Transcription
Suaranya jelas. Jelas, Ustaz. Jelas. Oke. Baik.
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah hamdaniban mubar f yuhibbuhunaard. Asadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah wa asadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum min yaumiddin. Amma ba'd.
Srohli sodri wa yassirli amri wahlul uqdatan min lisani yafqahu qauli. Khairukum ta'allamal Qur'ana wa 'allamah.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di sesi yang kedua ini kita masih diberikan ee kemudahan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sehingga kita bisa apa namanya melanjutkan ee di materi berikutnya dari program sertifikasi ini. Dan insyaallahu Ta'ala di sesi yang kedua ini kita akan ee melanjutkan materi kita di Fashatul Lisan ya. Di materi Qasalahatul Lisan. Tib.
Terakhir pembahasan kita kemarin itu di ee apa namanya? Mengenal makharijul huruf. Dan alhamdulillah sudah kita jelaskan terkait dengan ee khilaf di kalangan para ulama terkait dengan jumlah makhraj huruf secara rinci. Namun yang lebih yang pendapat yang dipilih adalah pendapat yang mengatakan makhraj secara rinci ada 17. Ya, ini di ee yang mengatakan ee yang memilih pendapat tersebut adalah Al Imam Ibnu Jazari rahimahullahu Ta'ala dan juga para ulama setelahnya.
Nah, sekarang kita masuk pada mengenal sifatul huruf ya. Mengenal sifatul huruf. Tentunya ini sudah ee teman-teman sekalian sudah memahami terkait dengan ee sifatul huruf ya. Sudah memahami terkait dengan ee sifatul huruf.
Nah, apa itu sifatul huruf? Sifatul huruf ini secara bahasa maknanya adalah melekat pada sesuatu. Jadi sesuatu yang selalu ada ya pada sesuatu tersebut gitu ya. Sedangkan secara istilah maksudnya adalah keadaan tertentu yang datang pada huruf tatkala mengucapkannya. Jadi sifat ini adalah sesuatu yang selalu ada pada huruf. Sesuatu yang ada pada huruf. Nah.
Nah, sifat ini ya terbagi menjadi dua. Ada sifat yang lazimah, ada sifat aridah. Sifat lazimah, ada sifat aridah. Sifat lazimah ini juga bisa diistilahkan dengan sifat zatiah atau sifat asliah, ya. Dan sifat lazimah atau sifat zatiah atau sifat asliah ini adalah sifat yang selalu menyertai huruf yang selalu pada ada yang selalu ada pada pada huruf. Jadi ketika kita mengucapkan sebuah huruf ya, jika dia memiliki sifat lazimah maka sifat itu akan selalu ada pada huruf tersebut. Nah, jadi ketika kita mengucapkan huruf-huruf hijaiyah dengan tepat makhrajnya pasti sifatnya itu ngikut gitu. Pasti sifatnya itu ngikut.
Contoh seperti huruf sin. Saat kita mengucapkan huruf sin dengan makhraj yang tepat, ya dengan makhraj yang tepat kemudian disukunkan, maka dengan otomatis suara itu bisa dialirkan. As as dan juga ada udara yang keluar. As ada udara yang keluar. Nah, ini yang dinamakan dengan sifat lazimah. Sifat yang selalu ada pada huruf ya di semua kondisinya. Sifat ruhah pada huruf sin mengalirnya suara. Kemudian sifat hames pada huruf sin mengalirnya udara. Seperti itu. Jadi sifat lazimah ini adalah sifat yang selalu ada.
Sedangkan sifat aridh, sifat aridah ini adalah sifat yang kadang muncul kadang enggak. Ya, kadang muncul kadang kadang tidak. Ya, jadi muncul itu disebabkan karena kondisi tertentu. Bisa jadi karena sifat aridah ini muncul disebabkan karena ee apa namanya? Alaqatul huruf, pertemuan huruf ya. Disebabkan karena misalkan nun sukun bertemu dengan qof menjadi sifat tebal pada gunahnya. Misalkan nun sukun yang tadinya jelas jadi samar ketika bertemu dengan huruf-huruf ikhfa. Nah, perubahan-perubahan itu ya seperti hukum ikhfa ya, seperti hukum ee iqlab, idgham itu masuknya ke dalam sifat sifat aridah ya, sifat yang muncul disebabkan karena pertemuan ya pertemuan huruf seperti itu.
Atau misalkan mad thobi'i yang asalnya alif misalkan dua harakat lalu kemudian dia dibaca ee bertemu dengan hamzah karena pertemuan hamzah setelahnya maka mad yang tadinya dua harakat menjadi lebih dari dua dua harakat. Maka bacaan mad yang lebih dari dua harakat ada perubahan yang sebelumnya dua harakat maka itu masuk ke dalam sifat sifat aridah ya.
Atau misalkan tebal dan tipis pada huruf ra. Huruf ra ketika dia domah dan fathah dia dibaca tebal. Nah, ketika dia berharakat kasrah, dia dibaca tipis, maka tafkhim dan tarkik tebal dan tipis pada huruf ro ini masuk ke dalam sifat sifat aridah, gitu. Jadi, sifat aridah ini adalah sifat yang muncul ya disebabkan karena kondisi tertentu seperti itu. Berbeda dengan sifat sifat lazimah.
Nah, insyaallahu Ta'ala untuk sifat lazimah yang ee di buku Fashwa tulisan ini inilah yang akan kita ee bersama-sama kita ee pelajari. Nam. Adapun sifat aridah mungkin kita akan pelajarinya di di matan Tuhfatul Athfal itu ya terkait dengan hukum-hukum tajwid itu. Hukum-hukum tajwid itu masuk ke dalam sifat sifat aridah. Nam.
Kemudian manfaat dari mempelajari sifatul huruf. Jadi apa manfaatnya ketika kita mempelajari sifatul huruf?
Yang pertama adalah kita bisa mampu membedakan huruf-huruf yang sama makhrajnya. ya, huruf-huruf yang memiliki kesamaan makhraj. Karena kita akan dapati ada ya beberapa kelompok huruf yang dia memiliki kesamaan makhraj. Kurang lebih ada delapan kelompok huruf yang memiliki kesamaan makhraj ya. Hamzah, ha, 'ain, ha, ghain, qaf. Kemudian dilanjut lagi jim, syin, ya. Kemudian dilanjut lagi tho, kemudian dilanjut lagi dengan shad, zai, sin, kemudian dza, tsa. Kemudian fa dan ba. Itu adalah huruf-huruf yang ee fa dan ba gitu ya. Ee fa dan ba saja ya. Fa tidak. itu termasuk huruf-huruf yang yang memiliki kesamaan kesamaan makhraj, namun berbeda sifatnya. Jadi kalau ada huruf yang bertemu ya dan dia memiliki kesamaan makhraj, maka kita akan bisa bedakan dengan apa? Dengan sifat-sifatnya ya. Makanya makharijul huruf dan sifatul huruf ini ada satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jadi saat kita mempelajari makhraj tidak bisa kita hanya mempelajari makhraj saja. Jadi harus kita mempelajari sifatnya seperti itu ya. Begitu juga sebaliknya kita tidak bisa mempelajari sifat saja tanpa mempelajari makhrajul huruf seperti itu. Karena bacaan seseorang akan fasih ketika dia menguasai atau memahami makhrajul huruf dan sifatul huruf. Seperti itu.
Contoh tho dan ta ya. Tho, dal, ta memiliki makhraj yang sama. Dal, ta ini memiliki makhraj makhraj yang sama. Yakni sama-sama ujung lidahnya kita ini disentuhkan ke pangkal gigi seri bagian bagian atas. Nah, lalu apa yang membedakan ketiga huruf ini? Yang membedakan adalah sifatul huruf. Yang membedakan adalah sifatul huruf.
Nah, huruf ta itu memiliki sifat hames yang tidak dimiliki oleh sifat huruf dal dan huruf huruf tho. Jadi huruf dal dan huruf tho dia tidak memiliki sifat hames. Maka saat kita mengucapkan huruf dal dan tho tidak boleh ada hamesnya. Ta ti tu. Misalkan tho tu ada hamasnya salah. Karena huruf dal dan huruf tho ini dia memiliki sifat ee tidak memiliki sifat-sifat hamas.
