Ukurannya benar-benar luar biasa. "Banyak banget ya perusahaan China yang datang." "Banyak. Di kampung saya aja ada tiga. Lapangan kerja untuk orang Indonesia jadi banyak banget." Sampai saat itu saya masih menganggap ini perdagangan transit yang umum. Perusahaan Cina memanfaatkan Indonesia untuk menghindari tarif Amerika.
Ketika tiba di kawasan industri Subang, saya tidak percaya mata saya sendiri. 6 tahun lalu, tempat ini cuma hamparan tanah kosong yang luas. Statusnya tidak ada pabrik kecil dan bangunan yang belum selesai. Sekarang ini dunia yang benar-benar berbeda. Raksasa menjulang ke langit. Puluhan pembangunan pabrik berjalan bersamaan. Skala yang tidak biasa seperti kompleks industri Ulusan Korea atau Kawasaki Jepang. "Ini apaan sih?" Kata itu keluar spontan dari mulut saya. Papan nama di setiap gerbang masuk makin membuat saya terkejut. BYD, Foxcon, H Meda, WeChart, semua perusahaan terkemuka Cina ada di sini. Saya buka lagi laporan prospek investasi 2024 yang saya bawa. Menurut model saya, hal seperti ini mustahil terjadi. Perusahaan China seharusnya masih fokus pada Vietnam dan India. Saya tanya Satpam. "Maaf, pabrik-pabrik ini mulai masuk kapan ya?" "Tahun ini naik drastis, Pak. Terutama setelah Amerika kenakan pajak tinggi ke Vietnam." "Di sini bikin apa?" "Elektronik, mobil, baterai, hampir semua dibuat. Yang kerja juga kebanyakan orang Indonesia." "Aneh. Di Vietnam yang kerja cuman orang Cina. Di sini katanya kebanyakan orang lokal."
Saat jam makan siang, ratusan orang keluar dari pabrik. Terlihat orang Cina dan Indonesia makan bersama. Pemandangan yang tidak pernah saya lihat di Vietnam. Memang ada yang beda sih, tapi saya masih belum yakin. Meski tampaknya berkembang, isinya mungkin masih perdagangan transit. Dalam perjalanan pulang ke hotel, Pak Ari menunjukkan hal menarik lainnya. "Pak, lihat perusahaan Indonesia juga banyak yang baru." Yang saya lihat adalah perusahaan Indonesia seperti Bumi Technologi, Garuda Electronics. Papan namanya baru dan bangunannya rapi. "Perusahaan itu ngapain?" "Katanya suplai komponen ke perusahaan Cina. Perusahaan yang didirikan orang Indonesia setelah belajar teknologi." Ini juga di luar dugaan. Bukan cuma pabrik China yang masuk, perusahaan lokal juga ikut tumbuh.
Malam itu di hotel saya analisis ulang data. Saya periksa satu persatu indikator ekonomi Indonesia. Tingkat pertumbuhan investasi asing langsung, tingkat pertumbuhan manufaktur, tingkat pertumbuhan ekspor. Semua angka melampaui perkiraan saya. Yang lebih mengejutkan adalah kualitas investasinya. Kebanyakan investasi produksi barang jadi, bukan cuma perakitan sederhana. Aneh, benar-benar aneh. Sepertinya ada potongan puzzle penting yang saya lewatkan. Tapi belum tahu apa itu. Kata-kata Caroline kembali terlintas. "Jason, kadang ada kebenaran yang tidak bisa diungkapkan angka."
