📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

EVAKUASI TEMON 'MBOK YEM'!! TERJEBAK BADAI SAMPAI SUARA GAMELAN DI GUNUNG LAWU?? w/ @Audrey-A

BESOK PAGI1:00:32

Transcription

Oh iya, dia kecil, enggak gede-gede amat, gua kira. [Musik]

Tahukah kalian tentang Temon? Seekor kera yang telah dipelihara oleh Mbok Yem selama bertahun-tahun. Setelah kepergian Mbok Yem, Temon tampak murung dan kehilangan semangat. Videonya pun sempat viral di media sosial. Terus beliau itu merasa kalau Boy-nya sudah hilang, Temon-nya ini jangan hilang juga. Jadi kehilangannya dobel. Hal inilah yang mendorong Koh Audrey untuk mengevakuasi Temon. Namun ini bukan sekedar soal evakuasi. Perjalanan menuju puncak Gunung Lawu menjadi pengalaman pertama baginya. Dan di sanalah banyak hal tak terduga terjadi. Pokoknya udah di pos dua, dengar suara gamelan Jawa. Nengok, nengok, nengok, nengok, nengok. Wah, enggak ada apa-apa lagi. Mampus. Kita duduk dong. Kita di situ ngelihat tiba-tiba ada nenek-nenek. [Musik]

Bang, bicara tentang Gunung Lawu mungkin udah enggak asing nih. Bagi teman-teman semua, mungkin yang mengikuti beberapa beritanya belakangan ini, dari kematian para pendaki, kepergian almarhum Boyem, bahkan yang belum lama terjadi ada pendaki yang harus kehilangan nyawa. Dan di sini gua tertarik sama cerita dari salah satu narasumber gua yang mengevakuasi salah satu hewan peliharaannya, Boyem. Dan ini videonya sempat viral. Kita langsung aja nih sapa narasumber gua kali ini. Halo, Kodre.

Halo, Mas Ra, sehat? Luar biasa nih, Kudrey. Videonya kemarin viral tuh, kok lumayan, Bang, di Gunung Lawu trending satu, trending satu tuh dua hari. Dua hari ya, sampai muncul di beranda besok pagi tuh. Wah, ini Kodre terus nih kayaknya harus kita panggil nih, dan akhirnya enggak, bukan-bukan akulah, itu Temon-nya yang trending sebenarnya.

Iya, Temon-nya. Nah, nih ee bicara tentang evakuasi Temon di Gunung Lawu. Apakah memang sebelumnya pernah evakuasi beberapa hewan di gunung juga nih?

Ko gunung belum. Hewan sering, gunung baru pertama kali. Dan ini pertama kali, pertama kali naik gunung dan pertama kali evakuasi hewan di gunung sebenarnya.

Wah, gila. Dan gua penasaran sih kok kenapa lu berniat untuk mengevakuasi Temon dan gimana sih situasi pendakian pada saat itu. Ini kan baru pertama kali Gunung Lawu ya. He. Dan teman-teman semua penasaran dengan kisah seperti apa? Jangan lupa simak video ini sampai habis. Dan bagi teman-teman semua yang mempunyai kisah yang mungkin tidak pernah dilupakan di jalur pendakian, langsung aja kirim cerita kalian yang bakal gua cantumin di bawah sini. Dan jangan lupa juga dengar kita di Spotify dengan keyword-nya, besok lagi podcast pendakian horor. Mungkin kita enggak usah berlama-lama lagi, segmen pendakian horor dimulai. Orokannya jika tidak siap.

Ya, aku ini sebagai animal educator sebenarnya. Jadi, animal educator tuh kerjanya edukasi orang supaya dia ini mengerti ini spesies apa, cara menghadapinya gimana, ee tahu gimana perilakunya di alam gitu ya, supaya orang lebih aware sama banyak satwa-satwa di Indonesia. Jadi di Indonesia ini tuh negara kedua dengan biodiversitas paling banyak. Artinya spesies-spesies di dunia ini berkumpul di Indonesia tuh kedua paling banyak. Yang pertama Brazil. Tapi enggak banyak orang Indonesia yang paham tentang si satwa-satwa ini tuh apa gitu. Ular aja dianggap ular sama semua. Ular ada ratusan ribu jenis gitu. Laba-laba ada 38.000 spesies. Terlalu banyak kalau enggak dijelasin ke orang, enggak diedukasi. Oke. Itulah kerjaan aku utamanya supaya orang enggak takut dan enggak dendam sama satwa.

Nih, aku dari kecil sebenarnya, karena dulu waktu kecil mungkin zaman-zaman SMP lah ya, pokoknya aku tuh ceritanya enggak banyak teman. Jadi tuh aku jarang diajakin teman-teman aku untuk misalkan main futsal, main basket, karena aku lebih suka ke pasar hewan, belajar tentang hewan, morfologi hewan, gitu. Makanya aku dijuluki sama anak-anak sekolah dulu tuh, "Enggak usah ajak dia lah. Dia mah si raja hutan." Kayak macam dibully, makanya dibully nih, "Raja hutan, raja hutan." Makanya ke bawah sampai sekarang malah ya, kalau raja hutan jelek ya. Iya. Kita kayak apa gitu, makanya ganti nama jadi bahasa Inggris. Jadi, "King of the jungle" gitu.

Nah, kalau nge-rescue monyet itu sebenarnya udah dari aku kecil juga, mungkin udah kayak tujuh tahun, delapan tahun lah ya. He. Cuman enggak sesering sekarang, karena dulu tuh aku lebih gedenya di reptil. Jadi di ular, di kadal gitu loh. Heeh. He. Aku dulu nge-rescue dulu kan, nge-rescue jadi kayak ada hobi-hobi gitu banyak, sampai akhirnya naik level, naik level, naik level, hewannya makin aneh, makin aneh. Iya, ada primata salah satunya gitu. Ini monyet. Kebetulan aku memang otodidak, jadi enggak ada yang ngajarin kalau monyet. Kalau megang kobra ada yang ngajarin aku. Kalau monyet ini otodidak pure, karena aku memang banyak pengalaman dengan monyet-monyet orang dan monyet sendiri.

Oke. Karakternya, cara ngobrolnya, cara bicaranya sama mereka, tahu bahasa nonverbalnya, karena banyak pengalaman pelihara gitu sendiri, Bang. Kayak tapi enggak, bukan-bukan kayak semedi terus dapat ilham begitu, enggak, Bang? He, kayak memang ngelihat itu dia tuh matanya jadi gimana ya? Matanya begini sama begini artinya beda. Jadi kalau monyet itu monyet Macaca fascicularis ya, kayak Temon ya.

Iya. Temon ini jenisnya Macaca fascicularis. Monyet ekor panjang. Di Indonesia paling sering dijadiin topeng monyet. Paling sering. Sekarang sudah tidak boleh topeng monyet, dilarang perda dan lain-lain. Monyet ini cara berbicaranya itu kalau temenan ya itu dari mata ketemu mata, tapi matanya begini nih gitu. Kuping suka begini nih, gerak ke belakang gitu loh. Oke. Terus dia akan begini, tapi harus beluk. Iya. Nah, gitu. Itu namanya tanda dia mencari teman. Damai, damai. Oke. Nah, itu damai. Itu paling gampang kalau kita misalnya lagi di gunung ketemu monyet, supaya kita dianggapnya enggak membahayakan. Kita begitu mata gini, itu kayak, tapi jangan begini gitu, dia beda-beda artinya. Paling gampang kalau dengar monyet suaranya begini, mundur. Jadi bukan kita jalan mundur, bukan. Jadi energinya turunin. Jadi jangan mau nyerang. Itu artinya dia mau nyerang kita. Kita kalem aja. Tarik napas, buang muka, jangan ngadap mukanya dia gitu. Itu tanda kita ngalah. "Gua bukan mau ngajak ribut lu, Bos." Nah, kalau kita "Apa lu?" gitu, ngamuk dia. Ee, berantem kita jadinya sama dia. Oke, gitu. Itu bahasa lain. Terus ada bahasa kayak nonverbal yang peluk. Jadi kalau dia peluk, kita peluk balik, terus kita tepok-tepok gini nih, Mi. Sambil ah. Itu tandanya dia kayak nyaman sama kita. Jadi kayak, "Ee, gua di pelukan lu aman dan nyaman." Nah, itu gitu bahasanya beda. Kebanyakan Macaca hampir sama, tapi khusus yang fascicularis yang tadi tuh sebenarnya kalau dibilang pawang, aku bukan pawang sih ya.

Iya. Lebih bahasanya kayak itu apa ya? Iya. Itu aku bilang aku educator, ngasih tahu orang tadi. Kalau pawang kan istilahnya kayak yang ini ya, dieksploitasi gitu kan. Tapi kayak kalau aku tuh lebih ke edukasi sedikit, karena memang monyet ini tuh beda sama ular. Kalau ular ada titik-titik tertentu dan situasi tertentu di mana dia bisa jinak langsung. He. Karena emang capek aja jinak. Misalnya dia ular nih, udah dipegang sejam gitu, jinak, biasanya bisa jinak karena capek. Terus ular ada titik-titik tertentu kita pegang kiri belok kiri, pegang kanan belok kanan gitu. Kalau kita keremot dia ngamuk. Itu ada-ada-ada gejalanya, gampang. Kalau monyet ini enggak semua sama. Dia lihat orang, lihat energi soalnya.

