📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

Tarikh Islam-3: Tarikh Abu Bakar Ash Shidiq Radiallahuanhu #2 - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A

Firanda Andirja58:17

Transcription

[Musik] Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah [Musik] yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Pada kesempatan kali ini, kita akan bahas tentang proses pembaiatan Abu Bakar As Siddiq radhiallahu ta'ala Anhu. Ya, tentunya setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, maka yang perlu dilakukan oleh kaum muslimin ketika itu adalah mengangkat khalifah setelah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

[Musik] Ada kejadian menarik, yaitu ketika Rasulullah SAW meninggal dunia pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah, di waktu Dhuha. Ketika itu, ada dua sikap para sahabat terhadap wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Yang pertama adalah sikap Umar Bin Khattab radhiallahu anhu, yang begitu cintanya beliau kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka seakan-akan beliau tidak percaya kalau Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam meninggal dunia. Sehingga beliau sampai berkata di hadapan para sahabat, "Demi Allah, Rasulullah SAW belum meninggal."

Beliau bersumpah, "Sungguh Allah akan bangkitkan beliau kembali dan beliau akan memotong tangan-tangan sekelompok orang munafikin dan kaki-kaki mereka." Jadi, Umar memandang bahwasanya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam belum meninggal dunia.

[Musik] Beliau tidak akan meninggal kecuali sampai memotong tangan-tangan dan kaki-kaki orang-orang munafikin ini. Dalam riwayat Bukhari dan juga riwayat Ibnu Majah, Umar mengatakan tidak terpetik dalam hati kecuali itu, bahwasanya beliau belum meninggal dunia.

Bahkan beliau berkata, "Tidak seorangpun mengucapkan Rasulullah SAW meninggal dunia," sehingga para sahabat semua diam. Tidak ada yang berani mengucapkan meninggal dunia, sementara Umar berkoar-koar, "Rasulullah SAW belum meninggal."

Ibnu Ishaq meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah, di mana Umar terpetik dalam hatinya bahwasanya apa yang dialami oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam seperti yang dialami oleh Nabi Musa Alaihissalam. Nabi Musa dipanggil oleh Allah untuk bertemu dengan Allah, kemudian balik lagi bertemu dengan kaumnya.

Seakan-akan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dipanggil sebentar oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk dibangkitkan kembali, karena masih ada tugas Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menyelesaikan urusan orang-orang munafik. Rupanya Umar jengkel sekali dengan orang-orang munafik, sehingga dia mengatakan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam belum meninggal.

Dan tidak seorangpun yang berani membantah Umar Bin Khattab radhiyallahu ta'ala Anhu. Adapun hari wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Abu Bakar ketika itu sedang berada di tempat yang agak jauh dari kota Madinah, yaitu di arah Kuba, di suatu tempat namanya Sunnah, di rumah beliau.

Sehingga ketika Rasulullah SAW meninggal, beliau terlambat datang. Ya, orang-orang sudah heboh, Umar sudah berkoar-koar, Umar Bin Khattab radhiyallahu Anhu. Maka Abu Bakar radhiyallahu Anhu pun datang dengan di atas kudanya dari rumahnya.

Kemudian beliau [Musik] datang masuk masjid. Beliau melihat orang-orang sedang heboh, Umar lagi berbicara. Akhirnya beliau tidak bicara sama orang-orang. Abu Bakar pun masuk ke rumah Aisyah, segera fatayat Mama Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Beliau segera menuju ke jasad Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Wajahnya ditutup dengan sebuah kain. Hibah Makassar membuka wajah Nabi SAW. Kemudian Abu Bakar pun tunduk menuju Nabi. Faqoballah, Abu Bakar mencium wajah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

[Musik] [Musik] [Musik] "Demi Allah, Allah tidak akan mengumpulkan kepadamu dua kematian," artinya aku tidak akan mati dua kali. Adapun kematian pertama, kau sudah rasakan sekarang. Artinya, engkau kalau hidup lagi, kau akan merasakan kebahagiaan yang abadi.

Setelah itu, Abu Bakar pun keluar menuju masjid. Maka sementara Umar terus bicara sama orang-orang, "Nggak boleh seorangpun bilang Rasulullah meninggal." Semua orang takut sama siapa Umar. Maka Abu Bakar menegur Umar dan berkata, "Izin ya Umar, duduk." Wahai Umar tidak mau duduk.

Akhirnya Abu Bakar berbicara. Orang-orang ketika lihat Abu Bakar datang, mereka semua menuju ke Abu Bakar dan mereka meninggalkan Umar. Kemudian Abu Bakar berkata, "Siapa di antara kalian yang menyembah Muhammad? Sesungguhnya Muhammad telah mati. Waman karena minkum, siapa di antara kalian yang menyembah Allah? Sesungguhnya Allah Maha hidup dan tidak mati."

Kemudian beliau bacakan firman Allah, "Kalau Allah Muhammad, Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidaklah Muhammad kecuali hanyalah seorang rasul yang telah berlalu sebelum beliau para rasul yang lain. Para rasul yang lain meninggal, maka Muhammad juga akan meninggal."

"Apa ini matinya? Kalau Rasulullah SAW, Memangnya Rasulullah SAW kalau mati atau terbunuh, kalian akan balik ke belakang?" Maka kata Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadis ini, Abu Bakar seakan-akan kaum muslimin, para sahabat tidak tahu ada ayat ini dalam Alquran.

Karena mereka saking sedihnya, saking kagetnya dengan wafatnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, padahal ayat ini ada dan seakan-akan ayat ini tidak pernah turun sampai yang baca Abu Bakar. Maka orang-orang pun menerima ayat tersebut dan ini dalil yang sangat tegas Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meninggal dunia.

Kata Ibnu Abbas, "Tidak aku bertemu dengan seorang pun kecuali baca ayat ini, Mama Muhammad kecuali sebagaimana rasul-rasul yang sebelumnya, sebagaimana yang sebelumnya meninggal, maka dia juga akan meninggal."

Umar berkata bahwa Nabi SAW, kata Umar, "Aku pun demi Allah tidaklah sebentar kecuali setelah itu aku mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut."

Kemudian aku mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, maka aku tidak kuat berdiri. Kakiku tidak mampu menopangku, maka aku pun terjatuh di tanah. Kata tatkala aku mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, maka aku tahu bahwasanya Rasulullah SAW telah meninggal dunia.

