📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Al-Qur'an Sebagai Petunjuk Kehidupan - Ust. Rahmat Badani, Lc., M.A.

WahdahTV1:01:51

Transcription

[Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar para pemirsa Wahda TV sekalian? Semoga semuanya senantiasa dalam naungan keberkahan dan kebaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Alhamdulillahirobbilalamin washolatu wassalamu ala asrofil Ambiya Muhammad.

Selamat datang dalam program Konsultasi Syariah yang dipersembahkan oleh Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, yang tentu saja bekerja sama dengan Wahda TV. Melalui program Konsultasi Syariah ini, Dewan Syariah Islamiyah berharap mampu memberikan pemahaman serta bimbingan terhadap masalah-masalah syariat yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Pada malam hari ini, kami telah bersama dengan narasumber kita, salah seorang dosen di Makassar yang juga merupakan Wakil Sekretaris Dewan Syariah Islamiyah. Assalamualaikum.

Perjalanan TV, kami pahami bahwa dalam kehidupan, perjalanan kehidupan kita tentu saja ada masalah-masalah baru yang muncul yang membutuhkan panduan dari sudut pandang syariat. Untuk itu, Dewan Syariah Islamiyah berkomitmen untuk terus mampu memberikan jawaban yang berdasarkan pemahaman Salafus Shalih, para ulama kita.

Untuk itu, bagi setiap pemirsa yang hendak bertanya atau berkonsultasi, silahkan mengirimkan pertanyaannya ke kolom komentar YouTube ataupun Facebook Wahda TV, dan juga bisa melalui WA 0823 444445117.

Baik, sebelum kita mulai membacakan pertanyaan, saya terlebih dahulu mempersilakan Ustadz memaparkan materinya. Dan hari ini, masya Allah, materinya sungguh sangat menarik, yaitu Al-Qur'an sebagai petunjuk kehidupan. Untuk itu, kami persilakan kepada para pemirsa Wahdah TV yang dirahmati dan dimuliakan oleh Allah di manapun Anda berada.

Alhamdulillah, kita bersyukur hadirat Allah pada kesempatan yang berbahagia dan mulia ini, kita dapat berjumpa dalam acara Konsultasi Syariah Wahdah Islamiyah. Dan tentu saja, sebagaimana disebutkan oleh host kita tadi, tema yang akan kita angkat pada malam hari ini adalah petunjuk Al-Qur'an dalam kehidupan kita semua.

Ketika kita berbicara tentang hajat dan kebutuhan umat manusia, maka tentu saja kita bisa memasukkan sekian banyak hajat-hajat atau kita bisa menyebutkan sekian banyak hajat dan kebutuhan yang kita perlukan dalam kehidupan kita. Di sana sering kita mendengarkan bahwa di sana ada kebutuhan primer, ada kebutuhan yang tentu saja mesti terpenuhi, kemudian ada juga kebutuhan yang sekunder, tersier, dan seterusnya. Di dalam istilah para ulama kita atau istilah Arabnya disebut sebagai perkara-perkara yang darurat, ya, artinya dia adalah sesuatu yang mesti ada dalam kehidupan kita. Kemudian ada juga yang disebut sebagai masail atau hajiyat, artinya dia masuk dalam kategori kebutuhan-kebutuhan, hajat-hajat kita. Dan juga ada di sana yang disebut sebagai tahsiniat, artinya hal-hal yang menyempurnakan apa yang kita butuhkan.

Pada poin pertama dan kedua itu, kalau kita ingin memasukkan kebutuhan-kebutuhan kita ke dalam tiga kategori kebutuhan manusia yang umum ini, maka tentu saja kita bisa menyebutkan seperti keinginan atau hajat kita untuk makan, untuk minum, beristirahat, untuk bersosialisasi, dan seterusnya. Kebutuhan kita untuk memiliki sandang, pangan, dan sebagainya, tempat tinggal. Ini semua adalah kebutuhan-kebutuhan yang umumnya kita perlukan dalam kehidupan kita.

Namun, pemirsa sekalian, tahukah kita bahwa ternyata di balik seluruh kebutuhan tersebut, kita memiliki satu kebutuhan yang paling utama dan yang paling penting dalam kehidupan kita. Bahkan tidak akan mungkin kita bisa selamat dan bahagia dalam kehidupan dunia dan akhirat, kecuali apabila terpenuhinya kebutuhan yang utama ini. Kebutuhan tersebut bahwa kita perlu untuk senantiasa mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukan hanya sekali, bukan hanya dua kali, tiga, empat, dan seterusnya, namun dalam setiap kesempatan kehidupan kita, dalam setiap tarikan napas, dalam setiap kedipan mata, dalam setiap gerak-gerik tindakan, dalam setiap ucapan kata yang kita sampaikan, semuanya membutuhkan hidayah dan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Makanya kita bisa memahami ini, pemirsa sekalian, dari sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam hadis qudsi, di mana Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Apabila Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mencintai hambanya, maka Allah akan memanggil Jibril. Sesungguhnya saya telah mencintai hambaku Fulan bin Fulan, maka cintailah juga dia." Kemudian Jibril Alaihissalam turun dan bertemu dengan para malaikat Allah yang lainnya. Dan para malaikat bertanya kepada Jibril: "Wahai Jibril, apa yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Maka Jibril mengatakan: "Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mencintai Fulan, ya, maka kalian juga harus mencintai Fulan tersebut atau hamba tersebut." Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala kemudian apa namanya ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mencintai hamba tersebut, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala menjadikan seluruh umat manusia menjadi cinta terhadap hamba tersebut."

Nah, ini tentu saja hadis yang berbicara tentang cinta Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada seorang hamba. Dan cintanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala kepada seorang hamba, yastalzimu hidayatuhu. Maka tentu saja kalau Allah sudah cinta kepada hamba, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala pasti akan memberikan hidayah kepada hamba tersebut.

