📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

[FULL] Komisi VI DPR RI Cecar Dirut Pertamina soal Kasus Pertamax Oplosan: Kami Sedikit Kecewa!

KOMPASTV3:47:18

Transcription

Eh, yang terhormat. Eh, Pak Dirut Pertamina, Pak Simon, beserta seluruh jajaran yang sudah hadir pada kesempatan hari ini. Kami mengapresiasi kehadiran panjenengan semua, dan kami mengapresiasi juga atas paparan dari Dirut Pertamina dan beserta beberapa jajarannya tadi soal kesiapan mudik lebaran. Pak, tentu ini sedikit membuat tenang kami dan masyarakat Indonesia. Pak, namun, Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Pak. Di tengah bulan suci Ramadan hari ini, seluruh rakyat marah, Pak. Marah besar, bahkan. Kami punya saudara, Pak. Setiap hari, setiap ketemu, kami selalu mengungkapkan kemarahannya. Mereka kecewa begitu mendalam terhadap Pertamina, karena mereka merasa tertipu bertahun-tahun selama ini, Pak.

Seperti yang telah kami sampaikan di awal bulan Desember yang lalu, tentang kualitas BBM Pertamina yang dipertanyakan oleh banyak masyarakat. Kami hari ini, kekhawatiran kami di tahun lalu, Pak, bom itu benar-benar meledak, Pak. Maka pada kesempatan hari ini, pada RDP kali ini, jujur saja, Pak, kami sedikit kecewa. Kami tunggu-tunggu dari tadi paparan soal ter-update pertama keoplosan, tapi tidak ada sebait kata pun yang menjelaskan soal itu di kesempatan pagi hari ini. Padahal kami menunggu-nunggu rapat ini dari berminggu-minggu yang lalu, sampai kami coba ingatkan di grup Komisi 6 dan sebagainya. Dan Alhamdulillah, hari ini terlaksana, tapi juga tidak bisa, eh, apa namanya, mengurangi kegundahan kami dan masyarakat kami ini, Pak.

Maka harapan kami, korupsi yang sudah, ee, ditangani oleh Kejaksaan, yaitu pertama, oplosan yang katanya sudah merugikan negara lebih dari Rp. 000 triliun rupiah ini, Pak. Dan juga, bahkan yang kemarin yang ter-update ditemukan juga adanya kontra oplosan antara Pertamina dengan pihak swasta yang sudah berjalan sejak tahun 2017. Maka saya berharap ada penjelasan sejelas-jelasnya, Pak, nanti di akhir sesi ini, Pak. Karena jika benar, maka ini adalah orkestrasi kejahatan, totalitas yang masif dan terstruktur, Pak, dari hulu ke hilir yang sudah terjadi bertahun-tahun ini. Di mata kami, bukan hanya sekedar korupsi yang merugikan negara, Pak, tapi ini adalah korupsi yang merugikan, menyakiti, dan mengkhianati rakyat kita, Pak.

Bahkan tadi malam, Pak Simon, ketika kami mau tidur, Pak, kami mendengar satu berita yang di-share oleh kawan kami di grup Komisi 6, Pak. Menangis hati kami, Pak. Tahu di grup itu apa, Pak? Pernyataan dari Kejaksaan Agung bahwa mereka menemukan grup WA, yang judul grupnya adalah “Orang-orang Sena,” Naudzubillahi min syarril, Pak. Jadi ternyata mereka melakukan selama ini dengan kesadaran, Pak, dengan menari-nari di atas penderitaan rakyat, untuk merampok bukan hanya dari negara, tapi juga dari rakyat kami, Pak.

Kemudian, Pak Dirut, baru-baru ini Menteri SDM mengatakan akan membangun kilang minyak yang dibiayai oleh danantara, dengan biaya mencapai Rp 500 triliun. Lah, jadi selama ini Pertamina tidak punya kilang baru, Pak. Padahal ketika 2019 yang lalu kami duduk di sini, ketika di situ di tempat Bapak ada namanya Bu Nike, saat itu menyampaikan bahwa RDMP Balikpapan maksimal tahun itu akan selesai. Tapi nyatanya, ternyata kami baru tahu sampai tahun 2025 itu tidak tuntas juga, Pak. Sedangkan hari ini kebutuhan BBM kita 1,6 juta barel per hari, padahal targetnya pada tahun 2025 ini sudah bisa memproduksi 2 juta barel, Pak. Artinya kita bukan lagi hanya impor, tapi surplus, kita bisa melakukan ekspor BBM. Tapi ternyata semua itu hanya mimpi dan ilusi, Pak. Karena maunya oknum-oknum Pertamina hanya impor dan impor saja, Pak.

Jadi saya melihat bahwa sebenarnya Pertamina adalah bagian dari mafia migas, Pak. Karena ternyata mafia migas telah mempengaruhi Pertamina agar menunda-nunda pembangunan kilang, Pak. Di sisi lain juga ada kebobrokan dalam manajemen SDM di Pertamina. Mantan orang dalam Pertamina, mantan orang dalam Petral, entitas mafia yang sudah dibubarkan negara karena tempat sarangnya mafia di dalamnya, malah ternyata Dirut Pertamina saat itu, eh, Dirut salah satu orang Petral itu menjadi Dirut Pertamina Patra Niaga. Maka tidak heran, maka kemudian namanya Rifa bekerja sama dengan geng mafia melakukan perampokan yang begitu besar terhadap duit negara. Kalau itu betul terjadi begitu, Pak.

Kemudian yang kedua, Pak, heboh Pertamax oplosan. Saya rasa tidak cukup dengan hanya meminta maaf, lalu seolah-olah dosa-dosa Pertamina selesai. Tidak! Lalu bagaimana dengan kerugian konsumen? Apa ada inisiatif dari Pertamina untuk memberikan, mengganti kerugian mereka? Pak, ingat, Pak, mereka beli BBM bukan untuk diminum, Pak, tapi untuk bekerja sehari-hari, dari kantor ke rumahnya. Saya, maka tidak bayangkan kalau seandainya kemudian oksigen dikelola oleh Pertamina, jangan-jangan dioplos dengan karbon dioksida. Maka manfaatkan, eh, Pertamina untuk bagaimana bisa memberikan, ee, apa, kami ganti rugi kepada rakyat kita, Pak? Dengarkan kata netizen, saya pikir ada benarnya. Gimana untuk mengembalikan integritas Pertamina? Mereka ganti gratis Pertamax secara gratis selama setahun misalnya. Tapi itu tidak mungkin. Atau seminggu deh, atau sebulan deh, atau apa yang bisa Bapak lakukan? Yang penting rakyat merasa ada upaya dari Pertamina untuk memberikan perbaikan, ee, dan minta maaf kepada rakyat. Ingat, para founding father kita mendirikan Pertamina dengan tetes darah dan keringat. Bagaimana kemudian hari ini dihancurkan oleh internal Pertamina sendiri? Ini harus dikembalikan oleh Bapak.

Kemudian juga, kalau kita bicara lingkungan hidup, kita hasil uji lab BBM Pertamina hasilnya di bawah standar, di bawah ketentuan Kementerian LHK. Kandungan sulfur Pertamax ternyata sama dengan Pertalite yang 500 ppm, Pak. Bayangkan standar Euro 4 saja, Ron 92 kandungan sulfurnya harusnya hanya 50 ppm. Belum lagi kalau kita lihat punya tenaga kita, sel hanya 10 ppm, Pak. Maka bobroknya Pertamina dari segala sisi ini, Pak, dari SDM, teknologi, produk dan sebagainya ini sangat merugikan berbagai sektor. Maka reformasi inset outset adalah urgen dan wajib untuk segera dilakukan.

Kemudian yang ketiga, Pak, jika menilik betapa besarnya gaji yang diperoleh jajaran direksi Pertamina, lebih dari 1 miliar per bulan, setara dengan gaji CEO di Google, Pak. Bahkan kami cek, eh, dengan gaji CEO Google yang merupakan perusahaan global dengan valuasi dan market yang memang ber-dunia. Bahkan itu kalau ditambah dengan tantiem, deviden, kemudian kompensasi finansial lainnya, maka THT yang diberikan kepada direksi Pertamina 4 miliar per bulan, jauh lebih besar daripada gaji Presiden Republik Indonesia, bahkan jauh lebih besar dari gaji Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Pak. Ini amat sangat terlalu luar biasa. Maka seharusnya dengan angka sefantastis itu, direksi wajib bisa memberikan pelayanan terbaik, wajib bisa menghadirkan BBM berkualitas, wajib bisa memberikan BBM yang terjangkau untuk semua lapisan masyarakat, bahkan bisa membuat profit yang impactful bagi negara. Harusnya! Tapi nyatanya apa? Malah merugikan negara dan melukai rakyat kita hari ini. Bahkan kalau kita lihat di laporan keuangan anak usaha Pertamina, yaitu Pertamina Patra Niaga, kompensasi bagi manajemen kunci termasuk direksi dan komisaris mencapai 19,1 juta USD, atau setara dengan 3, setara dengan 312 miliar. Bayangkan duit sebanyak itu kalau dipakai untuk mbg misalnya, bisa memberikan makan kepada 31 juta anak kita, Pak. Atau kalau itu diberikan kepada para guru P3K, para CPNS kita yang diprank oleh negara hari ini, maka itu bisa menyejahterakan mereka sampai menunggu mereka menjadi PNS, Pak. Bukan bermaksud bagaimana, eh, merendah, Pak, with power comes responsibility. Maka evaluasi manajemen beserta remunerasinya di BUMN ini sangat-sangat urgen untuk segera dilakukan.

Kemudian yang keempat, Pak. Karena itu saya mengusulkan kepada pimpinan DPR RI, kepada pimpinan Komisi 6 untuk bagaimana segera dibentuk Panja BBM Pertamina. Karena jangan sampai, eh, yang sudah terjerumus ini, Pak, jangan kemudian ini keluar dari mulut singa masuk ke kandang macan, Pak. Tetapi ini kesempatan untuk membersihkan Pertamina secara menyeluruh. Maka nanti kasihan juga kepada Danareksa ketika mereka harus memikul beban berat, karena ternyata Pertamina sebagai BUMN terbesar ternyata boncos dan gembos, Pak. Maka melalui Pansus BBM ini kita bisa panggil mantan Direksi Pertamina, Pak Aho, yang beliau juga mengkonfirmasi bahwa kalau diundang di tempat ini beliau akan hadir. Kita akan undang mantan komisaris, begitu juga mantan Dirut Pertamina Bu Nike, begitu juga mantan Dirut-Dirut di era ketika dulu Petral dibubarkan misalnya, Pak. Kita juga bisa memanggil produsen booster Ron BBM. Jangan-jangan memang Pertamax adalah Pertalite yang diberikan booster. Maka di kesempatan ini juga saya membantah pernyataan PLT Dirut Pertamina Patra Niaga ketika rapat dengan Komisi 12, beliau menyatakan bahwa tidak ada aditif yang bisa menambah Ron. Kenyataannya, Pak, PLT, kenyataannya ketika Bapak buka Google, ketika Bapak buka e-commerce, banyak sekali perusahaan yang kredibel yang menjual aditif, yang menjual booster, yang bahkan menjanjikan bisa menaikkan 5 poin misalnya dari 90 ke 95, yang jauh lebih besar dari Pertamax. Begitu. Maka saya sangat yakin masih banyak mafia, koruptor, penjahat lain yang masih bercokol di Pertamina ini. Mereka tinggal menunggu giliran saja untuk duduk pada posisi strategis, yang artinya Pertamina tidak akan pernah sehat karena di dalam tubuhnya masih tersebar virus-virus yang dorman, sedang tidur dan menunggu time yang tepat untuk bangun, atau bahkan mereka bangun cuma belum ketahuan, Pak. Maka kami usulkan Panja BBM Pertamina untuk segera dilakukan untuk mengusut dari hulu ke hilir, Pak, untuk melihat siapa saja yang terlibat dalam proses pengoplosan ini, Pak.

Maka Bapak harus belajar dari Presiden Georgia, bagaimana Georgia, Pak. Saat itu adalah negara dengan polisi lalu lintas terkorup di dunia. Bagaimana kemudian dengan keberaniannya pemimpin Georgia mengambil satu sikap, dalam semalam mereka memecat hampir seluruh polisi lalu lintasnya yang korup. Dunia kaget, bahkan rakyatnya sendiri takut, Pak. Takut apa? Takut kemudian ada instabilitas keamanan karena tidak ada polisi lalu lintas lagi. Tapi jenengan tahu, hari ini Georgia menjadi salah satu negara yang sukses dalam memberantas korupsi. Yang ini harus Bapak lakukan, Pak. Mohon maaf, mohon izin, tanpa rasa hormat saya kepada Bapak di samping Bapak, Pak Ali, beliau mantan Pertamina Patra Niaga. Bapak percaya beliau tidak terlibat? Saya juga tidak percaya. Tapi kalau kita belajar di negara Jepang, terlibat tidak terlibat harusnya Pak mengundurkan diri dari direksi Pertamina untuk membuktikan dulu Bapak benar-benar tidak terlibat, baru kemudian kalau mau masuk lagi silakan. Kemudian untuk nama baik dan kepercayaan, setidaknya saya mengusulkan dua hal, Pak. Yang pertama, Pak Dirut, saya mengapresiasi Anda ketika konferensi pers menyatakan permintaan maaf atas kejadian Pertamax oplosan, tapi saya kira itu tidak cukup, Pak. Belum menunjukkan ketulusan hati Pertamina. Ini masih sekedar service semata, Pak. Jika memang Pertamina benar-benar minta maaf, maka harus melakukan tobat nasuha, harus menunjukkan bagaimana seluruh insan Pertamina itu tidak hanya meminta maaf secara lisan, tapi juga dari gestur, dari perbuatan, dan dari pelayanan yang dilakukan. Tidak cukup pula hanya mengganti si bocil, anaknya di KUSR, Pak. Yang ini justru melecehkan, meremehkan, dan melukai hati rakyat. Juga tidak perlu mengendorse namanya Fitra Eri. Yang untung namanya Fitra Eri punya integritas karena dia tidak yakin ini tidak benar-benar terjadi, maka dia tidak mau melakukan. Tidak perlu juga bayar-bayar bazar, Pak. Daripada anggaran Pertamina untuk bayar bazar untuk mengendorse anaknya di KUSR, lebih baik uangnya untuk mengembalikan kerugian rakyat yang sudah mereka alami, Pak. Saya melihat perilaku insan Pertamina pasca Dirut minta maaf ya sama saja. Contohnya itu, Bu Korsek Pertamina Patra Niaga, kami menyampaikan sesuatu secara resmi bahwa kami akan melakukan sidak Fraksi PDI Perjuangan, tapi ada balasan dari beliau, “Tidak ada, Mas Mufti. Aspirasi dari teman-teman sudah terlalu panjang, sudah terlalu panjang ya, si… sebentar, Bu. Sedikit lagi, tinggal mong dituntaskan. Sebentar, iya, sebentar, sebentar. Sampai mana tadi? Nah, jadi maksud kami ada, Pak. Ada, harus ada permintaan maaf secara konkret kepada masyarakat. Yang kedua, Pak, tadi Bapak sampaikan bahwa Ramadan eh, sudah dekat, eh, mudik Lebaran sudah dekat begitu. Maka harapan kami, Pertalite jumlah stoknya harus ditambah, karena kita tidak tahu apakah masyarakat kepercayaan terhadap Pertamax sudah, sudah apa namanya, sudah pulih. Karena kalau tidak, mereka akan menganggap bahwa Pertamax hanya Pertalite yang tidak antri. Maka jangan sampai kemudian nanti di lapangan mereka rela antri, yang kemudian stok Pertalite akhirnya habis, begitu. Kemudian selanjutnya, Pak, saya minta komitmen dari Pak Dirut, berani dan mau tidak untuk input semua pengadaan di e-katalog LKPP, Pak. Karena kalau tidak, ya seperti kata saya tadi, ini hanya keluar dari mulut macan masuk ke kandang buaya. Itu saja. Mohon maaf, Pak. Ini, Bu, bukan soal panjang dan lebar, tapi ini adalah soal nuansa kebatinan rakyat yang harus kami sampaikan di tempat ini. Matur nuwun. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Semua poinnya penting, Pak Mufti. Semua penting, cuma kita berbagi aja ini. Pak Direktur Utama dengan seluruh jajarannya. Ada Pak Wadirut, ada Direktur Patra Niaga, dan semuanya yang hadir di sini dari hulu ke hilir tadi sudah disampaikan oleh yang terhormat Pak Aromah, Gus Mufti. Luar biasa. Saya ingin menambahkan saja ya, kita kaget semua ini, Pak Dirut, tentang kejadian ini bagaikan petir menggelegar di siang bolong. Itu tentang terjadinya mega korupsi yang luar biasa, yang konon hampir mencapai 1000 triliun dalam sejarah Republik Indonesia ini. Terjadi apa? Kejadian yang sangat luar biasa menggegerkan kita semua, karena ini langsung, eh, cara-cara yang merugikan negara dan juga rakyat. Itu kan langsung. Kalau BBM itu, eh, diterima oleh masyarakat. Satu sisi saya juga memberikan apresiasi waktu itu Dirut menyampaikan konferensi pers ya, tentang permohonan maaf itu terjadi. Dan tentu itu apa, tidak cukup. Saya pikir harus ditindaklanjuti dengan secepatnya bersih-bersih, Pak Dirut. Karena Pak Dirut sebagai panglima ini ya, tentu masalah hukum kita serahkan kepada masalah hukum. Ini kan perkara korupsi yang rentang waktunya panjang ya, 5 tahun ini yang diketahui ya. Yang sebelumnya apa, eh, pasti juga terjadi. Tetapi ini yang kita ketahui di rentang waktu 5 tahun itu. Kalau kita dari sisi kita lihat dari politis ya, itu menjelang juga Pemilu 2019 dan 2024, 2003. Saya yakin ini tidak sendiri, tidak hanya di yang sekarang, kurang lebih ada berapa, ada tujuh atau sepuluh itu yang menjadi apa, tersangka. Saya pikir apa, tidak sampai di situ. Ini pasti juga kita bicara apa, permufakatan yang sangat jahat. Ini tidak hanya jatuh di situ itu ya, dalam hal ini kami tentu akan berikan apa, itu dorongan kepada aparat ya, Kejaksaan untuk mengurai sampai di mana itu. Masyarakat ingin mendengarkan, menanti-nanti siapa aktor di balik ini. Nah, ini apa, saya pikir pintu masuk untuk Pertamina untuk betul-betul sebagai momen ini di saat pemerintahan baru ini, begitu. Ee, kalau tentang bicara tentang profesional ya, Bapak-bapak orangnya lah ya, tetapi permasalahannya praktik-praktik koruptif, praktik-praktik korupsi ini ini jangan sampai diwariskan lah, begitu ya. Integritas kita harus bicara integritas. Kita mempunyai harapan yang tinggi sebenarnya kepada Pertamina ini, tetapi kalau dimulai dengan praktik-praktik apa ini, kalau bicara ya sebetulnya sangat terstruktur, sistematis, masif, dan berkelanjutan. Diwariskan lah, praktik-praktik. Jadi apa, saya ingin dari Pak, kira-kira selain apa, sudah dijalankan selama ini untuk mengurangi apa, itu distrust rakyat ya, kepada Pertamina? Apa saja itu yang akan dijalankan untuk apa, meningkatkan transparansi ya, daripada kualitas bahan apa, yang dijual, bahan bakar kepada masyarakat? Tentunya juga perlukah konkrit tindakan yang dilakukan Pertamina untuk mengkomunikasikan kepada publik mengenai upaya-upaya yang sedang dilakukan? Jadi saatnya bersih-bersih, Bapak. Akan apa, tugas yang berat yang akan dihadapi. Bicara tentang mafia, konon katanya kadang-kadang suka berbalik begitu ya, kita akan fokus begitu. Saya itu saking percayanya Pak Dirut, saya tetap itu pakai menggunakan apa, ee, Pertamax ya, tidak berubah, tidak lain hati saya ini ini bentuk komitmen kami juga untuk apa, bahwa Pertamina itu sebagai aset negara gitu yang harus kita, eh, jaga, kita bantu bersama. Tetapi oknum-oknum ini ya, ini harus di, eh, berantas, dibersihkan mulai sekarang. P, jadi itu yang akan kita lihat, praktik apa, itu, ee, apa langkah konkret Pak Dirut itu, saya kira akan mempercepat apa, distrust masyarakat kepada Pertamina karena ini berdampak kepada juga kepada pemerintahan loh, Pak. Apa yang terjadi di, apa, skandal korupsi di Pertamina? Satu sisi kita memerlukan anggaran yang luar biasa. Kalau 1000 triliun itu kan bertiga APBN kita ya, program-program, ee, yang dijalankan Pak Prabowo bisa ter-cover dengan 1000 triliun itu ya. Nambah 1000 triliun. Jadi demikian, ee, dari saya. Kami menunggu tentu langkah konkret, evaluasi, updating terus, Pak Dirut, apa-apa saja, eh, yang telah dijalankan oleh Pertamina kepada masyarakat. Demikian, pimpinan. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih, Pak Sartono. Selanjutnya Pak Rizal ya.

