📱

Get Our Mobile App

Take your business learning on the go!

Download on the App StoreGet it on Google Play

NGGAK CUMA TEORI! Cara Kenali Dirimu Sendiri Hanya Dalam 7 Hari! | SUARA BERKELAS #25

SUARA BERKELAS56:09

Transcription

Halo semuanya, kembali lagi di podcast Suara Berkelas. Hari ini, teman-teman yang mungkin punya problem dengan overthinking ya, dengan tidak produktif, aku ajak teman aku, ada Samara Fahrana. Halo, teman-teman semuanya. Makasih udah ngajak. Selamat datang. Selamat datang, Samara Fahrana, seorang Human Design Coach dan juga guru meditasi. Dan hari ini kita bakal nanya detail nih, kira-kira apa itu Human Design? Gimana caranya meditasi yang lebih praktis ya? Ya, bahkan bahkan bagi teman-teman yang di luar sana yang belum paham apa itu meditasi.

Oke, kita mulai dari pertanyaan pertama. Aku penasaran banget nih, apa itu Human Design dan gimana Human Design ngebantu seorang Samara Fahrana bisa mindfulness atau bisa ngebantu teman-teman Suara Berkelas di luar sana yang lagi overthinking atau lagi ada masalah di hari-hari mereka?

Jadi, simpelnya, Human Design itu tools. Jadi, ini adalah bagaimana kita lebih ngenalin diri sendiri, ngenalin orang lain. Jadi kayak sebuah buku manual, aku bilangnya. Atau analogi deh, misalkan kemarin aku baru beli vacum cleaner buat rumah gitu kan. Vacum cleaner itu aku ada datang buku manual, user manualnya, cara makainya kayak gimana, segala macam. Nah, anggaplah Human Design ini seperti buku manual bagaimana kita beroperasi. Beroperasi itu kayak gimana? How we make decisions yang lebih cocok buat kita. Biasanya kita pakai logika, dengerin emosi, atau intuisi. Bagaimana kita bisa mengelola pikiran, perasaan. Bagaimana cara tidur, cara makan, bagaimana cara berada dalam lingkungan yang sehat buat kita. Itu tuh semacam ada kisi-kisi gitu.

Nah, jadi yang aku rasain pas pertama kali tahu tentang Human Design, aku belajar lebih dalam, akhirnya sharing, bikin training, reading, gitu ya. Itu aku selalu mendapatkan feedback bahwa orang ngerasa, "Dan aku pun kok relate banget ya, kayak kok ini gue banget, kok ini sespesifik dan sedetail itu bisa memahami diri sendiri." Jadi, aku ngelihat Human Design ini adalah cara untuk kontemplasi. Kayak pernah enggak sih, kayak Mas Bilal juga bikin buku, baca sesuatu hal, terus jadi kayak, "Oh, gue jadi belajar hal yang baru tentang diri gue." Tapi ada juga, "Oh, gue emang relate banget." Gitu.

Nah, setiap orang di dunia ini memiliki karakteristik masing-masing, kelebihan, kekurangan, potensi, macam-macam gitu. Dan kadang kita tuh membuat harus menjadi seperti orang lain. Gitu. Harus kayak, kalau misalkan habis kuliah, terus harus kerja kantor, terus nanti nikah. Ada jadi semacam ada ekspektasi lurus. Tapi kan semua orang beda-beda, beda-beda perjalanan, beda-beda karakteristik. Human Design ini memberikan kesempatan buat kita lebih percaya diri untuk ngambil jalurnya kita masing-masing, gitu. Nah, buat aku ini adalah part of the mindful journey juga. Jadi, kita lebih berkesadaran, "Oh, gue ini kayak gimana cara ngatasin masalah, bagaimana?"

Ada studi kasus enggak orang yang dibantu oleh Samara yang lagi problemnya apa, terus pemecahan masalahnya pakai desain itu seperti apa?

