Transcription
Di Indonesia, banyak orang percaya bahwa keberuntungan bukan hanya tentang uang. Itu tentang kesehatan. Itu tentang ikatan keluarga yang kuat. Itu tentang memiliki orang-orang yang dapat diandalkan, tentang menemukan kegembiraan dalam momen-momen paling sederhana. Namun di dunia yang memperlakukan kekayaan sebagai ukuran keberhasilan utama, apakah masih ada yang percaya itu? Jika kekuatan finansial adalah satu-satunya kunci menuju kebahagiaan, maka Indonesia, meskipun memiliki salah satu PDB per kapita terendah di dunia, seharusnya bahkan tidak mendekati menjadi salah satu negara terbahagia. Namun entah bagaimana, Indonesia termasuk salah satunya. Tetapi bagaimana itu masuk akal?
Jika Indonesia benar-benar salah satu tempat terbahagia, maka pasti datanya akan mencerminkan hal itu, bukan? Karena ketika saya sedang meneliti kebahagiaan untuk video lain, saya menemukan sebuah gambar yang memberi peringkat Indonesia sebagai negara terbahagia kedua di dunia. Satu gambar ini langsung mengejutkan saya. Bukan karena Indonesia tidak tampak sebagai tempat yang bahagia, melainkan karena saya belum pernah melihatnya diberi peringkat setinggi itu sebelumnya. Jadi saya memeriksa situs web lain yang jauh lebih banyak digunakan dan lebih familiar bagi saya. Dan di sini, Indonesia berada di peringkat ke-80 di tahun yang sama. Praktis terkubur di bawah negara-negara yang, setidaknya di atas kertas, seharusnya berprestasi lebih baik. Ini membuat saya berpikir. Bagaimana sebuah negara yang sama dapat dilihat sebagai bahagia dan tidak bahagia pada saat yang sama? Bagaimana dua cara pengukuran kebahagiaan yang berbeda dapat menghasilkan hasil yang sangat bertentangan? Dan mungkin yang lebih penting, mana yang benar?
Tetapi sebelum kita membahas lebih dalam ke video ini, izinkan saya bertanya sesuatu, terutama jika Anda orang Indonesia. Apakah Anda menganggap diri Anda bahagia? Maksud saya, bukan dalam cara survei mengukurnya, tentu saja. Bukan juga dalam hal PDB saat ini atau stabilitas politik. Tetapi dalam kehidupan pribadi Anda, setiap hari. Apakah Anda merasa puas dengan hidup Anda? Atau adakah sesuatu yang membuat Anda ragu apakah semuanya sebaik seharusnya? Karena berdasarkan standar makro ekonomi dan politik, Indonesia seharusnya bukanlah salah satu negara terbahagia di dunia. Namun, tergantung pada bagaimana kita mengukur kebahagiaan, entah bagaimana Indonesia termasuk salah satunya. Jadi versi mana yang nyata?
Jika hidup diukur hanya dengan angka, ekonomi Indonesia akan menceritakan sebuah kisah sederhana. Dengan PDB per kapita kurang dari $5.000, peringkat ke-118 di dunia, perbedaannya sangat mengejutkan dibandingkan dengan Amerika Serikat di atas $80.000 atau Singapura di $82.000. Secara logis, ini seharusnya berarti kualitas hidup yang lebih rendah, lebih sedikit peluang, dan dengan demikian, jauh lebih sedikit kebahagiaan. Tetapi ketika Anda berjalan melalui jalan-jalan Jakarta, pantai Bali, atau desa-desa kecil Yogyakarta, kenyataannya berbeda. Orang-orang mudah tertawa. Mereka bercanda dengan orang asing. Mereka duduk bersama di trotoar, berbagi makanan, cerita, dan waktu, tanpa tergesa-gesa untuk berada di tempat lain. Kebahagiaan, tampaknya, tidak ditentukan oleh kekuatan ekonomi saja.