Keesokan paginya saya ke Badan Koordinasi Penanaman Modal untuk menggali kebenaran. Kalau ini perdagangan transit seperti Vietnam, pasti pemerintah punya rencana tertentu. Gedung di pusat Jakarta ini sangat berbeda dari 6 tahun lalu. Di lobi terpasang layar besar yang menampilkan statistik investasi real time. Investasi asing langsung tahun ini 31 miliar dolar. Tingkat pertumbuhan dibanding tahun lalu 24%. Lapangan kerja baru 470.000. Angka-angkanya terlalu bagus sampai justru mencurigakan. Saya bertemu kepala analis Bayu Pratama. Pria parubaya ini lulusan London School of Economics. "Pak Richardson, lama sekali. Pertama kali datang sejak 2018 kan?" Mengejutkan dia masih ingat. "Analisis Bapak waktu itu tidak salah kok." "Terima kasih. Tapi saya tidak mengerti situasi sekarang. Jangan-jangan perusahaan Cina datang karena perdagangan transit." Pak Bayu tersenyum getir. "Awalnya kami juga khawatir yang sama. Takut jadi seperti Vietnam." Data yang dia keluarkan berisi hal mengejutkan, tapi situasinya benar-benar berbeda. "Lihat kebijakan tarif Amerika. Vietnam 40%, Thailand 28%, Malaysia 25%, Indonesia 19%." "Kok bisa beda sebesar ini?" "Itulah strategi Presiden Prabowo."
Pak Bayu mulai menjelaskan cerita menakjubkan. Sejak 2019, Indonesia membangun hubungan yang benar-benar berbeda dengan Amerika. Kami tidak cuma menerima investasi Cina, kami juga mendorong kemitraan strategis dengan Amerika, keamanan, teknologi, energi, semua bidang. Yang paling penting adalah fakta kerja sama Indo-Pasifik yang ditekan tahun 2020. Sederhananya, Indonesia berperan sebagai sekutu Amerika sebagai gantinya dapat manfaat ekonomi. Makanya Amerika mengenakan tarif rendah pada kami karena Amerika percaya pada kami. Tapi saya masih curiga, berarti tetap saja perusahaan Cina datang untuk memanfaatkan keuntungan tarif. "Mungkin terlihat begitu. Tapi kalau lihat syarat yang kami ajukan ke perusahaan Cina, pikiran Bapak akan berubah." Syarat-syarat yang ditunjukkan Pak Bayu benar-benar ketat. Perekrutan karyawan lokal minimal 50%. Transfer teknologi selesai dalam 5 tahun. Penjualan produksi minimal 30% di dalam negeri. Komitmen investasi jangka panjang minimal 10 tahun. Vietnam tidak ada syarat seperti ini. Hampir tidak ada. Datang, produksi, pergi, selesai. Saat itu saya merasa ada satu potongan puzzle yang mulai cocok. Tapi gambaran keseluruhan masih belum terlihat. Lalu kenapa perusahaan Cina mau menerima syarat seketat ini? "Bapak bisa lihat sendiri kalau berkunjung langsung." Pak Bayu merekomendasikan kunjungan ke pabrik BYD. Kebetulan sore itu ada waktu. Sambil makan siang pikiran saya tetap rumit. Pasti ada yang berbeda dari Vietnam, tapi saya belum tahu persis apa bedanya. Saat itu ponsel saya berbunyi. Pesan dari rekan di New York, Steve. "Jason, saham Global Tech turun lagi. Minggu ini harus ada alternatif." Tekanannya berat. Artinya waktu tinggal sedikit. Harus segera ambil keputusan.
