📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

V#178 - Mengapa 1-Ramadan-1447 Jatuh pada 18-Februari-2026

World Twilight Project51:35

Transcription

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah wasyukrulillah, la haula wala quwwata illa billah. Ashadu alla ilahaillallah wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.

Pada video kali ini, saya akan menjelaskan mengapa 1 Ramadan 1447 Hijriah yang akan datang akan jatuh pada 18 Februari 2026. Ini memang masih lama, tetapi sengaja saya berikan informasi ini jauh-jauh hari kepada masyarakat supaya dapat mengevaluasinya dengan lebih jernih, jadi tidak mendadak. Apabila ada yang keberatan, silakan sampaikan, namun dengan dasar saintifik yang jelas.

Baiklah, untuk itu saya akan langsung membagikan berkas saya. Judul video saya kali ini adalah "Mengapa 1 Ramadan 1447 Jatuh pada 18 Februari 2026". Seperti biasa, saya Tono Saksono dari Islamic Science Research Institute Jakarta. Lembaga ini adalah lembaga riset yang independen, tidak berafiliasi pada organisasi atau kelompok tertentu. Meskipun saya mungkin anggota dari satu organisasi, lembaga ini adalah lembaga yang independen, sehingga tidak bisa didikte oleh siapa pun. Ini betul-betul independen.

Baiklah, saya akan lanjutkan. Seperti biasa, saya akan selalu memulai dengan animasi karakteristik fase bulan. Ada dua animasi yang akan saya tunjukkan. Fase bulan tetap terjadi meskipun bumi tidak berotasi. Ini harus dipahami, bahwa bumi berotasi pada sumbunya sehingga terjadi siang dan malam. Namun, seandainya bumi tidak berotasi pun, fase bulan itu akan tetap terjadi jika bulan mengelilingi bumi, mengorbit bumi selama satu bulan. Ini akan saya tunjukkan animasinya.

Untuk memahami fase-fase bulan, bumi itu berputar pada porosnya sehingga terjadi siang dan malam. Matahari ada di sini, sehingga bagian bumi yang tersinari oleh matahari adalah siang, sedangkan bagian lainnya adalah malam. Jadi, siang dan malam terjadi. Namun, seandainya bumi tidak berputar, saya akan menunjukkan bahwa fase bulan akan tetap terjadi. Tentu saja, bumi tidak berputar adalah hal yang tidak mungkin, tetapi ini adalah analisis untuk mengevaluasi dan membuktikan bahwa fase bulan akan tetap terjadi. Fase bulan adalah bagian bulan yang tersinari oleh sinar matahari dan menghadap ke bumi. Fase-fase bulan itu akan tetap terjadi seandainya bulan mengelilingi bumi dalam satu bulan, yaitu 29 hari. Ini yang saya tunjukkan, perkembangan fase bulan, meskipun seandainya bumi berhenti berotasi.

Oke, kita tunjukkan ini. Dalam posisi seperti ini, ada matahari, bulan, dan bumi. Kemudian di atas bumi ada dua orang, satu di sebelah kanan berwarna hijau, dan satu di sebelah kiri berwarna oranye. Dalam posisi seperti ini, ketika matahari, bulan, dan bumi berada pada satu bidang meridian, tidak ada bagian bulan yang tersinari. Inilah yang dinamakan konjungsi atau ijtima.

Kemudian bulan itu bergerak. Perubahannya saya anggap setiap hari. Jadi, ini hari ke nol, ini hari pertama. Ketika hari pertama, bulan mulai sedikit tersinari. Ini adalah bagian terkecil yang tersinari dari bumi. Inilah hari pertama. Kemudian hari kedua bertambah besar. Perhatikan, hari ketiga, hari keempat, dan hari keenam, bulan semakin membesar. Namun, orang yang di sebelah kanan tetap tidak bisa melihat. Mengapa? Karena dia terus siang hari, selamanya siang hari, karena bumi tidak berputar. Sebaliknya, orang yang di sebelah kiri, yang oranye, juga belum bisa melihat bulan yang fasenya berubah dari kecil membesar. Mengapa? Karena dia masih tertutup oleh bola bumi, masih di bawah ufuknya.