Terima kasih pimpinan. Eh, kepada para direksi Pertamina dan subholding secara, eh, nasional, memang, ee, kami ikut prihatin dengan keadaan saat ini, tapi, ee, prinsipnya adalah ya, kami minta supaya untuk ada perbaikan lah, Pak, ya. Perbaikan ke depan supaya, ee, sekarang tidak segampang lagilah kita bermain-main dengan hal yang agak sensitif ya, istilahnya ada Kejaksaan, KPK dan lain-lain. Itu mungkin untuk secara internal, ee, harus diperhatikan lebih dalam lagi kritikan-kritikan yang ada di luar ataupun itu mungkin sebagai satu pelajaran lah, Pak. Mungkin itu ambil hikmahnya saja. Setelah itu kita bergerak lebih baik lagi. Itu aja sih kalau menurut saya. Yang kedua, Pak, ini yang berhubungan sangat sensitif juga untuk, eh, dapil saya. Pernah bicara waktu itu di RDP kalau misalnya mau ada Idul Fitri ya, Pak, atau kejadian lagi kemarin di September, LPG 3 Kg itu mohon, Pak, jangan sampai di dapil saya itu hilang lagi, Pak. Itu saja. Itu dapil kita itu di Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, Pemalang, sama Batang. Bah, kita punya kota itu LPG-nya hilang karena waktu itu alasannya karena di, apa, dari jalur atau apa itu kurang siap untuk penyalurannya. Saya harap dibantu ya. Itu saja pimpinan. Singkat, terimakasih. Terima kasih, Pak. Selanjutnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat, eh, sore. Salam sejahtera. Yang saya hormati pimpinan dan seluruh rekan anggota. Yang saya hormati jajaran Dirut dan direksi Pertamina. Eh, Pak Dirut tadi sudah saya dengar, Bapak, Pak Wiku, Pak siapa lagi? Itu PLT-nya Patra Niaga menjelaskan panjang lebar kinerja, ee, direksi ke depan, Persero perusahaan. Jadi secara paparan saya tentu sangat mengapresiasi, Pak. Ada disampaikan bentuk-bentuk layanan energi seperti SPBU 24 jam, agen LPG-nya ready, mobil tankinya standby, serambi Pertamina, semua layanannya, ee, dipersiapkan dengan baik. Nah, itu kalau itu apresiasi, Pak. Tapi ada satu juga yang, ee, saya diberi titipan pertanyaan dari banyak konstituen saya juga tentang juga, ee, produk-produknya Pertamina ini, Pak, gitu. Salah satunya adalah, ee, minyak tadi, gitu. Karena kan namanya P, perusahaan Persero, perusahaan ini orientasinya mencari untung, menjual barang, profit oriented. Jadi yang dijual itu kepada konsumen, konsumennya kebetulan ada pemilih saya, pendukung saya, konstituen saya. Jadi mereka menanyakan begini, Pak, [Musik], gitu, Pak Rudi Solong ditanyakan selama ini katanya Pertalite, eh, minyak kadarnya RON 88 atau 90, tapi dijual ke kami RON 92. Itu apakah benar? Gitu itu ditanyakan. Eh, sama, ee, konstituen saya, pendukung saya, Pak. Lalu kalau dijual RON 88 dinaikkan ke 92 itu berapa belinya, Pak? Mereka nanya gitu, Pak. Kritis juga. Berapa harga belinya Pertamina itu impornya, lalu dijual ke kami berapa? Gitu. Kemudian mereka mengimpor, mengirimkan pakai kapal katanya, Pak. Saya dengar lagi pengiriman kapalnya bisa dinaikkan harganya, katanya bisa di-mark up, gitu. Benar enggak itu? Gitu. Nah itu, Pak, Simon, mereka nanya itu gitu. Jadi ini yang, eh, harus saya juga sampaikan karena ini adalah, eh, pertanyaan dari para pemilih dan pendukung. Kemudian yang terakhir tentang satu lagi, Pak, produk minyak mentah yang dari kilang-kilang dalam negeri. Saya mendengar apakah benar atau tidak, nanti tolong dijelaskan, katanya produk kilang minyak dalam negeri yang harusnya bisa di pakai untuk, ee, dijual langsung, diterima Pertamina malah tidak diterima, malahan Pertamina mengimpor, mengimpor dari luar. Apakah itu benar? Gitu, Pak. Jadi akhirnya produk, ee, dalam negeri atau dari swasta tidak diterima, begitu. Itu, eh, sedikit aja dari saya, Pak. Ipan dari konstituen, mohon nanti dijawab. Terima kasih pimpinan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih, Pak Rudi. Selamat datang, Pak Re ini baru mendarat dari umrah ini masih dikelilingi oleh malaikat kiri kanan. MasyaAllah. Langsung kangen ini. Ini bentuk dukungan terhadap Pertamina, baik. Selanjutnya Pak [Musik] Kawendra.

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih pimpinan, seluruh anggota Komisi 6 yang sama-sama kita hormati, Dirut Pertamina beserta seluruh jajaran direksi serta Dirut subholding yang hari ini hadir. [Musik]. Eh, apa yang dipaparkan tadi berkaitan dengan kesiapan menjelang Idul Fitri, tentu kami apresiasi. Ee, artinya Pertamina siap, ee, untuk melayani masyarakat dengan sepenuh hati, ee, menghadapi kondisi Idul Fitri yang memang jelas punya kebutuhan ekstra. Memang kita sama-sama dibohongi beberapa waktu ini tentang problem yang ada yang sama-sama kita sudah tahu dan hal itu tidak bisa kita nampakkan. Masyarakat tidak bisa melihat, tapi ini menjadi challenge tersendiri. Pak Prabowo berkomitmen untuk pembatasan korupsi sebaik-baiknya, setegak-tegaknya. Mungkin salah satu tugas Pak Simon adalah memang membersihkan dari dalam, memberikan catatan-catatan yang memang, memang harus dirapikan ke depannya. Tentu karena beliau sampaikan bahwa Indonesia ini hanya perlu tiga hal untuk bangkit mencapai cita-cita kemerdekaan: pertama adalah pemerintahan yang bersih, konsekuensi, strategi yang benar, konsekuen dan strategi yang benar, dan yang ketiga adalah manajemen yang baik. Artinya kondisi Pertamina saat ini tentu kami menyayangi Pertamina, tapi penuh tantangan. Tantangan ini ini akan membuat Pertamina naik kelas dan kami masih sangat optimis di dalam tubuh Pertamina masih banyak orang-orang yang merah putih. Tidak katakanlah seperti ini: ketika kita menginginkan memperbaiki Pertamina, Pertamina ibarat sebuah kapal. Ketika ada kebocoran ya, kita tambal bocornya, bukan menenggelamkan kapalnya. Ibaratnya Pertamina adalah sebuah rumah. Ketika kita ingin memperbaiki ya, kita basmi tikusnya, tapi tidak dengan membakar rumahnya. Kita harus melakukan itu dan kita harus memberikan kepercayaan penuh kepada penegak hukum yang sudah melakukan yang terbaik. Kita berikan kesempatan saat ini di eranya Pak Prabowo, hampir setiap hari kita lihat bahwa penegakan hukum sangat luar biasa. Artinya kita bisa melihat ini Pak Prabowo tidak ada tendensi aling-aling, beliau fokus penegakan hukum dan memberikan kesempatan penegakan hukum secara baik untuk, untuk itu kami dari Fraksi Gerindra tentu, eh, mendukung sepenuhnya penegak hukum menegakkan hukum sebaik-baiknya. Tidak perlu lah kita buat Panja toh penegakan hukum sedang dilakukan sebaik-baiknya saat ini. Kemudian, eh, saya juga mendorong kepada Pertamina untuk segera menerapkan teknologi tinggi untuk apa, untuk meminimalisir fraud yang terjadi. Kita sayang kepada Pertamina, kita sangat sayang kepada perusahaan yang harusnya menjadi kebanggaan bangsa. Saat ini tentu dengan apa, dengan kita mengkritisi karena kita sayang. Terapkanlah teknologi tinggi supaya apa, kalau perlu gunakan AI supaya ketahuan seperti apa ketika ada stok kurang ataupun seperti apa. Jadi semuanya sudah bisa terdeteksi dan bisa tereduksi kalau misalnya ada potensi-potensi fraud. Pertamina adalah simbol nasionalisme dan kebanggaan Indonesia. Itu sama sekali tidak pernah bergerak dari saya sekalipun. Kemarin banyak isu seperti apa, memang ada hal yang kita sama-sama ketahui. 201, 202 kita sama-sama sudah di-share oleh teman-teman di Pertamina. Penjelasannya seperti dan tidak sama. Menggeser kita untuk menggunakan bahan bakar lain karena bent, apa, bent nasionalisme kita dan kecintaan kita kepada bangsa yang harus kita pertahankan. Itu punya tantangan tersendiri di era saat ini. Ketika bisa melewati tantangan ini, kita akan menjadi bangsa yang naik kelas. Pertamina juga akan menjadi apa, perusahaan yang naik kelas. Dan ketika itu naik kelas, maka harusnya kita bisa menghadirkan kebahagiaan untuk rakyat. Mungkin nanti ada formula terbaik yang disampaikan kawan saya tadi, Mufti Anam. Kata mungkin ada kompensasi ataupun apa itu mungkin bisa dipertimbangkan juga ya kan. Tapi kita percaya sepenuhnya kepada manajemen yang masih banyak yang merah putih dan penegakan hukum yang sedang terjadi saat ini. Terhadap berbagai hal yang terjadi. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Kawendra. Bicara tentang teknologi tentang pengawasan ini penting juga banget, bukan juga penting banget kan sebenarnya kalau pertamina punya ini ya, whistle blowing system gitu kan. Itu kenapa enggak diperkuat aja kan? Kalau lihat kasus ini kan sudah menahun, udah menahun. Artinya sebenarnya berarti, eh, apa, eh, whistle blowing systemnya itu enggak, enggak, enggak berjalan dengan maksimal. Pak Subardi, silakan.

Baik, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati pimpinan dan segenap anggota DPR Komisi 6, Pak Dirut Pertamina, beserta jajarannya, dari direktur holding yang hadir pada kesempatan RDP ini. Saya akan menyampaikan beberapa hal, ya, pendapat dari anggota sebagai anggota Komisi 6 DPR RI dari Fraksi Nasdem. Yang banyak panjang lebar terutama ya, Gus itu Pak Dokter ya, telah mungkin separuh daripada sidang ini telah dibawakan oleh beliau ya, materinya maksudnya. Terima kasih ya. Nah, perlu kita ketahui bahwa kasus, kasus munculnya nilai apa namanya, bahasanya itu oplos Pertamina yang yang mungkin disampaikan oleh Kejaksaan ini menjadi sangat luar biasa dan menyentuh rakyat di bawah. Karena apa? Pertama adalah karena kerugian negara yang setahun, indikasi ini baru, baru indikasi. Artinya, ee, praduga tak bersalah ya, belum, belum, belum konkret, tapi di masyarakat sudah, sudah memberikan satu, ee, asumsi yang negatif ya. 193 triliun per tahun, 5 tahun berapa, hitung sendiri, Pak. Rak ya. Nah, hal ini menyebabkan publik menjadi, ee, tidak percaya kepada Pertamina ya. Nah, kemudian langkah berikutnya dilakukan oleh apa namanya Pertamina, tentunya dengan adanya satu minta maaf dari Pak Dirut, luar biasa itu. Tapi itu belum bisa mengobati, bisa memulihkan kepercayaan. Kemudian, ee, apa, krisis yang tengah melanda Pertamina ini yang mengakibatkan tidak adanya ya, lunturnya ataupun tidak percaya publik pada Pertamina itu tidak hanya berdampak pada Pertamina saja, tapi akan berdampak pada kepercayaan dunia terhadap pemerintah Republik ini. Harus dijaga. Nah, ketiganya adalah bahwa Pertamina sebenarnya aset bangsa, aset negara. Oleh karena itu saya tidak akan membuka salah, tapi hanya akan menyampaikan saran. Bagaimana pertanyaan Pertamina dipulihkan? Bagaimana nama baik itu dipulihkan kembali? Jeleknya dihilangkan. Soal, ee, salah dan benar sudahlah, serahkan pada, eh, penegak hukum. Proses hukum berjalan dengan apa adanya. Sudah, biar gak usah kita campur, gak usah kita ini. Nah. Oleh karena itu, eh, kami menyarankan agar yang pertama Pertamina bagaimana membuktikan bahwa kualitas BBN yang diindikasikan itu oplosan itu adalah standar. Buktikan dengan cara apapun, cara akademis, dengan cara apa, eh, baik dari proses maupun pengolahan dan sebagainya. Sampaikan secara rigid, jadi tidak hanya sekedar, ee, bantahan dari media sosial, tapi secara teknis, secara akademis disampaikan bahwa itu terbukti, dibuktikan bahwa bahan bakar ataupun yang Petra, apa Pertamax itu dianggap oplosan itu ada di sem standar, sehingga bahasa oplosan itu hilang. Oplosan itu kan yang mabuk-mabuk itu pakai minum oplosan itu kan. Ini kan bukan beda ya. Kemudian kedua, Pertamina harus berani melakukan perombakan manajemen atau mereformasi diri secara internal, sehingga merupakan merupakan bentuk tanggung jawab moral atas kelalaian perusahaan ini ya. Gak usah apa namanya, istilah noleh kanan oleh kiri, sudah perbaikan secara internal yang cukup memadai sehingga publik akan memberikan kepercayaan. Nah, kemudian tentunya juga, ee, Pertamina menunjukkan proaktif pada penegak hukum dalam ini Kejaksaan, ee, ada apa namanya, tegaskan kalau tidak ada intervensi dan bantuan apapun kepada, eh, dan tegaskan bahwa ini adalah begini. Artinya yang sesuai tadi saya sampaikan bahwa itu adalah standar. Nah, tentunya Komisi 6 atau DPR itu sepakat untuk mendukung agar Pertamina tetap menjadi apa namanya, ee, ikon kita, eh, nasional. Jangan sampai itu menjadi hilang kepercayaan dan pemerintah juga akan menjadi kehilangan kepercayaan. Maka perlu dilakukan diskusi ataupun rapat-rapat yang intensif sesuai dengan aturan tata tertib DPR. Bentuknya apa ya, yang itu apakah itu tertutup atau terbuka? Kalau memang tertutup, tertutup, tapi tuntas. Tidak hanya sebatas sepotong-sepotong. Kalau kita mau menyalahkan ya, sudahlah, kita serahkan kepada penegak hukum. Kita fokus bagaimana, ee, aset bangsa ini, aset rakyat ini itu dipertahankan, menjadi bagus kembali, bahkan lebih bagus daripada kemarin-kemarin. Perjalanan telah menunjukkan, tadi disampaikan oleh Pak Mufti Anam bahwa dari zaman dulu tidak ada, tidak ada korupsi di Pertamina. Bahkan tadi di bahasanya apa, Bapak itu ada mafia dari sana sampai hari ini, kira-kira gitu. Mudah-mudahan apa yang disampaikan itu bisa kita mengerti dan kita jalankan. Ya, tidak hanya Pertamina, tapi dengan, ee, segenap Komisi Enam dan sepakat karena mitra untuk membangun kembali Pertamina jauh lebih baik dari saat ini. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih, Pak Mbah Subardi. Selanjutnya Pak Fernando, Jawa Tengah ini. Makasih, Bu, Bu Angki ya. Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang kami hormati pimpinan Komisi 6, anggota Komisi 6, Dirut Pertamina.

Persero, bersama seluruh jajarannya yang Insyaallah dikarunia Allah Subhanahu wa Ta'ala. Yang pertama-tama, saya ingin mengucapkan apresiasi Pak Simon atas presentasinya tadi. Persiapan BBM sangat siap sekali, kayaknya Pak Simon dan timnya bahkan siap ke seluruh pelosok-pelosok Indonesia, dan juga ada inspeksi-inspeksi semua, Pak, dan ada posko-posko di mana-mana. Saya apresiasi setinggi-tingginya, Pak, atas persiapan ini. Tapi, Pak Simon, jangan ini sebuah rencana dan gambar saja, Pak. Hari ini, kepercayaan Pertamina sudah hilang dari masyarakat Indonesia. Jadi, kami berharap implementasi dari rencana Pak Simon tadi itu terealisasi sehingga kepercayaan itu akan kembali lagi, Pak Simon.

Yang kedua, Pak, ini tentu sesuatu yang sudah menjadi konsumsi publik, kasus yang viral di mana-mana nih, Pak. Ini kan heboh sekali, dan tadi harapan saya seperti sama dengan Gus Mufti. Saya berharap ada penjelasan di sini, Pak, walaupun di rapat ini enggak ada agenda mengenai itu, tapi saya berharap ada penjelasan, tapi tidak ada sama sekali. Jadi, saya membuka data-data dari sosial media yang ada, Pak. Yang pertama, ada tersangka, Pak. Ini luar biasa, tersangka dan di-OTT semua, katanya di-OTT semua, dan ini ada Patra Shipping, Pert Shipping, dan seterusnya dan seterusnya. Dan ini kasusnya kasus pengkondisian tender, katanya Pak, kata sosial media nih. Karena saya belum ada penjelasan dari Pertamina, katanya pengkondisian tender, dan ini dilakukan sudah lama, Pak, katanya. Bahkan dimulai dari zaman orde baru, katanya sosial media gitu, Pak. Begitu saya dengar itu, saya ngeri sekali, Pak. Ini, Pak, ini sudah dari zaman orde baru sampai sekarang, sudah P tahun, Pak. Kok baru ketahuan sekarang, Pak Simon? Ini yang menjadi akhirnya pertanyaan banyak dari konstituen saya, Pak. Pak Nando ini, kenapa Pertamina kok baru ketahuannya sekarang? Ini ribuan triliun terjadi, apa yang terjadi di Pertamina? Baik, Bapak. Entar saya akan tanyakan ke Pertamina itu pertanyaan dari konstituen saya, Pak Simon. Kenapa baru sekarang? Ini ribuan triliun, ini sudah lama pasti, mungkin Pak Simon baru ya di Pertamina, tapi yang teman-teman yang lain kan sudah lama, Pak. Nah, ini mohon, mohon penjelasannya, Pak, nanti.

Yang, yang lebih ngeri lagi, ada sosial media bilang ini hanya pergantian pemain, Pak, gitu. Wah, ini lebih ngeri lagi, Pak, pergantian pemain. Maksudnya apa? Jangan sampai ini terulang kembali terus-menerus seperti ini, ribuan triliun terus dikorupsi terus. Ini negara kita, bisa hancur, Pak, hati-hati, Pak. Karena ini sudah masuk hukum. Saya ingin, saya ingin berkomentar mengenai perspektif dari manajemen Pertamina, Pak. Karena kan dengan kasus ini pasti kan ada mismanagement dari Pertamina. Karena Pertamina itu kan punya holding, dan ini kan yang bermain kan di anak perusahaan holding semua, Pak. Lah, ini yang saya pertanyakan, Pak. Pertamina Holding ke mana saja, Pak, selama ini? Kok ini belum diawasi atau gimana, Pak? Ini perlu perhatian khusus, Pak. Bisa sampai ribuan triliun, Pertamina Holding di mana gitu? Ini kan harus diawasi, dan itu juga harus terdeteksi, Pak, dari direksi-direksi yang kemarin-kemarin sebelum Pak Simon ini, Pak. Tolong ditanya Pak Simon sama direksi-direksi yang kemarin, apalagi komisaris-komisaris. Yang kerjanya, gajinya tadi berapa miliaran ya, Pak Masri ya? Itu mesti ditanya, Pak.

Nah, terus yang saya juga mau eh mention, Pak, mengenai dampaknya, Pak. Ini dampaknya luar biasa, Pak. Pertamina ini, selain distrust, saya baca juga ada beberapa bank juga yang sudah tidak percaya lagi dengan Pertamina atau dia men-hold eh kerja samanya dengan Pertamina. Dan dampaknya di lapangan juga pasti kan besar, Pak Simon. Walaupun saya baca di media juga, eh Kejaksaan tidak ada, tidak akan menyita aset-aset Pertamina. Itu bagus, Alhamdulillah. Itu kalau menyita, selesai kita, Pak. Jadi, selanjutnya, Pak Simon, para PLT-PLT ini, yang para direksi-direksi PLT yang digantikan ini, Pak Simon, ini pastikan mereka bisa bekerja sama dan bekerja baik dan berani, Pak, melakukan satu hal. Karena the show go on, Pak, gak bisa stop gini. Jadi, para holding yang PLT Dirut-Dirut ini harus bekerja dengan baik terus dan berani melakukan hal-hal yang harus dilakukan. Jadi, pastikan itu, Pak.

Nah, yang terakhir, Pak. Eh, ini dampaknya ke rakyat, Pak. Ini, ini Instagram saya, jujur, Pak Simon, di belakang ini. Aduh, ratusan, Pak, yang DM ke saya, Pak, masalah Pertamina ini gimana? Komisi VI enggak ada kerjanya, saya digituin, Pak, sama konstituen saya. Kok enggak diawasin ini Pertamina, gimana sih? Bisa ribuan triliun, saya gitu, Pak. Benar, kalau mau saya buka Instagram saya tuh, waduh, cacian, makian luar biasa, eh itu gitu, Pak Simon. Jadi, mohon perhatiannya, Pak. Ini konstituen saya, ribuan orang ngomong hal yang sama, Pak. Ini tanggung jawabnya saya yang tanggung jawab, Pak. Kami semua ini kan wakil rakyat, Pak, yang berhadapan dengan rakyat nih, kami semua. Jadi, kami harus mempertanggungjawabkan ini semua ke rakyat, Pak. Jadi, Pak Simon, tolong perhatiannya, ini harus di-benar-benar diperhatikan. Jangan sampai terjadi lagi, Pak Simon. Jangan sampai ini hanya pergantian pemain, Pak. Ini harus benar-benar dituntaskan, kembalikan kepercayaan Pertamina. Karena Pertamina ini kan hebat, Pak. Ini kan perusahaan internasional, kebanggaan Indonesia ini, Pak, di, di internasional ini. Pertamina salah satu yang, yang dibanggakan di Indonesia. Jadi, jangan sampai ini kepercayaannya di investor hilang, Pak. Nah, ini yang terakhir, Pak. Ini mohon izin pimpinan. Yang terakhir, ada satu DM yang lucu, Pak, ke saya. Dia bilang gini, Mas, kemarin saya melakukan tes ini, fakta, Pak. J konstituen melakukan tes dengan mobil yang sama dengan literan yang sama, dia ngisi dari SPBU pertama Shell, kedua Vivo, ketiga Pertamina, terakhir BP. Yang mana yang stop duluan, mana yang kualitasnya paling bagus, yang mobilnya paling jauh hasilnya, Pak. Yang pertama adalah Shell, yang kedua Vivo, yang ketiga Pertamina, terakhir BP. Artinya apa, Pak? Rakyat kami sudah melakukan tes sendiri, Pak. Itu artinya kepercayaannya sudah hilang sama sekali. Lalu saya sebagai wakil mereka, saya harus balas ini. Saya, pemilik saya semua, bertanggung jawab semuanya, ini hubungannya baik dan seterusnya. Jadi, tolong, Pak, apa yang sudah saya katakan ke konstituen saya, tolong diperhatikan. Jangan sampai ini terjadi lagi. Ini ribuan triliun ini kan duit besar, Pak, duit rakyat, Pak. Jadi, terjadi lagi. Semoga kepemimpinan Pak Simon, kami percaya Bapak ini punya background yang bagus, Pak. Saya juga pernah di militer, Pak. Saya tahu betul eh gimana orang berdisiplin militer. Jadi, eh Insyaallah saya yakin Pak Simon bisa memimpin ini dan memperbaiki Pertamina ke depan. Saya rasa cukup. Saya pimpinan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Pak Nasril. [Musik]

