📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

ust. Abdul Somad | khutbah idul adha 1444 H

Kang Deri30:33

Transcription

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang banyak, dan Maha Suci Allah. Tiada Tuhan selain Allah, dan hanya kepada-Nya kami menyembah dengan tulus ikhlas, walau dibenci orang kafir, walau dibenci orang musyrik, walau dibenci orang munafik. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan musuh-musuh-Nya dengan sendirian. Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam atas Rasulullah, junjungan kita, Muhammad bin Abdullah, dan atas keluarga serta sahabatnya, dan siapa saja yang mengikutinya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad.

Hadirin wal hadirat, jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Hari ini adalah hari yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala gantikan dua hari raya jahiliyah ketika Nabi Shallallahu alaihi wasallam sampai ke kota Al Madinah Al Munawaroh. Allah telah menggantikan hari raya jahiliyah kamu dengan dua hari raya yang lebih hebat, yang lebih dahsyat, yang lebih besar, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Pada hari ini, saudara-saudara kita di tanah suci berkumpul dari Mina ke Padang Arafah, dari Arafah ke Muzdalifah, dari Muzdalifah kembali ke Mina untuk melontar jumrah aqabah dan setelah itu akan dilanjutkan ke kota Makkah Al Mukarramah untuk melaksanakan thawaf ifadah dan Sa'i.

Sedangkan kita di tanah air, di seluruh penjuru dunia, mengagungkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada tiga hari, pada empat hari lengkapnya, yaitu hari nahar ditambah tiga hari tasyrik. Hari ini adalah hari nahar, hari menyembelih, dilanjutkan dengan besok sampai tanggal 13. Maka selama empat hari ini kita mengagungkan Allah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.

Jika ujian hidup ini besar, maka ada Yang Maha Besar sebagai tempat bersandar, maka kita akan katakan Allahu Akbar. Jika kita merasa diri kita besar, besar karena jabatan, besar karena kekuasaan, besar karena popularitas, besar karena harta dan ilmu, maka kita katakan Allahu Akbar. Allah yang lebih besar. Kita kecil, kita tidak ada apa-apanya.

Pelajaran pertama yang dapat diambil dari Idul Adha adalah betapa besarnya ujian Nabi Ibrahim Alaihissalam. Nabi Ibrahim terlahir sebagai seorang anak dari ayahnya yang tidak beriman. Ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya, "Mengapa engkau menyembah berhala?" Ujian pertama adalah menghadapi keluarga. Kalau hari ini kita dihadapkan pada keluarga yang belum salat, keluarga yang belum menutup aurat, maka sesungguhnya ujian Nabi Ibrahim jauh lebih besar daripada ujian kita. Kalau ada anak yang sudah hijrah, bapaknya belum lagi mau menempelkan keningnya ke lantai. Kalau ada seorang anak perempuan yang sudah hijrah, tapi ibunya belum lagi menutup kepalanya, maka sesungguhnya ujian Nabi Ibrahim jauh lebih besar. Maka kita katakan Allahu Akbar, ujian kita yang ini belum ada apa-apanya.

Ketika Nabi Ibrahim Alaihissalam mengajak ayahnya untuk menyembah Allah, apa kata Azar? "Jika kau tidak berhenti menceramahi aku, jika kau tidak berhenti mendakwahi aku, akan kulempar engkau pakai batu sampai mati. Tinggalkan aku untuk waktu yang lama. Jangan lagi engkau sebagai anakku, jangan lagi engkau mendakwahi aku. Tinggalkanlah aku." Nabi Ibrahim tidak berkata kasar. Apa kata Nabi Ibrahim? "Salamun 'alaika, wahai Ayahku. Aku tetap akan memintakan ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu amat sangat dekat dengan aku, dan Dia mengabulkan doa-doaku." Itulah layaknya seorang yang mengajak ke jalan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Selesaikah Nabi Ibrahim dengan ujian hidup? Belum. Lulus ujian menghadapi keluarga, dihadapkan lagi dengan ujian berikutnya, menghadapi ujian umat. Nabi Ibrahim berhadapan dengan orang-orang yang menyembah matahari, menyembah bulan, menyembah bintang gemintang. Maka kalau ada orang mengatakan Nabi Ibrahim mencari Tuhan dengan beberapa ayat. Ketika Nabi Ibrahim melihat bulan, dia berkata, "Ini Tuhanku." Lalu ketika bulan menghilang saat matahari terbit, "Allah tidak suka pada sesuatu yang hilang, yang musnah, yang sirna." Allah Maha Hidup, Allah Wujud, Maha Ada, Wajib pasti ada. Maka sesuatu yang hilang bukan Allah. Yang mati bukan Allah. Allah tidak mengantuk, tidak tidur. Maka Nabi Ibrahim tidak mencari Tuhan.