Barulah pada hari ketujuh, bagi orang yang di sebelah kanan, bulan ini tenggelam. Bagi orang yang di sebelah kiri, yang oranye, bulan ini terbit. Saat inilah, di hari ketujuh, orang yang oranye ini baru melihat bulan tiba-tiba sebesar ini. Kemudian bulan bergerak ke hari ke-8, 9, 10, 11. Orang yang di sebelah kanan ini tetap tidak bisa melihat, bahkan hingga hari ke-12, 13, 14, saat purnama. Orang yang kiri bisa melihat purnama, tetapi yang sebelah kanan tidak, karena berada di bawah atau di sebelah bumi, sama seperti hari ke-15.

Sekarang bulan mengecil lagi, hari ke-16, 17, 18, 19, 20, 21. Bagi orang yang oranye di sebelah kiri, bulan ini tenggelam. Sebaliknya, bagi orang yang hijau di sebelah kanan, bulan ini terbit, tetapi dia tetap tidak bisa melihat karena begitu terbit, matahari sudah sangat terang, seperti tengah hari terus, jadi tidak bisa melihat. Hari ke-22, orang kiri sudah tidak bisa melihat lagi karena bulan sudah tenggelam di bawah, tetapi bagi orang sebelah kanan yang hijau, sebetulnya ada bulan seperti ini, tetapi dia tidak bisa melihat.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa selama hidupnya, orang yang di sebelah kanan ini tidak akan pernah melihat bulan, karena kalah oleh sinar matahari, meskipun bulan itu kecil, membesar, lalu mengecil lagi. Sebaliknya, orang yang di sebelah kiri, yang oranye, dia hanya bisa melihat bulan ketika hari ke-7 sampai hari ke-21. Masalahnya sekarang, jika kedua orang ini tidak pernah belajar sains, maka yang sebelah kanan tidak akan percaya bahwa ada benda bernama bulan. Sebaliknya, yang sebelah kiri hanya percaya bahwa bulan itu dari separuh (first quarter moon) sampai separuh lagi (third quarter moon). Itu persoalannya, jadi itu yang harus dipahami.

Oke, kemudian saya lanjutkan ke animasi kedua, yaitu Yasin 37-40, yang merupakan definisi awal bulan Islam. Akan saya tunjukkan penjelasannya. Tafsir Surah Yasin ayat ke-37 sampai 40 sebagai definisi permulaan bulan Hijriah, bulan Islam. Dalam Surah Yasin ayat 37, Allah berfirman, "Wa ayatul lahumul lail. Naslahu minhun nahar faid hum mudlimun." Artinya, "Dan satu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah malam. Kami tanggalkan siang dari malam, maka tiba-tiba mereka kegelapan." Jadi, Allah sedang menjelaskan tentang perubahan siang dan malam. Malam kemudian akan menggantikan siang.

Kemudian, ayat 38-nya, "Wasyamsu tajri limaqorillaha. Zalika taqdirul azizil alim." Artinya, "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui."

Akibat bumi berputar seperti ini, yang menyebabkan siang dan malam, maka seolah-olah bulan dan matahari itu bergerak mengelilingi bumi. Inilah yang dinamakan gerakan semu. Jadi, ketika Allah menjelaskan bahwa matahari berjalan di tempat peredarannya, itu adalah peredaran semu. Karena bumi berputar, maka matahari seolah-olah berjalan. Mengapa bulan tidak disebutkan? Nanti akan dijelaskan pada ayat 39-nya.

Sekarang harus diperhatikan, bumi berotasi 360 derajat dari sini sampai kembali lagi ke sini dalam 24 jam. Artinya, setiap jamnya adalah 360 dibagi 24, yaitu 15 derajat. Ini dinamakan kecepatan sudut. Jadi, akibat bumi berputar seperti ini, matahari seolah-olah berjalan 15 derajat per jam. Bulan juga sebetulnya bergerak secara semu 15 derajat per jam.

