Transcription
Seorang pria menuangkan sebotol racun untuk melindungi tubuh anaknya di tepi tebing agar tidak dimangsa oleh serigala liar. Namun begitu mereka pergi, seekor burung bangkai terbang dan langsung menyambar anak itu, siap untuk menggigitnya.
Rasa sakit itu membuat si anak terbangun secara tiba-tiba. Ia menangkap burung bangkai itu dan melemparkannya dari tebing. Saat itulah ia menyadari bahwa dirinya benar-benar berada di tepi jurang. Jika ia tetap di sana, ia akan mati kelaparan. Maka ia mendapatkan ide yang gila.
Ia mulai turun perlahan dari tebing, namun terpeleset dan hampir jatuh. Untungnya ia sempat berpegangan pada celah di batu tepat pada waktunya. ini ia tergantung di tengah-tengah tebing. Yang lebih parah lagi, hujan mulai turun dengan deras. Tenaganya hampir habis total.
Saat ia melihat ke bawah, ia melihat air hujan telah membentuk sungai di dasar tebing. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya dan melompat. Keesokan paginya, anak itu terbangun di atas tanah, melepaskan sepatu bot dari kaki kanannya. Ternyata kakinya terluka parah. Menemukan sebuah tongkat kayu dan membuat bidai sederhana.
Setelah berjalan sangat lama, akhirnya ia berhasil kembali ke puncak tebing. Di sana ia menemukan sebuah batu nisan yang dibuat oleh ayahnya untuknya. Ternyata saat ia jatuh dari tebing pada hari itu, semua orang mengira ia telah meninggal.
Pada saat itu pula ia melihat sekawanan serigala mendekat dengan cepat. Ia mencoba memanjat pohon, tetapi salah satu serigala menggigit kakinya. Anak itu mengeluarkan pisau dan menusuk serigala itu tepat di jantungnya hingga berhasil melepaskan diri. Namun, serigala-serigala lain di bawah pohon menolak untuk pergi. Malam itu mereka melolong di bawah sinar bulan. Untungnya keesokan harinya kawanan itu akhirnya pergi.
Menyisakan hanya satu serigala abu-abu yang terluka. Anak itu membuat tombak siap untuk menghabisinya. Tetapi saat melihat betapa menyedihkannya serigala itu, ia tidak tega melakukannya. Sebagai gantinya, ia mengikat moncong serigala itu dengan tali. Kemudian ia menemukan sebuah gua dan membaringkan serigala itu di sampingnya. tertidur di lantai gua itu.
Pagi-pagi sekali keesokan harinya saat ia bangun, serigala abu-abu itu telah berhasil melonggarkan ikatan di moncongnya. Tetapi alih-alih menyerang, anak itu dengan lembut menawarkan semangkuk air kepadanya. Lihat bahwa anak itu tidak ingin menyakitinya, serigala itu mulai minum.
Kemudian anak itu pergi berburu dan dengan keberuntungan berhasil menangkap seekor kelinci. Ia mengangkat batu dan menghantamkan ke kelinci itu. Sesampainya di gua, ia bekerja keras menyalakan api dengan menggosokkan kayu. Setelah seharian berusaha, akhirnya ia bisa memakan sedikit kelinci panggang. Serigala abu-abu di sampingnya tampak sangat ingin mencicipinya. Anak itu berkata, "Kalau kamu mau daging, kamu harus bersikap baik." yang mengejutkannya serigala itu menundukkan kepala.