Bahar. Terima kasih pimpinan, pimpinan dan anggota Komisi VI yang dirahmati Allah, yang kami banggakan. Amin. Pak Simon dan segenap jajaran Board of Directors daripada Pertamina dan juga anak perusahaan yang hadir. Sebagai umat yang beragama, Pak Simon ya, Pak Simon Alisyahbana, mantiri ya. Yakin kita bahwa ada siang dan malam, kata Pak Wulan tadi. Ada Teteh, ada aa, belakang ya. Ada Ustaz, ada yang bukan Ustaz, ada Kiai dan juga ada yang bukan Kiai. Hidup ini berpasang-pasangan, Pak ya. Kehadiran Pak Simon di Pertamina yang ee berjalan baru 2 bulan, 3 bulan ya, Pak? 3 bulanan, 6 bulan ya sebagai Dirut. 3 bulan ini menggentarkan aras Indonesia, menggentarkan. Jadi, saya melihat ya, apakah Bapak ahli manajemen? Saya tidak tahu. Ahli strategi? Saya tidak tahu. Teknis tentang perminyakan? Mungkin saya juga tidak tahu. Tapi kehadiran Bapak di Pertamina itu menggentarkan sekali sehingga terbuka borok-borok yang terjadi selama ini. Kita selama 10 tahun gagal, Komisi VI gagal, Komisi VII gagal, Pertamina gagal juga, pemerintah gagal untuk membersihkan Pertamina. 2015, Petral, sepakat kita, DPR sepakat kita untuk dibubarkan, diganti dengan ISC, semua sepakat untuk menyelesaikan apa yang terjadi selama ini di Pertamina. Betul ya, Pak? Sepakat kita waktu itu, DPR sangat gentol 2015 itu, pemerintahan Jokowi. Dan saya yakin apa yang terjadi hari ini, Petral masih juga ber-, ini bergentayangan di tubuh Pertamina. Bersyukur saya secara pribadi, kehadiran Bapak di Pertamina, gemetar semua itu, gemetar semua sehingga terbongkar ini persoalan-persoalan ya. Jadi baru satu yang dikeluarkan kan? Putra Bangsa di Pertamina sudah ini ee puyeng semua. Ini yang saya pikir, rasa syukur kita kepada Pak Simon Alisyahbana, mantiri. Hari ini, isu diangkat ya, oplos, blending di tengah-tengah masyarakat sehingga membentuk opini masyarakat bahwa Pertamina ini jahat, Pertamina ini zalim kepada rakyat. Belum tentu. Saya berada di pihak Pertamina hari ini, belum tentu Pertamina yang berbuat itu atas nama institusi korporasi. Pertamina ini perang mafia yang ada di tubuh orang-orang yang bersekitar di Pertamina tadi. Kenapa Petral di Pertamina, Petral itu belum bubar di Pertamina sehingga ini dibungkus ya, siluman-siluman yang bergentayangan. Hadirlah Simon Alisyahbana, mantiri hari ini di Pertamina, bergetar dunia ini, Pak. Semoga cita-cita Jokowi waktu itu, 2015 ya, untuk memberangus Petral, mungkin di tangan Pak Simon ini akan terberangus. Petral itu bergetar itu, Pertamina. Satu hal itu, Pak ya. Jadi isu yang entah bagaimana diangkat di tengah-tengah masyarakat, saya pikir ini harus dijernihkan ya, harus dijernihkan. Benar enggak oplosan itu? Terutama dianulir kali Kejaksaan, bukan oplosan. Nah, blending itu apakah menambah RON atau tidak, kan begitu. Tetapi ya, hanya orang Lemigaslah yang akan mempertanggungjawabkan ini. Hanya orang teknislah akan memperjelas hari ini sehingga masyarakat itu jangan lagi punya persepsi bahwa Pertamina itu zalim. Tidak. Kita harus jernihkan ini, Pak. 270 juta rakyat Indonesia ini menikmati hasil kerja Pertamina. Kok sekarang isu-isu beredar lagi. Ketika diisi Pertamina, diisi SPBU Pertamina, lantas jarak 5 kilo, mobilnya mogok. Ternyata hoax kan? Ini yang di-ini-kan. Jadi, ada persoalan mafia, ada persoalan perang dagang. Kalau perang dagang, enggak usah takut, Pak. Semua cinta Pertamina hari ini, kok enggak ada pilihan lagi. Kita, kita cinta Pertamina semua. J, enggak usah perlu takut. Bapak harus tegak ya, gagah bahwa yang pegang SPBU, yang pegang Migas hari ini kita, Pak. Itu satu hal. Yang kedua, yang perlu kami ingatkan kepada Bapak, ya, enggak perlu takut ya. Kami bersyukur kan Bapak tentunya ya. Kita juga meminta kepada Pertamina, minta penjelasan kepada Kejaksaan, benar enggak 193 triliun itu diangkat ke media? Kami enggak yakin, Pak, membuat tafsiran-tafsiran, kan begitu? Kenapa kalau itu benar, berarti di mana fungsi pengawasan DPR hari ini? Juga kita juga bersalah, kan begitu, Pak? Nah, tolong diminta penjelasan kepada Kejaksaan ya. Dan yang selanjutnya ya, bahwa eh terhadap ya, tata kelola ya. Tata kelola, saya pikir kita akan uji kemampuan Bapak ya. Kami mengenal banyak juru Pertamina ya, selama kami di sini ya. Kami ingin uji kemampuan Bapak, keberanian Bapak ya, ya, di dalam mengatasi beberapa persoalan-persoalan yang ada di Pertamina itu sendiri, kan gitu. Jangan eh terlalu ini, Pak ya. Saya melihat bahwa beberapa pembentukan-pembentukan sub holding-holding ini membuat rantai ini, koordinasinya agak ini. Coba, Pak, perlu juga evaluasi, kan begitu. Sehingga satu komando dengan induk Pertamina itu sangat penting, kan gitu. Itu sangat penting ya, sehingga eh ketika kita menjernihkan ya, merambut ya, mencabut rambut di dalam sebuah tepung, tepung tak berserak ya. Nah, ini yang sesungguhnya kita harapkan, kearifan daripada Bapak di dalam melakukan pembersihan demi pembersihan dan tentunya ya, perlu pengevaluasian di tata kelola tadi ya. Mana yang perlu dipangkas, pangkas habis. Enggak bisa dibina, dibinasakan. Itu yang paling penting, Pak ya. Jangan terlalu, jangan ada ru-titipan, ru-titipan. Enggak penting, Pak. Orang lama, enggak penting, Pak. Amanah Bapak hari ini, ini orang lama sekali, orang si anu, orang jangan segan kita. Enggak penting. Di tangan Bapak hari ini, kami percayakan kepada Bapak untuk menyelesaikan. Kita semua, terima kasih. [Tepuk tangan] Pimpinan, kalau tepuk tangan itu yang serius gitu loh, atau sudah lapar semua? Apa gimana? Ah, enggak serius. Akak ini, maksudnya tepuk tangan apa enggak gitu. Diulangi lagi, silakan Pak Rifki.

Terima kasih pimpinan. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang saya hormati pimpinan Komisi VI, eh rekan-rekan anggota Komisi VI, yang saya hormati Dirut Pertamina beserta jajaran. Pertama, saya mau nanya dulu eh Pak Dirut, PLT Dirut Pertamina Patra Niaga dulunya apa jabatannya sebelumnya? Suami biasa. Saya Direktur Pemasaran Regional. Direktur Pemasaran Regional? Oh, regional. Oh. Iya. Berarti enggak ikut, enggak ikut dalam grup yang orang-orang senang? Saya tidak tahu grup tersebut. Oh, iya. Tapi saya senang ya. Terima kasih. Eh, yang pertama, saya mengapresiasi sekali Bapak-bapak sudah mempresentasikan tadi, paparannya lengkap. Tapi sayang, teman-teman di Komisi VI jarang, tidak begitu membahas paparan ini. Padahal Bapak-bapak ini menyiapkannya dua hari dua malam, tapi yang dibahas memang yang momen ini. Sangat ditunggu-tunggu, sangat ditunggu-tunggu. Sudah lama kita pengin eh ngobrol dengan Pertamina ini. Bukan semata-mata karena kita pengin mengadili Pertamina, tapi karena kita sayang dengan Pertamina. Karena memang awalnya eh apa terjadi misleading sebenarnya yang masalah-masalah apa? Oplosan itu jadi menyebabkan masyarakat yang marah, yang semakin hari semakin runyam. Nah, kami di sini pengin meminta kejelasan dari Pertamina agar masyarakat ini tidak terus-menerus, sampai hari ini pun sebenarnya masyarakat masih bertanya-tanya. Dan kami juga tidak ingin adanya penumpang gelap yang menumpangi kasus hari ini sehingga menggiring masyarakat berbondong-bondong meninggalkan Pertamina yang kita cintai itu. Saya pribadi mengapresiasi tadi, teman-teman juga sudah mengapresiasi Bapak Dirut eh berani melakukan konferensi pers, meminta maaf ee kepada masyarakat Indonesia. Namun saya menyayangkan ee dalam permintaan maaf tersebut belum dapat memberikan kejelasan yang ee lugas, gitu. Klarifikasi, penjelasan yang jelas. Juga mengapresiasi Komisaris Utama melakukan konferensi pers bersama ee Kejaksaan untuk menyampaikan bahwa Pertamax hari ini sesuai eh RON 92, begitu kan. Cuman itu kan hari ini yang jadi pertanyaan adalah dari tahun 2018 sampai 2023. Apakah benar RON Pertamax itu 92? Ini yang menjadi pertanyaan masyarakat, bukan hari ini. Kalau hari ini kan sudah aman semua, gitu. Kemarin sampling-sampling juga sudah aman, RON-nya 92. Nah, agar kepercayaan masyarakat ini kembali, saya mendorong, saya di berbagai kesempatan menyampaikan, saya mendorong Pertamina duduk bersama dengan Ditjen Migas, dengan Lemigas dalam hal ini untuk membuka data-data, data-data dari 2018 sampai 2023. Saya yakin kok Pertamax ini sesuai, karena prosedurnya jelas. Keluar dari kilang diperiksa, keluar TBBM diperiksa, masuk ke SPBU diperiksa, bahkan di ee dispenser pun ada sampling, gitu. Jadi, saya yakin Pertamina sesuai, gitu. Ayo buka, buka-bukaan saja dengan masyarakat agar masyarakat ini kembali kepercayaannya kepada Pertamina. Dan buka data eh data-data impor, Certificate of Origin, kan jelas RON-nya berapa, gitu. Nah, pertanyaan selanjutnya, kalau di tahun 2018 sampai 2023 Pertamax mutunya sesuai RON 92, terus barang yang diimpor RON 90 ini dikemanakan? Nah, kan kasusnya yang kami terima, yang kami tangkap adalah ee korupsinya adalah terkait pencatatan, belinya RON 90, ditagihkannya ke Pertamina 92, begitu. Bukan, benar begitu? Bukan, Pak? Keterangan-keterangan seperti itu, keterangannya seperti itu kan? Nah, ini makanya jadi yang jadi pertanyaan, RON 90-nya ini dikemanakan, gitu. Nah, maka untuk ini kami meminta Pertamina agar lebih tegas, lebih terbuka kepada masyarakat. Nah, terus saya meminta Dirut Pertamina untuk memperkuat SPI. Eh, SPI-nya ini diperkuat. Jadi kayaknya kok hari ini SPI ini agak lemah, sampai terjadi jadi eh penyimpangan-penyimpangan yang terlalu panjang seperti ini. Terus saya mendorong keterbukaan Pertamina. Nah, mungkin ini ee gebrakan yang bisa dilakukan oleh Pak Simon. Bagaimana Pertamina ini bisa lebih terbuka ke masyarakat? Mungkin ee berkala melakukan eh conference atau melakukan pemberitaan. Meskipun Pertamina bukan ee perusahaan Tbk, tapi bisa dilakukan Tbk karena Tbk-nya masyarakat, disampaikan, kami melakukan impor ini sekian sekian sekian. Mungkin itu bisa dilakukan. Yang terakhir, kami mendorong Pak Dirut untuk bisa melakukan rebranding Pertamina. Mungkin hari ini Pertamina di apa, di terjang badai yang sangat besar. Mari kita bersama-sama, kepercayaan masyarakat ke Pertamina bisa melakukan rebranding, mengulang kesuksesan Pertamina di tahun 2006-2009. Waktu itu zaman Dirutnya itu almarhum Bapak Ari Sumarno melakukan rebranding dengan eh standarisasi SPBU pada waktu itu, karena mulai masuknya pesaing, pesaing-pesaing SPBU. Pertamina mulai pasti, pas melakukan ee apa namanya program pasti pas dan mulai dari nol. Nah, ini momentum Pertamina untuk melakukan mulai dari nol. Ini tantangan untuk Bapak Dirut. Pada waktu pertama kita bertemu Pak Dirut, saya sudah sampaikan, Pertamina ini ruwet, banyak hal-hal yang yang macam-macam, terbukti ini sudah eh terkuak satu demi satu. Ini kami, bahkan konon katanya, Pak, ini hanya menjabat dari 29, karena orangnya terlalu lurus dan tidak kuat tekanan menjadi Dirut Pertamina. Ini tantangan yang sangat besar buat Pak. Ayo, Pak, kita perbaiki Pertamina, kita kembalikan kepercayaan Pertamina masyarakat kepada Pertamina. Kurang lebih itu saja, Pak. Mohon dapat ditindaklanjuti, data-data bisa dibuka, kembalikan kepercayaan masyarakat kepada Pertamina. Kurang lebihnya saya mohon maaf. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Prof. Darmadi, silakan. Andalan [Musik] kita.

Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom. Yang terhormat Prof. Angie, Profesor Eko, Prof. Adi, Prof. Nurin Khalid dan Prof. Andre, dan teman-teman dari Pertamina dan jajarannya. Perkenalkan, Pak. Nama saya Darmadi Durianto, Dapil DKI Jakarta, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Kepulauan Seribu. Yang pertama, Pak, saya apresiasi saat Bapak minta maaf. Saya nonton habis, Pak, pidato Bapak. Kemudian Bapak di situ ngomong soal pembenahan. Saya juga senang, Pak. Saya gak masuk detail hari ini, karena sudah banyak tadi, Pak Mufti, saya bos saya itu, Pak Mufti Anam sudah menyampaikan detail habis. Tapi sebetulnya, ke depan ini yang saya tunggu-tunggu, ini yang jelaskan itu pembenahannya seperti apa? Kayak ini kan sudah menggetarkan tadi, kasus Pertamina ini ya, menyeret banyak nama, sampai nama saya saja masuk-masuk loh, Pak, di kotak itu, mencengkram, Pak. 10 tahun di DPR, Pak, saya enggak pernah ke kantor Pertamina, Pak. Tahu-tahu di mana saja lokasi, enggak tahu, Pak. Ngajak di luar ketemu saja orang-orang Pertaminanya enggak pernah, Pak. Bisa dicek CCTV, enggak pernah, Pak. Yang saya tahu cuma Tio ini, Tio, Pak Tio, se-apa, Sekper atau apa? Korsek, Pak. Korsek sering di DPR ini ketemu, jadi tahu-tahu masuk tuh nama, Pak. Ada gambarnya lagi ditaruh itu, enggak tahu. Baser mana? Baser Pertamina atau apa itu? P pakai peci. Hari pertama saya memang sudah ngomong, pembentukan Panja Pertamina di Kompas live TV. Kenapa saya ngomong begitu, Pak? Supaya Bapak diberi kesempatan untuk kasih keterangan seb-sebenar-benarnya di DPR ini. Mari kita berantas, gitu. Nah, sampai sekarang saya enggak tahu sebetulnya strategi pembenahannya Bapak itu apa? Pembaharuan kah, recycle kah, ganti pemain kah? Itu enggak ada, Pak. Saya percaya Pak Simon, Pak, orangnya baik. Simon tuh artinya suka mendengarkan, iya betul kan? Aloisius itu orang yang suka peduli dan kasih sayang. Simon Aloisius, jelas, mendengar yang penuh, pendengar yang penuh kasih sayang. Jadi orangnya, saya yakin di nurani dan naluri saya bahwa Bapak ini orang benar, gitu. Tapi yang saya tunggu ini sekarang langkah pembenahan. Saya enggak bisa nyalahin Bapak, karena Bapak baru masuk jadi Dirut. Tapi gebrakan Bapak ini ditunggu, Pak. Saya waktu pertama saya sudah ngomong, Bapak masuk sarang mafia dulu. Setiap kali RDP, laker selalu saya serang tuh Rifai soal mafia gas. Saya pertanyakan itu, Pak, di dalamnya mafia gas ini, dapat ee, ini, ini penguasa gas LPG 3 kilo khusus itu. Nah, saya selalu kritik Pak Pak Rifai. Maka hari pertama saya sudah ngomong, Pak, ini ruwet nih Pertamina, betul ruwet ini, banyak mafianya di dalam, betul banyak mafia di dalam dan ak-bongkar kan sekarang, Pak. Nah, ini tugas Bapak. Tunggu strategi pembenahannya Bapak, apa strateginya? Ini yang belum Bapak paparkan ke kami. Nanti Bapak paparkan seperti apa sih? Apa Bapak hanya ganti pemain, bersih-bersih, beres-beres? Ini yang kita tunggu. Itu yang pertama, Pak. Yang kedua, saya minta Bapak memperhatikan minimal catatan Komisaris Utama yang lama yang viral, yang puluhan juta orang nonton, temannya Pak Andre itu. Temannya Pak Andre, Pak Komut lama itu. Tapi sering makan malam, jadi banyak catatan situ yang saya yakin banyak kebenarannya di sana. Pertama, beliau menyebut tentang e-katalog. Apakah betul internal direksi Pertamina ini enggak mau menerapkan e-katalog, RKPP ini yang tadi disindir Pak Mufti? Ini catatan pertama. Catatan kedua, apakah betul banyak orang Petral masih di dalam? Bapak mau enggak orang Petral ini yang mafia dulu ini mau diberesin enggak, begitu? Atau setengah hati? Bapak enggak bisa beresin, buktinya kemarin Petral bubar, orangnya jadi Dirut tuh Pertamina Patra Niaga. Nah, ini masih ada enggak orang-orangnya? Saya dapat info dari orang dalam bahwa ada masih orang-orang Petral dulu di situ. Masih mau enggak Bapak beresin itu? Saya yakin, Pak, ini enggak se-entarnya, enggak berhenti di sini. Dugaan saya di atasnya masih ada. Dugaan saya ini, saya sudah, saya sudah nangkap tuh ya, di atasnya masih ada itu. Oh, sepertinya sudah. Nah, ini saya minta Bapak ini sekarang orang tertinggi di Pertamina. Saya yakin dengan sepenuh hati Bapak bisa beresin, luruskan. Tanus Taruna Nusantara, Nusantara gas, tapi peduli dan kasih sayang, pendengar yang baik. Simon Aloisius, peduli dan kasih sayang. Wajah Bapak tuh memancarkan banyak kasih sayang, Pak. Saya senang dengan wajah Bapak itu. Yang ketiga, yang disebut pengadaan aditif, di situ juga ada, ada mafia, betul enggak? Ini melibatkan orang BPK ini kan cerita-cerita dari Komut, temannya Andre ini yang harus Bapak klarifikasi ke dalam. Nah, itu catatan Pak BTP yang sudah viral ke mana-mana. Yang ketiga adalah saya punya poin, Pak, mohon jangan dipotong, Pak, soal tuntutan monopoli oleh KPPU nanti Bapak jawab. Karena nonsubsidi itu dimonopoli oleh Pertamina ya, melanggar Pasal 17 Undang-Undang Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Ini lagi jalan selidik. Apakah betul, Pak, Bapak jual dengan margin super normal, profit, excessive profit nonsubsidi? Nanti Bapak jelaskan. Itu menjadi isu yang keempat, Pak. Ada aspirasi dari konstituen yang merupakan pelaku industri, Pak. Ini sudah sering juga saya lakukan ya, bahwa kemarin harga gas industri itu kan naik, Pak, dari 6,5 menjadi 7 USD ya, tetapi itu Januari sampai Maret. Ini kuotanya hanya 40 sampai 50%, kan Pak? Selebihnya dikenakan surcharge berapa, Pak? PGN itu 16,77 USD, Pak. Ini sangat memberatkan pelaku industri, Pak. Nah, ada aspirasi dari mereka agar industri ini enggak mati, industri setengah mati sekarang ini, Pak, ditambah lagi beban kayak gini, tambah habis, Pak. Nah, kenapa bisa begitu, Pak? Padahal, Pak, stok Bapak mungkin banyak ya. Kuotanya hanya 50% yang HGBT itu, Pak. Di atas itu kena surcharge 16,77, benar enggak, Pak? Benar enggak, Pak? PGN ya, enggak apa-apa saya sampaikan, 16,77, Pak. Tagihannya ada, Pak. Wah, ini mau apa ini ya? Nah, ini saya minta dijawab dan investigasi, Pak ya. Yang kelima, keuangan ini, pendapatannya memang stagnan, Pak, betul ya, Pak ya? Tapi bagaimana dengan labanya, Pak? Saya lihat, saya hanya dapat data dari di media sampai Oktober 2024 itu labanya 42,35 triliun. Dari media, laba 2023 Bapak sekitar 76 triliun. Kelihatan labanya enggak sampai seperti tahun lalu. Nah, ini mohon Bapak jelaskan, Pak ya. Dan saya lihat ada penarikan utang selama 2023, karena saya enggak pegang data 2024 ya, ada kenaikan sekitar 151 triliun, utang jangka pendek untuk apa sih, Pak? Pak, Bapak, nama, utang jangka pendek. Di satu sisi kas Bapak itu 300 triliun, Pak, kas on hand Bapak 300 triliun. Tapi kenapa ada terjadi lonjakan hutang jangka pendek? Mohon nanti Pak Simon jelaskan untuk apa ini ya. Nah, itu saya pikir yang kelima ya. Oh ya, cukup. Terima kasih, pimpinan. Sesuai janji saya, suka sekali karena menepati janji. Tunggu tanggal mainnya lagi terus. Silakan Pak Asep.