Namun, persoalan yang dahsyat adalah ayat berikutnya, ayat 39-nya, "Walqamar qaddarnahu manazila hatta ada kal'urjunil qadim." Artinya, "Dan bulan, dan Kami telah tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga setelah sampai ke tempat peredaran yang terakhir, kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." Jadi, bulan itu bergerak sampai ketika peredaran yang terakhir di sini, ia kembali seperti bentuk tandan yang tua (urjunil qadim).

Sekarang perhatikan, bulan tadi secara semu bergerak 15 derajat per jam, tetapi dia juga bergerak secara nyata. Gerakan nyata ini adalah 360 derajat dalam 29,5 hari. Jadi, gerakan nyatanya hanya 360 dibagi 29,5 hari, lalu dibagi 24 lagi untuk per jamnya, sehingga diperoleh 0,5 derajat per jam. Akibatnya, jika matahari kecepatan sudutnya tetap 15 derajat per jam, kecepatan sudut bulan menjadi 15 derajat dikurangi 0,5 derajat, yaitu hanya 14,5 derajat per jam. Jadi, bulan itu selalu ketinggalan karena kecepatan sudutnya 0,5 derajat lebih kecil daripada kecepatan sudut matahari. Sehingga pada saat di akhir manzilah, ia akan berbentuk seperti urjunil qadim.

Ini adalah ayat yang sangat dahsyat. Orang harus berpikir. Tidak boleh banyak ustaz yang menafsirkannya secara sangat tekstual, membaca ayat 38, "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya." Lalu mereka menyimpulkan, "Wah, kalau begitu matahari yang mengelilingi bumi, kan?" Itu terlalu tekstual. Mereka tidak mau berpikir, tidak mau mempelajari sains. Akibatnya, ada ustaz yang mengatakan bumi itu datar, dan jika menganggap bumi itu bulat, maka kafir. Hal-hal seperti itu. Jadi, sedikit-sedikit kafir. Padahal, sebetulnya Allah menjelaskan ini dengan sangat jelas, yang hanya bisa dipahami oleh ulil albab, yaitu orang yang berpikir.

Jadi, pada saat sampai di akhir, elongasi, yaitu perbedaan kecepatan sudut antara matahari dan bulan, itulah yang menyebabkan terjadinya elongasi. Pada saat bulan tua, misalnya hari ke-24, elongasi dan fase-fase bulan itu mengecil sebelum terjadinya konjungsi. Setelah terjadi konjungsi, dia membesar. Saya tunjukkan ini. Misalnya, hari ke-24 atau ke-25, posisi bulan ada di sini. Karena hari ketujuh di sini, hari ke-14 di sini, ke-21 di sini, hari ke-24 atau 25 di sini. Semakin hari, atau sebetulnya setiap detik, sebelum ijtima, elongasi ini mengecil. Elongasi adalah sudut ini, sudut elongasi yang mengecil. Ini juga mengecil. Tadinya lebih besar, sekarang mengecil. Ini yang dijelaskan pada ayat 39 tadi.

Kemudian, terjadilah konjungsi. Setelah konjungsi, seperti ini, ia membesar. Ini hari berikutnya, ia membesar. Di situlah sebetulnya ayat 39 menjelaskan tentang titik nol dari sistem peredaran kalender bulan. Titik nolnya di situ. Jadi, perubahan perpindahan bulan itu terjadi pada saat ijtima.

Sekarang saya teruskan. Ilustrasi yang lebih sederhana adalah seperti ini. Ada pesepeda berjalan dengan kecepatan 20 km/jam, sedangkan orang ini berjalan dengan kecepatan 5 km/jam. HR di sini adalah "hour" (jam). Pada satu titik, antara sepeda, orang berjalan, dan pohon ini akan berimpit. Itulah yang dinamakan ijtima. Sebelum ijtima, karena kecepatan pesepeda lebih besar, jarak ini semakin mengecil. Itulah elongasi, semakin mengecil.

