Transcription
Sang pembunuh bayaran penembak jitu mengeluarkan peluru khusus yang harganya $1.000. Ia memasukkan peluru itu ke dalam senapan sniper miliknya dan memegangnya dengan erat. Targetnya adalah membunuh presiden yang menghadiri sebuah acara.
Namun tepat saat ia hendak menembak, seseorang tiba-tiba menembak istri Presiden. Orang-orang panik dan kekacauan terjadi di mana-mana. Sementara itu, seorang reporter berhasil menangkap wajah sang pembunuh dengan kameranya dan segera melapor ke polisi.
Sang pembunuh panik dan menelepon bosnya. Bosnya memerintahkannya untuk segera melarikan diri dari tempat itu. Sang pembunuh segera meninggalkan lokasi runtangga dan mengintip keluar jendela untuk melihat situasi. Pada saat itu juga pasukan pengawal presiden menyerangnya. Ia merangkak menjauh dari jendela dan bersembunyi di sudut ruangan.
Sementara itu, ratusan kendaraan polisi mengepung gedung dan pasukan khusus dikirim masuk untuk membunuhnya. Sang pembunuh merusak sebuah pintu rahasia di dalam kamar mandi dan masuk ke dalamnya sebelum pasukan itu tiba. Ia tiba di sebuah tempat di mana ia bisa mengambil waktu untuk berpikir dan merencanakan langkah selanjutnya.
Namun, pasukan khusus mulai melemparkan bom asap ke berbagai bagian gedung. Sang pembunuh sangat licik. Ia memikirkan sebuah trik. Menyerang seorang polisi secara diam-diam sehingga polisi itu jatuh pingsan tanpa menimbulkan suara. Lalu ia mengenakan seragam polisi itu dan membawanya ke ambulans. Tak ada yang mencurigainya.
Saat melihat kesempatan ia melarikan diri dari tempat itu. Namun, seorang polisi di atap gedung melihatnya dan mencoba menembaknya. Tapi pada saat yang sama, sang pembunuh menghilang di antara semak-semak. Tak ada yang pernah melihatnya lagi.
Sang pembunuh sampai di rumahnya, melepaskan seragamnya dan duduk dengan nyaman. Saya lalu melihat di televisi bahwa reporter yang telah mengambil fotonya kini sedang menampilkan wajah dan identitasnya ke seluruh dunia. Sang pembunuh mulai panik, mengumpulkan semua informasi tentang reporter tersebut, pergi ke rumahnya dalam gelapnya malam untuk menculiknya.
Sang pembunuh meminta kamera yang berisi fotonya. Tapi reporter perempuan itu menyemprotkan gas merica ke matanya. Namun semprotan itu tidak berpengaruh padanya. Ia mulai menggeledah tas sang wanita, mengeluarkan semua isinya, dan mencari fotonya. Lalu ia menemukan kartu memori yang berisi foto tersebut.
Namun sebelum ia sempat menghapus apapun, aluran berita lain mulai menayangkan fotonya di mana-mana. Saat itu juga sang pembunuh merasa bahwa rumahnya sudah tidak aman. Ia menggandeng tangan sang reporter dan mulai berlari secepat mungkin. Lalu terjadi ledakan besar. Seorang telah meledakkan rumahnya dengan bom. Namun, baik sang pembunuh maupun reporter berhasil menyelamatkan diri dan melarikan diri dengan mobil. Dengan begitu, sang reporter membantu sang pembunuh melarikan diri dari kejaran polisi.