Oh, lebih peka. Lebih peka karena dia tuh kan primata ya, sama kayak orang. Oke. Oke. Jadi dia punya otak, kecerdasan tuh pintar, Bang. Terus dia ini bisa nipu, Bang. Jadi yang wujudnya kayak tadi misalnya udah tiba-tiba nyokot juga bisa. Iya. Makanya kayak enggak banyak orang yang apa ya, istilahnya ya, memahami itu gitu loh. Akhirnya terjun ke Gunung Lawu nih.

Iya. Dan itu kenapa bisa sampai Gunung Lawu itu? Aku pribadi kalau naik gunung, Gunung Lawu ini pertama. Jadi agak rada-rada gila juga kan. Gunung Lawu ini pertama. Kenapa? Karena aku kan sering nge-rescue monyet di mana-mana nih. Kebetulan ada monyet satu ini yang kebetulan almarhum Boyem nih kan sudah wafat. He, banyak permintaan dari netizen untuk aku datang ke sana nge-rescue, karena gosipnya yang berada dari masyarakat, si Temon dan dua kucing ini warungnya tutup dan enggak ada yang ngerawat.

Oh. Jadi awalnya tuh kita kira dia ini benar-benar terlantar gitu. Kayak ada pendaki ngasih pisang gitu loh. Jadi enggak ada yang ngasih makan. Makanya kita schedulin untuk berangkat ke sana. Kebetulan karena jadwal aku agak padat kan, jadi ee mesti cari waktu. Jadi selang seminggu setelah permintaan netizen banyak itu baru aku bisa naik. Jadi diposting lah di Instagram. Tiba-tiba ada satu pendaki tuh. Ah, baik orangnya ini namanya Mas Aziz. Mau nemenin kita naik ke atas. Tapi beliau ini maunya lewat jalur ini, Babar, nam jalurnya jalur Babar. Heeh. Oke. Karena kalau lewat jalur lain katanya satu, dia rame. Heeh. Kita kan bawa kandang. Jadi kita butuh space yang lumayan gede kan untuk jalan kan. Jadi bawa kandang terus ya aku sendiri kan, kadang ada yang nyegat-nyegat, suka minta foto lah atau ngobrol kan. Nah, itu kita meminimalisir supaya kita bisa nyampai dengan cepat ke tempatnya Temon. Makanya kita cari jalur paling sepi, dan itu Babar. Babar itu paling sepi. Jadi kita naik ke Babar, baru di pos satu masih enam jam ya ke atas. Ini rescue monyet gua tersusah ini kalau berhasil ke rescue. Kalau enggak encounter monyet, salah satu yang paling susah. Jadi pas kita nyampai Babar, ee orang udah pada tahu sih kayak ini mau nge-rescue Temon ya, Bang. Oke. Mau, karena bawa kandang kan, mau nge-rescue. He, ya udah kita naik tuh ke atas. Waktu naik sih aku merasa fine aja ya. Cuman ya berat ternyata naik gunung itu berat sekali. Heeh. Ditambah kalau bawa kandang lebih berat lagi. Paling enak enggak usah bawa carrier, pakai porter aja paling enak. Cuman kan ya kita enggak ada niatan kan, maksudnya emang naik gunung itu hanya ketemu Temon. Jadi kita naik ke atas sampai di atas, nginap pos lima. Pos lima hujan badai tuh, ada di video aku sebenarnya hujan badai, cuma enggak kelihatan aja itu. Tampias tuh jadi air pada masuk ke dalam tenda. Mungkin karena kita nyetingnya juga kurang benar. Karena kita pertama kali kan, basah dong, basah, Bang. Jadi ini badan kita tuh basah semua sebenarnya.

Ih, gila. Jadi untung agak kena hipo kita. Nah, itu dia, itu dingin kan di situ. Em, mungkin berapa ya, sepuluh ya kali ya? Sebelas derajat gitu. Ini dingin banget deh pokoknya. Oke, Guys, kita akhirnya nginap di tenda ini. Tapi hujan deras banget. Wah, kandang sudah siap. Tapi kita enggak tahu bisa enggak diambil. Belum ada kepastian. Kita pun belum ketemu keluarganya Temon. Cuma ini benar-benar wah, basah semua, Guys. Samping gua pun basah. Ini perjuangan banget ya. Semoga membuahkan hasil. Kita tunggu besok. Karena dingin ee kita memutuskan untuk pagi-pagi langsung gerak biar enggak kedinginan. Iya. Jadi itu jam-jam 03.30, jam 03.00. Kita langsung naik dari pos lima ke Pasar Dieng. Terus atasnya Argo Dalam. He. Nah, naik tuh sekitar dua jam. Jadi pendakian pertama itu aku pribadi sekitar tujuh jam, kandang naik sekitar sembilan jam. Heeh. Jadi kandang baunya gantian. Ternyata yang bawa kandang enggak kuat. Jadi dia harus lebih pelan. Aku lebih cepat karena ada gerimis-gerimis hujan gitu. Takut licin kan. Betul. Paginya kita jalan dari jam 03.00 sampai atas tuh sekitar jam 05.00. Jadi ya sekitar dua jam lah. Nah, di atas itu langsung minta izin. Nah, problemnya gini. Harusnya kan kata orang minta izinnya dari kemarinnya dong, Bang. Kalau enggak orang kaget kan. Iya. Iya. Ada piaraan mau langsung dibawa, enggak minta izin dari kemarin-kemarin, mendadak gitu. Heeh. Nah, problemnya nih orang di atas ini memang kan dikira tutup. Bahkan sampai basecamp kita tanya-tanya orang ini tuh ada yang jaga enggak? Ada sih yang jaga, cuman tidak pernah bisa dikontak. Ada namanya Pak Muiz itu kan, ada Pak siapa, Jarwa atau siapa gitu ya. Kita enggak dapat kontaknya. Jadi mungkin ya di atas itu enggak ada sinyal mungkin. Oke. Mungkin ya orangnya jarang megang handphone, namanya orang lawas kan. Heeh. Heeh. Jadi kita langsung aja naik ke atas, sampai di atas kita nego lah. Itu pas dinego ternyata ya, dia, beliau masih merasakan kehilangan yang dalam. Jadi intinya Mbok Yem itu kan meninggalnya baru sebulan. Heeh. Terus beliau itu ngerasa kalau Mbok Yem-nya sudah hilang, Temon-nya ini jangan hilang juga. Jadi kehilangannya dobel. Kita karena kita sayang sama Temon. Eah. Jadi kita tuh pengin ee dia tuh kembali ke hidupnya yang semula gitu, sama teman-temannya, untuk bagi mereka yang pecinta binatang yang suka berkelana di hutan, tahu karakter hewan memang seperti itu. Alangkah baiknya itu memang binatang itu dipersatukan dengan komunitasnya, ular sama ular, sama anjing sama anjing. Tapi coba ini kita berpikir tentang Temon dari kecil, dari usia kecil itu setengah tahun sudah dipelihara simbok, seperti anaknya, tahu kan di YouTube ya, sekarang simbok enggak ada, selama ini yang apa memelihara Temon itu sebetulnya saya. Heeh, saya yang hidup sama, bersama-sama simbok 19 tahun di sini, nah itu nanti terus pikiran-pikirannya bagaimana, saya juga seperti saya sudah kehilangan simbok, kalau saya sudah kehilangan anaknya, seketemu, perasaan saya seperti apa? Perasaan saya sekarang ini kehilangan simbok aja sudah enggak karu-karuan gitu. Terus beliau ini, Pak Muiz namanya itu, dia bilang dia dimandatkan Boyem untuk jaga Temon ini supaya ee baik sama pendaki gitu loh.

