📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

ALLAH ITU DIRI SENDIRI - KAJIAN TAUHID | USTADZ ISWARDI, S. AG (PART 3/3)

Tauhid Robbani36:50

Transcription

[musik] [musik] Maka Nur Muhammad itulah yang pertama kali diciptakan dan dijadikan Allah. Sekarang Nur Muhammad yang diciptakan Allah sudah menjadi sekalian alam ini. Akan tetapi kesempurnaan Nur Muhammad pada sekalian alam sudah sempurna.

Pada diri Bapak Ibu masing-masing zahir dan batin yang dikatakan namanya insan yang disebut namanya insan. Insanlah kesempurnaan memandang Nur Muhammad tempat memandang wujud nyatanya rupa Allah. Jadi Nur Muhammad pada seisi alam ini sudah sempurna wujud nyata rupanya yang disebut namanya insan.

Jadi siapa yang sudah mengenal insan pasti dia kenal dengan Allah. Karena insan inilah kesempurnaan memandang Allah. Di sinilah rahasianya. Al insanu sirri wa sirruhu. Insan itu adalah rahasiaku. Al insanu sirri wa sirruhu. Insan itu adalah rahasiaku. Maka akulah sebenar-benarnya rahasianya insan itu. Man arafa nafsahu faqat arahu. Kalaulah insan itu rahasia aku, itu artinya siapa mengenal dirinya pasti dia kenal aku. Akulah dirinya itu. Rupanya Tuhan yang kita cari itu tiada lain adalah diri sendiri. Di situlah letak pemahamannya.

Kalaulah Tuhan yang kita cari selama ini ada tiada lain adalah diri sendiri, maka jangan dicari Tuhan itu keluar diri. Carilah Tuhan itu yang telah wujud dan nyata pada diri. Karena diri sendiri inilah wujud nyatanya Allah itu. Ah inilah pesan Rasulullah itu. Man tholabal maula nafsinq dolalan baida. Siapa yang mencari Tuhan keluar daripada dirinya pasti dia telah berada pada kesesatan yang sangat jauh. Padahal Tuhan yang dicarinya itu adalah dirinya seorang.

Tu dia. Nah, lalu bagaimana supaya kita bisa paham? Bagaimana supaya kita bisa mengerti? Sehingga kita mampu mengenal, berjumpa dan menyaksikan akan dirinya. Ini masuk kita tahap yang kedua. Bagaimana supaya kita bisa paham dan mengerti sehingga kita benar-benar mampu menyaksikan akan dirinya? Caranya mutu qobla anta mutu. Matikanlah kesadaran dan keakuan dirimu. Ah, siapa yang mau mematikan keakuan dan kesadaran dirinya, pastilah dia mengenal Allah bahwa Allah itu itulah yang disebut namanya dengan insan itu. Dan insan itulah sesungguhnya rahasia nyatanya Allah itu. Makanya apa kata Nabi? Man ar nafsahu bil mauti faqod aahu bil hayati. Manofa nafsahu bil mauti faqodarbahu bil hayati. Siapa yang mengenal dirinya bahwa dirinya adalah mati tiada faqat arroabahu maka kenallah Tuhannya bilati. Tuhannya itulah yang hidup.

Ah inilah makna fana itu. Fana itu fanakan wujudmu ke dalam wujudnya Allah. Fanakan sifatmu ke dalam sifatnya Allah. Nah, lihat Bapak Ibu ya. Fanakan. Fana ini apa artinya Bapak Ibu tanya dulu. Nah, hilangkan, leburkan, hancurkan, hapuskan ya. Apa yang dihapuskan? Apa yang harus dileburkan, apa yang harus dimatikan. Nah, yang harus difanakan itu adalah wujudnya kita ke dalam wujudnya Allah. Fanakala wujudnya kita ke dalam wujudnya Allah. Maksudnya, ya Allah, yang wujud tu hanya Engkau, ya Allah. Aku ini tiada, ya Allah. Tuah itu yang mesti dipahami ini. Ha, yang wujud itu hanya Engkau ya Allah. Aku ni tiada ya Allah. Itulah maksudnya fanakan wujudmu ke dalam wujudnya Allah sehingga nyatalah Allah yang wujud semata-mata.