Namun, setelah ijtima, jarak ini terus membesar. Mengapa? Dan itu tidak harus menunggu lama. Satu detik setelah ijtima, pasti sudah berpisah. Artinya, berpisah antara orang berjalan dengan orang bersepeda. Karena jika 20 km/jam, itu berarti 1 detiknya adalah 5,6 meter per detik. Jika kecepatan berjalannya 5 km/jam, itu artinya 1,4 meter per detik. Jadi, begitu detik kedua, sudah lewat, karena ini kecepatan 5,6 meter, yang ini 1,4 meter per detik. Jadi, tidak harus menunggu sampai berjam-jam. Begitu detik pertama setelah ijtima, sudah berpisah. Perpisahan itulah elongasi yang bertambah besar, dan dalam konteks bulan dan matahari, itulah hilal.

Jadi, setelah ijtima, hilal kemudian membesar. Maaf, jadi intinya adalah, di ayat ke-40, setelah ayat ke-39 menjelaskan bahwa karena perbedaan kecepatan sudut semu antara matahari dan bulan, terjadilah perubahan elongasi. Sebelum ijtima, elongasi semakin mengecil, tetapi setelah ijtima, ia membesar. Inilah yang digambarkan oleh kondisi ini. Jika sebelum ijtima mengecil, begitu terjadi ijtima, ia kemudian membesar, dan di sisi sebaliknya, itulah hilal.

Kemudian, dalam ayat ke-40 dijelaskan, "Lasyamsu yambaghi an tudrikal qamar wa lal lailu sabiqun nahar. Wa kullun fi falakin yasbahun." Artinya, "Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." Jadi, dalam posisi seperti ini, matahari belum berhasil mengejar bulan, seperti juga malam tidak mendahului siang. Tetapi, dalam ayat ke-37 disebutkan bahwa Allah akan menggantikan siang dan malam. Jadi, suatu saat malam itu akan menggantikan siang. Ini juga begitu. Suatu saat, bulan ini, meskipun dikatakan bahwa tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan di ayat ke-40, tetapi ia akan "mengejar" bulan, seperti juga malam yang akan berhasil "mengejar" siang. Kapan mengejarnya? Ketika terjadi ijtima. Setelah ijtima, ia kemudian menjadi hilal seperti ini. Itu maksudnya.

Nah, sekarang kita akan menjelaskan tentang isu visibilitas. Kita melihat ini dalam posisi hari ke-24. Harus disadari bahwa ini masih cukup besar, hari ke-24 itu. Tetapi, ini adalah sabit tua (waning crescent), jadi semakin mengecil. Coba perhatikan, jika orang ini berada di siang hari, tidak akan kelihatan, karena silau oleh sinar matahari. Sebaliknya, jika ini berada di malam hari, tidak kelihatan juga, karena bulan berada di bawah, dan orangnya di sebelah sini. Kemudian, ia semakin mengecil, hari ke-25, hari ke-26, hari ke-27, atau ke-28, terjadilah urjunil qadim tadi.

Jadi, dalam posisi ini, disebutkan bahwa tidaklah mungkin matahari mendapatkan bulan, seperti juga malam tidak mendapatkan siang. Kapan matahari mendapatkan bulan? Ketika terjadi ijtima. Begitu juga malam menggantikan siang, kan akhirnya. Jadi, ijtima. Begitu ijtima, ya sudah, hilal sudah ada. Tadi sudah saya jelaskan bahwa satu detik pun setelah ijtima, hilal sudah terjadi. Bahwa kita tidak melihatnya, itu urusan lain.