Wah. Oke. Jadi kan Temon suka jahil gitu kan sebelum beliau meninggal. Temon ini kalau bisa di atas itu menyapa pendaki supaya baik ya harus dijagain Pak Muiz gitu istilahnya. He. Jadi kita langsung mikir kalau nge-rescue karena permintaan netizen doang kayaknya enggak bijak deh. Kita paksa gitu bawa turun. Enggak bijak kan. Jadi kita pikir ini ee gimana caranya supaya netizennya juga em puas gitu kan. Karena kan mereka tuntutannya kalau monyet kasihan harus di-rescue. Heeh. Nah, kita jelasin ternyata Pak Muis ini memang kasih makan dia tiap hari gitu. Memang benar dirawat. Jadi kucingnya dua ini dirawat, Temon dirawat. Heeh. Dirawat, dikasih makan, gendut monyetnya. Aku lihat pribadi, wah ini mah monyet dirawat baik. He. Terus waktu aku datang ke sana kan kita ee interaksi. Oh, ini bukan monyet tangkapan alam. Ini mah asli dari awal, dari kecil. Karena tingkah lakunya gitu, Bang. Kalau di alam enggak mungkin bisa begitu dia. Oh, heeh. Lihat orang dia takut nih, yang kayak gini terus dia pegang tangan aku, terus dia mau pegang rambut aku, terus cari-cariin kutu namanya tuh, allogrooming. Itu hanya bisa terjadi kalau dia sudah lihat orang sebagai sahabat. Lah aku orang baru sepuluh menit. Oke, responnya udah seperti itu. Responnya udah kayak gitu. Berarti dia dari kecil itu memang sering ketemu orang. Jarang orang yang tahu kan kode-kode bahasa tadi kan. Aku langsung kasih kode itu langsung gitu dia langsung tahu kan. Wah, ini jangan-jangan monyet nih. Dia lihat aku, jangan-jangan monyet nih. Langsung dia peluk tuh. Monyet itu pasti menarik tangan kita, Bang. Monyet laki ya. Terutama. Oke. Dia pasti narik tangan kita. Dia tuh pengin tahu reaksi kita gimana. Dia tuh kayak ngetes mental sekaligus dia mau cium bau-bau apa sih kita ini, dia-dia tarik terus dia misalkan nih tangan nih, dia akan begini, tarik terus dia cium gini. Kalau kitanya takut, nyokoh biasa, atau kalau kita ah, dia langsung-langsung gitu. Jadi monyet ini tuh memang tingkat proteksinya berdasarkan energi orang lain tuh itu ngerti, ngerti, ngerti. Jadi dia galak bukan karena dia mau galak, dia karena ada triggernya apa ya, karena dia enggak bisa bahasa orang kan, dan tenang ya, Nak, tenang, dia enggak ngerti, dia enggak paham bahasa itu. Jadi harus pakai bahasanya monyet. Oke. Secara langsung kita jadi monyet. Jadi kebetulan pas ee negosiasi aku tuh ada di situ, tapi yang nego itu tim aku, supaya kan kalau aku bentuknya intimidatif ya, takutnya orang takut di nego itu. Kita sempat nanya gitu loh, ini bisanya kapan? He. Dia bilang boleh sebenarnya. Pak Muis bilang boleh, tapi enggak sekarang gitu. Oh, sebenarnya boleh. Boleh, boleh, tapi enggak sekarang. Tapi enggak sekarang. Kalau sekarang saya belum siap ngomongnya gitu. Oke. Karena dia enggak mau kehilangan dua kali gitulah. Udah kehilangan Boyem, kehilangan juga Temon-nya. Dia enggak mau seperti itu. Ya, dia enggak mau kayak gitu. Belum mau. Jadi bahasanya belum siap sebenarnya. Cuman gini memang ya, kalau orang zaman dulu sama zaman sekarang beda, Bang. Standar pelihara hewan. Kalau dulu misalnya kita sering lihat anjing diikat di tiang gitu kan. Itu kan enggak apa-apa dulu ya, monyet diikat gitu enggak apa-apa. Kalau sekarang udah enggak bisa, Bang. Karena standar moralnya sudah naik, kita sebagai manusia. Eh, nah itu kan Temon diikat. Nah, itulah banyak pertanyaan kan, harusnya ikatannya dicabut. Ee, kalau ikatannya dicabut, aku harus stay di situ paling enggak dua hari di dalam warung itu untuk memastikan kalau ikatannya dicabut dia enggak nyerang orang. Oke. Misalkan ikatan dicabut di situ enggak ada kandang, Bang. Iya. Iya. Nol kandang loh, aku bawa kandang itu akhirnya kan aku kasih ke kucing. Kucingnya pun kan diikat, iya sih. Jadi kucing ini, even yang sejinak itu kan dia diikat, kenapa diikat? Mungkin standar zaman dulu ya, gitu. Kita enggak bisa nyalain bapaknya juga, mungkin tahunya dia begitu, dia enggak tahu gitu loh, kucing ini sebenarnya bisa balik sendiri kalau misalnya dikasih makan tiap hari kan, dia enggak tahu. Nah, itulah makanya kita edukasi, kasih kandang di situ supaya kalau malam dimasukin kandang, dimasukin ke dalam warung biar enggak kehujanan kan. Heeh. Heeh. Actually dia enggak kehujanan sih kalau di situ. Kalau hujan turun dia kan diikat, bisa masuk ke dalam lubang kecil itu lah. Ada lubang gitu, dia bisa masuk-keluar, tapi kan terbatas loomingnya di situ. Betul banget. Jadi kan alangkah baiknya kalau misalkan dia kalau siang enggak usah diikat, dilepasin aja gitu kan, jalan-jalan ketemu pengunjung ya kan. Pengunjung say hello apa segala macam. Setelah mainin, masukin di kandang. Oke. Kalau monyet itu agak beda treatment dari kucing, Bang, karena dia kan monyet ya. Jadi monyet ini sama-sama kucing. Kalau misalkan mau dimainin dia keluar. Tapi kalau aku biasanya pakai lis leher. Terus leher itu fungsinya untuk kita koreksi dia, karakter dia. Jadi karakternya ini misalkan dia tiba-tiba ngamuk, kita tarik dikit lehernya supaya enggak, supaya enggak nyerang orang kan. Kalau nyerang orang kan berabe. Takut juga kan ee siapapun nanti dekat sama dia. Iya. Jadinya kita pakai lis leher untuk jaga. Bukan di perut, Bang. Kalau di perut ini tuh enggak ada efeknya. Kita mau tarik kayak gimana juga ya, cuma di perut itu aja. Dia cuma gini-gini doang. Kalau dalam jangka waktu lama terus perut di perut ini orang yang enggak berani untuk ngegedein kan, ada nih udah diikat. Oh, takut gua kegigit, biarin aja gitu kan. Kalau apa si perutnya ini enggak digedein, perutnya mepet terus dia tambah gendut, tambah gendut, tambah gendut, itu dia punya kulit bisa-bisa kayak ada sobekan gitu, Bang. Oke. I, jadi aku pernah punya kasus tuh beberapa kasus sih, bahkan ya, jadi ada yang sobek ee sampai misalkan daging perutnya kelihatan sampai ususnya gitu, kadang kelihatan infeksi kan, bertanah. Ada juga yang begini, Bang. Lingkar perutnya mengecil, kayak orang pakai korset. Ah, karena-karena tersumbat ini kan. Betul. Jadi lingkar perutnya mengecil ya itu. Nah, kalau leher kita tuh dicopot, Bang. Jadi, leher ini enggak diikat terus di leher 24 jam. Jadi di leher itu kita keluarin nih, ajak main, ketemu teman-teman segala macam. Udah nih, dia udah capek, udah senang, masukin ke kandang kita copot. Dia udah kayak enggak diikat lagi kan. Iya. Tapi dia di kandang jadi safety. Nah, aku mikir kalau misalkan dilepasin saat itu enggak ada yang bisa handle, enggak ada kandang, gimana? Berarti terpaksa ya tetap masih diikat tuh sampai hari ini. Betul, betul ya. Jadi kasihan kalau diikat gitu terus kan sebenarnya di perut.

