Transcription
Coba kalau kemarin saudara Aceh enggak kompak. Kalau kemarin enggak kompak, oh, yang satu bilang enggak apa-apa diambil. Yang satu lebih bilang enggak bisa, enggak bakal balik. Itu empat pulau, Saudara. Tapi kenapa empat pulau itu kembali ke pangkuan Aceh? Karena Aceh kompak, bersatu, tidak berpecah belah dalam perjuangan. Betul. Betul. Takbir.
Ini bukan soal khasnya sekedar pulau, tapi ini soal kedaulatan bangsa Aceh, Saudara, yang enggak pernah diajak bicara, enggak ada angin, enggak ada hujan, tahu-tahu empat b empat pulau dicolong. Saudara kemarin ditanya Mendagri sama wartawan, "Pak, kok enggak jadi?" Allah, kok enggak jadi? Allahu Akbar. Apa dibilang? Iya, saya belum baca undang-undangnya sih. Saya enggak tahu isi perjanjian Helsinki. I udah gitu Pak Menko ngebelain Mendagri. Apa Menko Hukum dan HAM mengatakan Mendagri enggak salah, enggak ada itu aturannya dalam perjanjian Helsinki. I mata lu buta. Perjanjian Helsinki tanggal 15 Agustus 2005 yang dilakukan di Helsinki, Finlandia, Saudara. Salah satu isi daripada kesepakatan perdamaian Helsinki disebutkan bahwa batas Aceh kembali ke batas putusan nomor ee 24 tertanggal 1 Juli 1956. Jadi siapa bilang di Helsinki tidak disebut batas saudara? Kok yang begini bisa jadi Menko? Menteri kopi kalian.
Aceh adalah gerbang pintu masuknya Islam ke Nusantara. Betul. Betul. Yang pertama kali masuk Islam di Indonesia ini adalah bangsa Aceh. Betul. Betul. Jasa Aceh ke Republik Indonesia begitu besar. Betul. Betul. Betul. Betul. Kami menganggap bangsa Aceh sebagai kakak kandung kami. Bahkan saya berharap Aceh itu menjadi lokomotif perjuangan, menjadi panglima perjuangan untuk menerapkan Islam bukan hanya di Aceh, tapi syariat Islam harus diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Setuju tidak? Setuju. Bahkan kami ke depan bukan hanya Aceh yang harus menggunakan syariat Islam. Seluruh Indonesia harus menggunakan syariat Islam. Bahkan Aceh harus siap menjadi panglima pemimpin perjuangan penegakan syariat Islam di Indonesia. Setuju tidak?
Warahamatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillah walhamdulillah wala haula wala quwwata illa billah. Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa ashadu anna sayyidana Muhammadan abduhu wa rasuluh. La nabiya ba'da. Allahumma sholli wasallim wabarik ala sayyidina wa habibina wa syafiina wa maulana nabiina Muhammadinamin [Musik] yaumiddin amma baad Siadatul habaib asyurafa wa saadatul ulamail fudola wa fadilatul umarail kurama wa jamiil hadirin wal hadirat al ahibbil aizza rahimakumullah fiil munasabati Wallah wati rasulillahiallahu alaihi wasallamah subhanahu wa taalaqimana minal amalamdulillahbilaminabarallahu minna winkum fqabbal ya karim kepada segenap ulama dan segenap umara yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam yang sangat kita cintai.
Pada kesempatan malam hari ini, satu kebahagiaan bagi saya bisa berkumpul bersama para ulama, para umara di Aceh beserta para tokoh dan segenap umat Islam. Semoga kumpulnya kita pada malam hari ini menjadi penyeb. Alhamdulillah malam hari ini saya hadir di sini dari Jakarta didampingi oleh sahabat seperjuangan saya Imam FPI Pusat almamul mukarram Abuya Asyekh Ahmad Qurtubi Jailani, hafidahullahu taala wara. Amin. Begitu juga saya didampingi oleh sejumlah pengurus DPP FPI yang salah satunya ketua umumnya yaitu Habib Muhammad bin Husein Al-Attas yang tadi sudah menyampaikan mauidahnya tentang Palestina dan beliau tidak lain dan tidak bukan adalah menantu saya. Doakan agar beliau diberikan kekuatan oleh Allah dalam berjuang. Amin. Tetap istiamah. Amin. Dalam keadaan suka maupun duka. Amin. Amin ya rabbal alamin. Kemudian di sini hadir bersama kita saudara Bupati Aceh Besar yang sama kita cintai yaitu Syekh Muharram. Ee sejak semalam beliau menemani saya makan malam, kita saling berjumpa dan tadi juga saya berkumpul dengan Ketua DPRK Banda Aceh bersama sejumlah pimpinan DPRK Banda Aceh. Sungguh sesuatu yang patut disyukuri kedatangan kami di tempat ini, disambut, diterima oleh para ulama, oleh para umara, dan umat Islam. Ini semuanya tidak lain dan tidak bukan adalah karunia Allah Subhanahu wa taala yang maha kuasa. Alhamduillah lillah. Mudah-mudahan insyaallah Aceh selalu diberkahi oleh Allah Subhanahu wa taala. Amin. Aceh dijadikan oleh Allah sebagai baldah thayibah. Amin. Aceh dijadikan oleh Allah sebagai wilayah s munawarah mubarokah. Amin. Dan rakyatnya senantiasa diberikan oleh Allah Subhanahu wa taala kemakmuran dan kesejahteraan di dunia maupun di akhirat. Amin ya rabbal alamin.
Ahib kirom, sebelum saya memulai menyampaikan yang perlu saya sampaikan, saya ingin ajak terlebih dahulu semua yang ada di sini kita baca suratul fatihah yang kita niatkan untuk guru-guru kita yang sudah meninggalkan kita. Dulu kalau saya ke Aceh, banyak orang-orang tua di Aceh, ulama-ulama dayah, abi-abi yang sangat kita cintai selalu menyambut kedatangan kami dan mendoakan seperti Saudara Abu Tumin, Abu Kuta dan lainnya. Bahkan waktu saya berada di Aceh, belia, maaf waktu saya berada di Makkah selama 3 tahun setengah, beliau-beliau itu kalau ke Makkah mampir ke rumah kami. Maka itu satu kesedihan tentunya kali ini saya datang, beliau-beliau sudah kembali kepada Allah subhanahu wa taala. Nah, maka itu saya ingin mengajak kepada semua untuk membacakan suratul fatihah yang teristimewa, pertama tentunya oleh guru besar daripada bangsa Aceh yaitu Syekh Abdur Rauf Assingkiri rahimahullahu taala. Berikutnya adalah guru-guru kita yang merupakan orang tua saya, guru saya juga dan juga sahabat seperjuangan, yaitu almarhum Abu Tumin, almarhum Abu Madinah, almarhum Abu Kutakrang, almarhum Abu Lamnu, almarhum Abu Luknibong, almarhum Abu Paloh Gadeng, ee almarhum Abati Babah Bulo, almarhum Ayah Sof, almarhum Ayah Ketabang, masih banyak yang lainnya. Allah Allah subhanahu wa taalaahumahfirahum jannimahim wa asrhatimun wal akhi wa azwajina wa auladina. Amin ahli subhanahu wa taala [Musik] sayidina Muhammadinallahu alaihi wasallam. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahiabbil alamin arrahmanirrahimiki yaumiddin iyaka na'budu wa iyaka nastain ihdinathal mustaqimathalladzina anamta alaihim ghairil magdubi alaihim wadin. Amin amin amin ya rabbal alamin. Ahibail kiram.