Karena aku coaching juga nih, jadi banyak klien coaching aku itu masalahnya di karir. Jadi, mereka merasa bosan dengan karirnya, frustrasi mungkin sama bosnya, mungkin lingkungannya ngerasa enggak sehat, atau merasa problemnya adalah capek untuk commute. Banyak yang sekarang kayak gitu. Capek sudah drain. Dulu atau dengan politik kantor. Jadi, banyak masalah corporate yang klien-klien aku bilang, "Aku tuh enggak tahu mau ke mana lagi." "Aku enggak tahu aku mau resign atau aku stay." Jadi, dalam kegalauan itu. Atau aku dalam perusahaan yang sama, lalu aku pindah bidang. Misalkan dari marketing ke sales yang agak-agak mirip, atau ke public relations, contohnya kayak gitu. Nah, ini lumayan eh common gitu masalah ini, kan. Karir adalah hal yang cukup besar dalam keseharian kita dan hidup kita.

Nah, jadi dengan Human Design itu kita bisa melihat sebenarnya kemampuan orang ini cenderungnya naturally itu dari mana bagusnya gitu. Contohnya, "Oh, mungkin orang ini pintar berkomunikasi lebih daripada analitik, eh hitung-hitungan Excel," gitu. Contohnya, atau ternyata dia lebih bisa empati. Jadi, one-on-one client facing itu akan menjadi lebih cocok dibandingkan yang kerjanya misalkan lebih banyak di depan komputer, editing IT, atau suatu hal yang bentuknya enggak banyak ketemu orang.

Nah, kasusnya adalah biasanya kita saat belum tahu diri sendiri, belum kontemplasi banyak, dan belum punya banyak pengalaman, wajar kalau kita rasanya, "Hm, kayaknya ada yang kurang cocok nih, ada yang rasanya enggak pas." Nah, dari Human Design itu kita bisa nih ngelihat, "Oke, kira-kira cocoknya di mana agar ngerasa lebih selaras." Jadi, Human Design itu sangat ngebantu untuk evaluasi kerjaan kita, hidup kita, romans juga gitu ya, dan bagaimana kita bisa lebih menyelaraskan.

Karena menariknya, Human Design ini, ini menggunakan tempat, tanggal, waktu lahir, gitu ya?

Iya. Jadi, kalau teman-teman mau ngecek gitu ya, ini ada website yang dari aslinya Human Design. Eh, dia dibuat oleh namanya atau ditemukan oleh Ra Uru Hu. Nama aslinya Alan Robert Krakower. Dia orang Kanada. Ini di tahun '70 terjadi dan terbentuknya Human Design. Lalu dia bikin website yang free. Orang bisa nulis tanpa harus naruh email segala macam. Jadi, yang dibutuhin adalah nama, tanggal lahir (jadi hari, bulan, dan tahun), dan kalau bisa adalah jam dan menit.

Nah, kadang nih, banyak orang yang enggak tahu jam dan menit kelahirannya. Jadi, bisa cek akta kelahiran. Kalau di akta kelahiran kadang enggak ada atau enggak nemu, udah hilang, bisa tanya ke keluarga, mungkin ibu atau yang lain. Em, kalau enggak tahu juga masih plus-minus 30 menit. Atau kalau tetap enggak tahu juga, bisa jam 12 siang saat mataharinya di tengah. Karena memang Human Design ini menariknya adalah perpaduan antar dua sistem yang besar gitu. Satu adalah sistem yang lebih ancient, kuno wisdom. Kedua adalah yang lebih sainsnya.

Bilal, jadi yang ancient kuno ini tuh ada Cakra, ada astrologi baratnya, ada dari ilmu Cina kuno namanya I Ching, ada juga namanya Kabbalah Tree of Life, gitu kan. Terus, dari sainsnya itu juga ada fisika kuantum, ada biokimia. Jadi, saat mereka digabungkan, banyak klien aku yang zaman sekarang yang kita sangat corporate, kita juga sangat logis, itu lebih bisa mencerna Human Design. Rasanya tuh terstruktur, rapi, kayak, "Ya, emang bukan ramalan." Karena data dimasukin ke software, menunjukkan gambar, lalu saat kita ngobrol diinterpretasi. Kayak, "Tipe kamu energinya kayak gimana?" Jadi, saat sudah tahu tipe energi mereka bisa ngerasa lebih selaras.