Ketika Nabi Ibrahim melihat matahari, "Ini lebih besar." Apalagi ketika matahari hilang saat malam tiba. Maka sesungguhnya yang hilang bukan Tuhan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala Maha Ada bagi petang, siang, dan malam. Yang kita sembah di waktu pagi, Dia juga yang kita sembah di waktu malam. Nabi Ibrahim berhadapan dengan para penyembah matahari, bulan, dan bintang-bintang. Sekarang kelompok ini disebut mereka yang percaya kepada perbintangan, ramalan. Sampai hari ini masih ada manusia yang percaya bahwa nasibnya ditentukan oleh peredaran matahari, bulan, dan bintang. Naudzubillah. Allahu Akbar, Allah Maha Besar daripada matahari. Allahu Akbar, Allah lebih besar daripada bulan. Semuanya makhluk yang bersujud kepada Allah.

Selesai menghadapi orang-orang yang menyembah matahari, bulan, dan bintang, Nabi Ibrahim berhadapan lagi dengan kelompok manusia yang menyembah berhala. Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim Alaihissalam? Nabi Ibrahim Alaihissalam menghancurkan berhala-berhala itu. Ketika mereka kembali lalu mereka melihat, "Ini pasti perbuatan Nabi Ibrahim Alaihissalam." Lalu kemudian mereka berkata, "Engkau yang melakukan ini kepada Tuhan-Tuhan kami, wahai Ibrahim? Engkau yang menghancurkan berhala ini?" Nabi Ibrahim menyiksakan satu berhala yang besar, menggantungkan satu kampak di leher berhala itu. Apa jawab Nabi Ibrahim? "Yang melakukan ini adalah berhala yang paling besar." Rasa itu, kalau memang mereka bisa bicara. Nabi Ibrahim sedang mengajak manusia berpikir, gunakan otak, akal pikiranmu. Kalau berhala-berhala itu tidak mampu menyelamatkan dirinya ketika dianjurkan, bagaimana mungkin mereka bisa membela dirimu? Kalau mereka tidak bisa menolak mudharat, bagaimana mungkin mereka bisa menolak mudharat dari dirimu? Yang mendatangkan manfaat, yang menolak mudharat, hanya Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allahu Akbar.

Selesai Nabi Ibrahim menghadapi ujian umatnya. Selesaikah ujian Nabi Ibrahim? Nabi Ibrahim berhadapan dengan ujian lama tidak dikaruniai buah hati, seorang anak. Nabi Ibrahim berdoa, "Robbi habli minassholihin." Menurut Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir dalam tafsir Alquran Al Azim, akhirnya Nabi Ibrahim dikabulkan doanya, lahirlah seorang anak bernama Ismail Alaihissalam. Ketika itu usia Nabi Ibrahim 86 tahun. 86 tahun berdoa pagi petang siang dan malam, "Robbi habli minassholihin." Akhirnya dikaruniakan seorang anak bernama Ismail Alaihissalam. Ketika Nabi Ismail berumur 13 tahun. Maka sesudah itu, pada usia 99 tahun, Nabi Ibrahim dikaruniai lagi seorang anak yang dulu sudah divonis manusia mengejek semuanya, Sarah tidak akan mungkin mempunyai anak. Akhirnya Allah mengabulkan. Tiada yang sulit bagi Allah. "Innama amruhu idza arada syai'an fayakun." Akhirnya Sarah melahirkan anak, seorang laki-laki. Itulah dia Ishak. Kedua-duanya anak-anak yang saleh. Kita menyebut dalam salat kita, "Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shollaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim. Wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama barokta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim." Kenapa disebut nama Ibrahim? Karena ujian berat dilalui oleh Nabi Ibrahim. Ujian berat itu tidak ada apa-apanya karena kita bersandar kepada Yang Maha Besar. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.