Tadi Ketua Umum FPI dengan begitu semangat mengajak kita bersatu untuk berjuang memerdekakan Palestina. Saya ingin menggaris bawahi bahwa dalam perjuangan itu bersatu dan bersama merupakan keniscayaan. Kita tidak akan pernah menang dalam perjuangan kalau kita tidak bersatu dan tidak berjuang bersama. Makanya Allah Subhanahu wa taala mengingatkan dalam Al-Qur'an faqala taala wa attasimu bihablillahi jamia wala tafarqu. Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah, kepada agama Allah, hukum Allah. Wala tafarqu. Dan jangan sekali-kali kamu bercerai-berai. Di ayat yang lain Allah ingatkan watawanu wat taawanu alal birri wat taqwa wala taawanu alal itmi wal udwan. Jadi Allah nyatakan, "Bekerjasamalah kamu di dalam kebaikan dan di dalam takwa. Dan jangan kamu bekerja sama di dalam dosa dan di dalam pelanggaran, Saudara." Jadi, kalau kita baca ayat-ayat tadi, Saudara, jelas bahwa Allah mendorong kita untuk bersatu, untuk bersama. Kenapa? Dalam satu hadis Nabi menyampaikan kepada umatnya di mana beliau katakan Nabi alaikum bil jamaah fana yadallahi maal jamaah. Kata Nabi, wajib atas kamu berjamaah. Berjamaah itu berjuang bersatu dan bersama. Jangan pecah. Kenapa? Karena sesungguhnya pertolongan Allah itu ada pada kebersamaan. Saudara, pertolongan Allah ada pada kebersamaan. Maksudnya apa sih, Saudara? Kalau kita berjemaah, kalau kita bersatu, kalau kita bersama, maka Allah akan berkahi dan Allah akan berikan pertolongan. Tapi kalau kita bercerai-berai, Allah enggak bakal berkahi kita. Jangan mimpi, Saudara, kalau Allah akan tolong kita. Nah, pertolongan Allah itu dalam perjuangan itu harga mati. Maksudnya apa sih harga mati? Tanpa pertolongan Allah kita enggak bakal menang. Enggak, Saudara. Sehebat apapun kita, sebanyak apapun pengikut pasukan kita, sehebat apapun sing datak kita, sepintar apapun strategi kita, sok kaya kayaya apapun harta benda kita, kalau Allah tidak tolong, enggak ada gunanya semua saudara, hancur. Kita bisa dihancurkan oleh musuh-musuh yang kita lihat lemah, yang kita pikir enggak punya kekuatan. Kita bisa digulung oleh mereka kalau pertolongan Allah tidak menyertai kita. Sebaliknya kalau Allah menolong kita, Saudara, selemah apapun kita, semiskin apapun kita, sedikit apapun pasukan kita, Saudara, tapi kalau sudah Allah memberikan pertolongan, musuh sebesar apapun, sehebat apapun, sekuat apapun tidak akan pernah mampu untuk mengalahkan kita, Saudara. Jadi kuncinya di mana? Pertolongan Allah. Kalau Allah sudah menolong, nasrum minallah. Pertolongan itu datangnya dari Allah. Waathun qorib, maka niscaya kemenangan pasti dekat, Saudara. Jadi kalau sudah ada pertolongan Allah, pasti kemenangan akan dekat, Saudara. Nah, karena itu saudara, yuk mari dari tadi diserukan oleh para tokoh kita, oleh panitia, oleh pimpinan FPI yang di Aceh sini, oleh Tengku Abi Muslim At Thahiri, oleh Tengku Abi Wahid, Saudara Al-Asi, semua menyerukan, "Ayo kita bersatu, ayo kita bersama, ayo kita jangan bercerai-berai." Nah, sekarang saya mau tanya semua saudara, apakah kita perlu pertolongan Allah? Perlu. Perlu pertolongan Allah? Mau ditolong Allah? Mau? Kalau begitu siap bersatu? Siap. Siap berjuang bersama. Takbir. Allahu Akbar. Shall alan Nabi.
Baru saja, baru saja di Aceh kita lihat kemarin, Saudara, begitu ulama Aceh bersatu, bersatu dengan gubernurnya, bersatu dengan bupati dan walikotanya, bersatu dengan DPR-DPR di tingkat kota maupun daerahnya. Bersatu seluruh rakyat Aceh menyuarakan untuk meminta empat pulau agar tidak diambil oleh siapapun. Allah kasih kemenangan, Saudara. Betul, betul, betul, betul. Coba kalau kemarin saudara Aceh enggak kompak, kalau kemarin enggak kompak, oh yang satu bilang enggak apa-apa diambil. Yang satu lebih bilang enggak bisa, enggak bakal balik. Itu empat pulau, Saudara. Tapi kenapa empat pulau itu kembali ke pangkuan Aceh? Karena Aceh kompak, bersatu, tidak berpecah belah dalam perjuangan. Betul. Betul. Takbir. Allahu Akbar. Angkat tangan semuanya. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Shallu alan nabi. Saudara, ada yang tanya saya di Jakarta, Habib, kenapa sih soal pulau ramai? Betul. Ini kan cuman soal pulau, Habib. Saya jawab, ya, Ikhwan, Saudara. Ini bukan hanya persoalan pulau, tapi ini soal harga diri. Ini soal harkat dan martabat bangsa Aceh. Ini bukan soal khasnya sekedar pulau, tapi ini soal kedaulatan bangsa Aceh, Saudara, yang enggak pernah diajak bicara, enggak ada angin, enggak ada hujan, tahu-tahu empat b empat pulau dicolong. Kacau tidak? Kacau tidak? Mendagri enggak ada angin, enggak ada hujan tanda tangan. I [Tepuk tangan] saudara kemarin ditanya Mendagri sama wartawan, "Pak, kok enggak jadi?" Allah kok enggak jadi? Allahu Akbar. Apa dia bilang? Iya, saya belum baca undang-undangnya sih. Saya enggak tahu isi perjanjian Helsinki. I ini menteri kok ngawur? Kok yang begini bisa jadi menteri? Kacau kacau, kacau, kacau. Kacau. Tidak kacau. Ini Mendagrinya, wakilnya kacau. Orang jadi menteri sebelum ngambil keputusan periksa dulu dong bagaimana aturannya, bagaimana regulasinya, bagaimana undang-undangnya. Jangan bikin gaduh. Betul. Betul. Aceh lagi tenang-tenang. Aceh lagi damai-damai, macan tidur dibangunin. Kacau enggak? Kacau enggak? Kacau. Belum tahu mereka, Aceh dipikir Aceh bakal diam. Enggak. Aceh jangan diganggu. Betul. Betul betul betul betul betul. Aceh kalau diperlakukan dengan baik, Aceh akan lebih baik. Betul. Betul. Kalau orang lembut kepada Aceh, Aceh akan lebih lembut. Betul. Betul. Orang baik ke Aceh, Aceh akan lebih baik. Betul. Betul. Betul. Betul. Tapi kalau ada yang mau mau main gila sama Aceh, bisa jadi Aceh bungo. [Tepuk tangan] Oh, tahu dilawan Aceh. Betul. Betul. Angkat tangan. Takbir. Allahu Akbar. Shallu alan nabi.
