📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Inilah cara mengganti sholat yang ditinggalkan Ust Adi Hidayat TERBARU 2026

Ustadz Adi Hidayat20:27

Transcription

Baik, Ustaz. Izin bertanya. Apabila di masa lalu pernah lalai dalam menjalankan salat, ee, lupa ya, beberapa kali, apakah wajib diganti ataukah cukup dengan bertobat kepada Allah? Karena saya pernah mendengar tidak boleh melaksanakan salat sunah sampai semua salat yang pernah ditinggalkan diganti. Tapi saya juga pernah mendengar cukup bertobat kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Mohon bimbingannya, Ustaz. Allah barik f.

Baik. Seorang yang pernah bermaksiat, apapun itu, apapun itu jenisnya, baik maksiatnya terkait dengan Allah, bermaksiat kepada Allah secara langsung, ya. Contoh, diminta untuk beribadah. Salat, salat itu kan bagian pokok kepatuhan kita, bukti keimanan kita kepada Allah. Quran surah ke-20 Thaha ayat ke-14. Ya, salat itu bagian pokok pembuktian iman kita kepada Allah. "Inani anallahu la ilahailla ana fa'budni waqimikri." Aku adalah Allah. Tak ada Tuhan yang layak dipertuhankan disembah selain aku. Kata Allah, maka sembah aku. Ya. Bagaimana menyembahmu, ya Allah? "Wa aqimat." Tunaikan salat ya untuk mengingat aku. Kata Allah. Quran surah ke-20 Thaha ayat yang ke-14.

Ada orang tak salat ya, tapi dia mengaku beriman atau dia menunda-nunda salat ya, atau salat semahunya. Ada orang puasa Daud, dia salat Daud. Puasa Daud itu dia puasa Senin, Selasa dia rehat ya, Rabu dia puasa, Kamis dia rehat. Itu puasa Daud. Ada ini orang salat Daud ya. Subuh dia salat, zuhur tak, [tertawa] asar dia salat, magrib tak. Itu itu salat Daud itu tidak ada ya. Ah, dia melakukan itu. Dia maksiat pada Allah. Maksiat dalam hal ibadah.

Ada maksiat haqqu' adami ya. Maksiat yang terjadi dari anggota-anggota tubuh pada soalan-soalan yang memang dilarang oleh Allah. Ya, lisan cakap yang baik. Dia bercakap tak baik, dia mencela orang lain. Padahal Allah mengatakan, "Ya ayyuhalladzina amanu lainum." Hai orang-orang beriman, jangan saling mencela. Quran surah 49 ayat 11 ya. Dia mencela, dia bermaksiat.

Semua jenis maksiat ini baik terkait hubungan dengan Allah, ibadah atau terkait dengan interaksi sosial dalam kemanusiaan, muamalah itu cara mengobatinya untuk kembali pada jalur yang benar. Cara pertama adalah dengan bertobat. Quran surah ke-4 An-Nisa ayat 17. Quran surah ke-4 An-Nisa ayat 17. "Innamubatu alallahiadina yalun bija tumma qib." Sungguh tobat yang diterima oleh Allah itu subhanahu wa taala, tobat yang diterima oleh Allah itu subhanahu wa taala adalah tobat dari perbuatan buruk. Su ya. Perbuatan buruk. Su itu perbuatan yang menyalahi ketentuan Allah ya. Diminta memandang yang baik, dia pandang yang tak baik. Diminta salat, dia tak salat. Itu perbuatan buruk. Dan sumbernya dari nafsu yang digoda oleh setan. Jadi perbuatan su itu sumbernya dari nafsu yang diprovokasi oleh setan, digoda oleh setan, dikuasai oleh setan. Itu ada di Quran surah ke-12 Yusuf ayat 53. "W nafsi infarabi." Kita tak mampu menganggap diri kita suci karena ada nafsu yang masih diprovokasi, digoda oleh setan. Orang yang mengikuti godaan-godaan setan itu, was-was setan itu, maka nanti jiwanya akan mengikuti perintah setan mengajak pada keburukan. Itu yang disebut dengan amarah bisu namanya, ya. Mata melihat yang buruk su. Lisan cakap yang buruk su. Telinga dengar yang buruk su. Jamak dari sayiat namanya.