Yang kedua, fanakan samiu ke dalam samiya Allah. Fanakan pendengaranmu ke dalam samianya Allah. Maksudnya, "Ya Allah, yang sami itu hanya Engkau ya Allah. Yang mendengar itu hanya Engkau ya Allah. Aku ini tuli ya Allah." Tu maksudnya tuh. Ah, yang ketiga, fanakan basarmu ke dalam basarnya Allah. Itu maksudnya yang basar itu hanya Engkau, ya Allah. Yang melihat itu hanya Engkau semata-mata ya Allah. Aku ini buta ya Allah. Kemudian fanakan ya kalamnya kita. Nah kalamnya kita ke dalam kalamnya Allah. Nah maksudnya yang kalam itu hanya Engkau ya Allah. Aku ini bisu ya Allah. Itu maksudnya. Kemudian yang keempat, fanakan ilmunya kita ke dalam ilmunya Allah. Apa maksudnya fanakan ilmu kita ke dalam ilmunya Allah? Yang tahu itu hanya Engkau, ya Allah. Aku ini bodoh, ya Allah. Tuang. Ah. Fanakan ya kudratmu ke dalam kudratnya Allah. Apa maksudnya tuh? kekuasaan yang kuasa itu hanya Engkau ya Allah. Aku ini lemah ya Allah. Nah, kemudian fanakan iradatmu ke dalam iradatnya Allah. Apa maksudnya itu? Kehendak yang berkehendak itu hanya Engkau ya Allah semata-mata. Aku ini Papa ya Allah. Ah, yang terakhir, fanakan hidupmu ke dalam hayatnya Allah. Apa maksudnya itu, Bapak, Ibu? Yang hidup itu hanya Engkau, ya Allah. Aku ini mati, ya Allah.

Kalaulah kita fanakan wujud kita, sudah kita fanakan penglihatan dan pendengaran kita, pertanyaannya siapa yang sebenar-benar wujud? Allah yang sebenar-benar wujud itu adalah Allah. Inilah maksudnya dengan bahasa kias. Kesempurnaan tiada adalah ada. Kalaulah kesempurnaan tiada adalah ada, maka yang sebenar ada itu ya Allah. Kesempurnaan tuli itu adalah mendengar. Kalaulah kesempurnaan tuli adalah mendengar, siapa yang mendengar? Yang mendengar itu Allah. Terus ke bawah. Kalaulah kesempur kesempurnaan mati itu adalah hidup, lalu siapa yang sebenar hidup? Yang sebenar hidup itu adalah Allah. Maka nampaklah wujud Allah itu pada insan ini. Ini melihatnya ini insan ini Bapak Ibu kita buat di sini. Ah, inilah yang disebut namanya wujud Allah yang nyata pada insan.

Kalaulah ini wujudnya Allah yang nyata pada insan sebutannya, maka basirnya ke mana memandangnya pada insan? Basirnya Allah ke mana memandangnya pada insan? Pada inci mata [tertawa] ha. Samiya ke mana memandangnya pada insan? Ah telinga. Wah kalamnya ke mana? Memandangnya pada insan. Ah muncung ni ilmunya ke mana? Memandangnya pada insan. I ah pada akal nih. Ha. Iradat itu ke mana memandangnya pada insan? Ah itulah pada hati itu kudratnya ke mana? Memandang pada insan. Ah, itu yang pada kaki itu hayat itu ke mana? Memandang pada insan. Ah, itu yang pada napas tuh yang keluar masuknya. Maka inilah yang disebut namanya wujudullah dan ainullah. Jadi kalau ini ada wujudullah dan ainullah nyatanya Allah, maka nyatanya Allah ini inilah yang disebut namanya insan kamil mukamil nih. Insan kamil mukamil. Jadi insan kamil mukamil itu adalah yang telah mengenal akan Allah sebagai rahasia dirinya. Jadi dikatakan insan kamil mukamil adalah orang yang telah mengenal Allah zahir dan batin sempurna pada dirinya. Itu yang disebut namanya insan kamil mukami atau insan paripurna itu.