Persoalannya sekarang, hilal itu bertambah besar. Ini hari pertama, hari ke nolnya tadi pada saat ijtima. Hari kedua, hari ketiga, ini sudah besar. Tapi, jika orang ini pada malam hari, ia tertutup oleh bola bumi, tidak kelihatan. Jika siang hari, tidak kelihatan karena silau oleh sinar matahari. Satu-satunya kesempatan saat orang ini harus bisa melihat hilal adalah saat magrib, karena sinar matahari meredup sehingga bisa kelihatan. Tapi, itu hanya beberapa menit saja. Jika ketinggiannya 3 derajat, 1 derajat itu 4 menit. Jadi, jika 3 derajat, 12 menit, bulan itu hilang juga, tenggelam juga, karena bumi berputar terus. Itu persoalannya.

Sekarang saya akan membandingkan kondisi hilal antara kita di Jakarta dengan orang di Afrika atau Eropa. Sekarang kita lihat hilal di Afrika atau di Eropa, yang perbedaannya dengan kita misalnya 10 jam. Katakanlah ini kita di Jakarta. Di Jakarta saat itu magrib. Mengapa magrib di sini? Karena ini ufuknya, ufuk bagi orang di Jakarta yang hijau ini. Ini ufuk baratnya, mataharinya di sana, jadi ini tenggelam. Jadi, ini ufuk barat. Pada saat ini magrib.

Kemudian, di suatu tempat di Afrika atau di Eropa, dengan perbedaan 10 jam. Jadi, dari sini ke sini 6 jam, dari sini ke sini 4 jam, total 10 jam perbedaannya. Mungkin sudah mendekati Greenland. Sekarang bayangkan, katakanlah pada saat magrib di sini, ada hilal, ada bulan, ketinggiannya katakanlah cuma 1 derajat. Jadi, tidak mungkin kelihatan oleh orang di Jakarta, cuma 1 derajat. Pada saat ini magrib, katakanlah jam 18.00. Di suatu tempat, 10 jam di belakang kita, itu berarti pukul 08.00.

Kemudian, karena bumi itu berputar, suatu saat 10 jam kemudian, orang yang di Eropa ini akan mengalami magrib. Jadi, 1 jam, 2 jam, sampai 10 jam. Ketika orang Afrika ini magrib di sana, itu berarti 10 jam kemudian. Elongasi itu bertambah setiap jamnya 0,5 derajat. Jadi, dalam 10 jam, elongasinya bertambah 5 derajat, karena 10 jam dikalikan 0,5 derajat. Jika elongasinya bertambah, pasti iluminasi juga bertambah. Secara teoritis, per jamnya adalah 0,3%. Ini diperoleh dari 100% dibagi 15 hari (purnama) dibagi 24 jam. Tentu saja itu tidak linier, tapi ini untuk hitungan kasar saja.

Jadi, begitu orang Afrika ini magrib, hilal itu pasti lebih besar. Ukurannya sudah bertambah, elongasinya bertambah 5 derajat, sedangkan iluminasinya (fase bulannya) bertambah 3% (0,3% dikalikan 10 jam). Persoalannya, dari orang Afrika ini, "Ah, ada hilal, tuh, besar!" Karena sudah lebih besar sekali, ini sudah cukup besar, barang yang sama. Tapi, orang Jakarta tadi, sekarang kalau 10 jam, itu kan baru kira-kira pukul 04.00 pagi, tidak kelihatanlah dia, tertutup oleh bola bumi. Tapi, persoalannya, dia kalau ikut bulan Ramadan, harus berpuasa. Ada hilal besar ini, dia harus berpuasa. Ini sudah besar, jadi dia tidak harus melihat. Dia harus sudah bisa menentukan, "Saya harus puasa besok," karena hilal itu sudah besar, meskipun tidak kelihatan. Itu persoalannya.

Jadi, sekarang persoalannya, jika kita tidak kelihatan, kita istikmal, kan? Itu jadi tambah kacau. Padahal, dalam kondisi normal, muslim di Jakarta itu selalu beribadah 10 jam di depan orang Afrika. Tapi, mendadak, selama satu bulan yang masuk tadi itu, kita jadi 14 jam di belakang mereka. Karena kita dibilang pada saat magribnya tidak kelihatan hilal, maka harus istikmal. Jadi, kekacauannya ada di situ.

