Transcription
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu wasalamu ala nabina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi ajmain. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahilladzi khalaqal mauta walbluakum ayukum ahsanu amala. Para pemirsa konsultasi syariah yang semoga senantiasa dirahmati dan dimuliakan oleh Allah subhanahu wa taala.
Alhamdulillah, di ee malam hari yang berbahagia ini kita kembali berjumpa pada program konsultasi syariah bersama Asatizah Dewan Syariah Wahdah Islamiyah. Pada malam hari ini, para pemirsa sekalian dapat berkonsultasi bersama ee kami ya, Dewan Syariah, dengan tema umum dan kontemporer ya, pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan ya, permasalahan umum maupun kontemporer. Dan insyaallah pada malam hari yang ee berbahagia ini kita e dibersamai oleh narasumber kita, Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, Al Ustaz Dr. Muhammad Yusron Ansar, Lc, MA. Hafidzahullahu taala.
Kita sapa dulu ustaz kita di malam hari ini. Apakah sudah terhubung dengan kita? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Insyaallah ya. Alhamdulillah. Gimana kabarnya di malam hari ini, Ustaz?
Iya, alhamdulillah bikir. Alhamdulillah.
Barakallahu fikum, Ustaz. Semoga Ustaz senantiasa diberikan penjagaan oleh Allah subhanahu wa taala serta keluarga.
Amin ya rabbal alamin.
Baiklah para pemirsa sekalian, insyaallah di malam hari ini ee kita ee akan memulai konsultasi syariah kita. Namun seperti biasanya insyaallah ee kita akan mendengarkan terlebih dahulu materi pengantar yang akan ee dibawakan oleh ustaz kita sebelum kita masuk pada sesi konsultasi tanya jawab. Materi pengantar kita pada malam hari ini insyaallah dengan ee judul "Saat Kehilangan Buah Hati". Ya, semoga ini menjadi ee penyemangat ya bagi orang para orang tua yang kehilangan hati, bisa menambah ilmu dan ee pemahaman kita akan ee hikmah di balik ee ketetapan Allah Subhanahu wa taala. Langsung saja kepada Ustaz kita kami persilakan.
I eh syukran. Bismillah. Alhamdulillah wasalatu wasalamu ala rasulillah wa ala alihi wa sohbihi wa mawalah. Amma ba'd.
Para pemirsa ee peserta konsultasi syariah via Zoom. Yang berbahagia, di malam ini kita di malam Jum'at, malam Sabtu ya, malam Sabtu penanggalan 20 Syawal 1446 Hijriah. Ee kembali ee kita akan membahas sebagaimana biasanya di hari Jumat pembahasan tentang konsultasi umum. Dan kali ini kita akan bahas tentang permasalahan yang [Musik] ee bisa saja terjadi pada siapa ya, siapapun kita ya. Jadi ee dia mungkin kalau dikatakan kontemporer ya, dia persoalan yang ee telah berulang namun boleh jadi ee belum pernah kita alami sebelumnya lalu kita alami ya. Sehingga ee tentu saja sebagai seorang muslim selalu ada prinsip kita, panduan yang diajarkan oleh para ulama kita ee yang disebutkan oleh Imam Bukhari rahimahullahu taala. "Al-ilmu qobla al-quli wal amal." Ilmu itu perlu ada sebagai bekal sebelum kita berkata dan sebelum kita berbuat. Dan ilmu adalah cahaya penerang yang dengannya kita bisa berjalan di muka bumi ini sesuai dengan syariat yang Allah inginkan, yang tentu saja selalu menjanjikan kepada kita kebahagiaan yang sejati, yang hakiki di dunia dan di akhirat.
Dan di antara hal yang menjadi konsekuensi kehidupan kita sebagai seorang hamba Allah Subhanahu wa taala adalah kita akan selalu menghadapi ujian. Hidup ini adalah ujian. Yang tadi dibacakan ayatnya Allah Subhanahu wa taala ee telah menyebutkan di surah Al-Mulk bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian. "Alladzi khalaqal mauta walata liyabluakum ayukum ahsanu amala." Untuk Allah uji siapa di antara kita yang paling baik amalannya. Jadi hidup di dunia ini harus diuji karena untuk melihat kadar keimanan seseorang itu harus melalui ujian. Dunia ini tempat ujian dan nanti hasil hasilnya baru kita bisa tuai, baru bisa kita nikmati. Atau basuh bisa dirasakan secara sempurna di hari kiamat kelak. "Wa inama tuwauna ujurakum yaumal qiamah." Yang baik kesempurnaan pahalanya nanti di hari kiamat. Yang buruk pun mungkin sudah akan merasakan ujian-ujian dalam kehidupannya. Ketika dia banyak bermaksiat, dia akan menghadapi ujian-ujian dalam kehidupannya di dunia. Namun jika dia tidak tobat, maka ee bencana-bencana yang dialaminya itu adalah sesuatu yang masih kecil dibandingkan apa yang dia akan rasakan di akhirat kelak. Waliyadubillah.
Adapun seorang mukmin, seorang mukmin adalah seorang yang ee dibahasakan oleh Nabi kita sallallahu alaihi wasallam dalam hadis ee yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai seorang sosok yang menakjubkan. "Ajaban li amril mukmin." Menakjubkan keadaan seorang mukmin. Karena seorang mukmin itu mampu lulus dalam ujian. Kalau dia mukmin yang sejati, dia akan mampu lulus dalam ujian apapun jenis ujiannya. Karena ujian itu ya sebagaimana ee disebutkan oleh Allah Subhanahu wa taala ada yang baik, ada yang buruk. Ya. Ee Allah Subhanahu wa taala menguji kita dengan hal-hal yang kita sukai. Maka ini ujian untuk kita bisa pandai bersyukur. Dan ada juga hal-hal yang tidak kita sukai dan ini kita hadapi dengan kesabaran ya. Kita hadapi dengan kesabaran. Dan orang yang bisa memiliki kedua ee bekal utama ini, kedua sifat yang sangat mulia ini, sifat sabar dan syukur. Maka inilah orang yang bahagia yang kehidupannya mengagumkan ya, menakjubkan.
Ee kita bahas secara khusus pada malam hari ini tentang masalah musibah yang mungkin tidak kita harapkan tapi boleh jadi dia menimpa kita, yaitu ee musibah kematian. Ya, musibah kematian. Dan musibah kematian ini ee adalah musibah yang pasti menimpa setiap kita, entah kita atau keluarga kita dan orang-orang yang kita cintai. Ya, karena kita memang adalah makhluk yang ee punya ajal ya, "kullu nafsin zaqatul maut." Ee karena itu tinggal menunggu waktu saja. Entah kita yang dahulu meninggalkan keluarga kita atau kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai.