Oleh karena itu, Bapak Ibu, ketika kita sudah mengenali akan rahasia hakikat sejati diri kita adalah Allah, maka bawalah diri Allah. Bawa diri Allah itu maksudnya dialah yang memandang, dialah yang mendengar. Bahasa ringannya mendengarlah dengan samiya. Itu bahasanya tuh. Melihat dengan basirnya, hiduplah dengan hayatnya. Kalaulah kita melihat dengan basirnya, mendengar dengan samianya, berkata dengan kalamnya, itulah orang yang membawa diri Tuhan. Apa makna membawa diri Tuhan? Makna membawa diri Tuhan itu pada saat diri kita sudah hapus, maka ketika itulah diri Tuhan yang ada. Kalau diri Tuhan yang ada, Dia yang melihat, Dia yang bergerak, Dia yang diam, dialah segala-galanya itu. Namun sempurnanya dia segala-galanya itu, itu yang disebut namanya insan. Maka matinya Bapak, Ibu tidak akan dihisab di situ, tidak akan ditanya. Kenapa tidak dihisab? Kenapa tidak ditanya? Karena Allah sudah katakan, "Siapa yang datang membawa diriku, itu adalah urusanku." Gak akan aku tanya tuh. Gak aku hisab itu. Tak mungkin Allah akan menghisab dan menanya akan dirinya sendiri. Karena dirinya semata-mata yang ada. Ah, bawalah diri Allah itu ke mana-mana sampai habisnya usia umur ini. Jangan ada kesadaran dan keakuan diri kita ini, Bapak, Ibu.

Jadi, kalau tidak ada lagi kesadaran diri, berarti yang ada kesadaran siapa? Yang ada itu hanyalah kesadaran Allah. Allahlah yang sadar bahwa dirinya itu adalah Tuhan. Namanya Allah. Innani, anallah. Lailahailla ana. Maka jagalah diri Tuhan itu. Kalaulah diri Tuhan itu telah nyata yang disebut namanya insan, jagalah diri ini. Menjaga diri sudah sama menjaga diri Tuhan. Sayang kepada diri dan sama sayang kepada Tuhan zalim kepada diri sudah sama zalim kepada Tuhan. berbuat berbuat jahat kepada diri sudah sama berbuat jahat kepada Tuhan. Kenapa? Karena diri kita ini wujud nyatanya diri Tuhan itu. Di situlah maknanya kalau kita berbuat baik kepada seseorang sama artinya berbuat baik kepada diri sendiri. Berbuat baik pada diri sendiri sama artinya berbuat baik kepada Allah. Karena Allah itulah ujub nyatanya diri sendiri. Ini berbuat jahat kepada saudara kita sama artinya kita berbuat jahat kepada diri kita sendiri. Berbuat jahat pada diri sendiri sama artinya berbuat jahat kepada Allah. Karena Allah itulah wujud diri sendiri. Ini itulah maknanya. Peliharalah Allah, jagalah Allah. Allah pasti pelihara dan jaga akan diri kita. Kalaulah ustaz menggunakan bahasa jagalah Allah, peliharalah Allah, apakah Allah itu lemah? Tidak. Itu maksudnya sadari sesadar-sadarnya bahwa yang ada dan yang wujud itu hanya Allah. Di situlah maksudnya jangan sampai terpandang ada diri yang lain selain Allah. Itulah makna jaga itu. Jangan bergesernya hati, jangan berpalingnya iktikad diri. Kalau bergesernya pandangan hati, bergesernya etikat hati, berarti kita tidak mampu menjaga akan rahasia Allah yang sudah wujud dan nyata pada diri itu. Ada paham kita, Bapak, Ibu?