Oke, sekarang saya bandingkan dengan Amerika. Tadi dengan Afrika atau Eropa, sekarang dengan Amerika Utara atau Amerika Selatan. Sekarang Jakarta magrib, katakanlah bulan anunya 1 derajat. Orang Amerika itu 14 jam di belakang kita. Jadi, dari sini ke sini 12 jam, ditambah 2 jam, jadi 14 jam di belakang kita. Kemudian, bumi berputar, katakanlah 13 atau 14 jam. Dalam 13 atau 14 jam itu, 14 jam dikalikan 0,5 derajat. Jadi, hilal itu sekarang, karena sudah 14 jam, elongasinya sudah 7 derajat lebih besar pertambahannya. Sedangkan iluminasinya, karena 0,3% dikalikan 14, hasilnya 4,2%. Jadi, hilal itu sudah bertambah besar 4,2%.

Tapi, persoalannya, karena tadi saat magrib orang Jakarta ketinggiannya cuma 1 derajat, jadi tidak kelihatan. Dia harus istikmal. Padahal, sekarang ini, di Jakarta, kira-kira pukul 08.00 pagi. Pukul 08.00 pagi, tapi hilalnya sudah besar. Dia tidak boleh puasa juga, karena waktu magribnya itu tidak kelihatan. Ini juga kacau. Akibatnya, dalam kondisi normal, muslim di Jakarta itu selalu beribadah 14 jam di depan orang Amerika. Tapi, mendadak di situ, selama satu bulan yang masuk tadi itu, kita jadi 10 jam di belakang mereka, karena dibilang pada saat magribnya tidak kelihatan hilal, maka harus istikmal. Jadi, kekacauannya adalah di situ.

Nah, sekarang saya akan tunjukkan animasi 1 Ramadan 1447 yang akan terjadi nanti. Oke, ini akan saya animasikan. Ada tiga zona waktu yang saya tampilkan di sini. Pertama adalah waktu UTC, yaitu waktu standar Greenwich yang tidak dipengaruhi oleh musim. Saya mulai animasinya pada tanggal 16 Februari 2026 pukul 23.00, hampir tengah malam. Pada pukul 23.00 UTC, di Indonesia (ditambah 7 jam) sudah 17 Februari pukul 06.00 pagi. Ini malamnya terjadi di sekitar Prancis atau Finlandia. Jadi, pukul 06.00 pagi di Jakarta, matahari sudah terbit.

Sedangkan di LA (Los Angeles), itu adalah 16 Februari pukul 15.00 (dikurangi 8 jam dari UTC). Ini siang hari, tengah hari.

Nah, harus diperhatikan. Coba lihat, inkremennya sekarang saya buat setiap 1 jam. Ini pukul 24.00 Februari, tapi itu artinya sama dengan 17 Februari pukul 00.00. Syarat untuk terjadinya KHGT (Kriteria Hisab Global Terpadu) itu kan ijtima terjadi pada pukul 00.00. Kemarin kami berdebat, ada beberapa rekan saya, kolega saya, yang mengatakan pukul 24.00. Saya bilang salah, karena sebutannya pukul 00.00. Kalau 24.00 itu dihitungnya pakai 16 Februari, betul 23.00, 16 Februari pukul 24.00. Tapi, kalau 17 Februari, itu pukul 00.00, bukan pukul 24.00. Ini yang banyak juga yang kurang teliti. Jadi, bukan pukul 24.00.

Kemudian, ini bergerak pukul 01.00, pukul 04.00, pukul 06.00. Ini pukul 11.00 di UTC. Pukul 11.00, 17 Februari. Di Jakarta (ditambah 7 jam) pukul 18.00, jadi hampir magrib. Magribnya pukul 18.15 di Jakarta. Tapi, ini memang masih urjunil qadim, karena belum terjadi ijtima. Sedangkan bulan tenggelam adalah pukul 18.12. Artinya, bulan tenggelam duluan.

