Transcription
Halo, kedengaran? Kedengaran, kedengaran Pak. Semua baik, semua baik. Suara jelas dan jernih, Pak. Semua baik, semua baik, Pak. Bahasa Indonesia tidak apa-apa ya? Bisa dilanjutkan, Pak? Bahasa Indonesia? Oh, sudah tidak ada. Eh, masih ada, cuma tidak apa-apa, dia meminta bahasa Indonesia. Oh, oke, siap, siap. Oke, kita mulai ya.
Oke, selamat pagi semuanya. Selamat datang di Buyung Putra Sembada, atau yang kita kenal dengan Hoki, untuk *earning call* di kuartal ketiga 2024. Saya Vanessa Karmajaya, analis *healthcare* dari RHB, dan saya akan menjadi *host* untuk *call* hari ini.
Pertama-tama, selamat datang dan terima kasih kepada semua yang telah bergabung dalam *call* kami. Bergabung bersama kami hari ini, ada Bapak Karto selaku CEO dari Hoki Investasi Sejati. Lalu, kita juga ada Bapak Pan selaku direktur juga dari Hoki. Lalu, ada Bapak Ir. Ada Bapak Adak. Jadi, mungkin sebelum kita mulai, saya akan membagikan format *call* hari ini, di mana kita akan ada presentasi dulu dari tim, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Juga, mohon diingat bahwa *call* ini direkam dan mohon tetap dalam mode senyap selama presentasi. Jadi, saya rasa, tanpa membuang waktu lagi, saya persilakan kepada tim Hoki untuk memulai presentasi. Silakan.
Baik, saya bantu untuk presentasinya. Oke, jadi, selamat pagi Bapak, Ibu, teman-teman sekalian. Terima kasih untuk waktunya. Selamat datang juga di *earning call* kuartal ketiga 2024. Jadi, sekilas saja, sebagai salah satu produsen dan distributor beras premium terkemuka di Indonesia, Hoki ini terus melakukan inovasi, terus untuk bertumbuh secara berkelanjutan ke depannya melalui empat segmen bisnis utamanya. Jadi, hari ini kita akan mulai membedah langsung saja lebih dalam mengenai perusahaan Hoki ini. Kita masuk ke segmen yang paling menarik dari Hoki ini.
Jadinya, secara keseluruhan, saat ini Hoki memiliki empat sumber pendapatan utama. Jadi, saat ini kita telah berdiri sejak tahun 2003 sebagai produsen dan juga distributor beras premium terkemuka dengan merek utama Hoki dan Topikoki. Perusahaan kami juga terus berkembang untuk meningkatkan efisiensi dan diversifikasi sumber pendapatan, sehingga pada tahun 2020, Hoki mendirikan PT Buyung Putra Energi untuk mengelola produk sampingan sekam padi dengan efisien dan menciptakan pendapatan tambahan bagi perusahaan. Kemudian, kami juga mendirikan PT Hoki Investasi Sejati, atau singkatannya HIS, yang berinvestasi di beberapa perusahaan terbuka. Kemudian, pada tahun 2022 ini menjadi titik awal transformasi Hoki menjadi perusahaan FMCG dengan memperkenalkan merek Daily Meal, karena kami melihat adanya permintaan yang meningkat terhadap produk-produk yang fokusnya ke arah kesehatan, terutama setelah pandemi. Jadi, untuk peluang pertumbuhan lebih lanjut, kami mendirikan PT Hoki Distribusi Niaga, atau singkatannya HDN, sebagai anak usaha perusahaan kami yang berfokus pada pengembangan segmen beras khusus ini. Jadi, lini bisnis ini telah kami kembangkan sejak tahun 2022 hingga sekarang. Dengan demikian, Hoki ini memiliki bisnis yang terus berkembang secara berkelanjutan dan juga fokus pada berbagai keunggulan yang kami miliki sebagai perusahaan.
Jadi, bisnis pertama adalah produksi dan distribusi beras komoditas yang berkualitas premium, yang hingga November 2024 ini, kontribusi pendapatan dari segmen ini masih lebih dari 97%. Kami memiliki lebih dari 40 tahun pengalaman di industri beras, dengan kapasitas produksi kami sekitar 55 ton per jam, serta memiliki dua pabrik kami yang berada di Subang dan Cipinang. Perkembangan terbaru untuk beras premium di Indonesia ini adalah kenaikan Harga Eceran Tertinggi atau HET pada Maret 2024 menjadi Rp14.900 per kg, dibandingkan tahun lalu yang sekitar Rp12.900. Kenaikan ini juga telah ditetapkan sebagai permanen oleh pemerintah. Dan di sisi lain, harga gabah bahan baku ini masih lebih tinggi daripada tahun lalu, tetapi telah mulai stabil seiring dengan peningkatan pasokan.
Nah, berikut ini adalah foto-foto dari operasional kami. Ada pabrik dan juga gudang yang berada di Subang dan juga Cipinang.
Nah, sebagai alternatif diversifikasi di tengah bisnis beras komoditas, di tengah fluktuasinya harga bahan baku, kami secara strategis memulai transformasi menjadi perusahaan FMCG dengan memperkenalkan produk Daily Meal melalui anak usaha kami, Hoki Distribusi Niaga. Jadi, kami mengantisipasi bahwa ini akan menjadi pendorong pertumbuhan selanjutnya ke depannya, dan fokus kami saat ini adalah mengembangkan segmen bisnis ini. Kami memasuki bisnis ini pada tahun 2022 dan sekarang telah berjalan sekitar 2 tahun. Dan saat ini, kami sedang membangun pabrik baru di Jawa Tengah yang akan melayani pasar yang lebih luas di industri produk makanan yang sehat.
Nah, kami juga sedang aktif memperluas strategi pemasaran digital dan juga distribusi kami, terutama di saluran *modern trade*. Jadi, kami terus berkembang melalui kemitraan dengan pihak ketiga, baik di toko *offline* maupun *online*. Dan akhir-akhir ini, produk kami juga sudah tersedia di Gofood dan juga TikTok Shop untuk pelanggan *online*. Jadi, kami yakin bahwa prospek jangka panjang Daily Meal ini sangat menarik. Selain itu, kami juga menjajaki peluang untuk memperluas ekspor produk beras sehat di masa yang mendatang.
Nah, ini adalah segmen bisnis kami selanjutnya, yaitu bisnis investasi oleh PT Hoki Investasi Sejati. Jadi, alokasi aset kami ke portofolio investasi ekuitas atau investasi saham ini telah memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dalam hal pertumbuhan dan juga nilai saham. Per hari ini, kami mencatatkan total aset portofolio ekuitas kami telah tumbuh menjadi Rp306 miliar per November 2024. Dan kami juga telah memperoleh sejumlah dividen dari beberapa saham kami hingga November 2024.
Kemudian, sebagai bagian dari upaya operasional perusahaan menuju perusahaan yang bebas limbah atau *Zero Waste*, kami secara konsisten juga memberikan pendapatan berulang bagi perusahaan melalui bisnis energi terbarukan. Kami menggunakan sekam padi, yaitu produk sampingan dari produksi beras, dan kita juga telah menyewakannya kepada perusahaan afiliasi kami. Selain itu, kami juga mengubah sekam padi ini menjadi pelet dan kami menjualnya kepada bisnis-bisnis lainnya. Dan juga, ini menunjukkan bahwa ada umpan balik positif dari pelanggan dan menghasilkan pendapatan tambahan sejak energi terbarukan ini mulai digalakkan oleh pemerintah.