Di dalam hadis yang lain yang lebih jelas daripada hadis qudsi ini, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam masih dalam hadis qudsi, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: "Wala yazal." Tidaklah seorang hamba atau tidak ada sesuatu yang hambaku mendekatkan dirinya kepadaku lebih aku cintai dibandingkan dengan amalan-amalan kewajiban yang dia kerjakan. Dan tidaklah seorang hamba senantiasa mendekatkan dirinya kepadaku, kata Allah, sampai aku mencintai hamba tersebut. Kemudian apa kata Allah dalam hadis ini? "Fa idza ahbabtuhu." Kalau aku sudah mencintai hamba itu, "kuntu basarahu alladzi yasma'u bihi." Maka aku kata Allah akan menjadi pendengaran untuknya yang dengannya dia mendengar. "Wa basharahu alladzi yubsiru bihi." Dan aku kata Allah akan menjadi penglihatan yang dengannya dia melihat. "Wa yadahu allati yabtisyu biha." Dan aku kata Allah akan menjadi tangan yang dengannya dia bangga mengambil, melepaskan, memberi, dan seterusnya. "Wa rijlahu allati yamsyi biha." Dan aku kata Allah akan menjadi kedua kakinya yang dengannya dia melangkahkan, melangkahkan kemanapun dia dia ingin pergi.

Artinya, pemirsa sekalian, bahwa ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah mencintai seorang hamba, Allah akan memberikan hidayah baginya. Bukan berarti Allah akan menjadi pendengarannya, bukan berarti Allah akan menjadi penglihatannya. Tidak. Namun maknanya bahwa Allah akan menuntun pendengarannya. Dia tidak akan mendengarkan kecuali apa yang Allah ridhai untuknya. Allah akan menuntun kedua matanya. Dia tidak akan melihat kecuali apa-apa yang diridhai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allah akan menuntun kedua tangannya. Yang dengannya dengan tuntunan tersebut, dengan hidayah tersebut, hamba itu akan mengambil, memberikan, melepaskan, menggenggam segala sesuatu yang dibolehkan dan dihalalkan serta diridhai oleh Allah. Ketika Allah menuntun menjadi kaki seorang hamba yang dicintainya, Allah akan menuntun kedua kaki tersebut untuk pergi ke tempat-tempat yang dicintai dan diridhai oleh Allah, dan tidak akan melangkahkan kedua kakinya kepada tempat-tempat yang dimurkai dan dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Makanya dari dua hadis ini, pemirsa sekalian, kita bisa memahami bahwa seorang hamba sangat membutuhkan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ya, apapun itu dalam kehidupan kita, kita butuh dengan hidayah dan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Makanya tidak kurang 17 kali sehari semalam bagi orang Muslim dan Mukmin yang mengerjakan ibadah salat, tidak kurang 17 kali dalam sehari semalam kita berdoa kepada Allah dalam surah Al-Fatihah: "Ihdinas shirotol mustaqim." Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus.

Ya Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan janji kepada hamba-Nya: "Berdoalah kepada saya, kata Allah, saya akan penuhi doa tersebut, saya akan berikan jawaban untuk doa tersebut." Nah, sekarang kita berdoa kepada Allah: "Ya Allah, berikanlah petunjuk ya kepada jalan yang lurus, kepada jalan yang benar." Yang menariknya, mungkin orang-orang barat, orang-orang luar sana, mungkin terheran-heran melihat kenapa umat Islam setiap kali mengerjakan ibadah salat dalam setiap rakaatnya mereka selalu meminta untuk diberikan petunjuk. Mungkin ada yang mengatakan, "Bukankah itu adalah berdoa, bentuk doa ya, yang sebenarnya tidak diperlukan sebenarnya? Kenapa? Karena kita sudah salat, kita sudah mengerjakan ibadah puasa Ramadan, kita sudah mengerjakan mengeluarkan harta zakat bagi yang telah wajib zakat, kita telah mengerjakan ibadah-ibadah, banyak berzikir, membaca Al-Qur'an, dan seterusnya, menyambung silaturahim. Lantas kenapa kita berdoa kepada Allah sebanyak minimal 17 kali sehari semalam? Lantas apa gunanya kita banyak berdoa kepada Allah untuk diberikan petunjuk pada hari kita sendiri sudah mendapatkan petunjuk?"

Alasannya, pemirsa sekalian yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, karena memang kehidupan kita ini penuh dengan ujian cobaan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada kita, sehingga setiap kali kita bertemu dengan ujian cobaan, musibah, dan apapun itu yang terjadi dalam kehidupan kita, maka kita selalu butuh dengan hidayah dan petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nah, olehnya itu, kita terus berdoa kepada Allah, meskipun dengan doa yang sama, namun memang karena setiap kehidupan kita ini, setiap fase dan setiap potret kehidupan kita ini, memang selalu butuh hidayah dari Allah. Kalau tidak ada hidayah dan petunjuk dari Allah, kita bisa tergelincir dari jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ya, makanya kita terus mengulang-ulang doa tersebut, ya, agar kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam setiap kali kita bertemu dengan masalah, bertemu dengan problem, bertemu dengan apa namanya kesulitan dalam kehidupan, juta apapun itu, bahkan terkadang mungkin dengan kesenangan, kebahagiaan, ketika kita mendapatkan kesenangan, kebahagiaan, tetap juga kita butuh petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ya, kenapa? Khawatir jangan sampai kebahagiaan dan kesenangan itu yang menjadikan kita lalai dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sekian banyak orang yang lulus dari ujian kesulitan dan kepayahan dalam kehidupan, namun sungguh sangat sedikit orang-orang yang lulus dari ujian kesenangan, kebahagiaan, dan kelapangan hidup di dunia ini.