Iya, ya. Hatur nuhun pimpinan. Hatur nuhun Teh Rik, semuanya. Bapak, Ibu dari Pak Dirut Pertamina beserta para jajaran holding. Pertama-tama, ini Komisi VI ini bukan ikut-ikutan, Pak Dirut. Jadi, tupoksinya akan jelas, kalau kita bicara soal produk, makanya datang ke SPBU, meskipun tempusnya sudah kelewat. Seharusnya kan 2016, 2003 mereka datang hari ini. Jadi mungkin tidak ada masalah. Kejaksaan Agung sudah di Komisi III. Nah, konsen kita adalah pada soal tata kelola, yang itu menjadi isu sebetulnya. Kenapa kemudian bisa terjadi dan berdampak pada ya, terus terang tadi seperti kata Bahar itu, jadi kena sebetulnya, Pak. Karena kerap kali kita diskusi, kita RDP, kita FGD ini kan soal bagaimana jadi baik. Nah, jadi yang ini yang mau kita highlight barangkali penting. Betul kata Prof. Darmadi, harapan besar itu di pundak Pak Simon tuh, yang tanda kutip “qu-qu” sebagai orang baru, misalnya gitu. Yang kita harapkan bersih dan lulusan TN, kira begitu, Pak. Ini saya kira penting. Nah, yang kedua, Pak, ini kita apa, sharing saja dalam satu kesempatan ke belakang. Waktu Pak Menteri, Bu, di sini cerita soal efisiensi dan saya tanya langsung, Bapak bicara efisiensi, meledak-meledak. Pertanyaan saya adalah ada tidak efisiensi di BUMN? Enggak lama meledak, Pak, kasus ini. Iya kan? Kaget kita. Kita bicara efisiensi, meledak kasus ini, Pak. Bapak asal tahu saja, ini Komisi VI ini, BUMN, koperasi, KPPU itu total Jenderal, Pak, anggarannya itu dijumlah jam-jam reh nih, Pak, cuma koma 2,7 triliun, si Mitra. Bandingkan dengan kalau betul statement Kejaksaan itu, per tahun kejahatan sindikat itu sampai 100 triliun. Bapak tahu Badan Perlindungan Konsumen kita, BPKN, Pak Mufti yang ribut itu kemarin siap menampung seluruh pengaduan di masyarakat, anggarannya berapa, Pak, setahun? Karena akibat efisiensi, 8,9 miliar, mungkin dua bulan gaji Bapak tuh setahun buat ngurusin sekian ratus juta warga Indonesia. Bandingkan lagi-lagi dengan soal betapa jahatnya mereka itu yang 150 sekian triliun. Kalau benar itu mereka korup di situ ini, Pak. Kita ini kenapa tata kelola ini? Kenapa kata senior banyak sindikat, ada organ di sana, Pak. Ada kejahatan terorganisir. Mereka melakukan perampokan jahat yang itu kemudian saya kurang tahu ini kan juga fungsi tadi, kata fungsi pengawasannya seperti apa? Bagaimana bisa bertahun-tahun melakukan begituan, ada, kemudian krol sama sekali, ada tercium sama sekali supaya meledak oleh Kejaksaan. Jadi, Pak Simon, barangkali ini harus jadi isu. Tadinya saya pikir sederhana, Pak. Teman-teman ketika komplain, Pak, kok enggak ada sih cerita bagaimana Bapak paparkan pembersihan internal ini? Satu saja, Pak. Karena sekarang bulan puasa, direksi kami pesantrenkan semuanya. Nah, gitu, supaya akhlaknya ter-restorasi lagi. Kan soal itu, Pak. Pasti bukan soal teknis ini, ini soal paradigmatik loh, Pak. Ini bukan soal teknis yang Bapak itu kalau evaluasi proyeksi kinerja, tapi orangnya gak berubah karakternya, Pak, yang akan diisi mereka juga. Jadi buat saya, bersih-bersih pemain harus, Pak, perlu Pak, oleh orang Bapak, mungkin yang meritokrasi, dia baik, dia proper, dia menguntungkan rakyat, tidak nyolong ke rakyat lagi, tidak lagi, tidak lagi, tidak subsidi ke negara, pura-pura begitu. Gitu, begitu. Memang harus pemain, Pak, tapi yang baik tadi itu. Nah, paparkan kepada kami, ini Petral sudah kami hancurkan, misal begitu, gitu ya, orang-orangnya. Nah, itu yang saya kira penting kita sama-sama agar tata kelola jadi benar. Efisiensi Bu, sudah kita maksimalkan, kira-kira begitu, Pak. Nah, soal-soal gitu, saya kira penting. Yang kedua, Pak, ini soal impor tadi itu, teman-teman juga cerita. Barangkali ini saya agak, agak melebar ya. Kemarin saya dengar teman-teman itu ke K, Pak, agak hostil dalam sejarah yang saya baca, Pak. Salah satu kebangkitan Amerika itu karena bajanya waktu itu ketika mereka bangun menikah, jadi industri baja itu betul-betul jadi mother of industry, Pak. Kita dihancurkan. Kenapa impor, iya, Pak? Nah, nih Pertamina nih enggak beli nih, Pak, produk kita nih, beli impor juga, mentahnya gitu. Jadi jangan semua sama dong. Judulnya nih, gula impor, bawang putih impor, kayu pun impor, baja impor. Saya kira ini, saya berpikir jangan-jangan memang juga ada desain soal importasi ini, gitu loh kan, Pak? TPT, Pak, yang itu kemudian tekstil itu impor semua, hancur kita semua. S korbannya jelas itu. Nah, saya kira jangan ikut-ikutan juga, apalagi pada industri yang strategis seperti ini. Terakhir, Pak, barangkali ini penting, soal tadi cerita implementasi subsidi tepat sasaran, Pak. Saya ingat coba sedikit menanyakan progres perkara kasus yang nozzle sama Telkom itu, Pak, 3,6 T kalau tidak salah nombokinnya gara-gara proyek itu gagal atas nama BUMN, vendornya oleh Telkom. Kemudian ternyata yang subsidi Pak ya, ternyata kemudian produknya gagal sehingga data subsidi tidak dapat, tidak salah ketika menagihkan ke K mereka tidak mau bayar karena memang problem di apa, pencerapan data, penerimaan itu jadi...

Soal begitu yang terakhir lagi. Piran Bapak, dan antara baru kita resmikan sama-sama, baru kita lahirkan sama-sama di sini. Mereka belum tumbuh besar sama sekali, tapi mereka sudah dipertanyakan oleh: Bagaimana ini bisa, atau tidak sanggup, atau tidak? Dan bla bla bla. Dan Pertamina adalah salah satu penumpang di jadiembalikan reputasi, Pak. Bukan sebetulnya dibangun oleh Pertamina juga akan berdampak pada citra yang akan terbangun kepada dan antara ke depan, Pak. Ini saya kira penting sekali bagaimana pada akhirnya Pak Simon dan teman-teman yang tersisa masih bersih-bersih ini semua itu itu mampu merecovery, memulihkan, mengembalikan citra keedapanan publik yang akan berdampak pada juga yang lainnya, pada pemerintah, pada ada dan antara sebagai subholding, sebagai holding nantinya. Itu barangkali itu. Pimpinan, saya sampaikan terima kasih atas segala kesempatan selanjutnya. Pak Hakim.

Terima kasih pimpinan. Assalamualaikum warahmatullahi [Musik] wabarakatuh. Yang saya hormati Pimpinan dan anggota Komisi 6, yang saya hormati Pak Simon beserta seluruh jajaran Pertamina yang hadir pada siang menjelang sore ini. Sudah banyak sekali, Pak Simon, yang disampaikan oleh teman-teman. Saya mungkin akan memulai tahap bertahap sesuai dengan undangan rapat pada siang hari ini, Pak. Evaluasi dan rencana kerja di setiap paparan yang disampaikan oleh Pak Simon ini ada beberapa rencana strategis dari setiap subholding yang akan dilakukan. Akan tetapi, Pak, perlu Bapak tambahkan satu poin lagi saja, Pak, di setiap holding. Judul bersih-bersih seperti yang teman-teman dari tadi sudah memberikan dukungan kepada panjenengan, Pak. Kap saya, Pak Nasir, lah hari ini tadi menyampaikan dengan istilah bergetar. Dengan datang Pertamina, bergetar, Pak. Nah ini mungkin juga jadi salah satu, salah satu momentum panjenengan sebagai yang memegang nahkoda penuh di Pertamina untuk sebagai rencana kerja prioritas panjenengan di setiap holdingnya, Pak.

Kemudian berlanjut persiapan mudik Lebaran tahun 2025. Ada satu poin yang perlu diantisipasi selain tentang stok, Pak. Itu adalah yang kami khawatirkan: amarah publik, Pak. Jadi kadang-kadang ini kalau sudah stoknya menipis, sudah antri panjang, datang ke sana kegalauan, keresahan masyarakat terhadap kasus yang terjadi kemarin belum selesai, khawatirnya diluapkan juga di situ nanti. Di sini ketua satgasnya Pak Ega. Nggih, iya, jenengan Pak, ketua satgas mudik lebaran. Jadi khawatirnya nanti mereka ngersulo, gedumelnya, Pak, berkeluh kesahnya itu di lokasi, Pak. Kan kita enggak tahu. Sudah antri, sudah capek, mungkin itu diluapkan. Ini masukan dari kami, Pak Simon, Pak, tentang persiapan mudik.

Kemudian saya bergeser berkaitan dengan kasus hukum yang mencuat ke publik untuk Pertamina, Pak Simon dan seluruh jajaran. Walaupun memang di undangan rapat komisi ini tidak tercantum berkaitan dengan kasus kemarin, Pak. Sebenarnya harapan kami di sini menjadi ajang panjenengan untuk memberikan klarifikasi, untuk memberikan kepercayaan kepada publik berkaitan dengan kasus yang terjadi kemarin. Jadi publik saat ini, Pak Simon, ini kan masih bertanya-tanya, Pak. Sebenarnya rentetan kasusnya, kronologi kasusnya itu seperti bagaimana, Pak? Sempat muncul mem-mem di Instagram, Pak. Yang ya, kadang-kadang juga sedikit lucu, Pak, ya. Itu ada gambarnya oknum, kemudian tulisannya: Pertamax adalah Pertailet yang enggak ngantri. Jadi ini kan muncul simangsur, Pak. Nah, jadi harapan kami ini di rapat ini menjadi ajang panjenengan bisa memberikan dan klarifikasi kepada publik. Sebenarnya terjadinya seperti ini, karena jujur, Pak, sekarang ini posisi dari masyarakat ini serba bingung: mana nih ee cerita yang utuh yang benar nih, seperti bagaimana? Mau percaya serta-merta dengan aparat penegak hukum juga terkadang kemarin statementnya berubah. Belum lagi juga muncul berita-berita yang minor tentang oknum-oknum penegak hukum kita. Di satu sisi, dari Pertamina juga memberikan belum memberikan klarifikasi yang utuh. Nah, padahal di rapat ini saya berharap itu, Pak. Dibuka saja sekalian. Oh, rentetan kejadian seperti gini. Enggak, enggak ada kok ee apa yang kemudian kita mundur ke kualitas atau bagaimana. Jadi supaya trust publik seperti yang diharapkan teman-teman tadi itu enggak sampai luntur, Pak. Dan saya mengapresiasi panjenengan gagah meminta maaf kepada publik. Top, Pak, mantap itu. Walaupun jenengan cuma sendirian, padahal harapan saya ketika preskon panjenengan minta maaf itu didampingi sama yang lain-lainnya, Pak.

Itu kemudian berlanjut poin kedua untuk yang masih di kasus hukum, Pak. Saya ingin dibuatkan itu, Pak, eh mungkin semacam kajian di sini. Mungkin ada direktur manajemen risiko dan direktur keuangannya juga. Jadi kalau misalnya tidak ada kejadian kasus hukum seperti ini, sebenarnya secara revenue itu seperti bagaimana sih? Kemudian COGS keseluruhan itu bisa ditekan sampai dengan berapa sih, Pak? Jadi proyeksi saja, Pak. Oh, sebenarnya kalau misalnya tidak tidak ada kejadian seperti gini, kita bisa kok, Pak, ee COGS-nya diturunkan, kemudian pendapatannya bisa ditingkatkan sehingga bisa menghasilkan net income yang luar biasa, storiden ke negaranya juga lebih besar. Nah, proyeksi-proyeksi seperti itu kalau bisa mungkin juga bisa sebagai apa ee motivasi panjenengan untuk melakukan pembersihan di tubuh Pertamina. Kemudian yang sebenarnya masih di banak ini, pimpinan disingkat ya. Yang terakhir sesuai arahan pimpinan, Pak Simon, di salah satu SPBU milik swasta ini kan sudah berani menempelkan sertifikat Euro 5, atau mungkin lembaga-lembaga yang memberikan sertifikat yang independen, Pak, atau mungkin bukan milik negara, Pak, atau mungkin dari luar, Pak. Siapa tahu masukan dari kami ini bisa menjadi pertimbangan untuk bisa menumbuhkan kembali kepercayaan publik kepada Pertamina. Saya rasa itu, Pak Simon, walaupun masih banyak poin, tapi pimpinan kami yang paling cantik ini sudah saya memberikan kesempatan kepada yang lain. Jadi saya sudahi dulu. Terima kasih. Kurang lebihnya mohon maaf. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.ikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Pak Hakim. Selanjutnya Teteh sudah on? Silakan. Sudah, ah? Belum, belum nih. Tunggu bentar. Kenapa ya? Skip dulu yang lain deh. Oke, oke, oke. Yang lain baik. Silakan. Makasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang kami hormati Ketua dan para wakil ketua beserta anggota Komisi 6, yang saya hormati Pak Dirut beserta seluruh jajaran, baik holding maupun subholding yang hadir hari ini. Pertama tentu selamat buat Pak Simon sebagai Dirut baru yang telah membuat kejutan-kejutan beberapa waktu memimpin Pertamina. Mudah-mudahan ini pertanda baik supaya Pertamina bisa menjadi BUMN kebanggaan rakyat Indonesia. Baik, Pak Dirut, terkait dengan persiapan Idul Fitri tadi sudah kami dengarkan paparan. Menurut kami sudah cukup bagus, tinggal mungkin yang perlu diingat Lebaran Insyaallah tanggal 31 Maret ya. Jadi kami hanya ingin mengingatkan, cuaca masih berada di dalam musim hujan, artinya tentu faktor cuaca perlu menjadi perhatian karena nanti biasanya akan mengganggu distribusi bahan bakar ataupun minyak itu sendiri ke SPBU maupun ke tempat-tempat masyarakat. Mungkin terkait dengan Idul Fitri itu yang perlu kami ingatkan kepada Pertamina. Selanjutnya terkait dengan hal-hal yang lagi booming atau menarik, Pak Dirut ya. Saya saya berpikir logo Pertamina ini kan sudah berevolusi dari kuda laut menjadi apa tuh sekarang tuh, Pak? Panah ke depan ya, Pak? Iya, panah ke depan. Mudah-mudahan panahnya tidak menembak rakyat, kan gitu, Pak. Mudah-mudahan dengan revolusi, evolusi daripada logo ini benar-benar mencerminkan kinerja yang lebih baik untuk yang akan datang. Itu harapan kami. Terkait dengan oplosan ini, Pak Dirut, ini kan sebenarnya Pertamina ini hanya mengurusi industri kimia dasar. Ya, hanya refinery, suling-menyuling, sedikit campur-mencampur ya. Makanya mudah untuk dilakukan oplosan oleh siapa saja. Pertanyaan kami, Pak Dirut, kenapa di sebuah BUMN yang sangat besar yang di situ itu penuh dengan sumber daya manusia yang baik, pengawasan yang baik, kok ini bisa [Musik] terjadi? Biasanya ngoplos itu kan industri private atau masyarakat-masyarakat kecil ya, ngoplos pupuk, ganti karung, kira-kira seperti itu. Yang orangnya mungkin hanya 5, 10 orang begitu. Saya yakin Pertamina ini ratusan orang, tapi bisa terjadi begitu. Nah, ini mungkin nanti perlu penjelasan, Pak ya. Di mana peristiwa itu terjadi? Bagaimana ya? Dan apa sebenarnya yang terjadi supaya ini tidak membingungkan kami-kami. Nah itu, Pak. Selanjutnya juga kami ingin meminta jaminan dan kepastian dari Pak Dirut bahwa apa langkah-langkah yang akan dilakukan dalam jangka pendek sehingga kejadian-kejadian ini tidak akan terjadi di masa yang akan datang. Mungkin saya ingin bertanya sedikit, Pak. Kira-kira barang oplosannya masih ada apa enggak tuh, Pak? Sudah enggak ada lagi ya? Sudah diminum, iya ya. Itu maksud saya itu, Pak. Jadi mohon yakinkan kami bahwa itu tidak akan ada lagi terjadi untuk yang akan datang. Dan kira-kira apa yang akan Bapak lakukan menata manajemen di dalam Pertamina sendiri? Dan yang kedua, yakinkan juga kami dan masyarakat bahwa apa yang hari ini dijual di etalase Pertamina di SPBU-SPBU itu sudah sesuai dengan sebagaimana mestinya. Ya, kalau Pertalite ya tentu RON-nya sekian, Pertamax sekian ya. Jadi mungkin perlu ada langkah-langkah yang strategis sehingga ketika nanti jangan sampai ada masyarakat yang menguji secara sendiri ternyata itu benar adanya dan tidak ada perubahan. Ini akan lebih karam lagi, Pak ya. Karena memang yang diandalkan dari sebuah produk Pertamina itu kan memang ya, minyak itu dan juga gas dan lain sebagainya. Dan mungkin itu, Pak, beberapa hal yang perlu kami sampaikan dan mungkin juga Bapak dalam manajemen Bapak perlu juga bersih-bersih ya. Tadi Pak Profesor sudah bilang kalau Pak Simon, kita yakin, saya juga Insyaallah yakin ya. Tapi tentu bersih-bersihnya perlu yang kira-kira kotor saja yang dibersihkan, Pak. Yang masih bersih silakan dilanjutkan ya. Mungkin itu saja, Ibu Ketua. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Terima kasih. Selanjutnya Pak, silakan.

Baik, terima kasih pimpinan, rekan-rekan Komisi 6 yang saya hormati, Pak Dirut, jajaran dari Pertamina. Di saya dua hal. Pertama terkait dengan peningkatan produk hulu ini nanti ada korelasi dengan swasembada energi. Yang kedua terkait dengan tata kelola. Untuk yang pertama terkait dengan ee apa peningkatan produk hulu eh yang berkolaborasi dengan swasembada energi, Pak, yang proyeksinya 5 tahun lagi ini kita ee diharapkan tidak lagi mengimpor ee minyak. Tapi melihat kondisi existing, eh keberadaan dari apa proses produksi yang terjadi di kilang. Kedua terkait dengan apa sumber produksi, kondisi sumur kita, Pak. Rasanya kok saya pesimis kalau melihat apa tahun ke depan ini kita tidak akan mengimpor e minyak gitu. Karena kalau kita lihat data, Pak, kalau lifting minyak bumi kita, kalau kita lihat interval e data yang punya interval waktu 2017 sampai 2024 itu trennya kan menurun terus, Pak, lifting minyak bumi kita dari 800.000 barel per hari sampai turun di bawah 600.000 barel per hari. Kalau APBN kita kan ditetapkan lifting minyak kita sekarang 600.000 barel per hari. Nah itu dari sisi kalau tidak dilakukan upaya yang luar biasa enggak mungkin, Pak, 5 tahun lagi ini kita bisa apa tidak mengimpor minyak. Yang kedua terkait dengan apa proses produksi dan sumber minyak gitu. Kalau kita lihat kondisi kilang kita ada beberapa kilang kita di Indonesia ee dengan diperkirakan kapasitasnya kan 1,7 juta lebih ee kapasitasnya. Tapi faktanya ee dari kilang minyak yang kita dapat hanya mampu memproduksi sekitar 600.000 barel per hari. Nah ini kan ternyata eh kilang minyak kita tidak mampu mengolah minyak, minyak mentah yang apa hanya mampu mengolah yang minyak kualifikasinya baik gitu. Sedangkan karakteristik ee minyak mentah Indonesia ini kan ee mengangkut apa ee muatan sulfur, e sulfur dan ini ee apa beratnya ee lebih berat dari minyak biasa. Nah itu ini sangat berbeda kalau negara tetangga kita Singapura dengan walaupun dia tidak memiliki sumber ee cadangan minyak yang besar, tetapi mereka memiliki ee kilang yang besar kemudian dengan teknologi yang tinggi mampu mengolah ee minyak mentah dalam segala jenis sehingga mendapatkan added value dari minyak mentah itu sendiri. Nah itu kelemahan kita. Yang terakhir terkait dengan apa sumber minyak, Pak, tentang sumur-sumur kita. Ee dari sekian banyak sumur yang dimiliki, yang informasi yang kita dapat hanya berfungsi 40%, Pak, dari produktivitasnya. Dan itu pun ee sumur itu sudah mulai mengalami penurunan dalam cadangan minyaknya. Nah ini kira-kira gimana itu, Pak? Kemudian apa memproyeksikan eh swasembada energi dalam 5 tahun itu kalau Bapak optimis nanti tolong dijelaskan ada upaya-upaya yang luar biasa enggak. Kalau kita lihat dari kondisi existing seperti tadi, saya rasa itu sulit untuk memenuhi apa 5 tahun lagi itu kita bisa tidak mengimpor minyak. Yang kedua tentang metode komunikasi, Pak, tata kelola dari pihak Pertamina ini. Saya melihat akhir-akhir ini kok ee pola komunikasi ke publiknya agak perlu dibenahi, Pak. Ee ini kita lihat seperti kejadian kemarin ee ketika Kejaksaan Agung merilis kasus korupsi di ee anak perusahaan Pertamina terkait dengan eh pidana korupsi tata kelola minyak tahun 2018-2019. Kemudian ada isu terkait apa juga oplosan, RON 92 ini kan isunya ke mana-mana, Pak, menjadi liar. Kemudian terjadi persepsi negatif dari masyarakat terhadap Pertamina. Nah di situ Bapak agak terlambat, Pak, memberikan klarifikasi sehingga kami sempat e apa bersama Komisi 6 PDI Perjuangan sempat mengunjungi salah satu apa SPBU, kemudian kita fact finding di situ. Kita tanya salah satu dari apa eh yang mendampingi dari Patra Niaga mengatakan bahwa ada apa pergeseran konsumsi Pertalite sekitar 10%, Pak. Ini untung saja Pertamina menguasai pasar minyak kita di atas 90% di Indonesia. Coba kalau misal seimbang, bisa lari semua, Pak, ke produk minyak yang lainnya. Nah ini yang saya maksud, tolong itu dibenahi, cepat diklarifikasi, kemudian dinetralisir, jangan sampai isunya berkembang ke mana-mana. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan, pimpinan. Waktu saya serahkan kembali. Terima kasih.