[Musik] Maka kejadian berikutnya adalah pemilihan khalifah, siapa pengganti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Pembahasan ini penting, ya, karena saya sudah syaratkan pada pertemuan kemarin bahwasanya orang-orang Syiah menjadikan peristiwa perselisihan para sahabat di awal pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah untuk mencela para sahabat.

Demikian juga didukung oleh orang-orang orientalis, orang-orang kafir yang mereka belajar tentang keislaman untuk mencela Islam. Ya, mereka menulis tentang Islam, tapi mereka orang-orang kafir, orang barat, dan mereka menulis tentang keislaman dengan cara pandang yang sudut pandang yang keliru.

Mereka memilih riwayat-riwayat yang lemah, riwayat-riwayat yang palsu untuk mencela para sahabat. Oleh karenanya, untuk menjelaskan tentang bagaimana kejadian peristiwa pemilihan Abu Bakar, saya akan bacakan hadis yang panjang riwayat al-imam Al Bukhari dalam Kitabul Wudhu dan juga diriwayatkan oleh sumber-sumber hadis yang lainnya, yaitu tentang hadis tentang kejadian di Sakifah Bani Saidah.

Sakifah itu ibarat seperti suatu tempat ruangan yang diberi atap, kemudian tempat berkumpul sahabat di tempat tersebut yang dikenal dengan Sakifah Bani Saidah. Thayyib, adapun kisahnya adalah hadis yang panjang, diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab radhiyallahu ta'ala anhu.

Beliau dikabarkan, intinya, kenapa umat menyampaikan hadis ini? Karena dikabarkan oleh seorang sahabat, kalau tidak salah, Delman bin Auf mengabarkan kepada Umar bahwasanya ada seorang yang berkata, "Ya Abdurrahman."

Beliau berkata bahwasanya ada yang berkata, "Kalau Umar mati, kami akan membuat Si Fulan." Jangan sampai seperti bayi atau Abu Bakar. Abu Bakar itu tiba-tiba tanpa ada musyawarah, sehingga akhirnya orang-orang pilih Abu Bakar tanpa ada musyawarah.

Ini sempat tersebar di kota Madinah. Syubhat orang-orang belakangan yang tidak menghadiri kejadian mengatakan bahwasanya kebaikan Abu Bakar tuh terjadi tiba-tiba tanpa ada musyawarah.

Terlebih dahulu, ya, tahu-tahu Abu Bakar diangkat. Ya, maka Umar ingin membantah isu yang sedang tersebar ketika itu. Beliau berkata, "Falah yaguro Ina baiat." Jangan sampai saya seorang terpedaya dengan menyatakan bahwasanya bai'at Abu Bakar terjadi dengan tiba-tiba tanpa ada musyawarah.

Maka Umar berkata, "Karena Umar memang cepat, peristiwanya cepat. Hanya saja Allah Subhanahu Wa Ta'ala ingin menghilangkan keburukannya."

Ya, jadi cepatnya terjadi pembayaran Abu Bakar bukan tanpa musyawarah. Justru cepatnya itu menunjukkan bagaimana para sahabat mudah memilih Abu Bakar, karena mereka tahu siapa Abu Bakar radhiallahu ta'ala Anhu.

Cepat, tetapi dibangun di atas musyawarah. Makanya terjadi diskusi antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin, sebagaimana akan kita sebutkan dari kisah Umar Bin Khattab radhiyallahu Anhu. Memang cepat, tapi dibangun di atas musyawarah.

Tidak alot, kalau alot kan bakalan lama. Tapi karena Abu Bakar yang mau dipilih, sudah tidak ada yang ribut. Selesai, memang cepat, tapi di atas musyawarah.

Maka Abu Bakar, Umar berkata, "Walaisa minkum mantuk thoilaih, leher-leher unta atau kuda terputuskan seperti Abu Bakar." Ini ibaratnya, ketika terjadi lomba, misalnya, kuda atau unta, maka ada kuda yang paling depan.

Sehingga kuda-kuda yang lain pingin maju kepalanya. Tidak sampai kan, kalau ingin menang, kepalanya maju dulu biar sampai di titik finish. Tapi tidak ada yang mampu, karena Abu Bakar selalu di depan.

Ini ibarat bahwasanya kalian semua tahu tidak ada yang bisa mengungguli Abu Bakar. Tidak ada yang bisa membully. Setiap kalian pasti amal salehnya bisa dikalahkan, kecuali Siapa tahu Bakar paling depan dalam segala amal.

Tidak ada yang bisa menyamai dia. Tidak ada yang bisa menandinginya. Ini mukadimah dari Umar untuk menjelaskan bahwasanya memang Abu Bakar pantas untuk jadi siapa khalifah, karena tidak ada yang bisa menandinginya dalam kebaikan.

Begini kejadiannya, kata Umar, ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, maka beberapa kerabat Nabi dari kalangan sahabat, seperti Ali Bin Abi Thalib yang merupakan sepupu Nabi sekaligus mantu Nabi SAW, kemudian Zubair bin Allah, adalah sepupu Nabi karena ibunya adalah Sofia.

Sofia adalah bibitnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, punya suami, ya, Awam, punya namanya Zubair bin dan Allah. Sehingga ahli dan Zubair adalah kerabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Ketika Rasulullah SAW meninggal dunia, mereka bersedih di rumah Fatimah, sehingga mereka tidak hadir dalam peristiwa Bani Sakifah, Bani Saidah, pemilihan Abu Bakar radhiyallahu Anhu.

Di sini Umar menjelaskan kejadiannya ketika itu, bahwasanya kedua orang ini yang kerabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Ali Bin Abi Thalib dan Zubair, dan bersama mereka berdua, ya, mungkin ada Al Abbas bin Abdul Muthalib, mereka tidak berserta kami, karena mereka berada di rumah Fatimah.

Dan ketika itu kaum Anshar semua juga tidak bersama kami. Kami Muhajirin sendirian, semua kaum Muhajirin kumpul kepada Abu Bakar, karena Abu Bakar yang paling tua di antara mereka, kemudian yang paling berilmu. Semua tahu tentang Abu Bakar.

Maka aku berkata, kata Umar kepada Abu Bakar, "Mereka tahu penting memilih pemimpin." Kata Umar, "Wahai Abu Bakar, ayo kita Muhajirin, kita ketemui saudara-saudara kita dari kaum Anshar untuk bicarakan masalah ini, masalah penting, masalah kepemimpinan."