Makanya saya mau tanya, persatuan bagus enggak? Bagus. Persatuan bagus enggak? Bagus. Saudara, ini pelajaran dari Allah. Tadi ada laporan saya dari kawan-kawan di Aceh, Habib ini bagaimana ya? Konon syariat belum sempurna dilaku diberlakukan di Aceh. Betul. Kuncinya gampang. Bersatu, bersatu. Setuju enggak? Setuju. Setuju enggak? Betul. Eh, kalau Pak Gubernur, Pak Bupati, DPR, Saudara semua bersatu, ulama, umat Islam memberlakukan kanonun syariat di Aceh, siapa yang bisa tolak? Betul. Betul. Takbir. Allahu Akbar. Siap tegakkan syariat Islam. Siap. Takbir. Allahu Akbar. Ada gangguan dari pusat. Wah. Eng eng. Ada yang bilang apa? Habib, Habib jangan memprovokasi orang Aceh. Wah, Habib jangan manas-manasin. Saya bilang, "Saya enggak manasin. Emang orang Acehnya sudah panas." Betul, betul, betul, betul. Saya mau tanya kemarin soal empat pulau emang saya yang panas-panasin, Tito yang panas-panasin? Betul. Betul. Siapa? Tito siapa? Tito siapa? Tid Tito. Dia mau nyenangin anak raja. Eh, bukan anak, mantu. Mantu. Mertua sama-sama maling. Yang mau dicolong Pulau Aceh ie. Udah gitu enggak tanggung-tanggung. Empat pulau lagi. Astagfirullahalazim. Tunggu sebentar. Tunggu sebentar, Saudara. Udah gitu Pak Menko ngebelain Mendagri. Apa Menko Hukum dan HAM mengatakan Mendagri enggak salah, enggak ada itu aturannya dalam perjanjian Helsinki. I mata lu buta. [Tepuk tangan] Saudara baca dalam perjanjian Helsinki, sana ada satu poin menegaskan bahwa batas wilayah Aceh kembali saudara ke Undang-Undang Peraturan Nomor 1 Tahun 1956. Artinya kalau ditunjuk merujuk ke Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 maka empat pulau tersebut termasuk bagian Aceh. Habib kok Habib tahu? Menteri enggak tahu, Allah. Habib baca. Menteri enggak baca. Betul, betul, betul, betul. Udah yang begitu buru-buru pecat aja dah. Amin. Amin. Aminnya kurang serius. Amin. Amin. Amin. Amin. Amin. Ada yang protes saya, Habib. Enggak boleh doa-doa jelek buat pejabat. Jawab. Jangan jawab, kasih paham. Jangan kasih kapan? Kapan? Nanti bulan Agustus kan. Agustus mau balik lagi. Ya Allah. Sekarang juga harus, sekarang harus. Wah, saya enggak berani ini, urusannya pulang dicegat kalau enggak digelasin. [Tepuk tangan] Mau tahu jawabnya? Tahu. Saudara, Nabi pernah mengangkat tangan berdoa. Apa kata Nabi dalam doanya? Hadis sahih, Saudara. Nabi mengatakan Allahumma man amri umatian alaihim al w amri umian bihim farfu bihi ya. Masyaallah. Sudah paham kan? Kan bahasa akeh barusan. Bahasa ak bahasa Arab. Arab. Oh, bahasa Arab. Mau tahu artinya? Mau. Saudara, Nabi berdoa. Allahumma ya Allah man waliya min amri umati saian. Barang siapa ada orang yang mengurus aku punya umat maksudnya jadi pemimpin memimpin aku punya umat. Fasaqqo alaihim. Tapi dia bikin susah urusan umatku. Dia bikin susah. Umatku disakiti, menderita, ditelantarkan. Maka kata Nabi kepada Allah, "Fasquuk alaih." Bikin susah hidupnya ya Rabb. Amin. Amin. Doa siapa? Doa siapa? Nabi. Doa Nabi, Saudara, kelanjutannya kata Nabi, "Ya Rabb, manya min amri umtian." Barang siapa ada orang yang mengurus aku punya umat dan dia berbuat lembut terhadap umatku, dia mudahkan urusannya. Farfu bihi, permudah urusan dia ya Allah. Amin. Saya tanya, doa Nabi adil enggak? Adil. Adil enggak? Adil. Yang baik didoain betul. Betul. Yang jahat disumpahin betul. Betul. Ajaran siapa? Amin. Saya diprotib jangan nyumpahin. Gua enggak nyumpahin, tu doa Nabi. Betul. Betul. Maka itu kita minta sama Allah yang bikin susah bangsa Aceh biar Allah bikin susah lagi. Amin. Yang nyakitin bangsa Aceh biar disakiti lagi. Amin. Yang coba-coba mau menghancurkan kehidupan bangsa Aceh, biar Allah hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Amin. Amin ya rabbal alamin. Alamin.
Nah, Saudara, saya mau bacakan sedikit, Saudara. Saya heran kalau menteri kok sampai enggak tahu begitu, Saudara. Pertama, kalau kita buka peta yang dibuat oleh Belanda tahun 1913 itu pecak-peta Aceh sudah ada. Empat pulau yang lagi diributin kemarin ada dalam peta. Masuk wilayah Aceh, Saudara, dari tahun 1913 Indonesia belum lahir. Belum lahir belum? Sudah lahir belum? Belum. Belum. 1913, Saudara. Nah, kemudian saudara selanjutnya setelah itu ada peraturan saudara di tahun 56 yang tadi sudah saya bacakan saudara Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1956 di situ dinyatakan juga saudara bahwa empat pulau masuk wilayah Aceh. Terus ditambah lagi ada kesepakatan bersama saudara di tahun 1992 antara Gubernur Aceh saat itu yang bernama Bapak Ibrahim Hasan dan dengan Gubernur Sumatera Utara yang saat itu bernama Raja Inal Siregar. Saudara bersepakat tentang batas-batas wilayah Aceh dan Sumatera Utara dan ternyata empat pulau tersebut masuk wilayah Aceh. Akan diperkuat, Saudara, kesepakatan tersebut dengan Kemendagri nomor 111 tahun 1992, Saudara, yang menyatakan bahwa keempat pulau tersebut milik Aceh. Kira-kira jelas tidak jelas? Paham tidak? Paham? Jadi saya tanya, kalau kita mau lihat bukti-bukti secara, berarti kuat tidak? Kuat. Kuat tidak? Kuat. Jadi, empat pulau itu milik siapa? Empat pulau tersebut milik siapa? Milik siapa? Baik, diperkuat lagi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, Saudara. Di situ Undang-Undang tentang Pemerintahan Aceh. Tapi disebutkan bahwa batas wilayah Aceh ikut batasan yang sebelumnya. Nih lihat ada berapa undang-undang tuh ya ikhwan, dari undang-undang tadi kita sebutkan nomor dari peta tahun 1913 Undang-Undang Nomor 24 tahun '56, kemudian ada kesepakatan tahun '92, ada Kemendagri Saudara nomor 111 tahun '92 juga saudara dan ada Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006. Yang menarik di tahun 2013, Saudara, ada yang dorong-dorong Sumatera Utara supaya menggugat empat pulau ke Mahkamah Agung, Saudara. Digugat, digugat ke Mahkamah Agung, minta putusan supaya empat pulau masuk Sumatera Utara. Ternyata begitu Mahkamah Agung menggelar sidangnya, Saudara, gugatan tersebut ditolak dan dinyatakan oleh Mahkamah Agung, empat pulau tetap milik Aceh. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Nah, kemudian yang berikutnya adalah perjanjian Helsinki tanggal 15 Agustus 2005 yang dilakukan di Helsinki, Finlandia, Saudara. Salah satu isi daripada kesepakatan perdamaian Helsinki disebutkan bahwa batas Aceh kembali ke batas putusan nomor ee 24 tertanggal 1 Juli 1956. Jadi siapa bilang di Helsinki tidak disebut batas saudara? Kok yang begini bisa jadi Menko? Menteri kopi kalian. Astagfirullahalazim. Udah singkat lagi saudara. Berarti saudara secara historis, secara sosiologis, secara politis, secara yuridis, konstitusional, formal, empat pulau tersebut memang milik Aceh. Alhamduillah. [Tepuk tangan] Alhamduamdulillah. Menteri enggak tahu apa-apa. Saudara membikin peraturan. Bahkan di perjanjian Helsinki di sana ada salah satu klausul disebut bila ada peraturan turun dari pusat bicara tentang Aceh harus konsultasi dulu kepada pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat di Aceh, Saudara. Jadi pemerintah pusat tidak boleh seenaknya bikin peraturan untuk Aceh tanpa persetujuan rakyat Aceh. Betul. Betul. Kenapa demikian? Itulah yang disebut outsour otonomi. Khusus. Maka itu saya dukung dari kemarin saya katakan di Jakarta bukan. Ini bukan soal pulau bukan. Ini bukan soal sekedar urusan tanah bukan. Ini ada satu kedaulatan yang berdiri atas dasar konstitusi, atas dasar perundang-undangan. Legal standing-nya jelas, Saudara. Maka itu keputusan menteri tersebut salah, bertentangan dengan undang-undang dan harus batal demi hukum, Saudara. Betul. Betul. Eh, Mendagrinya pakai nantang orang Aceh. Apa dia bilang? Suka ya. Kalau enggak suka gugat aja ke PTUN. Dipikir orang Aceh goblok kali ya, Saudara. Kalau menteri keluarin peraturan bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi itu enggak usah digugat di PTUN-kan. Batalkan. Batalkan. Batalin. Batalin. Batalin. Betul. Betul. Nah, jadi ini dia saudara udah toh sok tahu udah goblok sombong lagi. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Saya mau usulkan saudara dari sekarang dari atas mimbar. Saya mau sampaikan ke Bapak Presiden Prabowo. Menteri-menteri yang suka bikin gaduh, menteri-menteri yang enggak tahu tugasnya, menteri-menteri yang sombong, angkuh, saudara, menteri-menteri yang tidak bisa kerja. Segera pecat, ganti dengan menteri yang bagus. Betul. Betul. Setuju tidak setuju? Setuju tidak? Takbir. Allahu Akbar. Kalau Bapak Presiden mengganti semua menteri yang bermasalah, setuju tidak setuju? Dukung tidak Presiden Prabowo? Setuju. Takbir. Allahu Akbar. Untung presidennya pintar. Begitu lihat di Aceh panas. Waduh, guawat ini bisa berontak lagi. Betul, betul, betul, betul. Ini telat sedikit, telat sedikit, Saudara. Ini bisa Aceh bungo. Saya yakin itu, Saudara. Orang Aceh jangan coba-coba dimain-mainin. Betul. Betul. Betul. Betul. Orang Aceh mudah ikhlas. Orang Aceh mudah memaafkan. Orang Aceh berkali-kali disakiti, orang Aceh selalu bisa memaafkan, Saudara. Tapi jangan terus-menerus menyakiti orang Aceh, memancing-mancing orangnya sudah tenang, orang sudah damai. Kok dipancing-pancing biar gaduh lagi? Aceh kurang ajar. Betul, betul, betul, betul. Menteri-menteri yang bikin gaduh semacam ini setuju tidak diberhentikan? Setuju. Setuju tidak setuju? Takbir. Allahu Akbar. Masyaallah. Saudara, lu teriaknya Aki merdeka lu. Kalau saya atas teriak merdeka pulang langsung ditangkap, Habib Risid provokator. Tenang tenang, enggak apa-apa dia orang Aceh teriak Aceh merdeka. Enggak apa-apa orang Aceh. Kalau saya saudara tentu enggak boleh berpikir hanya Aceh saja. Saya mengajak seluruh rakyat Aceh, Saudara. Rakyat Aceh ini, Saudara. Aceh adalah gerbang pintu masuknya Islam ke Nusantara. Betul. Betul. Yang pertama kali masuk Islam di Indonesia ini adalah bangsa Aceh. Betul. Betul. Jasa Aceh ke Republik Indonesia begitu besar. Betul. Betul. Betul. Betul. Kami menganggap bangsa Aceh sebagai kakak kandung kami. Bahkan saya berharap Aceh itu menjadi lokomotif perjuangan, menjadi panglima perjuangan untuk menerapkan Islam bukan hanya di Aceh, tapi syariat Islam harus diterapkan di seluruh wilayah Indonesia. Setuju tidak? Setuju. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Kalau barusan kita dengar ada suara teriakan Aceh merdeka. Justru saya ingin mengajak seluruh bangsa Indonesia meneriakkan Indonesia merdeka. Siapa bilang Indonesia saat ini sudah merdeka, Saudara? Kita dijajah. Kita dijajah. Sembilan naga dengan semua kekayaannya sudah menguasai 80% tanah bumi Indonesia, Saudara. Tambang mereka ambil, emas mereka ambil. Kita semua dijajah, Saudara. Kemaksiatan meraja lelah di mana-mana. Ulama dikriminalisasi, Saudara. Maka itu saya mau ngajak kita merdekakan Indonesia dari oligarki oligarki busuk. Kita bebaskan Indonesia, merdekakan Indonesia dari segala kemunkaran, dari segala kemaksiatan. Dan kita merdekakan Indonesia dari semua pejabat jahat dan pejahat. Setuju tidak? Setuju. Setuju tidak setuju. Saya mau ajak semua kita merdekakan Indonesia dari pejabat-pejabat. Setuju tidak setuju. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Jadi saya enggak ngajak cuman Aceh merdeka. Enggak. Enggak saudara. Saya ngajak Indonesia harus merdeka. Sekarang ada sembilan naga yang nguasai. Saya pengin besok sembilan naga jadi sembilan cacing. Amin. Amin. Amin. Amin. Amin. Amin. Amin. Wah, sekarang sudah mulai muncul ada sembilan haji. Alhamduillah. Cuman hajinya jangan beli nanti. Nah, kalau hajinya nanti enggak jujur, repot kita. Betul, betul, betul, betul. Nah, maka itu, Saudara, enggak, enggak main-main. Saya terus berjuang, Saudara. Bagaimana Indonesia ini merdeka dari kemaksiatan, merdeka dari judi, merdeka dari korupsi, merdeka dari narkoba. Harus Indonesia merdeka dari hukum-hukum jahiliah, merdeka dari kekuatan asing dan aseng, Saudara. Makanya saya mau ajak orang Aceh, tolong jangan hanya kita berpikir tentang Aceh, tapi berpikirlah tentang negara Indonesia secara keseluruhan. Kenapa? Karena negara ini merdeka. Indonesia, Saudara. Terlalu banyak jasa bangsa Aceh. Aceh jangan mau ngalah, jangan mau lepas Indonesia dikasih ke asing ke asing. Enggak, Saudara. Tanpa bangsa Aceh Indonesia enggak merdeka, Saudara. Tolong diingat segera. Tahun 1946 ketika Belanda melakukan agresi, Saudara, dia rebut Jakarta. Pindah ibu kota ke Yogyakarta. Direbut lagi Yogyakarta oleh Belanda, Saudara. Akhirnya apa, Saudara? Akhirnya Bung Karno diasingkan di Kota Bireuen, Aceh Timur, Saudara. Enggak sampai di situ. Kota Bireuen selama 1 minggu menjadi ibu kota Indonesia. Masyaallah. Jadi ibu kota pertama Jakarta, ibu kota kedua Yogyakarta. Ibu kota ketiga adalah Bireuen yang ada di Aceh ini, Saudara. Enggak sampai situ. Begitu Indonesia merdeka, Aceh yang nyumbang pesawat terbang pertama Dota R001, Saudara. Enggak sampai di situ. Orang Aceh kirim 1,5 kg emas untuk membangun Masjid Istiqlal, Saudara. Masjid Istiqlal, masjid kemerdekaan, Saudara. Enggak sampai di situ. 28 kg emas dari Aceh dikirim untuk ditaruh di atas monumen nasional. Monumen nasional sebagai ikon saudara, yaitu bangkitnya negara Indonesia dari penjajahan. Semuanya ada jasa bangsa Aceh. Betul. Betul. Takbir. Allahu Akbar. Jadi hati-hati kalau sekarang ada ngaku-ngaku paling NKRI, ngaku-ngaku paling Pancasila dan ngaku-ngaku kayak dia doang yang punya Indonesia. Kacau tidak? Kacau tidak? Makanya Aceh jangan mau ngalah. Enggak. Enggak. Indonesia kami yang merdekakan. Indonesia kami yang sumbang. Indonesia kami yang besarkan. Bahkan kami ke depan bukan hanya Aceh yang harus menggunakan syariat Islam. Seluruh Indonesia harus menggunakan syariat Islam. Bahkan Aceh harus siap menjadi panglima pemimpin perjuangan penegakan syariat Islam di Indonesia. Setuju tidak? Takbir. Allahu Akbar. Alhamduillah. Masyaallah.
Memang kalau ceramah di Aceh ngeri-ngeri sedap. Ini kenapa saya bilang ngeri-ngeri sedap, Saudara? Kita kalau salah ngomong sedikit jawabnya lain lagi. Saya kalau di Sumatera atau di Kalimantan saya sampaikan ke masyarakat, saya tanya, "Bagaimana apakah Anda setuju kalau Indonesia ini bubar?" Mereka jawab, "Tidak." Apa Anda setuju ee kalau Indonesia ini hilang atau lenyap? Tidak. Begitu di Aceh saya tanya, "Apa setuju Indonesia bubar?" Setuju. Kacau. Ini bukan cerita, pengalaman semalam. Allahu Akbar. E tanya nih ustaz-ustaznya, apakah setuju kalau Indonesia bubar? Setuju, Habib. Setuju. Kalau Indonesianya hilang? Setuju, Habib. Masyaallah. Makanya saya enggak mau nanya yang begitu lagi, Saudara. Makanya saya bilang ngeri-ngeri sedap ini orang Aceh. E tapi saya tahu perjuangan Aceh ini luar biasa, Saudara. 350 tahun.
Indonesia digagah oleh Belanda, Aceh satu-satunya provinsi, satu-satunya wilayah, satu-satunya daerah yang tidak pernah tunduk kepada Belanda.
Saudara, enggak pernah tiada hari tanpa perang, tiada hari tanpa angkat senjata. Di mana ada orang-orang kafir Belanda yang ingin mengacau negeri ini, mereka kejar, mereka bunuh. Bahkan penjaga Portugis begitu datang, Saudara, pernah diusir oleh warga Aceh di bawah pimpinan Laksamana perempuan orang Aceh. Saudara, malah-malah hayati, Saudara. Saya tanya Aceh ini, Saudara, bagus tidak bagus? Hebat tidak? Hebat? Takbir. Allahu Akbar.