Bila banyak dikerjakan sayiat, Allah itu punya sifat rahman, punya sifat rahim yang tidak menginginkan hambanya pulang membawa maksiat. Kamu ini lahir bersih, bersih keadaannya, tampilannya bersih, tak ada dosa, tak ada keburukan, tak ada kotoran. Kenapa pulang kepada Allah jadi kotor? Karena itu Allah tak berkehendak. Allah tidak berkehendak bila ada hamba satu pun pulang kepada Allah dalam keadaan maksiat, dalam keadaan kotor. Maka sepanjang dia hidup diberikan kesempatan untuk tobat. Tobat ini nanti yang berpeluang membersihkan kembali kotoran-kotoran dosa dan menyucikan jiwa-jiwa yang penuh dengan dosa-dosa. Ini tobat namanya.

Nah, tobat itu nanti ada tiga turunan hukumnya. Ada tiga. Satu, mengakui kesalahan. Salah ini. Jadi kalau kita sadar ya pernah salah, ah itu sudah sepertiga tobat dan itu mahal sekali. Hidayah Allah mahal sekali. Itu yang tak dipunyai oleh setan. Setan itu tak punya itu ya. Karena sifat sombong dia tahu Allah itu penerima tobat tapi tak mau tobat. Ketika diminta oleh Allah itu untuk tobat diberikan isyarat tuh dikonfirmasi ditanya, "Maaka alla tasjud? Yaaka amart." Kenapa kau tak mau sujud ketika aku perintahkan? Itu kan isyarat tobat ya. Quran surah ke-7 ayat 12 ya. Tapi dia tak mau tobat ya. Tak mau tobat. Dia menjawab, "Ana khairum minhu khalaqtani minarin wqtahu minin." Aku lebih hebat. Nah, itu bahaya. Kesombongan itu bisa menutup seseorang untuk bertobat kepada Allah. Itu bahaya sekali. Karena itu Allah mengharamkan kesombongan. Ya, karena sayangnya kepada hamba diharamkan kesombongan supaya masih berpeluang untuk tobat. Itu bedanya. Bezanya atau bedanya setan dengan manusia? Ingat ya, manusia salah karena ada nafsu, tapi manusia tobat. Adam manusia diberi contoh oleh Allah ya supaya bisa diteruskan pada anak cucunya. Diberi contoh. Adam keliru lalu kemudian diberikan jalan tobat. Albaqarah ayat 37. "Fatalaqamuhi alaihi." Adam menerima talaqqi ayat-ayat taubat. Ya, dia memohon kepada Allah. "Rabbanaamna anfusana waam tagfirlanahamakunana minal khasirin." Tobat. Dia diterima tobatnya. Setan salah diberi kesempatan tobat dia tak tobat. Ya. Jadi jangan ikuti jejak setan. Wan Quran surah ke-2 ayat 168. Jangan ikuti langkah setan. Kita beda dengan setan. Kita beda dengan setan. Manusia salah manusia tobat. Setan salah setan tak kenal tobat. Jadi kalau ada manusia bersalah, pernah berbuat salah, tak mau dia tobat, itu patut diduga. Boleh jadi sedang dikuasai oleh setan.

Nah, jadi kalau ada pertanyaan itu pertanyaan fitrah ya, saya pernah salah. Itu selalu ada fitrah itu ya. Ya, dua anak Adam yang pernah e salah satunya bermaksiat itu dan berkehendak untuk membunuh Adam. Eh, membunuh anak Adam. Salah satunya ada kisah dua anak Adam itu di surah Al-Maidah ya, ayat 27 itu ya, sampai dengan 30 ya. ak Muhammad sallallahu alaihi wasallam kisahkan, bacakan kepada umatmu ya tentang kisah dua anak Adam yang diperintahkan untuk berkorban. Yang satu berkorban baik, yang satu tidak. Ya, maka yang satu diterima, yang satu tidak. Maka yang kecewa ini dia merasa cemburu, ingin membunuh. Nah, ketika akan membunuh ini "fatawaat nafsu lahu nafsuhu tawa." Itu artinya naik turun ya. Jadi enggak ya, lakukan tidak ya? Nah, itu di fitrah kita itu selalu ada bagian fitrah yang mencegah berbuat maksiat. Ada yang sifatnya mencegah dari awal, ada yang sifatnya menyesali. Ya, menyesali itu sambil mencela. Kenapa tadi saya harus marah nih sama anak nih? Kenapa tadi saya harus mencela dia? Kenapa tadi harus saya cemberut? Kenapa tadi harus saya berkata yang kasar? Padahal saya bisa berkata yang lembut. Ah, itu ada penyesalan yang kedua sambil mencelak diri. Nah, bagian yang kedua ini setelah tak mampu mencegah dia menyesali disebut lawwam namanya. Sifatnya lawwamah ya. Makanya ada yang dikenal dengan nafsul lawwamah, diri, jiwa yang mencela. Kenapa melakukan tuh? Nanti puncaknya terjadi di akhirat saat kembali, saat hari kiamat. Ya, banyak orang menyesal. Kenapa dulu tak begini? Kenapa dulu harus begitu? Ah, itu ada di surah al-Qiyamah, surah ke-75 ayat yang kedua. "La uqsimu wqsimu nafsilwabah." Ya, aku bersumpah, kata Allah, ya, ada di jiwa-jiwa itu sebetulnya yang menyesali perbuatan buruk itu kenapa terjadi?