Karena mereka tahu kalau tidak ada pemimpin, nanti akan kacau. Akan kacau, maka butuh ada pemimpin yang bisa menyatukan. Dan di antara niat baik kaum Muhajirin, mereka tidak bikin pemimpin sendiri.

Mereka tidak angkat, tapi mereka ingin ngobrol, diskusi sama siapa kaum Anshar. Maka Umar berkata, "Ayo kita pergi [Musik] bertemu dengan kaum Anshar."

Dua orang yang sholeh yang lain, mereka berdua adalah Wine bin Saidah dan Maan bin Adi. Dua orang ini ikut serta dalam Perang Badar. Faqolah keduanya berkata, "Aina mau kemana?"

"Kami ingin bertemu dengan saudara-saudara kami, diskusi dengan kaum Anshar." Qaala mereka berdua berkata, "Farji'u, nggak perlu. Nggak perlu masalah kepemimpinan. Itu haknya kaum Muhajirin. Kalian nggak perlu ketemu dengan kaum Anshar. Kalian putuskan sendiri saja, enggak perlu ketemu dengan kaum Anshar."

Tapi kata Umar, "Wallahi, anak enggak. Kami akan ketemu dengan saudara-saudara kami Anshar. Kami datangi mereka. Mereka sedang berkumpul di Sakifah Bani Saidah."

Sekarang masih ada lokasinya. Kalau kita di Masjid Nabawi menghadap kiblat, di sisi kanan agak belakang, sayap kanan agak belakang. Jadi dulu tempat situ ada Maktabah Al Malik Abdul Aziz.

Saya nggak tahu sekarang, cuma kelihatannya masih ada lokasinya. Dulu Maktabah itu perpustakaan. Mereka kemudian tidak jauh dari Masjid Nabawi, kami datangi mereka, kaum Anshar, dan mereka sedang ngumpul di Sakifah Bani Saidah.

Ternyata di tengah-tengah mereka ada seorang yang sedang berselimut. Aku berkata, "Siapa ini?" Mereka berkata, "Adalah Saat bin Ubadah, pemimpin kaum Anshor."

Dua kaum Anshar ada dua, pertama suku Al Aus dan kedua suku Al Khazraj. Suku Aus pimpinannya Saat bin Muadz radhiyallahu anhu, dan Saat bin Muadz radhiyallahu anhu meninggal setelah Perang Khandaq tahun 5 Hijriyah.

Pemimpin Suku Al Khazraj adalah Saat bin Ubadah. Ketika Saat bin Muadz meninggal dunia, tinggal siapa? Saat bin Ubadah. Jadi ketika kaum Anshar berkumpul, mereka berkumpul kepada Saat bin Ubadah.

Ketika itu, Saat bin Ubadah sedang sakit, makanya dia memakai selimut. Dikatakan Masya Allah, dia sakit. Maka salah seorang dari mereka berdiri dari kaum Anshar, kemudian memuji Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kemudian berkata, "Amma ba'du."

Ada seorang dari Umar tidak ingin menyebut namanya, tapi ada seorang berdiri kemudian berbicara dengan berkata, "Amma ba'du, fanalu Islam. Kami adalah kaum Anshar."

Anshar maksudnya para penolong Muhajirin, Anshar artinya penolong Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka tibatul Islam dan kami adalah Pasukan Islam. Quran adalah golongan dari Nabi kami.

Perkataan dia dan kalian datang kepada kami, kalian sedikit waktu itu datang kepada kami. Ini orang ini bicara, kami banyak, kami tolong penolong kalian, dan kalian datang kepada kami jumlahnya sedikit, tidak banyak.

Kata-kata ini seakan-akan kaum Anshar ingin mengangkat Amir dari golongan mereka sendiri. Maka ketika itu, Umar akhirnya mempersiapkan perkataan untuk dia ucapkan kepada kaum Anshar.

Dan dia ingin ngomong sebelum Abu Bakar. Ya, kata Umar, "Ya Abu Bakar, itu lembut, tapi kadang-kadang dia kadang-kadang ada ketegasan. Saya ingin dia jangan sampai tegas dalam masalah ini, khawatir akan timbul kericuhan."

Jadi Umar sudah siapkan kata-kata. Ya, Abu Bakar memang lembut, tapi kadang-kadang dia kelepasan. Maksudnya begitu. Maka saya ingin siapkan suatu perkataan, jangan sampai Abu Bakar kelepasan di suasana yang lagi tegang seperti ini.

Mulai muncul dari kaum Anshar, mereka ingin angkat pemimpin sendiri dengan mimpi sendiri. Maka kata Umar, "Aku siapkan dalam diriku perkataan. Aku akan aku ucapkan dihadapan Abu Bakar."

Lebih tenang, lebih sabar ketika aku ingin ngomong. Tiba-tiba Abu Bakar berkata, "Ala rislik tahan." [Musik] Itu, aku tidak ingin membangkang kepada Umar.

Akhirnya Abu Bakar yang berbicara. Pahami, Abu Bakar pun memuji Allah dan menyajikan semua tadi keinginanku yang sudah sia-siapkan untuk bicara kepada kaum Anshar. Ternyata diucapkan oleh Abu Bakar juga, bahkan lebih baik daripada persiapanku.

Maka Abu Bakar berkata, "Amma ba'du." Lihat perkataan hikmah yang bijak dari Abu Bakar. Dia berkata, "Wahai para penolong, kami tidak ada satupun kelebihan yang kalian sebut tentang diri kalian. Memang kalian berhak memiliki kelebihan tersebut. Tidak ada yang mengingkari kelebihan apa kalian."

"Wainnal Arab, namun orang-orang Arab tahu bahwasanya kepemimpinan tidak bisa dipegang kecuali orang-orang Quraisy." Artinya, Abu Bakar kasih tahu kalau orang Anshar yang pegang akan terjadi keributan, karena tidak ada yang mau tunduk sama kau, apa Anshar ini ke depan.

Tapi kalau Quraisy yang pegang, orang semua akan tunduk, karena sejak dulu orang tahu Quraisy adalah kabilah yang terbaik. Makanya Abu Bakar kasih pengetahuan, kasih maklumat.

"Wainnal Arab, kita tidak bicara Anshar doang, kita bicara Arab seluruh kaum muslimin. Quraisy, orang-orang Arab ingat, mereka tidak tahu namanya kepemimpinan kecuali dimiliki oleh orang mereka adalah Arab yang paling tinggi nasabnya dan kabilahnya, dan tidak ada yang menolak hal ini."