Sudah kenal kita bahwa Allah yang kita cari selama itu adalah diri sendiri. Maka di situlah Nabi memberi suatu kunci supaya tidak muncul namanya fitnah. Supaya nanti orang jangan menuduh Bapak Ibu mengaku Tuhan. Supaya orang tidak menuduh kita ini mengaku Tuhan atau menjadi Tuhan. Maka apa kata Rasul? Man arafallah fahuallah. Waman arafallah lisanahu. Man arafallah fahuallah. Waman arafallah kalaisanahu. Barang siapa yang telah kenal Allah, memang Allah cuma yang wujud, Allah cuma yang hayat, Allah cuma yang sama basar, Allah cuma yang kalam, ilmu kuda, iradat dan hayat. Fahual. Maka yang wujud tuh memang Allah lah. Tuh, yang hayat itu memang Allah. Yang sama basar kalam itu adalah Allah. Kalau Allah yang benar-benar wujud yang hayat itu kala lisanahu. Ah ketika itulah kelulah lidah tadi itu jangan diuraikan juga lagi, jangan disebut-sebut juga lagi Allah tuh artinya jangan dikatakan Allah itu adalah kita. Jangan disebut kita itu adalah Allah. Maksudnya rahasiakanlah diri Allah itu pada diri masing-masing. Rahasiakan diri Allah pada diri masing-masing. Allah katakanlah Allah. Manusia katakanlah manusia. Walaupun pandangan zahir adalah manusia, namun pandangan hati adalah Allah. Itulah kita bungkus isi itu dengan kulit. Kalau kita ingin tahu isinya, buka kulitnya. Ah, inilah orang yang pandai membaca tersurat, pandai pula mengkaji yang tersirat. Bahwa di balik kulit ada isi. Zahirnya manusia, batinnya itu adalah Allah. Tu dia ini pahamnya. Supaya kita tidak tertipu Bapak, Ibu. Maka pandangan zahir nampak manusianya, pandangan batin tampak Allahnya. Ah, begitu cara menyikapinya. Supaya kita tidak tertipu memandang bentuk dan rupa.