Emang gitu, saya mau tanya, Anda mau bantuin saya enggak merdekain Indonesia? Mau. Jangan dibalik, Habib. Bantuin kita dong merdekain Aceh. Wah. Kacau balau. Eh, saya mau balik aja. Mau balik. Kira-kira setuju enggak? Setuju. Siap bantu Habib? Siap. Siap memerdekakan Indonesia dari maksiat? Siap. Betul. Betul. Takbir. Allahu Akbar.
Lagi enak-enak kita berjuang, Saudara. Eh, tahu-tahu muncul kelompok-kelompok yang adu domba. Habib mah Habib diadu domba. Kiai sama kiai diadu domba. Ulama sama habib diadu domba. Luar biasa. Eh, ternyata kelompok ini punya guru bisa ngomong pakai bahasa semut. [Musik] Pusing Saudara, di Aceh ini ulama besar banyak. Betul. Betul. Abi-abi yang besar-besar banyak. Betul. Betul. Ada pernah ceramah saya bisa bahasa semut? Tidak. Apa Saudara? Apa maunya? Nasab HP wa Anwi, Saudara, diobok-obok, diorak-orak. Nasab Wali Songo diobok-obok, diorak-orak. Saudara, sudah gitu mereka nantang. Saya tantang kaum habaib untuk dialog berdebat 3 hari 3 malam. Tempatnya di Kesultanan Banten. Nah, ini ada Buya Qurtubi dari Banten, Saudara. Akhirnya apa? Saya kirim saya punya menantu, Habib Hanif Al-Attas. Hanif berangkat, layani sampai di sana, pada kabur, ya. Kacau kacau kacau kacau kacau. Tidak kacau.
Eh, terakhir Saudara, Pak Kenantang kepada seluruh umat Islam diserukan supaya men-swiping habaib. Cari, kejar, mereka, usir dari Indonesia. Wah. Kita ditantangin begitu. Iye. Lawan jangan lawan, lawan jangan lawan. Apa mereka bilang? Kami sudah siapkan pasukan berani mati untuk menghabisi habaib. Lawan jangan lawan, lawan jangan lawan. Tadinya saya enggak mau ikut campur. Saya tugaskan saya punya menantu, Habib Muhammad bin Husein. Saya tugaskan saya punya menantu, Habib Alwi bin Smit. Saya tugaskan saya punya menantu, Habib Hanif bin Abdurrahman Al-Attas. Saya tugaskan mantu-mantu saya. Jawab mereka. Hadapi mereka. Tapi begitu ancamannya sudah nyawa, umat diserukan untuk ngepung habaib, bunuh habaib, Saudara, ngusir habaib ini enggak boleh dibiarkan. Betul. Betul. Mereka bilang bentuk pasukan berani mati. Akhirnya saya naik mimbar, Saudara. Saya sambut tangan mereka. Saya katakan, "Hei, silakan kalian bentuk itu pasukan berani mati." Begitu kalian bentuk pasukan berani mati, masa saya akan bentuk pasukan berani matiin. Setuju enggak? Setuju. Setuju enggak? Setuju. Ibu. Bu, setuju, Bu? Setuju. Ada ibu-ibu nanya, "Habib, kenapa galak banget, Beb? Kok pasukan berani matiin?" Saya jawab, "Ya, kasihan. Ada pasukan berani mati enggak dimatiin kan." Kasihan. Cita-citanya tidak tercapai. Kasihan tidak? Kasihan tidak? Saya tantang. Eh, nih Habib Rizik tiap hari dakwah keliling Pulau Jawa. Masuk kampung, keluar kampung, naik gunung, Saudara, turun ke lembah. Silakan. Jadwal saya jelas, panggung saya jelas. Kapan mau dihadang? Kerahkan kau punya pasukan. Kerahkan. Eh, kabur lagi. Udah kacau, kacau, kacau, kacau. Udah, udah jangan diterusin dah yang begitu ngotor-ngotorin majelis kita. Betul. Betul.
Nah, makanya sekarang saya bangga di Aceh. Di Aceh habaib, ulama, kiai, umara, semua bersatu. Bagus tidak? Bagus. Bagus tidak bagus? Siap jaga persatuan? Siap. Siap terus berjuang? Siap. Takbir. Allahu Akbar. Shallu alan nabi. Alhamdulillah. Ee, nah jadi Saudara, nanti saya pesankan kepada Habib Hanif kalau ke Aceh untuk membawa buku tentang keabsahan nasab Baal Alwi untuk dibagi-bagi ke setiap dayah, ke setiap majelis, ke setiap ulama, ke setiap umara supaya masyarakat Aceh yang cinta selama ini kepada para habaib, keluarga Nabi, punya pedoman. Kalau difitnah begini, jawabnya begini. Disebut begini, jawabnya begini. Lengkap dalilnya secara ilmiah, ada hampir 500 halaman. Setuju tidak setuju? Dibagikan ke kiai-kiai. Setuju tidak? Setuju. Takbir. Allahu Akbar.
Nah, baik Saudara. Jadi kembali apa yang saya sampaikan tadi Saudara, yuk kita bersatu. Kalau bersatu kuat. Aceh begitu bersatu, empat pulau enggak jadi Saudara diambil dan Aceh kalau bersatu Saudara yang sudah dijalankan kita bersyukur. Lain syakartum laazidannakum. Itu janji Allah. Mana yang belum dijalankan? Tuntut. Saudara masyarakat aja jangan diam. Ulama dan tokoh masyarakat kalau perlu turun ke jalan, kalau perlu kumpul itu Saudara di lapangan Blang Padang atau kumpul itu di Masjid Raya, Saudara, sampaikan kami minta poin ini, poin ini, poin ini segera direalisasikan. Ini sudah 20 tahun, Saudara, dari 2005 sampai 2025 sudah berjalan 20 tahun. Kalau tidak diingatkan nanti orang lupa, pusat lupa. Emang-emang sering pura-pura lupa. Kira-kira jelas enggak? Jelas. Paham tidak? Paham? Nah, saya berkomitmen dengan Front Persaudaraan Islam dan ormas-ormas Islam di Jakarta. Kami akan suarakan di Jakarta ya, Ikhwan. Amin. Supaya seluruh poin perdamaian dalam Helsinki direalisasikan, diwujudkan supaya tidak ada lagi gejolak atau pertumpahan darah di Aceh. Betul. Betul. Betul. Betul. Betul. Takbir. Allahu Akbar. Saya tanya setuju tidak setuju. Setuju tidak setuju? Nah, jadi jangan sampai Saudara, kalau ini dibiarkan nanti provokator masuk kita diadu domba lagi. Jangan. Jangan cari solusi bagaimana supaya seluruh butir saya baca perjanjian Helsinki. Saya baca Saudara, saya baca satu persatu semuanya itu, Saudara. Isinya banyak yang menguntungkan masyarakat Aceh. Luar biasa GAM ketika itu, Saudara. GAM yang mewakili masyarakat Aceh berunding di Helsinki, Saudara. Luar biasa itu. Kalau orang berunding itu ada negosiasi, ada debat itu, Saudara. Perdebatan luar biasa. GAM dapat banyak poin Saudara yang kalau itu dijalankan Aceh makmur, Aceh kaya, Aceh sejahtera, Aceh tidak miskin, Saudara. Karena itu apa yang sudah dihasilkan dalam perjanjian tersebut yuk kita perjuangkan agar diwujudkan, direalisasikan supaya ke depan tidak ada lagi konflik di negara ini. Setuju tidak? Setuju. Setuju tidak setuju. Apalagi sekarang Saudara gubernurnya mualim, mantan panglima GAM, bupati daripada Aceh Besar, Saudara juga mantan daripada petinggi GAM. Petinggi GAM di mana-mana sekarang, Saudara. Sudah banyak yang jadi pemimpin di hampir semua daerah. Ini kesempatan kita banyak GAM, perjanjian ada di tangan, poin banyak menguntungkan. Yuk, mari kita realisasi. Saya akan suarakan di Jakarta. Enggak, kita enggak bakal diam, Saudara. Saya enggak mau lihat Saudara saya di Aceh dizalimi, ditindas, disakiti. Enggak. Suka duka Aceh adalah suka duka kami. Aceh adalah saudara kami. Kami tidak rida siapapun menyakiti bangsa Aceh. Betul. Betul. Siap bersatu? Siap. Siap berjuang bersama. Siap. Takbir. Allahu Akbar. Shall alan Nabi.