Baik, kita mungkin masuk ke kinerja keuangan. Jika kita lihat kembali sedikit mengenai kinerja keuangan Hoki pada tahun 2023, kami masih mencatatkan penurunan yang sebagian besar disebabkan oleh tren kenaikan dan tingginya harga bahan baku perusahaan, yaitu harga gabah yang meningkat sekitar 20% dibandingkan pada tahun 2022. Dan diikuti juga dengan peningkatan biaya lain seperti yang terjadi tiap tahun, seperti utilitas, ada tenaga kerja, dan juga sebagainya. Nah, hal ini juga yang akhirnya mengurangi margin keuntungan perusahaan di tahun 2023. Oleh karena itu, Hoki melakukan diversifikasi bisnisnya ke produk FMCG, yaitu Daily Meal, yang telah gencar kami kembangkan juga sejak akhir tahun 2022. Dan juga, produk ini ke depannya akan berkembang dengan pesat dan juga memberikan keuntungan dan profit yang lebih baik bagi perusahaan.
Lalu, masuk ke kinerja 2024 kami, kami berhasil mencatatkan kinerja yang berbalik positif dan juga penjualan kami meningkat sebesar 20%, sekitar Rp1,1 triliun. Di mana penjualan ini masih didominasi oleh beras premium. Sementara untuk Daily Meal ini, meskipun kontribusinya masih belum terlalu besar, ke depannya kami yakin Daily Meal ini akan memberikan pendapatan dan laba yang sangat signifikan. Dan hingga per November 2024, Daily Meal ini telah berhasil mencatatkan penjualan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga ini melebihi target penjualan produk Daily Meal yang ditetapkan Hoki pada tahun ini sebesar 10%.
Lalu, untuk peningkatan harga jual rata-rata untuk beras premium pada 2024 ini menjadi pendorong utama juga dalam perbaikan signifikansi profitabilitas kami, dengan laba kotor meningkat sebesar 36% secara tahunan. Terkait laba bersih, kami berhasil berubah dari rugi menjadi untung di 2024, terutama karena harga jual yang lebih tinggi dan strategi diversifikasi bisnis yang memungkinkan kami untuk mengurangi risiko dan menghindari ketergantungan pada satu bisnis saja.
Oh ya, kemudian selain itu, kita juga memiliki sumber pendapatan dari penyewaan pembangkit listrik sekam padi, serta dari industri lain, yaitu investasi jangka panjang pada saham-saham perusahaan yang telah terdaftar di Indonesia melalui anak usaha kami. Dan juga, pada tahun 2024, kami menjaga rasio keuangan yang sehat di 0,5, serta rasio lancar kami di 1,6 kali. Kemudian, tahun ini juga, di tengah kondisi keuangan yang cukup menantang, kita tetap mempertahankan komitmen kami sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham dengan membagikan total dividen sekitar Rp9,7 miliar, dengan pembayaran yang telah kami lakukan di bulan Juli tahun 2024 ini.
Ini sekilas mengenai aspek ESG kami.
Oke, jadi untuk detail mengenai ESG ini bisa dilihat lebih jelas dalam laporan keberlanjutan kami. Sebagai ringkasan saja, Hoki ini juga ingin berdedikasi kepada keberlanjutan dalam lingkungan dengan mengolah semua limbahnya, sehingga kami menjadi perusahaan yang *Zero Waste*. Kami telah mengoperasikan pembangkit listrik dari padi pertama di Indonesia, serta memproduksi pelet sekam padi untuk bahan bakar. Dan juga, di sisi lain, produk sampingan kami dari beras itu juga digunakan sebagai pakan ternak.
Kita masuk ke *Outlook*. Nah, berikut ini adalah analisis industri kami. Jadi, seperti yang terlihat pada grafik di kiri atas, Indonesia ini masuk dalam lima besar produsen beras di dunia, dengan beras menjadi makanan pokok yang dikonsumsi oleh masyarakat, serta permintaannya pun juga akan terus meningkat. Total konsumsi beras di Indonesia ini telah mencapai 23 juta ton, sementara Hoki memproduksi sekitar 200.000 ton per tahun untuk beras.
Kemudian, di sisi lain, untuk produk Daily Meal kami seperti beras singkong, nasi jagung, dan juga beras merah ini menawarkan alternatif nasi yang sehat untuk konsumsi sehari-hari. Produk-produk ini sangat cocok untuk penderita diabetes, mengingat kasus diabetes di Indonesia ini cukup tinggi, bahkan tertinggi di ASEAN. Kami ini menyediakan juga pilihan beras yang bebas gula, tinggi serat, dan juga memiliki indeks glikemik yang rendah, di mana ini sangat membantu untuk pencegahan dan juga merawat penderita diabetes.
Hingga 2024, kami ini telah melakukan banyak aktivitas *branding*, baik digital maupun konvensional. Strategi komunikasi kami yang terbaru adalah "Nasi Enak yang Ringan", yang fokusnya penekanan citra rasa Hoki, dan sejauh ini mendapatkan umpan balik yang positif dari pasar. Di sisi lain, kami juga menambahkan portofolio produk dengan meluncurkan varian ukuran baru pada Juli 2024 ini, yaitu Daily Meal ukuran 500 gram. Selain itu, kami juga melakukan *soft launching* untuk salah satu produk kami pada September 2024, yaitu varian 5 kilo Hokiri beras Japonica.
Nah, kemudian ini untuk *outlook* kami tahun 2024 dan ke depannya, bahwa kami optimis bahwa pertumbuhan penjualan di tahun 2024 ini akan sebesar sekitar 10% secara tahunan, serta laba bersih yang jauh lebih baik, yang didorong oleh pertumbuhan dari empat bisnis kami, yaitu ada beras premium melalui BPS, ada FMCG Daily Meal melalui HDN, serta ada investasi ekuitas melalui HIS, dan juga energi terbarukan melalui BPE. Serta, kami juga fokusnya akan mengembangkan bisnis FMCG, tepatnya di Daily Meal, untuk berinovasi dan juga menghasilkan produk yang lebih baik, serta memperluas saluran distribusi.
Oke, mungkin sekian *update* dari Hoki. Mungkin saya kembalikan lagi ke moderator dan kita bisa mulai untuk sesi tanya jawabnya ya.
Terima kasih untuk presentasinya. Mungkin sedikit mengingatkan, silakan kepada teman-teman jika ada yang mau bertanya, bisa mengangkat tangan atau menuliskan pertanyaan di kotak obrolan. Nanti akan saya bacakan.
Oke, jadi saya rasa sebelum kita memulai sesi ini, mungkin pertanyaan pertama dari saya, Pak. Mungkin boleh dijelaskan, Pak, apa yang menjadi pendorong pertumbuhan utama di kinerja kuartal ketiga ini, terutama secara kuartal ke kuartal, yang tampaknya cukup membaik? Apakah karena memang penyesuaian HET atau ada faktor lain? Mungkin itu yang pertama dulu dari saya, Pak.