Nah, olehnya itu, pemirsa sekalian, kita terus banyak mengulang doa kita kepada Allah: "Ihdinas shirotol mustaqim," supaya setiap saat kita berada di bawah dan di dalam petunjuk dan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Kemudian pelajaran yang lain, bahwa karena memang hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu terbagi ke dalam beberapa bentuk. Ya, jadi jangan sampai ada di antara kita yang mengira bahwa hidayah yang datang dari Allah itu hanya satu bentuknya. Tidak. Ternyata ada banyak bentuk hidayah yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada umat manusia. Nah, kalau kita menelusuri misalnya ayat-ayat Al-Qur'an yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan, maka kita akan bertemu ternyata paling tidak, paling tidak, ada empat bentuk hidayah yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada makhluk-Nya. Ya, ini berdasarkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an. Tentu saja umumnya, umumnya kita para ikhwah dan akhwat, para pemirsa sekalian, mengetahui bahwa di dalam Al-Qur'an ada dua bentuk hidayah. Yang pertama disebut sebagai hidayatul irsyad wal bayani wal hujjah, yang kedua adalah hidayatullah. Nah, ini hidayatul irsyad dan hidayatullah ini adalah dua hidayah yang umumnya kita ketahui. Namun, kita mesti paham, pemirsa sekalian, bahwa di sana ada dua jenis hidayah yang lainnya. Nah, makanya kita akan sebutkan pada kesempatan malam hari ini, ada empat jenis hidayah yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala terangkan melalui ayat-ayat Al-Qur'an, yang boleh saja mungkin akan lebih dari empat poin kalau kita lebih mendalami ayat-ayat Al-Qur'an, atau mungkin lebih banyak dari itu kalau kita bisa mengeluarkan faedah-faedah dan keutamaan-keutamaan penjelasan-penjelasan yang terkandung dalam ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Hidayah yang paling pertama, pemirsa sekalian, dan ini adalah hidayah yang umum, yang disebut sebagai al-hidayah al-ammah, yang mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan hidayah amma ini kepada siapapun dari seluruh makhluk-Nya, ya, tanpa terkecuali, yang kemudian disebut sebagai mungkin dalam bahasa kita atau istilah kita disebut sebagai naluri kita sebagai manusia, naluri jin, sebagai bangsa jin, naluri hewan, sebagai bentuk makhluk yang lainnya, naluri tumbuhan. Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada mereka petunjuk yang umum, yang kemudian menjadikan mereka ini secara keseluruhan tanpa terkecuali berjalan di atas ketentuan dan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Termasuk misalnya bumi, termasuk langit, termasuk ke, apa namanya, sungai-sungai, lautan, termasuk ke bulan, matahari. Itu semuanya terjadi berdasarkan hidayah amma yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada mereka.

Saya kasih contoh misalnya, di dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan: "Tidak pantas dan tidak berhak matahari mendahului bulan, dan tidak boleh malam mendahului siang." Ini di antara ayat, pemirsa sekalian, yang menunjukkan kepada kita bahwa antara bumi dan antara langit, antara matahari dan bulan, antara siang dan malam, ternyata Allah sudah berikan hidayah untuk mereka. Allah sudah berikan naluri, Allah sudah berikan sunnatullah, ketetapan untuk mereka, bahwa matahari tidak boleh mendahului bulan, dan bulan tidak boleh mendahului matahari, sebagaimana siang yang tidak boleh mendahului malam, malam juga tidak boleh mendahului siang. Semuanya berjalan sesuai dengan sesuai dengan garis kodrat masing-masing. Nah, inilah hidayah amma yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengambil faedah ini atau jenis hidayah ini, pemirsa sekalian, dari firman Allah di dalam surah Thaha ayat yang ke-50, ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengabadikan salah satu potret percakapan antara Firaun dengan Musa Alaihissalam, di mana Firaun mengatakan: "Firaun berkata, wahai Musa, siapakah itu Tuhanmu?" Maka Nabi Musa mengatakan: "Qola robbuna." Dia mengatakan, "Tuhan kami, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala, alladzi a'ta kulla syai'in khalqahu summa hada." Jadi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Tuhan kami adalah Allah yang telah memberikan kepada setiap ciptaannya atau kepada setiap apapun juga, kula syai'in khalqahu, bentuk penciptaannya, summa hada, kemudian setelah itu Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Jadi petunjuk yang dimaksud di sini adalah karena Allah membahas masalah, semua penciptaan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala ciptakan di alam semesta ini, summa hada, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada setiap mereka, maka semuanya include masuk di dalamnya. Mau yang kafir, mau yang beriman, mau yang fajin, mau yang mukmin, semuanya mendapatkan hidayah amma ini. Contoh, ketika kita lapar, maka kita makan. Nah, itu hidayah. Ketika kita mengantuk, maka kita tidur. Itu juga hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tapi hidayah ini tidak membedakan antara yang baik dan yang buruk, tidak membedakan antara yang mulia dan hina di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Semuanya dapat. Di antara bentuk hidayah amma ini, pemirsa sekalian, semua makhluk Allah mendapatkan rezeki. Semuanya mendapatkan rezeki. Makanya kalau kita lihat orang-orang kafir kok mereka kaya raya? Ya, karena memang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah berikan sunnatullah-Nya untuk mereka seperti itu. Allah berikan ujian kepada mereka, diberikan kekayaan yang melimpah ruah di dalam kehidupan mereka, untuk menjadi salah satu sebab kelak pada hari kiamat nanti kalau mereka tidak beriman, akan diberikan ganjaran keburukan, azab yang berlipat ganda juga untuk mereka. Nah, makanya semua kita ini mendapatkan hidayah amma, dan setiap kita pasti membutuhkan hidayah amma ini, karena tidak akan berjalan dengan benar dan baik, ya, sesuai dengan ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kecuali dengan adanya hidayah amma ini. Nah, ini jenis yang pertama.