Sedangkan huruf dal dan huruf ta ya ee sedangkan huruf dal memiliki sifat jahar dan qalqalah. Huruf tho juga sama. Memiliki sifat jahar dan qalqalah yang tidak dimiliki oleh huruf ta gitu. Makanya ketika kita membaca huruf ta sukun tidak boleh di qalqalah kan. At. Enggak boleh karena dia tidak memiliki sifat sifat qalqalah seperti itu.
Adapun huruf tho dia memiliki sifat istila dan idbak. Sifat terangkatnya lidah bagian belakang ya. Sifat idbak mengumpulnya suara. Jadi terangkatnya lidah mulai dari tengah lidah sampai ke pangkal lidah itu terangkat semua sehingga menghasilkan suara yang suara yang mengumpul di dalam mulut. Nah, sedangkan huruf ta dan huruf dal tidak memiliki sifat istila dan idbak. Sehingga pada saat kita mengucapkan huruf dal dan huruf ee huruf tho dan huruf ta terbedakan dengan sifatnya. Ya, mungkin secara ee samar hampir bunyinya sama. Ee ada huruf t-nya gitu kalau di bahasa kita ada huruf t-nya. Tapi saat kasrah terbedakan, saat fathah terbedakan. Huruf tho ketika fathah dia tebal bunyinya tho. Tho. Sedangkan huruf ta, ta ti, tu bat. Seperti itu terbedakan dari apa? Dari sifatnya seperti itu ya.
Nah, di sini ee selain kita bisa membedakan dari sifatnya, ternyata dari sifat-sifat yang tadi kita sebutkan itu terbedakan juga dari ee apa namanya? Ee timbangan hurufnya. Jadi meskipun huruf tho dan ta ini memiliki kesamaan makhraj, ternyata dilihat dari sifat-sifat yang berbeda itu ya kita bisa mengetahui bahwasanya tiga huruf ini memiliki timbangan timbangan huruf yang berbeda.
Huruf tho kita tahu sendiri huruf tho ini adalah huruf yang paling kuat di antara huruf-huruf hijaiyah yang lainnya karena terkumpul padanya seluruh sifat-sifat yang kuat. Jahar kuat, syiddah kuat, istila kuat, idbak kuat, ismat kuat, qalqalah kuat. Sehingga tidak ada sifat yang lemah pada huruf tho. Maka huruf tho ini adalah huruf yang paling kuat di antara huruf-huruf hijaiyah yang lainnya.
Nah, sedangkan huruf ta dan juga huruf dal ini tidak sekuat huruf tho. Nah, huruf dal, huruf dal ini juga termasuk huruf yang kuat tapi tidak sekuat huruf tho. Huruf dal sifatnya ada jahar, ada syiddah. Afan tadi ee yang syiddah huruf tho belum disebutkan ya. Ee ada jahar, ada syiddah. Kemudian istifal, infitah, ismat dan qalqalah. Dia termasuk huruf yang kuat tapi dia masih memiliki dua sifat yang lemah, yaitu sifat istifal dan infitah. Sehingga tekanan pada makhraj berbeda. Seperti kita menekan pada makhraj huruf tho ya. Berbeda. Kalau tho itu lebih kuat dia penekanan hurufnya karena dia huruf yang ku kuat. Sedangkan huruf dal tidak sekuat huruf tho.
Nah, itu perbedaan dari sisi timbangan huruf. Sedangkan huruf ta dia adalah huruf yang lemah. Ya, dia adalah huruf yang lemah. Sifatnya apa? Hames, syiddah, istifal, infitah, ismat, sama. Ee enggak ada ya? Ee enggak ada ya. Satu lagi cuma lima. Dan ada sifat yang lemah. Sifat yang lemah ada tiga, hamas, istifal, infitah. Nah, yang kuat cuma dua, syiddah sama ismat. Berarti ee 3 banding 2. Berarti huruf ta ini termasuk huruf yang yang lemah seperti itu. Dari sentuhan makhrajnya dia melemah sehingga memunculkan udara padanya saat kita ucapkan seperti itu. Kenapa huruf tho dan huruf dal itu tidak keluar udaranya? Karena tidak ada peluang atau tidak ada celah bagi udara itu keluar karena saking apa? Saking kuatnya sentuhan pada makhraj seperti itu.
Nah, lalu kenapa hames pada huruf ta itu sedikit? Tidak seperti huruf-huruf hames yang lainnya seperti huruf fa, huruf sin, huruf ha, huruf ha. Ini adalah huruf-huruf yang memiliki sifat hames. Dan hamesnya itu banyak. Kenapa huruf ta itu hamesnya sedikit? Karena adanya syiddah di situ. Syiddah ini termasuk sifat yang kuat. Penekanan pada huruf sehingga ee hames pada huruf ta itu tidak sepanjang huruf-huruf ruhuwah yang lainnya seperti itu.
Nah, ini kita dari sini kita bisa mengetahui kenapa kok seperti ini, kenapa kok seperti ini, seperti itu. Makanya pembahasan makhrajul huruf dan sifatul huruf ini adalah pembahasan yang tidak bisa kita ee apa namanya sendirikan gitu. Maksudnya harus dipelajari bersamaan, kita pahami bersamaan.
Nah, di sini ada perkataan Al-'Allamah Muhammad Makin Nasr rahimahullahu Ta'ala. Beliau mengatakan, "Ketahuilah bahwa huruf yang sama dengan huruf yang lainnya dalam satu makhraj ya, maka tidaklah dapat dibedakan kecuali dengan sifat. Begitu pula huruf yang berserikat dengan huruf yang lainnya pada satu sifat. Ya, tidaklah dapat dibedakan melainkan dengan makhrajnya." Ya. Jadi, ada huruf yang sama makhrajnya, kita bisa bedakan dari sifatnya. Ada huruf-huruf yang sebagian besar sama sifatnya ya atau sama sifatnya kita bisa bedakan dari apa? Dari makhrajnya seperti itu. Wallahu a'lam.
Ini yang pertama ya, manfaat yang kita bisa ee dapatkan ketika kita mempelajari makhraj eh sifat. Mempelajari sifat.
Yang kedua, mampu membedakan huruf yang kuat dan huruf yang lemah. Nah, tadi itu huruf tho huruf yang kuat, huruf dal huruf yang kuat tapi di tidak sekuat yang tho ya. Huruf ta huruf yang yang lemah seperti itu.
Yang ketiga, mampu mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhraj dan sifatnya secara tepat seperti memurnikan bacaan huruf mad dari sifat gunah. Nah, kalau kita belajar makhraj dan sifat, kita akan paham huruf mana saja yang keluar dari hidung dan huruf apa saja yang tidak keluar dari hidung. Sehingga saat kita membaca Al-Qur'an tidak sengau atau bahasa di dalam tajwid itu istilahnya adalah khonah, suara yang sengau ketika membaca Al-Qur'an seperti itu. Nah, kalau kita belajar makhraj dan sifat, kita akan bisa menempatkan setiap huruf itu pada tempatnya. Jadi, jangan sampai kita mengucapkan huruf-huruf mad yang kita tahu dia keluarnya dari aljauf, rongga tenggorokan sampai rongga mulut, ternyata kita keluarkan dari rongga hidung. Berarti kan salah makhraj. Misalkan alhamdulillahi rabbil 'alamin. Ah, ini salah. Jadi yang benar gimana? Al-'alamin di situ kan ada ya mad ya, min dari mulut. Suaranya dari mulut karena itu aljauf aljauf huruf-huruf mad keluarnya. Namam seperti itu.
Kemudian ya mampu mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhraj dan sifatnya seperti memurnikan huruf yang tipis dari suara yang tebal. Jadi kita tahu, oh huruf ini makhrajnya di sini dan huruf ini sifatnya ini, ini, ini, ini, ini. Oh, ternyata dia huruf tipis. Maka jangan sampai huruf tipis ini terpengaruh oleh huruf yang tebal.