Contoh lain Bapak Ibu, kalau nasi, ya kalau beras sudah jadi lontong Bapak Ibu jangan dicari juga beras itu. Karena dia sudah nyata pada lontong. Kalaulah beras itu sudah nyata pada lontong, maka lontong tak boleh mengatakan dirinya beras. Paham Bapak Ibu? Tuh. Kalaulah beras itu sudah nyata pada lontong, maka lontong tak boleh mengatakan dirinya beras. Beras katakanlah beras, lontong katakanlah lontong. Itu arif dan bijaknya. Namun walaupun kita katakan adalah lontong, sebenarnya lontong yang kita katakan itu wujud nyatanya beras itu. Itu yang sebenarnya. Kalau beras sudah nyadi nasi, nasi tidak boleh mengatakan dirinya beras. Paham itu. Oleh karena itu, rahasiakanlah wujud beras itu pada nasi. Walaupun nasi tidak kita sebut namanya dengan beras, tapi hati Bapak Ibu sudah mampu memandang bahwa nasi itu tiada lain. Itulah ujatanya beras itu. Kalau kita sudah mengenal Allah bahwa diri inilah ujatanya diri Allah, maka sembunyikan rahasiakanlah wujud Allah itu pada insan. Walaupun kita sembunyikan, kita rahasiakan diri Allah itu pada insan, namun Bapak Ibu sudah paham bahwa insan itulah sebenarnya wujud nyatanya rupa Allah itu. Begitu arifnya kita tuh tidak jatuh kita kepada kesyirikan lagi. Makanya orang yang makrifat yang sudah benar-benar makrifat dalam pandangan Allah, bukan dalam pandangan pengakuan dirinya. Kalaisan jaga kalam ini hati-hati. Apa kata Rasul? Man kana yukminu billahi wal yaumil akhir falyakul khairun auli mut. Barang siapa yang sudah benar-benar beriman kepada Allah. Maksudnya siapa yang telah benar-benar mengenal, berjumpa dan menyaksikan Allah, maka hendaklah ia berkata yang baik. Kalau tidak bisa, hendaklah diam. Sebab apa? Katanya itu adalah kata qadim. Kata qadim itu kata kun. Kata kun itu adalah kata jadi. Hati-hati kita. Ada namanya kasab lisan, ada namanya kasap penglihatan, ada namanya kasap pendengaran, ada namanya kasap hati. Kalau kita bilang jatuh, ah itu terjadi itu tinggal menjalani aja tuh. Misalnya cucu Bapak Ibu main lilin, jangan cu nanti terbakar. Betul-betul terbakar itu. Kenapa terbakar? Itu sudah qodim. Dia tinggal menjalani terbakar. Jangan cuma main pisau nanti luka. Luka menjalani aja tuh karena dia sudah zahirkan. Ah inilah pesan Rasul. Berkatalah yang baik. Makanya ketika kita berkata yang baik, setiap kata yang baik itu adalah qadim. Itulah kun. Ajak istri kita, ajak suami kita, ajak anak dan menantu kita kepada hal yang baik. Maka setiap ajakan itu, itu adalah kata qadim. Kata qadim itu adalah kata kun. Kata kun itu adalah kata jadi di situ. Ah, ini rahasianya. Sehingga orang yang mengenal Allah, orang yang sudah makrifatullah itu orangnya selalu baik karena dia menjadi rahmatan fil alamin dan rahmatan lil alamin. Apa sebabnya menjadi rahmatan fil alamin? Karena yang terpandang itu Allah. Jadi orang makrifat tak terpandang lagi namanya makhluk. Yang terpandang itu Allah nyata pada makhluk. Tapi orang yang duduk di makam syariat tak terpandang baginya Allah. Yang terpandang itu hanya makhluk. Makhluk ya makhluk Allah ya Allah. Ya padahal dia enggak sadar bahwa makhluk itulah nyatanya Allah. Yang menjadikan makhluk itu yang jadi makhluk. Yang menjadikan insan tuh yang jadi insan. Yang menjadikan Adam tu yang jadi Adam. Yang menjadikan Nur Muhammad tuh yang jadi Nur Muhammad. Ah, inilah yang dikatakan oleh Ibnu Arabi, subhanalladzi khalaqal asya fahua ainuhu. Maha suci Allah yang menciptakan segala sesuatu padahal dialah yang nyata pada sesuatu itu. Maha suci Allah ya. dari segala sesuatu. Padahal yang menciptakan segala sesuatu itu itulah dia sebenar-benarnya. Ini bahasa kia saja. Makanya ustaz katakan yang