Nah, tobat itu karena harus membuktikan kesungguhan untuk berubah itu harus menyentuh kepada jiwa yang terdalam tadi. Karena itu harus ada unsur pengakuan. Yang kedua, unsur penyesalan. Unsur pengakuan itu secara fitrah akan muncul dengan sendirinya. Karena itu kalau keluar dia di pernyataan itu masyaallah itu sudah hidayah Allah yang sudah masuk ke dalam jiwa. Jangan tinggalkan cepat ambil ya. Siapapun pelaku maksiat akan ada bersitan sekelebat dalam jiwanya itu berpikir, "Apa aku harus selalu begini gitu ya? Mungkinkah aku berubah?" Nah, kalau ada hal semacam itu, itu sudah hidayah ya. Nah, kalau ada orang banyak berbuat maksiat pun kita sekelilingnya itu kita mendoakan malam-malam kita sujud minta pada Allah supaya diberikan hidayah. Jangan-jangan dia itu ditempatkan jadi tetangga kerabat kita berkehidupan dengan kita supaya memang kita bisa mendoakan dia. Ya, bukan mengutukinya, mencelanya. Tidak. Mungkin supaya dengan adanya kita ini dia bisa melihat jadi wasilah hidayah dari Allah Subhanahu wa taala. Jadi pertanyaan semacam ini itu sudah sepertiga bagian dari karunia Allah.

Selanjutnya apa? Sesali. Sesali itu jadi mengakui. Nah, ini sudah disampaikan. Kedua, menyesali. Menyesal itu sudah bagian perwujudan ya. Supaya kita bisa mengendalikan nafsul lawwamah tadi supaya gak dibawa ke akhirat ya. Jadi dengan menyesal itu nanti digugurkan oleh Allah hal-hal terkaitnya sehingga lapang hati kita. Ciri orang tobat itu ya kalau dia sudah bertobat mendekat kepada Allah yang pertama diberikan oleh Allah kelapangan hatinya. Ada ketenangan ya yang gak bisa dirasakan ya dengan bandingan-bandingan materi. Gak sama dengan ketika diberi materi dunia dikasih uang ya senang bahagia lapang dikasih kereta bahasa saya kereta mobil ya atau fasilitas lain ee senang lapang. Tobat tuh punya ciri sendiri tak sama dengan kebahagiaan itu ya. Dia ada menghunjam ke kedalaman hati itu. Ada ketenangan ya ada kelapangan. Jadi begitu kita sujud ya kan kemudian kita minta ampun, mengakui, menyesali, air mata keluar. Nah, getaran itu yang menggerakkan jiwa. Nah, itu sudah menyentuh kepada hati ya. Jadi ulama dahulu mengajarkan tobat itu sampai hatinya tersentuh. Ya, bukan tobat yang di lisan saja, "Saya tobat ya Allah, tobat ya Allah." Ya, tobat tuh mesti mampu melapangkan hati, jiwanya mesti tersentuh. Keadaan hati yang lapang yang tersentuh sehingga menjadikan cawan hatinya terbuka, siap menerima perubahan itu disebut nasuha namanya. Nasuha ya karena itu pernah dengar nasihah. Saya mau minta nasihat dari ustaz. Nasihat. Nasihat itu dari kata nasaha sesuatu yang melapangkan. Karena kalau kita dengar nasihat hati kita lebih lapang. Anda punya masalah konsultasi diberikan jawaban hati lapang. Ah, itu nasihat namanya ya. seakar dengan kata nasha, nasoha yansoahu. Sifat keadaannya disebut nasuha. Karena itu kita mendengar ada ungkapan istilah bahkan diambil dari ee ayat-ayat yang sampai kepada kita, "taubat nasuha" ya kan? Tbat apa? Nasuha. Tbat yang mampu melapangkan hati.

Caranya bagaimana? Mengakui, menyesali. Penyesalan itu harus langsung bisa menyentuh kepada jiwa. Ya, karena itu ada ulama mengajarkan istigfar sekian kali supaya jiwanya tersentuh. Bangun di malam hari itu kan. Ah, yang ketiga di bagian terakhir membuktikan membuktikan perubahan dari hasil tobat itu. Membuktikan perubahan dari hasil tobat itu dengan beramal saleh. Dengan beramal saleh.