Nah, reaksi ketika gagal untuk evakuasi Temon, dari beberapa informasi awal yang diterima, gimana perasaannya, Kang? Ya sebenarnya sih sedih, tapi senang juga karena aku tahu Temon ada yang ngerawat. Awalnya sih kan aku pikir Temon ini benar-benar terlantar nih. Waduh, bisa mati. Istilahnya mati sengsara kan. He he. Ee, setelah kita lihat dia ada yang, Pak Muiz, jadi kita senang karena ada yang ngerawat dengan baik. Heeh. Tapi ya sedih juga karena harusnya dia bisa ketemu teman-temannya gitu kan. Kalau di tempat aku kan misalkan orang sudah pada tahulah ada Kong, ada Gisel, ada Baba, ada banyaklah teman-temannya, dia bisa ketemu, siapa tahu dia pengin kawin tuh. Ada satu momen di aku ketemu dia tuh pas interaksi dia tuh gini nih sebenarnya. Nah, ini-ini tanda begini itu tuh sebenarnya tanda dia setengah birahi, Bang. Itu kalau dilanjutin interaksi, aku-aku kan habis begini kan, aku stop, terus aku buka mata terus aku gini kan. He. Nah, kalau itu dilanjutin, aku gini-gini terus dia akan ereksi, Bang. Oh, sori agak jorok ya. Jadi dia akan ereksi, tangan itu begini itu dia buat jepit ke arah paha terus dia akan goyang gitu. Ah, g, sebenarnya dia udah dewasa, Bang. I, kalau monyet sepuluh tahun itu udah waktunya kawin, Bang. Nah, Temon ini sudah terbiasa. Makanya dia mungkin jarang ngasih tunjuk sisi itunya dia. Begitu ketemu aku kan, dia lihat ada teman monyet gua nih. Jangan-jangan bisa dipakai. Nah, itulah. Tapi kan terkendala birahinya kecuali di steril ya, Bang. Iya. Ya, beda hal. Iya. Kalau di steril kan itu memang sudah dihilangkan nafsunya gitu ya. Sebenarnya kalau secara pribadi monyet pasti dia pengin kawin. Oke. Iya kan? Abang dikasih cewek cantik depan, pengin kawin kan langsung. Itu udah sejatinya makhluk hidup. Iya. Akhirnya turun nih, gagal evakuasi. Gagal evakuasi. Sebelum turun sih aku pikir kan banyak orang minta untuk dilepas. Iya. Aku jelasin dulu. Kalau dilepas itu udah pasti enggak bisa kalau mau si Temon. Heeh. Karena satu, dia udah dari kecil rawatan orang. He. Dua. Kalau dilepas di situ, dia pasti balik ke situ lagi, Bang. Minta makannya di situ kan, dia akan balik situ. Terus kok dilepas? Membahayakan pengunjung dong. Enggak mau dong, naik Gunung Lawu enggak turun lagi. Meninggal di atas kan lucu kan. Ya, habis itu ee Temon ini mau enggak mau tetap harus dirawat orang, tapi ya di mana ngerawatnya itu yang kita harus pastikan dia dapat welfare. Tapi mau Temon ini menurut aku ajaib loh. Enggak tahu gaib apa enggak ya. Ajaib tuh gini, tempat ini di puncak Argo Dalam ini. Oke. Kalau hujan itu menurut aku dingin banget, di bawah kayak di bawah tujuh derajat. Asli. Asli. Iya. Kalau yang sudah pernah naik gunung tahulah ya. Puncak gunung dingin apa kan. He. Kebetulan aku pakai kutang karena di situ habis naik jadi panas. Tapi kalau lagi diam gitu ya, wah dingin banget monyet ini. Macaca fascicularis hidupnya itu enggak sedingin itu harusnya. Habitat aslinya. Habitat aslinya itu sebenarnya kan disebut monpai, monyet pantai. Ada bahasa lain monyet pantai. Lah pantai kan panas. Betul. Betul. Harusnya dia di panas, Bang. Tapi dia ini enggak tahu deh. Ajaib deh menurut aku. Oke. Tahu ada kodamnya apa ini monyet ini. Dan baru pertama kali nemuin, lihat betul Temon ini. Pertama kali mau lihat monyet jenis ini di ketinggian 3.200 m di atas permukaan laut. J dia ini dan hidup ya. Dan hidup dan sehat. Luar biasa. Jadi aku sempat riset setelah pulang dari Gunung Lawu ya. Heeh. Aku ada monyet nih. Gue segede Temon. Aku coba taruh di AC kayak gini, dingin, bersama aku gemeteran, brut gitu. Gemeteran, enggak kuat dia. Oke. Kalau sedingin itu. Nah, ini monyet ajaib banget gitu. Jadi menurut aku mungkin secara evolusi mungkin juga kayak keajaiban gitu. Jadi Pak Muis ini ikut Mbok Yem sudah sekitar tiga puluh tahun. Iya. Tapi monyet ini baru dibawa mungkin sekitar delapan tahun lalu ke ee Gunung Lawu. Tadinya mungkin di bawah ya, di Magetan apa di mana enggak tahu deh. Terus ee Pak Muis ini ngerawat delapan tahun, tapi monyetnya lebih umurnya dari delapan tahun. Ah, oke oke oke. Menurut aku monyetnya itu belasan tahun lah, sebelas, dua belas gitu. Oke. Bisa beradaptasi dengan cepat seperti itu. Luar biasa ya. Luar biasa. Makanya ada apa ini? Turun akhirnya lewat jalur yang sama atau turun harus lewat jalur yang sama. Jadi enggak tahu ya, drama kan ini ada drama nih, masalah perjalur-jaluran ini. Kan kita enggak boleh naik lewat Ceto, turun lewat Babar. Enggak boleh. Oke. Oke. Harus lewat Ceto ya. Turun lewat Ceto, naik lewat Babar, turun lewat Babar. Cuma banyak pendaki yang crisscross kan. Iya. Jadi dia karena rame Cetonya terus licin, dia turun lewat Babar, terus di pos T belok lagi ke Ceto gitu loh. Jadi ya kalau aku sih sesuai sama rules saja. Jadi aku ngikutin, pas turun kita kan enggak bawa monyet, jadi lebih cepat. Cuman ini kalau di Gunung Lawu turun udah mulai sore, I dengar suara gamelan. Hah? Dengar suara gamelan di jalur. Heeh. Itu jangan kaget. Aku dengar semuanya didengar nih. Berarti aku berdua doang turun. Yang lain udah pada duluan. Oke. Jadi aku berdua udah mulai gelap, hujan. Ada suara gamelan. Bang, gimana terespon? Ya, kaget dong, takutlah. Bilang nih kayaknya kita masuk dunia lain nih. Ini cerita real beneran itu banyak saksinya soalnya di situ. Heeh. Heeh. Kan cek menjelang magrib, pokoknya udah di pos dua, dengar dong-dong suara gamelan Jawa. Nengok, nengok, nengok, nengok, nengok. Wah, enggak ada apa-apa lagi. Mampus. Kita duduk dong. Kita di situ ngelihat tiba-tiba ada nenek-nenek. Bang. Hah? Nah, nenek bawa speaker. Sumpah ini beneran, ternyata itu ibu-ibu warung pos lima, Bang. Oh, oke oke oke oke. Dia turun ke situ. Iya iya. Tapi kan speakernya enggak kelihatan. Maksudnya kan kecil doang di sini. Tapi dari jauh kan kedengaran. Dang ning dung. Itulah kita kira kita sudah tersesat di dunia lain, Bang. Enggak jadi bawa monyet. Tersesat kan bisa ngeri juga. Mana itu Babar, jalur baru, Bang. Heeh. Heeh. Heeh. Jadi Babar ini kan memang sepi karena jalur baru kan. Nah, makanya enggak-enggak jadi. Enggak jadi tersesat, enggak jadi takut. Enggak jadi takut. Tadi kita udah gemeteran aja nih. Wah, kayaknya enggak pulang nih kita, bisa nginap sehari lagi.

Nah, nih bicara masalah takut nih, Kon. Nih ee sebelumnya tahu enggak sih tentang beberapa misteri-misteri yang ada di Gunung Lawu tuh? Nah, tidak tahu. Enggak tahu. Coba yang paling seram apa, Bang? Ee karena memang banyak terjadi kasus-kasus kayak pendaki tersesat, tentang misteri-misteri. Dia mendengar suara gamelan seperti itu terus hilang. Bahkan sampai sekarang hilang jasadnya. Jejaknya sampai sekarang belum ditemukan. Wah, itu banyak. Dan belum lama ini juga ada kejadian juga kan, peristiwa tentang pendaki yang meninggal di Gunung Lawu. Masa sih? Iya. Banyaklah misteri-misteri di Gunung Lawu nih. Kudre enggak mempelajari sebelumnya. Enggak. Jadi aku tuh naik aja, alatnya semua, nyawa. Oh, alat. Makanya aku pakai celana jeans. Lihat baik-baik deh. Itu kan bukan baju buat mendaki, Bang. Jadi enggak, ya udah naeng-naeng aja gitu. Naeng-naeng aja. Karena mungkin di otak aku pikirannya cuman buat nge-rescue monyet sih. Aku enggak ada pikiran lain sebenarnya. I, tapi ya ini setelah merasakan naik susah, Bang. Aku enggak kebayang kalau itu Temon kita bawa turun, Bang. Mungkin itu bisa dua belas jam, tiga belas jam kali proses nuruninnya. Oke. Karena gila, ternyata salut sih buat pendaki-pendaki Indonesia yang luar biasa, kalau misalkan naik tu belum ketemu gaib-gaibnya ya. He. Kalau aku sih kayak percaya enggak percaya, kalau aku pribadi. Tapi ya itu, kalau itu orang dengar gamelan enggak ketemu nenek-nenek, mungkin percaya, aku tuh neneknya bawa speaker lagi ya. Iya, nenek bawa speaker. Agak lucu sih memang, tapi kuat-kuat sih. Jadi aku ngerti kenapa orang...

Enggak ketemu nenek-nenek itu kalau yang biasa. Heeh. Karena nenek-nenek itu jalannya cepat. Iya. Karena mungkin sudah terbiasa ya. Iya. Ah, terbiasa. Aku tanya nih ya, ee bapak-bapak sama ee kakek-kakek, nenek-nenek yang jaga pos. Mereka itu di situ naik turun itu bisa 2 setengah jam doang, Bang. Terbang apa gimana? Kita 7 jam loh. Aku aja nih orang yang biasa ke hutan, cepatlah jalan, lumayanlah. Itu 7 jam ini. 2 jam, jam 2 setengah jam.

Nah, setelah dari Gunung Lau kan videonya viral tuh. Kok iya, tanggapannya gimana tuh? Atau mungkin ada niatan buat nge-rescue lagi si Temon atau memang ada beberapa ekspedisi ke gunung-gunung lain? Jadi kalau aku pribadi sih sebenarnya ee enggak expect viral ya, karena memang enggak, enggak kepengin maksudnya viral, enggak ya, itu rezeki lah ya. Iya. I cuma kalau misalkan ee tiba-tiba viral, berarti kan banyak yang peduli sama Temon. Iya. Artinya aku masih siap untuk naik untuk ee rescue Temon kalau udah dibolehin. Jadi tinggal gimana Pak Muiz dan yang menjaga di sana aja sih sebenarnya, boleh dibawa turun enggak? Kita masih berharap Temon dapat welfare yang lebih baik, ketemu sama monyet-monyet lain, bisa kawin, siapa tahu bisa punya anak.