Selesaikah ujian Nabi Ibrahim? Belum. Anak yang lama menunggu itu ternyata mesti disembelih. "Ya bunayya, wahai anakku, ini 'aral munaa fi al-manam, aku lihat dalam mimpiku, ani al-bahuka, aku menyembelih lehermu. Pancur matam, apa pendapatmu?" Apa jawab Nabi Ismail Alaihissalam? "Ya abati, wahai Ayahanda, if'al ma tu'mar, laksanakan perintah Allah. Satajiduni insyaallahu minasshobirin, Insya Allah kau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Pelajaran pertama yang dapat kita ambil bahwa hidup adalah ujian. Jangan kita berpikir kalau kita sudah salat, kalau kita sudah berzakat, kalau kita sudah tobat, kalau kita sudah hijrah, lalu hidup kita senang, hidup kita tenang, tidak ada ujian. Berapa banyak orang yang sudah hijrah, yang sudah mengaji, yang sudah berhenti minum khamar, ketika ujian datang dia komplain, "Kenapa Tuhan tidak adil? Kenapa saya sudah baik, kenapa ujian hidup tetap ada?" Nabi Ibrahim orang paling baik, Nabi Ibrahim dipilih Allah di antara nabi-nabi, Nabi Ibrahim dipilih Allah di antara rasul-rasul, salah satu Ulul Azmi, tapi ujian hidupnya tetap ada. Apalagi kita. Islam tidak membuat orang berubah, yang berubah itu adalah cara pandang kita. Kita tetap sakit, tapi kita tidak menganggap sakit itu sebagai laknat. Boleh jadi sakit itu adalah cara Allah menghapuskan dosa-dosa kita. Mungkin tetap kesulitan ekonomi, tapi kita tidak menganggap kemiskinan itu sebagai laknat. Boleh jadi menurut ilmu Allah, tidak kaya lebih baik daripada kaya melupakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tapi kita tetap berusaha dan berikhtiar mencari rezeki untuk punya uang, membangun masjid, berkurban. "Fasholli lirobbika wanhar." Salatlah dan berkurbanlah. Berkurban orang kaya, membangun masjid, orang kaya melaksanakan ibadah haji, orang kaya. Tapi kalau sudah berusaha ikhtiar, rezeki belum juga kunjung tiba, tidak ada jalan lain kecuali berkhusnudzon kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari Idul Adha bahwa kita diperintahkan untuk menyembelih hewan kurban. "Fasholli lirobbika." Perbanyaklah salat, beribadah kepada Allah untuk membalas apa? "Inna a'toinakal kautsar." Kami sudah memberikan nikmat yang besar kepada engkau. Sudah kami berikan engkau nyawa hingga hidup di atas muka bumi, mata mu terbuka, telingamu mendengar, kakimu melangkah, tanganmu menghayut, hidupmu tenang, menurutmu kenyang, hatimu lapang. "Inna a'toinakal kautsar." Sudah memberikan nikmat yang besar. Bagaimana cara membalas nikmat Allah? "Fasholli." Perbanyaklah salat. "Wanhar." Dan berkurbanlah. Salat sebagai wakil dari ibadah badan. Ada namanya ibadah badan, salat, tawaf, sa'i, hukum ini semua ibadah badan. Jihad fisabilillah ibadah badan. Tapi ada namanya ibadah harta, zakat, wakaf, infak, sedekah. Hari ini dua-duanya kita laksanakan. "Fasholli lirobbika." Laksanakan salat Idul Adha. "Wanhar." Setelah itu sembelihlah hewan kurban.