Allah Subhanahu wa taala berfirman ya dalam surah Al-Baqarah yang sering kita dengarkan ya. Allah mengatakan, "Wabaluwanakum bisyaaiim minal khaufi wal ju'i waqsim minal amwali wal anfusi wats-tsamarati. Wabasyirisshabirin." Sungguh-sungguh, kata Allah Subhanahu wa taala, "Kami," kata Allah, "akan menguji kalian." Ya, di sini digunakan lamut taukid, penegasan, dan nun juga di bagian akhirnya nun taukid sebagai penegasan. Sungguh-sungguh kami akan menguji kalian dengan sesuatu. Ya, kata-kata "bisyaaiin" menunjukkan sebenarnya ujian yang Allah berikan kepada kita ini tidak terlalu berat ya, tidak terlalu besar ya. Cuma kadang kita yang tidak pandai dalam menyikapinya. Ya, Allah menggunakan kata-kata "bisyaaiin" untuk menunjukkan dia adalah sesuatu yang sebenarnya sedikit yang Allah ujikan untuk kita. "Bisyaiin minal khaufi" dari rasa ketakutan. "Wal ju'i" dan kelaparan ya. Ketakutan ini krisis keamanan ya yang kadang dirasakan sebagian orang atau sebagian daerah atau sebagian negeri. "Wal ju'i" krisis ekonomi, krisis pangan, rasa lapar. "Waqsim minal amwal" ya dan harta-harta secara umum, kemiskinan dan kebutuhan yang banyak. Namun kemampuan untuk memenuhinya terbatas. "Wal anfusi" dan jiwa. Dan ini masuk orang yang meninggal dan orang yang ee mengalami sakit. "Wats-tsamarati" dan buah-buahan. "Wabasyirisshabirin." Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Siapa mereka? Ya.
Jadi Allah Subhanahu wa taala telah mengisyaratkan bahwa ketika Allah menguji, Allah tidak mau menghinakan mereka. Bahkan Allah Subhanahu wa taala menjadikan ujian ini sebagai wasilah untuk memuliakan mereka. Karena itu Allah tidak katakan berikan ee kabarkan kabar duka kepada mereka. Tapi Allah justru mengatakan berikan kabar gembira kepada mereka. Tapi mereka adalah mereka yang mampu menyikapi ujian ini dengan benar. Yaitu ketika ditimpa dengan musibah maka dia bisa bersabar. "Alladzina idza asat-hum musibah." Ketika dia diuji dengan ujian apa saja, dia ditimpa musibah dengan musibah apa saja. Dari musibah-musibah, contoh-contoh yang telah kita sebutkan tadi yang Allah sebutkan itu yang kita bacakan tadi. "Qalu inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka langsung mengatakan ketika mereka ditimpa musibah-musibah tadi, mereka langsung mengatakan, "Inna" sesungguhnya "kita semua milik Allah." "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Dan semua kita akan kembali kepada Allah subhanahu wa taala. Harta yang ada saat sekarang bersama dengan kita pada hakikatnya dialah milik Allah. Dan apapun yang bersama dengan kita saat sekarang pada hakikatnya adalah milik Allah. Termasuk keluarga-keluarga kita, termasuk orang tua yang kita sangat cintai, termasuk saudara-saudara kita, anak-anak kita, bahkan itu semua adalah milik Allah. Bahkan kita sendiri adalah milik Allah dan kita semua punya ajal. Maka ketika seorang hamba ditimpa musibah dengan kepergian apa-apa yang dicintainya, dia langsung istirja' mengatakan "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." Maka mereka patut diberikan kabar gembira. Kenapa? "Ulaika alaihim sholawatumbihim warahmah waika humul muhtadun." Akan mendapatkan selawat dari Rabbnya. Ya, selawat ini menurut Abul Aliyah, tabiin yang mulia, dia adalah derajat yang ditinggikan di sisi Allah Subhanahu wa taala. Dan rahmat Allah, kasih sayang Allah. Dan mereka adalah hamba-hamba Allah Subhanahu wa taala yang mendapatkan petunjuk.
Ee dan dalam sebuah hadis ya, Nabi kita sallallahu alaihi wasallam bersabda, hadisnya dalam Bukhari dan hadisnya hadis qudsi ya. Allah berfirman, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, bahwa Allah subhanahu wa taala berfirman, "Mali abdil mukmin jaza idza qobadtu shofiyatahu min ahlid dunya tumma tasabahu ilal jannah." Ya, dan secara khusus ya pembahasan kita tentang ee buah hati anak kita atau siapa yang kita cintai. Kata Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bahwa Allah berfirman, "Tidaklah seorang hamba yang beriman akan mendapatkan balasan di sisiku." Ketika saya mencabut nyawa "shofiyatahu." "Shofiyatahu" artinya ee orang yang spesial baginya ya. "Sofi" itu sesuatu yang telah disaring. Ya. Jadi "sofi" sesuatu yang murni yang ee telah disaring. "Sofi" itu bermakna sesuatu yang spesial, sesuatu yang sangat istimewa baginya. Biasanya orang tua kita, biasanya adalah anak kita, buah hati kita. Ketika Allah Subhanahu wa taala mencabut nyawa dari orang yang spesial baginya, yaitu anaknya atau orang tuanya atau siapa yang sangat dicintainya, suami atau istrinya. "Min ahlid dunya" dari penduduk dunia ini. "Tumma tasabahu." Kemudian dia bersabar dan mengharapkan pahala kepada Allah. Maka tidak ada balasan yang pantas baginya di sisi Allah, kata Allah, kecuali "al-jannah," kecuali surga Allah Subhanahu wa taala. Ya, dan ini di antara hadis yang paling menggembirakan ya, hamba-hamba Allah yang ditimpa musibah ya. Yang memang sebagai manusia biasa sangat wajar jika bersedih, tapi tidak boleh kita larut dengan kesedihan, maka kita perlu digembirakan dengan hadis-hadis semacam ini ya.