Sore itu menuju pabrik BYD. Kecurigaan saya masih banyak. Jangan-jangan ini pertunjukan yang diatur untuk menipu saya. Tapi kecurigaan itu mulai hilang begitu tiba di pabrik. Begitu masuk pabrik BYD, semua teori yang saya yakini selama 6 tahun mulai goyah. Ini benar-benar berbeda dari yang saya lihat di Vietnam. Manajer lapangan Zang Wei menyambut saya. Pria awal 50-an ini punya pengalaman 10 tahun di Hyundai Korea. "Pak Richardson, selamat datang. Mari kita lihat pabrik kami." Skala pabriknya langsung bikin kewalahan. Lahan 200 hektar dengan fasilitas produksi 160.000 mobil listrik per tahun. "Semuanya untuk ekspor?" "Tidak. Setengah untuk Amerika dan Eropa. Setengah untuk pasar domestik Asia Tenggara." "Ini syarat pemerintah Indonesia." Kejutan pertama di Vietnam 100% ekspor. Di sini juga pertimbangkan pasar domestik. "Penjualan domestik wajib." "Betul. Tapi ini juga menguntungkan kami. Pasar Indonesia lebih besar dari yang kami kira." Manajer Jang membawa saya ke lini produksi. Di lini yang beroperasi benar-benar banyak karyawan Indonesia yang bekerja. "Perbandingan karyawan lokal berapa?" "Sekarang 72%. Tahun depan target 80%." Kejutan kedua di Vietnam, karyawan lokal bahkan tidak sampai 20%. Di satu workshop, teknisi Cina mengajari karyawan Indonesia teknik pengelasan. Di samping ada pelatihan kontrol kualitas, transfer teknologi juga aktif. "Ya, memang kewajiban pemerintah, tapi sebenarnya kami juga butuh karyawan lokal harus terampil supaya kualitas dan produktivitas naik." Kejutan ketiga ini bukan cuma kewajiban, tapi struktur yang saling menguntungkan. Yang lebih mengejutkan adalah proses produksinya. Di Vietnam cuma bawa komponen dari Cina untuk dirakit. Di sini ada semua proses dari pressing sampai finishing. "Komponen dipasok dari mana?" "65% dari lokal. Perusahaan Indonesia belajar teknologi lalu bikin sendiri." Kejutan keempat. Ini ekosistem yang benar-benar baru. "Tidak ada masalah dengan tarif Amerika." Ekspresi manajer Zang berubah suram. "Waktu di Vietnam benar-benar sulit. Tarif 40% plus investigasi perdagangan transit. Sakit hati. Padahal kami benar-benar produksi lokal makanya pindah ke Indonesia. Di sini 19% yang penting Amerika tidak curiga sama kami. Karena Amerika percaya pemerintah Indonesia." Kejutan kelima. Bukan cuman soal beda tarif tapi soal kepercayaan. Menjelang akhir tur pabrik, manajer Zang menunjukkan tempat istimewa pusat penelitian dan pengembangan. "Di Vietnam juga ada fasilitas seperti ini?" "Tidak. Di Vietnam semua R&D di China, tapi di sini harus kembangkan model khusus Indonesia. Jadi butuh pusat lokal." Di pusat R&D ada insinyur China dan Indonesia yang bekerja bersama. Mereka sedang kembangkan mobil listrik khusus iklim tropis. "Kenapa harus model khusus lokal?" "Untuk sukses di pasar Indonesia harus tahu karakteristik lokal. Kelembaban tinggi, sering hujan, jalan rusak. Harus bikin mobil yang cocok untuk kondisi seperti itu." Kejutan keenam ini bukan cuma basis produksi sederhana, tapi bisnis yang benar-benar lokalisasi.
Keluar dari pabrik, kepala saya benar-benar kacau. Semua yang saya yakini selama 6 tahun sedang goyah. Pak Ari bertanya, "Gimana, Pak? Pabrik Indonesia bagus kan?" "Benar-benar di luar dugaan. Sekarang ekspresi orang kampung saya jadi cerah. Lapangan kerja tambah gaji naik." Kata-kata Pak Ari terdengar baru. Awalnya saya pikir cuma pengalaman pribadi. Sekarang sepertinya bagian dari perubahan yang lebih besar. Tapi masih ada pertanyaan. Apa semua ini benar-benar sustainable? Jangan-jangan ini pertunjukan yang diatur dengan rapi. Malam itu di hotel sambil merapikan data saya masih belum yakin. Tampaknya model yang benar-benar berbeda dari Vietnam tapi bukti kuncinya masih kurang. Saat itu ada kontak lagi dari New York. "Jason, besok harus ada kesimpulan. Dewan direksi menunggu. Waktunya mepet."