Betul. Ada cucu Mbok Yum kan lucu kan? Iya, cucunya Temon ya. Anak Temon ya? Anaknya Temon. Iya, benar-benar sebenarnya kan siapa tahu. Iya. Oke. Masih berharap itu. Terus gunung lain pengin juga lah, Bang. Naik gunung tuh seru banget ternyata. Jadi, aku pikir lebih seru daripada hutan kali ya. Oh, gitu. Heeh. Karena kalau hutan gatal-gatal. Kalau gunung ini kok enggak gatal ya? Sejuk gitu. Sejuk ya, dingin gitu di atas. Kalau hutan gatal, Bang. Iyalah pastinya. Iya. Jadi kayak banyak ya daun-daun, fulus gitu kan. Gatal sekali kan. Jadi kalau kayak gatal-gatal begitu di gunung enggak ngerasain, Bang. Jadi enak tuh enggak ada nyamuk lagi. Iya sih. Itu si top. Jadi aku bakal naik gunung lagi. Bakal naik gunung lagi. Berarti ke Gunung Lau pertama kali dan nagi nih. Wah, nagi sih. Ngi, nagi harusnya salah ya? Harusnya kayak Gunung Perahu dulu ya kata orang ya. Iya sih biasanya ya, step by step gitu ya. Ini langsung ke Gunung Lau, aku enggak tahu kalau dari orang Gunung Lau ini seting levelnya seberapa. Mm, ya satu sampai lima, tiga. Tiga lah. Oke ya. Okelah ya. Okelah. Harusnya mulai dari level 1 dulu kan. Level 1 dulu. Tiga lah, lu Gunung Lau. Nah, nih.

Ini kan bicara tentang ee rescue hewan ya di gunung ya, rescue Temon ini ada perizinan tertentu enggak sih dari pihak-pihak terkait gitu? Sebenarnya gini, kalau jenis monyet ini, jenis monyet ini seharusnya sih kan tidak dilindungi, tapi seharusnya menjadi tanggung jawab ee pemerintah kita, ee Kementerian Kehutanan dan BKSDA. Karena makakularis ini walaupun tidak dilindungi, masuk ke dalam apendiks 2. Artinya peredarannya itu diawasi oleh pemerintah. Diawasi. Iya. Bukan dijaga ketat. Bukan. Kalau itu apendiks 1. Jadi karena dia diawasi, harusnya kalau ada monyet di atas gunung yang tidak sesuai habitatnya itu harusnya di-cross check. Tapi karena jauh sekali, mungkin aparatur kita malas. Bisa jadi malas. Enggak tahu deh, kalau malas kan aku asumsi. He, bisa jadi mereka tuh kayak, ah mungkin enggak apa-apa kali ya, karena mungkin banyak juga monyet di gunung kan, gitu. Cuman masyarakat ini peduli kalau monyet. Jadi ya walaupun tidak dilindungi, em mesti kita lihat gitu loh. Oke. Tidak ada izin khusus untuk makakularis karena tidak dilindungi. Intinya gitu. Oke.

Nah, kalau untuk izin pengelola ya, itu pengelolanya aja bingung siapa ya. Itu aja tarik-tarikan. Oh, gitu. Jalur A dan jalur B kan. Heeh. Heeh. Heeh. Kayak mungkin masih kayak konflik gitu mereka ya, harusnya ke yang resminya. Cuman itu dia enggak ada urusan sama jalur loh, Bang. Monyet kan peliharaannya Mbok Yem. Betul. Berarti kita harus tanyanya sama keluarganya Mbok Yem, boleh dibawa enggak. Oke. Dan memang dihubungi sebelumnya enggak ada respon ya. Heeh. Beda kalau monyetnya monyet Taman Nasional. Misalnya ini Taman Nasional apa nih? Tuh ada monyet di situ, kita ambil, kena. Kita harus izin dulu, Bang. Enggak boleh kalau itu. Oh, jadi memang perizinan kemarin enggak terlalu, enggak, enggak repot. Sebenarnya aku ada kepikiran mau ngajak orang BKSDA. Cuma kalau orang BKSDA kemungkinan besar sih menolak karena satu, monyet ekor panjang jenisnya. Kalau itu yang di atas orang utan, dia mau pasti naik langsung, Bang. Eh, gimana maksudnya, Bang? Iya, enggak. Kalau monyet ekor panjang ini kan ini kayak topeng monyet gitu loh. Itu dia monyet banyak populasinya, Bang. Di Indonesia tidak dilindungi dan enggak langka monyetnya. Enggak langka. Iya. Kalau orang utan, ah orang utan ini apendiks satu, dilindungi dunia, dilindungi di Indonesia juga. Iya. Jadi mereka pasti akan langsung naik ke atas untuk nge-rescue itu. Karena beda halnya kalau misalkan ini orang utan ya, beda. Jadi memang di Indonesia ini ya harus diperbaiki ya, agak tebang pilih gitu. Jadi pilih kasih. Oke, oke, oke, oke. Yang ini dilindungi, maksudnya ini diperhatikan sekali ini. Ah, biarin aja lah gitu. Oh, ngerti lagi gua anjir. Heeh. Iya. Kalau orang UTAN mungkin udah enggak perlu kok. Enggak perlu. Wah, yang turun banyak itu. WWF turun langsung. Wah, naik Gunung Lau dia. Ayo kita pakai helikopter. I pasti gitu. Karena ini hewannya bukan sejenis itu. Jadi ya udahlah kayak gitu ya. Coba misalkan ada apa lagi di atas, ada komodo nyasar di Gunung Lau, datang tuh mereka pakai seragam lengkap. Oh, siap rescue pakai tembakan pasik gitu, tembak bius. Oke. Karena mungkin ada nilai tersendiri kali ya. Ya, kalau aku lebih ke karena hati sih ya. Jadi kayak kadang kasihan, Bang, ngelihat monyet itu kan dia juga butuh hak-hak hidup ya. Apalagi mukanya gitu. Kadang orang kan kita ngelihat muka aja sedih. Kalau orang mukanya sedih kita pengin bantu kan. Nah, ini monyet ini sedih sekali. Udah ditinggal ee ibunya, istilahnya yang biasa merawat sudah enggak ada. Heeh. Terus dia diikat lagi di perut. Heeh. Tapi ee waktu itu dikit perut ya, sempat kasih edukasi ke si Pak, Pak Muiz. Iya. Nah, inilah kita belum sempat, Bang. Karena kan itu durasi waktu cepat. He. Kita kalau kasih edukasi diikat di perut itu yang aku bilang harus dilepas di situ. Aku harus di situ nunggu dua, dua hari itu kali ya untuk mastiin dia ini. Setelah diikat di perut, kita harus ikat di leher, Bang. Soalnya. He. Heeh. Dan karena enggak ada kandang. Solusi yang paling mudah ya kita bikin kandang di atas. Tapi itu pun enggak mudah, Bang. Iya. Bikin kandang pakai besi loh. Itu kan monyet itu kuat sekali kan. He. Jadi kandang besi ya minimal kayak 2 kali 1,5 meter mungkin dan itu bawa harus bawa besi lagi dari bawah.

Gimana tuh, Koh, kalau misalkan nih di dalam dunia pendakian gunungnya kan kita masuk gunung otomatis ketemu beberapa hewan-hewan yang ada di gunungnya itu seperti monyet lah. Contohnya di Gunung Merbabu itu ada salah satu ee jalur dan ini banyak banget monyetnya tuh. Dan kadang monyetnya suka ngelawan nih ke si pendaki. Nah, itu cara mengantisipasinya gimana tuh? Jadi sebenarnya gini, monyet itu tidak mungkin nyerang kalau enggak ada trigger, Bang. Binatang, semuaah satwa ya. Mereka itu em nyerang karena sebenarnya satu, defensif, dua dia merasa terusik gitu ya. Terusiknya belum tentu dia defense, tapi bisa jadi kayak tindakan kita yang error begitu. Tindakan manusianya yang agak salah. Misalnya kita daki nih jalan terus lihat ada monyet. Kalau kita interaksi sama dia, kita ledekin misalkan, "W monyet tuh, monyet, monyet." Dia akan penasaran nih, orang ngapain sih. Dia akan mendekat. Tapi kalau kita cuek bebek, dia kayaknya enggak peduli, harusnya. Harusnya, seharusnya. Tapi kalau misalkan sampai terjadi. Heeh. Satu, jangan tatap matanya. Jangan tatap matanya. Jangan tatap matanya. Apalagi alfanya. Oke. Jangan tatap matanya. Alfa yang mana? Iya, yang paling gede. Cari di situ yang paling gede, yang taringnya paling gede, yang presencenya tuh kalau datang kelihatan dia muter-muter terus mangap-mangap gitu loh. Jangan tatap mata alfanya. Kalau alfanya komen, jadi misalkan alfanya ke situ, semuanya datang loh, itu nyerang-nyerang orang itu. Jadi jangan tatap matanya. Oke. Dan jangan kasih makan. Nah, ini nih, kasih makan. Ini nih hewan kalau dikasih makan, datanglah. Datang. Kalau enggak mau datang, jangan kasih makan. Dan sebenarnya juga kalau kasih makan itu enggak sesuai sama kodratnya lah. Kan kita kasih makannya ciki. Heeh. Heeh. Kacang. Kacang kan mereka pakannya pucuk daun, Bang, di hutan. Naluri berburunya hilang. Hilang sih enggak, karena kan dia masih lepas, tapi dia tahu wah ini tempat makan gua nih. Gua ngemis aja. Ngapain gua cari-cari di atas pohon? Ngemis aja minta orang. Nah, dia datanglah, dia ngemis minta orang. Orangnya enggak mau ngasih. Iya, takut terjadi konflik. Nyerang dia. Dan ini banyak sekali sih terjadi konflik di pendakian gunung nih. Oh, betul. Jadi jangan kasih makan, buang muka, pergi aja. Heeh. Ya, kalau bisa jangan foto-foto juga ya. Kalau foto ya, ya dari jauh aja kali gitu.