Dan al Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullahu taala telah menulis satu buku risalah singkat tapi sangat bermanfaat, "Tasliyatu nufusi annisa. waj al faqri alatfal," kurang lebih begitu judulnya. Beliau tulis buku khusus hiburan bagi orang tua, entah ibu atau bapak, pada saat ee kepergian buah hatinya, anak yang dicintainya. Ya, ini termasuk risalah yang bagus dibaca bagi setiap yang ditimpa musibah ya, ditinggal mati pergi oleh keluarga yang dicintainya, utamanya anak ee buah hatinya.
Ee dan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Musa al-Asy'ari radhiallahu taala anhu, Nabi kita sallallahu alaihi wasallam ee bersabda, "Idza mata waladul abdi." Jika ada seorang hamba ditinggal mati pergi oleh anaknya, "qalallahu limalaikatihi." Maka Allah akan berkata kepada malaikatnya, "Qabamtum walada abdi." Kamu telah mencabut nyawa dari anak hambaku. Padahal Allah maha tahu tentunya. Tapi Allah ee bertanya kepada malaikat. "Faqulu." Malaikat berkata, "Na'am." Iya. Wahai betul, wahai Rabbku. Ya, tentu saja ini semua atas perintah Allah. Lalu Allah berfirman, "Selanjutnya, kalian wahai malaikatku, malaikat pencabut nyawa tentunya telah mencabut nyawa dari samrata fuadihi dari buah hati anakku." Buah hati hambaku, ya. Buah hati hambaku, yaitu anak dari hambaku. "Faqulu." Malaikat menjawab lagi, "Benar ya Tuhanku." Lalu kata Allah, Allah bertanya kepada malaikat, pada Allah maha tahu. "Maza qala abdi." Apa yang dikatakan oleh hambaku ketika kalian wahai malaikat mencabut nyawa dari buah hatinya? "Hamadaka wasarja." Kata malaikat bahwa hamba tersebut bisa bersabar, bahkan dia tetap bisa memujimu, mengucapkan alhamdulillah. Ya, tentu saja alhamdulillah yang dianjurkan pada saat kita ditimpa musibah adalah "alhamdulillah ala kulli hal." Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan. "Wastarja'" dan mengucapkan "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." Maka kata Allah Subhanahu wa taala, "Ibnu liabdi baitan fil jannah." Bangunkan satu istana untuk hambaku tersebut yang bersabar dengan kepergian buah hatinya. Buatkan untuknya istana di surga. "Wasammuhu baita alhamdi." Dan namakan istana itu sebagai istana alhamdu. Ya, ini di antara ee hadis ini tentu saja ya ee sebagian ulama menghasankannya ee di antaranya Imam Tirmidzi dan Syekh Albani ee dan beberapa ulama yang lainnya. Jadi dari hadis ini bisa dipahami bahwa kelak nanti di hari kiamat ada istana khusus ya yang dinamakan istana alhamdu ya. Dan kita tahu istana di surga, rumah di surga adalah rumah yang sangat ee mulia, rumah yang sangat indah, rumah yang tidak mungkin kita bisa dapatkan semisal dengannya di ee dunia ini.
Ee dan ee tentu saja telah banyak contoh ya, sebenarnya masih banyak ya hadis-hadis dan ayat-ayat ee dalil tentang keutamaan atau ee yang berkaitan dengan ini. Ee namun kita cukupkan ya dengan apa yang kita sebutkan. Dan ee ketika kita ditimpa musibah yang semacam ini, siapapun kita tentunya kita harus ee setelah mengembalikan ee semuanya kepada Allah sebagai penetap takdir tersebut, kita juga harus ee berkaca dan meneladani manusia-manusia yang terbaik. Ya, manusia-manusia yang terbaik di antaranya adalah tentu saja para sahabat dan sebelumnya nabi kita. sallallahu alaihi wasallam dan juga salaf yang lainnya. Ya. Dan sangat banyak contoh-contoh yang seperti itu. Nabi kita sendiri sallallahu alaihi wasallam telah ditinggalti oleh anak-anak laki-laki beliau dan beliau bisa bersabar dan beliau mengatakan, "Innal a'ina wa innal qalba la yahzan, wala naqulu illa ma yurdi rabbana." Hati sedih wajar jika sedih. Mata menangis wajar jika mata menangis. Tapi kita tidak akan mengatakan, kata Rasulullah, apa-apa yang membuat Allah murka. Kita tidak akan mengatakan kecuali kata-kata yang diridai oleh Allah. Maka seorang yang ditimpa ee musibah meninggal anaknya, tidak boleh dia mengeluarkan kata-kata ee yang menunjukkan ketidaksetujuannya terhadap takdir Allah. Jangan dia mengeluarkan kata-kata yang membuat Allah murka. Jangan dia berteriak ya, niaha, menjerit-jerit atau meratap dengan ratapan yang Allah benci yang merupakan ee perbuatan-perbuatan jahiliah dan juga dilarang mencabik ee menjambak rambutnya, merobek-robek bajunya atau perbuatan-perbuatan jahiliah seperti itu. Dia ee harus bersabar dan itu telah dicontohkan langsung oleh Nabi kita sallallahu alaihi wasallam di kalangan sahabat. Di antara sahabat yang paling terkenal dengan ini adalah ee sahabat kisah Abu Thalhah radhiallahu anhu dan Ummu Sulaim ya radhiallahu taala anha. Ya, saya kira sudah sering kita dengarkan kisahnya. Yang singkatnya adalah ketika meninggal anak dari kedua sahabat yang mulia ini ee Abu Thalhah, bapak tiri dari Anas bin Malik radhiallahu anhu. Ketika meninggal anaknya ee sang ibu ya dan istri dari Abu Thalhah itu ee Ummu ee Sulaim ya Rumais. Beliau bisa bersabar, bahkan beliau ee bisa menyabarkan suaminya ya. Padahal biasanya biasanya sang ibu ya tentu saja sebagai wanita apalagi yang sangat dekat dengan anaknya tentu saja sangat wajar jika dia sangat bersedih ya. Tapi seorang Ummu Sulaim bisa mencontohkan bagaimana wanita kuat yang sebenarnya beliau bisa ee tabah menerima hal tersebut. Bahkan beliau tidak ingin suaminya bersedih ya ketika suaminya pergi dalam keadaan sang anak sudah sakit. Lalu beliau menguatkan suaminya untuk tetap pergi mencari rezeki. Dan beliau yang akan merawat sang anak yang sedang sakit. Ternyata sang anak meninggal dunia pada saat ee suaminya Abu Thalhah sedang pergi mencari rezeki. Pada malam harinya setelah datang, beliau tidak ingin langsung ee menambah ee keletihan dari sang suami yang baru