Hari ketiga ada pertemuan menentukan, pertemuan dengan penasihat ekonomi senior pemerintah Indonesia Dr. Ahmad Sugiarto. Dr. Ahmad berusia akhir 60-an dengan kesan yang ramah. Lulusan PhD Harvard dan punya pengalaman 15 tahun di Bank Dunia. Sekarang jadi otak ekonomi utama Presiden Prabowo. Kami bertemu di kafe tenang di Jakarta. "Pak Richardson, laporan 6 tahun lalu sudah saya baca. Untuk ukuran waktu itu analisisnya tepat." "Terima kasih. Tapi sekarang saya merasa banyak yang terlewat." "Tidak apa-apa. Waktu itu kami juga belum siap." Dr. Ahmad mulai menjelaskan dengan tenang. "Tahun 2018 kami cuma iri sama Vietnam, tapi segera sadar kalau cara Vietnam tidak sustainable." Maksudnya Vietnam cuma kasih tanah dan tenaga kerja ke perusahaan Cina. Tanpa teknologi, tanpa pasar, tanpa masa depan. Akhirnya cuma tempel stiker Vietnam ke produk Cina. Data yang dikeluarkan Dr. Ahmad menunjukkan perbedaan menakjubkan Vietnam dan Indonesia. Investasi Vietnam komponen Cina 90%, transfer teknologi 5%, penjualan domestik 10%. Investasi Indonesia komponen Cina 35%, transfer teknologi lap, 5%, penjualan domestik 50%. "Kok bisa begini?" "Kami pilih strategi berbeda dari awal. Bikin model pertumbuhan bersama yang sesungguhnya."
Model pertumbuhan bersama yang dijelaskan Dr. Ahmad benar-benar inovatif. Pertama, buka pasar domestik Indonesia yang besar untuk perusahaan Cina sebagai gantinya wajibkan transfer teknologi dan pelatihan tenaga lokal. Kedua, buktikan ke Amerika bahwa Indonesia bukan cuma basis transit China, tapi partner independen. Ketiga, buat struktur tiga pihak yang menguntungkan semua. "Secara konkret, gimana meyakinkan Amerika?" Mata Dr. Ahmad berbinar. "Dengan pembukaan pasar timbal balik, perusahaan Cina produksi di Indonesia untuk ekspor ke Amerika. Tapi perusahaan Amerika juga bisa masuk pasar kami dengan syarat yang sama." Strategi yang benar-benar cerdas. Bukan cuma Cina yang dapat keuntungan sepihak, Amerika juga ikut untung. "Ini dipersiapkan sejak kapan?" "Mulai serius tahun 2019. Presiden Prabowo sudah konsep strategi ini sejak jadi Menteri Pertahanan." Sudah sejak lama kami tidak terburu-buru. "Mau bangun fondasi perlahan tapi pasti?" Kata-kata itu menyentuh hati. Saya selalu kejar hasil cepat. Mereka pakai pendekatan jangka panjang. Tapi gimana mungkin negosiasi serumit ini berhasil? "Keunggulan kami adalah netralitas. Bukan sekutu Amerika, bukan juga boneka Cina. Makanya kedua pihak bisa percaya sama kami." Data terakhir yang ditunjukkan Dr. Ahmad benar-benar menakjubkan. Perubahan yang terjadi di Indonesia 2 tahun terakhir. Transfer teknologi 247 kasus, pelatihan tenaga lokal 150.000 orang. Tingkat pertumbuhan perusahaan lokal 340%, lapangan kerja baru R70.000. "Ini semua beneran?" "Tentu saja, tapi yang penting bukan angkanya." "Lalu apa?" "Orangnya. Kami mikir dengan fokus pada manusia. Perusahaan, pemerintah, rakyat, semua bisa tumbuh bareng." Saat itu ada suara runtuh di hati saya. Efisiensi, profitabilitas, daya saing, indikator dingin yang saya kejar selama 25 tahun. Ternyata yang benar-benar penting itu manusia. "Masalah yang Bapak tunjukkan 6 tahun lalu. Ingat, birokrasi rumit, korupsi, infrastruktur tertinggal. Ingat, semua itu sekarang jadi keunggulan kami. Prosedur rumit jadi filter untuk verifikasi kesungguhan. Kecepatan lambat jadi kehati-hatian, pembalikan yang benar-benar menakjubkan, kelemahan jadi kekuatan." Lalu ke depan pertumbuhan seperti ini akan terus. Dr. Ahmad tersenyum, "Kami punya satu senjata rahasia lagi." "Apa?" "Besok akan saya tunjukkan. Bapak akan tahu kekuatan sesungguhnya Indonesia."
