Transcription
[Musik] [Tertawa] [Musik]
Kami dari kelas 8j mempersembahkan drama cerita rakyat Jawa Barat Situ Bagendit. Selamat [Musik] menyaksikan.
Rintihan paksaan dan ketidakadilan terdengar bersautan. Makanan keseharian warga desa yang tepatnya di sebuah desa terpencil di Garut, Jawa Barat, susah dan miskin. Dua kata yang melukiskan saat menatap wajah desa tersebut. Puluhan nyawa berjuang melawan rasa lapar dan memenuhi kebutuhan mereka. Dari janda kaya raya yang kikir dan tamak ialah Nyai [Musik] Endit.
"Alhamdulillah, akhirnya kita masuki masa panen. Mau setiap hari panen kalau begini terus gak akan kita [Musik] makmur."
Dari dunia dan warga mulai beraktivitas di sawah seperti biasa. Begitu juga sekelompok warga yang sudah muak dengan sifat janda tamak itu. Warga mulai membicarakan latar belakang dari Nyai [Musik] Endit.
"Loh, loh, loh ngapain ini Bapak-bapak? Kok bisa kita enggak makmur itu kenapa ya?"
"Dilihat saja, Bu. Setiap kita panen, hasil panen kita dibeli paksa oleh si Endit itu dengan harga yang murah. Dan kalau persediaan beras kita habis, kita yang harus beli dengan harga yang tingginya gak ngotak."
"Sebenarnya kata Pak Mamat itu juga gak salah, loh, Pak. Ngapain kita gak jual di pasar aja dengan harga yang jauh lebih tinggi?"
"Hus, sudahlah, Bu. Kamu mau berurusan dengan centeng-centeng si Endit itu? Lagi pula kita kan kalau butuh uang pinjamnya juga ke Nyi kan, Bu?"
"Iya juga ya, Pak. Sepeninggalan suaminya yang kaya itu, hartanya menjadi berlimpah ruah. Sangat berbeda dengan kita ya."
"Iyalah, buat apa kita membandingkan harta kita dengannya. Ya sudahlah, Pak. Sepertinya itu sudah nasib kita."
[Musik]
Dan para centengnya datang menyela pembicaraan.
[Musik]
"Eh, Bu Gendis, Pak Tatang, Pak Mamat. Alah, sia, baru saja diomongin langsung datang orangnya."
"Hus, Pak. Dengar nanti orangnya. Bagaimana hasil panen kali ini? Bagus-bagus kan? Kalau sampai ada yang jelek, harganya turun, loh."
"Ya, anu Nyai, sepertinya karena kemarin jarang hujan, hasilnya jadi kurang bagus."
"Haduh, gimana sih kalian itu? Cumanan padi aja gak becus. Pokoknya nanti setorkan beras itu kepada Bagia atau Bajra seperti biasa, ya."
[Musik] [Musik]
Puas akan makiannya terhadap para warga, Nyai Endit dan centengnya pun pulang menuju rumahnya. Tiba saat berada di jalan, Nyai Endit bertemu dengan seseorang.
[Musik] [Tepuk tangan] [Musik]
"Hah, akan aku hargai murah beras kali ini."
Asep berlari menghampiri Endit dengan Euis menggendong bayi berlari di belakangnya.
"Nyai, Nyai!"
Bagia menatap tajam Asep. Bajra pun menghalangi Asep untuk bertemu dengan Nyi Endit.
"Apa lagi ini? Tolong, Nyai, bantu kami. Tolong, Nyai, sudah 3 hari kami belum makan. Keluarga saya sedang kesusahan. Tolong pinjami sedikit saja uang, Nyai."
"Aduh, kalian ini sudah miskin, menyusahkan lagi. Akan aku pinjami uang tapi ada syarat yang harus kalian terima."
"Akan kami lakukan apapun, Nyai."
Bagia berikan orang miskin itu uang dengan terpaksa.
"Hatur nuhun pisan, Nyai."
"Kembalikan uang itu satu minggu lagi dengan bunga dua kali lipatnya."
"Tapi, Nyai, bunganya besar sekali."
"Hus, sudahlah. Yang penting kita bisa makan."
"Pasti akan kami kembalikan, Nyai."
"Kalau kalian sampai tidak bayar, sudah tahu kan apa akibatnya?"
"Ya, Nyai."
Setelah peristiwa pinjam-meminjam itu, Endit melanjutkan perjalanannya. Sesampainya dia di rumah, ant di depan teras [Musik] rumahnya.