Kemudian, konjungsi sendiri terjadi pukul 19.51. Jadi, ini hampir konjungsi, hampir ijtima. Kalau sebelum ijtima, berarti urjunil qadim, penyinarannya semakin mengecil, 0,2% mengecil. Kemudian, di sini terjadilah ijtima. Ijtima terjadi di waktu UTC 17 Februari pukul 12.51. Kalau di Jakarta, ditambah 7 jam, jadi pukul 19.51, di titik yang sama, di detik yang sama. Kemudian, kalau di New Zealand, itu pukul 01.51, sudah 18 Februari. Jadi, ini sudah menjelang subuh di New Zealand. Itulah sebabnya tadi saya sudah jelaskan bahwa 1 detik setelah ijtima, hilal sudah terjadi. Jadi, di New Zealand pada pukul 01.52, hilal sudah ada.

Di Jakarta, pada saat ijtima di hari ijtima, 17 Februari, bulan tenggelam pukul 18.12, sedangkan matahari tenggelam pukul 18.15. Artinya, bulannya tenggelam duluan. Jadi, ketinggiannya pasti negatif, karena bulan sudah tenggelam duluan. Berapa ketinggian negatifnya? Kira-kira 55 menit, jadi hampir 1 derajat di bawah ufuk saat magrib itu. Penyinarannya 0,2%. Jadi, jelas bahwa syarat KHGT itu, jika tidak terpenuhi pada pukul 00.00, ada syarat kedua. Tapi, jelas ini berarti 17 Februari itu pukul 00.00, bukan pukul 24.00, karena ini baru pukul hampir 13.00 di sini.

Oke, kemudian kita teruskan setelah ijtima ini. Ini ijtima, makanya saya beri tanda merah. Kemudian pukul 14.15. Terus. Menjelang subuh di Jakarta, ini pukul 04.00. Jakarta di sini, saat matahari terbit di sini. Jadi, ini kira-kira pukul 06.00. Pada pukul 05.00, penyinarannya sudah 0,16%, dan ini sudah hilal. Hilal ini terus membesar, meskipun di sini sudah siang hari, pagi terus.

Sekarang kita merujuk pada LA (Los Angeles). LA kira-kira di sini. Di LA, sekarang pukul 18.00 UTC, pukul 02.00. Di Jakarta pukul 09.00 pagi. Yang ini pukul 02.00 pagi di LA, masih 17 Februari pukul 18.00 sore. Magribnya pukul 17.36. Jadi, sudah magrib. Bulan tenggelam pada 18.09. Ketinggian bulannya adalah 4 derajat 52 menit. Elongasinya 6 derajat 2 menit. Jika ini menurut kriteria kedua, ini belum masuk. Jadi, harus dicari di daerah Alaska, apakah ada yang saat magribnya ketinggiannya harus minimal 5 derajat, atau minimal 8 derajat. Menurut saya, itu tidak perlu. Mengapa? Karena ini sudah 0,39%.

Jika ini dianggap tidak memenuhi syarat sehingga harus istikmal, maka pada magrib berikutnya, yaitu pada tanggal 18, iluminasinya menjadi 2,84%. Jadi, magrib hari berikutnya itu 2,84%. Berapa ini? Sudah hampir tujuh kali lipat (2,84 dibagi 0,39). Masa ini bukan hilal? Dan harus diperhatikan juga, sebetulnya yang penting itu kan saat puasa. Puasanya itu akan terjadi pada pukul 06.00 pagi di LA. Jadi, pukul 06.00 pada 18 Februari, ketebalan hilalnya sudah 1,1%. Jadi, ini kan pukul kira-kira pukul 17.00, 0,39%. Kalau pukul 06.00 pagi, karena fajar itu kira-kira pukul 06.00 pagi, itu kan kira-kira 12 jam, elongasinya bertambah 0,5 derajat. Jadi, ketebalan hilalnya, fase bulannya, 1,1%. Nanti pasti itu bukan hilal.