Tapi malam itu ada plot twist yang tidak terduga. Secara kebetulan saya bertemu perwakilan perusahaan Korea di bar hotel. Dia ceritakan hal yang benar-benar berbeda. Kim Sang Hun, Direktur Asia Tenggara Posco International, pria awal 50-an yang punya pengalaman kerja 3 tahun di Indonesia. "Pak Richardson kan saya dengar sedang pertimbangkan investasi Indonesia." "Betul." Pak Kim tersenyum kecut. "Jangan terlalu cepat ambil keputusan. Tampak bagus dari luar, tapi kenyataannya masih banyak masalah." Kata-katanya bikin saya curiga lagi. "Masalah apa?" "Perizinan aja sudah neraka. Tahun lalu kami butuh 8 bulan untuk dapat izin. Hampir tiga kali lipat dari perkiraan 3 bulan." Cerita Pak Kim benar-benar mengejutkan. Prosedur administrasi rumit, persyaratan tambahan yang tidak jelas, regulasi yang tiba-tiba berubah. Lalu perusahaan China gimana bisa cepat masuk? "Itu dia masalahnya. Perusahaan China sepertinya punya hubungan khusus sama pemerintah. Mereka tidak mengalami kesulitan yang dialami perusahaan asing umum." Mendengar ini, saya jadi bingung lagi. Jangan-jangan kasus sukses yang saya lihat cuma berlaku untuk beberapa perusahaan yang dapat perlakuan istimewa. Masalah tenaga kerja lokal juga serius. Susah banget cari teknisi terampil. Udah dilatih eh pindah ke perusahaan lain. Gimana suplai listrik? Tidak stabil. Sebulan dua tiga kali mati listrik. Tiap kali itu produksi terhenti. Mendengar kata-kata Pak Kim, masa depan cerah yang ditunjukkan Dr. Ahmad jadi meragukan. Jadi perusahaan Korea mundur dari investasi Indonesia? "Tidak sepenuhnya mundur, tapi sangat hati-hati. Terutama manufaktur risikonya masih terlalu besar."
Malam itu saya tidak bisa tidur. Kesalahan 6 tahun lalu terus terlintas. Waktu itu juga saya cuma lihat sisi baik Vietnam lalu ambil keputusan terburu-buru. Saya analisis ulang data. Memang banyak indikator positif, tapi kalau dilihat detail ada bagian yang mengkhawatirkan. Pertama, investasi terlalu terpusat pada perusahaan Cina. Kurang diversifikasi. Kedua, secara geografis juga hanya terpusat di Pulau Jawa, belum tersebar nasional. Yang ketiga, kebanyakan masih tahap konstruksi. Masih terlalu dini untuk menilai hasil sesungguhnya. Ah, jangan-jangan saya lagi-lagi melakukan kesalahan yang sama. Pikiran itu tidak hilang dari kepala. Ada pesan lagi dari New York di ponsel. "Jason, pemegang saham mendesak. Minggu ini harus ada jawaban pasti." Waktu benar-benar tinggal sedikit, tapi keputusan terburu-buru itu pantangan.