Nah, kalau buat netralisir tempat, ada salah satu tempat camp dan memang banyak monyetnya nih, Koh. Sama monyetnya seperti itu, kayak harus ngambil makan, kadang nyuri juga. Nah, itu netralisirnya gimana tuh, Koh? Atau memang jangan ada aktivitas dulu beberapa bulan atau gimana? Betul. Mestinya gitu. Jangan ada aktivitas dulu selama beberapa bulan harusnya. Tapi kan susah ya, orang nyari duit di situ kan ada mata pencaharian orang, hilang kalau kayak gitu sulit. Paling gampang sih menurut aku, jangan meninggalkan makanan di luar tenda. Ah. Nah, sebenarnya itu aja sih. Itu aja menurut aku ya. Dan kalau ketemu monyet, cuekin. Jangan kayak Nora, jangan kayak ini. Cuekin aja. Bodohin amat aja. Jangan dikasih makan juga, biarin aja. Oke. Heeh. Kalau tidak mau berinteraksi. Cuman kalau aku kan iseng, ada orang interaksi kan. Ah, itulah, itu yang kalau orang yang enggak bisa, enggak ngerti, takutnya konflik karena monyet ini yang tidak diikat. Satu, satu monyet tertrigger. Semua tertrigger, dia kayak orang, dia kayak ini akal sini gua nih, anjing ini orang sini nih, brsek nih, serang dia semua, jalan di nyerang gila ya, emang iya sih, pernah karena hewan koloni, Bang. Dia beda sama ular, ular dia hewan sendiri, solitaire, dia mau diserang apa teman-temannya, bodo amat, pada kabur semua, enggak ada yang bantuin. Oke. Heeh. Nah, ini kan monyet ya, kalau misalkan hewan buaslah seperti harimau, ular king kobra, ketemu di jalur pendakian. Nih, lagi naik gunung. Caranya gimana? Hampir mirip sebenarnya menurut aku, dicuekin aja, jangan tatap matanya. Tapi kalau kayak harimau, ee kemungkinan sih agak kecil ketemu face to face ya. Kemungkinannya kecil sekali sebenarnya face to face. Apalagi kalau orang banyak, kecuali kita benar-benar sendirian gitu di hutan ya, mungkinlah ketemu. Tapi kalau orangnya banyak, dia kelihatan orang dari jauh, dia kabur sendiri kok. Harusnya, harusnya. Jadi dia enggak mungkin ngelihat orang dia makan gitu loh. Heeh. Dia orang bukan sumber menunya dia. Menunya dia tuh kayak misalnya kancil ya, kijang mungkin gitu-gitu kan. Heeh. Kalau orang tuh bukan. Nah, itu kalau enggak sengaja ketemu. Nah, ya, ya banyak-banyak berdoa aja, Bang. Oke. Heeh. Tapi ya kalau secara kalau udah keperepet banget, paling gampang ambil tongkat segede-gedenya. Heeh. Ambil tongkat segede-gedenya. Jalan mundur. Jalan mundur. Jalan mundur. Pelan-pelan. Jangan ngebut. Pelan aja. Jalan mundur. Tarik napas dulu. Pertama tarik. Nah, kayak aku nih teknik penjinakan hewan apapun pasti aku tarik napas supaya tenang, energinya turunin. Bang, kita tuh dilihat sama binatang tuh kalau mamalia dia tahu energi. Jadi kalau kita deg-degan, dia tahu. Oke. Curiga, mencurigakan nih. Nah, kita tenang aja. Hmm. Tenang sambil bawa ini ke belakang. Bukan kayak, uh wah, siap itu. Siap tarung namanya. Nah, tiba-tiba amit-amit cabang bayi dunia berkata lain. Dia maju. Heeh. Ini jangan ditiru sih sebenarnya. Tapi kalau kepepet banget, gebuk hidungnya. Gebuk hidungnya sekencang-kencangnya, sekali gebukan. Oke. Goblok gitu, sekali gebukan. Terus dia pasti akan gitu. Kaget itu semua hewan, Koh, atau yang gede? Kalau yang kecil kasihan, mati gede. Iya, kayak monyet sama juga tuh, gebuk hidungnya. Iya, gebuk hidungnya kalau kepepet banget dia udah nyampai nyerang di sini, udah nyampai nyerang dekat banget gua begitu pakai tongkat ya. Jangan pakai tangan kita. Oke. Kalau harimau pakai tangan, tangannya hilang juga bisa, Bang. Gitu. Itu tapi teknik kepepet, hukum rimba itu udah di ujung banget itu. Heeh. Udah hampir mati kita baru bisa begitu.

Nah, ada satu pertanyaan lagi nih, Koh. Ee nih ini benar atau enggaknya enggak tahu ya. Jadi ee biasanya kita diin tempat camp yang mungkin ini apa bahasanya ya? Banyak orang bilang ee untuk menghindari ular, siram pakai karbol. Itu benar enggak kok? Enggak. Jadi gini ya, atau garam? Ah, kalau itu, kalau itu udah pasti mitos, Bang. Oke. Jadi gini, kalau garam itu tuh ular kagak peduli, Bang. Oke. Kenapa bisa nyampai ke ular mitosnya? Garam ini sebenarnya menghindari ini kayak lintah gitu loh. Iya. Jadi kayak hewan-hewan moluska sebenarnya, bukan reptil. Reptil kagak ngaruh, Bang. Sama garam. Karbol mah ada-ada aja itu dia. Oke. Kita biarin kandang pakai karbol, ada aja ularnya. Kagak, kagak ngaruh, mitos tuh ya. Itu mitos. Jadi kalau ular ya kita harus sedia tongkat. Tongkat. Heeh. Ular ini dia pasti nyasar. Dia enggak mungkin secara iseng masuk-masuk ke tenda gitu. Enggak mungkin. Dia pasti dia nyasar. Dia mungkin lagi malam-malam jalan gitu. Oh, tempat gua masuklah. Nah, paling gampang kita ambil tongkat, bawalah jauh. Heeh. He. Sejauh-jauhnya, carilah lubang goa apa, masukin ke dalam situ. Gitu. Tapi gini, kita kalau bisa harus tahu jenisnya apa, Bang. Main angkat kita enggak tahu jenisnya viper, kecukut mati kita bisa. Iya kan? Jadi itulah pentingnya animal educator, Bang. Supaya kita tahu ini ular jenis ini. Ular hitam polos. Kemungkinan besar kobra. Jangan diambil pakai pengki, pakai sapu misalkan ya, pakai alat sesuatu yang panjang. Ular ada lorek-loreknya kayak begini nih. Misalkan gede segini, palanya enggak segitiga, tapi kayak telur. Ah, sanca piton. Kita sudah tahu. Oh, ini piton, kegigit enggak apa-apa. Ya udah, comot kepalanya gini. Oke. Bawa jauh, buang ke mana? Gunung yang jauh gitu apa ke sawah. He, heeh, gitu. Dan edukasi seperti ini kan memang minim banget kok ya, karena tidak ada di sekolah. Iya, memang enggak ada sekolah. Enggak ada di sekolah. Enggak ada di sekitar kita mungkin ya. Kita cuma bisa sharing lewat sosmed atau media, kayak aku dulu punya program TV, aku sharing lewat TV. Terus ee ya gini caranya karena enggak mungkin masuk kurikulum. Harusnya sih ya ada ya di kayak ini misalkan kayak pramuka gitu, harus masuk sih menurut aku, survival apalah itu harus masuk. Apalagi kalau orang tinggalnya di kebun apa di hutan, pastilah sampai detik ini, tahun ini aja masih ada orang kemakan apa kemakan piton, Bang, kan lucu ya di Kalimantan. I benar sih. Dan itu enggak habis-habis kalau seperti itu ya, ada aja. Iya. Ini kan dari zaman aku SD, Bang. Orang makan piton lah. Kan gampang banget sebenarnya ngehindarin piton itu. Apa tuh? Lah, pitonnya kan makan orang gede, Bang. Segini masa kagak kelihatan, Bang. Iya juga sih. Tinggal cari kepalanya aja pakai apa? Sapu yang, yang gede. Kepalanya pinggirin ke arah sana. Kalau dia ke arah kita, pinggirin ke arah sana. Kalau, kalau bisa udah pinggir, kabur, lari yang jauh. Enggak mungkin kemakan. Nah, problemnya kadang kalau keluar malam-malam enggak pakai sepatu. Iya, iya. Kegigit sini, set, kelilit sini ke leher, meninggal orangnya, Bang. Keluar malam-malam, subuh-subuh dia tuh kalau siang tidur, Bang. Aktif malam hari, aktor malam hari, nocturnal kan. Jadi kalau dia aktif-aktif begitu malam ya kita pakai sepatu, kita pakai proteksi yang lengkap. Nah, kadang kalau orang di desa mungkin, ah biasa ya, Ciaka gitu, nyeker itu yang sering tergigit kayak ular-ular viper ya. Ularan darat apa? Rodostoma sebutnya tuh ya. Jadi badan sampai biru semua, pembuluh darah pecah, mukanya. Waduh, benar, mematikan sebenarnya sih, kurang safety. Oke, gitu.