Oke, terima kasih pertanyaannya ya, Vanessa. Pendorong pertumbuhan utamanya yang pertama sih memang kita selalu sebagai perusahaan yang tentunya sudah lama berkecimpung di dunia beras, dari tahun 1977. Nah, sementara BPS sendiri, dari 2023, kita sudah mengerti pola atau siklus dari panen dan segala macam. Jadi, ketika seperti sekarang ini, mulai dari kuartal, bahkan nanti di kuartal keempat juga, kita sudah siapkan bahan baku yang kita tahu bahwa nanti ini pasti akan dibutuhkan juga di kuartal pertama 2025, karena kita sudah merencanakan. Jadi, stok itu menjadi hal yang penting sekali kita perhatikan ya. Nah, kita sudah mengerti kapan kita harus membangun stok. Itu sih, jadi itu bagus. Kemudian yang kedua, kita sendiri juga di 2024, kuartal pertama atau bahkan sampai kuartal kedua juga, mulai di awal kita juga banyak saluran distribusi yang kita masuki lagi. Dan ini, jaringan atau jaringan minimarket yang cukup bagus. Itu sih, Bu Vanessa.
Oke, kalau tadi kan dikatakan jaringan minimarket ya, Pak. Mungkin boleh sedikit dielaborasi, Pak, maksudnya kira-kira apakah ada inisiatif yang baru di minimarket atau seperti apa, Pak, maksudnya?
Ya, jadi kalau yang tadi seperti kita bilang, kekuatan kita atau proposisi nilai atau kelebihan kita dari Buyung Putra Sembada atau Hoki, yaitu kita boleh dikatakan menjadi *The Last Man Standing*. Kalau orang lain, kalau kita tidak punya beras, apalagi orang lain. Kita kalau sudah menyerah, berarti itu ya. Nah, ini juga dan komitmen kita untuk selalu memasok pelanggan-pelanggan kita yang terbaik. Jadi, kita berusaha sekuat mungkin tidak sampai kehabisan stok di toko ya. Nah, ini yang menjadi satu kekuatan ketika di akhir 2023, masuk ke awal kuartal 2024, itu banyak yang kosong, tetapi kita masih bisa memasok, sehingga beberapa minimarket, boleh kita sebut seperti umpamanya Alfamart, Yomart, FamilyMart, itu semua mereka membawa produk kita untuk dimasukkan ke dalam SKU mereka, display mereka ya. Apalagi kita juga mempunyai kelebihan Topikoki, *brand awareness*-nya sudah cukup baik ya. Hampir di supermarket atau beberapa orang paham sih dengan merek kita. Itu sih, Bu Vanessa.
Oh, oke, oke, dicatat, dicatat, Pak. Lalu mungkin, Pak, kalau kita melihat kuartal keempat, Pak, mungkin harusnya kita ekspektasinya seperti apa nih, Pak? Apakah ada peningkatan secara kuartal ke kuartal, dan tahun ini mungkin secara spesifik dibandingkan dengan tahun lalu, apakah ada peningkatan yang cukup menarik? Dan juga, boleh diberikan gambaran juga tidak sih, Pak, biasanya musiman bisnis ini bagaimana ya, Pak?
Iya, sebenarnya sih mulai pertengahan kemarin, dari Juni sampai September itu sudah mulai panen ya. Kemudian panen itu selalu ada, itu mungkin panen yang kedua. Nah, yang ketiga itu mulai ada juga. Sekarang sih sudah mulai masa-masa panen, sudah mau selesai. Kalau kita lihat di Jawa Barat itu sudah mau habis panennya ya. Sementara Jawa Timur, Jawa Tengah itu sudah mulai menanam. Artinya, kita lihat memang mudah-mudahan alam ini berpihak ya, karena kan kalau sekarang kita lihat sih sudah *November Rain* gitu katanya ya, sudah mulai ada hujan. Nah, ini orang sudah mulai tanam. Sementara kita kalau melihat di Sumatera, khususnya Sumatera Selatan, itu sudah mulai ada panen. Nah, panennya ini mungkin yang kita bisa, mungkin akan habis juga di bulan November ini. Kemudian mereka akan tanam lagi. Polanya sih seperti itu, Bu ya. Jadi, kita sudah siapkan semua yang tadi seperti kita bilang, bahwa nanti untuk menjaga stok untuk 3-4 bulan ke depan sampai panen di kuartal pertama 2025 ya. Gitu sih, di Maret atau April gitu ya. Jadi, kita sudah, sudah, sudah ini. Jadi, penjualan itu akan bagus terus dan kita akan, stok itu akan tersedia di semua, baik *General Trade* maupun *Modern Trade* yang kita pasok.
Oke, oke, dicatat, Pak. Pak, mungkin satu pertanyaan terakhir dari saya sebelum kita beralih ke sesi tanya jawab. Ini kan kalau kita lihat sebenarnya di Jakarta itu cukup panas ya, Pak, baru akhir-akhir ini nih yang hujan gitu. Tapi kalau di daerah-daerah lain, mungkin ada gambaran dari segi cuacanya? Apakah cukup kondusif, Pak, untuk musim tanam ataupun panen gitu, Pak?
Kalau kemarin kita lihat, baru dapat dari Sumatera ya, beberapa hujan sih. Jawa juga sudah hujan gitu ya, jadi ya sudah cocok sih, ada beberapa yang sudah mulai tanam gitu ya, cuacanya begitu. Nah, tadi kalau tanya pendorong pertumbuhannya yang mana lagi ya? Tadi nanti kita selain tadi mengembangkan beberapa produk baru, tapi nantilah ya, tunggu yang ini nanti untuk pertanyaan selanjutnya ya, Pak. Siap, siap, Pak.
Oke, kita ke kotak tanya jawab dulu. Kita ada dari Hai. Ini adalah pertanyaan: "Mengapa margin kotor Hoki terus menurun?" Apa yang membuat margin kotor mungkin trennya agak, trennya turun ya, Pak ya? Margin kotor turun ya?
Ya, itu memang yang tadi dibilang bahwa dari awal Pak Mik sudah presentasi, bahwa kita itu kan salah satunya tergantung dengan Harga Eceran Tertinggi ya. Kalau kita di internal sendiri sih, rasanya sih kita sudah melakukan efisiensi biaya sampai *Zero Waste* ya. Apa juga dijual, umpamanya sekam padi kita manfaatkan dijadikan pelet, kemudian kita jual. Kemudian kita juga ada pembangkit listrik ya. Kemudian kita juga pakai yang sekam padinya, dan pabriknya itu juga kita sewakan juga ke kita punya itu ya. Nah, jadi itu pendapatan. Nah, tapi di 2024 itu kan sudah mulai membaik marginnya. Walaupun memang tidak sebagus-bagus amatlah, tapi kita melihat memang tren marginnya itu kan ada kenaikan itu karena memang ada perubahan dari HET ya, Harga Eceran Tertinggi di akhir kuartal pertama 2024 ya. Artinya, kita lihat di Mei, di Juni, April akhir, Mei, Juni itu sudah mulai ada relaksasi dari pemerintah untuk HET. Nah, itu kita masih bisa melihat bahwa ada peluang margin yang masih bisa kita dapat. Nah, pengalaman kita juga bilang tadi, kayak tadi kita mulai masuk membangun stoknya mulai dari sekarang nih, kita bahan baku saat-saat harga lagi bagaimana gitu ya. Nah, jadi memang marginnya tidak bisa besar-besar banget, tetapi itulah mengapa kita melakukan diversifikasi produk atau diversifikasi produk juga melalui anak usaha kita yang HDN ya. Kita ada ciptakan untuk di 2024 ini kan ya. Tadi ada produk-produk baru yang kita keluarkan, mungkin ada dua atau tiga ya, tiga produk baru. Dan sebentar lagi juga kita akan meluncurkan produk baru juga gitu. Itu sih, Bu ya. Jadi, memang ini memang tidak bisa. Nanti makanya kita ada diversifikasi produk melalui FMCG HDN, ditambah lagi tadi juga ada investasinya ya, yang dikelola langsung oleh Pak Karto Buyung.