Jenis yang kedua, pemirsa sekalian, ini yang tadi kita sebutkan, yaitu hidayatul irsyad. Hidayatul irsyad. Apa ini hidayatul irsyad? Hidayatul irsyad ini adalah petunjuk yang setiap kita akan memilikinya ketika kita memiliki ilmu pengetahuan. Jadi, setiap orang akan memiliki hidayah insyad atau petunjuk arahan, ya, kalau kita memiliki ilmu pengetahuan. Makanya tugas para nabi dan rasul itu, kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Rasul tugas para nabi dan rasul itu adalah mubassirin, memberikan kabar gembira bagi umat manusia dan memberikan peringatan untuk mereka, kemudian pada Allah supaya tidak ada lagi hujjah untuk mereka yang mereka bisa gunakan di hadapan Allah kelak pada hari kiamat setelah diutusnya para rasul." Ya, jadi para rasul itu mereka diutus oleh Allah untuk menjelaskan hujjah, untuk menjelaskan agama kepada umat manusia. Nah, agama yang dijelaskan oleh para nabi dan rasul inilah yang kemudian disebut sebagai hidayatul irsyad. Makanya ayat yang berkaitan dengan masalah ini adalah firman Allah: "Inna ka lada illa sirotil mustaqim." Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau benar-benar memberikan hidayah, petunjuk kepada jalan yang lurus. Nah, yang dimaksud dengan hidayah di sini adalah hidayatul irsyad. Kenapa? Karena Nabi Muhammad bisa dengan kemampuan beliau, dengan qudrah dan kemampuan yang Allah berikan kepada beliau, beliau bisa menjelaskan kebenaran kepada umat manusia. Makanya ketika Nabi Muhammad mentransfer ilmu pengetahuan kepada umat manusia, kepada para pengikutnya, maka pada saat itu para pengikut tersebut mendapatkan hidayatul irsyad. Mereka mendapatkannya hidayatul irsyad melalui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang Allah berikan kepada mereka berupa ilmu pengetahuan. Makanya tadi kita katakan, hidayatul irsyad wal bayani wal hujjah. Jadi, siapapun yang mengetahui dan memiliki ilmu, ilmu agama, ya, di dalam agama ini, dalam kehidupan ini, pemirsa sekalian, maka dia telah mendapatkan hidayatul irsyad.

Hanya saja, ini penting untuk kita pahami, pemirsa sekalian, sekedar mendapatkan hidayah itu tidak cukup. Itu tidak cukup. Harus ada hidayatut taufiq. Hidayah itu taufiq. Inilah yang membedakan antara mereka yang baik dan mereka yang buruk, mereka yang selamat dan mereka yang sengsara. Maksudnya bagaimana? Karena hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan tidak dimiliki oleh siapapun, bahkan para nabi dan rasul sekalipun, mereka tidak memiliki kemampuan untuk menjadikan umat manusia mendapatkan hidayah itu taufiq. Hidayah. Ketika Nabi Muhammad, siapapun itu yang memiliki ilmu pengetahuan, Nabi Muhammad ke para sahabatnya, para salafus shaleh, atau para ulama, para da'i, semuanya memiliki potensi untuk menyalurkan dan memberikan hidayah itu irsyad melalui penjelasan, melalui ta'lim, melalui bayanul hujjah, melalui mau'idhoh, melalui nasihat, dan sebagainya. Melalui jihad ini semua jalan-jalan metodologi untuk menyampaikan hidayatul irsyad. Cuman menyampaikan hidayatul irsyad ini tidak akan merubah kehidupan seseorang kecuali hidayatullah atau taufiq sampai kepada mereka. Maksudnya apa? Karena hidayatut taufiq inilah yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang memilikinya, yang akan diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Karena hidayatut taufiq itu sebenarnya adalah hidayah, petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi seorang hamba untuk mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah mereka ketahui. Jadi taufiq di sini yang dimaksud adalah kemampuan mereka, izin dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar mereka mampu melakukan amalan-amalan yang telah mereka ketahui.

Nah, di sinilah bedanya, pemirsa sekalian, orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan mengamalkannya, dan orang yang punya ilmu pengetahuan tapi tidak mengamalkannya. Orang yang punya ilmu pengetahuan kemudian dia tidak mengamalkannya, itu berarti dia sudah mendapatkan hidayah tapi tidak mendapatkan hidayah itu taufiq. Kenapa? Karena mereka tahu ilmunya tapi tidak tidak mampu mentransfer ilmu tersebut menjadi menjadi sebuah amalan. Bahkan orang yang punya ilmu pengetahuan tapi tidak mengamalkan ilmu pengetahuan tersebut, jadi dianggap oleh para ulama kita sebagai orang yang munafik. Bahkan kalau ada orang yang memiliki ilmu pengetahuan, ilmu agama misalnya bagus, ilmu agamanya tapi tidak mengamalkan dan tidak mendakwahkannya, justru dia lebih condong untuk memerangi agama Islam atau memerangi agama Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka orang yang seperti inilah yang kata Allah diberikan permisalan di dalam Al-Qur'an, ya, seperti seekor anjing. Entah hamil kenapa? Karena dia lebih cinta dengan kehidupan dunia dan meninggalkan ilmu agama yang telah diajarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Nah, ini kita sudah mempelajari tiga bentuk hidayah. Yang pertama, hidayah amma. Hidayah irsyad. Hidayat taufiq, yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Makanya Allah katakan: "Innaka la tahdi man ahbabta walakinnallaha yahdi mayyasya'." Jadi, kamu wahai Muhammad, kata Allah, benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk memberikan hidayah kepada siapa yang engkau cintai. Kenapa? Karena yang dimaksud dengan hidayah dalam ayat ini, pemirsa sekalian, adalah hidayatut taufiq, yang hanya dimiliki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau sudah sampai pada ranah taufiq dari Allah untuk mengamalkan sebuah ilmu pengetahuan, maka ini hanya masuk dalam ranah haknya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak dimiliki oleh siapapun, bahkan seorang nabi dan rasul sekalipun, bahkan para malaikat sekalipun, tidak memiliki kemampuan untuk memberikan hidayah taufiq kepada siapapun yang mereka inginkan.