Apalagi Saudara, maaf. Perjanjian Helsinki itu tanya Bapak Bupati kita itu kan dihasilkan dengan pertumpahan darah, dihasilkan dengan pengorbanan. Itu dihasilkan sebelumnya ada DOM di di Aceh, Saudara. Berapa banyak ribuan jadi korban? Ini perjanjian enggak main-main, Saudara. Sudah banyak ribuan orang jadi korbannya. Rakyat Aceh menderita sekian dekade, Saudara. Nah, kalau sudah dapat perdamaian, dapat itu perjanjian, tugas kita ke depan melanjutkan dari apa yang sudah diperjuangkan orang-orang tua kita supaya poin-poin itu direalisasikan. Dan saya akan ingatkan pemerintah pusat segera realisasikan seluruh poin dan perjanjian Helsinki. Karena kalau tidak Aceh bisa bergolak, Aceh bisa panas, Aceh bisa marah, di Aceh bisa terjadi lagi pertumpahan darah yang kita tidak mau itu terjadi, Saudara. Maka itu saya tanya semua, siap berjuang tidak? Siap. Siap bersatu? Tidak siap. Maka itu di sini kita lihat rakyat Aceh bersatu jaga agama, jaga wilayah. Bukan hanya jaga agama dan jaga wilayah, jaga perjanjian damai yang ada. Saudara, wujudkan setiap poinnya supaya masyarakat Aceh bisa merasakan manfaatnya. Setuju tidak setuju? Contoh satu saja. Di dalam perjanjian Helsinki disebutkan bahwa 70% kekayaan Aceh, Saudara, kekayaan alamnya untuk Aceh, yang 30% untuk pusat. Ini di seluruh Indonesia enggak ada yang begini, Saudara. Seluruh Indonesia 20% untuk daerah, 80% untuk pusat. Dulu Aceh begitu sebelum ada Helsinki, Saudara. Buat Aceh 20% kekayaannya, 80% buat pusat, Saudara. Tapi begitu ada perjanjian Helsinki dibalik 70% Aceh, 30% pusat. Nah, ini perlu direalisasikan, Saudara. Ini kalau direalisasikan enggak ada di Aceh pengangguran. Enggak ada. Enggak ada di Aceh orang miskin, enggak ada. Saudara, enggak ada di Aceh jalan rusak, tidak ada. Semua di Aceh akan terbangun karena Aceh ini buminya kaya raya. Nah, itu saya mau tanya poin ini Saudara, perlu enggak segera dijalankan? Perlu. Perlu tidak segala diterapkan? Perlu. Takbir. Allahu Akbar. Siap jaga perjanjian Helsinki. Siap. Siap wujudkan poin-poinnya? Siap. Siap perjuangkan hak-hak bangsa Aceh? Siap. Takbir. Allahu Akbar.
Nah, itu yang saya mau sampaikan. Saya bukan memprovokasi, tapi saya mencoba untuk memberikan solusi. Insyaallah, nah itu saya sarankan semua nih anak-anak muda nih. Ini perjanjian Helsinki sudah 20 tahun. Yang 20 tahun baru lahir, yang hari ini umurnya 20 tahun ke bawah. Enggak tahu tuh, Saudara. Enggak tahu tuh apa isi perjanjian. Nah, maka itu saya sarankan Saudara kepada FPI di Aceh, siap. Begitu juga kepada pemerintah daerah di sini, kami punya PDF-nya untuk perjanjian perdamaian Helsinki. Bagi-bagi ke masyarakat biar anak-anak muda ikut baca. Jadi anak muda bisa nilai, "Wah, ini belum dijalankan nih. Ini udah nih." Nah, jadi bagaimana anak-anak muda bisa tahu mana sudah dijalankan atau belum? Kalau dia enggak pernah baca itu isi perjanjian Saudara. Betul, betul, betul, betul. Jadi jangan kayak mendagri baca enggak bikin putusan. Kacau kacau kacau kacau kacau kacau. Tidak kacau kacau. Saudara, ini dari zaman Jokowi udah kacau balau sudah semua Saudara, bagaimana enggak kacau, zaman Jokowi ada bos Gojek diangkat jadi menteri pendidikan, ya. [Tepuk tangan] Akhirnya pendidikan dianggap Gojek sama dia. Kacau tidak kacau? Kacau tidak kacau? Eh, sekarang nih ada Menteri Kesehatan nih, ternyata bukan dokter, bukan ahli kesehatan, ternyata bankir, itu ahli perbankan. Ya, pantes aja rumah sakit jadi mahal, kesehatan diperjualbelikan. Kacau tidak kacau? Kacau tidak kacau? Yang begini-begini saya mau tanya, kita minta sama presiden diapain? Dipertahankan atau diberhentikan? Dipertahankan atau diberhentikan? Kak Pori lagi 4 tahun enggak turun-turun, Saudara. Ini Kori, Saudara itu penghina Allah, penghina agama, Saudara. Saya kumpulkan nama-namanya, saya kumpulkan bukti dan saksinya, kami bentuk tim advokat, kami bentuk tim pelapor, kami kirim ke Mabes POLRI untuk diproses. Enggak ada yang diproses, Saudara. Enggak. Enggak ada. Kami penasaran kirim tim advokat kami naik ke lantai 15 di gedung Mabes POLRI bagian Saudara yaitu eh cyber crime Saudara, kriminal cyber. Kita tanya, "Pak, ini bukti ada, saksi ada, kenapa enggak diproses?" Jawabnya ringan. Ya, ini kan arahan atasan begini, enggak boleh diproses. Kurang ajar. Kita capek-capek ngumpulin bukti, ngumpulin saksi, ujung-ujungnya penghina Allah, penghina Nabi. Saudara, kita laporin enggak diproses. Akhirnya menghina Allah dan menghina Nabi semakin hari semakin kurang ajar. Eh, di Indonesia ini, Saudara, Saudara, ini masyarakatnya banyak sabar. Sebetulnya penghina Allah itu harus dibunuh. Penghina Nabi itu harus dibunuh. Penghina Quran itu harus dibunuh. Betul. Harus dihukum mati. Betul. Betul. Betul. Betul. Ini malah enggak diproses. Iya. Maka itu kalau kapolri di copot setuju enggak? Setuju. Setuju enggak? Setuju. Udah itu kepala BIN hampir 10 tahun jadi kepala BIN, sekarang jadi Menko Polkam. Saudara, ini kan banyak merekayasa kasus Saudara. Mengkriminalisasi ulama. Ini sebelum saya akhiri boleh cerita enggak dikit? Boleh. Boleh cerita boleh. Betul. Betul. Bukan hanya mengkriminalisasi ulama. Syariat dikriminalisasi. Saudara, saya bisa buktikan. Saya sepulang dari Saudi Arabia Saudara, saya sakit. Sakit batuk seperti sekarang ini. Batuk. Badan agak meriang. Saya berobat di Rumah Sakit Ummi, Rumah Sakit Islam di Bogor. Begitu saya baru masuk rumah sakit sehari, buzzer-buzzer Jokowi, Saudara. Saudara, ini buzzer-buzzer dia bikin meme, dia bikin berita di medsos. Apa isinya? Habib Rizik sudah modar. Habib Rizik mati. Habib Rizik ke samber petir. Habib Rizik sudah qaid. Dibuat filmnya, Saudara. Banyak ulama-ulama di berbagai daerah bingung benar apa enggak. Mereka teleponlah saya punya menantu, Habib Hanif Al-Attas. Habib, bagaimana keadaan Habib? Habib Hanif jawab, "Enggak apa-apa, baik-baik saja. Lagi dirawat." Ada lagi telepon dari Jawa Timur. Ada lagi telepon dari Kalimantan, ada lagi telepon dari Aceh, ada lagi telepon dari Palembang, dari mana-mana. Nah, akhirnya Saudara Hanif berinisiatif minta izin sama saya. Abah mau minta izin nih yang telepon banyak, Pak. Ini masuk ke HP nih yang nanya banyak. Boleh enggak Hanif bikin rekaman video dikit aja. Cuman ngabarin supaya para ulama tenang. Abah sehat walafiat. Saya