Nah, yang perlu kita pahami bahwasanya ee pengaruh suara dari pertemuan huruf-huruf hijaiyah satu huruf dengan huruf yang lainnya ada pengaruh suara yang diperbolehkan dan ada yang tidak diperbolehkan. Yang diperbolehkan adalah apabila dia diatur oleh hukum-hukum tajwid atau hukum-hukum qiraat. Nah, itu baru diperbolehkan. Contoh misalkan, misalkan nun sukun ketika dia hukumnya izhar bunyinya tipis an an. Namun ketika dia bertemu dengan huruf qof bunyinya jadi, jadi tebal. Eng. Berarti kan ada pengaruh ya gara-gara bertemu dengan huruf yang tebal. yang tadinya nunnya itu jelas tipis kemudian bertemu dengan huruf tebal bunyinya jadi jadi tebal ya bunyinya jadi jadi tebal atau misalkan ro huruf ro sukun ya ketika bertemu dengan huruf atau di apa namanya didahului oleh huruf yang kasrah dia tipis ketika didahului huruf yang ee fathah dia tebal ada perubahan-perubahan ini gara-gara apa pertemuan huruf ya gara-gara ada harakatnya perubahan Perubahan-perubahan seperti ini diperbolehkan karena perubahan-perubahan seperti ini diatur oleh hukum tajwid ya. Misalkan nun yang tadinya jelas bertemu lam jadinya milladunu. Nun sukun yang tadinya jelas min ketika bertemu ro jadi berubah suaranya mirro. Ini kan pengaruh karena bertemunya huruf. Maka ini diperbolehkan karena dia diatur oleh hukum hukum tajwid seperti itu atau diatur oleh hukum qiraat. Misalkan yang tadinya salah jadi sholamu jadi dolomu. Ada perubahan. Kalau dia diatur oleh hukum qiraat maupun hukum tajwid, maka perubahan tersebut diperbolehkan.
Nah, yang tidak diperbolehkan adalah perubahan huruf yang tidak dia diatur oleh hukum tajwid maupun hukum qiraat. Contoh perubahan yang tidak diperbolehkan adalah ketika huruf tipis bertemu dengan huruf tebal, huruf tipis jadi tebal. Syaratnya dia tidak diatur ya oleh hukum tajwid. Contohnya misalkan giriril magdubi alaihim walamnya jadi tebal gara-gara bertemu dengan ah ini baru perubahan yang tidak diperboleh tidak diperbolehkan karena memang enggak ada aturannya huruf lam jadi tebal ketika bertemu dengan dal pada kalimat waladin itu dipahami ya. Jadi kita bisa memurnikan huruf yang tipis dari suara yang tebal seperti itu.
Nah, kita masuk pada pembagian sifatul huruf. Tadi sudah disinggung di awal ya, terkait dengan pembagian sifat ini ya. Ada ada dua, ada sifat lazimah atau sifat zatiah atau sifat asliah ya. Ini yang sifat yang selalu ada pada huruf ini yang insyaallah yang akan kita bahas. Kemudian yang kedua adalah sifat aridah. Sifat aridah ini adalah sifat yang tadi ya yang muncul karena kondisi tertentu. Sehingga kita tidak bahas di sini kita lebih fokus kepada sifat zatiah atau sifat lazimah, sifat asliah ya. Sifat yang selalu ada pada pada huruf. Nam.
Kemudian sifat zatiah atau sifat lazimah atau sifat asliah boleh ya tiga istilah ini digunakan ya. Itu terbagi menjadi dua kelompok. Terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama adalah sifat yang memiliki lawan. Sifat yang memiliki lawan kurang lebih ada lima kelompok di sini ya. Ada lima. Ada lima kelompok. Kemudian kelompok yang kedua adalah sifat yang tidak memiliki lawan. Sifat yang tidak memiliki lawan. Di sini ada 10 sifat yang kami ee sebutkan di sifat yang tidak memiliki lawan ini.
Nah, kita bahas ee yang kelompok yang tidak memiliki lawan dulu. Nah, nah di sini ee asatizah wa akhwat sekalian yang semoga dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ya. Kita ini memiliki santri, memiliki ee apa namanya? Peserta didik ya yang kita ajarkan. Terkadang ya kita seorang pengajar itu ee apa ya istilahnya bagaimana caranya peserta didik kita itu paham apa yang kita akan sampaikan meskipun materinya mungkin terasa berat ya tapi kita bisa menyuguhkan ee apa namanya materi tersebut dengan cara atau metode ya metode yang yang membuat dia ee santri kita itu mudah, maka di sini kita sebagai guru ya harus berusaha untuk apa? Untuk membuat metode ya atau kita belajar bagaimana cara menyampaikan materi yang berat ini menjadi ringan agar santri kita itu memahaminya seperti itu. Jadi istilahnya apa ya ee kita ya sebagai pengajar harus pintar-pintar untuk memahamkan memahamkan orang lain seperti itu.
Nah, caranya bagaimana kita bisa memahamkan orang lain? Caranya yang pertama adalah kita paham dulu. Kita paham dulu kan bagaimana kita bisa memahamkan orang lain kalau kitanya belum paham gitu. Jadi intinya untuk kita dulu, pahamkan kita dulu nanti insyaallahu Ta'ala kita akan bisa memahamkan orang lain dengan bahasa kita ya, dengan bahasa bahasa kita atau bahasa yang mudah untuk dipahami santri-santri santri santri kita seperti itu.
Nah, di sini untuk me ee mempelajari ee sifatul huruf seperti ini ee sebetulnya dengan seringnya diulang ini nanti akan hafal sendiri. Dengan seringnya diulang nanti akan hafal sendiri. Jadi nanti santri kita insyaallahu Ta'ala dengan sendirinya dia akan bisa menyebutkan seluruh sifat-sifat yang ada pada huruf-huruf hijaiyah insyaallahu Ta'ala. Saya pernah ada santri itu kelas 3 SD. Kelas 3 SD dia belajar makhrajul huruf dan sifatul huruf ya sama saya waktu itu. Nah, waktu itu saya tidak menyuruh dia untuk menghafal sifat-sifat huruf. Enggak. Karena istilah-istilah sifat huruf apalagi baru ya baru dia dengar itu sulit untuk dihafal gitu. Jadi saya mengajarkan dia itu lebih ke makna dari ee sifat yang istilah-istilah tersebut seperti jahar dan syiddah. Ini lebih ke memahamkan dia maksudnya ini hames itu apa gitu, jahar itu apa, syiddah itu apa, rakhwah itu apa, tentunya dengan bahasa anak-anak gitu ya. Nah, sehingga nanti ketika dia mengucapkan satu huruf hijaiyah ya, entah dia dengan disukunkan atau diberikan harakat, maka dia akan bisa mendeteksi sendiri. Ketika dia sudah bisa mendeteksi sendiri, dia akan sebutkan sifat-sifat yang ada pada huruf-huruf tersebut. Jadi, tidak perlu dihafal. Tidak, tidak di saya huruf saya misalkan coba hafal huruf Hamzah sifatnya apa saja. Itu enggak enggak. Cuma saya mengajarkan ee santri saya itu waktu itu ee memahami makna daripada istilah-istilah ee sifatul huruf gitu. Sehingga saat kita saat saya ee coba sebutkan sifat huruf dalal misalkan di langsung gini az. Oh, enggak ada aliran udara. Jahar, Ustaz. Jahar, Ustaz. Nah, terus apa lagi? Oh, suaranya mengalir. Rakhwah, Ustaz. Rakhwah. Terus misalkan ini lagi dza. Dza. Oh, lidahnya enggak terangkat. Lidahnya enggak terangkat. Oh, istifal, Ustaz. Istighfal. Dza. Dza. Oh, terbuka nih mulutnya. Enggak ada sempit-sempitnya di ada rongga di dalam mulut kita. Dza. Oh, infitah, Ustaz. Azza. Dza. Hurufnya berat, Ustaz. Hurufnya berarti ismat, Ustaz. Ah, seperti itu. Nah, terus kemudian dia sebutkan lagi huruf D. Seperti itu juga sambil az, sambil dipraktikkan sambil mendeteksi sendiri seperti itu. Jadi, enggak perlu kita ee suruh menghafal. Bahkan kalau misalkan disuruh menghafal ya mungkin ya bisa jadi sekedar hafal doang tapi dia enggak paham maksudnya apa seperti itu. Jadi saat kami mengajarkan ee sifatul huruf ee kepada santri-santri kami itu caranya dengan mereka mendeteksi sendiri seperti itu.