Nah, Kadre ee ada enggak sih tempat yang mungkin waktu explore nih ya yang paling ekstrem gitu? Waduh. Kalau ekstrem kayaknya agak banyak sih. Aku agak banyak. Banyak sih, lumayan kayaknya. Aku pernah ke daerah mana ya? Sibaganding apa ya, itu air terjun pokoknya ekstrem, banyak sih. Aku ke curug-curug, air terjun lumayan banyak, terus ya jauh-jauh juga lumayan banyak, kayak ke Lubuk, Lubuk Banggai, Danau Paisupok, he, ee terus ke mana ya, Banyuwangi, ke pulau-pulau kosong misalkan kayak pulau ee Tabuhan di antara Bali sama Jawa. Kalau selain gunung aku banyak hutan mah banyak banget, banyak banget ya. Kalau gunung baru pertama kali nih. Betul. Gunung di atas 3.000 ya, maksudnya kalau bukit-bukit 1.000 mah sering, sering. He. Gunung di atas 3.000, pendakian baru pertama itu.

Nah, ini kan hewan di-rescue sama Kodre ini. Hewannya ditaruh di aku. Ada penangkaran hewan. Oh, ada penangkaran. Ada penangkaran hewan. Jadi tempat aku itu memang isinya hewan-hewan ee penangkaran yang bisa ditangkarkan. Jadi kayak ada reptil, ee biawak-biawakan ya, ada ee tempat rescue juga. Jadi ada anjing, kucingnya di situ. Tapi ya enggak segede itu ya. Kayak ada satu ruangan khusus anjing kucing, terus ada beberapa kandang khusus reptil, ada kandang khusus babi-babi, ada kandang khusus monyet gitu. Itu kita lihat lagi dia ini bisa dilepasin enggak nih? Kalau dia ini bisa dilepasin, aku biasanya akan bawa ke pelepasan satwa liar di Pik. Ada kawan aku namanya Bang Aris, dia kerjanya nyatu-nyatuin monyet tuh. Nah, dicariin koloni. Nah, udah bagus nih koloninya. Ini nih cara ngelepasin monyet, Bang. Susah, Bang. Hah? Susah, enggak bisa ke hutan mati, Bang. Caranya gini nih. Ini dia misalkan di monyetnya mangrove ya, di hutan mangrove ditaruhlah di hutan mangrove ya. Dikasih kandang di bawah pohon. Iya, dicampur di situ ramai-ramai tuh. Oh, dibiarin hujan kena hujan. Dibiarin panas kena panas. Dikasih makan. Makannya cuman singkong, Bang. Singkong mentah. Dia harus bisa survive dengan itu. Lama-lama singkongnya ditarik, diganti pucuk daun. Diganti pakan aslinya dia di alam. Oh, dia harus bisa survive. Tadinya hidupnya enak, dikasih makan padang, kasih ciki, dikasih es krim, enak hidupnya. Sekarang kita biarin dia hidup seperti hukum rimba dan itu prosesnya lumayan agak panjang. Biasa 6 bulan kalau mentok monyetnya jago. Ya, kalau ternyata monyetnya enggak jago, enggak solid-solid bisa sampai 2 tahun, Bang. Dan itu biasanya satu koloni pasti ada yang mati. Dan pasti ada yang mati itu ya. Pastilah ya. Enggak semuanya benar kayak orang nih, di udah enak hidup di hotel tiap hari, uh, anak pejabat, kaya, militer, 2 bulan di hutan Kalimantan, mampus enggak? Kalau enggak kuat mati dia, Bang. Betul, betul, betul, benar enggak? Ayo, mau kita buktiin enggak nih, anak orang aja cobain. Oke. Suruh cari makan sendiri di hutan. Ayo, belah-belah kayu, bajaka. Suruh minum dari kayu. Enggak. Enggak ada tuh galon-galon begini. Enggak ada air mineral ya kan? Nyari dari sungai gitu. Oh, biasanya minum air bersih, minum air berbakteri langsung diare-diare, meninggal gitu, Bang.