Jadi kalau saya bisa ilustrasikan seperti ini. Bismillah. Ini salah perbuatannya disebut dengan su ya dengan segala turunannya. Mata salah, telinga salah, lisan salah sampai ke kaki itu perbuatan su jamaknya sayiat. Ya, tadi Quran surah ke-4 Annisa ayat 17-nya menggunakan su-nya sayiat ayat 17. Ayat 18-nya ya dan seterusnya ayat. Nah, ini yang jelek saya silang. Lawan dari ini namanya saleh jemahnya salihat. Wal asr. "Innal insana lafi khusr" [mendengus] "illalladzina amanu wailus shihat." Ya, "man amana wa amila amalan shiha." Ini tunggal ini bentuk jamaknya. Tbat adalah jembatan yang mengalihkan perbuatan buruk ini kepada amal saleh. Ke sini tadi diawali dengan mengakui, "Ya Allah, salah nih." Nah, biasanya Allah bantu dengan hidayah. Ada pengakuan itu ya, ada pengakuan dalam diri kita. Mengakui kita berdosa, mengakui kita keliru, kan diberi jalan oleh Allah, diberikan sentuhan. Nah, ini anugerah yang pertama nih. Karena itu kalau ada diberikan ini tadi saya katakan sepertiga dari anugerah. Sambut dengan penyesalan. Menyesali. Menyesal ini tak hanya mengatakan kita cakap, kita katakan saya menyesal ya Allah. Tak. Sampai merasakan di hati itu kelapangan. Itu yang disebut nasuha. Tobat. Nasuhat tobat yang melapangkan kepada jiwa, kepada hati ya sampai merasa tenang, enak ya kan mampu membezakan antara ini keliru, ini benar ya kan. Kita menyesal air mata keluar. Makanya Nabi pernah menyampaikan dalam kondisi seseorang itu masyaallah itu kan dia dalam keadaan sunyi sendiri lalu menetes air matanya karena merasa berdosa ya menyesal dia menetes air mata dalam kesendirian karena merasakan penyesalan dari dosa. Seketika Allah turunkan ampunan untuknya. Ya, itu banyak riwayat-riwayat yang sahih.

Yang ketiga, membuktikan keberhasilan dari tobat ini dengan merubah ini yang su yang sayiat jadi saleh salihat. Mengganti perbuatan buruk yang salah itu dengan amal yang saleh. Apa kaitan dengan pertanyaan tadi dari saudara kita yang dari Australia tadi? Ya, kaitannya adalah ini bentuknya seperti apa? Apakah harus sama dengan jenis kesalahan yang dilakukan atau berbeda? Yang penting amal saleh saja. Karena ayat-ayat Quran yang mengiringi ini sifatnya memberikan kata umum. Ya. "Faman taba wa aslaha." Siapa yang tobat wa aslaha. Kemudian dia memperbaiki diri. Aslaha itu kan berubah menjadi saleh. Aslaha yuslihu. Aslaha. Itu banyak ayat di Al-Qur'an tuh. Mantaba wa aslaha. Taba wa aslaha. Dia tobat lalu dia buktikan ingin berubah jadi saleh. Memperbaiki diri. Ya, karena katanya masih umum sifatnya karena itu terbuka untuk bisa mengerjakan berbagai hal. Yang penting ada pembuktian. Jadi yang dituntut dari tobat itu sifatnya pembuktian, "Saya berubah." Pembuktian saya berubah. Itu intinya ya kan. Jadi ketika sampai di level kedua ini pun ampunan turun. Tapi untuk membuktikan bahwa kita sudah meraih ampunan itu kita buktikan dengan merubah diri. Berubah dari sini, bertransformasi, berpindah ke sini. Bagaimana caranya? Buktikan.

Di sinilah kemudian para ulama membimbing kita. Ya, ada pendapat misalnya yang mengatakan kalau jenis yang ditinggalkan perbuatan su sayiatnya atau maksiatnya ya terkait dengan ibadah kepada Allah, pernah meninggalkan salat ya kan. Maka bagaimana cara memperbaikinya? Ganti perbaiki salat ini ya dari yang pernah kemudian ditinggalkan. Maka ada yang berpendapat dengan qada salat ketika ingat dikiaskan ya. Maka di waktu-waktu tertentu ya saat yang bersamaan misal setelah salat zuhur ditunaikan, zuhur selesai ditunaikan ya maka yang lain ada salat sunah dia mencoba untuk mengganti dahulu yang terdahulu yang pernah dia rasakan tertinggal. Dia niatkan untuk mengganti. Ya, ini di mazhab Syafi'i sangat populer ya. Maka dia salat kemudian untuk dia niatkan mengganti yang terdahulu. Begitu masuk kemudian waktu maghrib, bakda maghrib orang salat sunah dia mencoba mengganti yang terdahulu lagi. Ini satu pendapat di antara sekian ragam. Ya.

