Transcription
Gadis subur itu melompat ke dalam air, tetapi suara cipratannya begitu keras hingga salah satu teman sekelasnya langsung melemparkan jaring ke atas kepalanya, mencegahnya kembali ke permukaan. Untuk melepaskan diri dari jaring itu, gadis tersebut terpaksa berenang di bawah air.
Namun, ia tidak menyadari bahwa di dasar kolam renang tepat di bawahnya terbaring sesosok mayat. Saat akhirnya ia berhasil mencapai sisi lain kolam, sekelompok gadis tiba-tiba mengambil pakaiannya. Sahabat terbaiknya juga berdiri di tepi kolam, tetapi ketika ia memohon bantuan, sahabatnya itu sama sekali tidak peduli. Bahkan saat pergi, sahabatnya membawa satu-satunya handuk yang masih dimilikinya.
Dengan putus asa, gadis itu melangkah di bawah trik matahari yang menyengat dan berjalan pulang. Namun, di tengah perjalanan, sekelompok gang gangster melihatnya. Mereka sengaja mengikutinya dan mengejek tubuhnya. Gadis itu akhirnya tak kuat lagi dan menangis. Agar tidak diejek lagi, ia berlari menuju jalan terpencil yang jarang dilewati orang. Ia pikir di sana ia akan aman.
Tiba-tiba sebuah mobil putih berhenti di depannya. Tidak ada siapapun di dalam mobil itu. Namun ketika ia mendekat, seorang teman sekelasnya merangkak keluar dari mobil. Dia adalah salah satu gadis yang telah merundungnya hari itu. Gadis itu telah melakukan begitu banyak hal buruk hingga menarik perhatian seorang pembunuh. Mayat di kolam renang tadi adalah korban pembunuh tersebut. Ia telah membunuh perempuan yang memprovokasi gadis itu di kolam setelah perempuan itu memakinya ketika ia menatapnya.
Aksi perundungan terhadap gadis itu juga disaksikan oleh si pembunuh dan ia memutuskan untuk membantu dengan menghukum para gadis tersebut. Saat para gadis meninggalkan area itu, ia menyergap mereka semua dan kembali mengendarai mobil menuju gadis tersebut seolah ingin memamerkan hasil perbuatannya. Gadis itu melihat sebuah tangan keluar dari bagasi mobil. Lalu muncul teman sekelas yang telah menyiksanya. Teman sekelas itu memohon agar diselamatkan. Namun gadis itu tidak bereaksi. Ia terlalu ketakutan.
Melihat betapa putus asanya gadis tersebut, si pembunuh melemparkan sebuah handuk kepadanya. Gadis itu terharu lalu melambaikan tangan kepada si pembunuh. Si pembunuh memahami isyarat itu, lalu pergi membawa teman sekelasnya. Yeah.