Nah, yang terakhir, pemirsa sekalian, ini yang disebut sebagai al-hidayah, yaitu petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk mengetahui jalan menuju surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Nah, kalau kita mau runut sebenarnya, jadi yang paling umum itu adalah hidayah amma ini, yang paling umum, semuanya dapat. Kemudian ketika Allah mengajarkan ilmu pengetahuan kepada seseorang, maka dia mendapatkan hidayatul irsyad. Kemudian kalian lebih khusus lagi, lebih khusus lagi, setelah dia dapat ilmu pengetahuan, dia dapat hidayah taufiq untuk mengamalkan ilmu itu, maka di sini masuk ya, orang-orang beriman, orang-orang bertakwa, para wali-wali Allah, para nabi dan rasul, para ulama. Ah, ini masuk semua di sini. Kemudian jenis yang keempat ini, ini yang jauh lebih khusus lagi, tentu saja. Apa itu? Al-hidayah thoriqil jannah, ya, petunjuk dari Allah yang tidak akan mungkin diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Dan petunjuk ini hanya akan diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi orang-orang beriman dan beramal saleh kelak pada hari kiamat. Makanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan dalam surah Yunus: "Innalladzina amanu wa amilus sholihati yahdihim robbuhum biimanihim." Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh dalam kehidupan dunia, "yahdihim robbuhum biimanihim." Maka Tuhan mereka akan memberikan petunjuk bagi mereka atas dasar keimanan mereka masing-masing. "Tajri min tahtiha al-jannatu an-naim." Yamana. Ketika mereka telah mendapatkan hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala tersebut, ternyata mereka mendapatkan hidayah untuk memasuki surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang di bawahnya mengalir sungai-sungai yang sangat indah.

Nah, makanya jenis hidayah yang keempat ini, pemirsa sekalian, inilah hidayah yang paling khusus, yang tidak diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala kecuali dalam kehidupan akhirat kelak, dan hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang akan memasuki dan menempati surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ini pemirsa sekalian yang dirahmati oleh Allah, empat jenis hidayah yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala terangkan kepada kita melalui ayat-ayat Al-Qur'an. Dan mudah-mudahan kita semuanya mendapatkan karunia terbesar dari Allah untuk memiliki keempat hidayah ini. Hidayah amma, naluri kita sebagai seorang manusia biasa. Kemudian hidayatul irsyad, mendapatkan ilmu pengetahuan, bayan, dan kerja. Hidayatut taufiq, dari Allah untuk mengamalkan ilmu yang telah kita miliki itu. Dan yang terakhir adalah Allah memberikan petunjuk kepada kita semuanya untuk masuk ke dalam surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala kelak pada hari kiamat.

Ini ada pesan saya sampaikan. Terima kasih, Ustadz, atas nasehatnya. Alhamdulillah, kita telah mendengarkan beberapa nasehat yang cukup bermanfaat, insya Allah bisa kita amalkan dalam kehidupan keseharian kita. Selanjutnya, saat kita akan beralih ke sesi diskusi atau tanya jawab. Oleh karena itu, kami ingatkan sekali lagi bahwa peserta atau pemirsa yang hendak bertanya, silahkan mengirim pertanyaannya di kolom chat YouTube maupun Facebook, atau bisa ke nomor WA 0823 44444 5116.

Apakah hidayah itu murni hidayah secara umum? Maksudnya, apakah murni itu hidayah dari Allah, atau sebenarnya manusia bisa mengusahakan sendiri? Karena kadang sekarang itu kalau orang disuruh salat misalnya, jawabannya, "Kalau saya mau salat sekarang, saya tidak mau." Jadi, sebenarnya ini di antara alasan dan hujjah yang biasa disebutkan oleh manusia. "Kalau seandainya saya mau salat, maka saya akan pergi salat." Jadi, sebenarnya ini menjadi hujjah. Sebenarnya ada ada alasan di balik daripada perkataan itu. Sebenarnya dia sebenarnya ingin mengatakan bahwa, ya, cuman karena saya belum belum diberikan petunjuk oleh Allah saja, sehingga saya tidak salat. Sebenarnya maksud perkataannya begitu. Dia mengatakan, "Seandainya saya mau salat, maka saya akan mengerjakan ibadah salat." Tapi karena saya belum mau salat, maka saya tidak, maka saya tidak salat. Jadi, sebenarnya dia sebenarnya tidak ingin menuduh menuduh kepada Tuhan secara langsung, sehingga dia mengatakan, "Seandainya saya mau salat, ya, maka saya akan pergi salat." Jadi seakan-akan perkataannya tidak secara langsung dia ingin mengatakan, ya, "Kalau seandainya Tuhan memberikan petunjuk kepada saya, maka saya akan mengerjakan ibadah salat." Nah, ini sebenarnya adalah hujjah yang lemah dan telah disebutkan dalam Al-Qur'an bantahannya. Tentu saja di mana Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengatakan orang-orang musyrik mengatakan, "Kalau seandainya Allah mau, maka kami dan orang-orang tua kami tidak akan melakukan kesyirikan." Cuman karena Allah mau, kami melakukan kesyirikan, maka kami melakukan kesyirikan. Jadi, ini bantahan. Bantahannya apa? Kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Demikian juga orang-orang sebelum mereka, hujjah mereka seperti itu. "Cuman karena Allah mau, akhirnya saya melakukan perbuatan kemusyrikan itu." "Seandainya Allah mau saya berbuat kebaikan, maka saya akan berbuat kebaikan." Maka apa kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala? "Fa lahum 'adhabuna." Maka mereka merasakan azab kami. Nah, ulama kita mengatakan, seandainya hujjah mereka ini benar di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tidak mungkin Allah mengazab mereka. Makanya alasan mereka adalah alasan yang tidak dibenarkan. Dan seseorang itu dengan dengan fitrah, dengan hidayah amma, dengan fitrah naluri, serta ilmu pengetahuan, termasuk juga wahyu yang Allah berikan kepada umat manusia, kemauan dan kemampuan mereka untuk berbuat baik dan berbuat keburukan, sebenarnya kita bisa mengupayakan untuk apa? Untuk mendapatkan hidayah. Itu hanya saja kita yang tidak ingin dan tidak mau mengupayakan untuk mendapatkan hidayah itu, padahal telah jelas hujjah Allah Subhanahu Wa Ta'ala diberikan kepada umat manusia. Allahualam.