Nah, di sini kita ee sebutkan kita bahas terkait dengan kelompok yang memiliki lawan dulu ya. Yang pertama ini berdasarkan mengalir atau tidak mengalirnya nafas. Sifat ini ada dua. Ada hames lawannya jahar. Hames ini mengalirnya udara. Hames ini mengalirnya udara. Jahar ini tertahannya udara. Jadi saat kita mengucapkan huruf nih ya. Saat kita mengucapkan huruf as. Oh, udaranya mengalir. Ass. Oh, berarti dia sifatnya adalah hames, gitu. Misalkan lagi al. Oh, enggak ada aliran udaranya nih. Oh, berarti huruf lam itu sifatnya jahar, gitu. Jadi tinggal kita pahami aja mengalirnya udara itu apa namanya, tertahannya udara itu apa namanya. Tinggal itu aja. Nanti kalau sudah paham itunya nanti tinggal kita sebutkan aja. Coba sebutkan sifat yang ada pada huruf ba. Ah, dengan otomatis dia nanti insyaallah akan bisa menyebutkan satu persatu sifat-sifat yang ada pada huruf ba. Seperti itu.
Nah, kemudian yang kedua berdasarkan mengalir atau tidaknya suara. Berdasarkan mengalir atau tidaknya suara. Di sini ada sifat syiddah lawannya rakhwah. Nah, sifat syiddah ini adalah sifat yang ee terhentinya suara, tertahan suara. Contoh misalkan huruf apa yang tertahan suaranya? Huruf hamzah misalkan. Misalkan huruf hamzah sukun. Yamurukum ya mukminun. Oh tertahan suaranya nih. Oh berarti huruf hamzah ini sifatnya syiddah, seperti itu. Nah, lawannya adalah rakhwah. Rakhwah mengalir suaranya sempurna. Panjang mengalirnya sempurna. Coba misalkan huruf sin as. Oh mengalir suaranya. Huruf ha misalkan ah. Huruf D misalkan huruf D. Oh, mengalir suaranya nih. Oh, berarti huruf tersebut adalah huruf yang memiliki sifat sifat rakhwah.
Nah, di antara dua sifat ini syiddah dan rakhwah ya ada sifat yang namanya sifat bainiah ya. Sifat bainiah atau sifat tawassud pertengahan ya. Tidak tertahan seperti syiddah hurufnya ya. tidak juga mengalir sepanjang rakhwah. Ini namanya bainiah atau tawassud ya. Jadi huruf-hurufnya ada lima ya. Hurufnya ada ada lima. Lin, 'ummar, lam, nun, 'ain, mim, sama ro. Nah, kelima huruf ini ketika sukun suaranya tidak tertahan seperti syiddah dan juga tidak mengalir sepanjang rakhwah di tengah-tengah ya. Berada di tengah di tengah-tengah gitu. Contoh misalkan huruf lam alhamdu. Alhamdu sebatas itu aja ngalirnya. Jangan kita baca alhamdu. Nah, enggak karena dia sifatnya adalah bainiah atau tawasut seperti itu.
Nah, yang ketiga berdasarkan naik atau tidaknya pangkal lidah ke langit-langit. Di sini ada istila lawannya adalah istifal. Istila ini maknanya pangkal lidahnya naik saat diucapkan hurufnya. Contoh misalkan huruf qaf. O. Naik pangkal lidahnya. Sh. D. Ad. Ah, pangkal lidahnya naik berarti huruf-huruf yang tadi disebutkan adalah huruf-huruf yang memiliki sifat istila. Nah, jika ada huruf yang kita ucapkan pangkal lidahnya tidak naik maka ini namanya istifal. Jadi kita mendeteksi sendiri ketika ingin mengetahui sifat yang ada pada huruf-huruf hijaiyah seperti itu. Kita deteksi. Insyaallah kita akan bisa menyebutkan semua sifat yang ada pada pada huruf-huruf hijaiyah.
Nah, yang keempat, berdasarkan terkumpul atau tidaknya suara antara langit-langit dan ee langit antara lidah dengan langit-langit. Di sini ada sifat idbak lawannya infitah. Idbak ini adalah huruf yang saat kita ucapkan suaranya ngumpul dari mulut menggema. Shad, dhad, tho, dhod. Ada empat huruf shad, dhad, tho, dhod. Saat diucapkan ngumpul dalam mulut. Nah, nah, sifat idbak ini lebih khusus daripada sifat istila. Kalau sifat istila naik pangkal lidahnya. Kalau idbak ini mulai dari tengah lidah naik sampai ke pangkal lidah sehingga menghasilkan suara yang sangat tebal. Suaranya ngumpul dalam mulut. Kalau istila enggak. Istila itu cukup menaikkan pangkal lidahnya saja. Jadi enggak sampai tebal banget gitu maksudnya. Contoh huruf qaf. Qo qo qolu qolu. Jadi bukan qolu qolu bukan gitu tapi qolu qo berbeda dengan huruf shad ya. Shah adah misalkan addolin dia suaranya lebih ngumpul. Nah, sedangkan infitah terbuka. Terbuka. Saat diucapkan hurufnya, ada jarak di antara permukaan lidah dengan dengan langit-langit seperti itu ya. Oh, yang istifal belum ya? Yang ini ya. Kalau yang istila naik pangkal lidahnya, sedangkan yang istifal itu turun lidahnya. Maksudnya gitu. Jadi pangkal lidahnya tidak tidak dinaikkan saat kita mengucapkan huruf istifal seperti misalkan ba baah lidah kita yang belakang itu enggak gerak enggak naik ke atas ya berada pada ee pada posisinya gitu berada di dasar ba a ya seperti itu. Itu yang istifal. Nam. Kemudian infitah ya tadi ya infitah terbuka. Jadi ada jarak di permukaan lidah dengan langit dengan langit-langit. Misalkan huruf yang memiliki sifat infitah selain yang huruf-huruf idbak itu tadi ya ee 28 diambil apa namanya huruf-huruf hijaiyah 29 ya diambil 4 sisa 25. Berarti 25 adalah huruf-huruf infitah terbuka. Qo ada jarak jangan jangan disempitkan gitu maksudnya.
Dan yang terakhir adalah berdasarkan berat atau tidaknya huruf diucapkan. Berat dan ringannya huruf diucapkan ini sesuai dengan lisannya orang-orang Arab. Mungkin bisa aja kita menyangka, "Oh, ini Ustaz huruf apa namanya? Ee huruf apa? Ee yang kita anggap mudah ya. Hamzah misalkan a ini mudah ini ustaz mudah ini. A a ya a ini kan bagi kita tapi di sini patokannya adalah bagi lisanul Arab. Lisannya orang-orang Arab. Dan Hamzah ini dari kata Hamzah ini artinya adalah ee mendorong ya. Mendorong dari sisi bahasa itu artinya adalah mendorong. Nah, saat huruf Hamzah itu diucapkan harus ada yang didorong gitu loh. Nah, huruf Hamzah ini memang agak berat pengucapannya. A harus kita tekan. Makanya sebagian kabilah orang-orang Arab dulu zaman dulu makanya di Al-Qur'an itu tujuh apa namanya ee qiraatnya macam-macam karena sesuai dengan apa kemudahan dari lisan-lisan mereka. Nah, sebagian qiraat itu kalau ketemu Hamzah sama Hamzah pasti Hamzah yang kedua itu di ditashil ya atau diibdal. Jadi mereka sangat menghindari sekali Hamzah bertemu dengan Hamzah aa gitu. Itu kan berat tuh. A aa makanya biar ringan gimana? Hamzah yang kedua biasanya atau hamzah yang pertama itu ditashil ya. Hamzah yang kedua biasanya ditashil atau di ibdal misalkan. Misalkan aartahum, ada yang membaca aanzartahum. Ada juga dibaca dengan ibdalahum seperti itu. Jadi ada yang ditashil di ibdal seperti itu. Kalau ada dua hamzah yang bertemu gitu karena memang berat pengucapannya. Tib.