"Hei, Bagia, sudah berapa petani yang menyetorkan padinya?"
"Sudah hampir semua, Nyai."
"Bagus, bagus. Dan kamu Bajra, masukkan padi yang masih di luar itu ke dalam lumbung, ya."
"Baik, Nyai."
Tiba-tiba Dadang datang menjumpai Nyai Endit.
"Nyai, kumaha? Kau sudah membawa uang untuk bayar hutangmu kan?"
"Belum, Nyai. Kemarin panen saya hanya sedikit, Nyai. Kan tahu sendiri kemarin membeli panen saya dengan harga yang rendah."
"Alasan saja kamu ini. Kalau aku bilang bayar sekarang, ya sekarang."
"Kalau sekarang, saya hanya sanggup membayar hutang pokoknya saja, Nyai."
Bajra mengambil uang itu.
"Pun dengan kasar. Kamu ini sesuai kesepakatan, mulai sekarang rumahmu menjadi milikku."
"Tidak bisa begitu, Nyai. Masih ada keluarga saya di sana."
"Kalau begitu, Bagia, kosongan rumah si miskin ini."
Dadang menghalangi jalan Bagia yang akan menuju ke rumahnya.
"Minggir, tolong, Nyai. Kasihanilah aku. Di mana keluargaku akan tinggal?"
"Itu kan urusanmu. Makanya jangan telat kalau bayar hutang."
"Hei, minggir!"
Bagia pun mendorong Dadang hingga Dadang [Musik] tersungkur.
Di sisi lain, warga yang sedang menampi beras pun ikut menggunjing Nyai Endit.
"Eh, Bu, katanya sekarang rumah Pak Dadang sudah menjadi milik si Endit itu."
"Eh, iya kah? Dengar-dengar Pak Dadang jangan susah karena hasil panennya buruk."
"Nah, itu karena keluarganya baru kesusahan. Ia meminjam uang kepada Nyi Endit."
"Jangan-jangan Nyi Endit ya Nyi Endit mengambil paksa rumah itu karena Pak Dadang tidak bisa membayar hutangnya."
"Wah, kasihan sekali ya. Lama bagaimana lagi, selama si Endit masih hidup kita akan begini terus."
"Hus, jangan gitu, Bu. Ingat Gusti."
Tersadar saat para warga membicarakan Dadang dan Nyai Endit, tiba-tiba seorang kakek tua mendatangi mereka.
"Punten, Ibu-ibu, saya cari rumahnya Nyai Endit di mana ya?"
"Eh, iya, Kakek. Ada. Saya cari rumahnya Nyai di mana ya?"
"Kenapa Kakek mencarinya?"
"Kakek bukan berasal dari desa ini ya?"
"Iya, saya memang bukan warga sini. Saya ingin meminta sedikit makanan kepada Nyai Endit."
"Asal Kakek tahu ya, Nyi Endit tidak akan mungkin memberi sesuatu secara cuma-cuma, Kek. Kalau Kakek lapar, saya bisa beri makanan untuk Kakek."
"Tidak usah, ini memang tujuan saya jauh-jauh ke sini. Jadi di mana rumahnya?"
"Kakek lurus saja, setelah itu belok kanan. Nanti akan bertemu rumah megah. Nah, itulah rumah Nyi Endit, Kek."
"Hatur nuhun, Ibu-ibu."
"Oh iya, saya ingin memberitahu jikalau nanti terjadi banjir, walau hanya sedikit saja, tolong lari ke tempat tinggi segera."
"Kakek ini bukan musim hujan, bagaimana bisa kan ada banjir?"
"Iya, Kek. Ditambah lagi desa ini tak pernah terendam banjir. Nanti banjir itu bisa menjadi besar dan melahap desa ini. Bagaimanapun, bersiaplah jika terjadi banjir."
Setelah mengetahui lokasi rumah Endit, Kakek pun pergi ke rumah Endit tersebut.
"Bagaimana bisa desa ini terendam banjir? Entahlah, tapi sepertinya kakek itu tidak [Tepuk tangan] [Musik] berbohong."
"Hei, mau ke mana kamu?"
Kakek tua itu berjalan menuju ke rumah. Meski dihalang, kakek tetap kekeh dengan tekadnya tanpa menghiraukan sedikitpun.
"Hei, berhenti!"
"Hei, aku hanya ingin bertemu dengan Nyi Endit."
"Beraninya kamu membentak kami!"