Nah, keselarasan itu tuh bisa dilihat dari tipe. Jadi, ada lima tipe Human Design in general gitu, ya. Ada yang Manifestor. Manifestor itu kalau selaras, dia merasa tenang. Oke, tenang. Gitu. Kedua, ada yang namanya Generator. Kayak aku. Aku Generator. Kalau selaras, itu merasa kepuasan (satisfaction). Lalu yang ketiga, gabungan dua ini namanya Manifesting Generator. Oke. Ada gabungannya. Oke. Iya. Jadi, kayak subtipenya Generator ini merasa, jadi digabung tadi, tenang dan rasa puas. Ada lagi yang Projector. Dia ini merasa pahit atau getir kalau misalkan enggak selaras. Dan kalau selarasnya, dia merasa sukses. Kayak nyaman. Lalu yang kelima, ada yang paling rare, Reflector. Tu 1% bayangin. Ada 1% populasinya di dunia ini. Mereka kalau merasa selaras adalah merasa pleasantly surprise, kayak dengan kebahagiaan dan keterbukaan. Dan enggak punya banyak ekspektasi.

Nah, ini jadi bisa ada apa ya, cara mengevaluasi. Gitu. Agak terana sampai ke aku. Menarik banget kategorinya. Lumayan banyak, tapi kalau Samara sendiri tuh, boleh jujur, masuk ke kategori mana?

Boleh aku Generator. Oke. Kenapa? Karena dari tempat, tanggal, waktu lahirnya langsung keluar Generator. Gitu. Jadi, yang dilihat adalah cakranya. Oke. Jadi, cakra mungkin teman-teman yang open untuk meditasi atau yoga, ya. Cakra itu pusat energi yang ada di tubuh kita, ya, itu dekat organ-organ kita. Gitu. Nah, kalau kita belajar meditasi, mungkin familiarnya dengan tujuh cakra. Tapi di Human Design dikembangkan menjadi. Nah, ini yang nanti bisa kita obrolin. Ngarep ke mengelola pikiran, mengelola emosi, karena cakra kita, walaupun semua manusia ada, tapi beda-beda kategorinya. Gitu. Kategori itu maksudnya mungkin aku tipe Generator adalah yang namanya sakral cakra itu sangat aktif. Gitu. Jadi, aku punya banyak energi buat kreativitas, buat membuat hal baru, bikin project baru, sesuai passion. Jadi, mungkin teman-teman yang Generator juga tertarik sama hal-hal yang kayak gitu. Nanti itu beda kasusnya lagi sama si empat tipe yang lain. Mereka punya sebuah apa ya, susunan kategori cakra yang berbeda dari tempat, tanggal, waktu lahirnya, sehingga karakteristik mereka juga bisa sedikit berbeda.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti. Jadi, saat kita punya waktu untuk kembali ke diri sendiri, kita tuh bisa namanya deconditioning atau reprogramming. Gitu. Kayak hal-hal yang mungkin enggak selaras buat buat kita dari pengalaman itu tuh bisa disadari, bisa healing, bisa integrasi. Nanti juga dari perjalanan itu jadi bijak. Biasanya orangnya kalau mereka memilih seperti itu, ya. Kayak bisa sharing ke orang lain, "Oh, ini pelajaran eh hidup gue. Waktu itu sempat eh nikah, cerai, terus kayak gini." Gitu. Jadi, Human Design bisa jadi apa ya, bagian perjalanan hidup untuk ngelihat kita lagi selaras enggak, selaras. Kalau ada masalah, hal yang besar, gimana ngatasinnya, gitu.

Hmm, tadi aku coba recall lagi. Bagi teman-teman yang belum tahu, mereka harus ke website mana? Namanya apa?

Th- Oh, sorry. JovianArchive.com. JovianArchive.com. Iya. Jadi, teman-teman banarchive.com. Iya. Bagi teman-teman yang mungkin ngerasa bahwa, "Aku penasaran nih," jadi kalian bisa ke sana.