Jadi setelah Abu Bakar menyampaikan, yang mengatakan, "Tapi saya ridho untuk kalian angkat salah seorang dari kedua orang ini menjadi pemimpin kita semuanya." Salah satu di antara kedua orang ini yang kalian sukaidah.

Maka Abu Bakar pegang tanganku dan pegang obat tangan Abu Ubaidah. Silahkan baiat salah satu dari kedua orang ini. Kabupaten tidak bilang baik-baik saya, tapi baik salah satu dari dua orang yang kedua ini, orang Quraisy, dua orang yang terbaik. Silahkan baik salah satu di antara keduanya.

Kata Umar, "Semua perkataan Abu Bakar saya suka, cuma ini yang tidak suka. Cuma kenapa saya di maju-majuin? Inkuntullah ke depankan, kemudian saya di penggal leherku selama itu tidak berdosa. Saya mati selama itu bukan dosa, lebih saya sukai daripada saya diangkat jadi pemimpin."

Anggotanya anak buah kok. Abu Bakar enggak mau, mending saya mati daripada jadi memimpin. Siapa Abu Bakar berbicara, salah seorang dari kaum Anshar berbicara. Umar tidak menyebut namanya juga. Ada yang mengatakan, "Umar tidak menyebut nama-nama orang tersebut."

Ada salah seorang [Musik] ku, jadi saya adalah tongkat atau pohon yang digunakan oleh kalau terkena penyakit gatal, dia gosok-gosokkan badannya di mana di pohon tersebut sehingga hilang gatalnya.

Jadi kata dia, "Saya akan jadi pohon tersebut." Artinya, saya akan mengucapkan kata-kata yang pelipur lara bagi kaum Anshar. Maksudnya, kalau ada [Musik] pohon kurma sudah sangat tinggi, kemudian memiliki buah yang sangat banyak, mudah jerubuh.

Maka mereka membuat suatu tempat untuk menyanggah supaya pohon tersebut tidak roboh. Dia mengatakan, "Saya penyangga tersebut." Artinya, dia ingin mengatakan mereka masuk tenang.

"Saya akan menyampaikan suatu perkataan pelipur lara bagi kalian yang akan menopang kalian." Maka dia berkata, "Minna amirun wa minkum amirun." Ya, begini saja, kalian angkat khalifah, kami juga angkat apa? Khalifah. Diskusi di antara apa? Sahabat.

Ketika aku melihat orang-orang khawatir terjadi perselisihan, aku berkata kepada Abu Bakar, "Bentangkan tanganmu, aku akan baiat engkau." Kelihatannya harus segera diatasi.

Kemudian setelah kaum Anshar lihat, Saat bin Ubadah yang tadinya mungkin siap diangkat menjadi Amir yang sedang sakit ditinggalkan semua. Membaca sampai ada yang berkata, "Kalian telah mematikan Saat bin Ubadah." Maksudnya, sehingga dia tidak terpilih.

Dia tidak, kata Umar, kata Rasulullah, "Takdir." Kata siapa? Umar, "Wa innahullah." Kata Umar, "Demi Allah, kami tidak mendapati perkara yang lebih kuat dari membaiat Abu Bakar."

Yang paling penting yang harus kita lakukan, kami khawatir kalau kami meninggalkan mereka dan tidak terjadi baiat, maka bisa jadi ada pembaiatan kedua setelah itu.

Ya, kalau terjadi pembaiatan kedua, faimaan, ya, kalau sudah terjibait kedua, mungkin kita membaiat yang kedua dan kita tidak setuju. Sebenarnya terpaksa, atau kalau kami menyelisihi pembayaran kedua, maka terjadi kerusakan.

Ini umat bercerita. Demikianlah kejadian, ya, dan kejadian yang tidak lama singkat. Ketika Abu Bakar diangkat, maka semuanya apa? Setuju. Selesai urusan. Selesai urusan, maka Abu Bakar menjadi khalifah.

Memang ada diskusi sedikit di kalangan kaum Muhajirin, kaum Anshar, dan setelah itu terjadi persetujuan ijmak di kalangan para sahabat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah kaum muslimin.

Bagaimana dengan Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala anhu? Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu Anhu disebutkan dalam riwayat yang shahih, beliau membaiat Abu Bakar dua kali. Baiat pertama, yaitu ada yang mengatakan hari pertama setelah kejadian Bani Saidah.

Ada yang mengatakan hari kedua disuruh untuk membaiat Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu, sebagaimana riwayat tersebut, riwayat yang shahih dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ta'ala Anhu.

Ya, di mana saya bacakan riwayatnya. Ya, kata Ustaz, setelah Abu Bakar As Siddiq dibaiat, maka beliau pun naik di atas mimbar. Kemudian dia melihat para hadirin dan dia tidak melihat Az Zubair pada Abi Zubair.

Maka Zubair pun dipanggil, karena mereka tidak hadir ketika itu. Zubair dan Ali sedang berada di rumah siapa? Fatimah. Maka dipanggillah. Maka [Musik] Umar berkata, "Ya Ibnu Ahmad, ya Rasulillah."

[Musik] "Engkau adalah sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan kau adalah penolong Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Pernah berkata kepada selain, setiap nabi punya penolong spesial, penolong khusus, dan penolong khususku adalah siapa? Zubair bin Awwam."

"Wahai sepupu Nabi dan wahai penolong khusus Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam." Ini kata Abu Bakar menegur, "Kau ingin memecah belah kaum muslimin? Sudah terjadi baik Rasulullah, tidak ada yang khalifah. Jangan ada celaan, wahai khalifah Rasulillah."

Maka kemudian Zubair pun berdiri. Kemudian beliau membaiat Abu Bakar As Siddiq. Kemudian Abu Bakar mengecek lagi, tidak ada Ali pada Abi Ali Bin Abi Thalib. Maka Ali Bin Abi Thalib pun dipanggil.

Kemudian Ali pun datang. Abu Bakar berkata, "Ibnu Amir, engkau adalah sepupu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan kau adalah mantu Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Kau ingin memecah belah kaum muslimin, khalifah penerus Rasulullah SAW."

Maka beliau pun membaiat Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu. Apakah ini adalah hari pertama wafatnya Nabi? Itu hadis ini, ataukah keesokan harinya, hari Selasa? Ya, baiatnya Zubair dan Ali kepada Abu Bakar As Siddiq.

Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu. Oleh karenanya, adapun isu-isu yang disebutkan orang Syiah, bahwasanya Ali tidak mau baiat, Ali enggan, Ali membangkang.

Demikian juga Saat bin Ubadah kemudian kabur, tidak mau salat di belakang Allah. Ini semua dusta, semua riwayat dari Jalan Abu Mifnaf, dan dia seorang perawi Rofili yang suka mencela para sahabat.

Ya, bahkan disebutkan dalam diskusi Umar dengan Ibadah, ketika Umar memuji Abu Bakar, maka engkau benar, engkau benar. Sudah selesai, tidak ada keributan setelah itu.

Demikian juga dalam riwayat yang shahih, bagaimana Ali Bin Abi Thalib ya begitu perhatian terhadap Abu Bakar. Sampai ketika Abu Bakar As Siddiq dan Ali tidak pernah tidak salat di belakang Abu Bakar.

Beliau selalu salat di Masjid Nabawi di belakang siapa? Bermakmum kepada siapa? Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu. Ya, bahkan ketika Abu Bakar ingin keluar menjadi pemimpin dalam peperangan melawan Al Murtadin, orang-orang yang murtad yang benar yang mengikuti nabi-nabi palsu.

Ketika itu, Abu Bakar sudah keluar dengan menghunuskan pedangnya, maka dikejar oleh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala Anhu. Kemudian ditahan oleh Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala Anhu dan dilarang.

Kata Ali, "Kata Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala Anhu kepada Abu Bakar, masukkan pedang [Musik]. Sudah jalan jauh, dikejar oleh Ali Bin Abi Thalib. Dia sudah menuliskan pedangnya."

Kata-kata Ali, "Masukkan pada mubaligh ke Madinah. Jangan bikin kaget kami. Kalau kau meninggal dunia, seandainya kami diberi kabar engkau meninggal dunia, maka Islam tidak punya aturan sama sekali setelah itu."

Jadi, Ali Bin Abi Thalib sayang sama Abu Bakar. Dia tidak ingin Abu Bakar yang keluar perang disuruh pulang, yang lain saja, karena Abu Bakar adalah khalifah kaum muslimin.

Kalau khalifahnya meninggal, mungkin terjadi. Dalam sebagian riwayat, Az Zuhri menyebutkan dalam Shahih Bukhari, Az Zuhri meriwayatkan secara Mursal tanpa sanad, tanpa sahabat.

Ada yang bertanya, "Apa, bukankah ahli radhiyallahu Anhu tidak membaiat Abu Bakar selama 6 bulan?" Kata Zuhri, "Tidak seorangpun dari Bani Hasyim, termasuk Ali Bin Abi Thalib, yang membaiat Abu Bakar kecuali setelah 6 bulan."

Harta bayarahu Ali setelah Ali membaiat Abu Bakar, baru Bani Hasyim seluruhnya membaiat Abu Bakar. Orang-orang tidak lagi menghormati beliau setelah wafatnya Fatimah.

Maka Ali pun berpikir untuk berdamai dengan Abu Bakar. Maka dia pun mengirim surat kepada utusan kepada Abu Bakar dan berkata, "Itina sendirian, jangan seorangpun kau bawa."

Ya, dan Umar pun tidak suka. Ya, wakariyan, Ali tidak suka kalau Abu Bakar datang bersama Umar, karena dia tahu Umar orangnya tegas. Maka Umar berkata, "Wahai Abu Bakar, jangan kau datangi Ali Bin Abi Thalib sendirian."

Kata Abu Bakar, "Aku akan mendatangi mereka meskipun sendirian. Apa yang mereka lakukan kepadaku?" Maka Abu Bakar pun berjalan sendirian kemudian menuju Ali.

Ketika itu, Ali Bin Abi Thalib berkumpul dengan Bani Hasyim, maksudnya kerabat-kerabat Nabi. Maka Ali Bin Abi Thalib pun memuji Allah dan menyanjung Allah.

Kemudian dia berkata, "Anu bayi Abu Bakar. Sesungguhnya kami tidak, tidaklah mencegah kami untuk membayar engkau selama 6 bulan ini bukan karena kami mengingkari keutamaanmu dan juga bukan karena persaingan dengan kebaikan yang telah Allah berikan kepada engkau.

Walau hanya saja, menurut kami, kami punya hak dalam masalah pemilihan khalifah. Kenapa kok tidak bermusyawarah dengan kami, sementara kami kerabat siapa? Rasulullah SAW.

Hingga akhirnya kalian mengadakan pemilihan khalifah tanpa kehadiran kami. Ya, tanpa kehadiran-kehadiran kami." Ini penjelasan dari Zuhri.

Ini semua riwayatnya lemah, karena Zuhri tidak menyebutkan sanadnya. Namun ada sebagian ulama mulai menjamakkan. Mereka berkata hadis yang shahih dari hadis Abu Said al-Khudri, Ali Bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam membaiat Abu Bakar.

Entah hari pertama, tapi tidak pas kejadian. Mungkin siang harinya atau sore harinya, atau mereka membaiat Abu Bakar pada hari ke-2, sebagaimana diri kita jelaskan.

Abu Bakar bertanya, "Mana Az Zubair? Mana Ali? Kenapa engkau tidak membaiat? Kau ingin apa namanya merobek persatuan kaum muslimin?" Akhirnya mereka membaiat Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu anhu.

Adapun pembayaran Ali 6 bulan seterusnya adalah dalam rangka untuk memperkokoh baiat. Yang mungkin sebagian orang tidak ngerti, bahwasanya Ali sudah membayar Abu Bakar radhiyallahu ta'ala Anhu.

Ya, tapi riwayat bahwasanya Ali tidak membaik selama 6 bulan, riwayatnya lemah, karena riwayat Zuhri dan Zuhri seorang tabiin dan dia tidak menemukan, tidak menyebutkan sanadnya dari sahabat.

Ya, sehingga riwayatnya Mursal, ya, riwayatnya Mursal, sehingga termasuk riwayat yang lemah. Allah yang benar, Ali Bin Abi Thalib membaiat Abu Bakar As Siddiq dan kemudian taat kepada Abu Bakar As Siddiq dan selalu salat di belakang Abu Bakar As Siddiq.

Dan bahkan ketika Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala ingin keluar berperang melawan orang-orang murtadin, maka ahli mencegahnya dengan mengatakan, "Jangan, wahai khalifah. Kalau kau meninggal, repot. Siapa yang mengatur apa? Kau kaum muslimin."