Oke, semoga ya. Oke, mungkin pertanyaan selanjutnya dari saya, Pak. Mungkin sekalian mengingatkan dulu teman-teman, kalau ada yang mau bertanya lagi, bisa mengangkat tangan atau menuliskan pertanyaan di kotak obrolan. Selanjutnya, kalau dari saya mungkin, Pak, untuk dari, nanti misalnya untuk tadi yang pemerintah ya, Pak, terkait dengan program makan gratis gitu, Pak. Terkait juga sama pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan, mungkin apakah bisa Hoki mendapatkan manfaat atau berpartisipasi, Pak, dalam hal tersebut? Atau Hoki melihatnya seperti apa nih, Pak?
Sampai sekarang sih kalau dari pemerintah sih tidak ya. Mungkin pemerintah lebih cenderung sekarang adalah menciptakan sawah sebanyak-banyaknya mungkin ya. Gitu, kalau kita lihat kan programnya dari Bapak Presiden kan seperti itu ya, cetak 3 juta sawah ya. Kemarin juga sudah mulai kelihatan dia ada irigasi dan segala macam. Nah, kalau dari kita sih secara langsung tidak ada, tetapi kita sendiri juga mendukung bagaimana supaya kita bisa berkontribusi menciptakan beras-beras yang sehat, beras-beras tentunya yang ada. Makanya kita sebentar lagi juga akan mengeluarkan beras berfortifikasi. Fortifikasi beras itu beras yang ada vitaminnya ya, karena kita melihat katanya Indonesia, kenapa ya kok tidak tinggi-tinggi masyarakatnya, anak-anaknya beda dengan anak-anak di luar negeri yang tinggi-tinggi? Kalau main bola, main futsal, bola kaki, main voli, itu basket tinggi-tinggi. Nah, jadi kita kasih fortifikasi seperti contoh vitamin D atau vitamin Zinc segala macam. Nah, kita supaya juga ikut supaya masyarakat itu ketika dia makan, mulai dari anak-anak, itu sudah bisa mendapatkan asupan gizi yang baik. Jadi, secara tidak langsung lah gitu ya. Kemudian kita ciptakan tadi beras merah yang memang itu proteinnya cukup tinggi dan pulen. Nah, mempunyai kelebihan yang cukup pulen gitu daripada beras merah seperti biasa, karena kita tanam sendiri. Nanti mungkin Pak Ferdinan, Pak Ferdi ya, bisa bantu kasih lihat kita tanam sendiri. Kemudian kita juga, itu ada beberapa produk-produk baru yang memang kita luncurkan. Itu sih, Bu Vanessa.
Oke, untuk produk baru, Pak, bisa dibocorkan, Pak? Kira-kira kan kita sudah melihat ya untuk nasi jagung, nasi singkong, untuk yang ada beras merah. Ke depannya pengembangannya mau seperti apa lagi? Apa ada yang sudah bisa dibocorkan? Boleh sih mau dibocorkan. Mungkin Mas atau Pak Ferdi bisa bantu kasih bocoran sedikitlah. Ini mungkin bulan ini, akhir bulan ini, kita sudah meluncurkan ya. Sekarang mungkin itu ada kemasannya, saya kirim di WA ya, mungkin bisa dilihat gitu ya. Nah, jadi untuk di tahun ini, itu mulai dari awal tahun, kita sudah ada beras Jepang Hokiri. Kemudian kita juga ada beras merah yang lebih dulu. Dan yang ini yang ketiga, kita akan ada beras porang kasava. Dan ini cukup diseduh ya, rasanya enak, dan ini juga tentunya tidak ada gulanya, tapi seratnya tinggi, dan itu mudah dibawa ke mana-mana ya. Gitu, coba Pak Ferdi, silakan dibocorkan. Mau dibocorkan ya, Bu Vanessa ya? Boleh dong, Pak. Nah, oh, ini baru belakangnya ya. Oh, oke, berarti nanti dalamnya saset-saset gitu ya, Pak ya? Iya, ini saset isinya empat. Kita bikin yang lebih simpel, kecil ya. Kemudian ini satu saset bisa untuk makan satu kali ya. Itu diseduh saja. Itu kalau dibesarkan lagi, kelihatan di kotak depannya itu, sebelah kanan dekat mangkoknya, itu ada cukup diseduh saja. Itu kelebihannya sih itu. Iya.
Oke, sejauh ini kontribusi dari beras-beras ini secara pendapatan sudah berapa besar? Mungkin belum banyaklah, mungkin kalau dihitung kecil banget. Tapi itu justru kan kita lihat ini potensinya besar sekali ya. Kalau kita lihat trennya kan orang Indonesia atau sekarang kita nih, masyarakat sudah mulai peduli kesehatan ya. Kita lihat juga ketika apa namanya, *gym* tumbuh di mana-mana, kalau Ibu melihat *gym*-nya ya, tempat-tempat *nge-gym* ya. Kemudian restoran sehat juga banyak ya. Ini artinya orang sudah mulai melihat kesehatan itu penting sekali. Nah, ini kita seiring produknya kita, ini produk sehat semua. Cuma ya masalahnya kita kan butuh waktu, kita mengedukasi. Kalau yang porang tadi mungkin tidak begitu sulit, tapi kalau jagung singkong itu kita perlu ya. Sehingga kita manfaatkan semua sarana yang kita punya untuk bagaimana kita bisa memperkenalkan kepada orang. Baru sekarang juga kita tempel di mobil-mobil kita ya. Kalau kita bilang Jakarta sendiri ada 16 juta di waktu siang mungkin ya, kalau di waktu malam mungkin bisa 10 jutaan tidur. Kalau siang dari mana-mana. Pak Ferdi mungkin kasih lihat tuh kalau, jadi dia keliling-keliling mobil kita di Jakarta, mungkin banyak yang lihat. Jadi, sehingga yang tadinya kontribusinya cuma tidak sampai 5% atau 5% dari total Hoki ya, nanti akan lebih besar lagi ya. Kalau sebenarnya 10% itu sudah bagus banget ya. Mas, kasih lihat deh iklan kita itu yang ada di WA tadi, ada mobil. Nah, kita kasih lihat tuh. Nah, ini Hokiri kita ya. Jadi, keliling-keliling nanti Bu Vanessa lihat, "Oh, ini siapa punya nih? Hoki punya nih." Jadi, ada mobil kita keliling seluruh Jakarta. Nanti itu sudah banyak sih, ada beberapa puluh mobil yang kita tempel ya. Jadi, supaya lebih besar lagi kontribusinya, Bu, terhadap total Hoki.