Pagi berikutnya, Dr. Ahmad menelepon. "Hari ini akan saya tunjukkan tempat istimewa seperti yang saya janjikan. Sudah siap." Kesempatan terakhir sehari ini bisa mengubah hidup saya. Tempat yang dituju Dr. Ahmad benar-benar di luar dugaan, bukan kantor pemerintah dekat istana Presiden, tapi workshop batik kecil di pinggiran Jakarta. Kenapa tiba-tiba ke sini? "Mau tunjukkan rahasia sesungguhnya Indonesia." Masuk ke workshop, ada nenek berusia 60-an yang sedang menggambar motif di kain dengan teliti. Pola yang rumit dan indah perlahan-lahan terbentuk di ujung jarinya. Batik adalah teknik tradisional kami, tidak mungkin dibuat dengan mesin. Nenek itu tersenyum sambil berkata pada saya, "Motif satu ini butuh 3 bulan untuk selesai. Kalau terburu-buru malah rusak. Harus perlahan teliti baru jadi karya yang benar-benar indah." Kata-kata itu menusuk hati. Saya selalu kejar hasil cepat. Ternyata yang benar-benar berharga itu butuh waktu. Dr. Ahmad berkata pelan, "Inilah cara kami. Cepat tidak selalu baik." Nenek itu tunjukkan proses pembuatan batik. Gambar sketsa garis dengan lilin, pewarnaan, pelepasan lilin. Setiap tahap butuh waktu yang cukup. Vietnam cepat tapi tidak tahan lama. Kami lambat tapi bangun fondasi yang pasti. Saat itu masa lalu saya terlintas. Tiga kali cerai, dua kali bangkrut. Semua karena terburu-buru. Kejar hasil cepat sampai hal penting justru terlewat. Saya sadar betapa bodohnya saya selama ini. Dr. Ahmad meletakkan tangan di bahu saya. "Bukan bodoh, cuma pandangan yang berbeda."
Keluar dari workshop batik, Dr. Ahmad membawa saya ke tempat lain. Ruang situasi ekonomi pemerintah, dinding penuh monitor. Data ekonomi nasional real time terus update. Ini senjata rahasia sesungguhnya kami. Di layar menampilkan informasi menakjubkan. Produksi real time tiap pabrik, situasi tenaga kerja, progres transfer teknologi, semua perusahaan investasi asing terhubung sistem ini. Monitoring real time benar-benar sistematis. Sistem manajemen investasi yang benar-benar baru berdasarkan transparansi dan kepercayaan. 2 tahun terakhir, teknologi yang ditransfer 257 kasus, tenaga lokal yang dilatih 150.000 orang. Angkanya mengejutkan, tapi yang lebih mengejutkan filosofi di baliknya. Kami tidak cuma tarik investasi. Kami membesarkan manusia. Orang-orang ini nanti yang akan upgrade seluruh industri Indonesia. Saat itu semua puzzle cocok. Yang dikejar Indonesia bukan cuma pertumbuhan ekonomi, tapi pembangunan berkelanjutan. Inilah bedanya dengan Vietnam. Vietnam untuk perusahaan asing datang cari untung pergi. Kami buat struktur tumbuh bersama. Model yang benar-benar inovatif dan saya paham kenapa ini bisa terjadi. Negara kami 300 suku, 700 bahasa hidup rukun jadi satu. Harmonisasi keberagaman adalah keahlian kami. Kata terakhir Dr. Ahmad memberi gema mendalam pada saya. Makanya antara kekuatan besar yang berbeda seperti Amerika dan Cina, kami bisa jaga keseimbangan.