Laporan Kebahagiaan Dunia 2024 menempatkan Indonesia di peringkat ke-80 dari 137 negara, tidak di puncak, tetapi masih lebih tinggi daripada banyak negara yang lebih kaya. Jerman, misalnya, telah mengalami penurunan kebahagiaan meskipun PDB-nya tinggi, turun ke peringkat ke-24. Sementara itu, Turki, dengan PDB per kapita $13.000, berada jauh di bawah Indonesia di peringkat ke-106. Angka-angka ini menantang asumsi bahwa kekayaan secara otomatis mengarah pada kesejahteraan. Saya pikir salah satu alasannya adalah rasa kolektivisme yang kuat yang dimiliki orang Indonesia. Sebuah studi tahun 2023 oleh Meta dan Gallup menemukan bahwa sebagian besar kaum muda di Indonesia merasa mereka menerima dukungan yang mereka butuhkan dari keluarga dan teman-teman. Penelitian ini juga sejalan dengan Dimensi Budaya Geert Hofstede, yang memberi peringkat Indonesia sebagai masyarakat yang sangat kolektivis, di mana keberhasilan dan kesulitan dilihat sebagai pengalaman bersama daripada perjuangan individu.
Mereka memiliki budaya yang berakar dalam di mana orang tidak berjuang sendirian. Di mana masalah tetangga menjadi perhatian masyarakat. Dan di mana kesulitan keuangan diredakan oleh keyakinan yang berakar kuat bahwa hidup dimaksudkan untuk dibagi. Ada sebuah postingan Quora dari seseorang yang saya asumsikan adalah orang Indonesia, yang mengatakan bahwa ada kepercayaan lama bahwa jika tetangga saya menjadi pencuri karena dia lapar dan saya tidak membantunya, saya juga bersalah atas pencuriannya. Postingan ini sendiri cukup merangkum nilai kolektivisme dalam masyarakat Indonesia.
Agama juga memainkan peran besar di Indonesia. Sekitar 87% penduduknya adalah Muslim, sementara sisanya menganut Hindu, Buddha, Konfusianisme, atau Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Tetapi di sini, iman lebih dari sekadar kepercayaan pribadi. Ini membentuk tradisi, membimbing kehidupan sehari-hari, dan memperkuat rasa komunitas. Ketika Anda berada di Indonesia, Anda dapat melihatnya di mana-mana. Masjid menyerukan orang untuk shalat lima kali sehari. Gereja mengadakan kebaktian Minggu di mana seluruh keluarga berkumpul. Ritual Hindu di Bali memenuhi jalan-jalan dengan persembahan dan upacara. Kuil Buddha dan Konfusianisme berdiri sebagai tempat refleksi dan bimbingan. Terlepas dari agamanya, ada kepercayaan bersama bahwa hidup dimaksudkan untuk dijalani dengan kebaikan, rasa syukur, dan tanggung jawab terhadap orang lain. Itulah mengapa gotong royong, atau versi Indonesia dari kerja sama timbal balik, bukan hanya nilai budaya. Ini adalah cara hidup. Membantu seseorang yang membutuhkan tidak dianggap sebagai amal, itu hanya apa yang Anda lakukan. Jika seorang tetangga berjuang, Anda ikut campur. Jika seorang teman dalam kesulitan, Anda tidak menunggu mereka untuk meminta. Ini adalah pola pikir yang sama seperti postingan Quora yang saya sebutkan sebelumnya.
Tetapi kehidupan di Indonesia tidak mudah bagi semua orang. Bahkan, sekitar 10% penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan pengangguran merupakan tantangan besar. Perjuangan finansial adalah nyata di bagian dunia ini. Tetapi jika uang adalah segalanya, bukankah negara terkaya seharusnya menjadi negara terbahagia? Namun, studi demi studi menunjukkan sebaliknya. Dan di situlah komunitas membuat semua perbedaan. Di Indonesia, keberhasilan pribadi jarang merupakan pencapaian individu. Ini adalah upaya bersama. Seorang anak masuk universitas bukan hanya kebanggaan orang tuanya, tetapi juga momen bagi seluruh lingkungan untuk merayakannya. Sebuah pernikahan bukanlah urusan pribadi, itu adalah acara pintu terbuka di mana bahkan kenalan jauh pun disambut. Ketika seseorang sedang berjuang, baik secara finansial maupun emosional, ada pemahaman tersirat bahwa bantuan akan datang. Ini adalah gotong royong dalam tindakan, gagasan bahwa tidak ada yang menanggung beban sendirian.