Terima kasih. Selanjutnya Teteh mau sekarang atau nanti? Teh sudah on enggak, Teh? Oh oke. Baik, Pak Mulyadi, silakan. Cief Mul. Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi taala wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Terima kasih Ibu Ketua dan Bapak-bapak Wakil Ketua serta rekan anggota Komisi 5 yang saya hormati. Bapak Direktur Utama Pertamina. Selamat sore, Pak, beserta seluruh jajaran Pertamina. Tetap semangat, Pak, di tengah badai. Kita bersama, Bapak. Jadi izin Gus, mkti kalau Bapak tadi prolognya innalillahi wa innaaii ilaih rajiun, saya prolognya alhamdulillahi rabbil alamin, Pak. Kenapa saya dulu diberi kesempatan di periode 2009-2014 di Komisi 7, Pak, di Komisi 7 mitra kerja Menteri ESDM, di dalamnya juga ada Pertamina. Pada saat tata kelola dan semua kebijakan itu saya mensinyalir memang terindikasi ada mafia migas. Maka waktu itu saya mencetuskan ide tata kelola energi Indonesia harus melalui proses revolusi energi. Kenapa? Alhamdulillah, karena alhamdulillah hari ini indikasi mafia migas itu terbukti. Bahkan lebih menyedihkan lagi itu ada kolaborasi eksternal dan internal. Jadi saya kira ke depan kalau misalnya genderang perang terhadap mafia migas dan segala macam mafia yang hari ini genderang perang itu sudah dipukul oleh Presiden kita untuk membersihkan negara ini, maka kita semua harus mendukung e Pertamina ya. Kenapa? Karena hari ini terklarifikasi bahwa mafia migas sudah terbukti ada dan kita apresiasi bahwa ruang untuk menyelidiki temuan-temuan itu terbuka lebar. Maka kita apresiasi, Pak Dirut ya. Di samping selamat, kami mensupport Bapak, ta seluruh jajaran, dan terpenting juga kami ingin ke depan Bapak juga melibatkan jajaran komisaris, Pak ya. Kenapa? Karena saya kira kalau ada mantan komisaris teriak-teriak di luar bahwa itu harusnya bisa dilaksanakan dari dulu, saya justru pertanyakan mereka. Mereka menikmati tidak itu fasilitas dan gaji sebagai komisaris? Nah itu dia, tapi kenapa teriak-teriak padahal di undang-undang perseroan terbatas komisaris tugasnya mengawasi ya dan mengamankan kepentingan pemegang saham supaya perseroan tidak keluar dari jalurnya. Nah kalau sekarang teriak-teriak di luar, terklarifikasi ini orang cuma cari panggung atau apa ya. Tapi fasilitas dan gaji dan seterusnya dia terima. Saya kira pimpinan ini juga mengklarifikasi. Bagaimana tata kelola eh defisit konsumsi minyak kita itu harus diriset juga, pimpinan ya. Kenapa? Karena saya kira ini mengklarifikasi bagaimana ada indikasi-indikasi, bukan indikasi lagi ya, temuan kebocoran-kebocoran dan peluang-peluang sehingga penyelewengan itu terjadi. Jadi kalau bahasa mindset awal adalah revolusi mental, maka tata kelola berikutnya adalah bagaimana kita mengaudit operasi Pertamina ya, Pak Dirut. Saya kira juga harus mulai kalau Bapak sekarang bikin desk dan seterusnya, saya kira juga harus mulai ada tim untuk mengaudit operasi, baik dari pengadaan, distribusi dan seterusnya sehingga clear bahwa SOP yang akan dilaksanakan itu betul-betul memenuhi standar terbaik, Pak. Jadi kejahatan, kalau kalau kata Bang Napi itu terjadi karena dua hal: karena ada niat dan kesempatan. Maka tutup itu semua sehingga itu bisa apa tidak bisa terjadi lagi di kemudian hari. Kemudian, Pak, saya mengingatkan juga terkait eh roadmap Pertamina terutama terkait ketahanan energi nasional seiring dengan janji Presiden kita. Saya kira saya sudah baca, Pak, terkait program kerja Bapak, cuman kalau di kalau bisa kami juga minta ada semacam timetable, Pak. Karena kami mengapresiasi tentang dual growth strategi yang eh Bapak laksanakan ke depan, tapi kami minta ada timetable, Pak, di rot. Kenapa? Karena kami bisa ikut monitor, Pak. Karena paparan-paparan ini buat saya me apa membuktikan bahwa Bapak memahami bagaimana ke depan ketergantungan kita terhadap energi fosil dan seterusnya dan upaya-upaya EE terhadap apa namanya dekarbonisasi juga mulai ee terlihat. Terakhir, Pak, saya tidak panjang lebar, Pak. Kami menguatkan saja bahwa riset manajemen penting, Pak. Tapi dalam konteks pelayanan tadi sudah saya sampaikan bahwa kita berhadapan dengan masyarakat yang harus diberikan pelayanan terbaik, Pak. Gonjang-ganjing ini juga bisa menimbulkan distrust terhadap keberadaan perseroan. Maka untuk rebranding kembali dan seterusnya, kami kira juga setuju bahwa ada upaya untuk memperbaiki komunikasi publik, Pak. Kenapa? Karena setiap hari Bapak adalah backbone ekonomi Indonesia, Pak ya. Terbayang kalau proses pengadaan, distribusi dan seterusnya Bapak tersendat, maka ekonomi tersendat. Maka saya kira jabatan strategis yang Bapak emban bersama tim harus betul-betul fokus bagaimana ada upaya pembenahan, ada upaya optimalisasi, dan ada upaya pengembangan. Itu saja, pimpinan, sebagai bagian dari sharing. Terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi taala wabarakatuh. Warahmatullahi wabarakatuh. Saya minta izin tehik dulu, boleh enggak? Kasihan handphone-nya udah demam. Handphone-nya udah on, boleh enggak, Pak Hilmi? Maaf ya, boleh enggak? Kalau enggak boleh saya ke Pak Hilmi. Oke. Enggak boleh ya? Pak Hilmi dulu. Enggak boleh katanya. Sono sini masalah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Ketua Komisi 6, peserta anggota yang saya hormati di Pertamina beserta anggota. Jadi pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Pertamina atas kinerja persiapan tentang Nataru ini, Pak, eh Lebaran ini. Kesiapannya tentang penyediaan bahan bakar untuk masyarakat di Indonesia ini udah sangat tercukupi, sampai ada yang 21 hari, ada yang 20 hari. Itu adalah kinerja yang patut saya hargai dan saya banggakan. Dan yang kedua, Pak, saya di sini nih tadi masih mendengar istilah BBM oplosan, oplosan. Padahal itu kan tidak ada. Udah diterangkan bolak-balik dari teman-teman dari 10 tahun yang lalu kita duduk di Komisi 6, tidak ada pernah konsumen yang mengeluh tentang produk-produk Pertamina yang dipakai di mobil kita. Produk Pertamina adalah produk yang bagus, tetapi di sini masih ada istilah oplosan, istilah apa? Bling. Padahal tiap Pertamina produksi itu ada yang namanya Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi. Tiap barel mau masuk ke pom bensin, dia hasil dari kilang kita periksa. Kok masih ada yang bilang peristiwa oplosan-oplosan aja? Kalau itu terjadi, berarti mobil kita yang 10 tahun kita pakai sampai sekarang kita belum ganti udah rusak. Kalau Pertamina melakukan itu. Jadi saya berharap kita ini harus memberi publik yang baik karena kita wakil rakyat juga. Ada apa itu BBM dari perusahaan yang lain, banyak pilihan. Tetapi selama kita pakai produk-produk Pertamina ini kan enggak ada pernah bermasalah. Jadi saya berharap kinerja Pertamina yang bagus ini kita harus hargai. Dan terima kasih Pak Simon, dengan masuknya Bapak selama 3 bulan jadi Dirut Pertamina dan Pak Prabowo bisa jadi Presiden, penegakan hukum ditegakkan dengan benar, maka saya percaya dengan Kejaksaan Agung untuk mengusut masalah ini berenderang. Jadi percayakan ke penegak hukum kita. Sebagai politikus, kalau nanti di penegakan hukum itu memang terjadi tidak kebenaran, maka itu kita akan lanjutkan bagaimana tindak lanjutnya. Ti saya percaya bahwa penegak hukum kita melalui instruksi dari Presiden kita akan ditegakkan dengan benar. Jadi itu saja Bu Ketua dari saya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Pak Simon atas kinerja yang baik. Semoga ke depan Pertamina makin jaya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ya, silakan Teteh. It's yours. Pak itunya belum mati, Pak Kanang. Mik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Yang saya hormati Pimpinan dan anggota Komisi 6 DPR RI, yang saya hormati Direktur Utama PT Pertamina Persero beserta seluruh jajaran. Pak Simon, dari tadi Pak Simon tidak tersenyum, sepertinya tegang sekali. Padahal tadi sudah disampaikan oleh Pak Nasir bahwa dengan hadirnya Pak Simon, semuanya bergetar, Pak. Ya, semua ee tanda kutip pemain-pemain juga ikut bergetar begitu. Dan semua jajaran direksi Pertamina saya juga yakin ikut bergetar dengan kehadiran Bapak. Dan kalau enggak percaya, Bapak lihat saja tuh ke belakang, semuanya pucat hari ini. Bahkan kita, bahkan kita semua sampai susah untuk bicara, kering, Pak, karena lagi puasa. Jadi alasannya itu. Kenapa? Mati ini ya. Oke, lobet. Enggak apa-apa. Ada ini. Nah, eh pimpinan yang kami hormati, tadi ada beberapa persoalan terkait dengan indikasi korupsi dan hal lainnya. Eh kita juga mendukung para penegak hukum tentu saja untuk melakukan ee penegakan hukum seadil-adilnya begitu. Tapi di sisi lain, Pak Simon, saya akan tetap konsisten bahwa kinerja Pertamina khususnya dalam penyediaan, pendistribusian dan seterusnya itu eh adalah juga terkait dengan aturan hukumnya dan persoalan energi, Ma BBM maupun itu LPG dan sebagainya, LNG. Bukan hanya persoalan bagaimana rakyat bisa terpenuhi kebutuhan energinya, tetapi persoalan energi adalah persoalan pertahanan dan kedaulatan negara sebetulnya. Dan itu berulang kali disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto sehingga ada komitmen yang kuat dari Presiden untuk bagaimana kita bukan hanya mandiri di bidang ekonomi begitu yang dicirikan dengan salah satunya adalah daulat di bidang energi. Dan kita tentu sangat mendukung bahwa ada keputusan secara bertahap dihentikannya impor BBM. Selanjutnya adalah saya ingin ee bertanya ini karena kerja Bapak beserta seluruh jajaran direksi itu tergantung dari aturan hukum yang mengatur karena kita negara hukum. Tidak mungkin tidak ada payung hukumnya yang menjadi apa fokus dari kami, saya khususnya adalah setelah ramai-ramai ini ini juga membuka satu fakta bahwa persoalan bagaimana BBM itu tidak tepat sasaran juga adanya indikasi carut-marut di dalam tata kelola Pertamina begitu. Dan EE karena itu pertama saya masuk ke Perpres, Perpres 191 tahun 2014 tentang penyediaan, pendistribusian ee dan harga jual eceran BBM. Di pasal 2-nya jenis BBM yang diatur adalah BBM jenis tertentu, BBM khusus penugasan dan BBM umum. Pasal 3-nya ini ee kemudian adalah BBM tertentu, minyak tanah, minyak solar, yang khusus penugasan bensin RON dengan 88, Pak, masih RON-nya 88. Saya sudah bertelepon dengan Pak Simon ya, Pak ya. Tolong Bapak perhatikan ini dan memberikan. Betul, Pak, betul. Saya ini ada Perpres-nya, Pak, Perpres-nya. Ini yang diendus karena ini Perpres lama 2014 sehingga masih RON minimal 88. Nah kemudian ketika terjadi kekurangan apa namanya tuh kualitas atau RON-nya di dalam yang isu sekarang ini e terjadi. Saya kira juga ini yang enggak. Kalau kemudian diimpor dengan RON yang rendah dan seterusnya. Ya karena memang dasar hukumnya memungkinkan untuk itu. Kemudian tentang LPG adalah Perpres 104 tahun 2007 yang direvisi dengan Perpres 70 tahun 2021 tentang perubahan Perpres 104 tentang penyediaan, pendistribusian, penetapan harga LPG tabung 3 kg. Pasal 8, Bapak, penyediaan dan pendistribusian atas volume kebutuhan tahunan LPG tabung 3 kg dilaksanakan oleh badan usaha melalui penugasan oleh Menteri, Menteri yang terkait tentunya. Nah, pertanyaannya adalah eh Pertamina artinya bukan penentu siapa yang ditunjuk untuk penyediaan dan pendistribusian gas 3 kg tersebut. Ya betul, Pak ya. Kalau begitu ya mungkin ada yang lebih memahami dari sisi payung hukum. Izin pimpinan, berarti kan itu ada badan usaha. Betul kan, Pak, yang pendistribusian dan penyediaan e kebutuhan tahunan LPG karena dasar hukumnya seperti itu. Ada yang paham dasar hukum di sini? Dari Pertamina, ada yang paham dasar hukumnya? Dasar hukum jadi pendistribusian BBM itu penyediaan, pendistribusian dan harga itu itu ada dasar hukumnya. Ini saya tanya serius loh, saya nanya serius kok enggak ada enggak ada yang paham dasar hukumnya gitu ya. Ini saya lagi bicara. Maaf pimpinan, pimpinan ini saya tanya ini karena pasal Perpres 104 kalau enggak Pak Herman dulu ah, saya skip dulu. Silakan, gak apa-apa. Pak Herman saja dulu. Enggak, soalnya jadi gak, Pak Herman. Maaf karena saya tanya ini masalah serius ya bahwa pendistribusian harga gas itu kalau di tidak sesuai dengan yang di oleh Corporate Secretary. Eh Pak PJ, PJS Corporate Secretary. LPG 3 kg 18.000, LPG 5,5 kg 80.000, 12 kg 194.000. Tapi di lapangan kemungkinan harganya lebih dari yang ditentukan dengan berbagai faktor sama-sama minyak goreng. Nah, penyediaan dan pendistribusian ini ada aturan hukumnya yaitu Perpres nomor 70 tahun 2021 yang merupakan revisi dari Perpres 104 tahun 2007 tentang penyediaan, pendistribusian dan penetapan harga LPG 3 kg. Di pasal-nya di situ disebutkan bahwa pendistribusian dan penyediaan itu dilaksanakan oleh badan usaha Perpres. Bukan saya ngomong melalui penugasan oleh Menteri, ini Menteri ESDM berarti ya, Bapak. Betul, Menteri ESDM. Pertamina atau Pertamina Patra Niaga menyalur kepada perusahaan yang sudah diputuskan oleh Kementerian. Betul, Pak ya? Tidak seperti itu. Alurnya seperti apa? Izin pimpinan, mohon izin. Betul bahwa dasar penyaluran BBM untuk JBT, JBP atau penugasan dan subsidi Perpres 191 2014 untuk LPG adalah Perpres 104 2007. Penugasan oleh Kementerian terkait dalam Menteri ESDM kepada badan usaha yang dimaksud. Badan usaha di sini adalah badan usaha Migas dalam hal ini Pertamina. Ini jadi di oleh Pertamina sendiri, oleh Patra Niaga. Kementerian ESDM menunjuk Pertamina dan Pertamina menugaskan ke Pertamina Patra Niaga. Berarti inilah nyambung eh dengan isu tadi sudah disampaikan indikasi monopoli LPG ya, yang terkait juga dengan LPG non-subsidi. Hasil temuan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha begitu. PT Pertamina Patra Niaga terindikasi monopoli di pasar LPG non-PSO untuk dikemas ulang dengan harga tinggi sehingga akhirnya konsumen beralih ke LPG 3 kg. Pada 2024 Pertamina Patra Niaga untung 10 kali lipat di angka Rp 1,5 triliun dari penjualan non-subsidi dibanding laba LPG subsidi. Ini nanti mohon penjelasannya, tidak perlu dijawab langsung. Yang kedua adalah mengenai eh penyelewengan. Ada beberapa penyelewengan, kasuistik solar subsidi di Kolaka, Sulawesi Tenggara dengan kerugian Rp 5 miliar oleh pegawai PT Pertamina Patra Niaga mengangkut BBM. Mobil pengangkut BBM-nya ini canggih banget dibelokkan, Pak, ke gudang penimbunan begitu sehingga harga dijual dari Rp 6.800 menjadi Rp 19.300. Lalu di Tuban dari Dapil saya, Karawang ini juga solar subsidi yang harusnya Rp 6.800 dijual Rp 8.600 per liter. Artinya memang ada masalah di dalam tata kelola dari mulai penyediaan sampai distribusi sampai kemudian diterima oleh konsumen yaitu rakyat Indonesia. Saya kembali pada persoalan eh Pertalite dan Pertamax tadi, dasar hukum ya, dasar hukumnya. Dengan demikian ee tentu saja ini adalah wewenang ESDM. Di rapat tanggal 3 Desember 2024 kita bertemu pertama kali, Pak Simon. Saya sudah meminta bagaimana perkembangan dari revisi atas Perpres tersebut. Kenapa Perpres ini menjadi penting? Tadi memang sudah tidak relevan dalam beberapa pasal begitu dan juga ini memberikan semacam legasi bagi Presiden Prabowo, persoalan energi. Jangan dianggap enteng, energi khususnya energi subsidi ini adalah terkait dengan amanat konstitusi bahwa negara melindungi eh fakir miskin dan anak-anak terlantar begitu. Ketika ini norma hukumnya Perpres ini adalah suatu pemberian mandat konstitusi kepada Presiden. Jadi tidak bisa kalau ada yang beranggapan bahwa ya enggak perlu sampai Presiden, cukup surat Dirjen saja. Enggak paham konstitusi, makanya kuliah, skripsi, disertasinya jangan nyontek ya, Pak Simon, sehingga kemudian paham mana yang mewenang Presiden, mana yang bukan. Eh enggak, kita cuman curhat. Nah sehingga saya berharap juga ada masukan dari sampai di mana ini kita. Saya sendiri sudah tiga periode artinya di sini nih Perpres minta diubah, enggak diubah-ubah. Ada apa sebenarnya? Kemudian yang tadi juga sudah disampaikan, tapi saya ingin soroti adalah proyek digitalisasi SPBU Pertamina, Telkom sudah masuk dalam penyidikan senilai Rp 3,6 triliun pada tahun 2018 sampai dengan 2023. Tadinya tujuannya adalah untuk mengendalikan subsidi dan kompensasi pemerintah untuk BBM Pertalite dan Biosolar.