Oke, aku baca data terakhir katanya tingkat stres, ya, dan perceraian juga, heeh, di Indonesia, lebih tepat di Jabodetabek, itu semakin meningkat, ya. Dan ngomongin perceraian nih, agak berat. Enggak apa-apa. Perceraian, tingkat stres juga, itu kan juga ada hubungannya dengan perilaku manusia sendiri, ya. Kalau dari kacamata Samara, gimana Human Design membantu? Ada satu orang namanya A, bercerai sama istrinya. Heeh. Kacamata Samara membantu si A tadi itu bagaimana dengan pendekatan Human Design?

Jadi, ini kalau kacamata Samara, bukan Human Design Coach. Aku terlahir dalam keluarga yang bercerai, sebetulnya. Enggak apa-apa. Enggak apa-apa. Ini udah hal publik, udah sering diobrolin. Dan juga ini menjadi bagian kenapa aku masuk ke daerah wellness, mindfulness, meditasi, Human Design. Orang tuaku bercerai, aku kelas 2 SD, gitu. Eh, terus, sudah dengan keluarganya sendiri yang bahagia-bahagia, gitu kan. Jadi, memang mungkin kalau masalah perceraian itu kan bisa banyak contoh kasusnya, ya. Bukannya dalam keluarga aku spesifik, tapi mungkin dari klien atau yang aku observasi. Mungkin cara mengelola pikiran dan emosinya masih kurang baik. Mungkin masalah ekonomi. Mungkin cara resolusi konfliknya itu belum pas gitu di antara keduanya. Bisa juga karena masalah keluarga orang lain, atau perselingkuhan, dan lain sebagainya. Macam-macam.

Tapi kalau kita fokusin lebih ke arah pikiran dan emosi, kalau dari observasiku, ya, mungkin ini karena kita enggak kenal diri sendiri dan enggak kenal pasangan sedalam itu, gitu. Mungkin kita belum tahu secara sadar kalau kita lagi punya emosi marah, kecewa, atau sedih, itu tuh kita kayak gimana cara mengatasinya. Kan biasanya kita ada reflect, gitu, ya. Ada yang fight, flight, freeze. Misalkan kita fight, langsung marah. Eh, mungkin ngomongnya kurang enak. Mungkin bertindak seperti apa. Mungkin kita freeze, kayak enggak tahu mau ngapain. Mungkin kita flight, kita, "Ya udah, enggak usah ada masalah." Kayak, "Ya udah, pergi aja." Gitu. Atau tinggalin, enggak usah diomongin. Contohnya, gitu.

Jadi, mungkin ini saat sudah terjadi dengan jangka waktu yang lama dan berkali-kali, mungkinlah itu di mana kedua orang yang sudah ada ikatan janji menikah merasa, "Oke, eh, ini ah enggak bisa dilanjutin lagi untuk kesehatan mental, fisik kita berdua." Atau sebagai keluarga, gitu, misalkan. Nah, Human Design itu ngebantu untuk kita tahu pola pikir kita sebetulnya, gitu. Jadi, semuanya tentang pola. Jadi, pola berpikir aku, pola berpikir Mas Bilal, pola berpikir teman-teman lain di sini, itu semacam ada apa ya, spektrumnya, gitu. Dan kalau misalkan kita enggak paham dulu ke diri sendiri, gimana orang lain mau paham tentang kita? Karena kalau kita paham tentang diri sendiri, kita bisa mengkomunikasikan, "Oh, aku kecewa karena kamu melakukan ini." Atau, "Aku merasa sedih, marah, karena ini yang terjadi." Itu kan sebenarnya bisa dikomunikasikan. Tapi kalau kita lagi emosional dan kita belum bisa meregulasi emosi itu, jadinya kita bisa berantakan yang jadi enggak sehat gitu cara mengatasi masalahnya.