Sementara itu, dalam budaya Barat, kemandirian sering dipandang sebagai penanda keberhasilan. Pindah keluar lebih awal atau menangani masalah sendirian adalah bukti kemandirian. Di Indonesia, kekuatan tidak diukur dengan seberapa banyak yang dapat Anda lakukan sendiri, tetapi diukur oleh orang-orang yang akan muncul untuk Anda ketika Anda membutuhkan mereka.
Ada alasan mengapa kecepatan hidup di Indonesia berbeda tergantung di mana Anda berada. Di daerah pedesaan, di mana alam lebih dekat dan komunitas lebih erat, waktu terasa lebih lambat. Ada lebih sedikit tekanan untuk terus-menerus mencapai sesuatu. Orang-orang meluangkan waktu untuk mengobrol, untuk beristirahat, untuk sekadar ada tanpa rasa bersalah. Bukan berarti hidup itu mudah, faktanya, banyak orang masih mengandalkan pendapatan yang tidak stabil, tetapi ada ritme dalam kehidupan sehari-hari yang terasa lebih berkelanjutan.
Di pusat kota, terutama di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, kita dapat melihat sisi Indonesia yang berbeda. Sisi yang terus bergerak, beradaptasi, dan bersaing. Biaya hidup jauh lebih tinggi, hari kerja lebih panjang, dan kemacetan lalu lintas saja dapat menguras waktu seseorang. Namun bahkan di kota-kota ini, kolektivisme masih berkembang, dan gotong royong masih menemukan jalannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Ambil Kerja Bakti misalnya, sebuah tradisi di mana seluruh lingkungan berkumpul untuk membersihkan lingkungan mereka tanpa perintah pemerintah, tanpa pembayaran. Mereka hanya melakukannya karena mereka memiliki pemahaman bersama bahwa beberapa hal lebih baik dilakukan bersama.
Kontras antara kebahagiaan perkotaan dan pedesaan di Indonesia bukan hanya tentang gaya hidup saja. Ini sebagian besar tentang harapan. Di kota-kota besar, keinginan untuk mengejar lebih banyak dapat menciptakan kegelisahan yang lebih sulit untuk dipenuhi. Tetapi di kota-kota kecil, di mana ambisi diukur dalam komunitas daripada persaingan, kepuasan datang lebih mudah.
Jadi, jika uang dan kekayaan benar-benar menjadi faktor penentu, tempat-tempat dengan PDB per kapita tertinggi seharusnya menjadi tempat terbahagia. Namun, berkali-kali, laporan menunjukkan bahwa negara-negara yang lebih kaya berjuang dengan kesepian, kelelahan, dan penurunan kesejahteraan mental. Jepang, misalnya, adalah salah satu negara terkaya di dunia, namun isolasi sosial adalah masalah yang begitu meluas sehingga pemerintah harus menunjuk Menteri Kesepian. Amerika Serikat, meskipun memiliki kekuatan ekonomi, juga menghadapi peningkatan kecemasan, stres, dan ketidakpuasan, terutama di kalangan generasi muda.
Mungkin masalahnya bukanlah kekayaan itu sendiri. Mungkin itu bagaimana kekayaan digunakan, harapan yang diciptakannya, dan apa yang orang korbankan untuk mendapatkannya. Ketika hidup mulai terasa seperti transaksi, ketika Anda menukar waktu dengan uang dan memperlakukan hubungan seperti kesepakatan, akan lebih sulit untuk merasakan kebahagiaan sejati.
PDB per kapita Indonesia yang lebih rendah berarti lebih sedikit kemewahan, lebih sedikit kenyamanan, dan lebih sedikit peluang untuk kesuksesan finansial yang ekstrem. Tetapi itu juga berarti kesuksesan tidak diukur dengan kelelahan. Orang-orang bekerja keras, tetapi mereka tidak menentukan nilai mereka dengan persaingan yang tak ada habisnya. Alih-alih mengejar status, ada fokus yang lebih kuat pada hubungan, komunitas, dan rasa memiliki.