Kami akan memecah. Ada pertanyaan masuk. "Ketika seumur hidup kita cuman membaca Al-Qur'an dan tanpa memahami maknanya, kemudian meninggal, apakah termasuk dalam surah Thaha ayat 124?" [Musik] Jadi, membaca Al-Qur'an tanpa berupaya memahami, apa namanya, kandungan Al-Qur'an itu sendiri. Nah, ini tentu saja kita tidak katakan adalah kesalahan, akan tetapi dia bentuk kekurangan, tentu saja, ya. Kekurangan bagi orang-orang yang telah Allah karuniakan Al-Qur'an kepada kepada mereka. Jadi, padahal di dalam Al-Qur'an sendiri Allah Subhanahu Wa Ta'ala: "Afala yatadabbarunal Qur'an am 'ala qulubin aqfaluha?" Apakah mereka tidak mentadaburi Al-Qur'an? Apakah di dalam hati mereka telah ada gembok-gembok? Gembok-gembok dalamnya? Nah, harus kita pahami bahwasanya yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an di dalam ayat ini bukan berarti dia adalah orang beriman. Bukan berarti dia adalah orang beriman. Tidak. Tapi dimaksud dengan orang yang tidak mentadaburi ayat Al-Qur'an di sini adalah mereka yang belum beriman kepada Al-Qur'an. Kenapa? Karena Allah mengatakan itu di dalam penjelasan para ulama kita, seperti perkataan Mujahid. Misalnya, jadi ada tiga tingkatan itu sebenarnya, kata Mujahid. Yang paling pertama, ketika hati itu ada rain di dalamnya. Rain itu disebutkan dalam yang paling pertama, kalau kita berbuat dosa, maka muncul satu titik hitam. Semakin lama berbuat dosa, semakin banyak titik hitamnya. Itu dulu. Pertama. Kemudian yang kedua, itu disebut sebagai at-taba'. Itu artinya penutup. Nah, ini yang disebutkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Al-Qur'an: "Innalladzina kafaru 'alaihim." Lebih parah dari penutup adalah apa? Al-qufl. Ayat yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Kafir yang sebenarnya. Mereka sebenarnya ketika diperdengarkan ayat Al-Qur'an kepada mereka, mereka tahu artinya. Kan orang-orang kafir Quraisy, mereka tahu artinya, tapi mereka tidak mau mentadaburi apa maknanya. Nah, makanya Allah katakan, mungkin sudah ada kunci di dalam hatinya mereka. Sudah tahu sebenarnya apa makna daripada ayat Al-Qur'an tersebut yang mereka dengarkan, tapi mereka tidak berupaya untuk mentadaburinya. Makanya tidak sampai hidayah kepada mereka. Nah, sekarang kita bawa ayat ini dalam kehidupan kita. Tentu makanya tadi kita katakan, kalau kita meninggal dunia sedangkan amalan kita hanya sekedar membaca, yang meskipun membaca Al-Qur'an saja itu sudah luar biasa, kan? Ya, karena di sana ada banyak orang yang tidak membaca Al-Qur'an, padahal dia adalah muslim. Cuman patokan kita bukan orang-orang rendah, gitu kan? Makanya dalam hadis Nabi: "Umro man a'dla fa'lamu asfalamikum wala tamduri illa man fak." Jangan lihatlah kepada orang yang lebih berani membawa kalian. Jangan lihat kepada orang yang ada di atas kalian. Maksudnya dalam urusan dunia. Dalam urusan akhirat, yang harus kita jadikan patokan itulah Nabi Muhammad, Nabi Muhammad, kemudian Abu Bakar, kemudian Umar, Utsman, Ali, dan para sahabat, kemudian salafus shaleh. Itu yang menjadi patokan kita. Makanya ulama mengatakan, "La hum." Nah, makanya kita katakan tadi, kalau ada orang yang membaca Al-Qur'an hanya menghabiskan seluruh hidupnya dengan baca Al-Qur'an, itu bagus. Cuman ada kekurangan di dalamnya. Kenapa? Karena Al-Qur'an itu diturunkan oleh Allah, lihat baru ayat ini, supaya umat manusia mentadaburi dan berupaya memahami kandungan makna-makna ayatnya.