Berdasarkan berat atau tidaknya huruf diucapkan itu ada dua sifat yaitu sifat ismat. Lawannya adalah idzlaq. Ismat ini adalah huruf-huruf yang berat diucapkan. Sedangkan idzlaq ini adalah huruf-huruf yang mudah, ringan diucapkan. Nah, ismat ini huruf-hurufnya banyak ya. Ismat itu huruf-hurufnya ee banyak. Kurang lebih ada 22 ya. Ada 22 huruf ya. Karena yang idzlaq itu ada enam huruf. Ada enam ada enam huruf. Nah, huruf-huruf ismat itu biasanya adalah huruf-huruf yang makhrajnya itu jauh dari ujung lidah, jauh dari lisan, eh dari bibir sehingga huruf-hurufnya itu sulit diucapkan. Jadi harus ada yang apa? ditekan dulu gitu pengucapannya enggak langsung keluar gitu. Berbeda dengan huruf-huruf yang idzlaq. Huruf-huruf idzlaq itu ada enam hurufnya. Fa, ra, mim, nun, lam, ba. Farom manal laba. Saking mudahnya huruf ini diucapkan itu kalau kita baca cepat itu mudah. Faralaba, faralaba, faralaba, farab farba faraba faraba. Itu bisa kita ucapkan dengan cepat. Coba aja kita masukkan satu huruf ismat misalkan hamzah di akhir misalkan farba a farba a faraba a. Nah, a-nya itu harus ada penekanan gitu maksud. Makanya huruf hamzah ini masuk ke dalam huruf-huruf yang berat diucapkan ismat seperti itu bisa dipahami ya. Misalkan kita tambahkan huruf sin misalkan faral basa. Far manal basa. Far manal basa. Ah sa sa sa ah ada apa namanya? Ee enggak langsung keluar gitu loh. Enggak langsung keluar. Itu menunjukkan huruf sin itu juga termasuk huruf-huruf yang berat diucapkan. Maksudnya di sini bukan susah ya, tapi memang saat diucapkan itu enggak langsung keluar suaranya. Harus ada ada di ee dorongan dulu seperti itu. Nah, wallahu a'lam. Ini lima kelompok sifat yang ee memiliki memiliki lawan seperti itu ya.
Kita lanjut pada kelompok sifat yang tidak memiliki lawan. Bab. Yang pertama adalah as-shafīr. Shafīr ini secara bahasa maknanya adalah eeuladzi ee apa ya? Hiddatus saut ya. Hiddatus saut yang menajam. Ini shafīr. Shafīr maknanya adalah suara yang me menajam. Nah, secara istilah suara atau udara yang keluar melalui celah yang sempit sehingga suara itu menjadi mena menajam. Biasanya udara itu ketika keluar melalui celah yang sempit biasanya suaranya menjadi ee menajam gitu. Seperti halnya misalkan kalau kita pernah ee apa namanya gembosi sepeda ya ban ya itu pentilnya itu kalau kita tekan kan bunyinya ces gitu ya. Ces itu disebabkan kenapa ada udara yang menekan dari dalam keluar melalui celah yang sempit. Nah, itu shafīr namanya. Suara yang mena menajam. Suara yang keluar melalui celah yang berada di ee tempat yang sempit seperti itu. Nah, tempat yang sempit itu di mana? Di antara gigi seri atas dan gigi seri bawah. Karena huruf-huruf safir ini adalah huruf-huruf shad. Huruf safir ini ada tiga hurufnya, afwan, yaitu huruf shad, zai, sama sin. Shad, zai, sama sin. Nah, bisa dicatat, teman-teman, ya. Nanti nanti yang lima disebutkan nanti tambahannya adalah huruf-huruf yang tidak memiliki lawan. Biasanya seperti itu. Nah, huruf-huruf safir ada tiga, yaitu huruf shad, zai, sama sin.
Yang kedua qalqalah. Qalqalah ini secara bahasa artinya adalah guncangan ya. Guncangan atau ee kalau yang kita pahami itu ee pantulan ya, memantul ya, memantulnya suara. Nah, sifat qalqalah ini ada sifat alamiah yang tidak dibuat-buat alamiah. Jadi, kalau diibaratkan seperti kita masak di sebuah panci ya, masak air ya, pancinya ditutup kemudian ada uap dari dalam karena mendidih itu airnya itu tutupnya ada akan kelup gitu karena ada dorongan dari dari dalam seperti itu. Nah, dorongannya itu adalah sifat jahar dan syiddah. Ketika huruf itu diucapkan, huruf-huruf syiddah, huruf-huruf yang memiliki sifat qalqalah maksudnya ya, dia selain ee jadi huruf-huruf syiddah itu adalah huruf-huruf yang tertahan suara. Jahar itu adalah huruf-huruf yang tertahan udara. Jadi seketika huruf-huruf jahar dan syiddah ini diucapkan, suara dan udara mau keluar tapi tertahan oleh makhrajnya sendiri. Akhirnya apa? Akhirnya memantul. Lahirlah sifat qalqalah. Nah, jadi kalau kata guru kami dan juga syekh kami pada saat kami daurah terkait dengan makhrajul huruf ini ee Syekh kami yang kebetulan beliau dari Saudi ee ketika itu menjelaskan bahwasanya sifat qalqalah ini ada karena perkawinan sifat jahar dan syiddah. Perkawinan jahar dan syiddah lahirlah qalqalah gitu maksudnya. Dan sebagaimana yang dijelaskan juga sama guru-guru kami yang lainnya. Jadi adanya qalqalah disebabkan karena apa? Adanya sifat jahar dan syiddah seperti itu. Jadi udara mau keluar tertahan, suara mau keluar tertahan akhirnya mantul balik lagi gitu. Jadi munculah sifat qalqalah. Nah, huruf qalqalah itu ada lima. Baju diqqo gampangannya gitu. Baju di tho qaf atau kutubu jad. Kutubu jad. Nah, itu huruf-hurufnya atau gampangnya itu ya baju di toko itu huruf-huruf qalqalah. Dan semua huruf-huruf qalqalah itu sifatnya jahar dan syiddah. Namam. Tapi ada huruf yang dia jahar dan syiddah, tapi enggak ada qalqalahnya. Mungkin barangkali ada yang tahu dari teman-teman, ada huruf yang memiliki sifat syiddah dan juga jahar tapi tidak ada qalqalahnya. Huruf apa itu? Huruf Hamzah. Hamzah. Nam. Masyaallah. Barakallahu fik. Huruf Hamzah dia huruf yang memiliki sifat syiddah dan juga huruf yang memiliki sifat jahar. Tapi dia tidak memiliki sifat qalqalah. Karena memang makhrajnya berada di ee apa namanya? Tenggorokan bawah. Tepatnya adalah di pangkal pita suara. Jadi, gimana kita memantulkan pita suara? Gimana ya? Enggak bisa kita memantulkan pita suara. Sulit sehingga dia tidak ada tidak ada qalqalah di dalamnya. Nam.
Yang ketiga alin atau layyin ya. Lin lembut. Sifat lembut. Sifat lembut ini atau huruf lin ini ada dua ya. Huruf lin secara khusus ya secara khusus itu ada dua yaitu huruf wau ya sukun sebelumnya fathah. Ini adalah huruf-huruf lin secara khusus ya. Kalau secara umum huruf mad juga termasuk ada huruf ee adalah huruf yang memiliki sifat sifat lin. Karena huruf mad itu adalah huruf yang diucapkan dengan lembut ya, tidak dengan yang dihentak-hentak enggak gitu ya. N tapi itu secara umum saja bukan secara khusus. Kalau secara khusus dua saja huruf lin yaitu huruf wau sukun sebelumnya sebelumnya fathah.