Malam itu di hotel saya tulis laporan untuk Global Tech. Kesimpulan yang benar-benar berbeda dari 6 tahun lalu. Indonesia bukan cuma basis produksi sederhana. Ini partner masa depan yang sesungguhnya. Sehari setelah kirim laporan telepon dari New York, "Jason, analisis yang luar biasa. Dewan Direksi bulat setuju investasi Indonesia." Suara CEO Michael Johnson bercampur excitement. "Miliaran." "Tapi kali ini akan beda. Seperti yang kamu usulkan, kami akan buat model pertumbuhan bersama yang sesungguhnya dengan partner lokal." Sukses. Tapi sukses kali ini benar-benar berbeda dari 6 tahun lalu. Bukan cuma saya yang menang, tapi struktur yang semua orang menang bersama. Perubahan yang lebih penting terjadi di hati saya.
Seminggu kemudian saya ambil keputusan mengejutkan. Resign dari perusahaan yang sudah saya jalani 25 tahun. "Jason Killer." "Ini saat terbaik." Kenapa resign? Rekan-rekan tidak mengerti. Tapi saya yakin saya dirikan perusahaan konsultan baru. Namanya Bridge Partners. Ingin jadi jembatan yang menghubungkan budaya dan nilai yang berbeda. Project pertama tentu saja Indonesia, membantu Global Tech masuk Indonesia. Tapi kali ini dengan pendekatan yang benar-benar berbeda. Cari partner lokal, desain program transfer teknologi, rencana kontribusi masyarakat, semua dipikirkan dengan fokus pada manusia. 6 bulan kemudian, Public Global Tech Indonesia buka. Karyawan lokal 75%, transfer teknologi 30 kasus, partner kerja sama daerah 15. Semua indikator melampaui rencana. Yang lebih mengejutkan adalah ekspresi para karyawan. Orang China, Indonesia, Amerika tertawa bersama sambil bekerja. Melihat itu, hati saya terharu. Di acara peresmian saya bertemu Dr. Ahmad lagi. "Pak Richardson benar-benar berubah banyak." "Indonesia yang mengubah saya." "Bukan. Bapak menemukan yang sudah ada." Kata-katanya benar. Saya bukan jadi orang baru, tapi menemukan diri yang sesungguhnya. Sekarang perusahaan saya menyebarkan model saling menguntungkan di seluruh Asia. Di Vietnam mengusulkan cara investasi baru. Di India mendesain model pertumbuhan berkelanjutan. Belum lama ini ada undangan kuliah dari Harvard. Judulnya Kebenaran di balik angka: model pertumbuhan baru yang ditunjukkan Indonesia. Di kuliah saya bilang begini, "Data tidak bohong, tapi data tidak menceritakan semua kebenaran. Kebenaran sesungguhnya ada di hati manusia." Ada mahasiswa yang bertanya, "Profesor, apa yang paling penting untuk kita lihat?" "Hubungan perusahaan dengan perusahaan, negara dengan negara, manusia dengan manusia. Cari supaya semua hubungan bisa saling menguntungkan." Setelah kuliah, ada mahasiswa Korea yang menghampiri. "Profesor, saya juga mau jadi konsultan. Tolong kasih saran." "Jangan terburu-buru. Perlahan. Tapi bangun fondasi yang pasti. Yang paling penting, jangan lupakan manusia."
Malam itu di hotel saya tulis surat untuk Carolyn. "Caroline, kamu benar? Sukses yang sesungguhnya bukan dari angka, tapi dari hubungan. Sekarang saya paham." Tidak ada balasan, tapi tidak apa-apa. Yang penting saya sudah berubah. Belum lama ini ada kontak dari Indonesia. Tahun depan di Jakarta akan ada forum ekonomi saling menguntungkan Asia. Diminta pembicara utama. Judulnya sudah ditentukan. Kebijaksanaan batik: masa depan berkelanjutan yang diciptakan pertumbuhan lambat. Saya langsung terima hadiah yang diberikan Indonesia pada saya. Sekarang ingin saya bagi dengan orang lain. Apa perubahan seperti ini akan terus berlanjut sekarang? Saya yakin selama fokus pada manusia, sukses yang sesungguhnya akan terus berlangsung dan saya akan terus melanjutkan perjalanan itu. Perjalanan mencari kebenaran di balik angka. Yeah.