menjadikan sesuatu itu yang jadi sesuatu. Yang menjadikan Muhammad itu yang jadi Muhammad. Yang menjadikan Adam itu yang jadi Adam. Yang menjadikan insan tu jadi insan. Yaitu Allahlah. Maka Allah sudah bertajali namanya Muhammad, namanya Adam, namanya insan, namanya alam dan namanya sesuatu. Karena tidak ada di yang lain selain daripada Allah. Makanya tauhid yang ustaz ajarkan ini, ini adalah tauhid murni. Tauhid murni itu memang tidak terpandang lagi yang lain selain daripada Allah. Tetapi ustaz tidak pernah menyuruh Bapak Ibu mengaku Tuhan. Ustaz tidak pernah menyuruh Bapak Ibu menjadi Tuhan. Ustaz tidak pernah menyuruh Bapak Ibu merampok hak Tuhan. Yang ustaz suruh Bapak Ibu kenali Allah. Allahlah yang wujud dan yang nyata pada alam dan sempena pada diri. Dan sadarilah bahwa diri kita tidak pernah ada sejak dahulunya. Sekarang yang akan datang. Yang ada itu hanya Allah semata-mata. Jadi kita belajar ilmu tauhid dan belajar ilmu makrifat bukan mengaku-ngaku Allah apalagi jadi Allah jadi firir nanti gak ada pengakuan Bapak Ibu di situlah letaknya orang makrifat tuh diam. Hah. Kan ada orang mengatakan tuh jangan disandingkan Allah dengan sesuatu. Allah tidak berbentuk dan Allah tidak berupa. Ketika dia berkata seperti itu, jangan disandingkan Allah dengan sesuatu Allah tidak berbentuk dan tidak berupa. Berarti dalam pikiran dan hatinya telah ada dua wujud. Kenapa? Karena di dalam hatinya itu ada Allah, ada sesuatu. Padahal sesuatu gak pernah ada. Kalau sesuatu itu ada, maka sesuatu itulah bentuk lain daripada rupa diri Allah. Tu itu maksudnya sekalian alam ini bentuk lain daripada rupa diriku. Akulah sebenarnya dirimu. Dirimu itu itulah nyatanya aku. Maka disebutlah alam ini rahasia Allah. Kenapa disebut alam ini rahasia Allah? Karena alam inilah yang disebut cermin Allah. Tempat memandang nyatanya akan rupa diri Allah itu. Namun kesempurnaan rahasia Allah pada alam. Sempurnalah sebutannya pada insan. Insan itulah nama ke-1 daripada rahasia diri Allah itu. Kalau Bapak Ibu payah mencari nama Allah yang ke-100, nama yang ke-100 itu, itu yang disebut namanya insan. Sekarang insan tuh nama Allah yang ke-100 daripada rahasia Tuhan. Bernama dia Daniel. Daniil itulah nama ke-101 daripada rahasia Allah yang nyata pada insan. Makanya kalau iblis tahu dia akan rahasia dirinya, pensiun dini dah tu dah. [tertawa] Iya, pensiun dia enggak mau jadi jadi iblis lagi tu ya. Kenapa? Karena dia tahu siapa rahasia dirinya yang sebenarnya. Ah, beginilah cara kita memahami supaya kita sadar sesadar-sadarnya. Rupanya kita ini enggak pernah ada. Yang ada itu hanya Allah. Kalau kita ini enggak pernah ada yang adanya hanya Allah, siapa diri kita ini? Diri kita nyatanya Allah yang sebenar-benarnya. Yakini itu Bapak Ibu ya. Ustaz tidak bisa memberi Bapak Ibu keyakinan karena keyakinan itu adalah anugerah Allah. Ustaz hanya menghantarkan ilmunya. Ya, yang memberi paham itu adalah Allah. Makanya Allah bilang, "Walakinnallaha hababa ilikumul imana waanahu fi qulubikum." Allahlah yang membuat hatimu cinta dengan keimanan. Lalu Allah pulalah yang menghidupkan dan menanamkan keimanan itu selalu adil tersimpan dalam rahasia hakikat dirimu. Kata Allah rupanya kita kenal Allah karena Allah. Bapak Ibu kita bisa kenal Allah itu karena Allah. Kalau bukan karena Allah kita enggak bisa kenal Allah. Ya. Di situlah Nabi mengatakan arabtu rabbi birabbi aku kenal Allah. Aku bisa melihat Allah. Aku bisa bertatap wajah dengan Allah. Itu karena Allah. Makna yang sebenarnya tidak ada satuun manusia yang bisa mengenal Tuhan. Walaupun kita habiskan usia umur kita untuk mencari Tuhan, kalau Allah tidak pengin, Allah