Transcription
Salam, kasih, sukacita, dan damai sejahtera untuk kita semua. Selamat merayakan Hari Paskah! Kristus sudah bangkit! Haleluya!
Saudara kita berkumpul dalam perayaan Paskah bukan sekedar mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi merayakan kemenangan hidup atas kematian, terang atas kegelapan, dan pengharapan atas keputusasaan. Injil Yohanes pasal 20 ayat 1 sampai 10 mencatat peristiwa paling sentral dalam iman Kristen: Kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Peristiwa ini bukan hanya klimaks dari kehidupan Yesus, melainkan fondasi iman Kristen. Tanpa kebangkitan, salib kehilangan maknanya. Tetapi karena kebangkitan Kristus, maka hidup kita dipenuhi dengan harapan yang baru, harapan yang kekal. 1 Korintus pasal 15 ayat 14: “Andai kata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Tetapi Kristus sudah bangkit dan hidup, dan Ia hidup hingga kini, bahkan sampai selama-lamanya.
Peristiwa Paskah memberi kepastian tentang pengampunan dosa, kepastian iman, dan kepastian hidup. Diceritakan pada hari pertama Minggu itu, pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu, dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Maria Magdalena adalah saksi pertama kebangkitan Yesus. Di tengah kegelapan pagi, ia datang bukan karena ia berharap Yesus hidup kembali, tetapi karena kasih-Nya yang mendalam pada sang Guru. Kegelapan ini tidak hanya menggambarkan waktu secara literal, tapi juga keadaan hati para murid yang masih bingung dan tidak memahami rencana kebangkitan Kristus. Karya Allah memang sering dinyatakan justru di tengah kegelapan dan ketidakpastian. Di sanalah Allah mengatur segala sesuatu baik dan indah.
Dalam kecemasan dan ketidakpahaman, Maria Magdalena berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain. Katanya kepada mereka, "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya, dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan." Maria berasumsi tubuh Yesus dicuri, karena kebangkitannya belum menjadi bagian dari iman mereka. Ia tahu bahwa kubur kosong, tapi tidak tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi. Memang demikianlah kita manusia, meskipun banyak melihat tanda-tanda dari Tuhan, namun terkadang kita gagal mengerti maknanya. Tanpa dasar iman dan firman, kita mudah salah mengartikan jalan-jalan Tuhan.
Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain ke kubur Yesus. Keduanya berlari bersama-sama. Petrus dan Yohanes tidak tinggal diam. Mereka merespon kabar itu dengan berlari. Ini menunjukkan betapa besar kerinduan mereka akan kebenaran. Iman yang sejati adalah iman yang tidak pasif. Ada dorongan untuk menyelidiki, untuk mencari tahu, dan menemukan Tuhan. Kita dipanggil untuk merespon kabar Injil dengan kerinduan dan semangat, bukan menunggu atau menunda. Mereka melihat kain kafan terletak di tanah dan kain peluh tergulung di tempat tersendiri. Ini menegaskan bahwa Yesus bangkit dengan teratur dan penuh kuasa, bukan karena tubuhnya dicuri orang. Tanda-tanda ini bukan kekacauan, melainkan karya kebangkitan yang ilahi. Maka masuklah juga murid-murid yang lain, dan ia melihat dan menjadi percaya. Inilah iman sejati: percaya sebelum melihat Yesus secara langsung. Iman bukan bergantung pada bukti kasat mata, melainkan pada kebenaran firman Tuhan. Yohanes memberi teladan: "Kita bisa percaya meski belum melihat Yesus dengan mata jasmani. Sebab,” dikatakan mereka, “belum mengerti isi kitab suci yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.” Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah. Walaupun sudah percaya, pemahaman mereka belum sempurna. Iman seringkali mendahului pemahaman yang penuh, tapi itu adalah bagian dari pertumbuhan rohani. Tuhan memimpin kita langkah demi langkah, dari iman kepada pengertian. Iman kepada Yesus yang bangkit membawa kita pada pemahaman yang makin dalam seiring kita berjalan bersama-Nya.
Kebangkitan Yesus bukanlah mitos, tapi fakta historis dan teologis. Saudaraku yang dikasihi, diberkati Tuhan, apa makna Paskah bagi kita sekarang ini? Kebangkitan Kristus membuka jalan bagi kita untuk menjadi ciptaan baru. 2 Korintus 5 ayat 17 berkata: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Tuhan tidak melihat masa lalu kita. Ketika kita sungguh-sungguh hidup di dalam Kristus, kita diberikan identitas baru, tujuan baru, kekuatan baru untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Karena itu, melalui kematian dan kebangkitannya, Yesus mendamaikan kita dengan Allah dan memanggil kita untuk berdamai dengan sesama dan dengan segenap ciptaan Allah.
Paskah mendorong kita untuk hidup dalam kasih, mengampuni, menjaga hubungan kita dengan Tuhan dan menjaga hubungan dengan sesama, serta merawat bumi ini sebagai bagian dari tanggung jawab iman kita kepada Kristus. Paskah memberi harapan di tengah kegelapan. Yesus bangkit saat masih gelap. Ini melambangkan bahwa terang Allah bisa menembus kegelapan hidup kita dalam berbagai tantangan, pergumulan, masalah, kesedihan, bahkan penderitaan sekalipun. Paskah mengingatkan bahwa Tuhan masih bekerja, masih ada harapan, karena Yesus hidup dan hidup untuk selama-lamanya bagi kita.
Paskah menjadi misi bagi orang percaya. Setelah kebangkitan, Yesus mengutus murid-murid-Nya. Artinya, Paskah bukan hanya untuk dirayakan, tapi juga untuk disaksikan. Kita dipanggil menjadi saksi kasih dan kehidupan baru di tengah dunia. Saudaraku, lewat peristiwa Paskah kita dipanggil untuk hidup dalam kuasa kebangkitan, iman yang diperbaharui, dengan hati yang penuh pengharapan dan dengan sukacita bahwa Tuhan kita hidup. Jangan tunggu melihat untuk percaya, tapi percayalah! Maka kita akan melihat segala kuasa dan kemuliaan Tuhan yang selalu nyata dalam kehidupan kita. Terpujilah Kristus! Amin.