Kemudian yang keempat adalah al-inhiraf. Al-inhiraf itu maknanya ada almailu aludulu. Melenceng atau condong gitu loh. Nah, yang menyelenceng ini apa? Makhrajnya atau suaranya? Jawabannya adalah suaranya. Suara yang melenceng disebabkan karena suara mau keluar terhalang oleh makhrajnya sendiri sehingga suara itu mencari jalan keluar melalui celah yang ada di ee sekitar lidah kita baik sisi kanan maupun sisi kiri ataupun berada di depan nyari celah. Nah, ketika suara itu mencari jalan untuk keluar itu yang namanya inhiraf. Nah, huruf yang memiliki sifat inhiraf ada dua, lam sama ro. Lam inhirafnya itu berada di samping kiri dan kanan lidah. Karena saat mau keluar terhalang oleh lidahnya sendiri. Al makhrajnya sendiri al. Sehingga suara inhirafnya keluar dari e kanan dan kiri lidah. Sedangkan huruf ro itu inhirafnya di ujung lidah. Jadi ujung lidah kita itu ada celah sedikit. Itu tempat keluarnya suara. Ar ar. Ah, itu ar. Ah, itu ada inhiraf di situ. Ar seperti itu. Jadi, huruf yang memiliki sifat inhiraf adalah huruf lam dan ro.
Dan yang kelima takrir. Takrir ini sesuatu yang berulang, getaran ya. Sesuatu yang berulang ini adalah getaran yang memiliki sifat takrir hanya satu, yaitu huruf huruf ro saja. Nah, getaran pada huruf ro ini guru kami bilang ya, yang fasih adalah satu sampai dua getaran. Tiga sampai lebih ee lebih daripada tiga ini ee kalau guru kami itu bilang ini aib kalau bagi pada para qari ya. Aib kalau misalkan getarannya terlalu terlalu banyak gitu ya. Seperti huruf R di dalam bahasa Indonesia gitu loh. Jadi takrir ini adalah getaran yang lembut. Getaran yang lembut. Arrahmanirrahim. Seperti itu.
Kemudian yang keenam adalah tafasyi. Tafasyi ini secara bahasa adalah suatu yang menyebar, suara yang menyebar. Jadi saat udara keluar dari dalam ya kemudian membentur tengah lidah. Karena saat mengucapkan huruf syin itu kan tengah lidah dinaikkan ya sehingga udara itu menyebar. Nah, suara yang menyebar ini yang dinamakan dengan tafasyi. Huruf apa yang memiliki tafasyi? Huruf syin saja. Huruf syin saja.
Yang ketujuh, istila. Istila. Istila ini maknanya memanjang. Di sini memanjang apa? Memanjang makhraj atau memanjang suara? Jawabannya adalah memanjangnya makhraj. Dan istila ini hanya dimiliki oleh huruf dhod. Jadi, tidak ada kaitannya dengan memanjang suara. Karena memanjang suara adalah rakhwah. Kalau huruf dhod ini istila ini maksudnya adalah memanjangnya makhraj. Karena yang sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya huruf dhod itu makhrajnya dimulai dari pangkal sisi lidah sampai ke tempat huruf lam. Itu lidah nyentuh semua. Itu nyentuh semua. Tapi yang ditekan adalah pangkal sisi lidah. Add ad. Baik sisi kiri maupun kanannya seperti itu. Nah, sifat istila ini adalah sifat yang paling kuat di antara sifat-sifat yang lain. Sifat istila. Kenapa paling kuat? Karena sifat istila tidak ada maratibnya, tidak ada tingkatan-tingkatannya. Istila itu enggak ada tingkat-tingkatannya. Sedangkan sifat-sifat yang lain itu ada tingkatan-tingkatannya. Seperti misalkan rakhwah, memanjangnya suara. Itu ada tingkat-tingkatannya. Seperti tafasyi itu ada tingkatan-tingkatannya. Kapan tafasyi ini akan ee berasa lebih kuat ya, sempurna tafasyinya, akmal ya istilahnya kapan tafasyini akmal? Saat huruf syin itu bertasydid. Jadi ada tingkatan-tingkatannya. Ketika dia sukun tafasyinya ini berkurang. Ketika dia berharakat lebih kurang lagi. Nah, kalau istila enggak. Kalau istila itu mau dia berharakat dhodnya, mau dia fathah dhodnya, domah dhodnya, kasrah dhodnya atau sukun atau bertasydid, maka istila tetaplah istila memanjangnya makhraj tetap memanjang makhraj di kondisi apapun huruf dhod seperti itu. Nah, kalau misalkan tafasyi tadi yang disebutkan dia bertingkat-tingkat ya di setiap kondisi pada huruf yang memiliki sifat tafasi itu tadi. Sehingga istila ini kalau guru kami ee apa namanya? itu adalah huruf sifat yang ee kuat ya, paling kuat karena dia tidak ada ee maratibnya seperti itu. Nam.
Dan yang kedelapan adalah al-ghunnah. Ghunnah ini adzi yakruju min khaisyum ya. Suara yang keluar dari rongga hidung, pangkal hidung ya. Lebih tepatnya itu pangkal hidung. Al-khaisyum itu lebih tepatnya sebetulnya diartikan sebagai pangkal pangkal hidung. Karena suara ghunnah itu keluarnya dari bagian hidung yang paling belakang, paling dalam. Jadi bukan rongganya ya, afwan ya. Kalau rongga kan di sini ya tempat tempat apa namanya ya? Inilah di sinilah rongga ya. Nah, kalau ghunnah itu tempat keluarnya dia di ghunnah ee apa namanya? Pangkal hidung atau bagian hidung yang paling paling belakang seperti itu. Jadi sebetulnya lebih tepat diartikan pangkal pangkal hidung. Tapi kalau misalkan diartikan dengan ee rongga hidung itu tidak apa-apa seperti itu. Nah, ini ghunnah. Ghunnah hanya dimiliki oleh huruf nun dan mim saja. Nun dan mim saja.
Dan yang kesembilan adalah al-khafa. Al-khafa ini maknanya adalah samar. Samar. Nah, huruf yang memiliki sifat khafa adalah huruf ha dan huruf-huruf mad. Huruf ha ya, bukan huruf ha bukan. Tapi huruf ha. Nam. Nah, sifat khafa ini sama seperti sifat malas. Sifat khafa ini sama seperti sifat malas, sifat yang harus dibuang gitu loh. Sifat yang harus dihilangkan. Meskipun kadang ada di dalam diri kita sifat malas itu ada. Tapi sifat malas itu bukan sifat yang harus dijadikan sifat yang dominan pada diri kita. Enggak. Sehingga nanti jadi malas, magr gitu. Iya kan? Nah, sifat khafa ini selalu ada pada huruf ha. Makanya huruf ha itu ketika diucapkan kadarkadang kadang-kadang enggak jelas samar, enggak jelas pengucapannya. Misalkan bismillahirrahmanirrahim, alhamdulillahi rabbil 'alamin. Hi. Enggak jelas ya. Ini adalah huruf yang ee ee sifat khafa membuat huruf ha itu jadi enggak enggak jelas. Maka dari itu, sifat khafa ini saat kita mengucapkan huruf ha dihilangkan. Jadi, huruf ha-nya harus dijelaskan pengucapannya. Bismillahi hi bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi hi. Jelaskan ha-nya saat kita mengucapkan huruf huruf ha. Nah, huruf-huruf mad itu gimana caranya untuk menghilangkan sifat khafa? Huruf mad itu biar hilang sifat khafanya dengan dipanjangkan huruf madnya. Makanya huruf mad itu kan panjang dua harakat ya. Nah, jadi jelas kan ya kalau misalkan dipanjangkan kan jadi jelas suaranya. Misalkan ee jadi jelas kan daripada e e itu lebih jelas seperti itu.