Dan bisa juga pas kita baru pacaran, baru nikah, gitu, kita belum benar-benar memahami 360 orang pasangan kita, gitu, dalam-dalamnya hatinya. Nah, aku punya beberapa kasus, alhamdulillah mereka masih bernikah, masih menikah, gitu, ya. Eh, mereka reading suami istri itu beberapa kali. Ada biasanya istrinya dulu yang tertarik, terus, eh, pengin suaminya dibacain, gitu. Terus, bacanya berdua lewat Zoom atau ketemu langsung. Terus, ada suatu momen di mana eh suaminya itu nangis karena dia merasa dia tidak pernah bisa ngomong hal ini ke istrinya. Yang aku bacain di Human Design-nya. Jadi, Human Design itu kan benar-benar keluar angka, keluar gambar, terus aku hanya mentranslasi. Gitu. Terus, dia merasa sangat terhenyuh, gitu. Rasanya kayak, "Wah, eh, saya tuh biasanya enggak terkoneksi dengan emosi saya seperti ini, enggak bisa mengungkapkan perasaan saya seperti ini." Em, akhirnya istrinya juga ikut nangis karena dia enggak pernah tahu. Udah nikah mungkin ada hampir 10 tahun, anaknya udah lumayan besar.

Nah, jadi momen-momen vulnerable kita saling mengerti diri sendiri, saling ngertiin orang lain, itu bisa ngatasin stres. Makanya sekarang banyak orang yang stres karena enggak tahu cara handle kalau udah banyak pikiran, banyak aktivitas, itu gimana manage-nya. Emosi pun juga emosi orang lain itu gimana cara handle-nya. Jadi, Human Design tuh bikin kita juga ngerasa bisa lebih ngertiin orang lain, gitu. "Gue jadi ngerti, oh, cara pikirnya emang beda ya sama gue. Gua enggak mesti eh samain cara pikir suami gue sama gue." Atau misalkan, ini tadi contoh kasusnya adalah suaminya yang mau eh cerai sama istrinya, kan, gitu. Tadi. Nah, kalau misalkan sudah pun bercerai, ya udah, artinya kan di jalannya masing-masing. Biasanya ada healing phase, nih. Gitu. Mungkin punya identitas semacam baru yang awalnya berubah dari nikah menjadi bercerai dan menjadi single. Dan bagaimana bisa kembali lagi ke diri sendiri. Karena kita itu kalau di Human Design juga ada bahasanya conditioning, Mas Bilal. Jadi, kalau kita lahir, tempat, tanggal, waktu lahir itu enggak bisa diganti. H. Tapi semua yang terjadi dari kita lahir sampai kita dewasa, contoh kasus lagi menikah atau cerai, itu kan banyak yang terjadi. Kita di keluarga yang kayak gimana, enggak bisa ngatur. Kita di edukasi yang kayak gimana, sosioekonomi, negara, religi, semua itu mempengaruhi. K l pasti

Tua sama pasangannya mungkin tipe yang jales ini kayak aku gitu. Nah, terus kalau misalkan benar-benar enggak ada kayak mungkin e ditinggal meninggal atau e merasa tidak ada kedekatan emosi dengan primary caregiver, jadi n avoidant. Jadi pas berelasi tuh kayak takut di ee apa ya disakiti gitu. Jadi mendingan jauh-jauh dulu berjarak.

Kalau kita udah tahu attachment style kita ini, kita juga bisa lebih memahami, "Oke, saat gua ketemu orang gimana baiknya?" Apalagi kalau yang anxious, "Oke, gua harus lebih bisa percaya bahwa dia akan ada, percaya bahwa dia e enggak ke mana-mana atau enggak selingkuh atau apa." Kalau misalkan yang avoidant, "Oke, gua harus lebih punya usaha untuk berkomunikasi, eh menunjukkan love language, rasa sayang atau apa."

Nah, jadi itu bertahap ya, kayak hal yang menurutku bisa menarik juga. Dan kayaknya ada quiznya deh kalau dicoba di Google, kayak e attachment style quiz gitu. Oke, nah itu mungkin teman-teman bisa cari. Du cari kan pasti nyari sekarang kan, attachment style quiz. Iya, jadi semoga dari mengenal diri sendiri, mengelola energi, mengelola emosi, tahu attachment style-nya, akan permudah untuk ketemu dengan jodohnya di waktu dan tempat yang pas dalam hidupnya. Amin, amin.