bilang, "Boleh." Silakan bikin. Sebar dibikin sama Hanif. "Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" dan seterusnya. "Kami kabarkan kepada semua bahwa abah saya, mertua saya Habib Rizik dalam keadaan baik-baik saja." Setahun di penjara gara-gara ngomong baik-baik saja. Setahun di penjara, Saudara. Apa kata jaksa? Apa kata polisi? Apa kata hakim? Ini kan Habib Rizik lagi di rumah sakit. Habib Hanif bilang baik-baik saja. Berarti Habib Hanif mau bohong. Ngebohongnya itu tingkat nasional. Satu Indonesia jadi gaduh gara-gara Habib Hanif setahun di penjara. Masyaallah. Saya lanjutin lagi, Saudara. Begitu saya dirawat diganggu terus. Nanti ada tentara datang, nanti ada polisi datang. Ini rumah sakit diganggu, Saudara. Bahkan kantornya diacak-acak, Saudara. Jadi mereka mau tahu bagaimana keadaan saya. Lucunya semua ruang didatangin, semua kantor didatangin. Masuk ke kamar saya enggak berani. Lah kan saya dirawat di kamar. Masuk aja ke kamar saya. Masuk itu tentara sama polisi. Enggak ada yang masuk. Mereka hanya ingin bikin ini rumah sakit enggak aman supaya saya diusir, Saudara. Saya tahu diri. Jadi begitu hari itu darah saya diambil, Saudara, untuk pemeriksaan laboratorium. Saat itu pemeriksaan COVID enggak kayak sekarang. Sekarang 5 menit sudah ketahuan. Saat itu 3 hari baru ketahuan, Saudara. Dibawalah darah saya ke Jakarta. Rumah sakit diganggu terus diganggu sama walikotanya yang sekarang jadi wakil mendagri ya. Jadi wakil mendagri Saudara. Nah, sekarang begitu diganggu saya enggak enak hati. Saya temuin yang punya rumah sakit. Saya telepon saya minta ketemu. Saya bilang, "Terima kasih ya akhi. Antum sudah rawat ana di sini tapi mendingan ana pulang." "Oh, kenapa, Beb?" "Ini kan hasil pemeriksaan darah belum ada. Laboratorium ini laporannya belum ada. Ana enggak enak dia ngeganggu begini. Di sini banyak pasien ada ibu hamil yang mau beranak yang lagi cuci ginjalnya Saudara, cuci darah. Saya enggak enak. Udahlah saya pulang." Tapi hasilnya nanti kalau sudah datang kirim aja ke rumah. Nah, begitu saya mau pulang yang punya rumah sakit minta testimoni. "Habib boleh enggak ada testimoni? Rekam dikit aja buat rumah sakit kita." "Boleh saya bikin rekaman?" "Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Terima kasih kepada rumah sakit bla bla bla. Terakhir saya bilang kepada seluruh umat ee tolong doakan kami. Alhamdulillah saya saat ini dalam keadaan baik-baik saja. Dituntut 6 tahun penjara. Gara-gara baik-baik saja Saudara. Gara-gara baik-baik saja. Saya dituntut 6 tahun penjara, vonis 4 tahun penjara. Saya banding terus sampai kasasi di ee MA, Saudara. Baru turun jadi 2 tahun. Itu pun setelah 2 tahun saya keluar, saya jadi tahanan rumah selama 2 tahun lagi, Saudara. Enggak boleh keluar dari Jakarta. Nah, sekarang yang ingin saya garis bawahi di sini baik-baik saja. Kok bisa ya dipidanakan? Nah, sebelum kita menilai, saya mau cerita dulu bawakan hadis Nabi dan para sahabat. Boleh? Boleh. Waktu Nabi lagi sakit di akhir umurnya sekarat, Sayidina Ali mendampingi radhiallahu anhu. Kemudian Sayidina Ali keluar dari rumah. Sahabat di luar penuh ngumpul. Mau tahu kabar Nabi? Ditanya, "Ya Ali, bagaimana kondisi Nabi?" Apa jawab Sayidina Ali? "Alhamdulillah bikhair. Alhamdulillah Nabi baik-baik saja." Besoknya Nabi meninggal, Saudara. Tapi Sayidina Ali bilang, "Baik-baik saja." Untung Sayidina Ali enggak hidup di Indonesia. Bisa dituntut 10 tahun tuh penjara. Sayidina Ali berbohong. Bilang baik-baik saja. Ternyata Nabi lagi sakit bahkan besoknya meninggal dunia. Berarti Sayidina Ali sudah melakukan kebohongan. Innalillahi. Alhamdulillah. Sayidina Ali enggak ada di Alhamdulillah. Yang kedua, Sayidatuna Aisyah radhiallahu anha istri Nabi tercinta, Saudara. Sakit menjelang ajal dibesuk sama sahabat yang bernama Abdullah ibn Abbas radhiallahu anhuma. Begitu dibesuk, apa kata Sayidina Abdullah Ibn Abbas? "Ya Umal Mukminin, wahai Ummul Mukminin, bagaimana keadaan Anda saat ini?" Dijawab, "Alhamdulillah, saya baik-baik saja selama saya bertakwa kepada Allah." Untung bukan di Indonesia. Kalau di Indonesia Siti Aisyah dipenjara juga tuh. Kacau tidak kacau? Kacau tidak kacau? Nah, jadi waktu di pengadilan Saudara, jaksa sama hakim itu, Habib Rizik karena Anda berbohong. Di mana berbohongnya? Anda sakit, Anda bilang baik-baik saja. Maka Anda sudah bikin keresahan. Begitu juga saya punya menantu. Cuman terhadap menantu saya ya karena mantunya belum pernah dihukum jadi cuman setahun vonisnya. Kalau saya karena sudah berkali-kali di penjara ee jadi akhirnya penjara tuntutnya 6 tahun dan vonis 4 tahun, Saudara. Nah, sekarang saya mau sampaikan kata baik-baik saja itu ajaran Nabi, Saudara. Nabi yang ngajarkan kita. Kalau kita sakit, ada yang besuk bertanya, "Bagaimana keadaan Anda?" Nabi yang ajarkan. Jawab, "Bikhair." Alhamdulillah. Bikhair. Saya baik-baik saja. Alhamdulillah. Kenapa Nabi ajarkan begitu, Saudara? Satu, supaya walaupun kita sakit, kita tetap ingat kepada Allah. Dua. Walaupun kita sakit, kita tetap bersyukur kepada Allah, Saudara. Kenapa bersyukur? Baru sakit sebentar, puluhan tahun kita dikasih sehat. Tiga, Saudara. Kenapa dijawab baik-baik saja? Sebagai doa supaya kita cepat disembuhkan. Yang keempat, Saudara, supaya apa? Supaya menanamkan optimisme, harapan bahwa kita akan sembuh, Saudara. Yang kelima, kenapa baca alhamdulillah bikhair? Supaya berkah. Saya tanya ini ajaran agama apa? Ajaran agama apa? Islam. Siapa yang ngajarin? Siapa yang ngajarin? Lah kok di Indonesia dianggap kejahatan? Mengucapkan baik-baik saja dianggap kejahatan. Kriminal harus dipenjara. Kurang ajar. Masyaallah. Saya enggak bisa terima begitu saja urusan saya di penjara. Saya enggak peduli mau dipenjara setahun, 2 tahun, 3 tahun. Ini perjuangan. Saya tidak terima. Kenapa syariat Nabi yang kita amalkan kok dikriminalisasi dan ini enggak boleh dibiarkan. Kalau ini dibiarkan, lama-lama syariat Islam itu diangkat kejahatan semua, Saudara. Bahaya tidak bahaya? Bahaya tidak bahaya? Nah, itu saya tanya kalau begitu negara Republik Indonesia ini wajib tidak diperbaiki? Wajib. Saya mau tanya semua, wajib tidak diperbaiki? Wajib. Wajib tidak dibersihkan? Wajib tidak diselamatkan? Siap bersatu? Siap berjuang bersama. Takbir. Allahu Akbar. Nabi.