Siap, Pak. Tapi kalau dari untuk dari distribusi produknya ini, sudah di seluruh Indonesia atau saat ini areanya di mana saja ya, Pak? Untuk beras, belum, belum seluruh Indonesia ya. Jadi, kita memang ada kerja sama dengan satu distributor, tetapi mereka belum siap. Akhirnya mungkin akhir November ini atau awal Desember, kita akan ganti distributor yang nasional, cakupannya nasional. Dan karena kita sudah ada beberapa minimarket ya, yang masuk, tetapi kita belum bisa kirim. Kali ini baru kita di Jawa dan Bali ya. Tapi nanti ketika ini kita sudah tanda tangan, karena sudah 95% sudah oke, distribusinya pakai distributor baru yang nasional, cakupan areanya. Jadi, ini berharap nanti akan tumbuh bagus sekali ya, karena tidak hanya beras yang jagung, singkong, porang yang baru ini. Porang ini pasti akan lebih, lebih dahsyat lagi ya. Tetapi juga beras-beras lain yang kita akan distribusikan, seperti yang beras fortifikasi, kemudian juga beras Jepang ya. Kemudian kita juga ada. Nah, tadi ada beberapa sih yang kita lagi kerjakan. Kalau ini oke, jangan khawatir, marginnya pasti naiknya akan banyak gitu ya.
Oke, oke, dicatat, Pak. Kalau dari segi margin, ada yang bisa dibocorkan tidak, Pak? Oh, margin. Heeh, kalau untuk yang baru, yang FMCG ya, setidaknya kita margin bersih mungkin bisa sekitar 12 sampai 15% ya, gitu.
Oke, oke, dicatat, Pak. Jadi, tinggal tunggu dari produk-produknya makin membesar nih ya, Pak? Oh, iya, itu sebentar lagi tinggal hitungan waktu ya. Mudah-mudahan cepat, Pak. Ini tapi kita kan tahu ya, Pak, dari segi gaya hidup memang kalau di tingkat akar rumput, di komunitas ini, maksudnya di masyarakat itu banyak yang gaya hidup sehat gitu, Pak. Tapi sebenarnya kalau kita ngomong dari sisi bantuan pemerintah, karena menurut saya kalau seandainya segala sesuatu tidak *top-down*, saat ini kan agak susah ya, Pak. Sebenarnya dari pemerintah ada dukungan terkait dengan beras-beras khusus atau gaya hidup sehat seperti itu tidak sih, Pak?
Kalau sekarang sih kita lihat justru pemerintah lagi pusing ya. Dia justru sudah berkoar-koar nih bilang, "Aduh," katanya, "kenapa kok?" Makanya sudah mulai diincar pajak untuk pemanis buatan atau gula, atau saya tidak tahu yang minuman ya. Karena setiap tahun pemerintah Indonesia itu sudah mengeluarkan, kalau untuk diabetes saja itu kurang lebih Rp200 miliar lebih ya, untuk mengobati orang yang kena BPJS mungkin ya. Tetapi kalau belum lagi yang tadi kita bilang, sebenarnya orang yang kena diabetes itu banyak banget. Nah, itu kan bisa komplikasi ya, kalau tidak segera diperbaiki, ginjalnya kena ya. Makanya trennya adalah umur 15 sampai 25, gagal ginjal sudah mulai banyak. Jadi, pemerintah itu sudah mulai sadar, "Tolong jangan sampai harus jaga kesehatan." Nah, justru kita ingin membantu bagaimana kita bisa, bukan membantu dalam arti yang langsung bagaimana ya, tapi kita kasih alternatif produk ini. Kita terpanggil untuk memberi bagaimana sih kalau kita makan beras yang harganya di antara Rp100.000 sampai Rp200.000 itu kan berat ya, 1 kilo. Nah, tapi kalau kita ciptakan beras yang harganya Rp50.000, artinya dia mungkin beli 1 kilo yang tadinya itu bisa beli 4 kilo yang punya kita. Nah, itu sangat membantu ya. Jadi, pemerintah sendiri juga sudah mulai sih, iklan terus ke Puskesmas, terus mulai ke ini. Nah, itu juga mungkin secara tidak langsung akan orang sadar gitu, sadar gitu ya, *aware*. Kemudian dia, "Ya sudah kalau gitu saya mesti ganti nasi yang lebih sehat, gaya hidupnya lebih sehat," gitu ya. Nah, kemudian ya juga mendukunglah, ada lari ke mana, maraton di mana, ada 10K, 5K mungkin gitu. Jadi, kelihatan gaya hidup sehatnya sudah gitu. Nah, itu pemerintah juga sangat mendukung untuk itu. Nah, kita tinggal memperkenalkan. Sebenarnya kita sih melihat sedih juga sih kalau 20 juta orang yang sudah terdeteksi pakai BPJS di Indonesia ini untuk berobat. Artinya kan hampir 8% lebih ya penduduk Indonesia itu kena diabetes. Nah, makanya kita bilang, kita tidak mau jual banyak-banyak deh. Dari sekian banyak, kita ngomong 20 juta orang yang beli saja sudah Rp50 miliar ya. Dan itu cukup membantu karena harganya murah kan, Rp50.000 lah maksimal harganya gitu ya. Nah, kalau berarti Rp600 miliar setahun kalau ngomongin ini ya. Itu juga makanya kita mempersiapkan pabrik kita yang baru. Kenapa sih kok ada, ada, ada rencana ya tadi, Bu Vanessa, pemerintah ini sudah mulai sadar, sudah mulai menggaungkan tentang kesehatan ya. Kita harus siap-siap juga nanti ketika orang ini sudah mulai sadar dengan kesehatan, cari beras sehat, cari beras yang memang benar-benar indeks glikemiknya rendah atau *Zero Sugar*, kita juga *High Fiber*, kita juga sudah siap. Nah, itu sih, Bu ya. Jadi, kapasitas produksi juga kita sudah siapkan.
Oke, dicatat. Kita ke kotak tanya jawab. Ini kita ada yang pertama: "Bagaimana lanskap persaingan, Pak, di industri beras saat ini dan bagaimana posisi Hoki?"
Kalau kompetitor untuk beras yang biasa, yang putih ya, itu kita lihatlah ada beberapa pemain besar ya. Pemain besar ya, teman-teman kita lah ya. Contoh kayak Wilmar, kayak Raja gitu ya. Tetapi kan kita lihat juga, untuk kita sendiri kalau ditanya, biasa nanti teman-teman analis nanya juga nih, Pak, kontribusinya berapa sih atau apa pangsa pasarnya di itu gitu kan ya. Nah, ini juga yang jadi pertanyaan sampai hari ini saya juga bingung kenapa kategori beras ini tidak dimasukkan ke dalam umpamanya riset atau atau atau yang disurvei sama mereka gitu. Tetapi akhirnya saya cuma bisa jawab, kita bisa jawab, lihat deh kalau di display yang ada di supermarket atau minimarket, kira-kira yang dominan yang mana gitu loh. Nah, kita masih cukup dominan sih ya, gitu sih.