Karena banyak teman-teman aku ya, apalagi yang cewek, itu mereka berharapnya jodoh itu kayak turun dari langit gitu. Kayak tiba-tiba nih aku ke pantai gitu ya, hah, aku harus cantik nih, entar ketemu jodoh. Tapi kan itu kan mindset mindset aku ketika masih SD SMP. Tapi sekarang kan enggak semudah itu ya, karena bisa jadi ada orang yang kayak hobinya lari. Iya, kayak dia dandan tuh untuk lari, berharap jodohnya itu sip lari juga. Kalau itu masih mending ya.

Dan untuk pengenalan kan prosesnya panjang ya. Iya, benar. Banyak orang kayak enggak enggak mikir ke sana gitu. Tapi ini lanjutin e pernyataan dari Samara tadi, sopan enggak sih kalau kita misalnya sudah tahu attachment style tadi, kita nanya ke calon pacar atau PDKT kita, "Kalau latar belakang orang orang tua kamu, hubungan orang tua kamu dengan kamu tuh seperti apa sih?" Apakah kita bisa ambil kesimpulan dari mungkin dia dengan orang tuanya tuh kayak enggak ada orang tuanya, terus kita bisa ngesimpuli, "Wah, ini orangnya anxious banget." Bisa enggak sih kayak gitu?

Menurut aku malah bagus dikomunikasikan dan ditanya daripada asumsi. Iya. Jadi kalau sudah tanya kan akhirnya jadi kayak, "Oh, apa itu e teorinya? Ayo kita pelajarin bareng, ayo kita lebih tahu bareng." Dan kalau misalkan kita tipenya yang berbeda, kita jadi tahu gimana cara ngatasinnya. Contoh kayak kitanya yang anxious, oh tapi dianya avoidant. Wah, jadi susah nih gitu kan. Kayak gue takut dia bakal enggak ada, dia tipenya yang mau cabut aja atau kayak super santai enggak menunjukkan emosi atau cintanya. Tapi kalau dia tahu, "Oh ya, dia memang seperti itu."

Nah, ini kan sama juga Sama human design. Bedanya yang love language ini spesifik ke love dan dia mengisi sendiri kan sesuai dengan kondisi kita, ngisi kuisnya. Kalau human design kan di tempat tanggal waktu lahir, jadi sebenarnya enggak berubah gitu ya. Sama juga konsepnya kalau kita saling tahu human design calon pasangan dan dengan izinnya mereka, ya kayak, "Aku mau ngenalin kamu dari perspektif human design, kita cocoknya di mana, potensi konfliknya di mana, dan dari potensi konflik itu cara mengatasi konfliknya gimana?" Nah, itu kan ngebantu proses pengenalan juga. Jadi pengenalan enggak pas pacaran aja, pas mencari jodohnya, pas nikah juga kan pasti ada proses pengenalan lagi. Iya.

Oke, menarik. Pertanyaan terakhir ya, dari Yasir Lalang. "Kak, ini berat nih, Kak. Saya baru putus hari ini, kasihan." Iya, karena kesalahan saya. Heeh. Dan itu udah berjalan hubungan kita sudah berjalan 2 tahun. Gimana cara aku bisa move on?

Take your time, enggak sih? Iya, take your time. Hari ini banget nih, langsung ke k berkelas. Iya, iya, cocok. Artinya itu udah selaras. Em, kalau misalkan baru putus itu kan ada banyak biasanya rasa duka atau rasa kehilangan. Mungkin biasanya sering ada yang chat selamat pagi, good morning, atau sebelum tidur, gitu, gitu. Terus tiba-tiba jadi enggak ada. E itu kan butuh penyesuaian gitu. Dan di proses penyesuaian ini mungkin adalah tadi, kalau ada emosi negatif yang kita bahas, jadi ngenalin diri sendiri lagi. Mungkin kita bisa lebih e healing luka-luka lama atau kontemplasi aja kayak putusnya kenapa. Kan kita enggak tahu ya, cuman jadi lebih observasi, "Oh, salah gue di mana, kurang pasnya di mana, lalu apa pelajarannya kalau mau buat e hubungan ke depannya gitu, sama orang yang sama, balikan, atau sama orang lain gitu ya."