pulang. Beliau layani ee suaminya, menyiapkan makanan dan hal-hal yang dibutuhkan oleh suaminya. Ee dan ketika ditanya bagaimana sang anak ya, beliau bahkan sampai mengatakan dia lebih tenang dari sebelumnya. Sang suami punya atau pahamnya bahwa yang dimaksudkan bahwa mungkin sang anak sudah pulih dari penyakitnya tapi ternyata lebih tenang. Maksudnya sudah meninggal dunia. Tapi itu beliau tidak sampaikan hingga setelah beliau telah memberikan makan kepada suaminya. Bahkan beliau telah ee melayani sang suami sampai kebutuhan ya sang suami berhubungan ee dengan sang istri. Lalu setelah itu beliau menyampaikan, "Bagaimana pandangan Anda jika ada seseorang yang meminjamkan kepada kita sesuatu lalu dia ingin mengambilnya, apakah kita berhak untuk menahannya?" Maka kata Abu Thalhah, "Tentu saja tidak." Ya. Lalu beliau mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa taala pemilik kita, pemilik anak kita. Dia telah ee meminjamkan kepada kita anak dan dia telah mengambil anak kita. Ya, Abu Thalhah sempat terpukul dan sempat ada rasa marah kenapa baru disampaikan. Lalu setelah beliau melihat kekuatan, kesabaran, bahkan ketabahan sang istri, akhirnya beliau sadar dan beliau kabarkan hal itu kepada Nabi sallallahu alaihi wasallam. Dan Nabi sallallahu alaihi wasallam bahkan memuji ya sikap dari Ummu ee Sulaim dan juga beliau mendoakan agar ee hubungan malam itu diberkahi oleh Allah Subhanahu wa taala dan akhirnya Allah Subhanahu wa taala menggantikan ya kepada kedua suami istri itu keturunan-keturunan yang saleh-saleh. Bahkan dalam riwayat dikatakan ee kelak kedua suami istri itu Abu Thalhah dan Ummu Sulaim masih dikaruniai sembilan anak yang semuanya adalah penghafal Quran ya. Buah dari kesabaran ya dari ee suami istri yang saleh dan syahid tersebut.
Demikian pula ya banyak ya kisah-kisah yang lainnya. Ee di antaranya yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam tafsir beliau ee kisah ee tentang ee seorang ee Uqbah ya ketika meninggal anak beliau yang anak beliau juga bernama Yahya. Ketika beliau turun di kuburannya, maka ada yang mengatakan, "Wallahi inna la'udul jais fahtasabahu." Ya, beliau dikatakan seandainya ada seorang yang ee orang yang kuat pun tentu akan bersedih dengan hal yang seperti ini. Ee lalu dikatakan, "Kenapa sampai kamu begitu tabah?" Ya, beliau mengatakan bahwa karena saya hari ini saya sudah mendapatkan "albaqiatus shihat," artinya ini investasi akhirat saya, ini justru yang akan ee kekal bagi saya karena dia yang akan menjadi teman terbaik kita nanti di surga Allah Subhanahu wa taala. J beliau memandang ini sebagai investasi akhirat yang justru ee adalah ee kebaikan yang Allah ingin berikan kepadanya. Dan juga diriwayatkan dari Abdullah bin Mutharif, seorang ee tabiin yang mulia. Ee disebutkan bahwa ketika bapaknya ee ee ketika Abdullah bin Mutharif ya Abdullah bin Mutarif meninggal dunia, maka bapaknya Mutarif ee datang menghadap atau tampil di hadapan kaumnya dalam memakai dengan pakaian yang terbaik dalam keadaan yang terbaik. Maka sebagian orang marah dan menganggap ini orang tua yang tidak punya hati, yang tidak punya rasa ee sedih dengan kematian anaknya. Ya, "Yamutu Abdullah wa takuju fili hadihi." Ya, sebagian mengatakan meninggal Abdullah, orang semua sedih. Kamu orang tuanya justru tidak bersedih. Maka dia mengatakan, "Ya ee saya ee tentu saja bersedih, tapi saya bisa bersabar karena saya telah mendengarkan Allah Subhanahu wa taala akan memberikan kepada saya ee beberapa hal yang seandainya satu saja di antaranya diberikan kepada saya, maka saya akan ee sangat berbahagia." Lalu beliau membaca ayat tadi ya musibah "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan "ulaika alaihim sholawatumbihim warahmah waika humul muhtadun." Ya, banyak kisah yang semacam ini ya. Intinya ee bagi seorang bapak atau seorang ibu dan siapa saja di antara kita yang ditinggal mati orang yang dicintainya maka harap berharaplah pahala dari Allah. Dan banyaklah berdoa semoga itu menjadi investasi akhirat kita dan semoga ya kita akan kembali berjumpa ya di surga Allah Subhanahu wa taala. Utamanya jika dia adalah anak di bawah umur sebelum balig. Maka ee Imam Ahmad dan Imam Syafi'i dan banyak lagi ulama kita dari kalangan sahabat Abdullah bin Abbas, Abdullah ibn Umar dan yang lainnya memandang ya kesepakatan bahwa hamba-hamba Allah yang masih kecil ya dari kalangan orang beriman yang meninggal semuanya adalah penghuni surga. Bahkan mereka yang akan berkeliaran di surga dan juga kelak insyaallah taala akan menjemput orang tuanya di pintu-pintu surga. Ya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari sahabat ee Utbah bin Abad Assulami radhiallahu taala anhu.
Sikir ini sebagai pengantar ya. Wallahu taala alam. Wasallallahu ala nabina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wasallam. Alhamdulillahi rabbil alamin. Alhamdulillahi rabbil alamin.
Ee itulah tadi materi pengantar konsultasi syariah kita di malam hari ini oleh ustaz kita Ustaz Dr. Muhammad Yusrani Ansar S. M hafidahullahu taala. Kami ucapkan jazakallah khairan kepada ustaz kita atas materi yang telah e beliau bawakan. Selanjutnya kita masuk kepada sesi kedua konsultasi syariah bersama ee para pemirsa yang telah bergabung di Zoom kita pada malam hari ini. Jadi ee kita memberikan kesempatan bertanya melalui kolom komentar live Zoom ataupun jika ada yang ingin bertanya langsung kepada ustaz kita. ee baik pertanyaan seputar materi ataupun permasalahan umum dan kontemporer lainnya, maka silakan ee ee lakukan atau menekan tombol res. Insyaallah kita akan izinkan untuk bertanya nanti. Barakallahu fikum.