Tidak satupun dari ini berarti Indonesia adalah utopia. Orang-orang masih berjuang secara finansial. Ketimpangan itu nyata. Dan kehidupan modern menggeser nilai-nilai tradisional. Tetapi jika ada satu hal yang belum berubah, itu adalah kemurahan hati. Terlepas dari perjuangan finansial mereka, Indonesia telah menjadi negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut sejak 2017, menurut World Giving Index. Bahkan dalam kesulitan, orang-orang terus memberi. Sebagian memberi uang, sebagian memberi waktu mereka, dan yang lain menawarkan uluran tangan. Ini adalah bukti bahwa kekayaan bukanlah satu-satunya ukuran kelimpahan.
Tetapi seiring pertumbuhan kota dan budaya digital membentuk kembali bagaimana orang berinteraksi, kebahagiaan di Indonesia juga berubah. Generasi muda lebih terhubung daripada sebelumnya, tetapi entah bagaimana, mereka merasa lebih kesepian. Media sosial menggantikan pertemuan kehidupan nyata. Budaya kerja keras mendorong orang untuk bergerak cepat, menyisakan sedikit waktu untuk komunitas. Kolektivisme yang pernah menyatukan orang-orang kini sedang diuji. Bukan berarti orang-orang meninggalkan nilai-nilai tradisional, tetapi tuntutan kehidupan modern membuat mereka lebih sulit dipertahankan. Di Jakarta, sebuah kota di mana jutaan orang menghabiskan tiga hingga lima jam sehari dalam kemacetan lalu lintas, mencari waktu untuk koneksi sosial yang bermakna dapat terasa seperti kemewahan. Aspirasi ekonomi mendorong orang untuk mengejar kesuksesan pribadi dengan cara yang terkadang dilakukan dengan mengorbankan hubungan. Dan pada saat yang sama, Indonesia juga menghadapi krisis kesehatan mental yang berkembang, sebuah masalah yang tidak dibahas secara terbuka di masa lalu. Survei Kehidupan Keluarga Indonesia tahun 2023 menemukan bahwa tingkat stres dan kecemasan meningkat, terutama di kalangan anak muda, mencerminkan tren global. Sistem pendukung tradisional masih ada, tetapi mereka sedang diuji oleh dunia di mana masalah tidak lagi hanya pribadi atau komunal. Mereka digital, global, dan sering kali luar biasa.
Terlepas dari perubahan ini, beberapa hal tetap tertanam kuat dalam budaya Indonesia. Agama, keluarga, dan komunitas masih menjadi pusat kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika media sosial menarik orang ke ruang online, tradisi offline seperti pulang kampung Lebaran, doa bersama, dan pertemuan lingkungan menjaga orang tetap terikat pada koneksi dunia nyata. Gagasan gotong royong mungkin berevolusi, tetapi tidak akan hilang.
Ini bukan pertanyaan apakah Indonesia akan berubah, karena memang sudah berubah. Pertanyaannya adalah, nilai apa yang akan bertahan? Bisakah generasi muda berpegang pada kehangatan kebahagiaan kolektif sambil menavigasi dunia yang lebih individualistis? Dan seiring dengan meningkatnya kecepatan kehidupan modern, akankah rasa tanggung jawab bersama yang selalu mendefinisikan Indonesia tetap kuat?
Karena kebahagiaan di Indonesia tidak pernah tentang uang, kekayaan, atau kemewahan. Ini tentang kehadiran. Tentang mengetahui bahwa tidak peduli apa yang terjadi, seseorang akan ada di sana. Itu bukan sesuatu yang dapat diukur dalam PDB. Itu bukan sesuatu yang dapat dibeli. Dan selama fondasi itu bertahan, Indonesia mungkin tetap menjadi salah satu tempat terbahagia di bumi, tidak peduli apa yang dikatakan ekonomi. Dan pada akhirnya, bukankah itu yang benar-benar penting? Sebuah meja makan yang dipenuhi tawa. Percakapan larut malam yang membuat waktu lenyap. Sebuah tangan di pundak Anda ketika dunia terasa berat. Ini tidak membuat berita utama. Ini tidak meningkatkan PDB dalam peringkat global. Tetapi itulah yang membuat hidup layak dijalani. Karena pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah tentang berapa banyak yang Anda miliki. Ini tentang mengetahui apa yang benar-benar penting.