Oke, untuk yang kedua, Pak, pertanyaannya dari produk baru yang disebutkan. Apakah ada wawasan terkait dengan penetapan harga? Mungkin maksudnya adalah tadi ya, Pak, yang nasi jagung, nasi singkong, untuk yang ada beras merah. Ke depannya pengembangannya mau seperti apa lagi? Apa ada yang sudah bisa dibocorkan? Boleh sih mau dibocorkan. Mungkin Mas atau Pak Ferdi bisa bantu kasih bocoran sedikitlah. Ini mungkin bulan ini, akhir bulan ini, kita sudah meluncurkan ya. Sekarang mungkin itu ada kemasannya, saya kirim di WA ya, mungkin bisa dilihat gitu ya. Nah, jadi untuk di tahun ini, itu mulai dari awal tahun, kita sudah ada beras Jepang Hokiri. Kemudian kita juga ada beras merah yang lebih dulu. Dan yang ini yang ketiga, kita akan ada beras porang kasava. Dan ini cukup diseduh ya, rasanya enak, dan ini juga tentunya tidak ada gulanya, tapi seratnya tinggi, dan itu mudah dibawa ke mana-mana ya. Gitu, coba Pak Ferdi, silakan dibocorkan. Mau dibocorkan ya, Bu Vanessa ya? Boleh dong, Pak. Nah, oh, ini baru belakangnya ya. Oh, oke, berarti nanti dalamnya saset-saset gitu ya, Pak ya? Iya, ini saset isinya empat. Kita bikin yang lebih simpel, kecil ya. Kemudian ini satu saset bisa untuk makan satu kali ya. Itu diseduh saja. Itu kalau dibesarkan lagi, kelihatan di kotak depannya itu, sebelah kanan dekat mangkoknya, itu ada cukup diseduh saja. Itu kelebihannya sih itu. Iya.
Kalau memang harganya lebih murah, apakah memungkinkan untuk *trading down*? Kayaknya tidak lebih murah kali ya, Pak ya? Kayaknya memang sepemahaman saya ya, Pak, tapi silakan, Pak. Ya, mungkin dari kompetitor yang sudah ada, lebih murah, murah sedikitlah gitu ya. Umpamanya kalau yang sana jualnya Rp10.000-an, kita mungkin ya bisa Rp9.000 atau lebih, lebih murah sedikitlah daripada yang di sana. Atau juga kita juga mempunyai kelebihannya sendiri ya, kita kan pakai kasava, tidak pakai beras gitu ya, kalau tepung beras gitu ya. Itu yang kelebihan kita sih. Jadi, lebih murah karena memang niatnya kita adalah supaya orang bisa terbantu untuk makannya. Nah, dibuat juga tidak hanya murah, tetapi bagaimana sesimpel mungkin bisa dibawa. Kalau yang lain mungkin isinya lebih banyak, bisa 7, bisa 10 satu boks. Kita empat saja. Jadi, ditaruh di tas, buat umpamanya Bu Vanessa mau di kantor kan gampang, tidak terlalu berat, atau mau makan di mana, tinggal kasih air panas, tinggal siap jadi gitu. Yang dimobilisasi gampang ke mana-mana, dan harganya pun relatif lebih murah sih. Jadi, harapan untuk orang pakai lebih banyak, tujuannya sih begitu sih ya. Jadi, dan lebih membantu buat yang butuh yang 20 juta itu. Butuh itu, bukan tidak butuh, itu butuh, butuh yang makanan yang nol gulanya, yang 20 juta ya tadi ya. Gitu, apalagi yang benar-benar peduli kesehatan gitu ya.
Oke, Pak, mungkin pertanyaan terakhir dari ini adalah, ada estimasi, Pak, HET tahun depan apakah akan naik? Kalau naik, kira-kira ada estimasi pertumbuhannya seperti apa, Pak? Wah, itu sebenarnya domainnya pemerintah ya. HET naik itu biasa karena suplai dan permintaan sih ya. Tapi kalau lihat pemerintah kita ini serius ya, kan sudah dipanggil semua BUMN ya, pupuknya sudah disuruh siapkan, kemudian irigasi lagi mau diperbaiki, sawah cetak baru. Walaupun memang itu tidak mudah, tetapi sih kelihatan trennya kalau ini berhasil kan tentu HET itu tinggal jadi nama HET saja ya. Kalau suplai banyak, tentu ini akan turun dengan sendirinya harganya, tidak perlu dinaikkan lagi ya. Jadi, kita tidak usah cari margin gara-gara ingin dinaikkan, kasihan juga gitu ya. Tetapi ini kalau dia suplai banyak, maka ini HET-nya dia akan turun, turun, turun, sehingga kan bebas dijualnya ya. Dan kalau terlalu banyak juga, akhirnya pemerintah bilang, "Boleh deh diekspor." Nah, Hoki salah satu yang ingin ekspor, cita-citanya ya. Maka kita sebenarnya sudah berkemitraan, kita sudah punya mitra tanam beras merah sendiri. Mungkin Pak Ferdi kasih lihat beras merah yang kita tanam. Nah, ini mungkin. Jadi, kalau beras merah kita tuh tidak gampang, kita tidak beli dari sini, sini, sini, tidak. Jadi, kita tanam sendiri. Mas Ferdi bisa kasih lihat yang sawah kita tadi. Baik, Pak, sebentar ya. Ya, kita tidak main di HET. HET itu kalau beras putih itu akan turun sendiri nanti kalau berhasil pemerintahnya nanti buka sawah banyak ini banyak, kita akan ekspor. Tapi kita juga nih, ini beras yang kita tanam nih ya, ini beras merah kita tanam. Nanti ada aromatik sendiri. Sebentar lagi kita Japonica kita tanam sendiri gitu kan. Nah, ini ya, sudah mulai panen nanti November ini kita bawa ke pabrik kita nih. Sudah nih. Nah, lihat ya. Sekaligus kalau yang beras yang sehat ini kan termasuk sehat ya, beras merah yang, yang beras tadi yang kita bilang porang, jagung, singkong. Nanti ada porang yang lain lagi yang unik, yang orang tidak punya, kita punya. Nah, itu pabriknya kita sudah siapkan. Tapi kalau porang yang unik itu nanti tahun depan kuartal satu kita sudah buka. Pak, kasih lihat, Pak, yang pabrik kita, progres kita yang kita lagi bangun, Pak. Baik, Pak. Sudahlah, ada Bu Vanessa, kita bocorkan semua saja, Bu ya. Wah, terima kasih, Pak. Nanti diskusi terus ya, Pak. Nah, lihat ini pabrik kita nih ya. Sekarang kan nasi sehat juga, jagung, singkong, porang baru 150 ton per bulan. Tapi nanti tahun depan kita sudah bisa 350 ton per bulan ya. Jadi, kita juga tadi pemerintah sudah ngomong-ngomonglah orang harus hidup sehat, gaya sehat. Nah, ini kita pabrik kita yang kita sudah bangun nih ya. Tuh, Pak. Maaf, ini konfirmasi di daerah Jawa Tengah ya, Pak ya? Iya, Jawa Tengah nih, daerah Boyolali kita ya. Nah, ini *capex*-nya berapa, Pak? Kita kemarin keluarkan Rp15 miliar ya, tapi ya aktual lebih-lebih sedikitlah, Rp16 miliar untuk ini ya. Ini sudah sepenuhnya, maksudnya sudah sepenuhnya *capex*-nya dipakai di tahun ini atau masih ada? Sudah, sudah penuh kita pakai semua ya. Oke, gitu kan kita gabungan ini sih ya. Oke, jadi memang ini buat HDN ya, Pak ya? Iya, HDN. Maaf, Pak, ya, Daily Meal, Daily Meal Rice tadi, karena banyak nanti produknya, Bu. Aduh, nanti bisa saya tidak mau bocorkan terlalu banyaklah, nanti Ibu bingung lagi ya, produk-produknya nanti kalau saya keluarkan banyak gitu ya. Dan itu tidak ada yang punya, Bu, kita memang yang ini ya, tantangannya di situ. Tapi itu sih kalau kita bilang porang ini, porang ini gitu, itu, itu inilah bagus. Oke, pasti orang suka. Iya, terima kasih, Pak. Mungkin untuk dari ada pertanyaan terkait dengan stok yang berfluktuasi, tadi sudah kita jawab ya, Pak ya. Lalu untuk dari Daily Meal tadi untuk distribusinya sudah kita jawab. Nah, mungkin apakah ada target produksi beras Hoki ke depannya, dari pertumbuhan per tahunnya ataupun tujuan akhirnya? Mungkin tujuan akhir agak susah nih, ini mungkin 5 tahun ke depannya mau seperti apa kali ya, Pak?