Jadi, sebetulnya menurut saya, ketentuan 5 derajat, 8 derajat itu sudah tidak perlu lagi. Karena yang harus diperhatikan adalah saat subuh itu. Dan itu tidak harus dilihat, itu bisa dihitung dengan sangat akurat oleh perangkat lunak, oleh ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi.

Kemudian, kita teruskan sekarang sampai magrib lagi di Jakarta. Tapi, ini sudah magrib 18 Februari, pukul 18.00. Magribnya pukul 18.19, tapi 18 Februari itu sudah 1,12%. Nah, kemudian, jika orang yang prinsipnya hilal itu harus kelihatan pada saat magrib akan bilang, "Nah, kalau ini baru hilal, nih!" Ya, tapi hilal itu kelihatan bukan karena ketinggiannya, tapi karena sekarang sudah 1,12%. Pada saat kemarin, pada saat magrib sebelumnya, masih urjunil qadim. Jadi, 1,12% itu jelas kelihatan, bukan karena ketinggiannya. Ketinggian itu hanya memperpanjang waktu kita untuk mengamatinya, melihatnya. Jadi, kalau ini 9 derajat, 9 dikali 4, 36 menit. Kita punya waktu kira-kira 36 menit untuk melihat itu, mencari-cari, "Oh, itu hilalnya." Tapi, faktor terpenting yang menyebabkan itu adalah karena dia sudah besar, karena bertambah besarnya elongasi setiap jamnya 0,5 derajat.

Kesimpulannya adalah, untuk mengawali bulan Islam, hilal tidak perlu kelihatan. Karena yang paling penting itu adalah saat mau subuh, saat kita mau memulai puasa, hilal itu sudah besar, dan itu tidak perlu kelihatan. Itu bisa dihitung dengan sangat akurat. Sains dan teknologi telah mampu menghitung dengan akurat ukuran fase bulan setiap saat, meskipun tidak tampak. Ketinggian hilal saat magrib bukan parameter untuk menentukan besar kecilnya fase bulan, karena setelah di bawah ufuk, hilal sebetulnya terus membesar setiap detik.

Akibat menggunakan parameter tinggi hilal dan visibilitas hilal selama Ramadan 1447, umat Islam terbelah menjadi dua. Wilayah barat bumi, 1 Ramadan 1447-nya jatuh pada 18 Februari, sedangkan wilayah timur bumi mulai 19 Februari. Ini adalah kekeliruan, bukti kekeliruan, karena seharusnya terjadi di hari yang sama. Wilayah timur bumi harus memasuki lebih awal dari hari itu. Kita di wilayah timur harus duluan. Jadi, kalau seperti ini, kita jadi terlambat. Tadi saya gambarkan, kira-kira jadi 14 jam di belakang orang Amerika, padahal seharusnya kita 14 jam di depan orang Amerika.

Video ini juga berupaya menjelaskan perbaikan atas kriteria Imkan Rukyat Istanbul (5 derajat ketinggian hilal dan 8 derajat elongasi). Kriteria Imkan Rukyat 5/8 itu sebetulnya tidak diperlukan, karena pengunduran awal Ramadan menjadi 19 Februari 2026 akibat tidak terpenuhinya kriteria ini di Los Angeles akan menyebabkan kekeliruan astronomis yang sangat serius. Jadi, kriteria KHGT cukup ditetapkan dengan ijtima terjadi di Greenwich atau di wilayah timur, seperti di New Zealand, terjadi sebelum fajar. Itu tidak perlu diberi batasan (constraint) statistik, pembebanan bahwa ini harusnya minimum 5 derajat atau 8 derajat. Tambahan di wilayah barat itu tidak diperlukan, itu sudah cukup.

Dan inilah yang dinamakan kriteria Wujudul Hilal Global. Umat Islam Indonesia harus segera mengusulkan ini pada warga muslim dunia sebagai perbaikan kriteria Islam.

Demikian, semoga bermanfaat.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.