Ee baik, Ustaz. ee kita masuk pada tanya jawab ee di sesi berikutnya. Sudah ada beberapa pertanyaan yang masuk di malam hari ini. Pertanyaan yang pertama yang mungkin yang lebih dahulu masuk dari ee kolom komentar atau dari ee WhatsApp. Ee bismillah dari ee Saudara Adit. Asalamualaikum, Ustaz. Izin bertanya. Kami kehilangan putra kedua beberapa pekan lalu di usia 2 bulan. Sampai di hari wafatnya ya Qadarallah anak ee atau kami belum mengakikah anak kami yang wafat tersebut. Dalam hal ini bagaimana hukum akikahnya? Apakah benar perkataan jika belum diakikah maka akan terhalang dari pemberian syafaat karena status anak masih tergadaikan. Dan bagaimana kondisi anak di sana jika belum terakikah? Apakah menjadi tidak lebih bahagia dibandingkan anak-anak yang lain yang sudah diakikah? Tibohon jawabannya.
Iya. Ee bismillah. Alhamdulillah wa kafa. Wa salatu wa salamu ala rasulillah. Ee terkait dengan masalah akikah ini ee ada khilaf tentu saja ulama kita tentang hukumnya. Namun kebanyakan ulama kita memandang dialah sesuatu yang sangat ditekankan ya, bukan satu kewajiban. Walaupun sebagian hadis memang ee memberikan isyarat tentang bagaimana pentingnya akikah ya. Sebagaimana hadis ee Samurah ya yang ee tadi disebutkan bahwasanya setiap anak yang baru lahir murtahinun biakikatihi, dia tergadaikan nanti dengan akikahnya. Dan memang sebagian ulama kita menafsirkan ya seperti Imam Ahmad ya, bahwasanya adalah dia ee bisa memberikan syafaat ketika dia telah diakikah. Karena itu ee khuruj min al-khilaf ya, sebaiknya tetap diakikah ya, tetap diakikah. Ee dan jangankan sudah 2 bulan ya, jangankan sudah 2 bulan. Ee seandainya ada di antara kita yang anaknya mungkin lahir beberapa hari lalu meninggal dunia, belum cukup hari ketujuhnya, ya. Belum cukup hari ketujuhnya, maka ya sebagian ulama kita atau tidak sedikit ulama kita tetap menganjurkan dia untuk akikah ya. Karena dia telah lahir ya. Karena akikah itu ee memang di penyelenggaraannya pada hari ketujuh tapi ee tidak harus hari ketujuh ya, boleh juga sebelumnya ya dan juga boleh ee setelahnya. Bahkan ee ulama kita memahami selama dia sudah lahir, artinya sudah cukup umur ditiupkan roh, yaitu umur 120 hari, selama 4 bulan dia sudah ee ditiupkan roh 120 hari 4 bulan di perut ibunya lalu dia meninggal dunia, maka dia tetap diakikahkan. Ya, tetap diakikahkan. Ee walaupun ya sebaiknya wallahuam kalau dia sudah meninggal dunia baru kita mau akikahkan ee mungkin tidak perlu dibuat acara ya karena akikah itu maksud dari akikah adalah menyembelih hewan ya, menyembelih kambing. Adapun tentang bagaimana teknis pembagiannya itu terserah ya. Karena itu boleh saja seorang yang mau akikah di hari ketujuh dia potong kambing lalu dia nanti acarakan ee tanggal 10 ya. Karena iktibarnya adalah ee memotongnya. Itu yang dinamakan akikah. Sehingga ee jika dia tidak mau acarakan pun dia bagi-bagi saja, maka itu sudah dinamakan akikah. Ee kenapa kita anjurkan untuk tidak perlu diacarakan ya bagi yang sudah meninggal dunia anaknya? Karena dikhawatirkan jangan sampai ada kesan atau ada anggapan, ada dugaan yang keliru dari sebagian bahwa kita membuat acara semacam syukuran dengan kematian anak kita. Yaitu ada jangan-jangan ada pemahaman bahwa ada penyembelihan dengan kematian anak. Padahal sebenarnya kita mau akikahkan ya. Jadi ee bagi yang belum akikah anaknya padahal ee dan dia sudah meninggal dunia, tetap sebaiknya selama dia mampu untuk diakikahkan tapi tidak perlu sampai dibuatkan acara. Wallahuam. Adapun tentang kepastian bagaimana dia di hari kiamat dan sebagainya bagaimana dia surga. Ya, ini ee tidak bisa kita pastikan, tidak bisa ketahui hal yang gaib seperti itu. Namun ee memang ee selama kita mampu maka sunah-sunah yang telah dianjurkan Rasulullah hendaknya kita kerjakan karena pasti di dalamnya ada keberkahan ya dan kebaikan ketika kita mengerjakannya. Iya.
Baik, Ustaz. Insyaallah syukran wa jazakallah khairan, Ustaz, atas tambahan ilmunya terkait dengan permasalahan kita. Semoga ee menjadi pencerahan bagi ee saudara atau saudari penanya tadi. Barakallahu fikum. Baik, kita lanjutkan, Ustaz. Pertanyaan yang ee kedua ee dari hamba Allah. ee bagaimana ee memahami sebagian hadis yang ee menjelaskan tentang kondisi anak-anak yang meninggal sebelum balig di mana mereka berada ee di taman ya bersama dengan ee Ibrahim Alaih Salam ya. Apakah mereka, Ustaz, ee setelah kehidupannya atau setelah kematiannya berada di alam barzakh atau mereka berada di tempat yang ee lebih ee khusus bagi anak-anak yang meninggal sebelum balig. Barakallahu fikum, Ustaz.