tidak nondak memperkenalkan dirinya kepada kita, maka sia-sialah perjalanan pencarian kita menemui Tuhan itu. Itulah maksudnya. Barang siapa yang aku beri dia hidayah dan petunjuk, beruntunglah dia. Siapa yang aku bukakan rahasia aku kepada dirinya, maka dialah termasuk orang pilihan. Jadi Allah sebenarnya yang memperkenalkan dirinya kepada hambanya yang dia pilih. Rupanya Bapak Ibu yang hadir ini adalah orang-orang pilihan nih. Amin. Orang pilihan. Amin. Bukti orang pilihan Allah tarik rohani Bapak Ibu untuk bisa hadir di sini. Wallahu yahtasuahmati yasya. Allah akan memilih orang-orang yang dia pilih untuk sebagai kekasih-Nya. Itu rahasianya. Maka Allah ingin mencari siapa kekasih-Nya yang pantas dan layak untuk dijadikan sebagai walinya yang pantas menjadi kekasih-Nya. Kalau kita ingin menjadi kekasih Allah itu wajar, itu biasa, tapi sangat luar biasa apabila Allah memilih kita untuk diangkat dan dijadikannya sebagai wali dan kekasihnya. Bapak, Ibu, bahasa kiasnya kalau pisau mencari sarung biasa tuh. Tapi kalau sarung yang mencari pisau itu yang sangat luar biasa. Kalau kita ingin menjadi hamba Allah itu biasa. Tapi kalau Allah memilih kita untuk menjadi hamba dan kekasihnya itu sangat luar biasa. Ah, ini yang ustaz bilang tadi bahwa Bapak, Ibu ini termasuk orang-orang pilihan, orang-orang yang Allah bukakan rahasia dirinya kepada hambanya yang dia pilih. Ah, di sinilah hidup kita itu senantiasa menjadi rahmatan fil alamin dan rahmatan lil alamin. Mati nanti Bapak, Ibu, mati kita tidak akan membangkai dia. Ah, bagaimana memahaminya? Makanya Allah sudah katakan hal yastawiadzina walladzina la yamun. Samakah orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sama atau tidak, Bapak, Ibu? Samakah orang yang mengenal Allah dengan orang tidak mengenal Allah? Tidak. Samakah orang yang mengenal diri dengan tidak mengenal diri? Tidak sama. Kalau tidak sama, maka matinya orang makrifat tidak akan pernah sama dengan matinya orang tidak makrifat. Kalau sama aja orang makrifat matinya membangkai, orang tidak makrifat matinya membangkai. Gak ada gunanya kita belajar ilmu ini. Ahah. Lihat pemahamannya ya. Nah, syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat. Kalau orang itu duduk pada makam syariat, kalau dia mati, matinya itu membangkai, membusuk. Bapak, Ibu ya. Ah, ini yang selalu dipahaminya innillahi wa inna ilaihi rojiun. Datang dari Allah, kembali kepada Allah. Ayatnya benar tuh. Tapi yang lucunya datang daripada Allah benar. Kembalinya kepada tanah. Ah, tuh tuh hancur di situ ya. Ah, let hancurnya dia kembalinya ke tanah itu membangkai itu. Bagaimana matinya orang tarikat? Orang tarekat itu matinya tidak membangkai, cuma menyusut, mengering badannya, tapi tidak jadi jenglot. Ya, kayak ikan salah itu. Ikan palai itu ah menyusut, mengering. Nah, ya mengecil badannya tapi tidak jadi jenglot dia. Kalau orang hakikat matinya itu tidak membusuk dan tidak mengering, tapi itu adalah utuh dan harum lunak badannya. Harum, Bapak, Ibu. utuh dia utuh tidak memusuk tidak membangkai dan tidak mengering dia. Kain-kain kapannya pun tidak hancur dia. Nah, kalau orang makrifat matinya ibarat burung di dalam sangkar. Burung yang lepas sangkarnya pun yaitu lenyap. Iya. Namun Bapak Ibu tidak boleh menyenter-nyenter ke dalam diri. Apabila Bapak Ibu menyenter-nyenter ke dalam diri, di situlah letaknya hijabnya orang makrifat. Ya, aku nanti matinya aku seperti burung di dalam sangkar lenyap. Ah, itu gak ada diri tuh. Aku mati nanti bagaimana? Harum ya. utuh juga ada diri itu tipu daya tuh. Makanya di dalam hal mengaji ini jangan ada niat di dalam niat ikhlas