Ada pertanyaan menarik dari David. "Saya sering mendengar dialog agama dan saya rasa Islam adalah agama yang benar. Namun, saya berada di lingkungan yang sama sekali tidak mendukung untuk menjadi orang Islam. Bagaimana kami yang ingin menjadi orang Islam seperti ini?" Jadi, ini mungkin non-muslim yang bertanya. Masya Allah. Berada dalam lingkungan yang tidak mendukung dia untuk memeluk agama Islam, padahal dia sendiri meyakini bahwa saudara David ini sudah meyakini bahwasanya agama Islam adalah agama yang agama yang benar. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh saudara David ini adalah satu dorongan kuat sebenarnya. Dorongan kuat untuk kemudian, apa namanya, berani meninggalkan atau berani menerima perubahan itu. Nah, itu sebenarnya. Dan berani menerima perubahan itu tentu saja, ya, salah satu konsekuensinya atau salah satu apa namanya, akhir dari ending daripada berani menerima perubahan itu adalah harus siap menerima konsekuensi yang terjadi dalam kehidupan kita. Ya, makanya di sini melalui melalui konsultasi syariah ini, saya menantang akdevitina itu, saudara David ini, kalau antum, kalau Anda berani atau ingin menerima perubahan dalam kehidupan Anda, maka terimalah agama Islam. Terima agama Islam. Karena kalau sudah menjadi keyakinan kita, keyakinan David, bahwasanya agama Islam itu adalah agama yang benar, lantas kita tidak berupaya untuk mendekati keyakinan tersebut dan menerimanya, seluruh tubuh kita atau di seluruh tubuh kita ini, maka kita akan terus berada dalam kesengsaraan itu. Kenapa? Karena karena kita memiliki keyakinan bahwa agama Islam adalah agama yang benar, namun kita belum berani untuk menerima perubahan yang ada. Jadi, kalau memang saudara David berani untuk menerima perubahan, berani untuk, ya, apa namanya, menerima seluruh konsekuensi terjadinya perubahan itu, maka silahkan baca Al-Qur'an, lalu kemudian datangi para ulama, datangi para ustaz-ustaz di tempat Anda berada, dan sampaikan bahwasanya saya ingin mendapatkan dorongan motivasi yang lebih kuat lagi agar kemudian saya siap menerima agama Islam dalam keadaan yang berat sekalipun. Nah, tentu saja bukan saudara David saja. Ya, seorang ya di luar sana ada banyak. Di luar sana ada banyak yang memiliki keadaan yang sama, sampai harus dikucilkan, harus diusir, bahkan harus di, apa namanya, tidak diterima lagi oleh masyarakat tempat tinggal dia, bahkan keluarganya sendiri, bahkan istri sendiri, bahkan suami sendiri, bahkan ibu, bapak, saudara, kakak, dan adik, semuanya tidak menerimanya. Akan tetapi, siapalah mereka itu, akhir David, saudara David? Siapa mereka itu dibandingkan dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan David, yang menghidupkan David, yang memberikan karunia kepada David, yang akan mematikan David, dan akan memasukkan David ke dalam surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala apabila Anda berani menerima perubahan, memeluk agama Islam, dan meninggal sebagai seorang muslim. Saya selalu sampaikan perkataan ini: "Idza kanallahu ma'aka, faman 'alaika?" Kalau David sudah bersama dengan Allah, maka mau takut kepada siapa lagi? Allah pemilik alam semesta sudah bersama David. Mau takut sama siapa? Takut sama orang tua Anda? Perlu takut sama orang tua karena orang tua juga ada ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yakin kita karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak bersama dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam artian tidak memeluk agama yang Allah ridhai, agama Islam ini, sebagaimana keyakinan David. Berharap kepada siapa? Berharap kepada ibu bapak? Mana ibu bapak juga akan meninggal nanti. Berharap kepada pekerjaan-pekerjaan akan habis, mungkin bisa kena PHK. Berharap kepada istri, berharap kepada anak-anak, kepada kolega, semuanya bergantung kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalau Allah tidak bersama kita, maka kepada siapa kita mau berharap? Berharap kepada diri sendiri? Diri sendiri saja kita tidak pahami secara 100%. Makanya terakhir saya sampaikan kepada akhir Devi, saudara David, saya menantang saudara David untuk menerima, untuk siap menerima perubahan dalam kehidupan saudara David. Kalau memang betul Anda siap menerima perubahan tersebut. Namun, tentu dibutuhkan kesungguhan dan motivasi yang sangat besar, dorongan yang sangat besar, dan itu bisa didapatkan kalau David semakin banyak belajar, semakin banyak membaca, semakin banyak mendengar, dan banyak bertanya kepada para ulama-ulama umat Islam.