Hewan sembelihan kurban yang disembelih, jatuh darahnya sampai ke tanah dari leher ke tanah tidak sampai 5 detik. Ada yang lebih cepat daripada tetesan darah, ampunan Allah kepada orang yang berkurban. Hewan kurban itu nanti akan datang pada hari kiamat dengan tanduknya, dengan bulunya, dengan kukunya. Tanduknya, bulunya, kukunya akan datang pada hari kiamat bersaksi di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala bahwa ini orang sudah beribadah kurban. Bagi yang belum mampu pada tanggal 10, terbuka rezekinya, dibukakan pintu hatinya, dia masih bisa berkurban. Tanggal 11 tidak mampu, tanggal 11 dibukakan Allah pintu rezeki, masih bisa. Tanggal 12 sampai puncaknya tanggal 13 selesai salat ashar, masih bisa seperti kurban selama matahari belum terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah, bulan yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kesempatan empat hari dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalau ada kendala, maka sesungguhnya "La yukallifullahu nafsan illa wus'aha." Tidak membebani orang di luar kemampuannya. Bagi yang kaya, ada hartanya, berkurbanlah. Bagi yang tidak mampu, jangan bersedih hati, jangan berkecil hati, jangan kecewa, karena sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak membatasi ibadah pada kurban saja. Berzikir juga ibadah, mengagungkan Allah ibadah. Mengagungkan Allah tidak hanya sekedar beramai-ramai, ketika sendiri di rumah pun kita mengagungkan Allah dengan bertakbir. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham.

Menyembelih hewan kurban dianjurkan orang yang berkurban menyembelih sendiri. Kalau tidak mampu, tidak berani, tidak ada ilmunya, boleh disembelihkan orang lain. Menyembelih hewan kurban dianjurkan untuk disaksikan. Kenapa menyaksikan hewan kurban ini adalah syiar. Penyembelihan hewan kurban itu kami jadikan sebagai syiar mengagungkan agama Allah. Ketika menyembelih hewan kurban, kita sedang melihat kambing, sapi, unta dipotong lehernya, putus urat nadinya, putus urat makannya. Itu penderitaan terakhir bagi hewan kurban. Setelah itu dia akan mati, dia menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bagaimana dengan kematian kita? Sudahkah kita siapkan khusnul khotimah? Sudahkah kita siapkan akhir kalam kita, "La ilaha illallah"? Kalau binatang mati, sekali mati selesai berakhir. Tapi kalau manusia mati, dia masih menghadapi pertanyaan malaikat Munkar Nakir, dia masih menunggu sampai hari kiamat, dia masih menunggu ditiupkan sangkakala, dia masih menunggu nanti sampai hari dibangkitkan di hadapan Allah, masih menunggu di Padang Mahsyar, masih ada titian Shiratal Mustaqim, masih ada hisab, masih ada perhitungan amal, masih ada timbangan berat amal saleh, masih ada lagi pertanyaan-pertanyaan sampai akhirnya masuk ke dalam surga Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Melihat binatang kematian, kesakitan, penderitaan. Berapa banyak binatang tidak mati itu, menunggu waktu yang lama. Tapi sakaratul mautnya sudah berakhir. "Kullu nafsin dza'iqotul maut." Setiap manusia pasti akan mati. Kematian kambing, sapi, lembu, dan unta yang kita lihat hari raya kurban, kematian yang penuh dengan penderitaan. Kematian kita jauh lebih menyakitkan bila kita tidak khusnul khotimah. Maka di antara doa yang diajarkan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, "Jadikanlah sebaik-baik hariku hari pada saat aku mati, khusnul khotimah, aku bisa bertemu dengan Engkau, ya Allah." Siapa yang berharap berjumpa dengan Allah, amalan saleha. Maka hendaklah dia beramal saleh, "Wa la yusyrik bi 'ibadati rabbihi ahada." Yang dibawa bekal hanyalah amal saleh dan tidak mempersekutukan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sapi kurban yang disembelih, mati, selesai. Tapi kita masih meninggalkan utang-piutang. Ahli waris lihat. "Ismaul mayyiti salasun." Yang mengiringi mayat ada tiga. Yang pertama, ahluhu, istrinya, anaknya, kawannya, sahabatnya, jamaahnya, tetangganya ikut mengiring ke liang lahat. Yang kedua, maluhu, hartanya, mobilnya, kendaraannya, semuanya dibawa ke pelataran parkir. Tapi pada akhirnya yang tinggal cuma satu. "Wa yabqa wahidun." Yang dua pulang ke rumah, anak istri akan pulang ke rumah, harta akan pulang. Yang tinggal hanya satu, "Wa yabaqqa wahidun." Yang tinggal hanya amaluhi. Kalau pernah kaki dibawa ke masjid, kalau pernah tangan bertasbih, kalau pernah mulut membaca Alquran, kalau pernah berzakat, berinfak, dan bersedekah, itulah yang akan dibawa menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham.