Nah, ini gua pengen nanya tapi agak sensitif nih, Koh. Enggak apa-apa, boleh. Nah, biasanya kan ee nih kita bicara tentang pawang ya, setahu gua nih kok ya pawang hewan-hewan reptil, ah, terkhususnya yang berbahaya itu. Ee ini cerita orang kampung sih, Koh. Jadi, pawang itu kadang ada ajiannya. Hmm. Ada ilmunya itu. Benar enggak kok, ilmu dalam artian magic ya? Iya. Iya. Di Indonesia banyak yang mempercayai itu. Oke. Jadi kayak ee banyak orang pakai khodam sebetulnya. Iya. Ee khodam itu bisa didapatkan biasanya turun-temurun katanya ya. Iya. Kalau aku, kalau misalkan dilihat baik-baik ada khodamnya enggak? Kalau yang bisa lihat. Waduh, orang awam lagi bisa lihat enggak? Enggak, enggak bisa lihat. Dinilai sendiri aja. Cuman kalau aku ngomong kegigit kobra semua orang pasti mati, Bang. Kalau di titik yang pas. Ah, kegigit king kobra nih, orang sekebal apapun di dunia ini. Iya. Aku tantangin kalau dia kebal beneran. Gigitin king kobra di leher. Coba, tewas langsung, mau kita siram air panas lehernya. Iya. Disetrika leher, pembuluh darahnya gede kan di sini, gigit di leher, menurut aku kalau dia beneran sakti, hidup tuh orang. Oke, mungkin aja ada kali. Aku sih percaya-percaya jin. Cuman kalau khodam ini kayak di agak dipertanyakan. Nah, kalau aku ya. Iya, karena kalau satwa ini makhluk hidup asli, Bang. Ini maksudnya realita dia bukan gaib kan. Makhluk hidupnya real dan dia tuh bisanya real, cakarnya real, gigi taringnya real. Kalau aku pribadi menjinakan mereka dengan cara-cara real, bukan dengan cara-cara gaib. Ya, kalau kita berdoa-doa begini pakai aja, dia nyokot tetap mati gitu. Ada tuh yang di India itu tuh kok yang pakai suling. Suling. Ah, itu lagi suling. Jadi gini, Bang. Kalau itu ee kayaknya kobra India ya. Jadi kayak monocle cobra sebutnya. Kobra itu tuh ee hampir semua sih mirip, dia ini tuh kobra tidak bisa mendengar, Bang. Ular semua enggak ada kupingnya, Bang. Oke. Jadi ular semua di dunia ini yang bisa dengar mah biawak. Biawak bisa dengar, buaya bisa dengar. Ular tidak bisa dengar sama sekali. Tidak ada lubang kuping. Dia bisa dengar atau merasakan ada suara mungkinnya dari getaran, Bang. Oke. Jadi dari getaran aja dan itu kecil. Iya, kalau suling itu dari penglihatan sebenarnya, bukan dari suaranya. Heeh. Jadi ini ular nih, kita harus ngelihat tuh dari mata ke mata gitu biasanya. Iya, kalau ini justru harus dilihatin matanya, Bang. Kalau kita merengos, nyampok dia. Kalau ini harus dilihatin matanya. Nah, tapi pakai suling. Misalnya nih suling nih gini tuh, dia ngelihatnya ke ujung sini. Oh, jadi giniin gerakan sulingnya. Oke, gitu. Itu kalau kobra. Cobain aja. Nah, kebanyakan orang main kobra, lihatin baik-baik. Dia misalkan diangkat gini nih. Heh. Ini bukan ngajarin ya. Jangan ditiru nih. Misalnya diangkat, dia akan coba begini-gini nih. Tuh. Ah, itu supaya dia fokus ke rambut kita. Oh, fokusnya ke atas. Jadi kalau nyampok ke sini kagak ke hidung. Oh, gitu. Kalau enggak ada rambutnya kok ya bisa juga. Tapi kan goyang-goyang, kalau kecetok di mari meninggal juga, Bang. Jadi kalau kecokot kobra, Bang, paling haram di muka sama di badan, Bang. Iya sih. Nih muka ke sini nih. Wuh, haram banget. Nah, kecokot binatang buas di sini itu. Wah, udah serahkan nyawanya. Kuserahkan takdirku pada yang maha kuasa, itu udah banyak-banyak berdoa. Banyak orang, Bang, kegigit kobra di hidung yang tadi aku bilang gini, di hidung. Oh, mati langsung dalam hitungan ee jam, kurang, kurang dari 2 jam gitu. Bahkan dia bisa nyembur juga. Ada kobra, kobra Jawa, kalau enggak tahu kobra Jawa bisa nyembur. Jadi semua kobra bisa nyembur. Nyembur. Oh, bisa nyembur. King kobra enggak bisa. King kobra enggak bisa. Oh, gitu. Cuman king yang enggak bisa. Kobra-kobraan biasanya bisa. Oke. Soalnya dengar-dengar beberapa sempat baca artikel kalau ada salah satu kobra di Indonesia, kobra Jawa yang bisa nyembur. Sedangkan kobra-kobra kobra yang di luar enggak bisa. Bisa. Bisa. Bisa semuanya ya. Hampir semua bisa. Kobra ya. Hampir bisa. Kobra. Oke. Jadi kalau depannya naja, nama ilmiahnya naja, bisa ah menyembur. Nah, kalau kegigit ular berbisa, pertama tadi aku bilang tahu dulu jenisnya apa. Heeh. Gini. Di Indonesia ini cuman ada namanya obat namanya polivalen antibisa. Polivalen. Jadi segala jenis ular obatnya ini. Halo, Soop. Sebelum lanjut ke video, gua mau kasih tahu nih. Bagi teman-teman semua yang mempunyai cerita horor, kalian bisa langsung aja kirim cerita kalian ke Instagram kita yaitu dengan keyword Besopagi.edv atau ke email besapagch@gmail.com. Tunggu apa lagi? Langsung aja kirim cerita kalian segera. Semuanya itu jenis ular yang diobatin ini. Tapi sebenarnya enggak. Harusnya kan enggak. Jadi ular jenis A obatnya ya A, ular jenis B obatnya B. He. Ular jenis C obatnya C. Jadi kegigit ular derik sama ular kobra beda obatnya, Bang. Oke. Di Indonesia sama. Di Indonesia masih sama sekarang karena ilmunya kurang. Saintisnya kurang yang mau mempelajari ini loh. Dia nge-develop antibisa atau antibisa ya sebutnya ya. Dari jenis-jenis ular ini agak kurang. Tadinya di Indonesia cuman ada tiga, Bang. Tiga, tiga ular Indonesia ini, ularnya ratusan ribu spesies, cuman tiga, cuman ular weling, welang kalau enggak salah, Bungarus fasciatus eh, Naja sputatrix, kobra Jawa, dan ular rodostoma, tiga doang, king kobra enggak ada antibisanya. Oke, oke, Wagler enggak ada antibisanya, gitu loh. Jadi ular, cabe enggak ada antibisanya, banyak yang enggak ada, cuman tiga. Jadi kegigit ular jenis apapun yang diobatin pakai ini, ngefek, enggak ada efeknya, tapi enggak, enggak, enggak seefektif kalau dia asli sejenis itu. Paling gampang gini, kalau kegigit ular, foto dulu ularnya apa. Oke, foto. Sudah tahu kan ularnya apa? Nah, ee yang pertama dilakukan supaya enggak mati nih. Iya, bisa ular kalau dipanaskan di atas 80 derajat, reaksi proteinnya akan terurai. Jadi senyawanya dia enggak efektif lagi. Iya. Paling gampang disiram air panas menurut aku ya, dan beberapa senior lain. Tapi ini tradisional ya. Oke, oke, oke. Ini tradisional nih. Ekstrem juga nih kayaknya nih ya. Ekstrem. Kalau dokter mah suruhnya bawa ke rumah sakit. Iya. Nih cara ekstrem nih ya. Cara ekstrem, tapi ini cara pertolongan pertama banget dan efektif. Biasanya efektif. Oke. Berarti Kodre pernah. Aku pernah, pernah kegigit king kobra, disiram di kaki, disiram air panas. Oke. Mending melepuh, mati kan. Betul. Jadi melepulah di situ. Tapi ya jangan di bagian sensitif ya. Kalau di hidung, hidung kita disiram panas, hancur pokoknya. Mungkin dong, enggak mungkin. Iya. Nah, itu cara tradisional pertama. Heeh. Cara konvensional nih, beda lagi nih. Cara yang semua orang bisa lakukan termasuk medis juga. Namanya teknik imobilisasi. Jadi caranya nih, misalkan digigit di tangan, Iya, kita diikat pakai bambu. Oke ya. Ya. Jangan diikat dulu baru dikasih bambu. Enggak. Ini bambu. Bambu diikat gitu. Tujuannya ikat juga enggak boleh terlalu kencang. Entar darahnya mati, busuk. Jadi ikat sewajarnya, terus taruh sini digips gitu loh. Jadi imobilisasinya enggak boleh gerak. Jangan bergerak supaya ee menghambat aliran darah ke seluruh tubuh. Oke. Kita mau bisanya terlokalisasi di sini aja. Kalau enggak nyebar dong sampai sini. Wah, bisa dipotong, amputasi semua, Bang. He, bahaya. Jadi tetap harus di sini aja ya. Kalaupun diamputasi di sini. Cuman teman-teman aku banyak yang ee aku pernah ada kasus juga orang di daerah Subang kegigit di kaki, awalnya kalau dokter minta diamputasi sampai sini. Aduh. Jadi enggak punya kaki kan orangnya kan, mata pencariannya berladang nih. Kalau enggak punya kaki jadi manusia tak berguna kan. Jadi dia enggak mau, Bang. Oke. Dibiarinlah sampai pembuluh darah pecah tuh. Aduh. Wah, udah. Tapi diobatin tradisional sama teman aku tuh. Jadi harusnya orang yang sudah enggak survive tapi niat hidupnya masih tinggi, diobatinlah. Nah, sekarang enggak sampai sini amputasinya. Hilangnya segini, setengah kaki doang, Bang. Dan sembuh sampai sekarang bisa jalan, akhirnya sekarang tidak pakai tongkat, tidak pakai apa. Luar biasa. Digigit rodostoma juga sama ular hijau, bahasa Indonesianya. Ah, oke. Itu yang harus dilakukan imobilisasi. Jadi siram air panas dulu sebenarnya. Imobilisasi. Imobilisasi, setelah itu ke bawa ke rumah sakit, minta suntik antibisa itu, polivalen. Iya. Iya. Iya. Nah, kalau misalkan digigit kayak ular berbisa, misalnya kita digigit di tangan sini nih kok. Hm. He. Terus harus diikat di sini nih. Nah, itu benar enggak biar enggak jalan tuh darahnya ke sini ya. Itu jangan, jangan diikat kekencangan, Bang. Busuknya di sini langsung naik, crossis bisa minta diamputasi langsung. Jadi tetap diikat. Betul. Diikat di sini, benar, sama sinilah semua diikat kan, gini. Tapi biarin dia enggak gerak, biar gini terus gitu.

Loh. Diam. Jangan digerak-gerakin, gini menyebar itu ininya bisa. Kalau misalnya kita tusuk pakai jarum, biar ngeluarin. Nah, ini tusuk pakai jarum itu namanya insisi. Itu ada tekniknya juga.

Oh. Oh, itu tidak disarankan oleh dokter, tapi tradisional melakukan itu supaya, maksud supaya bisanya itu keluar. Jadi, misalkan kegi di sini, sekali lagi ini tekniknya beda-beda. Makanya aku bilang udah disiram air panas dan ditusuk jarum. Ditusuk jarum ya, jangan disiram air panas gitu loh.

Iya. Satu aja ya. Satu teknik aja. Itu teknik apa, istilahnya emm, bisa ditusuk jarum lagi, tapi next time gitu, kayak sudah mulai healing baru ditusuk jarum. Jadi itu teknik tradisional yang bisa dipakai vice versa di mana-mana gitu loh. Tergantung yang menangani siapa.

Nah, ada teknik insisi tadi. Jadi, di ditusuk jarum, ee darahnya dikeluarin sampai darah hitamnya tuh hilang ya, sampai getah beningnya keluar.

Nah, itu juga ada teknik itu. Oke. Nah, kalau aku pribadi lebih ke ee siram air panas. Kalau aku, karena lebih cepat. Karena lebih cepat. Ada teknik insisi juga, itu ada juga. Ah, gila banyak tekniknya, Bang.

Oke. Nah, kodre nih luar biasa pembahasan kita, selain tadi cerita tentang evakuasi temuan di Gunung Lau dan beberapa edukasi tentang bagaimana cara kalau kita ketemu hewan buas, ular, dan monyet yang agak brutal di jalur pendakian tadi sudah dijelasin secara detail.

Betul. Terima kasih banyak nih Kre, sudah mau berbagi cerita di besok pagi dan bagi teman-teman semua. Semoga kisah kali ini bisa menjadikan pelajaran bagi kalian semua, dan saksikan terus video-video berikutnya dari B pagi Pagi dari Gua Indra. Kurang lebihnya mohon maaf. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.