Dan yang terakhir adalah ta'affuf. Yang terakhir adalah ta'affuf. Ta'affuf ini secara bahasa seperti orang yang mengucapkan uf uf. Sedangkan secara istilah ta'affuf ini adalah suara yang khas yang muncul yang disebabkan karena persentuhan bibir bawah dengan gigi seri atas. Nah, huruf yang memiliki sifat ta'affuf ini adalah huruf fa ya. Sifat yang memiliki sifat ta'affuf adalah huruf huruf fa seperti itu. Ini adalah 10 sifat yang tidak memiliki lawan. Jadi ee santri-santri kita juga harus memahami ini, memahami sifat-sifat yang tidak memiliki lawan ini dan apa saja huruf-hurufnya seperti itu. Sehingga nanti pada saat dia misalkan coba sebutkan sifat-sifat yang ada pada huruf D. Misalkan add d ad. Oh jahar ustaz. Enggak ada enggak ada udara yang ngalir ya. Terus apa lagi misalkan am oh mengalir suaranya rakhwah ustaz. Terus do do pangkal lidah naik. Mau istifa eh istila Ustaz do oh suaranya ngumpul ustaz suaranya ngumpul berarti idbak Ustaz D do berat oh ismat ustaz terus apa lagi satu lagi sifat yang tidak memiliki lawan yang keenam do panjang makhraj oh iya istila ustaz ah gitu jadi mau tidak mau dia harus memahami ya sifat-sifat yang baik yang sifat yang memiliki lawan dan sifat yang yang tidak memiliki lawan dan dia juga harus tahu huruf-hurufnya apa saja seperti itu. Tapi sering disebutkan kita ulang-ulang insyaallah mereka hafal hafal sendiri seperti itu. Nanti setelah mereka sudah apa namanya sudah paham berikan mereka tugas sebutkan seluruh sifat yang ada pada huruf-huruf hijaiyah mulai hamzah sampai huruf huruf ya. Tugasnya itu nanti kalau dia bisa menjawab semuanya alhamdulillah berarti dia sudah paham. Tapi kalau misalkan dia belum bisa mengerjakan berarti dia belum belum paham. Seperti itu.
Naam. Sebentar. Afwan Ustaz penjelasan yang ke-10. Yang ke-10 ini adalah sifat ta'affuf, suara uf. Nah, suara uf ini secara bahasa seperti orang yang mengeluarkan sifat eh suara uf. Seperti orang yang bicara ee mengucapkan uf gitu. Sedangkan secara istilah adalah suara yang khas ya yang keluar dari disebabkan karena persentuhan bibir bawah. Heeh. Bibir bawah dengan gigi seri bagian bagian atas. Nah. Nah, huruf yang keluar dari ee bibir bawah yang menyentuh ke gigi seri bagian atas adalah huruf fa. Nah, huruf fa itu ada suara uf uf gitunya. Ada suara f-nya ya kalau di bahasa kita. Nah, suara f-nya itu atau f-nya itu itu adalah sifat ta'affuf seperti itu. Nah, ini yang yang ke-10 huruf fa ya. Huruf terakhir itu yang tadi ta'affuf adalah huruf fa. Jelas teman-teman sekalian ini cara mengajarnya untuk anak-anak untuk pemula untuk memahamkan mereka dengan ee istilah apa namanya? Ee sifat seperti itu. Naam.
Insyaallah mungkin ee untuk yang aljauf kita bahas besok ya. Aljauf ini sekalian kita nanti latihannya di suratul Fatihah. Latihannya di suratul Fatihah. Kita awali latihannya dengan ee suratul Fatihah. Insyaallah di pertemuan berikutnya saja karena waktunya sepertinya tidak cukup kalau ee bahas aljauf. Nah, insyaallah di pertemuan berikutnya. Hm.
Error lagi. Tik kalau ada yang mau ditanyakan sebentar di grup ya. Sebentar saya baca pertanyaan dulu ya. Sebentar afwan Ustaz kalau pengucapan huruf 'ain kalau pengucapan huruf 'ain ketika dibaca panjang ujung-ujungnya seperti pengucapan huruf hamzah. Apakah benar? Salah. Kalau di akhir ada tekanan, ada suara yang berhenti seperti huruf hamzah ini salah. Berarti huruf 'ain itu tercampur dengan huruf hamzah. Contoh mungkin seperti ini ya. Na'budu. Na'budu. Na'budu. Iyaka na'budu. Ya'lam. Ya'lam. Wallahu khairum bima tamalun. Seperti itu. Jadi kalau ada ee tertahannya suara ini tercampur dengan hamzah. Wallahu a'lam.
Ustaz izin bertanya terkait dengan huruf ro yang memiliki sifat takrir ketika bertasydid. Maka getaran-getarannya kadar getarannya berapa ya, Ustaz? Apakah lebih dari dua? Tib terkait dengan huruf ro yang bertasydid. Kalau kata Imam Jazari rahimahullahu Ta'ala sembunyikan takrirnya. Sembunyikan takrirnya di sini maksudnya adalah ee dilembutkan takrirnya bukan dihilangkan. Dilembutkan takrirnya. Jadi bukan yang terlalu bergetar tapi malah dilembutkan takrirnya. Jadi bukan yang arrahman bukan tapi ar ar. Tetap ada getarannya arro arro. Jadi dilembutkan bukan dihilangkan. Arro arro misalkan gitu. Ini salah. Coba. Arro arro. Ada getarannya satu atau dua atau dua getaran. Arro arro seperti itu. Wallahu a'lam.
Pasan tadi afwan Ustaz huruf bainiah apa saja? Huruf bainiah adalah lin, 'ummar, lam, ya. Kemudian nun. Nah ini nun saya tulis di sini ya. Lam, nun, 'ain, mim, sama ro. Kalau digabung bacanya jadi lin 'ummar. Ini hurufnya lin 'ummar. Ini huruf-huruf bainiah, huruf-huruf tawasud yang saat diucapkan dia alirannya sedikit gitu ya. Baik. Alhamdulillah. Apa ada yang mau tanya lagi?
Halo, Ustaz. Gig Ustaz. Ustaz Rizki ya. Baik. Ee Ustaz ee bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Allahu ilaik ya ustaz e apa ustaz izin berkait ee huruf ro ya ustaz huruf ro yang didahului ee apa namanya huruf ro yang didahului harakat kasrah itu jika huruf tebal itu ditebalkan atau tidak seperti di ee kalimat di musair dan juga ee untuk huruf ro.
Yang didahului ee harakat kasrah ya, seperti bismillahirrahman, itu huruf hirnya itu ditebalkan juga atau tipis, Ustaz? TIB. Sudah, Ustaz? Syukran, Ustaz. Seperti itu mungkin. Tib. Bismillah.
Jadi huruf ro ketika dia dibaca tipis kaitannya adalah dengan kasrah. Jadi tidak terpengaruh oleh huruf tebal sebelumnya, gitu, enggak? Jadi meskipun huruf yang sebelumnya adalah huruf th, bimusaitir rnya tetap tipis karena dilihatnya dari harakat huruf th-nya itu. Jadi tidak terpengaruh oleh apa? Huruf th. Huruf tebal sebelumnya. Tapi kalau misalkan setelah huruf th-nya adalah huruf tebal dan bertemunya dalam satu kata, barulah terpengaruh. Seperti kata almirsad. Mirsad itu huruf mimnya kasrah, rnya sukun. Harusnya kan tipis hukum asalnya. Tapi berhubung bertemu dengan huruf shad yang berharakat fathah dalam satu kata, maka rnya jadi tebal. Mirsod. Mirsod itu sebabnya karena ada huruf istilah setelahnya. G. Tapi kalau misalkan ada huruf istilah sebelumnya, tidak berpengaruh karena dilihat dari tetap dari apa? Dari harakatnya. Nah, wallahuam.