sajalah. Bagaimana kita bisa selamat pulang dan kembali itu aja ilmunya. Kalau ini kan cuma metode metoda. Akan tetapi apapun yang terjadi itu kehendak dan maunya Allah. Sebab apa? Sebelum berpisah dengan jasad Bapak Ibu sudah lenyap. Buktinya lenyap. Tidak lagi terpandang sama Allah bahwa Bapak Ibu itu yang melihat dan mendengar. Belum Bapak Ibu mati, Bapak Ibu sudah lenyap. Belum Bapak Ibu mati, Bapak Ibu itu sudah hapus. Makanya selalu dihantarkan oleh orang tua kita. Anak-anak tak boleh belajar ilmu makrifat, tak boleh belajar ilmu tauhid, cepat matinya. Benar atau salah? Tuh, benar. Benar, Bapak, Ibu. Kalau orang sudah mengenal Allah, Allah yang hidup, maka di situlah dia sadar bahwa dirinya itu mati. Kalau dia sudah mengenal Allah, Allah yang melihat dan Allah yang mendengar, di situlah dia sadar bahwa dia itu adalah buta dan tuli. Itu maksudnya. Belajar malam hari ini, besok pagi bodoh. Belajar pagi ini, besok mati, besok pagi buta. Belajar malam ini, besok pagi tuli. Karena memang kita ini bodoh, kita gak ada, kita ini buta dan tuli. Yang pandai itu Allah, yang ada itu hanya Allah, Bapak, Ibu. Itu yang disadari. Sesadar-sadarnya. Maka puncak kesadaran itulah yang disebut namanya makam Sidratul Muntaha. Kesadaran yang tertinggi atau puncak kesadaran atau puncak penghabisan itu Allah saja lagi di situ. Ah, jagalah itu pada saat detik-detik ajal itu datang kepada diri kita. Aku Allah diriku tiada. Apa maksudnya aku Allah diriku tiada? Bukan kita yang mengatakan Allah itu, tapi Allahlah yang mengatakan aku Allah. Diiku tiada innani anallah. La ilahailla ana. Akulah Allah. Tidak ada yang wujud melainkan wujud hanya aku semata-mata. Selain aku gak pernah ada. Bukan kita yang mengaku Allah, Bapak, Ibu. Allah yang mengatakan dirinya Allah, bukan kita. Tapi kitanya kita enggak pernah ada. Kalau kitanya kita tidak pernah ada, kapan pula kita ngaku-ngaku Allah? Ah, itu mesti dipahami. Jadi, bukan kitanya, tapi Allahnya di situ, Bapak, Ibu memahami ini. Ah, inilah kesempurnaan itu. Memahami tentang rahasia sejati diri kita ini supaya kita selamat dunia, selamat pula akhiratnya kita itu menjadi rahmatanlah kita lagi dalam hidup ini. Nampak buktinya orang mengaji dengan tidak mengaji sebelum Bapak Ibu mengaji. Ahah. Lihat bagaimana setelah mengaji lihat bagaimana pula hasilnya. Di situ memahaminya Bapak Ibu ya. Karena orang mengaji itu pasti ada perubahan pada dirinya. Tidak ada yang tidak ada perubahannya. Perubahan pada dirinya. Inilah rahasia-rahasia yang ustaz antarkan kepada diri Bapak Ibu. Maka ketika Bapak Ibu sudah mengenali Allah yang menjadi serahasia sejati diri Bapak Ibu, maka amal ibadah Bapak Ibu itulah yang disebut namanya amal daimun. Amal yang berkekalan. Amal yang berkesanambungan. Inilah yang disebut namanya amal daim yang sebenar-benarnya, Bapak, Ibu. Zahir dan batin itu. Maka setiap gerak mengandung nilai kebaikan. Setiap diam mengandung nilai kebaikan. Karena yang bergerak dan diam itu hanyalah Allah Subhanahu wa taala. Mungkin ini saja Bapak Ibu ya yang dirahmati Allah. Mudah-mudahan Bapak Ibu bisa paham dan mengerti Bapak Ibu karena aku pun sudah panik aku. Ha, [tertawa] sudah panik aku. Jadi kalau panik tinggal istirahat saja lagi Bapak Ibu ya. Mudah-mudahan kita semua Allah berikan kita anugerah kepahaman untuk memahami siapa diri kita yang sebenar-benarnya. Supaya kita tahu jalan pulang dan kembali kepada Allah. Datang dari Allah kembali kepada Allah. Di mana datangnya situ pulangnya. Kalau memang asal kita Tuhan tetap pulang dan kembalinya jadi Tuhan. Billahi taufik walhidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. [musik] [musik]