Nyai Endit yang mendengar keributan menghampiri kakek dan para pengawalnya.
"Ada apa ini ramai-ramai ini?"
"Nyai, orang ini tiba-tiba melewati kami katanya ingin bertemu Nyai."
"Siapa kau? Kenapa ke sini?"
"Saya hanya seorang pengemis, Nyai. Saya belum makan beberapa hari. Tolong beri saya sedikit makanan, Nyai."
"Cuma seorang pengemis yang lapar? Ternyata kau. Sejak kapan ada hal gratis di dunia ini?"
"Tolong, Nyai. Saya sangat lapar."
"Masa bodoh lah. Bagia, Bajra, usir orang ini."
Bagia dan Bajra pun mencoba untuk mengusir kakek. Kakek pun terjatuh. Sebentar, kakek menancapkan sebuah tongkat ke tanah.
"Aku akan pergi jika kalian bisa mencabut tongkat ini."
"Sudah, lepaskan dulu dia."
Endit mencoba dengan keras tenaga untuk mengangkat tongkat tersebut.
"Kau apakan tongkat ini? Bagia, lepaskan tongkat itu."
Bagia pun melakukan hal yang sama. Begitu juga dengan Bajra.
"Tidak bisa, Nyai. Bajra, bantu dia. Ini sangat berat, Nyai."
Namun dari mereka bertiga tidak ada yang bisa mencabut tongkat tersebut.
"Sudah, sudah. Kalau kalian tidak bisa, biar aku sendiri saja."
Kakek datang mencabut tongkat dan keluarlah air yang hampir menenggelamkan desa.
"Apa itu? Kenapa bisa keluar air?"
"Kau akan segera mendapat balasan karena sifat kikir dan tamakmu, Nyai Endit."
Nyai Endit kebingungan. Tiba-tiba setelah mencabut tongkat tersebut, kakek pun menghilang dari hadapan Nyai Endit dan para pengawalnya.
"Bagaimana ini, Nyai?"
"Hah, akhirnya! Sin, tinggi kalian bantu aku membah hartaku!"
"Di mana orang itu?"
"Airnya naik, Nyi. Kita bisa tenggelam."
"Aku tidak akan meninggalkan tempat ini tanpa membah hartaku!"
Bagia dan Bajra pun tidak menghiraukan Nyai Endit. Mereka meninggalkan Nyai Endit sendirian di dalam rumahnya.
"Hei, mau ke mana kalian?"
"Kalau tidak pergi, kita akan tenggelam di sini, Nyai."
Air semakin tinggi hingga hampir menenggelamkan Nyai Endit.
"Hei, tolong! Siapap pun tolong! Akan aku berikan hartaku jika kau ingin menolongku!"
Teriakan Endit tidak ada yang membetuli karena warga sudah tidak memikirkan harta lagi. Mereka kocar-kacir memikirkan dan menyelamatkan diri mereka sendiri. Endit pun tenggelam dalam air yang terus meninggi.
Warga berlarian hingga menuju tempat yang aman. Warga mulai membicarakan tentang peristiwa tersebut. Tak disangka Bagia dan Bajra pun sampai ke tempat yang aman bersama warga.
"Di mana Nyi Endit? Apakah kalian bersamanya?"
"Tidak, dia tidak mau ikut."
"Bagaimana kira-kira nasibnya sekarang ya?"
Tiba-tiba Kakek datang menjumpai para warga dan Bajra.
"Bagia, Bagia. Dia tenggelam. Tenggelam bersama harta-harta yang ia bangga-banggakan serta yang ia pedulikan melebihi rasa perkemanusiaannya terhadap manusia."
Para warga terdiam dan melihat ke arah Endit yang sudah tenggelam.
"Mulai sekarang dan selamanya, tempat ini akan terendam air. Sebutlah Danau ini Danau Situ Bagendit. Situ yang berarti danau dan Endit adalah orang yang menyifatkan tempat ini menjadi danau. Jadikanlah itu sebagai pelajaran untuk kalian bahwa ketamakan hanya akan membawa kesengsaraan. Bahwa bumi ini cukup untuk semua orang, namun tak cukup untuk memuaskan satu orang yang tamak."
Akhir sudah dari kisah Situ Bagendit dari ketamakan seorang janda yang menyengsarakan rakyat desa hingga menjadi sebuah danau yang bernama Situ Bagendit di daerah Jawa Barat, Indonesia.
Meru Cakra [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]