Wih, 5 tahun ke depan sudah optimis banget yang tanya itu, luar biasa ya. Jadi, kita sih sendiri ya, kalau saya ngomong 5 tahun ke depan itu, kita sekarang sudah mulai dari sekarang saja kita sudah mulai nih kerja sama ya. Tadi menanam beras-beras yang memang mempunyai nilai lebih dari segi untuk manusia dikonsumsi, karena tadi ya, tinggi serat, *high fiber* segala macam. Memang yang mengonsumsi itu memang ya masih tidak terlalu banyak, tapi melihat tren itu makin lama makin banyak. Nah, itu kita lihat terus beras yang putih tapi *aromatic rice*, kita juga sudah lagi coba tanam ya. Memang *aromatic rice*-nya tapi tidak seperti pandan wangi, tapi yang panjang gitu, tapi wangi pandan dan rasanya lebih tidak membuat enek gitu ya. Nah, itu pulen, nah, pulennya oke gitu. Nah, itu sudah diciptakan. Jadi, kalau kita mulai dari sekarang sudah mulai kerja sama ya dengan profesor, dengan akademisi ini, supaya 5 tahun ke depan itu ya, pertumbuhannya itu selalu tercapai gitu ya. Kalau nanya, Pak, tahun depan rencana berapa? Ya, kalau coba saja 10% dululah kalau yang biasa ya, atau ini gitu ya. Kalau yang sekarang kita kejar dulu nih kuartal keempat nih ya, mudah-mudahan tutup dengan capai target gitu. Terus kemudian sudah puji Tuhan, alhamdulillahnya sudah tidak merah rapornya, sudah biru gitu sih ya. Dan makin lama ada produk baru, produk baru ini marginnya makin meningkat karena terbantu secara konsolidasi. Tentunya kan margin-margin produk yang baru ini akan lebih baik, dan memang tidak seperti beras putih. Kita mungkin 5 sampai 10% saja kontribusinya sudah besar nilainya, dan marginnya tadi kita sudah sebutkan lebih besar daripada itu, bersihnya.
Bisa saja tadi, ya. Mudah-mudahan target 12 sampai 15% itu bisa tercapai. Itu jadi cukup baik. Bayangkan saja tadi, kalau kita bilang ini terjual 2 juta saja, berarti sudah 1 triliun kali tahun depan, ya. Jadi, ini yang kami lakukan. Kalau 5 tahun ke depan, saya belum tahu. Mari kita bicarakan tahun depan saja dulu. Begitu, ya. Oke, oke. Nanti, Bapak, mungkin pertanyaan selanjutnya itu terkait dengan harga nasi singkong, jagung, dan beras merah ini, apakah lebih murah dari nasi putih?
Saya kira ini lebih premium, Pak. Jadi ini berarti marginnya lebih tinggi, ya, Pak. Ya, di Indonesia ini ada tiga jenis beras yang dibagi oleh pemerintah: beras medium, kemudian premium yang kami jual sekarang (yang 149), dan ada beras khusus. Nah, kalau beras merah itu, atau beras Jepang, atau sejenisnya, itu termasuk beras aromatik, yaitu yang aromatik pandan wangi ini, yang tentunya sudah terdaftar di Kemenkumham. Itu akan masuk kategori beras khusus.
Nah, kalau kami ini kan menjual yang tadi, seperti beras jagung, singkong, dan segala macam itu kan beras analog. Tentu saja itu diproses dan tidak bisa lebih murah dari beras biasa, bukan? Tapi kalau dibandingkan, contohnya, yang tadi kami jual, misalnya, kalau sekarang satu piring nasi putih berapa, Bu Vanessa? Mungkin Rp6.000, ya? Kalau kita beli di toko serba ada sekarang Rp8.000, Pak, satu kepalan kecil. Satu kepalan kecil, ya. Tapi itu kan beras biasa, Bu, ya? Betul, ya. Tapi kalau mungkin di dekat-dekat kantor Bu Vanessa, mungkin Rp9.000, ya? Bisa, Pak, bisa Rp9.000. Ya.
Nah, tadi kalau kami jual misalnya Rp26.000 atau Rp25.000, berarti kan satu kali makan hanya Rp6.500, yang saya tetapkan itu. Artinya, tidak terlalu mahal juga, sudah mendekati harga nasi biasa. Tapi tentu dengan kelebihan tadi, gulanya lebih rendah, yaitu nol, kemudian seratnya tinggi. Ini menjadi hal yang baik, Pak. Mahal, tapi tidak semahal itu. Masih dengan harga terjangkau, masih oke. Harganya mirip-mirip nasi biasa sebenarnya. Kalau di beberapa tempat, malah nasi itu mungkin Rp9.000, ya? Kalau makan di restoran Padang itu Rp9.000 lebih, ya, Pak.
Mungkin pertanyaan selanjutnya ini ada dua pertanyaan yang terkait dengan beban bunga, Pak. Apa penyebab kenaikan bunga hampir dua kali lipat pada sembilan bulan, padahal saldo utang bank tidak naik setinggi itu? Apakah ada rencana perseroan terkait tingkat utang bank saat ini, apakah akan naik turun atau stabil? Dan juga, tingkat utang yang bagaimana yang dirasa nyaman, Pak, untuk perusahaan?
Ya, sebenarnya tadi kami mengerti siklus tanam dan siklus panen. Bank kami ini memiliki plafon pinjaman siaga. Jadi, kalau kami gunakan, maka kami akan bayar.
Nah, di bulan ketiga ini, atau khususnya di bulan kesembilan seperti ini, kami sedang menyetok beras dan gabah, stok berasnya. Jadi, kami bisa dari dua sumber itu, bisa dari padi, bisa juga dari berasnya sendiri. Nah, ini tentunya kami gunakan sepenuhnya. Bayangkan saja, kalau bunga banknya digunakan, artinya bunga banknya akan naik. Jadi beban, beban Perseroan.