Investasi dari PT Telkom nanti tolong dijelaskan, boleh tertulis, Pak? Datanya bagaimana? Model investasi penting ini untuk Pak Simon sebagai Dirut yang baru. Yang lain ini saya lihat wajah-wajah lama. Eh, 5 tahun Pertamina harus bayar per liter BBM ke Telkom. Ini dari e-penelusuran pemberitaan. Jadi, cara investasinya atau kerja samanya, 5 tahun Pertamina bayar per liter BBM Rp 5,25 ke Telkom. Selama 5 tahun sementara konsumsi nasional, kalau hari ini ya, tapi kira-kira age-nya salah, pertalite itu 82 sampai 5.000 KL per hari, betul ya, Patr Niaga ini? Saya info dari orang Patr Niaga juga. Kemudian Pertamax kurang lebih 22.000 KL per hari. Bisa dihitung kalau per liter itu dipotong oleh e-Telkom senilai Rp 1,25 per liter per hari dengan alasan membangun aplikasi untuk keakuratan data penerima subsidi dari 2018-2023. Gak masuk akal, semahal itukah membangun aplikasi? Dan apa hasilnya? Hasilnya data tetap berantakan, subsidi BBM tetap tidak tepat sasaran. Kita juga tahu tidak tepat sasaran, dan kemudian ada kerugian negara. Dan info dari teman-teman pemilik SPBU, yang tadinya margin SPBU per liter Rp 230/liter, gara-gara proyek ini lalu kemudian jadi Rp 200 per liter. Nah, ini penting. Mudah-mudahan ada aparat penegak hukum yang juga mendengar statement saya ini, sehingga Pertamina kan tadi dipotongnya Rp 15,25 per liter. Ada uang Rp 30 per liter, dikurangi Rp 15,25 per liter untuk bayar Telkom, ada margin masih Rp 14,75 per liter. Ini masuknya ke mana, Pak Simon? Nanti Pak Simon, ini kan baru di sini nih. Ini kasus tahun 2018 sampai 2023, tapi ini menjadi temuan yang akan memberikan efek domino, termasuk juga data penerima subsidi BBM. Saya ngobrol dengan beberapa teman Pertamina, dengan alasan ini ada Mbak yang di belakang ya, siapa namanya, gak lupa ya, bahwa Pertamina tidak menggunakan dana eh data Bansos dari institusi yang lain, tapi menggunakan siapapun yang daftar pakai KTP. Ini aja udah salah. Tapi ini bukan, bukan kalau dianalisis, bukan sekedar karena tidak ada data yang akurat. Apapun gunakanlah data dari Kemensos. Sehingga kalau ada kesalahan, kita ramai-ramai perbaiki data Kemensos. Kalau kemudian data penerima subsidi itu pakai siapapun yang daftar dengan KTP, ya pasti salah sasaran. Orang, Anda dengan sengaja kok nih, teman-teman di Pertamina menggunakan datanya adalah data yang siapapun yang daftar. Begitu sudah terjadi seperti sesuatu yang tidak sengaja, tapi sistematis. Dan kalau dihitung bahwa ada margin Rp 14,75 per liter, apakah ini ada indikasi permainan untuk margin tersebut? Nah, kemudian, Cup, saya kira eh, Mbak Jawa 1 Power Cilamaya itu daerah pemilihan saya. Mungkin nanti Ibu Ketua kapan-kapan bisa ikut. Itu adalah salah satu daerah pengirim TKI, Pak. Di situ ada Pertamina dengan bisnis yang cukup besar. Saya mohon juga ada perhatiannya secara khusus. Dan sekali lagi nih, sekali terakhir ya, Mbak, ini saya nunggu tadi juga lama, ada saya tanggal 3 Desember nih. Jangan pikir anggota Komisi 6 tuh ya, teman-teman ini yang tukang bikin jawaban dari Komisi 6. Siapa yang bertugas di sini? Izin, Pak Simon, siapa? Pasti bukan, pasti Ma, jawaban tertulis yang kita kirim, Bu? Iya, yang tertulis tuh siapa? Dari BOD support, bodong, Pak, ya? Kita tuh, saya pribadi tidak oon beneran, Pak. Jadi saya jawab, baca betul jawaban saudara-saudara ini. Ini kayak mempermainkan pertanyaan saya di 3 Desember 2024. Dan tolong kali ini siapkan dengan baik, adalah sampaikan data rincian impor. Gak, enggak bisa pakai crude oil. Ya udahlah, minyak mentah, LPG, LNG 2021 sampai 2024. Minta data rencana impor minyak mentah, LPG, LNG 2025 sampai 2059. Minta rincian data BPP minyak mentah Indonesia yang dari Indonesia dan data BPP minyak mentah impor. Karena untuk Pertalite 45 sampai 50% impor, dan untuk Pertamax 70 sampai 80% impor. Jawabannya Pak, cuman seperti ini, berikan daftar tertulis jawaban melakukan impor minyak mentah dengan top, disebutkanlah perusahaannya. Tapi oke, saya sampaikan perusahaan yang mengimpor minyak ke Indonesia. Jadi tadi beberapa teman mengatakan karena kami mencintai Pertamina, karena kami memiliki nasionalisme, maka kami tetap menggunakan minyak dari BBM Pertamina, sementara termasuk dari S ini, top del supplier trader yang jawaban Pertamina, TotalEnergies, Energy Trading, Chevron, Glencore Singapur, Vitol Asia, ExxonMobil Asia, Internal Comp, dan Soar Trading Singapur. Impor semuanya ya. Jadi dengan demikian, saya minta jawaban juga terkait tadi beberapa hal, Pak, tertulis yang seriuslah, Pak. Jawaban cuman selembar begini, Pak. Bagaimana mau analisis? Sedih saya, Pak, sedih. Ini pertanyaan saya dari September 2022, silakan teman-teman Pertamina digiling. Saya minta data ini dibuka. Kalau dari waktu itu sudah buka ke publik data BPP dan data impor, saya kira tidak akan separah ini masalahnya. Demikian pimpinan, dengan ini saya juga memberikan dukungan kepada Presiden Prabowo untuk stop impor BBM, meskipun secara bertahap. Tapi itu komitmen penting. Segera revisi kedua Perpres dan mendesak eh Pertamina untuk menerapkan e-katalog. Kemudian mendesak penegakan hukum bagi siapapun yang terlibat dalam korupsi dan indikasi TPPU BBM, LPG, dan LNG, dan kemudian juga eh untuk praktik monopoli dari Pertamina Gas non-subsidi. Terima kasih. Mohon maaf kalau terlalu panjang. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam pokoknya belum sampai buka puasa aja sudah si, sudah n kotak, Kam bangso, silakan Pak Kanang. Pak Kanang, bagaimana? Kalau tidak terlalu panjang-panjang, nanti Mas singkat saja. Terima kasih. Terima kasih Ketua yang saya hormati, pimpinan yang lain, Pak Simon yang saya hormati, dan seluruh direktur. Memang ini kita, khususnya Pertamina yang awal orang pasti banggalah kalau menjadi karyawan eh Pertamina. Ini saya mimpi saya ini sebenarnya dulu juga menjadi karyawan Pertamina, tapi nasibnya berbeda. Krisis kepercayaan atau distrust yang terjadi ini memang memprihatinkan kita semua, tidak hanya masyarakat saja, tapi kita semua ini juga ada krisis kepercayaan tersendiri terhadap Pertamina sebagai pengawas yang kita, kita ketahui apa yang disampaikan tadi beberapa tentang digitalisasi yang itu juga muncul, kalau menurut saya ya, potensi korupsi yang luar biasa. Investasi bodong ya yang ada di blok BMP Australia, kemudian ada penggelapan dana pensiun. Ini memprihatinkan sekali, orang P digelapkan dananya. Jadi kalau kita melihat-melihat kilas balik ini, pengelolaannya memang makin hari makin tidak karuan, Pak. Kerugiannya makin hari makin tinggi, yang ini yang memprihatinkan kita semua. Nah, saya sebenarnya sangat berharap dalam situasi yang krisis anggaran sekarang ini, bermimpilah Pertamina ini menjadi cahayanya bagi negara. Bermimpilah menjadi energi untuk bangsa dan negara. Bermimpilah untuk membuat Pertamina ini menjadi lokomotifnya negara, Pak. Jadi ada energi di situ, ada lokomotifnya di situ, sehingga ini menjadi andalannya negara ini. Harapan kita sebenarnya. Nah, kalau kita sambung dengan rencana, rencana ke depan tentang danantara, harapan saya danantara ini disupport oleh Pertamina yang betul-betul bersih. Nah, maka harapan saya sebelum secara klik betul berkolaborasi dengan danantara, maka tugas Pak Simon ini untuk membersihkan, betul-betul clear, sehingga danantara ini mendapatkan sebuah apa namanya, perusahaan yang bersih, yang suci, yang seperti bayi lahir tidak punya dosa, sehingga akan dikelola menjadi lokomotif yang sebenarnya. Ini harapan kita, maka keberanian ini yang paling penting. Maka ini adalah Merah Putih yang harus ditunjukkan di depan kita semua. Virus-virus yang menjadikan kerugian negara harus dibersihkan. Bantu Jaksa Agung yang sekarang menangani kasus oplosan ini secara maksimal, Pak. Saya yakin Bapak mengerti alurnya ini ke mana saja. Saya yakin seyakin-yakinnya, bantulah. Nah, kemudian apa yang disampaikan oleh teman-teman kita, buat langkah-langkah yang strategis untuk membersihkan, mengoptimalkan, menyiapkan agar berkolaborasi dengan danantara secara sempurna. Nah, inilah yang paling sulit sehingga mimpi kita tadi menjadi lokomotifnya negara, Pertamina ini yang di situ juga ada energi akan mampu diciptakan khusus untuk ee lebaran. Saya kira saya nanti mohon juga ee nomor teleponnya siapa yang punya operator sebagai operator sehingga kita bisa kontrol semua di mana ada masalah-masalah di saat itu. Saya kira itu, Bu Ketua. Terima kasih. Selamat bekerja. Terima kasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wab. Waalaikumsalam. Terima kasih Mbah Kakung. Kemudian selanjutnya Pak Nengah, silakan. Terima kasih pimpinan, pimpinan yang saya hormati dan teman-teman Dewan Komisi 6 yang saya hormati, begitu juga direksi Pertamina beserta Subholdingnya yang saya hormati. Tadi teman-teman kita sudah banyak [Musik] mempertanyakan kenapa hampir semua perusahaan plat merah terjadi korupsi. Beberapa bulan lalu kita masih kaget dengan adanya kebakaran di Amerika ya, tetapi hari ini rakyat Indonesia termasuk negara-negara seluruh dunia kaget dengan adanya kebakaran di Pertamina. Kenapa? Penyebab utamanya korupsi ini dilakukan oleh direksi, top manajemennya. Yang artinya apa? Kalau Subah top manajemen melakukan korupsi ini, artinya dilakukan secara berjemaah, hampir semua terlibat. Yang kedua tentu nilai korupsinya sangat fantastik, 1000 triliun. Bisa dibayangin gak angka 1000 triliun? Nah, Pak Prabowo, Presiden kita beberapa hari lalu ketemu dengan Kejaksaan, Hakim, termasuk dengan guru-guru seluruh Indonesia ya. Beliau mengatakan bahwa korupsi terjadi barangkali karena gajinya yang tidak mencukupi, salah satu. Tetapi apa yang terjadi di [Musik] Pertamina? Di Pertamina kalau kita telusuri [Musik] gajinya hampir rata-rata direksinya mempunyai penghasilan 3 sampai 5 M. Nah, kalau kita kita bahasakan dengan makanan bergizi gratis buat anak-anak didik kita, satu direksi bisa membiayai 50.000 anak didik sekolah. Bisa dibayangin enggak? Nah, itu artinya apa? Artinya moral kita yang belum mencukupi untuk mengelola bangsa dan negara. Yang kedua, saya lebih menekankan lagi kepada tata kelolanya, karena sesuai catatan yang ada, korupsi ini terjadi dari tahun 2018 sampai 2023. Artinya waktunya sangat panjang. Pertanyaan saya buat Pak direksi, apa yang dilakukan oleh komisaris selama 5 tahun? Kami minta datanya. Apakah benar-benar melakukan pengawasan? Pengawasannya sejauh apa? Yang kedua tentu ada pengawasan di internal, seperti apa pengawasannya yang sudah dilakukan selama 5 tahun? Nah, ada juga pengawasan eksternal BPK, apa repotnya BPK selama 5 tahun? Kita khawatir selama 5 tahun ini juga ada terjadi kerjasama. Kalau tidak terjadi kerjasama, korupsi berjemaah tidak berlangsung sampai 5 tahunan, Pak. Ini prihatin saya, makanya saya sepakat tadi ada beberapa teman yang mengusulkan barangkali ada Panja, Pansus. Tetapi saya lebih mengusulkan adanya revolusi, revolusi terhadap kelembagaan dari Pertamina, bukan reformasi, revolusi, revolusi total. Artinya semua yang terlibat di dalam manajemen Pertamina harus diaudit ulang. Tidak ada istilah titipan lagi ya, yang memang benar-benar sudah terlibat harus dikeluarkan. Jangan seperti tadi bahasanya dibubarkan, Federal akhirnya masuk lagi ke manajemen Pertamina, muncul lagi persoalan yang sama. Nah, yang ketiga, yang terakhir biar tidak menghabisin waktu, mengenai tata kelola tentang ekspor impor. Gimana bisa terjadi, Pak? Ini pertanyaannya sangat sederhana kok, mengimpor Ron 90 dibayar dengan harga Rp [Musik] 92. Di Dapil kami banyak pertanyakan manajemennya Pertamina ini, manajemen beneran atau manajemen palsu? Karena sangat jelas itu manipulasinya. Mohon penjelasannya nanti kenapa ini bisa terjadi. Kalau seandainya benar-benar Pertamina melakukan manajemen GCG-nya dengan baik, saya kini Pertamina tidak akan mengalami persoalan seperti ini. Nah, terakhir, Pak, saya kebetulan Dapilnya dari Bali. Bali itu adalah senternya pariwisata. Beberapa bulan lalu Bali itu mengalami kelangkaan BBM itu menjelang tahun baru ya. Masyarakat sering mempertanyakan kita mau beli BBM ya dengan menggunakan barcode, antriannya juga berjam-jam. Sementara di pihak lain direksi Pertamina berpestapora dengan korupsinya. Itu prihatin sekali kita mendengar apa yang dibahasakan masyarakat. Nah, tentu khusus untuk ketersediaan BBM di Bali, mohon diperhatikan dengan baik. Bali itu baru motornya dunia, bukan hanya nasional, dunia. Karena begitu ada antrean, kemacetan pasti muncul komplain-komplain terhadap wisatawan, itu luar biasa, Pak. Beginikah Indonesia mengelola Pertamina sampai sebegitu komplainnya wisatawan yang ada di Bali? Nah, barangkali itu. Terima kasih. Sudah kirain masih ada yang mau diomongin. Pak Herman, silakan. Ah, ini agak gawat nih, hati-hati tes, ini, ini putus, mana ini ya. Terima kasih Ketua dan para Wakil Ketua yang saya hormati, anggota Komisi 6, Pak Simon, Direktur Utama Pertamina bersama para direksi di holding, para Dirut Subholding, Bapak Ibu sekalian yang saya hormati. Pertama tentu kita harus mengacu kepada misi Presiden Prabowo Subianto bahwa kita ingin menuju kepada swasembada energi. Kita ingin bahwa kebutuhan BBM yang 1,4 juta barel per hari itu betul-betul dipenuhi oleh kemampuan dalam negeri. Ini dulu yang harus menjadi tujuan kita bersama. Nah, yang kedua, selama tidak terpenuhi, tentu juga kita harus mampu bagaimana mempersiapkan diri. Bahkan saya sering menyampaikan, bagaimana kalau geopolitik kita, geostrategi global yang kemudian menyebabkan Cina Selatan, Selat Sunda, Selat Malaka, maupun jalur akses masuk lainnya menjadi persoalan, sedangkan kita hanya mampu mempersiapkan untuk 21 hari. 21 hari bukan waktu yang lama gitu-gitu. Jangan-jangan kita diblokir 21 hari, kita tidak bisa memenuhi ketahanan energi kita dan kita tidak bisa apa-apa, gustak semua negara, semua kegiatan bisa berhenti. Nah, ini yang harus menjadi mindset kita sehingga apapun yang terjadi, jangan-jangan ini ada PRSI, ada proksi. Saya kira pemikirannya Pak Simon mungkin bisa sependapat dengan saya, berbagai kasus yang kemudian terblow up begitu hebat, jangan-jangan ada PRSI di dalamnya yang kemudian ini memperlemah terhadap institusi negara yang selama ini memang dipersiapkan untuk memenuhi kedaulatan energi. Itu termasuk kedaulatan pangan, kedaulatan air, dan tujuan negara lainnya. Meja kita ini meja untuk bisa menuju kepada tujuan negara, semua di sini, baik eksekutif maupun legislatif. Oleh karenanya, berbicara persoalan masa depan ya harus menjadi tanggung jawab kita bersama di sini itu. Dul, menurut saya dasar pemikiran kita yang kedua ada keinginan besar bahwa Indonesia memiliki, saya setuju tadi danantara, bagian tidak terpisahkan dari rapat ini, karena bagaimanapun sumber pembiayaan danantara adalah deviden dari setiap pengelolaan BUMN yang ada di bawah yang dikelola baik langsung oleh eh Kementerian BUMN maupun secara tidak langsung di bawah danantara. Semakin efektif, semakin efisien, semakin besar laba yang diperoleh oleh Pertamina dan semakin besar deviden yang diperoleh, maka semakin kuat investasi kita. Nah, kalau kemudian BUMN-nya terganggu dengan berbagai persoalan internal yang kemudian sesungguhnya sudah diproses dalam rana hukum, lantas kita seperti akan dibunuh dalam bisnisnya, menurut saya juga patut dicurigai ini ada proksi, betul enggak, Pak Simon ya? Nah, ini yang harus, harus kita bicarakan. Oleh karena itu juga, berbicara persoalan kasus hari ini di Pertamina juga kita harus mencoba memisahkan mana yang ini diproses secara hukum, mana yang menjadi tanggung jawab kita, Pertaminanya menjadi tanggung jawab kita. Jangan sampai kemudian kekuatan Pertamina yang selama ini mampu menguasai di hilir, mampu menguasai konsumen seluruh Indonesia akhirnya melemah. Kalau melemah di sektor hilir akan melemah di sektor shipping, akan melemah juga di kilang karena dikuasai pihak lain. Ini juga harus jadi pemikiran kita. Nah, semakin kuat kemarin, semakin keras saya lihat tamparan kepada Pertamina, saya justru semakin merasa oh saya harus membela Pertamina gitu pada sisi itu gitu ya. Namun pada sisi hukumnya tetap bahwa siapapun yang melanggar aturan, siapapun yang menabrak hukum ya harus diproses sesuai dengan pelanggarannya. Ini menurut saya itu harus dipisahkan sehingga kita tidak mencampur adukkan antara proses hukum yang sedang berlangsung yang nanti akan lebih terang benderang oleh aparat penegak hukum dan kami dukung bahwa siapapun yang melanggar hukum, siapapun yang korupsi di Pertamina, silakan geret ke rana hukum dan hukum seberat-beratnya supaya ada unsur jerak gitu. Namun pada sisi lain, ayo selamatkan Pertamina kita gitu. Bagaimanapun ini adalah aset negara yang secara ccle ini juga sangat menentukan terhadap masa depan nasib bangsa baik dalam kedaulatan energi maupun dalam kecukupan investasi yang nanti akan dikelola di danantara. Saya masih ingat sejak tahun 2016 bahwa dibentuk Subholding ini yang nanti sangat erat kaitannya mungkin dengan roadmap yang saya justru hari ini ingin menjadi salah satu kesimpulan. Pak Simon sebagai Direktur Utama yang baru juga komisarisnya utamanya baru, mudah-mudahan komisaris yang baru aktif gitu dan tidak terlalu banyak kar-kar sehingga fokus melaksanakan kegiatan usaha bisnis ini betul-betul juga sinergi dengan sistem pengawasan yang merupakan tupoksinya komisaris. Nah, 2016 itu saya pertanyakan, apakah dengan pembentukan Subholding ini juga akan lebih efisien, akan lebih efektif, akan lebih menghasilkan benefit yang lebih, lebih baik terhadap Pertamina atau atau ini bahasa saya atau membentuk kerajaan-kerajaan baru? Dan pada waktu itu sebetulnya saya melihat ada indikasi ya, ada indikasi hubungan antara kebijakan Direktur Utama holding atau direksi holding dengan para direksi di Subholding ini ada sesuatu yang saya pertanyakan gitu. Sepertinya ada kerajaan-kerajaan baru yang dibentuk. Ini ini saya infokan kepada Pak Simon, maka itu jangan ada kekuatan-kekuatan di atas kekuatan holding sehingga Subholding bisa dikendalikan siapapun. Terbukti hari ini, terbukti hari ini ketika ada masalah bahwa ada rangkaian antara Pertamina Patra Niaga sebagai penyalur di sektor hilir sebagai distributor sebagai ee penyalur BBM. Pada sisi lain juga ada hubungan yang erat kaitannya dengan Pertamina Shipping, kemudian ada juga permainannya di kilang. Ini sudah saling, saling melingkar menurut saya dulu. Jangan-jangan pembentukan Subholding tidak terlepas dari keinginan untuk bisa mencapai persoalan ini karena kalau 2016 mulai digagas, 2017 mulai efektif, 2018 mulai terjadi persoalan ini gitu, pas jadi ini sebuah rangkaian yang menurut saya pasti ada kaitannya. Silakan Pak Simon nanti pelajari lebih lanjut. Oleh karena itu saya sebetulnya ingin mengkaitkan persoalan ini dengan roadmap atau Renstra Pertamina Holding terhadap kinerja Subholding ke depan. Jadi mungkin setelah lebaran nanti rapat dengan Pak Simon kita bahas roadmap ataupun Renstra kepemimpinannya Pak Simon dan kawan-kawan di Pertamina. Apakah melanjutkan roadmap dan Renstra yang bunyi ke buat sebelumnya termasuk membangun kapal-kapal eh semut yang kecil-kecil di semua sentra-sentra untuk mengangkut gas dan BBM, ataukah ada Renstra baru yang ini bisa lebih prudence untuk tidak terjadinya kasus-kasus yang ada di Subholding? Karena kalau di Pertamina Holding saya kira sudah tidak teknis lagi karena teknisnya ada di Subholding sekarang. Nah, oleh karena itu ini yang kemudian saya meminta agar lebih ee memastikan langkah-langkah ke depan adalah dengan roadmap dan Renstra kepemimpinannya Pak Simon. Yang kedua, saya setuju tadi bahwa jika ada kasus-kasus mohon lebih baik klarifikasi lebih terbuka, lebih cepat, lebih akurat, tepat narasinya, komunikasinya juga baik. Jangan menggunakan buzzer-buzzer yang kontraproduktif. Saya masih melihat ada buzzer-buzzer yang kontraproduktif, buzzer ya yang kontraproduktif sehingga ini menambah ketidakpercayaan publik, distrust publik terjadi karena komunikasi yang tidak efektif. Saya terima kasih pada waktu itu saya jujur saya memaksa kepada Pak Tio, Pak Tio, kapan Pertamina Pak Simonlah langsung bicara ke publik untuk menjelaskan duduk perkara dan menjelaskan secara terang benderang persoalan kasus ini. Minta maaf enggak apa-apa, baik, justru adat ketimuran kita ketika ada masalah minta maaf itu baik. Saya ditanya oleh media ini, permintaan maaf ini apakah penjelasan atau mempertegas atas terjadinya kasus? Saya kira permintaan maaf itu kepada publik terjadinya persoalan ini itu adalah langkah yang baik. Nah, ini menurut saya penting ya terkait dengan bagaimana komunikasi politik, data, transparansi, dan akuntabilitas. Saya pimpinan BUMN selalu menyarankan kepada teman-teman yang saya undang bahwa enggak perlu lagilah ada yang disembunyikan. Seperti yang diminta Teh Rik tadi, masalah data, kasih saja persoalannya apa sih gitu. Pak Simon sebagai orang baru, kasih saja. Kalau ada yang disembunyikan, ganti aja gitu. Jadi apa sih gitu? Karena dimulai dari itu gitu, dimulai dari data. Semakin banyak disembunyikan data, oh ini kalau dibongkar nanti akan rentetan itu. Semakin menyimpan bom waktu, sekali waktu akan terjadi sebuah pergerakan moral, etika yang sangat kuat, maka akan terbongkar lebih besar lagi persoalannya. Oleh karenanya menurut saya persoalan data, kasih saja gitu. Sepanjang bahwa itu bukan kerahasiaan negara, karena di dalam sebuah undang-undang kerahasiaan negara memang dilindungi, tetapi sepanjang bawa itu adalah publik data, siapapun kalaupun rahasia karena kita ini adalah juga bagian tidak terpisahkan dari kerja-kerja negara, maka ya disebut saja bahwa data ini konfidensial, Teh Rik, data ini konfidensial, mohon saya kasihkan tapi tidak disebarkan ke mana-mana, kan bisa begitu. Nah, kalau sudah bisa kita menganut unsur keterbukaan, transparansi, akuntabilitas pada setiap data, Insyaallah tidak akan terjadi sesuatu. Kemudian terkait dengan kesiapan lebaran dan Idul Fitri, saya karena ini sudah tahun keenam saya di Komisi 6, saya pernah menjadi pimpinan Komisi 7 juga, saya pernah dulu mendalami Pak Alpian, masih GM dulu, dampingi-dampingi saya di lapangan. Jadi menurut saya tinggal memperbaiki saja pada setiap celah, love hole yang ini menjadi kelemahan. Misalkan di Indonesia ini hal yang paling merumitkan kalau sudah terjadi kemacetan, stuck panjang jalan tol. Oke, sekarang sudah pakai motor, suatu waktu motor itu tidak bergerak juga, Pak, gitu loh. Jadi harus dipersiapkan, oh nanti kalau stuck motor pun tidak bisa jalan, tidak bisa bergerak, pakai apa nih untuk mendeliver agar sampai kepada yang membutuhkan? Kemudian untuk bisa menentukan titik-titik Posko terdekat atau SPBU terdekat dengan aplikasi apa, misalkan sehingga begitu kemudian dibutuhkan mereka akan sangat mudah menggunakan aplikasi bagaimana untuk bisa mendapatkannya. Mungkin drone bisa digunakan toh sekarang juga kan ee sudah banyak teknologi yang bisa digunakan. Nah, ini ataukah mungkin dengan cara-cara lainlah ya, saya tidak ingin turut berpikirlah di situ. Silakan Bapak Ibu sekalian yang memang dipekerjakan untuk berpikir di situ ya, memikirkan kalau betul-betul stuck pada jalan yang tidak bisa ditempuh oleh kendaraan roda dua, apa yang harus dilakukan? Nah, ini harus sudah dibicarakan gitu ya, karena tidak menutup kemungkinan kalau sudah macet ya macet sudah gitu. Ataukah barangkali bisa menerjang dua arah karena bisa saja mungkin arah sebaliknya ee itu bisa ditempuh. Jadi menurut saya ada banyak celah-celah yang ini bisa terjadi, harus sudah dibicarakan. Karena kalau bisnis as usual, terjadinya hal-hal yang biasa-biasa saja menurut saya itu ee sudah terbiasa setiap tahun juga kita tangani persoalan ee bagaimana mempersiapkan terhadap mudik dan arus balik di Idul Fitri. Kemudian mengenai kasus Pertamina ini menurut saya Pak Simon ini harus ada hal yang yang lebih jelas ya. Jadi begitu terjadi kasus tidak ada apa-apa menurut saya sebagai Direktur Utama ataupun yang tidak ada kaitannya dengan persoalan kasus ini ya menjelaskan ke publik gitu. Sepanjang apa yang itu menjadi temuan awal aparat penegak hukum, sampaikan aja gitu kepada publik gitu. Meskipun bukan haknya untuk menyampaikan, tetapi untuk memperjelas. Karena bagaimanapun yang dikhawatirkan tadi, distress, distress terhadap Pertamina, terhadap produk-produk Pertamina yang ini sesungguhnya tadi menjadi kekuatan kita dalam berbagai aspek kan. Terakhir, closing statement. Nah, mau dipatiin sama dia. Oh iya, oke. Jadi saya, saya minta mungkin diupdate, Pak, setiap perkembangan diupdate, enggak apa-apa. Aparat penegak hukum kemudian merevisi terhadap ini biasa, gak apa-apa itu biasa. Karena kan temuan itu akan saling menguatkan. Mungkin temuan awalnya dianggap sebagai oplosan ya, mungkin temuan awalnya. Tapi kalau kemudian ada perbaikan, revisi bahwa itu bukan oplosan ya, sebutkan memang bukan oplosan. Dijamin bahwa produk Pertamina itu produk yang memang sesuai dengan standar dan klasifikasi yang ini sesuai dengan klasifikasinya. Jangan ragu masyarakat Indonesia terhadap produk Pertamina ini, produk anak bangsa ini, produk yang bisa memberikan kontribusi kepada sektor-sektor lainnya. Jelaskan aja, Pak, setiap perkembangan, enggak ada masalah. Tadi diganti Dar, enggak ada masalah menurut saya gitu. Nah, oleh karena itu saya kira sering-seringlah Pak Simon tampil untuk menjelaskan persoalan ini. Supaya apa? Supaya publik trust kepada Pertamina. Terakhir, berterima kasih kepada semuanya yang memberikan waktu saya di paling akhir. Mudah-mudahan apa yang saya sampaikan, Pak Simon, dan menjadi catatan penting, mohon masuk kesimpulan. Roadmap ini penting supaya kita bisa tahu langkah ke depan apa yang akan Pak Simon bawa gerbong besar ini menuju kepada Pertamina yang lebih baik, Pertamina yang lebih berjaya, dan pada akhirnya mendukung program Presiden Prabowo Subianto menuju kepada kedaulatan energi. Terima kasih. Wabillahi taufik walhidayah, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Pak Herman yang terakhir, closing aja panjang dia. Baik, Bapak Ibu dari meja pimpinan, silakan Mas Eko. Iya, kalau dari pimpinan mungkin singkat, padat. Terima kasih Ibu pimpinan, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jadi gini Pak Dirut, kita tuh semuanya pada dasarnya kalau saya lihat dari awal tadi kita ketemu tuh semangatnya Merah Putih, cinta dengan produk bangsa sendiri gitu ya, ada rasa memiliki gitu. Nah, dengan permasalahan yang kemarin mungkin bisa bagian momentum penting untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh. Lalu yang kedua, memperbaiki tata kelola perusahaan. Ketiga ya tentunya Pertamina berkomitmen untuk terus berbenah, bangkit, dan melakukan yang terbaik untuk bangsa kita. Tapi saya melihatnya Pak, ini bicara masalah lebaran, Idul ee puasa dan lebaran ini momentum buat saya untuk bagian dari bagaimana Pertamina mendapatkan kepercayaan. Tadi Pak Marsega juga sudah melakukan ada hal akan melakukan promosi dan sebagainya. Saya sepakat untuk itu, tetapi ee jangan hanya promosi saja, tetapi sudah ada aktivasi-aktivasi yang kaitan langsung ke tepat sasaran, Pak. Misal contoh gini ya, ee langsung. Karena gini, ada temuan Pak, ada data konsumsi Pertalite itu hanya naik 11,4%, Pertamax hanya naik 16,9%. Sedangkan ini pada saat mau menuju puasa dan lebaran ya, sedangkan pembelian untuk di produk di luar Pertamina, saya mengatakan BP atau Shell itu kurang lebih adalah 30%. Jadi artinya ada ketidakpercayaan masyarakat berkaitan yang kemarin. Nah, untuk itu harus hard selling, Pak, hard diskon, hard diskon ya, bukan hard selling, mohon maaf, hard diskon. Misalnya gini, beli bensin 10 liter dapat 1 liter, dikali 3 misalnya, 30 liter dapat 3 liter. Itu biar ada rasa memiliki, Pak, biar ada trust. Kalau cuma misalnya hanya tadi promo MyPertamina, promo itu apa promosi bukannya diskon kan? Lalu promo pembelian pelumas, ada lagi diskon airport. Itu kan kalau diskon airport kan hanya bagian dari orang-orang bagian saja yang punya apa namanya mau berangkat naik pesawat kan? Tapi kan kita juga harus mes ke bawah kan? Pembelian ke bawah juga harus kita pikirin yang punya kendaraan motor, kendaraan pribadi dan sebagainya. Jadi maksud saya langsung ke situ Pak ya, jadi langsung e menuju sasaran, langsung orang mau beli langsung ingin aktivasi keras gitu, hard. Lalu sosialisasi juga Pak, adakan sosialisasi ini penting sekali buat saya termasuk tadi sudah ada mengatakan rebranding. Saya setuju Pak, Bapak mumpung 3 bulan di sini yuk kita rebranding bareng gitu ya. Eh, apa yang akan dilakukan oleh Pertamina bebas rebrandingnya, apakah berkaitan dengan jargonnya atau dengan logonya dan sebagainya? Ayo dibuat bareng-bareng Pak, Pak, dengan semangat yang sama ee lalu juga saya setuju Bapak memang harus tampil di depan Pak, biar semua orang tahu bahwa Bapak ee memang pengendali Pertamina dan semuanya. Saya yakin dengan Bapak tampil di depan seperti kemarin itu juga sudah mengobati rasa kecewaan masyarakat sebagian Pak gitu ya. Jadi saya sekali lagi mengapresiasi ee langkah-langkah Pertamina yang cepat tanggap berkaitan dengan ee permasalahan-permasalahan kemarin dan berkomitmen untuk terus memperkuat transparansi tadi dan juga pengawasan di seluruh lini operasional. Terima kasih, wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam. Baik, terima kasih Ibu Ketua, ee Bapak Ibu anggota Komisi nama yang saya hormati, Pak Simon beserta jajaran yang kami hormati. Ee sudah banyak sekali ya Pak Simon tadi mendengar dari para anggota ee keluhan-keluhan dan kekhawatiran kita masing-masing ya. Saya kira ini bentuk kepedulian kita semua dan rasa sayang kita semua terhadap Pertamina. Karena anggota Komisi 6 ikut memiliki juga, begitu juga publik pada umumnya. Pertamina bukan hanya ee perusahaan BUMN, tapi perusahaan BUMN yang sangat dekat dengan masyarakat dan produknya tentu digunakan oleh kita semua sehingga timbul kekecewaan karena terjadinya korupsi, mismanagement, dan lain sebagainya. Nah, kami apresiasi ee ah-langkah yang sudah diambil, ditempuh oleh Pak Simon dan kita ketahui juga Pak Simon sudah meminta maaf ke ee publik. Tentu kita apresiasi itu semua, namun tentu yang lebih penting adalah bagaimana ee rencana Pak Simon ke depan ya. Kita hormati proses hukum yang sedang berjalan, tentu kita tidak bisa mengintervensi itu. Ee tadi sudah disinggung juga soal roadmap ya, Pak Simon. Jadi kami juga eh menunggu roadmap dari Pak Simon beserta jajaran yang jelas ya. Di sini memang sudah ditampilkan beberapa rencana-rencana strategis dari ee Pertamina secara keseluruhan, namun mungkin nanti kita perlu dengan setiap Subholding untuk lebih mendalami lagi rencana-rencana strategi dari setiap Subholding. Karena peran Subholding itu kan sebenarnya untuk meningkatkan efisiensi, untuk mengoptimalkan kinerja, untuk memperkuat daya saing. Saya kira itu peran holding. Sementara yang kami lihat, yang kami alami selama ini belum seperti itu ya, banyak masih banyak ketidakfisienan atau inefisiensi di tubuh Pertamina yang malah kesannya dipelihara. Nah, ini yang kami tidak ee mau melihat lagi ke depan, Pak Simon. Jadi ee dengan roadmap yang jelas.