Pelajaran ketiga yang terakhir yang dapat kita ambil dari Idul Adha adalah bagaimana mendidik anak seperti didikan yang diperoleh oleh Nabi Ismail Alaihissalam. Lagi-lagi kita diingatkan beberapa hari terakhir kita didapatkan dibacakan berbagai macam berita bagaimana kelakuan anak-anak yang merusak harkat martabat orang tua, selalu buruk perbuatannya. Untuk dibacakan disebutkan pada khutbah yang suci, kita membaca setiap hari di media sosial bagaimana kelakuan anak-anak zaman ini. Ini semua tanggung jawab. "Kullukum ro'in." Setiap kepala rumah tangga adalah pemimpin, waktu kelak akan ditanya di soal, ditanya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Ke mana kita masukkan anak-anak kita? Pilihlah sekolah yang menanamkan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Masukkan ke lembaga pendidikan yang membacakan Alquran, menghafalkan Alquran, memahamkan Alquran. Tidak ada yang dapat membentengi anak-anak kita dari arus globalisasi, tantangan zaman yang luar biasa, kecuali pendidikan agama. Hebat pun matematika, hebat bahasa Inggrisnya, kalau akidahnya sesat, kalau dia tidak dapat jalan yang benar, maka dia akan mati dalam keadaan kafir, dalam keadaan munafik, dalam keadaan ingkar kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Hidup hanyalah melewati suatu jalan, "istaghallatin," bernaung sejenak di bawah pohon yang rindang. Ketika matahari sudah redup, kita pun akan melanjutkan perjalanan. Yang kita inginkan adalah anak-anak yang ketika mereka terbangun di tengah malam, mereka mendoakan kita. "Robbi habli minassholihin." Hari ini kita masih salat Idul Adha, hari ini kita masih bertakbir, hari ini kita masih mendoakan anak-anak kita. Apakah 20 tahun akan datang anak-anak kita masih ingat membacakan Al-Fatihah? Apakah anak-anak kita masih berzikir mengagungkan Allah? Jawabannya tergantung pada diri kita masing-masing. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham.