Iya. Ee ini juga ada khilaf dari kalangan ulama kita sebenarnya termasuk khilaf dari ulama kita tentang anak-anak yang bayi ya atau yang belum balig. yang meninggal dunia, apakah ada pertanyaan kuburannya atau tidak? Ya, ee sebagian ulama kita mengatakan ya kalau gak salah dari Malikiyah dan Hanabilah mengatakan tetap ada karena kita tetap dianjurkan untuk menyalatinya ya salat jenazah. Dan di antara lafaz yang disebutkan dalam surat jenazah ee bukan permohonan ampunan ya karena belum berdosa untuk anak kecil. Tapi di antaranya adalah "Allahumma aidhu min adzabil qabr" atau dalam riwayat "Allahummaqihi min adzabil qabr." Ya Allah jauhkan dia dari azab kuburan. Itu sebagian menyebutkan seperti itu. Ee dan sebagian mengatakan bahwa tidak, ya. Dan di antaranya dari kalangan ulama mazhab Syafi'iah mengatakan tidak, karena ee azab kubur itu hanyalah bagi mereka yang berdosa. Adapun mereka ini belum ada dosanya ya sehingga tidak ada ya azab kubur. Kecuali ya sebagian mengatakan seandainya ada ee kenapa sampai ada dua azab kubur seperti itu, itu mungkin yang dimaksudkan adalah azab yang disebabkan oleh pihak yang lain ya. Karena sebagaimana dalam hadis, kadang ada mayat atau ada jenazah yang disiksa disebabkan perlakuan orang tuanya atau perlakuan orang-orang yang ee masih hidup yang meratapinya. Ya. Jadi ee karena itu mereka bawa kepada mana ee kenapa kita perlu berdoa untuk anak-anak yang meninggal supaya tidak diazab kuburannya. Ee bukan karena dia berdosa, tapi karena memang mungkin disebabkan karena faktor-faktor yang lain ya sampai diazab. Ee dan yang lebih ya wallahuam yang ee lebih tepat adalah bahwa ya berdasarkan hadis Muslim disebutkan ee dalam perjalanan Isra Mikraj pun disebutkan bahwa Nabi ee atau di antara pemandangan yang disebutkan ketika bertemu dengan Nabi Ibrahim Alaih Salam, beliau berada di surga dan beliau yang ee membersamai ya, anak-anak kecil. Lalu ketika ditanya siapa anak kecil itu, maka mereka adalah "auladul muslimin alladzina matu qobla al-bulugh." Anak-anak kaum muslimin yang meninggal dunia sebelum usia balig. Ya. Ee maka sebagian ulama kita mengatakan dari ini atau tidak sedikit dari ulama kita menyebutkan bahwa mereka ee langsung berada di surga Allah Subhanahu wa taala di bawah kafalah dari Ibrahim Alaihissalam. Ya, makanya di antara ee sebagian doa yang maksur tentang ee doa pada saat salat jenazah adalah menyebutkan seperti itu. Jadikanlah dia berada pada kafalah, santunan atau pengawasan dari Nabi Ibrahim Alaih Salam. Ini sangka baik kita kepada Allah bahwa insyaallah anak-anak kita yang meninggal dunia sebelum usia balig ya mereka-mereka berada di surga-surga Allah Subhanahu wa taala dan ee tidak melalui proses yang lama di alam barzakh ya. Wallahu taala alam.
Masyaallah. Jazakallah khairan ustaz atas ee pencerahannya. Semoga kita ee mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari apa yang ustaz sampaikan. Selanjutnya, Ustaz, pertanyaan berikutnya ya masih eh dari Zoom ya, privied message dari ee Ummu Ali ya. Pertanyaannya, Ustaz eh Afwan, Ustaz, ketika anak saleh saya sakit di ruang NICU, saya sempat bernazar untuk tidak mempunyai anak lagi ya setelah dia. Karena saya ingin fokus merawat dia dan tidak ingin kasih sayangnya terbagi ya. karena ee begitu ee beratnya ujian dan kondisinya dan kami sangat kasihan lalu kami bernazar seperti itu. Namun qadarullah setelah kepergian anak kami ee tersebut makin hari perasaan saya semakin sepi tanpa hadirnya seorang anak setelah ee anak saya Ali yang meninggal. Dan pertanyaan saya, Ustaz, apakah saya berdosa jika saya melanggar nazar saya yang pertama dan saya ingin punya anak lagi? Dan apakah anak saya di surga nanti menganggap saya ibu yang pembohong jika saya niatkan untuk punya anak setelah dia? Tib, Ustaz, ya.
Eh ya ee pertama kita anjurkan memang ya ee kepada semua kita ketika kita ditimpa musibah bagaimanapun beratnya jangan kita sampai mengatakan sesuatu termasuk menazarkan sesuatu yang tidak dianjurkan ya yang tidak dianjurkan apalagi jika dia ee bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat atau ee hal-hal yang dianjurkan dalam syariat seperti masalah anak umpamanya ya. Jadi memang ee bisa kita pahami ya dalam kondisi yang seperti disebutkan pada saat anak dirawat dengan kondisi yang sangat khusus, yang sangat memprihatinkan. Mungkin kita sangat sedih ya sampai kita ee bilang mau akan fokus terus merawatnya sampai kita berpikir tidak punya anak lagi ya selain dia. Ini sebenarnya tidak ee tidak tepat ya ee harapan semacam itu ya. Bahkan sebaiknya kita berdoa semoga Allah sembuhkan dia dan semoga kita juga ee punya anak yang lain yang bisa juga kita ee rawat, kita bina ya. Ee jadi kita selalu dianjurkan untuk doa-doa yang ee positif yang mengandung sikap optimisme dan jangan ada unsur keputusasaan. Ee dan kalau pertanyaannya bagaimana sikap saat sekarang? Kami pribadi menganjurkan untuk ee mengkafarat sumpahnya atau nazarnya ya. Karena nazar itu kafaratnya sama dengan sumpah. Dalam hadis dikatakan "kafaratu yamin" ee "kafaratun nazar kafaratu yamin." Ya, kafarat nazar itu sama dengan kafarat yamin. Jadi kita anjurkan untuk di ee kafarat saja nazarnya ya. Artinya dibatalkan nazarnya. Dibatalkan dengan membayar kafarat ya. Ee kafarat yang Allah Subhanahu wa taala ee sebutkan dalam surah Al-Maidah ya ayat ke-89 itu seanya kafarat yamin yang Allah sebutkan tapi itu juga sama dengan kafarat annazar ya Allah Subhanahu wa taala mengatakan "fakafaratu asrati masakin" ee kafarat sumpah atau kafarat nazar itu memberikan makan 10 orang miskin "min awsati at'imi ahlikum" dengan makanan yang pertengahan yang biasanya kita berikan pada keluarga kita "au kiswatihi" atau memberikan pakaian kepada 10 orang miskin "tahrir raqabah" atau opsi yang lain opsi ketiga adalah memerdekakan budak ini mungkin tidak bisa ya tidak ada atau yang paling mudah sebenarnya "faman lam yajid fashiyamu tsalatsati ayyam." Puasa 3 hari saja ya. Dengan itu kita telah membayar kafarat dan menjadi pelajaran ke depan untuk kita lebih berhati-hati dalam bernazar ya dalam bernazar dan memang memiliki anak itu ee adalah harapan setiap orang ya. Maka jangan sampai batasi cuma satu anak saja ya supaya kita lebih fokus. Ee nabi kita mengajarkan untuk kita berharap bisa memiliki keturunan yang banyak dan beliau sangat menganjurkan untuk memiliki keturunan yang banyak. Jadi, Anda insyaallah tidak dikatakan ee apa pendusta oleh anak Anda ya. Kecintaan Anda kepada anak Anda yang sudah meninggal dunia insyaallah tidak akan putus dengan keberadaan anak-anak yang lain ya. Karena orang tua memang telah diberikan fitrah oleh Allah untuk terus bisa mencintai semua anaknya bagaimanapun berapa pun banyaknya dari anak-anak yang Allah rezekikan kepada dia. Ya, sehingga insyaallah anak-anak kita atau anak Aliah kalau gak salah tadi disebutkan anaknya yang sudah duluan meninggal dunia itu insyaallah tidak akan memaki orang tuanya kenapa punya anak lagi ya. Bahkan mungkin akan berbahagia jika dia memiliki saudara-saudara yang lain yang akan dia temui nanti di surga Allah Subhanahu wa taala. Wallahuam.