Strategi yang jelas dari Pak Simon beserta jajaran? Bagaimana efisiensi ini bisa lebih ditingkatkan ke depan, ya? Dan kami tahulah ini pasti memanage Pertamina ini suatu hal yang sangat-sangat kompleks; subholding-nya itu banyak, Pak Simon. Bukan hanya memikirkan upstream, tapi juga refining, petrochemical, commercial trading, gas, belum lagi power, renewable energy, dan sebagainya. Memang banyak sekali yang mesti dibenahi oleh Pak Simon, tapi kami yakin dengan niat baik Pak Simon, track record-nya, pengalamannya. Ee… Kami yakin bisa mengatasi tantangan-tantangan di [Musik] Pertamina dan apa namanya, masalah ketidakfisienan ini. Tolong benar-benar di ee… tanggapi secara serius. Pak Simon perlu di-audit, dicek di semua lini operasi; apa bisa dibuat lebih efisien lagi? Yang masalah BBM ini saja sudah menunjukkan, ya, kalau memang benar ee… apa namanya, yang terjadi itu… itu kan ketidakfisienan yang luar biasa. Ya, kita ketahui refining apalagi trading ini kan low margin bisnis. Iya kan? Sebenarnya kalau dijalankan dengan benar, tidak banyak yang bisa dibagi-bagi seperti yang eh… kita ketahui di permasalahan hukum ini. Iya kan? Kecuali ada hal yang tidak benar, gitu loh. Jadi itu saja sudah menunjukkan banyaknya ketidakfisienan di tubuh Pertamina; di bisnis yang harusnya low margin saja masih begitu tebal ketidakfisienannya. Jadi ini perlu dijaga, ya. Dan kita ketahui justru yang keuntungannya besar kan harusnya di upstream, ya. Jadi upstream ini juga tentunya ee… apalagi Pak Presiden Prabowo punya rencana untuk kita berdaulat secara energi. Nah, eksplorasi, drilling dan sebagainya ini tentu harus terus digiatkan aktivitasnya sehingga produksi Pertamina juga meningkat.

Dan terakhir, Pak Simon, ini kita ketahui Danareksa sudah di-launching, sudah dibentuk. Semua aset-aset BUMN nanti akan di-inbrank atau ditempatkan di satu One Big Basket ini, di satu keranjang yang namanya Danareksa, ya. Dan tentu salah satu kontributor dari segi aset value ya, itu adalah Pertamina, ya. Dan sudah dijelaskan juga oleh Bapak Presiden bahwa Danareksa ini akan menjadi vehikel nanti yang akan melakukan investasi di mana-mana. Jadi semakin efisien perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh Danareksa, semakin banyak profit dan dividen yang nantinya juga bisa diinvestasikan ke bidang-bidang lain. Itu semakin bagus, tetapi risikonya juga tinggi karena ini ada di dalam satu keranjang besar. Danareksa, ada satu skandal seperti yang kita alami kemarin, akan merusak semua ekosistem yang ada di situ; kepercayaan publik, investor jadi menurun. Jadi ya, walaupun Pertamina holding ini bukan perusahaan Tbk, tapi saya kira salah satu target dari Pak Simon ini menjalankan Pertamina dengan efisien dan profesional, layaknya perusahaan Tbk yang transparan, profesional, efisien, ya. Sehingga segala keputusan itu juga bisa dipertanggungjawabkan, ya. Karena, karena itu tadi, ini implikasinya, apalagi perusahaan BUMN sekelas Pertamina yang ada di dalam keranjang nanti Danareksa ini, kalau tidak dikelola secara baik, saya yakin akan mempengaruhi persepsi investor dan publik secara luas. Dan sekarang kita hidup di dunia yang semakin transparan, sehingga persepsi saja, walaupun tidak betul, sangat mengganggu reputasi dan jalannya perusahaan. Jadi itu juga ee… tadi beberapa teman-teman sudah memberikan masukan juga; komunikasi PR ya, dari Pertamina itu sangat penting untuk menjaga reputasi dan persepsi secara baik. Saya kira itu saja, Ibu Ketua. Terima kasih, dan kami terus dukung Pak Simon beserta Pertamina dan jajarannya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam. Silakan, Hadat Syekh Andre Rosiade.

Terima kasih, Bu Ketua, Pimpinan, anggota. Pak Simon, Pak Dirut, dan jajaran seluruh direksi holding maupun subholding. Memang eh… banyak teman-teman sudah menyampaikan. Saya hanya menyampaikan sedikit saja. Yang pertama, kita tahu Pak Simon diangkat jadi Komut Pertamina, lalu dilanjutkan jadi Dirut, ya. Pertama jadi Komut dulu. Pas Pak Simon jadi Komut itu, saya mendengarkan banyak dari Bapak dan Ibu di depan saya ini mengucapkan syukur, Alhamdulillah, Alhamdulillah. “Kami senang punya Komut yang baik,” gitu. “Enggak stres lagi kami, ada yang marah-marah,” gitu. Itu Pak Simon jadi Komut, ya. Saya enggak tahu berani enggak Ibu-ibu dan Bapak-bapak ini ngomong, tapi omongan ke saya begitu waktu itu. Nah, lalu Pak Simon sekarang jadi Dirut. Yang saya tahu pengangkatan Pak Simon ini ditugaskan oleh Presiden Prabowo untuk memastikan bahwa Pertamina ikut berperan aktif dalam swasembada energi. Otomatis kita harus mampu menyediakan ketersediaan energi dalam negeri, ya. Di mana tentu ee… impor BBM maupun ork itu berkurang. Betul, Pak Simon, itu tugas dari Presiden, kan ya? Dari Presiden Prabowo. Nah, di Desember kemarin saya sudah menyindir sebenarnya nama Saudara Sani di rapat ini, ya, yang lebih sakti daripada Pak Taufik. Itu kalau Pak Simon tahu, Pak Sani itu lebih sakti daripada Pak Taufik. Betul, ya, Pak Taufik? Nah, tuh Pak Taufik tuh di Dirut kilang. Oh, sudah ditangkap sama Kejaksaan Agung. Itu lebih sakti karena Pak Taufik ini, setahu saya, enggak ikutan urusan kruk, pusing kepalanya ngurus RDMP Balikpapan. Kira-kira kapan kelar, Pak? Hah? Kapan diresmikan Presiden, rencana Pak? Kan kita rencana 2023, geser 2024, sekarang 2025. Kira-kira kilangnya kapan, ya, bisa kelar? 6 September 2025. Nah, saya berharap jangan molor lagi karena kilang ini bukan hanya urusan menghasilkan BBM, Pak Simon, tapi juga petrokimia, juga akan mendukung dan ee… mendukung Indonesia juga bisa swasembada farmasi nanti, ya. Ini perannya bukan hanya urusan BBM, tapi juga banyak hal karena ada menghasilkan petrokimia. Jadi tadi disampaikan Pak Hermanto, kita tunggu roadmap-nya, Pak Simon, ya. Nanti habis Lebaran kita akan undang lagi. Tolong Pak Simon paparkan periodisasi Simon Alesius Mantiri menjadi Dirut Pertamina. Apa langkah-langkahnya untuk mencapai arahan Presiden Prabowo bahwa kita bisa berswasembada energi? Apa langkah-langkah Pertamina ya, meningkatkan cadangan sumber minyak kita? Lalu kilangnya gimana? Lalu energi baru dan terbarukan yang disampaikan Pak Adi tadi. Nah, itu yang kita tunggu pertama, ya.

Yang kedua, soal libur Lebaran, saya sudah berpengalaman 5 tahun ini kalau Lebaran, Alhamdulillah Patra Niaga selalu mampu mengantisipasi dan mengatasi. Bicara Patra Niaga saya Sumatera Barat, saya ucapkan terima kasih Pak Ega, ya, bahwa sam-nya dan juga MM itu selalu kerja keras dan tidak ada masalah. Hanya saya titip pesan Pak Ega, jangan sampai sam-nya menegakkan aturan karena ada tekanan, lalu dicopot gara-gara ada tekanan politik. Kasihan dia menegakkan aturan, ya. Itu Pak Simon, pesan saya. Karena orang bekerja baik, bekerja keras, lalu ada tekanan, dicopot, kasihan orang. Ee… permainan LPG 3 Kil, ya, karena ada tekanan-tekanan politik, gitu loh. Itu yang kedua. Yang ketiga, Pak Simon, di kampung saya itu kita hanya punya satu apa namanya, kayak depo di Pelumpang itu, kita hanya punya satu depo seperti di Bungus, ya. Pak Ali, apa itu Pak? Apa namanya? Teluk Kabung. Nah, harapan saya, saya sudah minta ke Patra Niaga untuk mengkaji di daerah Pasaman yaitu bisa investasi, bisa monggo Pertamina lakukan atau nanti Pertamina buka tender untuk swasta. Karena kalau Bungus Teluk Kabung itu putus jalannya, itu akan mengganggu distribusi BBM. Nah, tolong Pak Alvian ingatkan Pak Edo, Pak Ega dan Pak Edo, ya, untuk kajiannya bisa diselesaikan, jangan terlalu lama bikin kajian itu, gitu loh. Supaya bisa dieksekusi sehingga ada kepastian ee… kalau nanti ada bencana. Lalu yang terakhir, yang menarik ini, yang soal kasus ini. Jadi saat kasus berkembang, Pak Simon dan teman-teman Pertamina itu, saya bangun tidur tanggal 1 Maret, tiba-tiba ramai di medsos. Ya, ramai di medsos. Saya di Instagram saya itu diserang ribuan buzzer-nya Ahok. Ya, buzzer-nya Ahok. Saya lihat, kenapa saya diserang sama buzzer-nya Ahok? Temannya Pak Darmadi ini, gitu loh. Iya, buzzernya banyak nol kalau Ahok ini. Akunnya rata-ratanya postingannya nol, followernya nol, G-loh. Saya screenshot, Pak J, kalau di proses hukum saya bisa buktikan nanti. Jadi itu buzzer Ahok. Nah, itu menarik nih, entar dulu. Menarik. Saya kaget kan, tanggal 1 kenapa? Oh, saya lihat ternyata di TikTok, ramai pernyataan saya tanggal Februari yang minta Presiden Jokowi untuk mengganti Ahok. 15 Februari 2020, ya, saya sebagai anggota DPR Komisi 6 minta Pak Ahok diganti karena membikin kegaduhan di Pertamina. Supaya Pak Simon tahu, ya, 15 Februari 2020, saya yang bicara Ahok diganti itu. Ahok itu baru satu kali datang ke kilang Pertamina di Tuban, ya, di Tuban waktu mendampingi Presiden Jokowi datang ke Pertamina, belum pernah ke kilang-kilang lain. Dan 15 September 2020 itu ya, Ahok itu belum pernah ke unit hulu. Tanya Pak Tiko nih, Pak Tiko. 2020 jabatan Pak Tiko apa dulu, Pak Tiko? Hah? Ah… masih di Pertamina? Ah… nih… PH dulu, Pak… Pak… Pak… Pak Taufik ini kan orang hulu, pernah enggak Pak? Hah? Itu September 2020 waktu saya… belum pernah, kan? Kuni dulu belum jadi. Dia hanya banyak omong-omong, Pak Darmadi, ya. Bahkan kenapa saya bilang kegaduhan? Sebentar, Pak. Jadi… jadi kegaduhan contoh, Pak Simon punya Direktur SDM sama namanya Hersubeno. Sebelum Hersubeno tuh ada orang tua namanya Pak Kus, ya. Nah, Bapak-bapak ini tahu bagaimana Ahok membentak-bentak itu orang tua, Pak Kus itu, ya. Karena apa? Ahok minta ada orang yang dinaikkan promosi tapi tidak sesuai kesepakatan, ya. Pak Kusnya enggak mampu menaikkan, dimaki-makilah Pak Kus itu. “Saya bisa ganti Anda, loh. Saya bisa ngomong ke MenB, ke MenPAN-RB, kok perlu-perlu Menteri BUMN, enggak setuju, saya bisa ngomong ke Presiden.” Karena Ahok dulu temannya Presiden, Pak Sakti Wahyu Trenggono dulu. Jadi meskipun saya minta dicopot, enggak mungkin dicopot karena Ahok itu temannya Presiden, Sakti Wahyu Trenggono. Ahok itu. Prof Darmadi pulang keluar dari penjara langsung bisa jadi Komut Pertamina. Nah, tapi yang menarik, yang menarik setelah Kejaksaan Agung melakukan penangkapan, membeberkan kasus korupsi yang mengagetkan kita semua, ya, kalau itu benar, ya, itu mengagetkan kita semua. Saya berpikir malingnya Sani itu main impor saja, ya. Saya gak sangka kalau dia nyolong di Ron juga, ya. Itu kalau itu terjadi, ya. Itu ngapain saja, Pak Darmadi, ya? Padahal Ahok itu menikmati loh, penghasilan puluhan miliar jadi Komut Pertamina. Jadi dia marah-marah ke Pak Alvian, maki-maki Pak Alvian di ruang rapat itu, ngapain saja, ya? Karena di Ahok itu Komisaris Utama 2019 sampai 2000 berapa sih terakhirnya dia? Alasannya kan enggak 2024. Bayangin, Pak Darmadi, puluhan miliar per tahun, belum lagi rajin main golf, gu loh. Itu fasilitas yang didapatkan Ahok sebagai Komut Pertamina. Dan kita tahu di Undang-Undang Persero ya, PT, Komut itu bisa ya… melaporkan… lihat Erick Thohir, Menteri BUMN, ada kasus Jiwasraya, dia dapat data, dia datang ke Kejaksaan Agung, Jiwasraya diproses. Asabri, Pak Erick bersama Pak Prabowo punya data, Pak Erick lapor ke Pak Prabowo, “Pak, ini proses…” sebagaimana kata Pak PR, lanjutkan proses hukum. Jiwasraya diproses, Asabri… Ahok, ngapain selain ngebacot, omong-omong, marah-marah, maki-maki Bapak-bapak? Apa yang dilakukannya? Ada enggak dia bawa data ke aparat penegak hukum? Enggak ada, kan? Nganggil, ngapain dipanggil? Kita ngapain ngasih panggung orang yang sudah pensiun, enggak berbuat apa-apa? Lalu sekarang setelah Kejaksaan Agung melakukan penegakan hukum, dia mau jadi pahlawan kesiangan, ya. Ini kan pahlawan kesiangan. Untuk apa? Kalau dia punya data, harusnya dia jadi Komut, dia bawa datanya ke Kejaksaan Agung, ke KPK atau ke kepolisian. Itu baru kerja pengawasan. Kalau sekarang Kejaksaan Agung di era Prabowo melakukan penangkapan, lalu dia ngebacot, “Oh, kalau saya… saya bisa… saya punya data.” Lu ngapain aja lu, bro, selama ini, gitu loh. Ini kan orang sudah pensiun, enggak punya panggung politik, memanfaatkan kehebatan Kejaksaan Agung di era Prabowo untuk numpang tenar kembali. Supaya populer lagi, gitu loh, Prof Darmandi. Ini gaya politisi numpang tenar, pansos terhadap kemampuan kinerja Jaksa Agung di bawah era Prabowo Subianto sebagai Presiden, gitu loh. Jadi ini saya ingin menegaskan kepada buzzer-buzzer Ahok, ya… ya, menurut saya sudah mengganggu sekali. Ribuan akun enggak jelas, enggak bodoh, menyerang saya di tanggal 1, 2, 3 Maret ya, setelah itu selesai. Dia serang Erick Thohir dan Boy Thohir habis itu, ya. Saya 3-4 hari, Prof. Lumayan menurut saya mengganggu karena berita daur ulang 15 September 2020. Nah, di sini saya menggunakan hak saya menjawab itu karena saya pergi umrah, Prof, waktu itu. Jadi saya enggak bisa menjawab dan saya ingin menjawab di depan direksi Pertamina, ya. Karena saya tahu bahwa Bapak kan tahu banyak omong-omong saja, ngebacot saja. Sekarang setelah Jaksa Agung melakukan penegakan hukum ya, di bawah eranya Prabowo, siapa saja yang melanggar hukum, yang korupsi, disikat zaman Pak Prabowo, baru dia pura-pura muncul sebagai pahlawan kesiangan. Dan Alhamdulillah, jejak digitalnya banyak, ngaku enggak pernah jadi ditawarkan Dirut, ternyata pernah ditawarkan diri oleh Pak Jokowi. Ini banyak kebohongan-kebohongan. Jadi saya minta teman-teman, mari kita rasional, ya. Itu hak teman-teman mau ngundang, silakan. Tapi ya… ngapain kita kasih panggung? Serahkan kepada aparat penegak hukum, Kejaksaan Agung yang sudah bekerja luar biasa, gitu loh. Ya, jadi menurut saya sekali lagi, lagi ya… hati-hati ya, politik buzzer ini. Tapi memang buzzernya enggak sekuat dulu, Pak. Waktu dulu, Pak Simon, saya duduk di… di meja situ di ujung, saya bilang, “Ahok tuh direktur komisaris rasa Dirut, ah, Pak Simon.” Karena waktu itu Ahok itu sangat berkuasa, powerful waktu itu karena dekat Presiden. Buzzernya luar biasa. Sebulan saya dihajar, sebulan saya dihajar. Tapi kalau sekarang karena sudah jauh dari kekuasaan, 3 hari doang dia mungkin mampu bikin buzzernya itu. Pak Mufti dulu waktu saya duduk di sebelah Pak Mufti itu gara-gara Komut rasa Dirut, 1 bulan, 3 bulan saya dihajar sama… Itu hebatnya medsosnya, pasukan Ahok itu, Pak. Dek sekarang karena mungkin sudah enggak berkuasa, hanya 3 hari, Pak Simon. Jadi saya ingin menyampaikan sekali lagi, selamat bertugas. Saya tunggu roadmap-nya, Pak Simon. Buktikan bahwa Pak Simon bukan pilihan yang salah dari Presiden Prabowo. Tunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa konsistensi Presiden Prabowo bahwa beliau tidak ingin omong-omong, bahwa beliau ingin mewujudkan kita betul-betul di periode 2024-2029 ini kita bisa berswasembada energi, berswasembada pangan, dan kita bisa berdiri di atas kemampuan kita sendiri. Apalagi Pertamina salah satu ujung tombak dan Danareksa. Harapan kita, harapan kami ya, seluruh harapan rakyat Indonesia tentu Pertamina benar-benar bisa membenahi tata kelola ya, sehingga bisa perusahaan jadi perusahaan yang sehat, menghasilkan keuntungan, dividen yang bisa memperkuat Danareksa. Kita tahu Danareksa ini adalah cara percepatan bagi Presiden Prabowo agar ekonomi Indonesia tumbuh 8%. Dan sekali lagi, saya rasa kita harus mendukung Pertamina, ya. Jaksa Agung sudah menjelaskan secara detail bahwa BBM Pertamina sekarang tidak lagi dioplos, ya. Tidak ada pengoplosan. Jadi memang kualitasnya sesuai yang dijual dan saya rasa kita harus mendukung semua. Dan kedua tentu kita harus memastikan jangan sampai Pertamina ini tadi disampaikan kawan-kawan, kita jangan sampai melakukan pembersihan tapi membakar apa… menyapu rumahnya ya, tikusnya itu. Dilakukan oleh kami bersama-sama Kementerian BUMN, menata Asabri dulu, Pak. Lalu menata Jiwasraya, kita menata tanpa perlu membakar rumahnya. Kasihan Bu Ema nanti, Pak, ya. Saya dengar banyak bank asing sudah nelepon Bu Ema gara-gara kasus ini. Jangan sampai Bapak default gara-gara isu yang tidak benar berkembang. Ya, ini juga penting ya. Pertamina ini ujung tombak kita, BUMN terbesar kita, ya, harus kita dukung bersama-sama. Kalau ada yang salah, tentu harus dibenahi. Kalau ada yang maling, silakan proses hukum berjalan. Jadi saya ingin menyampaikan sekali lagi, kita jangan sampai memberikan panggung kepada orang-orang yang pansos melihat kinerja Kejaksaan Agung yang luar biasa di era Pak Prabowo Subianto, ya. Kalau Anda punya kekuasaan dulu ya, Anda laporkan, Anda punya bukti, Anda bawa ke aparat penegak hukum. Jangan hanya podcast lalu bawa buzzer-buzzernya bangun opini di media sosial. Itu namanya omong-omong. Omong-omong itu, teh, jangan kita omong-omong. Kalau Anda menikmati puluhan miliar sebulan, Anda setahun… Anda terima penghasilan dari Pertamina setahun. Lebih besar kan penghasilannya Ahok di Pertamina daripada Prof Darmandi kan di DPR? Betul? Lebih besar penghasilan Ahok di Pertamina jadi Komut atau penghasilan Prof Darmandi di DPR? Puluhan miliar, Prof? Besar gak jadi gitu? Iya, 60 juta Prof sebulan. Kalau Ahok miliaran. Jadi menurut saya kita jangan mau terbawa dengan ini, orang pansos atas kinerja Kejaksaan Agung. Jadi sekali lagi, Pak Simon, saya tunggu roadmap-nya, dengan teman-teman direksi semua, ya. Mari bekerja keras. Sekali lagi, mari kita bersama-sama benahi Pertamina. Dan mudah-mudahan saya berharap di era Pak Simon betul-betul kita bisa wujudkan swasembada energi, ya. Kasih tepuk tangan lah, tepuk tangan sedikit, Bu Pimpinan. Sedikit, Bu Pimpinan, kenapa Pak? Satu detik saja. Mobilisasi teman-temannya Ahok. Jadi ee… terlepas daripada ini sampai yang Pak Andre, tapi catatan itu menjadi introspeksi. Iya kan? Podcastnya panjang. Tuh kan… tuh… ke dalam boleh tuh, diteliti. Ya kan? Karena banyak data juga disampaikan. Nanti Pak Simon bisa menyaring semuanya. Saya pikir Pak Simon kan wise ini ya, bisa menyaring semua. Yang kedua, sebetulnya ini sekarang memang bebas banyak kan, termasuk saya nih korbannya. Foto saya dipasang, ya. Ini klarifikasi juga gak ada proyek. Mana ada proyek saya di Pertamina? Ketemu saja enggak, ya. Ketemu saja Pak… di sini. Makanya saya dikatakan ya… paling di DPR kita ketemu, ke kantornya. Saya gak tahu kantornya dia juga. Saya dibawa-bawa, foto saya di TikTok dan banyak, Prof. Iya, betul juga ya, Pak… Pak… iya… kan… tapi saya memang… jadi kita lapor, kita lapor bareng-bareng Prof, nanti, Prof. Sekarang lebih top ini, saya pasang fotonya. Jadi itu ya… Jadi tapi kan Prof, enggak ditulis kan sama koruptor. Kejaksaan, KPK suruh periksa, Prof. Noring ya… gak ada, kita kan… kan enggak… ditulis. Nah, buzzer Ahok itu melakukan hal itu, Prof. Menurut saya itu politik enggak sehat ya. Sekali lagi. Nah, ini penting kita sampaikan, ini kan terbuka di publik supaya juga e… kita jangan sampai ya… termakan opini yang tidak sehat, cara-cara yang tidak benar ya, dalam berpolitik, ya. Kalau Anda sudah lewat eranya ya… sudahlah, pensiun baik-baik, ya. Kalau Anda punya data, Anda serahkan ke aparat penegak hukum. Itu loh, Pak Andre. Sudah? Iya, udah? Oke… itu Saudara Mufti sampaikan kepada temannya Ahok. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih. Presentasi yang luar biasa. Terima kasih… terima kasih… belum… kalau ini hasil umrah. Baik, Pak Dirut, semua pertanyaan Andre sudah, ya? Ganti saya ngomong. Oke, nanti setelah ini buka puasa. Jadi eh… Pak Simon, banyak masukan, banyak pertanyaan dan tentu banyak harapan yang namanya kita bermitra, Pak Simon. Teman-teman ini menurut saya sangat objektif. Hal yang… yang perlu diapresiasi, ya, diapresiasi. Hal yang perlu dikritik, ya, dikritik. Hal yang perlu di ee… benahi, ya, harus dibenahi. Dan yang terjadi hari ini, ini bukan hal sepele. Yang terjadi hari ini, hal-hal yang luar biasa bagi bangsa Indonesia. Ini yang saya katakan tadi, kita punya aset yang luar biasa, ini Pertamina ini luar biasa. Hampir sebagian masyarakat Indonesia punya harapan besar. Kita bicara sel… bicara apalagi yang dari luar negeri itu enggak mampu memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia untuk BBM. Itu enggak mampu, enggak bisa. Oleh karena itu, harapan-harapan ini jadi… tidak hanya memang kita tadi sudah banyak teman-teman sudah memberikan apresiasi tentang permohonan maaf, lalu kemudian sudah bekerja. Tetapi memang perlu harus ada strategi yang jelas, mau ngapain ini. Enggak cukup misalnya minta maaf saja. Komitmen teman-teman Komisi 6 jelas bahwa kita membangun bareng-bareng. Ini sudah dilakukan hari ini, terwujud juga, ya. Tidak hanya ngomong bahwa di forum ini kita bareng-bareng, kita pengin mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap Pertamina. Kita pengin tidak ada gelombang yang merugikan kita semuanya, tapi yang ada masalah-masalah, kasus-kasus yang sedang berkembang itu juga harus di… diantisipasi tentang… karena kalau dilihat kan tadi saya katakan itu kan sebenarnya sudah bertahun-tahun juga. Artinya harus ada mekanisme. Tadi Kawendra ngomong tentang eh… pengawasan digital, eh… teknologi ya, teknologi tinggi. Dan kita tahu, saya tahu Pertamina punya tuh, whistle blowing system. Itu kan sebenarnya setiap kali ada pelanggaran, aduan atau apapun itu kan bisa langsung masuk ke situ. Nah, ini perlu diomongkan kita saja. Saya baru ketika masuk di Komisi 6 baru tahu kalau ada sistem kayak gitu. Padahal ini kan harusnya diketahui juga. Hal layak juga apalagi jajaran direksi, jajaran semua yang ada di Pertamina, semua stafnya, semua karyawannya itu tahu tentang itu. Jadi kalau ada… kalau ada indikasi itu… itu langsung diantisipasi. Belum lagi yang lain ya, yang lain banyak hal yang ee… yang harus dibenahi, Pak Simon. Memang PR-nya banyak, PR-nya banyak. Dan kita… saya sangat berharap di seluruh lapisan masyarakat di Pertamina, kita semuanya tidak hanya bicara tentang menghujat, tetapi juga bagaimana kita bisa memperbaiki bareng-bareng. Silakan Pak Simon berikan statement-nya karena kesempatan untuk berbicara kita sebentar lagi buka puasa. Yang penting-penting. Monggo, silakan.