Dari kecil dibawa ke masjid, setelah besar dibiasakan menutup aurat, dibekali dengan pendidikan agama, didoakan setiap malam di sujud terakhir. Mintalah kepada Allah supaya anak dijaga dari narkoba, terpelihara dari perbuatan maksiat. Kalau sudah begitu pendidikannya, rusak juga akalnya, hancur juga hatinya. Kita berarti disuruh Allah beriman kepada takdir yang buruk. Bukankah Nabi Nuh Alaihi Salam memanggil anaknya, "Ya bunayya, wahai anakku, irkam ma'ana, mari naik ke atas perahu. Bapak ini air banjir bandang akan menenggelamkan semua dunia." Apa kata anak Nabi Nuh? "Sa'awi ila jabalin ya'simuni minal ma'." Aku akan naik ke atas bukit. Aku tidak perlu naik perahu. Ayah yang naik ke atas perahu. Nabi Nuh itu bukan anaknya, bukan istrinya, tapi orang lain. Ada kalanya orang lain lebih mendengar dakwah daripada keluarga kita sendiri. Begitulah rupanya. Tapi jangan sampai kita kehilangan ikhtiar dan usaha dalam dakwah.

Apa pelajaran yang dapat diambil dari perbuatan Hajar lari dari bukit Shofa ke bukit Marwah? Di bukit Shofa tidak ada air, di bukit Marwah tidak ada air. Ternyata air itu datang bukan dari tapak kaki Hajar. Air itu justru datang dari tumit anak kecil yang belum pandai berjalan, dari tumit Ismail Alaihissalam. Ini mengajarkan kita jangan pernah berhenti berusaha. Kita hanya disuruh Allah Subhanahu Wa Ta'ala berusaha. Ambil mata kail pancing, ambil bambu, pasang talinya, cari umpannya, letakkan di dalam kolam. Masalah ikannya datang atau tidak datang itu bukan urusanmu, itu urusan Allah. Masukkan anakmu ke sekolah agama, bekali dia dengan pendidikan akidah yang benar, berakhlakul karimah. Adapun masa depannya, serahkan pada Allah Subhanahu.

Kita akan mati menghadap Allah. Kita ingin kita meninggalkan "baldatun thayyibatun wa robbun ghafur." Pikirkan di alam barzah jauh lebih lama daripada alam dunia. Imam Al Ghazali meninggal tahun 505, sekarang sudah tahun 1444 Hijriah. Artinya apa? Hampir 1000 tahun yang lalu. Tapi sampai hari ini pahala tetap mengalir ke Imam Al Ghazali karena setiap negeri ada yang membaca kitab Ihya Ulumiddin. Bayangkan Muhammad Al Fatih sudah lama meninggal, tapi pahala tetap mengalir karena beliau membangun masjid, merubah sesuatu yang mungkar menjadi masjid. Masjid Konstantinopel, masjid yang dibangun oleh orang yang tidak beragama menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tapi kemudian Muhammad Al Fatih membebaskan bangunan itu, gerobaknya menjadi tempat bersujud kepada Allah. Maka pahala orang yang salat mengalir ke tempatnya, ke makamnya sampai hari ini. Bagaimana dengan kita? Kalau kita mati, apa yang kita tinggalkan? Jangan dijawab dengan lidah, begitu mudah menggerakkan anak lidah. Tapi jawablah dengan hati dan pikiran serta amal ke depan.

Kita tinggalkan anak-anak yang saleh dan sholehah. Kita tinggalkan tanah wakaf tempat orang belajar agama. Kita tinggalkan ilmu pengetahuan lewat tulisan, buku, dan ceramah. Yang lain hanya tinggal kenangan semata. Kita berasal dari tanah, setelah mati kita akan dimakan cacing tanah. Selepas itu tulang belulang kita pun akan hancur menjadi debu, hilang tak berkesan, tak meninggalkan apapun. Yang kita tinggalkan hanyalah amal. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Yang ditinggalkan nama yang baik atau nama yang buruk. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilham.

Barakallahu minkum. Tilawatan. Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad. Assalamualaikum. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, kabiro walhamdulillahi katsiro wa Subhanallah ibukota wa Ashilla. Lailahaillallah wa 'ala na'budu illa Iya Mukhlisin lahuddin walau karial Kafirun la. Nikmah Allah maftahna abubal barokah. Allah ta'ala Abu wabah kulli syai'iya Rabbal Alamin. Allahumma the fa'anal Fala waba wal Fasya wal riba wasina wa suifal muqtali fatawa syada.