Tib ustaz. Masyaallah. Syukran wa jazakumullah khairan Ustaz atas jawabannya. Semoga menjadi pencerah ee semoga mendapatkan pencerahan bagi para atau bagi saudari penanya tadi. Barakallahu fikum. Baik, kita lanjutkan, Ustaz. Pertanyaan yang ee terakhir mungkin di malam hari ini dari ee dari saudari Fatma. Ini pertanyaan yang panjang, Ustaz. Mungkin kami ringkas ee tentang ee orang tua yang kehilangan anaknya bukan kehilangan karena kematian, tetapi anaknya pergi ya dari rumah dan memilih hidup ee sendiri. Dan ee fokus pertanyaannya adalah ee anaknya yang ee laki-laki ini itu menikah ya menikah ee memilih pasangannya sendiri ya tanpa ee tanpa ee persetujuan dari orang tuanya ya. Jadi dia menikah ee sendiri. Pertanyaan dari orang tuanya ini, apakah sah pernikahan anak laki-laki tersebut? ya walaupun ee orang tua tidak merestuinya dan ee iya karena satu dan lain hal ya karena ee orang tua background dari ee perempuan yang seharusnya orang tua anak laki-laki tersebut ya dengan ee ujian ya yang diberikan kan berupa anak yang ee pergi dari rumah dan ya dipahami Ustaz pertanyaannya.
Iya ee kami coba paham ya karena tidak disebutkan juga kenapa sampai pergi. Namun wallahuam mungkin maksudnya anaknya ya semoga Allah berikan hidayah ya anaknya minggat. Ini gak terlalu jelas ya. Apakah anaknya meninggalkan rumah karena alasan agama ya? Justru orang tua yang punya hal-hal yang hal-hal yang mungkar yang tidak bisa ee diubah oleh sang anak ya. tapi juga tidak ee apa tidak mau melihat terus kemungkaran itu sehingga sang anak minggat atau memang seanak sang anak ini minggat meninggalkan rumah karena memang ee apa dia anak yang ya tanda yang anak yang dianggap anak durhaka ya ee ala kulli hal ya tentu saja ee perlu untuk diingatkan kepada anak ini bahwa "ridal walidaini min ridalillah." Keridaan Allah itu ada pada keridaan kedua orang tua dan murka Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua. Termasuk sampai "un" sampai "un" ya seandainya kita merasa kita dalam kebaikan namun persoalan komunikasi kita yang tidak tepat sama orang tua sehingga mereka tidak paham ya ini juga hal yang dikhawatirkan ya. Jangan-jangan kita tetap juga punya ee dosa ya. Karena kesalahan kita dalam berkomunikasi sehingga orang tua kita ee mungkin marah kepada kita ya. Dan kita punya dalil dari hadis Jurais ya. Bagaimana seorang Jurais yang sedang ibadah lalu sang tua memanggil sang ibu. Lalu karena Jure tidak tidak menjawab karena sedang ibadah salat, langsung sang ibu sampai sumpah ya sumpah untuk ee sang anak Jurais jatuh kepada fitnah wanita dan terjadi apa yang disumpahkan pada dialah seorang yang ahli ibadah. Apatah lagi kalau sang anak memang dia minggat ee karena ee bermaksiat atau karena ee durhaka kepada k orang tua. Waliyadubillah. Ee tentang masalah keabsahan pernikahannya, maka kita katakan kalau persoalan anak laki-laki itu memang tidak disyaratkan nikah harus dengan wali. Ya, yang harus dengan wali itu sang wanita. Sehingga selama ee syarat-syarat pernikahan itu telah terpenuhi pada saat dia nikah, artinya ee istrinya itu ee dinikahkan dengan wali dari sang istrinya itu. Lalu ada juga dua saksi ya ee ijab kabul dan ee syarat-syarat yang hadus itu sudah terpenuhi. Maka kita katakan ee pernikahannya tetap sah ee karena laki-laki tidak harus ada walinya. Tapi tinggal tersisa adalah keridaan ya orang tua. Keridaan orang tua yang bisa menjadi persoalan besar bagi kehidupan sang anak tadi. Ee kami usulkan, kami sarankan kepada orang tua ya yang memiliki anak-anak yang ee tidak taat kepada Allah ya atau anak yang durhaka lah bahasa kita. Ee mereka-mereka adalah tanggung jawab kita ya. Jangan kita terlalu cepat langsung bersumpah dan kita memutuskan tidak mau lagi bertemu dengannya, tidak mau lagi mengajaknya berbicara. Sang anak tersebut sangat perlu untuk terus didakwahi, sangat perlu untuk terus didoakan. Ya, maka sebaiknya ya ee kita dilakukan pendekatan-pendekatan ya yang lebih persuasif, yang lebih ee bisa diterima, yang bisa lebih melunakkan hatinya dan dia ee kembali kepada Allah Subhanahu wa taala dan kembali kepada orang tuanya dengan cara yang terbaik. Ee lihatlah Nabi Nuh Alaih Salam. Nabi Nuh alaihi salam itu baru berhenti mendakwahi sang anak. Ketika sang anak akhirnya ee tewas ya di ee telan oleh air bah. Selama itu beliau tetap memanggil dengan penuh sayang kepada anaknya. Ya. "Ya bunay irkam ma'ana." Ya. Beliau masih panggil anaknya ya dengan penuh rasa sayang, penuh rasa harap sang anak masih menerima dakwah beliau. Ya, jadi jangan ee kita terlalu cepat memutuskan ya untuk pisah ya. Ee tentu saja kesalahan besar pada sang anak ya, tapi tanggung jawab kita juga besar di sisi Allah Subhanahu wa taala. Jangan sampai anak kita menjadi anak durhaka mungkin karena ketidaktepatan kita dalam mendidik mereka. Dan di antara hal-hal yang paling mungkin untuk merubah sang anak kita adalah doa-doa tulus kita. Ya, karena itu ee ya karena tidak disebutkan secara persis kasusnya maka ya saran kami saran kami adalah ee untuk ee menerima anak tersebut. Seandainya anak tersebut sudah mau tobat dan mau melakukan perbaikan, maka sebaiknya kita terima dia ee dan kita terus nasihati atau jika belum, ya belum ada tanda-tanda untuk itu, banyak-banyak untuk mendoakannya ya. Karena ee jangan-jangan ya jangan-jangan ee sikapnya dan kesalahan yang ada pada anak kita juga kita punya sedikit andil ya dari kesalahan tersebut. karena ketidaktepatan kita dalam mendidik mereka. Wallahuam.