Kemudian yang kedua, pada bismillahirrahmanirrahim, apakah dia masuk ke huruf ro-nya itu tipis dulu atau langsung tebal? Jawabannya adalah langsung tebal. Kenapa? Karena di situ ada huruf ro yang bertasydid. Mungkin kita memahaminya. Ro yang bertasydid itu kan ada dua huruf. Huruf pertamanya sukun, huruf keduanya berharakat. Berarti kita sukunkan dulu nih huruf rnya yang pertama, kita tipiskan dulu, baru ke huruf ro. Nah, di situ di situ ro yang bertasjid terjadi idgham. Idghamnya idgham apa? Idgham kamil. Sehingga huruf pertamanya dari huruf rnya ini, ya, huruf r-nya ini tidak lagi dibaca, tapi melebur ke huruf ro-nya. Ya, kalau kita logikan seperti logika kan seperti itu ya. Hirro seperti itu. Tapi di sini terjadinya idgham karena apa? Karena pertemuan lam sukun dengan ro itu bukan ro sukun ada di dalam ee ro yang bertasyid di sini kan ya. Kalau misalkan hirrahman itu kan rnya bertasyid ya, disebabkan karena apa? Disebabkan karena ada lam takrif bertemu dengan ro yang mana huruf ro ini adalah huruf-huruf syamsiyah, seperti itu kan ya. Nah, ini yang diidgamkan sebetulnya itu adalah huruf lam ke huruf ro sebetulnya ya. Diidghamkan huruf lam ke huruf ro. Jadi sehingga bismillahi h-nya langsung ke huruf ro, langsung masuk te tebal, seperti itu. Hirro.
Nah, terus kemudian kasusnya kalau selain bismillahirrahmanirrahim, misalkan mirbihim, mirbihim, apakah r-nya itu tipis dulu atau tebal? Jawabannya adalah langsung tebal. Karena di situ idghamnya adalah idgham idgham kamil sempurna, seperti itu. Jadi langsung masuk ke huruf huruf ro-nya.
Nah, sekarang yang kita perlu pahami terkait dengan kaidah huruf ro, ustaz. Apabila huruf ro sukun, itu lihat harakat sebelumnya untuk menunjukkan bahwasanya untuk mengetahui huruf ro ini tebal atau tipis, lihat harakat sebelumnya. Kalau huruf rnya itu apa? Suk. Tapi kalau huruf rnya bertasydid, jangan lihat harakat sebelumnya. Ah, ini kaidah juga nih. Kalau huruf r-nya bertasydid, perhatikan huruf r-nya bertasydid, maka jangan lihat harakat sebelumnya, tapi lihat harakat huruf ro-nya. Kalau huruf ro-nya berharakat fathah dan dammah, maka huruf ro yang bertasydid itu dibaca tebal meskipun sebelumnya kasrah. Mirro syar. Nah, kalau huruf ro-nya tipis ya, huruf ro-nya berharakat kasrah dia bertasydid, maka huruf ro-nya dibaca tipis. Syarri syarri. Meskipun huruf syinnya berharakat fathah, seperti itu. Jadi kaidahnya kalau huruf ro bertasydid lihat harakat huruf ro-nya. Jika huruf ro-nya sukun, baru kita lihat huruf harakat sebelum sebelum huruf ro-nya, seperti itu. Wallahualam. Syukran, Ustaz.
Nah, afwan. Kemudian di sini ada pertanyaan lagi. Saya izin bertanya untuk sifat huruf zai tidak keluar napas yang benar bagaimana? Apakah harus tidak ada keluar napas sama sekali? Nah, jadi di sini tertahannya udara bukan menghentikan udara. Tertahannya ee ee apa namanya? Tertahan udara itu maksudnya udara itu enggak banyak keluar gitu loh. Jadi bukan menghilangkan udara sama sekali. Enggak ya. Tetap ada hawanya ya. Ada ada udara. Misalkan huruf apa? Al. Tetap ada udaranya tapi nafasnya tidak banyak keluarnya gitu maksudnya. Nah, huruf zai yang salah itu ketika kita tiup az ah gitu az. Sehingga udaranya itu banyak keluar sehingga akhirnya apa? Suaranya menyerupai huruf sin tercampur dengan huruf sin karena terlalu banyak udara yang kita tiup keluar, seperti itu. Jadi caranya gimana? Huruf zai biar udaranya tidak terlalu banyak keluar. Caranya adalah keluarkan suaranya saja. Contoh misalkan Z gitu doang Z. Ada udaranya tapi tidak terlalu banyak. Makanya di antara kekeliruan di ee di dalam pengucapan huruf Z terlalu za za terlalu gitu. Misalkan anzalna itu sudah berlebihan zainya. Jadi biasa aja anzalna idza zulzilatil ardu zilzalaha. Ee seperti itu. Jadi enggak sampai kita tiup seperti itu sehingga mengakibatkan banyak udara yang keluar. Wallahualam.
Afan Ustaz, maksud saya ketika di awal hamzah ee ketika di awal hamzah ditenggorokan dan ain di khum. Ketika tapi ketika membaca ain difathahkan. Sebentar ustaz maksud saya ketika di awal hamzah di tenggorokan dan ain di khais. Tapi ketika membaca ain difathahkan dibaca panjang, misalnya untuk latihan membedakan itu ain atau hamzah. Apakah sama suaranya ketika kita membaca hamzah fathah yang dipanjangkan juga atau ada perbedaan di suara akhir, misalkan huruf ain ee gitu ya ee dan hamzah itu. Oh, enggak. Jadi huruf ain yang fathah yang panjang ada madnya. Suara madnya sama seperti kita mengucapkan hamzah yang dipanjangkan juga. Contoh misalkan mungkin maksudnya gini ya. A dengan hamzah yang dipanjangkan a itu sama mungkin gitu, Ustazah maksudnya ya. Jadi sama a. Huruf hamzah di awalnya aja yang membedakan huruf ain ya. Membedakan huruf ain itu di awalnya aja. A. Hamzah a kasrah, misalkan i. Hamzah i juga. Dammah. Hamzah dammah u. Nah, suara panjangnya itu sama. Di akhir enggak ada suara apa-apa yang membedakan. Enggak ada. Di awal aja yang membedakan dari sisi makhrajnya. Seperti itu. Mungkin seperti itu, Ustazah. Wallahualam.
Tolong berikan contoh sifat lin, ustaz. Nah, huruf lin, huruf wau sukun ya, sukun sebelumnya fathah itu adalah huruf yang lembut. Jadi ketika kita bacanya gini, maliki yaumi yaumi. Misalkan liilafi qurais ilafihim rihlatasita wasah. Seperti itu. Jadi lembut aja arumi. Seperti itu. Jadi lembut aja. Jadi enggak perlu kita hendak maliki yaumiddin. Enggak. Jadi lembut aja, natural saja. Nah, wallahu taala alam. Tib.
Alhamdulillah sudah lebih 4 menit. Mungkin kita cukupkan dulu ikhwah sekalian. Insyaallah di pertemuan berikutnya kita lanjut di Aljauf dan mungkin insyaallah mudah-mudahan diberikan ee cukup untuk waktunya kita akan latih di ee surat al-Fatihah. Jadi kita enggak terlalu berlama-lama juga terkait dengan ee materinya ya. Ee jadi kita nanti akan fokus di suratul fatihah nanti insyaallah di pertemuan berikut insyaallahu taala karena insyaallah teman-teman sekalian dari sisi teori tentunya sudah memahami terkait dengan makarjul huruf dan sifatul huruf ini. N.
Baik ikhwan sekalian ee semoga apa yang kita pelajari pada siang hari ini membawa manfaat yang banyak untuk kita semuanya dan mudah-mudahan Allah subhanahu wa taala memberikan kita pemahaman yang baik, kemudian memberikan kita kemudahan untuk mengamalkannya di dalam bacaan Al-Qur'an kita dan mudah-mudahan kita bisa menyalurkannya kembali kepada santri-santri kita, bisa mengajarkannya kembali kepada santri-santri kita. Semoga ee harapannya ya itu menjadi pahala jariah bagi kita semuanya, bagi antum dan juga bagi kami dan juga guru-guru kami. Dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala mengumpulkan kita semuanya di surganya Allah Subhanahu wa taala di suan yang paling tinggi yaitu surga firdaus. Amin ya rabbal alamin. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Shallallahu ala nabina Muhammadin waa alihi wasahbihi wasallam. Kita akhiri halaqah kita pada siang hari ini dengan doa kafiratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdika ashadu alla ilahailla anta astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.