Tapi menurutku, kalau lagi e baru putus, kita tuh ada pengin rush the process. Kayak, "Gua ngerasa sedih, kecewa, marah, tapi gua benar-benar enggak nyaman sama perasaan ini, gua pengin cepat-cepat selesai." Gua cari distraksi. Distraksinya bisa sehat, bisa enggak. Gitu. Bisa dengar lagu bernadia katanya. Iya. Gitu. Nah, jadi e caranya adalah ya take your time sebenarnya. Take your time. Be kind to yourself. Kayak baik sama diri sendiri. Walaupun e tadi dia bilang kayak karena salah dia, ya ya. Jadi mungkin kalau dia mungkin bisa memaafkan dirinya sendiri, e bisa juga untuk mengkontemplasi, "Oke, bagaimana caranya aku bisa dalam paling tidak energi yang enggak terlalu jatuh banget?" Karena biasanya kalau putus ada orang yang depresi, ada yang segala macam gitu. Apa hal-hal yang bisa paling tidak membuat netral?

Menyadari, mendistraksi, ketemu teman, punya em apa ya, interest atau komunitas. Terus ya lama-lama dia bisa mungkin enggak setrigger itu. Tapi take your time lagi sih. Don't rush the process. Ya, orang maunya tuh langsung buru-buru move on. Kalau bisa hari ini putus, besok ketemu wanita lain misalnya. Kayak, iya. Atau ada juga orang yang sebenarnya dia takut di fase dia bakal kesepian. Kan karena tadi rutinitasnya, selamat pagi, selamat malam, sudah makan belum, gitu-gitu kan. Tapi ada fase di mana dia enggak lagi dengan kekasihnya, ya dia bakal takut fase kesepian, takut fase dia mau dekatin orang ada penolakan. Harus mulai dari nol. Kadang orang enggak mau mulai lagi ya. Iya.

Suruh nonton ini episode Mas Aji yangian. I, mungkin itu bisa juga nonton fullnya episode Mas Aji ya. Keren nih ada di sini dikar. I. Mungkin dari aku ya, pertanyaan terakhir. Ini biasanya aku bakal tanyain ke teman-teman sih. I, best advice untuk anak 20-an versi Samara. Wow.

Best advice buat anak umur 20-an, dirasain dulu. Kalau aku ngomong ke aku diri sendiri yang 20-an adalah, "Don't worry." Itu yang enggak usah khawatir. Kayaknya aku di di umur 20-an e dan banyak teman-teman yang di umur 20-an tuh terlalu jauh khawatirnya. Dan kadang kalau dipikirin sekarang, khawatirnya mungkin enggak sebegitu penting atau sebesar itu. Iya. Gitu. E tapi dulu kelihatannya gede dan wajar gitu, karena ya itu adalah masalah-masalah yang kita pahami. Contoh masalah di e kampus, masalah baru masuk kantor, ditanyain k kan nikah, mungkin udah nikah, kapan punya anak, Kak. Banyak pertanyaan itu. Tapi memahami bahwa it will all be fine. Dan kalau it's not fine, it will be a lesson. He. Gitu. Itu yang mungkin hal yang kalau kita ngobrol ke teman ada masalah, ya mungkin kita bukan bermaksud untuk membuat masalahnya kecil, jadi meminimalis problemnya, enggak. Bukan bilang kayak, "Ya udahlah, lu enggak usah pikirin itu, ya udahlah bukan masalah." Cuman kita punya kecenderungan untuk membesar-besarkan hal yang enggak perlu sebesar itu jadinya. Jadi melihat masalah yang terjadi depan mata kita aja. Jangan yang terlalu jauh ke depan, jangan terlalu jauh masalah orang lain. Tapi ya fokus ke diri sendiri, ngenalin diri sendiri. Kalau human design salah satu yang teman-teman tertarik, bisa dari situ. Kalau yang lain bisa juga gitu, bisa dari meditasi, bisa dari Myers-Briggs, gitu, MBTI, atau dari kenalan ngobrol sama orang. Tapi don't worry, don't worry. We suffer more in imagination than reality.

Thank you, Samara. Thank you. Terima kasih teman-teman sudah nonton. Don't worry.