"Apakah bagi wanita dibolehkan memberikan syarat kepada calon suaminya agar tidak atau meninggalkan rokok? Dan bagaimana kalau suaminya itu akhirnya tidak konsisten?" Ditanyakan, "Bagaimana kalau seorang istri mempersyaratkan calon suami untuk meninggalkan rokok?" Ini tentu adalah hal yang baik, ya, dan ini dibolehkan dalam pernikahan. Nah, ini disebut sebagai syurutun fil nikah, syarat-syarat yang disebutkan oleh salah satu dari kedua mempelai di dalam pernikahan. Ini berbeda dengan syurutun nikah. Syurutun nikah itu artinya syarat-syarat yang yang mesti harus ada di dalam pernikahan supaya nikahnya itu menjadi nikah yang sah. Itu nikah. Sebagai contoh, misalnya ada wali, ya, ada wali, maksudnya wali perempuan, kemudian ada mempelai laki-laki, perempuan, kemudian ada ijab qabul, ada saksi. Ya, ini syarat-syarat dalam pernikahan supaya nikahnya sah. Tapi kalau dikatakan syurutun finnikah, syarat-syarat di dalam pernikahan, maka ini adalah kembali kepada ini adalah syarat-syarat yang disebutkan di dalam akad atau sebelum akad, agar kemudian pihak yang satunya, entah itu istri ataukah suami, ketika dia menerimanya, maka dia harus menerima konsekuensinya, harus menjalankan itu. "Wal muslimuna 'ala syurutin," sebagaimana hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang shahih, "setiap muslim haruslah berpegang dan mengamalkan syarat-syarat yang dibebankan atas mereka." Ya, kalau misalnya istri sebelum akad nikah, misalnya istri atau calon istri mengatakan, "Saya akan menerima kamu kalau kamu berhenti merokok." Kemudian sang calon suami mengatakan, "Saya siap berhenti merokok." Namun, setelah pernikahan terjadi, ternyata setelah sebulan, dua bulan, ternyata suaminya kembali merokok lagi. Maka di sini sang suami tentu saja telah menyalahi janjinya, telah menyalahi syarat yang disampaikan atau dipersyaratkan oleh seorang istri kepada kepada suaminya. Dan dalam keadaan ini, maka dia telah melakukan perbuatan dosa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala karena melanggar, melanggar janjinya. Nah, di sini tentu saja seorang istri berhak kalau begitu untuk menyampaikan gugatan, kenapa? Karena dia telah menyalahi janjinya sebelum akad pernikahan, akad pernikahan tersebut. Kecuali kalau sang istri mempersyaratkan sesuatu yang menjadi sebab batalnya pernikahan. Nah, kalau dia persyaratkan itu, kemudian dia langgar, otomatis seperti batal pernikahannya.

Pertanyaan selanjutnya. "Apakah tidak termasuk pembagian warisan bila pembagian itu dilakukan oleh orang tua di masa masih hidup, sehingga pembagiannya pun tidak mengikuti hukum waris?" Jadi, yang pertama, yang musti kita pahami bahwa pembagian atau harta warisan itu ada kalau orangnya sudah meninggal. Jadi, ya, namanya juga diwariskan. Jadi, harta warisan itu belum disebut sebagai harta warisan kecuali kalau pemilik harta itu sudah meninggal. Kalau dia sudah meninggal, baru dikatakan sebagai al-mirats atau dikatakan sebagai at-tarikah, harta yang ditinggalkan.

[Musik]

Sebagai harta warisan, nah bagaimana kalau seandainya pemilik harta itu sudah mau membagi, misalnya sebelum dia meninggal dunia? Karena memang ada juga masalahnya sebenarnya, karena terkadang kalau sesama mereka, sesama anak-anak yang membagi, pasti terjadi pertengkaran. Nah, sekarang si bapak, ya, yang membaginya langsung. Nah, tentu saja ini tetap boleh dilakukan, artinya bisa dilakukan yang seperti ini. Namun, harus tetap dijalankan sesuai dengan dengan ketentuan hukum waris, ya.

Jadi, kalau misalnya dia laki-laki dan perempuan anaknya, misalnya, maka berlaku ashobah. Kalau ada ibu dan bapak yang masih hidup, maka berlaku juga, misalnya. Kemudian ada saudara, paman, kakak, adik, dan seterusnya. Ah, ini berlaku semuanya harus diperhitungkan dan jangan dihitung cuman cuman anak-anak keturunan saja atau cucu-cucu saja, ya. Harus dihitung juga, misalnya kalau seandainya anaknya misalnya anaknya cuman satu orang perempuan saja, maka otomatis biasanya kalau ada bapak, misalnya ada ibu atau kakek dan nenek atau kan, misalnya ada paman atau saudara, ya, saudara dari si bapak pemilik harta ini, atau ada saudarinya, dan seterusnya. Ini semuanya mesti diperhatikan juga.

Kemudian hal yang menjadi catatan juga ketika seorang pemilik harta sudah ingin apa namanya membagikan harta warisannya, artinya bukan membagikan, ya, artinya menentukan, ya, menentukan harta warisannya untuk akan jatuh kepada siapa. Tentu ini masih apa ini masih ada kemungkinan terjadinya perubahan. Kenapa? Karena kan tidak tahu, mungkin besok-besok mungkin harta yang akan diberikan kepada si anaknya itu mungkin akan dipakai, dijual, misalnya punya sawah, misalnya atau punya tanah. Tanah ini akan diberikan kepada anak pertama, ternyata besok-besok misalnya tahun depan si bapak masih hidup, ternyata tanah itu dijual, anak yang pertama tidak dapat apa-apa, berarti.

Nah, makanya harta warisan itu nanti dibagi setelah si pemilik harta itu meninggal dunia. Nanti dilihat, oh ternyata dari semua harta atau harta yang ditinggalkan adalah, ya, karena mungkin sudah ada harta yang telah terpakai, ada harta yang sudah dijual, ada tanah sawah, dan sebagainya. Nah, itu semuanya kita bisa keluar dari masalah-masalah itu terpakainya harta yang digunakan oleh si pemilik harta itu. Kalau kita menghitung harta waris atau harta tersebut setelah pemilik harta itu betul-betul meninggal dunia, barulah kemudian dikumpulkan, oh sekian harta warisannya, maka kita bagi dengan cara yang dibenarkan oleh syariat Islam. Wallahi banyak pertanyaan saya, cuman waktu yang membatasi kita. Jadi kita cukupkan sampai di sini dan semoga jawaban yang diberikan oleh Ustaz mampu kita pahami dan kita aplikasikan dalam keadaan kita. Semoga untuk Ustaz juga atas jawabannya mampu menjadi pemberat Al Hijriyah untuk kuliahnya. Semoga ada kesempatan dan program ini kita tutup kegiatan kita dengan doa. Subhanallah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Musik]