📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

MTPJ GMIM 27 april 2025, roma 6:1-14

Gereja dan Alkitab11:35

Transcription

Shalom, saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus. Bahan khotbah kita diambil dari Roma 6 ayat 1 sampai 14, dengan tema: Jika Kita Mati dan Bangkit dengan Kristus, Kita Akan Hidup.

Sahabatku, senang sekali saya bisa bersama saudara hari ini, di minggu terakhir bulan April. Bulan ini, banyak dari kita merayakan Paskah, memperingati kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Tetapi dari semua itu, izinkan saya bertanya: menurut saudara, apa artinya kebangkitan Kristus dalam hidup kita sehari-hari? Maka dari itu, hari ini kita akan merenungkan satu kebenaran luar biasa dari surat Paulus kepada jemaat di Roma: jika kita mati dan bangkit bersama Kristus, kita akan hidup. Nah, pertanyaannya: hidup yang bagaimana? Untuk itu, mari kita selami bersama-sama.

Sahabatku, saya pernah melihat sebuah dokumenter tentang ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Prosesnya tidak instan. Ulat harus mati dalam kepompong; ia berhenti bergerak, bentuknya pun hilang. Tetapi setelah beberapa waktu, ia keluar sebagai makhluk baru yang indah dan bisa terbang. Demikian juga kehidupan orang percaya. Ketika kita menerima Kristus, kita mati dari kehidupan lama kita yang penuh dosa. Tapi bukan berhenti di sana; artinya kita bangkit dalam kehidupan baru yang penuh harapan, kekuatan, dan tujuan bersama Kristus.

Sekarang, mari kita baca ayat 1 sampai 7. Begini firman Tuhan, perikopnya: Mati dan bangkit dengan Kristus. Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak. Bukankah kita telah mati bagi dosa? Bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus telah dibaptis dalam kematiannya? Demi dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematiannya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitannya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita mengampakkan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.

Saudara yang dikasihi Tuhan, di ayat 1 sampai 7, bisa kita tafsirkan, terkhususnya pada ayat 1 sampai 2. Paulus mengajukan sebuah pertanyaan retoris, katanya: "Apakah kita akan tetap tinggal di dalam dosa supaya kasih karunia semakin bertambah?" Artinya ini muncul karena sebelumnya Paulus menekankan bahwa keselamatan adalah karena kasih karunia, bukan karena perbuatan. Namun ia segera menolak keras gagasan bahwa kasih karunia membuat kita bebas berbuat dosa. Ia berkata: sekali-kali tidak. Karena orang yang sudah percaya kepada Kristus seharusnya sudah mati terhadap dosa; artinya hubungan mereka dengan kuasa dosa telah terputus. Dosa tidak lagi menjadi penguasa dalam hidup mereka.

Lalu pada ayat 3 sampai 5, Paulus menjelaskan hal ini dengan menggunakan gambaran baptisan. Saat kita dibaptis, kita tidak hanya menunjukkan iman, tapi juga menyatakan bahwa kita sudah dikuburkan bersama Kristus; artinya kita ambil bagian dalam kematiannya. Tetapi tidak berhenti di situ. Sama seperti Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, kita juga dibangkitkan untuk hidup dalam hidup yang baru. Jadi baptisan bukan hanya simbol luar, tapi menggambarkan sebuah perubahan besar: kematian terhadap dosa dan kelahiran pada hidup baru.

Sahabatku, ayat 6 sampai 7 menegaskan kembali bahwa manusia lama kita, yang hidup dalam kuasa dosa, telah disalibkan bersama Kristus. Tujuannya adalah agar tubuh kita yang dikuasai dosa itu dihancurkan, sehingga kita tidak lagi menjadi budak dosa. Dan orang yang sudah mati dengan Kristus telah bebas dari dosa. Ini berarti orang percaya punya identitas baru; bukan lagi hamba dosa, tapi hamba kebenaran. Maka hidup kita seharusnya tidak lagi dipengaruhi oleh dorongan-dorongan dosa, tetapi diarahkan oleh kasih dan kebenaran Kristus.

Sekarang kita lanjutkan ayat 8 sampai 11. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi; maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematiannya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupannya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya, bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.