Sehingga akhirnya ahli, akhirnya Abu Bakar mundur, tidak jadi berangkat untuk memimpin ke peperangan. Namun benar bahwasanya ada permasalahan, ya, antara Fatimah radhiyallahu ta'ala anha dengan Abu Bakar As Siddiq.

Sebagian datang dalam riwayat-riwayat yang shahih, ya, bahwasanya Fatimah radhiyallahu anha setelah ayahnya meninggal Nabi SAW, maka Fatimah dan Ali dan Labas datang kepada Abu Bakar minta warisan. Warisan dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, karena ayah meninggalnya warisan.

Nabi punya beberapa harta dari Khaibar, kemudian ada di Padang. Sehingga Fatimah datang minta warisan. Maka Abu Bakar As Siddiq berkata kepada mereka, "Abu Bakar, demi Allah, saya lebih suka menyambung kerabat Nabi daripada kerabatku sendiri.

Aku akan bersungguh-sungguh mengolah harta ini, ya, dengan sebaik-baiknya. Aku tidak akan mengolahnya dengan tidak benar. Aku mengolah harta peninggalan Nabi dengan sebaik-baiknya.

Kalau saya mau kasih, saya kasih. Akan tetapi, semi itu Rasulullah SAW yakult. Tapi saya mendengar Rasulullah SAW bersabda [Musik].

Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Sungguhnya kami para nabi tidak ada warisan. Itu tidak ada warisan dari kami. Kami seluruh Nabi seperti itu menjadi sedekah bagi kaum muslimin. Sehingga tidak ada harta warisan dari Nabi untuk kalian."

Maka Fatimah pun marah sama Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu dan tidak mau bicara dengan Abu Bakar As Siddiq, ya, sampai wafat Fatimah radhiyallahu ta'ala.

Ini namanya, ya, tidak ada yang, apa ya, tidak ada yang Maksum. Ya, Fatimah menyangka bahwasanya ayahnya punya warisan untuk bisa diambil, tetapi ditahan oleh siapa? Abu Bakar As Siddiq.

Namun sebelum wafatnya, maka Abu Bakar As Siddiq datang menemui Fatimah radhiyallahu ta'ala. Abu Bakar ketika Fatimah sakit, maka Abu Bakar pun datang menjenguk Fatimah, kemudian minta izin untuk bertemu dengan Fatimah.

Ini Abu Bakar minta izin bertemu dengan engkau. Kata Fatimah kepada Ali, "Apakah kau suka aku mengizinkan beliau?" Maka Fatimah mengizinkan. Abu Bakar pun datang dan dia pun masuk memenuhi.

Kemudian Abu Bakar ingin menyenangkan Fatimah agar Fatimah Ridho dengan dia. Ya, artinya kalau kita di posisi Abu Bakar kan susah. Bagaimana ini? Ini dia sangat sayang sama keluarga Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, tapi Nabi bilang, "Jangan, peninggalanku tidak ada yang menjadi warisan."

Serba salah, serba salah. Jadi bahkan Abu Bakar tahu risiko dari dia tidak kasih warisan. Fatimah akan marah sama dia, tapi dia mengambil risiko. Mengambil risiko demi untuk menjalankan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Tapi dia datang kepada Fatimah, ya, minta agar Fatimah Ridho kepadanya. Ya, kemudian beliau berkata, "Wallahi, Ma Taruhlah hal baik. Demi Allah, aku tidak meninggalkan Negeriku. Aku tidak meninggalkan keluargaku. Aku tidak mengeluarkan hartaku, kabilahku.

Aku tinggalkan semuanya tidak lain kecuali ingin mencerai keridaan Allah, keridhoan Rasulullah, dan keridaian ahlul bait kalian semua. Taro dhaha."

Kemudian dia terus setara dengan Fatimah. Akhirnya Fatimah Ridho dengan siapa? Abu Bakar sebelum meninggal dunia.

Dan ini sering dijadikan alasan oleh orang Syiah untuk mencela Abu Bakar. Dan kita bilang, Abu Bakar menjalankan sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Makanya diriwayatkan dari Zaid bin Ali bin Husein bin Ali Bin Abi Thalib, salah seorang dari Ahlul Bait.

Ya, dia berkata, "Amalau kuntu makana Abu Bakar." Seandainya aku berada di posisi Abu Bakar, Zaid keturunan yang disandarkan kepadanya. Firko sahidiyah, salah seorang Imam dari Imam Ahlul Bait, ya, yang disandarkan kepadanya.

Padahal dia tidak berfirqoh, tidak berakidah seperti mereka. Dia berkata, "Seandainya aku di posisi Abu Bakar, aku akan menjalankan sebagaimana yang dijalankan oleh siapa? Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu ta'ala Anhu."

Ya, seandainya kita di posisi Abu Bakar, kita bagaimana kira-kira? Menyenangkan Fatimah radhiyallahu anha, tapi membangkang perintah Nabi atau sebaliknya? Tentu sebaliknya. Kita tetap menjalankan perintahnya meskipun risiko kita dibenci oleh Fatimah.

Wanita sholeha dijamin surga, tapi dia tidak Maksum. Dia tidak, apa, Maksum. Dia tidak masuk. Dan bukan cuma Fatimah yang tidak dikasih. Fatimah tidak dikasih, paman Nabi juga tidak dikasih.

Istri-istri Nabi pun tidak dikasih. Di antara istri Nabi, siapa dapat bagian warisan? Enggak dapat. Seandainya kalau ada warisan, Aisyah juga akan dikasih, karena dia putrinya siapa? Abu Bakar.

Tapi semuanya tidak ada dikasih, karena perintah Nabi, "Nahnu Anbiya lanuraf Mataram." Kami para nabi tidak punya warisan. Apa yang kami tinggalkan semua menjadi sedekah.

Kata Nabi dalam hadisnya, "Andal Anbiya alam, sesungguhnya para nabi tidak mewariskan harta Dinar dan dirham, tapi mereka hanya mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil ilmu dari para nabi, Dia telah mengambil bagian yang banyak."

Sampai sini jelas ceritanya. Kita mengambil faedah dari kisah pembayaran Abu Bakar As Siddiq radhiyallahu Anhu yang pertama, semangat para sahabat untuk segera mengangkat khalifah agar mencegah perpecahan.