Nah, jadi itu Saudara, saya paham Saudara, Jokowi mau balas dendam. Balas dendam dari siapa, Beb? Nanti ceramahnya sampai subuh. Jangan dijawab dulu, De. Buat Agustus. Buat Agustus. Nah, cuman sekarang sebagai penutup terakhir saya mau kembali mengingatkan di mana-mana. Saya ingatkan di atas mimbar. Saya ditanya saat ini, "Habib, ini negara di pusat lagi kacau balau, ini semua lagi ribut. Tapi kok Habib sekarang enggak bergerak lagi. Kenapa tidak kumpulkan umat lagi jutaan di Monas umpamanya untuk membersihkan negeri ini. Nah, kenapa Habib enggak bersuara lagi?" Saya sudah lama enggak dakwah ke mana-mana. Baru ke Aceh ini saya datang untuk dakwah besar-besaran lagi, Saudara. Karena saya cinta kepada umat di Aceh, saya enggak mau Aceh dikorbankan lagi. Betul. Betul. Nah, terus saya jawab. Mau tahu jawabnya? Betul. Betul. Saya bilang, "Saya bukan enggak mau ikut campur. Ini serigala sama serigala lagi berantem. Buaya sama buaya lagi ribut. Kalau buaya sama buaya ribut, jangan ada di tengah-tengah. Luka kita." Betul. Betul. Betul. Betul. Atau bahasa yang lebih ekstrem lagi, tenang. Jangan ikut campur. Ini setan sama setan lagi perang. Siapa yang lagi perang? Setan lagi perang. Setan perang. Setan setan. Betul. Betul. Betul. Betul. Kalau perlu adukan saja setan-setan perang, adukan sampai kalah satu setan, satu menang. Setuju tidak setuju? Tidak setuju? Setuju tidak setuju? Tahu setannya? Tahu. Tahu. Tahu. Lu jangan nanya dong, lu pakai nyebut lagi namanya. Tapi yang yang disebut benar juga sih. Udah jangan nyebut, jangan nyebut. Tapi yang ente sebut barusan benar. Astagfirullahalazim. Udah kita tahu sama tahu. Tahu setannya tahu. Jangan, jangan tanya saya. Kalau tanya saya entar pulang dari Aceh saya ditangkap lagi. Waduh, main. Siapa aja yang laki? Orang Aceh enak, Habib ditangkap. Siap lu yang siap, gua yang dipenjara. Siap berjuang. Saudara, emang anak muda zaman sekarang generasi apa sih nih? Milenial. Beta ZPL. Enggak paham dah. Ini model-model generasi sekarang kalau ada habib ditangkap, ya Allah. Alhamdulillah. Untung Habib doang yang ditangkap. Jangan doain biar selamat semua. Amin. Amin. Amin. Amin ya rabbal alamin. Alamin. Insyaallah, Saudara. Nanti kalau sudah tiba saatnya saya akan kembali lagi ke Aceh. Kita akan banyak bercerita dengan Saudara di Aceh. Setuju tidak? Setuju. Boleh saya kembali lagi? Boleh. Boleh balik lagi. Takbir. Allahu Akbar. Siap memperjuangkan syariat Islam di Aceh? Siap. Siap dukung para ulama Aceh? Siap. Siap dukung para ustaz di Aceh? Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Dukung Saudara, di sini ada Pak Bupati daripada Aceh Besar. Dukung. Dukung bupatinya, dukung ulamanya. Rangkul secara bertahap. Terapkan syariat Islam. Insyaallah. Takbir. Allahu Akbar. Jangan terpengaruh bisikan pusat karena di pusat nih banyak setan. Bisikannya berbahaya. Apa dia bisikin orang Aceh? "Hei orang Aceh, jangan dulu kau terapkan syariat Islam. Sebab kalau kau terapkan syariat Islam, investor dari luar negeri tak mau masuk." Betul. Dia enggak mau tanah modal di Aceh ada syariat Islam. Jangan. Biar investor masuk dulu bangun Aceh. Nanti kalau Aceh sudah dibangun bagus, sejahtera, baru pakai syariat Islam. Tuh bisikannya begitu tuh. Guawat itu, Saudara. Kenapa saya katakan gawat? Nanti begitu investornya sudah masuk, pembangunannya maju, Saudara. Apa bisikan dari setan di pusat, Saudara? "Hei orang Aceh, jangan terapkan syariat Islam. Aceh lagi bagus-bagusnya. Nanti kalau syariat Islam diterapkan, investornya lari." Jadi kapan diterapinnya? Kacau tidak kacau? Saya tanya kacau tidak kacau? Mau dirayu? Mau? Mau dibisikin? Mau? Mau berteman sama setan? Mau. Jadi kalau setan sama setan berantem jangan dipisahin. Setuju? Gelar tiker, taruh kopi, nonton setan perang lawan setan. Takbir. Allahu Akbar. Angkat tangan semua. Angkat tangan. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Shallullah salamullah ala tha rasulillah. Shallullah salamullah ya yasin habibillah. Shallullah salamullah ala tha rasulillah. Shallullah salamullah ala yasin habibillah. Awalna bismillah, had rasulillahi, mujahidin lillah bi ahlil badri, ya Allah, semua. Shallullah salamullah ala tha rasulillah. Shallullah salamullah ala yasin habibillah. Ummatul minalimil Badri, ya Allah. Shallullah salamullah ala tha rasulillah. Shallullah salamullah ala yasin habibillah. Badri, ya Allah. Salamullah ala tha rasulillah. Shallullah salamullah ala yasin habibillah. Al nabiil barri bilin w hasrin alil [Tepuk tangan] Badri ya Allah. Shallullah salamullah thaillah salamullah yas... Salamullah Aceh... Rasulillah... Rasulillah... Allahum barikah... Allah... Shallullah salamullah rasulatullah... Salamullah yasin habibillah... atullah... Salamullah ala tha rasulillah. Shallullah salamullah ala yasin habibillah. Ala yasin habibillah. Ala yasin habibillah. Shallu alan nabi. Angkat tangan semuanya ke atas. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Hidup Islam hidup. Hidup Islam hidup. Hidup Aceh hidup. Hidup perjuangan, hidup. Hidup Palestina hidup. Takbir. Allahu Akbar. Siap bela agama. Siap. Siap bela negara. Siap. Siap bela Nabi? Siap. Siap bela Allah. Siap. Siap bela ulama. Siap. Siap bela habaib. Siap. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Takbir. Allahu Akbar. Shallu alan nabi. Shallu alan nabi. Shallu alan nabi. Allahu akbar. Allahu akbar. Allahu akbar. Walillahilhamd. Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad. Kita aminkan pembacaan doa langsung akan disampaikan oleh Imam Pusat FPI. Lailahaillallah. [Musik] Lailahaillallah. Lailahaillallah. Lailahaillallah. [Musik] [Tertawa] Lailahaillallah. [Musik] Lailahaillallah. Muhammadur rasulullah. Muhammadur rasulullah. Allah lailahaillallah fatahtaha ahli... Lailahaillallah... Lailahaillallahukallahumma... [Tertawa] Ya lailahaillallah... Lailahaillallahyanahaillallah... Lailahaillallahitana... Lailahaillallah... [Musik] Lailahaillallah... Q... Lailahaillallah... [Musik] Lailahaillallahwiana bilahaillallah... [Musik] Lailahaillallahwaiqana ikh... [Musik] Lailahaillallah... [Musik] Lailahaillallah m bahri... Lailahaillallah... [Musik] Lailahaillallah wazila min qulubina aklaqayatin bilahaillallah... Lailahaillallah... qulubina aklaq minka ya rahman bila... Lailahaillallahyi asrquli... Lailahaillallah... Lailahaillallah wajal karimi bilahaillallahfirunubana... [Tertawa] Bilahaillallah... Lailahaillallah... [Tertawa] [Musik] Lahaillallahinahaillallah. [Musik] Lailahaillallah nafhairillallah. [Musik] Lailahaillallahillallah. Lailahaillallahzuqana husnalhaillallah. Lailahaillallah. Amin. Amin. Amin. Amin. Allahum. [Musik] Amin. [Musik] [Musik]
Auzubillahiminasyaitanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Arrahmanirrahim. Maaliki yaumiddin. Iyaka na'budu waiyyaka nasta'in. Ihdinas siratal mustaqim. Siratalladzina an'amta 'alaihim. Ghairil maghdubi 'alaihim waladhdhallin. Rabbigfirli waliwalidayya. Amin. Shallu alan nabi. Sekian acara kita. Mohon maaf atas segala kekurangan, kekhilafan, dan kesalahannya dan terima kasih atas segala sambutan dan perhatiannya. Hadani Allah wayakumatihil mustaqim. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hadirin, disilakan untuk duduk kembali.
Yeah.