Tetapi nanti ingat, kami ini kan November sudah mulai menyiapkan orang, sudah mulai mau menyetok di toko-toko. Sudah mulai ada yang zakat untuk paket-paket bantuan kalau orang mau menyumbang, ya, mau Lebaran. Jadi, untuk Lebaran itu, padahal di Maret, akhir Maret, tapi sekarang mereka sudah mempersiapkan, sudah meminta kami mencetak kemasan sekian puluh ribu, sekian ratus ribu untuk yang misalnya 2,5 kilo dan 5 kilo. Nah, itu akan dikirimkan nanti di Desember, akhir Januari juga mulai. Nah, itu akan mengosongkan gudang kami. Beban bunga tentu akan turun karena kami kembalikan lagi, masukkan lagi uangnya.
Sekarang kami menggunakan persediaan kami untuk persediaan, sehingga terlihat beban bunganya naik cukup besar. Tapi ya memang mau tidak mau, selama perhitungan kami masih bisa untung, masih bisa membayar itu dari keuntungannya, ya kami akan terus berjalan supaya kami siapkan tadi, jangan sampai kami kehilangan momen, ya, stoknya di toko-toko atau di pelanggan kami kosong. Jadi begitu, Bu, ya. Trennya memang begitu, kami menggunakan sepenuhnya plafon yang kami miliki.
Pak, mungkin karena sudah satu jam, kami akan mengambil satu pertanyaan terakhir, ya, Pak. Satu, mungkin hanya ingin mengklarifikasi, Pak, jadi peningkatan pada sembilan bulan ini lebih karena pertumbuhan volume atau HET, ya, Pak? Sebenarnya peningkatan dari penjualan. Lalu, mungkin terakhir dari saya adalah, ini kan ada investasi Hoki juga, Pak, di sini, ya. Kira-kira, sebenarnya arah ke depannya ini dari unit bisnis yang terkait dengan investasi ini mau seperti apa? Dan apakah ada sinergi yang bisa dilihat secara keseluruhan, ya, Pak, untuk Hoki juga dan perusahaan-perusahaan investasi di dalamnya? Itu saja.
Kalau yang pertama, ini pertumbuhan volume, ya. Tentu kalau kuartal kedua dibandingkan kuartal ketiga, kuartal ketiga lebih bagus, ya. Kuartal kedua kan setelah Lebaran, kemudian juga banyak orang kan bepergian dan segala macam, ya, atau jadi penjualannya lebih kecil. Tapi di kuartal ketiga ini memang pertumbuhan volume, ya. Sebenarnya pertumbuhannya ini akan bisa lebih bagus lagi karena kami sendiri juga melihat kalau nanti area jual kami makin luas, kami bisa. Sekarang kami sudah menambah untuk beberapa di Kalimantan, kami sudah mulai bisa kirim, ya. Kalau kemarin kan kami punya masalah di HET karena belum ada perubahan, sehingga kami tidak bisa kirim karena biaya transportasi itu tinggi, ya. Jadi, memang karena pertumbuhan volume, Bu Vanessa, ya. Itu.
Nah, kalau investasi Hoki sendiri, ya memang mungkin Pak Karto bisa bantu, ya, kalau mengenai Hoki Sejati, Bu. Kami dulu kan mengalami masalah karena apa, ya? Maka satu anak usaha kami, Astabas Perkasa, kami jual. Dan kami mengurangi bisnis beras putih, maksudnya, kami tidak mau terlalu ekspansi. Nah, makanya dana hasil penjualan Perkasa dan pengurangan bisnis BPS itu kami alihkan ke Hoki Sejati.
Nah, untuk BPS sendiri, kami tetap mereka beroperasi. Operasi mereka menggunakan uang bank. Sedangkan uang kami sendiri, kami alihkan ke Hoki Sejati dan sebagian ke HDN. HDN kan juga waktu dulu pakainya tidak banyak, hanya berapa, tidak sampai 30 miliar. Hanya karena terakhir mereka ada kerja sama dengan orang lain lagi, maka tambah lagi modal. Jadi, Hoki Investasi Sejati itu memang kan dasar saya adalah seorang investor, Bu. Saya memang investor. Makanya, kami mau bisnis apa, kan mau buka usaha baru yang bingung zaman sekarang, kan? Ya sudah, daripada kami bingung, saya manfaatkan saja apa yang saya miliki di pasar modal.
Apakah mau dibesarkan lagi? Mungkin kami tidak akan, BPS tidak akan menambah modal lagi ke Hoki Investasi Sejati, Bu, suruh dia berkembang sendiri. Kalau misalnya berkembang sendiri bagaimana, terserah. Kami lihat ke depannya bagaimana, Bu. Jadi, hanya sebagai modal awal saja. Kami tidak tambah lagi. Cita-cita saya sih, kalau bisa Hoki Investasi Sejati, ya, tambah besar, tambah besar lagi dengan dari hasil investasinya, begitu, Bu, ya.
Oke, kami kenapa ada Hoki Investasi Sejati? Karena berdagang beras putih itu pusing, maka sampai anak usaha kami, PT Perkasa, kami jual. Ya, jual memang ke keluarga, Bu. Karena kalau mau ke orang lain juga saat itu tidak ada yang mau beli. Karena banyak sekali waktu itu orang, 'Saya beli tidak, Pak? Beras, Pak? Pabrik beras mau beli tidak?' Kami tolak semua, begitu, Bu. Kenapa? Oke, oke, tidak, tidak.
Pak, mungkin sebelum kita tutup, terima kasih untuk panggilan hari ini, Pak. Mungkin ada kata penutup yang mau disampaikan dulu?
Ya, kalau mungkin Pak Karto atau siapa, kalau dari kami, kami sangat optimis, Bu. Baik Hoki sendiri maupun anak-anak usahanya pasti akan berkembang, terutama HDN. Karena kami melihat ke depan ini Hoki sendiri akan bertumbuh karena kami juga akan berkolaborasi antara HDN. Rupanya ada sinergi juga, ya. Kami menanam beras merah, menanam beras Jepang aromatik, itu akan masuk diproduksi oleh PT Buyung Putra Sembada Hoki, dan itu tentu akan menambah margin. Dan kemudian kami juga melihat bahwa trennya, kan, kalau kami sudah bermain di produk-produk yang non-HET, maka kami akan bisa mulai menggunakan distributor dan mengirim hampir ke seluruh Indonesia. Kami bisa. Dan kemudian kami juga melihat ada peluang di mana kami bekerja sama dengan distributor nasional dengan jangkauan area yang bagus, ya. Jadi, Hoki sendiri ini tumbuh bagus. Indonesia kan masih makan beras semua, ya, dan trennya juga ini. Jadi, kami akan terus tumbuh, terutama di HDN juga akan lebih baik lagi karena beberapa produk yang bagus-bagus sudah lagi menunggu untuk diluncurkan. Jadi, Indonesia, kalau untuk Indonesia, tidak usah khawatir, ya. Apa sih tanah di Indonesia yang tidak bisa ditanam? Kami berharap Indonesia ini berhasil dengan program lumbung pangannya, tanamannya. Kemudian kami juga ikut salah satunya yang akan mendukung ekspor ke luar negeri, ya, mendukung program pemerintah. Itu, Bu.
Terima kasih. Amin, amin. Terima kasih. Sekali lagi untuk Pak Budi, Pak Karto dari tim Hubungan Investor, terima kasih banyak semuanya untuk sudah memberikan wawasan pada hari ini. Saya kira ini menandai akhir dari panggilan kita hari ini dan sampai jumpa di lain waktu. Terima kasih semuanya. Selamat makan siang, ya. Terima kasih.