Baik, Ustaz. Masyaallah. Syukran wa jazakumullah khairan Ustaz, atas jawabannya ya. Semoga masyaallah ee semoga jawaban tadi ya sangat-sangat ee menjadi motivasi ya bagi orang tua untuk terus semangat ya dalam ee mendidik anaknya ya. Bagaimanapun ujian yang Allah Subhanahu wa taala berikan. Baik, Ustaz. Pertanyaan yang ee terakhir ya dari ee dari saudari Muzdalifah ya. Ya. Jadi ee ini pertanyaan yang mungkin sebagian sudah terjawab Ustaz. Tapi gak apa-apa kita tanyakan ya. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin bertanya. Saya saya kehilangan anak saya tepat ee sudah sepekan dalam usianya 9 bulan. Ee alhamdulillah sudah kami akikah. Namun pertanyaan kami, Ustaz ee saat ini apa yang sedang anak saya lakukan? Ya, kira-kira Ustaz ya karena saya masih sangat rindu dan apa yang harus kami lakukan sebagai orang tua agar kelak bisa bertemu dan bersatu kembali di surga Allah Subhanahu wa taala. Ini mungkin pertanyaan penutup.
Eh, anak e anaknya di bawah usia balig ya? 10 bulan, Ustaz? Iya. Oh, 10 bulan. Iya. Jadi ee prasangka baik kepada Allah bahwa insyaallah anak kita sedang berbahagia ya, anak Anda sedang berbahagia di sisi Allah Subhanahu wa taala di surganya. Ee karena itu ee seperti yang kita sebutkan bahwa secara ee apa? Secara alami, secara fitrah kita sedih tapi kesedihan yang tidak boleh berlarut-larut. Harus kesedihan yang bercampur dalamnya kebahagiaan yang jauh lebih besar. Karena anak kita insyaallah ee bahagia di sana dan juga menanti kita ya. Nah, ini justru tantangan kita apakah kita bisa ee membersamai mereka di surga Allah Subhanahu wa taala. Ee walaupun juga kabar gembira yang lainnya dalam riwayat Muslim bahwa sang anak insyaallah akan ee memegang orang tuanya nanti, menarik tangan orang tuanya atau menarik pakaian orang tuanya untuk bisa membersamainya ee di surga Allah Subhanahu wa taala. Ya. Dan "walal akhiratu khairul laka minal ula." Ya, akhirat itu lebih baik daripada ee dunia ini dan daripada apa yang sebelumnya. Karenanya ya ee sedih bisa, wajar ya, tapi jangan melakukan hal yang membuat Allah murka. Bahkan yakinlah akan kabar-kabar yang datang dari "as-shadiq al-mashduq" dari nabi kita sallallahu alaihi wasallam dan juga ayat-ayat Allah Subhanahu wa taala yang mengabarkan seperti itu. Ee dan ee jika kita terus bersangka baik kepada Allah, Allah akan menggantikan yang lebih baik dan juga insyaallah ya insyaallah kita akan bersama dengan anak kita ya tinggal tanggung jawab kita ee bahwa beliau telah mendahului kita. Kita masih punya umur entah sampai kapan. Kewajiban kita adalah bagaimana memanfaatkan umur kita untuk bisa menjadi penghuni surga, menyusul bersama dengan anak-anak kita yang kita cintai tersebut. Ya, taala alam.
Baik, Ustaz. Insyaallah jazakullah khairan ustaz atas ee jawabannya dan semoga ee menjadi pencerahan bagi ee saudara atau ibu yang bertanya tadi. Kami ucapkan terima kasih atas pertanyaannya dan itulah pertanyaan terakhir di malam hari ini. Qadrullah ya sudah 1 jam perjumpaan kita atau kebersamaan kita di malam hari ini di program konsultasi syariah ya. Waktu yang membatasi kita ya. Kita masih mau berlama-lama dengan ustaz kita, namun waktu yang membatasi kita. Semoga Allah Subhanahu wa taala ee senantiasa mengarunaikan keistikamahan kepada kita semua ya, sampai kita bisa berkumpul kembali di surga Allah Subhanahu wa taala bersama dengan keluarga-keluarga kita semuanya insyaallahu taala. Amin ya rabbal alamin. Kami ucapkan ee jazakumullah khairan kepada ustaz kita yang telah membersamai hari ini. Dan kepada para pemirsa juga kami ucapkan terima kasih atas partisipasinya di malam hari ini ya. Semoga ilmu yang disampaikan oleh ustaz kita menjadi ilmu yang bermanfaat dan Allah subhanahu wa taala memberikan balasan terbaik dan menjadi pertimbangan amal kebaikan beliau di akhirat kelak. Amin ya rabbal alamin.
Baik. Ee mungkin ini perjumpaan kita ee di ee program konsultasi syariah di malam hari ini. Mari kita tutup dengan membaca doa kafaratul majelis. Subhanakallahumma wabihamdik. Ashadu alla ilahailla anta. Astagfiruka wa atubu ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.