Seperti yang saya katakan tadi, jika misalnya dibutuhkan nanti kita bisa rapat lagi, tentu tertulis ya… jawab dulu sebentar. Baik, Bapak Ibu yang saya hormati, terima kasih atas rapat dengar pendapat hari ini. Tentunya ketika Pertamina sedang menghadapi ujian yang cukup berat bagi kami, kami mendapatkan dorongan semangat tentunya semata-mata untuk membuat Pertamina lebih maju ke depan. Izinkan saya menayangkan ada dua slide, kurang lebih. Terutama eh… semua masukan eh… yang sangat berharga sudah saya catat semuanya. Ee… ini saya akan memberi tanggapan terkait proses hukum yang sedang berjalan di Kejaksaan Agung perihal tata kelola minyak mentah dan produk kilang Pertamina. Tentunya satu hal yang perlu kami garis bawahi adalah kami sangat menghormati sepenuhnya proses penyidikan yang sedang berlangsung di Kejaksaan Agung. Kami sangat mendukung proses penegakan hukum yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung. Demikian juga saya terbuka sampai apa adanya bahwa pada awal konferensi pers dari Kejaksaan Agung tentunya kami menghormati proses hukum dan fakta hukum yang ditemukan. Jadi kami tidak ingin pada kesempatan itu, termasuk saya sendiri, tidak ingin muncul dulu supaya tidak terlalu memperkeruh suasana. Nanti ketika saya muncul, saya menghindari kesan seolah-olah defensif, seolah-olah bahwa ada temuan seperti ini. Jadi kami tentunya memberikan waktu kepada Kejaksaan Agung, penegak hukum, sambil kami introspeksi diri, evaluasi di internal. Dan beberapa hari setelah itu juga saya bersama Pak Wiko dan Pak… kami melakukan konferensi pers. Tentunya walaupun kejadian ini terjadi sebelum era saya bergabung, namun sebagai pimpinan yang diberi amanah saat ini, ini adalah tanggung jawab saya juga. Dan tentunya saya hadir, tampil untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas kejadian yang tentunya sangat membawa kegaduhan di masyarakat. Dan berikan kami kesempatan untuk bekerja keras dan kembali mendapatkan kepercayaan dan kebanggaan dari masyarakat. Sebagai langkah responsif untuk keberlanjutan bisnis, kami telah membentuk Crisis Center yang tugas dan dukungan dari Crisis Center dari semua bidang subholding, dari semua direktorat untuk mengintegrasikan informasi dan koordinasi lintas fungsi serta memiliki personel yang siaga memonitor setiap eskalasi potensi risiko bisnis dan operasional. Tentunya kembali lagi saya sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Komisi VI karena kita tahu bahwa Pertamina sebagai bagian dari BUMN, Badan Usaha Milik Negara, di mana negara di sini adalah bentuk pengakuan kedaulatan terhadap keberlangsungan hidup bangsa Indonesia. Untuk itu kami sangat menghargai dukungan yang diberikan kepada Pertamina. Seandainya dugaan pelanggaran hukum yang sedang berlangsung itu kita pisahkan… pisahkan proses hukum yang sedang berlangsung dengan kita memisahkan bahwa Pertamina sebagai aset strategis bangsa yang tentunya harus kita jaga bersama karena Pertamina adalah soko guru dan tulang punggung, salah satu soko guru, tulang punggung perekonomian Indonesia. Saya kembali lagi sharing pada kesempatan ini, hari kedua ketika saya menerima amanah sebagai Direktur Utama Pertamina, saya bersama Komisaris Utama dipanggil menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka saat itu. Ketika bertemu, pesan beliau sangat sederhana, tidak lebih dan tidak saya kurangi. Ketika bertemu beliau hanya menyampaikan, “Setialah hanya kepada bangsa dan rakyat Indonesia,” Setialah hanya kepada… ah… putih, sambil menunjuk bendera yang berada di belakang beliau duduk. Dan beliau pesan, “Pertamina adalah soko guru dan tumpuan bangsa Indonesia.” Itulah yang selalu kami resapi. Tentunya kembali lagi ketika kami menghadapi ujian, dugaan proses pelanggaran hukum yang sedang berlangsung, kami hormati. Namun tentunya saya juga memberikan semangat, memberikan jaminan kepada rakyat Indonesia bahwa di dalam Pertamina pun masih banyak sosok-sosok yang merah putih yang tentunya mau berjuang untuk kebaikan dan kemajuan Pertamina. Sebagai bentuk transparansi dan keterbukaan, kita juga sudah memiliki layanan Call Center 135. Itu adalah layanan resmi yang sudah ada selama ini. Dan pada saat konferensi pers saya juga memberikan nomor pribadi saya untuk mendapatkan masukan secara langsung. Handphone ini selalu saya bawa ke mana-mana. Kebetulan jamnya juga 17.45 pada saat ini, bisa mirip dengan nomor… Iya, maaf… iya, ini nomor pribadi. Selalu jawab cepat. Terima kasih ya, saya… siapapun saya usahakan menjawab, tidak pakai admin supaya ada sentuhan personal juga. Saya juga mengakui jujur, tentunya banyak mendapat hujatan. Saya terima sebagai bagian dari perbaikan. Kita banyak juga mendapat apresiasi, banyak juga mendapat dukungan dan banyak juga laporan-laporan yang masuk terhadap beberapa praktik-praktik SPBU yang nakal yang nanti akan kita kerja sama dengan aparat hukum untuk kita bersihkan dan jangan sampai rakyat yang dirugikan. Jadi ini nomor ini saya pakai terus. Kadang-kadang jam 12, jam…, jam 3. Bahkan ada yang tidak percaya kalau itu saya… saya telepon balik, ini benar saya untuk menunjukkan bahwa selain Call Center 135 kita juga punya jalur personal untuk bisa menampung aspirasi, masukan, keluhan dan… iya, ini satu, saya bawa terus. Dua ujungnya juga sama, Pak. 17 Agustus 1945. Siap… siap… berikutnya. Selain itu untuk proses penegakan hukum yang sedang berjalan, kami juga fokus pada empat hal, yaitu untuk keberlanjutan bisnis dan usaha, kami segera, cepat, langsung melakukan perubahan kepemimpinan sementara untuk penunjukan pejabat sekaligus membuat kontingensi plan pada pola suplai [Musik] memastikan ya… oh… iya… yang lain direktur di secepatnya, Pak. Kami dorong secepatnya. Yang berikut, kami juga memastikan kerja sama dengan Lemigas, independent surveyor dari kurang lebih 7.842 SPBU seluruh Indonesia. Per hari ini sudah kurang lebih 30% yang kami uji sampel sebanyak 2.457. Dan tentunya nanti hasilnya akan kami update terus ke masyarakat. Dan kami juga mengundang keterlibatan masyarakat apabila ingin ikut serta pada saat uji sampel di lapangan. Berikut juga untuk evaluasi tata kelola dan improvement, kami lakukan audit internal, pengawalan tata kelola, memastikan perbaikan berkelanjutan. Ini yang PR yang kami akan terus lakukan. Tentunya akan kami update terus kepada masyarakat, kepada Komisi supaya dapat membantu kami juga mengawal karena sekali lagi tugas dan tantangan ke depan mudah, banyak tantangan. Kami yakin dengan dukungan dan dorongan semangat dari Komisi VI, masyarakat Indonesia, kita dapat melalui ini semua dengan baik. Saya hanya selalu mengingat pesan dari Bapak Presiden Prabowo Subianto bahwa good governance dan clean government adalah faktor yang mendorong prosperous nation. Jadi dua hal itu akan kita pegang terus. Kondisi kami saat ini, izinkan kami berbenah, izinkan kami melakukan semangat zero tolerance terhadap korupsi. Tidak hanya korupsi, juga terhadap suap… suap di dalam internal Pertamina. Kita juga harus berbenah diri, jangan sampai ada insan Pertamina yang menerima suap untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Seandainya itu terjadi, kita harus siap mempertanggungjawabkan secara hukum. Bahkan apabila itu terjadi pada diri saya sendiri, saya juga siap untuk diproses hukum. Namun tentunya dengan semangat untuk bekerja sebaik-baiknya. Semoga kita semua selalu dijauhkan dari perbuatan melanggar hukum atau perbuatan tercela. Sekali lagi, terima kasih atas banyak masukan dari Bapak Ibu semua. Pak Mufti, terima kasih banyak. Semua usaha untuk mendorong tata kelola yang lebih transparan, akuntabilitas akan kami dorong, akan kami dukung. Terima kasih masukannya, Prof. Semuanya, Ibu. Terima kasih. Saya akan pastikan jawaban akan diberikan selengkap-lengkapnya dan sebaik-baiknya. Ibu, terima kasih. Sekali lagi, mohon dukungannya. Saya sendiri mungkin tidak bisa memikul tugas dan tanggung jawab yang berat ini, namun saya yakin dengan bantuan dari internal Pertamina yang sama-sama memiliki semangat merah putih, bantuan dari Bapak Ibu semua yang sama-sama peduli terhadap kemajuan bangsa kita, saya yakin kita semua akan selalu berhasil dalam tugas dan pengabdian kita bagi bangsa dan negara. Terima kasih. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa menyertai semua niat baik dan ketulusan kita untuk berbakti bagi bangsa dan negara. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Waalaikumsalam, salam sejahtera untuk kita sekalian. Shalom, salve om, santi santi santi om, namo buddhaya, salam kebajikan. Terima kasih. Merdeka. Terima kasih, Pak Simon dan Bapak Ibu sekalian. Ini…

Bentuk komitmennya, Komisi 6 juga kita rapat sampai menjelang buka puasa. Luar biasa, kalau Pak Andre tadi sahur jam … jam baru keluar, pesa bendara jam … siang. Baik, Bapak Ibu, saya bacakan draft kesimpulan.

Poin pertama: Komisi 6 DPR RI menerima penjelasan kinerja korporasi PT Pertamina Persero beserta seluruh subholding tahun 2024, rencana kerja dan roadmap 2025, kesiapan dukungan PBM terhadap arus mudik dan arus balik lebaran Idul Fitri tahun 2025. Para anggota, Pak Dirut ada, tapi kurang detail. Nanti di belakang kita minta yang lebih detail lagi. Di poin tadi ada, tapi enggak… memang enggak detail.

Poin dua: Komisi 6 DPR RI mendorong PT Pertamina Persero beserta seluruh sub holdingnya untuk memastikan ketersediaan, distribusi, serta keterjangkauan harga bahan bakar minyak dan gas secara merata di seluruh wilayah tanah air, terutama dalam menghadapi arus mudik dan balik lebaran Idul Fitri 2025. Para anggota, Dirut, Komisi 6.

Poin 3: Komisi 6 DPR RI meminta PT Pertamina Persero beserta seluruh sub holding untuk melakukan hal-hal sebagai berikut: a. Melaksanakan sosialisasi dengan program yang tepat untuk kembali memulihkan kepercayaan masyarakat dengan menjaga kualitas bahan bakar minyak sesuai spesifikasi teknis yang telah ditetapkan; b. Memperbaiki sistem pengadaan dengan lebih transparan, dengan mengedapankan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik; c. Meningkatkan kegiatan pengawasan dengan optimalisasi digitalisasi teknologi tinggi untuk meminimalkan terjadinya fraud; d. Meminta penjelasan kepada Kejaksaan untuk mengklarifikasi tafsiran-tafsiran terhadap kasus PT Pertamina Patra Niaga untuk membentuk opini masyarakat yang baik; e. Melaksanakan strategi pembenahan internal dalam rangka meningkatkan citra dan kinerja perusahaan.

Bapak Ibu, mohon izin Ibu pimpinan untuk poin D, sepertinya tidak mungkin. Ee, tidak perlu, Bu. Karena pada saat itu, ee pihak Kejaksaan Agung, bahkan Jaksa Agung sudah memberikan klarifikasi bersama-sama dengan Pertamina. Ibu, terima kasih. Ya, apus saja, karena sudah… itu ya sudah. Bapak Ibu, ada… sudah… udah… udah… sudah dibaca tadi di… seek D. Melaksanakan strategi pembenahan internal dalam rangka meningkatkan citra dan kinerja perusahaan. Iya, benar. Sudah ketok-ketok. Sudah… sudah… sudah… Bu. Sudah, Pak Prof. Oke… oke. I. Oke. Empat… empat… empat.

Komisi 6 DPR RI meminta PT Pertamina Persero untuk menyampaikan roadmap yang lebih detail dari holding dan subholding untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi. Sebentar dulu… …odi dalam rangka swasada energi… mencapai swasada energi… di belakangnya… untuk meningkatkan daya saing dan menuju saing… efisi… menuju… belakang lagi… sudah. De… saing efisiensi… benar… menuju ketahanan energi. Enggak dong, enggak… dan dalam… dan… beda… itu beda… enggak pakai dan… dan… dan… efisiensi… menuju doang… enggak usah semua… ada energi… rangka. Oke, Bapak Ibu, setuju redaksinya, Pak Dirut? Empat, poin empat. Mohon izin Ibu pimpinan, ee kalau diperkenankan, mungkin tidak perlu holding dan sub holding, karena Pertamina akan mencakup itu semua, termasuk… Eh iya, mungkin dengan Pertamina sudah mencakup semua, Ibu. Holding dan sub holding, kami berikan penjelasan sejelas-jelasnya. Jadi nanti kalau misalnya… ee… kalau Pertamina itu sudah semua… sampai detail, misalnya… paka mau apa… oke. Oke, gimana, Bapak Ibu? Setuju? Oke, begitu, drop stok ya.

Poin 5: Komisi 6 DPR RI mendukung proses penegakan hukum terkait dugaan temuan korupsi pada PT Pertamina Patra Niaga sehingga tidak terulang pada kemudian hari. Ya, oke. To… ada yang lain? Izin, tadi yang terkait… peram… PT Pertamina Persero… gitu… udah… gitu aja… udah… udah… udah… ketok deh. Setuju… setuju. Bapak Ibu, Pak… keena… dibaca dulu… ong… urus sih… Profesor mau buka puasa. Komisi 6 DPR RI meminta PT Pertamina Persero untuk memberikan jawaban tertulis dalam waktu paling lama 7 hari kerja atas setiap pertanyaan yang diajukan oleh anggota Komisi 6. Catatan, Pak. Tambahan, izin. Jawabnya sejelas-jelasnya. Iya, jawaban tertulis sejelas-jelasnya… sejelas-jelasnya. Catatannya betul. Saya mau ngasih catatan, jangan asal jawab juga gitu. Jadi harus jelas ya, jangan… pasukan… Tio… a… bikin jawabannya ini, jangan copy paste doang gitu. Bapak Ibu, setuju? Baik, terima kasih. Bapak Ibu, Pak Dirut dan semua eh jajarannya, sebelum kita tutup, silakan closing statement-nya, Pak Dirut.

Baik, Bapak Ibu, para pimpinan, anggota, Pak dan semua ee jajaran. Terima kasih untuk rapat kita hari ini. Mudah-mudahan ujian ini… ujian, Prof. Namanya juga puasa, jadi ujian… ujian mau naik kelas katanya ya. Ujian naik… mudah-mudahan kita bisa… kita semua bisa melalui ujian ini dengan baik dan lebih baik lagi, ee Pertamina untuk masyarakat, untuk Indonesia. Saya pikir itu. Terima kasih. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.ikum… salam. [Musik]