Ya, sampai-sampai mereka menunda pemakaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Pemakaman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, karena mereka tahu ini masalah penting.

Kalau sudah ada pemimpin, semua selesai. Tapi kalau tidak ada pemimpin, mungkin proses pemakaman pun ada keributan. Mungkin proses pemakaman pada keributan, sehingga harus ada pemimpin dulu, sehingga semuanya bisa berjalan dengan baik.

Ya, apalagi kita tahu bahwasanya orang-orang Arab dahulu, mereka sulit untuk bersatu. Masing-masing kabilah punya pemimpin sendiri-sendiri. Mereka tidak mau tunduk kepada kabilah yang lain.

Makanya kita dapati hadis-hadis tentang jahiliyah. Siapa yang meninggal tidak ada baiat di lehernya, maka mati seperti orang jahiliyah. Karena orang jahiliyah dahulu tidak suka punya pemimpin.

Mereka sering terpecah belah, ribut, masing-masing punya kabilah sendiri-sendiri. Sehingga pentingnya menganggap memimpin. Ya, ini dirasakan oleh para sahabat.

Sehingga mereka sebelum mau apa namanya memakamkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, menguburkan Sallam, mereka berusaha untuk menganggap mimpi terlebih dahulu.

Namun kalau kita lihat perkataan orang Syiah, lihat para sahabat rakus memimpin, sampai menelantarkan jasad Nabi. Ini sudut pandang yang seperti itu.

Bayangkan bagaimana mereka baca riwayat para sahabat, sampai nangis, sampai sedih, sampai Umar tidak percaya Nabi apa meninggal dunia.

Sementara mereka bilang jasad Nabi terlantarkan karena rakus apa? Keinginan. Bukan begitu yang benar. Mereka harus memimpin supaya permasalahan semuanya mudah.

Kemudian pemilihan Abu Bakar dan musyawarah dengan musyawarah dan ijma' mereka. Musyawarah diskusi kaum Anshar mengatakan kami inginkan.

Sampai akhirnya setelah Abu Bakar dibaiat, semuanya setuju, termasuk Saat bin Ubadah pun apa? Setuju. Tidak ada yang mengingkari hal tersebut.

Oleh karenanya, Ibnu Mas'ud radhiyallahu Anhu riwayatkan, beliau mengomentari kejadian ini. Beliau berkata bahwa, "Indallahi Hasan." Dia mengomentari tentang bagaimana para sahabat memilih Abu Bakar.

Dia berkata, "Apa yang dilihat oleh kaum muslimin baik, maka di sisi Allah juga apa? Baik." Dan para sahabat telah memilih siapa? Abu Bakar. Mereka ijma memilih Abu Bakar, maka itu baik di sisi siapa? Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Ini perkataan yang belum masuk. Ini mirip dengan perkataan Abu Bakar Bin Ayash. Abu Bakar Bin Ayash rahimahullah ta'ala pernah ditanya oleh Harun Ar-Rasyid, "Bagaimana peristiwa peristiwa pembaiatan Abu Bakar As Siddiq?"

Maka Abu Bakar Mukminun kata dia, "Allah mendiamkan Rasulullah, mendiamkan kaum mukminin, mendiamkan Harun Rasyid lebih bingung." Apa maksud saya lebih bingung lagi? Maksudnya gimana?

Jadi bagaimana peristiwa pembaiatan Abu Bakar? Kata Abu Bakar, "Allah mendiamkan Rasulullah, diam komen juga apa di diam."

Kemudian ini jelaskan maksudnya, seandainya Abu Bakar tidak berhak menjadi pemimpin, pasti Allah tidak apa? Diamkan. Juga tidak akan diamkan.

Tetapi semua hadis-hadis mengisyaratkan Rasulullah yang ketika Rasulullah sakit, siapa yang jadi Imam? Abu Bakar. Ketika Allah pun mendiamkan Rasulullah, menyuruh Abu Bakar menjadi imam salat.

Kalau nanti kita hadits-hadisnya, kalau apa ada yang bertanya, "Ya Rasulullah, kalau engkau sudah tidak ada, kami bayar zakat kepada siapa?" Bayar zakat sama Abu Bakar.

Kalau saya balai tidak ketemu engkau, saya ketemui siapa? Kata Rasulullah, "Temui Abu Bakar." Terlalu banyak hadis-hadis dan Rasulullah membiarkan begitu saja.

Rasulullah diam, kaum mukminin pun diam ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah. Ini menunjukkan bahwasanya memang Abu Bakar berhak menjadi siapa? Khalifah.

Di antara perkataan Abu Lahab Asy'ari yang indah, dia berkata, "Bukankah Rasulullah SAW bersabda, 'Billah dalam masalah imam yang jadi imam adalah orang yang paling akro, yang paling paham tentang Alquran.'

Dan selama Rasulullah SAW sakit, siapa yang jadi imam? Abu Bakar. Rasanya selama 8 hari, Abu Bakar jadi imam. Tidak seorangpun sahabat yang di sela-sela.

Seandainya bukan Abu Bakar tidak menjadi khalifah, mungkin yang lain boleh menyala jadi imam. Kemudian para sahabat ketika khilaf pertama, mereka sedang berpikir memilih siapa yang terbaik.

Sehingga terjadi perselisihan. Ya, mereka menganggap yang terbaik dari sisi kami adalah Saat bin Ubadah dari kaum Anshar. Dia yang paling terbaik di antara sahabat-sahabat yang lain.

Dan mereka punya pemikiran bahwasanya masing-masing kabilah punya apa? Pemimpin. Namun setelah Umar membaca Abu Bakar dengan memaksakan sini, saya baiat, maka semua langsung apa? Nih ngikut.

Tidak satupun yang ribut. Sekarang mereka tahu Abu Bakar yang terbaik. Ya, Abu Bakar yang terbaik.

Ini semua ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala membantah pemikiran orang-orang orientalis maupun orang Syiah yang menggambarkan bahwasanya para sahabat rakus kepemimpinan.

Bahwasanya mereka menelantarkan jasad Nabi SAW. Mulai keluar tanduk-tanduk kemunafikan kata-kata mereka kepada para sahabat.

Ya, dan ternyata Alhamdulillah dengan baik atau menukar pada saat bersatu. Kemudian mereka tunduk di bawah Abu Bakar. Kemudian mereka berperang melawan orang-orang murtaddin yang ikut yang mengikuti Nabi Daud, sebagaimana akan datang penjelasannya.