Ada kedua yang berpendapat tak dibatasi dengan salat ini saja. Ketika dia tobat diterima tobatnya diampuni. Kalau sudah ampun turun ampunan Allah turun diampuni. Ya gugur. Yang kemarin itu selesai. Tinggal dia buktikan memperbaiki. Bagaimana cara memperbaikinya? Ya, sesuai dengan keadaan dia yang baru. Kalau dia sudah kerjakan salat zuhur, ya sudah selesai salatnya. Mengganti yang dulu-dulu, perbanyak amalan yang lainnya dengan salat sunah. Dia kejar qabliah zuhurnya, dia kejar ba'diah zuhurnya. Itu kan untuk membuktikan kepada Allah bahwa dia telah sungguh-sungguh berubah. Ya, ini hanya ragam saja bagaimana kita kemudian bisa memilih di antara ini dan semua punya jalur jalurnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara syariat. Ya, jadi dipersilakan Anda nyamannya mau yang mana yang dikerjakan tapi hanya ingin menunjukkan ini ada perubahan dalam diri kita. Jadi boleh Anda perbanyak amalan-amalan sunah ya. Ada yang berpendapat ambil karena umum sifatnya tidak ada spesifik menekankan kepada Anda ya harus mengganti yang terdahulu misalnya dengan kerjakan yang fardu lagi. Enggak ada yang spesifik begitu karena itu tafsirannya luas. Ya, kaidah berkata sepanjang umum tidak ada taksis, maka jangan ditaksis, jangan dikhususkan pada amalan tertentu. Jadi, ambil yang paling ringan. Kalau misalnya Anda ingin coba ganti dengan mengganti menggunakan yang sunah, silakan babnya luas. Perbanyak ibadah sunahnya, bangun malam tahajud, buktikan dalam kebaikan dan seterusnya seterusnya. Dan semoga dengan itu Allah Subhanahu wa taala ya memberikan ampunan kepada kita sampai kita kembali kepada Allah dalam kebaikan. Ini babnya. Ini babnya.

Jadi prinsipnya sebetulnya bukan persoalan apakah ganti menggunakan fardunya lagi atau cukupkan dengan yang sunah saja. Bukan itu persoalannya. Persoalannya sejatinya adalah bagaimana kita membuktikan kepada Allah kita berubah dan babnya luas ya. J kalau Anda kemudian ingin memperbanyak yang sunah silakan perbanyak sunahnya tunjukkan merubah. Sedangkan yang kemarin sudah kita mohonkan kepada Allah minta diampuni. Terampuni ya Allah berikan kepada kita, diampuni dan seterusnya ya. Jadi kalau Anda ingin pilih kemudian untuk ee mengulang kembali dikiaskan salat di saat ingatnya ya orang lupa saat ingatnya pada waktu ingatnya dia itu salat ya orang tertidur bangun saat bangunnya dia itu salat misalnya ada orang tidur dari subuh kemudian dari ee sebelum subuh dia tidur bangun-bangun dia jam 10.00 misalnya kan ya baru ingat dia belum salat subuh maka saat ingatnya itu dia kemudian menunaikan salatnya. Ah ini dikiaskan kepada keadaan seperti itu ya. Kemudian dia tunaikan. Adapun orang-orang yang ee kemudian dia ingin memilih, "Saya ingin perbanyak yang sunahnya saja." Tak ada masalah ya. Tak ada masalah ya. Jadi silakan perbanyak salat sunahnya. Dan tidak ada satuun dalil yang spesifik mengatakan dilarang menunaikan salat sunah sebelum yang fardunya tercukupi dahulu. Kita pun tak tahu berapa fardu yang sudah tertinggal, bagaimana mencukupinya. Ya, jadi enggak ada dalil spesifik seperti itu. Yang ada adalah ee terbuka luas untuk kita beramal membuktikan kesungguhan kita telah berubah. Wallahu taala alam bissawab. Dan semoga Allah menerima tobat yang kita mohonkan kepada Allah. Dan tidak ada semua kita yang bebas dari kesalahan. Saya, Anda, kita pun pasti pernah berbuat salah. Dan Allah sangat mencintai pelaku maksiat yang bertobat dibandingkan dengan seorang yang saleh yang tidak pernah merasa salah dalam kehidupannya. Wallahu taala alam b.