Dalam hal ini kita menemukan beberapa tafsiran, terkhususnya ayat 8. Ayat 8 membuka dengan sebuah pengakuan iman: jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Artinya Paulus ingin menunjukkan bahwa kematian rohani bersama Kristus tidak berakhir; tidak berakhir di kuburan. Sebagaimana Kristus bangkit dari kematian dan hidup selamanya, demikian juga kita akan hidup bersama Dia; bukan hanya di masa depan, tapi mulai sekarang, dalam kehidupan roh rohani yang baru dan berkemenangan. Kebangkitan Kristus memberi jaminan bahwa hidup kita tidak berhenti pada pertobatan, tapi terus bergerak dalam pertumbuhan iman.

Di ayat 9 sampai 10, Paulus menjelaskan bahwa Kristus yang bangkit tidak mati lagi; artinya kematian tidak berkuasa atas-Nya. Ini penting karena Kristus menjadi teladan dan dasar dari kehidupan kita. Kematiannya adalah kematian terhadap dosa, sekali untuk selama-lamanya, dan kehidupannya sekarang adalah kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Ini bukan sekedar fakta sejarah, tapi pondasi rohani. Karena Yesus sudah menaklukkan kematian dan dosa, kita pun tidak perlu takut atau tunduk pada dosa lagi.

Lalu di ayat 11, Paulus menantang jemaat untuk melihat diri mereka dengan cara pandang yang baru. Katanya: "Anggaplah dirimu mati terhadap dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus." Artinya ini adalah cara hidup orang percaya, dengan kesadaran bahwa dosa sudah tidak berkuasa lagi atas mereka, dan hidup mereka sekarang diarahkan kepada Allah. Paulus memakai kata anggaplah karena ini soal keyakinan dan sikap hati. Sahabatku, kita harus mulai setiap hari dengan identitas baru ini; bukan lagi budak dosa, tapi anak-anak Allah yang hidup oleh kasih karunia Kristus.

Sekarang kita lanjut ayat 12 sampai 14. Ayat 12 berkata: "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya; dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman. Tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup; dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia."

Nah, di sini bisa kita artikan, terkhususnya di ayat 12. Paulus memberi peringatan praktis: "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana." Artinya, meskipun kita telah mati terhadap dosa secara rohani, tubuh kita masih hidup dalam dunia yang jatuh dalam dosa. Maka Paulus menasihati agar kita tidak membiarkan dosa kembali mengendalikan hidup kita lewat keinginan daging. Ini adalah ajakan untuk berjaga-jaga setiap hari, untuk tidak memberi celah sekecil apapun bagi dosa untuk masuk dan menguasai kita.

Ayat 13 mengajak kita mengambil keputusan aktif. Katanya: "Jangan menyerahkan anggota tubuh kita--mata, mulut, tangan, pikiran--sebagai alat ketidakbenaran, tetapi serahkan kepada Allah sebagai alat kebenaran." Artinya Paulus memakai kata serahkanlah karena ini soal kehendak. Kita punya pilihan. Sebagai orang yang sudah hidup dari antara orang mati, hidup kita sekarang punya tujuan baru: yaitu menyenangkan hati Allah dan menjadi alat berkat bagi sesama.

Di ayat 14, Paulus menutup bagian ini dengan janji menguatkan. Katanya: "Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia." Artinya hukum Taurat menunjukkan dosa, tetapi tidak bisa membebaskan kita darinya. Namun kasih karunia di dalam Kristus memberi kuasa untuk menang. Artinya, sahabatku, kehidupan kita sekarang tidak lagi dipenuhi rasa bersalah atau takut gagal, tetapi dihidupi dengan rasa syukur, kekuatan, dan anugerah dari Tuhan yang terus bekerja dalam hidup kita.

Nah, sahabatku, sekarang kita masuk ke penutupan. Kehidupan baru di dalam Kristus bukan hanya untuk nanti di surga, tetapi itu dimulai hari ini, di sini, di tempat saudara-saudara. Jika kita mati bersama-Nya, kita juga hidup bersama-Nya. Mari jangan sia-siakan kasih karunia itu. Mari tinggalkan hidup lama dan hidup sebagai anak-anak terang. Nah, pertanyaannya kepada kita: apakah aku hidup dalam kuasa kebangkitan itu hari ini? Sahabatku, mari pulang dari gereja dengan semangat baru. Hidupmu bukan milik dosa, hidupmu milik Kristus, dan karena Dia hidup, Engkau pun akan hidup. Amin.