Di akhir pembahasan masalah Abu Bakar sebagai khalifah disepakati oleh para ulama Ahlussunnah bahwasanya Abu Bakar yang berhak menjadi khalifah dan kekhalifahannya sah.

Yang bilang tidak sah, cuma orang-orang musyrik Syiah, karena mereka mengatakan namanya Khilafah itu dari harus dari Ahlul Bait. Jadi Ahlul Bait, sementara Abu Bakar bukan Ahlul Bait, Umar bukan Ahlul Bait, Utsman bukan Ahlul Bait.

Jadi kata mereka, setelah Nabi jadi pemimpin yang berhak, harusnya siapa? Ahli. Jadi tiga ini, tiga orang sebelum Ali, semuanya tidak sehat dan semuanya kafir.

Semuanya kafir, karena merampas kepemimpinan dari Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ta'ala Anhu. Adapun Ahlussunnah mengatakan sepakat kepemimpinan Abu Bakar dan pimpinan yang sah.

Cuma mereka berselisih, apakah Abu Bakar menjadi khalifah itu dengan Nas dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam atau hanya sekedar isyarat. Pendapat pertama mengatakan Abu Bakar menjadi khalifah karena Nash dari Nabi, yaitu Nas.

Maksudnya Nabi mengatakan dengan tegas, ini pendapat Ibnu Hazm rahimahullahu ta'ala. Di antara dalil akan hal ini menurut Ibnu Hasyim dan para ulama yang sependapat dengan beliau, dalil yang tegas bahwasanya Abu Bakar jadi khalifah adalah Nabi mengatakan, "Semua pintu-pintu yang menemui masjid ditutup kecuali pintunya siapa? Abu Bakar."

Kemudian ketika Nabi sakit, yang suruh jadi imam siapa? Abu Bakar. Sampai hari Umar saja, Umar kata Abu Bakar enggak harus kata Nabi Bakar.

Kemudian juga Aisyah berkata, di waktu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sedang kondisi sakit, beliau berkata, "Jadi ini aba bakriem akhlak tubuh kitaban panggil Bapak Abu Bakar dan Panggil saudaramu Abdurrahman wakaf Oke menulis suatu wasiat."

Aku khawatir ada yang berangan-angan, "Wa Ana Aula," dan berkata, "Saya lebih utama untuk jadi penerus Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam." Ingin tulis, tapi tidak jadi nulis.

Tapi Rasulullah sempat ungkapkan, "Saya khawatir ada yang berangan berkata, 'Saya yang berhak untuk jadi apa? Khalifah.' Sesungguhnya Allah dan kaum Mukmin enggan menjadi Khalifah kecuali siapa? Jadi penerus kecuali siapa? Abu Bakar."

Ini dijadikan dalil bahwasanya Nas Abu Bakar menjadi khalifah. Demikian juga ada seorang wanita ketika bertanya kepada Nabi, "Ya Rasulullah, kalau saya tidak dapat di kamu, saya ketemu siapa?"

Kata Nabi, "Ketemu siapa? Abu Bakar." Jadi Allahu ta'ala Anhu. Kemudian juga dalam riwayat, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihat, ya, berkata, "Ya eee Rasulullah, melihat dalam tidur, aku bermimpi, aku berada di sebuah sumur. Kemudian aleha dalwun di atas umur tersebut ada ember vanazah.

Masya Allah, kemudian aku ambil air dengan ember tersebut sesuai yang Allah kehendaki. Setelah itu ember tersebut diambil oleh Abu Bakar. Seakan-akan estafet kepemimpinan Nabi. Cerita saya lihat dalam mimpi diambil oleh Abu Bakar.

Dan aku melihat dia mengambil air satu kali ember atau dua kali dua ember. Dan ketika dia mengambil, dalam ada kelemahan, ada kelemahan isyarat bahwasanya pemerintahannya banyak stabil yang rusak, banyak orang murtad sana kemari.

Dan ini syarat bahwasanya Abu Bakar memimpin cuma dua tahun. Dia hanya 2 tahun beberapa bulan. Kemudian kata Nabi, "Korban." Kemudian ember tersebut diambil oleh Umar. Ternyata embernya jadi besar.

Embernya di apa? Besar. Ya, kolam Ar Bukhari dengan ember besar seperti Umar. Umar ambil air banyak sampai orang-orang semua puas dengan air. Sampai mereka sudah minum dari air, sampai mereka ikat di tempat tambatan onta.

Artinya Nabi bercerita, Umar luar biasa. Dan ini syarat kita bahwasanya setelah Nabi meninggal, siapa yang jadi Khalifah? Abu Bakar. Kemudian siapa? Umar.

Ini semua pendapat yang mendukung bahwasanya Abu Bakar menjadi khalifah dengan Nas tegas dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun pendapat jumhur seperti Imam Ahmad dan yang lainnya berpendapat bahwasanya Abu Bakar adalah khalifah, bukan nasi yang tegas, tapi isyarat dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Karena dia tidak pernah berkata secara tegas, "Yang jadi khalifah setelah ku siapa? Abu Bakar." Seandainya Nas tegas, tidak ada perselisihan awal di kalangan para sahabat.

Ini semuanya sekedar apa? Isyarat. Ya, timbul pertanyaan di kalangan para ulama, "Kenapa Nabi tidak tegas-tegasan mengatakan penggantiku selaku siapa? Abu Bakar."

Sebagian berusaha mencari hikmah. Kata mereka, "Karena Nabi tahu para sahabat tidak perlu disampaikan demikian. Mereka akan pilih siapa."

Yang kedua, ada yang mengatakan, "Karena Nabi ingin mengajarkan kepada mereka adanya pemimpin tanpa ditunjuk oleh Nabi."

Karena taruhlah Nabi tunjuk Abu Bakar, nanti kalau Abu Bakar meninggal, masalah itu tidak ada Nas, ribut nanti. Maka sejak Nabi meninggal, sudah ada pemilihan tanpa ada Nas tegas dari siapa? Nabi.

Karena setelah itu akan ada khalifah-khalifah selanjutnya yang tidak ada Nash dari Alquran maupun sunnah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.

Demikian ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apa yang kita sampaikan, Insya Allah kita lanjutkan pada kesempatan yang lain. Mohon maaf, ini pertanyaannya kebanyakan tanda tanya sama Ustaz yang lain.

Subhanallah wabihamdik, asyhadualla ilaha illa Anta, subhanaka, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.